TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2020

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 30 Maret 2020

Kamaratih


Ilustrasi (Foto: www.roelly87.com)


RINAI membasahi ibu kota. Kendati, bulan-bulan ini belum memasuki periode hujan. Beda, dengan Januari dan Februari yang lalu mencapai puncaknya. Banjir di mana-mana.

Jadi teringat masa-masa dulu. Hujan-hujanan menerobos genangan air demi jemput dan antar penumpang, makanan, barang, hingga beli sesuatu. Sungguh, kenangan tak terlupakan.

Tiba-tiba, dari seberang halte yang hanya dilewati segelintir manusia, ada yang mendatangi. Gadis manis yang berlari-lari kecil. Tak lama, sosok tersebut mengeluarkan smartphone, untuk mengetik sesuatu.

Aku pun beriniaiatif menyambutnya. Ternyata orderan kakap. Di atas Rp 50 ribu yang sejak dulu haram untuk dilewatkan.

"Mbak Kamaratih. Ke Ciracas?" aku menyebut nama yang dalam perwayangan dikenal sebagai dewi tercantik. Setara dengan Sumbadra yang merupakan wanita paling cantik. Mereka memiliki pasangan yang juga paling tampan. Kamajaya dan Arjuna yang dijuluki lelananging jagat.

"Iya, saya Ratih. Lho, mas di sini juga? Ga ketahuan ojol?"

"Saya kan pakai jas hujan mbak. Jaket ojol jadi tertutup."

"Oke, mas. Nanti pelan-pelan ya. Saya ga usah pake jas hujan deh. Belum gede."

"Lah, emang siapa yang mau kasih jas hujan?"

"Ih, dasar," gadis tersebut menyahut sambil menyolek pelan pundakku.

"Ha ha ha. Bercanda mbak. Yuk," aku menjawab sambil melanjutkan.

"Jangan lupa helmnya dikunci ya. Kita tidak akan berangkat sebelum bunyi klik."

"Siap, dan!"

*            *            *

JALANAN di utara Jakarta tampak ramai meski baru diguyur hujan. Maklum, untuk waktu, saat ini pukul 23.45, masih sore.

Teringat dulu saat masih ngalong. Aku biasa  memulai saat pergantian hari yang hitungan di aplikasi dari nol. Demi membunuh kebosanan, aku pun bersenandung dengan volume kecil.

"Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita aku cinta padamu..."

"Wah, penggemar Dewa 19 nih," Ratih membuka percakapan.

Aku pun menghentikan nyanyian sejenak sambil melirik ke kiri spion.

"Tahu juga mbak?"

"Tak Akan Ada Cinta yang Lain. Pasti tahu dong. Salah satu lagu romantis ciptaan Ahmad Dhani."

"Wah, berarti sama dong. Anak 1990-an."

"Ga juga, mas. Saya malah telat dengarnya."

"Lha, bukannya ini lagu keluar 1994, album Format Masa Depan?"

"Saya justru tahunya pas dibawakan Dewi Dewi. Aransemennya pun beda. Sebelumnya, lagu ini juga dinyanyikan Titi DJ," Ratih, menjelaskan.

Aku pun ingat. Tak Kan Ada Cinta yang Lain, punya beberapa versi. Dewa pada 1994 yang dilanjutkan Titi Dj 1999 dan Dewi Dewi 2007. Selain ketiganya, di laman Youtube bertebaran musisi atau masyarakat awam yang meng-covernya.

Lagu ini sudah lebih dari 25 tahun. Bagi manusia, periode itu merupakan satu generasi. Namun, kedahsyatan lirik dan aransemen tak lekang dimakan usia.

"Sayangnya, Inna keluar lebih awal. Kalau tidak, hingga kini Dewi Dewi masih berkibar di jagat musik Tanah Air. Bahkan, bisa melibas genre pop tak bermutu serta invasi K-Pop," ujar Ratih.

Ya, Dewi Dewi dibentuk Ahmad Dhani lewat Republik Cinta Management (RCM) yang beranggotakan Inna Kamarie, Purie Andriani, dan Tata Janeeta. Namun, Inne keluar pada 2008 menyisaka Purie dan Tata yang membentuk Mahadewi dengan single hit Satu Satunya Cinta. Aku ingat, pernah menjadikan lagu itu sebagai Nada Dering Pribadi (NSP) pada smartphone XpressMusic andalanku.

"Dewi Dewi bukti kegeniusan Dhani. Meski seumur jagung, karyanya masih terasa," ujar Ratih.

"Ya, dekade lalu, masyarakat Indonesia dimanjakan karya-karya berkualitas dari RCM. Sayang, proyek itu seperti tidak terurus seiring Dhani yang mendekat ke politik."

"Iya, sayang banget. Padahal, Dhani itu genius. Salah satu musisi terbaik Indonesia."

"Setuju. Menurut saya, levelnya setingkat dengan Guruh Soekarnoputra, Koes Plus, dan Roma Irama."

"Serius mas? Bagaimana dengan Ariel yang kalau nulis lirik sangat metafora, baik dengan Peterpan maupun Noah. Erros yang bikin lagu Sheila On 7 mudah dicerna? Azis MS yang menjadikan rock jadi puitis bersama Jamrud. Jangan lupakan, Bimbim, mengangkat Slank dari keterpurukan," tutur Ratih dengan bersemangat.

"Ini pandangan saya pribadi ya, sebagai sosok yang menggemari musik Indonesia sejak dulu. Jelas, Dhani ga bisa dikomparasi dengan keempatnya. Bahkan, mereka sama sekali tidak sebanding. Saya penggemar berbagai jenis musik, baik dalam atau luar negeri. Punya album fisik, kaset atau cd dari So7, Peterpan, Jamrud, bahkan Slank yang Tujuh. Namun, secara musikalitas, jelas masih di bawah Dewa, khususnya Dhani," aku menjawab sambil memperhatikan spion kanan dan kiri.

Sebab, di belakang ada tiga sepeda motor yang jalan bergerombol. Feeling-ku merasakan tidak enak. Bisa jadi, mereka begal. Jadi ingat dulu, saat meladeni gerombolan seperti itu yang membuat denyut jantung kini nyaris berdebar saking semangatnya.

Tentu, aku sangat waspada. Sudah pasti, bukan untuk diriku. Sebab, aku tak perlu khawatir terkait keselamatanku. Melainkan, Ratih.

Ya, sejak dulu saat jadi ojol, keselamatan penumpang yang utama. Beruntung, ketiga sepeda motor yang ternyata berisi enam manusia itu hanya lewat. Ternyata, mereka seperti hendak balapan atau tes kecepatan.

Mungkin, tahu ini Jumat dini hari yang tentu jalanan sepi. Apalagi, di kawasan ini yang memiliki trek lurus tapi kalau lewat jam 22, biasanya sunyi.

"Bahaya banget mereka. Pada ga pake helm, jalan ngebut," Ratih, mengungkapkan.

"Biasa mbak. Jalanan ini trek lurus, polisi tidur sedikit, jadi dimanfaatkan mereka untuk balapan."

"Eh, lanjut soal musik dong. Menarik tuh."

"He he he, kepo..."

"Ih, si mas begitu. Perjalanan jauh, sambil ngobrol itu asyik. Ga bikin jenuh, apalagi ngantuk."

"Siap selalu, tuan ratu."

"He he he, Ratu tanpa Mulan, sekarang sudah beda."

"Nah... Lanjut obrolin Dhani."

"Boleh..."

"Terlepas dari kontroversi dan drama keluarganya, bagi saya, Dhani tetap genius."

"Setuju."

"Terkait musisi segenerasinya, Dhani masih lebih unggul. Hanya Slank F13, yang sedikit bisa mendekatinya. Ya, Dhani bisa dibilang lebih besar dari Dewa 19. Namun, Dewa 19 yang membuat nama Dhani jadi besar. Jadi, itu seperti simbiosis-mutualis. Tanpa Dewa 19, tentu Dhani tidak bisa seperti sekarang, legenda. Pun demikian, jika tidak ada Dhani, lagu-lagu Dewa 19 hanya kuat di aransemen tanpa adanya lirik yang puitis."

"Ha ha ha. Susah ya, kalo ngobrol sama fan Dhani. Masnya, terlalu mengidolakan dia."

"Saya sih ga mengkultuskan Dhani. Namun, harus diakui musikalitasnya jauh di atas berbagai musisi era 1989-an hingga sekarang. Bahkan, jika ada superband sekalipun seperti Ariel sebagai vokalis, Erros gitar, Azis drum, dan Bimbim drum..."

"Mirip Ahmad Band?"

"Nah, iya dulu kan ada supergrup juga, Dhani bersama Andra, dua eks Slank, Pay dan Bongky, serta Bimo Netral."

"Bibiku punya kaset tipnya tuh. Jadul banget, ha ha ha."

"Legend tuh mbak. Waktu albumnya rilis, saya masih SD. Ha ha ha."

"Sama mas. Kita satu generasi, kayainya. Ha ha ha,"

*            *            *

MEMASUKI jalan utama ibu kota membuatku mempercepat laju sepeda motor. Aku melirik speedometer di dashboard yang tembus pandang menanjak ke angka 50. Laju yang ideal mengingat di jalur utama ini, kendaraan tidak boleh terlalu kencang. Namun, juga jangan tidak harus pelan banget. Itu mengingat banyak truk besar serta kondiai jalan kerap berlubang hingga membahayakan.

Ratih, mencolek pinggangku, "Mas, jangan ngebut. Santai aja, ga apa-apa."

"Iya, mbak. Ini kecepatan standar."

"Sejak tadi perasaan saya ga menentu. Tiba-tiba merasa nyaman. Namun, kadang ga enak."

"Angin mungkin mbak. Mau berhenti, cari makan dulu? Soalanya, angin malam bahaya bagi kesehatan. Apalagi, kalau perut kosong," ucapku sambil menepikan sepeda motor di depan jembatan legendaris Tanah Air.

"Sebelum balik, saya udah makan. Ga tahu kenapa. Namun, bukan angin. Ya, lanjut deh mas."

"Eh, saya minum dulu mas," Ratih, melanjutkan sambil menepuk pundak saya dengan tangannya yang halus.

Perjumpaan dengan gadis yang mengaku lebih senang disapa Ratih, ini sangat berkesan. Usianya, tidak terpaut jauh denganku, dulu. Sikapnya yang simpatik, ceplas-ceplos, smart, hingga senyumannya yang menggugah jantung ini untuk kembali berdetak.

Namun, siapa sangka, di balik keceriaannya itu, tersirat temaram pada hatinya.

"Tuhan selalu menciptakan sesuatu secara berpasangan. Termasuk, jika itu masalah, tentu ada solusinya," Ratih, bergumam diplomatis.

Aku pun mengangguk saat mendengar penuturannya. Udara setelah hujan memang selalu dingin. Meski, aku sama sekali tak terpengaruh. Namun, aku memelankan kendaraan mengingat penumpang di belakang seperti menggigil.

Ada pemandangan menarik ketika berhenti di lampu merah. Di seberang jalan, terdapat pusat perbelanjaan yang memasang lampu led raksasa berisi poster film yang masuk rangkaian Marvel Cinematic Universe (MCU).

'Black Widow! Tayang mulai hari ini, Kamis, 2020.' Demikian keterangan pada poster berukuran jumbo itu yang  bisa terlihat jelas, meski dari jarak 50 meter sekalipun.

"Akhirnya tayang juga ya, sejak subuh tadi," kata Ratih yang ikut melirik poster tersebut saat tahu aku memandanginya dengan antusias.

"Iya, jadwal awal Mei, di negaranya atau akhir April lalu di Indonesia. Namun, karena ada wabah, jadi diundur beberapa bulan," aku, menjawab.

"Padahal, filmnya seru nih kayaknya."

"Yoi, pembuka fase empat MCU."

"Natasha jadi favorit saya di MCU, di antara beberapa karakter wanita. Meski, wanita, tapi saya suka nonton film superhero juga, baik Marvel atau DC."

"Ebuset..."

"Iya. Serius. Apalagi, Black Widow jadi film MCU kedua dengan karakter utama wanita," Ratih menjawab dengan sayup-sayup akibat suaranya terbawa angin.

"Captain Marvel?"

"Klise. Datar. Kaku. Saya nonton hanya karena ada adegan yang diiringi lagu Come As You Are, aja."

"Nirvana..."

"Iya, mas. Momennya tepat. Namun, hanya itu yang berkesan. Secara keseluruhan, film dan akting Brie ya 'B' aja," Ratih, menerangkan.

"Kalo saya lebih suka aksi Sharon Carter."

"Bukan Wanda? Padahal, Olsen itu seksi habis. Hot banget," ucap Ratih yang tampak menyunggingkan senyumnya hingga dari balik spion terlihat manisnya lesung di pipi kiri. Benar-benar nyaris membuat jantungku berdegup kembali seperti dulu.

"Ga. Emily VanCamp itu ga seksi, tapi manis. Enak dipandang. Meski, kadar kemanisannya masih kalah sama penumpang di belakang saya ini," aku berseloroh yang langsung disambut cubitan di pinggang.

*            *            *

KADANG aneh dengan makhluk hidup bernama wanita. Khususnya yang baru atau belum lama kenal. Sebab, tanpa rasa berdosa, kerap main cubit ke lawan jenis. Mungkin, sebagai simbol keakraban.

Padahal, situasi bisa beda jika pria yang melakukannya. Bisa-bisa diteriaki pelecehan meski bercanda. Namun, itulah keunikan manusia.

"Ojol, kapan aja mas?" Ratih memecah keheningan dini hari tersebut.

"Maksudnya, mbak?"

"Nariknya, dari siang atau malam aja."

"Ga tentu mbak."

"Wow, enak ya. Freelance. Beda sama yang kerja biasa yang jarang liat matahari. Kadang pergi pagi buta dan pulang malam."

"Ya, begitu mbak. Nanya-nanya, emang mau daftar ojol juga?"

"Ga, iseng aja. Saya sepeda aja ga bisa, apalagi naik motor."

"Mau saya ajarin sampe bisa, kapan? Gratis, he he he."

"Kursus ya... Bayarnya?"

"Kan, free."

"Di kolong langit ini, mana ada makan siang gratis, mas."

"Boleh deh bayar. Pakai tiket Black Widow aja ya, kebetulan saya belum nonton."

"Tiket? Berdua gitu, saya dan masnya."

"Yoi..."

"Maunya, si mas itu mah."

"He he he."

"Boleh deh, tapi akhir pekan aja ya."

"Siap."

"Di mana?"

"Nontonnya? Bebas. Kan mbak yang bayarin. Terserah si mbak, waktu dan tempatnya."

"Dasar!" Ratih memotong cepat. "Ajarin motornya. Kalo udah bisa baru traktir nonton."

"Oh... Kirain, nonton dulu baru belajar motor."

"Ih... Kalo kayak gitu mah, si masnya menang banyak atuh."

"Siap, mbak. Oh ya, ini belok kiri, masuk komplek kan?" tutur saya saat melihat maps yang terpasang di dashboard sepeda motor.

"Iya, lewatin aja portalnya. Ini akses masuk dan keluar satu-satunya di komplek yang biasanya dijaga dua security di pos."

"Ga ada orang mbak."

"Mungkin pada keliling. Namun, kawasan ini tergolong aman. Banyak CCTV tersebar di berbagai titik. Termasuk, samping pos."

"Ooh..."

*            *            *

SETELAH belasan meter lewat tikungan, akhirnya sampai depan rumah bergaya kolonialisme. Anggun tapi tergolong seram. Apalagi, jika malam mengingat lokasinya di samping gang buntu.

"Oke, kiri ya mas."

"Siap mbak."

"Bayarnya nontunai ya."

"Oke."

Ratih pun turun sambil membuka helm seraya berkata, "Ga minta nomor hape saya?"

"Buat apa mbak?"

"Serius?"

"Sebagai ojol, saya ga pernah minta nomor hape customer. Kecuali, untuk berjaga-jaga jika opik atau order fiktif terkait pesanan makanan."

"Kan, mau ngajarin saya sepeda motor."

"Oh iya."

"Catat ya, ini nomor saya, mas. 08**********."

"Oke, sudah saya simpan. Baik di kontak hape maupun hati."

"Dasar! Ntar WA ya."

"Siap."

"Mas, ini helmnya susah dibuka?" Ratih bangkit dari duduknya di jok sepeda motor. Kemudian, berdiri sambil menghadap rumahnya."

"Lah, dia bisa masang ga bisa buka. Aneh," ujarku, meledek.

"Macet nih. Udah bisa."

"Lah, si masnya kemana? Motornya juga ga ada. Mentang-mentang bayar nontunai langsung pergi aja."

"Tapi, ga kedengaran suara motornya. 'Mas, mas di mana," Ratih berlari menuju pos untuk memastikan yang disambut dua security.

"Ada apa, mbak teriak-teriak malam begini?" ujar salah satu petugas keamanan bernama Dresta.

Rekannya, Pandu yang awalnya asyik mabar di layar hape pun ikut menghampiri.

"Tadi saya ke sini naik ojol. Tapi, setelah sampe, mas drivernya pergi begitu saja." Ratih, menjawab.

"Lah, bukannya mbak Ratih tadi jalan kaki sendirian sambil nenteng helm?" tutur Drestra.

"Iya, tadi lewat pos tanpa noleh. Bahkan, senyum-senyum sendiri. Saya pikir, mbak lagi teleponan pakai headset," Pandu, menimpali.

"Serius pak Pandu, pak Dresta?" Ratih berkata perlahan yang sama sekali tak percaya dengan apa yang dialami barusan.

"Masa kami bohong, mbak," Dresta, menegaskan.

"Ada CCTV, bisa dilihat sekarang. Nih saya puterin," kata Pandu.

"Jadi, tadi... Tadi, yang mengantar saya, siapa?" Ratih, menjawab dengan pandangan kosong. Tak lama, tubuhnya ambruk. Beruntung, Dresta dan Pandu dengan sigap menyangga agar tubuh Ratih tidak membentur tanah.

Bersambung...


Selanjutnya:
Part II: PoV Ratih
Part III: Marcapada
Part IV: Kenapa Harus Wibisana?
Part V: Sudah


*         *         *


Cerita Fiksi Lainnya:
- Permintaan Terakhir
Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari
Helena
(https://www.kompasiana.com/roelly87/55121782813311bd53bc5fc4/helena?page=all)
- Kado Ultah Terakhir dari Alena (https://www.kompasiana.com/roelly87/5529a0fc6ea834f22e552d24/kado-ultah-terakhir-dari-alena?page=all)
- Pagutan Lembut Sang Gadis...
(http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/13/mirror-pagutan-lembut-sang-gadis-ternyata-421445.html)
- Bersekutu dengan Setan
(http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/16/mirror-bersekutu-dengan-setan-422453.html)
- Kenangan Main Petak Umpet
(http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/08/14/kenangan-main-petak-umpet-583688.html)
- Yang Liu
(http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/09/21/yang-liu-593693.html)


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
- Jakarta, 18 Maret 2020

Rabu, 18 Maret 2020

Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm


Ilustrasi ojol dengan penumpang yang sama-sama mengenakan helm
(Foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


KEPALA merupakan organ tubuh yang sangat penting bagi makhluk hidup, khususnya manusia. Itu mengapa, dalam setiap kendaraan, harus disertai alat pengamanan terhadap kepala untuk meminimalkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama kecelakaan. Mobil dengan airbag dan sepeda motor, helm.

Sebagai driver ojek online (Ojol), tentu saja saya menyadari pentingnya penggunaan helm. Tidak hanya untuk pribadi saja, melainkan terhadap penumpang.

Itu mengapa, saya selalu menegaskan kepada customer atau calon cust, untuk mengenakan helm. Tidak ada toleransi untuk itu. Nomor satu helm, diikuti rokok yang haram dihisap penumpang saat saya bonceng, dan penggunaan telepon seluler (ponsel). Untuk rokok, akan saya bahas ada artikel berikutnya. Pun demikian dengan ponsel.


Yang pasti, saya memang mewajibkan penumpang untuk mengenakan helm. Kendati, ada beberapa yang menolak dengan berbagai alasan. Alhasil, tanpa tedeng aling-aling, saya pun memencet tombol "Cancel" di hadapannya.

Bukan bermaksud nolak rezeki. Namun, sangat beresiko membawa penumpang yang tidak mengenakan helm. Sebab, jika terjadi -Semoga tidak- kecelakaan, bukan customer tersebut, suami, istri, Orangtua, anak, atau keluarga, yang disalahkan. Melainkan, saya sebagai ojol yang harus bertanggung jawab.

Sayangnya, mayoritas penumpang yang saya bawa, enggan memakai helm. Tak jarang, harus dipaksa. Bahkan, saya sendiri benar-benar bosan dengan perkataan template kepada penumpang. Alasannya beragam.

"Helmnya dipakai ya, pak, bu, mas, mbak, kak, de, dll."

Selanjutnya, jika sudah mengenakan harua disertai, "Dikunci ya. Kita belum berangkat, jika helmnya belum dikunci."

Bosan, jenuh, dan mumet, sebenarnya. Namun, sebagai ojol, saya memang harus menyampaikam himbauan tersebut.

Saya cukup girang jika cust itu dengan tanggap mengenakan helm dan menguncinya. Hanya, sering juga mendapat cibiran. "Hmm..," katanya, dengan wajah masam.

Pun dengan wajah masam saat menerima helm yang saya sodorkan. Tentu, saya bukan manusia suci yang tidak pernah melakukan pelanggaran. Sebab, saya juga beberapa kali menerobos lampu merah (di kawasan sepi) atau melawan arus. Juga, tidak bermaksud jadi hakim moral.

Namun, wajar jika saya sebagai ojol mewajibkan penumpang untuk mengenakan helm. Selain memang demi keselamatan juga terkait SOP, sebagai mitra aplikator.

Kendati, untuk beberapa hal, saya memaklumi keengganan penumpang. Misalnya, helm agak bau atau basah. Secara, saya cuma bawa satu saja yang dipakai dalam sehari bisa untuk belasan penumpang. Apalagi, jika hujan. Meski saya bawa cover antiair, tetap saja lembab. (#3)

Yang paling parah, jika alasannya karena tidak ada polisi. Bahkan, ini mendominasi! Itu yang saya alami saat melakukan riset atau survei kecil-kecilan, dalan dua pekan lalu. Padahal, helm kan demi keselamatan. Bukan, untuk dipamerkan jika ada polisi.

Bersambung...


Alasan penumpang enggan pakai helm:
40% Tidak ada Polisi/razia
20% Bau, enggan memakai bekas orang lain
13% Tunggu dekat Lampu Merah yang ada CCTV
12% Tidak biasa/jarak dekat (<4 km)
7 % Baru mandi/keramas/khawatir dengan rambutnya
6% Ribet, apalagi harus dikunci
2% Alasan lain (Sakit kepala, ukuran kekecilan, dll)


Responden: 100
Status: Penumpang 99, Calon 1
Durasi: 1-14 Maret 2020
Periode: 15.00-07.00 WIB (tentatif)
Gender: 28 pria, 72 wanita
Usia: 18-60 (perkiraan)
Area: Jakarta Barat, Pusat, Utara, dan Selatan

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO)
- Punya 2 Paspor, untuk Apa?
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
- Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
- Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
- Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
- Jakarta, 18 Maret 2020

Senin, 02 Maret 2020

Punya 2 Paspor, untuk Apa?


Tampilan paspor, kiri pada 2013 dan kanan 2020

PUNYA dua paspor. Memang, untuk apa?

Demikian pertanyaan dari salah satu rekan ojek online (ojol) di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Tepatnya, saat saya baru mengambil paspor di Kantor Imigrasi Kelas I.

Ketika itu, saya berniat ngopi sejenak sembari sebats (menghisap rokok sebatang). Sekaligus, membereskan berbagai berkas terkait pembuatan paspor. Itu mengapa, saya belum menyalakan tombol order (on) di aplikasi. Alias masih off.

Sambil menyesap kopi hideung nan pahit dan tembakau khas dari Timur Jawa, saya pun larut dengan perbincangan. Diiringi rinai yang membuat kami enggan beranjak sebelum tetesan air dari langit mengering di marcapada.

"Itu paspor ada dua, bro. Emang (dua paspor) buat apa?" kata rekan ojol yang juga mengenakan sepeda motor jenis matic. Bedanya, saya 125cc, sementara dia 150cc.

"Ga bang. Cuma satu. Ini, (satu lagi), yang lama."

"Oh, kirain ane, bikin dua sekaligus."

"Ga. Ane baru perpanjang paspor yang mati 2018. Udah dua tahun. He he he."

"Kalo bikin berapa?"

"Saya kurang tahu, bang kalo baru. Tapi untuk perpanjang yang paspornya mati, saya cama bayar Rp 350 ribu. Untuk bikin pertama, bisa dicek di website Imigrasi, atau ada aplikasinya."

"Iya, saya mau bikin, tapi bukan buat sendiri. Untuk anak. Mau ke Malaysia, lulus SMK, katanya pengen kerja di sana. Ada tetangga, nawarin di proyek."

"Suruh bikin aja dari awal aja bang. Kalo udah punya, enak. Perginya kapan, bebas. Secara, saya perpanjang 10 hari kerja lebih."

"Itu yang dicap, kalo kita udah ke luar negeri," rekan ojol yang saya lupa tanya namamya ini melirik stempel di beberapa halaman paspor lama saya.

"Iya, setiap ke negara lain, bakal dicap. Namun, untuk negara tertentu kena visa. Malaysia, setahu saya nggak, bang. Beda, kalo luar ASEAN, misal Arab (Saudi) atau Eropa, harus ada visa."

"Bikin lagi? Bayar ga?"

"Bayar bang visanya, tapi harganya variatif sih."

"Wah, oke deh bro. Thanks infonya. Ane lanjut ya."

"Siap bang. Ane masih ngopi sama sebats dulu."

SAYA pun lanjut mengecek berbagai berkas sembari menyelimutinya dengan plastik. Maklum, meski hanya rinai, tapi tetap paspor terbuat dari kertas yang mudah basah jika terkena air.

Halaman paspor baru tampak lebih elegan dibanding lama. Meski, yang lama menurut saya sangat berkesan. He he he.

Bagaimana tidak, sudah ada beberapa halaman yang distempel. Baik hanya cap imigrasi atau visa. Tanda pernah ke luar negeri. Norak sih, tapi wajar.

Mulai dari Singapura, yang letaknya seperminuman teh dari Batam. Lanjut Portugal, dengan visa Schengen untuk Eropa. Puncaknya, Inggris, atau lengkapnya Britania Raya (UK).

Berdasarkan pengalaman, yang terakhir paling sulit untuk mendapatkan visa. Nyaris tiga bulan menunggu untuk mendapatkannya. Termasuk, dana minimal Rp 50 juta di rekening.

Namun, itu belum cukup. Sebab, harus ada surat pernyataan dari berbagai pihak. Mulai dari kantor tempat bekerja, bank, sponsor, atau pengundang.

Seperti halnya drama dalam sepak bola pada injury time, pun demikian dengan proses pembuatan visa UK yang saya alami. Sebab, saya baru mendapatkannya, sehari sebelum berangkat!

Bayangkan, betapa deg-degan dalam 2-3 bulan sebelumnya. Sebab, menurut info yang beredar, UK jadi visa tersulit Warga Negara Indonesia (WNI) setelah Amerika Serikat.

Pun dengan beragam mitos yang menyertai. Next, bakal saya ceritakan pada artikel lainnya.***



*         *         *
Paspor adalah dokumen pemerintah resmi untuk warganya yang ingin
ke luar negeri

*         *         *
Visa Singapura

*         *         *
Visa Schengen untuk ke Eropa yang dikeluarkan Kedutaan Besar Portugal

*         *         *
Visa Britania Raya untuk jelajah Inggris dan negara UK lainnya

*         *         *
Artikel Terkait:
- Syarat Bikin Paspor Perdana
- Syarat Perpanjang Paspor yang Mati
- Cara Bikin Visa Schengen
- Cara Bikin Visa Britania Raya (Inggris)
*         *         *


- Jakarta, 2 Maret 2020

Minggu, 16 Februari 2020

Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I




"HELM-nya dipakai ya mbak."

"Oh, nanti aja mas. (Kalau sudah) di jalan."

"Ga bisa mbak. Itu untuk keselamatan. Kepala yang utama."

"Iya deh mas."

"Sudah dikunci?"

"Ga usah mas. Gini aja cukup. Yang penting aman dari razia, kan?"

"Maaf mbak, saya belum akan jalan jika helm tidak dikunci. Sampai (bunyi) klik."

"Ih, meuni rempong si mas."

"Bukan begitu mbak, di jalan kita ga tahu apa yang terjadi. Amit-amit ya, semoga ini ga kita alami. Jika kecelakaan, bisa diminimalkan kalau kepala tidak kena. Maaf ya, kalau saya rewel. Namun, ini sudah SOP, yang saya lakukan sejak pertama kali jadi ojol (Ojek Online).

"Iya, iya mas. Yuk, cuss."

*        *        *

DEMIKIAN percakapan saya dengan salah satu penumpang wanita di perbatasan Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Orderan GoRide menuju lokasi mal di Selatan Jakarta. Wanita dengan blazer hitam itu, sebut saja namanya Sumbadra, yang mengaku bekerja sebagai SPG (Sales Promotion Girl) di mal mewah.

"Mas, berhenti sebentar. Saya ganti posisi duduk."

"Ok, mbak," ujar saya menyilakannya ganti posisi duduk tadinya mengikuti jok kini jadi menyamping.

"Susah, kalo tadi. Meski pake stocking, ribet. Enakan menyamping, ga pegal."

"Siap mbak." saya melanjutkan.

"Untung cerah, kalo hujan bikin rempong. Secara, saya giliran pake rok, ga celana jin."

"Saya ada jas hujan. Terusan, atas dan celana panjang."

"Tetap susah mas, biasanya kalo hujan saya minta berhenti."

"Ok deh mbak."

*        *        *

SEPEDA motor pun membelah jalanan. Nyaris lurus jika ditarik secara melintang.

Hanya, sebagaimana kota-kota besar di kolong langit, dengan bertumbuhbya manusia diiringi pesatnya teknologi membuat macet pun tak terelakkan.

Dari jok belakang, terdengar sang penumpang sedang bicara melalui telepon genggam. Suaranya merdu diiringi canda nan renyah. Sore yang berwarna.

Bersambung...

- Sarinah, 16 Februari 2020

Rabu, 12 Februari 2020

Kenapa Harus Ada Barang Mantan di Toko?


Layar bioskop menampilkan poster resmi Toko Barang Mantan saat
Press Screening 11 Februari lalu
(Foto: www.roelly87.com)



BEKAS. Bisa itu pemangku jabatan, kedudukan, dan sebagainya. Contoh, gubernur yang sekarang aktif dalam organisasi sosial.

Demikian, definisi tentang mantan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring. Namun, dalam keseharian, terutama, bagi pasangan, anak muda, atau yang sedang dan sudah jatuh cinta, serta putus, mantan memiliki arti lain.

Bukan sekadar bekas atau eks dalam pangkat. Melainkan, mantan itu benar-benar sesuatu. Tidak bisa dimiliki lagi, tapi (auranya) masih terasa. Eitss! Itu menurut saya pribadi.

Saking ada yang ingin move-on, ada yang ingin menjual barang-barang kenangan mantan. Bahkan, ada yang hingga membuat toko dan laris manis! Baik itu yang menjual atau membeli barang kenangan mantan!

Itu yang dilakukan Tristan, diperankan Reza Rahadian, dalam Toko Barang Mantan. Yaitu, film dengan drama komedi tentang aksi jual beli barang mantan. Dalam kesehariannya di toko, Reza dibantu Rio (Iedil Dzhurie Alaudin) dan Amel (Dea Panendra).

Sejak berdiri, toko tersebut lumayan laris. Bisa dipahami mengingat menjual atau beli barang mantan termasuk salah satu dalam memorabilia.

Ada yang ingin menjualnya, demi move-on. Di sisi lain, ada juga yang ingin membelinya kembali, karena memang masih cinta. Khususnya, terkenang. Ya, bagaimana pun, itu manusiawi. Nah, jamaknya kehidupan, pasti ada naik dan turun.

Pun demikian yang dialami Tristan, baik di tokonya maupun kehidupan pribadi. Tepatnya, sejak kehadiran Laras (Marsha Timothy), mantan pacarnya saat masih kuliah. Setelah itu, bumbu-bumbu realita pun mengalir jernih.

Ibaratnya, benang yang dikumpulkan untuk dirajut. Hanya, ketika sudah nyaris jadi bahan, berantakan. Itu yang dialami Tristan... Pada akhirnya, pria berambut gondrong ini harus menjual peninggalan satu-satunya, dari Laras, di Toko Barang Mantan.

*          *          *

Poster Resmi Toko Barang Mantan


FILM yang disutradarai Viva Westi ini benar-benar memacu adrenalin penonton. Terutama, yang pernah merasakan sesuatu dengan mantan. Suatu kehormatan bagi saya bisa menyaksikannya secara perdana di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, kemarin, Selasa (11/2).

Tepatnya, mendapat undangan dari MNC Pictures dan Komunitas Indonesian Social Blogger (ISB) bersama rekan-rekan media dan blogger dalam Press Screening. Sejak menyaksikan trailernya, bulan lalu, saya sudah sangat optimistis. Pasalnya, Toko Barang Mantan ini diperankan sejumlah aktor dan aktris ternama di Tanah Air.

Nama besar Reza dan gaya khas Marsha sangat mewarnai sepanjang film. Namun, Toko Barang Mantan ini tidak hanya mereka saja. Ada beberapa karakter unik dari pameran lain. Itu bisa terlihat dengan bagaimana ceriwisnya Amel dan kepolosan Rio.

Belum lagi aksi memukau dari Roy Marten sebagai ayah Tristan diikuti asistennya, Ligwina Hananto (Tante Lani), yang membuat film ini punya penggambaran pas. Diiringi komedi yang tepat dan berbagai plot twist.

Jika Anda aktif di media sosial, termasuk twitter, tagar #CewekButuhKepastian, menggema kencang. Itu jadi bagian dari dukungan warganet kepada Tristan untuk menegaskan sikapnya terhadap Laras.

Kolaborasi keduanya dalam film, benar-benar unik. Bak air dengan api. Yang satu panas, lainnya mendinginkan. Tak jarang, keduanya sama-sama keras. Pada akhirnya, tiada pesta yang tak berakhir bagi Tristan dan Laras.

*          *          *

BAGAIMANA kisah cinta mereka dan nasib Toko Barang Mantan? Bisa disimak pada 20 Februari ini! Ya, Toko Barang Mantan bakal rilis serentak di seluruh bioskop Tanah Air pada tanggal cantik tahun ini. 20-02-2020.

Saya pribadi, tak sabar menyaksikannya (kembali) pekan depan. Jika Anda dan keluarga, oh ya, film ini memiliki rating PG-13. Yaitu, anak kecil bisa turut menyaksikan dengan didampingi orangtua.

Nah, bagi Anda yang juga penasaran untuk melihat aksi Reza dan kawan-kawan, bisa mengintipnya terlebih dulu pada trailer resmi di Youtube, di bawah ini:




*          *          *
Reza Rahadian, Marsha Timothy, pameran lainnya, serta tim produksi
dalam tanya jawab terkait di balik layar Toko Barang Mantan

*          *          *
Antusiasme blogger, media, dan masyarakat, untuk mengetahui lebih dalam
dengan Toko Barang Mantan yang tayang perdana pada 20-02-2020

*          *          *

Film Toko Barang Mantan versi www.roelly87.com
Cerita: 9,5/10
Pameran utama: 9/10
Pameran pembantu: 8/10
Alur: 8/10
Konflik: 8/10
Musik: 6/10
Durasi: 8/10
Keseluruhan: 8,5/10

*          *          *

Artikel Terkait MNC Pictures
Ada Kiblat di Balik Pencarian Talia
Sisi Lain dari Film Mahasiswi Baru
Inspirasi dari Film Koki-koki Cilik 2
Ketika Preman Pensiun Juga Manusia

Tentang 3 Dara 2 yang Menggoda

*          *          *
- Jakarta, 12 Februari 2020

Kamis, 06 Februari 2020

PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol

PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol

Ilustrasi saya sedang mengambil order food


SEBAGAI driver ojek online (ojol) yang bermitra dengan salah satu aplikasi ternama di Tanah Air, tentu saya harus siap mengambil seluruh orderan. Itu meliputi penumpang yang biasa disebut GoRide, makanan (GoFood), kirim barang (GoSend), beli obat (GoMed), hingga belanja (GoShop).

Kelima layanan itu selalu menyertai daftar orderan saya sehari-hari. Kendati, jika diurut berdasarkan rutinitias, paling banyak saya mendapat orderan food, ride, send, shop, dan med.

Terkait plus dan minus dari lima layanan itu, akan saya buat berseri dalam artikel berikutnya. Untuk saat ini, saya akan membahas food atau shop terlebih dulu.

Keduanya bisa dibilang serupa tapi tak sama. Identik menalangi dulu pakai uang pribadi, baik gopay atau tunai.

Bedanya, GoFood, memiliki restoran yang terafiliasi dengan GoJek. Sementara, GoShop, tidak, alias independen.

Nah, dari sekian banyak mal atau pusat perbelanjaan di ibu kota, ada tiga yang paling malas didatangi. Sebagai gambaran, saya beroperasi pada lima kotamadya dengan urutan tersering di Jakarta Barat, Pusat, Selatan, Utara, dan Timur.

Tentu, tulisan ini tidak merangkum semuanya. Namun, saya berusaha objektif, meski harus diakui jika subyektivitas tetap memengaruhi. Setidaknya, ada sedikit. Juga, di-blend dengan curhat rekan-rekan ojol lainnya yang setiap bertemu pasti mengeluhkan hal sama. #SalamSatuAspal, he he he.

Selain itu, tidak semua mal atau pusat perbelanjaan rutin saya datangi. Hanya, untuk saat ini ada tiga yang paling bikin saya ogah, dengan berbagai alasan.

3. Taman Anggrek (TA)
Parkiran untuk sepeda motor di luar. Jadi, agak menyeberang jika ingin masuk. Sepele sih, tapi agak gimana gitu. Apalagi, lokasi parkirnya yang crowded saat masuk atau keluar.

2. Pacific Place (PP)
Salah satu mal mewah di Tanah Air yang tidak ramah dengan pengendara sepeda motor. Apalagi, ojol! Bayangkan, di balik kemegahannya, tidak ada parkir untuk sepeda motor. Jadi, saya harus menumpang ke parkiran resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berada di seberangnya. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 100 meter.

Jika tidak terpaksa benar, atau sedang berburu poin, sumpah, saya ogah banget ke mal ini. Kendati, orderannya melimpah baik itu food atau shop. Biasanya, saya akali dengan Harga Maksimal Orderan Rp 50.000, yang khusus untuk goride. Jadi, ketika melintasi Sudirman Central Business District (SCBD), saya hanya fokus cari penumpang saja.

1. Plaza Indonesia (PI)
Sadis. Mal legendaris, megah, ternama, mewah, orderan food dan shop melimpah, tapi... Ya, PI sama sekali tidak menyediakan parkiran untuk sepeda motor. Bahkan, tidak ada alternatifnya seperti PP.

Sebab, jika ojol ingin parkir, harus di pinggir kali yang ilegal. Sudah begitu, harganya dipukul rata, Rp 5.000! Hehehe, kaya ini yang jaga parkir. Baik karyawan, pengunjung umum, atau ojol. Jelas, ini sangat memberatkan. Terutama, jika siang, dengan orderan minimal Rp 8.000 yang harus dipotong Rp 5.000, seperti pengalaman saya pada akhir tahun. Sisa, Rp 3.000. Itu pun masih dipotong Rp 2.000 jika kirim ke apartemen yang ojol tetap dikenakan tarif. Bersih? Cuma dapat Rp 1.000!

Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi mengingat tidak ada parkiran sepeda motor di PI. Opsi lainnya, di Grand Indonesia (GI) yang resmi per jam Rp 2.000, cuma jauhnya minta amplop. Sebab, parkiran di GI ada di basement bawah. Kecuali, jika memang ada orderan di GI, tersedia parkir khusus ojol, termasuk GoJek yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk. Bagi saya, apa yang dilakukan GI ini sangat membantu dibandingkan PI yang parah banget...

Demikian, catatan harian seorang ojol ini terkait tempat parkir. Nantikan, artikel selanjutnya mengenai drama dalam satu aspal.***

- Jakarta, 6 Februari 2020

Sabtu, 01 Februari 2020

Permintaan Terakhir


Ilustrasi (www.roelly87.com)



JATUH cinta itu indah. Banyak orang yang mengatakan lika-liku tersebut sebagai suatu anugerah. Laksana mahakarya sebuah lukisan, cinta itu adalah seni yang harus dilakukan dengan jatuh bangun. Ya, momen berkesan itu terjadi lima tahun lalu. Saat pertama kali aku mengikrarkan janji dengannya. Sebuah senyum tersungging manis di wajahnya ketika kami bertukar cincin.

Usai melangsungkan pernikahan, kawan-kawanku bersorak histeris saat aku menggenggam erat tangannya. Wajahnya tampak bersemu merah karena malu-malu. Saat itu aku merasa sebagai pria paling bahagia di kolong langit. Betapa tidak, meski belum berada di posisi puncak, tapi karierku sedang menanjak. Kehadirannya membuat hidup ini lebih bermakna. Apalagi, setelah kami dikarunia Putri yang sungguh lucu dan menggemaskan.

Hanya, kenangan itu telah berlalu. Terkubur dengan sang waktu. Adagium lawas mengatakan, tiada perjamuan yang tak berakhir. Itu karena kami mempunyai taraf kehidupan yang meningkat. Ia seorang akuntan ternama di kota ini. Sementara, aku kian disibukkan dengan aktivitas di lapangan. Banyak orang memandang kami sebagai keluarga kecil nan bahagia. Bahkan, menurut mereka, rumah tangga kami sangat ideal.

Padahal, hampir setiap hari kami mempunyai rutinitas serupa yang membuat miris: Berangkat kerja bersama-sama dan kembali di waktu yang bersamaan, alias disibukkan dengan rutinitas masing-masing. Hingga, pada suatu hari, riak-riak kecil mulai membuat bahtera menjadi goyah. Benar kata pepatah, jangan pernah berlayar kalau takut ombak. Ternyata, ungkapan itu berlaku bagi kami. Tepatnya aku.

Ya, sejak mengenal Rere, kehidupanku berubah drastis. Kehadirannya yang berawal dari pertemuan di sebuah event sanggup membuat kemudi ini keluar dari jalur sebenarnya.

"Dirimu sosok yang sangat memesona bagi semua wanita," tuturnya ketika kami berdua bersantai di sebuah apartemen mewah yang lebih mirip istana. Rere, wanita karier berusia lebih dari seperempat abad memang pandai memikat kaum pria. Termasuk diriku yang seolah tak berdaya.

Namun, ungkapan 'memesona' itu justru membuatku limbung. Lantaran itu merupakan ucapan yang sama dari istriku pada hari pernikahan. Tidak bermaksud memuji, tapi Lenny mengatakan hal tersebut sebagai wujud kasih sayangnya yang tulus. Begitu juga dengan ketulusan Rere, meski dengan versi berbeda.

Mengingat hal itu jelas membuat aku kian ragu. Apalagi dalam beberapa hari belakangan selalu timbul permintaan yang sama dari Rere, "Ceraikan Lenny. Kita akan hidup bersama dengan bahagia. Apalagi yang kau cari?"

Aku tidak bisa memberi kepastian. Kehadiran Rere yang masih memiliki hubungan keluarga dengan mantan salah satu penguasa negeri ini, membuatku silau. Wanita beralis lancip ini mempunyai segalanya: kekuasaan, materi, serta aroma yang keluar dari tubuhnya. Hanya, dari lubuk hati yang paling dalam, aku sendiri bukanlah seorang manusia yang tidak mempunyai liangsim.

*      *      *

PUKUL 23 WIB, suasana di rumah sepi. Aku masih membaca surat kabar ditemani Lenny yang baru pulang setengah jam sebelumnya. Aku menemaninya makan malam. Sesuatu yang sudah hampir punah kulakukan sejak mengenal Rere.

"Aku ingin mengungkapkan sesuatu," ujarku sambil menatap Lenny yang sedang menikmati bacaan majalah wanita minggua.

"Tentang apa?" ujarnya sambil mengalihkan pandangan dari majalah.

"Ini penting."

"Penting?"

"Ya, ini penting bagi kita,"

"Sayang... Tidak seperti biasanya dirimu berbicara serius seperti itu. Apa karena kita sudah jarang melakukan makan malam bersamaan di rumah?"

"Bukan Len. Tapi, kali ini aku serius dan berharap dirimu dapat mengerti."

"Sayang, bicaralah. Aku akan tetap mendengarkan ceritamu dari awal hingga selesai."

Aku langsung menunduk. Tak kuasa beradu pandangan dengan wanita yang selama ini aku anggap sebagai sosok yang tak ternilai. Terlebih mendengar jawabannya yang lemah lembut dan mengandung perhatian. Iringan lagu berjudul 'Denting' dari Melly Goeslaw justru membuat malam kian dingin.

"Aku ingin kita bercerai."

"Kamu kurang sehat hari ini. Kebanyakan di lapangan membuatmu agak tertekan. Istirahat dulu, atau mau kubuatkan segelas kopi?"

"Tidak Len. Kali ini aku serius."

"Sadarkah apa yang kamu katakan barusan?"

"Ya. Tentu Len. Dan, aku minta maaf sebelumnya."

"Kamu bukan Wisnu yang dulu. Aku kecewa."

Derai air mata berlinang membasahi pipi wanita yang dulu kudapatkan dengan susah payah untuk membuktikan yang namanya cinta. Sosok yang selalu menyemangati saat diriku terjatuh dan tak pernah bosan mengingatkan ketika berada di puncak agar tetap rendah hati. Sungguh, mendengar isak tangisnya sangat menyayat hatiku. Ribuan kali lebih pedih dibanding saat saham yang kutanam di sebuah perusahaan anjlok hingga mengalami defisit ratusan juta rupiah.

*      *      *

BEBERAPA hari setelah itu perasaan bersalah terus menghantuiku. Namun, bayang-bayang bersama Rere membuat semuanya hilang. Sambil mengurus surat perceraian, kami memang masih tinggal satu rumah. Itu semua kulakukan demi membahagiakan Putri yang masih balita. Ya, hanya keberadaannya yang imut itu mampu menepis keinginan untuk bersama Rere. Meski hanya sebatas sementara.

"Aku punya satu permintaan. Apakah kamu mau mengabulkan?" tutur Lenny sebelum mengantarkan sang buah hati kami ke playgroup. Sesaat mendengar kalimat tersebut aku terhenyak. Selama lima tahun ini mengarungi rumah tangga, baru kali ini aku mendengar Lenny menyebutku dengan kata 'kamu' dan bukan 'sayang'. Sungguh suatu momen yang sedikitnya menyentuh liangsim-ku. Untuk pertama kalinya aku merasa Lenny benar-benar menganggapku sebagai orang yang asing.

"Katakanlah. Selagi mampu, pasti aku lakukan."

"Aku tidak menginginkan rumah ini, harta, kendaraan, atau gono-gini lainnya. Namun, aku ingin kamu melakukan sesuatu yang mungkin tidak perlu mengeluarkan keringat sebelum surat perceraian selesai."

"Silakan."

"Yakin kamu mau melakukannya. Tidak gengsi?

"Aku sudah mengeluarkan ucapan setuju. Bagiku, 'a adalah a, b adalah b'. Nyemplung ke laut atau lompat ke api sama saja. Kecuali membatalkan cerai, semua permintaanmu akan aku lakukan."

"Aku ingin sebelum keputusan itu keluar. Kita tetap hidup bersama dalam satu rumah. Aku tidak ingin Putri bersedih karena menyaksikan kedua Orangtuanya berpisah. Selain itu, rentang waktu beberapa hari ini sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama yang terakhir untuk membahagiakan Putri."

"Ya..." ucapku setelah mendengar permintaan tersebut sambil tertunduk. Tidak berani aku menatap wajahnya yang kian pucat. Tanpa sengaja aku menggenggam erat tangannya yang terasa kian kurus hingga urat berwarna hijau tampak. Setelah itu, dengan berat hati aku melepaskan genggaman dan memandangi punggungnya dari kejauhan. Ya, aku merasa Lenny sekarang bukan sekadar mungil seperti dulu, melainkan sangat kurus akibat terlalu sedih memikirkan hari-hari terakhir pernikahan kami.

*      *      *

JALAN-jalan menyusuri Kota Jakarta merupakan kegemaranku sejak kecil yang memang menyukai petualangan. Selain bercanda dengan sang buah hati dan menyaksikan pertandingan sepak bola. ketiganya menjadi hiburan pelepas kesedihanku sekaligus menghindar dari Rere yang kian intens menghubungiku.

Sedang asyiknya menghirup udara segar di Taman Menteng, tanpa sengaja aku ditabrak seorang pria tua yang sedang berlari-lari kecil. Dengan kaca mata hitam, dia tampak gagah meski sudah berusia lanjut. Langkahnya tegap dengan tak hentinya menyunggingkan senyum tanda kebahagiaan. Di belakang pria tersebut, terdapat seorang bocah yang mengikutinya dengan riang. Ah, dalam hatiku berkata sungguh bahagianya bila aku dapat hidup hingga setua itu ditemani cucu.

"Maaf, ya Mas. Suami saya tidak sengaja tadi menabrak..." kata seorang Ibu yang berusia paruh baya menyadarkan lamunanku.

"Oh, tidak apa-apa Bu. Saya justru senang melihat suami dan cucu Ibu sedang bermain di taman."

"Terima kasih ya Mas. Tapi..."

"Tapi kenapa Bu?"

"Suami... Suami saya itu sebenarnya tidak bisa melihat."

"Serius Bu? Itu beliau sedang berlari-lari kecil mengitari ayunan. Bahkan tadi terdengar mengatakan taman ini sungguh indah."

"Itulah Mas. Suami saya mengidap Glaukoma hingga mengalami kebutaan. Setiap sore hari, saya, anak tertua, dan cucu mengajaknya mengunjungi taman. Itu untuk mengurangi penderitaannya akibat tidak bisa melihat. Anak kami yang tertua dan istrinya mengawasi kami dari kejauhan agar beliau tidak sampai ke jalan raya."

"Maksud Ibu? Maaf, saya kurang mengerti."

"Sejak terkena Glaukoma, beliau jadi pemurung. Tiap hari mengurung di rumah karena tiada aktivitas yang dilakukannya akibat tak bisa melihat. Beruntung, kami mempunyai cucu dan anak beserta menantu yang mengerti keadaan itu. Mereka berusaha membuat suami saya tersenyum kembali. Apalagi cucu saya selalu menceritakan keindahan taman ini. Jika yang berbicara orang lain, tentu suami saya tak percaya, karena sejak mengalami kebutaan dia tidak pernah kemana-mana dan seperti patah arang. Tapi, karena cucu saya yang memberitahu bahwa taman ini dahulunya bekas stadion sepak bola. Suami saya percaya dan tergugah keinginannya untuk turut membahagiakan sang cucu bermain di taman ini."

"Oh... Maaf Bu, kalau saya menyinggung hal itu."

"Tidak apa-apa Mas. Justru saya yang harus minta maaf, karena suami saya telah menyenggol Mas hingga hampir terjerembab."

"Saya kagum dengan tekad suami Ibu. Juga salut dengan Ibu yang tak kenal lelah mengurusinya."

"Sekitar 2004 lalu mungkin bertepatan sebelum taman ini dibangun. Sejak itu, kami sekeluarga selalu memberinya dukungan meski menyadari penyakitnya tidak bisa sembuh. Tapi, setidaknya kami bisa membuatnya kembali bahagia. Karena setelah mendengar vonis dokter, tubuhnya yang dulu kekar menjadi tinggal selembar akibat memikirkan saya dan keluarga. Beruntung saya dibantu anak dan keluarga yang selalu merawat dan memberinya motivasi bertahan hidup," ucap Ibu itu sambil menghela nafas, yang kemudian melanjutkan ceritanya.

"Terlebih, sejak kelahiran sang cucu, beliau jadi lebih bersemangat dan ingin membuktikan bahwa penyakitnya itu tidak menghalangi niatnya untuk membahagiakan sang cucu. Beliau juga ingin terus bersama saya hingga sang waktu yang benar-benar memisahkan," Ibu tersebut dengan semangat menceritakan pengalaman keluarganya. Penuturannya tentang merawat sang suami, itu ibarat guyuran air dingin yang membasahi kepalaku.

*      *      *

TIBA-tiba ponselku berdering. Nama yang tertera di layar jelas menggugah perasaanku.

"Bagaimana proses kalian?"

"Selesai."

"Hah? Secepat itu. Kalau begitu jemput aku sekarang di apartemen. Memang kalian seharusnya sudah segera berpisah. Aku ingin segera bersamamu. Berduaan sepanjang waktu..."

"Maaf, Re. Kamu salah tangkap."

"Maksudnya?"

"Hubungan kita yang selesai. Aku sudah bertekad kembali dengan Len yang telah bersamaku dalam suka dan duka.

"Beri aku alasan yang logis agar aku memercayaimu enggan menceraikan istrimu!"

"Selain faktor dirinya, aku juga ingin Putri setelah dewasa memiliki kedua Orangtua yang lengkap. Tapi, aku harus berterima kasih kepadamu, Re. Kehadiranmu dalam beberapa waktu belakangan ini membuatku mengerti. Uang dan kekuasaan itu penting. Tapi bukan segalanya. Dan, bagiku yang segalanya adalah keluarga. Terima kasih, Rere."

Dari jauh aku mendengar suara ditutupnya telepon genggam. Ada perasaan bersalah karena telah membuat Rere bersedih akibat aku mengingkari janji. Namun, setelah itu timbul perasaan lega, karena aku berhasil menyeberangi lautan meski bahtera hampir karam diterjang ombak. Ya, lega akhirnya aku bisa kembali bersama Lenny dan Putri. Aku akan berusaha terus bersama mereka hingga sang waktu benar-benar memisahkan.

Bersambung...
*      *      *

- Jakarta, 1 Februari 2020
Cerpen ini sebelumnya dimuat di Kompasiana, judul sama dengan sedikit perubahan tanda baca dan ilustrasi

Senin, 27 Januari 2020

Setelah 6 Bulan Jadi Ojol, dari Sambilan hingga Full Time

Setelah 6 Bulan Jadi Ojol, dari Sambilan hingga Full Time



NGGAK nyangka, 12 Januari lalu, saya tepat enam bulan jadi ojek online (ojol). Berawal dari sambilan usai pulang kerja di kantor sebelumnya, kini full time. Ya, mulai akhir bulan ini, saya resign sebagai jurnalis di salah satu media cetak ternama di Tanah Air ini.

Jadi ojol full, tentu beda dengan sambilan. Waktu operasionalnya pun lebih panjang. Dari sebelum matahari terbit hingga lewat di ufuk barat. Pendapatannya juga beda. Lebih banyak hehehe. Meski, jam kerjanya luwes. Tergantung, niat. Bisa dari pagi, siang, sore, malam, atau mulai dini hari. Ya, situasional.

Yang pasti, jadi ojol full itu benar-benar harus siap tempur. Beda dibandingkan dengan sambilan yang sekedarnya. Sebab, jadi ojol full itu harus giat. Jika tidak, sulit mendapat pemasukan. Secara, tidak ada lagi yang ditunggu setiap tanggal 28. He he he.

Bisanya, jelang ngojek, saya sudah melengkapinya dengan berbagai persiapan. Itu meliputi:

1. Doa
Ya, banyak-banyakin doa. Agar, gampang cari orderan (gacor). Secara, ojol di ibu kota bukan hanya saya saja. Melainkan, puluhan ribu atau bahkan ratusan. Jadi, harus sigap ketika orderan masuk. Tetutama, jika orderan perdana, haram hukumnya diabaikan, apalagi di-cancel. Sebab, bisa anyep (senyap) berjam-jam. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing sesama ojol.

2. Cek kendaraan
Biasanya, saya lihat indikator bahan bakar minyak (bbm) di dashboard sepeda motor. Selanjutnya, cek angin pada ban depan dan belakang. Lalu, rem, agar perjalanan aman dan nyaman.  Untuk mesin, saya tidak paham. Yang pasti, jika sepeda motor agak gimana gitu, langsung saya larikan ke rumah sakit, eh bengkel resmi terdekat. Namun, jika ramai, terpaksa bengkel jalanan, yang sudah saya kenal.

3. Siapkan Peralatan
Jas hujan selalu tersedia dua. Yang seragam, atasan dan bawahan, serta mantel. Helm pun dua, untuk saya dan penumpang. Selanjutnya masker.

4. Pastikan Perlengkapan
Jika berangkat pagi, saya selalu bawa kopi di tumbler dan air mineral. Ya, bawa dari rumah untuk menekan pengeluaran. Kecuali jika ngojek malam. Kebetulan, sepeda motor saya sekarang matic, jadi bisa bawa banyak atribut. Beda dengan sebelumnya, tipe sports.

5. Sedia payung sebelum hujan
Maksudnya uang untuk antisipasi di jalan. Minimal 500 ribu, untuk beli bensin dan jaga-jaga ban bocor atau motor mogok. Bagaimanapun, di jalan, kita ga tahu apa yang terjadi. September lalu, sepeda motor saya pernah mogok di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Ketika itu, masih yang lama dan besar. Sehingga, susah untuk didorong. Beruntung, ada rekan-rekan sesama jurnalis yang masih ngumpul di sekitar Medan Merdeka Barat, hingga dengan dua sepeda motor bisa menyetut kendaraan saya yang ternyata akinya habis. Selain uang tunai dan kartu atm (debit), saya juga sediakan uang elektronik. Itu meliputi saldo gopay pribadi dan driver. Untuk saldo driver, biasanya selalu tersedia 500 ribu-1 juta yang digunakan untuk GoFood dan GoShop. Maklum, di aplikasi driver saya tersedia empat opsi harga maksimal orderan, mulai dari Rp 50 ribu, 100 ribu, 200 ribu, hingga Semua. Nah, biasanya saya pilih yang terakhir. Simpel saja, dengan orderan tak terbatas, kesempatan dapat orderan pun makin besar dibanding harus yang 200, 100, apalagi 50. He he he.

Sejauh ini, rekor orderan tertinggi pada November lalu yang mencapai 820 ribu. Tunai pula! Untungnya, bukan order fiktif (opik). Kalo opik, rempong. Next, akan saya ceritakan dalam artikel lain.

https://www.instagram.com/p/B5TTaGBgnAK/?igshid=17ewaigm6azp9

Artikel sebelumnya:
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek


- Jakarta, 27 Januari 2020

Senin, 13 Januari 2020

Menelusuri Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua


PT Freeport Indonesia berkomitmen terhadap pendidikan masyarakat Papua
dengan salah satunya memberikan beasiswa mulai dari SD hingga S3
(Foto: Dokumentasi PTFI.co.id)


PEPATAH mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Demikian yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saya pribadi. Salah satunya, mengenai PT Freeport Indonesia (PTFI).

Dulu, ini dulu... Banget mungkin.

Ketika itu, jika mendengar informasi terkait Freeport Indonesia, pasti stigma yang ada dalam pikiran saya, gimana gitu. Entah itu, Freeport Indonesia adalah ini, itu, anu, bla-bla-bla, dan sebagainya.

Wajar saja, mengingat sebagai masyarakat awam, ingatan saya tentang Freeport Indonesia itu, jujur saja. Adalah, pengeruk hasil bumi Indonesia. Alias, eksplorasi penuh untuk diangkut ke luar negeri. Itu, dulu...

Stigma itu, ketika saya masih kanak-kanak. Namun, belasan tahun berselang, tepatnya kini, setelah rekan sebaya memiliki banyak anak, persepsi saya tentang Freeport Indonesia berubah. Tentu saja, tidak langsung 180 derajat. Melainkan, secara bertahap seiring perkembangan usia yang membuat pengetahuan, daya pikir, logika, dan pemahaman saya pun bertambah.

Ditambah, dengan kemajuan teknologi. Kini, stigma negatif saya terkait Freeport Indonesia sudah mulai luntur. Sebab, jika ada berita miring, saya langsung mengeceknya pada pihak yang kompeten. Baik itu, di website resmi PTFI https://ptfi.co.id/, informasi dari perwakilan pemerintah, hingga media yang memiliki kredibilitas di Tanah Air.

Maklum, saat ini, berita atau informasi hoaks memang menjamur. Jadi, saya harus pintar-pintar untuk menelaah lebih lanjut. Terutama, sebagai blogger yang memegang teguh asas jurnalistik. Tentu, dalam menuangkan ide dan pikiran pada blog pribadi saya yang beralamat di www.roelly87.com ini, harus cek dan ricek lebih dulu.

Syukur-syukur, bisa mendatangi langsung ke lokasi yang bersangkutan seperti ketika saya diundang instansi pemerintah untuk meluruskan hoaks di perbatasan.

Nah, dari penelusuran di berbagai sumber yang kompeten di internet terkait Freeport Indonesia, ternyata sangat positif. Itu karena Freeport Indonesia memang menambang dan memproses bijih dengan menghasilkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak. Setelah itu, mereka memasarkan konsentrat ke seluruh penjuru dunia dan terutama ke smelter tembaga dalam negeri, PT Smelting.

Bagaimana dengan keuntungannya?

Tentu, sebagian disetor kepada pemerintah yang sumbangsih bagi negeri sangat besar. Bahkan, Freeport Indonesia turut membangun Papua seperti yang tertuang dalam laman resmi pemerintah pada Indonesia.go.id dengan artikel, "Ekonomi Papua Masih Bergantung pada Freeport".

Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, akibat turunnya produksi Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika menyebabkan pertumbuhan ekonomi Papua agak berkurang hingga minus 20,13 persen pada triwulan pertama 2019 dibanding tahun sebelumnya.

Bisa dipahami mengingat 25 persen dari 30 ribu pekerja Freeport Indonesia merupakan warga asli Papua.

Mungkin, artikel di blog ini masih belum lengkap akibat saya tidak menyertakan komentar langsung atau wawancara dari masyarakat di Bumi Cendrawasih terkait sisi positif kehadiran Freeport Indonesia. Semoga, kelak, saya bisa mendatangi langsung serta melihat prosesi penambangan yang dilakukan Freeport Indonesia sekaligus berbincang dengan masyarakat sekitar.

Banyak lagi Kontribusi Freeport untuk masyarakat Papua. Termasuk, dalam olahraga, salah satunya dukungan penuh terhadap Persipura Jayapura. Sebagai penggemar bal-balan, tentu saya mengetahui kualitas tim berjulukan Mutiara Hitam tersebut yang juara kompetisi nasional di Tanah Air hingga empat kali.

Selain kehebatan pemain di lapangan, strategi pelatih, dan loyalitas suporter, ada dukungan dari Freeport Indonesia. Kucuran dana miliaran rupiah per musim itu sangat berarti untuk mengakomodasi kebutuhan Persipura dalam mengarungi kompetisi. Terutama, jika harus tandang ke markas klub yang perjalanannya lintas pulau ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Hanya, Olahraga baru bagian kecil dari sumbangsih Freeport Indonesia terhadap Papua. Sebab, masih banyak lagi kontribusi mereka untuk Bumi Cendrawasih.

Misalnya, dalam memberdayakan masyarakat. Freeport Indonesia sejak 1996 hingga 2018 telah memfasilitasi 11 ribu siswa dalam program beasiswa mulai dari tingkat SD hingga S3. Freeport Indonesia bersama organisasi masyarakat, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) secara rutin melakukan monitoring langsung ke sekolah-sekolah di mana para penerima beasiswa tersebut menempuh pendidikannya.

Freeport Indonesia juga memberikan keterampilan bagi ibu rumah tangga di Papua. Sehingga, mereka dapat berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Itu meliputi berbagai pelatihan seperti mengelola keuangan keluarga, menjahit, hingga membuat makanan dari bahan lokal turut diajarkan agar dapat tercipta industri skala rumah tangga di masa mendatang.

Dari sektor ekonomi, Freeport Indonesia turut mengajak pemangku kepentingan lainnya untuk dapat berperan dalam pengembangan daerah dan masyarakat. Termasuk, pada perikanan, peternakan, pertanian, ketahanan pangan, dan banyak lagi melalui Program Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Dana Bergulir.

Tujuannya, dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat lokal dengan memberikan pembinaan dan pendampingan kepada pengusaha-pengusaha Papua yang berpotensi. Berbagai program ini dapat meningkatkan perekonomian lokal dan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan serta meningkatkan kemampuan kompetisi pasar para pengusaha lokal.

Bagi saya, ini menarik. Sebab, Freeport Indonesia, ibaratnya tidak hanya memberikan ikan saja kepada masyarakat Papua. Melainkan, turut memberikan kail, agar masyarakat Papua bisa maju dengan hasil usahanya.

Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua mendapat pengakuan luas dari masyarakat di Tanah Air. Terutama, dari warga asli Papua. Itu diungkapkan Teanus Nebegal, pengusaha dari Kampung Ilaga yang mendirikan CV. Kwakibera Timika.

Usai mendapat binaan dari Departemen Social & Local Development (SLD) Freeport Indonesia, Teanus merintis usahanya dengan modal pribadi atau tanpa bantuan pihak lain sejak 2006. Proyek pertamanya, pembersihan rumput di sepanjang jalur transmisi listrik dan pengecatan tower listrik di jalan PTFI dari Portsite sampai MP50.

Berkat kegigihannya, CV. Kwakibera mengalami kemajuan. Bahkan, pada Februari 2012, Teanus mampu menambah kendaraan operasionalnya dengan satu unit mobil pick-up. Dari hasil usahanya ini, Teanus mampu mendirikan rumah, kantor, dan aset usaha lainnya, dengan memperkerjakan 12 karyawan.

"Apa yang telah dilakukan PTFI terhadap pengusaha-pengusaha putra daerah melalui SLD sudah bagus. Ada pelatihan dan ada pendampingan serta pemberian pinjaman modal. Harus tetap dilanjutkan sampai para pengusaha-pengusaha ini bisa betul-betul mandiri dan tidak tergantung lagi," kata Teanus, bersyukur. "Dengan begitu, akan melahirkan pengusaha-pengusaha putra daerah lainnya. Serta, hasilnya, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat."

Ya, Teanus hanya satu dari jutaan penduduk Papua yang merasakan sisi positif dari keberadaan Freeport Indonesia. Sebagai sesama masyarakat Indonesia, tentu saya berharap Freeport Indonesia terus memberi kontribusi di Bumi Cendrawasih.

Yupz, sampai jumpa pada tulisan-tulisan berikutnya mengenai Freeport Indonesia. Baik secara mendalam, sisi lain, atau yang belum diketahui secara luas bagi masyarakat umum dalam blog ini ke depannya.***

*         *        *

Referensi:
- https://ptfi.co.id/id/how-do-we-operate
- https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/ekonomi-papua-masih-bergantung-pada-freeport
- https://www.papua.go.id/view-detail-berita-3378/index.html
- https://papua.antaranews.com/berita/513636/freeport-indonesia-raih-anugerah-ima-2019
- https://money.kompas.com/read/2019/12/06/200311726/freeport-kucurkan-rp-75-miliar-per-tahun-ke-persipura

*         *        *
- Jakarta, 13 Januari 2019