TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2021

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 16 September 2021

Ada AstraPay di Balik Solusi Pembayaran Digital yang Terpercaya

Ada AstraPay di Balik Solusi Pembayaran Digital yang Terpercaya


Sesi webinar AstraPay
yang saya ikuti disela-sela
kegiatan sebagai ojol


PADA era digital saat ini, nyaris semua ingin dimudahkan. Salah satunya, terkait pembayaran untuk kebutuhan sehari-hari. 

Kita, jadi tidak perlu bawa uang banyak untuk melakukan transaksi. Misalnya, bayar listrik, transportasi, pulsa, makanan, dan sebagainya. 

Kemudahan ini sudah saya nikmati dalam beberapa tahun terakhir lewat berbagai platform. Kini, bertambah seiring kehadiran AstraPay.

Eiiit... Apa itu AstraPay?

*     *     *

SIANG itu, langit ibu kota tampak cerah. Cuaca bagus ini sayang untuk saya lewatkan demi mencari nafkah menyusuri jalan demi jalan sebagai ojol (ojek online). 

Maklum, malamnya hujan cukup deras yang merata di berbagai wilayah ibu kota hingga memaksa saya menyudahi petualangan seperti biasa. Sisi positifnya, saya bisa bangun lebih awal. 

Ya, sekitar pukul 10.00 WIB. Biasanya, jam segitu sedang enak-enaknya berlayar di pulau kapuk hingga terjaga sore untuk kembali bertualang sebagai ojol di sekitar perbatasan barat ibu kota. 

Setelah target untuk tupo (tutup poin) tercapai, saya pun mencari tempat untuk bersandar. Sambil mereguk kenikmatan dari segelas es kopyor di di pinggir kali pada jalan yang namanya diabadikan dari sosok pahlawan yang meninggal muda pada masa kemerdekaan.

Sambil tetap menyalakan aplikasi ojol, saya iseng buka media sosial. Salah satunya, ada tautan diskusi terkait e-money milik Grup Astra

Ya, salah satu perusahaan terbesar di Tanah Air ini melaksanakan grand launching pada Rabu (15/9) pukul 13.00 WIB. Kebetulan, saya yang juga sebagai blogger tidak asing dengan Astra.

Sebab, saya kerap mengikuti berbagai acara yang mereka diselenggarakan. Baik offline sejak 2016 hingga online pada pandemi ini. 

Itu mengapa, saya pun tertarik ketika mengetahui peluncuran resmi AstraPay. Maklum, sebelumnya saya sempat menilai Astra termasuk terlambat dalam mengeluarkan produk tersebut.

Sebab, pembayaran digital di Tanah Air telah beredar dalam satu dekade terakhir. Beberapa di antaranya sudah saya gunakan lewat berbagai platform.

Nah, untuk AstraPay ini, jelas saja belum. Saya pun penasaran untuk mengetahui lebih lanjut. 

Yupz, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Termasuk, yang dilakukan Astra lewat anak usahanya, PT. Astra Digital Arta, yang meluncurkan AstraPay.

Maklum, Indonesia memiliki penduduk yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa. Jika 50 persen di antaranya memiliki smartphone dan terbiasa dengan pembayaran digital untuk keperluan sehari-hari, bisa dibayangkan betapa menggiurkan pangsa domestik ini.

Fakta itu diakui Director-In-Charge Astra Financial, Transportation, and Logistic Suparno Djasmin dalam tanya jawab via online. Kebetulan, saya turut menyimak diskusi secara virtual bersama ratusan rekan blogger dan jurnalis di Tanah Air.

"Kehadiran AstraPay melengkapi pilihan di industri pembayaran digital sebagai mitra terpercaya yang solutif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia. Kami meyakini keberadaan AstraPay dapat meningkatkan kenyamanan konsumen Indonesia saat melakukan pembayaran digital yang tentunya akan berkontribusi positif terhadap Gerakan Nasional Non-Tunai dari Bank Indonesia,” ujar Djasmin.

Ya, saya setuju dengan pernyataan tersebut. Kehadiran AstraPay akan menambah pilihan bagi saya dalam melakukan transaksi digital sehari-hari yang saling berkaitan.

Maklum, Astra memiliki tujuh unit usaha yang melayani kebutuhan masyarakat, baik domestik maupun internasional. Itu meliputi:

1. Otomotif
2. Jasa Keuangan
3.Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi
4. Agribisnis
5. Infrastruktur dan Logistik
6. Teknologi Informasi
7. Properti

Nah, saya sering berkaitan dengan sektor otomotif. Sebab, sepeda motor yang jadi andalan dalam ojol, merupakan keluaran Astra, yaitu Honda Vario. 

Sudah pasti, AstraPay bakal memudahkan saya dalam bertransaksi. Misal, bayar cicilan bulanan, asuransi, hingga ke bengkel, baik untuk servis maupun beli sparepart.

Ya, AstraPay memang terintegrasi dengan ekosistem Astra. Dengan reputasi grup usaha berskala internasional yang didirikan sejak 1957 inilah membuat saya sangat percaya penuh.

"Ini sesuai dengan tujuan awal. AstraPay merupakan aplikasi pembayaran digital milik Grup Astra yang memberikan kemudahan terhadap pengguna," CEO AstraPay Meliza Musa Rusli, menjelaskan, dalam webinar.

Selain terhubung dengan ekosistem Grup Astra, pengguna AstraPay juga terintegrasi dengan sistem pembayaran moda transportasi umum. Misalnya, jika saya ingin bepergian naik MRT Jakarta dan TransJakarta, cukup membayarnya dengan aplikasi AstraPay saja.

Pun demikian terkait keperluan di rumah. AstraPay bisa digunakan untuk membayar tagihan listrik, PDAM, tv kabel, BPJS, pajak, hingga beli pulsa dan paket data.

Bahkan, yang saya tangkap saat menyimak webinar tersebut, AstraPay bisa digunakan untuk transaksi berbagai produk dan keperluan secara mobile lewat QRIS yang lisensi penggunaan sudah dimiliki sejak 2020. Sekadar info, saat ini ada 9 juta merchant di Tanah Air yang telah menerima pembayaran melalui QRIS.

Alhasil, cukup satu aplikasi, AstraPay, untuk semua!

Saya siap menikmati kemudahan dari AstraPay. Bagaimana, dengan Anda?

*     *     *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:

#FaktaMenarik: Untuk memastikan keamanan dalam bertransaksi, AstraPay sudah dilengkapi single device authentication. Yaitu, sistem yang memungkinkan pengguna untuk login akun hanya pada satu device saja.

*     *     *

- Jakarta, 16 September 2021

Rabu, 30 Juni 2021

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung


KHUSUS DEWASA! (Usia, Pikiran, dan Pemahaman)



Catatan Harian Ojol IV:

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung

Ilustrasi Tugu Selamat Datang
(Foto: @roelly87)


HANYA lebaran yang mampu mengatasi kemacetan di ibu kota. Demikian, celotehan di berbagai media sosial bernada sarkas yang selalu muncul setiap tahun. Tidak peduli siapa pun gubernurnya atau apa kebijakannya, mudik jadi momentum yang membuat mayoritas jalan di Jakarta jadi lenggang.

Termasuk, saat ini pada H+2 Idul Fitri. Sejak Kebagusan, Jakarta Selatan, hingga memasuki Sudirman, tampak suasana sangat sepi. 

Padahal, masih tergolong sore, tepatnya pukul 22.00 WIB. Namun, sepanjang jalan yang gw lewati hanya berpapasan satu atau dua kendaraan.

Itu yang gw rasakan usai menemani Dewi yang berlebaran ke keluarga, kerabat, dan teman-temannya sejak pagi. Alhasil, gw pun ogah untuk ngojol setelah mengantarkannya ke kostan di Tanjung Duren.

Sempat gw lihat di aplikasi, merah semua. Alias, orderan melimpah untuk food dan penumpang. Hanya, gw ga antusias mengingat badan pegal-pegal akibat seharian keliling dengan Dewi di motor.

Pengen banget, sampe rumah selonjoran dan tidur. Besok siang, baru ngojol lagi. 

Pun demikian dengan ajakan Irawan yang ingin berlebaran ke rumah gw bersama Setyawati, istri dan anaknya. Gw chat di WA bahwa gw baru balik dari Selatan.

Gw memang lumayan dekat dengan pasangan muda tersebut. Sempat jadi rival saat berseragam putih abu-abu, Irawan kini jadi salah satu sohib gw.

Demikian dengan Setya yang dulu satu angkatan. Bahkan, sama-sama di kelas satu dan dua. Saat kelas tiga, baru beda. Gw masuk IPS dan Setya IPA.

Secara tidak langsung, gw juga yang menjodohkan mereka. Anjir, udah kayak mak comblang.

Berawal dari pertemuan di puncak Mahameru, dua windu silam. Gw bareng teman-teman kerja mengisi liburan. 

Sementara, Irawan bersama anak-anak kampusnya di bilangan Grogol. Setya? Memang sejak SMA dikenal pencinta alam yang pas masuk UI jadi anggota Mapala.

Karena sudah setahun ga ketemu sejak lulus 2004, gw pun barengan dengan Setyawati. Sebelumnya, saat sekolah memang lumayan akrab. 

Setya salah satu gadis pujaan. Cantik, pintar, dan ramah. Meski, gw sama sekali ga tertarik dengannya. Kecuali saat nyontek untuk mengerjakan PR atau ujian caturwulan. 

Maklum, status sebagai salah satu SMA elite di jantung ibu kota membuat sekolah gw dihuni banyak bidadari. Termasuk, jadian dengan Btari Dremi, salah satu sohib Setya.

Di puncak tertinggi Jawa itu, gw ga tahu kalo Irawan ternyata sangat memperhatikan Setya. Itu diketahui enam tahun berselang saat gw ada event dengannya.

Ternyata, Irawan masih kepo dengan Setya. Sampai mancing-mancing dengan nanya secara langsung hubungan gw dengan Setya.

Tentu, gw jawab sebatas teman. Ga lebih.

Bahkan, gw beritahu bahwa Setya dalam posisi jomblo usai baru putus dengan teman kuliahnya. Itu yang membuat Irawan kian bersemangat untuk meminta pin.

Gw yang seumur-umur ga pake bb akhirnya hanya memberi nomor ponsel Setya. Sambil gw kasih pencerahan, cara menangkap ular itu dengan memegang kepalanya, bukan badan atau ekor.

Alias, Irawan wajib bisa menaklukkan hati orangtua Setya. Maklum, bokapnya Setya yang masih keturunan Yaman merupakan diplomat. Sedangkan nyokapnya Sunda tulen, asal Sukabumi.

Sepengetahuan gw, setiap cowo yang ingin mendekati Setya harus khatam Al Quran. Alias, wajib bisa ngaji. Syukur-syukur jebolan pesantren. Itu aturan tak tertulis di keluarga Setya sejak SMA.

Lah, Irawan meski asli Betawi, Condet, boro-boro bisa khatam. Ngaji di juz ama aja masih belepotan. Ya, 11-12 dengan gw sih. Bedanya, gw bisa baca Quran meski sekadar baru bisa baca. Alias, jika menghafal di luar kepala hingga 30 juz, jelas gw nyerah.

Yang menarik, setelah setahun berjuang mati-matian mendekati orangtua Setya dan belajar ngaji, akhirnya Irawan berhasil. Mereka jadian tiga tahun dengan mengucap janji jelang final Piala Dunia 2014.

*        *        *

Mimpi pun aku tak ingin jauh darimu

Apa lagi kalau sampai berpisah

Selama-lamanya ku ingin dekat denganmu

Aku ingin miliki dirimu


Anjir... Malem begini ada pengamen yang bawain lagu jadul!

Gw ingat, ini tembang khas Desy Ratnasari yang timeless meski populer pada 1990-an. Ga nyangka juga, pengamen wanita remaja ini mampu membawakannya secara epik.

Sekaligus, mengingatkan gw pada pertemuan barusan dengan Dewi yang sampe seharian. Karena lagunya relate dengan situasi terkini, tanpa ragu gw merogoh selembar 10 ribu kepada pengamen di lampu merah Grogol ini.

Di perjalanan, lirik yang populer pada dekade 1990-an itu seperti nyemen di kepala gw. Kebetulan, jalanan agak lenggang karena masih suasana lebaran. Jadi, gw ga mokal saat bersenandung dari atas matic.

"Tolong... Tolong..."

Sayup-sayup terdengar teriakan di belakang gw saat melewati jalan yang menghubungkan ibu kota dengan Tangerang. Tepatnya, di pinggir sungai yang berjarak sekitar belasan meter.

Feeling gw langsung ga enak. Namun, sebagai orang yang setiap hari berada di jalan membuat gw merasa harus balik mengikuti suara tersebut. Gw pun putar arah untuk menuju suara yang terdengar teriakan itu. 

Tak lupa, sambil meningkatkan kewaspadaan. Terutama, menyimak spion di kanan dan kiri untuk mengantisipasi hal tak terduga dari arah belakang. Ini gw belajar dari pengalanan Irawan yang telah bertemu dengan begal berjumlah tiga orang.

"Bang, tolongin gw. Ayo bang, berangkat," ujar wanita yang gw taksir usianya sekitar 20an ini. Dari belakangnya tampak dua pria muda. Ya, mungkin abg sedang mengejar.

"Ada apa ini kak?" tanya gw kepada wanita yang tiba-tiba sudah berada di jok. 

"Ayo bang, pergi. Gw dikejar dua bangsat itu."

"Woi, jangan kabur lo!" ujar salah satu remaja berkaos putih sambil menenteng sandal jepit.

"Lo udah gw bayar. Kontan. Jadi, jangan seenaknya cabut," sambar yang di sebelahnya yang mengenakan flanel warna merah.

"Ga mau, anjing! Emang lo pikir, gw cewek apaan," sahut si cewek yang kini sudah turun dengan jarinya menunjuk ke arah kaos putih.

Nyaris aja gw tinggal karena gw pikir cewek ini sedang berantem dengan pacar atau suami dari salah satu cowo yang mengejarnya. Jujur, gw ogah ngurusin soal pribadi. Jadi, biar mereka sendiri yang menyelesaikan urusannya.

Namun, sepertinya tangan berat untuk menarik tuas gas. Yupz, ternyata...

"Eh lonte. Lo udah gw kasih serebu. Itu lebih tinggi dari tarif yang lo pasang di aplikasi, 300 ST," teriak si putih.

"Kan perjanjiannya sendiri. Lo kenapa ngajak dua orang lagi!" sahut si cewek.

"Serebu buat bertiga itu udah ketinggian. Masih mending lo ada yang mesen. Coba lo kerja jadi karyawan, sebulan paling cuma dapat tiga rebuan atau UMR," si merah menimpali.

Mendengar percakapan ketiganya membuat gw sedikit paham. Ternyata, ga jauh-jauh dari soal BO. Sebagai ojol, khususnya kalong, gw ga asing dengan beginian. Sebab, hampir tiap hari mengantar penumpang ke hotel, baik cwk atau cwk.

"Bang, yuk cabut. Tolong anterin gw ke kostan. Bisa gila gw ngadepin kedua bocah ini," kata si cewek.

"Eh tunggu dulu. Lo anggap gw patung apa?" bentak si putih.

"Iye lonte. Lanjutin dulu yang tadi. Tanggung nih. Si Burisrawa juga nungguin di kamar. Abis itu, lo boleh cabut. Ngejablay lagi kek, bodo amat. Yang penting, lanjutin. Pan gw udah patungan mahal," si merah, menambahkan.

"Najis gw. Seumur-umur, baru kali ini digangbang bertiga," tukas si cewek sambil kembali duduk di jok belakang.

"Udah bang, jangan dengerin dua dajal ini. Masih bocah udah lelaguan."

Hanya, ketika gw mau gas, si putih segera mengadang. Bahkan, si merah langsung melayangkan bogem mentah ke arah muka gw.

Refleks gw menunduk.

Dukkk!

Demikian bunyi benturan helm gw dengan kepalan si merah. 

"Anjing lo!" umpatnya.

Langsung, gw buka tali helm untuk mengarahkan ke mukanya. 

Bletak!

Tampak, dari sela-sela hidungnya keluar kecap. Helm ojol memang lumayan kokoh. Pas banget kalo bentrok dengan muka. 

Makan situ! Lo yang mulai. 

Gw pun turun dari motor dengan standar kiri. Tak lupa, kunci gw cabut untuk jaga-jaga jika si putih niat ngebegal atau bahkan si cewek bawa kabur. 

Ya, selalu ada kemungkinan buruk. Termasuk, jika si cewek ternyata bagian dari dua remaja itu. Konspirasi.

Gw genggam kerah si merah yang kian panik akibat tangannya memegangi hidung. Tanpa ampun, gw tarik rambutnya untuk dipertemukan dengan lutut gw. Sebagai finishing, gw layangkan tangan gw ke arah dagunya seperti Ryu dengan Hadouken dalam Street Fighter.

Si merah pun tumbang. Untung perasaan gw lagi bagus berkat seharian jalan dengan Dewi. Andai suasana hati gw lagi jelek, pasti si merah gw jadiin pelampiasan!

"Bang, lo apain temen gw?" kata si putih menghampiri.

"Temen lo yang mulai. Nyerang gw duluan. Ya, gw bales."

"Tapi, lo ga tahu masalahnya. Ujug-ujug langsung mukul."

"Lah, gw daritadi diem aje. Emang gw ikut campur urusan lo pada sama nih cewek? Nggak kan!"

"Ya udah, lo jangan ikut campur bang. Gw mau bawa si Dresna ke hotel lagi."

"Tadinya gw ga mau ikut campur. Tapi, kalo udah gini, terpaksa gw turun tangan. Lagian, lo ga malu apa, bertiga ngeroyok cewe?" 

"Kan gw udah bayar dia bang. Lo tanya aja sama si Dresna. Masa, gw bohong," tutur si putih sambil memapah temannya.

"Eh goblok. Biar kata dia jablay, lo ga pantes memperlakukannya seenak jidat lo. Gila kali ya, tiga lawan satu. Lo ga mikir dia trauma digarap rame-rame."

"Resiko itu bang. Namanya juga lonte. Kalo ga mau dapat duit banyak secara singkat, ya si Dresna jangan ngejablay."

"Eh anjing, kan perjanjian cuma lo doang sendiri. Ga tahunya di kamar udah nunggu dua temen lo yang maksa," si cewek yang ternyata bernama Dresna ini memotong.

"Gila kali ya kalo ada cewek yang mau digangbang kalian bertiga. Emang, ini ***** negara! Biar jablay, gw punya harga diri."

Gw pun coba nenangin Dresna yang terisak. Apa pun profesinya, sebagai sesama manusia, gw sangat simpati. Terlebih, sikap dua bocah ini bener-bener kelewatan.

"Ya udah, cukup di sini ya. Masalah selesai. Lo bawa temen lo, gw tolongin ini cewek. Tapi, kalo lo ga terima, gw punya banyak waktu buat ngeladenin lo," ujar gw sambil menatap si putih.

Dia hanya berbalik sambil memapah si merah. "Dasar lonte. Rugi gw udah bayar mahal."

Terdengar lirih sumpah serapahnya. Namun, gw ga ambil pusing. Yang penting, gw udah berusaha nyelametin si cewek. Minimal, menganternya ke tempat rame agar tidak dikejar dua bocah lagi.

"Bang, sorry ya udah ngerepotin lo. Kenalin, gw Dresnala Maharani," ujar si cewek sambil mengulurkan tangan.

"Ekalaya."

"Bang, tolong anter ke kostan Suryaloka, di Setiabudi, ya. Ntar gw bayar lebih. Tapi, ga apa-apa ya kalo ga pake aplikasi."

"Siap kak. Helm mohon dikunci dan jangan main hape ya. Rawan jambret jam segini."

"..."

*        *        *

HINGGA tigaperempat perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara kami. Dresna bergeming di jok belakang. 

Ada jarak belasan senti yang memisahkannya dengan gw. Pun demikian dengan gw yang fokus mengendarai motor. 

Gw enggan nanya ini-itu kepada Dresna yang mungkin sedang tertekan batinnya. Apalagi, gw juga cukup lelah akibat seharian keliling bersama Dewi untuk berlebaran menemui keluarga dan teman-temannya.

Hik... Hik... Hik...

Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang sepertinya tertahan. Nyaris saja gw jantungan karena mengira itu suara miss kunti. 

Maklum, meski ga punya kelebihan terkait indra keenam, tapi gw sempat memiliki pengalaman mistis. Termasuk, saat ngojol dalam dua tahun ini. 

Salah satunya, di SPBU yang berlokasi di perbatasan. Bahkan, insiden ini tidak hanya menemui gw, melainkan juga tiga rekan sesama ojol di basecamp.

Beruntung, gw sadar bahwa suara tangisan itu dari penumpang di belakang. Refleks, gw melirik ke spion kiri, tampak Dresna sedang mengusap wajahnya sambil sesenggukan.

"Kenapa kak?"

"..."

"Mau ke warung dulu cari tisu atau air mineral buat cuci muka?"

"Ga apa-apa bang. Gw cuma kelilipan."

"Ok... Gw kirain lo nangis kenapa..."

Ketika melewati Tugu Selamat Datang, gw merasa ada tangan yang memeluk pinggang dengan erat. 100 persen gw yakin ini tangan Dresna. Alias, bukan ghaib! Maklum, suasana di bundaran air mancur berada tepat di jantung ibu kota. Jadi, suasananya asli dibanding saat gw singgah di SPBU.

"Bang, pelan-pelan ya."

"Iya kak. Pan daritadi juga kita jalannya pelan. Maklum, Jakarta masih kosong, banyak yang belum balik dari mudik."

"Bang, boleh nyari warung dulu? Gw mau makan bentar ya."

"Nasi atau apa?"

"Bubur kacang ijo aja bang. Atau yang kuah panas buat ngangetin badan."

"Okok. Di depan kayaknya ada warung burjo. Ntar gw berenti di sana."

"Lo temenin gw makan ya bang. Ntar gw bayarin. Ongkos beda lagi."

"Aman kak. Gw udah kenyang."

"Nasi mau?

"Udah kakak. Gw masih kenyang"

"Kopi ya?"

"Boleh, kebetulan kopi gw bawa dari siang udah abis," jawab gw yang teringat pada termos mini berlogo Asian Para Games 2018 yang merupakan pemberian saat ikut suatu acara.

Kebetulan gw selalu bawa termos mini ini. Sebelom berangkat ngojol, biasanya gw isi kopi hitam segelas di kostan. Ya, termos mini ini lumayan bisa tahan panas beberapa jam. Kalo kopinya habis, biasanya gw beli lagi di Starling yang segelas sangat murah, cuma tigarebu.

*        *        *

"BANG, lo ga jijik bareng gw? Maksudnya, nemenin gw ngemil ini," ujar Dresnala membuka percakapan.

Sontak, omongannya membuat gw bingung. 

"Emang kenape?"

"Kaga. Pan lo tahu soal gw. Apalagi, tadi tuh bocah udah bongkar jati diri gw sebagai..."

"Lo bukan pendosa," potong gw sebelum Dresna menyelesaikan omongannya. "Gw juga bukan orang suci. Bahkan, bisa jadi gw lebih kotor daripada lo. Jadi, ga usah bahas yang aneh-aneh..."

"Justru itu bang. Aneh aja gw dengan sikap lo yang biasa aja liat gw. Padahal, kalo orang tahu gw merupakan jablay, pandangannya langsung berubah. Apalagi, kalo yang mata keranjang. Tatapannya langsung ngarah ke toket gw yang emang lumayan gede dan langsung nawar untuk ngajak ngamar."

Usai menyendok bubur kacang ijo yang masih panas, Dresna melanjutkan, "Apa jangan-jangan lo ga normal bang? Secara, gw liat lo tadi sama sekali ga lirik gw. Bahkan, saat gw peluk di motor pun, lo dingin-dingin aja."

"Njir... Lo kira gw cowo apaan!" jawab gw tersenyum.

Dresnala pun tergelak, "Nah... Gitu dong, senyum. Gw perhatiin daritadi lo serius amat bawaannya. Bahkan, kayak ga ngeh dengan keberadaan gw. Gini-gini gw cewek lo."

"Lah, terus gw harus ngapain? Ngajak lo ngamar?"

"Ha ha ha. Maunya itu mah."

"Bercanda ya. Lagian gw ga ada duit. Ini aja gw belom narik udah dua hari."

"Iye, bang. Selow."

Sambil meletakkan sendok di pinggir mangkok, Dresnala melanjutkan.

"Sekali lagi, gw minta maaf ya. Udah ngerepotin lo sama dua bocah dan  nganterin."

"Aman. Kan gw juga ojol. Kebetulan, dari  tadi gw belom narik karena seharian pergi. Jadi, pas lo nawarin ngojek, ya oke aja. But, this is B to B. Bisnis ya. Not P to P, alias personal. Alasan tadi gw ngelerai lo dari tuh bocah karena kemanusiaan. Pas lo minta ngojek, gw ok. Bahkan, kalo lo ga ada duit pun tetep gw anterin. Jadi, woles aja."

"Iya bang. Gw paham. Tapi, balik lagi ke pertanyaan gw tadi. Lo ga berasa jijik?"

"Ga. Kan udah dibilang, gw ga peduli. Mau profesi lo apa, termasuk jika lo pejabat atau artis, kalo lo minta ngojek ya gw anter. Perkara gw nemenin lo makan bubur ya itu bagian dari pelayanan. Sebagai ojol, gw harus bisa ngasih servis terbaik. Sebelumnya, gw juga sering nungguin penumpang hingga satu jam lebih. Ga masalah, selama dia bayar dan bukan orderan fiktif."

"Lo keren bang. Mungkin, salah satu manusia terbaik yang gw kenal," tutur Dresnala sambil meminggirkan mangkok yang masih menyisakan sedikit bubur kacang ijo. Wanita dengan alis lentik itu mengambil korek gas gw untuk menyalakan rokok menthol.

"Yaelah, jangan pernah menilai seseorang dari luar. Lo baru kenal gw, ujug-ujug udah bilang baik. Lo salah. Setidaknya, hingga saat ini."

*        *        *

USAI mengantarkan Dresnala ke kostannya yang lumayan elite karena berada di kawasan strategis, gw pun balik. Sebenarnya, pengen narik mengingat gw bisa ngojol ngalong.

Namun, berhubung seharian sudah keliling, gw putuskan pulang. Lumayan juga, badan pada pegal. Meski, sangat senang bisa kembali bersama Dewi. Apalagi, momen bertemu Dresnala.

Sebagai ojol, gw sering mendapat customer dengan profesi seperti itu. Terlebih, waktu operasi gw dari sore hingga pagi. Jadi, tiap hari kerap bertemu dengan yang seperti itu.

Selama ini ga pernah ada masalah. Paling, jaket ojol gw beberapa kali kena muntahan akibat customer jackpot. Namun, itu wajar. Risiko ojol. Tak jarang, gw dapat tip yang sangat besar. Jauh melebihi ongkos sebenarnya. Ya, untuk melihat sesuatu, harus dari dua sisi.

Yang pasti, gw sempat kaget saat mendengar penuturan Dresna. Terutama, ketika kami melanjutkan perbincangan secara intensif di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. 

Sebelumnya, wanita asal kota di selatan pulau ini sempat menyinggungnya di warung burjo. Hanya, ketika itu sekadar kulitnya saja. Baru ketika di kostannya, gw khidmat mendengar ceriteranya.***



Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part V: Di-Ghosting Kang Parkir

- Part VI: Di Suatu Desa dengan Customer Random
- Part VII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VIII: Debt Collector Juga Manusia
- Part IX: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog


*Inspired by True Event

- Jakarta, 16 Mei 2021 (Edites 30/6)

Jumat, 25 Juni 2021

Nostalgia Asian Games 2018

Nostalgia Asian Games 2018

Album CD Asian Games 2018
(foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)



abis ngalong belom bisa tidur. nonton Loki, baru rilis eps 3. liat channel Video Legend belom update.


sambil beresin lemari nemu CD Asian Games 2018. mau dibuka sayang, masih segel. kenang-kenangan otentik yang belom tentu Indonesia jadi tuan rumah event besar lagi dalam 10 tahun ke depan.


sebenernya di youtube atau platform musik digital lainnya sudah ada track Asian Games 2018. tapi terasa beda dibanding dengerin via CD atau kaset. 


sama seperti baca buku, koran, majalah, dan lain2. lebih asyik secara fisik ketimbang digital via online atau pdf. ada sensasi tersendiri saat membolak-balikkan  halaman demi halaman. apalagi, saat mencium aroma kertas yang khas. feel itu ga bisa tergantikan dengan scroll di layar laptop atau hp...




#AsianGames2018

#AsianGames

- Jakarta, 25 Juni 2021

Minggu, 13 Juni 2021

Sensasi Berburu BTS Meal

Sensasi Berburu BTS Meal

Adik bungsu, Putry, bersama anak sepupu, Nadine, 
memamerkan beragam isi BTS Meal


RAME banget.

Gw antre dari jam 10 sampe 15 sore.

Alhamdulillah, ga sia-sia nunggu 2 jam. Dapat tip selembar merah dari customer.

*       *       *

DEMIKIAN komentar dari sesama driver ojek online (ojol) yang saya temui dalam tiga hari terakhir. Tepatnya, sejak McDonald's (McD) meluncurkan BTS Meal. Yaitu, cemilan yang bekerja sama dengan boyband asal Korea Selatan (Korsel), Bangtan Boys.

Di Tanah Air, paket makanan ringan ini diluncurkan pada Rabu (9/6) pukul 11.00 WIB. Antusiasme masyarakat, khususnya Army -julukan fan BTS- sangat luar biasa. 

Berbagai outlet McD di penjuru nusantara diserbu pengunjung. Sebab, untuk bisa mendapatkan BTS Meal ini, hanya bisa melalui drive thru alias pesan lewat kendaraan, McDelivery, dan aplikasi ojol meliputi GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood.

Nah, saat ngojek di suatu desa, sempat kepikiran beli untuk dibawa pulang ke rumah. Tepatnya, untuk adik bungsu yang ternyata sudah lama mengenal BTS.

Maklum, di kolong langit ini, siapa yang tidak tahu tentang Jungkook dan kawan-kawan? Tak heran jika McD turun gunung berkolaborasi dengan BTS untuk salah satu paket makanannya.

Hanya, keinginan saya untuk take away saat itu tidak tercapai. Sebab, untuk bisa antrean drive thru sudah mengular panjang.

"Sabtu aja ya Put. Ntar ko2 cari sampe ketemu."

Demikian pesan saya kepada adik bungsu di grup WA keluarga. 

Rencana saya itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, usai membludak antrean yang hingga viral se-Tanah Air, ternyata McD melakukan sistem buka tutup. Alias, pada hari kedua dan seterusnya, baik drive thru dan pesan lewat ojol dibatasi.

Hingga, kemarin subuh usai ngalong, saya pun berusaha mewujudkan keinginan sang bungsu. Kebetulan, saya sedang berada di utara ibu kota usai mengantar penumpang dari kawasan Pramuka. 

Usai menonaktifkan aplikasi driver ojol, saya pun menuju McD Muara Karang. Berhubung masih pukul 05.00 WIB lewat, suasana relatif kondusif. Hanya ada beberapa mobil di depan antrean saya tidak seperti pada Rabu lalu yang sangat membludak.

Namun, saya kecele. Usai depan kasir, ternyata BTS Meal habis. Sayangnya, di area tersebut, hanya itu satu-satunya outlet McD. Ada lagi lumayan jauh, di kawasan Cengkareng dan Kebon Jeruk seperti yang tertera di Google Maps.

Saya pun kembali menyalakan aplikasi ojol. Berharap, siapa tahu ada orderan ke barat atau pusat yang sekalian bisa mendatangi outlet McD.

Kurang dari seperminuman teh, aplikasi bunyi. Orderan penumpang ke Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Tanpa ragu, saya cocol.

Usai menurunkan customer di salah satu CBD yang identik dengan bundaran tersebut, saya dapat orderan lagi. Ke Stasiun Senen. Kebetulan, di daerah tersebut ada 2-3 outlet McD.

Tak lama, saya kunjungi satu persatu. McD Salemba, kosong. Kramat habis. Raden Saleh 11/12. Lanjut arah balik, ke outlet Hayam Wuruk, sama. 

Itu jadi kulminasi pencarian. Sebab, mata saya sudah tinggal lima watt akibat ngojek dari sore. Alhasil, saya pun balik menuju kediaman di kawasan Cengkareng lewat Jalan KH. Hasyim Ashari yang tembus Daan Mogot.

Nah, sesampainya di lampu merah Cideng, saya ingat. Di belakang Rumah Sakit Tarakan ada juga McD. Berhubung tidak jauh, saya pun belok.

Hanya, lagi-lagi saya kecewa. Sebab, BTS Meal belum tersedia. Namun, ada secercah asa ketika mendapat info dari salah satu karyawan McD.

"Adanya jam 11 mas. Ntar datang lagi aja. Tapi, menunya memang terbatas. Alias, tergantung persediaan."

Berhubung jam 11 waktu saya tidur, maka saya putuskan untuk mencarinya lagi sore. Ya, sebagai ojol yang biasa  ngalong, saya biasanya mulai ngojek jelang petang hingga subuh.

*       *       *

SORE itu, langit ibu kota tampak cerah. Usai tidur yang tergolong cukup, saya kembali menyusuri berbagai jalanan Jakarta. Namun, bukan untuk mencari orderan. Melainkan, demi berburu BTS Meal yang sempat tertunda.

Dari Cengkareng, sebenarnya ada beberapa outlet McD terdekat. Termasuk, di Green Garden dan Jalan Panjang. Hanya, saya ingin ke arah pusat yang tergolong banyak. Jadi, jika satu outlet habis, masih bisa keburu lagi mencarinya.

Pertama, di Hayam Wuruk yang pagi sebelumnya sudah saya datangi. Hasilnya, tidak berbeda jauh. Baru mau masuk parkiran, sudah ada karyawan McD yng mengangkat papan bertuliskan, "The BTS Meal TERJUAL HABIS".

Yeiiiiii! Saya sempat tanya, katanya yang terdekat di Cideng. Itu pun kalo stoknya masih tersedia ketimbang di Stasiun Gambir. 

Terbukti, ketika sampai di Jalan Cideng Barat, antrean kendaraan sudah mengular. Saya positive thinking aja. Siapa tahu ada dengan ikut antre bisa dapat.

Dan... Ternyata, masih!

Itu karena saat antre, ada petugas yang menghitung. 

"BTS Meal ya bang?" 

"Iya pak."

"Maksimal tiga ya bang."

"Aman pak. Saya cuma dua aja."

"Iya, stok dari siang udah mau habis. Ini sisa 25 (bungkus) lagi."

Hufff... Lega!

Akhirnya setelah berkeliling, dapat juga.

"Pak ojol, Army juga ya?" Demikian terdengar celetukan dari pengendara sepeda motor di belakang.

Ebuset! 

Saya yang ikut antre pun disangka Army, akronim dari Adorable Representative M.C for Youth. Yaitu, julukan untuk fan BTS.

Saya pun menoleh. Terdapat dua kaum hawa yang berboncengan sepeda motor. Yang duduk di belakang sambil menyorot hpnya itu yang bertanya. 

"Ga kak."

"Kirain Army juga sama kayak kita-kita," ujarnya dengan gaya kenes.

"Buat adik saya di rumah."

"Ooh..."

Obrolan pun terhenti karena kendaraan di depan sudah maju yang otomatis kami di belakang mengikuti.

Setelah beberapa menit, pesanan saya pun siap. Saya meluncur dengan perasaan lega.

Di jalan sempat teringat dengan komentar dara tersebut. Lucu juga sih, saya dikira Army! 

Padahal, yang beli BTS Meal itu belum tentu penggemar boyband asal Korsel tersebut. Bisa jadi, sekadar penasaran, ikutan hype, dan untuk keluarganya.

Saya yang menggemari beragam musik, tentu ga asing dengan BTS. Meski bukan pengagum musik KPop, tapi saya cukup menikmatinya.

Bahkan, tujuh tahun silam sempat asyik nonton Suju alias Super Junior di GBK! Dari deretan depan lagi seperti saat menyaksikan konser Bon Jovi... Yeeeeei.

Untuk hal berbau negeri ginseng, selain KPop, saya juga kerap menonton DraKor. Apalagi, terkait olahraganya sangat menikmati. Saya sudah sering bertemu legenda hidup bulutangkisnya, Lee Yong-dae. Termasuk, ngobrol panjang disela-sela Indonesia Open 2018 dan Indonesia Masters 2019, hingga Djarum Badminton Super League 2019.

Untuk sepak bola, saya tidak asing dengan Ahn Jung-hwan yang pernah merumput bersama Perugia di Serie A, Park Ji-sung (Manchester United), dan kini Son Heung-min (Tottenham Hotspur).

Terkait boyband, sebelum invasi KPop, duli saya juga sempat kagum. Tepatnya, pada dekade 1990-an seperti Boyzone, Backstreet Boys, hingga Westlife... Yuppiii!

*       *       *

SETELAH belasan purnama berburu di berbagai outlet McD, akhirnya saya berhasil membawa BTS Meal ke rumah. Yeiii. Jangan ditanya, betapa senangnya adik saya yang bungsu dan anak sepupu. 

Saya juga coba turut nyicipin. 

Ummhhh. 

Rasanya sih oke. Saya pun ikut unboxing. Isi BTS Meal terdiri dari satu kentang goreng ukuran medium, sembilan potong nugget ayam, dan segelas kola.

Nah, yang bikin spesial adalah dua sausnya. Yaitu, Cajun dan Sweet Chilli. Konon, saat saya surfing di twitter, kedua saus tersebut merupakan favorit penggawa BTS saat mencocolnya dengan beragam menu McD.

Apalagi, kedua saus tersebut sebelumnya hanya tersedia di McD Korsel. Wajar, jika ketersediaan di berbagai negara, termasuk Indonesia, mendapat sambutan hangat. Khususnya, fan BTS.

Saya jadi penasaran, bagaimana reaksi Son Heung-min dan Lee Yong-dae usai mencocol cajun atau sweet chilli.

Sebagai bagian dari generasi 90-an, saya juga berharap ada GNR Meal, Seattle Sound Meal, hingga Dewa 19 Meal!

Bagaimana, McD?***




*       *       *

Salah satu security di McD Hayam Wuruk, Jakarta Pusat,
mengangkat papan penanda BTS Meal 


*       *       *

Antrean panjang kendaraan, baik roda empat dan dua yang
mayoritas ingin merasakan sensasi BTS Meal


*       *       *

Akhirnya, setelah nyaris seharian berburu BTS Meal,
pesanan saya pun tiba


*       *       *

Inilah wujud dari BTS Meal!
Yuppi, sungguh menggoda



*       *       *

Saya dan sekeluarga bersiap mencicipi BTS Meal!



*       *       *

Artikel Terkait:
Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung
Tujuh Tempat Nobar Asyik di Jakarta

*       *       *

- Jakarta, 13 Juni 2021

Selasa, 25 Mei 2021

Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu

 Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu

Kue ulang tahun dengan motif Juventus saat scudetto
Serie A 2011/12 (Foto: dok pribadi/www.roelly87.com)



MAYORITAS kompetisi Eropa 2020/21 sudah selesai pekan ini. Drama pun meliputi berbagai klub ternama di benua biru tersebut. Ada haru dan air mata di antara ribuan pemain sepanjang musim ini.


Termasuk, berbagai pecah telur dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, FC Internazionale yang sukses meraih scudetto Serie A sejak kali terakhir pada 2009/10. 


Selanjutnya, ada Atletico Madrid yang mengangkangi Real Madrid dan Barcelona di La Liga diikuti keberhasilan Lille OSC yang kampiun Ligue 1 mengakhiri dominasi Paris Saint Germain.


Selain parade bahagia, saya pun mencatat drama kepiluan terhadap klub yang gagal ke Liga Champions. Tepatnya, akibat tergelincir pada pekan terakhir hingga terlempar dari empat besar. Di Serie A ada SSC Napoli dan Liga Primer dengan Leicester City.


Namun, bagi saya pribadi, tidak ada kejadian tragis dibanding yang dialami Juventus FC.


Ya, I Bianconeri harus menutup kesuksesan sembilan scudetto beruntun pada musim ini. Itu akibat inkonsistensi yang membuat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan gagal mempertahankan gelar.


Maklum, jangankan bersaing jadi juara. Bahkan, untuk lolos ke Liga Champions pun, Juve harus mengandalkan keberuntungan pada pekan terakhir.


Sebab, pada giornata ke-37, mereka hanya berada di peringkat lima dengan 75 poin. Alias, jauh di bawah Inter yang mengoleksi nilai 88 diikuti Atalanta BC 78, Napoli 77, dan AC Milan 76.


Saat itu, Juve benar-benar kritis. Di ujung tanduk karena harus bergantung pada tim lain untuk bisa menyegel posisi empat.


Beruntung, dewi fortuna pun datang pada pekan pamungkas. Sebab, skuat asuhan Andrea Pirlo sukses menghantam Bologna 4-1 di Renato Dall'Ara, Minggu (23/5) atau Senin dini hari WIB.


Pada saat bersamaan, justru Napoli harus puas bermain 1-1 saat menjamu Hellas Verona di San Paolo. Situasi pun berubah drastis pada pertandingan yang dilangsungkan serentak tersebut.


Sebab, hasil tersebut sukses mengubah konstelasi. Juve menutup musim di peringkat empat dengan 78 poin yang sama dengan Atalanta pada posisi tiga. 


Namun, tim asal kota Turin itu kalah head to head dengan La Dea. Kendati, pada saat bersamaan, Atalanta digulung Milan 0-2. Hanya, hasil tersebut sudah tidak berpengaruh bagi Juve.


Pun jika Milan yang kalah dan si Nyonya Besar imbang hingga memiliki poin sama. Pasalnya, Juve kalah head to head dari Il Diavolo Rosso.


Alhasil, Napoli yang harus gigit jari akibat hanya bermain di Liga Europa 2021/22. Meski bisa menikung pada lap terakhir demi lolos ke Liga Champions, tapi bagi banyak pihak, musim ini tetap petaka untuk Juve. Termasuk, saya pribadi.


Sorotan pun tertuju pada Pirlo. Memang, Il Metronome ini sukses mempersembahkan dua gelar sepanjang 2020/21. Itu meliputi Piala Super Italia 2020 dan Piala Italia.


Namun, mereka jeblok di Liga Champions akibat disingkirkan Porto pada 16 besar.


Apalagi, di Serie A yang konon jadi DNA Juve. Pirlo menodai kesuksesan yang sudah diukir Antonio Conte dengan peesembahan scudetto tiga musim beruntun pada 2011/12, 2012/13, dan 2013/14. Selanjutnya, Massimiliano Allegri lima kali (2014/15, 2015/16, 2016/17, 2017/18, dan 2018/19) serta Maurizio Sarri (2019/20).


Hanya, kini berbagai prestasi itu tinggal kenangan. Lebih menyakitkan lagi mengingat Inter yang merupakan rival utama Juve selain Milan, sukses mengakhiri paceklik gelar sejak satu dekade silam.


Ya, La Beneamata dinakhodai Conte! Harus diakui jika dialah yang mengawali kesuksesan Juve sekaligus mengakhirinya.


Beruntung, Rabu (26/5), Conte pisah dengan Inter. Namun, sebagai gantinya untuk menghadapi Serie A 2021/22, ada AS Roma yang akan dipimpin Jose Mourinho!


Tentu, musim depan masih lama. Sebab, baru dimulai 22 Agustus mendatang.


Saat ini, miliaran penggemar sepak bola bersiap menantikan Euro 2020 yang berlangsung 11 Juni hingga 11 Juli. Turnamen antarnegara Eropa ini jadi ajang unjuk gigi bagi sejumlah pemain elite.


Khususnya, Juve yang memiliki andalan dengan tersebar di sejumlah negara pada benua biru tersebut. Pada saat yang sama, ini jadi momentum bagi Pirlo dan manajemen Juve untuk mempersiapkan skuat terbaik demi menyongsong Serie A 2021/22.


Rentang tiga bulan sejak pekan ini harus dimaksimalkan mereka. Tidak boleh ada kekeliruan saat belanja di bursa transfer.


Pun demikian jika ingin melepas bintang pada mercato mendatang. Beberapa pemain yang minim kontribusi, jelas harus dilego.


Bagaimana dengan Ronaldo? Saya sih berharap, CR7 bertahan mengingat kontraknya empat musim yang berakhir Mei 2022. Saya masih optimistis, penyerang asal Portugal ini bakal meledak pada periode pamungkas berseragam Juve.


Namun, jika tidak pun, bukan masalah. Terutama, jika hatinya sudah tidak lagi bersama Si Nyonya Besar. 


Ronaldo berhak untuk hengkang, baik Juni ini atau saat bursa transfer musim dingin mendatang. Toh, percuma mempertahankan pemain yang badannya di Turin, tapi hati dan pikiran melanglang buana.


Sementara, untuk Pirlo, jelas wajib dipertahankan. Keterpurukan Juve musim ini bukan berarti kegagalannya sendiri. Banyak faktor lain.


Pastinya, Pirlo butuh dukungan untuk memulai I Bianconeri lagi dari nol. 


Lebih baik bagi manajemen Juve untuk mempertahankannya yang sudah punya dasar strategi. Ketimbang, harus mencari pelatih yang tentu membuat para pemain kembali harus beradaptasi dengan strategi anyar.


Sebagai Juventini, itu harapan saya. Kolaborasi Pirlo, Ronaldo, dan para pemain lain untuk bangkit menatap musim mendatang.


Agar, La Vecchia Signora tidak semakin terbenam di antara laju Inter, Milan, Atalanta, dan Roma yang bakal ngegas di bawah asuhan Mourinho. #ForzaJuve!***

*        *        *



Artikel Terkait Juventus:

(Galeri Foto) Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini
Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya



*        *        *

Jakarta, 25 Mei 2021

Selasa, 18 Mei 2021

Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah

 Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah


Ilustrasi www.roelly87.com


LEMBAYUNG di ufuk barat, tampak merona. Keindahan alam sore ini kian semarak dengan lalu-lalang jalanan di seberang basecamp tempat gw nyantai. Tampak, anak-cucu Adam tengah asyik beraktivitas. Ada yang berangkat, pulang kerja, pergi makan, beli cemilan untuk buka, ngerokok, dan sebagainya.

Memang, lokasi basecamp yang terletak di pemukiman padat penduduk barat ibu kota ini tergolong strategis. Dekat jalan raya yang mengarah ke pusat perbelanjaan, kuliner, pergudangan, hingga pabrik. Alhasil, cukup menunggu di basecamp, maka orderan pun sering datang dengan sendirinya. 

"Ebuset, nyantai aja. Gw pikir lo masih lanjut," ujar Irawan yang baru tiba.

"Abis tektokan. Nganter ke Karawaci, pas balik di Cimone dapat arah Kalideres. Ya udah, sekalian istirahat nunggu buka puasa," jawab gw.

"Sama nih. Gw buka di sini aja lah. Mau pulang, bahaya. Kalo udah di rumah, bawaannya males keluar.

"Lah lo ngapain ngojol. Kontrakan bejibun, ortu tajir, rekening di atm melimpah. Lo kan ngojek cuma sebagai simbol aja, biar ga dibilang nganggur sama tetangga."

"Ha ha ha. Si goblok."

TENG NENG NONG TENG...

HP gw bunyi. Gw baru inget, tadi belom nonaktifkan aplikasi.

Orderan food. Anter ke Tanjung Duren. Argo hampir selembar biru. Termasuk kakap. Meski sudah siap-siap mau buka puasa, gw cocol.

"Kemana bro?" ujar Irawan melihat gw mengemasi kembali bungkusan kolak sagu rangi, es buah, gorengan, dan sebotol air mineral.

"Food. TanDur. Kakap, mayan. Gw buka di depan resto aja sambil nunggu makanan jadi."

"Dewi Wilutama. Ratingnya 4,9 dari 20 orderan. Anter ke Kostan Sriwedari, Tanjung Duren. Tunai," Irawan yang kepo turut membacakan keterangan di aplikasi.

"Mayan tuh. Penghuni kostan sana biasanya royal. Minggu kemaren gw dapat tip 50k," lanjut Irawan.

"Iya sih, gw juga sering nganter ke sana. Tapi, ini belinya banyak juga. Hampir 500 ribu, belom ongkirnya," gw menjawab terkait orderan makanan cepat saji hingga 10 bungkus.

"Mungkin buat bukber kali bro," sahut Irawan, asal.

"Lah, emangnya resto pesulap. Makanan kan dibuat dulu, estimasi 15-30 menit. Itu belom dihitung di perjalanan. Ya, sejam lah baru sampe lokasi. Pan ini bentar lagi beduk," gw menjelaskan.

"Gw cabut dulu ya bro."

"Sip, Ka. Gw mau siap-siap buka nih."

*       *       *

USAI menempuh perjalanan dari restoran sekitar seperminuman teh yang diselingi seteguk air mineral untuk buka puasa, gw pun sampe di Kostan Sriwedari.

Tampak, fasad gedung ini sangat megah. Modern dengan tinggi empat lantai.

Konon, harga sewa kost per bulan berkisar Rp 3-5 juta. Meski mahal, tapi wajar mengingat penghuninya rata-rata mahasiswa dan pekerja kantoran di kawasan Tanjung Duren yang terkenal strategis.

"Saya sudah di depan pos security, kak," tulis gw di chat aplikasi ketika sampai di gerbang.

Beberapa detik kemudian, balasan dari customer.

"Tunggu pak. Saya keluar."

Sambil menunggu customer keluar, gw pun asyik menyulut tembakau. Nikmat sekali hembusan dari rokok pertama sejak kali terakhir mengisapnya 14 jam lalu saat jelang imsak.

Hanya, tunggu tinggal tunggu, hingga 15 menit berlalu, tidak nampak customer tersebut keluar kostan untuk menyambut makanan. Chat yang gw kirim pun centang satu.

Alias, tidak dibaca. Pun demikian dengan telepon. Tersambung, tapi tak diangkat.

Perasaan gw pun merasa tidak enak. Tepat 30 menit sejak chat konfirmasi tiba yang tak digubris customer, gw langsung menuju pos security.

Petugas keamanan tersebut mengiyakan untuk memanggil si customer setelah melihat data di aplikasi yang tertera nama, harga makanan yang harus dibayar beserta ongkos dan kamar kost.

Tak lama...

"Iya, pak. Saya yang bernama Dewi Wilutama," ujar wanita muda berparas ayu yang menghampiri gw didampingi temannya. Sementara, security tadi mengawasi dari depan pos sambil ngelepus dan pandangan mata tertuju pada hp-nya.

"Ini kak, pesanannya," jawab gw memperlihatkan 10 bungkus makanan cepat saji.

"Hah? Saya ga mesan apa-apa bang," katanya dengan nada heran.

"Waduh, ini di aplikasi tertera nama kakak. Dewi Wilutama. Kostan Sriwedari. Kamar 378," gw menjelaskan.

"Kalo nama dan kamar kostan, memang benar. Namun, sumpah saya ga sedang pesan makanan."

"Nah, ini siapa dong kak?" gw pun garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Wi, coba lo cek aplikasi. Siapa tahu kepencet," temannya menimpali.

"Ga kok. Nih lihat," tutur Dewi memperlihatkan layar aplikasi yang terbuka di hpnya.

Gw pun mengecek datanya di akun customer Dewi.

Dewi Wilutama.

dewi_wiloetama94@rocketmail.com

085612345678

Gw pun inisiatif telepon ke nomor customer yang tadi tidak diangkat-angkat. Hingga beberapa kali, juga sama.

Sekilas, gw lihat Dewi dan temannya saling lirik.

"Kak, bisa minta izin," tanya gw dengan sopan.

"Silakan bang."

"Bisa telepon ke nomor saya dari hp kakak. Ini sebagai konfirmasi saja. Ni nomor saya, 081387879999."

"Siap bang."

Di layar hp gw tertera panggilan masuk. Nomornya 085612345678.

Gw coba telepon balik. Dewi pun mengangkatnya.

Namun, ketika gw telepon ke nomor customer, tidak ada tanda-tanda di layar hp Dewi.

Memang, sejak setahun terakhir ini aplikator menyamarkan nomor telepon antara driver ojol dan customer. Tujuannya demi privasi karena dulu sering disalahgunakan oknum ojol dan customer.

"Saya cuma pake satu nomor saja bang," Dewi kembali memperlihatkan settingan di hpnya yang hanya memuat satu SIM card.

Gw pun kembali menyulut rokok. Sebagai penenang dalam situasi rumit ini.

"Ini gimana ya, nama dan alamat tujuan sama tapi beda orang," gw menggumam.

"Emang berapa bang totalnya?" teman Dewi bertanya.

"Semuanya Rp 543.000. Pesanan Rp 495 ribu dan ongkos kirimnya 48 ribu."

"Buset... Banyak amat bang. Saya ga ada uang segitu. Kirain cuma Rp 100an ribu, saya berani talangin biar abang ga rugi. Tapi, kalo di atas gope, maaf saya tidak punya uang," Dewi, mengungkapkan.

"Ri, lo ada berapa? Gw ada 100 ribu. Patungan yuk, kasihan abang ojol ini," lanjut dara dengan rambut panjang semampai ini kepada temannya yang bernama Siti Sundari.

"Sama, Wi. Gw juga ada cepe..." Sundari, menimpali.

"Jangan, kak. Ga usah..." gw memotong percakapan mereka.

"Biar saya telepon customer service aplikator aja. Agar, pesanan ini dibatalkan karena order fiktif," tambah gw.

"Emang bisa bang? Ga rugi?" Dewi bertanya.

"Saya coba kak. Kalo bisa, mohon tetap di sini untuk klarifikasi ke aplikatornya," kata gw yang langsung diiyakan Dewi dan Sundari.

*       *       *

HINGGA 10 menit kemudian, telepon tersambung ke operator. 

"Selamat malam, dengan Arimbi. Ada yang bisa kami bantu," terdengar suara dari cs aplikator.

"Malam bu. Saya, Ekalaya, driver ojol. Domisili Jakarta Barat. Nomor telepon 081387879999," gw memperkenalkan diri.

"Ada yang bisa kami bantu, pak?"

"Saya dapat order fiktif atas nama Dewi Wilutama dari restoran cepat saji senilai Rp 543 ribu. Sebelumnya, customer aktif di chat. Namun, ketika saya sampai lokasi, dichat tidak balas dan ditelepon tidak jawab hingga 30 menit lebih," gw menjelaskan secara rinci.

Dewi yang berada di hadapan gw terus menatap. Mungkin, banyak pertanyaan di benak wanita berkulit kuning langsat ini. Pada saat yang sama, tangan kiri Sundari asyik memainkan sebatang rokok yang menari di jarinya.

"Sampai di lokasi, memang ada yang bernama Dewi Wilutama dan kamar kostnya pun seperti di aplikasi. Namun, ternyata yang bersangkutan sama sekali tidak pesan. Sampai detik ini saya chat dan hubungi, tidak ada respons dari customer. Saya khawatir ini opik," lanjut gw.

"Sebentar ya pak, akan kami cek datanya terlebih dahulu. Mohon telepon tidak ditutup" jawab cs.

Gw pun kembali menyalakan rokok. Ini batang kelima yang gw hisap. Sejatinya, rokok memang tidak memberi kenyamanan bagi penggunanya. 

Jika ada yang mengatakan menghisap rokok bikin rileks dalam menghadapi masalah, itu hanya suges saja. Namun, meski sudah tahu seperti itu, entah kenapa, gw tetap tidak lepas dari mild putih ini.

Tak lama berselang, sambungan telepon dari operator pun kembali.

"Maaf sudah lama menunggu ya pak. Setelah kami cek data lebih lanjut, ternyata akun atas nama Dewi Wilutama tidak terindikasi fiktif. Akun ini sudah melakukan lebih dari 20 pemesanan dengan penilaian dari driver cukup bagus," demikian suara cs aplikator yang memang sesuai dengan data di aplikasi yang sudah gw lihat sebelumnya.

Bahwa, akun bernama Dewi Wilutama ini telah 20 kali melakukan orderan yang ratingnya 4,9. Tergolong bagus bagi ukuran customer. 

Biasanya, gw atau mayoritas ojol lainnya paling senang dapat customer dengan rating di atas 4,7 hingga bintang 5. Sementara, rating 4,1-4,6 tergolong "b aja" dan 3,5-4 itu buruk. 

Bagaimana dengan customer yang ratingnya 3,5 ke bawah? Biasanya, itu parah banget. 

Kalo ga orangnya bawel, judes, emosional, dan lainnya. Bisa juga terkait lokasinya sulit dijangkau, seperti apartemen yang harus nunggu lama, komplek perumahan elite yang ribet di pos masuk, atau rumah susun yang kadang kami harus jalan kaki menyusuri tangga hingga lantai lima!

"Apakah pak Eka sudah sampai ke lokasi sesuai pesanan di aplikasi?" tanya cs.

"Sudah bu. Ini saya bersama orang yang bernama Dewi Wilutama. Namun, saya sudah cek aplikasinya tidak ada pemesanan untuk hari ini."

"Baik pak Eka. Mohon ditunggu ya. Kami akan crosscheck data terlebih dulu."

"Siap bu."

Gw pun menatap ke arah Dewi.

"Kak bentar ya. Lagi dikonfirmasi sama cs-nya."

"Iya bang ga apa-apa. Semoga cepat selesai. Ngeri banget kalo dapat opik hingga 500 ribu."

"Wi, gw ambil snack dulu ya. Gw dari buka belom ngemil nih. Sekalian kita kasih abangnya," Sundari menimpali.

Dari kejauhan tampak sosoknya lenggak-lenggok bak putri keraton. Secara fisik, gw akui Sundari memang body goal banget yang mengungguli Dewi. Ini berdasarkan penilaian gw sebagai naluri lelaki.

Hanya, entah mengapa, gw lebih tertarik kepada Dewi. Perawakannya memang biasa aja. Namun, Dewi punya keunggulan dibanding wanita lainnya. Lesung pipit nan indah dipadu gingsul yang mewarnai senyuman khasnya. Apalagi, dengan alisnya yang sangat kereng.

Kalo gw nilai, Sundari sangat seksi. Sementara, Dewi merupakan sosok wanita yang anggun.

Dalam Kamus Besar Naluri Pria (KBNP) yang disusun berdasarkan imajinasi gw, terdapat lima penilaian terhadap wanita.

Itu meliputi:

5. Cantik
4. Seksi
3. Manis
2. Ayu
1. Anggun

Njir, gw ngapain malah mikirin yang nggak-nggak. Padahal, ini lagi nunggu konfirmasi cs terkait orderan yang fiktif atau bukan. Geblek!

Beruntung, telepon yang gw tuju kepada cs aplikator tersambung lagi.

"Mohon maaf pak Eka sudah lama menunggu. Setelah kami crosscheck lebih lanjut, memang akun atas nama Dewi Wilutama ini benar adanya. Sudah 20 kali order layanan baik penumpang, makanan, dan kirim barang. Hanya, biasanya alamatnya di Perumahan Amarta Indah, Jakarta Pusat, dan perkantoran Pringgadani East Bay, Jakarta Utara," terdengar suara cs, menjelaskan sambil gw loudspeaker.

Gw yang menyimak pun menoleh ke Dewi. Ternyata, dia sangat kaget. Raut wajahnya tampak keheranan. Romannya memperlihatkan tanda tanya ketika mendengar alamat yang biasanya dilakukan si pengorder atas namanya.

Bahkan, tertangkap jelas, Dewi memainkan alisnya yang tebal diikuti anggukan Sundari.

Tidak perlu jadi Elon Musk yang genius untuk merekonstruksi keganjilan ini. Jelas, gw menyimpulkan ada yang aneh terkait Dewi. Entah dirinya pribadi atau masa lalunya.

"Kami sudah menghubungi pemesan, tapi hingga kini tidak ada jawaban. Kami juga sudah mengecek riwayat chat pemesan dengan pak Eka yang tidak ada keanehan. Kami putuskan, akan menutup orderan ini. Pak Eka bisa memberikan makanan ini ke panti asuhan, orang tak mampu, atau dimakan sendiri. Untuk biaya pesanan akan kami ganti di aplikasi dengan nontunai kepada pak Eka dalam 1x24 jam," cs membeberkan.

"Ada lagi yang ingin disampaikan, pak? Kalau tidak ada, telepon kami akhiri dan terima kasih," lanjut cs.

"Ga ada bu. Terima kasih," jawab gw lega karena tidak jadi merugi karena aplikator akan bertanggung jawab untuk menggantinya.

*       *       *

USAI mendengar penuturan cs, gw langsung memandang ke arah Dewi yang tatapannya jauh ke depan. Sementara, Sundari asyik mengunyah seblak yang dibawanya beserta potongan gorengan di piring.

Dewi pun seketika menunduk. Pada saat yang sama, Sundari beranjak menghampiri gw.

"Gw yang jelasin ya Wi. Mukadimah aja. Sisanya lo," kata Sundari.

TIIIN... TIIIN... TIIIIIN!

"Woi Ka! Lo bukan nganter food malah mojok!"

Terdengar teriakan dari suara yang sangat gw kenal. Njir...

"Ka, minta cireng ya satu," ujar suara tak asing lagi yang ternyata... Irawan!

"Eh goblok. Bukan punya gw itu. Punya kakak ini," jawab gw yang ga asing dengan ulah nyeleneh sohib gw tersebut sambil menatap ke Sundari.

"Eh kakak. Maaf. Gw minta ya. Satu lagi deh, enak juga. Gw buka puasa tadi cuma sama kwetiuw dan pangsit doang. Kurang nendang," Irawan kembali nyerocos.

"Eh cakep banget kakak ini. Waduh, ada satu lagi. Yang ini, manis bener. Kayak ada gula-gulanya di wajahmu," lanjut Irawan yang membuat suasana pecah setelah tadi sempat awkward.

"Silakan bang. Makan aja, kita udah dari tadi," ucap Sundari yang terkekeh mendengar celetukan Irawan.

Dewi? Tampak mengulum senyumnya yang tersipu malu akibat pujian Irawan. Njir, nih cewe, sumpah manis bener.

"Eh lo ngapain sama dua makhluk bidadari ini?" tanya Irawan yang tak hentinya mengunyah combro.

Ebuset, ini gorengan punya Sundari udah ludes dicomotin Irawan.

"Gw dapat opik. Untung ada dua kakak ini..." jawab gw.

"Opik apaan?" Irawan bertanya yang langsung gw potong.

"Si anjir. Orang mau ngomong dipotong terus. Bentar, tunggu gw sama kak Sundari dan kak Dewi jelasin, baru lo tanya. Lagian, lo bukan narik sono, rempong amat pake ketemu di sini," lanjut gw men-skak mat Irawan.

Sundari terbahak-bahak mendengar omongan gw. Sementara, Dewi tersenyum ngikik sambil menutup hidungnya.

Sepertinya, baru pertama dalam hidup mereka bertemu makhluk seaneh Irawan. Sosok yang sotoy, apalagi kalo depan cewe. Juga penakut jika berhadapan dengan makhluk halus.

Namun, berubah telengas jika berhadapan dengan musuh. Bahkan, tahun lalu, Irawan ga gentar berhadapan dengan tiga begal yang semuanya bawa senjata tajam di Sunter.

"Iye... Iye. Gw penasaran dapat opik apaan, Ka. Ini gw nyimak deh. Janji," Irawan menjawab dengan memperlihatkan jari telunjuk dan tengah.

*       *       *

SETENGAH jam, kemudian...

"Njir, itu cowo katrok banget. Cinta ditolak, opik bertindak. Mau gw ramein ga, Dew? Sun? Ntar gw samperin sama anak-anak ojol lainnya biar kapok," ucap Irawan berapi-api setelah lebih dari sepernanakan nasi hanya jadi pendengar saja.

Ya, Sundari menjelaskan bahwa 99 persen yang melakukan opik adalah Laksmana Kumara. Yaitu, mantan Dewi yang ternyata masih menyimpan perasaannya hingga kini.

Bahkan, meski sudah lewat puluhan purnama. Apalagi, dalam periode itu, keduanya sama-sama sudah mendapat pacar lagi.

Dewi dengan Pancala yang tak lama putus. Sementara, Laksmana dengan Utari yang tidak diketahui kabar selanjutnya.

"Kalo kata gw sih, ga perlu, Ir. Ga usah lah. Apalagi, jika bawa-bawa nama ojol. Terlebih, masalah udah selesai. Tadi kan cs aplikator udah mastiin orderan gw diganti. Jadi, ya clear," gw menanggapi seruan Irawan.

"Iya juga sih. Tapi, emang geregetan juga sama tuh cowo yang mentalnya pecundang banget," lanjut Irawan tampak emosional sambil tangan kanannya mengunyah combro.

"Njrit. Pedes banget. Kampret, isinya ada cabe rawit," Irawan berseru akibat kepedasan.

Tawa pun meledak diantara kami bertiga yang melihat aksi konyol secara natural tersebut.

"Ini bang, minum. Jangan ngomong dulu ya, ntar keselekan," kata Dewi sambil menyodorkan air mineral ukuran gelas yang tadi dibawa Sundari.

Gw juga turut menyeruput es buah yang tadi gw bawa dan belum habis. Tak lupa, kembali menyalakan rokok yang kini suasananya lebih rileks usai kehadiran Irawan.

Tampak, sohib gw itu sudah segar setelah sebelumnya matanya berair akibat tak sengaja menggigit cabe rawit.

"Dew. Eh, kak Dew..." kata Irawan kepada Dewi.

"Dewi aja bang. Ga usah pake sapaan kak, segala. Umur kita kan ga beda jauh," Dewi memotong.

"Iye sih. Tapi kalo lagi ngojol, kita emang selalu manggil kak ke customer. Iye ga Ka?" jawab Irawan yang memandang gw.

"Yongkru."

"Eh, Dew... Gw penasaran nih. Emang lo sama si cowo itu jadian berapa lama?" Irawan kembali berkicau.

Seketika suasana hening.

Gw menatap Dewi yang kembali tertunduk. Sementara, Sundari menyalakan rokok menthol.

Baru saja Irawan ingin memberondong kembali pertanyaan, Dewi sudah memotong, "Lima tahun bang."

"Anjrit! Itu pacaran apa kredit motor? Matic gw aja ga sampe tiga tahun udah lunas. Motor si Ekalaya malah cuma dua tahun," Irawan, menukas.

"Si goblok, orang lagi serius malah dihubungin ke kreditan," gw mengomentari celotehan Irawan.

"Tapi bener kan Ka. Gw kredit tiga tahun, lo dua tahun. Jangan-jangan lo gengsi depan dua bidadari ini kalo motor buat ojol aja nyicil," kata Irawan, terbahak-bahak.

"Njir. Yang penting mah, bisa narik orderan. Biar kata kredit juga, intinya kita sama-sama gacor," gw mengomentari sambil tertawa.

"Iya, bang. Lama juga. Tapi, emang putus nyambung," jawab Dewi yang ikut menyalakan rokok mild. Beda dengan Sundari yang jenisnya menthol.

Kami sempat beradu pandangan meski beberapa detik. Tak lama, Dewi melanjutkan.

"Kami terakhir pisah 2018, pas gw mau daftar relawan Asian Games. Abis itu, gw pacaran lagi sama temen kantor, ya setahunan. Sedangkan, Laksmana yang gw tahu sempat dua kali pacaran."

"Lah, Dew... Lo udah lama putus, tapi tahu bener sama kehidupan dia. Bener-bener mantan terindah," samber Sundari.

"Ya... Gitu lah, Sun. Gw emang saling follow medsos-nya, di IG, FB, dan Twitter. Tapi, emang ga nyangka udah hampir tiga tahun putus, dia ngajak balikan," ucap Dewi yang sepertinya likat.

Gw bayangin, goblok banget tuh cowok yang sampe melepas sosok nyaris sempurna seperti Dewi. Apalagi, pacaran udah kayak Repelita zaman Orde Baru.

Tapi, gw penasaran kenapa mereka bisa putus. Sempat ingin menanyakan langsung ke Dewi, hanya segan. Terlebih, sebenarnya urusan gw dengannya terkait opik udah selesai.

Untungnya ada Irawan. Tanpa tedeng aling-aling, dia nyeletuk lagi.

"Lo bubar kenapa Dew? Dicampakkin doi?" tanya Irawan.

"Ih... Nggak bang," potong Dewi, gercep.

"Gw yang mutusin, kok."

"Alesannya Dew?" tanya gw spontan yang membuat ketiga orang itu secara serempak memandang ke arah gw.

Anjir... Malu banget dah gw. Berasa dihakimin akibat penasaran dengan kisah percintaan Dewi dan Laksmana.

"Yaelah, lo kepo juga ya Ka," ucap Irawan, menyindir sambil tergelak tawa.

"Jangan-jangan, bang Eka ini... Wi..." timpal Sundari terkekeh sambil memberi kode kepada Dewi.

Dewi yang baru ngeh dengan sikap gw pun tertunduk. Namun, gw tahu mukanya memerah. Mungkin, saking likat.

"Gw akuin, dia tuh cowo idaman. Namun..." kata Dewi dengan nada pelan.

Sontak, gw, Irawan, dan Sundari menyimak.

"Dia ganteng banget. Lulusan S1 perguruan tinggi negeri ternama. Nyokapnya desainer yang punya banyak butik. Bokapnya anggota dewan pada dapil strategis dari partai yang masuk tiga besar pemilu 2019. Ada keturunan darah biru. Rumah keluarganya di kawasan Menteng yang elite. Kostannya di Kemang. Gw akuin, orangnya sangat baik," Dewi berturur sambil menghela nafas.

"Orangnya royal banget, baik sama gw atau teman-temannya. Wajar, mengingat statusnya sebagai anak tunggal yang setahu gw dikasih jajan sama ortunya per bulan 30 juta. Mobilnya dua, sedan merek Peugeot asal Prancis dan Nissan Navara yang biasa diajak turing. Motor, jangan ditanya. Dari NMax, Vespa, Ducati, hingga Harley Davidson, tersedia di garasi pribadinya."

Gw cuma melongo mendengar penuturannya itu. Gw yakin, Irawan dan Sundari juga setengah kati delapan tahil dengan gw.

"Tunggu Wi. Ada yang aneh dengan cerita lo," Sundari, nyeletuk.

Gw dan Irawan pun seketika menoleh ke arahnya. Namun, tidak dengan Dewi yang tampak santai.

"Kalo lo tahu dia orangnya baik, tajir, dan keturunan darah biru, kenape lo putusin?" tanya Sundari.

"Apa jangan-jangan lo udah dapat cowo yang lebih sultan dari doi?" lanjutnya memberondong.

"Yaelah, Romlah... Ga semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan materi, termasuk uang," jawab Dewi, diplomatis.

"Iye, gw tahu Dew. Tapi, sayang banget kalo..." Sundari kembali mengatakan yang langsung dipotong Dewi.

"Makanya, dengerin cerita gw sampe selesai dulu, atuh. Ini mah belom apa-apa udah di-cut," kata Dewi.

Mendengar celotehan Dewi yang kini sudah lebih blak-blakan membuat kami tambah melongo. Mungkin, sekarang dia sudah jauh lebih rileks ketimbang di awal. Terlihat dari gaya bicaranya yang lebih lepas.

"Jadi gini, ceritanya," kata Dewi, santai dengan nada menggantung.

"Gw minta putus karena gw lihat Laksmana terlalu manja. Sebagai pacar, jelas dia sangat ideal. Namun, tidak jika jadi suami atau kepala rumah tangga. Contoh, hal kecil aja. Laksmana harus memanggil tukang ketika bohlam di kamar apartemennya padam. Begitu juga saat mantek paku buat pasang pigura. Semua dilakukan orang," Dewi, mengungkapkan.

"Padahal kan itu sudah kodrat pria. Sama halnya wanita yang meski sudah ada pesan antar makanan online, tapi tetap harus bisa masak dan menjahit. Itu yang minus dari Laksmana. Sebab, dari kecil, dia sudah dimanjakan kedua orangtuanya dengan berbagai fasilitas. Jujur, gw berat ketika minta putus mengingat Laksmana nyaris punya segalanya. Namun, demi masa depan, gw harus rela. Gw pengen cari pacar yang kelak jika resmi bisa jadi imam di rumah tangga."

*       *       *

ARLOJI di tangan kiri gw menunjukkan pukul 21.45 WIB. Alias, hampir tiga jam gw habiskan di depan kostan Dewi dan Sundari. Plus, kehadiran Irawan yang sukses mencairkan suasana.

Setelah mendengarkan yang Dewi menumpahkan segala keluh kesahnya, gw pun meminta pamit. Tidak lupa, bungkusan makanan hasil opik gw bagi-bagi. 

Dewi, Sundari, security kostan, gw, dan Irawan masing-masing satu. Dua lagi untuk anak-anak di basecamp. 

Sisanya, gw minta Irawan agar membagikannya ke marbot musala tempat kami untuk sahur. Kebetulan, makanan cepat saji itu tidak bakal basi jika dipanaskan terlebih dulu.

Usai pisah dengan Irawan yang balik kandang, gw pun menyalakan kembali aplikasi ojol. Berselang beberapa detik, bunyi tanda orderan.

Gw pun bergegas menuju resto terdekat. Hanya, tak lama, hp gw kembali bunyi. 

Kali ini bukan notifikasi dari aplikasi ojol. Melainkan, pesan masuk di WA.

"Terima kasih ya, Ka. Maaf, udah ngerepotin lo."

Gw amati nomornya tak dikenal. Pun dengan foto profil yang masih kosong. Alias, gw dan si pengirim pesan tidak saling simpan kontak.

Namun, sekelebat gw ingat sesuatu. Gw pun cek log on telepon. Ada panggilan masuk tak dikenal dari nomor 085612345678. Historinya pukul 19.11 WIB.

Gw pun save nomor tersebut. Luwi. Alias, anagram dari sang pemilik nomor.

Usai direfresh kontak, foto profil pun kini tidak lagi kosong. Tampak, sosok anggun dengan senyum memesona di kontak tersebut.

"Siap Wi. Sami2," balasan gw yang segera centang biru pertanda pesan langsung dibaca.

Gw menengadah ke langit, tampak cerah. Samar-samar seperti ada bintang jatuh.

"Next gw bakal traktir lo sebagai ganti udah ngerepotin. Waktu dan tempat gw persilakan. Btw, ttdj ya Ka."

Demikian jawaban Dewi. Seketika langkah gw jadi sangat ringan. Tanpa sadar, senyum gw pun merekah usai menbalas WA Dewi.

Ya... Mestakung!***

*       *       *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part IV: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part V: Di Suatu Desa
- Part VI: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VII: Debt Collector Juga Manusia
- Part VIII: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 18 Mei 2021

Minggu, 09 Mei 2021

Ada CekAja.com di Balik Mudahnya Pengajuan Kartu Kredit Online Terbaik

Ada CekAja.com di Balik Mudahnya Pengajuan Kartu Kredit Online Terbaik

Berbagai informasi kartu kredit tersedia di CekAja.com


HARI gini ga punya kartu kredit?

Ya, saat ini, Pengajuan Kartu Kredit Online Terbaik bisa dilakukan di CekAja.com. Yaitu, portal produk keuangan dan investasi di bawah naungan PT Puncak Finansial Utama

Bagi masyarakat awam, tentu sangat familiar dengan perusahaan yang menawarkan berbagai kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), asuransi, pinjaman untuk Usaha Kecil Menengah (UKM), hingga investasi.

Apalagi, CekAja.com ini tercatat di Grup Inovasi Keuangan Digital (GIKD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, jika kita ingin berinvestasi dan sebagainya, sudah terjamin aman. Terlebih, CekAja.com juga diatur dan diawasi Bank Indonesia dan Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH).

Bagi saya, CekAja.com ini bisa disebut sebagai Palugada. Alias, apa yang lo mau, gw ada!

Termasuk, mengenai kartu kredit. Ya, pada zaman sekarang, credit card bisa disebut sebagai salah satu kebutuhan utama manusia selain pangan, sandang, dan papan. 

Alasannya, jelas. Dengan kartu kredit, memudahkan kita dalam transaksi sehari-hari. 

Termasuk, saya pribadi yang sudah merasakan manfaatnya memiliki kartu kredit. Dengan ketentuan, kita harus menggunakannya dengan bijak. Alias, hanya sesuai kebutuhan yang penting dan mendesak.

Hanya, tidak semua orang yang berkesempatan memiliki kartu kredit. Itu terkait berbagai syarat dari perusahaan atau perbankan yang mengeluarkannya yang mungkin ribet bagi sebagian pihak. Misalnya, harus ini dan itu.

Namun, dengan perkembangan zaman yang diiringi kemajuan teknologi, membuat semuanya jadi mudah. Termasuk, dalam mengajukan pembuatan kartu kredit. Faktanya, bisa dicoba lewat CekAja.com.

Ya, Anda cukup membuka portal CekAja.com/kartu-kredit untuk bisa mengetahuinya lebih lanjut. Pada halaman tersebut, kita akan dipandu berbagai caranya dengan mudah. Apalagi, CekAja.com bekerja sama dengan banyak bank penerbit kartu kredit. Di antaranya, BNI, BRI, CIMB Niaga, Citibank, dan lain-lain.

Terlebih, pada masa pandemi ini memiliki kartu kredit bisa dibilang sangat penting. Maklum, credit card bukan hanya sekadar alat pembayaran saja. Melainkan juga, sangat memudahkan kita dalam melakukan berbagai transaksi, baik offline maupun online. 

Termasuk, jika kita ke luar negeri. Kebetulan, saya punya pengalaman ketika mengunjungi Wales, Britania Raya, beberapa tahun lalu. Dengan memiliki kartu kredit, benar-benar memudahkan saya saat transaksi di luar negeri.

Ya, sejak dulu, kartu kredit jadi salah satu alat pembayaran yang paling diminati masyarakat. Sebab, dengan memilikinya, kita bisa terbantu saat memenuhi segala kebutuhan harian, mulai dari belanja, hingga bayar tagihan bulanan.

Selain praktis, credit card juga banyak memberikan promo menarik. Khususnya, jika ada merchant yang bekerja sama dengan pihak bank penerbit kartu kredit.

Btw, di Indonesia, terdapat banyak produk jenis kartu kredit yang dikeluarkan dari berbagai perusahaan perbankan dengan keunggulannya masing-masing. Misalnya, kartu kredit untuk belanja, liburan, hingga ke luar negeri. Nah, berbagai pilihan produk kartu kredit dari berbagai bank tersebut bisa kita lihat secara detail informasinya melalui portal CekAja.com.

Proses cepat dan pengajuan mudah merupakan keuntungan yang dipersembahkan CekAja.com. Ya, kita tak perlu datang ke bank seperti saat pengajuan kartu kredit secara konvensional. Melainkan, kurir CekAja.com yang mendatangi kita dan bantu mengurus semua dokumen yang dibutuhkan. 

Alhasil. cukup dengan tarian jari di handphone atau laptop, kita tinggal menunggu kartu kredit tersebut jadi. Ya, sesederhana itu.

Sebagai gambaran, untuk mengajukan kartu kredit secara online di CekAja.com, kita selaku nasabah harus menyiapkan beberapa hal.

Itu meliputi, status sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), bekerja baik karyawan swasta, profesional, atau wiraswasta, penghasilan minimum per bulan Rp 3 juta, dan usia di atas 21 tahun.

Pertanyaan mendasar nih. Jika karyawan swasta, profesional, dan wiraswasta tentu punya slip gaji dalam 1 dari 3 bulan terakhir. Nah, bagaimana dengan freelancer, semisal blogger?

Contohnya, saya yang merupakan blogger dan sehari-hari berprofesi sebagai Ojek Online (Ojol). Karena saya tidak memiliki gaji bulanan, alias pendapatannya sehari-hari, tentu saya cukup melampirkan fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir. 

Terkait syarat lainnya, sama. Misalnya, fotokopi KTP dan NPWP sebagai penanda saya sebagai warga negara yang taat pajak. Mudah kan!

Bagaimana, tertarik mengajukan kartu kredit secara online di https://www.cekaja.com/kartu-kredit?

*        *        *

Referensi:


- Lampiran – Daftar Penyelenggara IKD Tercatat OJK (Juli 2019) https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Documents/Pages/SIARAN-PERS-STRATEGI-OJK-DALAM-PENGAWASAN-PENYELENGGARA-INOVASI-KEUANGAN-DIGITAL/Lampiran%20Siaran%20Pers%20IKD.pdf

- Penyelenggara IKD Tercatat di OJK (https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Documents/Pages/Penyelenggara-IKD-dengan-Status-Tercatat-di-OJK-per-Januari-2020/List%20Penyelenggara%20IKD%20Tercatat%20per%20Januari%202020.pdf)

*        *        *

- Jakarta, 9 Mei 2021

Jumat, 30 April 2021

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Saya saat divaksin pada Kamis (29/4)



SEBAGAI ojek online (ojol), mendapat vaksinasi Covid-19 jadi salah satu momen yang paling saya tunggu sepanjang 2021 ini. Terutama, sejak koronavirus mewabah pada awal tahun lalu yang hingga kini masih berdampak.

Itu mengapa, saya sangat antusias ketika aplikator tempat saya nencari nafkah, Gojek, memberikan tiket untuk vaksinasi pertama. Undangan tersebut terdapat di pesan aplikasi saya pada 26 April lalu.

Saya pun bergegas untuk daftar lewat aplikasi Halodoc yang terjadwal pada 29 April. Sangat mudah, karena setiap ojol dengan KTP DKI Jakarta yang diundang mendapat kode khusus.

Lokasinya, ada dua:

1. JIExpo Kemayoran Parkir Hall C, Jakarta Utara

2. West One Cengkareng, Jakarta Barat

Saya pun memilih yang pertama. Waktunya, kemarin, pukul 13.00 WIB. Alasannya jelas, sehabis vaksinasi, rencananya saya langsung ngebid hingga menunggu waktu berbuka puasa. Ya, sambil menyelam minum air tebu.

Kebetulan, kawasan Kemayoran, ramai untuk mengambil berbagai orderan. Itu meliputi GoRide alias penumpang, GoFood (makanan), GoSend (kirim barang), GoShop (belanja), dan sebagainya.

*       *       *

SIANG itu, Kamjs (29/4), cuaca di ibu kota sangat terik. Sambil membelah jalanan dari kawasan barat, saya pun akhirnya tiba di JIExpo. Arloji di saku kiri saya menampakkan pukul 12.31 WIB. Alias, masih ada waktu untuk registrasi vaksinasi Covid-19.

Saya pun ikut antrean dengan ratusan rekan ojol lainnya. Ada beberapa tahap sebelum vaksinasi. 

Pertama, registrasi dengan membawa KTP asli dan fotokopi. Sekaligus, mengisi data diri yang formulir dan kertas sudah disiapkan Gojek.

Selanjutnya, memperlihatkan undangan yang tercantum di Halodoc. Kurang dari seperminuman teh, kami pun bergiliran untuk divaksin dengan membawa sepeda motor masing-masing. 

Setelah itu, tinta sejarah turut mencatat. 

Ya, vaksinasi sangat singkat. Usai disuntik, saya pun diminta istirahat sekitar 30 menit. Tujuannya, untuk mengetahui apakah ada dampak lebih lanjut. Sekaligus, mendengar arahan dari perwakilan Gojek terkait vaksinasi kepada kami, mitranya.

Bisa dipahami mengingat tidak semua pihak setuju dengan adanya vaksinasi. Namun, menurut saya ini wajar. Toh, bagian dari dinamika kehidupan.

Bagi saya pribadi, mengikuti vaksinasi yang diselenggarakan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang merupakan induk dari Gojek yang berkolaborasi dengan PT Media Dokter Investama (Halodoc) ini merupakan kewajiban.

Mengapa?

Alasannya jelas. Itu mengingat saya sebagai ojol yang merupakan mitra Gojek. Tentu, saya ingin memberikan yang terbaik terhadal partner saya.

Setidaknya, ada tiga alasan versi saya pribadi terkait kewajiban vaksinasi.

1. Ini sangat penting bagi kesehatan saya sendiri dan keluarga. Sebab, saya harus melindungi keluarga di rumah. Dengan sudah divaksin, setidaknya saya tidak khawatir lagi saat pulang seusai ngebid. Tentu, saat ngojol, saya tetap mengikuti protokol kesehatan (prokes)  Itu meliputi memakai masker, sarung tangan, dan bawa hand sanitizer.

2. Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah. Ya, saat ini, pemerintah sedang melakukan program vaksinasi sebagai upaya penanggulangan virus Covid-19. 

Sejak awal tahun, vaksinasi diberikan kepada masyarakat lanjut usia (lansia) dan petugas layanan publik. Nah, saya dan rekan-rekan ojol lainnya yang merupakan mitra Gojek termasuk dalam kategori tersebut.

Kelompok ini, masuk dalam prioritas pemerintah. Mengapa? Sebab, kita-kita ojol ini, memiliki interaksi dan mobilitas tinggi yang berhubungan dengan masyarakat.

Apakah, Gojek mewajibkan mitranya? Saya tidak bisa menjawab. Setidaknya, hingga saat ini. 

Yang pasti, sebagai mitra, alias bukan karyawan dari PT Karya Anak Bangsa, tentu kita punya hak untuk setuju atau menolak. Pilihan ada pada diri kita masing-masing. 

Namun, saya pribadi meyakini, vaksin merupakan solusi untuk keluar dari pandemi. 

Ya, selain profesi sebagai ojol, saya juga blogger. Jelas, kangen dengan situasi yang berkaitan dengan acara offline. Apalagi, bertepatan dengan Ramadan. Biasanya, sebelum 2020, saya kerap ikut buka puasa bersama (bukber) dengan rekan-rekan blogger lainnya.

Lalu, apakah kita akan mendapat sanksi dari Gojek jika tidak ikut vaksinasi. Ini kabar burung yang saya dengar.

Kenyataannya adalah tidak. Gojek sudah pasti tidak akan sewenang-wenang memberikan sanksi kepada mitranya yang menolak vaksinasi.

Secara, vaksinasi merupakan program pemerintah, alias bukan Gojek atau PT Karya Anak Bangsa. Namun, sebagai ojol, kita memang dianjurkan untuk mengikuti arahan pemerintah.

Kenapa? Sebab, vaksinasi ini bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga demi melindungi keluarga kita, orang terdekat, tetangga, masyarakat di Tanah Air, hingga warga dunia. Itu karena target vaksinasi adalah kekebalan kelompok atau herd immunity.

3. Yeeei, poin kedua pada paragraf di atas, panjang pake banget. Saya pun yang mengetiknya sambil ngalong di salah satu kawasan kuliner di jantung ibu kota, jadi lupa nulis.

Yupz. Alasan ketiga saya ikut vaksinasi demi memastikan rasa aman dan nyaman kepada customer. Sebab, bagaimana pun, sebagai ojol, tentu kita akan berinteraksi dengan customer baik langsung atau tak langsung.

Contoh, dalam layanan GoRide, saya kerap bersentuhan saat memberikan helm, haircap, dan hand sanitizer. Nah, dengan kepastian sudah divaksinasi, setidaknya tidak membuat customer was-was. 

Apalagi, ketika saya tempel stiker pemberian Gojek bertuliskan, "Saya Sudah Divaksin!" di depan sepeda motor, banyak customer (GoRide) yang antusias. Bahkan, mereka memberi apresiasi, bahwa ojol memang jadi salah satu garda terdepan dalam situasi pandemi ini.

Saya pribadi, tentu bangga. Kendati hanya setitik di samudera, setidaknya saya sudah turut ikut berkontribusi dalam perputaran ekonomi bangsa ini melalui antar penumpang kerja, sekolah, kuliah, makanan, kirim dokumen, dan sebagainya.

Nah, saya sudah divaksin. Saya tunggu cerita dari rekan-rekan ojol lainnya!

*       *       *

Saya Sudah Divaksin!


*       *       *

Dapat suvenir dari Gojek berkat menceritakan kesan usai 
divaksin pada postingan instagram, @roelly87


*       *       *

Perwakilan Gojek foto dengan latar "Saya Sudah Divaksin"


*       *       *

Usai divaksin, saya dapat SMS
untuk jadwal kedua, bulan depan


*       *       *

Sertifikat Vaksinasi Covid-19 yang bisa diunduh
pada laman pedulilindungi.id


*       *       *

Stiker "Saya Sudah Divaksin" yang jadi nilai lebih
di mata customer


*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


Artikel Terkait Covid-19

Pentingnya Vaksinasi di Tengah Pandemi
Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini

*       *       *

DISKLAIMER: Artikel ini merupakan murni reportase saya sehari-hari sebagai blogger yang independen alias tidak terkait dengan pihak mana pun. Juga tanpa bermaksud menggurui.

Referensi:
- https://mui.or.id/berita/29845/fatwa-mui-nomor-13-tahun-2021-vaksinasi-injeksi-tak-membatalkan-puasa

Seluruh foto/gambar merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*       *       *

- Jakarta, 30 April 2021