TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Juli 2014

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Minggu, 20 Juli 2014

Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti



Bukber ICI

Ketua ICI, Entong Nursanto


CHOIRUL HUDA
JAKARTA – Sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di tanah air, Inter Club Indonesia (ICI) tidak melulu membicarakan sepak bola. Mereka juga aktif dalam kegiatan di luar sepak bola dengan melakukan bakti sosial, misalnya donor darah. Hal itu dilakukan ICI yang mencapai belasan ribu anggota secara rutin sepanjang tahun.

Termasuk saat ini yang bertepatan dengan Ramadan 1435. Wadah suporter yang didirikan pada 24 Agustus 2003 ini mengadakan acara buka puasa bersama (bukber) di Pasar Festival Kuningan, Jakarta, Minggu (19/7). Terdapat 88 anggota ICI yang merupakan Interisti –julukan fan FC Internazionale– memadati area foodcourt.

Kedatangan mereka untuk mempererat tali silaturahmi sesama anggota ICI dan bertujuan melakukan penggalangan dana. Dalam acara bukber itu, turut dihadiri Ketua ICI, Entong Nursanto bersama anggota senior lainnya.

Selain itu, juga ada pelantikan anggota kehormatan ICI sebagai bentuk penghargaan. Termasuk ditujukan untuk Presiden Inter yang berasal dari Indonesia, Erick Thohir. Tak lupa, seusai acara turut dimeriahkan dengan pembagian doorprize yang berhadiah merchandise resmi ICI.

 “Total sumbangan dari anggota ICI sekitar 1,7 juta rupiah,” tutur Ketua Harian ICI, Benediktus Arden. “Nanti, uang yang terkumpul akan kami berikan ke Panti Asuhan Tunas Bangsa, Cipayung dan aksi kemanusiaan untuk Palestina. Di luar penggalangan dana, bukber ini juga untuk membuka kesempatan bagi Interisti di tanah air yang ingin mendaftar sebagai anggota ICI.”

Harapan Entong

Sementara, dalam sambutannya, Entong bangga dengan apa yang dilakukan ICI selama ini. Menurut pria yang memfasilitasi kedatangan Inter ke Indonesia pada Mei 2012 itu, berharap ICI semakin besar. Maklum, sebagai salah satu wadah suporter tertua di Indonesia.

ICI termasuk di antara kelompok suporter dari berbagai negara lainnya yang berafiliasi resmi dengan Inter. Terbukti, situs Interclubindonesia.com ramai dikunjungi tidak hanya orang Indonesia saja, melainkan juga Italia. Bahkan, akun twitter resmi @InterClubIndonesia mencapai lebih dari 60 ribu pengikut.


“Saya ingin agar ICI tetap melanjutkan kegiatan yang bermanfaat seperti ini. Tidak hanya di sepak bola saja melainkan dalam bersosialisasi kepada masyarakat,” ujar Entong yang disambut antusias anggota ICI. Dalam kesempatan itu, ketua ICI sejak 2008 ini juga memberikan plakat penghargaa kepada beberapa anggota kehormatan. Termasuk untuk Kromes Ikram yang membuat desian ICI.*

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 20 Juli 2014

Senin, 14 Juli 2014

Febia Aldina Darmawan: Memahami Profesi sang Ayah

Memahami Profesi sang Ayah

Bagi Febia, komentar bernada negatif itu justru merupakan risiko yang harus ditempuh sebagai pelatih.

Fabia berpose di belakang sebuah pesawat


SEBAGAI putri dari salah satu sosok berpengaruh di sepak bola Indonesia, Febia Aldina Darmawan merasa tidak asing dengan sepak bola. Itu karena dara jelita ini merupakan anak sulung dari pelatih timnas U-23 Indonesia dan Arema Cronous, Rahmad Darmawan.

Meski kini disibukan dengan rutinitas sehari-hari menempuh ilmu sebagai calon pilot di Proflight Pilot School di Cirebon. Sementara, Rahmad Darmawan sedang fokus melatih Arema yang bertempat di Malang, Jawa Timur. Bukan berarti Febia, sapaannya tidak mengikuti perkembangan berita sang Ayah.

Itu diungkapkan sosok yang bercita-cita jadi pilot sejak kecil ini. Gadis berbintang Aquarius ini mengaku tetap eksis menyimak berita pertandingan tim yang dilatih Ayahnya. Bahkan, Febia bangga saat tim Ayahnya berhasil meraih kemenangan telak atas PSPS Pekanbaru, skor 7-1 (4/7).

Hanya, pemilik akun twitter @darmawnfebia itu menyadari, profesi sang ayah tentu penuh dinamika. Itu terkait posisi Rahmad Darmawan, yang kerap menuai pujian saat membawa tim asuhannya menang. Tapi, ketika timnya kalah atau gagal meraih prestasi, harus siap menerima caci maki. Terutama dari ranah media sosial, seperti facebook dan twitter, yang terkadang bernada sinis.

“Sekarang sih saya sudah biasa melihat yang seperti itu. Ibaratnya, sudah kebal menghadapinya,” kata Febia, 20 tahun. “Kalau, dulu emang saya sering nanggepin komentar-komentar negatif tersebut. Tapi, sekarang sudah tidak lagi, karena kata Papa sendiri itu memang risiko sebagai pelatih.”

Kini, di bulan ramadan, Febia tidak sabar untuk segera libur dan berkumpul kembali dengan keluarga. Terutama agar bisa bersantap sahur dan berbuka puasa bersama Ayah, Ibu, Adik, dan saudara tercinta lainnya. Maklum, ramadan tahun lalu, kebetulan gadis manis yang hobi bermain paint ball itu sedang menempuh pendidikan pilot di Filipina.

“Puasa tahun ini sih mending, karena hanya di Cakrabuana (Cirebon). Berbeda dengan tahun kemarin yang jarang bertemu keluarga karena harus belajar di Filipina. Tapi ada enaknya juga, terutama karena saya hobi travelling, mencari suasana baru, plus makan-makan gratis,” ujar Febia dengan tersenyum semringah.*


Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi Selasa, 13 Juli 2014