TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Juni 2024

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 28 Juni 2024

Polri Ultah ke-78, Maaf Mahkota Kalian Masih Transit di DC Cirebon

Polri Ultah ke-78, Maaf Mahkota Kalian Masih Transit di DC Cirebon

Polri Ultah ke-78, Maaf Mahkota Kalian Masih Transit di DC Cirebon


Ilustrasi foto saya dan personel Polri saat
Police Expo 2016


DI kolong langit ini, ada lima hal yang sulit diubah. Bukan ga bisa, melainkan maha sukar.

Ini berkaitan dengan watak. Sudah saya tulis sebelumnya pada Desember lalu (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-kembali-ke-setelan-pabrik.html).

Misalnya, pada novel Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga karya Chin Yung (Jin Yong). Dalam satu adegan, diceritakan perwakilan aliran kepercayaan dari Persia mengatakan kepada Ketua Partai Gobi (Emei).

Bahwa, ilmu silat memang dapat ditingkatkan dengan pelajaran dan latihan. Sungai dan gunung mudah ditaklukkan, tapi watak manusia susah diubah:

5. Kpopers

4. Pasangan yang bucin

3. Ego fan klub sepak bola

2. Megalomania pendukung capres

1. Pemalas (Contoh Pak Ogah, Kang Parkir Liar, Ormas, Menteri Korupsi, Anggota DPR tidur, dll)

Berdasarkan interaksi dan pengalaman sehari-hari, kelima jenis manusia tersebut sangat complicated. Bahkan, meski dimandikan dengan air kembang tujuh rupa dari lima benua pun, sulit.

Pada saat yang sama, di jalan raya ada tiga instansi yang menurut saya keberadaannya tidak berguna. Minimal, ada atau ga, tidak mengubah keadaan.

Bahkan, kehadirannya malah memperkeruh suasana. Itu meliputi:

3. Dishub

2. Satpol PP

1. Polisi

Nomor buncit, kerjaannya cuma mengangkut motor dan mobil rakyat jelata saja. Sementara, kendaraan pejabat atau yang terlihat mewah, ga berani. Pecundang!

Yang kedua, cuma mampu mengejar pedagang kaki lima saja. Pada saat yang sama, resto atau mal yang bangunannya melanggar jalan umum didiamkan. Termasuk, cuek dengan keberadaan pak ogah dan parkir liar. Sumpah, ga rela saya bayar pajak ke negara buat gaji Satpol PP seperti ini.

Polisi? Panjang banget. Akan saya uraikan di bawah ini.

Btw, apa korelasi antara tiga instansi ini dengan yang saya ulas pada paragraf awal. 

Yupz, soal watak. Mereka ini sangat susah diminta untuk berubah lebih baik!

Baru gercep untuk bertindak jika sudah viral. Negara macam apa ini?


*       *       *


KEPOLISIAN Negara Republik Indonesia (Polri) genap berusia 78 tahun pada 1 Juli nanti. Segenap masyarakat, pengusaha, politisi, akademisi, tokoh agama, penguasa tambang, 9 naga, 5 gajah, 3 seblak, hingga pentolan ormas pun pada sibuk bersiap mengucapkan selamat untuk instansi yang bermarkas di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan ini.

Minimal, pada pasang spanduk: Selamat HUT Bhayangkara ke-78 disertai foto mereka berjabat tangan dengan pejabat tinggi Polri.

Meski, saya yakin mayoritas dari mereka memberi ucapan selamat dengan rasa terpaksa. Ha... Ha... Ha...!

Btw, sebagai bagian dari rakyat jelata yang hobi ngeblog, tentu saya ingin mengucapkan selamat untuk ultah ke-78 Polri lewat artikel ini. Serius?

Yongkru.

Saya teringat komentar Prof. Mahfud MD dua tahun lalu saat rapat di DPR, "Lebih baik 60 tahun dengan polisi jelek, dari pada semalam tanpa polisi. Semalam saja tidak ada polisi, besoknya negara hilang."

Ha... Ha... Ha... Miris, euy.

Tapi, ini fakta. Mau gimana lagi. 

Saya bisa berharap suatu saat nanti, Dishub dan Satpol PP ditiadakan akibat keberadaannya nirguna. Namun, ga dengan Polri. Sebab, gimana pun, keberadaan polisi sangat dibutuhkan. 

Meski, sejelek apa pun kinerja mereka. Sebab, saya pribadi sangat membutuhkan mereka.

Mulai dari permohonan SKCK untuk lamaran kerja atau buat SIM (https://www.roelly87.com/2021/04/bikin-sim-c-hanya-rp-155-ribu-ini.html).

Kita semua sayang, eh salah. Kita semua butuh polisi!

Lanjut, ya. 

Eh... Bentar! Ada tukang bakso lewat. Padahal kan dini hari WIB ini saya ga lapar. 

Waduh, tiba-tiba di seberang ada tukang somay. Lalu, tukang batagor, nasi goreng, seblak, cangcimen, dan banyak lagi yang datang pakai gerobak.

Ada apa ini?

Btw, kok di belakang dan samping celana mereka ada benda yang tak asing. Mirip handphone tapi beda.

HT...

Mereka ini pedagang beneran atau anggota kepol...

(Tulisan terputus)


*       *       *


SEBAGAI bloger, saya sudah banyak menulis artikel tentang polisi. Bahkan mencapai puluhan baik di blog pribadi, www.roelly87.com atau via Kompasiana (www.kompasiana.com/roelly87) dan di media sosial (facebook, twitter, instagram dengan username identik: @roelly87).

Artikelnya bervariasi. Ada yang baik dan buruk. 

Memberi apresiasi atau kritik. Wajar.

Misalnya ini https://www.roelly87.com/2016/04/jakarta-metropolitan-police-expo-2016.html dan https://www.kompasiana.com/roelly87/552bbed46ea834027a8b45e1/pengalaman-sehari-di-mabes-polri.

Sebagai bloger, tentu saya berusaha untuk fair. Baik ya saya bilang baik. Kalo buruk ya saya katakan buruk. Sesederhana itu.

Bahkan, kritik saya pada 2013 lalu masih terpasang di fanpage facebook Divisi Humas Polri, berjudul Polisi Siap Dikritik (https://www.facebook.com/share/p/rAH6ZPbKH1Tuv1vo/?mibextid=oFDknk).

Bintang lima untuk admin FP epbi itu. Hingga kini, artikel tersebut masih utuh. 

Langka banget sih momen ini. Jarang-jarang ada instansi yang mau dikritik dan bahkan tetap mencantumkan masukan masyarakat itu di laman resmi FB-nya.

Hanya, itu 11 tahun silam. Sekarang?

Bahkan, polisi justru mencari orang yang memviralkan anggotanya yang membunuh bocah di Sumatera Barat. Duh, gusti...

Btw, pak polisi yang terhormat, saya ingin tanya nih. Jika orang yang memviralkan itu sudah ketemu, mau kalian apakan ya?

Semoga orang tersebut baik-baik saja. 

Seharusnya, justru polisi yang berterima kasih atas viralnya berita itu. Sebab, jadi tahu bahwa di level bawah, banyak anggota kalian yang brutal.

(Level elite aja, JENDERAL BINTANG DUA Ferdy Sambo membunuh di Komplek Polisi)

Insiden di Sumbar itu bukan yang pertama atau terakhir. Banyak lagi sebelumnya, saat ini, dan yang akan datang.

Jangan-jangan, setelah menulis artikel ini, saya juga bakal dicari pak polisi yang terhormat?

Ih... Takut!

Padahal, saya mau kasih kado untuk mereka yang merayakan HUT ke-78. Namun, bingkisan berupa mahkota itu masih tertahan di DC Cakung. 

Eh, Cirebon deh. Secara, kasus pembunuhan Vina yang terjadi sejak 2016 silam belum terungkap!

Apalagi, jika mengantarkan kadonya ke Markas Besar Kepolisian Daerah (Mabes Polda) Metro Jaya, sesuai domisili saya di Jakarta, pun saya enggan. Sebab, parkirnya mahal banget.

Oktober lalu saya ke sana, harus mengeluarkan Rp 4.000. Padahal ga sampe lima menit. (Sumber: https://www.instagram.com/p/CySufvYSaeD/?igsh=OGdkdndhcnFudGJs). 

Slogan 3M (melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat) cuma sebatas template. Gimana warganya mau lapor, baru mau masuk gedungnya aja udah mikir akibat tarif parkirnya mahal.


*       *       *


KRITIK tanpa solusi itu hanya omong kosong. 

Pemerintah yang merupakan perwakilan negara, termasuk Polri harus mau menerima kritik. Secara, mereka digaji dari pajak yang dibayarkan seluruh rakyat Indonesia.

Di sisi lain, sebagai bagian dari masyarakat, saya wajib untuk memberi kritik. Tentu, masukan dan pendapat yang membangun. Alias, konstruktif. 

Bukan malah destruktif. Alias, sekadar ujaran kebencian saja.

Sebagai bloger, tentu saya kerap menyuarakan kritik lewat tulisan atau unggahan di media sosial. Diterima atau tidak oleh pihak yang bersangkutan, itu cerita lain.

Toh, saya sadar diri, cuma sekadar remahan rangginang di kaleng biskuit lebaran. Sementara, instansi yang saya kritik berada di Menara Gading.

Misalnya, terkait proyek abadi Pantura (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f76c86a33311a8368b47fc/nangkring-bareng-kemenpu-dan-sorotan-proyek-abadi-pantura?page=all#section2).

Juga terkait TNI sebagai Paswalyur alias Pasukan Pengawal Sayur (https://www.kompasiana.com/roelly87/550def16813311842cbc6125/di-usia-tni-ke-66-ini-semoga-tidak-ada-lagi-paswalyur-pasukan-pengawal-sayur).

Mendengar keluh dan kesah dari pegawai Bea Cukai (https://www.roelly87.com/2015/11/membongkar-rahasia-bea-cukai.html).

Terkait Kang Parkir Liar (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html).

Soal Pak Ogah (https://www.roelly87.com/2024/04/wabah-pak-ogah-merajalela-polisi-bisa.html).

Dishub yang pengecut (https://www.instagram.com/p/CnjGD8yS5oQ/?igsh=MWZ6b2dmZWg5OHlweQ==).

Ormas bangsat dan akamsi sok jagoan (https://www.kompasiana.com/roelly87/55091051a33311f6432e3af3/ramadhan-ketika-sang-bos-konveksi-kepusingan-ditagih-thr-pemuda-kampung).

Pengawalan yang dikutuk masyarakat akibat tet tot tet tot nguing nguing (https://www.roelly87.com/2023/04/lawan-arogansi-di-jalanan-jangan-pernah.html)

Dan, banyak lagi. 

Sebenarnya masih banyak yang mau saya tuangkan di artikel ini. Apa daya, saya sadar. Bahwa, sampai mulut berbusa pun kita mengkritik, tetap saja polisi tidak akan berubah.

Eh, ga deh. Saya punya pengalaman positif dengan mereka.

Salah satunya sudah saya tulis 12 tahun silam, https://www.kompasiana.com/roelly87/550b8fb4a333119c1e2e3db8/tidak-semua-polisi-berperilaku-kurang-baik?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAAR1GNJ-WQhdbM2nOha-8455gfrgSa35hJjLZOYfIHShyznbbQEWSQfUcG40_aem_LTZKflEWQ3KNaLsrutQSXA (buset ini link-nya panjang banget :).

Bahkan, ini paling dalam. Sumpah, saya merinding saat dulu menulisnya. 

Secara, judulnya aja keren banget: Polisi Menggugat (https://www.kompasiana.com/roelly87/550bb640a33311d81a2e39ce/polisi-menggugat?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAAR0Siq3aBY1NZozR4tOXyBhOonU0gbFNyoghkP42dq75odXQnKA8Hns1zyI_aem_gJ-tfScrBHvgw__2eCbZEQ).


*       *       *


TIADA perjamuan yang tak berakhir. Alias, artikel ini harus disudahi.

Di sisi lain, terkait citra polisi yang kian negatif, saya ingat pepatah. Selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar.

Itu berarti, selama saya, Anda, kalian, dan kita semua rakyat Indonesia, yang saat ini masih bernafas, tentu memiliki asa bahwa kelak, polisi akan berubah jadi lebih baik.

Kapankah waktunya tiba?

Entahlah. Saya bukan cenayang.

Yang saya pahami, perubahan itu pasti. Cepat atau lambat, hanya soal waktu.

Termasuk, polisi. Mereka akan segera jadi lebih baik, JIKA:

- Menghentikan suap atau faktor orang dalam saat menerima calon siswa di Akpol

- Menghilangkan stigma ABS (Asal Bapak Senang) yang membuat penyelidikan kasus jadi berbelit-belit

- GRATISKAN PARKIR DI SETIAP KANTOR POLISI. Ini gimana rakyat kecil mau lapor, baru masuk gedung polisi aja udah dikenakan tarif parkir

- BERANTAS KANG PARKIR LIAR, PAK OGAH, ORMAS BANGSAT, DLL (Maaf, capslock jebol!)

- Edukasi anggota yang muda agar tidak larut dalam euforia medsos. Dikit-dikit bilang, "Gimana negara ini jika ditinggal kami libur 3 hari." Hello... Kalian polisi, bukan seleb!

- Gercep dalam menangani kasus tanpa pandang bulu. Bukan sekadar baru gerak kalo udah viral

- Blablabla

- Blablabla

- Blablabla (ngantuk nulisnya udah subuh, jadi kehapus sebagian)

- Terakhir... Ini yang paling gampang ditulis tapi mahasukar untuk dilaksanakan. Kalo kata game era dingdong 90-an ini Raja Tamat. Kapolri harus berani PUTUS DUA GENERASI. Alias, para jenderal yang memegang jabatan krusial harus kompeten. Jangan paksa Boomers untuk menangani kasus penting. Contoh nyata, di Kemenkominfo. Ya Tuhan, kementerian itu sungguh tak berguna. Menteri sebelumnya ditangkap akibat korupsi BTS. Eh, yang baru malah ga lebih baik hingga data negara bisa dijebol pihak luar.

Oke, cukup sekian kado berupa kritik dari saya untuk menyambut HUT Bhayangkara ke-78.

Saya berharap, saat tahun depan merayakan ultah ke-79, stigma negatif terkait polisi di masyarakat sudah berubah jadi positif.

Ga instan tentunya. Tapi, kalo ga dimulai sekarang, mau sampai kapan?***


*       *       *


- Jakarta, 28 Juni 2024


*       *       *


Referensi


- https://www.kompas.tv/nasional/321248/mahfud-md-kutip-ibnu-taimiyah-lebih-baik-60-tahun-dengan-polisi-jelek-daripada-semalam-tanpa-polisi


- https://metro.tempo.co/read/1884734/kapolda-sumbar-mau-cari-orang-yang-viralkan-kasus-afif-maulana-kompolnas-jangan-disampaikan-ke-publik


- https://m.antaranews.com/berita/2973105/kapolri-jadikan-kritik-sebagai-obat-pahit-tapi-menyehatkan


- https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-7402420/temui-nenek-yang-dipungli-anggota-kasatpol-pp-pekanbaru-minta-maaf-ganti-uang


- https://megapolitan.kompas.com/read/2024/06/25/14332721/warga-kami-sudah-lapor-ke-dishub-terkait-pungli-di-jalan-samping-rptra



*       *       *


Artikel Terkait TNI-Polri dan Pemerintah

- Polri (Banyak banget, ada puluhan di www.roelly87.com dan www.kompasiana.com/roelly87)

- TNI (11/12 banyak)

- Pemerintah (13)



...

Rabu, 19 Juni 2024

Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol


Daftar Mal Elite di Jakarta 

dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol

Parkir gratis untuk ojol dan kurir paket
di Lotte Shopping Avenue
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


SEMERBAK harum tanah setelah hujan memang memiliki ciri khas. Wanginya itu loh, bikin perasaan jadi adem.

Usai hujan yang mengguyur ibu kota sejak pagi, saya pun hendak istirahat untuk makan. Setelah keliling nyari tempat yang nyaman untuk bersantap, akhirnya ketemu di pinggir Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan.

Saya langsung membuka bungkusan nasi dan lauk yang dibuatkan ibu di rumah. Saat asyik menyantap, datang rekan ojek online (ojol) yang juga ingin istirahat.

Tak lama, dia bangkit. Namun, duduk lagi.

Kini, pandangannya fokus pada layar hp yang terus berbunyi. Tangannya asyik menari di depan layar.

"Wah, gacor bro," ujar saya membuka percakapan.

"(Orderan) Food terus bro. Ente ga dinyalain aplikasinya?"

"Off dulu. Istirahat makan."

"Males nih, ngambilnya di mal terus."

"Dimana, Pacific Place?"

"Bukan, Ashta. Malnya ribet."

"Kakap?"

"Boro-boro. Belanja makanannya 400 ribu lebih tapi ongkosnya cuma delapan ribuan. Belom dipotong parkir."

"Iya juga, bro. Mending cari orderan yang ongkosnya lumayan."

"Iya nih, udah empat orderan dilewatin. Ane geser bro."

"Kemana?"

"Blok M atau Santa."

"Lanjut bro."

Demikian obrolan singkat tersebut. Saya memahami enggannya rekan ojol itu untuk mengambil orderan di Astha, mal yang terletak di kawasan SCBD.

Sebab, ojol dilarang memakai atribut. Alias, jaket harus ditaruh di motor, tidak boleh dipakai terbalik atau ditenteng. 

Itu yang saya rasakan saat mengambil orderan food, tahun lalu. Sekaligus, kemungkinan yang terakhir kali saya ambil.

Kecuali, jika ongkosnya lumayan. Itu lain cerita.

Namun, kalo cuma ongkirnya delapan ribuan seperti yang didapat rekan ojol tadi, ya ogah. Sebab, udah aturannya ribet  harus kena parkir pula.

Padahal, di kawasan yang sama, ada mal yang menurut saya cukup ramah terhadap ojol. Yaitu, Pacific Place (PP) yang menyediakan parkir gratis untuk ojol dan kurir paket.

Mereka juga memperbolehkan ojol untuk memakai atribut dengan syarat jaketnya dibalik. Atau ditenteng, yang tidak dipermasalahkan.

Menurut saya aturan di PP cukup fair. Kendati, larangan memakai jaket ojol di beberapa mal, apartemen, atau gedung perkantoran, memang kerap mengundang pro dan kontra.

Namun, sebagai tamu, saya selalu menghormati aturan yang dibuat tuan rumah. Sesimpel itu.

Jika ada aturan lepas jaket, ya saya lepas. Kalo boleh dipakai, ya saya pakai. 

Sebab, saya memahami, jaket ojol apa pun itu aplikasinya, jika dipakai di mal bisa diidentikkan sebagai iklan berjalan. Itu mengapa, hampir seluruh mal, plaza, atau pusat perbelanjaan di Jakarta, khususnya yang elite, memberikan larangan.

Hanya, aturan paling ekstrem yang saya ketahui ada dua. Yaitu, Ashta dan Plaza Indonesia (PI). 

Keduanya mewajibkan ojol untuk menyimpan jaketnya di motor. Tidak boleh dipakai terbalik atau ditenteng.

Ya, saya sih ikutin aja. Namanya tamu, harus paham ketentuan tuan rumah.

Sementara, tiga dari lima mal terelite di Jakarta versi saya (Bintang Lima), memperbolehkan jaket ojol dibalik atau ditenteng. Yaitu, PP, Grand Indonesia (GI), dan Plaza Senayan (PS). 

Untuk Pondok Indah Mal (PIM), saya belum pernah ambil orderan food atau kirim barang di sana. 

Yang menarik, terkait PP. Meski berstatus mal elite dengan dihuni brand ternama dan lokasinya strategis di SCBD, tapi cukup ramah terhadap ojol.

Apresiasi untuk manajemen Pacific Place yang berhasil memanusiakan manusia. Sebelumnya, empat tahun lalu saat pandemi saya pernah tulis kritik akibat tiada tempat parkir hingga harus nyeberang ke Bursa Efek Indonesia (https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html).

Untuk mal yang menurut saya levelnya di bawah mereka, ada Lotte Shopping Avenue (Lotte Mal Ciputra), yang tidak kalah ramahnya. Itu karena mal yang terletak di Jalan Prof. Dr. Satrio, ini menyediakan shelter gratis untuk ojol dengan durasi 30 menit.

Menurut saya, ini sangat bermanfaat bagi ojol. Sebab, saya bisa nyaman parkir motor dalam mal tanpa takut hilang atau diangkut Dishub jika naruhnya di pinggir jalan.

Apalagi, Lotte Mal ini juga membolehkan ojol untuk memakai jaketnya. Sumpah, ini aturan yang keren. 

Itu seperti saudara tuanya, Mal Ciputra (Citraland) di Daan Mogot, Jakarta Barat. Respek dengan Ciputra Group yang sangat mengakomodasi keberadaan ojol.

Sebab, tidak banyak mal atau pusat perbelanjaan yang seperti itu. Padahal, saat pandemi, kehadiran ojol banyak diapresiasi.

Pasalnya, ketika itu restoran dilarang untuk membuka layanan makan di tempat. Alhasil, banyak yang akhirnya tutup.

Sementara, yang bertahan sukses mengandalkan aplikasi pengantaran makanan seperti Gofood, Grabfood, Shopeefood, Traveloka Eats, dan sebagainya. Berkat keberadaan aplikasi itu, restoran tetap bisa menjual makanannya kepada pelanggan yang diantar melalui ojol.

Sekaligus, memberikan pemasukan bagi restoran untuk bisa bayar sewa tempat ke pengelola mal. Di sisi lain, mal pun bisa tetap beroperasi meski terbatas.

Hanya, setelah pandemi itu, situasi kembali ke setelan pabrik. Keberadaan ojol kerap dipandang sebelah mata oleh pengelola mal.

Ga semua, sih seperti itu. Namun ya, mayoritas.

Selain Ciputra Group, ada beberapa grup properti yang ramah terhadap ojol. Termasuk, Lippo yang menyediakan shelter parkir gratis di tiga mal yang saya tahu, yaitu Lippo Mal Puri di Jakarta Barat, Kemang Village (Jakarta Selatan), dan Pluit Village (Jakarta Utara).

Saya pribadi, sebagai ojol angkat topi buat manajemen yang memanusiakan manusia. 

Himbauan manajemen PI untuk ojol
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


Berikut, daftar mal elite di Jakarta versi saya dengan kategori parkir gratis untuk ojol dan terkait atribut:


***** (Bintang 5)

Grand Indonesia (Jakarta Pusat) BP/ADL

Plaza Indonesia (Jakarta Pusat) BP/AWT

Plaza Senayan (Jakarta Pusat) BP/ADL

Pacific Place (Jakarta Selatan) PG/ADL

Pondok Indah (Jakarta Selatan) ?


**** (Bintang 4)

Senayan City (Jakarta Pusat) BP/ADL

Gandaria City (Jakarta Selatan) BP/ADL

Lotte Shopping Avenue (Jakarta Selatan) PGds/AOP

Central Park (Jakarta Barat) PG/ADL

Lippo Mal Puri (Jakarta Barat) PG/AOP

Taman Anggrek (Jakarta Barat) BP/ADL

PIK Avenue (Jakarta Utara) PGds/ADL

Emporium (Jakarta Utara) BP/ADL


*** (Bintang 3)

Sarinah (Jakarta Pusat) BP/ADL

Gajah Mada (Jakarta Pusat) BP/AOP

ITC Roxy Mas (Jakarta Pusat) BP/AOP

Citywalk Sudirman (Jakarta Pusat) PG/ADL

Kuningan City (Jakarta Selatan) PG/ADL

Kemang Village (Jakarta Selatan) PG/ADL

Astha (Jakarta Selatan) BP/AWT

Kota Kasablanca (Jakarta Selatan) BP/ADL

Citraland (Jakarta Barat) PG/AOP

Mal Puri Indah (Jakarta Barat) PG/AOP

Green Sedayu (Jakarta Barat) PG/ADL

Pluit Village (Jakarta Utara) PG/AOP

Mal Kelapa Gading (Jakarta Utara) PG/ADL


Lanjut ->

Mangga Dua Square (Jakarta Pusat) PG/ADL

HXC (Jakarta Pusat) PG/AOP

Atrium Senen (Jakarta Pusat) ?

Golden Truly (Jakarta Pusat) ?

Bellagio Mal (Jakarta Selatan) BP/ADL

Season City (Jakarta Barat) BP/AOP


Keterangan

PG: Parkir Gratis

PGds: Parkir Gratis dengan Syarat <30 menit

BP: Bayar parkir seperti pengendara umum lainnya

AOP: Atribut ojol diperbolehkan pakai

ADL: Atribut ojol/jaket dilepas atau boleh dipalai tapi dibalik

AWT: Atribut ojol wajib disimpan di motor/tidak boleh dibawa masuk gedung


Disclaimer: Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi. Bisa jadi ada beberapa yang terlewat, keliru, atau tidak update hingga 19 Juni 2024 ini.

- Jakarta, 19 Juni 2024

*       *       *


Artikel sebelumnya:

- https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html

- https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html


*       *       *


Artikel Selanjutnya:

- Ironi Ratu Plaza yang Terisolasi di Lokasi Strategis

- Apartemen dan Gedung Perkantoran Paling Dihindari Ojol

- Sarinah Sudah Bersolek tapi Serba Kentang

- Mega Mall Pluit (Pluit Village) Punya Cerita




Senin, 17 Juni 2024

Di Balik Kesuksesan JNE dalam Melayani Masyarakat


Di Balik Kesuksesan JNE dalam Melayani Masyarakat

Maskot JNE
(Foto: Dokumentasi pribadi)


TIGA puluh tiga (33) tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dalam periode itu, Indonesia sudah dipimpin enam presiden berbeda.

Manis, pahit, asam, asin, dan berbagai rasa sudah dialami pada lebih dari empat windu tersebut. Pasang dan surut juga jadi santapan sehari-hari.

Mulai dari krisis moneter, inflasi, hingga pandemi Covid 19. Namun, semua itu bisa dilewati dengan sukses.

Tidak banyak perusahaan yang mampu bertahan lebih dari tiga dekade. Apalagi, di bidang pengiriman barang atau dokumen.

Salah satunya, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE. Perusahaan ekspedisi yang bermarkas di Tomang Raya, Jakarta Barat ini berdiri pada 26 November 1990.

Sejak saat itu, JNE sukses mewarnai pasar ekspedisi di Tanah Air. Itu meliputi kirim barang atau dokumen dengan jangkauan area distribusi sangat lengkap.

83.000 kota, termasuk kabupaten, desa, hingga pulau terluar. Pun dengan gerai penjualan lebih dari 8.000 titik.

Jumlah karyawannya saja lebih dari 50.000!

Tak heran jika JNE jadi pilihan utama masyarakat saat melakukan pengiriman barang atau dokumen. Termasuk saya yang tidak asing dengan perusahaan yang memiliki maskot Joni, kurir pria identik dengan topi merah-putih.

Ya, saya memang kerap menggunakan jasa JNE dalam pengiriman barang atau dokumen. Maklum, gerainya tersebar luas di penjuru Tanah Air.

Dekat rumah saya pun ada beberapa. Jadi, kalo mau kirim barang atau dokumen sangat mudah.

Termasuk, jika membeli sesuatu dari olshop (online shop) atau E-commerce. JNE jadi pilihan utama dalam menentukan ekspedisinya.

Itu sudah saya lakukan sejak awal dekade 2010-an. Tepatnya, saat E-commerce mulai jadi pilihan utama masyarakat dalam berbelanja.

Kebetulan saya pernah menulisnya 10 tahun silam saat belanja di salah satu E-Commerce (https://www.roelly87.com/2014/11/pengalaman-belanja-di-lazadacoid.html).


*       *       *


PERUBAHAN itu pasti. Adagium mencatat, kita harus mengikuti arus ketimbang bertaruh keadaan untuk meladeni derasnya air bah.

Demikian dalam hidup ini. Adaptasi adalah kunci.

Itu yang dilakukan JNE dalam menghadapi perkembangan zaman. Mereka berusaha untuk adaptif dan solutif untuk menjangkau masyarakat luas.

Khususnya, di tengan kemajuan teknologi dan kehadiran perusahaan sejenis. Saya sangat mengapresiasi peran manajemen dalam membesarkan JNE yang kini menjelma sebagai merek generik di masyarakat.

Sebab, jika ingin mengirim barang, yang terpatri di hati publik kerap menyebut, "Kirim via JNE saja". Baik itu secara personal, perusahaan, hingga transaksi lewat belanja online di E-Commerce.

Sederhana tapi perusahaan ekspedisi lain tidak bisa.

Ya, JNE rutin melakukan inovasi dalam pendekatan kepada masyarakat. Dimulai sejak 1995 dengan memperkenalkan sistem drop point atau agen pengiriman.

Ketika itu, JNE sukses memanfaatkan keberadaan warung telekomunikasi (wartel) untuk menerima atau melakukan pengiriman. Ini jadi cikal bakal Agen JNE yang seperti saya ulas pada paragraf di aras mencapai lebih dari 8.000 titik di penjuru Tanah Air.

Lima tahun berselang, seiring dengan tumbuhnya tren pemanfaatan internet, Agen JNE mampu membuka jam operasional hingga 24 jam untuk kota-kota besar.

10 tahun silam, JNE meluncurkan MY JNE. Yaitu, aplikasi serba guna berbasis android yang menyuguhkan beragam fitur untuk memudahkan masyarakat. 

Di aplikasi ini, kita bisa mengecek tarif kiriman, menelusuri posisi paket, lokasi konter terdekat, hingga tempat transaksi jual-beli antara penjual dan pembeli individual. Untuk aplikasi ini pernah saya ulas delapan tahun lalu (https://www.roelly87.com/2016/03/inovasi-jne-untuk-manjakan-pelanggan.html).

Teranyar, menyambut perayaan HUT ke 31, JNE meluncurkan Roket Indonesia pada 23 November 2021. Yaitu, layanan kurir instan berbasis aplikasi yang menggaransi estimasi pengantaran dalan waktu 1 jam. Saat ini, Roket Indonesia tersedia di 54 kota atau cabang JNE.

Yang menarik, dengan aplikasi ini, kita sebagai pelanggan tidak perlu mendatangi konter/gerai JNE untuk mengirim barang. Apalagi, pilihannya banyak meliputi instan alias langsung sampe, multi address (ke banyak alamat tujuan) dan sameday (garansi sampai di hari yang sama).

Tarifnya pun bukan lagi berdasarkan berat atau kilogram. Melainkan secara radius atau jarak kilometer seperti layanan ojek online (ojol).

Ini jadi inovasi yang menarik. JNE mampu jemput bola kepada pelanggan di mana pun dan kapan saja.

Apalagi, pembayarannya bervariasi. Bisa tunai, wallet, kartu kredit, hingga Qris.

Dengan nama besar JNE sejak puluhan tahun, Roket Indonesia sukses jadu andalan masyarakat dalam mengirimkan barang atau dokumen secara instan. 


*       *       *


MEMPERTAHANKAN lebih sulit dibanding saat meraihnya. Konsistensi merupakan faktor utama setiap perusahaan dalam menguasai pasar.

Itu yang saya lihat dalam kehidupan sehari-hari. Contoh gampang, di sepak bola. 

Yang sedang ramai saat ini, Piala Eropa 2024. Sepanjang sejarahnya, baru sekali ada tim yang sukses juara beruntun. Itu dilakukan Spanyol pada Piala Eropa 2008 dan 2012.

Untuk Piala Dunia, ada dua tim. Italia pada 1934 dan 1938 serta Brasil (1998 dan 2002). 

Dua tahun lalu, Prancis nyaris menyusul usai juara Piala Dunia 2018. Namun, langkah Kylian Mbappe dan kawan-kawa di final digagalkan Argentina.

Apa korelasinya dengan artikel ini?

Sebagai perusahaan ekspedisi terbesar di Tanah Air, tentu JNE tidak boleh berpuas diri dengan status pemimpin pasar. Manajemen wajib terus berinovasi untuk memberikan layanan terbaik kepada pelanggan.

Terlebih mengingat sebentar lagi mereka akan menyambut ultah yang ke-34. Saya berharap seluruh penggawa JNE dari level manajemen, kurir, hingga agen di berbagai penjuru Tanah Air untuk Gasss Terus Semangat Kreativitasnya!

Dengan penuh energi, semangat, maju, dan inovasi, JNE akan tetap jadi pilihan utama masyarakat.

Yuk, gas terus semangat kreativitasnya!


*       *       *

- Jakarta, 17 Juni 2024


*       *       *


Artikel terkait: 


- https://www.roelly87.com/2018/01/jne-loyalty-card-award-2018.html

- https://www.roelly87.com/2017/10/belanja-di-tokopedia-bayar-di-jne.html

- https://www.roelly87.com/2016/03/inovasi-jne-untuk-manjakan-pelanggan.html

- https://www.roelly87.com/2015/10/memetik-manfaat-dari-tokopedia-roadshow.html

- https://www.roelly87.com/2014/11/pengalaman-belanja-di-lazadacoid.html


Selasa, 11 Juni 2024

Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?


Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?


MENYANTAP gorengan yang berisi tempe, tahu isi, dan bala-bala merupakan kenikmatan sebagai cemilan ringan. Ditambah cengek yang hijaunya menggoda membuat suasana siang itu sangat syahdu.

Kriuk gorengan yang diselipkan beberapa cengek merupakan surga dunia. Ya, cukup dengan Rp 10.000 per bungkus dengan isinya macam-macam, kita bisa menikmati cemilan ringan yang sukses membuat mata melek.

Maklum, perpaduan tempe goreng, tahu isi, bala-bala, dan cabe rawit kecil nan menggoda, cukup membuat saya terjaga dari lelah serta kantuk usai seharian membelah jalanan ibu kota sebagai ojek online (ojol). 

Tak lupa, plastik berisi es tebu untuk menangkal pedas yang membuat suasana bersandar di emperan ruko kosong Taman Palem, Jakarta Barat, jadi lebih berwarna.

Tak lama, dari arah jam tiga, datang rekan ojol yang kemungkinan juga ikut ngadem. Kami pun bersalaman seperti biasa.

Usai saling menawarkan makanan masing-masing, dia sibuk menuang gelas plastik berisi kopi hitam sambil membuka hp. Saya juga tenggelam bersama cengek dan sepotong bala-bala.

"Makin rame aja ya soal Pati, ngab," ujar rekan ojol itu membuka percakapan.

Btw, 'ngab' merupakan anagram dari bang yang merupakan panggilan akrab sesama pria. Setara dengan bro, mas, brader, aa, kang, om, dan pak.

"Iya, bro," jawab saya singkat disela-sela gigitan terakhir tahu isi.

"Sadis juga ya, warga sono. Katanya, satu kampung isinya penadah gituan."

"Kasihan korban yang ga bersalah. Yang pasti, main hakim sendiri ga bisa dibenarkan."

"Iya, ngab. Padahal banyak ojol juga asal sono. Tapi biasanya baik. Kayak di BC ane ada yang pake motor *** kan asli Sukolilo. Orangnya ramah banget. Ga neko-neko. Ini di kampung aslinya, warganya malah serem semua."

"Bener bro. Ane juga kenal beberapa rekan ojol dari daerah A, B, C, dan lain-lain. Biasa aja. Stigma daerahnya rawan ini-itu ya wajar. Namun, ga semua warganya, termasuk yang merantau di Jakarta, berprilaku minus."

Obrolan kami terputus karena hp dia bunyi aplikasi pertanda dapat orderan. Rekan ojol itu pun langsung menyeruput kopi terakhirnya.

"Ngab, ane cabut dulu ya."

"Kakap bro?

"Paus... Ha ha ha."

"Ke mana?" Saya penasaran. Biasanya rute ojol jauh dibilang kakap di atas 20 km. Kalo paus, ya bisa lebih.

"Cikarang. Lumayan ngebolang ngab."

"Ebuset Itu mah, bukan paus lagi, tapi megalodon. Bisa 50 km ya."

"Ha ha ha. 60 km lebih, sampe pantat panas. Ane duluan ngab, mumpung Daan Mogot jam segini belom macet."

"Lanjut bro."


*       *       *


DALAM beberapa hari terakhir, Kabupaten Pati, khususnya Kecamatan Sukolilo jadi sorotan masyarakat. Itu terkait pengeroyokan warga kepada pengusaha rental yang mengakibatkan meninggal.

Kronologis yang saya baca di berbagai media, pengusaha rental dan beberapa kawannya hendak mengambil mobil yang digelapkan penyewa di Desa Sumbersuko, Sukolilo, Jumat (7/6). Apa daya, mereka justru disangka maling oleh warga hingga berujung penganiayaan.

Saya sudah melihat video yang beredar di media sosial (medsos). Itu biadab sih. Orang yang sudah terkapar masih dihujani pukulan dan batu. 

Mungkin, iblis pun sungkem kepada para warga yang melakukan penganiyaan tersebut. 

Sumpah, saya merinding lihat videonya.

Tak heran jika Sukolilo dan Pati pun dicap sebagai daerah penadah kendaraan curian. Stigma negatif ini bukan hanya dari satu atau dua orang saja.

Melainkan berdasarkan banyak pengakuan warga yang mengungkapkan kekesalannya di medsos. Bahkan, Pati (dan Sukolilo) di-blacklist sebagai kawasan rawan bersanding dengan Lampung, Palembang, Madura, dan Medan.

Di sisi lain, saya juga simpati kepada warga yang tinggal di kawasan yang dapat label negatif itu. Sebab, tidak semua penduduk di sana terlibat.

Sekali lagi, tidak semuanya terlibat.

Misal, (Pulau) Madura yang kerap dijuluki North Mexico akibat maraknya pencurian kendaraan atau menyerobot tanah orang. Jujur, ini bikin risih. Secara banyak orang dari Madura yang saya kenal, baik-baik saja. Malah, sangat ramah dan suka membantu sesama.

Hal serupa Medan dengan Gotham City terkait maraknya kriminalitas. Begitu juga dengan Lampung, Palembang, dan lainnya.

Saya pikir, kita ga bisa menggeneralisasi. Secara, dari sekian warga yang barbar, tentu tidak sedikit yang waras.

Bahkan, ada yang mengaitkan asal daerah dengan perilaku minus. Konon, ini jadi catatan hitam saat melamar kerja.

Untuk ini, saya tidak setuju. Maklum, saya besar di kawasan yang dijuluki Bronx-nya Jakarta. Namun, ya sejauh ini normal saja. Sejak kecil saya ga terpengaruh yang aneh-aneh. Begitu juga dengan warga lainnya. 

Kalo pun ada yang barbar, suka tawuran, maling, pengedar narkoba, ya itu segelintir saja. Jangan salahkan daerahnya.

Melainkan, justru yang harus disalahkan itu pejabat pemerintahnya bersama kepolisian. Sebab, mereka yang harusnya bertanggung jawab dengan situasi dan keadaan itu.

Contohnya, di Sukilolo dan Pati. Yang harus disalahkan ya camat, bupati, dan aparat yang berwenang.

Kemana mereka selama ini hingga Pati dan Sukolilo puluhan tahun dikenal sebagai kawasan penadah?

Ini yang seharusnya turut diusut. Apalagi, Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi kabarnya mau nyalon sebagai gubernur. Selama ini ngapain aja hingga membiarkan anak buahnya seperti ga peduli dengan Pati.

Begitu juga dengan Medan yang kini dipimpin Bobby Nasution sebagai walikota dan bersiap nyagub Sumatera Utara. Status sebagai menantu Presiden Joko Widodo ternyata ga berguna untuk menghilangkan stigma "Gotham City". Eh ini mau melompat lebih jauh sebagai orang nomor satu di Sumut...

Aduh!


*       *       *


KEADILAN harus ditegakkan di Tanah Air. Warga yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap pengusaha travel harus dihukum berat. Khususnya, provokator atau dalangnya dan para penadah yang terlibat.

Pada saat bersamaan, pemerintah daerahnya dan aparat kepolisian jangan lepas tangan begitu aja. Mereka wajib kerja keras untuk mengedukasi warga Sukolilo dan Pati. 

Tidak hanya sekadar formalitas saja yang biasa dilakukan saat viral dan dilupakan ketika isunya sudah reda. Melainkan harus terjun langsung ke lapangan. 

Ini juga harus menggandeng pemerintah pusat. Sebab, maraknya penggelapan berkolerasi dengan himpitan ekonomi yang sulit di Pati. Konon banyak pengangguran di sana yang membuat mereka gelap mata.

Ini jadi PR bersama para pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemprov Jawa Tengah, pemda Pati, Sukolilo, dan aparat penegak hukum. Toh, gaji mereka kan berasal dari keringat masyarakat, termasuk warga Pati.

Jangan sampai insiden ini terulang lagi. Serius.

Sumpah, ga lucu jika dalam beberapa waktu ke depan kembali heboh diberitakan ada pengusaha rental yang takut mengambil kendaraannya yang digelapkan di Pati. 

Kalau seperti ini lagi, lebih baik para pejabat yang makan gaji buta itu segera mengundurkan diri.***


*       *       *


- Jakarta, 11 Juni 2024



*       *       *


Referensi:


- https://m.antaranews.com/berita/4145706/tiga-tersangka-pengeroyokan-kasus-mobil-rental-diancam-12-tahun-bui


- https://www.kompas.com/tren/read/2024/06/10/183000965/rangkuman-minggu-kriminal-di-pati-ada-pengeroyokan-pembunuhan-perampokan?page=all#page2


- https://metro.tempo.co/read/1878035/kronologi-bos-rental-mobil-dianiaya-warga-hingga-tewas-di-pati



...


Minggu, 09 Juni 2024

Indonesia Open 2024 Sepi, Kok Bisa?

Indonesia Open 2024 Sepi, Kok Bisa?

Kevin/Marcus wakil Merah-Putih terakhir
yang juara Indonesia Open pada 2021
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


INDONESIA Open 2024 memasuki fase puncak, hari ini, Minggu (9/6). Tepatnya, dengan berlangsungnya final di Istana Olahraga (Istora) Gelora Bung Karno (GBK), sejak siang hingga selesai.

Namun, sepertinya gaung turnamen ini kurang nyaring. Tidak hanya di dunia maya, khususnya twitter dengan lesunya antusiasme warganet.

Melainkan juga di dunia nyata, yaitu kehidupan sehari-hari. Itu akibat merosotnya performa wakil Merah-Putih di Indonesia Open 2024.

Sebab, tidak ada satu pun yang mampu melangkah ke final. Pencapaian terbaik dicapai Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahan yang melaju ke semifinal. 

Sayangnya, langkah mereka dihentikan ganda putra Malaysia, Man Wei Chong/Kai Wun Tee, dua set langsung, 27-29, 13-21. Alhasil, habis sudah wakil Merah-Putih yang membuat Istora terancam sepi pada final hari ini.


*       *       *


"SUASANA Indonesia Open 2024 ini beda dengan sebelumnya ya bang."

"Beda? Maksudnya?"

"Iya, agak sepi. Padahal semifinal. Namun, yang datang ga kayak tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di dalam, banyak kursi kosong."

"Mungkin efek cuma ada satu wakil Indonesia di semifinal, kali ya."

"Iya, ya. Berasa banget, Istora lenggang."

Demikian percakapan saya dengan penumpang salah satu aplikasi ojek online (ojol), kemarin. Menurutnya, sebagai BL (Badminton Lovers) sejak awal 2000-an, Indonesia Open edisi ini yang paling sepi.

Saya hanya mengangguk. Ga mengiyakan, secara saya tidak ikut nonton langsung di Istora.

Datang ke kawasan GBK sekadar cari penumpang aja. Baik itu setiap ada event musik atau olahraga.

Namun, saya perhatikan sejak hari pertama Indonesia Open 2024, Selasa (4/6) memang tidak terlalu ramai.

Apalagi, jika dibandingkan sebelum pandemi. Indonesia Open selalu diserbu BL tidak hanya dari kawasan Jabodetabek dan daerah saja, melainkan negara tetangga.

Maklum, statusnya sebagai "The Holy Trinity" BWF World Tour Level 1000 bersanding dengan All England dan China Open.


The Old King: All England kali pertama diselenggarakan pada 1899

The King: Indonesia Open (1982) 

The Prince: China Open (1986)


Btw, Level 1000 sejak 2023 jadi empat turnamen dengan masuknya Malaysia Open.

Kali terakhir saya nonton Indonesia Open pada 2019 silam. Saat itu, Grup Djarum masih jadi sponsor utama Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dengan menjadikan produknya sebagai nama turnamen.

Misalnya, Djarum Indonesia Open pada 2004-2013, BCA (2014-2017), dan Blibli (2018-2019).

Namun, kerja sama itu buyar sejak akhir 2020. Itu seiring dengan pergantian pengurus baru PBSI.

Entah ada korelasinya atau tidak, sejak saat itu hingga kini, hanya sekali wakil Merah-Putih juara. Tepatnya, saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengalahkan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi pada Indonesia Open 2021.


*       *       *


SEPINYA Indonesia Open 2024 bukan hanya akibat jebloknya wakil Merah-Putih yang cuma mengirimkan ganda putra ke semifinal. Melainkan juga banyak faktor.

Itu diungkapkan beberapa penumpang ojol yang saya temui. Misalnya, tiket yang mahal, harga makanan dan minuman tidak bersahabat, ketidakjelasan venue dari rencana sebelumnya di Indonesia Arena yang baru dibangun dengan kapasitas 16 ribu kursi ke Istora (7 ribu).

"Pengurus PBSI ga becus, akibatnya cuma mampu kirim satu wakil di semifinal. Ini akibat orang yang ga ngerti bulu tangkis malah jadi pejabat di Cipayung," tutur penumpang yang saya jemput di depan Pintu 5 GBK.

"PBSI mau dongkrak kehadiran penonton dengan ngadain farewell, tapi ga konfirmasi ke Kevin/Marcus. Aneh kan, perpisahan tapi atletnya ga dikasih tahu?" penumpang lainnya, menambahkan.

"Gw beli tiket termurah semifinal hampir cetiaw (Rp 1 juta), yaitu lakpego (Rp 600 ribu). Bayangin mas, itu posisinya di ujung, Kategori 2. Temen gw anak *** malah beli yang cetiawgo (Rp 1,5 juta) presale VIP. Namun, apa yang kita dapat? Ga ada. Cuma nontonin atlet luar aja, wakil sendiri cuma ada Sabar/Reza doang," kata BL asal utara ibu kota.

Sebagai sesama penggemar bulu tangkis, situasi ini memang miris. Sebab, biasanya atlet kita bak raja di rumah sendiri pada Indonesia Open.

Terbukti dari berbagai gelar yang diraih lewat lima sektor. Bahkan, sukses sapu bersih pada 1983, 1996, 1997, dan 2001.

Kali terakhir wakil Merah-Putih meraih lebih dari satu gelar pada Indonesia Open 2018. Itu berkat Kevin/Marcus di ganda putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran).

Meski kurang memuaskan di Indonesia Open, sejatinya wakil Merah-Putih cukup bagus sepanjang turnamen tahun ini. Itu dibuktikan dengan dua gelar All England 2024 melalui Jonatan Christie pada tunggal putra dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra).

Begitu juga pada nomor beregu. Tim Indonesia jadi runner-up Thomas Cup 2024 dan Uber Cup 2024. 

Untuk beregu putra, final tahun ini merupakan yang ketiga beruntun setelah 2022 dan 2020 (juara). Sementara, tim wanita kembali ke final Uber Cup sejak 2008 silam.

Terlepas dari hasil minor di Indonesia Open 2024, saya berharap PBSI segera melakukan evaluasi. Maklum, Olimpiade 2024 berlangsung sebulan lagi, tepatnya untuk cabang bulu tangkis pada 27 Juli hingga 5 Agustus mendatang.

Jangan sampai tradisi emas Indonesia terputus di Paris. Cukup luka di London pada 2012 silam saja kita gagal sejak kali perdana bulu tangkis dipertandingkan di Olimpiade pada 1992.

Ayo Indonesia, bangkit!


*       *       *


- Jakarta, 9 Juni 2024


*       *       *


Artikel Terkait:


- https://www.roelly87.com/2023/03/blackpink-di-mata-ojol.html

- https://www.roelly87.com/2023/11/sisi-lain-konser-coldplay-mistik-sedih.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html

- https://www.roelly87.com/2016/06/kemeriahan-bca-indonesia-open-2016.html

- https://www.roelly87.com/2016/05/bca-indonesia-open-2016.html 



 

Kamis, 06 Juni 2024

Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah

Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah


Ilustrasi perjuangan dalam mencari nafkah
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)




MEMASUKI pertengahan 2024, situasi politik dan keamanan di muka bumi ini kian memanas. Perang, invasi, aneksasi, hingga genosida kian menggila.

Khususnya, di Timur Tengah yang sangat panas akibat ulah Israel terhadap rakyat Palestina. Sejak 7 Oktober 2023, masyarakat di Kota Gaza dan sekitarnya tak henti mendapat gempuran dari kaum zionis.

Btw, bedakan ya antara Israel sebagai negara, Yahudi agama yang dianut, dan paham zionis. Ketiganya berlainan.

Banyak juga warga Israel yang beragama Yahudi sangat mengecam tindakan pemerintahnya. Untuk zionis ya, kalian pembaca blog ini tentu sudah tahu.

Oke, lanjut.

Imbas tindakan sewenang terhadap Palestina membuat masyarakat dunia pun mengecam Israel. Dari berbagai penjuru, melakukan demo dan boikot produk yang berafiliasi dengan negara yang seupil tapi tingkahnya tengil itu.

Termasuk, di Indonesja yang memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Baik dari sikap resmi pemerintah, pejabat, hingga rakyat jelata sangat mengecam invasi Israel.

Demo pun dilakukan segenap elemen masyarakat. Juga boikot terhadap produk, baik di dunia nyata maupun secara online.

Sebagai pribadi yang berusaha untuk memanusiakan manusia, sudah pasti saya sangat mendukung boikot tersebut. Tentu, asal tidak merugikan segenap rakyat Indonesia lainnya.


*       *       *


SIANG itu, cuaca sangat terik. Saya pun istirahat sejenak di emperan rumah toko (ruko) yang kosong di kawasan barat ibu kota sambil menunggu orderan selanjutnya. 

Lumayan, buat nyender sekaligus melempengkan kaki sebelum kembali melanjutkan tugas sebagai ojek online (ojol). Termos mini berisi kopi hitam yang tak lagi panas pun jadi teman setia.

Ga ketinggalan asap kehidupan yang menambah suasana kian syahdu. Meski sejak pandemi mereknya jadi aneh.

Termasuk, yang saya hisap sekarang. Bukan merek terkenal dan bahkan brand-nya ga jelas saking murahnya.

Maklum, sebagai ahli hisap, yang penting bisa ngelepus. Beda saat masih kerja atau sebelum pandemi, ga pernah jauh dari produk premium keluaran Surabaya dan Kudus.

Ga lama, ada pria dengan perkiraan usia sedikit lebih muda menghampiri. Pakaiannya formal dan rapi.

Sepatunya tandas nan mengkilap. Saya pun mengangguk sebagai tanda menyambut.

"Sendirian, mas? Kayaknya cape banget nih."

"Iya, bro."

"Istirahat?"

"Yongkru, sambil nunggu orderan."

Saya kembali menyeruput kopi. Scroll hp pun lanjut untuk melihat berbagai info di portal berita.

Pada saat yang sama, pria tadi sudah di depan saya. Bahkan, melongok hp yang saya buka.

"Asyik nih mas. Liat apa?"

"Biasa bro. Berita aja."

"Israel laknat masih rame diberitain?"

"Iya, bro."

"Anjing itu ya, ga mau diazab itu negara. Saya berharap secepatnya Israel dihilangkan dari muka bumi."

"..."

"Iya kan mas?"

"Yoi bro."

"Menurut kamu gimana mas?"

"Kenape bro?"

"Soal Israel laknat?"

"Ya, ga gimana-gimana."

"Lho, kamu kan lagi baca berita?"

"Maksudnya?"

Berbagai pertanyaan pria tadi bikin mood saya berubah. Saya yang sedang istirahat dan baca berita hasil pertandingan olahraga semalam, jadi merasa keganggu.

"Kamu dukung boikot Israel dan produk yang terafiliasi seperti ***, ****, *****?"

"Iya bro."

"Udah dilakuin?"

"Maksud lo apa nih?"

"Iya, boikot ga pake produknya, makan, dan minum produk yang nyumbang dana untuk Israel? Sudah dilakuin belom? Atau tidak pernah?"

"Hubungannya sama gw ini apa ya?"

Tensi saya langsung naik ketika ada yang menyinggung privasi. Saya memang mendukung adanya boikot terhadap produk atau brand yang terafiliasi dengan Israel.

Namun, itu untuk konsumsi pribadi. Yang berhak tahu hanya saya dan Tuhan.

Lah, ini ada orang ga kenal udah sok asyik menyelidiki ranah pribadi. Bahkan, lancang nanya-nanya yang menyerempet privasi.

Ga heran jika saya sedikit terpancing. Tadinya sopan memanggil 'bro' jadi lo dan gw.

Pertanda saya udah ga nyaman dengan seseorang. Ditambah, situasi lagi terik dan saya sedang ingin istirahat setelah keliling mengurai macetnya jalanan.

"Mas, kamu kan ojol ya. Sering anter makanan dari resto ***, ****, dan *****?"

"Woi, lo apaan sih. Nanya-nanya ga jelas."

"Ga mas, kita kan simpati sama Palestina."

"Iya, sebagai manusia, gw juga simpati. Tapi, hubungannya pertanyaan lo itu apa?"

"Gini... Mas, sesama manusia, saya hanya mengingatkan. Jika dapat orderan ojol antarmakanan dari resto itu mending dicancel aja. Ga ada faedahnya. Kebanyakan mudarat."

"..."

"Kalo mas tetep anter, sama aja secara ga langsung mas nyumbang ke Israel untuk membantai warga Palestina. Tolakin aja orderan dari resto ***, ****, *****, dan lainnya ya mas. Demi kebaikan mas juga. Biar berkah."

Mendengar uraian pria itu membuat saya tersenyum. Saya pikir, ini orang ga waras.

Seharusnya, menghadapi manusia ga punya otak kayak gini, lebih baik ditinggal. Ga usah diladenin biar dia capek sendiri.

Di sisi lain, saya pikir kalo ini orang dibiarkan, bakal berabe. Seolah udah berasa maha benar.

Jadi, saya pun harus kasih pelajaran biar dia kapok. Supaya ini pria ga terlalu ikut campur urusan orang lain.

"Berarti lo ngelarang kalo gw ambil orderan dari resto yang diduga terafiliasi atau menyumbang pendanaan Israel itu?"

"Benar mas. Biar berkah."

"Bro... Ini gw kasih nasihat terbaik buat lo sekarang dan ke depannya ya. Jangan pernah sekali-kali dalam hidup lo untuk ganggu orang yang lagi ibadah, kerja, dan makan. Urusannya fatal."

"Kok gitu, mas? Ini kan cuma..."

"Ngebacot lagi, ini termos melayang ke kepala lo. Gw hitung sampe tiga, kalo lo ga enyah, siap-siap..."

"..."

Dengan terburu-buru, pria itu pun sipat kuping. Gw langsung menginjak puntung rokok yang tersisa setengah batang akibat belum sempat dihisap manusia ga jelas itu.

"Huff..."


 *       *       *


SEPEMBAKARAN hio pun berlalu. Situasi dan tensi saya mereda usai kepergian pria tersebut.

Benar-benar manusia aneh. Niatnya sih mulia, tapi caranya sungguh salah.

Ngajak boikot sambil maksa orang kerja untuk menolak orderan itu sungguh terlalu. Apalagi, urusan dapur itu sensitif.

Hanya, ya sudah lah. Malas dibahas lagi.

Intinya, saya mendukung boikot atau kampanye anti Israel. Namun, jangan sampe merugikan bangsa sendiri.

Contoh, di media sosial ada video sekelompok orang yang teriak-teriak anti Israel di resto cepat saji. Bahkan, ada yang merusak properti dan membuat keresahan warga sekitarnya.

Padahal, yang berada di lokasi itu kan karyawan yang justru tidak tahu apa-apa. Mereka sedang bekerja demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Memangnya, kalo sampe para karyawan dipecat, para pemboikot dan pendemo mau tanggung jawab? Hello!

Inget ya, zaman sekarang cari kerja sulitnya minta ampun. Jadi, ga usah terlalu goblok dengan menyusahkan orang lain.

Ditambah dengan berbagai kebijakan aneh pemerintah yang kian menyulitkan rakyatnya. Duh...

Pada saat yang sama, ada menteri korupsi yang tertangkap basah. Duitnya, ternyata dipake untuk sunatan cucu, minum wine, beli aksesoris mobil anak, hingga bayar biduan.

Ya... Tuhan!

Udah pemerintahnya ga peka dengan bikin kebijakan yang aneh-aneh, menterinya korup, pejabatnya kalo lewat jalan macet pake pengawalan yang minta diutamain sambil bunyi ngiung-ngiung tet-tot-tet-tot. 

Eh, ditambah sekelompok orang yang kampanyekan anti Israel tapi merugikan sesama saudaranya se-Indonesia. Hipokrit.


*       *       *


- Jakarta, 6 Juni 2024


*       *       *


Artikel terkait:

- https://www.roelly87.com/2023/04/lawan-arogansi-di-jalanan-jangan-pernah.html

- https://www.roelly87.com/2024/04/wabah-pak-ogah-merajalela-polisi-bisa.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html

- https://www.roelly87.com/2023/07/manusia-lebih-anjing-daripada-anjing.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/5508de76a3331124452e3960/ketika-garuda-sudah-tidak-lagi-di-dadaku

 - https://www.kompasiana.com/roelly87/5500b657a33311531850fa19/standar-ganda-sang-aktivis?page=all#section1


- https://www.kompasiana.com/roelly87/5508dddda33311b9422e3945/surat-untuk-penghuni-istana?page=all#section2



....