TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ketika Italia Dijual

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Kamis, 11 Desember 2014

Ketika Italia Dijual

PARMA KLUB KETIGA SERI A YANG JATUH KE TANGAN ASING
Sayangnya, kekuatan finansial para pemilik baru klub di Negeri Piza ini diragukan

Kini bertambah lagi investor asing di klub Seri A (sumber foto: goolfm.net)


SAAT  ini, Liga Primer Inggris adalah kompetisi paling "asing". Dari 20 klub peserta, 12 klub bukan milik orang Britania. Namun 11 dari 12 pemilik asing ini memiliki aset minimal 1 miliar euro (Rp 15 triliun).

Satu-satunya pengecualian adalah keluarga Assem Allam asal Mesir yang memiliki saham mayoritas Hull City. Namun, para pemilik klub lain adalah konglomerat seperti Roman Abramovich (Chelsea), keluarga Mittal (QPR), Stan Kroenke dan Alisher Usmanov (Arsenal) yang memiliki aset minimal 10 miliar euro.

Di Italia jelas tidak seperti itu. Contoh terakhir adalah pengumuman Tommaso Ghirardi hari Minggu lalu sebelum pertandingan Seri A. Presiden Parma itu mengumumkan dirinya sudah melepas Parma kepada konsorsium Rusia-Siprus.

Kabarnya, mereka bekerja di bidang petrokimia, namun namanya masih rahasia. "Saya harap mereka investor yang riil, ini akan membawa kebaikan bagi klub," kata Carlo Tevechio, presiden FIGC.

Mungkin hanya di Italia, tuan rumah membiarkan tamu masuk tanpa tahu siapa mereka. Ada rumor mengenai keterlibatan Suleiman Kerimov, patron Anzhi, namun sudah disangkal oleh perusahaan asal Rusia itu.

Rezart Taci, pengusaha minyak asal Albania, kabarnya hendak membeli Parma sebulan lalu, namun negosiasi buntu. Siapa pun pemilik baru Parma akan mengeluarkan sekitar 50 juta euro plus tujuh juta euro untuk mengambil alih klub dan menutupi utang.

Investor Ketujuh
Jika semua berjalan lancar, Parma akan menjadi klub Seri A ketiga yang dikuaisai asing dan klub ketujuh di antara semua klub sepak bola profesional Italia. Sebelum pihak Rusia-Siprus, sudah datang investor asal Amerika Serikat (AS) ke AS Roma (James Pallotta) dan dari Indonesia ke FC Internazionale (Erick Thohir).

Di Seri B, Bologna diambil alih pengusaha Amerika-Kanada, Joe Tacopina, sejak Oktober 2014. Brescia berada di tangan Khadir Sheik Abdul, pengusaha asal Pakistan. Di Lega Pro, ada tiga klub yang dimiliki asing, yaitu Venezia (sejak 2011 dimiliki Yuri Korablin, Rusia), Pavia (Pingj Shanghai, investment asal Cina mulai Juli lalu), dan Monza (sejak 2003 dikelola Anthony Emery Amstrong asal Inggris-Brasil).

Masalahnya, Italia tak punya aturan jelas tentang masuknya pihak asing, ada risiko datangnya spekulan. Pallotta jadi pengecualian. Selama tiga tahun terakhir investasinya mulai terlihat nyata, namun masih jauh dari Abramovic atau Mansour yang bergelimang uang.

Sementara, Erick, hingga kini menerapkan aturan ketat realpolitik dalam manajemen Inter. Setelah tahun-tahun penuh kejayaan, kekayaan, dan belanja yang sedikit gila serta tak memperhatikan neraca di era Massimo Moratti, Inter harus mengetatkan ikat pinggang. Lagiupula, orang kaya di keluarga Thohir, menurut Forbes, adalah Garibaldi (kakak Erick), nomor 1.250 terkaya di dunia.

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 10 Desember 2014

*      *      *

Artikel FC Internazionale sebelumnya
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:

Artikel AC Milan sebelumnya

Artikel sepak bola lainnya:

*      *      *

- Cikini, 11 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)