TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Sabtu, 03 Januari 2015

Maradona vs Platini: Rivalitas Terbesar Seri A Dekade 1980-an

BERPERANG DI ITALIA

Rivalitas Maradona dan Platini dimulai saat legenda Argentina itu bergabung dengan Napoli

Michel Platini dan Diego Maradona: Rivalitas Terbesar Seri A dekade 1980-an (Sumber foto: Fantastista.co.uk)


MICHEL Platini adalah orang Prancis dengan "akar Eropa" yang berusia lima tahun lebih tua daripada legenda hidup Argentina, Diego Maradona. Mereka adalah dua cara untuk memahami kehidupan, dua tingkat pendidikan, dan dua lingkungan yang sangat berbeda. Namun, dengan satu identitas yang sama, yaitu sepak bola, memungkinkan mereka menjadi bintang dengan caranya masing-masing.

Jika Platini tak langsung disejajarkan dengan Pele dan Maradona (serta Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saat ini), itu mungkin karena ia tak pernah meraih Piala Dunia. Kiprahnya lebih menonjol di Seri A Italia.

Platini tiba di Juventus yang saat itu memiliki enam pemain yang menjuarai Piala Dunia 1982 bersama Itaila. Tapi, dengan kemampuan teknis dan kepribadiannya yang luar biasa, Platini mampu "berkuasa".

Pada saat yang sama, Maradona mengalami situasi sulit di Barcelona yang mendorongnya pergi. Di sini, ia dinilai melakukan langkah maju meski tim yang yang dituju, Napoli tergolong klub kecil di Italia dengan track record yang tak lebih dari dua gelar Piala Italia.

Ketika Maradona mendarat di Napoli pada 5 Juli 1984, Platini baru saja menjadi juara Eropa bersama Prancis. Dia mencetak sembilan gol dan menjadi pahlawan nasional. Platini juga menjadi pahlawan Juventus dengan memenangi Seri A dan Piala Winners.

Itu menjadi awal dari sebuah persaingan yang tak terduga. Tak ada yang berpikir Maradona dapat membuat Napoli menjadi tim yang mampu bersaing dengan tim-tim dari Italia Utara., terlebih dengan Juventus. Pada tahun pertama Maradona di Napoli, Juventus memenangkan Piala (Liga) Champions setelah mengalahkan Liverpool pada final tragis di Heysel, Brussels (1985). Platini merupakan pencetak gol tunggal kemenangan Juventus.

Pada musim itu, scudetto justru dimenangkan Hellas Verona. Saat itu, Napoli finis di peringkat delapan, hanya terpaut tiga poin dari Juventus yang menempati peringkat kelima. Platini menjadi top scorer dengan 18 gol dan Maradona di posisi ketiga dengan 14 gol.

Pada musim kedua persaingan mereka, Napoli melakukan langkah maju. Mereka menahan Juventus 1-1 di San Paolo yang dikenang dengan gol luar biasa yang dicetak Maradona dari tendangan bebas tak langsung di kotak penalti. Tapi, Juventus menjadi juara dan Napoli finis di peringkat ketiga dengan selisih enam poin. Platini mencetak 12 gol dan Maradona 11 gol.

Pada musim ketiga, muncul serangan sesungguhnya. Tanggal 6 November 1986 dicatat dengan tinta emas dalam buku sejarah Napoli. Pada hari itu mereka mempermalukan Juventus 3-1 di Stadion Comunale. Pada akhir musim, Napoli menjadi juara dan Maradona duduk di atas singgasana yang sama dengan Platini.***

- Artikel ini dimuat dalam artikel SERIAL DUEL TERBESAR DI SEPAK BOLA di Harian TopSkor edisi 31 Desember 2014

*        *        *


Fakta Menarik Seri A sebelumnya:

Artikel FC Internazionale sebelumnya

Artikel Juventus sebelumnya:

Artikel AC Milan sebelumnya
*        *        *

- Cikini, 3 Januari 2014

Jumat, 02 Januari 2015

Respons Cepat PLN yang Kini Sudah Berubah Lebih Baik



PERUSAHAAN Listrik Negara (PLN). Apa yang Anda ketahui dari perusahaan pelat merah tersebut? Listrik mati, byar-pet, pemadaman bergilir, atau soal suap-menyuap? Beberapa hal negatif itu pasti kerap membayangi kita, yaitu masyarakat di Indonesia. Wajar, stigma buruk itu melekat pada PLN mengingat kemungkinan adanya pengalaman dari kita semua. Termasuk saya sendiri.

Oh ya, sebelum membenci suatu hal, saya jadi teringat perkataan mantan Direktur Utama (Dirut) PLN periode 2009-11 Dahlan Iskan saat memberikan "wejangan" dua tahun lalu. Sosok yang saat itu menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Kabinet Indonesia Bersatu II ini pernah menyoroti "kinerja PLN" yang justru malah berbalik.

"Waktu masih jadi pengusaha, saya benci sekali dengan yang namanya PLN," tutur Dahlan di kantor BUMN setahun lalu. "Soalnya, listrik sering padam. Eh, takdir membawa saya menjadi Direktur Utama PLN. Karena itu, kamu -maksudnya saya- jangan pernah membenci sesuatu, ntar malah kebalikan."

Ya, jika berbicara mengenai PLN, entah kenapa ingatan saya terbayang pada sosok bersahaja tersebut. Meski masa kepemimpinannya tergolong singkat, hanya dua tahun. Namun, Dahlan bisa disebut sebagai salah satu figur yang sukses mengubah wajah PLN menjadi lebih humanis. Itu berdasarkan fakta yang saya dapat di berbagai media sepanjang 2009-11 yang menilai listrik di penjuru nusantara menjadi jarang padam dibanding periode sebelumnya.

Ok, tapi artikel ini bukan untuk memuja Dahlan dan sebagainya. Melainkan, pengalaman pribadi saya terhadap kinerja PLN.

*        *        *
Respons cepat PLN melalui akun @PLN_123 di Twitter (Sumber foto: www.roelly87.com)


Begini ceritanya (meniru tayangan Kismis alias Kisah-kisah Misteri zaman dulu).
Saya tinggal di kawasan barat Jakarta yang kerap mengalami pemadaman listrik. Baik itu bergilir dengan jadwal yang rutin maupun tiba-tiba. Nah, untuk yang terakhir ini bukan lagi sering, melainkan nyaris "langganan".

Meski, harus dimaklumi karena berbagai masalah. Bisa itu instalasi rusak, terkait pemadaman, perbaikan karena hujan, dan error lainnya. Hingga, yang teranyar pada 31 Desember lalu menjelang pergantian tahun. Saat itu, kebetulan wilayah yang saya tempati mengalami pemadaman listrik pada siang hari. Dan, itu tidak sebentar melainkan sekitar tiga atau empat jam.

Tentu, itu bukan waktu yang sebentar. Lantaran, padamnya listrik membuat kegiatan saya di rumah yang seharusnya mobile jadi terganggu. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali menghubungi contact center ke-123. Namun, hanya bisa sekali yang mungkin karena pada saat bersamaan line-nya sedang melayani pelanggan lain.

Saat itu, kalau tidak salah, operator menyebut ada kendala teknis di kawasan saya berada di suatu kecamatan di Jakarta Barat. Ok, pikiran saya pemadaman hanya berlangsung beberapa menit dengan estimasi terlambat sekitar 30 menit. Hanya, tunggu tinggal tunggu setelah beberapa jam ternyata listrik belum nyala juga.

Wajar saya kesal mengingat padamnya listrik berpengaruh pada aktivitas di rumah. Gelap gulita karena tiada lampu, air kosong, dan yang terparah tidak bisa men-charge perangkat elektronik seperti laptop dan juga modem untuk internet.

Karena menunggu terhubung dengan contact center lumayan lama. Alhasil, saya mencoba untuk menanyakannya via twitter yang pernah saya lakukan beberapa waktu sebelumnya. Saat itu, akun @PLN_123 langsung merespons: Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Mohon dibantu: nama, nomor ID Pelanggan, nomor telepon, dan alamat lengkap (yfi).

Nah, sampai di sini saya senang dengan reaksi cepat dari admin @PLN_123 tesebut. Hanya, saya agak keberatan jika harus memberi alamat via twitter di lini masa. Meski, hal ini wajar dan banyak dilakukan pelanggan lainnya di twitter mereka. Tapi, tidak dengan saya yang menganggap alamat dan nomor telepon merupakan hal yang privasi dan lebih memilih untuk memberi alamat via direct message (DM) atau email secara personal. Jadi, tidak sembarang orang yang boleh mengetahuinya.

Yang membuat saya terkesan adalah adanya upaya sungguh-sungguh dari pihak PLN, entah itu memang SOP mereka atau inisiatif pribadi dari admin @PLN_123. Tapi, bagi saya itu sungguh luar biasa dan berkesan positif. Kenapa? Sebab, mereka menjawab dengan bersedia melanjutkan komunikasi melalui DM. Yaitu, mem-follow akun twitter saya.

Dalam keterangannya via DM, mereka mengatakan memang di wilayah kediaman saya sedang dilakukan revisi (pemeliharaan gardu). Alhasil, itu membuat sebagian rumah mengalami pemadaman listrik. @PLN_123 pun berjanji akan memonitor perkembangan selanjutnya agar cepat diperbaiki.

Selain DM, mungkin di profil PLN ada alamat email atau nomor sms yang bisa dihubungi (Sumber foto: www.roelly87.com)

Mendapati jawaban seperti itu, tentu -sedikitnya- membuat saya puas dan sangat mengapresiasi. Lantaran, saya mendapat kepastian bahwa listrik akan kembali nyala dalam waktu beberapa jam ke depan. Jadi, saya tidak perlu menunggu seperti sedang menghitung bintang di langit yang tidak tahu kepastiannya.

Akhirnya, tak berapa lama kemudian, seperti yang dijanjikan PLN via akun twitter @PLN_123 terbukti. Itu karena listrik kembali menyala yang membuat aktivitas kami di kawasan tersebut bisa dilanjutkan.

Dengan respons cepat ini, saya berharap PLN bisa mempertahankan peningkatan tanggung jawabnya terhadap pelanggan. Salah satunya dengan menyediakan line telepon yang banyak hingga pelanggan yang ingin menghubungi tidak harus antre sampai lama.

Selain itu, demi mewadahi beberapa pelanggan seperti saya yang enggan privasinya terbuka (alamat rumah), ada baiknya PLN mencantumkan alamat email atau nomor telepon untuk pesan pendek (sms) di profil @PLN_123. Sebab, bagaimanapun, keluhan dan kritik dari pelanggan lah yang justru bisa menjadikan PLN semakin besar.*

Sebelumnya:
- Sisi Lain Dahlan Iskan
- Wawancara Eksklusif Dahlan Iskan: Generasi Muda Harus Olahraga
- Dahlan Iskan dan "Gerbong Terakhir"

*        *        *

- Jakarta, 2 Januari 2015

Rekor Seri A Sepanjang 2014

REKOR SERI A SEPANJANG 2014

Juventus Tetap Mendominasi Catatan Sejarah

Lichtsteiner raja kemenangan, Di Natale jadi bomber, Cuadrado penguasa dribel, dan Cassano pengoleksi assist.

Penggawa Juventus mendominasi rekor Seri A sepanjang 2014 (Sumber foto: forzaitalia.com)


TAHUN 2014 sudah berganti menjadi 2015. Sepanjang 2014 lalu muncul data yang sangat mengesankan dari beberapa pemain Seri A. Di antaranya seperti Stephan Lichtsteiner, Carlos Tevez, Gervinho, dan Juan Cuadrado yang merupakan contoh pesepak bola yang bersinar.

Juga ada pemain terlupakan, Angelo Palombo, yang berhasil mencuri perhatian lewat keahliannya menciptakan peluang dari bola-bola mati. Muncul nama Perparim Hetemaj sebagai pemain paling kasar. Gelandang Chievo tersebut melakukan 118 pelanggaran, mungkin bisa membuat wasit kram lantaran terlalu mengingatkan hanya untuk satu pemain.

Berikut data statistik yang berhasil dikumpulkan La Gazzetta dello Sport sepanjang 2014:

Tembakan ke Gawang
48 Carlos Tevez (Juventus)
45 Antonio Di Natale (Udinese)
44 Luca Toni (Hellas Verona)
42 Manolo Gabbiadini (Sampdoria)
40 Gonzalo Higuain (Napoli)
Tertinggi di Eropa: 98 Cristiano Ronaldo (Real Madrid)

Antonio Di Natale pemain tersubur Seri A sepanjang 2014 (Sumber foto: EspnFC.com)


Pencetak Gol Terbanyak
21 Antonio Di Natale (Udinese)
18 Carlos Tevez (Juventus)
18 Luca Toni (Hellas Verona)
15 Mauro Icardi (FC Internazionale)
15 Fernando Llorente (Juventus)

Tandukan Maut
15 gol Fernando Llorente (Juventus)
9 gol Carvalho Amauri (Parma-Torino)
8 gol Mauricio Pinilla (Cagliari-Genoa)
8 gol Rolando Bianchi (Bologna-Atalanta)
7 gol Duvan Zapata (Napoli)
Tertinggi di Eropa: 17 gol Aritz Aduriz (Athletic Bilbao)

Samir Handanovic tak tergantikan sepanjang 2014 (Sumber foto: Inter.it)


Menit Bermain
3.240 Samir Handanovic (FC Internazionale)
3.150 Danilo Fernandez (Udinese)
3.150 Moras (Hellas Verona)
3.150 Rossettini (Cagliari)
3.150 Rosetti (Torino)

Membentur Tiang dan Mistar Gawang
7 Manolo Gabbiadini (Sampdoria)
4 Mario Balotelli (AC Milan)
4 Franco Vazquez (AC Milan)
4 Dries Mertens (Napoli)
4 Mauro Icardi (FC Internazionale)
Tertinggi di Eropa: 10 Lionel Messi (Barcelona)

Stephan Lichtsteiner paling banyak menang (Sumber foto: Dailymail.co.uk)


Jumlah Pertandingan yang Dimenangkan
29 Stephan Lichtsteiner (Juventus)
28 Fernando Llorente (Juventus)
27 Claudio Marchisio (Juventus)
26 Carlos Tevez (Juventus)
25 Gianluigi Buffon-Paul Pogba (Juventus)
Tertinggi di Eropa: 27 Manuel Neuer-Arjen Robben (Bayern Muenchen)

Peluang Gagal Mencetak Gol
21 Luca Toni (Hellas Verona)
19 Gervinho (AS Roma)
17 Gonzalo Higuain (Napoli)
15 Mauro Icardi (FC Internazionale)
12 Lorenzo Insigne (Napoli)
Tertinggi di Eropa: 25 Lionel Messi (Barcelona)

Gianluigi Buffon paling banyak memblok bola (Sumber foto: Zimbio.com)


Persentase Memblok Bola
81,6% Gianluigi Buffon (Juventus)
80,5% Pepe Reina (Napoli)
77,1% Morgan De Sanctis (AS Roma)
75,8% Christian Abbiati (AC Milan)
75,6% Norberto Neto (Fiorentina)
Tertinggi di Eropa: 89,1% Petr Cech (Chelsea)

- Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 31 Desember 2014

*        *        *


Fakta Menarik Seri A sebelumnya:

Artikel FC Internazionale sebelumnya

Artikel Juventus sebelumnya:

Artikel AC Milan sebelumnya
*        *        *

- Cikini, 2 Januari 2015

Kamis, 01 Januari 2015

Cerita Pemain di Dalam "Burung Besi"

Cerita Pemain di Dalam "Burung Besi"



MALANG tak dapat ditolak. Begitu kesedihan yang dirasakan saat mengetahui keluarga dan kerabat masuk dalam daftar manifes Air Asia QZ8501. Pesawat tujuan Surabaya-Singapura itu dinyatakan hilang, Senin (29/12) ketika sudah berada di atas Selat Karimata. Banyak yang berspekulasi bahwa pesawat tersebut langsung jatuh akibat terjebak turbulensi hebat awan cumulonimbus.

Sontak, kejadian itu bikin ngeri sebagian orang yang biasa bepergian dengan pesawat. Tak terkecuali para pemain sepak bola profesional, merasa semakin waswas setiap kali akan naik pesawat. Maklum, mereka memang harus sering menumpang pesawat ketika menjalani tur laga tandang di seluruh Indonesia.

Menarik pula menyimak cerita-cerita ketakutan beberapa pemain di dalam "burung besi". Terlebih bagi mereka ayang punya riwayat aerophobia alias takut naik pesawat, acrophobia (takut ketinggian), maupun claustrophibia (takut di dalam ruang sempit). Sebut saja salah satunya Ravi Murdianto, pemain yang baru bergabung bersama Mitra Kukar ini mengakui dirinya amat takut ketinggian.

"Saya paling cemas kalau naik pesawat! Biasanya kalau pesawat tengah take-off, saya banyak berdoa," ujar mantan penggawa timnas Piala Asia U-19 itu. Apalagi ketika mendarat, ia mengaku merasa seperti orang bodoh. Spontan, kiper jangkung itu langsung memejamkan mata sembari berpegangan erat di gagang kursi.

Muhammad Roby, pemuda Betawi yang sukses sebagai pesepak bola profesional itu pun berbagi kisah ketika pertama kali berada di dalam pesawat. Ceritanya ketika pertama kali ia menempuh perjalanan jauh dari Jakarta ke Banjarmasin dengan naik pesawat pada 2006 silam.

"Pertama kali naik pesawat waktu saya ke Banjarmasin mau ikut seleksi ke Banjar Baru, klub Divisi II. Waktu itu saya takut sekali," kata bek Barito Putera itu. Sempat ada perasaaan ragu karena saking takutnya naik pesawat. Tapi, di satu sisi, ia harus melaluinya demi kariernya di sepak bola.

Seiring waktu, aerophobia yang sempat menghantuinya perlahan hilang. Mendengar musik melalui headset merupakan solusi ampuh baginya mengurangi ketakutan itu. "Saya hanya bsia pasrah dan semoga musibah seperti itu tidak menimpa saya," Roby mengungkapkan.

Cerita yang sama juga diungkapkan pemain asal Indonesia Timur, Yabes Rony dan Gilber Dwaramury. "Saat itu semua bercampur aduk, saya takut tapi saya ingin ikut seleksi," ujar Yabes saat pertama kali naik pesawat untuk mengikuti seleksi timnas U-19 pada pertengahan Juni 2013 lalu ke Yogyakarta.

Kecelakaan Pesawat yang Menimpa Pesepak Bola

4 Mei 1949
Sebanyak 13 pemain Torino meninggal dunia dalam sebuah kecelakaaan pesawat usai melakoni laga persahabatan menghadapi klub Portugal, Benfica.

6 Februari 1958
Delapan pemain dan tiga ofisial Manchester United meninggal dalam kecelakaan pesawat di Jerman. Kecelakaan memilukan itu pun diabadikan dalam monumen di Stadion Old Trafford.

24 September 1969
Pesawat yang ditumpangi pemain Bolivia menghilang dari radar dan dikabarkan jatuh. Tak kurang dari 25 pemain dinyatakan meninggal dalam insiden di Amerika Latin tersebut.

8 Desember 1987
Pesawat militer yang ditumpangi klub Alianza, anggota Sepak bola Divisi Satu Peru, mengalami kecelakaan di Samudera Pasifik. Sebanyak 44 pemain dan ofisial klub dinyatakan tewas.

28 April 1993
Total 18 pemain timnas Zambia dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat di Senegal saat mereka akan melakukan pertandignan kualifikasi Piala Dunia 1994.

Plakat Munich (Muenchen) untuk memperingati tewasnya penggawa Manchester United pada 1958 (Sumber foto: BBC.co.uk)


- Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 31 Desember 2014
*        *        *


Fakta Menarik Seri A sebelumnya:

Artikel FC Internazionale sebelumnya

Artikel Juventus sebelumnya:

Artikel AC Milan sebelumnya
*        *        *

- Cikini, 1 Januari 2015