TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: September 2017

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 25 September 2017

IWIC ke-11 Jadi Kawah Candradimuka Indosat Ooredoo


Peluncuran IWIC ke-11 di DigiPlanet Kantor Indosat Ooredoo, Senin (25/9)
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


INOVASI dan konsistensi merupakan kunci utama bagi setiap pelaku usaha atau industri untuk meraih kesuksesan. Itulah yang dilakukan Indosat Ooredoo dalam memanjakan pelanggannya. Perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Tanah Air ini tak hentinya melakukan berbagai inovasi dan konsisten untuk memberikan yang terbaik kepada jutaan pelanggan di Indonesia.

Teranyar, dengan peluncuran Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) untuk edisi ke-11. Kompetisi yang mengusung tema "Digital Nation" ini di-launching di DigiPlanet Kantor Indosat Ooredoo, Senin (25/9).

Saya mendapat kehormatan untuk menghadiri IWIC ke-11 ini bersama rekan-rekan blogger lainnya. Kebetulan, saya merupakan pelanggan Indosat Ooredoo sejak 2003 silam ketika masih berseragam putih abu-abu hingga kini rekan seangkatan sudah memiliki buah hati berseragam putih-merah.

Dalam periode itu, saya juga kerap mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan perusahaan yang bermarkas di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, ini. Teranyar, ketika Indosat Ooredoo mengadakan buka bersama pada 17 Juni lalu (Artikel sebelumnya: Seru-seruan dalam Bukber IM3 Ooredoo).

"Kompetisi ini terbuka bagi siapa pun yang ingin mengajukan ide segar atau sudah menyiapkan aplikasi secara matang. Rekan-rekan blogger yang hadir di sini juga bisa berpartisipasi," ujar Head of Corporate Communication Group of Indosat Ooredoo Deva Rachman.

IWIC merupakan kawah candradimuka dari Indosat Ooredoo untuk menumbuhkan dan menemukan minat-minat baru generasi muda di dunia digital. Sekaligus, untuk memenuhi kebutuhan talenta digital Indonesia seiring dengan tingginya tren penggunaan aplikasi mobile.

Sejak tahun lalu, IWIC membuka peserta dari berbagai negara. Tujuannya, tentu supaya talenta muda Indonesia mampu hadir dan bersaing dengan pemain global.

Itu sesuai dengan visi IWIC yang mengajak generasi mdua Indonesia dan dunia berkompetisi menciptakan ide dan aplikasi yang tidak hanya bermain di kancah nasional saja. Melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat secara global.

"Tahun ini Indosat Ooredoo genap 50 tahun. Pada usia setengah abad ini, kami ingin menegaskan kembali komitmen mewujudkan Indonesia Digital Nation melalui visi kami sebagai perusahaan digital terkemuka di Tanah Air," kata President Director & CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli.

Pria 45 tahun itu mengungkapkan, IWIC edisi ke-11 ini merupakan bentuk komitmen Indosat untuk mewujudkan visi tersebut. Yaitu, dengan membuat kompetisi inovasi teknologi di bidang mobile pertama dan secara konsisten sejak 10 tahun silam.

IWIC juga mengundang para talenta muda digital di Indonesia dan negara lainnya untuk berkompetisi ide, kreatifitas, serta inovasi digital demi mempermudah hidup bermasyarakat.

Sejak satu dekade silam, program unggulan Indosat Ooredoo ini telah mengumpulkan lebih dari 10.703 proposal ide dan aplikasi digital anak bangsa. Beberapa dari karya inovasi pemenang IWIC sudah dinikmati masyarakat.

"Kami berharap semakin banyak aplikasi yang bisa dinikmati masyarakat. Ke depannya, para developer akan dapat berkenalan dengan API Indosat Ooredoo," Rusli, menambahkan.

API atau application programming interface merupakan perangkat fungsi dan protokol untuk membangun aplikasi perangkat lunak. API yang disediakan Indosat Ooredoo akan memberikan akses lebih cepat terhadap sebuah aplikasi untuk dapat berinteraksi dengan pelanggan.

Pernyataan Rusli beralasan mengingat berpartisipasi di program IWIC ini tidak hanya memberi kesempatan untuk memenangnkan hadiah dari karya yang telah dibuat. Melainkan juga kesempatan membangun jejaring kerja untuk mewujudkan dan mengembangkan karya mereka.

Pada program IWIC ke-11 ini, terdapat empat kategori yang diikuti, yaitu:

- Kids & Teens
- Beginner
- Professional
- Women & Girls

Empat kategori ini akan berkompetisi untuk ide dan aplikasi di bidang Entertainment, Utility, Media (social media, chatting, e-book), dan Special Needs. Para peserta dapa tmembuat ide dan aplikasi untuk sistem operasi Android, iOS, dan Windows Mobile.

IWIC ke-11 dimeriahkan dengan rangkaian kegiatan road show dan gathering komunitas hackathon serta bootcamp menjelang grand final IWIC. Para pemenang IWIC ini akan mendapatkan berbagai hadiah menarik. Di antaranya, uang tunai senilai total ratusan juta rupiah serta kesempatan mengunjungi berbagai perusahaan global.

Nah, Indosat Ooredoo telah membuka jalan. Jika Anda pembaca setia blog ini ingin berpartisipasi atau memiliki keluarga serta rekan, bisa mencobanya. Memang tidak mudah mengingat harus bersaing dengan ribuan peserta lainnya.

Namun, kota Roma tidak dibangun dalam setahun. Alias, untuk bisa menang, peserta harus sungguh-sungguh dalam memberikan ide yang realistis untuk diterapkan.

Maklum, sejak tahun lalu, peserta IWIC ada yang berasal dari Filipina, Myanmar, India, hingga Jepang. Toh, mutiara yang berkilau tidak dicomot begitu saja di bibir pantai, melainkan harus menyelam hingga ke dasar laut.

"Tahun lalu terdapat 3.500 peserta. Untuk IWIC ke-11 ini, kami menargetkan 10.000 peserta. Kami ingin Go-International dan mencari kualitas, bukan sekadar jumlahnya saja," Deva, menjelaskan.


*         *         *
Saya dan rekan-rekan blogger narsis sejenak jelang dimulainya acara

*         *         *
President & CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli

*         *         *
Head of Corporate Communication Group of Indosat Ooredoo Deva Rachman
(ketiga dari kiri)

*         *         *
Suasana peluncuran Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC)

*         *         *
Rekan penyandang disabilitas memberi testimoni terkait partisipasi di IWIC 

*         *         *
Sandy Colondam pemenang IWIC enam kali (2008, 2009, 2010, 2011, 2013,
dan 2015)

*         *         *
IWIC ke-11 ini terdapat empat kategori untuk ide dan aplikasi di berbagai
bidang, termasuk berkebutuhan khusus

*         *         *
Artikel Sebelumnya:
Seru-seruan dalam Bukber IM3 Ooredoo
Bukber IM3 Ooredoo yang Berkesan dalam Silaturahmi Unlimited
Kolaborasi Sushiroll-Indosat Luncurkan Aplikasi untuk Pencinta Anime
Jawab Keluhan Pelanggan, IM3 Ooredoo Hadirkan Data Rollover
Yuk, Jadi Investor Bersama ISTC Indosat
Rayakan HUT ke-49, Indosat Gelar Program Berhadiah untuk Pelanggan
Peringati Hari Batik Nasional, Indosat Ooredoo Gelar "The Beauty of Indonesian Batik"
Menkominfo Rudiantara Resmikan Aplikasi "Obrol" & "Fantasy League"

*       *       *
- Jakarta, 25 September 2017

Minggu, 24 September 2017

Kementerian ESDM Ajak Netizen Wisata Edukasi di Museum Geologi


Night at the Museum di Museum Geologi yang jadi bagian dari rangkaian
Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-72
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


"MAS Huda, tanggal 23-24 ada acara nggak?" Demikian, chat dari rekan blogger Ani Berta, beberapa hari lalu.

"Belum ada, bu. Nanti saya tanya sekretaris saya dulu. Siapa tahu ada meeting dengan anggota dewan atau gubernur," balas saya terhadap founder Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB) tersebut. Untuk dua kalimat terakhir, abaikan saja. He he he


"Kementerian ESDM menyelenggarakan Temu Netizen ketujuh di  Bandung. Kalau mau ikut, bisa daftar."

Tentu, tanpa perlu lama, langsung saya jawab iya sambil mengirim data terkait. Bisa dipahami mengingat sebelumnya, saya pernah mengikuti diskusi yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) tersebut.

Tepatnya, saat menghadiri Temu Netizen keenam di Gedung Heritage, Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, pada 26 Juli lalu (Artikel sebelumnya: Kementerian ESDM Edukasi Masyarakat untuk Tanggap Bencana Lewat Aplikasi MAGMA Indonesia).

Terlebih, belum genap dua pekan, saya juga baru dari Bandung. Yaitu, dalam rangka tugas kantor untuk meliput test event Asian Games 2018 (Artikel sebelumnya Galeri Foto Test Event Asian Games 2018 dan Tapak Tilas di Parijs van Java).


*         *         *
PAGI itu, Sabtu (23/9) jalanan ibu kota masih lenggang. Dengan menumpang transportasi online, saya menuju kawasan di sisi Patung Dirgantara. Ketika itu, mayoritas peserta Temu Netizen ketujuh sudah kumpul. Hanya seperminuman teh, kami tiba di Kota Kembang. 

Usai sejenak merenggangkan otot dan pinggang di kamar hotel, kami menuju Museum Geologi. Museum ini terletak di Jalan Diponegoro, Bandung yang berseberangan dengan Gedung Sate alias Kantor Gubernur Jawa Barat. Dari tempat kami menginap, hanya berjarak seperlemparan batu. Alias, merem pun sampai sambil berolahraga he he he.

Temu Netizen ketujuh ini bertema Tambang untuk Kehidupan Manusia. Bagi saya ini menarik, mengingat pada Temu Netizen keenam, seusai acara saya sempat menulis tema selanjutnya, yaitu Dunia Pertambangan (Cuitan sebelumnya di twitter https://twitter.com/roelly87/status/890137101748101120).

Dalam kesempatan itu, terdapat dua narasumber yang membuka wawasan kami mengenai dunia pertambangan. Yaitu, Kepala Museum Geologi Oman Abdurahman dan Nicko Albart (Head of Investor PT. Bukit Asam).

Oman mengungkapkan alasan Temu Netizen ketujuh diselenggarakan di "markasnya". Tidak lain untuk menyambut HUT ke-72 Pertambangan dan Energi. Rangkaian ini sudah dimulai 11 September lalu dengan lomba kebersihan di lingkungan Kementerian ESDM. Puncaknya, pada 28 September mendatang dengan upacara hari jadi pertambangan dan energi 2017.

Yupz, Museum Geologi merupakan peletak dasar bagi berdirinya Kementerian ESDM. Dalam kesempatan itu, Oman berbagi kisah inspiratif mengenai kontribusi pertambangan terhadap umat manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Bisa dipahami mengingat pertambangan jadi salah satu pemasukan terbesar di negeri ini selain pajak.

Pernyataan sama diungkapkan Nicko yang membeberkan peran Bukit Asam di Tanah Air. Mereka merupakan perusahaan yang konsisten terhadap lingkungan. Tak heran jika Bukit Asam jadi salah satu produsen batu bara terbesar tidak hanya di Indonesia saja, melainkan juga Asia Tenggara.

Yang menarik, pada sesi diskusi ketika Oman melemparkan umpan lambung terhadap Nicko. Yaitu, kemungkinan Temu Netizen kedelapan diselenggarakan di salah satu kantor Bukit Asam di Lampung. 

Sekaligus, mengajak netizen dan blogger untuk wisata edukasi mengenai dunia pertambangan. Hanya, meski umpan lambung sudah dilepas kepala Museum Geologi, tetap saja sebagai eksekutornya dari Nicko dan pihak Bukit Asam.

Saya pribadi dan mayoritas yang hadir pada acara tersebut sangat sangat setuju. Semoga bisa mengunjungi langsung proses produksi batubara dari perusahaan yang pada 2019 genap satu abad ini. *Kode

*         *         *
SELAIN diskusi interaktif, kami diajak untuk berkeliling Museum Geologi. Termasuk, melongok "dapur" dari museum yang diresmikan pada 16 Mei 1929 ini. Kami didampingi Kepala Seksi Edukasi Informasi Museum Geologi Ma'Mur.

Ini menarik, mengingat untuk mengunjungi dapur Museum Geologi bukan hal mudah. Tidak sembarang orang atau instansi bisa mengaksesnya dengan bebas. Sebab, di dapur ini terdapat ratusan ribu koleksi yang akan dirancang atau masih mentah. 

Itu meliputi fosil, artefak, batuan, mineral, dan sebagainya. Ma'Mur menjelaskan, koleksi yang dipamerkan di Museum Geologi hanya 10 persen. Itu berarti, yang terdapat di dapur Museum Geologi ini mencapai 90 persen. 

Tak heran jika untuk bisa mengunjunginya harus melakukan izin atau jika ada acara terkait dari Kementerian ESDM dan Museum Geologi. Saya beruntung bisa menyaksikan langsung berbagai benda purbakala yang masih dalam keadaan terpisah alias tidak utuh.

Butuh kejelian dan kesabaran dari pihak Museum Geologi untuk menyatukan tulang belulang tersebut. Salah satu di antaranya fosil Mastodon yang merupakan nenek moyang gajah. 

Seketika, saya jadi ingat dengan berbagai kerangka hewan laut saat mengunjungi SEA World pada 28 Juni lalu. Mayoritas, koleksi itu berasal atau replika dari Museum Geologi (Artikel sebelumnya Wisata Edukasi di Sea World Ancol).

*         *         *
LAMPU-lampu di aula Museum Geologi padam. Cahaya berkilatan muncul dari beberapa kerangka hewan purba. Di sisi lain, anak-anak kecil bukan pada takut. Justru, mereka malah mendatanginya dengan menyorotkan senter.

Yupz, itu merupakan pemandangan memesona bagi saya. Tepatnya, saat mengikuti Night at the Museum yang jadi rangkaian HUT ke-72 Pertambangan dan Energi. 

Kementerian ESDM dan Museum Geologi membuka layanan museum untuk masyarakat pada malam hari. 

Bisa dipahami mengingat pada hari biasa, Museum Geologi beroperasi  Senin-Kamis pukul 08-16 WIB dan Sabtu-Minggu (08-14 WIB). Jadi, Night at the Museum ini persembahan mereka bagi masyarakat Indonesia. 

Termasuk, mengenalkan dunia museum dan pertambangan kepada anak-anak melalui wisata edutainment. Terbukti, antusiasme anak-anak sangat luar biasa untuk menyusuri setiap jengkal area museum.

Di dunia maya, antusiasme tidak kalah tingginya dari netizen. Itu bisa terlihat dari tagar #TambangUntukKita dan #GunungAgungAwas memuncaki trending topics di twitter.

Seketika, saya jadi ingat dengan trilogi film Night at the Museum yang dibintangi Ben Stiller dan Robin Williams. Film Hollywood itu bercerita tentang museum dari sisi lain yang mengajak penonton untuk lebih mengenal sejarah. Agar, dari masa lalu itu bisa dijadikan pelajaran pada masa mendatang. 

Sebagai penggemar wisata ke museum, saya pribadi berharap ke depannya, muncul film Indonesia terkait dengan tema sama. Itu juga yang dicanangkan Oman dalam diskusi dengan kami saat menjelaskan acara Night at the Museum yang jadi bagian dari rangkaian HUT ke-72 Pertambangan dan Energi ini.

Nah, Kementerian ESDM dan Museum Geologi sudah berkolaborasi mengumpan bola dengan Temu Netizen ketujuh. Sebagai eksekutor, tentu dari sineas yang meliputi, sutradara, produser, dan instansi terkait. Apakah ini gol atau tidak, itu urusan lain.***


*         *         *
Blogger dan netizen berangkat dari Jakarta

*         *         *
Sering ke Bandung, tapi seumur-umur baru kali pertama mengunjungi Museum
Geologi berkat undangan Kementerian ESDM

*         *         *
Puncak HUT ke-72 Pertambangan dan Energi pada 28 September

*         *         *
Dian Lorensa dari Kementerian ESDM memaparkan rangkaian acara untuk
menyambut HUT ke-72 Pertambangan dan Energi

*         *         *
Kepala Seksi Edukasi Informasi Museum Geologi Ma'Mur menjelaskan
berbagai koleksi di Museum Geologi kepada netizen
*         *         *
Ani Berta menerangkan riwayat fosil  kepada buah hatinya yang juga blogger

*         *         *
Koleksi kuno peta Bayah, Banten, buatan 1923 

*         *         *
Kepala Museum Geologi Oman Abdurahman didampingi NickoAlbart (Head of
Investor PT. Bukit Asam) menyerahkan hadiah kepada blogger
*         *         *
Foto bersama usai Temu Netizen ketujuh rampung

*         *         *
Suasana di halaman depan Museum Geologi

*         *         *
Ternyata, nonton bareng (nobar) tidak hanya dalam sepak bola, melainkan juga
dilakukan keluarga untuk melihat sejarah pertambangan dan energi

*         *         *
Berbagai koleksi bersejarah yang dipamerkan di Museum Geologi

*         *         *
Berhubung suasana di dalam museum agak temaram, dua pengunjung ini
butuh senter untuk menyorot ke kamerah

*         *         *
Saya dengan latar kerangka T-Rex!

*         *         *
Papan informasi yang berwarna seperti ini yang membuat pengunjung,
terutama anak-anak  sangat antusias belajar sejarah

*         *         *
Jas Merah. Jangan pernah melupakan sejarah terhadap tokoh geologi dan perintis

*         *         *
Foto bersama usai mengikuti Night at the Museum yang penuh warna

*         *         **         *         *
*         *         *

*         *         **         *         *

*         *         *
- Bandung, 24 September 2017

Rabu, 20 September 2017

Tapak Tilas di Parijs van Java


Antusiasm masyarakat berfoto di landmark ikonik kawasan Braga
Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya


TEST event Asian Games 2018 untuk cabang squash resmi berakhir Sabtu (16/9). Sepekan sebelumnya, cabang panjat tebing sudah menyudahi uji coba jelang pesta olahraga antarnegara di Asia ini.

Itu setelah saya mendapat undangan dari Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) untuk meliput dua test event itu bersama rekan media liannya.  Test event panjat tebing berlangsung 6-10 September di Cikole, Lembang, (kabupaten) Bandung Barat. Sementara, test event squash dilaksanakan 9-16 September di Graha Tirta Siliwangi, (kota) Bandung.

Bagi saya, ini pengalaman perdana menyimak test event di luar Jabodetabek. Sebelumnya, test event mayoritas diselenggarakan di Jakarta dan Palembang yang jadi tuan rumah untuk Asian Games 2018.

Kebetulan saya tidak asing dengan Bandung baik itu kota atau dua kabupatennya. Secara, sempat tinggal lama di kawasan alun-alun pada pertengahan dekade 2000-an silam. Teranyar, pada September tahun lalu ketika menghadiri rekan kantor yang menikah (Artikel sebelumnya: Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta).

Bahkan, untuk test event di Cikole, lokasinya persis ketika saya mengunjungi kediaman Rahmad Darmawan pada 7 Juli 2013 (Artikel sebelumnyaRahmad Darmawan Sosok Penyayang Keluarga).

Dalam rombongan jurnalis yang meliput test event ini, dua di antaranya bersama saya sempat bermain paint-ball dengan pelatih yang akrab disapa RD tersebut (Artikel sebelumnya http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-rahmad-darmawan-rd_552999bf6ea8346521552d04).

*          *          *

MENJELANG salat Jumat, kami tiba di Bandung usai berangkat dari kantor INASGOC di Wisma Serba Guna, Senayan (Artikel sebelumnya(Galeri Foto) Test Event Asian Games 2018). Langsung, kami menuju Masjid Al-Murabbi di kawasan Setrasari sambil beristirahat sejenak.

Usai melaksanakan kewajiban tersebut, saya menikmati es cincau di halaman masjid dengan arsitektur ikonik ini. Segelas es cincau ini sungguh segar. Sebab, dipadukan dengan susu dan es krim! Seumur-umur, baru kali ini merasakan sensasi cincau hijau dengan lelehan krim.

Menurut perwakilan INASGOC yang mendampingi kami, di Bandung memang surga-nya makanan dan minuman unik nan lezat. Ternyata benar. Es cincau itu jadi awal dari wisata kuliner kami selama di Bandung.

Pasalnya, dalam tiga hari itu, tidak hentinya kami menjelajahi setiap sudut depot kuliner. Mulai dari Ma' Uneh, Ayam Goreng Brebes, Tulang Jambal, hingga Bandrek Supratman yang legendaris.

Mungkin, tanpa bermaksud hiperbola, kalau seluruhnya ditulis, tidak akan cukup berlembar-lembar halaman. Yang pasti, petualangan disela-sela test event Asian Games itu jadi bagian dari sejarah yang bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu, kelak.

Bisa dipahami mengingat saya merupakan penggemar kuliner dalam setiap perjalanan. Itu yang saya tulis di blog ini setiap kali mengunjungi daerah baru.

Mulai dari sudut sempit ibu kota, Bogor, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Malang, Banjarmasin, Makassar, Manado, Palembang, Padang, Medan, hingga Cardiff!


*          *          *  
SORE itu, langit di ibu kota Jawa Barat ini sangat cerah. Keramaian tampak di sudut jalanan dari kota yang dijuluki sebagai Paris van Java tersebut.

Secara perlahan kendaraan yang kami tumpangi membelah jalanan yang pada 62 tahun silam jadi saksi peristiwa bersejarah di kolong langit (Artikel sebelumnyaDi Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil).

Menyusuri setiap sudut kota Bandung memang mengasyikkan. Dulu, saya sering melakukannya berjalan kaki dengan sepeda motor dititipkan di Masjid Raya Bandung. Dari kawasan alun-alun itu, kami melangkah menuju tempat-tempat menarik dan sesekali eksotis.

Mulai dari Braga, Cihampelas, hingga Sukajadi. Setapak demi setapak. Sesekali setelah lelah, kami beranjak ke mal yang menyediakan layar untuk Jomblo yang ngehit berkat aksi tengil Ringgo Agus Rahman.

Jika jenuh dengan film nasional yang diserbu genre horror tapi mengumbar paha, kami mengalihkannya ke Hollywood. The Departed yang jadi remake Infernal Affairs jadi dambaan kami. Tak lupa, Casino Royals, Spider-Man 3, hingga Iron Man yang mengawali kesuksesan Marvel Cinematic Universe (MCU).

Tentu, satu dekade silam tidak seperti sekarang. Smartphone fiturnya masih terbatas. Jadi, ketika itu, kami benar-benar menikmati pemandangan Bandung yang memesona tanpa harus diganggu notifikasi di media sosial.

Hanya sekadar memotret lewat Nokia XPressMusic dan hasilnya di-save. Tanpa perlu harus diunggah ke facebook, twitter, atau instagram. Semudah itu menikmati hidup. Tidak terobsesi memikirkan like, komentar, RT, dan sebagainya.

Menjelang pergantian hari, belakang Gedung Sate jadi tempat favorit untuk nongkrong. Opsi lainnya, naik ke utara di kawasan Adipati Ukur untuk menyeruput expresso ditemani bacaan klasik (Artikel sebelumnya: http://www.kompasiana.com/roelly87/berlibur-ke-bandung-sambil-menikmati-koleksi-buku-klasik_550b40a0a33311226a2e416f).

Jika ingin mencari suasana lain, Braga jadi tempat melepas lelah sambil mendengar musik yang menghentak. Atau, jika benar-benar iseng, dengan Rocky yang seharusnya dipakai di medan terjal tapi cocok juga di jalanan yang mulus.

Tujuannya, apalagi kalau bukan mengamati perkembangan kembang yang bermekaran di Jalan ABC, Dalem Kaum, hingga Sudirman. Satu, dua, tiga, saya menghitung jari saya. Ternyata, momentum itu sudah lewat banyak tahun.

*          *          *

TIADA pesta yang tak pernah berakhir. Dari Gerbang Tol Pasteur, saya mengamati banyaknya kendaraan yang meninggalkan Bandung. Mayoritas berpelat B yang mungkin butuh hiburan.

Selepas magrib, kami pun berbaur dengan ribuan kendaraan lainnya menuju Jakarta. Yupz, selama gunung masih menjulang dan air sungai mengalir jernih, selalu tersedia kayu bakar...

*          *          *
Saya bersama rekan media dan perwakilan INASGOC untuk meliput
dua cabang yang melakukan test event Asian Games 2018

*          *          *
Suasana di depan Pasar Cermat Lembang pada dini hari WIB

*          *          *
Lorong di hotel tempat kami menginap yang sangat
memesona saking uniknya

*          *          *
Pagi yang indah ketika melongok dari kamar hotel di kawasan Lembang
dihadapkan pada suasana nan asri khas pedesaan

*          *          *
Salah satu menu favorit saya di Tulang Jambal, ayam gepuk yang superlezat

*          *          *
Wisata kuliner jelang pergantian hari di kawasan Cisangkuy

*          *          *
Bandrek dan Bajigur Supratman ini berdiri sejak 1958 di Jalan Supratman
yang kini dikelola generasi ketiga 

*          *          *
Kawasan Cicadas dengan latar panorama menyejukkan 

*          *          *
Trans Studio Bandung tampak jelas dari lantai 12 hotel di kawasan Riau 

*          *          *
Eksotisnya Taman Vanda dengan latar Museum Bank Indonesia

*          *          *
Salah satu toko perlengkapan rekreasi alam yang  ikonik di Jalan Sumatera

*          *          *
Sewindu silam, di salah satu gang di kawasan ini pernah memberi warna
hitam dan putih

*          *          *
Meski saya tidak suka ikan, tapi belum lengkap ke Bandung
kalau belum singgah ke Batagor Riri

*          *          *
Tanpa plat D, boks telepon umum ini membuat saya
berasa sedang berkeliling Cardiff dan London

*          *          *
Monumen Tank di Jalan Burangrang

*          *          *
Narsis sejenak di lantai lima Pasar Baru dengan latar Gunung Tangkuban perahu

*          *          *
Salah satu ikon menarik di Kota Kembang

*          *          *
Bandung identik dengan Maung alias 

*          *          *
Simbol Maung di pusat kota

*          *          *
Patung replika T-Rex di Taman Dinosaurus 

*          *          *
Tertibnya warga Bandung dalam berlalu-lintas di kawasan Pasteur

*          *          *
Pemandangann yang memesona dengan pengendara tertib ketika lampu lalu lintas
berwarna merah tanpa ada satu pun yang iseng berhenti di zebra cross

*          *          *

Artikel Selanjutnya
- Di Cihampelas Semua Berawal
- Suatu Ketika di Asia-Afrika
- Sulitnya Mencari Kembang Tahu di Kota Kembang

Artikel Asian Games
(Galeri Foto) Test Event Asian Games 2018
INASGOC Buka Pendaftaran Relawan untuk Asian Games 2018, Ini Persyaratannya
(Galeri Foto) Count Down Asian Games 2018 di Monas
Sisi Lain Kunjungan Jusuf Kalla ke Venue dan Wisma Atlet
GBK Bersolek Sambut Asian Games 2018
Di Balik Final Piala Presiden 2017
Sisi Lain Kemenangan Indonesia atas Thailand di Stadion Pakansari

Artikel Terkait Bandung
Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta
Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil
- Sisi Lain Rahmad Darmawan (http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-rahmad-darmawan-rd_552999bf6ea8346521552d04)
Rahmad Darmawan Sosok Penyayang Keluarga
- Berlibur ke Bandung Sambil Menikmati Koleksi Buku Klasik (http://www.kompasiana.com/roelly87/berlibur-ke-bandung-sambil-menikmati-koleksi-buku-klasik_550b40a0a33311226a2e416f)

Edisi Jalan-jalan Lainnya
Sisi Lain Perjalanan ke Millennium Stadium
(Galeri Foto) Jembatan Ampera yang Memesona
(Galeri Foto) Sahur Perdana di Malioboro
40 Tahun Museum Taman Prasasti
Menikmati 4 B Khas Manado: Bubur, Boulevard, Bibir, dan Bunaken
Ke Bromo, (Aku) kan Kembali
Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari

*          *          *
- Jakarta, 20 September 2017

Minggu, 17 September 2017

Lebih Dekat dengan Trubus.id, Wisma Hijau, dan Toko Trubus


Rekan-rekan blogger foto bersama perwakilan Trubus.id


PESATNYA perkembangan digital merambah dunia media. Saat ini, mayoritas masyarakat di Indonesia lebih menggemari membaca berita melalui online ketimbang cetak. Wajar saja mengingat versi online lebih cepat dan update ketimbang koran atau majalah.

Itu mengapa, banyak bermunculan media online dengan ciri khas tersendiri. Salah satunya, Trubus.id yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan berbagai persitiwa terkait alam.

Mulai dari lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi yang lebih hijau dan lestari. Trubus.id juga menyediakan berbagai kebutuhan keluarga untuk membuat lingkungan rumah dan keluarga jadi hijau dan asri.

Fakta itu yang saya rangkum ketika menghadiri diskusi bersama rekan-rekan blogger dengan awak Trubus.id di Wisma Hijau, Depok, Jumat (15/9). Kesempatan itu datang berkat informasi dari Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB).

Bisa dipahami mengingat sebelumnya, saya hanya tahu tentang Trubus dari versi cetak. Alias, Majalah Trubus yang sudah beredar di Tanah Air sejak 1969. Nah, Trubus.co.id dan Majalah Trubus sama-sama didirikan Bambang Ismawan.

Keduanya jadi bagian dari Yayasan Bina Swadaya yang mengelola Toko Trubus, Wisma Hijau, penerbitan UpdateBuku.com. Lalu, apa yang membedakan Trubus.id dengan Majalah Trubus? Maklum, Majalah Trubus dikenal sebagai media legendaris dengan pangsa 35 tahun ke atas dan gaya penulisan formal.

"Mengenai Trubus.id ini, ditujukan untuk anak muda agar melek terhadap lingkungan," tutur Direktur Utama Trubus.id Rudi H Paeru yang saat berdiskusi dengan blogger didampingi Isna Setyanova (General Manager) dan Karmin Winata (Managing Editor).

"Tujuannya, untuk lebih mengenalkan aspek lingkungan kepada generasi milenial. Tentu, kami juga selalu mengangkat tema atau isu mengenai lingkungan, alam, dan pemberdayaan masyarakat," Isna, menambahkan.

*       *       *

SEGMENTASI dalam media, terutama online sangat penting. Sebab, pada era sekarang, banyak bermunculan media-media yang mengulas beragam tema. Jika tidak memiliki ciri khas tersendiri, sudah pasti media tersebut bakal ditinggal pembaca yang sudah jadi hukum alam.

Itu mengapa, Trubus.id yang diluncurkan 14 Juli lalu bertepatan dengan HUT ke-50 Yayasan Bina Swadaya ini ingin mendekatkan kepada generasi muda. Salah satunya dengan membentuk Garuda Hijau. Yaitu, platform untuk komunitas pencinta lingkungan.

"Kami terbuka dengan masukan dari rekan-rekan blogger terkait Garuda Hijau. Nanti, platform ini bisa diisi masyarakat umum dengan tema lingkungan. Konsepnya, siap pun boleh mengirimkan artikel dengan adanya moderasi dari kami," ujar Karmin.

Bagi saya, ini menarik karena sebelumnya beberapa kali membuat artikel terkait lingkungan. Sekaligus, bisa memberi warna dalam setiap tulisan di blog.

Maklum, sebagai blogger, tulisan bertema lingkungan itu biasanya kurang seksi dibanding tema lainnya. Namun, ini jadi tantangan untuk memaksimalkan setiap ide dengan diterapkan lewat tulisan.


*       *       *

DALAM kesempatan itu, kami juga turut merasakan sensasi berkeliling Wisma Hijau dan Toko Trubus. Selain jadi kantor bagi kelompok Yayasan Bina Swadaya, beberapa areal di Wisma Hijau bisa disewa umum.

"Bisa untuk diklat, seminar, pernikahan, ulang tahun, buka puasa bersama, dan berbagai acara lainnya. Sejak 1997, beberapa areal di sini dapat digunakan untuk komersil," kata Director Wisma Hijau Emilia Tri Setyowati yang memandu kami.

Kawasan tersebut sangat nyaman untuk ditempati. Rerimbunan pepohonan bikin pengunjung serasa bukan sedang berada di Depok. Tersdia 66 kamar untuk ditempati masyarakat pada kawasan seluas 10 hektar ini.

Selain taman yang luas, terdapat gazebo yang bikin pengunjung seperti berada di kampung halaman. Apalagi, di Wisma Hijau juga terdapat trek joging dan lapangan untuk berolahraga seperti voli, bulutangkis, tenis meja, hingga basket.

Wisma Hijau terletak di Jalan Mekarsari Raya No. 15 (Jalan Raya Bogor Km. 30), Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Lokasinya sangat strategis karena diapit Jalan Raya Bogor dan Tol Jagorawi yang membuat aksesnya jadi mudah.

Untuk transportasi umum, bisa menumpang angkutan kota (angkot), bus damri, dan commuter line yang turun di Stasiun Pondok Cina.

Sekitar 300 meter ke arah utara, terdapat Toko Trubus Cimanggis. Ini merupakan Toko Trubus kedua setelah cabang Gunung Sahari, Jakarta Pusat, yang dibangun pada 1983. Selain kedua tempat itu, Toko Trubus memiliki 15 cabang lagi yang tersebar hingga Sidoarjo, Jawa Timur.

Di Toko Trubus Cimanggis menjual berbagai tanaman, benih, pupuk, pestisida, buku pertanian, dan produk herbal. Selain itu, di Toko Trubus Cimanggis ini terdapat kegiatan pengadaan dan perawatan tanaman yang mendukung suplai tanaman buah untuk Toko Trubus lainnya.

Itu sesuai tema dari Toko Trubus yang mengusung Agro Edutainment Center.

*       *       *
Dari kiri ke kanan: Isna Setyanova, Rudi H Paeru, dan Karmin Winata

*       *       *
Suasana bincang-bincang santai blogger di markas Trubus.id

*       *       *
Emilia Tri Setyowati memandu rekan blogger untuk berkeliling Wisma Hijau 

*       *       *
Setelah tahun lalu memiliki jam Matoa, saya bisa melihat langsung pohonnya

*       *       *
Aneka buah, termasuk lengkeng yang tumbuh subur di Wisma Hijau

*       *       *
Berbagai bibit tanaman yang tersedia di Wisma Hijau

*       *       *
Toko Trubus Cimanggis mengusung tema Agro Edutainment Center

*       *       *
Pernah minum Kopi Luwak? Nah, ini Luwak ada di Toko Trubus Cimanggis

*       *       *
Belanja berbagai tanaman di Toko Trubus Cimanggis

*       *       *
Di Toko Trubus Cimanggis terdapat gudang buku dan majalah Trubus

*       *       *
Kebun Trubus yang menyejukkan mata

*       *       *
Deretan Aglaonema atau Sri Rezeki yang beberapa tahun lalu harganya gila-gilaan

*       *       *
Saya mendapat pencerahan dari sistem penanaman hidroponik di Toko Trubus
Cimanggis. (Foto: www.roelly87.com/ dipotret Dewi Sulistiawaty

*       *       *
- Jakarta, 17 September 2017