TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Oktober 2016

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Kamis, 27 Oktober 2016

Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016


Ketujuh penerima Satu Indonesia Awards 2016 bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto 

Setelah tujuh bulan  menyeleksi, akhirnya PT Astra International Tbk menemukan "Tujuh Mutiara" terbaik untuk menerangi bangsa ini di masa depan. Mereka berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan proses pencarian sejak Maret hingga Oktober 2016.

Ya, mereka lolos dalam proses penjurian Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2016. Saya mendapat kehormatan untuk melihat langsung "ketujuh mutiara" itu saat menghadirinya di Kantor Pusat Astra, Sunter, pagi tadi (27/10).

Sebab, apa yang dilakukan mereka, benar-benar out of the box. Dalam arti, usaha dan perjuangan ketujuh orang itu sungguh di luar dugaan saya. Tak heran jika Astra memberi apresiasi mereka untuk menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2016.

Mereka dinilai memiliki sumbangsih yang bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Itu sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa. Kebetulan, 20 Februari 2017, perusahaan yang kini dipimpin Prijono Sugiarto sebagai presiden direktur itu genap 60 tahun.

Tentu, enam dekade bukan waktu yang singkat. Perjalanan lebih dari setengah abad itu dilalui Astra dengan konsisten untuk turut berkontribusi kepada negeri ini. Termasuk mengadakan SATU Indonesia Awards 2016 yang pemberian anugerahnya bertepatan pada Hari Blogger Nasional sekaligus sehari jelang Peringatan Sumpah Pemuda.

"Sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda, hari ini kita kembali menyaksikan hadirnya sosok-sosok pejuang muda dari pelosok nusantara," tutur Prijono. "Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan para pemuda ini, Astra, senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa."

SATU Indonesia Awards 2016 merupakan edisi ketujuh sejak kali pertama diselenggarakan pada 2010. Dalam periode itu, Astra membuka lebar kesempatan kepada putra-putri bangsa untuk berperan aktif terhadap lingkungan sekitarnya melalui website www.satu-indonesia.com. Tahun ini, terdapat 2.341 pendaftar yang berasal dari Banda Aceh hingga Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Proses seleksi dimulai dari jenjang administrasi, penilaian program, verifikasi, hingga presentasi di hadapan dewan juri yang sangat berpengalaman di bidangnya, yaitu:

- Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universistas Indonesia)
- Nila Moeloek (Menteri Kesehatan)
- Fasli Jalal (Guru Besar Pascasarjanan Universitas Negeri Jakarta)
- Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan)
- Onno W. Purbo (Pakar Teknologi Informasi)
- Bambang Harymurti (Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk)
- Yulian Warman (Head of Public Relations Division Astra International)
- Riza Deliansyah (Head of Environment & Social Responsibility Division Astra International)

"Kita punya orang-orang muda luar biasa yang selama ini tidak terangkat ke permukaan. Mereka bisa jadi contoh bagi pemuda-pemudi lain untuk kemajuan Indonesia," tutur Onno, optimistis.

Apa yang dikatakannya beralasan mengingat jumlah pendaftar yang mencapai 2.341 peserta meningkat dibanding tahun lalu (2.071). Itu membuktikan SATU Indonesia Awards jadi wadah kreativitas pemuda dan pemudi di Tanah Air untuk bisa berpartisipasi dalam membangun negeri.

Fakta itu diakui Emil dalam sambutannya yang memuji SATU Indonesia Awards 2016 sudah lebih baik dari sebelumnya, "Pada tahun-tahun berikut, akan lebih baik lagi jika persebaran pendaftar lebih merata. (Terutama) dari daerah yang semula belum pernah masuk."

Pernyataan sama diungkapkan Tri. Menurutnya, potensi para pemuda sekarang ini jauh lebih menjanjikan karena didukung teknologi informasi yang kian berkembang. Sehingga, mampu memberikan nilai tambah atas aktivitasnya.

"Yang perlu dipikirkan sekarang, bagaimana Satu Indonesia Awards mampu menjadikan kegiatan para pemenang ini menjadi suatu gerakan berskala nasional," Tri, menambahkan. Saya setuju dengan wanita yang pada 2011 lalu mendapat Ramon Magsaysay Award tersebut. Ini jadi tugas pemerintah untuk bisa memaksimalkan potensi ketujuh peraih Satu Indonesia Awards 2016 demi kelangsungan bangsa.

Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional, saya pribadi, berharap suatu saat nanti, di panggung ada rekan blogger yang menerima Satu Indonesia Awards. Entah itu 2017, 2018, 2019, atau seterusnya. Berikut, profil singkat dari ketujuh penerima penghargaan Satu Indonesia Awards 2016:

Bidang Pendidikan

1. "Sang Seniman Nasionalis", Zainul Arifin - Lumajang, Jawa Timur
Sejak 10 November 2007 menggagas program "Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah". Program Zainul ini ditujukan untnuk menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.

Bidang Kewirausahaan

2. "Wiraushawan Kreatif dari Banjarmasin", Muhammad Aripin - Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Sejak akhir 2015, mendirikan Yayasan Rumah Kreatif untuk mewadahi kegiatan yang meliputi usaha di bidang teknik, kerajinan tangan, dan seni budaya. Saat ini, produknya sudah dipasarkan ke berbagai saluran seperti Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) hingga terjual ke mancanegara lewat media online.

3. "Pemberdaya Gula Semut dari Banyumas", Akhmad Sobirin - Banyumas, Jawa Tengah
Mempelopori masyarakat di daerahnya untuk memproduksi gula semut setelah mendapat peluang pasar ekspor. Berkat tangan dinginnya, kini penghasilan petani di daerahnya meningkat pesat dan sekarang lebih sejahtera.

Bidang Lingkungan

4. "Pahlawan Lembah Hijau Rumbia", Ridwan Nojeng - Jeneponto, Sulawesi Selatan
Sejak enam tahun silam merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di tempat asalnya, Desa Tompobulu, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Hasilnya, Desa Tompobulu menjelma jadi Desa Wisata Lembah Hijauh Rumbia yang banyak didatangi turis lokal serta mancanegara.

Bidang Kesehatan

5. "Laskar Pencerah dari Pasuruan", Yoga Andika - Pasuruan, Jawa Timur
Pria 27 tahun ini mencetuskan berdirinya "Posyandu Remaja" di Desa Tosari, Jawa Timur. Tujuannya, untuk mencegah pernikahan dini serta melakukan penyuluhan bahaya seks pranikah, efek negatif miras dan nikotin.

Bidang Teknologi

6. "Penggagas Gamelan Elektronik dari Garut", Dewis Akbar - Garut, Jawa Barat
Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini membimbing anak sekolah di daerahnya untuk lebih mengenal teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satunya, dengan membangun lab "Komputer Mini" Raspberry P.i., yang jadi wadah bagi anak-anak untuk menggali secara dalam manfaat serta kegunaan TIK.

Kategori Kelompok 
7. "Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang", Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia - Banda Aceh, Aceh
Ihsan Rusydi bersama 10 mahasiswanya di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, mengembangkan teknologi budidaya tiram bermodalkan ban bekas. Hasil temuan mereka sangat membantu masyarakat Kampung Tibang, Banda Aceh, karena tidak lagi harus berendam di bawah terik matahari atau menginjak tajamnya koloni tiram. Petani pun bisa menghasilkan jumlah dan ukuran tiram yang lebih besar hingga membuat olahan tiram dengan nilai ekonomi yang maksimal.


*        *        *
Pengumuman SATU Indonesia Awards 2016 di Kantor Pusat Astra yang bertepatan dengan Hari Blogger Nasional

*        *        *
Prijono memberikan penghargaan kepada Emil Salim dan juri SATU Indonesia Awards 2016 lainnya

*        *        *
Beberapa juri SATU Indonesia Awards di atas panggung

*        *        *
Pengumuman penghargaan SATU Indonesia Awards memadukan unsur lokal dan modern

*        *        *
Parade tari nusantara

*        *        *
Atraksi Punakawan dalam acara Mencari Mutiara untuk Menerangi Bangsa

*        *        *
Ratusan peserta dari berbagai instansi pemerintah, media, dan blogger 

*        *        *
Sekilas, atraksi punakawan mengingatkan saya pada Teater Broadway di New York, Amerika Serikat

*        *        *
Prijono memberi penghargaan kepada Muhammad Arifin 

*        *        *
Foto bersama penerima Satu Indonesia Awards, juri, dan manajemen Astra

*        *        *
Lea Simanjuntak menutup rangkaian acara bertema Inspirasi 60 Tahun Astra

*        *        *
Ridwan Nojeng bercerita mengenai usahanya "menyulap" desa tandus jadi destinasi wisata

*        *        *
Aripin berbagi inspirasi kepada hadirin melalui Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar

*        *        *
Melalui lab mini, Dewis Akbar mengenalkan TIK kepada anak-anak di lingkungannya

*        *        *
Artikel terkait:
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

*        *        *

- Jakarta, 27 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK


Diskusi tentang perbatasan yang tidak boleh disepelekan

20 OKTOBER lalu genap dua tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) - Muhammad Jusuf Kalla (JK). Dalam periode itu, negeri ini diwarnai berbagai suka dan duka. Nah lho, kenapa? Ya, bagaimana pun, ada suka tentu ada duka. Di dunia ini selalu terbagi dua. Yin dan Yang, hitam-putih, pria-wanita, baik-buruk, dan sebagainya.

Sebagai bagian dari rakyat Indonesia, saya sangat mengapresiasi kepemimpinan mereka. Jika baik ya saya beri pujian. Sebaliknya, jika tidak, pasti saya kritik, entah itu di sosial media atau di dalam hati. Tentu, tidak vulgar. Toh, presiden merupakan simbol negara.

Banyak catatan yang saya rangkum sejak Jokowi jadi presiden. Secara pribadi, saya memberi penilaian delapan dari maksimal 10. Ya, delapan. Ini tidak berlebihan mengingat kinerja mantan Gubernur DKI Jakarta 2012-14 ini memang banyak menelurkan prestasi.

Teranyar sekaligus yang membuat saya salut, ketika Jokowi menetapkan harga sama pada Bahan Bakar Minyak (BBM) di Papua. Sepanjang seperempat abad lebih hidup saya, mungkin baru Jokowi satu-satunya presiden yang mampu melakukannya. Ini membuktikan pria asal Solo itu benar-benar mengayomi rakyatnya dari ujung barat hingga timur.

Meski, tetap ada nilai minus yang saya catat dari kepemimpinan Jokowi. Salah satunya mengenai pemilihan menteri yang mungkin kurang proporsional. Juga terkait keputusannya yang kerap kontroversi seperti... Ah sudahlah. Jika ditulis jadi panjang.

Toh, tidak mudah untuk memimpin negeri ini. Yang terpenting, apa yang dilakukan Jokowi selama dua tahun ini memiliki dampak positif terhadap rakyat. Untuk yang tidak menerima ya bisa memberi kritik disertai solusi. Sebab, tidak mungkin Jokowi bisa menyenangkan semua pihak.

Jadi ingat kata Paman Ben kepada Peter Parker:
"With great power there must also come great responsibility."

*       *       *
SIANG itu, ibu kota seperti biasa. Macet, macet, dan macet. Dengan penuh semangat 45 saya meliuk-liuk membelah jalanan Jakarta menuju Hotel Grand Sahid di kawasan Sudirman, Senin (24/10). Ya, keberadaan saya di hotel bintang lima itu tidak lain untuk menghadiri Rembuk Nasional: Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK.

Saya pribadi memang kerap mengikuti berbagai diskusi. Baik yang diselenggarakan pemerintah, relawan, atau independen. Tentu, dengan mempelajarinya terlebih dulu sebelum mengiyakan untuk hadir. Sebab, kalau cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan ya percuma. Termasuk, untuk Rembuk Nasional ini.

Awalnya saya kurang tertarik mengingat saat itu saya pikir diskusinya ya itu-itu saja. Tapi, setelah diikuti ternyata tidak hanya menarik saja. Melainkan juga kagum karena hasil diskusi langsung diberikan panitia kepada presiden! Ya, presiden. Nah, apakah hasilnya bakal diterapkan atau tidak, itu urusan nanti. Sebab, subtansinya, diskusi yang menampilkan beberapa pakar itu sangat mewakili kondisi bangsa saat ini.

Total, ada tujuh tema pada Rembuk Nasional itu yang terbagi pada setiap ruangan di Hotel Sahid. Kalau tidak salah, sebagai berikut:

Ruang Rembuk 1: Ekonomi, Bisnis, dan Keuangan
Ruang Rembuk 2: Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan
Ruang Rembuk 3: Kemaritiman dan Sumber Daya
Ruang Rembuk 4: Pembangunan Manusia dan Pendidikan Vokasi
Ruang Rembuk 5: Pariwisata dan Industri Kreatif
Ruang Rembuk 6: Infrastruktur, Konektivitas, dan Lingkungan Hidup
Ruang Rembuk 7: Sosial, Budaya, Kesehatan, dan Pencapaian Daerah

Kebetulan, dari pertama kali datang pada pukul 12.30 WIB hingga menjelang bubaran, saya memang menyempatkan diri untuk mengikuti semua tema. Tapi, yang paling menarik perhatian saya pada diskusi nomor dua dan lima. Sementara, untuk lainnya, hanya selintas saja.

*       *       *
KESIMPULAN saya setelah mengikuti Rembuk Nasional, ya semoga Jokowi-JK dan barisan Menteri di Kabinet Kerja mampu mengaplikasikan usul, saran, pendapat, dan juga kritik dari peserta. Saya pribadi menyoroti masalah perbatasan. Ini penting karena etalase bangsa.

Dulu, saya miris kalau mendengar ada tetangga yang lebih memilih hidup di negeri seberang yang jaraknya hanya sejengkal dibanding di negeri sendiri. Beruntung, dalam setahun terakhir, Jokowi serius untuk membenahinya. Selain itu mengenai birokrasi yang masih ABS (Asal Babeh Senang).

***

***

***

Akhir kata, saya berharap hasil Rembuk Nasional tidak hanya tersimpan rapi di laci pemerintahan. Melainkan, segera diaplikasikan untuk kepentingan bangsa. Mengenai apakah programnya terwujud dengan baik atau tidak, biarlah rakyat Indonesia yang menilai.

Terus bekerja, pak Jokowi. Semoga pada Rembuk Nasional 2017, catatan minus saya tentang pemerintah sudah berkurang jauh. Aamiin...

*       *       *
Diskusi antara peserta dan tim ahli di Hotel Grand Sahid

*       *       *
Pariwisata Indonesia sudah lebih baik dalam dua tahun terakhir

*       *       *
Saya beri nilai delapan untuk kepemimpinan Jokowi-JK

*       *       *
Semoga pada Rembuk Nasional 2017 catatan minus saya berkurang jauh

*       *       *
Jokowi merupakan presiden seluruh rakyat Indonesia bukan hanya partai atau golongan tertentu

*       *       *
Polri dan TNI turut berpartisipasi dalam Rembuk Nasional 2016

*       *       *
Komparasi pariwisata Indonesia yang mengalami kemajuan dibanding  negara tetangga 

*       *       *
Narsis sejenak

*       *       *

Hasil Rembuk Ruang 2 (POLHUKAM):


Politik
- Memperluas basis partisipasi politik melalui berbagai program pada penguatan ekonomi yang dimulai dari daerah pinggiran.
- Menggeser politik dari perebutan kekuasaan menjadi pengambilan kebijakan yang berorientasi pada harkat dan martabat orang banyak banyak orang.
- Penguatan fungsi partai politik sebagai agregator kepentingan sekaligus penguatan kapasitas sumber daya politik. Ini dilakukan untuk mencegah deparpolisasi akibat merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik.

Hukum
- Penyelesaian persoalan intoleransi secara komprehensif mulai dari pencegahan sampai penegakan hukum.
- Pemberlakuan ideology of law berupa kesetaraan di hadapan hukum sehingga tidak ada lagi hukum yang tumpul ke atas namun tajam ke bawah
- Pemberantasan korupsi perlu didukung oleh reformasi birokrasi dalam bentuk sistem remunerasi yang berkeadilan. 

Hankam
- Penguatan fungsi pencegahan (intelijen), penegakan hukum (kepolisian) dan pertahanan dalam rangka menghadapi ancaman tradisional dan non tradisional.
- Optimalisasi operasi militer selain perang untuk menangani kesenjangan ekonomi yang dapat menjadi bibit konflik dan membuka peluang bagi intervensi kekuatan asing. 
- Minimalisasi tumpang tindih kewenangan antar instansi dan koordinasi intensif berupa pembagian informasi strategis dalam menghadapi ancaman siber.

Hasil Rembuk Ruang 5 (Pariwisata dan Industri Kreatif):

- Sektor pariwisata perlu ditunjuk sebagai leading sector dengan sektor lain sebagai sistem pendukung. Artinya, Pariwisata sekarang bukan hanya domain Kementerian Pariwisata, tapi domain seluruh K/L dan terintegrasi dengan sinergis.

- Perlunya harmonisasi peraturan / perundang-undangan untuk memastikan adanya proteksi terhadap destinasi yang berkelanjutan.

- Perlu dibentuknya sebuah Badan Pengelola Destinasi Nasional sebagai solusi bagi persoalan tata kelola destinasi akibat tersebarnya kepemilikan dan pengelolaan destinasi di berbagai stakeholders. Badan Pengelola ini dapat berada di bawah Kementerian Pariwisata dan memiliki kewenangan terkait pengembangan dan pengelolaan akses, amenitas dan atraksi serta bertugas memastikan agar pengembangan destinasi mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal/setempat. Sebagai solusi jangka pendek, perlu dibentuk sebuah kelompok kerja (pokja) untuk mengawal pembentukan Badan Pengelola.

- Perlunya upaya sistematis dan terintegrasi untuk meningkatkan suplai SDM berkualitas bagi aktivitas pengembangan destinasi, termasuk dengan memasukkan muatan lokal yang sesuai ke dalam kurikulum.

- Perlunya deregulasi dan skema insentif yang memadai untuk semakin menarik minat investasi bagi pengembangan destinasi.

- Fungsi Bekraf sebagai leader dalam pengembangan industri kreatif Indonesia harus diperkuat:
1. Jangka pendek: Merevisi muatan PerPres Bekraf untuk memperkuat kewenangan Bekraf dalam mengarahkan penggunaan anggaran di berbagai Kementerian dan Lembaga yang terkait pengembangan industri kreatif.
2. Jangka panjang: Menjadikan Bekraf sebagai kementerian.

- Meregulasi agar pemerintah daerah tingkat II diwajibkan untuk membentuk atau menunjuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang secara khusus bertugas untuk mengembangkan industri kreatif di daerah terkait, dengan arahan dan supervisi Bekraf.

- Memassifkan pendukungan kepada pelaku industri agar daya saing mereka terus meningkat (business enablement), terutama dalam bentuk pelatihan product knowledge, marketing, branding, pembangunan network, akses permodalan serta pemanfaatan teknologi.

- Perlu diciptakan metode pencarian potensi baru pelaku industri kreatif Indonesia hingga level terendah dengan melibatkan penta helix ABGCM (Academician, Business, Government, Community, Media).

*       *       *
*       *       *
*       *       *

- Jakarta, 26 Oktober 2016 (Edit, 28 Oktober 2016)

Jumat, 21 Oktober 2016

Candi Prambanan yang Memesona


Tiga candi utama di Kompleks Candi Prambanan 

JATENG Gayeng. Demikian slogan yang diusung provinsi Jawa Tengah sejak 23 Agustus 2015. Hingga kini, logo dan tagline yang bercirikan batik Jawa dengan simbol keris itu kerap saya lihat di mana-mana.

Baik itu di internet seperti situs resmi Jawa Tengah atau media sosial dan di berbagai kegiatan yang diadakan pemerintah provinsi (pemprov) tersebut. Termasuk, ketika mengunjungi Jawa Tengah menjelang ramadan lalu. Tepatnya, pada 3-6 Juni lalu saat mendapat tugas dari kantor untuk liputan pertandingan olahraga.

Kebetulan, saya tidak asing lagi dengan provinsi seluas 32.800 km tersebut. Sebab, sejak kecil, saya sering mengunjungi berbagai tempat wisata di Jawa Tengah. Begitu juga ketika berseragam abu-abu hingga kini saat bekerja di media olahraga.

Bagi saya, provinsi yang dipimpin Gubernur Gandjar Pranowo itu unik. Karena selain menawarkan keindahan alamnya juga terdapat berbagai tempat wisata yang merupakan peninggalan leluhur. Salah satunya, Candi Prambanan, yang menurut website resmi central-java-tourism.com, sudah dibangun sejak abad kesembilan.

Itu mengapa Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) memasukkannya dalam daftar Situs Warisan Dunia. Di Indonesia seperti dikutip dari unesco.org, Candi Prambanan bersanding dengan Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Manusia Purba Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Hutan Hujan Tropis Sumatera, dan Lanskap Budaya Bali.

Pengakuan dari organisasi yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa pada 1991 itu karena nilai seni dari Prambanan yang sangat tinggi. Maklum, Candi Prambanan merupakan candi hindu terbesar di Indonesia dan masuk kategori terindah di dunia. Itu karena di Kompleks Candi Prambanan terdapat total 240 candi.

Ukurannya, mulai dari yang terkecil yang mengelilingi areal kompleks hingga yang terbesar pada tiga candi utama, yaitu Siwa, Wisnu, dan Brahma. Bahkan, Candi Siwa memiliki tinggi mencapai 47 meter yang keberadaannya seperti menggapai langit. Tak heran jika Candi Prambanan jadi salah satu tempat wisata unggulan Jawa Tengah.

*       *       *
SAYA beruntung sudah dua kali mengunjungi candi yang dalam masyarakat setempat dikenal dengan mitos Rara Jonggrang (Sumber: Perpusnas.go.id). Pertama, ketika bersama keluarga dalam rangka liburan SD pada 1996. Dua dekade kemudian, saya melakukannya sendiri seusai melaksanakan tugas kantor pada 6 Juni lalu.

Akses ke Candi Prambanan sangat mudah baik melalui kendaraan pribadi atau umum. Saat itu, saya melakukannya secara ngompreng, alias menggunakan bus yang dilanjutkan ojek. Keindahan Candi Prambanan membuat saya sanggup menahan haus dan lelah pada hari pertama puasa itu. Kebetulan, saya mengunjunginya beberapa saat setelah loket penjualan tiket dibuka.

Harga tiketnya Rp 50.000 untuk berkeliling kompleks Candi Prambanan sepuasnya ditambah pilihan jika mau ke Candi Ratu Boko. Dengan harga yang relatif terjangkau bagi semua kalangan, saya bisa menikmati eksotisnya Candi Prambanan pada pagi hari. Tidak hanya untuk wisata saja, sekaligus mempelajari sejarahnya yang bisa ditemukan pada relief di berbagai sisi candi.

Catatan dari saya, jika pada hari biasa Anda ingin menikmati Candi Prambanan harus menyiapkan bekal terlebih dulu, khususnya air minum. Maklum, kompleks tersebut sangat luas karena pengunjung harus mengitarinya dari pintu masuk menuju pintu keluar.

Meski begitu, jika sudah pernah menginjakkan kaki di candi yang pemugarannya mencapai keseluruhan pada 20 Desember 1953 ini, membuat pengunjung ingin kembali lagi. Termasuk saya yang masih penasaran ingin menyaksikan Sendratari Ramayana di pelataran Candi Prambanan. Atau, memotret kompleks candi dari kejauhan pada sore hingga malam hari yang keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Oh ya, selain menikmati keindahan dan juga belajar sejarah, di Candi Prambanan juga terdapat arena bermain untuk anak. Bahkan, ada trem keliling kompleks yang bisa dinaiki anak dengan didampingi Orangtua. Selain itu, ada Museum Prambanan yang memiliki berbagai koleksi benda purbakala dan pertunjukan audio visual mengenai Candi Prambanan yang terletak di sisi utara kompleks.

*       *       *
MENJELANG siang, saya melirik arloji di tangan kiri. Itu berarti, saya harus menyudahi berbagai aktivitas di kompleks Candi Prambanan. Keringat bercucuran dari dahi hingga setiap sudut tubuh saya.

Bukan keberadaan dua ransel yang saya bawa dengan masing-masing berisi pakaian dan gawai seperti laptop serta kamera yang membuat saya berat menuju pintu keluar. Melainkan karena kaki ini seperti enggan meninggalkan Candi Prambanan yang memesona karena faktor keindahan dan sarat sejarah.

Ya, sejujurnya saya ingin berada di kompleks candi tersebut hingga seharian. Namun, apa daya, saat itu keinginan tersebut sulit terwujud. Sebab, jadwal penerbangan di Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo, Solo, sudah menunggu saya untuk kembali menuju ibu kota.

Adagium lawas mengatakan, tiada perjamuan yang tak berakhir. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Namun, selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu bagi saya untuk mengunjungi Candi Prambanan yang merupakan salah satu tempat wisata unggulan di Jawa Tengah.***

*       *       *
Tiket masuk Candi Prambanan

*       *       *
Denah dan panduan Candi Prambanan

*       *       *
Keluarga yang saya temui saat berkunjung di Kompleks Candi Prambanan

*       *       *
Candi Prambanan pada kejauhan

*       *       *
Candi Prambanan jadi salah satu tempat wisata unggulan Jawa Tengah

*       *       *
18 April lalu, Candi Prambanan genap 25 tahun dikukuhkan UNESCO sebagai situs warisan dunia

*       *       *
Saya dengan latar belakang Candi Prambanan (Foto: Istimewa)

*       *       *
Wisatawan dalam dan luar negeri menelusuri relief yang ada di kompleks Candi Prambanan

*       *       *
Saya saat menuruni anak tangga (Foto: Istimewa)

*       *       *
Candi Prambanan selesai dipugar pada 20 Desember 1953

*       *       *
Pemandu wisata menjelaskan berbagai relief kepada wisatawan

*       *       *
Arca Siwa Mahadewa di dalam Candi Siwa

*       *       *
Salah satu relief di sisi Candi Siwa

*       *       *
Saya berusaha mengabadikan gambar di Kompleks Candi Prambanan (Foto: Istimewa)

*       *       *
Petugas sedang membersihkan reruntuhan candi bekas gempa Mei 2006 di Candi Prambanan 

*       *       *

Replika Kapal di depan Museum Candi Prambanan

*       *       *
Penangkaran Rusa Totol di sudut Kompleks Candi Prambanan

*       *       *
Ke Candi Prambanan, aku kan kembali...
*       *       *

*       *       *
Referensi: 
- http://www.jatengprov.go.id/id/page/profil-jateng
- http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/33/jawa-tengah
- http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_prambanan
- http://whc.unesco.org/en/list/642

*       *       *
- Jakarta, 21 Oktober 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Yuk, Blogger Bersama Sun Life Kita Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes




Sun Life Financial Indonesia mengedukasi blogger untuk cegah, obati, dan lawan diabetes

Setiap 14 November diperingati sebagai "Hari Diabetes Dunia". Tujuannya jelas, untuk mengingatkan kepada umat manusia, termasuk di Indonesia, mengenai bahaya diabetes. Yaitu, salah satu penyakit tidak menular yang mematikan seperti yang saya kutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Pada 2014, satu dari 10 penduduk 18 tahun ke atas menderita diabetes. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia di bawah PBB (WHO), tahun lalu, total 415 juta orang dewasa dengan diabetes, naik empat kali lipat dari 108 juta pada 1980-an. Masih dalam sumber tersebut, pada 2012 lalu, gula darah tinggi bertanggung jawab atas 3,7 juta kematian di dunia. Dari angka ini, 1,5 juta kematian disebabkan langsung akibat diabetes.

Membaca fakta tersebut, tentu membuat kita merinding. Ya, bagi mayoritas orang, termasuk saya pribadi, mendengar diabetes sangat seram. Jauh lebih seram jika harus melewati pemakaman yang terkenal angker sekalipun. Ini serius.

Sebab, diabetes memang tidak asing dengan saya. Ibu saya, mengidap diabetes yang pada 2009 lalu harus dirawat beberapa pekan di rumah sakit. Itu setelah kadar gula ibu saya naik hingga mencapai lebih 400 mg/dl. Alias, di atas ambang normal.

Akibatnya, ketika kaki beliau terkena pecahan beling jadi bolong (bisa dilihat pada artikel saya terdahulu berjudul Pengobatan dan Pencegahan DiabetesKisah Ibuku yang Dibantu Insulin untuk Melawan Diabetes, dan Nak, Sehat Itu Mahal. Nasehat Ibuku Yang Menderita Penyakit Diabetes.

Alhamdulillah, kini kesehatan ibu saya sudah berangsur pulih. Itu berkat beliau rutin menjaga kondisi fisik dan asupan makanan serta melakukan pemeriksaan di rumah sakit yang disertai insulin setiap hari. Intinya, jika konsisten, diabetes bisa diobati. Yang penting, penderita harus sabar menghadapinya disertai dukungan penuh dari pihak keluarga.

Itu mengapa, saya sangat antusias ketika Sun Life Financial mengadakan acara Jumpa Blogger: Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes di Cafe XXI Plaza Indonesia, Sabtu (1/10). Ini event ketiga dari perusahaan asuransi ternama di Indonesia yang saya ikuti. Sebelumnya, saya juga sempat menghadiri rangkaian acara Sun Life dengan tema Kelola Keuangan dengan Bijak pada 1 Agustus 2015 di tempat yang sama dan Asuransi Syariah di Pisa Cafe (30 Agustus 2014).

*        *        *
Jumpa Blogger: Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes, dibuka Head of Marketing Sun Life Financial Indonesia, Shierly Ge. Dalam kesempatan itu, alumni Universitas Parahyangan (Unpar) ini menjelaskan tentang berbagai produk dari Sun Life Financial. Termasuk peran mereka terhadap masyarakat melalui Sun Bright.

Yaitu, program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Sun Life yang memiliki tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan secara mendalam dan berkelanjutan. Bisa dipahami mengingat Sun Life Financial sudah beroperasi di Tanah Air sejak 1995.

Dalam periode itu, Sun Life konsisten untuk berperan dalam peningkatan pendidikan, kemanusiaan, dan kesehatan. Termasuk, menyelenggarakan berbagai acara yang mengedukasi masyarakat seperti Jumpa Blogger: Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes, yang bekerja sama dengan Kemenkes.

Acara yang berlangsung sejak pukul 12.00 WIB hingga sore itu menampilkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing. Yaitu, dr. Lily S Sulistyowaty, MM, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes dan Prof. Sidartawan Soegeondo, MD, PdB, F.A.C.E. Tentu, kehadiran mereka jadi pengalaman berharga bagi puluhan blogger yang datang, khususnya saya.

Maklum, sesuai dengan temanya Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes. Tentu, lebih baik mencegah ketimbang mengobati. Saya bersyukur, ibu saya bisa sembuh dari diabetes. Di sisi lain, beliau juga mengingatkan kepada saya agar tidak mengalami hal sepertinya. Itu karena diabetes dikenal sebagai penyakit turunan.

Untuk itu, pencegahan merupakan langkah utama seperti yang dikatakan dr. Lily. Menurutnya, langkah cara utama dengan meminimalkan makan-makanan berlemak seperti gorengan. Tentu, ini jadi masalah bagi saya mengingat gorengan seperti tempe, tahu isi, atau bala-bala (bakwan) merupakan cemilan favorit.

Namun, setelah mendengar penjelasan dari dr. Lily, saya jadi paham. Tepatnya, bukan berarti kita tidak boleh memakan gorengan. Melainkan, meminimalkan, seperti sehari biasanya saya makan lima buah gorengan, jadi dua saja. Sekilas, mengenai gorengan memang sepele. Tapi, seperti kata dr. Lily, efek dari gorengan ternyata sangat berpengaruh.

Sesi selanjutnya, dari Profesor Sidartawan yang mengedukasi kami cara untuk mengendalikan diabetes. Mengendalikan? Ya, mengendalikan. Agar pengidap diabetes dan keturunannya mampu beradaptasi dengan kadar gula. Ini seperti yang diterapkan ibu saya sehari-harinya. Dalam kesempatan itu, Profesor Sidartawan menyarankan kami untuk rutin memeriksa kadar gula.

Terutama agar kami bisa waspada jika kadar gulanya naik atau turun. Sebab, diabetes ada dua tipe. Tipe 1 biasanya diderita anak-anak yang tidak dietahui penyebab tepatnya dan tidak dapat dicegah. Tubuh benar-benar berhenti memproduksi insulin, karenanya si penyandang sangat bergantung pada terapi insulin untuk kelangsungan hidup dan pemeliharaan kesehatannya.

Tipe 1 ini identik dengan ibu saya yang harus menggunakan insulin setiap harinya. Tepatnya, malam hari pukul 22.00 WIB atau menjelang tidur. Sebelumnya, ibu saya hingga empat kali disuntik insulin pada pukul 07.00 WIB, 12.00 WIB, 19.00 WIB, dan 22.00 WIB.

Sementara, Tipe 2 menurut Profesor Sidartawan merupakan bentuk umum yang diidap sekitar 90% penderita diabetes di seluruh dunia. Pankreas menghasilkan jumlah yang tidak memadai insulin, atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang tersedia dengan benar.

Dalam lembar edukasi yang saya dapat dari acara Jumpa Blogger Sun Life: Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes, pada halaman 3, terdapat informasi rinci mengenai pengidap Tipe 2. Yaitu, riwayat keluarga, jika seseorang memiliki orangtua atau saudara kandung dengan diabetes Tipe 2, ada risiko untuk mendapatkannya. Selanjutnya, faktor usia, terutama di atas 40 tahun yang berhubungan dengan penurunan aktivitas hingga kehilangan masa otot dan berat badan yang meningkat.


*        *        *
Sebagai blogger, saya berusaha untuk berbagi informasi melalui media di blog saya baik yang www.roelly87.com atau www.kompasiana.com/roelly87. Termasuk, mengenai diabetes ini berdasarkan pengalaman sehari-hari menemani ibu saya dan juga seusai mengikuti Jumpa Blogger Sun Life. Intinya, diabetes bisa diobati. Namun, alangkah lebih baik jika kita melakukan pencegahan sejak dini.

1. Melalui akronim CERDIK: Cek kesehatan, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola Stres.

2. Kurangi makanan berminyak. Misalnya, meminimalkan gorengan seperti saya dari sehari-hari lima buah jadi hanya dua.

3. Konsumsi buah dan sayur minimal 5 porsi per hari. Enggak perlu mahal kok, buah itu bisa yang merakyat seperti pisang dan apel serta sayuran seperti bayam dan yang berkuah.

4. Menekan konsumsi gula hingga maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari.

5. Periksa kesehatan secara teratur. Saya pribadi rutin mengecek kadar gula melalui alat yang dibeli di apotik.

Sekadar mengingatkan, tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak ada obatnya. Melainkan, bagaimana kita mau atau tidak menyembuhkan diri sendiri. Yuk, Bersama Sun Life, Kita Cegah, Obati, dan Lawan Diabetes!

*        *        *
Rekan-rekan blogger mengikuti acara Sun Life di Cafe XXI Plaza Indonesia, Sabtu (1/10)

*        *        *
Dr. Lily S Sulistyowaty berbagi tip untuk mencegah diabetes

*        *        *
Prof Sidartawan Soegondo membeberkan cara untuk mengendalikan diabetes

*        *        *
Foto bersama narasumber dan blogger seusai acara

*        *        *
*      *      *
- Jakarta, 18 Oktober 2016

Jumat, 14 Oktober 2016

Di Balik Kompasianival 2016


Yayat saat mendapat penghargaan Kompasianer of the Year 2016


PRO dan Kontra: Apakah Anda setuju Kompasianival 2016 lebih baik dari tahun lalu? Demikian laman di Kompasiana membuat opini untuk dipilih Kompasianer -sebutan untuk penulis di Kompasiana- sejak 10 Oktober lalu. Tepatnya, dua hari setelah Kompasianival 2016 berlangsung di Gedung Smesco, Sabtu (8/10).

Sebenarnya saya males memilih, sebab tahun lalu saya tidak ikut ke Kompasianival yang diselenggarakan di Gandaria City (Gancit). Itu karena bentrok dengan tugas di luar kota yang berlangsung beberapa hari. Namun, dibandingkan beberapa edisi sebelumnya, terutama 2013, jelas 2016 ini lebih baik.

Mulai dari susunan acara, lokasinya yang berada "Di Rumahnya Koperasi dan UMKM Indonesia", pengisi acara, hingga peran admin atau manajemen Kompasiana itu sendiri. Admin? Ya admin. Dibanding beberapa edisi sebelumnya, admin kali ini lebih "jemput bola" kepada Kompasianer.

Konon katanya -ini konon alias belum diverifikasi kebenarannya- pada beberapa Kompasianival sebelumnya (minus 2015 saya absen) om dan tante admin seperti sulit disentuh. Ini konon ya. Bisa benar atau tidak tergantung persepsi masing-masing. Kalau saya pribadi sih biasa saja. Maklum, saya sudah mengenal jeroan beberapa admin.

Yang pasti, secara keseluruhan, Kompasianival 2016 ini sudah sangat baik. Di antara lima edisi yang saya ikuti, mungkin edisi sekarang hanya setingkat di bawah Kompasianival 2012 di Gancit. Terutama dari segi pengisi acara, kehebohan, dan tentunya faktor keberadaan komunitas.

*        *        *
SIANG itu, awan gelap menggelayuti ibu kota. Dari kawasan timur seusai menghadiri pernikahan rekan, saya memacu sepeda motor dengan perlahan hingga tiba di Gedung Smesco. Saat melirik ponsel, menunjukkan pukul 14.59 WIB.

Kebetulan, dekat meja registrasi ada beberapa rekan Kompasianer sesama ahli hisab termasuk Yoswa Mhardikai. Langsung saja saya meminta pendiri komunitas Kompasiana Penggemar Olahraga (Koprol) itu untuk mengabadikan gambar saya di depan pintu masuk.

Saat itu sedang berlangsung diskusi "Berbagi Inovasi" yang menghadirkan Gamal Albinsaid yang merupakan founder Indonesia Medika bersama I Ketut Alam Wangsawijaya (Senior Manager Aspek Komunikasi Konsumen BCA).

Seusai menyimak acara yang dilanjutkan "Berbagi Ekonomi Kreatif" dari Ricky Pesik (Wakil Kepala Bekraf), Ni Luh Putu Ary Pertami (Creative Director Niluh Djelantik), dan Kerry Yarangga (Manager Community Development PT Freeport Indonesia) hingga "Berbagi Prestasi" dari Wregas Bhanuteja (Sutradara Film Prenjak), Sean Gelael (Pembalap Mobil), dan Wianda Pusponegoro (VP Corporate Communication PT. Pertamina (Persero).

Oh ya, Kompasianival 2016 ini mengusung tema "Berbagi". Menurut saya, tema ini lebih cocok dibanding tahun lalu dengan "Juara". Saya ga tahu relevansi antara juara dengan Kompasianival 2015. Mungkin, rekan-rekan atau admin ada yang mau berbagi info?

Sebab, kalau mau jujur, tema juara lebih tepat untuk tahun ini karena Indonesia berhasil meraih emas di Olimpiade Rio 2016. Begitu juga dengan narasumber yang menurut saya lebih tepat karena diisi praktisi dan atlet bersangkutan dibanding 2015 yang didominasi perwakilan pemerintah. Tapi, ya ga bisa komentar banyak juga mengingat saya tahun lalu ga ikut.

Puncak acara dengan diumumkan Yayat sebagai Kompasianer of the Year. Bagi saya ini bukan kejutan mengingat pemilik akun Kompasiana.com/Yayat ini merupakan Kompasianer yang konsisten menulis olahraga. Khususnya, balapan MotoGP dengan Yayat merupakan fan berat Valentino Rossi yang sudah ditulis sejak 16 Juli 2010 dan konsisten mengulas persaingan MotoGP sejak 18 September 2010.

Tak heran jika lima tahun silam, ketika Kompasiana menggelar Kompasianival perdana di FX Sudirman, saya ikut menjagokan Yayat sebagai salah satu nomine bersama sembilan rekan lainnya (Baca: Kompasianer Terfavorit Versi Kompasianer).

Bahkan, ketika pertengahan September lalu admin mengumumkan calon Kompasianer Favorit pada empat kategori, saya sudah langsung menebak Yayat bakal jadi Kompasianer of the Year. Itu terjadi saat saya diskusi di beberapa grup facebook dan whatsapp. Pasalnya, saat itu, wanita yang gabung dengan Kompasiana sejak 9 Oktober 2009 ini tidak masuk nominasi satu pun. Jadi, pada acara penganugerahan, Yayat bakal dapat kejutan. Terbukti.

Kompasianival 2016 ditutup dengan penampilan Project Pop. Aksi enam sekawan ini membuat rangkaian acara yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB jadi lebih klimaks. Project Pop membawakan beberapa lagu lawas yang tetap ngehits hingga kini seperti Pacarku Superstar, Dangdut Is The Music Of My Country, hingga Bukan Superstar.

Project Pop mampu jadi pamungkas mengikuti Alexa pada Kompasianival 2011, Musikimia (2012), dan Tipe-X (2014). Meski personelnya rata-rata kepala empat, tapi Tika Panggabean dan kawan-kawan tetap antusias "menggoyang" ratusan Kompasianer yang hadir.

*        *        *
Di Rumahnya Koperasi dan UKM Gedung Smesco, Kompasianival 2016 berlangsung


*        *        *
Ucapan selamat dari Tijptadinata dan istri yang terbang langsung dari Aussie


*        *        *
Berdiskusi dengan empat rekan Kompasianer senior: Karena mereka saya termotivasi untuk terus menulis


*        *        *
Bertemu dengan Aulia Gurdi, nomine Kompasianer Terfavorit 2012 dan admin Iskandar Zulkarnaen


*        *        *
Dia berada jauh di sana dan aku di rumah, memandang kagum pada dirinya dalam layar kaca...


*        *        **        *        **        *        *
*        *        **        *        **        *        *
*        *        **        *        **        *        *

Aksi Project Pop menggoyang ratusan Kompasianer yang hadir

*        *        *
MENURUT saya, Kompasianival 2016 ini berlangsung sangat meriah dan sesuai dengan tema "Berbagi". Di antara lima edisi yang saya ikuti -minus 2015-, saat ini sudah ada banyak peningkatan. Saya ingat, ketika kali pertama hadir pada 2011 di FX, acaranya sangat meriah tapi semrawut karena ruangan kecil dan jadwal yang tak beraturan. Hanya, itu bisa dipahami mengingat Kompasianival perdana.

Mungkin, di antara Kompasianival yang berlangsung, edisi 2012 jadi yang paling positif di mata saya. Sebab, admin sudah melakukan banyak perbaikan. Termasuk memberi ruang bagi para komunitas yang sebelumnya sempat terabaikan. Begitu juga dengan lokasi di Skeeno Hall Gancit yang bisa menampung ribuan Kompasianer yang hadir.

Nah, setahun kemudian, Kompasianival mengalami kemunduran. Lokasinya yang sempit di Fountain Atrium, Grand Indonesia, jadi penyebabnya. Nada-nada minor pun berhamburan dari mayoritas Kompasianer yang hadir pada Kompasianival 2013.

Untuk Kompasianival 2014, sudah lebih baik tapi hanya mengikuti pencapaian dua tahun sebelumnya. Kecuali keberadaan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Walikota Bandung Ridwan Kamil serta aksi Tipe-X, saya nyaris tidak memiliki kesan mendalam pada acara yang berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut. Alias, hanya pengulangan saja dari edisi sebelumnya.

Terlepas dari itu semua, ada satu momen di Kompasianival 2016 yang membuat saya dan rekan-rekan Kompasianer lainnya kehilangan. Sebab, kami tidak bisa lagi bertemu dengan Windu Hernowo. Pemilik akun Kompasiana.com/WinduHernowo itu telah berpulang sejak 15 Agustus lalu.

Meski terpaut usia yang jauh, tapi bagi saya Windu merupakan sosok yang menginspirasi. Di tengah keterbatasannya, beliau selalu berusaha untuk hadir pada beberapa acara yang diselenggarakan Kompasiana. Termasuk ketika kami asyik berdiskusi mengenai komunitas pada Kompasianival 2011 dan 2012 yang keberadaannya sebagai perwakilan dari komunitas Desa Rangkat.

Itu mengapa ada yang kurang ketika saya berdiskusi di sudut Gedung Smesco bersama Thamrin Dahlan, Edy Priyatna, dan beberapa rekan Kompasianer senior lainnya. Biasanya, jika Kompasianival akan berlangsung, Windu sangat antusias untuk menghadirinya dari kediamannya di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan. Keterbatasan fisik tidak jadi penghalang bagi pendiri LSM-Himpunan Peduli Stroke ini. Ya, selamat jalan Windu Hernowo...

Windu Hernowo (memakai tongkat) pada Kompasianival 2011

*        *        *

Artikel Terkait Kompasianival
- 10 Kompasianer Terfavorit Versi Kompasianer
- 10-12-11 Antara Kompasianival dan El Clasico
- Kompasianival: Karnaval ala Kompasiana
- Kompasianival: Pesta Inspiratifi yang Menyatukan Kita
- Kompasianival: Kita Semua Pemenangnya
- Kompasianival: Sisi Lain Sebuah Pesta I
- Kompasianival: Sisi Lain Sebuah Pesta II

Artikel HUT Sebelumnya
Satu Tahun di Kompasiana: Belajar Ngeblog dan Ngeblog sembari Belajar
Jose Mourinho, Dua Tahun di Kompasiana, dan Kawah Candradimuka
Tiga, Hattrick, dan Treble
Karena Kompasiana Saya bisa Belajar Reportase

Tentang Kompasiana
Di Balik Dapur Kompasiana
Kompasiana Berusia Empat Tahun, Selanjutnya?

*        *        *
Untuk foto-foto selengkapnya Kompasianival sejak 2011 hingga 2016 bisa dilihat di laman Galeri Foto Kompasianival

- Jakarta, 14 Oktober 2016 (Tiga hari setelah HUT keenam saya di Kompasiana)