TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: April 2016

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 27 April 2016

Harkonas 2016 untuk Kampanye Konsumen Lebih Cerdas


Puncak Harkonas 2016 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

"DEMI memastikan setiap jajanan di sekolah atau tempat lainnya higienis dan bebas dari zat berbahaya seperti formalin, kami kerap melakukan sidak. Setiap hari kami berkeliling ke berbagai sekolah dan pasar untuk mengecek dengan mobil yang dilengkapi laboratorium. Ini dilakukan di seluruh Indonesia," tutur Nani Budroini, Kabag Humas dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam kesempatan itu, Nani dan anggota BPOM lainnya turut memperlihatkan beberapa makanan yang diketahui mengandung formalin. Terutama yang jadi santapan sehari-hari seperi mi (basah) dan tahu.

Menurut Nani, keberadaan stan BPOM dalam Hari Konsumen Nasional (Harkonas) untuk berpartisipasi dalam rangka kampanye konsumen lebih cerdas dengan cara mengedukasi masyarakat. Terutama, agar waspada terhadap peredaran makanan, khususnya jajanan anak sehari-hari baik di sekolah atau lingkungan tempat tinggal.

"Makanan yang sudah terkena formalin bisa diketahui secara fisik. Salah satunya, mi ini yang agak kenyal, baunya berbeda, agak mengkilap, dan susah putus. Bagi masyarakat umum yang ingin mengecek apakah kandungan makanan terkandung formalin atau tidak, bisa mendatangi BPOM yang tersebar di seluruh Indonesia," Nani, mengungkapkan.

*        *        *
MATAHARI tampak malu-malu memancarkan sinarnya pada pagi itu, Selasa (26/4). Langit di atas ibu kota tampak gelap pertanda sang dewi akan mencurahkan segenap kemampuannya. Terbukti, rinai pun seperti enggan menjauh dari saya saat membelah jalan menuju Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Saat itu, saya bersiap untuk menghadiri acara puncak peringatan Hari Konsumen Indonesia (Harkonas) bersama empat rekan Kompasiana. Sambil menunggu registrasi, saya larut dalam perbincangan dengan Rahab Ganendra, Tamita Wibisono, Dewi Puspa, dan Yudha Pratomo selaku perwakilan dari admin Kompasiana.

Acara yang berlangsung seharian itu sedianya akan dibuka Presiden Indonesia Joko Widodo. Namun, karena ada urusan penting, pria yang akrab disapa Jokowi itu urung hadir dan diwakili Thomas Lembong yang menjabat sebagai Menteri Perdagangan.

Sepenglihatan mata yang saya kenal, tampak beberapa menteri dari Kabinet Kerja turut hadir beserta perwakilan dari berbagai instansi, institusi, dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) berbagai agama. Tak lupa, puluhan guru, dosen, siswa SMP, SMA, mahasiswa, hingga kami sebagai blogger yang mewakili Kompasiana, larut dalam puncak Harkonas yang setiap tahun diperingati setiap 20 April.

Selain stan BPOM, terdapat beberapa lembaga pemerintah yang ikut dalam pameran dengan lokasi di sisi kiri panggung. Seperti Bank Indonesia (BI), Badan Standardisasi Nasional (BSN), Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Direktorat Metrologi, Direktorat Standardisasi Pengendalian Mutu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Komunitas Konsumen Cerdas (Kokomcer), Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk yang terakhir, kebetulan tidak asing lagi bagi saya. Sebab, 5 Maret lalu turut menghadiri acara yang diadakan Kompasiana bersama OJK dan salah satu bank syariah.

"Sebagai konsumen, kita harus lebih 'cerewet' seperti di Korea (Selatan) dan Jepang. Yaitu, untuk menuntut kualitas dari produk dan jasa yang dikonsumsi agar produsen menghasilkan yang berkualitas," kata Lembong, 45 tahun. "Dengan ini diharapkan mendorong pelaku usaha untuk lebih bertanggung jawab dalam memperdagangkan barang atau jasa. Baik produk lokal atau impor."

Apa yang dikatakan lulusan Harvard University ini beralasan. Pada era teknologi seperti sekarang, tidak sulit untuk mengetahui apakah produk yang kita pakai berkualitas atau tidak. Banyak lembaga pemerintah atau independen yang bisa memverifikasi suatu produk atau jasa.

Misalnya, OJK dan BI pada perbankan, serta keamanan pada BPOM dan BSN. Sementara, jika konsumen merasa dirugikan, bisa mengadukan produsen atau pelaku usaha ke BPSK, YLKI, atau Kokomcer. Yang menarik, berbagai lembaga tersebut sudah memiliki website resmi dan akun media sosial seperti facebook dan twitter yang memudahkan kita untuk melakukan pengaduan.

*        *        *
Jadi ingat festival payung...

*        *        *
Sisi panggung dan berbagai stan pameran dengan latar Gereja Katedral

*        *        *
Kami, Power Rangers eh salah, blogger Kompasiana

*        *        *
Pemeriksaan ketat dari Paspampres sebelum masuk lokasi

*        *        *
Hari Konsumen Nasional 2016 dibuka Dirjen Perlindungan Konsumend an Tertib Niaga Syahrul Mamma
*        *        *
Penandatanganan Nota Kesepahaman untuk edukasi konsumen antara Mendag Thomas Limbong dan perwakilan Ormas serta Perguruan Tinggi

*        *        *
Mendag Thomas Lembong menabuh gendang untuk membuka Perayaan Puncak Harkonas 2016 bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Sofyan Djalil, Menteri Sosial Khofifah Indar, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Syahrul Mamma.
*        *        *
Stan OJK yang memberi edukasi mengenai keuangan

*        *        *
Saya di stan Badan Standardisasi Nasional

*        *        *
Dua dari sekian produk yang tidak berstandar SNI ini ada di rumah saya...

*        *        *
Contoh produk SNI yang meliputi mainan anak

*        *        *
Mahasiswi dari Universitas Singaperbangsa Karawang menjelaskan tentang Kokomcer

*        *        *
Kabag Humas BPOM Nani Budroini dan rekannya mempraktekkan cara mengenali makanan yang mengandung formalin

*        *        *
Beberapa makanan yang terindikasi formalin beserta alat untuk mengetesnya

*        *        *
Pojok Kuliner yang berisi makanan dalam Harkonas dengan latar Monumen Pembebasan Irian Barat

*        *        *

Video reportase Harkonas untuk membedakan makanan mengandung formalin atau tidak
*        *        *

- Jakarta, 27 April 2016

Senin, 25 April 2016

Menikmati TSC 2016 Bersama Orange TV

Torabica Soccer Championship 2016 di Orange TV

AKHIRNYA, salah satu kompetisi yang paling dinantikan segenap rakyat Indonesia, kembali bergulir pekan depan. Ya, liga sepak bola tertinggi di Tanah Air bertajuk Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 ini mulai berlangsung April hingga Desember mendatang. Terdapat 18 klub terbaik di Indonesia yang bersaing jadi yang terbaik setelah sempat vakum lebih dari setahun.

Kick-off TSC 2016 ditandai dengan duel Persipura Jayapura versus Persija Jakarta di Stadion Mandala, Papua, Jumat (29/4). Setelah kompetisi terhenti sejak 2015, diharapkan turnamen ini dapat mengobati kerinduan seluruh pencinta bola di Indonesia. Termasuk, saya pribadi mengunggulkan Persija untuk menjadi jawara.

Keputusan saya menjagokan tim berjulukan “Macan Kemayoran” itu bukan tanpa alasan. Sebab, saya memang sejak masih remaja, tepatnya SMP sudah mengidolai Bambang Pamungkas. Bahkan, hingga kini jadi blogger sekaligus pekerja media, antusiasme saya terhadap pemain berjulukan Bepe ini tidak berubah.

Yang menarik, TSC 2016 ini selain disiarkan di tv terestrial, juga bakal tayang eksklusif di televisi berbayar. Salah satunya, Orange TV yang sejak lama dikenal sebagai “Jagoannya Hiburan Bermutu”. Yaitu, saluran yang menggabungkan entertainment dan edukasi kepada pelanggannya.

Termasuk, saya yang kerap menonton berbagai tayangan Orange TV di kantor, khususnya pertandingan Liga Champions. Nah, bagaimana caranya menyaksikan TSC 2016 di Orange TV?

Caranya mudah, bagi pelanggan cukup mengaktifkan paket Happy/Favorit/BlackDiamond untuk KU Band atau paket Gembira/Unggulan/Hiburan untuk C band. Torabica Soccer Championship 2016 dapat disaksikan pada channel SCTV #902, Indosiar #905, serta O Channel #919.

“Orange TV juga mempunyai hak untuk menjual kembali kepada lokal operator maupun hotel/ apartemen supaya mereka bisa menyiarkan acara ini. Hak (siar) ini bersifat eksklusif untuk redistribusi ke lokal operator,” tutur Commercial Director Orange TV Greeny S. Dewayanti.

Apa yang dikatakan wanita yang murah senyum ini berlasan. Itu berarti kita, misalnya saya sedang tugas di luar kota dan enggan ketinggalan berbagai pertandingan TSC 2016 ini bisa menanyakan kepada pemilik hotel. Jika mereka memiliki saluran Orange TV, berarti kita tidak akan ketinggalan menyaksikan parade 18 klub terbaik di Tanah Air.

“Mayoritas masyarakat Indonesia merupakan pencinta olahraga, khususnya sepak bola. Dengan demikian, Orange TV memberikan apresiasi kepada para pelanggan untuk menyaksikan ratusan pertandingan sepak bola antardaerah,” ujar Greeny yang semakin membuktikan, Orange TV menambah titelnya dari “Jagoannya Hiburan Bermutu” jadi “Jagoannya Bola”.

Oh ya, sekilas info seperti yang saya tulis dalam artikel sebelumnya, agar kita selaku pelanggan Orange TV yang tidak ingin ketinggalan berbagai jadwal pertandingan. Kita, cukup mengunduh aplikasi OrangeKu di smartphone masing-masing. Dengan aplikasi itu, kita bakal mendapat jadwal pertandingan TSC 2016 dan info menarik lainnya.

Saya sudah menikmati TSC 2016 bersama Orange TV, bagaimana dengan Anda?

*        *        *

Artikel terkait:
- Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi
- Kunjungan Blogger ke PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP)

*        *        *
Jakarta, 25 April 2016

Jumat, 22 April 2016

Belajar Konsep Digitalisasi Usaha dalam Smesco Digipreneurday


Belajar Konsep Digitalisasi Usaha dalam Smesco Digipreneurday

Narasumber dalam Smesco Digipreneur Day


"RUL, tanggal 20 (April) ini ada acara ga?

"Kayaknya ga ada. -Tapi bentar saya tanya sekretaris saya dulu, siapa tahu ada meeting dengan anggota dewan-. Ade ape bu?"

"Ada Digipreneur Day di (Gedung) Smesco. Temanya 'Exploring the Power of Content' pukul 13-15 WIB."

"Setelah saya cek jadwal agenda dengan pak gubernur dan presiden serta jumpa pers, kayaknya ga ada. (Bercanda deh). Kayaknya kosong, -sama kayak hati saya lagi kosong- secara Rabu ga ada kegiatan."

"Oke, kalo mau, dateng aja ke Smesco lantai dua, ya."

"Siap bu."

Demikian percakapan saya dengan Sari Novita beberapa waktu lalu. Blogger gaul yang kerap memberi informasi kepada saya mengenai acara berbau seni dan yang berkaitan dengan dunia blogging.

Tanpa pake lama, tentu saja saya iyakan ajakan dari pemilik blog www.sarinovita.com ini. Kebetulan, sebagai blogger, saya hobi mendatangi berbagai acara yang bermafaat dan menambah wawasan seperti berkaitan dengan UMKM. Apalagi, waktunya tergolong bersahabat. Alias, selesai jam tigaan yang bisa langsung menuju kantor untuk kembali bekerja.

*        *        *
MEMASUKI pengujung April, anomali cuaca kian menjadi. Ketika berangkat dari rumah di kawasan Jakarta coret -baca: pinggiran-, siang itu panasnya menyengat di sepanjang Jalan Daan Mogot. Ketika memasuki kawasan Tomang, rinai mulai membasahi jalan.

Namun, selepas Slipi, sinar mentari seperti menghangatkan tubuh ini yang dilapisi jaket. Puncaknya, ketika Kuningan, dewi hujan benar-benar mencurahkan airnya hingga mau tidak mau saya harus menepikan sepeda motor untuk memakai jas.

Sambil berbasah-basahan ria, akhirnya saya sampai di gedung yang berdiri gagah yang jadi rumahnya koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah). Setelah registrasi dan keliling di berbagai ruangan, akhirnya acara dimulai tepat pukul 13.00 WIB.

Tampak, beberapa pembicara sudah siap di atas panggung. Yaitu, Andi Silalahi yang merupakan Digital Practitioner dengan prestasinya The Winner of Google Award Southeast Asia 2010 for UKM, Andi Wiryawan (KUM Business Owner caristyle.co.id), Jose Ricardo Santos (Co-Founder bDigital.id), dan Bagus Rahman (Direktur Bisnis & marketing Smesco).

Menyimak nama-nama beken di bidangnya masing-masing itu tentu menimbulkan antusiasme tersendiri bagi saya. Kebetulan, sejak dua tahun ini memang ada niat untuk bergerak di bidang UKM atau tepatnya sih UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).

Oh ya, emang harus ya, saya tambahkan M lagi pada UKM? Bagi saya sih ga harus, tapi wajib. Kali ini serius. Secara, M yang dimaksud "mikro" pada UMKM itu berkaitan dengan dana yang maksimal Rp 50 juta seperti yang saya ambil referensinya dari Bank Indonesia. Bandingkan dengan UKM yang butuh 50 juta ke atas.

Di sisi lain, dana yang saya kumpulkan untuk membuat UMKM baru mencapai 15 persen (berapa itu? Ya, bisa dikalikan persentasenya). Lha, kalau modalnya saja belum cukup, kenapa harus dateng ke Digipreneur Days?

Justru itu, saya ingin tahu lebih lanjut cara membuat UMKM dari beberapa pakarnya yang hadir sebagai pembicara, termasuk Ahmad Zabadi selaku Direktur Utama LLP-KUKM (Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi UKM). Siapa tahu, ada ilmu yang bisa saya serap untuk dipraktekkan kelak. Kalo kata bahasanya Christoper Nolan, "Learning by Doing."

*        *        *
BISNIS saat ini sudah mengacu pada digitalisasi (KBBI: proses pemberian atau pemakaian sistem digital). Ibarat roda pedati yang selalu berputar, untuk kegiatan usaha (baca: bisnis) konvensional tanpa melakukan pendekatan digital bakal tergerus seiring dengan perkembangan zaman. Jadi, harus ada sinergi dengan teknologi.

"Saya punya pengalaman dari rekan yang ingin membuka bisnis UKM melalui website," tutur Andi pada sesi pembuka. "Setelah sekian lama, usahanya itu belum berhasil. Kenapa? Karena rekan itu tidak memiliki email. Padahal, email itu penting. Gunanya, untuk menjalin relasi dan transaksi."

Apa yang dikatakan pria yang sekilas mengingatkan saya pada Radja Nainggolan, bintang AS Roma keturunan Batak ini, memang beralasan. Tanpa email atau surat elektronik, tentu membuat kita kesulitan dalam mengembangkan usaha. Jelas ini sepele. Namun, sangat krusial. Ibaratnya, orang yang jatuh itu bukan akibat dari batu besar, melainkan kerikil di jalan.

Dalam kesempatan itu, Andi juga menyinggung salah kaprahnya pelaku UKM di Tanah Air. Salah satunya dengan membuat sosmed (sosial media) seperi fanpage Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube terlebih dulu ketimbang website. Padahal, menurutnya, website dianalogikan sebagai lantai dasar pada suatu bangunan.

Jika lantai dasarnya kokoh, kita mudah membangun gedung itu hingga beberapa lantai berikutnya. Itu mengapa Andi menyebut, dua elemen penting dalam melakukan digital bagi pebisnis UMKM/UKM meliputi konten (website) dan jaringan komunitas (sosmed).

Ya, dua hal itu sangat berkaitan dalam korelasi digitalisasi usaha. Apa yang dipaparkan Andi, dan pembicara lainnya sudah pasti jadi masukan berarti bagi saya yang berencana membuat konsep -baru konsep atau ide yang mungkin terealisasi beberapa tahun mendatang- sebagai pijakan ke depan. Toh, kota Roma tidak dibangun dalam sehari.

*        *        *
Registrasi terlebih dulu

*        *        *
Penampilan Kazan Band 

*        *        *
Diskusi Andi Silalahi dengan peserta

*        *        *
Beragam kuliner ada di Smesco

*        *        *
Kopi, makanan, minuman, dan sebagainya

*        *        *
Kuda-kudaan yang sayangnya tidak jadi dibeli karena sulit membawanya

*        *        *
Ada yang mau saya bonceng? *kode :)

*        *        *
Sebagai pencinta wayang, booth ini ibarat surga kecil bagi saya

*        *        *
Wayang Golek tokoh Shinta yang harganya terjangkau

*        *        *
- Jakarta, 22 April 2016

Rabu, 20 April 2016

Kunjungan Blogger ke PT. Pindo Deli Pulp and Paper: Ketika Higienis Saja Tak Cukup


PT Pindo Deli yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat


KONSISTENSI dan inovasi merupakan kunci utama untuk meraih kesuksesan. Dua hal itu selalu saya ingat dalam kehidupan sehari-hari pada berbagai lini. Misalnya, dalam sepak bola karena saya merupakan penggemar olahraga si kulit bundar.

Keberhasilan Juventus menjuarai empat Seri A beruntun karena dua faktor tersebut. "I Bianconeri" konsistensi dalam visi permainan dan kerap berinovasi dalam strategi atau skuat pemain pada setiap musim. Tak aneh jika Juventus kini masih merajai kompetisi Italia dan jadi barometer kesuksesan klub asal "negeri Piza" tersebut.

Dalam ranah bisnis, dua hal itu juga yang kerap jadi acuan berbagai perusahaan, start up, perbankan, dan sebagainya. Salah satu yang saya kenal, Sinar Mas Group. Kelompok usaha yang memiliki usaha di berbagai lini seperti properti, media, telekomunikasi, air minum dalam kemasan, pertambangan, agribisnis, hingga percetakan kertas, dan sebagainya.

Kebetulan, sebagai blogger, saya tidak asing dengan berbagai unit usaha dari perusahaan yang berdiri sejak 1962 ini. Sebab, sudah beberapa kali saya menulis artikel di blog yang berkaitan dengan Sinar Mas Group.
|
*        *        *
MATAHARI tampak malu-malu memancarkan sinarnya pada pagi itu, Selasa (19/4). Usai menyaksikan cuplikan olahraga di layar televisi, saya bergegas menuju Plaza Sinar Mas di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat. Kehadiran saya saat itu untuk mengikuti tur ke pabrik PT Pindo Deli Pup & Paper di Karawang, Jawa Barat, bersama rombongan blogger dan media.

Setelah sampai di gedung yang berdiri megah di jantung ibu kota, sudah terdapat beberapa rekan blogger, termasuk Anazkia, yang merupakan pengelola Indonesiana, bersama Emmy Kuswandari (perwakilan Sinar Mas).

Setelah berbincang sejenak diiringi ngemil-ngemil ganteng -karena ngopi-ngopi cantik sudah mainstream- tak lama, bus yang kami tumpangi bergerak ke arah timur Jakarta. Menurut aplikasi Global Positioning System (GPS) di ponsel saya, jarak dari Plaza Sinar Mas menuju PT Pindo Deli mencapai 60 km.

"Kalau normal, kita sampai di pabrik sekitar jam 10-an mas," tutur Jaka Anandita, yang duduk di samping saya. Pemilik akun twitter @jakaanindita itulah yang jadi guide dadakan saya sepanjang jalan karena sudah lama bekerja di Sinar Mas. Termasuk, memberi penjelasan mengenai air minum dalam kemasan 400 ml yang rasanya sungguh menyegarkan, "Pristine juga salah satu dari lini produksi Sinar Mas Group."

Pemandangan rimbun terhampar di balik jendela bus ketika memasuki lokasi yang bertempat di Jalan Prof. Dr. Ir. H. Soetami no 88. Saat melihat plang bertuliskan Asia Pulp Paper (APP), saya baru ngeh jika Pindo Deli memang masuk dalam unit usahanya. Kebetulan, sejak kecil hingga kini di saat beberapa rekan sebaya memiliki anak kecil lagi, saya tidak asing dengan berbagai produk APP.

Mulai dari kertas HVS yang dipakai saat SD dengan merek Bola Dunia, faktur yang digunakan untuk pekerjaan, kertas printer (Paperline), tisu (Paseo), bahkan hingga bungkus kebab serta hot dog yang sering saya beli di kantin depan kantor.

"PT Pindo Deli memiliki orientasi pasar dalam negeri 40 persen dan ekspor yang mencapai 60 persen," kata Andar Tarihoran, CSR dan Humas Pindo Deli, memberi keterangan usai sambutan dari Huang Hua Cing (Direktur). "Kami (PT Pindo Deli) memproduksi berbagai kertas dan tisu dengan kualitas terbaik. Untuk itu, di kami higienis saja tidak cukup. Melainkan, harus (prosesnya) halal yang sudah bersertifikasi MUI, termasuk pada tisu."

Mendengar penuturan Andar, seketika membuat saya terhenyak. Tisu halal? Serius nih? Sebagai blogger yang memegang asas jurnalistik, terutama berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu mendengar kata "halal" membuat saya penasaran. Sekaligus ingin mencari tahu lebih jelas makna yang terkandungnya. Yupz, blogger itu harus kritis dan melakukan cek dan ricek lebih lanjut.

Maklum, di sisi lain, sebagai masyarakat awam, yang saya tahu tentang halal itu hanya makanan saja. Meski di meja kantor dan rumah memiliki Paseo, tapi saya tidak pernah memerhatikan label halal. Hingga, akhirnya ketika sesi selanjutnya mengenai tisu, Meliza, yang merupakan perwakilan dari PT Pindo Deli, memperlihatkan Paseo dengan gambar Hello Kitty. Di balik kemasan, selain terdapat beberapa sertifikasi ISO yang membuktikan kualitas terbaik, juga ada logo MUI.

*        *        *
SETELAH sesi dengan diskusi dengan Andar, Hua Cing, Meliza, Yeni, dan Jumali, kami pun diajak untuk menyambangi lokasi produksi. Sebagai blogger, jelas ini sangat menarik. Sebab, melihat proses pembuatan kertas dan tisu ini menambah pengetahuan saya yang bisa saya tuangkan dan share dalam artikel di blog.

Maklum, sebelumnya, saya sudah pernah melihat cara kerja Bea Cukai, Kantor Pajak, BNN, pameran Kepolisian, dan teranyar TNI AU. Kini, ditambah melihat langsung dengan mata kepala sendiri proses produksi kertas dan tisu yang kelak bisa dijadikan cerita untuk anak dan cucu.

"Di sini terdapat proses pembuatan kertas, mulai dari persiapan bahan baku, pulp, pemutihan, pengambilan kembali, pengeringan pulp, dan pembuatan kertas," kata salah satu pegawai PT Pindo Deli yang saya lupa namanya bersama Bukhari (bagian produksi) saat mengiringi kami, rombongan blogger dan media di pabrik seluas 450 hektar tersebut.

Ya, kunjungan ke PT Pindo Deli Pulp and Paper ini jadi salah satu pengalaman menarik saya sepanjang 2016. Sebab, saya baru tahu, untuk menghasilkan selembar kertas atau tisu yang sehari-hari saya pakai, prosesnya tidak mudah. Dan, di balik kualitas terbaik yang dihasilkan mereka, terdapat kerja keras dan kerja cerdas dari segenap karyawannya.

*        *        *
Memakai helm sebagai bagian dari safety saat memasuki pabrik
*        *        *
Sebagian hasil produksi dari PT Pindo Deli

*        *        *
Lokasi pabrik yang tertata rapi dan bersih turut andil dalam proses produksi

*        *        *
Mengisi daftar hadir

*        *        *
Direktur PT Pindo Deli Huang Hua Cing

*        *        *
CSR dan Humas PT Pindo Deli Andar Tarihoran menjelaskan tentang makna halal 

*        *        *
Yeni dan Jumali dari tim produksi 

*        *        *
Meliza memperlihatkan berbagai jenis tisu

*        *        *
Ini salah satu jenis tisu untuk toilet 

*        *        *
Kantor PT Pindo Deli dari balik jendela bus

*        *        *
Disiplin jadi salah satu kunci untuk menghasilkan produk terbaik

*        *        *
Kunjungan blogger dan media di lokasi

*        *        *
Saya selalu percaya adagium yang berkata: Di balik keberhasilan seorang pria terdapat wanita hebat di belakangnya. Begitu juga dengan di balik kesuksesan suatu perusahaan, terdapat pegawai yang telah bekerja keras dan kerja cerdas

*        *        *
Foto ini akan jadi cerita berkesan pada 10 hingga puluhan tahun mendatang untuk anak dan cucu 

*        *        *
Higienis saja tidak tak cukup, melainkan proses dan hasilnya harus halal

*        *        *
Artikel Terkait:
Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi

*        *        *
- Jakarta, 20 April 2016

Senin, 18 April 2016

Bulan Dirgantara Indonesia 2016: Dekatkan Tentara dengan Rakyat


Dua dari tujuh pesawat tempur Jupiter Aerobatic Team sedang melukis langit


"NANTI kita bareng saja sama mbak Ety (Budiharjo) dan teman-teman dari #KelasBlogger. Acaranya mulai jam 9.00 WIB sampe malam," demikian penjelasan rekan blogger, Liswanti Pertiwi, dalam perbincangan di media sosial pada Jumat pagi (15/4).

Berkat pemilik blog www.liswantipertiwi.com ini, akhirnya saya berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Sebagai blogger, saya kerap mengikuti event yang diadakan TNI, Kepolisian, dan instansi dari pemerintah atau non, seperti Badan Narkotika Nasional (BNN), serta kementerian lainnya.

Sebelumnya, saya menghadiri acara bertema militer pada 5 Oktober 2013. Tepatnya, ketika TNI merayakan HUT ke-68 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Saat itu, saya bisa mengetahui lebih dalam mengenai seluk beluk tentara mulai dari atribut, personel, kendaraan operasional, hingga alat utama sistem senjata (Alutsista).

Bahkan, saya sampai berkeliling Monas dengan menumpang Panser Anoa yang jadi salah satu pengalaman berkesan dalam lebih dari seperempat abad hidup saya. Itu mengapa ketika Liswanti memberi informasi mengenai Bulan Dirgantara Indonesia 2016 untuk menyambut HUT TNI ke-70 pada 9 April lalu, saya langsung antusias.

Lantaran bisa menambah wawasan saya tentang militer, khususnya dari Angkatan Udara yang dapat saya tuangkan dalam tulisan di blog. Kebetulan, saya mengenal dua tokoh dari TNI AU yang merupakan blogger. Yaitu, Chappy Hakim yang merupakan mantan Kepala Staf TNI AU (KSAU) dan Prayitno Ramelan. Beberapa kali saya mengikuti acara yang dihadiri mereka yang berkaitan dengan dunia blog.

*        *        *
PAGI itu, Sabtu (16/4) langit ibu kota tampak cerah. Dengan semangat 45, dari kediamaan saya di utara Jakarta, saya membelah sepanjang jalan yang empat di antaranya menggunakan nama pahlawan dari TNI. Mulai dari Jalan Letjend S. Parman, Jenderal Gatot Subroto, Letjend M.T. Haryono, hingga Marsda Halim Perdanakusuma.

Aplikasi Global Positioning System (GPS) di ponsel saya memperlihatkan jarak 21 km dengan waktu tempuh menggunakan sepeda motor sekitar satu jam. Beruntung, pada 2012-2015 saya sering mengunjungi kawasan Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma dalam rangka tugas jurnalistik dari kantor.

Tepatnya di lapangan Sutasoma 77 yang kerap menggelar berbagai acara yang berkaitan dengan sepak bola. Seperti latihan tim nasional (timnas) U-19 dan Liga TopSkor. Saya tidak pernah lupa dengan Evan Dimas dan kawan-kawan ketika latihan di lapangan tersebut saat masih tidak dikenal, mulai populer, berada di puncak, hingga kini tak terdengar namanya lagi.

Setelah memarkirkan sepeda motor, saya menuju lokasi dengan membeli tiket seharga Rp 20.000. Sambil ngobrol dengan beberapa personel TNI AU untuk mencari informasi lebih lanjut, tak lama datang Liswanti dan Ety. Kami pun langsung menjelajahi seluruh area Pameran Bulan Dirgantara Indonesia 2016 khusus pengunjung tanpa ada sejengkal tanah pun yang terlewat.

Mulai dari panggung hiburan raksasa yang siang harinya menampilkan puluhan artis ternama, area display pesawat static show, food court yang berisi puluhan penjual makanan dan minuman yang murah meriah, alutsista non pesawat, areal edukasi safety riding dalam berkendara, tenda Youth Multi Community Event, dan tentunya tenda utama.

Isinya, berbagai macam booth dari TNI AU sendiri, pemerintah, BUMN/ BUMD, dan swasta. Seperti Korps Pasukan Khas (Paskhas), Badan SAR Nasional (Basarnas), Lion Air Group, asuransi hidup FWD, Nikon Kamera, dan sebagainya.

Sebagai pria, khususnya karena sejak remaja kerap bermain game perang-perangan seperti Contra dan Metal Slug di dingdong atau Counter Strike serta Point Blank, di komputer, sudah pasti saya antusias berlama-lama di booth Paskhas. Apalagi, personel yang jaga sangat ramah kepada pengunjung.

Bahkan, saya baru tahu perbedaan baret di antara satuan TNI justru dari mereka. Menurut salah satu personel yang sayangnya saya lupa namanya, Paskhas identik dengan baret jingga, Kopassus (baret merah), Marinir (baret ungu), Kostrad (baret hijau), Propam (baret biru), dan sebagainya.

Selain itu, beliau juga memberi tahu jika alutsista dari TNI AU, khususnya Paskhas, banyak yang berasal dari PT Pindad. Mendengarnya saya bangga mengingat Pindad merupakan perusahaan dalam negeri yang memiliki reputasi hingga mendunia. Saya jadi teringat dengan Panser Anoa yang saya naiki di Monas dulu juga berasal dari Pindad.

*        *        *
RATUSAN pengunjung berjejer rapi di sepanjang landasan. Termasuk, saya, Liswanti, dan Ety, yang antusias menyaksikan parade pesawat tempur dari Paskhas - SAR Tempur dan Jupiter Aerobatic Team.

Sebelumnya, kami disuguhkan aksi Kolone Senapan yang menampilkan keterampilan prajurit TNI dalam menggunakan senjata diiringi beragam musik. Salah satunya, Supermassive Black Hole dari MUSE yang saya rekam dan unggah di youtube. Dari sisi kanan, sayup-sayup terdengar percakapan di antara pengunjung yang mayoritas masih muda.

"Eh lihat, pesawatnya udah deket tuh. Yuk, foto-foto."

"Mas, mbak, jangan desak-desakan dong."

"Kapal... Minta duit..."

"Hussh, emang lu kira apaan."

"He he he, ini ane jadi ingat waktu kecil. Kalo ada kapal lewat pada teriak minta duit."

"Maaf ya, bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, dan adik sekalian. Mohon, jangan lewat garis kuning ini ya, berbahaya. Harap, kalian mundur beberapa jengkal ke belakang demi keamanan."

"Iya pak. Maaf. Ini kami munduran."

"Ssst... Si bapaknya macho ya."

"Ho oh. Pangkatnya tinggi tuh. Ada WA-nya ga? Atau BBM lah?"

"Huuu... Lah kalian mah ga boleh liat yang bening-bening, matanya langsung ijo."

"Yaelah, mbak. Kayaknya keren tuh punya cowo TNI. Gagah banget."

"Bener. Bisa lah kalo kita jadi bokin-nya diajak naik pesawat terus. Keliling Indonesia deh."

"Eh tuh, lihat di atas awan ada yang kecil-kecil turun."

"Turun? Hujan ya non?"

"Hujan pala lu peang. Itu tuh."

"Kagak keliatan sih. Eh bentar, itu yang melayang apaan."

"Ih, keren. Parasutnya kok bisa ada dua orang?"

"Tuh lihat, Jupiter-nya bisa bikin love-love."

"Wah, iya, pesawatnya kayak melukis hati di langit."

"Iya, dua pesawat aja bisa saling melukis hati di langit. Hati lo kapan gue lukis?"

"Aiiih, gile lo Ndro. Modus aja."

"Ha ha ha."

*        *        *
TIADA perjamuan yang tak berakhir. Setelah menyaksikan atraksi Paskhas - SAR tempur yang dilanjutkan Jupiter Aerobatic Team, kami pun mengundurkan diri menuju kawasan Cawang untuk menghadiri undangan lainnya. Meski harus berpanas-panasan, tapi, saya pribadi sangat puas akhirnya bisa menyaksikan berbagai parade dari TNI AU dalam rangka Bulan Dirgantara Indonesia 2016.

Bagi saya, acara untuk memperingati HUT ke-70 TNI AU ini bukan sekadar pameran saja. Melainkan, benar-benar mendekatkan tentara dengan masyarakat. Dalam hal ini, mereka yang berada di Halim, tidak segan-segan memberi informasi mengenai kedirgantaraan. Itu membuktikan, kalimat "Bersama rakyat, TNI kuat. TNI adalah kita," bukan hanya slogan saja.

Ya, selamat ulang tahun ke-70 TNI AU, Swa Bhuwana Paksa!


*        *        *
Ayah yang rela panas-panasan demi menyenangkan buah hatinya yang ingin dipotret dengan latar pesawat tempur


*        *        *
Membidik terjun payung


*        *        *
Atraksi Kolone Senapan


*        *        *
Berbagai makanan dan minuman yang murah meriah


*        *        *
Kapan lagi bisa menyentuh pesawat militer kalau bukan di acara Bulan Dirgantara Indonesia 2016?


*        *        *
Liswanti dan Ety yang antusias sepanjang acara


*        *        *
Isi daftar hadir sekaligus ngobrol bareng di booth Basarnas


*        *        *
Yupz, sebagai blogger, saya setuju: Pameran Dirgantara untuk mendekatkan tentara dengan rakyat


*        *        *
Booth Paskhas dengan berbagai atribut 


*        *        *
Semoga antusiasme bocah perempuan ini tercapai jadi jenderal wanita di TNI AU pada masa depan


*        *        *
Kendaraan Paskhas yang bikin saya ingin menerobos batas saking penasaran lihat dalamannya


*        *        *
Pesawat tempur keluar dari hanggar


*        *        *
Bagaikan mimpi, akhirnya sepanjang seperempat abad lebih hidup saya bisa memotret pesawat tempur dari dekat


*        *        *
Biar kata panas, laper, dan sempat dehidrasi, memotret mah jalan terus


*        *        *
"Kapal... Minta duit..."


*        *        *
Bingung saya mau mendeskripsikan apa mengenai pemandangan ini. Satu kata: Fantastis!


*        *        *
"Tuh kan, penerjun payung saja duet di langit. Dirimu dan aku kapan duet di bumi?"


*        *        *
Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan parade Atraksi Paskhas -  SAR Tempur


*        *        *
Bersama Rakyat, TNI kuat: Terima kasih untuk para petugas yang membuat acara Bulan Dirgantara Indonesia 2016 jadi lebih bersih  tanpa sampah yang berserakan


*        *        *        *        *        *

Video di Youtube: Atraksi Kolone Senapan TNI AU
*        *        *        *        *        *

Video di Youtube: Atraksi Paskhas - SAR Tempur
*        *        *        *        *        *

Video di Youtube: Atraksi terjun payung TNI AU

*        *        *        *        *        *
Hitam-Putih TNI Sebelumnya:
Semarak HUT TNI ke-68 di Monas
Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI
- Mengenang Jenderal Soedirman
Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution
50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Sang Kakak
- Mengenang Ade Irma Suryani
3 Nafas Likas dan Sosok di Balik Kehebatan Jenderal Djamin Ginting
Semoga Tidak ada Lagi Paswalyur: Pasukan TNI Pengawal Sayur
- Pramoedya Ananta Toer: Saya Ga Suka Militer Indonesia
Sisi Lain Paspampres yang Berprestasi
Apresiasi untuk Kejelian Paspampres
- Intip Buku Prayitno Ramelan

Artikel Hitam-Putih Kepolisian Sebelumnya:
(Esai Foto) Jakarta Metropolitan Police Expo 2016: Demi 3M untuk Masyarakat
Sisi Lain Krishna Murti: Catatan Polisi di Mata Blogger
Opini di Fan Page Facebook Divisi Humas Polri: Polisi Siap Dikoreksi
Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik
Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Profil Enam Calon Kapolri dan Plus-Minusnya
Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati
HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat
Pengalaman Sehari di Mabes Polri
Polisi Menggugat
Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
Tidak Semua Polisi Berprilaku Kurang Baik
Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara, dan Wartawan?
Kucing-kucingan Antara Pengendara dan Penjaga Jalur Busway
Balap Liar: Sensasi Mengejar Gengsi di Balik Maut

Artikel Terkait (BNN dan sebagainya):
Buwas yang Kian Buas: BNN Gagalkan Transaksi Sabu 39,6 Kg
BNN Tangkap Pilot dan Pramugari Lion Air

Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?

*       *        *
- Jakarta, 18 April 2016