TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2018

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Kamis, 20 September 2018

Tips Mudah Memilih Hotel Terbaik di Bandung yang Murah dan Nyaman


Kota Bandung memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi



Kenyamanan dan kepuasan Anda ketika liburan itu bukan hanya keseruan dari objek wisata yang dikunjungi tetapi juga dari tempat penginapan. Jika Anda bisa memilih hotel yang tepat dan nyaman tentunya istirahat mahal juga akan lebih berkualitas. Yang pasti pagi hari ketika akan memulai untuk berpetualang akan segar kembali. Nah, untuk memberikan kepuasan hal itu saat ini banyak sekali hotel terbaik di Bandung yang bisa Anda gunakan sebagai para wisatawan. Bahkan perkembangan baru terus muncul dalam dunia perhotelan Bandung.

Bandung sendiri merupakan salah satu destinasi wisata paling favorit bagi masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi sekarang ini banyak sekali perkembangan dari kota kembang tersebut dari sektor pariwisatanya. Tempat-tempat yang intragable bisa Anda kunjungi tanpa harus membayar mahal-mahal. Tetapi sebelum melakukan liburan tersebut Anda harus mempersiapkan segala sesuatunya, yang paling penting penginapan. Nah, berikut ini beberapa tips yang bisa Anda gunakan ketika memilih hotel di Bandung yaitu:

  1. Lokasi hotel.
Pertama yang perlu Anda jadikan sebagai pertimbangan adalah lokasi yang akan digunakan untuk menginap. Hal ini penting sekali karena akan berimbas pada kenyamanan Anda ketika akan berpergian kebeberapa tempat wisata pilihan. Sangat direkomendasikan untuk memilih hotel yang ada di Bandung dengan lokasi yang strategis. Misalnya saja dekat dengan beberapa objek, tempat makan, fasilitas umum atau dengan kata lain merupakan pusat kota.

  1. Fasilitas hotel.
Kedua untuk mendapatkan hotel terbaik yang ada di Bandung Anda harus melihat fasilitas yang ditawarkan. Ini tentu bukan hanya perlengkapan standar saja seperti kamar mandi, makan dan beberapa lain. Tetapi perlu juga Anda memperhatikan fasilitas penunjang lain, karena beberapa
hotel terbaik di Bandung telah menyediakan perlengkapan yang cukup lengkap.

  1. Harga.
Lalu dari harga yang ditawarkan, ini penting karena setiap orang mempunyai kisaran harga yang berbeda. Tidak sedikit yang memilih hotel di Bandung dengan harga minim karena untuk menghemat. Tetapi ada yang tidak segan membayar banyak untuk mendapatkan kenyamanan yang terbaik. Untuk mendapatkan harga yang terbaik atau termurah ada baiknya untuk menggunakan jasa situs booking online yang umumnya memberikan tawaran promo.

  1. Lihat review.
Ketika Anda menggunakan situs booking hotel secara online pasti ada banyak sekali keterangan yang ada. Mulai dari bintang, fasilitas, pelayanan, harga sampai dengan review dari orang lain yang telah menggunakan. Untuk mengetahui apakah itu termasuk dalam hotel terbaik atau tidak Anda jangan lupa melihat dari review tersebut.

Kemajuan jaman seperti sekarang ini memang memberikan Anda banyak kemudahan, bahkan seakan semakin dimanja dengan teknologi. Begitu pula ketika akan melakukan pemesanan hotel sudah tidak perlu lagi telepon ataupun datang. Karena dengan melihat situs booking hotel terbaik sudah ada jelas semua data, mulai dari kredibilitas hotel, harga sampai dengan ketersediaan kamar. Untuk Bandung sendiri mempunyai beberapa hotel pilihan yang terbaik dan murah seperti De batara hotel, Amira hotel, Vio hotel, Pop hotel dan masih banyak lagi lainnya.

Harga memang sering dijadikan sebagai patokan dasar orang memilih hotel ketika liburan ataupun berkunjung kota lain. Meskipun harga yang Anda minta murah tetapi belum tentu mendapatkan penginapan yang standar. Karena hotel terbaik di Bandung sendiri bukan saja identik dengan harga mahal tetapi juga harga yang terjangkau. Itulah beberapa referensi yang bisa dibagi, semoga dapat bermanfaat dan berguna bagi Anda yang akan melakukan liburan. Atau dapat juga membaca ulasan lain dari travel blog yang mungkin bermanfaat bagi Anda.


*            *           *

- Jakarta, 20 September 2018

Rabu, 05 September 2018

Ada Widya Amelia di Balik Popularitas Bulu Tangkis


Widya Amelia bersama tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)



MALAM itu, langit Kota Banteng tampak cerah. Suasana yang hangat itu mewarnai penjemputan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon di Terminal 2D Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/3).

Antusiasme pun menyelimuti ratusan orang. Mulai dari jurnalis, warganet, fan, hingga pejabat. Maklum, dua hari sebelumnya, Kevin/Marcus sukses mempertahankan All England 2018. Pasangan yang akrab disapa Minions ini jadi ganda putra pertama yang mampu menyamai rekor 22 tahun silam. Tepatnya, setelah diraih Ricky Subagja/Rexy Mainaky pada 1995 dan 1996.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.03 WIB. Tampak, beberapa perwakilan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) keluar dari bagian imigrasi. Termasuk, wanita berhijab yang mendorong troli berisi dua tas besar dengan di bahu kiri tergendong kamera.

Tak lama, Kevin/Marcus pun keluar didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Ketua Umum PBSI Wiranto, Chef de Mission (CdM) Indonesia untuk Asian Games 2018 Syafruddin, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Yang menarik, wanita tersebut tidak istirahat setelah menempuh perjalanan belasan jam dari Birmingham, Inggris. Bak smash power-nya Zhang Ning pada masa kejayaan, pemilik blog badmintonaddict.wordpress.com ini sudah berada di kerumuman peliput.

Bahkan, tanpa kenal lelah, langsung melanjutkan rutinitasnya. Tangan kiri menggenggam kamera dan kanannya menyorotkan smartphone ke arah Kevin/Marcus.

Mata panda yang mungkin akibat kurang tidur pun terlihat. Namun, hingga acara selesai, wanita yang 6 Juli lalu merayakan hari kelahirannya ini tetap bertahan hingga bubaran. Sambil, sesekali berakrobatik. Kamera dilepas, dan kedua tangannya asyik mengetik sesuatu pada note di smartphone.

Ketika TopSkor.id bersama belasan media sedang asyik menikmati santap malam mengikuti perjamuan dari Menpora untuk KevinMarcus di salah satu restoran di kawasan Ancol, Jakarta Barat, masuk email. Yaitu, dari humas PBSI, lengkap dengan foto dan narasi berisi berbagai komentar.

*          *          *
"HA ha ha, ga kok. Ini kerja tim. Di Humas PBSI kan ga hanya saya saja," ujar Widya Amelia saat ditemui TopSkor.id di Lapangan Bulu Tangkis Kemenpora, Selasa (4/9). Yaitu, disela-sela pemberian bonus dari Menpora untuk 20 atlet bulu tangkis yang tampil di Asian Games 2018 yang turut dihadiri Kevin, Marcus, Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan lainnya.

Sosok yang jadi wartawan di PBSI sejak 2011 ini awalnya menolak diwawancarai, "Ah jangan saya deh." Namun, jadi antusias ketika membahas terkait suka dan dukanya untuk jadi pendamping segenap pahlawan tepok bulu yang bertanding di dalam dan luar negeri.

"Mas, fotonya saya jangan sampai kelihatan gemuk ya," tutur sosok yang kerap curhat tapi tak jelas di akun twitter-nya, @mrsbirama.

Ya, di kalangan jurnalis, Widya mendapat julukan penyambung lidah atlet. Itu karena profesinya di tim humas PBSI Widya yang selalu mengirim komentar dan foto dari setiap pebulu tangkis Indonesia tampil. Baik ketika ada turnamen di dalam maupun luar negeri.

Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak tujuh tahun silam. Tepatnya, ketika memutuskan untuk mengundurkan diri dari salah satu perusahaan IT ternama asal Paman Sam.

"Bekerja di PBSI ini seperti mimpi jadi nyata bagi saya," Widya menuturkan dengan semangat berapi-api.

"Sejak kecil, saya memang suka badminton. Dulu, kantor saya di kawasan Senayan. Saya sering mengintip jika ada Indonesia Open yang berlangsung di Istora (Istana Olahraga). Penasaran, (penontonnya) sudah ramai atau belum. Sampai, bos saya bilang, oke-oke, Wid. Kamu bisa nonton."

"Nah, tahun depannya saya cuti selama sepekan setiap ada Indonesia Open," sosok yang suka membuat Badminton Lovers di Tanah Air penasaran lewat akun instagram-nya, @AmeliaWidy ini menambahkan.

Ya, media sosial (medsos) seperti twitter dan instagram serta blog pribadinya itu memang sangat ditunggu warganet. Sebab, isinya mengupas berbagai sisi lain tentang atlet bulu tangkis. Baik itu suka maupun duka .

Apa yang dituliskan Widya yang jarang dimuat media massa itu yang jadi penambah kedekatan fan dengan atlet. Apalagi, dengan gaya penuturanya yang khas. Seolah, pembaca blognya maupun followers twitter dan instagram-nya bisa menyelami dari kehidupan sang atlet tersebut.

"Kadang kalau menghadapi atlet itu beda dengan orang lain. Sebab, mereka fokusnya ke pertandingan saja. Jadi, saya harus menempatkan diri jadi orang yang dipercaya. Supaya, mereka nyaman sehingga mau mengeluarkan komentar," kata Widya, semringah.

Pernyataan tersebut beralasan. Pasalnya, ada beberapa atlet yang memang enggan diwawancarai. Tidak hanya dari bulu tangkis saja, melainkan cabang olahraga (cabor) lainnya seperti sepak bola, basket, voli, hingga bela diri. Seperti yang TopSkor.id kerap alami sepanjang Asian Games 2018 yang bergelimang medali ini.

Bukan berarti atlet tersebut sombong. Namun, adakalanya mereka susah untuk bicara dengan beberapa mengarah ke introvert. Atau, hanya fokus terhadap pertandingan. Itu mengapa, dalam setiap event, khususnya berskala multinasional ke atas, atlet kerap didampingi pelatih dan manajer saat wawancara.

"Harus bisa melakukan pendekatan persuasif. Kebetulan, saya di Pelatnas sejak 2011. Jadi, sudah lumayan lama. Saat ini hanya ada beberapa pemain senior. Untuk yang sekarang, ketika itu masih junior bahkan belum masuk," lanjut Widya yang mempopulerkan frasa Ciumbrella di kalangan Badminton Lovers merujuk pada pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur.

*          *          *

TUJUH Tahun bukan waktu sebentar Juga tidak terlalu lama. Dalam periode itu, bulu tangkis Indonesia mengalami pasang surut. Misalnya, pada 2012 dengan terputusnya tradisi emas Olimpiade. Beruntung, empat tahun berselang,  Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sukses menyambung kembali mutiara yang hilang tersebut bagi rakyat Indonesia.

Bahkan, ganda campuran andalan Indonesia itu melakukannya tepat pada 17 Agustus waktu Rio de Janeiro. Alias, pasangan yang populer disapa Owi/Butet ini mempersembahkan medali emas Olimpiade 2016 pada HUT ke-71 Indonesia!

"Di antara pemain, saya paling dekat dengan Butet. Mungkin, karena usia kami tidak beda jauh. Apalagi, saya hampir selalu ada (meliput) ketika Owi/Butet juara," lanjut Widya dengan nada bergetar.

Kemungkinan merasakan mulai 2019 sudah tidak bisa meliput Butet. Pasalnya, Liliyana telah memutuskan untuk gantung raket pada awal tahun depan.

"Banyak momen spesial saya saat mendampingi atlet. Secara, pekerjaan saya (mewajibkan) nyaris setiap event berada di samping mereka. Mulai dari menulis hasil pertandingan, memotret, kirim email ke media, hingga interpreter jika ada wartawan asing yang ingin mewawancarai atlet Indonesia," ibu satu anak ini melukiskan.

Kerap meliput sendirian dengan banyaknya agenda pada setiap event tidak menjadi beban bagi Widya. Sebaliknya, disela-sela aktivitasnya itu, wanita berbintang Cancer ini menyempatkan untuk membagikan pengalamannya di medsos.

Baik itu soal atlet bertanding, latihan, atau pernak-perniknya. Tak heran jika akun medsos Widya kerap diserbu warganet. Bahkan, dikutip media mainstream.

"Saya tidak tahu, ternyata atlet-atlet nungguin (postingan di medsos) saya setiap hari. Padahal, isinya curhat-curhat begitu. Namun, banyak yang suka. Mulai dari atlet hingga warganet," Widya, menjelaskan setelah sebelumnya -terkait kehadiran Jonatan dan atlet putra lainnya di Kemenpora- mencuit, "Netyjen jangan baper ya liat cogan-cogan malem ini. #demikian."***

*          *          *
"Mas, fotonya saya jangan sampai kelihatan gemuk ya"

*          *          *
Widya Amelia turut mewawancarai Susy Susanti jelang Indonesia Open 2018
yang hasilnya dikirim ke media di Tanah Air 

*          *          *
Widya Amelia keluar dari Terminal 2D Bandara Soetta usai
meliput All England 2018

*          *          *
https://www.topskor.id/detail/70618/Terima-Kasih-KevinMarcus/7

- Jakarta, 5 September 2018

Selasa, 04 September 2018

Wawancara Eksklusif Presiden IOC Thomas Bach


Yeeeeeee selpiiih bareng dengan Presiden IOC Thomas Bach!
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)



ASIAN Games 2018 kedatangan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach. Kehadiran pria asal Jerman itu dimaksudkan menghadiri Upacara Penutupan, Minggu (2/9) malam.

Sebelum itu, TopSkor dan beberapa media dapat kesempatan bertatap muka dengannya. Kedatangannya pun dikaitkan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Terlebih, Jumat (1/9) malam, Bach bersantap malam dengan Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, dan Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 Erick Thohir.

Bach pun memberi penilaian positif, seiring antusiasme kaum muda di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

Indonesia ingin jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Bagaimana peluangnya...

Olimpiade adalah event global, diikuti lebih dari 200 negara. Indonesia salah satu calon kuat tuan rumah Olimpiade 2032, khususnya jika melihat kesuksesan Asian Games 2018.

Seberapa sukses gelaran Asian Games 2018?

Saya melihat Indonesia sukses di semua aspek. Crowd-nya luar baisa dan venue juga sangat bagus. Dari Asian Games ini, saya melihat, masyarakat Indonesia punya antusiasme yang sangat besar terhadap olahraga. Saya tak pernah membayangkan hal ini ada di sini.

Lalu, bagaimana dengan penyelenggaraan Asian Games 2020 di Hangzhou, Cina...

Dengan kesuksesan Indonesia menggelar Asian Games 2018, tentu tak akan jadi tantangan tersendiri bagi Hangzhou menggelar Asian Games berikutnya. Namun, mereka pastinya sudah mengirim tim observasi. Saya cukup yakin mereka juga akan sukses.

Dengan pengalaman Cina yang sangat kaya dalam menggelar multievent, seberapa besar peluang mereka lebih sukses dari Indonesia?

Sejatinya, setiap gelaran Asian Games maupun Olimpiade, sekalipun tidak bisa dibandingkan begitu saja. Setiap edisi pastinya punca ciri khas masing-masing. Sebab, setiap tuan rumah menonjolkan budaya yang mereka miliki dan itu juga terlihat di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan Olimpiade 2020 Tokyo?

Tokyo juga harus bisa mencontoh Asian Games 2018. Kita lihat, bagaimana Indonesia mampu menyelenggarakan event dengan jumlah cabang olahraga yang banyak.

Korea Selatan dan Utara bersatu di Asian Games 2018. Bagaimana pendapat Anda?

Itulah Olahraga,  harus bisa menyatukan semua. Begitu pun Olimpiade, harus bisa jadi ajang perdamaian bagi semua negara di dunia. Di sini, dua Korea bisa bersatu dan meraih medali. Tentu ini sangat hebat. Namun, bagaimana proses perdamaian ke depan, tentu ini bergantung pada pemangku kebijakan kedua negara tersebut.***

*         *         *
Thomas Bach mengunjungi Main Press Center Asian Games 2018 di Jakarta
Convention Center

*         *         *
Thomas Bach didampingi Direktur Media dan PR Panitia Nasional Penyelenggara
Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) Danny Buldansyah

*         *         *
Kehangatan diskusi dengan sejumlah media Tanah Air yang mendapat undangan
dari INASGOC

*         *         *
Ramahnya Thomas Bach yang meluangkan waktu untuk menemui media Tanah Air

*         *         *
Yessss! Foto bersama dengan Thomas Bach

*         *         *
Hasil wawancara dengan Thomas Bach di Harian TopSkor

*         *         *

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi 187, Senin 3 September 2018
Penulis: KH Dhaneswara/ Choirul Huda
Foto: Choirul Huda

- Jakarta, 4 September 2018

Jumat, 31 Agustus 2018

Catat, Mamma Mia! Hadir di Jakarta hingga 9 September


Salah satu cuplikan dari Mamma Mia! yang memesona
(Klik foto untuk perbesar atau geser untuk melihat gambar lainnya)

AKHIRNYA, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ya, penantian panjang nyaris delapan bulan itu pun terbayar tuntas.

Tepatnya dengan menyaksikan penampilan memesona dari drama musikal Mamma Mia!. Saya mengetahuinya sejak menghadiri jumpa pers pada 7 Maret lalu. Sebelumnya, saya hanya tahu Mamma Mia! itu drama musikal yang membawakan berbagai lagu favorit dari musisi legendaris ABBA.

Namun, ternyata keliru. Sebab, Mamma Mia! lebih dari sekadar nostalgia. Kebetulan, saya besar pada era 1990-an. Tentu, saya lebih mengenal November Rain-nya Guns N' Roses, You're Still the One (Shania Twain) atau di dalam negeri seperti Dewa 19, Padi, Nike Ardilla, dan sebagainya.

Sementara, ABBA sudah populer sejak 1970-an silam. Bersanding dengan Queen, Led Zeppelin, dan sebagainya. Kendati, banyak lagu-lagu dari band asal Swedia ini yang di-cover musisi generasi selanjutnya. Misalnya, Sherina Munaf yang membawakan I Have a Dream bersama Westlife.

*         *         *
SELASA (28/8) jadi salah satu hari yang tak terlupakan bagi saya. Pertama, mendapat apresiasi dari Bank Central Asia (BCA) terkait reportase. Oh ya, BCA ini merupakan official bank partner Mamma Mia!.

Siangnya, menyaksikan perjuangan wakil Indonesia yang mendapat dua medali emas Asian Games 2018 lewat cabang olahraga (cabor) bulu tangkis. Yaitu, Jonatan Christie melalui tunggal putra dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra). Sebagai penggemar olahraga, saya bangga dengan pahlawan tepok bulu yang mampu mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia.

Malam harinya, saya berkesempatan menyaksikan drama musikal Mamma Mia! Bahkan, sebelumnya, saya dan rekan-rekan blogger serta jurnalis mendapat kehormatan untuk mengikuti Media Day. Yaitu, cuplikan pertunjukan Mamma Mia! lengkap dengan para pemain, kostum, dan set panggung yang akan digunakan saat tampil.

Pada sesi ini, kami diberikan keistimewaan untuk mengambil gambar. Sementara, ketika tampil, demi menjaga ketenangan saat menonton dari bunyi kamera, hanya diperbolehkan memotret sebelum atau sesudah pertunjukan.

Bagi saya, jelas ini suatu kebanggaan. Kebetulan, saya menyukai berbagai pertunjukan seni. Mulai dari wayang hingga konser. Misalnya, Rockestra yang mempertemukan Dewa, Slank, dan Gigi (Generasi 90-an pasti khatam ketiga band legendaris ini), 100 Tahun Ismail Marzuki, Bon Jovi, Super Junior! dan sebagainya.

Tak heran jika saya pun sangat antusias untuk menyaksikan MammaMia!. Selain nostalgia berbagai lagu ABBA, saya sangat kagum dengan set panggung. Dekorasinya minimalis, tapi efisien. Terlebih, dengan permainan cahaya yang visualisasinya seperti mengajak penonton untuk menemani Sophie Sheridan di panggung.

*         *         *

ANDA penasaran dengan pengalaman yang saya rasakan? Silakan menyaksikannya sendiri. Mamma Mia! merupakan salah satu pertunjukan musikal paling sukses di dunia. Keberadaannya sudah berlangsung selama 19 tahun di West End, London.

Hingga kini,  pertunjukan tersebut telah ditonton lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia. Bahkan, dipentaskan melalui 60 produksi dalam 16 bahasa yang berbeda.

Termasuk, di Indonesia yang berlangsung sejak 28 Agustus lalu hingga 9 September mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Alias, masih ada lebih dari sepekan bagi Anda untuk menyaksikan pertunjukan yang membawakan berbagai lagu favorti dari musisi legendaris ABBA.

Sebagai gambaran, Mamma Mia! sudah jadi pertunjukan yang dicintai di seluruh dunia dengan musikalitas yang ceria dan nuansa Yunani cerah. Beberapa lagu yang dibawakan seperti Dancing Queen dan I Have a Dream akan mengajak penonton untuk bernyanyi bersama, bernostalgia, dan menghayati kisahnya.

"Kami sangat senang Mamma Mia! dapat hadir di Jakarta. Kami menghadirkan seluruh kru produksi yang terlibat di West End London yang terdiri dari pemain, musisi, serta di balik layar," kata Associate Producer tur Mamma Mia! Nick Grace, dalam diskusi dengan blogger dan jurnalis

"Seluruh produksi yang kami bawa ke Jakarta dari pencahayaan, suara, pemandangan, hingga kostum merupakan elemen-elemn yang saling mendukung. Sekaligus, untuk memastikan apa yang penonton lihat nanti sama persis dengan yang ada di London."

Dalam jumpa pers itu, turut hadir Marketing Director SGE (Sorak Gemilang Entertainment) Mervi Sumali, Lucy May Braker (pameran Shopie), Helen Hobson (Donna Sheridan), Daniel Crowder, Matthew Rutherford, Tamlyn Hendersen (tiga ayah), dan Pillip Ryan (aktor).

"Kami mewakili seluruh pemain dan kru Mamma Mia! sangat bersemnagat untuk tampil di Jakarta. Sekaligus diberi kesempatan untuk menunjukkan produksi yang luar biasa untuk kali pertama di Indonesia. Kami akan memberikan waktu yang tak terlupakan bagi para penonton melalui cerita dan musik yang riang," Shopie, menjelaskan.

*         *         *
SEBAGAI gambaran, Mamma Mia! mengisahkan tentang cinta lintas generasi yang terpusat pada kehidupan ibu dan anak. Drama Musikal ini merupakan karya sensasional dari Judy Craymer yang ditulis Catherine Johnson, Phyllida Lloyd (sutradara), Anthony Van Laast (koreografi), dan Benny Andersson dan Bjorn Ulvaes (musik dan lirik).

Di Tanah Air, Mamma Mia! melakukan tur bekerja sama dengan SGE Juga didukung BCA untuk pembayaran tiket dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mamma Mia! berdurasi 2 jam 35 menit dengan jeda istirahat 20 menit.***


Sekilas Informasi:

Harga Tiket:

Kategori
VIP
Platinum
Gold
Silver

Normal
Rp 2.650.000
Rp 2.350.000
Rp 1.650.000
Rp 850.000

Keterangan: Harga di atas sudah termasuk pajak hiburan dan belum termasuk biaya admin tiket 3,3%

Waktu Pertunjukan:
28 Agustus hingga 9 September (16 kali)
Selasa - Kamis: 20.00 WIB
Sabtu: 14.30 dan 19.30 WIB
Minggu: 13.00 dan 18.30 WIB

Info pemesanan:
Websitewww.mammamiajkt.com
Telepon: 0813 2587 5388
Langsung di TempatTeater Jakarta, TIM
Instagram@Sgelive.id

*         *         *
Tiga rekan blogger mengabadikan momen dengan latar Mamma Mia!

*         *         *
Sophie Sheridan membahas terkait penampilan seluruh pemain dan kru yang
diboyong langsung dari Inggris

*         *         *
Diskusi hangat terkait konser bersama rekan-rekan blogge dan jurnalis

*         *         *
Mamma Mia! siap dimulai

*         *         *
I Have a Dream dari ABBA jadi lagu pamungkas yang mengiringi drama
musikal ini

*         *         *
Visualisasi dan tata cahayanya luar biasa

*         *         *
Mamma Mia! menggelar pertunjukan di Jakarta sejak 28 Agustus hingga
2 September mendatang

*         *         *
Mamma Mia! sudah dipentaskan melalui 60 produksi dalam 16 bahasa berbeda

*         *         *
Tahun ini merupakan kali pertama Mamma Mia! hadir di Jakarta yang mendapat
sambutan hangat dari penonton

*         *         *

*         *         **         *         **         *         **         *         *
*         *         **         *         *
- Jadi Saksi Sejarah Bersama MAMMA MIA!

*         *         *
- Jakarta, 31 Agustus 2018

Selasa, 28 Agustus 2018

Fajar/Rian Itu Buaya, tapi Kevin/Marcus Penyayang Binatang


Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Foto TopSkor.id/Sri Nugroho)


HASRAT Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto untuk mencicipi medali emas Asian Games 2018, harus tertunda. Setidaknya, hingga empat tahun mendatang, di Hangzhou, Cina.

Itu akibat dikalahkan sahabat sekamarmya di pelatnas Cipayung, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Dalam All Indonesian Final pada cabang olahraga (cabor) bulu tangkis ganda putra itu, Fajar/Rian menyerah 21-13, 18-21, 22-24.

Tidak hanya mereka saja yang kecewa dengan kekalahan skor tipis di Istana Olahraga (Istora) Gelora Bung Karno, siang tadi. Melainkan juga, fan fanatik Fajar/Rian.

Ya, ganda putra yang akrab disapa Fajri itu memang sudah berduet sejak 2014 yang setahun lebih awal dari Kevin/Marcus. Wajar, jika Fajar/Rian pun memiliki fan yang lumayan banyak dari penjuru Tanah Air.

"Nyesek sih, kalah tipis. Setipis senyum Rian," ujar Florencia Maulida, saat ditemui TopSkor.id usai keluar dari Istora, Selasa (28/8).

Dara 24 tahun ini mengaku sebagai penggemar setia Fajri. Kendati, secara prestasi, idolanya itu masih tertinggal dari Kevin/Marcus yang sejak 2017 merajai blantika tepok bulu.

"Ya, habis gimana. Sudah kadung suka sama mereka. Fajri itu, kalem. Mainnya tenang meski ga sedingin Hot Daddies," Florencia merujuk pasangan senior peraih emas Asian Games 2014, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Fakta tersebut diakui kawannya Nunik Armavati. Mereka menilai, apa yang dilakukan Fajar/Rian sudah sangat luar biasa.

"Di semifinal sukses mengalahkan ranking dua dunia (Li Junhui/Liu Yuchen). Ini sangat positif. Saya yakin, empat tahun lagi Fajar/Rian yang meraih medali emas," Nunik, menambahkan.

"Kelamaan. Dua tahun lagi di (Olimpiade 2020) Tokyo, juga bisa. Syaratnya, pada poin-poin krusial, Fajar/Rian harus fokus," timpal Florencia, cepat.

Pernyataan penggemar Lee Yong Dae ini beralasan. Dalam komentarnya seusai pertandingan, Fajar/Rian menegaskan kekalahan di final Asian Games 2018 ini jadi motivasi demi lebih baik lagi pada event akbar selanjutnya.

"Fajar/Rian itu seperti buaya. Tenang, tenang, tapi siap menerkam mangsa. Nyaris saja, (Kevin/Marcus) bisa dikalahkan," tutur Florencia yang tak henti memainkan gadgetnya meski sambil jalan. 

Bahkan, beberapa kali, sosok yang mengaku tidak jomblo melainkan belum dapat jodoh yang tepat ini kegirangan. Setelah ditelisik, ternyata di layar smartphone-nya terpampang trending topic twitter untuk frasa FajRi.

"Sayangnya, Kevin/Marcus penyayang binatang. Jadi, seganas apa pun buayanya, tetap bisa dijinakkan," Nunik berseloroh sembari menowel Florencia.

Faktanya, dari berbagai sisi, untuk saat ini Kevin/Marcus memang di atas Fajar/Rian. Termasuk, ketika TopSkor.id membuat polling di twitter.

76 persen warganet percaya, Kevin/Marcus yang memenangkan All Indonesian Final. Alias, hanya 24% yang mengunggulkan Fajar/Rian.

"Ya, mereka kurang beruntung hari ini. Selamat untuk Kevin/Marcus. Meski (Fajar/Rian) kalah, tapi tetap bangga. Apalagi, terjadi All Indonesian Final yang berarti memastikan medali emas Asian Games 2018," lanjut Florencia sambil menggaet Nunik yang mendadak tidak jadi ke arah Jalan Jenderal Sudirman, tapi menuju Asian Games 2018 Official Merchandise Super Store.

Alias, toko suvenir resmi pesta olahraga antarnegara Asia. "Bulu tangkis kan sudah selesai. Saatnya belanja kenang-kenangan Asian Games 2018. Kan, belum tentu 10-20 tahun lagi, Indonesia kembali jadi tuan rumah," tutur Florencia dengan senyumnya yang renyah.***

- Jakarta, 28 Agustus 2018
(Artikel ini sebelumnya dimuat di www.TopSkor.id)

Senin, 27 Agustus 2018

Kevin/Marcus Itu Racun, tapi Rasa Stroberi!


Foto bersama tim beregu putra Indonesia usai mendapatkan medali perak
Asian Games 2018

ANTUSIASME penonton untuk mendukung setiap wakil Indonesia yang bertanding di Asian Games 2018 ini sangat luar biasa. Itu terlihat di kawasan Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat.

Sejak pagi,  sudah banyak masyarakat yang mendatangi komplek olahraga terbesar di Tanah Air. Maklum Senin (27/8) ini terdapat beberapa pertandingan yang melibatkan wakil Merah-Putih di Komplek GBK.

Mulai dari Karate di Jakarta Convention Center (JCC), Squash (Squash Arena), Voli (Voli Arena), Basket 5x5 (Basket Hall), dan bulu tangkis (Istana Olahraga). Setiap cabang olahraga (cabor) memiliki penggemar masing-masing.

Salah satunya, bulu tangkis yang hari ini mempertandingkan tunggal putra dan ganda putra. Terdapat empat wakil Indonesia yang akan bertanding mulai pukul 12.30 WIB.

Namun, mayoritas masyarakat sudah memadati GBK sejak pagi. Termasuk, Nindya Arifin, yang bersama empat rekannya sudah tiba dari pukul 09.00 WIB.

“Ga sabar nunggu Mpin main. Semoga bersama Sinyo bisa lolos ke final besok,” kata Nindya, saat ditemui TopSkor.id di GBK sambil menyebut panggilan akrab untuk Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon.

Kebetulan, mahasiswi asal Jagakarsa ini memarkirkan kendaraannya di salah satu pusat perbelanjaan di Pintu Satu Senayan. Dari mal yang bersebelahan dengan gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu, Nindya jalan kaki menuju Istora.

“Capek sih. Lumayan jauh. Namun, gimana lagi. Yang penting, sebagai masyarakat kami berusaha untuk mendukung wakil Indonesia bertanding. Semoga bulu tangkis bisa mewujudkan target emas,” Nindya, menambahkan.

Sepanjang pesta olahraga antarnegara Asia ini berlangsung, GBK memang steril terhadap kendaraan. Kecuali bagi atlet, ofisial, Presiden dan Wakil Presiden serta tamu VIP

Namun, Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) menyediakan kantong-kantong parkir bekerja sama dengan sejumlah pihak. Baik itu di mal, Kementerian Pemuda dan Olahraga, SCBD, dan sebagainya.

“Bangkrut kita kalo tiap hari kayak gini. Bayangkan, per jamnya saja berapa Ini nonton dari pagi sampai malam. Namun, tidak apa-apa Asian Games 2018 ini kan kali kedua Indonesia jadi tuan rumah setelah 1962. Butuh 56 tahun lho. Mungkin, Indonesia jadi tuan rumah lagi pas kita-kita sudah jadi nini-nini,” lanjut Nindya, semringah yang memberi warna dalam perjalanan menuju Istora.

“Emas bisa lah dua dari bulu tangkis. Ganda putra dan tunggal putra masing-masing satu. Semoga bisa All Indonesian Final di dua nomor itu,” Yanti Oktavia, rekan Nindya, menimpali.

Ya, selain Kevin/Marcus, ada Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang tampil di ganda putra. Sementara, untuk tunggal putra diwakili Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie.

“Jojo (Jonatan) itu ganteng banget. Senyumnya bikin meleleh,” Wiwin Laksana, salah satu dari rombongan mereka buka suara.

“Biasa saja. Gw sih lebih tertarik lihat (Carolina) Marin. Sayangnya dia ga tampil,” Agus Rukmana,  salah satu dari dua pria yang berada di rombongan tersebut menimpali.

“Yeee, lo mah cowo. Liatnya yang bening-bening terus. Lagian, Marin mah Spanyol. Ga mungkin (tampil) di Asian Games,” Yanti, mengomentari.

“Kalo gw sih siapa saja yang penting bisa mengharumkan Indonesia. Etapi kalo bisa sih Kevin/Marcus juara. Maaf ya, untuk penggemar Fajar/Rian,” Nindya, kembali buka suara.

“Bagi gw, Kevin/Marcus itu racun,  tapi rasa stroberi. Nonton pertandingan mereka selalu deg-degan. Namun, justru bikin nagih,” dara 21 tahun ini melanjutkan dengan ekspresi datar yang membuatnya diserbu kawan-kawannya dengan balon tepuk dari sponsor.

“Emang ngeselin sih Mpin sama Sinyo. Namun, ga seru nonton mereka. Setiap lewat perempat final, Kevin/Marcus sudah autowin,” Adi Anggoro yang sejak tadi sibuk dengan smartphone-nya akhirnya angkat bicara.

“Fajar/Rian boleh juga. Kalem tapi mematikan,” lanjut Yanti.

Tak terasa, perbincangan hangat dengan mereka membuat perjalanan terasa singkat TopSkor.id pun berpisah dengan kelima mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi Jakarta Pusat tersebut.

Mereka menuju gate penonton dan TopSkor.id ke arah media. Tak lama usai mengucapkan terima kasih karena bersedia diwawancarai sepanjang jalan, terdengar sayup-sayup kehebohan dari kelimanya.

“Kevin/Marcus kan dibilang autowin. Berarti menang di semifinal.”

“Juaranya Fajar/Rian.”

“Misaki (Matsutomo)/Ayaka (Takahashi) juga boleh.”

“Ih gw dora aja deh (Chen Qingchen/Jia Yifan).”

“Jojo 100%.”

“Ginting lah.”

“Biar adil, siapa pun yang juara, pak Haryanto paling konsisten. Habis, setiap hari beliau selalu di Istora sih.”

“Setuju.”***

- Jakarta, 27 Agustus 2018
(Artikel ini sebelumnya dimuat di www.TopSkor.id)

Jumat, 24 Agustus 2018

20 Tahun Tissot Jadi Pencatat Waktu di Asian Games


Rekan blogger Zata Ligouw sedang mengabadikan keindahan empat jam tangan
Tissot edisi khusus Asian Games 2018
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


ADAGIUM lawas mengatakan, "Waktu adalah uang". Yupz, meski tidak meyakini, tapi saya percaya dengan pepatah kuno tersebut. Sebab, ketepatan waktu merupakan hal yang mutlak.

Misalnya, sebagai jurnalis olahraga atau blogger, saya tidak pernah main-main dengan waktu. Tepat waktu jadi kunci dalam berbagai hal. Baik itu dalam kehidupan sehari-hari, profesi, keluarga, dan lainnya.

Nah, terkait waktu, saya jadi ingat dengan Tissot. Yaitu, merek jam tangan tradisional nomor satu dari Swiss. Tissot merupakan produsen arloji ternama. Kualitasnya tidak pernah diragukan. Selain itu, Tissot juga kerap jadi penanda dalam suatu event akbar olahraga. Termasuk, Asian Games yang sudah berlangsung sejak 1998 hingga kini.

Nah, saat ini, Tissot memperingati dua dekade kerja sama dengan Dewan Olimpiade Asia (OCA). Yaitu, sebagai official timekeeper Asian Games 1998, 2002, 2006, 2010, 2014, dan 2018. Sejak saat itu, perusahaan yang didirikan Charles-Felicien Tissot dan Charles-Emile Tissot pada 1853 ini jadi acuan waktu dalam setiap pertandingan. Baik itu kepada atlet, wasit, ofisial,  pelatih, hingga penonton, untuk menyimak catatan waktu atau rekor.

Bisa dipahami mengingat Tissot dan Asian Games mementingkan nilai yang sama. Itu meliputi tradisi, presisi, dan passion. Seperti merek jam tangan, Asian Games yang diadakan setiap empat tahun sekali ini memiliki kekayaan sejarah sejak diselenggarkan kali pertama pada 1951.

*        *        *

ASIAN  Games merupakan acara tertua serta paling bergengsi dalam kalender OCA. Asian Games diikuti banyak peserta dari berbagai negara di Asia yang merupakan ajang kompetisi berbagai cabang olahraga terbesar kedua di kolong langit setelah Olimpiade.

"Asian Games mencerminkan semangat Tissot yang terlihat dari keberagaman dan dinamisme. Ajang sekelas ini juga memungkinkan Tissot menunjukkan kualitas pencatatan waktu yang sempurna dan akurat untuk membuktikan kualitas produk kami," kata Presiden Tissot Francois Thiebaud.

Menurutnya, pengalaman sebagai pencatat waktu resmi Asian Games sejak 1998 jadi alasan bagi Tissot untuk terus meningkatkan kualitas. Perusahaan yang bermarkas di Le Locle, Swiss, ini ingin memberikan presisi yang lebih baik serta lebih banyak inovasi.

"Ini seperti yang kami lakukan untuk jam buatan kami. 'Innovators dengan tradisi' merupakan motto kami. Hal ini yang terus kami lakukan," Thiebaud, menambahkan yang didampingi peraih emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Nah, dalam rangka merayakan 20 tahun kemitraan dengan OCA untuk Asian Games, Tissot dengan bangga mempersembahkan empat jam tangan Limited Edition. Edisi khusus ini hanya dibuat demi Asian Games 2018.

- Tissot T-Touch Expert Solar
Perjalanan Tissot dalam tactile technology sangat sukses dan jadi leader di dunia. Sejak kali pertama diluncurkannya jam tangan dengan layar sentuh, Tissot T-Touch pada 1999 Ini jadi langkah penting dalam dunia pembuatan jam tangan yang memberikan berbagai fungsi yang memudahkan berbagai kegiatan. Technology layar sentuh menyediakan berbagai fungsi, antara lain meteo, kompas, altimeter, alarm, chronograph,  dan lainnya.

- Tissot Chrono XL Classic
Jam chronograph dengan diameter 45mm merupakan model terbaru dalam koleksi Tissot.

- Tissot PR 100 Gent and Tissot PR 100 Lady
Dengan precision and robustness (ketepatan dan kekuatan) sejak kali pertama diluncurkan pada 1984, PR 100 selalu jadi best-seller dan sangat diandalkan penggunanya.

*        *        *

DEMIKIAN fakta yang saya rangkum usai menghadiri press conference "Celebrating the 18th Anniversary Partnership of Tissot and Asian Games" di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Minggu (19/8). Alias, hanya beberapa jam setelah menyaksikan pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Dua acara yang berlangsung dengan selang jam itu jadi salah satu periode menarik saya sepanjang tahun ini. Untuk Tissot, saya tidak asing lagi. Sebagai penggemar olahraga, saya kerap menyaksikan Tissot sebagai sponsor utama dalam berbagai event major. Misalnya, MotoGP, Superbike, Tour de France, hoki, hingga NBA .

Tissot juga merupakan andalan berbagai pesohor di muka bumi. Mulai dari pembalap F1, Marc Marquez, Jorge Lorenzo (MotoGP), Tony Parker (NBA), hingga Liu Yi Fei (pameran Mulan).

Tak heran, dalam 165 tahun keberadaannya, Tissot jadi salah satu merek jam tangan ternama di dunia. Brand yang terkenal premium ini terjual di lebih dari 160 negara, termasuk di Indonesia. Nah,di Tanah Air, Tissot bisa ditemukan pada 106 gerai. Mulai dari Tissot Boutique Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, hingga gerai atau butik lainnya di berbagai kota di Indonesia.


Tertarik jadi bagian dari eksklusivitas bersama Tissot? Simak info di bawah ini:
Website: www.tissotwatches.com
Twitter: twitter.com/tissot
Facebook: facebook.com/Tissot
Instagram: instagram.com/tissot_official
Youtube: youtube.com/tissot

*        *        *
Rekan blogger Anita Mayaa terpikat dengan Tissot PR 100 Lady yang memesona

*        *        *
Saya pun penasaran ingin melihat lebih dekat dengan limited edition Tissot
untuk Asian Games 2018 (Foto: Imawan Anshari)

*        *        *
Tissot T-Touch Expert Solar yang sangat elegan

*        *        *
Presiden Tissot Francois Thiebaud menjelaskan kepada kami arti ketepatan waktu
yang diintepretasikan Tissot lewat berbagai inovasi pada jam tangan

*        *        *
Thiebaud memberikan miniatur lonceng kepada Tontowi Ahmad dan Liliyana
Natsir sebagai simbol ketepatan waktu

*        *        *
Tontowi/Liliyana merupakan andalan Indonesia untuk merebut medali emas
di Asian Games 2018 lewat cabang olahraga bulu tangkis ganda campuran

*        *        *
Rekan blogger Nur Said mendapat doorprize jam tangan Tissot edisi khusus
 Asian Games 2018

*        *        *
Foto bersama Thiebaud dan blogger. Asli, pria asal Swiss ini sangat ramah
dan bersahaja dalam melayani diskusi

*        *        *
Tissot mencatat waktu dalam cabang olahraga renang di Asian Games 2018
yang berlangsung di Stadion Akuatik, Gelora Bung Karno

*        *        *
Berbagai aksi pemain terbaik Indonesia dalam mencetak skor di bulu tangkis
dicatat Tissot dengan akurat di Istana Olahraga, Gelora Bung Karno

*        *        *

- Jakarta, 22 Agustus 2018

Selasa, 07 Agustus 2018

Ini Pesan Menkes kepada Blogger


Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek dalam sembutan peluncuran
ASEAN Car Free Day
(Klik untuk perbesar gambar atau geser untuk melihat foto lainnya)



"IBU, kami dari blogger izin untuk foto bersama," kata saya kepada Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek usai peluncuran Hari Tanpa Kendaraan Bermotor ASEAN (ASEAN Car Free Day) pada 5 Agustus lalu.

Wanita kelahiran 11 April 1949 ini dengan antusias menjawab, "Oh, ayo mas. Sini ajak blogger lainnya selfie (swafoto)."

"Siap bu. Kami yang hadir di sini dari blogger," saya mengenalkan diri.

"Ya, era sekarang blogger punya peranan penting. Bahkan, mengabarkan sesuatu lebih cepat dari media. Karena blogger lebih update dengan situasi sekitar dan informasi terkini. Mari, kita sama-sama menyebarkan berita positif termasuk tentang Hari Tanpa Kendaraan Bermotor ASEAN ini kepada masyarakat," Nila, memberi pesan.

Yupz, saya setuju dengan pernyataan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut. Pada era keterbukaan informasi ini, blogger (dan jurnalis warga) bisa menyampaikan informasi terkini Bersanding dengan media mainstream.

Misalnya, ketika terjadi bencana Blogger dan jurnalis warga mengunggah situasi secara real time di media sosia (medsos). Tak jarang, foto atau video unggahan tersebut dikutip media mainstream. Meski bukan ditujukan sebagai pengganti jurnalis profesional, peran blogger saat ini sudah bisa bersanding.

Termasuk, ketika ada acara baik yang diselenggarakan. Kementerian, instansi pemerintah, hingga swasta. Kebetulan, saya pernah merasakan ketika jadi bagian dari blogger yang diajak Kementerian Sekretariat Kabinet untuk meninjau Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong .

Itu mengapa, Nila sangat antusias saat mengetahui ada blogger yang turut meliput Hari Tanpa Kendaraaan Bermotor ASEAN. Istri dari Farid Anfasa Moeloek yang menjabat sebagai Menkes pada 1998-1999 ini berharap blogger bersama media mainstream ikut gencar menyebarkan berita positif kepada masyarakat.

"Kementerian Kesehatan sangat mendukung program ini karena sejalan dengan semangat Gerakan Masyarakat Kehidupan Sehat atau Germas. Sebagaimana kita ketahui, praktek gaya hidup sehat seperti olahraga merupakna bagian dari upaya pencegahan penyakit karena menjadikan tubuh kita lebih bugar dan pikiran lebih positif," ujar Nila dalam sambutannya di Ruang Heritage Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat No 3, Jakarta Pusat, Senin (5/8).

Dalam kesempatan itu, turut hadir beberapa nara sumber terkait. Yaitu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sigit Priohutomo, Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kesehatan Acep Soemantri, dan Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi.

Lebih lanjut, Nila menyampaikan harapan agar peluncuran ASEAN Car Free Day sekaligus dapat menyediakan ruang gerak yang luas bagi kolaborasi multi-sektor yang solid di tingkat nasional dan Asia Tenggara. Itu dalam rangka mempromosikan gaya hidup sehat dan menciptakan masyarakat yang damai, inklusif,  tangguh, sehat,dan harmonis.

Nila melalui Kementerian Kesehatan turut memperkenalkan logo ASEAN Car Free Day yang akan digunakan pada tingkat regional ASEAN. Logo ini dimaksud mewakili tekad ASEAN untuk bekerja sama dalam meningkatkan kualitas udara yang bersih pada negara-negara anggota. Apalagi, Indonesia mendapat kepercayaan lead country untuk mencanangkan ASEAN Car Free Day.

"Pertama kalinya dalam sejarah ASEAN, kita mencanangkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di ASEAN Ini merupakan sebuah kehormatan bagi Indonesia yang mendapat kepercayaan dari masyarakat ASEAN," Nila, menambahkan.

Dalam sejarahnya, Indonesia memang negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan Car Free Day. Itu berlangsung sejak diresmikan pada 2002 silam di Jakarta. Selanjutnya, kegiatan serupa dilaksanakan di berbagai daerah lainnya di Tanah Air.

"Awalnya, Car Free Day dilakukan sebulan sekali. Melihat antusiasme yang besar dari masyarakat, Hari Bebas Kendaraan ditambah jadi dua kali dalam sebulan yang akhirnya kini setiap pekan. Keberadaan Car Free Day ini berhasil mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik," kata Nila, optimistis.***

*          *          *
Yupz, sebagai blogger, mari kita sama-sama sebarkan berita positif

*          *          *
Sesi diskusi nara sumber dengan rekan blogger terkait Asean Car Free Day

*          *          *
Nila dan nara sumber lainnya memamerkan bendera ASEAN dan
pin logo ASEAN Car Free Day

*          *          *
Foto bersama blogger dan bu menteri

*          *          *
Sebagai blogger, saya terpacu untuk menerapkan pesan dari bu menteri

*          *          *
- Jakarta, 7 Agustus 2018

Jumat, 27 Juli 2018

Di Balik Suksesnya Asian Games 2018, Ada Dukungan dari Anak-anak


Foto bersama siswa-siswi SD dalam acara Sejuta Dukungan untuk Indonesia
pada Asian Games 2018
(Klik untuk perbesar gambar atau geser untuk melihat foto lainnya)

ASIAN Games 2018 tinggal menghitung hari. Tepatnya, berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Saat ini, berbagai persiapan yang dilakukan Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Sumatera Selatan, serta berbagai pihak terkait sudah nyaris rampung.

Baik itu venue atau fasilitas pendukung lainnya. Bahkan, sejak 18 Juli lalu yang bertepatan dengan sebulan Asian Games 2018 sudah dilakukan Torch Relay.

Sebagai tuan rumah, Indonesia menargetkan empat kesuksesan (4S) pada Asian Games 2018 ini. Itu meliputi sukses prestasi, penyelenggaraan, administrasi, dan ekonomi. Nah, dukungan agar Indonesia meraih yang terbaik pada pesta olahraga antarnegara Asia ini juga datang dari siswa-siswi dari 100 Sekolah Dasar (SD) di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Mereka menyampaikan surat dukungannya bagi para atlet nasional yang akan berlaga di Asian Games 2018. Inisiatif bertajuk Sejuta Dukungan untuk Indonesia ini diinisiasi Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas. Acara ini diselenggarakan di Wisma Kemenpora, Jakarta Pusat, Kamis (26/7).

Program ini jadi salah satu kontribusi APP Sinar Mas melalui merek buku tulis andalannya, Sinar Dunia (SIDU) demi menggalang dukungan masyarakat bagi Indonesia selaku tuan rumah Asian Games 2018

Turut hadir dalam kegiatan mulia ini, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam NahrawiCahyadi Wanda (Vice Director of Revenue INASGOC), Jonni Mardizal (Staf Ahli Menpora Bidang Ekonomi Kreatif), dan Vincent Kosasih (atlet nasional basket). Sementara, dari Sinar Mas ada Saleh Husin (Managing Director) dan Sovan K. Ganguly (APP Sinar Mas Consumer Business Unit Head).

"Saya sangat bangga menyaksikan anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar sudah tergerak menuliskan ribuan surat untuk mendukung para atlet Indonesia yang akan bertanding di Asian Games 2018," kata Imam dengan terharu saat memberi sambutan.

"Apa yang dilakukan anak-anak ini akan memberikan dampak emosional yang kuat dalam membangun mentalitas atlet Indonesia saat bertanding. Saya berharap anak-anak lainnnya di seluruh Indonesia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Yaitu, memberikan dukungan dan doa untuk para atlet yang akan bertanding."

Imam mengungkapkan, para atlet yang akan bertanding di Asian Games 2018 ini sudah melewati ratusan hari hingga ribuan jam untuk berlatih. Itu mengapa, mereka sangat membutuhkan dukungan dari semua kalangan demi melewati batas kemampuannya.

Apa yang dilakukan siswa-siswi SD yang diwadahi APP Sinar Mas ini membuat Menpora optimistis. Yaitu, Indonesia bisa mewujudkan 4S pada Asian Games 2018. Imam juga enggan ketinggalan untuk menulis dukungan terkait Asian Games 2018 bersama anak-anak.

"Ini kandang kita, Bung! Harus juara," demikian pesan Menpora dengan singkat tapi memiliki arti mendalam. Asian Games 2018 merupakan yang kedua bagi Indonesia sebagai tuan rumah. Sebelumnya terjadi pada 1962 silam.

"Kami merasa terhormat dapat berkontribusi menumbuhkan nasionalisme generasi muda Indonesia pada momentum Asian Games 2018. ini Salah satunya lewat gerakan nasional yang kami rintis untuk memperkuat budaya menulis pada anak," Sovan, menjelaskan di balik terbentuknya Sejuta Dukungan untuk Indonesia.

Apa yang dilakukan APP Sinar Mas mendapat apresiasi dari INASGOC. Cahyadi menegaskan pentingnya dukungan dari berbagai pihak dalam mensukseskan Asian Games 2018. Baik itu masyarakat atau pihak swasta.

"INASGOC mengapresiasi inisiatif APP Sinar Mas melalui SiDU untuk menggalang dukungan masyarakat hingga ke tingkat siswa-siswi Sekola Dasar. Kami berharap, momentum Asian Games 2018 dapat memperkuat semangat nasionalisme bangsa ini. Khususnya, generasi muda untuk senantiasa mengharumkan Indonesia," kata Cahyadi, optimistis.

APP Sinar Mas merupakan official partners INASGOC untuk Asian Games 2018. Mereka turut berpartisipasi dalam berbagai hal untuk mensukseskan edisi ke-18 dari pesta olahraga yang mengusung tema Energy of Asia ini. Baik itu lewat sponsorships senilai empat juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 57,8 miliar serta program di lapangan. Sebelumnya, APP Sinar Mas sudah membangun Pusat Bowling Jakabaring di Palembang senilai Rp 27 miliar yang digunakan sebagai venue Asian Games 2018.

"Kami merasa terhormat dapat berkontribusi menumbuhkan nasionalisme generasi muda Indonesia pada momentum Asian Games 2018 ini. Salah satunya lewat gerakan nasional yang kami rintis untuk memperkuat budaya menulis pada anak-anak," Sovan, menerangkan.

Apa yang dilakukan APP Sinar Mas bersama lini usaha lainnya dalam Sinar Mas Grup ini jadi perwujudan nyata komitmen terhadap negeri. Kebetulan, sebagai blogger atau jurnalis olahraga, saya kerap mengamati kontribusi mereka. Baik itu dalam bidang olahraga, budaya, sosial, lingkungan hidup, dan sebagainya.

Misalnya, ketika jadi pendukung utama dalam Bonn Challenge 2017 di Sepucuk, Kayu Agung, Sumatera Selatan. Bahkan, selain pembangunan Pusat Bowling Jakabaring, APP Sinar Mas juga berpartisipasi dalam renovasi 16 Gelanggang Olahraga (GOR) di Jakarta. Jangan lupakan dengan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kalijodo.

"Kami berharap, lewat inisiatif ini bisa menggalang dukungan bagi para pahlawan modern dalam rupa atlet nasional kita. Sekaligus, menyiapkan anak-anak Indonesia untuk menjadi generasi pahlawan berikutnya. Salah satunya, dengan membangun kebiasaan menulis untuk meningkatkan kompetisi," Sovan, melanjutkan.

Ya, pada era sekarang ini, memang sudah lumrah melakukan banyak hal secara digital. Termasuk, menuangkan ide lewat mengetik di komputer, laptop, atau smartphone. Namun, bagi saya, menulis di atas kertas sangat tidak tergantikan. Bukan karena saya bekerja di suatu media cetak saja.

Melainkan, beda jika harus menulis atau ketika saya mengasosiasikan sebagai pembaca. Membaca buku, koran, majalah, dan sebagainya itu lebih terasa lewat fisik dibanding digital. Sebab, ada sensasi tersendiri ketika saya harus membolak-balik halaman ketimbang hanya menggeser layar.

Nah, ini berkolerasi dengan SiDU yang percaya bahwa menulis di atas kertas memiliki tiga manfaat utama untuk membangun kompetensi anak. Yaitu, meningkatkan kecerdasan, daya ingat, dan kreativitas. Selain itu, menulis juga dapat menyalurkan sisi emosional anak secara positif. Fakta itu yang melatarbelakangi SiDU untuk meluncurkan gerakan nasional Ayo Menulis Bersama SiDU pada September 2017.

"Selama lebih dari tiga dekade, SiDU telah menemani kegiatan menulis konsumen mulai dari usia sekolah hingga bekerja melalui berbagai inovasi, produk, dan program edukatif. Sejalan dengan APP Sinar Mas, kami terus berkomitmen untuk mendukung Indonesia menuliskan masa depannya, termasuk lewat inisiatif bersama anak-anak untuk Asian Games 2018," tutur Sovan.

Ya, pada Asian Games 2018 ini, APP Sinar Mas turut menyediakan berbagai produk terbaik kebanggaan bangsa untuk mendukung operasional. Itu terdiri dari 20 ribu rim kertas Sinar Dunia (SiDU) dan 5 ribu pak tisu Paseo yang merupakan produk resmi Asian Games 2018. Kedua produk ini hadir dalam kemasan khusus untuk membantu meningkatkan perhatian publik demi mendukung kesuksesan Asian Games 2018.

Seperti kata Menpora, bahwa Asian Games 2018 diselenggarakan di Indonesia. Sebagai tuan rumah, kita harus jadi yang terbaik. Di balik kesuksesan itu ada dukungan dari ratusan siswa-siswi SD dan anak-anak di seluruh penjuru Tanah Air.

Yuk, bersama kita satukan energi #UntukMuIndonesiaKu demi suksesnya Asian Games 2018!***

*          *          *
Ritual wajib bersama rekan blogger dengan foto bersama sebelum acara dimulai

*          *          *
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi turun dari kendaraan dinasnya
bertuliskan Asian Games 2018 yang disambut Managing Director Sinar Mas
Saleh Husin di Auditorium Wisma Kemenpora

*          *          *
"Ini Kandang Bung! Harus Juara"

*          *          *
Menpora Imam Nahrawi mengamati surat dari siswa-siswi SD 

*          *          *
Sebagai blogger yang jadi bagian 200 juta lebih rakyat Indonesia, saya sangat
merinding membaca berbagai surat dukungan untuk atlet dari anak-anak SD!
Salut dengan support mereka yang semoga jadi pelecut motivasi wakil
Merah-Putih di Asian Games 2018

*          *          *
Imam berharap apa yang dilakukan siswa-siswi ini diikuti anak-anak
di seluruh Indonesia

*          *          *
Diskusi Sejuta Dukungan untuk Indonesia

*          *          *
APP Sinar Mas Consumer Business Unit Head Sovan K. Ganguly memberi apresiasi kepada 10
siswa-siswi yang menuliskan surat dukungan untuk atlet Indonesia
pada Asian Games 2018

*          *          *
Foto bersama dengan SiDU yang jadi bagian saya sejak kanak-kanak hingga
rekan seangkatan sudah memiliki anak lagi

*          *          *

Artikel Terkait:

Prolog: Jelajahi Eksotisnya Bumi Sriwijaya
(Galeri Foto) Jembatan Ampera yang Memesona
Ke Palembang, Aku Kan Kembali
Bonn Challenge 2017 sebagai Simbol Keberhasilan Indonesia dalam Restorasi Hutan
Bonn Challenge 2017: Aksi Nyata Restorasi untuk Masa Depan
SiDU dan Kertas yang Jadi Bagian dalam Sejarah Indonesia
Kunjungan Blogger ke PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP)
Sinar Mas: Berawal dari Kebaikan
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan
Lengkapnya Fasilitas Sinarmas World Academy (SWA) di BSD
Orange TV Tayangkan Liga Primer sebagai Komitmen "Jagonya Sepak Bola"
Menikmati TSC 2016 Bersama Orange TV
Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi

Referensi: 
http://www.topskor.id/detail/78490/Ini-Kandang-Kita-Bung-Harus-Juara
https://www.topskor.id/detail/72827/Komitmen-APP-Sinar-Mas-untuk-Asian-Games-2018-yang-Bebas-Asap
https://www.topskor.id/detail/64176/Demi-Sukseskan-Asian-Games-2018-Sinar-Mas-Gelontorkan-Lebih-dari-Rp-100-Miliar
https://www.topskor.id/detail/38668/Sinar-Mas-Land-Sulap-Kalijodo-sebagai-Tempat-Wisata-Warga
*         *        *

Jakarta, 27 Juli 2018