TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2020

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 02 September 2020

Freja Suites BSD City Jawab Kebutuhan Milenial


Freja Suites merupakan cluster baru yang terletak di
pusat BSD City
(Sumber foto: FrejaSuites.com)


KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata milenial. Yaitu, orang atau generasi yang lahir pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Itu berarti, saya termasuk. Nah, pada usia produktif ini, tentu saya memiliki tiga kebutuhan utama, yaitu sandang, pangan, dan papan.

Untuk sandang dan pangan, sudah saya wujudkan dalam keseharian. Namun, tidak (tepatnya belum)  dengan papan. Sebab, saya masih tinggal bersama keluarga, tepatnya Orangtua. Wajar saja, mengingat saya masih single, alias belum berumah tangga.

Beda lagi, jika sudah menikah, tentu saya -kelak- akan menempuh hidup baru bersama istri dan anak. Untuk saat ini, masih bersama-sama keluarga. Ya, sambil berhemat ketimbang harus kost. Alhasil, uangnya ditabung demi masa depan. Salah satunya, beli rumah.

Sebagai bagian dari generasi milenial, saya punya cita-cita untuk memiliki hunian yang sesuai kebutuhan. Itu meliputi lokasi yang strategis, fasilitas lengkap, harga kompetitif, hingga kredibilitas pengembang yang terpercaya. Semua kriteria itu ada pada Bumi Serpong Damai (BSD) City.

Yupz, tinggal di kota mandiri yang terletak di barat daya ibu kota ini merupakan impian saya sejak lama. Mungkin, dari saya masih kanak-kanak hingga rekan seangkatan sudah punya banyak anak lagi. Maklum, BSD City memiliki prestise tersendiri bagi saya.

Apalagi, kini setelah saya menyimak booming-nya klaster Freja House. Berdasarkan informasi resmi di berbagai media nasional, diketahui cluster tersebut laris manis bak kacang goreng. Sebab, terjual habis hanya dua pekan sejak 30 Juli pada peluncurannya hingga 13 Agustus lalu.

Sebagai gambaran, Freja House, berukuran 4x10 meter persegi dengan dua kamar tidur yang memiliki rentang harga Rp 1-1,2 miliar. Gayung pun bersambut terkait larisnya Freja House dari Sinar Mas Land. Pemilik BSD City yang jadi salah satu unit usaha dari Sinar Mas ini pun bak menyambut bola. Bisa dipahami mengingat permintaan pasar yang diprediksi masih besar bagi kalangan milenial.

Itu mengapa, BSD City pun meluncurkan klaster Freja Suites. Yaitu, hunian yang memiliki ukuran lebih besar daripada Freja House. Ya, dari laman resminya di www.frejasuites.com, terdapat dua tipe ukuran. Luasnya, 5x10 dan 5x12 meter persegi dengan masing-masing tiga kamar tidur.

Bagi kalangan milenial atau keluarga muda, keberadaan Freja Suites jadi jawaban yang ideal. Ya, secara luas, tergolong ideal. Apalagi, mengingat lokasinya yang fenomenal karena terletak di pusat BSD City. Ya, dari klaster Freja Suites hanya selangkah menuju AEON Mal, exit Tol, dan stasiun kereta. Alhasil, BSD City-Jakarta dan sebaliknya sangat mudah diakses.

Itu yang jadi pertimbangan saya jika kelak sudah memiliki dana untuk mewujudkan cita-cita tinggal di klaster Freja Suites. Ya, seperti yang sudah saya tuliskan pada paragraf sebelumnya. Bahwa, lokasi Freja Suites sangat strategis.

Berdasarkan estimasi via peta digital, hanya berjarak 10 menit dari kawasan Pondok Indah jika ditempuh dengan kendaraan roda empat diikuti pusat bisnis Sudirman (30), dan Bandara Soekarno-Hatta (40). Atau, jika bepergian melalui angkutan umum seperti yang biasa saya lakukan, pun sangat mudah. Itu karena terdapat tiga stasiun yang berdekatan, yaitu Cisauk, Serpong, dan Rawa Buntu.

Bagaimana dengan fasilitasnya? Menurut saya, tergolong lengkap. Sebab, dekat dengan kawasan intermoda, selain stasiun juga ada bus dan pasar modern. Bahkan, untuk hiburan pun sangat melimpah. Mulai dari AEON Mall, Breeze, Q Big, hingga Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang rutin menyelenggarakan berbagai pameran, termasuk mobil setiap tahunnya.

Nah, memiliki hunian di masa depan, tentu membuat saya harus mengingat terkait pendidikan untuk anak. Di sekitar Freja Suites ini terdapat fasilitas pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Termasuk Sinarmas World Academy (SWA), Universitas Prasetiya Mulya, International University Liaison Indonesia (IULI), dan sebagainya.

Kemudahan akses dan fasilitas yang lengkap memang jadi standardisasi Sinar Mas Land dalam setiap meluncurkan propertinya. Bisa dipahami mengingat pengalaman mereka dalam 40 tahun ini sudah mengembangkan lebih dari 50 proyek di Tanah Air. Termasuk, Freja Suites yang merupakan cluster baru dengan lokasi fenomenal di pusat BSD City ini.

Maklum, sejak dibangun pada dekade 1980-an, BSD City menjelma sebagai kota mandiri yang ideal. Keberadaannya, sukses mengurangi beban Jakarta yang kian sesak. Apalagi, mengingat lokasinya yang mudah diakses, baik kendaraan pribadi maupun umum seperti kereta api dan bus.

Ditambah dengan latar belakang Sinar Mas Land yang jadi pengembang terpercaya sejak puluhan tahun silam yang memiliki kredibilitas positif di mata calon konsumen. Termasuk, saya yang yang kian terpikat usai menyaksikan tour show unit Freja Suites di laman resmi youtube BSD City Residential.

Bagaimana tidak? Sebab, setiap sudut di Freja Suites sangat memesona. Itu karena layout ruang yang inovatif dan fully furnished! Ya, ketika kita membeli unit di Freja Suites, sudah termasuk perabotan di dalamnya. Jadi, tidak perlu mengeluarkan dana lagi.

Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan itu membuat Freja Suites benar-benar jadi hunian ideal bagi saya di masa depan. Yupz, the Truly Urban House for Millenials in the Heart of BSD City!


*         *         *
Lokasi Freja Suites di pusat kota BSD City
(Foto: www.frejasuites.com)

*         *         *
Interior Freja Suites yang sangat memesona
(Foto: www.frejasuites.com)

*         *         *
Akses mudah dan fasilitas yang lengkap jadi jawaban Sinar Mas Land terkait
kebutuhan hunian bagi kalangan milenial

*         *         *
Youtube Freja Suites

*         *         *
Artikel Terkait BSD dan Sinar Mas Land
- Sinar Mas World Academy BSD
- Berawal dari Kebaikan

*         *         *
- Jakarta, 2 September 2020

Jumat, 31 Juli 2020

Antara Rokok, Cukai Naik, dan Pandemi


Talkshow yang diselenggarakan KBR dengan tema "Mengapa Cukai
Rokok Harus Naik Saat Pandemi" pada 29 Juli lalu


PANDEMI Koronavirus berdampak luas bagi umat manusia di kolong langit. Termasuk, di Tanah Air yang berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada Kamis (30/7) sudah mencapai lebih dari 100.000 jiwa yang terdampak.

Imbasnya, tidak hanya berdampak pada kesehatan dan ekonomi saja yang dirasakan nyaris seluruh lapisan masyarakat. Melainkan juga berbagai faktor lainnya, misalnya, industri, pariwisata, pertanian, jasa, dan sebagainya.

Tentu, yang fatal saat ini terkait kesehatan. Apalagi, jika seseorang yang mengidap Penyakit Tidak Menular (PTM) dan terjangkit korona bisa berpotensi tinggi. Nah, berdasarkan riset Kementerian Kesehatan, salah satu faktor PTM adalah merokok.

Itu meliputi Kardiovaskular, Kanker, Paru Kronis, dan Diabetes atau Kencing Manis. Selain itu, rokok juga disebut jadi faktor risiko penyakit menular seperti TBC dan Infeksi Saluran Pernapasan.

Btw... Saya perokok! Yupz, jujur saja. Saya memang perokok aktif. Malah, sehari bisa sebungkus. Terlebih dengan profesi sebagai ojol alias ojek online yang membuat mayoritas waktu saya berada di jalanan. Alhasil, rokok sudah jadi tandem saya bersama kopi hitam dan cemilan yang meliputi gehu pedas dan kuaci.

Nah, sebagai ojol, tentu saya punya banyak waktu luang untuk melihat perkembangan informasi terkait Koronavirus. Tidak hanya di berita online saja, melainkan juga media sosial seperti twitter, facebook, dan instagram, serta rutin mengecek youtube. Bukan sekadar untuk dengar lagu atau mencari video klip terbaru, tapi juga untuk mengamati data terbaru mengenai Koronavirus.

Termasuk, saat menyimak talkshow yang diselenggarakan Kantor Berita Radio (KBR). Awalnya, terkesan akward mengingat saya perokok. Sementara, perusahaan media yang menyokong berita untuk 600 radio di Tanah Air dari Aceh hingga Papua ini mengusung tema yang menurut saya "agak berat". Yaitu, Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi?

Saya pun sempat mengernyitkan dahi. Sebab, sepengetahuan saya, berapa pun harga rokok, pembelinya pasti ada. Itu berdasarkan pengalaman saya yang kerap mengunjungi suatu tempat dan tetap beli rokok.

Misalnya, di Singapura yang per bungkus dibanderol 20 S$. Kalikan dengan Rp 10.000 per dolar Sin. Pun demikian ketika mengunjungi Malaysia, yang banderolnya 30 ringgit dan Wales, 10 poundsterling. Sementara, rata-rata rokok di Tanah Air, "hanya" Rp 20.000. Tergolong murah dan sangat menggoda bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun, saya juga sadar. Di tengah pandemi ini, Indonesia pun terkena dampak ekonomi. Itu mengapa, pemerintah menekankan kepada setiap individu, untuk memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Termasuk, rokok yang bagi sebagian orang, termasuk saya, sudah jadi kebutuhan sehari-hari.

Masuk akal jika saat pandemi ini, cukai rokok dinaikkan. Memang, tidak serta-merta membuat orang untuk berhenti merokok. Minimal, akan berusaha mengurangi alokasi bujet untuk rokok. Termasuk, saya pribadi yang sudah melakukannya sejak April lalu terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Maklum, ketika itu, pendapatan berkurang drastis akibat dihentikannya sementara layanan penumpang. Alhasil, biaya untuk rokok pun direlokasi. Tadinya merek lumayan jadi "kelas bawah". Termasuk, awalnya beli per bungkus, menurun jadi setengah. Bahkan, saking bokeknya pada Mei lalu yang bertepatan dengan Ramadan membuat saya hanya mampu beli ketengan, per hari enam atau tiga batang.

Rasa penasaran saya terkait kenaikan cukai rokok pun terjawab saat menyimak lebih lanjut diskusi yang diselenggarakan KBR dengan menampilkan dua narasumber kompeten. Yaitu, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Profesor Hasbullah Thabrany dan Dosen serta Peneliti Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia Renny Nurhasana.

Ya, intinya kenaikan cukai tidak dimaksudkan untuk menghentikan konsumsi rokok di masyarakat. Namun, tindakan ini mampu mengendalikan peredaran rokok. Terutama, di kalangan mengengah ke bawah. Maklum, jadi ironi juga mengingat saat pandemi ini, perusahaan rokok mengklaim peningkatan jumlah produksi dan kenaikan permintaan rokok saat pandemi.

Saya pribadi mendukung rencana pengendalian tersebut. Meski saat ini masih aktif, tapi memang saya berencana untuk berhenti merokok, kelak. Mungkin, ketika sudah memiliki anak. Sebab, tidak lucu juga ketika asyik merokok, asapnya malah mengotori ruangan di rumah.

Niat saya untuk berhenti juga didasari pengalaman teman blogger yang merupakan perokok aktif sejak puluhan tahun. Namun, beliau bisa langsung berhenti seketika pada dekade lalu. Tepatnya, ketika berbincang dengan kolega sesama perokok di ruang tamu rumahnya.

Tidak lama, putranya yang masih balita langsung mencomot rokok dari asbak dan menghisapnya dengan gaya meniru sang ayah. Alhasil, wajah teman saya memerah karena enggan anaknya ikut-ikutan merokok. Sejak saat itu, teman saya pun berhenti ngudut hingga kini yang jadi inspirasi saya di masa depan.

"Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini."

*         *         *


- Jakarta, 31 Juli 2020

Jumat, 15 Mei 2020

Vermuk? 70% Gojekers Setuju, tapi...


Wefie alias foto bersama saya dengan kru Gojek pada suatu event di ibu kota
pertengahan tahun lalu 


VERIFIKASI muka (vermuk) akhirnya akan diberlakukan di Jabodetabek. Demikian pesan dari Gojek pada aplikasi mitra driver, Selasa (12/5).

Pro dan kontra pun merebak jelang peluncurannya dengan terlebih dulu uji coba pada 13 Mei hingga 15 Juni mendatang. Meski, saya dan mayoritas Gojekers (julukan driver Gojek) sudah menduganya sejak bulan lalu. Terutama, setelah beredar info di Batam telah diberlakukan uji coba vermuk.

Bak dua sisi mata pedang, ada yang setuju dan tentu saja menolak. Itu yang saya simpulkan di lapangan dari obrolan sesama driver.

Tepatnya, ketika sharing dengan 10 Gojekers secara random di berbagai wilayah ibu kota, baik saat menunggu orderan atau nongkrong bareng. Mayoritas di antara mereka, tujuh orang, setuju.

Alasannya, kompak. Vermuk bisa meminimalkan penyalahgunaan akun. Bisa dipahami mengingat banyak modus kejahatan yang melibatkan oknum Gojekers yang menimbulkan keresahan masyarakat, khususnya customer. Itu karena penjualan atau penyewaan akun beredar luas.

Tak heran jika dalam keterangan resminya, Gojek langsung menjemput bola.

"Selama ini kami menerima masukan dari Mitra tentang perlunya fitur untuk meningkatkan keamanan akun Anda. Terutama di masa pandemi ini, banyak pihak yang mengambil kesempatan untuk melakukan pembajakan akun."

Di sisi lain, 30% Gojekers yang menolak, menilai, tidak semua akun kedua disalahgunakan.

"Ga semua rekan kita yang beli, pinjam, atau sewa akun itu menyalahgunakan. Paling satu atau dua dari sekian banyak," kata salah satu Gojekers yang saya temui ketika sedang ngalong di suatu sentra kuliner ibu kota.

Tentu saja, dari 10 Gojekers yang saya temui itu, saya tidak menanyakan lebih lanjut apakah mereka pemilik akun pribadi atau tangan kedua. Secara, itu sudah masuk ranah pribadi. Alias, di luar kewenangan saya sebagai blogger yang merangkap ojek online (ojol).

Saya pribadi tentu mendukung diberlakukan Vermuk. Itu karena posisi saya sebagai mitra PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek).

Simpelnya, apa yang ada di aplikasi saya jalankan. Jika keberatan, tentu saya punya hak untuk mengabaikan, mengingat status saya hanya mitra dan bukan karyawan.

Tidak hanya soal vermuk saja, melainkan juga orderan. Jika ada orderan yang "tidak masuk akal" dan mendapat customer yang nakal dengan menjurus fiktif (opik), tentu saya menolak.

Pada saat yang sama, tentu saya tidak boleh mengabaikan kemanusiaan. Alias,  wajib berempati kepada Gojekers yang akunnya beli, pinjam, atau sewa. Secara, kami sama-sama cari nafkah demi keluarga. Hanya, jalannya saja yang beda.

Mungkin, Gojekers itu belum berkesempatan untuk buat akun resmi. Sebab, Gojek memang belum membuka pendaftaran bagi driver baru, Goride (sepeda motor). Apalagi, di masa pandemi ini, kantor Gojek atau DSU jam operasionalnya terbatas.

Alhasil, saran saya terkait vermuk ini, win-win solution. Ada baiknya jika buka pendaftaran Goride kembali usai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Gojek memprioritaskan lowongan untuk driver yang selama ini beli, pinjam, atau sewa akun dibanding calon driver baru.

Agar, mereka bisa kembali mencari nafkah demi keluarga tanpa khawatir dengan selfie saat mengambil orderan. Namun, prioritas ini hanya untuk pendaftaran saja.

Terkait orderan, tentu sesuai sistem yang berlaku dengan kemungkinan harus siap untuk adu sigap dengan sesama Gojekers lainnya agar sama-sama gacor. Setelah itu, baru terlihat seleksi alam yang sesungguhnya.*

Responden: 10
Status: Driver Goride
Durasi: 12-14 Maret 2020
Periode: 15.00-07.00 WIB (tentatif)
Gender: Pria
Usia: 25-55 (perkiraan)
Area: Jakarta Barat, Pusat, Utara, dan Selatan

*         *         *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB
Kamaratih
Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek


Suasana Safety Riding yang diselenggarakan Gojek bekerja sama dengan
Rifat Drive Labs di kawasan timur ibu kota pada 2019


*         *         *
Disclaimer: Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi yang dipadukan dengan sharing rekan-rekan sesama ojol di lapangan yang khusus ditujukan di blog www.roelly87.com dan bukan dimaksud sebagai survei publik.

- Jakarta, 15 Mei 2014

Minggu, 10 Mei 2020

Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB






PEMBATASAN Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat sendi-sendi perekonomian di Tanah Air jadi menurun. Baik itu pengusaha, pedagang, wiraswasta, hingga ojek online (ojol).

Ya, termasuk saya yang merupakan ojol mitra Gojek (PT Aplikasi Karya Anak Bangsa). dan mulai full time sejak Januari lalu. Dalam dua bulan pertama pada 2020, saya benar-benar merasakan nikmatnya sebagai ojekers -julukan ojol Gojek-.

Bisa dipahami mengingat per hari sejak pagi hingga lepas petang, minimal saya mendapat Rp 200 ribu. Itu bersih. Alias, sudah dipotong bensin, makan, air mineral, kopi, rokok sebungkus (maaf, saya perokok), cemilan gorengan, dan lain-lain. Kalau dihitung, bisa Rp 300-400 ribu.

Hanya, kemesraan itu tidak berlangsung lama. Sebab, pada 10 April, diberlakukan PSBB di Jakarta yang beberapa hari berselang diikuti kota-kota penyangga lainnya. Pembatasan ini berlanjut pada 24 April hingga 21 Mei mendatang. Bahkan, ada kemungkinan bertambah melintasi Juni. Tentu, kita berharap, PSBB cukup hingga bulan ini saja.

Kendati, tujuan pembatasan ini sangat baik. Tepatnya, untuk menekan peningkatan Covid 19 atau Corona.

Namun, harus diakui ada harga mahal yang harus ditebus. Salah satunya dari segi ekonomi yang membuat mayoritas masyarakat tidak bisa beraktivitas dalam mencari nafkah. Tentu, tidak hanya ojol saja. Melainkan juga profesi lainnya, seperti ASN, pedagang, pengusaha, industri, hingga pariwisata.

Nah, sebagai blogger yang sehari-harinya merangkap gojekers, tentu yang ingin saya bahas dalam artikel ini terkait ojol. Bohong jika selama PSBB ini pendapatan di dunia per-ojolan tidak turun, apalagi naik. Namun, seperti kata pepatah, selalu ada jalan menuju Roma.

Hingga awal April, rata-rata saya per hari mendapat Rp 200 ribu bersih. Ketika PSBB, menyusut drastis. Bahkan, pernah hanya puluhan ribu dalam sehari! Itu yang saya alami pada awal-awal PSBB mengingat saya akun pantat, alias histori di Gojek, terbiasa mengangkut penumpang (GoRide).

Beruntung, seiring waktu berjalan, saya mulai "terapi". Yaitu, membiasakan untuk lebih sering membeli makanan (GoFood), antar barang (GoSend), belanja (GoShop), dan layanan lainnya dari Gojek. Alhasil, sejak akhir April hingga kini, pendapatan saya sudah lumayan membaik. Memang, belum bisa setara ketika masih normal. Namun, untuk ukuran saat pandemi ini, per hari dapat Rp 150-200 ribu, bersih, itu sudah lumayan.

Tentu saja, itu diraih tidak semudah membalikkan telapak tangan. Melainkan, harus terapi, sabar, dan rajin. Yupz, saya pernah nongkrong bareng rekan-rekan di salah satu pusat perbelanjaan di jantung ibu kota. Ketika itu, mereka bolak-balik beli makanan atau antar barang. Sementara, saya? Cukup jadi penonton. Nah, setelah terapi, saya dan mereka, sama-sama mendapat orderan yang bisa dibilang lumayan.

Ada banyak cara agar bisa gampang cari orderan alias Gacor. Beberapa di antaranya, berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing dari rekan-rekan di lapangan, meliputi:

- Tidak pilih-pilih orderan. Baik itu GoFood, GoSend, GoShop, GoMed, hingga GoMart, ambil terus!

- Kurangi kapasitas memori di smartphone. Alias, uninstal aplikasi yang tidak perlu. Misalnya, di telepon seluler (ponsel) saya yang utama dipertahankan adalah Gojek Driver, Gojek, Google Maps, WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Instagram. Secara tidak langsung, ini berpengaruh pada kinerja smartphone yang berkolerasi dengan aplikasi Gojek Driver dan Maps.

- Setel pengeluaran, harga maksimal orderan ke Semua. Jangan Rp 50, 100, atau 200 ribu. Secara, semakin besar setelan Anda, orderan pun kian gampang. Pengalaman pribadi, dalam sehari, saya rutin mendapat order di atas Rp 200 ribu. Bahkan, rekor tertinggi, nyaris sejuta! Tepatnya, Rp 937.800.

- Sisakan saldo Gopay di atas Rp 200 ribu. Ini berkolerasi dengan poin di atas. Bahkan, saldo saya selalu di atas Rp 500 ribu.

- Perhatikan rating kepada penumpang. Saya jarang memberi penilaian bintang empat ke bawah meski seburuk apa pun perlakuan customer. Bisa jadi, ini yang diperhatikan sistem Gojek. Sebab, jika kita kerap memberi rating buruk kepada penumpang, nanti algoritma mesin menyangka kita sebagai driver yang baperan! Yupz, biasakan kasih rating 5. Kecuali, jika cust itu memang parah. Mau tidak mau, yang apa adanya.

- Jadi agen GoPay. What? Yupz, saya kerap mengisikan GoPay kepada penumpang. Baik itu menawarkannya atau customer itu sendiri yang meminta. Nominalnya mulai dari Rp 25 hingga 500 ribu. Asumsi saya, ini cukup penting yang kemungkinan terbaca sistem, bahwa "akun kita cukup baik". Namun, harus diingat. Kita mengisikan GoPay jika sudah bertemu langsung dengan customer. Andai cust meminta cepat dan terburu-buru saat kita menunggu orderan GoFood atau GoShop, tentu lebih baik ditolak. Sebab, itu rentan penipuan. Oh ya, saya juga sering mendapat orderan GoFood dan GoShop di atas Rp 500 ribu dari penumpang yang belum memiliki rating. Untuk itu, saya biasakan menelepon Customer Service (CS) Gojek lebih dulu. Saya tanya riwayat calon customer tersebut. Jika operator CS menyebut, cust selalu menyelesaikan orderan, tentu saya akan lanjut. Sebaliknya, andai CS mengatakan cust baru sekali atau bahkan belum pernah order, sudah pasti saya cancel. Meski tarifnya besar, tapi mencegah lebih baik daripada mengobati.

Oke, cukup sekian sharing saya pada artikel ini. Nantikan, terkait orderan lainnya pada tulisan selanjutnya!

Salam satu aspal.

*         *         *
Isi GoPay ke customer Rp 500 ribu

*         *         *
Isi GoPay ke cust secara beruntun

*         *         *
Rekor orderan terbesar, Rp 937.800

*         *         *
GoFood dan GoShop yang aduhai

*         *         *
Cust belum ada rating tapi memiliki
riwayat baik dalam menyelesaikan
orderan setelah saya berkomunikasi
dengan CS Gojek

*         *         *
Awalnya deg-degan jika ada cust yang
bayar cash di atas Rp 500 ribu, tapi
seiring waktu jadi sudah terbiasa

*         *         *
Tip yang lumayan dari cust, dengan
rekor tertinggi saya dapat Rp 260 ribu
saat melaksanakan orderan GoShop di
kawasan Kemang

*         *         *
Sabar dan rajin kunci gacor?
Saya sih, yes!

*         *         *


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
Kamaratih
Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
Disclaimer: Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi yang dipadukan dengan sharing rekan-rekan sesama ojol di lapangan. Hasil setiap individu bisa berbeda tergantung situasi, waktu, dan lokasi. Jika Anda punya pengalaman serupa atau sebaliknya, bisa ikut berbagi pada kolom komentar.

- Jakarta, 10 Mei 2020

Selasa, 05 Mei 2020

Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima



Beragam koleksi HaiKlip, termasuk Risalah Lima Bintang tentang Dewa
(Foto: Koleksi pribadi 2011/@roelly87)


DENGAN bergabungnya Once dan Tyo (drum), Dewa mengalami revolusi bentuk. Perubahan terasa hampir menyeluruh. Bukan cuma pada warna vokal atau sound drum, tapi juga gaya penulisan. Lagu Cemburu yang bernuansa rock and roll secara tegas memperlihatkan hal itu. Hanya saja, tarik ulur emosi selama masa penggarapan nampaknya sulit dihindari.

Kesulitan terutama dirasakan oleh Andra (gitar) yang sudah terbiasa dengan gaya vokal Ari Lasso. Menurut Dhani, vokal ngerock Once tergolong sulit dikawinkan dengan personel Dewa, termasuk Erwin Pras (bas). Jalan tengah yang diambil: Dewa mengikuti gaya Once. Hasilnya, ya, album Bintang Lima itu.

"Di album baru nanti, baru Once yang ngikutin gaya Dewa," katanya menjelaskan. Jika dikaitin ama konsep bermusik sebuah band, cara seperti ini tentu merupakan sebuah "penyelewengan". Rupanya dalam kerangka industri hiburan, gejala seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh, orang selalu bicara hasil akhir. Apalagi, di negeri dimana masyarakat musiknya selalu menggunakan angka penjualan sebagai barometer keberhasilan.

Sadar atau nggak, Dhani udah membiarkan dirinya larut dalam pusara tersebut. Dengan prinsip seperti itu, cowok yang melewatkan masa remajanya di Surabaya ini mampu bertahan dari kerasnya kehidupan Jakarta, dan berhasil membawa Dewa dari "band daerah" menjadi salah satu ujung tombak musik pop Indonesia.

Kini Dhani, yang belum lama menyelesaikan album solo Tere, tengah menuai hasil jerih payahnya selama ini. Ia memiliki rumah di jalan Pinang Emas, Pondok Indah, beberapa blok dari Mal Pondok Indah. Ia hidup tenang ditemani Maya Eksianty, mantan penyanyi latar Dewa 19, yang telah memberinya dua putra. Dhani juga punya studio pribadi yang terletak cuma "seperlemparan batu" dari rumahnya. 

Bangunan berlantai dua itu berfungsi sebagai kantor Dewa merangkap studio rekaman yang, menurutnya, dibiayai dari kocek pribadi. Untuk merenovasi rumah yang dikontraknya selama 4 tahun itu, dia mengeluarkan 100 juta rupiah.

Hasilnya memang funky. Pada dinding bagian atas tergambar dua relief bernuansa religius. Bagian kiri melukiskan umat Hindu tengah melakukan tapa sampai mati dan, diasumsikan, jiwanya sampai ke nirwana. Sedang bagian kanan memperlihatkan seorang pria berpakaian serba putih. Itulah varian dari ajaran Jalaludin Rumi, tokoh sufi yang dikaguminya. Dipadu dominasi warna pop art, Dhani nampaknya sengaja "membenturkan" dua kultur yang berbeda. Yakni, tradisional dengan modern.

Nah, dari tempat itulah dia mengekpresikan naluri seni, termasuk merekam album-album Dewa. Dia memanfaatkan waktu luang dengan bermain sepak bola bareng para kru dan personel Dewa lainnya. Penghuni tempat itu memang penggila bola semua.

Itulah Ahmad Dhani, figur dominan dalam Dewa. Dia pemain keyboard, vokalis, dan penulis sebagian besar lagu. Gerayangan tangannya bahkan sampai ke soal negosiasi dengan promotor atau pihak luar lainnya. Padahal Dewa sudah punya Didiet Dada sebagai manajer. Tapi, sampai sekarang, dia masih ikut turun tangan dalam masalah keuangan. Kalo mau jujur, kelebihan Ahmad Dhani ini sekaligus merupakan kelemahan Dewa dalam konteks profesionalisme.

"Kalo gua dinilai dominan, wajar saja. Dari dulu di Dewa apa-apa gua yang melakukan. Dari mulai nawarin master rekaman, naik turun bus kota di Jakarta, sampai ngurus kontrak sama promotor. Selain itu, di Dewa cuma gua yang anak pertama, lainnya kan bungsu semua. Mungkin karena itu, jiwa kepemimpinan gua lebih menonjol daripada yang lain."

Dhani lantas menganalogikan dirinya sebagai gabungan dari berbagai potensi. Dia adalah George Martin (produser The Beatles), Brian Epstein (manajer The Beatles), Paul Mc Cartney (penulis sebagian besar lagu The Beatles), Roy Thomas Baker (produser sejumlah album Queen) dan lain sebagainya.

Dengan kalimat ringkas, dia adalah sosok yang mampu melakukan beragam pekerjaan dalam waktu bersamaan. Boleh jadi, daftar ini akan bertambah panjang dengan pekerjaan baru yang ingin dilakukannya: Kontraktor!

Pentolan Dewa jadi kontraktor? "Lho, mengapa tidak? Gua kan senang mendesain. Siapa tau nanti ada yang ngebutuhin model rumah hasil rancangan gua," katanya terkekeh.

Ya, tapi kalo Dhani yang merancang interior sebuah rumah, sudah terbayang ongkos yang harus dikeluarkan!

*        *        *

Sebelumnya:
Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
KamaRatih

Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 12 Ramadan 1441


Jakarta, 5 Mei 2020

Kamis, 30 April 2020

Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi


Poster Dewa yang menghiasi kamar saya bersanding dengan Guns N' Roses
sebagai salah satu band terfavorit
(Foto: Koleksi pribadi/@roelly87)


PADA 1998 dia meluncurkan album solo Ideologi, Sikap, Otak (ISO) lewat kelompok bentukannya yang diberi nama Ahmad Band. Semua personelnya memiliki nama besar: Andra Junaidi (gitar, Dewa), Pay (gitar, BIP - mantan Slank), Bongky (bas, BIP - mantan Slank), dan Bimo drumer, mantan Netral).

Biar secara musikal layak diperhitungkan, album ini nggak ada cerita sukses komersilnya. Yang terungkap justru kegilaannya pada Soekarno, mantan Presiden pertama RI. Sampul albumnya aja menampilkan Dhani yang bergaya ala proklamator kemerdekaan itu.

Lagu-lagu Ahmad Band memperlihatkan keakraban Dhani pada musik rock, yang selama ini nggak pernah "menampakkan batang hidungnya" dalam lagu-lagu Dewa. Apalagi di awal karir musiknya, cowok kelahiran Jakarta 26 Mei 1972 ini sebenarnya lebih banyak memainkan jazz, yakni semasa bersekolah di Surabaya. Tapi meski pernah mengukir prestasi lewat grup Down Beat, Dhani akhirnya menyadari bahwa bakatnya bukan di situ. Lantas, dia pun pindah jalur dan mulai rajin menymak lagu-lagu pop dan rock.

"Di situ gua sadar bahwa John Lennon ternyata lebih besar dari Chick Corea," kenangnya. Toh, dia kesulitan untuk mendeskripsikan perbedaan kedua tokoh tersebut,bahkan dengan kalimat sederhana sekali pun. Dia terlihat lebih bersemangat saat menyinggung esensi dari musik rock itu sendiri. Rock baginya bukan semata-mata soal pencapaian estetika seni musik, tetapi juga pencapaian rasa. Artinya, untuk membuat karya rock yang baik nggak mungkin menyentuh kedua hal barusan dengan sepotong-sepotong.

"Karena itu, gua heran sampai sekarang masih ada pemusik yang menilai bahwa skill musik pemain jazz lebih bagus dari pemain rock. Atau skill pemain rock lebih bagus dari pemusik pop. Bagi gua musik apa pun bukan soal pencapaian estetika bentuk, kok," katanya panjang lebar.

Konon pencapaian rasa itu pula yang mengantar karir Dhani hingga seperit sekarang ini. Dengan mempertimbangkan energi rock sudah bercokol di benaknya, Dhani mengaku enggak akan bersedia menangani Reza lagi.

Walaupun mengidolakan John Lennon, toh grup musik yang berhasil embuatnya "jatuh cinta" setengah mati adalah Queen. Dia hapal di luar kepala nama produser yang menggarap semua album grup yang bubar karena ditinggal mati vokalisnya itu.

Bagi Dhani, The Beatles dan Queen adalah komposer terbesar setelah era John Sebastian Bach. Nggak kurang 50 album Queen tersimpan rapih di rumahnya. Koleksinya amat beragam dari Coldplay sampai Maria Callas. Referensi tersebut dikumpulkan dengan berbagai cara, termasuk rutin mendatangi pedagang kaset dan CD bekas di Taman Puring, Mayestik, Jakarta Selatan.

"Kalo diitung, investasi gua yang tertanam di sana (taman Puring, RED) ada 'kali 20 juta." Dhani juga doyan belanja laserdisc musik yang kini menurutnya sudah berjumlah 200-an.

Sebagai pemusik, Ahmad Dhani termasuk yang percaya pada kekuatan lirik. Untuk itu, dia selalu berusaha memberi roh pada setiap lirik yang ditulisnya. Referensinya untuk hal ini adalah setumpuk buku yang ditulis Jalaludin Rumi, tokoh sufi tahun 1200.

"Jadi, kalo orang menyangka gua penggemar Kahlil Girbran itu sebenarnya keliru," kata Dhani sambil memperlihatkan koleksi buku-bukunya.*

Bersambung...

*        *        *

*        *        *

Sebelum dan Selanjutnya:
#1 Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
#3 Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima

Artikel Terkait Ahmad Dhani
KamaRatih

Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 7 Ramadan 1441


Jakarta, 30 April 2020

Rabu, 29 April 2020

Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza


Berbagai majalah sepak bola, musik, dan gaya hidup sejak 1998 hingga
dekade lalu. (Foto: koleksi pribadi/@roelly87)



KONTROVERSI ibarat permadani bagi langkah karir Ahmad Dhani. Sosoknya adalah muara pujian sekaligus hujatan. Dia nggak pernah tabu untuk berbeda pendapat. Bicaranya yang selalu blak-blakan, yang bagi sebagian orang mungkin kedengeran menjengkelkan, mengisyaratkan adanya rasa percaya diri yang besar.

Sebagai contoh, sekitar tahun 1996, dia pernah bilang bahwa dirinya bakal mencetak artis. Waktu itu, dia tengah menggarap debut album Reza Artamevia, pendatang baru yang sekian lama menjadi penyanyi altar Dewa 19. Seperti biasa, orang lantas menananggapinya sebagai bualan seorang Ahmad Dhani. Siapa sangka, ucapannya kemudian terbukti. Reza melambung sebagai solis ternama.

Begitu juga ketika Once Mekel muncul sebagai pengganti Ari Lassso, dan langkah formasi Dewa bagai meniti buih. Dhani yang sempat "gentar" ditinggal fans, malah sesumbar.

"Ari Lasso memang hebat, tapi Once juga bagus. Gua yakin album mendatang (Bintang Lima) bakal lebih dahsyat dari Pandawa Lima (album keempat)." Dia yakin betul ada beberapa lagu yang potensial menjadi hit.

Parameter apa yang digunakannya, padahal dalam bisnis musik belum ada metode yang bisa memastikan sebuah karya bakal diterima konsumen atau nggak?

"Gua yakin aja. Karena waktu mau merilis Pandawa Lima dulu juga begitu," katanya enteng. Seperti udah kita tahu, album Bintang Lima terjual 1,8 juta keping dan merupakan karya terlaris dalam sejarah karir Dewa. Dalam hal ini Dhani adalah bagian dari ketangguhan itu.

Optimisme selalu mendahului jauh sebleum karyanya dilepas. Untuk album ke-6 nanti, misalnya, Dhani yakin penjualannya akan meningkat pesat dibanding Bintang Lima. Pertimbangannya terdengar nyeleneh: dia enggak pengen publik membanding-bandingkan Dewa dengan grup lain, seperti yang selama ini berlangsung.

Yang pasti, biar ada Sheila On 7 dan Padi yang berhasil menjual album jutaan, Dewa terbukti nggak gampang dilibas pendatang baru. Paling enggak, sampai saat ini!*

Bersambung...

*        *        *

*        *        *

Selanjutnya:
- Pencapaian Rasa Ideologi, Sikap, dan Otak (ISO)
- Dewa Ikuti Gaya Once
#2 Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 
#3 Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 6 Ramadan 1441


- Jakarta, 29 April 2020

Senin, 27 April 2020

Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini


Cara melakukan rapid test Covid 19 di aplikasi Halodoc

RAMADAN 2020 kini terasa beda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebab, bulan puasa sekarang, di seluruh penjuru dunia, termasuk Tanah Air, sedang dilanda pandemi. Yaitu, Corona atau Covid 19 yang mewabah sejak Februari lalu.

Itu mengapa, pemerintah, baik pusat maupun daerah, menetapkan Social Distancing yang berujung Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuannya, demi mencegah wabah lebih lanjut sejak 10 April lalu. Bagi saya yang berprofesi penuh sebagai ojol (ojek online), tentu mendukung kampanye ini.

Kendati, ini berpengaruh pada penghasilan sehari-hari yang sedikit menurun. Namun, tak mengapa, mengingat kesehatan jauh lebih penting. Ya, mencegah lebih baik dibanding mengobati.

Tak heran jika sejak awal bulan, saya sudah melakukan social distancing. Hanya keluar untuk membeli makanan, obat, hingga keperluan rumah, disela-sela pekerjaan.

Selain itu, saya juga mencari info, untuk diri sendiri, keluarga, orang terdekat, hingga sekitar, demi pencegahan. Salah satunya, melalui Halodoc. Yaitu, startup aplikasi kesehatan. Saya sudah melakukannya sejak 10 April lalu, dengan konsultasi terlebih dulu melalui dokter yang bekerja sama dengan Halodoc. Caranya, melalui vitur chat yang bisa diakses, baik secara gratis maupun berbayar.

Dari hasil konsultasi itu, saya masih belum ada tanda-tanda gejala Corona. Semoga, ini bertahan. Aamiin...

Di aplikasi Halodoc terdapat berbagai fitur yang bisa diakses masyarakat luas. Itu meliputi:
- Tes Covid 19
- Periksa Covid 19
- Chat dengan dokter
- Beli obat
- Kunjungan Rumah Sakit
- Pengingat obat
- Update berita Covid 19

Bagi masyarakat yang memiliki tanda-tanda atau gejala Covid 19, bisa periksa di Halodoc lewat layanan Rapid Test. Harganya, variatif. Mulai Rp 295.000 hingga Rp 1.900.000, yang dilakukan di Rumah Sakit yang bermitra dengan Halodoc.

Tentu, kita berharap agar tidak sampai terkena gejala. Namun, demi lebih meyakinkan, dan tentunya punya dana cukup, tidak ada salahnya melakukan Rapid Test yang tersedia di Halodoc.

Btw, apa sih Rapid Test? Berhubung saya bukan orang medis, alias hanya kenal kulit-kulitnya saja terkait kesehatan, saya sedikit menjabarkan secara sederhana. Rapid Test merupakan pemeriksaan yang menggunakan sampel darah untuk diuji.

Nah, darah yang diambil ini kemudian bakal digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin. Yaitu, antibodi yang terbentuk saat tubuh mengalami infeksi. Sehingga, pasien pada tahap awal infeksi dapat diidentifikasi lebih lanjut.

PBB melalui badan kesehatan (WHO), dalam berbagai kesempatan juga menekankan urgensi kehadiran layanan tes yang efektif bagi masyarakat luas.

Saya pribadi, hingga kini -semoga sampai seterusnya- memang tidak ada gejala. Namun, tetap saya harus rutin menjaga kesehatan dan kebersihan.

Seperti yang dikatakan Dr. Andri J. Girsang, saat saya melakukan konsultasi. Menurutnya, pemeriksaan rapid test diutamakan pasien dengan risiko sedang dan risiko tinggi. Itu berarti, jika tidak ada gejala, ya kita tidak perlu.

Pengecualian, jika memang kita ada kontak erat dengan pasien Covid 19. Bahkan, jika hasilnya positif pun, tapi masih tanpa gejala, penanganan dengan melakukan isolasi di rumah. Yaitu, secara mandiri 14 hari sejak gejala awal. Selanjutnya, konsumsi obat dan vitamin.

Jika keluhan memberat, seperti batuk kering, sesak nafas, dan demam tinggi, segera ke rumah sakit.

Nah, konklusi dari artikel ini, mari sama-sama untuk mencegah Covid 19. Kurangi keluar rumah jika tidak perlu. Selalu pakai masker dan sarung tangan. Jika kita memiliki gejala seperti batuk yang tidak biasanya, bisa konsultasi ke dokter. Nanti, mereka akan melakukan analisis, apakah kita bisa dirujuk untuk layanan Rapid Test atau tidak.

Semoga artikel ini bisa membantu dan selamat menunaikan ibadah Ramadan bagi yang menjalankan.*

*         *         *
Riwayat konsultasi yang dilakukan saya
dengan beberapa dokter di Halodoc,
seperti penyakit dalam, diabetes, umum,
hingga Covid 19 

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

- Jakarta, 27 April 2020

Senin, 30 Maret 2020

Kamaratih


Ilustrasi (Foto: www.roelly87.com)


RINAI membasahi ibu kota. Kendati, bulan-bulan ini belum memasuki periode hujan. Beda, dengan Januari dan Februari yang lalu mencapai puncaknya. Banjir di mana-mana.

Jadi teringat masa-masa dulu. Hujan-hujanan menerobos genangan air demi jemput dan antar penumpang, makanan, barang, hingga beli sesuatu. Sungguh, kenangan tak terlupakan.

Tiba-tiba, dari seberang halte yang hanya dilewati segelintir manusia, ada yang mendatangi. Gadis manis yang berlari-lari kecil. Tak lama, sosok tersebut mengeluarkan smartphone, untuk mengetik sesuatu.

Aku pun beriniaiatif menyambutnya. Ternyata orderan kakap. Di atas Rp 50 ribu yang sejak dulu haram untuk dilewatkan.

"Mbak Kamaratih. Ke Ciracas?" aku menyebut nama yang dalam perwayangan dikenal sebagai dewi tercantik. Setara dengan Sumbadra yang merupakan wanita paling cantik. Mereka memiliki pasangan yang juga paling tampan. Kamajaya dan Arjuna yang dijuluki lelananging jagat.

"Iya, saya Ratih. Lho, mas di sini juga? Ga ketahuan ojol?"

"Saya kan pakai jas hujan mbak. Jaket ojol jadi tertutup."

"Oke, mas. Nanti pelan-pelan ya. Saya ga usah pake jas hujan deh. Belum gede."

"Lah, emang siapa yang mau kasih jas hujan?"

"Ih, dasar," gadis tersebut menyahut sambil menyolek pelan pundakku.

"Ha ha ha. Bercanda mbak. Yuk," aku menjawab sambil melanjutkan.

"Jangan lupa helmnya dikunci ya. Kita tidak akan berangkat sebelum bunyi klik."

"Siap, dan!"

*            *            *

JALANAN di utara Jakarta tampak ramai meski baru diguyur hujan. Maklum, untuk waktu, saat ini pukul 23.45, masih sore.

Teringat dulu saat masih ngalong. Aku biasa  memulai saat pergantian hari yang hitungan di aplikasi dari nol. Demi membunuh kebosanan, aku pun bersenandung dengan volume kecil.

"Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita aku cinta padamu..."

"Wah, penggemar Dewa 19 nih," Ratih membuka percakapan.

Aku pun menghentikan nyanyian sejenak sambil melirik ke kiri spion.

"Tahu juga mbak?"

"Tak Akan Ada Cinta yang Lain. Pasti tahu dong. Salah satu lagu romantis ciptaan Ahmad Dhani."

"Wah, berarti sama dong. Anak 1990-an."

"Ga juga, mas. Saya malah telat dengarnya."

"Lha, bukannya ini lagu keluar 1994, album Format Masa Depan?"

"Saya justru tahunya pas dibawakan Dewi Dewi. Aransemennya pun beda. Sebelumnya, lagu ini juga dinyanyikan Titi DJ," Ratih, menjelaskan.

Aku pun ingat. Tak Kan Ada Cinta yang Lain, punya beberapa versi. Dewa pada 1994 yang dilanjutkan Titi Dj 1999 dan Dewi Dewi 2007. Selain ketiganya, di laman Youtube bertebaran musisi atau masyarakat awam yang meng-covernya.

Lagu ini sudah lebih dari 25 tahun. Bagi manusia, periode itu merupakan satu generasi. Namun, kedahsyatan lirik dan aransemen tak lekang dimakan usia.

"Sayangnya, Inna keluar lebih awal. Kalau tidak, hingga kini Dewi Dewi masih berkibar di jagat musik Tanah Air. Bahkan, bisa melibas genre pop tak bermutu serta invasi K-Pop," ujar Ratih.

Ya, Dewi Dewi dibentuk Ahmad Dhani lewat Republik Cinta Management (RCM) yang beranggotakan Inna Kamarie, Purie Andriani, dan Tata Janeeta. Namun, Inne keluar pada 2008 menyisaka Purie dan Tata yang membentuk Mahadewi dengan single hit Satu Satunya Cinta. Aku ingat, pernah menjadikan lagu itu sebagai Nada Dering Pribadi (NSP) pada smartphone XpressMusic andalanku.

"Dewi Dewi bukti kegeniusan Dhani. Meski seumur jagung, karyanya masih terasa," ujar Ratih.

"Ya, dekade lalu, masyarakat Indonesia dimanjakan karya-karya berkualitas dari RCM. Sayang, proyek itu seperti tidak terurus seiring Dhani yang mendekat ke politik."

"Iya, sayang banget. Padahal, Dhani itu genius. Salah satu musisi terbaik Indonesia."

"Setuju. Menurut saya, levelnya setingkat dengan Guruh Soekarnoputra, Koes Plus, dan Roma Irama."

"Serius mas? Bagaimana dengan Ariel yang kalau nulis lirik sangat metafora, baik dengan Peterpan maupun Noah. Erros yang bikin lagu Sheila On 7 mudah dicerna? Azis MS yang menjadikan rock jadi puitis bersama Jamrud. Jangan lupakan, Bimbim, mengangkat Slank dari keterpurukan," tutur Ratih dengan bersemangat.

"Ini pandangan saya pribadi ya, sebagai sosok yang menggemari musik Indonesia sejak dulu. Jelas, Dhani ga bisa dikomparasi dengan keempatnya. Bahkan, mereka sama sekali tidak sebanding. Saya penggemar berbagai jenis musik, baik dalam atau luar negeri. Punya album fisik, kaset atau cd dari So7, Peterpan, Jamrud, bahkan Slank yang Tujuh. Namun, secara musikalitas, jelas masih di bawah Dewa, khususnya Dhani," aku menjawab sambil memperhatikan spion kanan dan kiri.

Sebab, di belakang ada tiga sepeda motor yang jalan bergerombol. Feeling-ku merasakan tidak enak. Bisa jadi, mereka begal. Jadi ingat dulu, saat meladeni gerombolan seperti itu yang membuat denyut jantung kini nyaris berdebar saking semangatnya.

Tentu, aku sangat waspada. Sudah pasti, bukan untuk diriku. Sebab, aku tak perlu khawatir terkait keselamatanku. Melainkan, Ratih.

Ya, sejak dulu saat jadi ojol, keselamatan penumpang yang utama. Beruntung, ketiga sepeda motor yang ternyata berisi enam manusia itu hanya lewat. Ternyata, mereka seperti hendak balapan atau tes kecepatan.

Mungkin, tahu ini Jumat dini hari yang tentu jalanan sepi. Apalagi, di kawasan ini yang memiliki trek lurus tapi kalau lewat jam 22, biasanya sunyi.

"Bahaya banget mereka. Pada ga pake helm, jalan ngebut," Ratih, mengungkapkan.

"Biasa mbak. Jalanan ini trek lurus, polisi tidur sedikit, jadi dimanfaatkan mereka untuk balapan."

"Eh, lanjut soal musik dong. Menarik tuh."

"He he he, kepo..."

"Ih, si mas begitu. Perjalanan jauh, sambil ngobrol itu asyik. Ga bikin jenuh, apalagi ngantuk."

"Siap selalu, tuan ratu."

"He he he, Ratu tanpa Mulan, sekarang sudah beda."

"Nah... Lanjut obrolin Dhani."

"Boleh..."

"Terlepas dari kontroversi dan drama keluarganya, bagi saya, Dhani tetap genius."

"Setuju."

"Terkait musisi segenerasinya, Dhani masih lebih unggul. Hanya Slank F13, yang sedikit bisa mendekatinya. Ya, Dhani bisa dibilang lebih besar dari Dewa 19. Namun, Dewa 19 yang membuat nama Dhani jadi besar. Jadi, itu seperti simbiosis-mutualis. Tanpa Dewa 19, tentu Dhani tidak bisa seperti sekarang, legenda. Pun demikian, jika tidak ada Dhani, lagu-lagu Dewa 19 hanya kuat di aransemen tanpa adanya lirik yang puitis."

"Ha ha ha. Susah ya, kalo ngobrol sama fan Dhani. Masnya, terlalu mengidolakan dia."

"Saya sih ga mengkultuskan Dhani. Namun, harus diakui musikalitasnya jauh di atas berbagai musisi era 1989-an hingga sekarang. Bahkan, jika ada superband sekalipun seperti Ariel sebagai vokalis, Erros gitar, Azis drum, dan Bimbim drum..."

"Mirip Ahmad Band?"

"Nah, iya dulu kan ada supergrup juga, Dhani bersama Andra, dua eks Slank, Pay dan Bongky, serta Bimo Netral."

"Bibiku punya kaset tipnya tuh. Jadul banget, ha ha ha."

"Legend tuh mbak. Waktu albumnya rilis, saya masih SD. Ha ha ha."

"Sama mas. Kita satu generasi, kayainya. Ha ha ha,"

*            *            *

MEMASUKI jalan utama ibu kota membuatku mempercepat laju sepeda motor. Aku melirik speedometer di dashboard yang tembus pandang menanjak ke angka 50. Laju yang ideal mengingat di jalur utama ini, kendaraan tidak boleh terlalu kencang. Namun, juga jangan tidak harus pelan banget. Itu mengingat banyak truk besar serta kondiai jalan kerap berlubang hingga membahayakan.

Ratih, mencolek pinggangku, "Mas, jangan ngebut. Santai aja, ga apa-apa."

"Iya, mbak. Ini kecepatan standar."

"Sejak tadi perasaan saya ga menentu. Tiba-tiba merasa nyaman. Namun, kadang ga enak."

"Angin mungkin mbak. Mau berhenti, cari makan dulu? Soalanya, angin malam bahaya bagi kesehatan. Apalagi, kalau perut kosong," ucapku sambil menepikan sepeda motor di depan jembatan legendaris Tanah Air.

"Sebelum balik, saya udah makan. Ga tahu kenapa. Namun, bukan angin. Ya, lanjut deh mas."

"Eh, saya minum dulu mas," Ratih, melanjutkan sambil menepuk pundak saya dengan tangannya yang halus.

Perjumpaan dengan gadis yang mengaku lebih senang disapa Ratih, ini sangat berkesan. Usianya, tidak terpaut jauh denganku, dulu. Sikapnya yang simpatik, ceplas-ceplos, smart, hingga senyumannya yang menggugah jantung ini untuk kembali berdetak.

Namun, siapa sangka, di balik keceriaannya itu, tersirat temaram pada hatinya.

"Tuhan selalu menciptakan sesuatu secara berpasangan. Termasuk, jika itu masalah, tentu ada solusinya," Ratih, bergumam diplomatis.

Aku pun mengangguk saat mendengar penuturannya. Udara setelah hujan memang selalu dingin. Meski, aku sama sekali tak terpengaruh. Namun, aku memelankan kendaraan mengingat penumpang di belakang seperti menggigil.

Ada pemandangan menarik ketika berhenti di lampu merah. Di seberang jalan, terdapat pusat perbelanjaan yang memasang lampu led raksasa berisi poster film yang masuk rangkaian Marvel Cinematic Universe (MCU).

'Black Widow! Tayang mulai hari ini, Kamis, 2020.' Demikian keterangan pada poster berukuran jumbo itu yang  bisa terlihat jelas, meski dari jarak 50 meter sekalipun.

"Akhirnya tayang juga ya, sejak subuh tadi," kata Ratih yang ikut melirik poster tersebut saat tahu aku memandanginya dengan antusias.

"Iya, jadwal awal Mei, di negaranya atau akhir April lalu di Indonesia. Namun, karena ada wabah, jadi diundur beberapa bulan," aku, menjawab.

"Padahal, filmnya seru nih kayaknya."

"Yoi, pembuka fase empat MCU."

"Natasha jadi favorit saya di MCU, di antara beberapa karakter wanita. Meski, wanita, tapi saya suka nonton film superhero juga, baik Marvel atau DC."

"Ebuset..."

"Iya. Serius. Apalagi, Black Widow jadi film MCU kedua dengan karakter utama wanita," Ratih menjawab dengan sayup-sayup akibat suaranya terbawa angin.

"Captain Marvel?"

"Klise. Datar. Kaku. Saya nonton hanya karena ada adegan yang diiringi lagu Come As You Are, aja."

"Nirvana..."

"Iya, mas. Momennya tepat. Namun, hanya itu yang berkesan. Secara keseluruhan, film dan akting Brie ya 'B' aja," Ratih, menerangkan.

"Kalo saya lebih suka aksi Sharon Carter."

"Bukan Wanda? Padahal, Olsen itu seksi habis. Hot banget," ucap Ratih yang tampak menyunggingkan senyumnya hingga dari balik spion terlihat manisnya lesung di pipi kiri. Benar-benar nyaris membuat jantungku berdegup kembali seperti dulu.

"Ga. Emily VanCamp itu ga seksi, tapi manis. Enak dipandang. Meski, kadar kemanisannya masih kalah sama penumpang di belakang saya ini," aku berseloroh yang langsung disambut cubitan di pinggang.

*            *            *

KADANG aneh dengan makhluk hidup bernama wanita. Khususnya yang baru atau belum lama kenal. Sebab, tanpa rasa berdosa, kerap main cubit ke lawan jenis. Mungkin, sebagai simbol keakraban.

Padahal, situasi bisa beda jika pria yang melakukannya. Bisa-bisa diteriaki pelecehan meski bercanda. Namun, itulah keunikan manusia.

"Ojol, kapan aja mas?" Ratih memecah keheningan dini hari tersebut.

"Maksudnya, mbak?"

"Nariknya, dari siang atau malam aja."

"Ga tentu mbak."

"Wow, enak ya. Freelance. Beda sama yang kerja biasa yang jarang liat matahari. Kadang pergi pagi buta dan pulang malam."

"Ya, begitu mbak. Nanya-nanya, emang mau daftar ojol juga?"

"Ga, iseng aja. Saya sepeda aja ga bisa, apalagi naik motor."

"Mau saya ajarin sampe bisa, kapan? Gratis, he he he."

"Kursus ya... Bayarnya?"

"Kan, free."

"Di kolong langit ini, mana ada makan siang gratis, mas."

"Boleh deh bayar. Pakai tiket Black Widow aja ya, kebetulan saya belum nonton."

"Tiket? Berdua gitu, saya dan masnya."

"Yoi..."

"Maunya, si mas itu mah."

"He he he."

"Boleh deh, tapi akhir pekan aja ya."

"Siap."

"Di mana?"

"Nontonnya? Bebas. Kan mbak yang bayarin. Terserah si mbak, waktu dan tempatnya."

"Dasar!" Ratih memotong cepat. "Ajarin motornya. Kalo udah bisa baru traktir nonton."

"Oh... Kirain, nonton dulu baru belajar motor."

"Ih... Kalo kayak gitu mah, si masnya menang banyak atuh."

"Siap, mbak. Oh ya, ini belok kiri, masuk komplek kan?" tutur saya saat melihat maps yang terpasang di dashboard sepeda motor.

"Iya, lewatin aja portalnya. Ini akses masuk dan keluar satu-satunya di komplek yang biasanya dijaga dua security di pos."

"Ga ada orang mbak."

"Mungkin pada keliling. Namun, kawasan ini tergolong aman. Banyak CCTV tersebar di berbagai titik. Termasuk, samping pos."

"Ooh..."

*            *            *

SETELAH belasan meter lewat tikungan, akhirnya sampai depan rumah bergaya kolonialisme. Anggun tapi tergolong seram. Apalagi, jika malam mengingat lokasinya di samping gang buntu.

"Oke, kiri ya mas."

"Siap mbak."

"Bayarnya nontunai ya."

"Oke."

Ratih pun turun sambil membuka helm seraya berkata, "Ga minta nomor hape saya?"

"Buat apa mbak?"

"Serius?"

"Sebagai ojol, saya ga pernah minta nomor hape customer. Kecuali, untuk berjaga-jaga jika opik atau order fiktif terkait pesanan makanan."

"Kan, mau ngajarin saya sepeda motor."

"Oh iya."

"Catat ya, ini nomor saya, mas. 08**********."

"Oke, sudah saya simpan. Baik di kontak hape maupun hati."

"Dasar! Ntar WA ya."

"Siap."

"Mas, ini helmnya susah dibuka?" Ratih bangkit dari duduknya di jok sepeda motor. Kemudian, berdiri sambil menghadap rumahnya."

"Lah, dia bisa masang ga bisa buka. Aneh," ujarku, meledek.

"Macet nih. Udah bisa."

"Lah, si masnya kemana? Motornya juga ga ada. Mentang-mentang bayar nontunai langsung pergi aja."

"Tapi, ga kedengaran suara motornya. 'Mas, mas di mana," Ratih berlari menuju pos untuk memastikan yang disambut dua security.

"Ada apa, mbak teriak-teriak malam begini?" ujar salah satu petugas keamanan bernama Dresta.

Rekannya, Pandu yang awalnya asyik mabar di layar hape pun ikut menghampiri.

"Tadi saya ke sini naik ojol. Tapi, setelah sampe, mas drivernya pergi begitu saja." Ratih, menjawab.

"Lah, bukannya mbak Ratih tadi jalan kaki sendirian sambil nenteng helm?" tutur Drestra.

"Iya, tadi lewat pos tanpa noleh. Bahkan, senyum-senyum sendiri. Saya pikir, mbak lagi teleponan pakai headset," Pandu, menimpali.

"Serius pak Pandu, pak Dresta?" Ratih berkata perlahan yang sama sekali tak percaya dengan apa yang dialami barusan.

"Masa kami bohong, mbak," Dresta, menegaskan.

"Ada CCTV, bisa dilihat sekarang. Nih saya puterin," kata Pandu.

"Jadi, tadi... Tadi, yang mengantar saya, siapa?" Ratih, menjawab dengan pandangan kosong. Tak lama, tubuhnya ambruk. Beruntung, Dresta dan Pandu dengan sigap menyangga agar tubuh Ratih tidak membentur tanah.

Bersambung...


Selanjutnya:
Part II: PoV Ratih
Part III: Marcapada
Part IV: Kenapa Harus Wibisana?
Part V: Sudah


*         *         *


Cerita Fiksi Lainnya:
- Permintaan Terakhir
Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari
Helena
(https://www.kompasiana.com/roelly87/55121782813311bd53bc5fc4/helena?page=all)
- Kado Ultah Terakhir dari Alena (https://www.kompasiana.com/roelly87/5529a0fc6ea834f22e552d24/kado-ultah-terakhir-dari-alena?page=all)
- Pagutan Lembut Sang Gadis...
(http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/13/mirror-pagutan-lembut-sang-gadis-ternyata-421445.html)
- Bersekutu dengan Setan
(http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/16/mirror-bersekutu-dengan-setan-422453.html)
- Kenangan Main Petak Umpet
(http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/08/14/kenangan-main-petak-umpet-583688.html)
- Yang Liu
(http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/09/21/yang-liu-593693.html)


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
- Jakarta, 18 Maret 2020

Rabu, 18 Maret 2020

Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm


Ilustrasi ojol dengan penumpang yang sama-sama mengenakan helm
(Foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


KEPALA merupakan organ tubuh yang sangat penting bagi makhluk hidup, khususnya manusia. Itu mengapa, dalam setiap kendaraan, harus disertai alat pengamanan terhadap kepala untuk meminimalkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama kecelakaan. Mobil dengan airbag dan sepeda motor, helm.

Sebagai driver ojek online (Ojol), tentu saja saya menyadari pentingnya penggunaan helm. Tidak hanya untuk pribadi saja, melainkan terhadap penumpang.

Itu mengapa, saya selalu menegaskan kepada customer atau calon cust, untuk mengenakan helm. Tidak ada toleransi untuk itu. Nomor satu helm, diikuti rokok yang haram dihisap penumpang saat saya bonceng, dan penggunaan telepon seluler (ponsel). Untuk rokok, akan saya bahas ada artikel berikutnya. Pun demikian dengan ponsel.


Yang pasti, saya memang mewajibkan penumpang untuk mengenakan helm. Kendati, ada beberapa yang menolak dengan berbagai alasan. Alhasil, tanpa tedeng aling-aling, saya pun memencet tombol "Cancel" di hadapannya.

Bukan bermaksud nolak rezeki. Namun, sangat beresiko membawa penumpang yang tidak mengenakan helm. Sebab, jika terjadi -Semoga tidak- kecelakaan, bukan customer tersebut, suami, istri, Orangtua, anak, atau keluarga, yang disalahkan. Melainkan, saya sebagai ojol yang harus bertanggung jawab.

Sayangnya, mayoritas penumpang yang saya bawa, enggan memakai helm. Tak jarang, harus dipaksa. Bahkan, saya sendiri benar-benar bosan dengan perkataan template kepada penumpang. Alasannya beragam.

"Helmnya dipakai ya, pak, bu, mas, mbak, kak, de, dll."

Selanjutnya, jika sudah mengenakan harua disertai, "Dikunci ya. Kita belum berangkat, jika helmnya belum dikunci."

Bosan, jenuh, dan mumet, sebenarnya. Namun, sebagai ojol, saya memang harus menyampaikam himbauan tersebut.

Saya cukup girang jika cust itu dengan tanggap mengenakan helm dan menguncinya. Hanya, sering juga mendapat cibiran. "Hmm..," katanya, dengan wajah masam.

Pun dengan wajah masam saat menerima helm yang saya sodorkan. Tentu, saya bukan manusia suci yang tidak pernah melakukan pelanggaran. Sebab, saya juga beberapa kali menerobos lampu merah (di kawasan sepi) atau melawan arus. Juga, tidak bermaksud jadi hakim moral.

Namun, wajar jika saya sebagai ojol mewajibkan penumpang untuk mengenakan helm. Selain memang demi keselamatan juga terkait SOP, sebagai mitra aplikator.

Kendati, untuk beberapa hal, saya memaklumi keengganan penumpang. Misalnya, helm agak bau atau basah. Secara, saya cuma bawa satu saja yang dipakai dalam sehari bisa untuk belasan penumpang. Apalagi, jika hujan. Meski saya bawa cover antiair, tetap saja lembab. (#3)

Yang paling parah, jika alasannya karena tidak ada polisi. Bahkan, ini mendominasi! Itu yang saya alami saat melakukan riset atau survei kecil-kecilan, dalan dua pekan lalu. Padahal, helm kan demi keselamatan. Bukan, untuk dipamerkan jika ada polisi.

Bersambung...


Alasan penumpang enggan pakai helm:
40% Tidak ada Polisi/razia
20% Bau, enggan memakai bekas orang lain
13% Tunggu dekat Lampu Merah yang ada CCTV
12% Tidak biasa/jarak dekat (<4 km)
7 % Baru mandi/keramas/khawatir dengan rambutnya
6% Ribet, apalagi harus dikunci
2% Alasan lain (Sakit kepala, ukuran kekecilan, dll)


Responden: 100
Status: Penumpang 99, Calon 1
Durasi: 1-14 Maret 2020
Periode: 15.00-07.00 WIB (tentatif)
Gender: 28 pria, 72 wanita
Usia: 18-60 (perkiraan)
Area: Jakarta Barat, Pusat, Utara, dan Selatan

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO)
- Punya 2 Paspor, untuk Apa?
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
- Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
- Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
- Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
- Jakarta, 18 Maret 2020

Senin, 02 Maret 2020

Punya 2 Paspor, untuk Apa?


Tampilan paspor, kiri pada 2013 dan kanan 2020

PUNYA dua paspor. Memang, untuk apa?

Demikian pertanyaan dari salah satu rekan ojek online (ojol) di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Tepatnya, saat saya baru mengambil paspor di Kantor Imigrasi Kelas I.

Ketika itu, saya berniat ngopi sejenak sembari sebats (menghisap rokok sebatang). Sekaligus, membereskan berbagai berkas terkait pembuatan paspor. Itu mengapa, saya belum menyalakan tombol order (on) di aplikasi. Alias masih off.

Sambil menyesap kopi hideung nan pahit dan tembakau khas dari Timur Jawa, saya pun larut dengan perbincangan. Diiringi rinai yang membuat kami enggan beranjak sebelum tetesan air dari langit mengering di marcapada.

"Itu paspor ada dua, bro. Emang (dua paspor) buat apa?" kata rekan ojol yang juga mengenakan sepeda motor jenis matic. Bedanya, saya 125cc, sementara dia 150cc.

"Ga bang. Cuma satu. Ini, (satu lagi), yang lama."

"Oh, kirain ane, bikin dua sekaligus."

"Ga. Ane baru perpanjang paspor yang mati 2018. Udah dua tahun. He he he."

"Kalo bikin berapa?"

"Saya kurang tahu, bang kalo baru. Tapi untuk perpanjang yang paspornya mati, saya cama bayar Rp 350 ribu. Untuk bikin pertama, bisa dicek di website Imigrasi, atau ada aplikasinya."

"Iya, saya mau bikin, tapi bukan buat sendiri. Untuk anak. Mau ke Malaysia, lulus SMK, katanya pengen kerja di sana. Ada tetangga, nawarin di proyek."

"Suruh bikin aja dari awal aja bang. Kalo udah punya, enak. Perginya kapan, bebas. Secara, saya perpanjang 10 hari kerja lebih."

"Itu yang dicap, kalo kita udah ke luar negeri," rekan ojol yang saya lupa tanya namamya ini melirik stempel di beberapa halaman paspor lama saya.

"Iya, setiap ke negara lain, bakal dicap. Namun, untuk negara tertentu kena visa. Malaysia, setahu saya nggak, bang. Beda, kalo luar ASEAN, misal Arab (Saudi) atau Eropa, harus ada visa."

"Bikin lagi? Bayar ga?"

"Bayar bang visanya, tapi harganya variatif sih."

"Wah, oke deh bro. Thanks infonya. Ane lanjut ya."

"Siap bang. Ane masih ngopi sama sebats dulu."

SAYA pun lanjut mengecek berbagai berkas sembari menyelimutinya dengan plastik. Maklum, meski hanya rinai, tapi tetap paspor terbuat dari kertas yang mudah basah jika terkena air.

Halaman paspor baru tampak lebih elegan dibanding lama. Meski, yang lama menurut saya sangat berkesan. He he he.

Bagaimana tidak, sudah ada beberapa halaman yang distempel. Baik hanya cap imigrasi atau visa. Tanda pernah ke luar negeri. Norak sih, tapi wajar.

Mulai dari Singapura, yang letaknya seperminuman teh dari Batam. Lanjut Portugal, dengan visa Schengen untuk Eropa. Puncaknya, Inggris, atau lengkapnya Britania Raya (UK).

Berdasarkan pengalaman, yang terakhir paling sulit untuk mendapatkan visa. Nyaris tiga bulan menunggu untuk mendapatkannya. Termasuk, dana minimal Rp 50 juta di rekening.

Namun, itu belum cukup. Sebab, harus ada surat pernyataan dari berbagai pihak. Mulai dari kantor tempat bekerja, bank, sponsor, atau pengundang.

Seperti halnya drama dalam sepak bola pada injury time, pun demikian dengan proses pembuatan visa UK yang saya alami. Sebab, saya baru mendapatkannya, sehari sebelum berangkat!

Bayangkan, betapa deg-degan dalam 2-3 bulan sebelumnya. Sebab, menurut info yang beredar, UK jadi visa tersulit Warga Negara Indonesia (WNI) setelah Amerika Serikat.

Pun dengan beragam mitos yang menyertai. Next, bakal saya ceritakan pada artikel lainnya.***



*         *         *
Paspor adalah dokumen pemerintah resmi untuk warganya yang ingin
ke luar negeri

*         *         *
Visa Singapura

*         *         *
Visa Schengen untuk ke Eropa yang dikeluarkan Kedutaan Besar Portugal

*         *         *
Visa Britania Raya untuk jelajah Inggris dan negara UK lainnya

*         *         *
Artikel Terkait:
- Syarat Bikin Paspor Perdana
- Syarat Perpanjang Paspor yang Mati
- Cara Bikin Visa Schengen
- Cara Bikin Visa Britania Raya (Inggris)
*         *         *


- Jakarta, 2 Maret 2020