![]() |
| Obat-obatan yang dikonsumsi mama setiap hari (Sumber: Dokumentasi pribadi/@roelly87) |
SETIAP penyakit ada obatnya. Demikian adagium lawas terkait risiko kesehatan manusia.
Saya percaya, di kolong langit ini, setiap penyakit ada obatnya. Mayoritas, sudah ditemukan sejak lama.
Tinggal, beberapa di antaranya masih dicari formula yang tepat untuk kesembuhan penderita. Misalnya, HIV, AIDS, Kanker, dan Diabetes.
Yang terakhir bagi saya sangat familiar. Tepatnya, karena diderita mama sejak 2009 silam.
Alias, sudah 17 tahun berlalu ibu saya jadi penyintas diabetes. Sejak 2011, saya sudah sering menulis di blog -Kompasiana, karena blog pribadi www.roelly87.com saat itu jarang aktif- terkait penyakit ini.
Beberapa di antaranya:
- Pengobatan dan Pencegahan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55006dcb813311a019fa773c/pengobatan-dan-pencegahan-diabetes)
- Kisah Ibuku yang Dibantu Insulin untuk Melawan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55008f08a33311e572511414/kisah-ibuku-yang-dibantu-insulin-untuk-melawan-diabetes)
- Nak, Sehat Itu Mahal, Nasehat Ibuku Yang Menderita Penyakit Diabetes... (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508f5b8a333111e452e3981/nak-sehat-itu-mahal-nasehat-ibuku-yang-menderita-penyakit-diabetes)
Memang, hingga kini belum ditemukan obat yang benar-benar bisa menyembuhkan diabetes. Meski begitu, saya sangat meyakini, kelak, penyakit ini ada antidotnya.
Untuk saat ini, ada beberapa obat atau cara untuk mengatasi diabetes. Misalnya, yang dilakukan ibu saya dengan suntik insulin empat kali setiap harinya.
Pagi, siang, sore, dan malam.
Demikian yang dilakukan mama sejak 2009. Baik itu oleh dirinya sendiri, maupun saya dan adik pertama.
Untuk adik bungsu, karena masih remaja jadi belum bisa.
Selain insulin, diabetes juga bisa dicegah lewat asupan makanan dan minuman. Meski, kadang sulit juga mengontrol sepanjang tahun.
Mama pernah kena 500 mg/dL pada gula darahnya yang sangat tinggi. Di sisi lain, juga sempat hanya 34 mg/dL, alias rendah banget hingga Hipoglikemia.
Sebagai anak-anaknya, bertiga, kami tentu selalu menjaga kadar gula mama. Apalagi, di usianya yang sudah kepala enam, rentan kena penyakit lain.
Misalnya, 2023, harus dioperasi tumor payudara. Desember lalu, dirawat sepekan akibat paru.
Agustus sebelumnya, sempat periksa jantung (Selengkapnya: https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html). Alhamdulillah, menurut diagnosis medis ga sampe harus dipasang ring.
Hanya, sepertinya mama kena komplikasi.
Setiap hari tidak lepas dari insulin dan obat. Begitu juga dengan cek rutin ke dokter setiap bulannya.
Meski begitu, beliau tetap rutin menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Sehari-hari, mama aktif ikut PKK dan penyuluhan di Kelurahan dan jadi Ketua Pengajian RW.
Kadang, ikut reuni bersama teman-teman sekolah dulu dan tetangga di rumah yang sudah pindah. Juga sering ziarah bersama ibu-ibu pengajiannya.
Ya, penyakit ga menghalangi mama untuk aktivitas secara normal. Beliau yang dari remaja sudah kerja dan dagang untuk cari nafkah, justru merasa aneh kalo ga ada kegiatan.
"Usia cuma angka. Yang penting pikiran sehat, maka badan juga ngikutin. Kalo diam di rumah aja bisa pikun," kata mama ketika ditanya masih aktif di usia 60-an.
* * *
AWAL bulan ini, mama kembali dirawat Tepatnya, harus menginap enam hari di Rumah Sakit Taman Sari, Jakarta Barat.
Itu setelah sepekan sebelumnya mama merasa demam tak berkesudahan. Gula darahnya naik-turun.
Tensi darah pun tinggi.
Sudah dikasih obat warung, periksa ke dokter langganan, dan klinik terdekat yang tetap buka pada hari libur.
Hanya, belum kunjung membaik.
Hingga, atas saran adik pertama, untuk membawanya ke Rumah Sakit Taman Sari. Saya pun mengiyakan dengan memapah mama menggunakan bajaj.
Maklum, awalnya hendak naik motor. Hanya, mama agak limbung hingga kami khawatir jatuh.
Sampai di RS, saya membawa mama ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Diperiksa langsung dokter yang jaga.
Dicek tensi darahnya, 200. Tinggi banget. Pantes mama pusing terus.
Gula darah? 400!
Bahaya.
Padahal, malamnya masih normal.
Petugas di IGD pun menyarankan untuk perawatan lebih lanjut. Saya mengiyakan.
Saat mama sedang ditangani para tenaga kesehatan (nakes), saya mengurus administrasi. Alhamdulillah, lancar seperti biasa.
Meski, kami memakai layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, tapi tetap dilayani dengan normal oleh para petugas di Rumah Sakit Taman Sari.
Tentu, ini bukan kali pertama kami berurusan dengan rumah sakit. Sebelumnya, saya sudah mengantar mama ke Rumah Sakit Tarakan, Pelni, hingga Sumber Waras.
Sejauh ini, ga ada perbedaan pelayanan dari para nakes di rumah sakit yang kami datangi. Semuanya, selalu memberi pelayanan sepenuh hati, ramah, responsif, hingga memberi solusi saat kami tidak tahu terkait jadwal.
Ini yang teranyar kami alami dengan menggunakan BPJS di Rumah Sakit Taman Sari. Mulai dari kedatangan disambut security yang menawarkan kursi roda atau kruk.
Sampe di IGD, disambut ramah para nakes yang langsung memeriksa mama.
Saat dirawat enam hari, mama juga rutin diperhatikan suster, perawat, dan dokter. Mulai dari pemberian makanan sehari tiga kali (sarapan, siang, dan malam), cek gula darah dan tensi berkala, hingga rutin diperiksa dokter terkait tingkat pemulihan.
Begitu juga di ruang administrasi dan farmasi. Mereka memberikan penjelasan yang lengkap tanpa membedakan apakah saya sebagai perwakilan ibu, pembayarannya memakai BPJS atau normal.
Misalnya, nama-nama dan jenis obat. Maklum, saya termasuk awam yang hanya hapal insulin Novorapid dan Levemir. Namun, kaget juga waktu lihat daftar obat ada Tramadol.
Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), tentu ga asing dengan obat keras itu saat melewati kawasan Tanah Abang. Untung, bagian farmasi menjelaskan dengan lengkap bahwa, obat ini ditujukan untuk meredakan nyeri dan lelap saat tidur.
Btw, Tramadol ga bisa dibeli bebas ya, harus resep dokter.
Alhamdulillah, sebagai pengguna layanan BPJS, mama mendapat semua layanan kesehatan di Rumah Sakit seperti kamar, makanan, hingga obat, dengan gratis.
Alias, tidak mengeluarkan uang sepeser pun.
Demikian dengan parkir motor, di rumah sakit itu gratis yang dijaga security 24 jam.
Terkait obat, saya sempat kaget juga. Sebab, BPJS menanggung semuanya dengan gratis.
Termasuk, Novorapid dan Levemir. Padahal, harga kedua insulin itu cukup mahal kalo beli sendiri.
Kenapa saya tahu? Sebab, saya ojol yang sering mendapat orderan paket di apotek dan jastip.
Harganya sekitar Rp 200.000-an per pen.
Nah, saat itu usai pulang dari rumah sakit, mama diberi enam pen. Novorapid empat untuk pagi, siang, dan sore, serta Levemir dua (khusus malam jelang tidur).
Tanpa bermaksud mengkultuskan layanan BPJS yang sangat berguna bagi mama dan ratusan juta rakyat Indonesia, artikel ini dibuat secara objektif berdasarkan pengalaman.
Faktanya, kami memang pengguna BPJS Kelas 2 sejak 2014 silam. Saat ini per bulan saya dan adik pertama gantian bayar Rp 400.000. Jumlah tersebut merupakan per KK dengan empat orang, yaitu mama, saya, adik pertama, dan bungsu.
Kebetulan, saya dan kedua adik jarang menggunakan layanan tersebut. Alias, hanya digunakan mama saja.
Ini seperti subsidi silang yang dicanangkan pemerintah. Ada keluarga yang pakai BPJS dan digunakan untuk berobat, ada yang nggak.
Jujur, tanpa BPJS, biaya ke rumah sakit lumayan tinggi sejak mama kali pertama operasi diabetes pada 2009 hingga 2014-an seperti yang saya tulis artikelnya di Kompasiana 2011 silam.
Kami jadi saksi bahwa BPJS yang merupakan program pemerintah sangat membantu. Ini merepresentasikan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
* * *
APAKAH BPJS meng-cover semua penyakit dan obat-obatan?
Berdasarkan pengalaman saya menemani mama, sih ga juga. Ada beberapa penyakit yang ga ditanggung, untuk lengkapnya ada di laman resmi mereka.
Terkait obat juga ga semua. Misal, insulin pas didapat memang termasuk beberapa jarum suntik. Hanya, untuk kapas alkohol harus beli sendiri.
Begitu juga saat kaki mama dioperasi dulu. NaCl beli sendiri beserta kain kasa.
Pun demikian untuk alat tes gula darah yang setiap hari rutin kami gunakan itu beli sendiri. Harganya berkisar Rp 300-600 ribu untuk satu set lengkap, jarum dan strip.
Namun, di luar itu semua, saya sangat berterima kasih dengan adanya BPJS. Program ini sangat membantu kami dan ratusan juta rakyat Indonesia.
Begitu juga dengan rumah sakit, para nakes dan pekerja sangat ramah terhadap semua pasien. Tidak ada dikotomi antara pengguna BPJS, asuransi swasta, atau bayar mandiri.
Epilog, saya paham sesuatu yang bernyawa pasti akan merasakan sakit, termasuk mama -yang alhamdulillah sudah mulai membaik-. Namun, dengan adanya BPJS sangat meringankan beban pasien dan keluarga serta pelayanan dari para nakes di setiap rumah sakit yang sangat memanusiakan manusia membuat saya bersyukur sebagai bagian dari rakyat Indonesia.
Terima kasih!***
* * *
Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.
* * *
- Jakarta, 20 Agustus 2026
* * *
