TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2015

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 28 Desember 2015

(Esai Foto) Di Balik Nobar Liverpool Vs Leicester di Sevel Bintaro Sektor 7




SELAMAT untuk penggemar Liverpool yang tim kesayangannya sukses mengalahkan Leicester City 1-0. Pada pertandingan pekan ke-18 Liga Primer Inggris, gol tunggal kemenangan "The Reds" dicetak Christian Benteke pada menit ke-63.

Sontak, meski skornya tipis, tetap saja kemenangan membuat suporter Liverpool senang. Sebab, itu merupakan Boxing Day, alias laga sehari setelah Natal yang kerap dijadikan kado istimewa untuk penggemarnya.

Termasuk bagi puluhan fan Liverpool yang mengikuti nonton bareng (nobar) di 7-Eleven (Sevel) Bintaro Sektor 7, Sabtu (26/12). Oh ya, saya Juventini -penggemar Juventus- lho, tapi tetap senang menyaksikan Liverpool versus Leicester yang saling jual beli serangan.

*       *       *

"Nanti lewat Pondok Indah aja mas terus ke arah Bintaro. Ada Taman Menteng belok kiri," demikian penjelasan rekan blogger Kurnia Amelia Subarkah. Saya memang awam daerah Bintaro, jadi sebelum berangkat, pagi harinya sempat upload foto di facebook dengan maksud "test the water". Kebetulan dibaca Amelia yang memang tinggal di kawasan tersebut.

"Di Google Maps, Sevel-nya deket sama Stasiun Pondok Ranji ya mbak?"

"Iya mas. Ga deket banget sih. Tapi masih sekitar situ. Ntar dari Taman Menteng terus aja lewatin Sektor 3 yang ada Bintaro Plaza. Setelah itu ketemu lampu merah yang ada pangkalan ojek di depannya."

"Itu udah sampe ya mbak?"

"Ga mas. Ntar tanya tukang ojeknya aja."

"#%!$zzzzzzz"
*       *       *

Singkat kata, berbekal dua GPS (satu Google Maps dan petunjuk Amelia), saya pun tiba di lokasi. Oh ya, ini kali pertama saya menginjakkan kaki lagi di Bintaro sejak -kalo tidak salah- 1997. Saat itu, kawasan ini masih sepi lantaran jalan tol sedang dibangun yang berbeda dengan sekarang dipenuhi aneka gedung bertingkat.

*       *       *

Setelah registrasi sejenak sebagai bukti kehadiran saya yang berhadiah dua kupon dari Sevel (aiiih, nobar gratis + dapat makan pula = ^_^) saya disambut mbak panitia/brand ambassador/ Sales Promotions Girl (SPG) yang sekilas mirip Cornelia Agatha waktu muda.

"Selamat datang mas. Silakan isi daftar hadir."

"Oh ya mbak, boleh minta tolong?"

"Silakan mas."

"Bisa minta nomor ponselnya?"

"Tentu. Ini baru saya mau minta nomor mas."

"Oh, ga jadi deh. Kalo gitu boleh saya foto?"

"Dengan senang hati mas. Ini juga baru saya mau ngajuin wefie bareng mas."

"Lha ikut-ikutan terus. Ga jadi deh mbak."

"Yaaaa, jangan gitu dong mas. Padahal saya udah siap-siap mau difoto."

"Ooh.. Iya aja deh mbak, biar cepet." (Seketika saya jadi garuk-garuk kepala yang tidak gatel. Mau jawab juga bingung)
*       *       *

Setelah registrasi, saya masuk ke convenience store yang buka 24 jam. Di dalamnya, ada empat sekawan sedang menikmati santap malam sambil memandang ke arah layar lebar yang berada di balik kaca.
*       *       *

Bagi saya, Sevel salah satu tempat nongkrong yang asyik. Baik sekadar santai mendengarkan curhat atau ketika asyik nobar. Biasanya,  favorit saya di depan Senayan City yang memang sebelahan dengan kantor.

Untuk menu kesukaan saya beragam. biasanya kopi atau cemilan. Namun, di antara semuanya, tidak ada yang bisa mengalahkan saus keju! Ya, ini jadi andalan anak nongkrong saat mengunjungi Sevel. Bahkan, saya sempat melihat ada pasangan yang cuma beli chiki, tapi mengisi penuh saus keju hingga satu mangkuk ukuran sedang!

Jangan tanya saya jika hal itu terus berlanjut, apakah Sevel lama-lama bangkrut atau tidak.

*       *       *

Nobar membawa pasangan, pacar, istri, atau anak, sudah lumrah. Bisa jadi karena sang ayah/suami merupakan penggemar sejati suatu klub yang ingin ditularkan kepada keluarganya.

Saya pernah wawancarai salah satu fans, waktu Juventus tur ke Indonesia dua tahun lalu, yang memboyong keluarganya full ke Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Kalo tidak salah, istrinya, adik, kakak, ibu, ayah, hingga paman dan bibi pun dibawa. Padahal, mereka duduk di kursi VIP Barat yang harga per tiket sekitar Rp 1,6 juta rupiah dikali sekian orang.

"Ga setiap tahun Juventus bisa datang ke Indonesia mas," kata fans tersebut seperti saya muat di Harian TopSkor edisi Jumat, 8 Agustus 2014.

*       *       *

Saya baru tahu kalau di Sevel Bintaro Sektor 7 ada Bajigur. Sebenarnya, saya mau coba. Namun, berhubung saya sedang mengikuti program diet, akhirnya tetap memencet tombol teh hijau.

*       *       *

Kebahagiaan tidak hanya terpancar dari suporter Liverpool yang tim kesayangannya menang. Melainkan juga ada penggemar Manchester United (MU). Nah lho?

Yupz, acara nobar yang digelar Harian TopSkor, Nexmedia, Supersoccer.co.id, dan Sevel ini memang bertabur hadiah. Yaitu, dua smartphone Android -duh saya ngarep banget- dan juga jersey orisinal. Nah, penonton yang beruntung mendapat doorprize ini merupakan penggemar MU
*       *       *

Pembagian doorprize jadi puncak acara nobar. Selanjutnya, ya kami kembali ke rumah masing-masing. Berhubung saya dari dulu males melewati jalur yang sama hingga dua kali, saya pun mencari alternatif arah pulang agar cepat sampai mengingat saat itu turun hujan. Tepatnya Jalan Bintaro Permai 3 yang menurut GPS tembusnya ke Pakubowono yang berkebalikan saat pergi (Jalan Bintaro Utama I dari bundaran Pondok Indah). 

Berhubung sudah pukul 01.00 WIB, jalanan pun relatif sepi. Terutama menjelang Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir yang tidak terlihat kendaraan sama sekali. Dalam situasi itu, terasa lebih syahdu -tepatnya agak seram- karena diiringi gerimis yang kalo kata orang sih, begitu deh.

Beruntung, sepanjang jalan tidak ada apa-apa meski sempat parno juga mengingat di areal Tanah Kusir memang sepi. Apalagi, saya pernah punya pengalaman yang menurut saya agak horor saat sendirian pas tengah malam.

Pertama, pada 2004 ketika saya seperti tersesat di Puncak, Cianjur, hingga dua jam dalam perjalanan Bandung menuju Jakarta melalui sepeda motor. Padahal, waktu normal mulai dari Restoran Rindu Alam menuju Tugu kecap, Masjid At-Taawun, hingga Agrowisata Gunung Mas, biasanya saya lalui setengah jam. Namun, entah mengapa, saya seperti muter-muter saja di sekitar lokasi tersebut yang sangat sepi. Sayangnya, 11 tahun silam, ponsel saya masih buatan Finlandia tipe 3650 yang belum ada aplikasi peta apalagi GPS. Jadi, saat itu saya hanya mengandalkan garis pembatas jalan di tengah kabut.

Selanjutnya, ketika masih bertugas di Kintap, Kalimantan Selatan pada 2007, dengan mendengar suara-suara aneh di sumur tua belakang mes tempat saya tinggal.

Dua pengalaman horor itu hingga kini tidak pernah saya lupakan meski sudah lewat beberapa tahun. Namun, sepanjang seperempat abad lebih hidup saya ini, masih kalah "seram" dibanding saat menghadiri pernikahan mantan. Bahkan, hingga dua kali. 

Yupz, lebih horor mana, bertemu makhluk halus atau bersalaman dengan mantan yang duduk di pelaminan?

*       *       *

Setelah sampai di kawasan Senayan, saya singgah sejenak warung Burjo (Bubur Kacang Hijau). Sebenarnya, logika saya ingin melanjutkan perjalanan mengingat jaraknya tinggal 15 atau 20 menit lagi saya tiba di rumah. Tapi, entah mengapa, hati saya memilih untuk berhenti sejenak lantaran habis hujan-hujanan. Jadi, saya lebih memilih apa kata hati ketimbang logika.

Usai menghangatkan tubuh dengan semangkok bubur dan susu jahe, baru saya melanjutkan perjalanan. Tapi, ketika sampai di lampu merah Slipi-Palmerah, terdapat kemacetan. Ternyata, saat itu ada kecelakaan yang lokasinya tepat di depan Apartemen Slipi samping pintu tol.

Sebagai blogger sekaligus jurnalis warga, langsung saja saya menepikan sepeda motor untuk menghampirinya. Bukan bermaksud kepo, tapi saya memang ingin tahu, siapa tahu korbannya saya kenal dan bisa menginformasikan ke pihak terkait.
*       *       *


Setelah memapah sopirnya yang terluka yang kalau tidak salah usianya di atas 60-an tahun, saya pun mengeluarkan ponsel. Tapi ini bukan untuk selfie seperti yang terjadi di kebun bunga. Melainkan untuk memotretnya dan menginformasikan ke pihak kepolisian.

Yaitu dengan mengirim dua tweet ke twitter resmi TMC Polda Metro Jaya agar bisa disebarkan ke pihak terkait serta keluarga korban. Tidak lama kemudian, akun yang memiliki 4,94 juta followers itu merspons dengan menginformasikan ke pihak Lalu Lintas untuk dateng ke lokasi.
*       *       *

Menurut saksi mata yang melihat langsung kejadian, katanya kondisi jalan licin hingga membuat kendaraan bernomor plat B 1746 PVB itu terbalik. Beruntung, tidak ada korban jiwa meski kondisi mobil ringsek berat.

Dan, setelah ngobrol-ngobrol sejenak dengan pak polisi yang dengan sigap membantu korban, saya pun kembali ke rumah.
*       *       *

Esai Foto sebelumnya:
- Menikmati Senja di Taman Ayodya sambil Baca Buku Gratis di Perpustakaan Terapung
- Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V: Antara Kritik dan Apresiasi Penyelenggara
- Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
*       *       *
- Jakarta, 28 Desember 2015

Kamis, 24 Desember 2015

(Esai Foto) Menikmati Senja di Taman Ayodia sambil Baca Buku Gratis di Perpustakaan Terapung



MENIKMATI libur tidak harus mahal. Cukup dengan membawa uang Rp 3.000 sebagai biaya parkir, kita bisa mendapatkan pengalaman dan suasana baru. Itulah yang terjadi pada saya kemarin sore, Rabu (23/12). Usai menghadiri rapat tahunan Badan Narkotika Nasional (BNN) sekaligus membahas program 2016 yang akan melibatkan blogger seperti 2014 lalu, saya pun menuju Taman Ayodya.

Dalam kesempatan itu, Kepala BNN Budi Waseso bersama Antar Sianturi (Deputi Pencegahan) dan Slamet Pribadi (Kabag Humas), berencana selain kembali mengaktifkan kampanye menulis, juga siap mengajak blogger untuk mengunjungi Balai Rehabilitasi BNN di Lido, Bogor. Tujuannya, memberi informasi lebih dalam mengenai bahaya narkotika dan obat terlarang (narkoba) kepada blogger yang bisa disebar kepada anak, saudara, keluarga, kerabat, dan kenalannya.

*       *       *

Sesampainya di taman yang juga disebut Taman Barito karena berlokasi di Jalan Barito, Jakarta Selatan, saya disambut keriuhan puluhan bocah. Ada lari-lari, selfie, main ayunan, hingga memancing. Oh ya, Taman Ayodia kini sudah bersolek. Dibanding beberapa bulan lalu, sekarang taman yang diresmikan 6 Maret 2009 itu lebih tertata. Selain sarana olahraga dan permainan untuk anak kecil, juga ada perpustakaan terapung yang menyediakan puluhan koleksi buku.
*       *       *

Untuk mengakses Taman Ayodia ini bisa menggunakan kendaraan umum atau pribadi seperti saya yang memakai sepeda motor dan parkir di depannya dengan tarif flat Rp 3.000. Untuk bus, bisa naik dan turun di terminal Blok M yang berjarak sekitar 500 meter. Jika menggunakan Commuter Line ada dua pilihan, yaitu di Stasiun Palmerah dan Kebayoran Lama yang sama-sama harus naik ojek lagi.
*       *       *


Oh ya, di taman ini ternyata sudah disediakan wifi gratis dari Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta yang layak diapresiasi untuk memanjakan warganya. Dalam informasi yang terpasang di sekitar taman, pengunjung juga bisa membeli voucher dengan nominal tertentu.
*       *       *

Jika pengunjung lelah usai menikmati keindahan taman, bisa beristirahat sejenak di pendopo. Seperti yang saya foto, seorang pria asyik membaca novel. Di era sekarang, itu jadi pemandangan langka mengingat mayoritas orang lebih sibuk dengan gadget atau ponselnya masing-masing.
*       *       *

Pemandangan yang indah di sekitar taman dengan danau buatan membuat. Dalam foto, tampak latar Hotel Gran Mahakam yang memesona dengan menyandang predikat bintang lima. 
*       *       *

Dalam hidup selalu ada dua sisi. Sayangnya, kebersihan di taman ini kurang terjaga. Sepenglihatan mata saya, banyak sampah bertebaran, khususnya areal rumput.  Begitu juga dengan pohon dan bunga sudah banyak yang layu.
*       *       *

Butuh perjuangan bagi pengunjung untuk bisa ke toilet. Lantaran hanya tersedia dua toilet hingga warga harus antre. Mending untuk buang air kecil, jika ada yang buang air besar, harus siap-siap diketok pintunya dari luar. Sekadar informasi, untuk menggunakan toilet tarifnya Rp 2.000.
*       *       *

Ketika berbincang dengan beberapa ekspatriat dan warga negara asing (WNA) asal benua biru, mereka mengagumi keindahan Indonesia, khususnya pembangunan di Jakarta. Hanya, mereka tetap menggunakan kata "tapi" dalam obrolan tersebut dengan menyebut bangsa kita piawai membangun, tapi kurang pandai melestarikannya. Contohnya, tempat sampah ini. Ya, selain peran pemkot DKI, pengunjung juga wajib menjaga kebersihan. Sayang banget, taman yang menelan anggaran hingga Rp 2,1 miliar ini harus terbengkalai...
*       *       *

Untuk papan informasi sudah jauh lebih baik karena tersebar di berbagai titik. Hanya, fakta di lapangan kurang berjalan dengan baik. Sekadar saran, larangan merusak tanaman menurut saya agak rancu. Sebab, itu seperti melarang orang yang memberi bunga untuk pasangannya.

Pengalaman saya, Taman Ayodia ini salah satu tempat yang kerap dijadikan lokasi untuk "penembakan" dengan setangkai bunga mawar. Terutama dari anak baru gede (ABG) yang bisa membeli mawar dari toko bunga di seberang taman.
*       *       *

Untuk menikmati taman baca ini, pengunjung harus bergantian. Karena maksimal perpustakaan terapung ini hanya mampu mengangkut beban 10 orang dewasa. Kebetulan saya datang sore hari, jadi tidak begitu ramai seperti pagi hingga siang.
*       *       *

Yang menarik, taman baca ini juga menyediakan puluhan buku, baik fiksi dan non fiksi. Ada beberapa novel populer yang bisa dinikmati secara gratis. Dengan syarat, setelah baca, pengunjung harus mengembalikannya di tempat semula.
*       *       *

Untuk kategori non fiksi, tersedia majalah, koran, komik, dan buku anak. Sayangnya, saat itu tidak ada petugas yang jaga. Beruntung, saya mendapat informasi dari salah satu pengamen bernama Angga yang -katanya- dipercaya untuk menerima sumbangan buku. Menurutnya, jika ada pengunjung yang ingin menyumbang buku, bisa langsung menghubunginya di nomor 087776**4634 dan pin BB 582525**.
*       *       *

Banyak pilihan untuk menikmati buku gratis. Bisa dibaca di tempatnya yang mirip perahu terapung, pendopo, atau di sekitar taman yang sudah disediakan bangku. 
*       *       *

Menurut informasi, Taman Baca Apung atau Perpustakaan Terapung ini dibangun Pemkot DKI bekerja sama dengan Ikata Arsitek Indonesia (AIA), Suar Artspace, Holcim, Kelas Pagi Jakarta, dan Airmas Asri.

*       *       *


Awalnya, saya pikir dari kejauhan itu sampah plastik. Ternyata, ada ikan-ikan kecil yang sedap dipandang. 
*       *       *

Beberapa drum digunakan sebagai penahan agar taman baca ini tetap terapung. Suatu ide yang menarik. Semoga, Pemkot DKI dan beberapa pihak terkait lainnya membuat taman baca ini di berbagai lokasi di Jakarta.
*       *       *

Sekilas, saya melihat taman baca apung ini seperti perahu. Dua jempol untuk ide dan penerapannya. Semoga mampu dirawat dengan baik oleh yang pihak yang bersangkutan dan juga pengunjung agar tidak terbengkalai.
*       *       *

Sepasang remaja di pintu masuk taman baca apung ini mengingatkan saya pada adegan foto fenomenal Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet di dek kapal Titanic...
*       *       *

"Ayah, aku mau naik."
"Jangan nak, nanti terpeleset bisa jatuh."

Tepat di depan perpustakaan terapung terdapat tempat duduk sekaligus sarana bermain untuk anak.
*       *       *

Berbagai komunitas dari segala kalangan pun sangat menikmati bersantai di Taman Ayodia.
*       *       *

Deretan bangku di bibir taman ini kerap digunakan untuk berbagai acara baik komunitas atau menggandeng pihak sponsor. Termasuk beberapa waktu lalu dengan nonton bareng (nobar).
*       *       *

Perpustakaan Terapung di Taman Ayodia terlihat eksotis di malam hari.
*       *       *
*       *       *
Seluruh foto diambil melalui kamera ponsel
- Jakarta, 24 Desember 2015

Selasa, 22 Desember 2015

Indosat Ooredoo 4Gplus Jawaban untuk Akses Internet Lebih Cepat

Indosat Ooredoo 4Gplus Jawaban untuk Akses Internet Lebih Cepat
Indosat Ooredoo 4Gplus

UNDIAN babak 16 besar Liga Champions 2015/16 yang berlangsung di markas UEFA di Nyon, Swiss, Senin (13/12) kembali menyuguhkan pertarungan antartim raksasa Eropa. Salah satunya, jawara Ligue 1 Prancis, Paris Saint Germain (PSG) versus kampiun Liga Primer Inggris, Chelsea.

Sebagai penggemar sepak bola, sudah pasti saya enggan melewatkan pertandingan tersebut. Sebab, gengsi PSG-Chelsea, tidak kalah seru dibanding Arsenal-Barcelona, dan klub favorit saya, Juventus-Bayern Muenchen. Maklum, duel yang berlangsung kandang-tandang pada 17 Februari dan 10 Maret 2016 ini merupakan ulangan pertemuan musim sebelumnya di babak yang sama.

Saya sendiri tidak asing lagi dengan PSG. Selain bekerja di media olahraga dan sudah mengenal klub asal kota Paris itu sejak masih diperkuat David Ginola pada era 1990-an. Melainkan juga karena PSG disponsori Indosat Ooredoo. Yaitu, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Tanah Air yang aktif mendukung #IndonesiaDigitalNation. Tujuannya agar masyarakat Indonesia lebih melek internet dengan akses cepat dan mudah ke pelosok nusantara.

Fakta itu terungkap saat saya menghadiri kerja sama VAS Content antara Indosat Ooredoo dengan tiga klub raksasa Eropa: Barcelona, FC Internazionale, dan Arsenal. Dalam acara yang berlangsung di lantai 25 kantor pusatnya pada 31 Agustus lalu, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli,  bangga bisa bekerja sama dengan empat klub ternama di benua biru tersebut. Yaitu, demi memenuhi kebutuhan pelanggan Indosat Ooredoo yang juga penggemar sepak bola.

Apa yang dikatakan Rusli beralasan. Sebab, pangsa penggemar sepak bola di Tanah Air sangat besar. Bahkan, Rusli menegaskan, Indosat Ooredoo sudah memiliki rencana untuk menjalin kerja sama dengan klub lokal di Indonesia. Pernyataan itu, tentu mendapat sambutan hangat dari puluhan undangan yang hadir. Termasuk, Erick Thohir sebagai Presiden Inter Milan serta pemilik klub Persib Bandung.

Teranyar, Indosat Ooredoo kian memanjakan pelanggannya. Tepatnya, dengan meluncurkan layanan 4Gplus. Yaitu, program yang jadi jawaban untuk rakyat Indonesia yang ingin akses internet lebih cepat dan mudah diakses dengan tarif terjangkau. Ada pernyataan menarik dari Rusli mengenai layanan 4Gplus.

“Banyak yang bertanya kapan kami (Indosat Ooredoo) meluncurkan 4G,” kata Rusli di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta (30/11). “4Gplus ini jawabannya. Kenapa harus pakai ‘plus’ dan bukan 4G saja? Sebab, kita bukan cuma jualan jaringan yang cepat, tapi total digital experience. Layanan 4Gplus dari Indosat Ooredoo bisa dinikmati tanpa biaya tambahan dengan tarif terjangkau.”

Apa yang disampaikan pria penggemar kuliner ini sungguh menggiurkan. Kebetulan, saya pribadi merupakan pelanggan layanan prabayar IM3 Ooredoo sejak 2003 hingga kini dan IM2 untuk pemakaian domain di blogwww.roelly87.com. Sepanjang pengalaman saya, layanan Indosat Ooredoo yang bertajuk #4Gplus4all atau 4Gplus untuk semua memang sangat memudahkan pelanggannya dalam kehidupan sehari-hari. Info lengkapnya bisa disimak di http://goo.gl/XrR79u.

Itu karena 4Gplus dari Indosat Ooredoo membuat internetan lebih cepat, jaringan data kuat, dan harga yang kompetitif (beli 4G dengan harga 3G). Apalagi, mereka memiliki jangkauan yang luas hingga ke penjuru nusantara. Bahkan, terdapat bonus 10GB internetan dan 10.000 menit telepon!

Sebagai gambaran, saya yang merupakan blogger tidak perlu bayar lebih untuk bisa mengunduh, upload, dan menikmati streaming lebih cepat dengan 4Gplus. Bagaimana dengan harganya? Ini menarik, mengingat 4Gplus hadir dengan harga sama seperti layanan 3G. Bahkan, dengan program #fansdowonders dari Indosat Ooredoo, kita bisa berkesempatan untuk menyaksikan pertandingan PSG secara langsung!


Ada yang bisa menawarkan lebih dari Indosat Ooredoo?

*      *      *
Sebelumnya tentang Indosat:
Komitmen Indosat Terhadap Pelanggan, Sepak Bola, dan Blogger
Merajut Kebersamaan Sesama Blogger dalam #BukberBRID dan Ketupat Indosat
Serba Lengkap di Cipika Store
Kenapa Harus Indar Atmanto?
Kenangan Belajar Meliput di SEA Games 2011
Mereka yang Turut Mensukseskan SEA Games 2011
Hajar Vietnam 2-0, Indonesia ke Semifinal SEA Games 2011
Antusiasme Masyarakat Menyaksikan Timnas Indonesia Mengalahkan Malaysia
Menyaksikan Langsung Parade Obor SEA Games 2011 di Jakarta
Silaturahmi Blogger di Launching Produk Indosat Ramadan
Kopdar Kompasianer dan Indosat untuk Internet Murah
Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD
Rekam Jejak Satu Tahun IDKita Kompasiana

*      *      *
Jakarta, 22 Desember 2015

BNN Tangkap Pilot dan Pramugari Lion Air yang Konsumsi Narkoba


Dari kiri: Kepala BNNP Banten Heru Februanto, Kepala BNN Budi Waseso, Kabag Humas BNN Slamet Pribadi


"RUL, acaranya diundur. Tapi kita bisa nunggu sampe siang ini ada info penting," demikian sambutan rekan blogger Thamrin Dahlan kepada saya di lobi Kantor Pusat Badan Narkotika Nasional (BNN), Jakarta Timur. Ya, pagi tadi, Selasa (22/12) kebetulan saya sudah ada janji untuk hadir ke acara yang rencananya melibatkan Kepala BNN Budi Waseso. Hanya berhubung satu hal, ternyata harus diundur.

"Yuk masuk aja. Kita langsung ke ruangan Kabag Humas buat ngobrol-ngobrol. Di sana sudah ada Rahab (Ganendra) dan Arrie (Boediman La Ede) yang nunggu," ujar Thamrin seraya menemani saya menuju ruangan Kabag Humas yang dijabat Slamet Pribadi.

"Ada berita terbaru nih pak? tanya saya kepada Slamet. Sosok yang menyandang pangkat Komisaris Besar (Kombes) Kepolisian ini tersenyum.

"Penangkapan pilot sama pramugari, rul. Total ada empat orang," Thamrin, menimpali.

"Wow... Dari maskapai mana pak?" Saya memberondong pertanyaan.

"Nanti saja tunggu saat konferensi pers jam satu siang ini. Ada pak Budi juga sama pak Heru Februanto (Kepala BNP Banten)," jawab Slamet yang terakhir kali saya temui saat BNN mengadakan Saresehan Advokasi P4GN di Kalangan Media Elektronik 13 Oktober lalu.

Seusai berbincang sejenak, kami pamit. Berhubung waktu masih pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, kami pun diajak Thamrin menuju kantin untuk ngopi-ngopi cantik. Selanjutnya, beliau mengajak saya dan Rahab kembali ke kantor BNN untuk mencari  informasi lainnya.

Termasuk diskusi dengan eks pemakai yang kini jadi konselor Peter Bunjani serta  Kepala Balai Rehabilitasi BNN Lido Yolan Tedjokusumah. Salah satunya agenda BNN mengikutsertakan blogger untuk mengunjungi balai rehabilitasi di Lido, Sukabumi.

Hal itu sudah lama direncanakan Thamrin dari tahun lalu sebagai bagian dari kampanye blogger peduli narkotika dan obat terlarang (narkoba). Maklum, pria 63 tahun ini memang sebelum pensiun menjabat sebagai Direktur Pasca Rehabilitasi BNN.

*      *      *

"JANGAN kita menghukum maskapainya. Karena ini kan orang per orangan yang menggunakan. Artinya, bisa terjadi di maskapai apa saja," kata Budi saat melakukan tanya jawab dalam konferensi pers. Saat itu, pria yang di pundaknya terdapat pangkat tiga bintang ini tidak mengungkapkan secara gamblang nama maskapai tempat bekerja tiga dari empat pemakai tersebut.

Namun, di kalangan wartawan saat itu sudah ramai diketahui jika pilot, pramugara, dan pramugari, yang diciduk BNN pada Sabtu (19/12) bekerja di Lion Air. Mereka diketahui sedang menggunakan narkoba di sebuah apartemen di Jalan Marsekal Suryadarma, Tangerang Selatan.

Seperti yang saya catat dan upload rekaman videonya di youtube, berikut ketiga inisial tersangka yang disebutkan Budi:

1. SH usia 34 tahun berprofesi sebagai pilot dengan positif ganja
2. MT (23 tahun) pramugara, positif amphetamine dan sabu
3. SR (20 tahun) pramugari, positif amphetamine dan sabu

Sementara, satu tersangka lagi merupakan ibu rumah tanga dengan inisial NM (33 tahun). Menurut Budi, keempat orang itu sudah melakukan tes urine, pemeriksaan (BA), dan pelimpahan ke Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNNP Banten untuk menjalankan assesment. Seluruh tersangka dikenakan pasal 127 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Pilot ini sedang mengikuti training di maskapai baru setelah pindah dari maskapai sebelumnya," kata Budi, 54 tahun. "Apakah keempat itu sedang bugil atau melakukan (hubungan) seks, kami belum tahu. Saat ini kami masih melakukan pengembangan lebih lanjut. Mengenai sanksi untuk maskapai, ini tidak ada hubungannya. Mereka (maskapai) tidak bersalah karena sudah berusaha untuk melakukan pengawasan. Tapi oknumnya yang akan kita tindak."


*      *      *

*      *      *

*      *      *
Artikel sebelumnya:
BNN Tangkap Pilot dan Pramugari Lion Air
Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik Feodalisme
Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba/ Lomba Blog BNN
Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput (Artikel di Okezone.com)

Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba
*      *      *

- Senayan, 22 Desember 2015

Senin, 21 Desember 2015

Grand ITC Permata Hijau dan Bursa Mobil Tem's Otomart Manjakan Penggemar Otomotif dengan Kontes Modifikasi


Otomotif Collaboration di lantai lima Grand ITC Permata Hijau

DERETAN mobil yang sudah dimodifikasi terhampar dengan rapi. Lantunan musik terpancar dari audio puluhan kendaraan roda empat tersebut. Sekilas, saya seperti membayangkan adegan dalam serial "Fast and Furious" yang edisi ketujuh tayang serentak di Tanah Air pada 1 April lalu atau film Hongkong berjudul "The Legend of Speed". Namun, kali ini nyata, karena saya bukan hanya bisa menyentuh kendaraan saja, melainkan juga berbincang dengan pemiliknya.

Termasuk salah satu peserta kontes bernama Anto asal Bekasi yang rela "menyulap" mobil kesayangannya hingga mirip taksi dengan budget mencapai Rp 30 juta! Meski tergolong "wah", namun bagi penggemar otomotif itu tidak masalah. Sebab, baginya ada kepuasan tersendiri saat memodifikasi mobil yang jadi bagian dari hidupnya itu.

Ya, itu terjadi saat saya dan beberapa rekan blogger menghadiri acara Otomotif Collaboration 2015 di Lantai 5 Grand ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, Sabtu (19/12). Kontes modifikasi mobil itu merupakan jawaban untuk penggemar otomotif di seluruh Tanah Air yang diselenggarakan Grand ITC Permata Hijau bekerja sama dengan Bursa Mobil Tem's Otomart.

"Otomotif Collaboration ini merupakan salah satu dari rangkaian acara yang diselenggarakan Grand ITC Permata Hijau sepanjang Desember," kata perwakilan Grand ITC Permata Hijau, Hastari Sugesti. "Event ini berlangsung seharian penuh pada Sabtu, 19 Desember di lantai lima gedung ini yang bekerja sama dengan Bursa Mobil Tem's Otomart."

Dalam kesempatan tersebut, wanita asal Yogyakarta ini juga membeberkan beberapa rangkaian acara di Grand ITC Permata Hijau sepanjang Desember ini baik offline maupun online. Termasuk lomba selfie menyambut Natal yang infonya tertera di akun resmi instagram  @granditc_permatahijau. Beberapa program promosi seperti SHOPPING FESTIVAL yang berlangsung sejak 1 Oktober hingga 31 Desember mendatang meliputi:

1. Cerdas Ceria pada 13 Desember lalu
2. Otomotif Collaboration 19 Desember
3. Mom & Kids Challenge 20 Desember
4. Super Sale
 - Ladies Fair pada 4-6 Desember
 - Night Wear Fair 11-13 Desember
 - Toys & Hobbies Fair 18-20 Desember

Yang menarik, ternyata promosi dan kontes yang diselenggarakan Grand ITC Permata Hijau tidak hanya berakhir pada Desember ini saja, tapi juga setiap bulannya. Khususnya untuk menyambut Tahun Baru yang bisa disimak infonya melalui akun instagram, facebook (Gitc Permata Hijau) dan twitter (@GrandITC_PH).

Sekadar informasi, Grand ITC Permata Hijau memiliki konsep mix-used-complex yang terdiri dari dua tower apartemen, kantor dan toko, serta International Trade Canter (ITC). Dalam rilis resmi yang saya dapat, proyek yang dikembangkan Sinar Mas Land serta dikelola PT Matra Olah Cipta ini memiliki 108 unit kantor, 26 lantai apartemen, dan 1.559 unit kios yang tersebar di empat lantai berbeda dengan okupansi penyewa per November 2015 mencapai 65 persen.

Dengan kondisi ekonomi saat ini yang sedang lesu, tentu pencapaian Grand ITC Permata Hijau tergolong tinggi. Bisa dipahami mengingat lokasinya sangat strategis di jantung ibu kota yang menghubungkan kawasan Senayan, Arteri Pondok Indah, Kebaoyran Lama, Simprug, dan Gandaria.

Satu hal lagi, ternyata saya baru tahu tambahan kata "Grand" itu bukan sekadar pemanis saja. Melainkan karena dibanding ITC lainnya dari anak usaha Sinar Mas Land, memang Grand ITC Permata Hijau, yang paling besar. Yaitu, menyasar kelas menengah yang tinggal di kawasan elite Permata Hijau dan sekitarnya.

Selain empat lantai untuk komersil, Grand ITC Permata Hijau juga menyewakan lantai lima khusus untuk Bursa Mobil Tem's Otomart. Yaitu, pusat jual beli mobil second (bekas) terlengkap dengan ratusan kendaraan dari berbagai merek. Nah, bagaimana dengan kualitas, kondisi, dan keamanannya, mengingat membeli kendaraan bekas tergolong rentan dibandingkan baru?

Hal itu sudah dipikirkan secara matang oleh Rully Arif Prabowo yang merupakan pengelola Bursa Mobil TEM'S Otomart yang memiliki website resmi di alamat www.bursamobiltems.com. Itu diungkapkannya saat menjawab berondongan pertanyaan blogger di kantornya.

"Kami memiliki tim yang rutin mengecek kondisi dan dokumen mobil yang dijual di sini. Apalagi, rata-rata yang di sini merupakan show room besar dan sudah memiliki nama. Jadi, saya pastikan, kredibilitasnya," kata Rully di hadapan blogger yang saya dokumentasikan di laman youtube. "Di sini terdapat 31 lot yang masing-masing terdapat 9-12 mobil dengan total ratusan mobil bekas tersedia di lantai lima Grand ITC Permata Hijau. Untuk persentase, sekitar 75 persen merek Jepang dan sisanya Eropa."

Selanjutnya, Rully mengungkapkan, konse One Stop Shopping yang diusung TEM's akan dibaut lebih luas pada kuartal pertama 2016. Yaitu dengan mencakup penjualan mobil bekas, bengkel perbaikan ringan, jual aksesoris seperti ban dan audio.

"Kebetulan, kami masih memiliki ruang kosong di lantai lima ini yang memiliki luas sekitar 7.000-an meter persegi. Bursa Mobil TEM'S ini berdiri sejak 8 Juli 2014 yang mengusung konsep berbeda dibanding bursa mobil pada umumnya. Termasuk promosi setiap hari dan juga menyelenggarakan event seperti Otomotif Collaboration dengan 64 kategori berbeda," Rully, mengungkapkan.

*      *      *
Lokasi Bursa Mobil TEM's

*      *      *
Denah di lantai lima Grand ITC Permata Hijau dengan 31 lot tempat mobil bekas

*      *      *
Pemandangan kota Jakarta dari lantai lima Grand ITC Permata Hijau

*      *      *
Berbagai mobil modifikasi yang mengikuti kontes 

*      *      *
Salah satu mobil yang paling menyita perhatian pengunjung

*      *      *
Sekilas dengan warna kuning seperti taksi

*      *      *
Interior yang terlihat elegan

*      *      *
Audio yang terdengar menggelegar

*      *      *
Matanya mirip Iron Man!

*      *      *
Ternyata ada yang memberi saya ucapan ulang tahun :)

*      *      *
Wow... 

*      *      *
Setiap sudut mobil ini penuh dengan modifikasi

*      *      *
Salah satu lot di lantai lima

*      *      *
Rully Arif Prabowo saat berbincang dengan Hastari Sugesti dan blogger

*      *      *
Narsis di depan kantor Bursa Mobil TEM's Otomart

*      *      *       *      *      *
*      *      *       *      *      *
*      *      *       *      *      *

*      *      *

*      *      *

*      *      *

*      *      *

*      *      *
*      *      *
- Jakarta, 21 Desember 2015