TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Cinta Lama Bersemi Kembali

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Jumat, 21 November 2014

Cinta Lama Bersemi Kembali




Roberto Mancini (sumber foto: inter.it)

JATUH cinta? Hampir setiap orang merasakan dan pernah jatuh cinta. Entah itu nyata, khayalan, atau malah bertepuk sebelah tangan. Atau, bisa jadi diawali cinta monyet, cinta pada pandangan pertama, serta cinta segitiga. Lalu, bagaimana dengan orang yang merasakan sakitnya cinta akibat dikhianati hingga beberapa waktu kemudian merajut hubungan kembali?

Adalah Roberto Mancini, pria paruh baya yang kembali menemukan cintanya sejak “putus” enam tahun silam. Kecintaan sosok yang akrab disapa Mancio ini memang unik. Lantaran Mancini menerima kehadiran sang “kekasih” yang baru saja memutuskan hubungan dengan pihak lain. Kebetulan, sosok berbintang Sagitarius ini sedang dalam keadaan jomblo alias tanpa pekerjaan. Makin klop.

Ya, cinta lama bersemi kembali (CLBK). Ungkapan tersebut layak ditujukan untuk Mancini yang menerima pinangan FC Internazionale sebagai pelatih anyar menggantikan Walter Mazzarri. Disebut CLBK, karena Mancini memang pernah melatih Inter selama empat musim mulai 7 Juli 2004 hingga dipecat 29 Mei 2008.

Dalam kesempatan itu, Mancini sukses mempersembahkan tiga trofi Seri A secara beruntun pada 2005/06, 2006/07, dan 2007/08. Hanya, tangan dinginnya tak berfungsi di Liga Champions yang membuat penampilan “I Nerazzurri” jeblok. Sebab, prestasi terbaiknya bersama Inter di kompetisi terelite di Eropa itu hanya sebatas 16 besar.

Alhasil, rasa cinta Inter pun berpaling dengan memilih Jose Mourinho sebagai penggantinya yang ternyata sukses besar. Meski menyakitkan, kecintaan Mancini terhadap klub yang bermarkas di kota Milan itu tidak pudar. Dalam setiap kesempatan, baik itu ketika sedang melatih Manchester City atau Galatasaray, Mancini selalu mengungkapkan bahwa Inter merupakan klub terbaik yang pernah ditanganinya. Bahkan, dia juga mengaku tak menolak jika suatu saat kembali melatih klub yang 9 Maret 2008 genap berusia satu abad.

Gayung pun bersambut. Keinginannya itu tercapai pada 13 November lalu ketika Inter mengumumkan pemecatan Mazzarri. Tak lama berselang, Mancini langsung mengiyakan tawaran Inter dengan kontrak hingga 2016. Sebuah pilihan logis bagi kedua pihak. Khususnya Inter yang memang tidak memiliki pilihan lain selain Mancini.

Pilihan Logis

Sebab, di antara pelatih ternama yang berprestasi, hanya Mancini yang bisa memenuhi kriteria mereka: Pengalaman, kemampuan, dan kecintaan terhadap Inter. Berembus rumor, manajamen Inter sempat mempertimbangkan tiga nama yang kebetulan sedang menganggur: Luciano Spalletti, Claudio Ranieri, dan Marcello Lippi.

Tapi, pada akhirnya, pilihan jatuh kepada Mancini. Salah satu alasannya karena selain tiga kriteria tersebut, Mancio merupakan sosok yang ambisius. Itu diungkapkan langsung oleh Presiden Inter, Erick Thohir kepada Harian TopSkor pada edisi 17 November lalu.

Menurut pemilik klub asing pertama di Seri A itu, Mancini sudah paham “Hitam-Biru” Inter. Bahkan, Erick pun memercayakan Mancini untuk memimpin proyeksinya yang bertujuan mengembalikan kehebatan “La Beneamata” –julukan lain Inter– sebagai salah satu klub terbaik Eropa. Selain itu, penunjukkan Mancini secara tidak langsung demi meredam cacian dari tifosi akibat penampilan jeblok Inter bersama Mazzarri.

Rasa cinta yang besar, berpengalaman memberi tiga scudetto, dan memiliki hubungan baik dengan tifosi karena mampu mengakhiri dahaga trofi Seri A sejak 1988/89, serta mendapat dukungan penuh dari pihak klub. Empat fakta itu melekat kepada Mancini. Hanya, apakah mantan pelatih Fiorentina dan Lazio itu bisa mendongkrak performa Mauro Icardi dan kawan-kawan?

Nanti dulu. Bulan madu Mancini dan Inter harus segera dituntaskan akhir pekan ini. Sebab, pria 49 tahun ini harus menghadapi tiga lawan sulit dalam sepekan ke depan. Dimulai dari “Derby della Madonnina” versus rival abadinya, AC Milan di San Siro (23/11), menjamu Dnipro Dnipropetrovsk pada ajang Liga Europa (27/11), hingga tandang ke AS Roma di Olimpico (30/11).

Tiga pertandingan tersebut merupakan rintangan pertama kisah cinta Mancini dan Inter yang memasuki season dua. Ibarat hubungan dalam masa pacaran atau rumah tangga, periode itu merupakan fase krusial bagi kedua pihak. Jika Mancini mampu memberikan kemenangan, khususnya saat derby, tentu membuat manajemen Inter puas. Tapi, bila gagal, bukan tidak mungkin hubungan mereka kembali renggang. Bahkan, Mancini bisa seperti Mazzarri yang menjadi bulan-bulanan tifosi akibat haus gelar sejak meraih “Treble” 2009/10.

Apalagi, sejarah sudah membuktikannya. Dari beberapa pelatih yang mengalami fase CLBK, rata-rata menjadi layu pada “season kedua”. Menariknya, itu terjadi pada tiga pelatih kawakan Italia, yaitu Arrigo Sacchi, Fabio Capello, dan Lippi.

Berkaca Sejarah

Sacchi pada periode pertama sukses membawa Milan sebagai salah satu tim terbaik dunia sepanjang 1987-91 dengan julukan “Dream Team”. Namun, dalam kesempatan kedua (1996-97), periode keemasan Sacchi berantakan karena pada akhir musim Milan terdampar di urutan 11 klasemen Seri A.

Begitu juga dengan Capello yang sukses melanjutkan estafet Sacchi pada 1991-96 dengan memberikan empat scudetto dan satu Liga Champions. Dua musim berselang, Capello gagal total karena Milan hanya menempati posisi 10 Seri A dan gagal lolos ke Eropa.

Hal serupa dialami Lippi yang hanya mendapat dua scudetto dan runner-up Liga Champions dalam periode keduanya bersama Juventus pada 2001-04. Sebelumnya (1994-99), penggemar cerutu ini sukses memberikan tiga gelar Seri A plus Liga Champions 1995/96.

Yang miris ketika Lippi menangani tim nasional Italia. Pasalnya, pada kesempatan pertama pada 2004-06, dia membawa “Gli Azzurri” menjuarai Piala Dunia 2006. Tapi, empat tahun berselang di Afrika Selatan, kisah cinta Lippi dan Italia “season dua” menjadi juara bertahan yang pulang paling cepat.

Jadi, ungkapan CLBK seperti menjadi momok bagi pelatih di Italia sekaligus yang menghantui Mancini. Agar, jangan sampai ungkapan tersebut dipelesetkan menjadi “cinta lama layu kembali”. Dan, itu semua dimulai dari derby akhir pekan ini.***

Artikel ini merupakan Opini di Harian TopSkor edisi 22 November 2014

Artikel FC Internazionale sebelumnya
- Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel AC Milan sebelumnya

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)