TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Januari 2024

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Rabu, 31 Januari 2024

Dapat Orderan Raja Terakhir: Mie Gacoan!

Dapat Orderan Raja Terakhir: Mie GacoanDapat Orderan Raja Terakhir: Mie Gacoan!


Suasana antrean ojol dan pembeli di Mie 
Gacoan cabang Daan Mogot, Jakarta Barat
(Foto: @roelly87)


SETELAH bertahun-tahun menghindar, akhirnya saya dapat orderan raja terakhir. Yaitu, Mie Gacoan!

Sebagai ojek online (ojol), tentu saya tidak asing dengan resto tersebut. Ya, Mie Gacoan sudah dikenal luas di Tanah Air, khususnya Jakarta.

Harganya yang merakyat, jadi alasan utama: Murah dan meriah.

Namun, bagi ojol, justru Mie Gacoan termasuk momok yang menakutkan. Ini fakta.

Sebab, resto itu dikenal akibat pelayanannya yang lama. Bisa berjam-jam menunggu.

Tak jarang, kerap terjadi adu mulut antara ojol dengan karyawannya. Di media sosial (medsos) banyak beredar insiden tersebut.

Itu mengapa, sejauh ini saya enggan mengambil orderan food di Mie Gacoan. Masih mikir-mikir.

Hingga, akhirnya hari itu pun tiba. Terpaksa sih, tepatnya di salah satu aplikasi.

Sebab, jika tidak diambil pesanannya, saya terancam suspend. Yaitu, hukuman oleh aplikator yang bisa penangguhan tidak dapat menerima order dalam jangka waktu tertentu.

Ih... Seram!

Btw, saya punya lima aplikasi ojol atau kurir. Berdasarkan waktu mendaftar, yaitu:

1. Gojek: antar penumpang, makanan, barang

2. ShopeeFood: antar makanan, barang

3. Lalamove: antar barang

4. Indriver: antar penumpang, barang

5. Maxim: antar penumpang, makanan, barang

Oh ya, ada satu lagi, Traveloka Eats. Namun, sudah tutup November 2022 yang artinya beroperasi hanya setahun (sejak 2021).

Sedih sih kehilangan Traveloka Eats. Meski singkat, namun cukup berdampak positif pada pemasukan saya sehari-hari.

Semoga Traveloka bisa bangkit lagi ke depannya dengan menyediakan lini pengantaran makanan atau barang. Aamiin!


*       *       *




SUASANA di Mie Gacoan cabang Daan Mogot, Senin (29/1) sangat ramai. Tampak pengunjung terbagi dua, antara makan di tempat atau untuk bawa pulang.

Pada saat yang sama, antrean juga meluber untuk pesanan online. Baik itu Gojek, Shopee, atau Grab.

Saya pun dengan khidmat menunggu di kursi yang diisi rekan-rekan ojol dan pengunjung lainnya. Kebetulan, ruangannya cukup besar untuk menampung puluhan orang.

Tak lupa, saya iseng foto sekeliling lewat hp. Norak banget dah.

Ha... Ha... Ha...

Maklum, ini perdana saya ambil orderan Mie Gacoan. Sebelumnya, ogah.

Kalo dapat, biasanya saya lewatin. Berlaku saat saya melintasi Tebet dan Sunter yang terdapat cabangnya.

Maklum, saya merasa tidak setimpal. Itu berdasarkan ongkos yang saya dapat, dari Rp 8.000-8.800 per 4km.

Sementara, nunggunya minimal 30 menit. Bahkan, informasi di grup ojol rata-rata 1-2 jam.

Hadeuh!

Pada akhirnya, saya coba untuk perdana. Ongkosnya, kurang dari Rp 10.000 mengingat jarak antarnya ke lokasi pembeli sekitar 3,6 km.

Nunggunya? Lebih dari seperminuman teh!

Berdasarkan waktu di aplikasi, mulai pukul 23.34 WIB hingga selesai 00.22 WIB.

Alias, 48 menit. Hampir sejam...

:)

Dibilang ongkosnya murah, iya. Namun, sebagai ojol, ya harus siap.

Btw, artikel ini hanya catatan harian sebagai ojol. Saya ga ada tendensi apa pun kepada semua pihak.

Saya juga ga bermaksud menjelek-jelekkan. Maklum, saya ogah meludah di sumur sendiri.

Bisa dipahami mengingat sumber pendapatan saya sehari-hari dari ojol.

Namun, sebagai bloger, tentu saya punya kebebasan menulis apa yang dirasakan. Tentu, berdasarkan fakta.

Perkara isinya manis atau pahit, itu urusan lain. Yang pasti, artikel saya murni hasil pengalaman pribadi.


*       *       *


KENAPA Mie Gacoan kerap dapat julukan ojol, termasuk saya, sebagai "Raja Terakhir"?

Sebagai pribadi yang besar pada era 1990-an, tentu saya tidak asing dengan frasa tersebut. Khususnya, di dunia game.

Raja terakhir itu merujuk lawan yang paling sukar dihadapi. 

Street Fighter II ada M. Bison. Mortal Kombat dengan Shao Kahn dan Yoshimitsu (Tekken).

Sebelum Mie Gacoan beredar luas, ada beberapa resto yang terkenal lama pelayanannya. Kebetulan, saya jadi ojol sejak 2019 lalu.

Jadi, saya pengalaman dengan Geprek Bensu, Gold Chick, Sushi Yay, Solaria, Yoshinoya, Richeese, dan lainnya. 

Jangan lupakan, Mcd yang sempat ramai dengan kemasan BTS. Bahkan, ada ojol yang harus menunggu hingga 3 jam!

Lanjut...

Saran saya kepada manajemen Mie Gacoan, agar lebih efisiensi dalam pelayanan orderan online. Yaitu, setiap ada pesanan masuk, langsung dibuatkan.

Sementara, saat ini yang saya alami, beda. Saya datang ikut antrean bareng rekan-rekan ojol dan pembeli yang dibungkus.

Minta struk dari kasir, lalu difoto untuk bukti aplikasi. Nah, setelah itu, lanjut nunggu hampir sejam. 

Mending kalo jarak anternya deket. Jika jauh? 

Yakin deh makanannya udah dingin. Apalagi, kemarin sempat hujan yang membuat perjalanan agak lambat.

Andai pendekatannya efisien, tentu sangat bagus. Alurnya, seperti ini:

1. Orderan online masuk

2. Kasir mencetak struk

3. Karyawan segera dapur menyiapkan makanan

4. Karyawan di meja depan siap cek

5. Ojol datang memberi bukti nomor orderan di aplikasi 

6. Makanan siap diantar


Di sisi lain, saya juga mengerti alasan mereka enggan langsung membuatkannya saat dapat pesanan online. Itu terkait adanya kemungkinan order fiktif yang bisa merugikan resto.

Ini yang jadi dilema. 

Meski, setiap aplikator memberi kompensasi jika makanan sudah jadi tapi kena order fiktif. Kendati, tidak 100 persen diganti.


*       *       *


SAMBIL menyelam minum es tebu. Yuppiii...!

Saking penasaran terkait ramainya di setiap cabang Mie Gacoan, akhirnya saya pun ikut mencoba. Ya, kebetulan dini hari WIB itu masih rinai.

Sambil menunggu orderan kedua, saya pun beli dibungkus tapi untuk makan di tempat. Yaitu, Mie Gacoan Level 4 dan Pangsit Goreng.

Masing-masing harganya Rp 10.459. Belum termasuk pajak 10%.

Menurut saya, harganya cukup murah. Sebab, mie ayam di abang gerobak atau mie instan di warkop aja mencapai Rp 15.000.

Bagaimana dengan rasanya? Oke...

Untuk Mie Gacoan, saya nilai 7. Pedasnya di level 4, cocok sama lidah saya khas Sunda yang setiap makan harus ada cabainya.

Mienya juga lumayan. Bumbunya pun terasa dengan porsi yang cukup.

Pangsit Goreng? Saya naikkan nilainya jadi 8.5!

Serius?

Yoi. Pangsitnya enak. 

Garing di luar, lembut di dalam. Apalagi, isinya seporsi lumayan banyak.

Sebagai penutup, saya berikan penilaian terhadap Mie Gacoan cabang Daan Mogot, Jakarta Barat.

Lokasi: 8 (strategis, seberang Citra Land)

Harga: 8 (murah meriah)

Ruangan: 7 (luas)

Pelayanan: 7 (cukup)

Fasilitas: 8 (ada westafel dan toilet)

Parkir: 7 (khusus ojol gratis)


Epilog:

Sebagai pembeli: 7.5 (enak dan murmer)

Sebagai ojol: 5,5 (lama nunggunya) 

seporsi sekitar 11 ribuan...

cobain mie gacoan

level 4 pedasnya pas




*       *       *


- Jakarta, 31 Januari 2023


*       *       *


Artikel Kuliner Sebelumnya:


- Stik Kentang Terlezat di Jakarta (https://www.roelly87.com/2024/01/stik-kentang-terlezat-di-jakarta.html)


- Menikmati Sensasi Sop Durian buatan Annisa (http://www.roelly87.com/2016/01/menikmati-sop-durian-buatan-annisa.html)


- Bernostalgia dengan Legitnya Ketan Durian Khas Sumatera Barat (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f4acd7745513792b6c8cf9/bernostalgia-dengan-legitnya-ketan-durian-khas-sumatera-barat?page=all#section2)


- Menikmati Nasi Kucing di Sudut Utara Ibukota (https://www.kompasiana.com/roelly87/551075e9a333111c37ba86eb/menikmati-nasi-kucing-di-sudut-utara-ibukota)


- Menikmati Jajanan di Bursa Kue Subuh, Pasar Senen (https://www.kompasiana.com/roelly87/552b035bf17e614660d623b6/menikmati-jajanan-di-bursa-kue-subuh-pasar-senen)


- Sensasi Berburu BTS Meal (http://www.roelly87.com/2021/06/sensasi-berburu-bts-meal.html)


- Chitato Rasa Mi Goreng dan Sensasi yang Bikin Ketagihan (http://www.roelly87.com/2016/03/chitato-rasa-mi-goreng-dan-sensasi-yang.html)




















...


Rabu, 17 Januari 2024

Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama

 Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama

Jose Mourinho melambaikan tangan 
kepada fan AS Roma
(Foto: IG @josemourinho)


AKHIRNYA, hari penantian itu tiba. AS Roma resmi memecat Jose Mourinho.

Keputusan yang diumumkan Selasa (16/1) itu memang mengundang pro dan kontra. Banyak yang setuju.

Pada saat yang sama, tidak sedikit menolak. Saya termasuk yang kecewa.

Serius?

Yoi.

Saya merupakan Juventini alias fan Juventus sejak 1994. Namun, saya juga penggemar sepak bola yang bebas.

Apa pun itu. Baik klub, tim nasional (timnas), pemain, hingga pelatih.

Nah, saya mengidolai Mourinho sejak 2004 silam. Tepatnya, saat pria asal Portugal ini menangani Chelsea.

Ketika itu, Mou baru saja membawa Porto juara Liga Champions. Tanpa ragu, pria kelahiran 26 Januari 1963 ini menahbiskan sebagai "The Special One".

Mulut besarnya terbukti. Mourinho sukses menghapus dahaga Chelsea di Premier League dengan juara beruntun 2004/05 dan 2005/06.

Sisanya, adalah sejarah.

Btw, kemarin berita pemecatan Mourinho membuat media sosial (medsos) jadi ramai. Bahkan mampu melewati info copras-capres.

Hanya di bawah berita timnas Indonesia dan Piala Asia 2023. Kekalahan dari Irak memang kontroversial sih.

Semoga Garuda segera bangkit. Berharap bisa meraih kemenangan pada dua laga selanjutnya di fase grup kontra Jepang dan Vietnam.

Aamiin...

*       *       *

LANJUT ke Mourinho. Saya ogah menulis terkait pemecatan karena sudah ramai di media, baik nasional dan luar.

Yang menarik soal gaungnya di medsos. Terutama di X (twitter).

Sahut-sahutan antarfan dari penjuru dunia pun ramai. Padahal Roma bukan klub raksasa.

Di Italia saja, "I Giallorossi" hanya cukup masuk tujuh besar. Di bawah Juventus, AC Milan, FC Internazionale, Napoli, Lazio, dan Fiorentina.

Eh, jadi inget Il Sette Magnifico alias tujuh tim terkuat Serie A pada 1990-an. Hanya, ketika itu Parma yang menggantikan posisi Napoli.

Dah, lanjut.

Yang membuat Roma ramai diperbincangkan karena faktor Mourinho. Suka tidak suka, justru keberadaan mantan penerjemah Sir Bobby Robson tersebut sangat menentukan.

Saya aja yang Juventini kerap bela-belain nonton pertandingan yang melibatkan Roma. Bahkan, rutin komentar di beberapa komunitas grup Facebook antarfan "Serigala Ibukota".

Sesuatu hal yang jarang terjadi pada klub lain. Kebetulan, selain Juve, saya juga mengikuti grup Inter, Milan, Perugia, Manchester United, Chelsea, Real Madrid, Real Zaragoza, dan Tottenham Hotspur.

Eh, serius dengan nama terakhir? Yupz.

Mou pernah menangani Hotspur. Meski, perjalanannya ya begitu.

Ha... Ha... Ha...

Dah cukup mukadimahnya. Kini, lanjut terkait Mou.

Bagi saya, sejak kemarin, Roma tidak lagi sama. Tentu, saya tetap menyimak perkembangan Il Lupi.

Hanya, tidak lagi intens seperti saat masih ditangani Mourinho. Saya yakin, pemikiran ini juga dialami segenap tifosi lainnya.

Sebab, yang saya tahu, mayoritas penggemar baru Roma berkat keberadaan Mou. Itu fakta.

Begitu juga dengan pemain. Saya ragu Paulo Dybala dan bintang lainnya bakal bertahan musim depan tanpa kehadiran Mou.

Kemungkinan, akhir musim bakal pada eksodus. Kecuali, jika manajemen Roma mampu memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak mereka.

Berharap aja Presiden Roma Dan Friedkin seperti Vito Corleone...

Eh salah. Yang bener, Florentino Perez, Roman Abramovich, Massimo Moratti, hingga almarhum Silvio Berlusconi. 

Keempatnya merupakan pemilik klub yang enteng mengeluarkan dana demi membangun skuat terbaik. Sementara, Friedkin? 

Ya... 

Gitu!

Patut ditunggu langkah Il Gialorossi dengan nakhoda anyar. Saya berharap tanpa Mou pun, Roma bisa berbicara banyak di Serie A dan Liga Europa.

Harapan dari seorang Juventini yang merupakan fan Mourinho.

Terus, bagaimana dengan langkah Mou selanjutnya?

Entahlah. 

Ada rumor, Mou bakal ke Arab Saudi. Tawaran gaji yang sangat besar tentu begitu menggoda.

Apalagi, Mourinho sudah kepala enam. Usia yang cukup untuk menyudahi petualangan di level klub Eropa dengan gelimang gelar.

Atau, bisa jadi Mou bakal menakhodai negaranya? Itu tergantung hasil Portugal di bawah asuhan Roberto Martinez pada Piala Eropa 2024 di Jerman nanti.

Apa pun itu, saya selalu mendukung klub atau timnas yang dilatih Mou.

Grazie, Mou!***

*       *       *

- Jakarta, 17 Januari 2023


*       *       *

Artikel Terkait:








Minggu, 14 Januari 2024

Stik Kentang Terlezat di Jakarta

Stik Kentang Terlezat di Jakarta

Ilustrasi stik kentang di Stasiun Tebet
(Foto: @roelly87)

STIK kentang goreng termasuk cemilan yang paling banyak tersebar di Jakarta. Harganya murah meriah.

Mulai dari Rp 5.000 per bungkus. Kemasannya simpel.

Hanya dibungkus plastik. Plus tusuk lidi.

Beda dulu ketika saya masih kecil pada 1990-an. Biasanya stik kentang hanya tersedia di beberapa restoran ternama seperti M*D, KF*, A*W, CF*, Tex*s, dan sebagainya.

Memasuki pergantian milenium sudah bisa beli yang frozen. Tinggal digoreng sendiri. Harganya pun ketika itu cukup terjangkau.

Lanjut, kini stik kentang sebungkus berisi belasan hingga puluhan kentang. Bentuknya macam-macam.

Mayoritas vertikal, ya namanya juga stik. Namun, ada juga yang gepeng atau cenderung bulat.

Apa pun itu, sah-sah aja. Tergantung yang jual.

Yang pasti, sebungkus berisi belasan hingga puluhan stik. Ditambah bumbu bubuk.

Entah itu pedas, asin, atau manis. Untuk saos, opsional.

Tergantung penjualnya. Ada beberapa yang menyediakan, beberapa ga. Alias cukup bumbu bubuk.

Yang pasti, bagi saya pribadi, stik kentang merupakan cemilan idaman. Hanya dengan mengeluarkan Rp 5.000, cukup untuk menangsal perut.

Tentu, stik kentang ga bikin kenyang. Wajar saja, mengingat itu sekadar cemilan.

Kalo mau kenyang ya makan nasi. Bisa di Warung Tegal (Warteg), Padang, Sunda, dan sebagainya.

Kebetulan, sebagai ojek online (ojol), saya sering membeli stik kentang. Selain harganya murah, pedasnya nampol, juga tersebar luas di penjuru ibu kota.

Ya, hampir seluruh stik kentang yang dijual di Jakarta sudah saya coba. Lima di antaranya:

1. Tiangseng, Jakarta Pusat
2. Stasiun Cawang, Jakarta Selatan
3. Gang Kancil, Jakarta Barat
4. Turunan Darussalam, Jakarta Selatan
5. Stasiun Tebet, Jakarta Selatan

Yupz, mayoritas di Jakarta Selatan (Jaksel) dengan tiga penjual. Sisanya, Pusat dan Barat.

Bagaimana dengan dua wilayah lainnya?

Utara? Biasa aja. Ada di Tanah Merah dan Teluk Gong, yang sama-sama di Kecamatan Penjaringan.

Timur? Pernah coba di Kawasan BKT, Pulo Gadung, dan Condet.

Hanya, sejauh ini standar. Enak tapi ga berkesan.

Ya, namanya juga selera. Apa pun itu, pasti subjektif.

*       *       *

TERKAIT penjelasan stik kentang favorit di lima lokasi tersebut, adalah:

1. Tiangseng, Jakarta Pusat

Lokasi: di Kawasan Mangga Dua, perbatan antara Jakarta Pusat dengan Barat. Tepatnya, di pasar kaki lima seberang Stasiun Jayakarta.

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus.

Rasa: Paling enak se-Jakarta. Apalagi kalo garing baru digoreng. Kriuk-kriuknya teopebegete.

Kelebihan: Ada saosnya.

Kekurangan: Kalo Sabtu dan Minggu malam, susah aksesnya akibat jalanan penuh.


2. Stasiun Cawang, Jakarta Selatan

Lokasi: Persis depan Stasiun Cawang yang jadi favorit Anak Kereta (Anker).

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus

Rasa: Sangat enak. Biarpun lembek kalo belinya udah lama, tidak bau amis

Kelebihan: Ada saosnya.

Kekurangan: Kalo jam sibuk atau pulang kerja, susah akses. Kehalang parkiran motor dan ojol. Ha ha ha.



3. Gang Kancil, Jakarta Barat

Lokasi: Jalan Keamanan, belakang Mall Paragon

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus

Rasa: Mungkin ini stik kentang pertama yang saya beli sejak ngojol. Porsinya banyak banget. Murah meriah. He he he

Kelebihan: Akses cukup. Komposisi pas. Isinya melimpah sampe tumpah

Kekurangan: Ga ada


4. Turunan Darussalam, Jakarta Selatan

Lokasi: Samping Kuningan City, Jalan Dr. Satrio

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus
Rasa: Enaklah. Ada saosnya. Bentuknya agak gepeng atau bulat ga mirip stik. Tapi tetep kentang goreng. Ha ha ha

Kelebihan: Enak

Kekurangan: Macet kalo jam sibuk di Jalan Dr. Satrio.


5. Stasiun Tebet, Jakarta Selatan

Lokasi: Depan Stasiun Tebet, pintu barat

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus

Rasa: Cukup enak

Kelebihan: Enaklah

Kekurangan: Ga ada. Akses gampang, ga jauh dari tikungan.


*       *       *

NAH, demikian catatan saya tentang stik kentang terlezat di ibu kota. Next saya akan tulis cemilan lainnya.

Misalnya, stik ayam di Cengkareng. Harganya mulai Rp 10.000 dengan saos tomat, keju, bbq, hingga mozzarella...

Mantul!

Untuk chiki, juga banyak. Maklum, sebagai ojol, tentu saya butuh cemilan setelah makan berat dan kopi untuk mendongkrak semangat dalam perjalanan.



*       *       *

- Jakarta, 14 Januari 2023



*       *       *



Artikel Kuliner Sebelumnya:

- Menikmati Sensasi Sop Durian buatan Annisa (http://www.roelly87.com/2016/01/menikmati-sop-durian-buatan-annisa.html)

- Bernostalgia dengan Legitnya Ketan Durian Khas Sumatera Barat (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f4acd7745513792b6c8cf9/bernostalgia-dengan-legitnya-ketan-durian-khas-sumatera-barat?page=all#section2)

- Menikmati Nasi Kucing di Sudut Utara Ibukota (https://www.kompasiana.com/roelly87/551075e9a333111c37ba86eb/menikmati-nasi-kucing-di-sudut-utara-ibukota)

- Menikmati Jajanan di Bursa Kue Subuh, Pasar Senen (https://www.kompasiana.com/roelly87/552b035bf17e614660d623b6/menikmati-jajanan-di-bursa-kue-subuh-pasar-senen)

- Sensasi Berburu BTS Meal (http://www.roelly87.com/2021/06/sensasi-berburu-bts-meal.html)

- Chitato Rasa Mi Goreng dan Sensasi yang Bikin Ketagihan (http://www.roelly87.com/2016/03/chitato-rasa-mi-goreng-dan-sensasi-yang.html)





Senin, 08 Januari 2024

Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran, dan Tindakannya

Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran, dan Tindakannya

Ilustrasi bayangan (@roelly87)



DEBAT ketiga calon presiden (capres) 2024, telah rampung, kemarin. Tepatnya, berlangsung di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (7/1).

Bagi saya pribadi, tema debat ini menarik. Yaitu, Pertahanan dan Keamanan, Hubungan Internasional dan Globalisasi, serta Geopolitik dan Politik Luar Negeri.

Sebagai penggemar Prabowo Subianto, tentu saya berharap debat ketiga ini jadi panggungnya. Maklum, pada edisi perdana, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini tampil di bawah performa.

Tepatnya, dihajar habis-habisan oleh dua rivalnya, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Selengkapnya, ada dalam artikel saya 13 Desember lalu berjudul Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik  (http://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-kembali-ke-setelan-pabrik.html).

Faktanya? Yeeeeeeeeeeeee.

Masih jauh api dari panggang!

Tapi, ya sudahlah. Memang kalo soal debat, Prabowo kurang mumpuni.

Btw, ini merupakan artikel perdana saya pada 2024. Keenam sih, jika menilik draft. 

Maklum, lima lainnya masih belum dipublish karena kesibukan sehari-hari sebagai ojek online (online). Eaaa!

Hanya, artikel ini bukan soal debat kemarin. Sudah basi.

Melainkan, terkait situasi Prabowo saat ini. Sosok yang digadang-gadang sebagai suksesor Presiden Joko Widodo (Jokowi).

*       *       *

CAO Cao hanya bisa menghela napas usai menaklukkan Kota Luo Yang, markas rivalnya, Yuan Shao. Ini saya kutip dari novel Roman Kisah Tiga Negara (Romance of the Three Kingdoms/ Sam Kok/ San Guo Yan Yi).

Bukan sekadar geregetan akibat lamanya durasi pertempuran yang tergolong melelahkan hingga menghabiskan mayoritas logistik. Khususnya, dalam "Battle of Guandu". 

Melainkan, akibat Cao Cao mengetahui beberapa bawahannya, seperti jenderal hingga penasihat, yang diketahui melakukan korespondensi dengan Yuan Shao.

Maklum, saat itu, posisi Yuan Shao jauh di atasnya. Kendati, Cao Cao memegang legitimasi Dinasti Han sebagai Perdana Menteri.

Namun, dari segi prajurit dan logistik, ketika itu Yuan Shao lebih unggul. Bahkan, Cao Cao nyaris enggan membuka konfrontasi dengan mengalihkan ke Selatan lebih dulu.

Hingga, akhirnya peperangan dahsyat itu pun terjadi. Selanjutnya, sejarah yang bicara.

Apa yang dilakukan Cao Cao ketika mengetahui bawahannya yang melakukan "hubungan gelap" dengan pihak Yuan Shao?

Mengeksekusi?

Babat rumput hingga akar-akarnya?

Mutasi ke daerah terpencil?

Ya... Salah!

Yang dilakukan Cao Cao adalah... Membakar seluruh surat-surat tersebut!

Yuppiii...

Semudah itukah tindakan dari Pendiri Negara Wei tersebut. Padahal, Cao Cao dikenal sebagai sosok yang biasa membunuh orang tanpa berkedip.

Namun, sosok bermarga asli Xiahou itu punya sisi lain yang positif. Selain meritokrasi juga bijaksana.

Cao Cao bergeming dengan keadaan para bawahan yang kemungkinan bakal membelot. Sebaliknya, dia justru menutupi agar pasukannya tidak tahu.

Sebab, jika tersebar bakal menurunkan moral prajurit. Sementara, Cao Cao sedang bersiap untuk invasi ke selatan demi menyatukan Cina.

Nah, apa korelasinya dengan Prabowo?

Ga ada!

Iseng aja mengaitkannya kejadian dua milenium tersebut dengan kondisi sekarang. Btw, saya pernah mencuit di X twitter pada 22 September lalu terkait tiga capres, yaitu:

"Keberadaan 3 Bakal Calon Presiden 2024 jadi inget Kisah Tiga Negara (Samkok/Romance of the Three Kingdoms).

Liu Bei: Prabowo

Cao Cao: Ganjar

Sun Quan: Anies 

Di antara ketiga tokoh ini, siapakah yang akan dapat MANDAT LANGIT?

Atau, NEXT jangan2 muncul sosok seperti Sima Yi?!"

*       *       *

PILPRES 2024 berlangsung kurang dari sebulan lagi. Di antara tiga capres, sudah pasti Prabowo yang disorot.

Maklum, ini merupakan edisi ketiganya sejak 2014 dan 2019. Sementara, pada 2009, Prabowo sebagai calon wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri.

Berdasarkan analisis sotoy saya, detik-detik jelang pencoblosan 14 Februari nanti jadi yang paling mendebarkan bagi Prabowo. Maklum, pilpres ini merupakan palagan pamungkasnya.

Saya enggan menyematkan frasa "terakhir". Sebab, jika tahun ini kalah, Prabowo masih bisa ikut kompetisi pada 2029 mendatang. 

Namun, situasi nanti sangat berbeda. Tidak ada dukungan besar-besaran dari partai politik dan relawan seperti sekarang.

Kelak, lima tahun mendatang, sulit bagi Prabowo untuk mengejar presiden incumbent. Bisa Anies atau Ganjar.

Alhasil, 2024 ini jadi palagan pamungkasnya. Jika menang, Prabowo punya kans besar lanjut pada 2029.

Andai kalah, kemungkinan bakal pensiun setelah merampungkan jabatan Menteri Pertahanan. Bisa jadi, Prabowo akan bertani, berkebun, atau berkuda, mengisi hari-hari nanti.

Itu mengapa, putra dari Begawan Ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo ini harus memaksimalkan kesempatan 2024. Dukungan banyak partai besar, relawan, hingga langsung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) jadi amunisi tambahan.

Tak heran jika berbagai survei menempatkan Prabowo selalu di posisi puncak. Jauh meninggalkan Anies dan Ganjar yang saling tikung.

Namun, ini juga bak dua sisi mata uang. Selalu ada harga mahal yang harus dibayar dalam mendapatkan dukungan tersebut.

Sebagai penggemarnya, saya berusaha menyelami apa yang dirasakan Prabowo sekarang.

Gamang.

Yupz... Serius.

Prabowo sekarang bergulat dengan perang batinnya. Antara meneruskan egonya yang memang sangat tinggi atau berusaha menginjak bumi.

Menurut saya, Prabowo merupakan sosok yang Megalomania. Jujur, saya harus menyematkan kata tersebut.

Faktanya, beragam survei tinggi itu bukan karena dirinya saja. Melainkan, faktor Jokowi.

Ya, keberadaan Gibran Rakabuming Raka yang merupakan putranya membuat Jokowi berusaha untuk memenangkan Prabowo. Itu harga mati.

Aliran darah tidak bisa dibohongi. Meski, Jokowi berkali-kali menegaskan netral dengan mendukung seluruh capres.

Fakta di lapangan? Tidak perlu jadi genius seperti Albert Einstein untuk mengetahui kondisi saat ini.

Di satu sisi, dukungan dari Jokowi itu jadi beban bagi Prabowo. Khususnya, slogan keberlanjutan yang digaungkannya.

*       *       *

MENURUT saya, Prabowo bakal merasa, jika menang ini berkat campur tangan Jokowi. Tentu, dia harus "membayarnya" nanti dengan harga yang tidak murah.

Sudah pasti, Jokowi tidak meminta apa pun. Saya percaya itu. 100 persen.

Sebab, usai purna tugas sebagai presiden, Jokowi berkali-kali menegaskan bakal kembali ke Solo. Kumpul dengan keluarga sekaligus mengasuh cucu.

Apalagi, keberadaan Gibran sebagai RI 2, sudah cukup membuat Jokowi bangga. Tidak ada lagi keinginan lainnya.

Hanya, Prabowo tentu ingin membayar lunas kepercayaan tersebut. Gengsi baginya, jika tidak memberikan sesuatu kepada Jokowi.

Terlebih, Prabowo merupakan sosok yang selalu menepati janji. Sekaligus tidak enakan kepada orang lain.

Apakah itu?

Entahlah. Yang pasti, tidak ada makan malam gratis.

Selain itu, Prabowo juga harus membayar kepercayaan kepada partai, relawan, dan berbagai pihak yang mendukungnya. Kecuali Gerindra, tentu beberapa partai besar pada minta jatah di kabinet.

Golkar sudah pasti. Maklum, partai kuning ini sudah mendukung Prabowo sejak 2014 bersama Partai Amanat Nasional (PAN).

Apalagi, kedekatan personalnya dengan Aburizal Bakrie yang memimpin Golkar pada 2009-2014. Sebagai individu yang tidak pernah lupa sahabat, tentu Prabowo akan memberikan kue yang terlezat.

Pun demikian dengan relawan. Khususnya, yang pindah haluan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yaitu, Budiman Sudjatmiko dan Maruarar Sirait.

Saya berani bertaruh, Prabowo bakal memberi kue spesial kepada keduanya. Menteri?

Sudah pasti.

Ga mungkin sekelas Budiman atau Ara, hanya diberi jatah wamen. Apalagi, sekedar jabatan di BUMN seperti komisaris atau direksi.

No!

Hanya, ini juga jadi dilema. Sebab, bakal menimbulkan kecemburuan internal.

Jangan lupakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kadernya mati-matian membela setelah dulu sempat mencela. 180 derajat.

Runyam euy!

Namun, ya terserah. Itu urusan Prabowo.

Saya ogah menyelaminya.

Yang pasti, terkait kegamangan. Jika jadi Prabowo, tentu saya sadar diri.

Usia sudah kepala tujuh. Tepatnya, 72 tahun.

Tentu saja kita paham, bahwa, rezeki, jodoh, dan ajal, di tangan Tuhan. Andai menang 14 Februari mendatang, ada kesempatan bagi Prabowo untuk melanjutkannya pada 2029.

Jika tidak?

Ini hanya andai-andai. Namun, jika (lagi) saya sebagai Prabowo, tentu saya sudah menyiapkan berbagai rencana.

Plan A, B, C, hingga Z!

Yaitu, menjadikan Gibran sebagai penggantinya... Diikuti Agus Harimurti Yudhoyono.

Serius?

Sekali lagi, ini hanya andai-andai.

Namun, beralasan. 

Jika Prabowo merasa fisiknya tak sanggup karena faktor usia, maka Gibran yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan.

Rencana ini gampang dibaca.

Apalagi, kalau mencermati kepribadian Prabowo yang sangat menjunjung sikap ksatria. Tentu, doi sangat legawa memberi mandat kepada Gibran.

Sekaligus, balas jasa terhadap Jokowi yang dalam lima tahun ini sangat membantunya. Termasuk, usai debat yang justru sibuk wara-wiri adalah presiden.

Ya, bahkan Jokowi sampai pasang badan menanggapi tudingan Anies dan Ganjar. Sumpah, pilpres 2024 ini paling kompleks yang pernah saya ikuti.

He he he.

Saya mencoba menyelami perasaan Prabowo dari lubuk hatinya yang terdalam. Hanya, interpretasi setiap orang tentu berbeda.

Ada "garis batas" yang tidak bisa diungkapkan. Ya, lebih baik saya T2P2T2 alias TTPPTT.

Tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Bahkan, saya percaya, mayoritas masyarakat, khususnya pembaca blog ini pun TST: Tahu sama tahu.

Ah... Sungguh, saya berharap Prabowo bisa menaklukkan palagan pamungkas di Pilpres 2024.

*       *       *

SELANJUTNYA, bagaimana?

Jika terpilih jadi presiden, apa yang akan dilakukan Prabowo?

Terus, begini aja?

*       *       *

- Jakarta, 8 Januari 2024

*       *       *


Artikel Sebelumnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing






.