TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Juni 2024

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Selasa, 11 Juni 2024

Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?


Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?


MENYANTAP gorengan yang berisi tempe, tahu isi, dan bala-bala merupakan kenikmatan sebagai cemilan ringan. Ditambah cengek yang hijaunya menggoda membuat suasana siang itu sangat syahdu.

Kriuk gorengan yang diselipkan beberapa cengek merupakan surga dunia. Ya, cukup dengan Rp 10.000 per bungkus dengan isinya macam-macam, kita bisa menikmati cemilan ringan yang sukses membuat mata melek.

Maklum, perpaduan tempe goreng, tahu isi, bala-bala, dan cabe rawit kecil nan menggoda, cukup membuat saya terjaga dari lelah serta kantuk usai seharian membelah jalanan ibu kota sebagai ojek online (ojol). 

Tak lupa, plastik berisi es tebu untuk menangkal pedas yang membuat suasana bersandar di emperan ruko kosong Taman Palem, Jakarta Barat, jadi lebih berwarna.

Tak lama, dari arah jam tiga, datang rekan ojol yang kemungkinan juga ikut ngadem. Kami pun bersalaman seperti biasa.

Usai saling menawarkan makanan masing-masing, dia sibuk menuang gelas plastik berisi kopi hitam sambil membuka hp. Saya juga tenggelam bersama cengek dan sepotong bala-bala.

"Makin rame aja ya soal Pati, ngab," ujar rekan ojol itu membuka percakapan.

Btw, 'ngab' merupakan anagram dari bang yang merupakan panggilan akrab sesama pria. Setara dengan bro, mas, brader, aa, kang, om, dan pak.

"Iya, bro," jawab saya singkat disela-sela gigitan terakhir tahu isi.

"Sadis juga ya, warga sono. Katanya, satu kampung isinya penadah gituan."

"Kasihan korban yang ga bersalah. Yang pasti, main hakim sendiri ga bisa dibenarkan."

"Iya, ngab. Padahal banyak ojol juga asal sono. Tapi biasanya baik. Kayak di BC ane ada yang pake motor *** kan asli Sukolilo. Orangnya ramah banget. Ga neko-neko. Ini di kampung aslinya, warganya malah serem semua."

"Bener bro. Ane juga kenal beberapa rekan ojol dari daerah A, B, C, dan lain-lain. Biasa aja. Stigma daerahnya rawan ini-itu ya wajar. Namun, ga semua warganya, termasuk yang merantau di Jakarta, berprilaku minus."

Obrolan kami terputus karena hp dia bunyi aplikasi pertanda dapat orderan. Rekan ojol itu pun langsung menyeruput kopi terakhirnya.

"Ngab, ane cabut dulu ya."

"Kakap bro?

"Paus... Ha ha ha."

"Ke mana?" Saya penasaran. Biasanya rute ojol jauh dibilang kakap di atas 20 km. Kalo paus, ya bisa lebih.

"Cikarang. Lumayan ngebolang ngab."

"Ebuset Itu mah, bukan paus lagi, tapi megalodon. Bisa 50 km ya."

"Ha ha ha. 60 km lebih, sampe pantat panas. Ane duluan ngab, mumpung Daan Mogot jam segini belom macet."

"Lanjut bro."


*       *       *


DALAM beberapa hari terakhir, Kabupaten Pati, khususnya Kecamatan Sukolilo jadi sorotan masyarakat. Itu terkait pengeroyokan warga kepada pengusaha rental yang mengakibatkan meninggal.

Kronologis yang saya baca di berbagai media, pengusaha rental dan beberapa kawannya hendak mengambil mobil yang digelapkan penyewa di Desa Sumbersuko, Sukolilo, Jumat (7/6). Apa daya, mereka justru disangka maling oleh warga hingga berujung penganiayaan.

Saya sudah melihat video yang beredar di media sosial (medsos). Itu biadab sih. Orang yang sudah terkapar masih dihujani pukulan dan batu. 

Mungkin, iblis pun sungkem kepada para warga yang melakukan penganiyaan tersebut. 

Sumpah, saya merinding lihat videonya.

Tak heran jika Sukolilo dan Pati pun dicap sebagai daerah penadah kendaraan curian. Stigma negatif ini bukan hanya dari satu atau dua orang saja.

Melainkan berdasarkan banyak pengakuan warga yang mengungkapkan kekesalannya di medsos. Bahkan, Pati (dan Sukolilo) di-blacklist sebagai kawasan rawan bersanding dengan Lampung, Palembang, Madura, dan Medan.

Di sisi lain, saya juga simpati kepada warga yang tinggal di kawasan yang dapat label negatif itu. Sebab, tidak semua penduduk di sana terlibat.

Sekali lagi, tidak semuanya terlibat.

Misal, (Pulau) Madura yang kerap dijuluki North Mexico akibat maraknya pencurian kendaraan atau menyerobot tanah orang. Jujur, ini bikin risih. Secara banyak orang dari Madura yang saya kenal, baik-baik saja. Malah, sangat ramah dan suka membantu sesama.

Hal serupa Medan dengan Gotham City terkait maraknya kriminalitas. Begitu juga dengan Lampung, Palembang, dan lainnya.

Saya pikir, kita ga bisa menggeneralisasi. Secara, dari sekian warga yang barbar, tentu tidak sedikit yang waras.

Bahkan, ada yang mengaitkan asal daerah dengan perilaku minus. Konon, ini jadi catatan hitam saat melamar kerja.

Untuk ini, saya tidak setuju. Maklum, saya besar di kawasan yang dijuluki Bronx-nya Jakarta. Namun, ya sejauh ini normal saja. Sejak kecil saya ga terpengaruh yang aneh-aneh. Begitu juga dengan warga lainnya. 

Kalo pun ada yang barbar, suka tawuran, maling, pengedar narkoba, ya itu segelintir saja. Jangan salahkan daerahnya.

Melainkan, justru yang harus disalahkan itu pejabat pemerintahnya bersama kepolisian. Sebab, mereka yang harusnya bertanggung jawab dengan situasi dan keadaan itu.

Contohnya, di Sukilolo dan Pati. Yang harus disalahkan ya camat, bupati, dan aparat yang berwenang.

Kemana mereka selama ini hingga Pati dan Sukolilo puluhan tahun dikenal sebagai kawasan penadah?

Ini yang seharusnya turut diusut. Apalagi, Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi kabarnya mau nyalon sebagai gubernur. Selama ini ngapain aja hingga membiarkan anak buahnya seperti ga peduli dengan Pati.

Begitu juga dengan Medan yang kini dipimpin Bobby Nasution sebagai walikota dan bersiap nyagub Sumatera Utara. Status sebagai menantu Presiden Joko Widodo ternyata ga berguna untuk menghilangkan stigma "Gotham City". Eh ini mau melompat lebih jauh sebagai orang nomor satu di Sumut...

Aduh!


*       *       *


KEADILAN harus ditegakkan di Tanah Air. Warga yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap pengusaha travel harus dihukum berat. Khususnya, provokator atau dalangnya dan para penadah yang terlibat.

Pada saat bersamaan, pemerintah daerahnya dan aparat kepolisian jangan lepas tangan begitu aja. Mereka wajib kerja keras untuk mengedukasi warga Sukolilo dan Pati. 

Tidak hanya sekadar formalitas saja yang biasa dilakukan saat viral dan dilupakan ketika isunya sudah reda. Melainkan harus terjun langsung ke lapangan. 

Ini juga harus menggandeng pemerintah pusat. Sebab, maraknya penggelapan berkolerasi dengan himpitan ekonomi yang sulit di Pati. Konon banyak pengangguran di sana yang membuat mereka gelap mata.

Ini jadi PR bersama para pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemprov Jawa Tengah, pemda Pati, Sukolilo, dan aparat penegak hukum. Toh, gaji mereka kan berasal dari keringat masyarakat, termasuk warga Pati.

Jangan sampai insiden ini terulang lagi. Serius.

Sumpah, ga lucu jika dalam beberapa waktu ke depan kembali heboh diberitakan ada pengusaha rental yang takut mengambil kendaraannya yang digelapkan di Pati. 

Kalau seperti ini lagi, lebih baik para pejabat yang makan gaji buta itu segera mengundurkan diri.***


*       *       *


- Jakarta, 11 Juni 2024



*       *       *


Referensi:


- https://m.antaranews.com/berita/4145706/tiga-tersangka-pengeroyokan-kasus-mobil-rental-diancam-12-tahun-bui


- https://www.kompas.com/tren/read/2024/06/10/183000965/rangkuman-minggu-kriminal-di-pati-ada-pengeroyokan-pembunuhan-perampokan?page=all#page2


- https://metro.tempo.co/read/1878035/kronologi-bos-rental-mobil-dianiaya-warga-hingga-tewas-di-pati



...


Minggu, 09 Juni 2024

Indonesia Open 2024 Sepi, Kok Bisa?

Indonesia Open 2024 Sepi, Kok Bisa?

Kevin/Marcus wakil Merah-Putih terakhir
yang juara Indonesia Open pada 2021
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


INDONESIA Open 2024 memasuki fase puncak, hari ini, Minggu (9/6). Tepatnya, dengan berlangsungnya final di Istana Olahraga (Istora) Gelora Bung Karno (GBK), sejak siang hingga selesai.

Namun, sepertinya gaung turnamen ini kurang nyaring. Tidak hanya di dunia maya, khususnya twitter dengan lesunya antusiasme warganet.

Melainkan juga di dunia nyata, yaitu kehidupan sehari-hari. Itu akibat merosotnya performa wakil Merah-Putih di Indonesia Open 2024.

Sebab, tidak ada satu pun yang mampu melangkah ke final. Pencapaian terbaik dicapai Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahan yang melaju ke semifinal. 

Sayangnya, langkah mereka dihentikan ganda putra Malaysia, Man Wei Chong/Kai Wun Tee, dua set langsung, 27-29, 13-21. Alhasil, habis sudah wakil Merah-Putih yang membuat Istora terancam sepi pada final hari ini.


*       *       *


"SUASANA Indonesia Open 2024 ini beda dengan sebelumnya ya bang."

"Beda? Maksudnya?"

"Iya, agak sepi. Padahal semifinal. Namun, yang datang ga kayak tahun-tahun sebelumnya. Apalagi di dalam, banyak kursi kosong."

"Mungkin efek cuma ada satu wakil Indonesia di semifinal, kali ya."

"Iya, ya. Berasa banget, Istora lenggang."

Demikian percakapan saya dengan penumpang salah satu aplikasi ojek online (ojol), kemarin. Menurutnya, sebagai BL (Badminton Lovers) sejak awal 2000-an, Indonesia Open edisi ini yang paling sepi.

Saya hanya mengangguk. Ga mengiyakan, secara saya tidak ikut nonton langsung di Istora.

Datang ke kawasan GBK sekadar cari penumpang aja. Baik itu setiap ada event musik atau olahraga.

Namun, saya perhatikan sejak hari pertama Indonesia Open 2024, Selasa (4/6) memang tidak terlalu ramai.

Apalagi, jika dibandingkan sebelum pandemi. Indonesia Open selalu diserbu BL tidak hanya dari kawasan Jabodetabek dan daerah saja, melainkan negara tetangga.

Maklum, statusnya sebagai "The Holy Trinity" BWF World Tour Level 1000 bersanding dengan All England dan China Open.


The Old King: All England kali pertama diselenggarakan pada 1899

The King: Indonesia Open (1982) 

The Prince: China Open (1986)


Btw, Level 1000 sejak 2023 jadi empat turnamen dengan masuknya Malaysia Open.

Kali terakhir saya nonton Indonesia Open pada 2019 silam. Saat itu, Grup Djarum masih jadi sponsor utama Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dengan menjadikan produknya sebagai nama turnamen.

Misalnya, Djarum Indonesia Open pada 2004-2013, BCA (2014-2017), dan Blibli (2018-2019).

Namun, kerja sama itu buyar sejak akhir 2020. Itu seiring dengan pergantian pengurus baru PBSI.

Entah ada korelasinya atau tidak, sejak saat itu hingga kini, hanya sekali wakil Merah-Putih juara. Tepatnya, saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengalahkan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi pada Indonesia Open 2021.


*       *       *


SEPINYA Indonesia Open 2024 bukan hanya akibat jebloknya wakil Merah-Putih yang cuma mengirimkan ganda putra ke semifinal. Melainkan juga banyak faktor.

Itu diungkapkan beberapa penumpang ojol yang saya temui. Misalnya, tiket yang mahal, harga makanan dan minuman tidak bersahabat, ketidakjelasan venue dari rencana sebelumnya di Indonesia Arena yang baru dibangun dengan kapasitas 16 ribu kursi ke Istora (7 ribu).

"Pengurus PBSI ga becus, akibatnya cuma mampu kirim satu wakil di semifinal. Ini akibat orang yang ga ngerti bulu tangkis malah jadi pejabat di Cipayung," tutur penumpang yang saya jemput di depan Pintu 5 GBK.

"PBSI mau dongkrak kehadiran penonton dengan ngadain farewell, tapi ga konfirmasi ke Kevin/Marcus. Aneh kan, perpisahan tapi atletnya ga dikasih tahu?" penumpang lainnya, menambahkan.

"Gw beli tiket termurah semifinal hampir cetiaw (Rp 1 juta), yaitu lakpego (Rp 600 ribu). Bayangin mas, itu posisinya di ujung, Kategori 2. Temen gw anak *** malah beli yang cetiawgo (Rp 1,5 juta) presale VIP. Namun, apa yang kita dapat? Ga ada. Cuma nontonin atlet luar aja, wakil sendiri cuma ada Sabar/Reza doang," kata BL asal utara ibu kota.

Sebagai sesama penggemar bulu tangkis, situasi ini memang miris. Sebab, biasanya atlet kita bak raja di rumah sendiri pada Indonesia Open.

Terbukti dari berbagai gelar yang diraih lewat lima sektor. Bahkan, sukses sapu bersih pada 1983, 1996, 1997, dan 2001.

Kali terakhir wakil Merah-Putih meraih lebih dari satu gelar pada Indonesia Open 2018. Itu berkat Kevin/Marcus di ganda putra dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (ganda campuran).

Meski kurang memuaskan di Indonesia Open, sejatinya wakil Merah-Putih cukup bagus sepanjang turnamen tahun ini. Itu dibuktikan dengan dua gelar All England 2024 melalui Jonatan Christie pada tunggal putra dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra).

Begitu juga pada nomor beregu. Tim Indonesia jadi runner-up Thomas Cup 2024 dan Uber Cup 2024. 

Untuk beregu putra, final tahun ini merupakan yang ketiga beruntun setelah 2022 dan 2020 (juara). Sementara, tim wanita kembali ke final Uber Cup sejak 2008 silam.

Terlepas dari hasil minor di Indonesia Open 2024, saya berharap PBSI segera melakukan evaluasi. Maklum, Olimpiade 2024 berlangsung sebulan lagi, tepatnya untuk cabang bulu tangkis pada 27 Juli hingga 5 Agustus mendatang.

Jangan sampai tradisi emas Indonesia terputus di Paris. Cukup luka di London pada 2012 silam saja kita gagal sejak kali perdana bulu tangkis dipertandingkan di Olimpiade pada 1992.

Ayo Indonesia, bangkit!


*       *       *


- Jakarta, 9 Juni 2024


*       *       *


Artikel Terkait:


- https://www.roelly87.com/2023/03/blackpink-di-mata-ojol.html

- https://www.roelly87.com/2023/11/sisi-lain-konser-coldplay-mistik-sedih.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html

- https://www.roelly87.com/2016/06/kemeriahan-bca-indonesia-open-2016.html

- https://www.roelly87.com/2016/05/bca-indonesia-open-2016.html 



 

Kamis, 06 Juni 2024

Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah

Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah


Ilustrasi perjuangan dalam mencari nafkah
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)




MEMASUKI pertengahan 2024, situasi politik dan keamanan di muka bumi ini kian memanas. Perang, invasi, aneksasi, hingga genosida kian menggila.

Khususnya, di Timur Tengah yang sangat panas akibat ulah Israel terhadap rakyat Palestina. Sejak 7 Oktober 2023, masyarakat di Kota Gaza dan sekitarnya tak henti mendapat gempuran dari kaum zionis.

Btw, bedakan ya antara Israel sebagai negara, Yahudi agama yang dianut, dan paham zionis. Ketiganya berlainan.

Banyak juga warga Israel yang beragama Yahudi sangat mengecam tindakan pemerintahnya. Untuk zionis ya, kalian pembaca blog ini tentu sudah tahu.

Oke, lanjut.

Imbas tindakan sewenang terhadap Palestina membuat masyarakat dunia pun mengecam Israel. Dari berbagai penjuru, melakukan demo dan boikot produk yang berafiliasi dengan negara yang seupil tapi tingkahnya tengil itu.

Termasuk, di Indonesja yang memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Baik dari sikap resmi pemerintah, pejabat, hingga rakyat jelata sangat mengecam invasi Israel.

Demo pun dilakukan segenap elemen masyarakat. Juga boikot terhadap produk, baik di dunia nyata maupun secara online.

Sebagai pribadi yang berusaha untuk memanusiakan manusia, sudah pasti saya sangat mendukung boikot tersebut. Tentu, asal tidak merugikan segenap rakyat Indonesia lainnya.


*       *       *


SIANG itu, cuaca sangat terik. Saya pun istirahat sejenak di emperan rumah toko (ruko) yang kosong di kawasan barat ibu kota sambil menunggu orderan selanjutnya. 

Lumayan, buat nyender sekaligus melempengkan kaki sebelum kembali melanjutkan tugas sebagai ojek online (ojol). Termos mini berisi kopi hitam yang tak lagi panas pun jadi teman setia.

Ga ketinggalan asap kehidupan yang menambah suasana kian syahdu. Meski sejak pandemi mereknya jadi aneh.

Termasuk, yang saya hisap sekarang. Bukan merek terkenal dan bahkan brand-nya ga jelas saking murahnya.

Maklum, sebagai ahli hisap, yang penting bisa ngelepus. Beda saat masih kerja atau sebelum pandemi, ga pernah jauh dari produk premium keluaran Surabaya dan Kudus.

Ga lama, ada pria dengan perkiraan usia sedikit lebih muda menghampiri. Pakaiannya formal dan rapi.

Sepatunya tandas nan mengkilap. Saya pun mengangguk sebagai tanda menyambut.

"Sendirian, mas? Kayaknya cape banget nih."

"Iya, bro."

"Istirahat?"

"Yongkru, sambil nunggu orderan."

Saya kembali menyeruput kopi. Scroll hp pun lanjut untuk melihat berbagai info di portal berita.

Pada saat yang sama, pria tadi sudah di depan saya. Bahkan, melongok hp yang saya buka.

"Asyik nih mas. Liat apa?"

"Biasa bro. Berita aja."

"Israel laknat masih rame diberitain?"

"Iya, bro."

"Anjing itu ya, ga mau diazab itu negara. Saya berharap secepatnya Israel dihilangkan dari muka bumi."

"..."

"Iya kan mas?"

"Yoi bro."

"Menurut kamu gimana mas?"

"Kenape bro?"

"Soal Israel laknat?"

"Ya, ga gimana-gimana."

"Lho, kamu kan lagi baca berita?"

"Maksudnya?"

Berbagai pertanyaan pria tadi bikin mood saya berubah. Saya yang sedang istirahat dan baca berita hasil pertandingan olahraga semalam, jadi merasa keganggu.

"Kamu dukung boikot Israel dan produk yang terafiliasi seperti ***, ****, *****?"

"Iya bro."

"Udah dilakuin?"

"Maksud lo apa nih?"

"Iya, boikot ga pake produknya, makan, dan minum produk yang nyumbang dana untuk Israel? Sudah dilakuin belom? Atau tidak pernah?"

"Hubungannya sama gw ini apa ya?"

Tensi saya langsung naik ketika ada yang menyinggung privasi. Saya memang mendukung adanya boikot terhadap produk atau brand yang terafiliasi dengan Israel.

Namun, itu untuk konsumsi pribadi. Yang berhak tahu hanya saya dan Tuhan.

Lah, ini ada orang ga kenal udah sok asyik menyelidiki ranah pribadi. Bahkan, lancang nanya-nanya yang menyerempet privasi.

Ga heran jika saya sedikit terpancing. Tadinya sopan memanggil 'bro' jadi lo dan gw.

Pertanda saya udah ga nyaman dengan seseorang. Ditambah, situasi lagi terik dan saya sedang ingin istirahat setelah keliling mengurai macetnya jalanan.

"Mas, kamu kan ojol ya. Sering anter makanan dari resto ***, ****, dan *****?"

"Woi, lo apaan sih. Nanya-nanya ga jelas."

"Ga mas, kita kan simpati sama Palestina."

"Iya, sebagai manusia, gw juga simpati. Tapi, hubungannya pertanyaan lo itu apa?"

"Gini... Mas, sesama manusia, saya hanya mengingatkan. Jika dapat orderan ojol antarmakanan dari resto itu mending dicancel aja. Ga ada faedahnya. Kebanyakan mudarat."

"..."

"Kalo mas tetep anter, sama aja secara ga langsung mas nyumbang ke Israel untuk membantai warga Palestina. Tolakin aja orderan dari resto ***, ****, *****, dan lainnya ya mas. Demi kebaikan mas juga. Biar berkah."

Mendengar uraian pria itu membuat saya tersenyum. Saya pikir, ini orang ga waras.

Seharusnya, menghadapi manusia ga punya otak kayak gini, lebih baik ditinggal. Ga usah diladenin biar dia capek sendiri.

Di sisi lain, saya pikir kalo ini orang dibiarkan, bakal berabe. Seolah udah berasa maha benar.

Jadi, saya pun harus kasih pelajaran biar dia kapok. Supaya ini pria ga terlalu ikut campur urusan orang lain.

"Berarti lo ngelarang kalo gw ambil orderan dari resto yang diduga terafiliasi atau menyumbang pendanaan Israel itu?"

"Benar mas. Biar berkah."

"Bro... Ini gw kasih nasihat terbaik buat lo sekarang dan ke depannya ya. Jangan pernah sekali-kali dalam hidup lo untuk ganggu orang yang lagi ibadah, kerja, dan makan. Urusannya fatal."

"Kok gitu, mas? Ini kan cuma..."

"Ngebacot lagi, ini termos melayang ke kepala lo. Gw hitung sampe tiga, kalo lo ga enyah, siap-siap..."

"..."

Dengan terburu-buru, pria itu pun sipat kuping. Gw langsung menginjak puntung rokok yang tersisa setengah batang akibat belum sempat dihisap manusia ga jelas itu.

"Huff..."


 *       *       *


SEPEMBAKARAN hio pun berlalu. Situasi dan tensi saya mereda usai kepergian pria tersebut.

Benar-benar manusia aneh. Niatnya sih mulia, tapi caranya sungguh salah.

Ngajak boikot sambil maksa orang kerja untuk menolak orderan itu sungguh terlalu. Apalagi, urusan dapur itu sensitif.

Hanya, ya sudah lah. Malas dibahas lagi.

Intinya, saya mendukung boikot atau kampanye anti Israel. Namun, jangan sampe merugikan bangsa sendiri.

Contoh, di media sosial ada video sekelompok orang yang teriak-teriak anti Israel di resto cepat saji. Bahkan, ada yang merusak properti dan membuat keresahan warga sekitarnya.

Padahal, yang berada di lokasi itu kan karyawan yang justru tidak tahu apa-apa. Mereka sedang bekerja demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Memangnya, kalo sampe para karyawan dipecat, para pemboikot dan pendemo mau tanggung jawab? Hello!

Inget ya, zaman sekarang cari kerja sulitnya minta ampun. Jadi, ga usah terlalu goblok dengan menyusahkan orang lain.

Ditambah dengan berbagai kebijakan aneh pemerintah yang kian menyulitkan rakyatnya. Duh...

Pada saat yang sama, ada menteri korupsi yang tertangkap basah. Duitnya, ternyata dipake untuk sunatan cucu, minum wine, beli aksesoris mobil anak, hingga bayar biduan.

Ya... Tuhan!

Udah pemerintahnya ga peka dengan bikin kebijakan yang aneh-aneh, menterinya korup, pejabatnya kalo lewat jalan macet pake pengawalan yang minta diutamain sambil bunyi ngiung-ngiung tet-tot-tet-tot. 

Eh, ditambah sekelompok orang yang kampanyekan anti Israel tapi merugikan sesama saudaranya se-Indonesia. Hipokrit.


*       *       *


- Jakarta, 6 Juni 2024


*       *       *


Artikel terkait:

- https://www.roelly87.com/2023/04/lawan-arogansi-di-jalanan-jangan-pernah.html

- https://www.roelly87.com/2024/04/wabah-pak-ogah-merajalela-polisi-bisa.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html

- https://www.roelly87.com/2023/07/manusia-lebih-anjing-daripada-anjing.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/5508de76a3331124452e3960/ketika-garuda-sudah-tidak-lagi-di-dadaku

 - https://www.kompasiana.com/roelly87/5500b657a33311531850fa19/standar-ganda-sang-aktivis?page=all#section1


- https://www.kompasiana.com/roelly87/5508dddda33311b9422e3945/surat-untuk-penghuni-istana?page=all#section2



....