TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Serunya Latihan Nembak di Markas Kostrad

Google Adsense 2016

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Kamis, 03 November 2016

Serunya Latihan Nembak di Markas Kostrad


Saya belajar latihan menembak ditemani Kolonel A. Solihin


"Eh copot, eh copot, eh copot."

"Itu pistol kenapa bunyi, itu pistol kenapa bunyi."

"Pak, tembakannya pelan-pelan napa. Saya kaget nih. Volumenya kecilin dikit bisa ya."

Demikian celotehan latah dan kaget dari beberapa rekan media yang mengundang senyum di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Divisi Infanteri 1, Cilodong, Depok, Jumat (28/10). Ya, sekitar 100 jurnalis dari berbagai media di Tanah Air seperti cetak, online, televisi, dan radio, diundang untuk berdiskusi dengan Panglima Kostrad (Pangkostrad) Edy Rahmayadi.

Saya mendapat kehormatan bisa mewakili media tempat saya bekerja untuk bisa mengikuti acara bertema "Tatap Muka Insan Media dengan Pangkostrad" tersebut. Ini jadi salah satu pengalaman mengesankan dalam seperempat abad lebih hidup saya.

Tentu, menghadiri acara yang diselenggarakan militer atau Polri bukan hal asing bagi saya. Terutama karena sejak 2011 saya kerap mengikutinya. Baik undangan sebagai blogger atau pun media. Teranyar, saya turut menghadiri Bulan Dirgantara Indonesia 2016 di Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma.

Sebelumnya, pada Oktober 2013, saya bersama Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) saat itu, Budiman, menaiki Panser Anoa di Monas. Sementara, tahun lalu saya berbincang dengan Hendriyanti Sahara yang merupakan putri Jenderal Besar TNI (purn) Abdul Harris Nasution di makam Ade Irma Suryani.

"Tugas Kostrad tidak beda dengan wartawan," tutur Edy dalam sambutannya. "Kita sama-sama menjaga kedaulatan bangsa ini. Saya sangat senang ada acara seperti ini. Saya berharap ada komunikasi dua arah. Kalau sama wartawan, itu intinya komunikasi."

Ya, apa yang dikatakan pria 55 tahun ini beralasan. Sebab, baik Kostrad dan wartawan, sama-sama memegang peranan penting untuk negeri ini. Tentu, dengan tugas yang berbeda. Kostrad sebagai bagian dari TNI jadi yang terdepan untuk menjaga kedaulatan negara. Sementara, wartawan melaporkan apa yang terjadi mengenai kehidupan di negeri ini dari ujung barat hingga timur.

Ini kali pertama saya bertatap muka dengan Edy. Ternyata, orangnya benar-benar ramah, supel, murah senyum, dan hobi guyon. Sosok yang di pundaknya tersemat bintang tiga itu tidak pernah jaim (jaga image). Baik kepada bawahannya atau wartawan. Tak heran jika Edy sangat dihormati dan dijadikan teladan bagi segenap prajurit Kostrad.

Tapi, jika sedang bertugas, Edy tidak pernah main-main. Itu diungkapkan salah satu prajurit kepada saya sambil berbisik. "Pak Edy itu orangnya tegas. Kalau kami berbuat salah, ya kena hukum. Tapi, kalau ada prajurit yang berprestasi, beliau tak segan-segan memberi pujian dan apresiasi. Ya, pak Edy orangnya apa adanya. A ya a, b ya b. Ketegasannya itu yang memotivasi kami dalam bertugas."

Dalam kesempatan itu, Edy juga mendorong saya dan rekan jurnalis lainnya agar tidak takut memegang senjata untuk latihan menembak. Sumpah, ini pengalaman pertama saya memegang senapan.

Dan... Senapannya asli! Bukan, mainan dari plastik atau ketapel. Melihat pelurunya saja, bikin saya merinding. Ternyata senapannya berat bukan main. Beda jika dibandingkan dengan senapan yang saya tenteng ketika bermain game Point Blank atau Counter Striker.

"Tenang saja. Kami juga awalnya berat memegang senjata. Kan semua perlu proses (latihan). Kami, prajurit TNI mudah memegang senjata karena latihan setiap hari. Sama seperti kalian (jurnalis) yang mudah menulis berita karena dilakukan setiap hari, kan," tutur Edy kepada saya.

Apa yang dikatakan pria berpangkat Letnan Jenderal (Letjend) ini beralasan. Seperti kata pepatah, alah bisa karena terbiasa. Untuk itu, kami diberi pengarahan oleh Sersan Satu (Sertu) E. Indra. beliau yang memberi petunjuk sekaligus contoh sebelum, saat menembak, dan sesudahnya.

"Yang penting, tarik nafas sebelum menarik pelatuk. Fokuskan perhatian rekan-rekan media pada titik bidik. Tenang saja, jangan khawatir meski ini senjata asli. Ada rekan kami juga yang akan mendampingi," kata Indra saat memberi pengarahan kepada kami.

Ya, kami diberi senapan, magasine berisi 10 peluru, penutup telinga, dan kacamata. Untuk dua terakhir, gunanya melindungi telinga dari suara letusan dan kacamata melindungi mata dari asap. Maklum, ini peluru betulan, jadi ketika ditembakkan bakal keluar asap.

Tiba giliran saya untuk bersiap menembak itu rasanya gimana gitu. Sumpah, deg-degan banget. Meski, masih kalah deg-degan jika bertemu pujaan hati. (Nah lho!)

Beruntung, saya dapat menyelesaikan latihan menembak hingga 10 kali. Saat melihat hasilnya, ternyata sembilan di antaranya kena! Wow...

Rinciannya, tiga kali di lingkaran 10, dua kali (lingkaran lima), dan masing-masing sekali di lingkaran sembilan, delapan, tujuh, enam. Total, saya mendapat 70 poin yang menurut panitianya, ternyata saya salah satu yang terbaik. #Ehm

Tentu, itu tidak lepas dari bimbingan Prajurit Kepala (Praka) Agus Setyawan yang terus membantu saya. "Bagus mas, sembilan peluru masuk lingkaran. Untuk masyarakat awam, nilainya tergolong bagus," ucap Kolonel A. Solihin, memberi pujian.

Mendapat sanjungan dari Perwira Menengah (Pamen) TNI itu, siapa sih yang tidak girang. Termasuk, saya yang semringah. Padahal, hingga setengah jam sesudah latihan menembak, tangan dan kaki saya masih gemetaran. Itu saking gugupnya menembak dengan peluru asli yang tentu berbeda dibanding ketika main Point Blank atau Counter Striker.

Setelah latihan menembak, kami diajak Edy untuk berkeliling lapangan Makostrad. Dan... Jaraknya menurut Global Positioning System (GPS) di ponsel saya mencapai 3 km lebih. Ya, lebih dari tiga kilometer.

Menariknya, entah kenapa, tidak ada tanda-tanda kelelahan dari wajah saya dan ratusan jurnalis lainnya. Alias, sepanjang perjalanan mengitari lapangan tembak terluas dan terlengkap di Asia Tenggara ini, raut muka kami tetap ceria meski keringat bercucuran sebesar jagung.

Itu tidak lain karena sepanjang perjalanan, kami sambil mewawancarai Edy. Termasuk, saya yang menanyakan mengenai partisipasinya di dunia olahraga, khususnya sepak bola. Tak jarang, sosok yang pada 2015 lalu menjabat Panglima Kodam I/Bukit Barisan ini melontarkan humor-humor segar. Maklum, jurnalis yang ikut itu bervariasi mulai dari yang masih 20 tahunan hingga di atas 60 tahun baik pria maupun wanita.

"Nah, kalian yang muda-muda jangan kalah dengan saya. Saya yang sudah (berusia) kepala lima ini masih sanggup lari keliling lapangan tembak ini hingga berkali-kali," kata Edy yang disambut tawa dari kami.

*        *        *
Pangkostrad Edy Rahmayadi yang sangat ramah


*        *        *
Sertu E. Indra memberi pengarahan kami sebelum latihan menembak

*        *        *
Indra bersama rekannya sesama prajurit memberi contoh saat tiarap

*        *        *
Sebelum menembak, tarik nafas lebih dalam...

*        *        *
Prajurit TNI mengumpulkan rekap hasil latihan menembak dari wartawan

*        *        *
Ini pelurunya... Gede banget

*        *        *
Asap yang bertebaran saat pelatuk ditarik

*        *        *
Latihan menembak ini juga diikuti rekan wanita dari media online

*        *        *
Saya bersama Pangkostrad, Salam Cakra!

*        *        *
Dor, dor, dor... Fotonya keren, aslinya mah gemeteran

*        *        *
Praka Agust Setyawan memberi tahu hasil tembakan saya

*        *        *
Yeeeeeee, tiga kali kena lingkaran 10!

*        *        *
Saya yang girang banget karena untuk kali pertama bisa belajar menembak

*        *        *
Saya mendapat nilai 70, yang katanya masuk kategori bagus

*        *        *
Pangkostrad berbincang dengan wartawan saat mengitari Lapangan Tembak

*        *        *
Sumber Referensi:
- Harian TopSkor
- TopSkor.id
- Kostrad.mi.id: Pangkostrad Tatap Muka dengan Insan Media
*        *        *
*        *        *
- Jakarta, 3 November 2016

11 komentar:

  1. mas... kalo mau latihan begitu harus mengajukan surat dulu atau boleh langsung dateng ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya harus ajuin surat dulu mas, kebetulan kalo saya pas ada undangan

      Hapus
  2. Kalau lihat orang menembak tuh kelihatannya sih mudah.... Jadi pengen belajar menembak, tapi gak punya perlengkapannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. menembak di lapangan sih sulit, tapi jauh lebih sulit "menembak" yang lain...
      #eaaa

      Hapus
  3. Balasan
    1. hehehe, lumayan meski agak deg-degan :)

      Hapus
  4. wkwkwk ... ternyata yang latah-latah gitu masih ada, ya. Saya terakhir denger orang latah kayaknya pas zaman kuliah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih mbak, ada beberapa temen yang latah
      tapi sebagian udah bisa dikurangin (ga bisa ilang seluruhnya katanya)

      Hapus
  5. Teringat dahulu waktu kecil kalo ditanya soal cita-cita, pasti pengen Jadi tentara, dokter dan pilot, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha, saya malah pengen jadi sejarawan
      etapi, gagal...

      Hapus
  6. itu jaraknya berapa gan? jauh banget kayaknya, kalau saya sih bakalan gak kena2, soalnya udah mines matanya.. bahaha

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)