TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Oktober 2014

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Jumat, 31 Oktober 2014

Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda



Gianluigi Buffon dan Juventus (sumber foto: footballwallpapers.eu)


GIANLUIGI Buffon gagal menjaga gawangnya agar tak kebobolan akibat Juventus ditekuk Genoa 0-1 di Stadion Luigi Ferraris, Rabu (30/11). Satu gol dari Luca Antonini pada menit ke-90 merusak perayaan 500 pertandingan Buffon bersama Juventus. Menjadi ironis mengingat sejak kecil Buffon sangat menggemari Genoa.

Pada usianya yang sudah mencapai 36 tahun, Buffon seolah tak pernah tua. Penampilannya di bawah mistar gawang kian matang seiring berjalan waktu. Apalagi, petinggi Juventus terus memberinya kepercayaan agar dirinya menjadi kiper nomor satu.

Buffon berharap bisa menyamai torehan kapten Juventus sebleumnya, yaitu Giuseppe Farino pada 528 laga dan Gaetano Scirea (552 laga). Hanya, dengan usianya kini, kemungkinan pemain berjulukan “Gigi” itu sulit melampaui rekor 705 laga milik Alessandro Del Piero.

Mantan suami supermodel Ceko, Alena Seredova ini didatangkan dari Parma pada musim panas 2001. Saat itu, usia Buffon baru 23 tahun yang direkrut keluarga Agnelli seharga 100 miliar lira.

Bertepatan dengan perpindahan Buffon, di Italia terdapat beberapa peristiwa penting. Yaitu, Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi menjabat sebagai Perdana Menteri Italia, Carlo Azeglio Ciampi menjadi Presiden Italia, dan AS Roma sukses memenangkan scudetto ketiga. Sementara, Valentino Rossi berhasil membawa gelar GP500 ke Italia.

Buffon menjalani debut berseragam “I Bianconeri” pada 26 Agustu 2001 yang berakhir sempurna. Pemilik nomor punggung satu itu berhasil mementahkan serangan penggawa Chievo yang berujung kemenangan Juventus 4-0. David Trezeguet dan Del Piero masing-masing mencetak doppietta –dua gol dalam satu laga– ke gawang Chievo.

Pertandingan ke-100 jatuh pada 30 September 2003, Olympiacos-Juve 1-2, penyisihan grup Liga Champions. Episode ke-200 ditandai dengan kekalahan 0-2 dari Arsenal, pertandingan pertama perempat final Liga Champions 2006. Imbang 3-3 di kandang melawan Chievo pada 2009 menutup laga ke-300 Buffon. Terakhir, pertarungan lawan Chelsea, 2-2, pada 19 September 2012 menjadi pengingat pertandingan ke-400.

Di Juve, pemain nomor satu itu paling sering bermain bersama Del Piero, yaitu 307 pertandingan selama 21.418 menit (171 menang, 90 imbang, 46 kalah), disusul Pavel Nedved (255) dan Chiellini (242).

Sedangkan lawan paling buas yaitu Francesco Totti, sudah 11 kali mengoyak jala gawang Buffon, semua di Seri A, terakhir pada Februari 2013. Kemudian, Christian Vieri (8 gol), Julio Cruz, Cristiano Lucarelli, dan Goran Pandev (masing-masing 6 gol). Di level tim, Inter paling sering menjebol gawang Buffon (27 gol), diikuti Roma (23), Napoli, Parma (20), Fiorentina dan Milan (19).

Apabila dominasi Juve tidak bisa dipatahkan Genoa besok malam, maka Buffon bisa mengecap kemenangan ke-300 di Seri A, termasuk semasa membela Parma. Total sudah 529 kali kiper veteran itu tampil di Seri A, dengan 56,5 persen kemenangan. Di antara pemain-pemain yang sudah tampil lebih dari 400 kali di Seri A, hanya Alessandro Nesta (57,8 persen) yang lebih baik.

Total, selama mengenakan kostum Juve, Buffon sudah mengangkat 5 scudetti, 4 Piala Super Italia, dan 1 gelar juara Seri B (2006/07). Yang kurang hanya gelar internasional, yang justru dimenangkannya semasa di Parma (Piala UEFA 1998/99). " Tapi saya yakin sekarang kami sudah bisa masuk 8 besar di Eropa. Mungkin dalam dua musim lagi kami bisa meledak," tuturnya.***

Statistik Buffon:

500 kali Gigi
296 menang
129 imbang
75 kalah
361 Seri A
76 Liga Champions
37 Seri B
12 Piala Italia
9 Piala UEFA / Liga Europa
4 Piala Super Italia

Pemegang rekor pertandingan di Juve
Buffon, dengan 500 pertandingan bersama I Bianconeri, berada di posisi ke-4 dalam klasemen jumlah pertandingan terbanyak di Juve sepanjang sejarah klub.
705
Alessandro Del Piero

Membela Juve sejak 1993 sampai 2012, pemain dengan jumlah pertandingan terbanyak bersama I Bianconeri.
552
Gaetano Scirea

Di posisi kedua adalah Scirea, membela Juve dari 1974 sampai 1988.
528
Giuseppe Furino

Bermain di Juve antara 1969 dan 1983, Furino mengumpulkan jumlah pertandingan terbanyak ketiga dan rekornya akan bisa disamai Buffon musim ini.

100
Buffon merayakan pertandingan ke-100 bersama Juventus di Athena pada 30 September 2003, dengan kemenangan 2-1 di kandang Olympiacos, pertandingan kedua penyisihan Grup D Liga Champions 2003-04 yang kemudian dimenangkan Porto asuhan Mourinho.
200
Pertandingan ke-200 Buffon juga terjadi di kandang lawan, kali ini di London untuk perempat final pertama Liga Champions melawan Arsenal, tim yang kemudian kalah di final melawan Barcelona asuhan Rijkaard.
300
Pertandingan ke-300 Buffon dirayakan di stadion Olimpico Turin pada 5 April 2009, pekan ke-30 Seri A melawan Chievo (3-3). Pada akhirnya Inter asuhan Mourinho memenangkan scudetto.
400
Seperti pertandingan ke-200, laga ke-400 Buffon juga dimainkan di London, namun kali ini di Stamford Bridge melawan Chelsea yang dilatih Di Matteo. Pada 19 September 2012, pertandingan pertama Grup A berakhir dengan skor 2-2.

Para juara di Seri A
Di antara para pemain yang sudah memainkan minimal 400 pertandingan di Seri A, inilah yang memiliki rata-rata terbaik antara jumlah pertandingan dan kemenangan.
Alessandro Nesta 57,8%
41 laga di Seri A
241 menang
Gianluigi Buffon 56,5%
529 laga di Seri A
299 menang
Alessandro Del piero 56,1%
478 laga di Seri A
268 menang
Andrea Pirlo 55,5%
476 laga di Seri A
264 menang
Javier Zanetti 54,6%
615 laga di Seri A
336 menang
(sama dengan Giampiero Boniperti: 443 laga di Seri A, 242 menang)

Kemenangan Buffon di Seri A
Kemenangan pertama
Parma-Lazio 2-1 (10 Desember 1995)

Kemenangan pertama Buffon di Seri A sudah nyaris 19 tahun lalu, ketika dia masih membela Parma.
Kemenangan ke-100
Empoli-Juventus 0-2 (21 September 2002)

Kemenangan ke-100 di Seri A dicapai setelah memakai seragam Juventus, terjadi 12 tahun lalu.
Kemenangan ke-200
Roma-Juventus 1-4 (21 Maret 2009)

Buffon merayakan kemenangan ke-200 di Seri A di stadion Olimpico Roma, melawan I Giallorossi.

Monster buas
Inilah para pemain yang paling sering menjebol gawang Buffon, di semua kompetisi.
11 gol
Francesco Totti

Kapten Roma sudah 11 kali menaklukkan Buffon, semuanya di Seri A.
8
Christian Vieri

Eks pemain Inter ini juga hanya pernah menaklukkan Buffon di Seri A.
6
Julio Cruz
Satu lagi eks pemain Inter yang hanya menaklukkan Buffon di Seri A. Cristiano Lucarelli dan Goran Pandev juga mengoleksi jumlah gol yang sama, namun Pandev juga mencetak satu gol di Piala Super Italia 2012.



Kamis, 30 Oktober 2014

Erick Thohir seperti Cicciobello

CIBIRAN LAIN DARI ITALIA

Sebelumnya, Ferrero meminta maaf kepada pengusaha Indonesia itu lantaran pernyataannya yang dianggap di luar batas.

Erick Thohir saat menghadiri nobar di Britama Arena (27/10)

JUDUL dari tulisan Evalina Christillin memang mengundang rasa ingin tahu, "Apa yang tersisa dari Inter setelah kepergian (Massimo) Moratti?" Di akhir artikelnya, dengan gaya agak menghina, wanita 58 tahun itu menulis, "Laki-laki gemuk dari Indonesia itu bertemu Moratti, tetapi dia tidak tahu apakah memiliki uang atau tidak, lalu menjadi pemilik saham mayoritas."

Christillin merupakan penulis kolom di Huffington Post Italian dalam beberapa tahun terakhir. Tulisannya tetang FC Internazionale memang selalu begitu, sinis dan terlalu satire. Bahkan, suporter fanatik Juventus itu, menutup coretannya dengan kalimat, "Silakan perlakukan dia seperti Cicciobello (boneka bayi Italia), satu hal yang pasti (Moratti) sudah tidak cocok lagi dengannya."

Goretan Christillin sebenarnya sudah muncul di media sejak Senin (27/10) tapi baru kemarin jadi perbincangan di media sosial. Publik Italia ternyata bersikap keras dan melontarkan kecaman kepada perempuan setengah baya itu. Mereka menilai tulisan Christillin sudah berbau rasial. Menanggapi hal tersebut, wanita yang juga sahabat Presiden Juventus Andrea Agnelli itu lalu mengganti kata-kata sarkasme tentang Erick dengan penyebutan presiden.

Hingga saat ini , belum ada respons dari Erick di Indonesia, baik soal penghinaan Christillin maupun sindiran yang sjuga sempat dilontarkan Massimo Ferrero, presiden Sampdoria. Akhir pekan lalu, penguasa perfilman Italia itu memang mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada Erick, saat diwawancarai Rai.

Ferrero menilai, keberadaan Erick menjadi penyebab mundurnya Moratti dari kepengurusan Inter. "Dia tidak boleh memperlakukan Moratti seperti itu, saya sangat sedih. Sudah sejak lama saya katakan kepadanya (Moratti) untuk menendang si Filipina itu," kata Ferrero saat itu.

Publik Italia pun bereaksi keas dan menganggap komentar seperti itu tidak layak diucapkan dari mulut seorang presiden klub.Ferrero sudah dinilai bersikap rasial. Ferrero lalu memutuskan menulis surat permintaan maaf kepada Erick. Ferrero juga memutuskan permintaan maaf secara resmi saat diwawancarai Radio Centro Suono Sport.

"Ucapan saya hanya bercanda, tapi sudah dieksploitasi media. Agnelli mengatakan hal yang lebih buruk, tapi tidak ada satu pun yang bertindak karena dia punya media cetak," kata Ferrero. "Menurut saya, Erick pria yang sangat pintar, saya tidak punya masalah dengannya. Saya hanya ingin membela Moratti, seorang pria hebat yang telah memberikan banyak di sepak bola Italia.***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi Kamis, 30 Oktober 2014.

Artikel terkait:

Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions
Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah


Rabu, 29 Oktober 2014

Rahmad Darmawan Sosok Penyayang Keluarga

Jika libur, kapten di TNI AL ini kerap mengajak keluarganya bermain paintball.

RD saat kumpul dengan keluarga


DI kancah sepak bola nasional, siapa yang tidak mengenal Rahmad Darmawan. Pria kelahiran Lampung ini dikenal sebagai sosok bertangan dingin. RD –panggilan akrabnya– piawai memoles sebuah tim hingga bergelimang trofi dan juga memunculkan pemain berbakat.

Sejak memulai karier kepelatihan, RD sudah lima kali meraih trofi. Satu gelar Liga Indonesia dipersembahkan pria yang gemar memakai topi ini saat menukangi Persipura Jayapura pada 2005. Lalu, ketika hijrah ke Sriwijaya FC, RD turut meraih empat trofi. Satu Liga Indonesia (2007/08) dan tiga lagi Copa Indonesia (2007/08, 2008/09, 2009/10).

Begitu juga saat melatih Indonesia, RD sukses membawa timnas U-23 lolos ke final SEA Games 2011 Jakarta-Palembang. Meski di laga pamungkas takluk dari Malaysia, namun tidak dapat dipungkiri kalau itu merupakan pencapaian terbaik  “Tim Garuda Muda” karena terakhir lolos pada 1997. Alhasil, pada SEA Games 2013 Myanmar, RD bertekad mengantarkan Indonesia meraih medali emas ketiga sejak 1991 silam.

“Saya, pemain, dan ofisial tim akan berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk tanah air tercinta. Tentu, kami minta dukungan dari seluruh elemen masyarakat di Indonesia,” kata RD saat berbincang dengan TopSkor, akhir pekan lalu.

Kebetulan, saat itu sosok berpangkat kapten di TNI Angkatan Laut ini sedang kumpul bersama keluarga untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. TopSkor beberapa rekan media lainnya berkesempatan menyambangi kediamannya di Lembang, Jawa Barat. Selain RD, terdapat istrinya, Dinda Eti Yulianti, putri sulungnya yang menjadi pilot, Febia Aldina Darmawan, dan putera bungsunya, Ravaldi Agung Darmawan.

“Ya, beginilah suasana saat kami sekeluarga  kumpul. Serba ramai dan penuh kehangatan satu sama lain,” kata RD, 46 tahun. “Biasanya, coach RD kalau libur senang mengisi waktu dengan berkebun di depan halaman rumah. Terkadang, coach suka juga mengajak anak-anak main paintball untuk mengasah kemampuan,” Dinda, menambahkan.

Ya, ucapan dari istri yang dinikahinya sejak 1993 itu beralasan. Sebab, meski disibukkan dengan rutinitasnya sebagai pelatih timnas U-23 dan Arema Cronous, RD tetap tidak melupakan kewajiban sebagai Ayah. Apalagi, dia merupakan kepala rumah tangga bagi istri dan anak-anaknya.

Itu diakui RD yang menyebut peran keluarga sangat berarti dalam mendukung kariernya sebagai pelatih dan juga tentara. Tidak salah bila terdapat pepatah menyebutkan di balik pria hebat terdapat wanita tangguh di sisinya. “Kalau di lapangan saya harus tegas terhadap pemain demi prestasi tim. Namun, di rumah saya tetap seorang Ayah sekaligus suami yang dekat keluarga,” ujar RD.*


Reuni Gol Terbaik Asia

BINTANG LAWAS

Sambil barbeque dan karaoke, mereka mengingat momen emas ke gawang Kuwait. 


PERAWAKAN keduanya terlihat berbeda. Satunya tidak berbeda jauh dari saat masih aktif di lapangan hijau. Sedangkan satunya lagi punya badan mulai melar. Persamaan di antara mereka hanya sudah pensiun bermain sepak bola.

Namun persahabatan keduanya tidak lekang dimakan waktu. Adalah assists diteruskan tendangan setengah salto ke gawang Kuwait di Piala Asia 1996, jadi momen yang mengakrabkan kedua orang ini. Mereka adalah Ronny Wabia dan Widodo Cahyono Putro.

Akhir April lalu kedua sosok ini bertemu. Di rumah Ronny, kawasan kota Jayapura, mereka bersenda gurau, tertawa bersama, saling mengingat momen emas pada menit ke-20 tersebut. Momen yang akhirnya terpilih sebagai gol terbaik Asia 1996.

Lebih seru lagi karena waktu itu Ronny dan Widodo adalah pencetak gol Indonesia di turnamen empat tahunan tersebut. Mereka masing-masing mencetak dua gol dari total empat kali Indonesia menyarangkan bola ke gawang lawan. Gol-gol itu dicetak ke gawang Kuwait dan Korea Selatan.

“Sampai sekarang saya masih terharu ketika umpan itu disambar Widodo. Dia melakukannya tanpa menoleh ke gawang. Juga sekaligus mengecoh lima bek Kuwait. Itu membuktikan insting Widodo sebagai predator ulung di Asia,” kata Ronny.

Widodo pun dengan penuh antusias menimpali pujian Ronny. Widodo mengatakan gerakan salto itu spontanitas. Semua terlihat mudah lantaran sudah sering dicoba saat berlatih.

“Pas Ronny mengirim umpan dari sayap kanan, langsung saya sambar dan gol! Saya pun sebenarnya tidak menyangka bola akan masuk ke gawang,” kata Widodo yang datang ke rumah Ronny di sela-sela tur tim arahannya, Persegres Gresik, ke kandang Persipura Jayapura.

Reuni mereka berlangsung dalam balutan acara barbeque, karaoke, dan tentu saja berfoto bersama. “Bagi saya hubungan dengan Ronny bukan sekadar di lapangan. Kami terus menjalin persahabatan,” ucap Widodo. 

Ikuti Jejak

Di sisi lain, Ronny mengaku ingin mengikuti jejak Widodo yang banting setir jadi pelatih setelah pensiun bermain. Saat ini Ronny masih tercatat sebagai karyawan Bank Papua. Jabatannya pun cukup lumayan yaitu kepala teller.

“Tapi keinginan itu mungkin baru bisa terwujud sekitar lima tahun lagi. Soalnya saya masih ingin konsentrasi dengan pekerjaan di bank. Yang jeals, saya merindukan lapangan dan teriakan penonton,” kata Ronny yang mengaku sudah punya modal lisensi B pelatih.*


Selasa, 28 Oktober 2014

Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions

PERINGATAN SATU TAHUN ERICK THOHIR
SEBAGAI PRESIDEN FC INTERNAZIONALE

Erick Thohir bersama pengurus ICI termasuk wanita satu-satunya, Lola Winata



ASIA merupakan pasar terbesar untuk klub sepak bola Eropa. Khususnya FC Internazionale yang dimiliki pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir. Setelah dua tahun terakhir “I Nerazzurri” melakoni tur pramusim di benua Amerika. Maka, untuk 2015 Andrea Ranocchia dan kawan-kawan dipastikan menyambangi beberapa negara di kawasan Asia.

Itu diungkapkan Erick saat menghadiri acara nonton bareng (nobar) Cesena vs FC Internazionale di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, Minggu (26/10). Acara tersebut digagas bersama Inter Club Indonesia (ICI) untuk memperingati satu tahun Erick sebagai presiden Inter.

Interisti di negara asalnya, Italia berjumlah delapan juta. Tapi, di benua Asia, jauh lebih banyak. Indonesia terdapat sekitar 18 juta Interisti, terbanyak setelah Tiongkok yang mencapai 80 juta jiwa,” ucap Erick, 44 tahun. Hanya, belum dapat dipastikan apakah musim panas mendatang Inter akan kembali ke Tanah Air atau tidak. Namun, Erick membuka peluang agar Indonesia menjadi salah satu tujuan utama timnya seperti pada 2012 lalu.

Dalam kesempatan itu, Erick menegaskan kepada ribuan Interisti yang memadati Britama Arena, mengenai status Massimo Moratti. Sejak pekan lalu, Moratti memutuskan mundur dari Inter sebagai presiden kehormatan. Padahal, Moratti merupakan presiden Inter sebelum Erick dalam dua periode pada 1995-2013.

“Saya sangat menghormati keputusan Mr. Moratti. Apakah pengunduran diri beliau terkait (rencana) pergantian pelatih? Bisa ditanyakan langsung kepada Mr. Moratti. Di sini, saya tegaskan, saya masih percaya dengan kinerja (Walter) Mazzarri. Tim sudah jauh lebih berkembang dibanding beberapa musim sebelumnya. Itu dibuktikan dengan penampilan kami di Liga Europa setelah tahun lalu absen,” Erick memaparkan.

Permintaan dari Interisti terhadap sang presiden klub


Liga Champions
Selanjutnya, pengagum eks pemain Inter era 1990-an, Nicola Ventola ini menyebut target timnya tidak berubah. Yaitu mengakhiri musim di posisi tiga atau empat klasemen Seri A. Khususnya peringkat tiga yang berujung tiket ke Liga Champions. Kebetulan, final Liga Champions 2015/16 digelar di Stadion Giuseppe Meazza yang merupakan markas Inter dan AC Milan.

“Kami berharap tahun depan kembali ke Eropa. Targetnya Liga Europa seperti musim ini. Namun, kalau bisa ke Liga Champions dengan menempati posisi tiga klasemen, kenapa tidak?” ujar Erick yang dengan sabar meladeni permintaan ratusan Interisti untuk melakukan foto bareng seusai nobar.

Sementara, menurut pengurus ICI divisi event, Deddy Rondonuwu, pihaknya kembali mengadakan nobar pekan depan. Yaitu di GOR Otista, Jakarta Timur, Minggu (2/11) saat Inter menghadapi Parma. “Meski menang tipis, tapi kami sebagai Interisti tetap mendukung penampilan Inter. Selanjutnya, di GOR Otista, akan diadakan nobar besar-besaran dengan anggota ICI dari Jabodetabek,” kata Deddy.*

Erick Thohir melayani selfie dari ratusan Interisti di Britama Arena

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi Selasa, 28 Oktober 2014 

Momen Berkesan Ronny Wabia di Piala Asia 1996

Duet sehati. Itulah julukan masyarakat terhadap Ronny Wabia dan Widodo Cahyono Putro. Keduanya merupakan salah satu tandem paling dikenal sepanjang sejarah tim nasional (timnas) Indonesia.

Maklum, baik Ronny maupun Widodo tampil impresif di Piala Asia 1996. Mereka sama-sama mengemas dua gol ke gawang yang identik pula, Kuwait dan Korea Selatan (Korsel). Bahkan, Ronny sukses memberi assist kepada Widodo yang berhasil mencetak gol terindah ke gawang Kuwait melalui tendangan salto. Gol tersebut hingga kini disebut sebagai salah satu gol terbaik yang tercipta di Piala Asia.

“Tentu, saya masih mengingat momen berkesan tersebut. Hingga kini, saya tetap terharu ketika bola yang saya sodorkan ke Widodo berhasil dieksekusi melalui tendangan salto,” kata Ronny, 42. “Hebatnya, dia melakukan itu tanpa menoleh ke gawang sekaligus mengecoh lima barisan bek Kuwait. Itu membuktikan insting Widodo sebagai predator di antara bomber Asia lainnya.”

Setelah lewat belasan tahun, Ronny tetap menyebut Widodo sebagai sahabat di dalam dan luar lapangan. Begitu juga dengan Widodo yang kini menjadi pelatih Persegres Gresik United, tidak melupakan rekan setimnya tersebut.

Bahkan, saat Gresik bertandang ke Jayapura pada 28 April lalu, tempat yang dituju Widodo adalah kediaman Ronny. “Iya, kami sempat foto bersama, manggang berbeque, hingga karaoke bareng sambil bercerita saat masih satu tim,” tutur Ronny.

Meski sudah pensiun sebagai pemain profesional, Ronny tidak pernah melewatkan berita dan informasi sepak bola. Sosok yang kini menjabat sebagai ketua teller di Bank Papua cabang Jayapura itu, masih berhasrat kembali ke dunia sepak bola yang telah membesarkannya. Terutama karena sejak setahun silam dia telah mengambil lisensi kepelatihan grade B dari AFC.

Rencana Melatih

“Tentu dong. Saya ingin kembali lagi berkecimpung di dunia sepak bola, terutama menjadi pelatih. Hanya, itu semua kemungkinan bisa terwujud sekitar lima tahun ke depan. Karena, saya masih ingin konsentrasi di pekerjaan saya ini. Tapi, jika ada beberapa sahabat lama seperti Widodo dan pemain lawas lainnya yang berkunjung ke Jayapura, saya selalu menerimanya dengan senang hati,” pria yang mencetak empat gol bersama timnas Indonesia ini mengungkapkan.

Selanjutnya, Ronny juga berpesan kepada pemain yang membela timnas saat ini. Yaitu, agar lebih menjunjung tinggi sportivitas dan bangga bagian dari skuat “Garuda”. “Iya, Boaz (Salosso) dan lainnya harus punya semangat nasionalisme yang tinggi membela timnas. Itu agar timnas bisa berprestasi lebih dan ujung-ujungnya pemain juga yang akan mendapat berkah,” ujar Ronny, semringah.*

Sisi Lain Pemanis Sirkuit



DALAM dunia olahraga, selain pelaku utama, baik tim maupun individu tidak lepas dari dukungan pihak lainnya. Terutama yang berasal dari kaum hawa sebagai faktor pemanis yang terkadang bisa sebagai pelepas bosan bagi penonton saat menyaksikan pertandingan.
Itu terjadi di sepak bola ketika sekumpulan penggemar perempuan, terutama kekasih atau istri. Mereka dikenal sebagai Wives and Girlfriends (WAGS) yang selalu mendukung pemain atau tim pujaannya berlaga.

Hal sama berlaku di arena tinju, ketika gadis-gadis cantik membawakan papan ronde yang bisa melepas suasana emosional akibat panasnya pertarungan. Juga peran caddy yang sangat membantu seorang pemain di lapangan golf.

Sementara, di arena balap juga terdapat istilah Umbrella Girls atau gadis yang memayungi pembalap sebelum start. Inti dari profesi mereka sama, sebagai penunjang kepopuleran suatu cabang olahraga. Selain itu, keberadaannya juga tidak hanya sekadar pelengkap atau pemanis belaka, melainkan untuk menyegarkan suasana agar tidak kaku di lintasan balap.

Hanya, adakalanya, peran Umbrella Girls kerap mendapat pandangan yang kurang baik. Maklum, busana yang mereka kenakan terkadang sangat minim. Itu membuat sebagian pihak kerap memandang profesi mereka dengan stigma negatif. Namun, tidak semua Umbrella Girls di arena balap seperti yang ditudingkan tersebut.

Itu diungkapkan Cindy Maulida yang sejak 2009 berprofesi sebagai pembawa payung di lintasan balap. Menurut dara manis penggemar bulutangkis ini, pekerjaan yang dijalaninya itu sebenarnya sama dengan profesi lainnya. Namun, mahasiswi semester delapan di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengakui masih ada stigma negatif dari sebagian pihak mengenai Umbrella Girls.

“Anggapan itu pasti ada, tapi tergantung persepsi orang juga,” kata Cindy, 24 tahun. “Yang pasti, selama ini saya belum pernah mengalami hal yang aneh-aneh. Memang sih, saya sering mendengar ada teman yang kerap digoda bos-bos nakal. Hanya, sekali lagi itu tergantung dari reaksi orang itu sendiri. Yang pasti, saya menjalani ini dengan niat baik.”

Dinamika Hidup

Apa yang dituturkan Cindy tidak jauh berbeda dengan rekannya, Finny, yang ditemui TopSkor di ajang Indoprix 2013, Sirkuit Sentul, Minggu (22/5). Mahasiswi jurusan Public Relations ini menganggap wajar dengan stigma negatif tersebut.  

“Pastinya, profesi yang saya jalani atas izin keluarga dan tidak sampai menyinggung khalayak ramai. Mengenai pro dan kontra keberadaan Umbrella Girls, itu merupakan dinamika dalam hidup,” ujar pengagum berat rider tim Yamaha Factory Racing di MotoGP, Jorge Lorenzo.
Ketika disinggung mengenai bayaran yang diterima dari sebuah ajang balap. Baik Cindy maupun Finny serempak menyebut nominal di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung kualitas event tersebut. Di sisi lain, keduanya selalu bersikap profesional terhadap pembalap yang dipayungi maupun pihak promotor.

“Kami hanya sebatas menjalin hubungan pekerjaan, termasuk sekadar tukaran nomor ponsel. Tidak lebih,” tutur Cindy. “Tujuan saya mendukung pembalap dan tim sebelum balapan dimulai. Selepas acara, saya kembali menjadi mahasiswi yang harus fokus untuk belajar,” Finny, menambahkan.*

- Jakarta, 28 Oktober 2014 (Artikel ini dimuat di Harian TopSkor 27 Oktober 2014)

Jumat, 24 Oktober 2014

Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa?


Patrice Evra dan kawan-kawan belum mampu berbicara di Liga Champions


MUNGKIN tudingan banyak pihak yang menilai Juventus sebagai tim “jago kandang” itu memang benar. Yaitu, tim yang hanya sukses di kompetisi domestik atau “cuma” bisa menang jika tampil di markasnya sendiri.

Anggapan itu memang tidak salah. Lihat saja faktanya, Juventus merupakan penguasa Seri A dengan 30 kali juara. “Si Nyonya Tua” unggul jauh dibanding dua pesaing dekatnya yang sama-sama baru meraih 18 trofi, AC Milan dan FC Internazionale.

Namun, bagaimana prestasi Juventus di kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions? Miris! Kesan tim yang identik dengan seragam hitam putih itu baru dua kali juara. Catatan itu sama dengan yang ditorehkan tim semenjana Eropa lainnya seperti Porto, Benfica, dan Nottingham Forets.

Menjadi ironis, sebab dua rivalnya di Italia malah sudah mengumpulkan 10 trofi. Milan memimpin dengan tujuh kali juara diikuti Inter yang meraihnya tiga kali. Fakta itu tentu membuat Juventini –julukan fan Juventus– menjadi miris.

Meski, sebagian kecil dari mereka dengan lantang menyebut Juventus merupakan klub pertama yang meraih Plakat UEFA. Itu berkat keberhasilan mereka meraih trofi utama di kompetisi Eropa. Mulai dari Piala Winners, Piala UEFA –kini Liga Europa–, dan Liga Champions.

Namun, itu hanya penghargaan nonformal. Pasalnya, dua rivalnya di Italia (lagi-lagi) justru menorehkan catatan yang lebih “wah”. Sebut saja, Milan yang dijuluki “Pangeran” di Liga Champions karena prestasinya hanya di bawah Real Madrid yang meraih 10 trofi. Berkat statistik itu, di Seri A, hanya Milan yang kerap mendapat julukan “DNA-Eropa”.

Sementara, Inter merupakan klub Italia pertama yang mampu meraih “Treble” pada 2009/10. Parameternya, dengan menjuarai Seri A, Piala Italia, dan Liga Champions dalam semusim. Inter bersanding dengan tiga raksasa Eropa lainnya yang juga pernah meraihnya. Mereka adalah Manchester United, Barcelona, dan Bayern Muenchen.

Tapi, sudahlah. Membicarakan prestasi Juventus di Eropa, terutama membandingkannya dengan Milan dan Inter tentu tiada habisnya. Debat kusir itu sama seperti mengatakan, siapa pemain terbaik dunia sepanjang masa? Ada yang menyebut Pele, Diego Maradona, Franz Beckenbauer, Michel Platini, atau Gaetano Scirea. Sisi positifnya bagi Juventini, klub favorit mereka bermain di Liga Champions musim ini ketimbang Milan yang absen dan Inter hanya tampil di Liga Europa.

Terancam Tersingkir

“Diangkat setinggi langit, lalu dijebloskan ke dasar bumi.” Adagium lawas itu pantas disematkan saat menyaksikan perjalanan Juventus di Liga Champions musim ini. Skuat asuhan Massimiliano Allegri itu berhasil meraih kemenangan meyakinkan atas Malmo FF 2-0 pada laga perdana di Juventus Stadium. Sedangkan, rival terkuat mereka sekaligus runner-up musim lalu, Atletico Madrid dibekap Olympiakos 2-3.

Nah, konstelasi keempat tim yang tergabung di Grup A itu berubah memasuki pekan kedua. Sebab, Juventus ditekuk Atletico 0-1 di Vicente Calderon dan Malmo mengalahkan Olympiakos 2-0. Sejak itu nada minor yang menyebutkan “I Bianconeri” sebagai tim jago kandang, sayup-sayup terdengar kembali.

Puncaknya, ketika Carlos Tevez dan kawan-kawan kembali menelan kekalahan 0-1 dari Olympiakos pada laga ketiga di Grup A. Duel di Stadion Georgios Karaiskaki, Rabu (22/10) atau Kamis dini hari jadi penegasan stigma “jago kandang” tersebut. Sebab, Juventus memang babak belur di kasta tertinggi sepak bola Eropa itu.

Mereka kini hanya menempati posisi ketiga Grup A dengan nilai tiga poin hasil dari sekali menang dan dua kekalahan. Perolehan  poin Juventus setara dengan Malmo meski unggul selisih gol. Hanya, jawara Liga Champions 1984/85 dan 1995/96 itu tertinggal dari Atletico yang memuncaki klasemen sementara dengan dua kemenangan dan sekali kalah. Pada urutan kedua ada Olympiakos yang memiliki nilai sama dengan Atletico namun kalah agresivitas gol.

Tak pelak, berdasarkan hasil tiga pertandingan itu membuat kans Juventus melaju ke babak 16 besar menjadi sulit. Bahkan, kegagalan lolos seperti musim lalu saat ditangani Antonio Conte mulai membayangi Allegri. Pasalnya, mereka memiliki selisih tiga poin dari Atletico dan Olympiakos.

Sapu Bersih

Meski secara matematis harapan Juventus untuk lolos tetap ada dengan syarat menyapu bersih kemenangan pada tiga laga sisa. Apalagi, dua dari tiga pertandingan itu bakal digelar di kandang sendiri. Yaitu saat menjamu Olympiakos pada 4 November dan Atletico (9/12). Satu-satunya laga tandang mereka saat menghadapi Malmo (26/11).

Namun, ambisi “sapu bersih” itu sepertinya pun sukar terjadi jika menyimak perjalanan mereka dalam tiga laga sebelumnya. Sebab, dalam periode itu Juventus hanya mampu mencetak dua gol dan tertinggal jauh dari Olympiakos (empat gol) serta Atletico (delapan gol). Dengan minimnya produktivitas mereka, rasanya sulit menyaksikan para pemain Juventus mencetak lebih dari satu gol setiap pertandingan.

Fakta itu menjadi ironis mengingat di kompetisi domestik, “La Vecchia Signora” sudah mengemas 14 gol dari tujuh laga. Rasio gol mereka mencapai dua gol per pertandingan musim ini. Catatan gol Juventus di Seri A itu setara dengan AS Roma dan hanya kalah dari Milan yang mengemas 16 gol.

Menilik komparasi seperti itu, wajar jika banyak yang menilai Juventus hanya tim jago kandang. Alias, superior di Seri A tapi melempem di Liga Champions. Atau, dengan kata lain, performa Juventus yang meraih tiga scudetto beruntun di kompetisi domestik, sesungguhnya belum layak tampil di Eropa?***

Opini  ini dimuat di Harian TopSkor edisi 24 Oktober 2014



Nobar Liverpool vs Real Madrid di Kampus Trilogi


Ketika Dua Kelompok Suporter Saling Respek

Suasana nobar Liverpool vs Real Madrid di Kampus Trilogi


REAL Madrid dan Liverpool merupakan dua klub besar di Eropa. Secara total, mereka sudah mengoleksi 15 trofi Liga Champions. Madrid yang berasal dari Spanyol memimpin dengan 10 kali juara dan Liverpool (Inggris) lima kali. Puncak rivalitas kedua tim terjadi pada final 1980/81 yang dimenangkan Liverpool atas raksasa La Liga tersebut.

Namun, 33 tahun kemudian, “The Reds” –julukan Liverpool– justru dibuat tak berdaya oleh Madrid. Bahkan, Steven Gerrard dan kawan-kawan dipermalukan tiga gol tanpa balas di Stadion Anfield. Fakta itu membuat suporter Liverpool yang menyaksikan pertandingan melalui nonton bareng (nobar) jadi tertunduk.

Aula Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta, Kamis (23/10) dini hari WIB jadi saksi wajah-wajah lesu fan Liverpool. Namun, tidak sebaliknya untuk “Madridista” –suporter Madrid– yang tampak berpesta menyaksikan tim kesayangannya menang 3-0. Ya, kedua suporter yang kalau ditotal sekitar ratusan orang itu memang mengadakan nobar serempak.

Selain demi mendukung tim masing-masing, mereka juga tetap respek terhadap pendukung lawan. Bahkan, seusai laga, puluhan Madridista “menggeruduk” barisan fan Liverpool untuk sama-sama menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone. Mereka saling berjabat tangan satu sama lain. Tampak, suasana kebersamaan itu menghapus rivalitas kedua pendukung sepanjang 90 menit pertandingan.

“Enaknya gini kalo nobar sama anak-anak Liverpool, terus bareng Madridista asyik-asyik orangnya. Ini saya sampai menyeret anak buah Louis van Gaal, biar selama 90 menit dukung Liverpool,” ujar Yenni, salah satu fan Liverpool meledek pacarnya yang kebetulan fan Manchester United. Meski kalah, tapi raut wajah Yenni dan rekan-rekannya tetap ceria.

Fan Madrid tetap respek terhadap suporter Liverpool


El Clasico di Otista

Sementara, Hafizh Alkautsar Septian, 21 tahun, bersyukur Madrid bisa menang di markas Liverpool yang selama ini angker, “Sayangnya ‘Los Blancos’ cuma menang 3-0. Meski begitu, saya yakin hasil di Anfield bisa membuat Madrid mengalahkan Barcelona pada ‘El Clasico’ nanti.”

Ya, Sabtu (25/10) Madrid akan menjamu musuh bebuyutannya, Barcelona di Santiago Bernabeu. Tak heran jika, kemenangan atas Liverpool membuat ratusan Madridista optimistis timnya bisa melakukan hal yang sama pada “El Clasico”. Itu diungkapkan Ihsan Haikal, Ketua Pena Real Madrid Indonesia (PRMI) yang mengadakan nobar tersebut.

“Kemenangan telak malam ini merupakan pesan serius untuk Barcelona agar berhati-hati di Bernabeu. Lihat saja faktanya, meski tidak diperkuat (Gareth) Bale dan (Sergio) Ramos, tapi Madrid tetap bisa menggilas Liverpool,” tutur Ihsan yang menyebut PRMI kembali mengadakan nobar “El Clasico” di GOR Otista, Jakarta Timur, akhir pekan ini.*

Suporter Liverpool tetap semangat mendukung tim kesayangannya



Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 24 Oktober 2014