TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Juni 2015

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Selasa, 30 Juni 2015

Mengunjungi Masjid Hidayatullah yang Bersejarah dan Dikelilingi Gedung Bertingkat


Masjid Hidayatullah yang tanpa kubah sekilas seperti Kelenteng (Sumber foto: koleksi pribadi/ www.roelly87.com)
SEKILAS tiada yang aneh dengan tempat ibadah ini. Maklum, lokasinya seperti tersembunyi di antara deretan gedung bertingkat di kawasan pusat Jakarta. Namun, ketika melintasi gerbang dan masuk ke dalamnya, baru kita merasa takjub. Ya, Masjid Hidayatullah memang sangat memesona. Terletak di jantung ibu kota di kawasan elite segitiga emas, tepatnya di belakang salah satu gedung ikonik Sampoerna Strategic Square.

Namun, masjid yang berlokasi di Jalan Masjid Hidayatullah, Karet Depan (Dr. Satrio), Setiabudi, Jakarta Selatan ini, seperti tak lekang dimakan waktu. Maklum, tempat ibadah yang ditetapkan Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, memang unik. Lantaran bangunannya berbeda dibanding masjid pada umumnya karena tiada kubah, di sampingnya terdapat puluhan makam, dan kalau dilihat sepintas lebih mirip Kelenteng.

*       *       *
SIANG itu, Jumat (26/6) cuaca ibu kota sungguh menyengat. Macet menjadi santapan sehari-hari bagi mayoritas warga Jakarta. Khususnya di jalan protokol seperti Jenderal Sudirman. Apalagi, bertepatan dengan suasana Ramadan. Ibaratnya, macet dan panas menjadi godaan terbaik bagi umat yang sedang menjalankan puasa untuk meredam ego di jalan raya.

Kebetulan, saat itu saya baru saja kembali dari suatu acara di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menuju kantor. Ketika lewat kolong jalan layang Profesor Dr. Satrio, sayup-sayup terdengar suara azan Ashar. Dari samping gedung Sampoerna, mata saya tertuju pada plang berwarna hijau yang menunjukkan Jalan Masjid Hidayatullah.

Langsung saja saya membelokkan sepeda motor menuju jalan yang tersebut. Niatnya selain ingin menunaikan ibadah wajib juga ingin beristirahat sejenak setelah nyaris seharian berkeliling ibu kota. Dengan perlahan menyusuri jalan, saya mencari masjid atau musala yang ada di lokasi tersebut sambil melirik di sebelah kiri terdapat makam yang didampingi bangunan bercorak Tiongkok.

Hingga, akhirnya saya sampai di depan pagar bertuliskan Masjid Hidayatullah yang tengah direnovasi. Tentu, saya agak kaget, karena lokasi masjid tersebut bersebelahan dengan bangunan yang mirip Kelenteng. Karena penasaran, saya pun memarkirkan sepeda motor untuk mencari tahu. Ternyata, bangunan tersebut memang masjid yang mendapat pengaruh arsitektur Tiongkok.

Seusai menunaikan salat dan istirahat sejenak dengan merebahkan tubuh, saya pun mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut dengan berkeliling areal tersebut. Yang menarik, selain terdapat makam yang kemungkinan merupakan para pendiri masjid atau keluarganya. Mata saya tertuju pada langit-langit dan jendela masjid yang mirip rumah adat Betawi.

Sambil meluangkan waktu sejenak di teras, saya pun mencoba untuk mencari tahu tentang masjid tersebut melalui layanan internet di ponsel. Berdasarkan informasi di website Jakarta.go.id, Masjid Hidayatullah masuk dalam daftar cagar budaya kategori B. Sementara, masih dalam situs yang sama namun dengan rincian lebih lengkap, ternyata melebihi ekspekstasi saya.

Lantaran, berdasarkan keterangannya, Masjid Hidayatullah awalnya musala yang dibangun pengusaha batik asal Tiongkok bernama Muhamad Yusuf pada 1921. Karena itu, wajar jika masjid ini memiliki pengaruh Tiongkok dalam arsitekturnya, khususnya pada atapnya yang memiliki dua lengkung di setiap sudut. Terlebih, ternyata tidak hanya gaya Tiongkok juga, melainkan juga pengaruh dari Persia dengan berdirinya dua menara.

Sayangnya, saya tidak berhasil menemui pengelola masjid untuk bertanya lebih lanjut walaupun sudah mendapat petunjuk dari juru parkir. Apalagi, waktu yang sudah sore yang membuat saya harus kembali ke kantor.

Meski begitu, saya sudah cukup puas menyambangi salah satu masjid bersejarah di ibu kota ini yang masih terjaga kendati dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Ini mengingatkan saya pada salah satu cagar budaya lainnya di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, yaitu Candra Naya.

Sekilas Masjid Hidayatullah
Lokasi: Jalan Masjid Hidayatullah, Karet Depan (Dr. Satrio), Setiabudi, Jakarta Selatan
Akses: Peta (google maps)
Status: Cagar Budaya golongan B
Fasilitas: Toilet dan tempat wudu untuk pria/wanita, Perpustakaan, kamera CCTV


*       *       *
Puluhan makam yang terdapat di sisi masjid (@roelly87)
*       *       *
Langit-langit di dalam masjid (@roelly87)

*       *       *
Beristirahat sejenak sebelum melanjutkan rutinitas (@roelly87)

*       *       *
Kamera CCTV untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan (@roelly87)

*       *       *
Dua pedagang yang tengah beristirahat (@roelly87)

*       *       *
Papan pengumuman (@roelly87)

*       *       *
Koperasi yang menjual berbagai peralatan dan perlengkapan ibadah (@roelly87)

*       *       *
Menara Masjid Hidayatullah yang berdampingan dengan gedung Sampoerna Strategic Square (@roelly87)

*       *       *

*       *       *
*       *       *

- Cikini, 30 Juni 2015

Minggu, 28 Juni 2015

Mengenal Tokopedia Lebih Dekat



Tokopedia.com (ilustrasi @roelly87)


TAK kenal maka tak sayang. Demikian adagium lawas yang masih saya ingat sejak kecil hingga kini. Yaitu, istilah sehari-hari tentang sesuatu yang awalnya tidak diketahui dan baru dimengerti ketika sudah dicoba. Dalam hal ini, saya ambil contoh nyata mengenai transaksi lewat internet alias online yang dalam satu dekade berkembang pesat di Indonesia.

Di antaranya yang saya kenal  seperti Lazada, Olx, Kaskus Forum Jual Beli (FJB), Bhinneka, dan sebagainya. Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melakukan transaksi dengan beberapa toko online tersebut. Sejauh ini, responsnya beragam. Adakalanya saya senang karena pesanan saya tepat waktu. Tak jarang, saya harus kecewa lantaran kiriman yang lambat dan sebagainya.

Oke, yang namanya orang atau pihak ingin berjualan, tentu mau untung. Itu relatif dan saya harus memahaminya. Apalagi, di antara beberapa toko online tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya serta segmentasi tersendiri. Misalnya, saya ingin nyari barang bekas  ke situs a, ponsel ke b, pakaian ke c, dan lain-lain.

Oh ya, selain berbagai situs toko online itu, saya mendapat referensi tambahan. Yaitu Tokopedia yang mengusung motto "Membangun Indonesia Lebih Baik Lewat Internet". Jujur saja, hingga kini saya baru sekadar registrasi saja dan belum pernah membeli atau transaksi di situs yang beralamat di www.tokopedia.com tersebut.

Lantaran memang saya masih belum membutuhkan barang atau peralatan yang biasanya saya ganti secara berkala seperti ponsel, elektronik, busana, atau action figures. Maklum, saya membeli sesuatu di toko online itu jika memang perlu atau karena sulit mencarinya di toko fisik. Kemungkinan pertengahan Juli mendatang saya baru mencobanya untuk membeli action figures Ant-Man yang filmnya bakal rilis di bioskop Indonesia sekaligus me-review pengalaman bertransaksinya.

Meski begitu, sebagai blogger yang berusaha mengikuti perkembangan di ranah internet, dalam beberapa tahun terakhir ini saya sering membaca info mengenai Tokopedia. Baik melalui media online atau iklan mereka di media sosial seperti facebook dan twitter. Puncaknya, ketika saya mendapat memenuhi undangan dari pihak Tokopedia dan komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dalam acara bertema #TemuBloggers.

Pada acara yang berlangsung di Restoran Gokana Ramen, Sarinah, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5) itu, saya baru sadar jika Tokopedia berbeda dibanding toko online lainnya. Terutama setelah saya kembali memenuhi undangan yang diselenggarakan KEB bersama Jarvis Store di Menara Multimedia, Jakarta Pusat (9/6).

Dalam dua kesempatan berbeda itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Tokopedia memang salah satu toko online yang memiliki prospek cerah di Tanah Air. Namun, perusahaan yang berdiri pada 6 Februari 2009 dengan nama PT. Tokopedia hingga meluncurkan produknya tokopedia.com (17/9/2009) ini berbeda dibanding online shop lainnya yang telah ada.

Salah satunya karena Tokopedia merupakan marketplace, yaitu menyediakan platform untuk pengguna internet agar bisa menjadi penjual atau pembeli. Sementara, tiga kategori e-commerce lainnya dengan sektor yang beragam seperti iklan baris (Olx), online retail (yang terkenal di dunia, Amazon), dan dailydeals (Groupon).

Nah, yang menjadi pertanyaan saya sejak mengenal Tokopedia adalah, perusahaan yang dibentuk duet William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison ini, ternyata tidak memungut komisi dari penjualnya. Nah lho? Yakin? Hari gini masih ada yang gratisan? Apalagi, sebagai pengguna internet, saya juga sering membaca berita mengenai Tokopedia yang sejauh ini belum mendapat untung.

Namun, untuk yang terakhir ini saya tidak heran. Sebab, banyak perusahaan yang memang "berdarah-darah" sejak awal sebelum akhirnya mendapat profit melimpah. Contoh, twitter atau whatsapp pun, sejauh ini belum mendapat untung. Namun, kedua aplikasi itu tetap jalan terus dan diminati ratusan juta pengguna internet di seluruh dunia. Begitu juga dengan Amazon yang setahu saya baru dapat untung setelah sembilan tahun berdiri!

Lalu, bagaimana cara Tokopedia bisa bertahan hidup hingga menjelang tahun keenamnya berdiri? Apalagi, sejauh ini situs tokopedia.com sudah diakses jutaan pengguna internet dalam sebulan. Ternyata, mereka "mengandalkan" peran investor. Bahkan, akhir 2014 lalu, ranah internet di Indonesia dihebohkan dengan berita adanya kucuran dana dari SoftBank Internet and Media dan Sequoia Capital untuk Tokopedia.

Tidak tanggung-tanggung, nilainya mencapai 100 juta dolar Amerika Serikat (AS) yang kalau di kurs saat ini mencapai Rp 1,3 triliun! Sekilas info, yang saya tahu sedikit tentang SoftBank merupakan investor terbesar Alibaba di Tiongkok dan Yahoo Jepang. Sementara, Sequoia Capital merupakan dibalik kesuksesan beberapa perusahaan terkemuka di kolong langit ini, misalnya membantu pendanaan Apple, Google, Cisco, dan sebagainya.

Dengan dana sebesar itu, wajar jika hingga kini Tokopedia tetap menggratiskan layanannya. Toh, dengan begitu mereka dapat menarik pangsa lebih besar lagi. Itu sesuai motto mereka "Membangun Indonesia Lebih Baik Lewat Internet" dengan membantu dan mengembangkan Unit Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Apakah setelah besar nanti Tokopedia tetap gratis seperti saat ini? Biarlah waktu yang menjawabnya.*

*      *      *
Suasana temu bloggers bersama KEB dan Tokopedia (@roelly87)

*      *      *

Acara KEB bersama Jarvis Store sambil menyimak perkembangan Tokopedia (@roelly87)
*      *      *
Selanjutnya:
- Kenapa Harus (Belanja) ke Tokopedia?
*      *      *

- Cikini, 28 Juni 2015

Kamis, 25 Juni 2015

Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix


Aplikasi Genflix 2.0: Piala Amerika dalam Genggaman!

DEMAM Piala Amerika (Copa America) 2015 memasuki periode krusial. Sebagai penggemar sepak bola, tentu saya tidak ingin ketinggalan menyaksikan turnamen empat tahunan antarnegara di benua Amerika Selatan tersebut. Apalagi, saya pribadi sebagai jurnalis yang tentu saja harus selalu update mengikuti perkembangannya.

Selain melalui media cetak tempat saya bekerja, saya juga harus lebih rajin membaca berita di situs online. Tak ketinggalan juga untuk menyaksikan siaran di televisi. Maklum, meski turnamen ini hanya melibatkan 10 negara di Amerika Selatan plus dua undangan (Meksiko dan Jamaika). Namun, gaungnya tidak kalah seru dibanding Piala Eropa dan hanya sedikit di bawah Piala Dunia.

Kenapa? Sebab, banyak wajah-wajah familiar di Piala Amerika. Sebut saja, striker Argentina yang baru menjuarai Liga Champions, Lionel Messi, diikuti pasangannya, Carlos Tevez, yang memperkuat klub idola saya, Juventus. Jangan lupakan pemain bintang seperti Neymar Jr. (Brasil), Alexis Sanchez (Cile), James Rodriguez (Kolombia), dan banyak lagi.

Nah, bagi saya,  melalui media online dan televisi masih kurang lengkap. Pasalnya, dengan media online saya hanya bisa melihat cuplikan saja. Begitu juga dengan televisi yang tentu tidak bisa dibawa-bawa. Maklum, Piala Amerika 2015 rata-rata berlangsung pagi hari yang berbeda dibanding Liga Champions, Seri A Italia, dan kompetisi di Eropa lainnya.

Untuk itu, solusinya saya membekali ponsel saya dengan menginstall aplikasi Genflix versi 2.0 melalui GooglePlay Store di https://goo.gl/jvRCTw. Oh ya, bagi pengguna gadget berbasis IOS seperti iPhone, iPad, dan semacamnya juga bisa mendownloadnya di http://bit.ly/gf2ios. Sementara, untuk pemakai PC dapat langsung klik di www.genflix.co.id. Dengan menggunakan Genflix, saya jadi bisa menyaksikan pertandingan Piala Amerika melalui ponsel yang saya genggam di mana saja secara streaming!

Bagi penggemar olahraga, tentu ini menjadi kabar yang menggembirakan. Apalagi, Genflix yang dimiliki PT Festival Citra Lestari (Orange TV) ini memang sudah berpengalaman menyediakan jasa streaming. Mulai dari Liga Primer Inggris, Ligue 1 Prancis, Seri A Italia, Bundesliga Jerman, Piala Raja Spanyol (Copa del Rey), Piala FA, Liga Brasil, hingga Piala Dunia 2014.

Jadi, saya tidak ragu lagi untuk menggunakan aplikasinya yang memang cukup ringan dengan 200Kbps untuk menyaksikan streaming atau tayangan lainnya tanpa buffering! Misalnya, film blockbuster dari berbagai negara, serial drama Korea (ehm, ehm), dan variasi content hiburan lainnya.

Hanya Rp 2.000

Pertanyaannya, berapa rupiah yang harus dibayar untuk bisa menikmati layanan itu semua? Nah, sebagai blogger tentu saya harus kritis untuk membuktikan apa yang saya tulis memang berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan “apa kata orang”. Gunanya, agar artikel saya lebih bernyawa saat dibaca khalayak ramai. Terlebih, mengenai harga merupakan hal yang sensitif.

Menurut saya, untuk Genflix tarifnya cukup terjangkau. Kita sebagai pengguna bisa mengakses semua tontonan hanya dengan membayar Rp 2.000 per hari. Bagi saya, harga segitu cukup murah dan meriah. Toh, saya dapat menyaksikan berbagai tayangan tanpa terputus. Bisa dipahami mengingat Genflix sudah terintegrasi dengan jaringan 2G, 3G, 4G, atau WiFi.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membayarnya? Sepengetahuan saya cukup mudah. Setelah registrasi dan login, pengguna bisa menentukan keinginannya sesuai selera. Baik itu melalui VISA, Mastercard, dan DOKU. Atau, melalui pengisian pulsa dari operator kita masing-masing, seperti XL dengan mengakses menu UMB *123*852# dan Indosat *465*2#.

Jadi, jangan sampai ketinggalan menyaksikan persaingan dua bomber Barcelona di Piala Amerika 2015 antara Messi versus Neymar melalui aplikasi Genflix!

*      *      *
Registrasi Genflix via UMB pengguna XL
*      *      *
Registrasi Genflix via SMS pengguna XL
*      *      *
Registrasi Genflix via UMB pengguna Indosat
*      *      *
Registrasi Genflix via SMS pengguna Indosat

*      *      *
Artikel Sepak Bola Lainnya:
- Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini
Giorgio Chiellini: Saya Cinta Juventini Indonesia!
Andrea Pirlo: Allegri bisa Memberi yang Terbaik
Claudio Marchisio: Cuaca di Jakarta Seperti di Manaus
Dahlan Iskan: Generasi Muda harus Olahraga
Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
- Demam The Avengers Melanda Skuat Juventus
- Kisah Ponsel Dua Presiden: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
- JCI Konvoi Scudetto ke-30
- Fan Indonesia Diservis Chiellini 
*      *      *
- Senayan, 25 Juni 2015

Selasa, 23 Juni 2015

Kehebohan Nonton Minions Bersama Enam Bocah


Salah satu dalam adegan Minions (sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)

MENYAKSIKAN film di bioskop merupakan salah satu kegiatan favorit saya sejak kecil. Baik film luar negeri hingga lokal (nasional). Entah itu film bertema actionthriller, drama, komedi, horor, hingga animasi. Untuk animasi  saya nyaris tak ketinggalan dalam dua dekade terakhir. Dimulai sejak era 2 dimensi seperti Aladdin pada saat saya berusia lima tahun diikuti The Lion King, Mulan, hingga komputerisasi 3 dimensi dengan Toy Story, A Bugs Life, Shrek, Frozen, dan kini Minions.

Untuk yang terakhir, jadi salah satu kenangan tersendiri sekaligus kejutan bagi saya. Sebab, jika sejak dulu saya ke bioskop bersama keluarga, teman, gebetan pacar, atau rame-rama (nobar). Kali ini, sangat berbeda. Karena saya menyaksikannya bersama enam bocah!

Ya, empat anak laki-laki dan dua perempuan dengan salah satunya merupakan adik saya yang terkecil. Kebetulan, kemarin bertepatan dengan ulang tahun adik saya yang keenam. Jadi, dari beberapa bulan sebelumnya saya niat untuk merayakan ultahnya yang berbeda dibanding tahun lalu yang mengundang teman-temannya dengan paket dari salah satu resto siap saji.

Beruntung, ultahnya saat ini barengan dengan dirilisnya film Minions di sebutah teater di kawasan pusat Jakarta, Senin (23/6). Jadi, awalnya saya mengajak adik saya itu untuk nobar dengan teman perempuannya. Eh, ga tahunya, pas malam harinya malah ngajak empat teman mainnya yang sama-sama masih sekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Karena sudah kadung janji, ya terpaksa saya iyakan dengan syarat, keenamnya (termasuk adik saya) harus puasa setengah hari yang hebatnya mampu dilaksanakan mereka.

Tentu, nonton film bareng mereka itu ibarat menu gado-gado. Bikin bahagia, senang,  rame, hingga tertawa geli. Bisa dibayangin, saya membawa enam bocah ke bioskop pada waktu siang terik... dan puasa. Sementara, banyak penonton lain yang dari lirikannya seperti menilai keenam bocah itu sebagai anak saya. Ha ha ha. Ga apa-apa, yang penting saya sudah kasih kado istimewa untuk adik yang paling kecil diiringi ucapan lagu dari kelima temannya.

Apalagi, mending jika mereka tetap tenang, anteng, dan adem ayem. Ini mah rame banget. Meski, sebelumnya saya sudah prediksi bakal seperti ini, toh kenyataanya di luar dugaan. Tapi, bagaimanapun, mereka masih anak-anak dengan kelakuan yang masih dibilang wajar. Jadi, saya sedikit tidak heran jika film baru dimulai beberapa menit, ada yang merengek ingin pulang sampai nangis karena takut dengan suasana gelap disertai suara menggelagar dari audio bioskop. Beruntung, ada mbak petugas bioskop yang baik hati dan senyumnya manis ramah untuk menenangkannya.

*      *      *

Itu belum seberapa. Bahkan, saat adegan  yang mengisahkan rombongan Minions lari-lari karena dikejar Dinosaurus, mereka juga mengikutinya dengan wara-wiri dari satu kursi ke kursi yang lain di barisan kami. Untungnya, film ini ditujukan untuk semua umur (di negara asalnya, rating PG/ bimbingan orang tua). 

Jadi, mayoritas penonton anak-anak juga yang ditemani orangtua atau keluarganya. Berbeda jika yang saya tonton Jurassic World atau The Avengers: Age of Ultron dengan rating PG 13 alias didominasi kalangan remaja dan dewasa yang bisa-bisa saya dipelototi mereka. 

Untuk kali pertama nonton bioskop, saya tidak fokus menyimak adegan demi adegan. Sebab, hampir setiap beberapa menit di antara keenam bocah ini ada yang ingin ke toilet. Padahal, sebelum masuk bioskop, saya sudah memberi tahu mereka agar pipis lebih dulu supaya saat film main tidak bolak-balik. Tapi, memang masih anak-anak, jadi di antara mereka ada saja yang bilang kebelet dan sebagainya karena memang ac-nya lumayan dingin dan mau tidak mau saya harus temani.

Selain lari-larian dan bolak-balik ke toilet, kelakuan mereka yang bikin saya tertawa geli tentu saja waktu mendengar beberapa kalimat di fillm Minions yang menggunakan bahasa Indonesia. Kalau tidak salah dengar seperti "kemari", "paduka raja", dan "terima kasih".

Berhubung saya sudah sempat browsing film ini di berbagai situs di internet, jadi saya tidak kesulitan untuk menjelaskan kepada mereka. Bahwa, film salah satu sutradara Minions yang bernama Pierre Coffin, masih keturunan Indonesia dari garis ibunya yang merupakan novelis ternama, Nh. Dini. Diberitahu seperti itu, mereka sih manggut-manggut meski entah mengerti atau tidak.

Intinya, banyak keluguan dari mereka yang membuat saya tersenyum sepanjang film berlangsung. Yang menarik, ketika film berakhir, salah satu bocah yang merengek ingin pulang justru malah tidak mau beringsut dari kursinya hingga beberapa mennit. Usut punya usut, ternyata dia ingin melihat aksi Bob, Stuart, dan Kevin lagi yang menurutnya kurang lama.

Seusai keluar dari bioskop, kami langsung menuju salah satu resto siap saji yang ada di lantai bawah untuk mengajak mereka berbuka (setengah hari). Hanya, seperti biasa, kehebohan terus berlanjut karena keenam bocah itu -terutama yang laki- berebut ingin mainan Minions yang memang satu paket dengan makanan.

Selesai? Belum. Masih banyak kehebohan enam bocah itu yang mengingatkan saya dengan ceritera dari negeri dongeng ketika masih kecil dulu :)

*      *      *
Narsis sejenak sebelum masuk bioskop (@roelly87)

*      *      *

(Lagi) berebut foto di depan poster Minions (@roelly87)
*      *      *
Enam bocah yang bikin gaduh satu ruangan (@roelly87)

*      *      *

Ga mau pulang sebelum layar selesai (@roelly87)
*      *      *

- Senayan, 23 Juni 2015

Rabu, 17 Juni 2015

Kritik Blogger untuk VIVA Log sebagai Agregator Blog


Empat pembicara dalam Netizen Gathering 2015 ANTV (sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)


SEBAGAI blogger, tentu mengharapkan trafik yang tinggi berupa keterbacaan dan lintas share di media sosial. Salah satu caranya, ya bekerja sama dengan beberapa agregator dan memasang widget mereka. Misalnya dengan VIVA Log yang merupakan bagian portal berita VIVA.co.id yang selama ini terbukti mampu mendongkrak trafik sebuah blog.

Termasuk blog saya pribadi yang memasang widget berupa script iframe melalui edit HTML di dashboard blogspot atau wordpress. Terbukti, sejak April lalu, trafik saya meningkat pesat. Dari rasio 200-an pengunjung per hari melonjak hingga 500-an bahkan ribuan. Itu berdasarkan data unique visitor (pengunjung dengan IP tetap) di google analytics. Belum lagi jika menghitung visitor, pageview, backlink, dan sebagainya.

Namun, sebagaimana yang kita tahu, terkadang hidup ini tidak semulus wajah Scarlet Johanssen dalam suatu hubungan tidak selalu berjalan baik. Khususnya antara blogger dengan agregator VIVA Log.

Maklum,ada kalanya banyak artikel Vlogger -julukan blogger VIVA Log- yang justru tidak dimuat. Padahal, mereka sudah melakukan apa yang harus dilakukan seperti yang dikatakan salah satu admin di Grup Blogger VIVA Log. Seperti memasang iframe, bukan copy-paste, tidak sedang promosi suatu produk, dan bukan artikel berita.

Ujung-ujungnya, jelas blogger, khususnya saya pun kecewa. Bahkan, tak sedikit yang langsung melepas iframe karena memang tidak menguntungkan. Ibaratnya, tidak ada sinergi antara kami sebagai blogger dan pihak agregator. Mungkin, itu juga karena ekspekstasi kami yang terlalu berlebihan.

Untuk menjawab keraguan rekan-rekan blogger itu, saya mencoba dengan menanyakan langsung. Tentu, tidak melalui mengirim pesan di inbox atau grup Facebook dan Twitter, karena berdasarkan penuturan beberapa rekan blogger, jawabannya mengambang. Melainkan, saat bertemu langsung dengan dua admin di acara Netizen Gathering 2015 yang diselenggarakan ANTV yang masih bagian dengan VIVA Grup.

Kebetulan, sebagai blogger, saya baru dua kali mengikuti acara VIVA Grup, setelah sebelumnya turut berwisata ke Pulau Bidadari. Namun, dalam kegiatan sehari-hari, saya memang kerap mengikuti event yang diselenggarakan Grup VIVA. Khususnya yang berhubungan dengan sepak bola seperti saat nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2014 atau melalui salah satu petingginya yang merupakan pemilik FC Internazionale, Erick Thohir.

Maka, dalam acara yang bertempat di Empirica, Sabtu (13/6), saya pun mewakili rekan-rekan blogger untuk menyempatkan diri bertanya dengan dua admin VIVA Log, Dian Lestary dan Rizal Maulana. Yang menarik, kebetulan pada event bertajuk "Saatnya Bisnis Ga Cuma Eksis" itu turut menampilkan empat pembicara yang kompeten di bidangnya masing-masing.

Yaitu, Putri Silalahi selaku Communications Head Consumers & Youtube Google Indonesia, Maria Indrawati (founder The Rawits), Angghi Mulia (Current Affair & News ANTV), dan Renne Kawilarang (senior editor VIVA.co.id). Untuk dua nama pertama, akan saya buat dalam artikel selanjutnya karena saya memang tertarik dengan penuturan konsep bisnis mereka. Terutama Putri yang sedikit membeberkan rahasia sukses di  youtube dan google trend.

*       *       *

Nah, untuk dua nama terakhir ini, kebetulan masih berkaitan dengan VIVA Log sebagai agregator.Maka, dalam sesi tanya jawab, saya langsung melayangkan kritik yang kebetulan dibaca melalui layar di belakang mereka: "Pertanyaan, kenapa banyak artikel blogger yg ga kepublish di vivalog? meski udah pasang iframe".

Sebetulnya, jawaban ini sudah saya dapat dari dua admin yang saya temui saat berbincang dengan beberapa rekan blogger lainnya. Tapi, tidak ada salahnya, saya menanyakannya lagi kepada Renne dan Angghi. Gunanya, agar mereka, dalam hal ini pihak VIVA.co.id dan VIVA Log, lebih memahami keberadaan blogger yang sudah bersusah payah membuat artikel orisinal dan berharap bisa tayang. Toh, tanpa artikel dari blogger, belum tentu VIVA Log bisa seperti ini.

Dalam kesempatan itu, Renne mengakui bahwa kontribusi blogger juga sukses mendongkrak popularitas VIVA.co.id. Penggemar Liverpool ini pun meminta maaf, jika memang ada tulisan vlogger yang tidak atau belum termuat. Itu mengingat banyaknya artikel yang masuk dalam CMS VIVA Log yang seharinya bisa mencapai 300 tulisan.

Belum lagi jika ada kendala dengan engine yang membuat blogger sulit untuk login. Untuk itu, Renne juga meminta vlogger untuk tidak patah arang jika ada tulisan yang tidak dimuat. Salah satu caranya dengan mentions admin di Facebook atau Twitter.

Itu jawaban dari VIVA Log yang diwakili Renne selaku senior editor VIVA.co.id. Nah, bagaimana respons rekan-rekan blogger terkait kesulitan berhubungan dengan agregator selama ini? Atau ada kritik dan masukan yang bisa didengar admin VIVA Log? Silakan diajukan di kolom komentar.

*       *       *

Putri Silalahi dari Google Indonesia (@roelly87)
*       *       *

Kritik saya di twitter yang dibaca mereka di layar (@roelly87)
*       *       *
Budi Doremi mengisi acara puncak (@roelly87)

*       *       *

*       *       *
Artikel terkait:
- Kisah Ponsel Dua Presiden Seri A: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
- Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
- Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Mancini Sosok yang Ambisius
- Nobar ICI dan Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions
- Meriahnya Nonton Bareng di Studio ANTV
- Nobar Merakyat Bersama tvOne
- Tujuh Alasan Pulau Bidadari Wajib Dikunjungi


*       *       *
- Cikini, 16 Juni 2015

Minggu, 14 Juni 2015

Hari Ini 11 Tahun Silam


MENGKONSUMSI narkotika dan obat terlarang (narkoba) sama saja menanda tangani kontrak dengan maut. Ini bukan omong kosong, ancaman, atau sekadar menakut-nakuti. Melainkan nyata. Itu yang menjadi alasan saya untuk membenci narkoba dan berusaha semampu mungkin turut serta dalam melakukan pencegahan. Baik di lingkungan sekitar maupun melalui tulisan di blog.

*     *     *

HARI ini 11 tahun silam, tepatnya Senin 14 Juni 2004, merupakan salah satu momen yang tak terlupakan dalam hidup saya. Betapa tidak, saat itu, sekitar pukul 13.00 WIB, saya harus menyaksikan peristiwa yang memilukan. Yaitu, ketika saudara sepupu saya, Indra (nama samaran) harus meregang nyawa akibat overdosis usai mengkonsumsi narkoba.

Saya masih ingat. Satu dekade lalu, jenis narkoba yang sangat populer karena murah meriah dan mudah didapat adalah putaw. Serbuk putih yang biasanya dipakai tim medis untuk memberikan efek stimulus menjelang operasi. Namun, di tangan bandar, obat itu berubah menjadi racun yang mematikan.

Ya, saya masih belum lupa meski kejadiannya sudah lumayan lama. Sebab, saya harus menyaksikan langsung betapa kondisi sepupu saya yang meninggal dengan keadaan tragis. Yaitu, (maaf) tengkuk di sekitar leher berwarna kebiruan dan juga dari mulutnya terus mengeluarkan busa...

Menurut salah satu teman kami, Wisnu (nama samaran) beberapa jam sebelumnya, sepupu saya itu terlihat menyuntikkan putaw di lengannya. Entah karena kelebihan dosis atau memang sudah jalannya seperti itu. Tak lama kemudian, Indra harus meninggalkan kami untuk selamanya. Miris, mengingat 10 hari sebelumnya, Indra baru merayakan ulang tahun ke-20.

Padahal, saya masih ingat dengan jelas hingga kini, pada dini hari sebelumnya kami bersama-sama nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Eropa 2004 antara Prancis versus Inggris. Bahkan, saya, Indra, Wisnu, dan beberapa teman lainnya saling bercanda mengomentari kegagalan David Beckham saat mengeksekusi penalti yang menyebabkan kekalahan "The Three Lions". Namun, tidak sampai 12 jam kemudian, suasana suka cita itu mendadak berubah jadi duka.

Itu terakhir kali saya nobar dengan Indra setelah nyaris tak melewatkan pertandingan penting sejak Piala Dunia 1994. Setelah itu, kami tidak bisa lagi bersama-sama. Baik ketika nobar, main winning eleven, nyolong mangga, mengejar layangan, godain gadis sebelah kampung, dan sebagainya.

Lebih ironis lagi, kematian Indra ternyata bukan yang terakhir terjadi di kawasan kami tinggal. Melainkan, setelah itu tetap berjatuhan banyak korban akibat overdosis. Aneh memang. Ketika Indra meninggal, di antara rekan kami yang datang untuk melayat dan mensalatkan, beberapa bulan kemudian malah disalatkan beramai-ramai. Itu terjadi secara berkesinambungan. Tiga, empat, lima, hingga belasan orang menjadi korban. Bahkan, kontrak mati itu tak pandang usia. Dari yang termuda saat belasan tahun sampai usia nyaris kepala empat!

Hingga, tren negatif itu terhenti pada akhir 2011. Tepatnya setelah salah satu kawan kami mengalami kematian yang lebih tragis dibanding Indra dan lainnya. Tanpa perlu diceritakan akibat efek yang buruk di lingkungan kami. Sampai, di antara pengurus di wilayah kami berembuk dengan pemuda dan remaja. Yaitu, bagaimana caranya agar kampung kami bebas dari narkoba.

Sebab, harus diakui bahwa, kematian teman atau keluarga, toh tidak membuat para pemakai itu takut. Itu kian membuktikan bahwa berhubungan dengan narkoba hanya ada dua jalan untuk berhenti. Yaitu tewas akibat overdosis dan ditangkap aparat keamanan.

Mirisnya lagi, ada beberapa remaja yang masuk sel, setelah keluar kian menjadi-jadi. Lantaran, di hotel prodeo, mereka malah lebih mudah mendapatkan barang tersebut. Sebuah fakta yang membuat kami bergidik. Wajar jika seusai bebas dari penjara, mereka malah petantang-petenteng. Ibaratnya, mereka sudah tidak takut lagi dengan aparat keamanan karena selama di dalam sel sudah menjadi kawan!

Beruntung, ikatan kekeluargaan di kampung kami sangat kental. Jadi, meski ada satu orang yang sengak sekalipun, kami tetap bahu-membahu untuk membimbingnya. Meski, itu tidak mudah. Pasalnya, pekerjaan di kolong langit yang sia-sia itu ada dua. Pertama, menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Kedua, membimbing orang yang sudah menjadi pecandu narkoba.

Untuk yang kedua, ini bukan guyon. Sebab, saya sendiri pernah melihat, bagaimana, kami bersama pengurus wilayah seperti RT, RW, Kelurahan dan Karang Taruna, harus kepayahan menangani warga yang sudah terjerumus narkoba. Selain harus menghadapi intimidasi dari bandar lokal dan pengecer, juga karena orang yang kadung menjadi pecandu seperti tak merespons niat kami. Bahkan, ada kawan satu angkatan saya yang harus dikejar-kejar temannya dengan membawa golok saat memberi penyuluhan tentang narkoba!

Namun, seperti kata pepatah, bahwa di dunia ini tiada yang mustahil. Berkat, kerja keras pengurus wilayah dan Karang Taruna yang sudah muak akibat banyak warganya yang tewas atau diciduk aparat keamanan akibat mengkonsumsi narkoba. Mereka, siang malam terus berupaya menyadarkan warganya, terutama remaja untuk lepas dari narkoba.

Salah satunya dengan memberangkatkan pemakai ke pesantren untuk direhabilitasi. Lalu, mengajak orangtua atau keluarga pecandu untuk tidak menjauhinya. Melainkan, justru, dirangkul agar pengguna narkoba tidak merasa terisolasi di kampungnya sendiri. Termasuk yang tidak memiliki orangtua, karena ada sebagian dari pecandu yang sejak kecil sudah yatim piatu. Dan banyak lagi.

Apakah cara itu berhasil? Untuk saat ini bisa dikatakan iya. Sebab, banyak di antara pecandu yang akhirnya benar-benar bersih dan kembali membaktikan dirinya untuk masyarakat. Namun, harus diakui jika upaya yang dilakukan pengurus wilayah dan Karang Taruna hanya mengurangi. Bukan menghentikan peredaran narkoba itu sendiri.

Sebab, pengguna narkoba itu ibarat Medusa. Yaitu, yang sembuh satu, yang memakainya dua. Terlebih, saat ini banyak beredar jenis narkoba yang sangat menggiurkan terutama bagi remaja belasan tahun. Tugas ini yang masih dilakukan para pengurus wilayah dan Karang Taruna.

Yang pasti, sedikitnya saya bisa bernafas lega. Sebab, setelah 2011, saya tidak lagi menyaksikan orang yang meregang nyawa akibat overdosis.*

Artikel tentang BNN dan Narkoba lainnya:
- Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba/ Lomba Blog BNN
- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 
- Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput (Artikel di Okezone.com)

- Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba
Penghormatan Terakhir Presiden SBY untuk Pahlawan
Jokowi Sang Gubernur Gaul

*      *      *

- Jakarta, 14 Mei 2015

Rabu, 10 Juni 2015

Museum Nasional dan Saksi Peninggalan Kejayaan Indonesia


Museum Nasional Gedung B (sumber foto: koleksi pribadi/ www.roelly87.com)

SEPASANG anak manusia terlihat antusias mengamati puluhan arca. Yang pria mencatat melalui buku kecilnya. Sementara, yang wanita asyik memotret hingga ke sudut terkecil sebuah patung. Sebenarnya, pemandangan tersebut sangat lazim terjadi di mana saja. Termasuk museum yang dikenal sebagai tempat menyimpan benda bersejarah.

Namun, yang membuat mata saya terbelalak adalah ketika mengetahui pasangan tersebut berambut pirang. Selidik punya selidik, ternyata mereka merupakan warga negara asing (WNA) atau yang sehari-hari dipanggil "bule".

Ada rasa bangga menyaksikan antusiasme mereka berbaur dengan puluhan warga Indonesia. Dalam sebuah perkenalan singkat dengan kami, keduanya mengaku berasal dari Berlin, Jerman. Alasan mereka tertarik dengan beragam benda yang ada di ruangan itu karena sejak masih di negara asalnya, keduanya penasaran dengan keanekaragaman budaya Indonesia!

Ya, peristiwa itu terjadi pertengahan bulan lalu. Tepatnya ketika kami menghadiri Festival Hari Museum Internasional dan peringatan 237 Tahun Museum Nasional Indonesia di Museum Nasional Indonesia,  Minggu (17/5). Dalam acara tersebut, banyak dipamerkan beberapa koleksi dari tempat yang sebelumnya bernama Museum Gajah.

Mulai dari tapak tilas museum di seluruh Indonesia, peragaan busana di Tanah Air, kompetisi nyanyi lagu nasional untuk anak-anak, hingga puncaknya saat penutupan yang dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan (24/5).

*       *       *
Satu pertanyaan yang paling sering ditujukan kepada saya dari beberapa rekan. "Kenapa sih lu suka ke museum?"

Sebenarnya, sebagai blogger -atau ketika sedang menjalankan tugas di lapangan- mengunjungi museum jadi salah satu keasyikan tersendiri. Sejak masih berseragam putih-merah (SD), saya memang sudah menggemari destinasi ke museum. Bahkan, ketika bekerja di pertambangan di pedalaman Sumatera dan Kalimantan, museum merupakan tempat favorit saya.

Tentu, selain mal (bioskop) dan taman sebagai tempat mencari inspirasi. Sebab, dengan mengunjungi museum, kita tidak hanya bisa menambah wawasan saja. Melainkan juga membangkitkan semangat akan kejayaan nenek moyang yang harus dipertahankan!

Salah satunya ketika saya mengunjungi Museum Nasional yang terletak di sebelah barat Monumen Nasional (Monas). Di museum yang di halamannya terdapat patung gajah pemberian Raja Thailand Chulalongkorn ini, saya dan pengunjung bisa sejenak melongok peninggalan para leluhur.

Apa saja? Baik itu arca, patung, prasasti, perlengkapan masak, musik, alat tulis, keramik, peta, dan sebagainya. Entah itu yang terbuat dari bahan perunggu, perak, tanah liat, hingga emas! Ya, nyaris seluruh koleksi benda bersejarah yang ada di seluruh penjuru nusantara berada di Museum Nasional yang tersebar di dua tempat. Yaitu, Gedung Lama (atau biasa disebut Gedung A) yang digunakan untuk memamerkan koleksi museum dan ruang penyimpanan koleksi.

Sementara, Gedung B (gedung Arca) yang diresmikan pada 20 Juni 2007 oleh mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dimanfaatkan untuk ruang pameran. Mulai dari lantai satu sampai empat seperti saat Festival Hari Museum Internasional. Selain itu, Gedung B juga kerap digunakan untuk kantor pengelola, ruang konferensi, laboratorium, hingga perpustakaan lengkap mengenai khasanah sejarah nusantara.

Menurut Kepala Museum Nasional Intan Mardiana, terdapat sekitar 140 ribu benda di kedua gedung tersebut. Jumlah yang membuat saya kagum sekaligus malu. Sebab, sebagai rakyat Indonesia, justru saya kalah antusias dengan pasangan warga Jerman yang saya temui itu demi mencari tahu peninggalan negara lain.

Padahal, Museum Nasional bagi saya sudah tidak asing lagi. Sebab, saya kerap mengunjunginya nyaris setiap tahun. Terutama jika ada festival sejak 2011 hingga tahun ini (2015). Ya, meski dua tahun lalu museum ini sempat kecolongan akibat hilangnya beberapa barang berharga. Namun, insiden itu tidak mengurangi rasa suka saya untuk kembali lagi, lagi, dan lagi.

Bisa dipahami mengingat Museum Nasional ini sudah dibenahi lebih baik. Mereka (manajemen) telah belajar dari kasus pencurian tersebut dengan memasang pengamanan melalui kamera pengawas (CCTV) terhadap beberapa benda yang dianggap pusaka. Yang menarik, upaya pengamanan di Museum Nasional ini tetap tidak mengganggu kenyamanan pengunjung yang ingin menyaksikan beberapa koleksi dari emas.

Apalagi, demi menyaksikan berbagai peninggalan nenek moyang kita itu, pengunjung tidak harus merogoh kocek banyak. Cukup Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 (anak-anak). Sementara, waktu buka Museum Nasional sama seperti museum lainnya, dari Selasa hingga Minggu (Senin atau hari libur tutup).

*       *       *
Patung Gajah pemberian raja Thailand di Gedung A (@roelly87)

*       *       *
Patung Dewa Siwa (@roelly87)

Patung Ganesha (dewa dalam mitologi India) (@roelly87)
*       *       *

Beberapa mahkota dari emas (@roelly87)
*       *       *

Arca yang terbuat dari logam mulia (@roelly87)
*       *       *

Keris dan senjata dari emas (@roelly87)
*       *       *

Peta raksasa persebaran suku di Indonesia (@roelly87)
*       *       *


Lokasi Museum Nasional yang ditandai biru (Ilustrasi via Google Earth yang sudah diolah kembali @roelly87)
SEKILAS TENTANG MUSEUM NASIONAL

Lokasi: Jalan Medan Merdeka Barat No 12, Jakarta Pusat
Akses: Halte Busway Monas, Stasiun Gambir

Waktu Kunjungan:
Senin dan hari besar nasional tutup
Selasa - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu: 08.00 - 17.00 WIB

Tarif: 
- Perorangan
Dewasa: Rp 5.000
Anak-anak: Rp 2.000

- Rombongan (minimal 20 orang)
Dewasa: Rp 3.000
Anak-anak (TK s/d SMA): Rp 1.000

- Pengunjung Asing: Rp 10.000

*       *       *
*       *       *

- Cikini, 10 Juni 2015

Jumat, 05 Juni 2015

Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba

Dua personel Slank, Ridho dan Kaka menyapa puluhan ribu Slankers dalam #KonserSore2WithSlank (Sumber foto: Dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)
"KAMI, berharap kalian, para Slankers tidak mengikuti jejak Slank yang pernah terjerumus narkoba. Untuk itu, mari kita perangi narkoba dari bumi Indonesia ini!" demikian pernyataan Bimo Setiawan alias Bimbim, frontman sekaligus drumer Slank saat membuka konser menyambut Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) di Lapangan D Senayan, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Bimbim mengimbau puluhan ribu Slankers -julukan penggemar Slank- yang hadir dalam konser bertajuk #KonserSore2WithSlank itu untuk tidak mengkonsumsi narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba). Kenapa? Sebab, mereka pernah memiliki pengalaman memilukan akibat terpengaruh dari zat haram tersebut yang membuat Slank nyaris bubar.

Wajar jika Bimbim mewakili Slank bersedia memenuhi undangan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyelenggarakan konser menyambut HANI yang diperingati setiap 26 Juni. Bahkan, demi mendukung penuh acara tersebut, band yang berdiri sejak 23 Desember 1983 ini rela tidak mendapat bayaran sepeser pun dari BNN!

"Ya, Slank memang tidak mau dibayar untuk konser ini. Itu sesuai dengan komitmen mereka sebagai Duta Anti Narkoba," kata Direktur Diseminasi Informasi Bidang Pencegahan BNN Gun Gun Siswadi yang didampingi beberapa pejabat teras BNN lainnya. Dua di antaranya yang sudah dikenal luas kalangan blogger karena pekan lalu mengisi acara workshop Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Restoran Nusa Dua, Senayan (26/5). Mereka adalah Deputi Pencegahan BNN Antar Sianturi serta Kabag Humas Slamet Pribadi.

Tak lupa, #KonserSore2WithSlank juga turut dihadiri Kepala BNN Anang Iskandar. Sosok yang menyandang pangkat Komisaris Jenderal Polisi (Komjen) ini sempat berdialog dengan Slankers, "Kami pesan kepada teman-teman Slankers, kalau memiliki keluarga atau kerabat yang masih menggunakan narkoba, agar melaporkan ke BNN. Nanti, mereka TIDAK AKAN DIPENJARA, melainkan DIREHABILITASI supaya bisa sembuh."

Menurut blogger aktif di www.anangiskandar.wordpress.com itu, berharap #KonserSore2WithSlank ini tidak hanya sekadar jadi tontonan saja. Melainkan juga tuntunan kepada generasi yang akan datang mengenai kesadaran terhadap narkoba. "Dulu mereka (Slank) pecandu narkoba. Tapi, setelah menyaksikan langsung teman-temannya yang sakit atau tewas, akhirnya Slank sadar. Bahwa, narkoba itu justru merugikan pemakainya," ucap perwira aktif dengan tiga bintang di pundak ini yang disambut anggukan puluhan ribu Slankers.

Apa yang diucapkan Anang beralasan. Sebab, personil Slank -minus Abdee Negara yang masih sakit- yaitu Bimbim, Kaka (Akhardi Wira Satriaji), Ridho (Mohammad Ridwan Hafiedz), dan Ivanka (Ivan Kurniawan) juga serempak menyatakan. Bahwa, tujuan melaksanakan konser ini demi mengingatkan penggemarnya terhadap bahaya narkoba. Pesan itu selalu diucapkan mereka, khususnya melalui sang vokalis, Kaka, di setiap jeda saat membawakan sekitar belasan lagu.

#KonserSore2WithSlank ini juga dimeriahkan beberapa band pendukung yang kompak saling mengingatkan puluhan ribu Slankers yang datang di Lapangan D tentang pengalaman pahit mengkonsumsi narkoba. Bahkan, manajer Slank, Iffet Viceha Sidharta, lantang mengingatkan bagaimana pilunya ketika mengetahui perubahan drastis dari personel Slank, khususnya Bimbim sebagai anaknya saat masih menggunakan narkoba pada 1990-an.

"Saya mah berharap kalian-kalian, para Slankers tidak ada yang mengikuti jejak Slank yang dulu pernah terjerumus narkoba," ujar sosok yang akrab disapa Bunda Iffet ini seusai berkolaborasi melantunkan beberapa lagu hits Slank.

Yang menarik, selain aksi panggung, #KonserSore2WithSlank ini juga menyuguhkan aksi akustik dari mantan pecandu narkoba yang kini sudah pulih. Bahkan, sesuai dengan Program Gerakan Rehabilitasi 100 Ribu Penyalahguna Narkoba, BNN turut menyediakan posko konsultasi untuk Slankers yang bermasalah dengan narkoba.

*      *      *
Komitmen ribuan Slankers terhadap Program 100.000 Rehabilitas Pecandu Narkoba (@roelly87)

*      *      *

Beberapa booth dari Slankers, posko konsultasi, dan Pusjarah TNI (@roelly87)
*      *      *

Bunda Iffet (tengah) turut mengingatkan Slankers atas pengalaman buruk Slank (@roelly87)
*      *      *

Tiga pejabat BNN, Antar Sianturi, Gun Gun Siswadi, dan Slamet Pribadi (@roelly87)
*      *      *

Kepala BNN Anang Iskandar saat menyampaikan pesan di atas panggung (@roelly87)
*      *      *

Puluhan ribu Slankers memadati Lapangan D Senayan (@roelly87)
*      *      *

Bimbim dan Ivanka yang selalu menyelipkan pesan untuk meninggalkan narkoba di setiap jeda lagu (@roelly87)
*      *      *

Slogan Rehabilitasi untuk pengguna dan bukan penjara (@roelly87)
*      *      *

SEKILAS info untuk rekan-rekan blogger di Tanah Air. Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Deputi Bidang Pencegahan (Indonesia Bergegas) mengadakan lomba menulis blog untuk menyambut Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) pada 26 Juni mendatang.

Tema lomba tersebut adalah Hidup Sehat Tanpa Narkoba dengan memberi hashtag di twitter #LombaBlogBNN  dan di-mention ke akun twitter resmi BNN di @INFOBNN dan @BNNBergegas. Seperti yang disinggung Direktur Diseminasi Informasi Bidang Pencegahan BNN Gun Gun Siswadi saat workshop Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba bersama 50 blogger di Restoran Pulau Dua, Senayan (26/5).

Tujuan lomba menulis blog ini untuk mendorong partisipasi dan kepedulian masyarakat atas bahaya penyalahgunaan narkoba. Lomba blog ini terbuka bagi semua kalangan, tua muda, dan laki perempuan. Yang menarik, tidak ada persyaratan khusus bagi calon peserta. Alias bebas (kalau ada sumber dari luar/ situs berita/ blog lain harap mencantumkan secara jelas) dan gaya penulisan atau penyampaiannya terserah rekan-rekan blogger.

Untuk pemenang akan diberi penghargaan atau hadiah menarik dari BNN. Selain itu, bisa saja karya teman-teman blogger yang memenuhi syarat akan diterbitkan menjadi buku bersama tulisan peserta lain yang terpilih. Oh ya, deadline lomba hingga 10 Juni 2015 pukul 00.00 WIB DIPERPANJANG hingga 30 JULI 2015. . Ayo, kita berpartisipasi mewujudkan Indonesia Bebas Narkoba melalui tulisan!

Hadiahnya berupa:
Juara 1 mendapat Xiaomi Note 4G
Juara 2 mendapat Xiaomi Redmi2
Juara 3 mendapat Asus Zenfone C

Seleksi lomba Juni-30 Juli dan pengumumuan pemenang 5 Agustus. (@BNNBergegas)

website BNN: www.bnn.go.id
website Indonesia Bergegas:  indonesiabergegas.bnn.go.id
akun twitter BNN: @INFOBNN
akun twitter Indonesia Bergegas: @BNNBergegas
akun twitter Gun Gun Siswadi (Direktur Diseminasi Informasi): @gunsiswadi
akun twitter Antar Sianturi (Deputi Pencegahan): @DRAntarMTSIantu
akun twitter Slamet Pribadi (Kabag Humas): @slametpribadi
akun facebook Thamrin Dahlan (Koordinator blogger): @ThamrinDahlan


*      *      *
Artikel tentang BNN dan Narkoba lainnya:
- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 

- Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba
Penghormatan Terakhir Presiden SBY untuk Pahlawan
Jokowi Sang Gubernur Gaul

*      *      *
- Cikini, 5 Juni 2015