TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Google Adsense 2016

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Asus Zenvolution 2016

Asus Zenvolution 2016
Sensasi Tiga Hari yang Berkesan di Bali saat Mengikuti Asus Zenvolution 2016

Rabu, 28 September 2016

Adu Ketangkasan di Lapangan Futsal

Adu Ketangkasan di Lapangan Futsal



MENSANA Incorpore Sano. Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Demikian adagium lawas yang konon selalu dipakai insan olahraga di kolong langit. Ya, dengan tubuh yang kuat, tentu akan tercipta juga jiwa yang sehat. Boleh percaya boleh tidak. Faktanya, dari dulu memang seperti itu.

Salah satu cara agar tubuh kuat dan jiwa sehat ya dengan berolahraga. Termasuk, bermain futsal. Tidak hanya sekadar olahraga saja, melainkan bisa dijadikan sebagai ajang reuni, kopi darat, hingga kumpul bersama rekan sekantor.

Itu yang kerap saya lakukan bersama beberapa rekan sekantor nyaris setiap pekan. Tepatnya, jelang memulai rutinitas sehari-hari. Terbukti, dengan melakukan olahraga seperti futsal, sepak bola, atau bulutangkis yang biasanya kami lakukan, bisa membuat tubuh lebih segar.

Apalagi, futsal cukup mudah untuk dilakukan. Yang penting, ada lapangan kosong baik terbuat dari rumput rumput, sintetis, atau tanah lapang. Intinya, bisa bal-balan. Kebetulan, perusahaan tempat saya bekerja bergerak di bidang media olahraga. Jadi, setiap pekan kami rutin melakukan olahraga. Mulai dari ketika kantor masih di Pluit, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), hingga kini di Pejompongan.

Hanya, memang mencari lapangan bulutangkis yang indoor agak sulit. Sementara, kalau di tempat terbuka, harus bergantung pada kecepatan angin yang bisa menghambat laju kok. Beda lagi dengan futsal atau sepak bola, yang ketersediaan lapangan di Jakarta sangat banyak.

Tinggal pilih, mau sewa per jam mulai Rp 80 ribu, Rp 150 ribu, hingga Rp 1 juta ke atas. Ya, ada harga ada rupa. Alias, kita membayar apa yang pantas kita dapatkan. Yang penting, bisa tetap melakukan bal-balan yang tidak hanya menguras keringat saja, melainkan juga membuat segar menjelang bekerja.

*        *        *
SIANG itu, langit ibu kota sangat cerah. Namun, kami yang sehari-hari berpengalaman menghadapi anomali cuaca di Jakarta, tentu sudah paham. Sebab, memasuki September ini, hanya dalam hitungan menit, teriknya sang surya bisa berganti dengan guyuran sang dewi hujan. Itu terjadi kemarin di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Menjelang dimulainya futsal, cuaca sangat panas. Tapi, ketika seperempat babak, tiba-tiba mendung menggelayuti kawasan urban itu hingga hujan turun bak air bah. Meski harus basah-basahan, kami -yang memang sudah biasa- tetap asyik menendang bola dari satu kaki ke kaki lainnya. Termasuk, saya yang kebetulan jadi kiper.

Oh ya, untuk futsal ini, saya harus akui, beberapa rekan kantor memiliki stamina yang luar biasa. Khususnya yang sudah kepala empat, namun tenaga dan semangatnya tidak kalah dengan kami-kami yang dua dekade lebih muda. Saya saja yang tampil bak Gianluigi Buffon harus kepayahan menghadapi gempuran dari beberapa rekan yang jebolan U-40 timnas.

Tapi, di situlah asyiknya. Sebab, dengan bermain futsal, kami larut dalam kegembiraan. Tidak penting tim mana yang menang atau kalah. Yang utama, kami bisa mencari keringat sekaligus kegembiraan sepanjang lebih dari satu jam. Tak jarang, tawa pun  mengalir tiba-tiba meski sedang dalam situasi krusial di depan gawang. Ya, selalu ada senyum dari lapangan tersebut.

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

*        *        *

Artikel Terkait:

Kegiatan TopSkor
Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta
Sensasi Menelusuri Sungai Citarik 9 Km
11 Tahun Harian TopSkor
Menikmati Segarnya Air di Curug Nangka yang Memesona
(Esai Foto) Di Balik Liburan ke Curug Nangka (I)
(Esai Foto) Di Balik Nobar Liverpool Vs Leicester di Sevel Bintaro Sektor 7
Trilogi Edu Krisnadefa: Jurnalis, Blogger, dan Rocker!
Hari Ini Setahun yang Lalu: Selamat Jalan Bang Faqih
Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini
Kenangan Bersama Andrea Pirlo saat Masih Perkuat Juventus
Wawancara Eksklusif: Giorgio Chiellini: Saya Cinta Juventini Indonesia!
Wawancara Eksklusif: Andrea Pirlo: Allegri bisa Memberi yang Terbaik 
Wawancara Eksklusif: Claudio Marchisio: Cuaca di Jakarta Seperti di Manaus
Rahmad Darmawan Sosok Penyayang Keluarga
Sisi Lain Rahmad Darmawan (RD)

Opini TopSkor
Jadi Penonton di Rumah Sendiri (II)
Nobar dengan Suasana Pantai
Titik Nadir Sepak Bola Italia?
Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin (Bei Shui Yi Zhan)
Menanti Juventus Menguji Sejarah
Tujuh Tempat Nobar Asyik di Jakarta
Ketika Pep di-PHP Max
Apalah Artinya Sebuah Nama

*        *        *

- Jakarta, 28 September 2016

Kamis, 22 September 2016

Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta


Taman Film yang masih satu lokasi dengan Taman Jomblo (Pasupati)

"KALO ke sini, mampir di Taman Jomblo. Ntar kita kongkow lagi sambil ngopi, ngeteh, atau nyusu. Tamannya keren, ga kalah sama (Taman) Menteng dan Taman Ayodya." Demikian pesan dari kawan yang tinggal di Bandung melalui aplikasi grup chatting. Sebelumnya, saya sempat mengabari akan berada di "Kota Kembang" selama tiga hari untuk meliput Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX.

Mojang kelahiran Cadas Pangeran, Sumedang itu menyanggupi untuk jadi guide. Tentu saja, tawaran tersebut saya tolak. Sebab, kehadiran saya di Bandung bukan untuk rekreasi, melainkan karena tugas kantor. Beda lagi jika itu memang sedang liburan. Beliau pasti saya hubungi bersama beberapa rekan seangkatan yang sama-sama pernah bertualang di ladang emas hitam.

Maklum, meski Jakarta-Bandung hanya dua jam lewat jalan tol, kenyataannya sulit untuk kami bereuni. Ada saja halangan yang menyebabkan kegagalan untuk kumpul-kumpul di toko buku yang merangkap sebagai kafe di kawasan Dipati Ukur seperti satu dekade silam. Teranyar, Idul Fitri lalu, giliran saya yang membatalkan rencana karena suatu hal.

"Btw, tuh taman khusus untuk Jomblo. Cocok dengan dirimu yang selalu single. Tontowi Ahmad sama Liliyana Natsir aja udah dobel pas dapet emas di (Olimpiade) Rio," ujarnya, memberi analogi pebulutangkis ganda campuran yang sukses meraih medali emas Olimpiade pada 17 Agusus lalu.

*         *        *
PAGI itu, Sabtu (17/9) saya kembali berkumpul di kantor yang terletak di jantung ibu kota. Tentu, kali ini bukan untuk rekreasi seperti pekan sebelumnya untuk rafting di Sungai Citarik, Sukabumi. Melainkan, menuju Bandung yang sejak sebulan terakhir atmosfer PON XIX sudah terasa.

Setelah sempat berhenti di rest area untuk makan, dan mojok -bagi ahli hisap-, kami tiba sebelum matahari di atas kepala. Usai istirahat sejenak di penginapan di kawasan Cisangkuy, kami yang berjumlah tujuh orang pun melanjutkan acara dengan berpencar. Ya, sejak sepekan sebelumnya, sudah dibagi daftar venue dan jadwal pertandingan yang akan diliput.

Kebetulan, saya kebagian di kawasan tengah (GOR Saparua) tidak begitu jauh dengan Taman Jomblo. Itu mengapa, setelah mendapat rencana tugas, saya langsung mengontak beberapa teman di Bandung.

Sementara, rekan lainnya ada yang di kawasan UPI, Stadion Siliwangi, Arcamanik, hingga Stadion GBLA untuk pembukaan yang didatangi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ya, arena pertandingan PON XIX pada 44 cabang olahraga ini memang tersebar di berbagai wilayah.

Tidak hanya Bandung kota saja, melainkan Bandung kabupaten, Lembang, Sumedang, Pangandaran, Indramayu, hingga Bogor, yang merupakan tetangga Jakarta. Bisa dipahami mengingat PON merupakan pesta olahraga yang diselenggarakan provinsi. Bedakan dengan Olimpiade yang khusus untuk satu kota atau satelitnya, misal Olimpiade 2016 di kota Rio de Janeiro saja.

*         *        *
WANGI tanah yang basah setelah hujan menyelimuti saya ketika menginjakkan kaki di Taman Pasupati. Ya, itu merupakan nama asli dari Taman Jomblo yang diresmikan pada 4 Januari 2014. Letaknya, di bawah jembatan layang Pasupati yang merupakan akronim untuk menghubungkan Jalan Pasteur dengan Jalan Surapati.

Masih dalam kawasan tersebut, ada layar berukuran raksasa yang menayangkan film Hachiko: A Dog's Story. Yaitu, remake versi Hollywood dari film Jepang berjudul Hachiko Monogatari yang bercerita tentang kesetiaan anjing pada majikannya dengan menunggu di stasiun. Tidak hanya sehari saja, melainkan hingga akhir hayatnya. Oke, lupakan film yang menurut "Tomat Busuk" mendapat rating 62% dan IMdB (8,1), karena jika saya sempat akan saya buat reviewnya.

Taman Pasupati dan Taman Film yang berdekatan -mudahnya, sebut Taman Jomblo- lokasinya sangat strategis. Hanya seperlemparan batu dari beberapa tempat menarik di "Paris van Java". Seperti, Cihampelas yang berderet patung superhero raksasa sebagai sentra jeans, Dago, Gedung Sate, ITB, Istana Plaza, dan Dipati Ukur.

Tak heran jika taman ini jadi salah satu tujuan utama warga Bandung. Baik anak sekolah, remaja, keluarga, hingga... Berpasangan! Ya, menurut salah satu penjual cemilan yang saya tanya, di Taman Jomblo juga kerap jadi ajang tembak-menembak!

Persentasenya sih konon katanya masih banyakan pria, sekitar 90 persen -kata pak penjual- dan sisanya wanita yang menembak nah lho!. Nah, masalah diterima atau tidak, itu hanya dijawab anggukan saja dari penjual makanan ringan tersebut. Bisa jadi, lebih banyak ditolak yang membuat mitos Taman Jomblo benar adanya. Yaitu, jangan datang jika membawa pasangan atau saat pedekate.

"Kadieu duaan, ari balik mah  masing-masing," ujar salah satu pedagang minuman kaleng, mengomentari sambil tertawa. Ngerti bahasa Sunda? Silakan terjemahkan sendiri :)

*         *        *
YANG paling saya suka dari Taman Jomblo ini dekorasinya sangat unik. Selain bisa untuk bermain futsal, juga dapat dijadikan selonjoran kaki sambil istirahat. Tak jarang, ada beberapa warga yang ketiduran beneran.

Apalagi, fasilitasnya lumayan lengkap dengan keberadaan toilet umum dan musala untuk ibadah. Pun dengan makanan dan minuman yang tersebar luas di sekitar taman. Baik itu yang dipikul, gerobak, kios, hingga warung nasi di pinggir jalan yang harganya murah meriah.

Termasuk, saya yang nyender untuk mengerjakan tugas sambil ditemani tiga kawan seperjuangan dulu. Kebetulan, mereka menyuguhkan berbagai makanan -maklum saya tamu :)- seperti Tahu Sumedang, Batagor, hingga Es Cendol Elizabeth, yang membuat sore itu jadi lebih berwarna.

Sebelumnya, sambil mencoba ponsel anyar, Zenfone 3 Asus Z017DB (ZE520KL), saya asyik menjepret berbagai pemandangan menarik. Termasuk, mempelajari cara memotret asyik dari smartphone. Bisa dipahami mengingat kamera belakang Zenfone 3 ini memiliki resolusi 16 megapixel. Apalagi, dengan berbagai fitur canggih yang membuat saya larut untuk jepret-jepret di sekitar taman.

Ketika melirik arloji di tangan kiri saya memperlihatkan 180 derajat. Itu berarti, sudah saatnya saya kembali ke hotel untuk memulihkan tenaga agar pagi harinya dalam kondisi bugar karena harus berkeliling dari satu venue ke arena olahraga lainnya. Pun, begitu dengan ketiga rekan yang akan melanjutkan aktivitasnya masing-masing menjelang pergantian hari.

Sambil menuju jalan, kami berpapasan dengan pengunjung lain. Ada yang berpasangan dan ada juga yang sendirian dengan langkah gontai. Seketika, saya jadi teringat dengan perkataan penjual cemilan tersebut...

*         *        *
Satu hotel dengan Kontingen asal Sulawesi Selatan

*         *        *
Tidak hanya untuk Jomblo dan Film saja, di Bandung pun ada Taman Lansia  

*         *        *
Taman Pasupati

*         *        *
Sudut jalan Pasupati

*         *        *
Memotret Taman Pasupati dengan Zenfone 3 yang setting waktunya dilambatkan 10 detik

*         *        *
Taman Pasupati yang selalu ramai dikunjungi warga

*         *        *
Arena Skate Board gratis untuk yang hobi berseluncur

*         *        *
Awas... Jatuh

*         *        *
Senja itu...

*         *        *
Fasilitas lumayan lengkap dengan adanya musala dan toilet

*         *        *
Salah satu film yang diputar: MI: Rogue Nation

*         *        *
Bandung... Juara!

*         *        *
Menjelang pergantian hari...
*         *        *
Artikel Taman Sebelumnya:

- Tujuh Taman Gratis di Jakarta yang Layak Dikunjungi
- Menikmati Segarnya Udara Taman Terbuka di Mal Central Park
- (Esai Foto) Menikmati Senja di Taman Ayodia dan Perpustakaan Terapung
- Pengalaman Ngabuburit di RPTRA Krendang
Melepas Lelah dengan Segelas Kopi Aceh di Pasar Santa
Menikmati Eksotisnya Candra Naya yang Tersembunyi
Tujuh Tempat Nongkrong Asyik di Jakarta
- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil
Romantisme Pantai Jimbaran dan Eksotisnya Garuda Wisnu Kencana
*         *        *
- Jakarta, 22 September 2016 (Seluruh foto diabadikan melalui Zenfone 3)

Senin, 19 September 2016

Asus The Incredible Race: Pengalaman yang Tak Terlupakan



Saya mengikuti Asus The Incredible Race dalam Kelompok 35 (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa)


KICAU burung terdengar merdu dari balik jendela kamar di Hotel Courtyard Mariott. Sambil melirik, arloji menunjukkan pukul 04.55. Tapi, di seberang kamar, sudah ramai beberapa pengunjung yang beraktivitas. Mulai dari sarapan pagi, joging, hingga berenang. Saya baru sadar pas alarm di smartphone Zenfone 3 berbunyi yang menunjukkan pukul 05.55 am.

Oh, ternyata di arloji saya masih Waktu Indonesia Barat (WIB) yang belum diubah ke Waktu Indonesia Tengah (Wita). Dengan semangat 45, saya bangunkan rekan jurnalis yang asyik terlelap di kasur sebelah sambil menarik tirai jendela.

Sebetulnya, pagi itu masih ngantuk berat mengingat saya baru bisa tidur sekitar pukul dua dini hari Wita. Maklum, sebelumnya kami larut menyaksikan pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018. Namun, meski tidur hanya sejenak, kami tetap semangat menyambut pagi yang cerah.

Ya, seusai mandi dan ngopi-ngopi ganteng -karena ngopi-ngopi cantik sudah terlalu mainstream- sambil merampungkan tugas kantor sebentar, kami pun bergegas menuju Hotel Inaya Putri. Tujuannya, untuk mengikuti Asus The Incredible Race yang merupakan bagian dari rangkaian Asus Zenvolution 2016.

Tiba di Inaya yang sama-sama kategori hotel bintang lima dengan Courtyard, tampak sudah ada beberapa peserta. Total, terdapat 551 orang yang mengikuti Asus The Incredible Race hingga mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Yaitu, sebagai "Permainan dengan Peserta Terbanyak yang Dilakukan Perusahaan IT".

Saya dan rekan jurnalis dari media online berpencar untuk mencari kelompok masing-masing. Kebetulan, saya mendapat kelompok 35 yang beranggotakan 13 peserta. Selain urutan paling buncit. dalam daftar kelompok kami juga paling sedikit pesertanya. Tapi, seperti kata Kurt Cobain jelang manggung di Big Day Out, nyaris seperempat abad silam, meski hanya satu orang penonton, konser harus jalan terus. Ya, the show must to go on!

*        *        *
SEUSAI mendapat pengarahan dari panitia, kami pun mulai bergerak menyusuri rute yang sudah ditentukan dalam aplikasi QR Droid dalam Zenfone 3 masing-masing. Total, terdapat 10 pos yang akan kami tuju mulai pukul 09.00 hingga finis 15.00 Wita.

Berikut, 10 pos tersebut:

1. Low Light Station
2. Design Station
3. Performance and Battery Station
4. Long Exposure 32 Second Station
5. Display Station
6. Sonicmaster Station
7. Eis Station
8. HDR Station
9. OIS Station
10. 4K Station

Namun, berhubung terdapat 35 kelompok berbeda, jadi untuk menuju pos itu tidak berurutan. Melainkan, sesuai tugas dari panitia yang diterjemahkan melalui bar code dari QR Droid dan Google Maps.

Oh ya, The Incredible Race ini merupakan permainan untuk menyelesaikan misi ke-10 pos dengan hadiah tunai Rp 109 juta rupiah! Jumlah yang sangat "wah" bagi setiap peserta. Mungkin, cukup buat biaya kawinan di Jakarta dengan menyewa gedung dan pernak-perniknya.

Tapi, bagi kami, kelompok 35 yang didampingi salah satu tim Asus, Ririn Fitriani, bukan hadiah yang jadi tujuannya. Melainkan, kebersamaan yang kuat antarpeserta. Meski gagal menang, hingga kini kami masih aktif berinteraksi satu sama lain lewat aplikasi chatting Whatsapp. Maklum, di kelompok kami sangat heterogen yang berasal dari ujung Sumatera hingga pedalaman Kalimantan. Ibaratnya, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap kompak.

Misi perdana kami pada pos 3, yaitu Performance and Battery Station, untuk mengumpulkan Pokemon di Bali Collection.

Pokemon?

Apa?

Ya, Pokemon, permainan anak-anak yang pada Agustus lalu mewabah hingga kalangan dewasa. Ini jadi tantangan menarik bagi kami di kelompok 35. Sebab, mayoritas dari kami belum pernah bermain Pokemon. Termasuk, saya pribadi yang agak pangling dengan permainan ini.

Beruntung, dalam Zenfone 3 sudah terinstal aplikasi Pokemon GO. Jadi, kami tinggal mencari Pikachu dan kawan-kawan di areal Bali Collection yang siangnya jadi tempat bersantap. Total, kami mengumpulkan 35 Pokemon dengan tujuh di antaranya -bangga karena baru pertama kali tapi bisa mengoleksi banyak- dari saya.

Seusai menyelesaikan misi tersebut, kami melanjutkannya dengan total melewati enam pos lagi. Jujur saja, sejak masih kecil hingga kini rekan seangkatan mayoritas sudah punya anak kecil, Asus The Incredible Race ini jadi permainan paling tak terlupakan.

Bagaimana tidak, dari satu pos ke pos yang lain, kami harus melakukannya bersama-sama. Oh ya, kami menyelesaikannya hanya jalan kaki dan tidak menggunakan mobil. Pengecualian pada Eis Station yang memang disediakan panitia untuk berkeliling kawasan Nusa Dua sambil merekam aktivitas sekitarnya.

Dalam periode itu, tentu kami beberapa kali istirahat. Baik menukarkan voucher dari panitia untuk air mineral dan air isotonik atau santap siang -salah satu menu termewah dalam tiga windu lebih hidup saya karena sekali makan menghabiskan Rp 150 ribu- di Bali Collection.

Banyaknya istirahat itu bisa dipahami mengingat lokasi dari satu pos ke pos yang lain berjauhan. Namun, justru itu jadi tantangan tersendiri bagi kami hingga menyelesaikan tujuh pos. Termasuk, pada pos Long Exposure 32 Second Station yang menurut panitia saat itu, kelompok kami memotret hasil paling baik (Lihat fotonya di Instagram: Zenvolution) dengan 20 poin yang merupakan nilai maksimal dari 35 kelompok.

Pada pos pamungkas, kami menuju Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Ini kali kedua saya ke gedung pertemuan terbesar di "Pulau Dewata" itu setelah sehari sebelumnya, Zenvolution 2016, dan malam harinya seusai acara (Gala Dinner).

Tujuan kami untuk menuntaskan misi 4K Station. Yaitu, 13 anggota kami menari bersama dua penari asli Bali yang direkam rekan kami menggunakan Zenfone 3. Hasilnya, sangat luar biasa karena di Zenfone 3 terdapat resolusi video hingga 4K (3840x2160) yang jauh lebih tinggi dibanding hanya Full HD (1920x1080).

Oh ya, berkat mengikuti Asus The Incredible Race, untuk kali pertama saya bisa belajar menari. Apalagi tarian bali tidak hanya sekadar tarian saja, melainkan ada unsur seni yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata karena terkait dengan filosofi yang tinggi.

*        *        *
MATAHARI tampak malu-malu memberikan sinarnya pada sore itu, Kamis (8/9). Seusai menyelesaikan tujuh pos -rencananya mau satu lagi, apalah daya kaki tak sanggup-, kami kumpul bersama di lapangan ITDC yang merupakan akronim dari pengelola (Indonesian Tourism Development Corporation).

Setelah menginjakkan kaki di gerbang, kami dikagetkan dengan ucapan selamat dari panitia. Bahkan, diberi medali yang mengingatkan saya seperti Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir usai merebut medali emas Olimpiade Rio 2016. Setelah mendapat pengarahan dari panitia dan foto bersama, kami pun kembali menuju hotel masing-masing.

Oh ya, kalau tidak salah, Asus Indonesia menyediakan tiga hotel untuk menginap kami yang berjumlah lebih dari 800 undangan. Yang bikin saya kagum, ketiganya itu termasuk hotel termewah di Bali, dengan kategori bintang lima.

1. Courtyard by Mariott: Hotel untuk media dan blogger. Dalam The Incredible Race menggunakan pos untuk Long Exposure 32 Second Station.

2. Inaya Putri Bali: Hotel untuk distributor,dealer, retailer, dan selebriti. Dalam The Incredible Race dijadikan start seluruh kelompok.

3. Novotel Bali Nusa Dua: Hotel untuk akomodasi tim Asus Indonesia, panitia, desainer, koreografer, dan model. Dalam The Incredible Race menggunakan pos untuk Sonicmaster Station, yaitu menebak 25 lagu yang diputar panitia.

*        *        *
SEMILIR angin menerpa kami saat memasuki Hotel Courtyard usai mengikuti Asus The Incredible Race. Wajah-wajah penuh lelah menghiasi seluruh peserta dengan keringat sebesar biji jagung. Namun, di balik keletihan itu, terpancar raut kegembiraan dari seluruh kelompok yang mengikuti acara sepanjang hari ini.

Termasuk, saya dan rekan-rekan di Kelompok 35. Sambil menuju kamar hotel masing-masing, kami melewati kolam renang yang asri. Sudah pasti, itu jadi tujuan kami untuk melepas lelah sekaligus untuk menyegarkan kami setelah seharian disorot sang surya untuk menghadiri Gala Dinner seusai magrib.

Senja itu, suasana di Courtyard kian memesona. Adagium lawas melukiskan, "Tiada perjamuan yang tak berakhir", ada pertemuan tentu ada  perpisahan. Ya, tuntas sudah kami mengikuti Asus The Incredible Race yang jadi bagian dari hari kedua Zenvolution 2016 yang luar biasa seru.

Di sisi lain, saya juga percaya dengan pepatah masa lampau, "Selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi". Tentu, dalam kesempatan selanjutnya pada 2017 dengan tema berbeda. Tepatnya, setelah ZenFestival 2015 dan Zenvolution 2016 ini.

*        *        *
Kegiatan ini dimulai dari kicauan burung di balik kamar Hotel Courtyard (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Seluruh peserta Asus The Incredible Race kumpul di Hotel Inaya (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Kelompok 35 sedang diskusi jelang dimulainya acara (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Berswafoto alias selfie (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Pagi itu... (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Display station untuk mengumpulkan kepingan hati foto di bawah sinar matahari (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Voucher yang bisa ditukarkan dalam tiga kesempatan (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Kelompok 35 istirahat sejenak sebelum tancap gas kembali (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Kelompok 35 embali ke Hotel Courtyard untuk menjalankan misi (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Mungkin, saya lelah... (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa)

*        *        *
32 detik mencari cinta berdiam diri untuk hasil foto terbaik dengan nilai 20 (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Buanglah sampah pada tempatnya (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Panas-panasan jadi sensasi tersendiri untuk seluruh peserta (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Perwakilan kelompok 35 berdiskusi dengan panitia (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Di pos ini, kami menebak 17 dari 25 lagu yang diberikan panitia (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Bali Collection yang jadi tempat persinggahan kami (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Di balik keberadaan banner ini terdapat pertanyaan berapa jumlahnya dalam Eis Station (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Papan informasi ini jadi petunjuk berharga kami untuk mengelilingi Nusa Dua (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Keliling Nusa Dua untuk mencari jawaban video (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Eis Station dengan misi merekam video dengan gambar yang stabil (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Kelompok 35 menjawab pertanyaan panitia (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Menari Bali... (diabadikan melalui Zenfone 3)

*        *        *
Belajar menari itu, susah-susah gampang ternyata (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa)

*        *        *
Pengalungan medali seusai menyelesaikan tujuh dari 10 misi (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa)

*        *        *
1, 2, 3... (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa)

*        *        *
Byur... (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa)

*        *        *
Kolam renang di Hotel Courtyard jadi ajang pelepas lelah (diabadikan melalui Zenfone 3/ foto: istimewa


*        *        **        *        *
*        *        **        *        *



*        *        *

*        *        *

*        *        *


*        *        **        *        *
*        *        **        *        *

Artikel Lainnya:

Prolog:
- Asus Zenvolution 2016

Tetralogi Zenvolution 2016
- Asus The Incredible Race: Sensasi Tak Terlupakan
Asus Incredible Race Pecahkan Rekor MURI
Ini Parade Produk Anyar Asus pada Zenvolution 2016
Zenvolution 2016: Asus Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September

Spin-off Zenvolution
Sensasi Menelusuri Sungai Citarik 9 Km

Prekuel Zenvolution
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5

Epilog 
- Di Balik Zenvolution 2016

*        *        *
- Jakarta, 19 September 2016