TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Juli 2016

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Sabtu, 30 Juli 2016

Cegah Hilangnya Generasi akibat Kurang Gizi



Menteri Kesehatan Nila Moeloek membuka Dialog Nasional, Rabu (27/7)

"ANAK mewakili segmen masyarakat yang paling rentan dibandingkan dewasa. Baik dari risiko penyakit maupun kematian. Peningkatan kualitas kesehatan anak merupakan ukuran kemajuan suatu masyarakat atau bangsa sebagai bentuk kontribusi pada pengurangan beban penyakit global. Oleh karena itu, kesehatan anak jadi tanggung jawab bersama dengan selalu memberi perhatian dan komitmen nyata."

Demikian, pernyataan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dalam sambutannya pada Dialog Nasional Kurang Gizi Terselubung Menuai Generasi Hilang, di Kantor Kemenkes, Rabu (27/7). Acara ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli.

Seminar yang diinisiasi Kemenkes dan Gerakan Makan Sehat Anak Sekolah (Gemass) ini melibatkan undangan dari berbagai elemen masyarakat, seperti instansi pemerintah, guru, dokter, hingga blogger.

Salah satunya, saya yang turut menyimak diskusi di Auditorium  Prof. Dr. Siswabessy, Gedung Prof Sujudi, Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan. Sejatinya, bagi saya pribadi, diskusi ini lumayan berat untuk dicerna. Terutama karena saya belum berumah tangga yang tentu belum memiliki anak. Apalagi, tema acaranya tentang asupan gizi yang boro-boro saya ngerti.

Namun, justru itulah yang jadi tujuan saya mendatangi diskusi yang mayoritas diisi kaum hawa. Sebab, bagaimanapun saya bakal jadi calon kepala keluarga, yang tentu harus memerhatikan asupan gizi untuk anak-anak kelak.

*        *        *

MESKI awalnya sempat merasa asing ketika tiba di lokasi, pada akhirnya saya jadi lebih terbiasa. Terutama karena seminar yang dimoderasi Ayu Diah Pasha dan Junaidi Lesmana ini bisa memberikan pelajaran dan pengalaman saya saat jadi ayah untuk lebih memerhatikan asupan gizi. Khususnya, mengenai dampak memakan gorengan yang ternyata memiliki efek negatif dalam perkembangan anak.

Itu diungkapkan Dr. dr. Saptawari Bardosono, M.Sc. yang jadi salah satu pembicara. Kebetulan, saya pribadi menggemari makanan atau cemilan yang digoreng seperti bala-bala (bakwan), tempe, tahu, dan sebagainya.

Menurut Saptawati, jika dikonsumsi secara normal, gorengan tidak memiliki dampak panjang. Namun, sebaliknya jika dimakan terus-menerus, misalnya, setiap hari. Apalagi, jika itu terjadi pada bayi yang bisa sangat berbahaya bagi perkembangan gizi ke depannya.

"Misalnya, bayi yang lahir dengan berat badan lebih atau kurang. Kalau kurang, orang tuanya tentu akan mengejar supaya jadi gemuk. Nah, kalau lahir sudah besar atau giant baby itu akan terus gemuk hingga dewasa jika faktor lingkungan tidak dijaga," Saptawati, mengungkapkan.

Pernyataan dari Departemen Ilmu Gizi FK UI RSCM itu beralasan. Banyak kasus seperti itu yang terjadi di Tanah Air. Untuk itu, wanita yang akrab disapa Tati ini memberi solusi kepada kami yang hadir, terutama bagi yang memiliki bayi. Agar, setiap hari konsumsi kamanan yang mengandung minyak tidak lebih dari lima sendok makan.

Selain Saptawati, dialog nasional itu juga menampilkan tiga pembicara yang kompeten di bidangnya masing-masing:

Prof. Dr. Ratna Djuwita
(Prodi Epidemiologi FKM-UI)
Kandungan Omega-3 pada anak-anak Indonesia dan pengaruh kekurangan Omega-3 pada tumbuh kembang anak (Brain Development)

Dr. dr. Rini Sekartini, SP.A (K)
(Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UI RSCM)
Perkembangan dan perilaku anak: Peran nutrisi dan stimulasi

Prof. Dr. dr. Endang L. Anchadi
(Prodi Gizi FKM UI)
Peran Food Education di sekolah dan rumah dalam mewujudkan generasi unggul.

*        *        *

Ibu kenapa ku dilahirkan
Ayah kenapa ku dibesarkan
Teman kenapa ku dikucilkan
Teman kenapa ku diabaikan

Ingatlah aku, aku… Juga ciptaan Nya
Lihat aku tunjukkan
Lihat aku buktikan
Dan lihatlah aku, aku…. Anak istimewa

Tanpa mata ku dapat melihat
Tanpa kaki ku dapat berlari
Tanpa suara ku dapat bernyanyi,
Percayalah, aku.... Anak istimewa

SEKETIKA, tangan saya menjadi kaku. Begitu juga dengan kaki yang seperti dipantek sesuatu. Lebih dari lima menit saya bergeming di sisi kursi tanpa mampu memencet tombol shutter kamera untuk merekam. Saat itu, sukar dilukiskan dengan kata-kata saat menyaksikan paduan suara dari adik-adik Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC) Jakarta di sela-sela diskusi nasional.

Tentang, bagaimana mereka yang berkebutuhan khusus juga mampu berprestasi. Apa yang dilakukan adik-adik dari YPAC Jakarta itu seperti memberi sindiran kepada kami saat itu. Bahwa, mereka mampu mengubah kekurangan jadi kelebihan.

*        *        *
Gedung Prof. Dr. Sujudi, Kemenkes

*        *        *
Kampanye cuci tangan di bus milik Kemenkes

*        *        *
Banner anjuran dari Kemenkes

*        *        *
Undangan Diskusi Nasional

*        *        *
Reshuffle penting, tapi kelangsungan generasi mendatang juga penting

*        *        *
Rekan blogger Novita Maria, sarapan jelang dimulainya acara

*        *        *
Menu sarapan sehat: Serba direbus

*        *        *
Empat rekan blogger antusias men-share diskusi nasional via twitter

*        *        *
Nita: Kesehatan anak, tanggung jawab bersama

*        *        *
Paduan suara dari adik-adik YPAC yang bikin terharu

*        *        *
Dari kiri ke kanan: Ayudia, Asih, Rini, Saptawati, Ratna, dan Junaidi

*        *        *
Ratna melakukan presentasi mengenai keutamaan Omega-3

*        *        *
Perwakilan Gerakan Makan Sehat Anak Sekolah (GEMASS)

*        *        *
Rekan blogger Agung Han mendapat doorprize dari Veronica Tan, istri Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama

*        *        *
Rekan-rekan blogger mendapat doorprize menjelang acara berakhir
*        *        *
Artikel terkait:

Diskusi tentang Perempuan dan Anak Bersama Serempak.or.id dan KPPPA
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak

*        *        *
- Jakarta, 30 Juli 2016

Minggu, 24 Juli 2016

Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun

Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun

Hormati gurumu, sayangi temanmu...

18 tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam periode itu, Indonesia sudah memiliki enam presiden berbeda. Sementara, di dunia olahraga, kurun waktu tersebut, Juventus belum juga menjuarai Liga Champions dengan berujung tiga kali sebagai runner-up.

Di sisi lain, bagi saya, 18 tahun dilewati dengan penuh warna. Tepatnya, mulai dari masa kanak-kanak hingga mayoritas rekan seangkatan sudah memiliki anak. Tanpa bermaksud menumbuhkan sisi sentimentil, tapi periode dua windu lebih dua tahun itu itu memang tidak hanya digoreskan secara hitam atau putih saja.

Itu saya alami ketika kali pertama dalam 18 tahun terakhir menginjakkan kaki di Sekolah Dasar (SD) tampat saya menempuh pendidikan. Momentum itu terjadi setelah saya mengantar adik paling kecil yang kini sudah kelas satu SD.

*       *       *
PAGI itu, suasana di ruas jalan utama ibu kota yang menghubungkan dengan provinsi Banten sudah ramai. Padahal, saya melirik arloji di tangan kiri baru menunjukkan jarum pendek ke angka lima dan jarum panjang ke angka sembilan. Tapi, padatnya lalu lintas bisa dipahami mengingat ketika itu merupakan hari pertama masuk sekolah.

Kebetulan, saya diminta ibu saya untuk menemaninya mengantar si kecil bersekolah. Sebab, lokasinya lumayan jauh dari rumah dan melewati jalan raya yang banyak kendaraan yang membuat adik saya paling bungsu itu harus diantar-jemput dengan sepeda motor.

Singkat kata, setelah berpeluh ria karena macet, saya, ibu, dan adik tiba di depan gerbang. Sekilas, tidak ada yang banyak berubah dalam durasi 18 tahun sejak saya terakhir kali berada di sana. Saat itu, hanya ada beberapa tambahan ornamen seperti papan penunjuk sekolah yang kini sudah berdinding marmer dibanding dulu masih memakai kayu. Serta, berjejer aneka sepeda motor di lapangan yang seingat saya dulu nyaris tidak ada.

Kami pun menuju ruangan kelas di lantai dasar untuk memilih bangku terdepan agar si kecil bisa menyimak pengajaran dari gurunya langsung. Sambil melewati lorong panjang di lantai bawah gedung yang dibangun era gubernur Wiyogo Atmodarminto itu, seketika membuat saya terbawa pada kenangan ketika Pikachu dan kawan-kawan masih aktif di Game Boy hingga kini tersebar luas di berbagai sudut ibu kota.

Ya, dulu, lorong itu tempat saya berlari-larian bersama beberapa teman sekelas. Baik itu main petak umpet, dampu, tak benteng, hingga sepak bola dari plastik. Berbagai kenangan seperti itu yang menumbuhkan ingatan saya ke masa lalu. Terutama saat masuk kelas yang dulu bangku dan mejanya sangat besar, sekarang saya rasakan jadi sempit.

Itu saya alami saat menunggui adik saya dari luar jendela seusai upacara bendera hari pertama. Pada saat yang sama, ibu saya dan orangtua murid lainnya sedang mengikuti rapat dengan Kepala Sekolah untuk membahas aturan dan tata tertib di sekolah tersebut.

Nah, ketika asyik mengamati momen perkenalan adik saya dengan teman sebangkunya, saya merasa ada yang mengawasi saya dengan sorot menyelidik. Tentu, saya bingung ditatap seperti itu oleh pria paruh baya yang menggunakan seragam guru.

Saya pun tersenyum dengan memberi anggukan sambil mengingat siapa sosok tersebut yang sepertinya tidak asing lagi. Namun, ketika saya ingin menanyakan, ternyata beliau sudah mendahului. Ini yang membuat saya kaget dan sama sekali tidak menyangka.

"Rully. Ini Rully?" pria tersebut membuka pembicaraan.

"Iya pak. Maaf, bapak dengan siapa?"

"Lha, kamu lupa ya? Saya aja sebagai guru masih ingat."

"Bapak, pak..."

"Iya, saya Firdaus. Kamu kan yang waktu kecil suka bawa bola ke kelas?"

Mendengar penuturan beliau membuat saya terhenyak. Sebab, jujur saja, bukan karena sengaja saya tidak tahu namanya tapi memang lupa. Bisa dipahami karena selang 18 tahun sejak lulus SD membuat memori saya penuh. Meski, sekilas saya ingat dengan wajahnya yang dulu mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Kebetulan, sejak dulu, mata pelajaran itu bersama sejarah merupakan favorit.

Saya pun langsung menghampiri dengan mencium tangannya. Beliau menyambut dengan merangkul erat pundak saya. Ya, pepatah mengatakan, sekali jadi guru, selamanya tetap guru. Itu jadi salah satu momentum paling berkesan dalam seperempat abad lebih hidup saya. Apalagi, meski sudah nyaris dua dekade, beliau masih ingat dengan nama panggilan saya sejak kecil.

Kami pun berbincang sebagaimana ayah dan anak di sisi kelas. Termasuk ketika beliau menanyakan bekas luka di kaki saya akibat diserempet sepeda motor saat berangkat sekolah naik sepeda. Kebetulan, pak Firdaus dan beberapa guru ini yang membopong saya ke rumah sakit di bilangan Cengkareng. Akibat insiden itu, membuat saya tidak masuk sekolah selama beberapa bulan sekaligus menghapus impian jadi pesepak bola.

Dari pak Firdaus juga, saya mendapat kabar hanya ada dua dari puluhan guru, termasuk dirinya yang saya kenal yang masih mengajar di SD tersebut. Mayoritas sudah pensiun, mengajar di SD negeri lain, serta ada yang alihprofesi. Itu diungkapkannya sebelum kami berpisah. Beliau akan ke kelas lain untuk mengajar dan saya menemani adik saya yang masih malu-malu karena kali pertama berseragam SD setelah dua tahun di TK.

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi
Kupergi belajar sampai kan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu 
Sayangi teman
Itulah tandanya
Kau murid budiman


*Lirik lagu "Pergi Belajar" ciptaan alm. Saridjah Niung (Ibu Sud)

*       *       *
Murid SD bersalaman dengan guru seusai upacara 
*       *       *
Salah satu orangtua murid mengawasi anaknya dari luar jendela kelas

*       *       *
*       *       *
- Jakarta, 24 Juni 2016

Jumat, 22 Juli 2016

Sinar Mas: Berawal dari Kebaikan

Sinarmas: Berawal dari Kebaikan

Donasi dari Sinar Mas Group untuk yang membutuhkan

"JUJUR, menjaga kredibilitas, tanggung jawab yang baik terhadap keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan sosial." Demikian, filosofi dari Eka Tjipta Widjaja yang selalu diterapkan hingga kini. Sosok yang 3 Oktober mendatang genap 94 tahun ini merupakan pendiri Sinar Mas Group.

Yaitu, salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air yang memiliki enam pilar bisnis. Mulai dari pulp dan kertas, agribisnis dan makanan, properti, jasa keuangan, telekomunikasi, serta energi dan infrastruktur.

Jadi, bisa dibilang setiap harinya sejak kita bangun tidur hingga mau tidur lagi selalu berhubungan dengan berbagai produk berlabel Sinar Mas. Terutama saat ini dengan pekan masuk sekolah, bisa dilihat mayoritas buku tulis memiliki logo APP (Asia Pulp Paper) yang merupakan anak usaha Sinar Mas dengan produk Sinar Dunia, Bola Dunia, Paperline, dan sebagainya.

Sementara, di rumah tangga, berbagai produk Sinar Mas dari pabrik PT Smart mendominasi seperti minyak sayur Kunci Mas dan margarin Filma, yang sudah memiliki sertifikasi RSPO. Itu berarti, produk tersebut aman digunakan karena sesuai dengan program Kelapa Sawit Berkelanjutan (Baca: Yuk, Ikut Kampanye Beli yang Baik).

*       *       *
SAYA teringat dengan adagium lawas yang berbunyi, "Semakin tinggi pohon, angin yang bertiup pun kian kencang." Fakta itu dialami Sinar Mas Group yang termasuk dalam jajaran korporasi terbesar dan tersebar di seluruh nusantara.

Tentu, kita tidak lupa dengan ramainya pemberitaan mengenai kebakaran hutan pada 2015 lalu. Saat itu, Sinar Mas dengan beberapa anak usahanya dituding sebagai penyebabnya (Sumber: Tempo). Padahal, mereka pun sebagai korban akibat fenomena El Nino (Republika).

Belajar dari pengalaman itu, Sinar Mas dan APP, langsung mengubah kebijakan. Sambil turut membantu memadamkan api, mereka juga melakukan pencegahan agar insiden itu tidak terulang kembali saat fenomena El Nino berlangsung (BMKG). Bagaimanapun, mencegah lebih baik dibanding mengobati.

Caranya, dengan menggandeng pemangku kepentingan seperti instansi pemerintah yang meliputi aparat hukum. Sinar Mas Group juga melakukan strategi respons cepat dan deteksi dini (Tempo). Yaitu, patroli lebih ketat, mengawasi dari satelit, mendirikan menara api, pos pantau, hingga alat pemadam kebakaran dengan bom air (water bombing).

"Kebakaran tahun lalu itu musibah. Kami juga turut jadi korban. Tapi, kami punya tanggung jawab untuk bersama-sama mengatasinya sekaligus memulihkan ke kondisi semula," kata Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistyanto saat halal bihalal di Sinar Mas Land Plaza, Jakarta Pusat, Rabu (20/7).

Dalam acara ramah tamah bersama rekan-rekan blogger dan forum media itu turut dihadiri berbagai perwakilan pemerintah dan independen. Seperti Saleh Husin selaku Menteri Perindustrian, Rudiantara (Menkominfo), Nusron Wahid (Kepala BNPTKI), Said Agil Siradj (Ketua NU), Basri Bermanda (Ketua MUI), dan Franky O. Widjaja (Board Member of Sinar Mas).

Pada kesempatan itu, Gandi menegaskan komitmen Sinar Mas Group kepada masyarakat Indonesia. Termasuk, mendukung program pemerintah di berbagai bidang. Termasuk, penggunaan produk lokal sebagai jati diri bangsa. Bisa dipahami mengingat Sinar Mas merupakan perusahaan yang kerap bersinergi dengan masyarakat di pelosok nusantara. Menurut Gandi, saat ini perusahaannya memiliki 300 ribu karyawan langsung dan 500 ribu karyawan tidak langsung (Bisnis).

Bahkan, Sinar Mas bukan hanya perusahaan yang sekadar mencari profit saja. Melainkan, turut berkontribusi untuk masyarakat luas. Termasuk pada Ramadan lalu menggelar bazaar rakyat yang menjual sembilan kebutuhan pokok (Sembako) dengan harga terjangkau.

Itu diungkapkan Gandi kepada kami yang menghadiri halal bihalal. Dalam kesempatan itu, sosok yang bergabung di Sinar Mas sejak 1992 ini memutar video kegiatan perusahaannya dengan tujuan berbagi kepada masyarakat. Mulai dari bazaar rakyat, kegiatan CSR, Siaga Api bersama TNI di Sumatera Selatan, waqaf Alquran, hingga takjil gratis untuk berbuka puasa di sejumlah wilayah di nusantara.

Ya, semua berawal dari kebaikan, dari, oleh, dan untuk kita semua.

*       *       *
Sinar Mas: Berawal dari Kebaikan

*       *       *
Banner Halal bihalal manajemen Sinar Mas Group dengan blogger dan media

*       *       *
Perwakilan blogger berbincang sebelum acara dimulai

*       *       *
Eka Wijayanti,(Head of Corporate Coummunications President Office Sinar Mas)

*       *       *
Randy Salim (Head of Communications Corporate Affairs APP)

*       *       *
Ina Santi (Head of National Communications, Corporate Affairs & Communications APP)

*       *       *
Harry Hanawi (Corportate Affairs Director PT Smart Tbk)

*       *       *
Gandi Sulistyanto (Managing Director Sinar Mas)

*       *       *
Bazaar rakyat 2016

*       *       *
Menteri Perindustrian Saleh Husin

*       *       *
Veronica Tan, istri Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama

*       *       *
Penyerahan mushaf Alquran dari Franky ke Basri

*       *       *
Berawal dari Kebaikan

*       *       *
Donasi untuk yang membutuhkan

*       *       *
Pembagian takjil gratis jelang berbuka puasa

*       *       *
Saling berbagi di Bundaran HI

*       *       *
Siaga Api bersama TNI dan pemangku kebijakan

*       *       *
Lukmono Sutarto (Corporate Public Affairs Director President Office Sinarmas)

*       *       *
Yayasan Buddha Tzu Chi Perwakilan Sinar Mas

*       *       *
Gandi bersama Suhendra Wiriadinata (Director Corporate Affairs & Communications APP)

*       *       *
Bernostalgia sejenak sambil melantunkan lagu kenangan

*       *       *
Pengambilan doorprize yang dilakukan tim Sinar Mas

*       *       *
Emmy Kuswandari (Corporate Communications Sinarmas)

*       *       *
Rekan-rekan blogger memotret Tanti Amelia yang mendapat doorprize berkah lebaran

*       *       *
Anazkia semringah setelah memenangkan doorprize

*       *       *
Sumber referensi: Kemenperin, TNI ADRSPOForbes,
*       *       *
Artikel Terkait Sinarmas Group
Lengkapnya Fasilitas Sinarmas World Academy (SWA) di BSD
Kunjungan Blogger ke PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP)
Menikmati TSC 2016 Bersama Orange TV
Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi

*       *       *
- Jakarta, 22 Juli 2016

Selasa, 12 Juli 2016

(Galeri Foto) Patung Soekarno-Hatta di Bandara

(Galeri Foto) Patung Soekarno-Hatta di Bandara


Patung Soekarno-Hatat di Bandara Soerkarno-Hatta

MALAM itu, pada awal Srawamasa, langit di ibu kota tampak pekat. Sepertinya, dewi hujan siap mencurahkan air matanya yang membuat sinar sang Ratih tertutup awan. Yang menarik, sekelompok insan seperti tak memerdulikan keadaan tersebut.

Sebaliknya, mereka justru asyik bersenda gurau. Alunan lagu dangdut terdengar merdu dari seberang jalan yang mengitari kawasan itu. Saya yang sedang melewati jalan tersebut langsung tergoda untuk menepi. Sambil mengeluarkan senjata andalan dari balik tas, saya segera mengarahkannya ke arah mereka.

Usai mengabadikan beberapa gambar tanpa sepengetahuan mereka, saya pun mengeceknya di kamera. Ternyata, latar di antara pekerja yang beristirahat itu sangat menarik. Ya, patung Soekarno-Hatta yang berdiri gagah tepat di tengah bundaran.

Saya pun tergugah untuk mencari gambar dengan maksimal. Terutama karena saat itu momentumnya tepat. Malam hari dengan cuaca yang mendung diiringi sorotan lampu di tengah air mancur yang membuat gradasi warna kian semarak.

Kali ini, saya bidik kamera lebih dekat lagi. Juga sambil meminta izin kepada mereka untuk ikut nimbrung mendeprok di sekitar bundaran. Tak lama, rumut-rumput yang ada di hadapan saya pun bergoyang tertiup angin seperti hendak memberi sambutan yang hangat. Dengan sekali sentuhan, belasan gambar pun berhasil saya abadikan.

*       *       *

PATUNG Soekarno-Hatta berdiri dengan gagah. Keberadaannya yang tidak jauh dari Terminal 3 Bandara Internasioanl Soekarno-Hatta ini seolah untuk memberi sambutan. Namun, bukan seperti itu. Sebab, patung setinggi 12,6 meter ini merupakan simbol dari negeri ini.

Khususnya, untuk menghormati pendiri negara ini, Koesno Sosrodihardjo (Sukarno) dan Mohammad Hatta. Dwitunggal proklamator itu dijadikan nama dari salah satu bandar udara (bandara) tersibuk di dunia ini. Hingga, menurut Antara,  pada 29 Agustus 2007, di depan gerbang bandara dibuatkan patung Soekarno-Hatta yang ditujukan untuk menyambut pengunjung.

Namun, sejak 8 Januari lalu, patung tersebut dipindahkan PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara ke dekat Terminal 3. Alasannya, keberadaan patung karya Sunaryo di lokasi sekarang merupakan titik tengah bandara yang dapat dilihat semua pengunjung. Itu seperti semboyan "Jas Merah" yang diungkapkan Soekarno saat masih hidup. Alias, jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah.

*       *       *

TANPA bermaksud mengkultuskan patung yang tentu bukan benda bernyawa. Namun, keberadaan patung Soekarno-Hatta menambah daya tarik tersendiri. Apalagi, lokadinya yang dikeliling berbagai tanaman serta air mancur yang menambah kesan eksotis dari bandara yang sudah beroperasi sejak 1985 ini.

Air mancur menambah kesan eksotis dari patung Soekarno-Hatta
*       *       *
Dedaunan yang bergoyang seperti mengikuti arah Soekarno menunjuk tangannya

*       *       *
Para pekerja beristirahat di pinggir patung Soekarno-Hatta

*       *       *
Lalu-lalang kendaraan mengingat lokasi patung Soekarno-Hatta sangat strategis

*       *       *

*       *       *

*       *       *

*       *       **       *       *
*       *       **       *       *
*       *       **       *       *
Patung Soekarno-Hatta sang dwitunggal proklamator

*       *       *

*       *       *

*       *       *


*       *       *
Artikel Terkait:
- Seni Patung Pencak Silat di TIM
- Menelusuri Jejak 7 Patung Bersejarah di Jakarta
- Captain America Tewas dalam Civil War
- Sepenggal Kisah di Museum Abdul Harris Nasution
- Garuda Wisnu Kencana yang Memesona
- Museum Nasional dan Saksi Peninggalan Kejayaan Indonesia
- Sisi Lain Basoeki Abdullah
- Jerman Fest 2015
- Cindy Adams dan Misteri Dua Paragraf Otobiografi Soekarno

*       *       *

- Jakarta, 12 Juli 2016