Boleh Nobar Piala Dunia, asal Jangan Joget seperti Tulang Lunak
![]() |
| Ilustrasi nobar (Foto: @roelly87) |
(POV: Mbak K)
PIALA Dunia (Pildun) 2026 bikin gw pusing. Bukan soal tim mana yang menang atau tersingkir.
Melainkan, karena efek nonton bareng (nobar) yang dilakukan mayoritas karyawan di kantor. Sebab, esoknya atau pagi, wajah mereka jadi kusut akibat kurang tidur.
Belum lagi di lobi bau rokok. Meski asbak udah dibersihin OB dan disemprot pengharum, tapi sisa-sisanya masih tercium.
Maklum, Pildun berlangsung di benua Amerika Utara yang punya selisih hingga 12 jam dengan Waktu Indonesia Barat (WIB).
Biasanya laga dimulai pukul 23.00 WIB atau lewat dini hari.
Bahkan, beberapa pertandingan berlangsung pukul 10.00 WIB. Alias, mendekati tengah hari yang jadi fase krusial di perusahaan kami!
Hufft...
Perkenalin, gw KY. Biasa dipanggil Mbak K, sama anak-anak alias karyawan di sini.
Btw, gw kerja di perusahaan rintisan cukup ternama di negeri ini. Posisi gw berhubungan dengan sumber daya.
Udah lumayan lama. Dari masih "benih" sampe ini perusahaan besar dan banyak taipan yang mau caplok.
Namun, bos gw, biasa dipanggil CEO PT Zhang -julukan beliau karena viralnya Drama China hehehe- ogah campur tangan pihak luar. Apalagi, sampe melantai di bursa.
Menurutnya, udah cukup saat ini. Dikelola bersama teman-teman dekatnya yang bisa dipercaya.
Oke, lanjut.
Nah, Pildun kali ini, si bos ngebiarin karyawan nobar di kantor. Emang sih pas sebagian pulang kerja.
Kecuali yang jaga lilin, eh jaga server. Kalo lilin, emang mau ngepet?
Jadi, banyak yang ga pulang ke rumah demi nobar di kantor. Si bos pun membawa tv segede gaban ukuran 60 inci dari rumahnya.
"Ga apa-apa, khusus Pildun," katanya santai saat itu.
Masalahnya, kadang kalo pagi, mata anak-anak tuh sepet banget. Pada sayu akibat ngantuk begadang. Pokoknya, ga sedap dilihat.
Gw sebagai "salah satu jenderal" di perusahaan ini udah kasih ultimatum untuk kerjaan tetep lancar meski Pildun. Kalo ga, jelas ga boleh lagi nobar di kantor.
Namun, inisiatif gw diveto si bos. Asem dah!
"Woles aja mbak. Yang penting kan, kerjaan mereka lancar. Sejauh ini masih aman-aman aja," ujar bos yang sepupunya teman kuliah gw dulu.
"Soalnya beda kalo mereka nonton di rumah, ada keluarga yang tidur. Jadi, ga bisa teriak-teriak. Kalo di sini kan, ruangan kita sendiri. Bebas mereka mau teriak juga."
Pernyataan si bos beralasan. Misua gw juga gila bola. Ngaku ga nyaman nonton di rumah karena ga bisa mengekspresikan suasana, apalagi kalo gol.
Itu mengapa, beberapa kali my misua ikut nobar di kantor gw. Kebetulan, doi kenal dengan si bos yang sama-sama masuk komunitas penggemar film Marvel dan DC.
* * *
SENIN sore, suasana di kantor sangat ramai. Mayoritas staf bersiap untuk pulang. Sementara, sisanya aplusan hingga fajar. Kami ada tiga shift. Khususnya jaga server yang harus 24 jam standby.
Sebagian, nongki-nongki. Ini mah pasti mau nobar.
Gw samperin mereka. Gabungan divisi penjualan, legal, produksi, dan customer.
"Woi, jam segini bukan pada balik," kata gw ke anak-anak yang asyik ngerumpi.
"Biasa nih mbak, mau siap-siap nobar malam. Si bos juga katanya ikutan," tutur salah satu anak penjualan.
"Bos mau traktir makanan berat sama cemilan, mbak," anak legal menimpali. "Maklum, Brasil kan jagoan si bos. Jadi kita palakin rame-rame."
"Gosok aja terus. Mumpung market lagi naik," gw 'mengompori'. "Panjang umur. Tuh CEO kita datang."
Bos cuma senyum lihat gw sama anak-anak. Sambil meletakkan beberapa minuman ringan bersoda dan bungkusan besar ayam geprek.
"Hello guys. Ini khusus buat dukung Vini Jr dan kawan-kawan," ujar si bos sambil motekin ayam geprek.
Sontak beberapa bungkusan langsung diserbu. Jam pulang kerja emang bikin laper. Gw ga ketinggalan ambil bungkusan isi paha atas crispy dan sambal matah.
"Pertandingan masih lama, bos. Keburu laper lagi," ucap anak marketing sambil nyocol sayap ke saus tomat.
"Jam 00.00 WIB. Tapi gw ga ikutan nobar. Pagi mau anter bokap Zidane yang berangkat umrah," si bos menjelaskan.
Zidane merupakan suplier kami. Sekaligus teman dekat si bos sejak kuliah di AS.
"Lah, ga seru dong."
"Brasil nih bos. Tim yang lo sembah, bos, dari zaman Winning Eleven 3 dengan Roberto Carlos dijadiin striker."
"Ntar kalo laper pas nyerang Jepang, kita ga ada konsumsi dong."
Sahut-sahutan karyawan yang kecewa bosnya ga ikut nobar. Gw cuma bisa ketawa aja.
"Aman. Konsumsi tinggal pesan ojol. Udah gw siapin bujet buat beli piza, martabak, dan seblak. Kalian duduk manis aja liatin 'Tim Samba' acak-acak Jepang," kata si bos.
"Lha, mbak K, belom balik," si bos noleh ke gw.
"Ada penawaran dari PT X. Gw minta rekomen lo bos. Kan udah gw email. Tembusan juga udah gw kasih ke Bu Sri dan Pak Bambang. Katanya tinggal acc lo aja bos."
"Yaudah ini gw baca-baca bentar. Kalo cocok, gaskeun. Abis ini gw mau langsung balik. Besok bangun pagi."
Gw pun kasih draft yang langsung dibaca dengan seksama. OB datang kasih kopi pahit tanpa gula untuk si bos yang langsung diseruput.
Sementara, anak-anak lainnya pada sibuk mengganyang makanan di atas meja. Ada yang mabar, mantengin highlight pildun, sampe video random.
Kantor ini udah kayak taman bermain. Namun, itu uniknya. Sejak didirikan si bos dengan empat sohibnya dekade lalu, perusahaan ini ga berubah.
Bos yang memegang saham terbesar, lebih dari setengah, dipercaya sebagai CEO. Menariknya, dia menjalankan perusahaan ini dengan demokrasi.
Mungkin, efek dari hasil menimba ilmu di Ivy League yang diterapkan di perusahaan. Bos juga ga sungkan berbaur dengan seluruh karyawan, termasuk OB, cleaning service, security, dan sebagainya.
Dia asyik aja main nobar atau main kartu -tanpa judi- gaple, capsa, remi, dan sebagainya. Yang kalah diolesin blau atau arang. Kocak emang.
"Yang penting, kerjaan mereka lancar. Tanpa dedikasi dan kerja keras karyawan, perusahaan ini ga bisa berkembang." Demikian pernyataannya suatu hari kepada gw.
Gw yang jauh lebih tua darinya, pun kagum. Apalagi, dia merintis dari nol. Bokapnya hanya pedagang nasi goreng di Palmerah. Nyokapnya, ibu rumah tangga biasa. Dia dapat beasiswa kuliah di Negeri Paman Trump berkat kecerdasannya.
"Gw dan para sohib udah bersumpah ga bakal lepas perusahaan ini kepada investor. Biarlah untung dan rugi kami tanggung bersama. Yang penting, karyawan bisa kerja dengan tenang dan gaji tepat waktu."
Sejak gw kerja di sini, belum sekalipun gaji telat. Selalu tepat waktu. Kerjaan lancar. Ga ada karyawan yang toxic. Pun demikian jika ada bonus atau lemburan. Gw merasa, apa yang gw dapat di sini jauh lebih oke dibanding saat kerja di Big 7.
Namun, ada hal yang pantang dilanggar dalam peraturan yang dibuat si bos. Yaitu, dilarang menyebarkan paham LGBT.
"Gw pernah tinggal di US enam tahun. Kuliah dan kerja. Tahu banget gimana kehidupan di sana. Itu mengapa, gw sangat menghargai perbedaan, tapi bukan penyimpangan," tutur si bos saat sambutan outing kantor di Puncak, tahun lalu di depan seluruh karyawan dan pemegang saham.
Dalam kesempatan itu, bos juga mempersilakan karyawan berambut gondrong, dicat pirang, tindik, dan sebagainya.
Dia juga menegaskan tetap menerima jika ada karyawan yang terindikasi LGBT. Menurutnya, pelaku penyimpangan itu juga manusia.
Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.
Sebagai manusia, si bos enggan memusuhi sesamanya.
Hanya, si bos menekankan, jangan coba-coba untuk menyebarkan prilaku LGBT kepada karyawan lain atau sekadar mengajak.
...
* * *
"YAUDAH, gw cabut ya. Pokoknya kalian nobar aja. Yang penting jangan buang puntung rokok di lantai. Ntar gw liat di CCTV gw SP2," si bos bersiap balik usai mengecek berbagai dokumen dari gw dan anak legal disertai ancaman retoris.
"Aman, bosku. CEO PT Zhang," sahut anak-anak kompak yang disambut mesem si bos.
"Demi Jepang, Asian Pride, gw siap kerja lembur ga dibayar bos buat beres-beres usai nobar," Bintang, cleaning service menimpali.
"Ntar kalo ada puntung rokok berserakan, lo catat nama-namanya ya Tang. Biar gw kasih 'surat cinta' ke mereka," kata si bos yang disambut koor riuh anak-anak.
Dia melanjutkan, "Kalian bebas nobar di aula kantor sepanjang Pildun. Mau begadang boleh. Yang penting jangan sampe ada yang joget-joget live di medsos kayak tulang lunak ya. Gw kasih SP3 langsung."
Sontak, suasana sore itu di lobi kian pecah. Omongan si bos langsung ditimpali anak-anak yang mayoritas udah berkeluarga.
Yang jomblo juga banyak sih. Hehehe.
"Aman bosku. Di sini kalo ada yang aneh-aneh, kita kunciin di gudang lantai empat. Biar 'dirukyah' sama penghuni senior tak kasat mata," kata Guntur, salah satu admin medsos.
"Anjir, 'dirukyah neng kunti' ga tuh."
"Langsung insaf kalo ketemu penghuni gudang."
Sahut-sahutan kian ramai.
"Seserem-seremnya neng Kunti mah ga seberapa dibanding mbak K. Apalagi kalo telat laporan ke doi," Hashim, anak produksi nyeletuk sambil melirik gw.
Anjir, kenapa gw dibawa-bawa.
Si bos pun mesem-mesem aja. Kocak nih pemimpin kalo udah ngumpul sama karyawan bawaannya jadi kayak grup lenong.
"Eh iya, ntar kalo pak Agus nonton pas ada penalti, remot langsung umpentin. Bahaya, bisa dimatiin tuh tv kayak waktu Messi nendang penalti," tutur si bos nunjuk Agus, security senior yang baru datang langsung masang muka ga bersalah.
Kena dia. Hahaha.
Gw jadi inget pas diceritain anak-anak, pekan lalu. Malamnya saat nobar Argentina vs Austria, Lionel Messi mau nendang penalti. Si bos juga saat itu ikut nonton. Seperti biasa, dia jadi donatur seksi konsumsi yang dipalakin anak-anak.
Nah, pas awal pertandingan, Argentina dapat penalti. Messi yang akan eksekusi. Namun saat lagi ancang-ancang mau nendang, tv tiba-tiba mati. Sontak, pada heboh karena lagi deg-degan lihat hasilnya.
Ternyata, Agus yang matiin tv. Alhasil, kulit kacang berserakan dilemparin si bos dan anak-anak. Agus yang kabur cuma cengengesan aja. Kocak sih, tahu reaksi mereka.
Gw yang denger ceritanya pas jam makan siang aja geregetan sama Agus.
Namun, menurut si bos, di situlah letak seninya nobar. Rame, bisa teriak-teriak tanpa ada yang ngomelin karena di kantor gedungnya kedap suara.
"Gw berani 'rusuh' cuma pas nobar di kantor aja. Kalo nonton di rumah ga enak, senyap," si bos beri penjelasan saat meeting esoknya. "Sebab, tv harus di-mute. Kalo ada suara, kasian bocah gw lagi pada tidur. Bini juga bakal ngamuk kalo tahu gw teriak-teriak gol."
Yah, gw sebagai karyawannya cuma bisa mengangguk aja. Sabar hingga Piala Dunia 2026 berakhir.
Lagipula, meski muka anak-anak kusut hingga ga sedap dipandang akibat semalam begadangin nobar, faktanya gw akuin kerjaan mereka sejauh ini lancar.***
* * *
(Diceritakan ulang oleh pekerja swasta yang kantornya kena demam Piala Dunia 2026 dengan modifikasi dan editing sewajarnya)
* * *
- Jakarta, 5 Juli 2026
* * *
Artikel Terkait:
- Nobar Ditemani Model Seksi (https://www.roelly87.com/2014/11/nobar-ditemani-model-seksi.html)
- Meriahnya Nonton Bareng di Studio ANTV (https://www.roelly87.com/2014/11/meriahnya-nonton-bareng-di-studio-antv.html)
- Nonbar Merakyat Bersama tvOne (https://www.roelly87.com/2014/11/nonbar-merakyat-bersama-tvone.html)
- Nobar Pilpres 2014: Sambil Mewaspadai “Serangan Fajar” (http://www.roelly87.com/2017/02/sambil-mewaspadai-serangan-fajar.html)
- Nobar di Kedubes Italia - Kompak Demi "Gli Azzurri" (https://www.roelly87.com/2014/11/kompak-demi-gli-azzurri.html)
- Nobar dengan Suasana Pantai (https://www.roelly87.com/2016/04/nobar-dengan-suasana-pantai.html)
- Di Balik Nobar Liverpool Vs Leicester di Sevel Bintaro Sektor 7 (https://www.roelly87.com/2015/12/di-balik-nobar-liverpool-vs-leicester.html)
* * *
