TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 40 Tahun Alessandro Del Piero

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Selasa, 11 November 2014

40 Tahun Alessandro Del Piero

Del Piero di halaman depan La Gazzetta (Foto: Gazzetta.it)


"Life begins at forty, atau, hidup dimulai pada usia 40 tahun.” Adagium lawas itu pantas disematkan kepada legenda sepak bola Italia: Alessandro Del Piero. Minggu (9/11) suami dari Sonia Amoruso ini genap 40 tahun. Bukan usia yang muda lagi, khususnya bagi pemain yang memiliki posisi sebagai striker.

Namun, Del Piero ingin terus bermain hingga benar-benar tidak sanggup. Itu diutarakannya sejak hengkang dari Juventus yang memilih Sydney FC dan kini Delhi Dynamos. Berikut penuturan Del Piero kepada La Gazzetta dello Sports:

Ale, katakan sejujurnya, pada usia 40 tahun ini Anda pernah berpikir sudah tua? Bagaimana perasaannya?

Sama seperti orang lain yang keliru berpikir usia 40 tahun mungkin sudah tua. Itu wajar, khususnya dari anak muda yang menilai usia 40 tahun. Tapi, bagi saya, dalam usia seperti sekarang justru membuat pribadi lebih matang.

Ketika merasakannya pertama kali, apakah Anda merasa terlalu cepat?

Saya tidak menderita nostalgia. Itu karena saya merupakan individu yang gembira dengan waktu yang telah dijalani. Tapi, memang ada beberapa momen dalam hidup yang kerap selalu terkenang. Bagi saya, hal itu terjadi ketika ayah saya meninggal. Dan ketika saya kemudian akhirnya menjadi ayah.

Apakah Anda melihat sosok Del Piero dalam diri anak-anak Anda?

Waktu terus berubah. Ya, saya kerap melihat mereka (anak-anak) seperti mirip saya. Tapi, mereka kini sedang menjalani hidup yang sama sekali berbeda.

Kenangan pertama dalam hidup Anda?

Saat melihat foto saya masih kecil dengan memeluk bola.

Nasihat ayah Anda yang masih diingat hingga kini?

Tidak ada. Beliau tidak pernah berkata-kata kepada saya. Tapi, ayah selalu memberi contoh melalui perilakuknya.

Pada hari ulang tahun kemarin, siapa yang pertama-tama mengucapkan selamat?

Sonia (istri) dan anak-anak. Saya sangat merindukan mereka.

Apa yang pergi dari Anda ketika sudah berusia 40 tahun?

Cinta publik seringkali datang dan terkadang tidak selamanya mudah memperlihatkan apa yang ada dalam diri. Seiring dengan berjalannya waktu, saya belajar untuk memeprcayai hal ini dan sekarang persepsinya lebih setia.

40 tahun ini dalam ke depannya selalu ada perubahan. Menurut Anda, apa yang masih terlihat abadi?

Pengalaman dasar, formasi, dan apa yang telah saya pelajari dari orangtua. Mereka mengajarkan bahwa kalau saya mau dan ternyata saya tidak pernah menginginkannya, saya tidak pernah berhasil melupakannya.

Apakah sepak bola mendorong Anda berkeliling dunia atau keinginan untuk mengenal dunia yang mendorong Anda ke lapangan meski sudah 40 tahun?

Ada kesadaran untuk membagi konsep permainan sepak bola dibanding sebagai Juventini. Memang perlu diakui bahwa betapa luar biasanya, unik, dan tidak bisa tergantikan ketika saya masih di Turin. Setelah itu saya menyadari untuk terus bermain di Sydney dan kini Delhi.

Hadiah apa yang ingin Anda dapatkan pada hari ulang tahun?

Saya menginginkan sebuah gol.

Dalam berbagai peristiwa, menurut Anda tahun yang berkesan?

2006 saat kami memenangkan Piala Dunia di Jerman.

Ada yang lain?

Karena saya dan beberapa pemain memilih bertahan di Juventus meskipun terdegradasi ke Seri B. Itu membuktikan kami memiliki loyalitas kepada klub.

Atlet yang paling Anda kagumi?

Michael Jordan.

Anda masih punya impian?

Ya, kita tidak boleh berhenti untuk bermimpi.

Mari kita bermain dengan nomor 40. Ali Baba dan 40 penyamun dan 40 penyamun itu tidak pernah menghina Juventus.

Saya tahu apa yang kami menangkan dan bagaimana memenangkannya. Kerja keras dan memang layak semuanya dari awal sampai poin terakhir.

Periode hitam dalam kehidupan Anda?

Saat mengalami cedera panjang dalam karier di Seri A.

Pertandingan yang membosankan?

Tidak ada. Sepak bola merupakan permainan yang membuat saya bergairah.

Anda tidak pernah merasa bosan dalam latihan?

Tentu saja. Tapi, pada akhirnya saya selalu ingin tetap berada di tempat latihan. Dan lagi, bola selalu memberikan saya senyuman.

Gol yang Anda cetak ke gawang Fiorentina tepat saat berusia 20 tahun. Apakah Anda kenangan itu masih memengaruhi Anda?

Saya tidak tahu apakah gol tersebut merupakan yang terindah. Mungkin bukan yan gterpenting tapi saya belajar bahwa yang paling penting adalah bermain dengan sepenuh hati. Selain gol itu, jelas gol saya ke gawang Jerman di Piala 2006 yang paling berkesan.

Setelah bermain di India, Anda ingin bertualang lagi?

Saya belum bisa menjawabnya.

Apa pengaruhnya setelah Anda kini bertemu kembali dengan mantan rekan setim di Juventus, David Trezeguet.

Sungguh sangat bagus. Hampir 10 tahun kami bermain bersama di tim yang sama. Trezeguet pemain hebat bagi saya.

Apakah Anda sempat merancang sebuah tim ideal di usia 40 tahun: 10 pemain ditambah Del Piero?

Mamma mia! Sulit sekali. Bahkan tidak mungkin terjadi. Saya sudah pernah bemain dengan dan melawan para kampiun hebat. Saya juga sudah banyak meraih kemenangan. Tapi, sejak kecil saya pernah memiliki impian untuk bermain bersama (Michel) Platini dan (Diego) Maradona.

Masa depan Anda selanjutnya?

Masa depan saya akan terbangun dari hari ke hari, dari satu pengalaman  ke pengalaman yang lain. Ini susah dijelaskan. Tapi, saya sedang belajar untuk menjalaninya nanti.

Manakah yang paling baik Anda lakukan di luar lapangan.

Bersama Tobias, Dorotea, dan Sasha.

Bagaimana mungkin sosok seperti Del Piero tidak ada otobiografinya di perpustakaan?

Saya tidak ingin mengukur diri sendiri dengan sesuatu yang definitif.

Lagu yang Anda suka.

Sulit sekali untuk memilihnya. Mungkin salah satu dari U2.

Film favorit Anda?

Juga sangat sulit. Sepertinya berjdul “Seven Years In Tibet”.

Pertandingan paling berkesan?

Italia versus Jerman 2-0 di Dortmund, 4 Juli 2006.

Penyesalan paling besar?

Secara sportif yaitu soal cedera panjang. Memang setelah itu membuat saya lebih tangguh, tapi juga saya harus absen satu musim.

Kebahagiaan paling besar?

9 Juli 2006, bersama Italia menjadi juara Piala Dunia.***

Profil Alessandro Del Piero
Lahir: 9 November 1974
Tempat: Conegliano, Italia
Posisi: Striekr
Tinggi: 173 cm
Berat: 73 kg
Karier Klub:
Padova: 1991-93 (main 14/ gol 1)
Juventus: 1993-12 (513/208)
Sydney 2012-14 (48/24)
Delhi Dynamos: Juli 2014-sekarang (6/0)




Artikel ini diambil dari Harian TopSkor edisi 10 November 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)