TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 21 Mei 2018

Jadi Bagian Menyambut Indonesia 2020


Kafi Kurnia dalam visi Indonesia 2020
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)



SETIAP tahun, rakyat Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei. Tanggal tersebut merupakan semangat dari segenap warga untuk menumbuhkanrasa kesadaran Tanah Air.

Berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 jadi tonggak bersejarah dalam negeri ini dalam mencapai kejayaan yang dilanjuti dengan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dan Kemerdekaan (19 Agustus 1945).

Sebagai bagian dari masyarakat, tentu saya harus melanjutkan perjuangan para pahlawan. Tentu, bukan dengan tombak atau senjata lainnya. Melainkan dengan berkarya secara positif. Misalnya, sebagai blogger, saya berkewajiban untuk menyebarkan berita yang positif dan memerangi hoax.

Contohnya, bulan lalu ketika saya diajak Kementerian Sekretariat Kabinet (Setkab) untuk meninjau langsung perbatasan dengan Malaysia di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Saat itu, saya dan empat rekan blogger melihat langsung dengan mata serta kepala sendiri, bahwa kehidupan di perbatasan tidak sesuram yang dibayangkan (Artikel sebelumnya Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga).

Bahkan, tidak jauh beda dengan di ibu kota dan berbagai kawasan lainnya. Apalagi, kami sangat bangga dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong yang jauh lebih megah dibanding milik tetangga. Ini jadi bukti, Indonesia sudah siap mengembalikan kejayaan seperti masa lalu.

*       *       *
"INDONESIA 2020 adalah visi yang bertujuan menggelorakan semangat bangsa untuk segera mencapai takdir kejayaan. Dengan bermodalkan warisan nenek moyang kita dan memberdayakannya sehingga jadi prestasi yang membanggakan," demikian sambutan dari Kafi Kurnia.

Pernyataan dari founder Sembutopia, yaitu organisasi yang bergerak di bidang kesehatan ini menarik. Sekaligus, membuat saya dan puluhan rekan blogger serta media yang hadir di Javanegara Gourmet Atelier, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (20/5) ikut tergerak.

Ya, Kafi mengajak kami untuk berpikir jauh ke depan. Khususnya untuk menyambut Indonesia pada 2020. Nah, ada apa dengan tahun tersebut? Sebagai penggemar olahraga, saya tahu saat itu berlangsung berbagai event penting. Pertama, Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang berlangsung di Papua. Untuk skala global, ada Piala Eropa 2020 dan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Kebetulan, dalam diskusi tersebut, turut hadir Fritz Simandjuntak selaku pemerhati olahraga dan ahli komunikasi. Selain mereka, juga ada Kanti Janis (pengacara, novelis, dan aktivis perempuan), Premita Fifi (novelis dan aktivis perempuan), Raja Asdi (aktivis dan sineas), Adya Novali (atlet binaraga), dan Iwan SJP (ahli komunikasi).

Diskusi hangat pun terjadi antara kami dan mereka. Terutama, untuk mewujudkan takdir kejayaan Indonesia pada 2020. Bisa dipahami mengingat dua tahun mendatang, negeri ini genap merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75.

"Barangkali, masalahnya kita bertanya, kapan takdir kejayaan itu akan terwujud? Berangkat dari tantangan ini yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional sekarang, kami memberanikan diri untuk mengusung ide sederhana: Indonesia 2020 - Sebuah Takdir Kejayaan," Kafi, menjelaskan.

Menurut managing director PEKA Consultant ini, 2020 memiliki sejumlah makna. Pertama, penglihatan yang sangat sempurna dengan diistilahkan pada 2020. Kedua, bisa jadi 2020 memang tahun tersebut.

Yang terpenting, lanjut Kafi, adalah mengobarkan semangat Indonesia 2020, bahwa sebagai bangsa kita punya takdir kejayaan yang harus diwujudkan bersama-sama dengan segenap rakyat Indonesia.

"Peluncuran ide Indonesia 2020: Sebuah Takdir Kejayaan ini akan kami gelorakan ke seluruh Indonesia. Pertama dengan mengadakan kegiatan motivasi dan inspirasi pada tanggal 20 setiap bulannya. Kedua, dengan merekrut para profesional untuk menvisualiasikan ide Indonesia 2020 ke dalam karya dan prestasi. Entah itu karya seni, budaya, atau karya lainnya seperti sastra, kuliner, dan lainnya," ujar Kafi, optimistis.

Yupz, saya setuju dengan semangat luhur dari pemerhati kuliner ini. Bahkan, Kafi memberi analogi  dengan filosofi Ikan Asin. Yaitu, ikan yang di Tanah Air harganya murah, tapi ketika di luar negeri sangat mahal. Kenapa? Sebab, di negara lain, Ikan Asin dikemas dengan menarik seperti di Jepang sebagai bahan camilan dan Italia untuk toping piza.

"Besar harapan kami. Indonesia akan mencapai takdir kejayaannya sesegera mungkin. Cita-cita nenek moyang kita terhadap negara yang 'Gemah Ripah Loh Jinawi tata tentrem kerta raharja' bisa terlaksana segera, Dan, apa yang terukir dalam sila-sila Pancasila bakal jadi wujud nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Yupz, mari kita isi kemerdekaan Indonesia ini dengan positif!

*       *       *
Indonesia genap merayakan HUT ke-75 pada 2020 mendatang

*       *       *
Fritz Simandjuntak berbagi pengalaman terkait menyambut Indonesia 2020

*       *       *
Suasana diskusi yang melibatkan puluhan blogger dan media

*       *       *
Indonesia 2020: Sebuah Takdir Kejayaan!

*       *       *
Bagaimana mengisi kemerdekaan dengan positif? Yupz, sebagai blogger dengan
menyebarkan kebenaran dan memerangi hoax

*       *       *
- Jakarta, 21 Mei 2018

Jumat, 18 Mei 2018

Kilas Balik Piala Dunia 1954: Keajaiban di Bern!



Jerman Barat sukses juara secara dramatis (Foto: FIFA.com)


PIALA Dunia paling dikenal sepanjang masa dengan aksi-aksi terseru dan melibatkan duel antartim terbaik. Itulah julukan yang tepat menggambarkan Piala Dunia 1954 di Swiss pada 16 Juni – 4 Juli.

Edisi kelima pesta olahraga terbesar sejagat raya ini menampilkan banyak kejutan. Mulai dari tim, pemain, duel, hingga aksi memikat lainnya. 

Apalagi, Piala Dunia 1954 diselenggarakan tepat saat FIFA merayakan ulang tahun ke-50. Selain itu, ada nuansa baru dibanding beberapa edisi sebelumnya. Lantaran, untuk pertama kalinya khalayak di seluruh dunia bisa menyaksikan pertandingan di Piala Dunia 1954 berkat siaran televisi.

Namun, di luar itu semua tiada yang mampu mengalahkan kejutan Jerman Barat yang tampil memukau. Ya, negara pecahan Jerman setelah Perang Dunia II ini sukses menggondol trofi Jules Rimet untuk pertama kalinya. Berstatus sebagai tim non unggulan, Jerman Barat mampu mengalahkan tim kuat saat itu, Hungaria.

Terjadi duel sengit antarkedua tim pada final di Stadion Wankdorf, Bern, 4 Juli 1954. Hungaria yang saat itu disebut sebagai kandidat juara sempat unggul 2-0. Itu berkat aksi Ferenc Fuskas yang menjebol gawang Jerman Barat pada menit ke-6 dan Zoltan Czibor (8).

Namun, ekspekstasi 65 ribu penonton yang sebagian besar mendukung runner-up Piala Dunia 1938 itu sirna. Sebab, Jerman Barat mampu mengejar ketertinggalan dengan cepat dua menit kemudian melalui Max Morlock. Suasana bertambah tegang ketika striker legendaris Helmut Rahn menyamakan kedudukan (18).

Puncaknya, enam menit sebelum wasit asal Inggris, William Ling meniup peluit panjang, Rahn kembali membobol gawang Hungaria. Aksi sayap bernomor punggung 12 itu memastikan kemenangan Jerman Barat. Skor 3-2.

Ya, publik Swiss, terutama penonton di Stadion Wankdorf sampa terharu menyaksikan kejar-mengejar gol sepanjang 90 menit. Bahkan, duel tersebut oleh FIFA dinilai sebagai salah satu laga terbaik sepanjang Piala Dunia. 

“Miracle of Berne”, alias malam penuh keajaiban menyelimuti kemenangan Jerman Barat di final yang digelar di kota Bern.

Kembali Gagal
Sementara, kekalahan itu memupus ambisi Hungaria menjadi juara setelah dua kali berada di final. Padahal, mereka mampu menghajar Jerman Barat hingga 8-3 pada penyisihan grup. Hungaria juga jadi tim tertajam sepanjang turnamen dengan 27 gol hanya dari enam laga.

Namun, di final mereka justru takluk oleh determinasi Jerman Barat yang akhirnya disebut sebagai “Tim Panser”. Itu merujuk performa skuat asuhan Josef Herberger yang telat panas di awal namun sangat mematikan saat turnamen mendekati akhir.*

Statistik Piala Dunia 1954
Tuan rumah: Swiss
Waktu: 16 Juni – 4 Juli
Peserta: 16 tim dari 4 konfederasi
Jumlah pertandingan: 26
Total penonton: 768.607
Total gol: 140
Rata-rata gol: 5,4

Juara: Jerman
Runner-up: Hungaria
Ketiga: Austria
Keempat: Uruguay
Top scorer: 11 gol, Sandor Koscis (Hungaria)
Pemain Terbaik: Ferenc Puskas

Final Piala Dunia 1954
Jerman vs Hungaria 3-2
Stadion: Wankdorf, Bern
Penonton: 62.500
Wasit: William Ling
Gol: 0-1 (Puskas, 6), 0-2 (Czibor, 8), 1-2 (Morlock, 10), 2-2 (Rahn, 18), 3-2 (Rahn, 84)

Skuat Jerman: 1 Turek, 3 Kohlmeyer, 6 Eckel, 7 Posipal, 8 Mai, 10 Liebrich, 12 Rahn, 13 Morlock, 15 Walter, 16 Fritz, 20 Schaefer
Pelatih: Josef Herberger

Skuat Hungaria: 1 Grosics, 2 Buzanszky, 3 Lorant, 4 Lantos, 5 Bozsic, 6 Zakarias, 8 Koscis, 9 Hidgkuti, 10 Puskas, 11 Czibor, 20 Toth
Pelatih: Gusztav Sebes



Rabu, 16 Mei 2018

Di Perbatasan, yang Sakti Hanya Kera!


Dalam banget!


KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring mendefinisikan Meme sebagai berikut. Yaitu, sebagai berikut:

1. ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya
2. cuplikan gambar dari acara televisi, film, dan sebagainya atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan-tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur

*        *        *

MALAM itu di salah satu ballroom hotel yang berbatasan dengan gerbang tol di barat ibu kota, sangat ramai. Tampak, ratusan manusia memenuhi aula tersebut pada Sabtu (12/5) malam.

Termasuk, dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang jadi inisiator Sepeda Nusantara 2018. Yaitu, program lanjutan tahun lalu yang bernama Gowes Pesona Nusantara (GPN) 2017.

Turut hadir, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Sekretaris Kemenpora Gatot Sulistiantoro Dewa Broto, Deputi III Kemenpora Raden Isnanta, dan segenap perwakilan dari panitia Sepeda Nusantara 2018 (Artikel selengkapnya: https://www.topskor.id/detail/73789/Kick-off-Minggu-Pagi-Sepeda-Nusantara-2018-Lewati-34-Provinsi-di-Tanah-Air).

Pandangan saya tertuju pada layar lebar berukuran sekitar 2x6 meter. Dalam tayangan tersebut, tampak diputar berbagai keseruan GPN 2017. Termasuk, ketika di Etape Khatulistiwa yang melintasi Kalimantan Barat.

Tampak, rekaman video menampilkan berbagai cuplikan menarik dari tempat wisata dan bersejarah di provinsi terluas keempat di Tanah Air ini. Dua di antaranya, Jembatan Tayan dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong yang sama-sama berada di Kabupaten Sanggau.

Seketika, saya jadi teringat pada perjalanan monumental tiga pekan lalu. Tepatnya, ketika meninjau PLBN Entikong bersama perwakilan Sekretariat Negara (Setkab) pada 23-25 April lalu.

Untuk artikel lengkapnya, bisa disimak pada daftar di bawah ini atau laman PLBN Entikong yang tertera pada banner di atas. Banyak kisah menarik yang bisa digali dari kunjungan saya sebagai netizen (warganet).

Tentu, tidak bisa dijabarkan semuanya. Alias, berseri yang semoga saja bisa dijadikan buku atau minimal antologi. Yuppiiii!

*        *        *

"JANGAN hanya jaga perasaan dia, tapi juga jaga mutu kerja kita!"

"Pakailah APD kalian. Ingat, yang sakti cuman Kera!"

"Kawin, duda, atau jomblo sama saja. Safety First tidak memandang status!"

Demikian berbagai kalimat yang menggelitik dari papan informasi terkait Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi karyawan. Papan informasi ini tersebar di berbagai kawasan Proyek Entikong Tahap 2 dengan kalimat yang unik dan bikin yang melihat senyum-senyum sendiri. Alias, tidak monoton bagi setiap yang melihatnya.

Bisa dipahami mengingat K3 sangat penting dalam setiap pekerjaan, terutama di proyek. Kebetulan, saya sedikit paham dengan K3 karena beberapa kali mengikuti acara yang diselenggarakan Kemen PUPR.

Baik itu pada event blog (Artikel sebelumnya Sinergi Kementerian PUPR dan Blogger untuk Sosialisasi K3 dalam Sebuah Proyek) atau ketika menunaikan tugas jurnalistik (Artikel sebelumnya Sisi Lain Kunjungan Menkeu Sri Mulyani ke Kompleks GBK, Kunjungan Jusuf Kalla, dan GBK Bersolek).

"Memang dibuat agak unik dengan nada guyon tanpa mengurangi inti dari mengingatkan terkait K3. Tidak hanya pekerja saja, tapi juga tamu yang hadir wajib memakai APD (alat pelindung diri) seperti helm. Sebab, namanya di proyek, kami khawatir ada serpihan yang mengenai kepala," kata salah satu staf PLBN Entikong yang mendampingi kami.

Yupz, saya setuju dengan pernyataan tersebut. Sebab, dengan nada guyon akan lebih mudah diingat ketimbang peringatan yang serius. Itu karena sensor motorik lebih mudah mencerna sesuatu yang gampang diingat.

Meski bernada guyon, tapi peringatan yang terpasang di berbagai titik Proyek PLBN Tahap 2 ini tidak mengurangi dari esensi sebagai informasi. Intinya, sebagai pemberitahuan baik pekerja maupun tamu untuk selalu waspada saat memasuki proyek.

Nah, bagaimana menurut Anda?***

*        *        *
Yupz, ibadah dan bekerja

*        *        *
Setuju banget

*        *        *
Intinya (translate) pakai helm, sepatu, dan rompi

*        *        *
Kalau ada yang masih ngeyel, jangan-jangan orang itu Sun Go Kong?

*        *        *
"No Comment!"

*        *        *
Untuk saat ini belum...
*        *        *

Website: www.Setkab.go.id/WargaNetkePerbatasan
Facebook: @setkabgoid
Twitter: @setkabgoid
Instagram: @Sekretariat.Kabinet
Youtube: Sekretariat Kabinet RI
Tagar: #MenujuIndonesiaMaju#WajahBaruPerbatasan

*        *        *

Artikel ini merupakan bagian dari Seri Kunjungan ke PLBN Entikong
Prolog
Catat, Setkab Selenggarakan Lomba Medsos Berhadiah Rp 107 Juta!
(Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia
Pelangi yang Indah Bersinar di Sanggau
Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga
Proyek PLBN Entikong Tahap 2 Picu Ekonomi Kerakyatan

Artikel Selanjutnya:
- (Meme) Jangan Hanya Jaga Perasaan Dia, tapi Juga Juga Mutu Kerja Kita
- Di Indonesia Bayar dengan Ringgit, di Malaysia Pakai Rupiah
- Di Balik Kunjungan ke PLBN EntikongEpilog

*        *        *
Jakarta, 16 Mei 2018

Jumat, 11 Mei 2018

Wonder Photo Shop Pacu Kreativitas Penggemar Fotografi


Suasana peresmian Wonder Photo Shop PT Fujifilm Indonesia di Mal Central Park
Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya


PADA era sekarang, memotret bukan sekadar pelengkap dalam aktivitas sehari-hari. Melainkan, sudah jadi salah satu kebutuhan wajib. Misalnya, bagi saya pribadi yang menggemari kegiatan fotografi dengan berbagai cara.

Baik itu menggunakan smartphone, analog, poket, kamera DSLR, dan sebagainya. Masalah bagus atau tidak itu soal rasa. Yang pasti, dalam setiap kunjungan, saya berusaha untuk mengabadikannya.

Mulai dari pemukiman padat di ibu kota, stadion, rimba, situs kuno, perbatasan antarnegara, hingga di udara. Ibaratnya, apa pun itu daerahnya, harus didokumentasikan dalam gambar. Sebagian di antaranya wajib dicetak.

Sebab, dari selembar foto itu bisa jadi cerita untuk anak dan cucu, kelak.

*         *         *
PAGI itu, mentari terlihat malu-malu. Dari jantung ibu kota usai meliput persiapan salah satu cabang olahraga untuk menyambut Asian Games 2018, saya menuju arah barat laut. Sepanjang jalan, tampak geliat warga ibu kota untuk memulai aktivitas dengan semangat.

Kurang dari seperminuman teh, saya sampai di pusat perbelanjaan nan megah yang namanya mengadopsi taman terkenal di kota berjulukan The Big Apple. Masih ada waktu untuk menikmati secangkir kopi hangat yang tersedia di kedai.

Setelahnya, saya menuju Lantai 1 Mal Central Park yang sepanjang lorong sudah ramai. Terutama, pada gerai bertuliskan Wonder Photo Shop: Fujifilm. Ya, Central Park Mall, Selasa (8/5) jadi saksi pembukaan dari gerai photo printing dengan konsep unik dan kekinian.

Yaitu, Wonder Photo Shop (WPS) yang merupakan flagship store PT Fujifilm Indonesia pertama di Tanah Air. Melalui WPS ini, Fujifilm ingin menawarkan konsep photo printing yang unik dengan beragam fasilitas yang memudahkan konsumen untuk mencetak dan mengkreasikan foto.

Yuppiii. Bagi saya, ini menarik. Bukan karena saya memang penggemar fotografi. Melainkan, karena gerai ini sangat original. Konsep casualnya membuat masyarakat Indonesia tertarik untuk mengkreasikan foto. Baik untuk menambah koleksi dekorasi pribadi maupun membagikannya sebagai buah tangan.

Itu diungkapkan Presiden Direktur PT Fujifilm Indonesia Noriyuki Kawakubo dalam jumpa pers di Seribu Rasa Restaurant yang masih satu lantai dengan gerai. Menurutnya, perkembangan teknologi kamera digital dan smartphone saat ini kian memudahkan setiap orang untuk mengabadikan momen dengan kualitas foto yang baik dalam kesehariannya. Ini membuat foto jadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, swafoto alias selfie atau wefie.

"Dengan hadirnya Wonder Photo Shop ini, kami berharap masyarakat Indonesia dapat merasakan pengalaman baru yang unik, modern, dan menyenangkan saat mencetak foto. Serta, dapat mengkreasikan sebuah foto yang bisa disimpan sebagai memori yang berharga dan personal. Juga dapat membagikannya sebagai hadiah," tutur Noriyuki dalam sambutannya yang dihadiri puluhan blogger, media, dan pegiat fotografi. Termasuk, Tya Ariestya, aktris serbabisa yang ternyata pencinta memotret.

Faktanya, tren mobile photography memang sudah jadi gaya hidup. Wajar saja mengingat saat ini, kita sudah tidak sulit lagi merekam suatu momen. Cukup menggunakan kamera smartphone saja. Foto bisa langsung tersimpan di perangkat mobile atau untuk diunggah ke media sosial.

*         *         *

BERDASARKAN salah satu riset, di Indonesia saat ini jumlah pengguna smartphone mencapai 67 persen dari total penduduk atau sekitar 177,9 juta jiwa. Bahkan, 44% di antaranya digunakan untuk mengambil foto.

Yupz, seiring perkembangan zaman ke arah digital, turut memengaruhi pergeseran tren di kalangan anak muda saat ini. Generasi zaman now cenderung mencetak foto dari smartphone. Tidak seperti dulu yang sebatas DSLR, kamera film, atau klise. Itu mengapa, teknologi cetak foto melalui smartphone di Wonder Photo Shop akan lebih menyasar ke konsumen dari kalangan generasi muda.

"Melalui Wonder Photo Shop, kami ingin semakin dekat dengan smartphone. Sebab, kami melihat kebutuhan kaum milenial untuk mengabadikan momen lebih tinggi dibanding lainnya," General Manager Electronic Imaging Division PT Fujifilm Indonesia Johanes J. Rampi, menambahkan.

Ya, Wonder Photo Shop merupakan open store yang memberikan pelayanan mencetak foto, photo enlargement, quick print service, mini studio, dan display kamera X-Series maupun Instax terbaru kepada pelanggan.

Salah satunya yang membuat saya tertarik pada perangkat X-T20 yang merupakan versi teranyar dari X-T10. Yupz, kamera ini mengingatkan saya pada petualangan Rangga dalam Ada Apa dengan Cinta 2. Dalam display tersebut, X-T20 dibanderol nyaris Rp 15 juta. Cukup tinggi untuk mirrorless.

Namun, seperti digoreskan adagium lawas. Ada rupa tentu ada harga. Alias, kita membayar apa yang pantas untuk didapatkan. Bisa dipahami mengingat Fujifilm dikenal sebagai produsen yang mementingkan kualitas.

"Wonder Photo Shop juga menyediakan layanan unik, yaitu crafting photo. Jadi, kami ingin memulai edukasi masyarakat Indonesia terntang bagaimana membuat foto menjadi unik dan tidak membosankan," tutur Johanes, optimistis.

Ya, memotret itu mudah. Namun, untuk menghasilkan gambar dengan ikonik, itu tidak gampang. Fakta itu diakui Tya saat meninjau areal Wonder Photo Shop Fujifilm Kedua di Indonesia setelah tahun lalu diresmikan di Mal Kota Kasablanka.

"Keberadaan gerai cetak foto Wonder Photo Shop Fujifilm Indonesia ini memberikan pengalaman berbeda saat ingin mencetak foto. Bukan hanya sekadar mencetak foto untuk dibingkai sebagai dekorasi ruangan di rumah saja. Namun, kita bisa mengkreasikan foto untuk dijadikan hadiah atau kenang-kenangan bagi rekan kerja," Tya menjelaskan dengan semringah.

Yupz, di Wonder Photo Shop Fujfilm Indonesia ini, terdapat beragam fasilitas unik yang dapat memanjakan pengunjung. Misalnya, Wonder Print Station yang melayani cetak foto dari smartphone. Pengunjung juga dapat melakukan self service alias pencetakan foto secara pribadi.

Ini menarik menurut saya. Kebetulan, saya sudah mencobanya untuk mengkreasikan foto sesuai keinginan sendiri di gerai dengan konsep unik nan casual layaknya cafe. Selain itu, ada corner DIY (Do It Yourself) untuk kita yang ingin mempersonalisasikan hasil foot sesuai kreativitas sendiri.

Berbagai kemudahan itu yang mungkin belum ada pada gerai cetak foto lainnya. Selain di Indonesia, Wonder Photo Shop ini juga sudah merambah berbagai negara. Itu meliputi Malaysia, Amerika Serikat, dan Jepang.

Saya sudah mencobanya. Bagaimana dengan Anda?


Wonder Photo Shop
Lokasi: Lantai 1 Mal Central Park, Jalan Letjen S. Parma, Jakarta Barat
Website: wonderphotoshop.id
Instagram: @wonderphotoshopid
Facebook: Fb.com/WonderPhotoShopID

*         *         *

OH ya, di Wonder Photo Shop Mal Central Park ini kerap diselenggarakan workshop dengan berbagai tema.

Misalnya, dalam dua hari kedepan:
Wonder  Journal Workshop pada 12 Mei pukul 14.00-16.00 WIB
Wonder Wall Decor Workshop (13 Mei)

*         *         *
Detik-detik jelang dibukanya Wonder Photo Shop di Mal Central Park, Jakarta Barat

*         *         *
Presiden Direktur PT Fujifilm Indonesia dalam sesi diskusi bersama blogger,
media, dan pencinta fotografi

*         *         *
Wonder Photo Shop di Mal Central Park terletak di Lantai 1

*         *         *
Wonder Photo Shop di Mal Central Park kerap menyelenggarakan Workshop

*         *         *
Tya Ariestya mencoba mengkreasikan fotonya sendiri

*         *         *
Sesi kompetisi mengkreasikan foto yang melibatkan blogger, media, dan
penggemar fotografi

*         *         *
Yuppiii, hasilnya!

*         *         *
Rekan blogger Imawan Anshari dalam presentasi tim saat kompetisi

*         *         *
Gadget yang sangat memesona

*         *         *
Berbagai produk andalan dari PT Fujifilm Indonesia

*         *         *
Yupz, saatnya mengkreasikan berbagai gambar unik di Wonder Photo Shop!

*         *         *

- Jakarta, 10 Mei 2018

Jumat, 27 April 2018

Proyek PLBN Entikong Tahap 2 Picu Ekonomi Kerakyatan


Pos Lintas Batas Negara Entikong yang diresmikan 21 Desember 2016
dan saat ini berlanjut untuk tahap kedua
(Klik untuk perbesar gambar dan geser untuk melihat foto lainnya)

INDONESIA Maju. Demikian visi dan misi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak memimpin negeri ini pada 20 Oktober 2014. Banyak program dari pria asal Solo tersebut yang sudah berjalan demi rakyat. Termasuk, mengenai infrastruktur yang terus ditingkatkan.

Jokowi berusaha ngebut untuk membangun negeri ini lebih baik lagi. Terutama, supaya bisa bersaing dengan negara besar. Alias, bukan hanya sekadar dengan yang serumpun saja. Bisa dipahami mengingat Jokowi memiliki visi yang jauh ke depan demi Indonesia Maju.

Termasuk, mengenai perbatasan yang terus dikembangkan. Sejak jadi presiden, sudah tujuh Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang dibangun. Itu meliputi tiga provinsi seperti Kalimantan Barat (Kalbar), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua.

Perbatasan dan reformasi birokrasi jadi bahasan utama ketika saya menghadiri Rembuk Nasional: Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-Jusuf Kalla pada 24 Oktober 2016 (Artikel sebelumnya Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK). Kebetulan, saat itu baru selesai dibangun dua PLBN di Kalbar, yaitu Badau dan Aruk.

Dalam diskusi hangat bersama perwakilan Kementerian dan instansi lainnya, tercipta satu tujuan terkait perbatasan. Yaitu, tidak hanya meningkatkan PLBN secara fisik saja. Melainkan juga berbagai penunjang lainnya, seperti Sumber Daya Manusia (SDM) dan infrastruktur penunjang lainnya.

Nawa Cita terkait perbatasan itu sudah dilakukan pemerintahan Jokowi. Saat ini, berdiri megah tujuh PLBN yang tersebar di tiga provinsi berbeda.

PLBN Badau (Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat): Diresmikan 16 Maret 2016
PLBN Aruk (Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat): 17 Maret 2016
PLBN Entikong (Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat): 21 Desember 2016
PLBN Motaain (Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur): 28 Desember 2016
PLBN Skouw (Kota Jayapura, Papua): 9 Mei 2017
PLBN Wini (Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur): 9 Januari 2018
PLBN Motamasin (Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur: 9 Januari 2018


*        *        *
BENDERA Merah-Putih berkibar dengan gagah di halaman PLBN Entikong, siang itu. Di depannya, Monumen Garuda tampak memesona. Sementara, gapura dengan tinggi 10 berornamen suku Dayak kian mempercantik kompleks tersebut, Selasa (24/4).

Tak heran jika monumen itu jadi lokasi favorit masyarakat untuk berfoto. Termasuk, saya yang enggan ketinggalan mengabadikan salah satu pemandangan berkesan dalam lebih dari seperempat abad di muka bumi (Artikel sebelumnya: Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga).

Ya, keberadaan saya di PLBN Entikong untuk mengikuti pemantauan kebijakan pemerintahan Jokowi di bidang inftrasturktur bersama Kementerian Sekretariat Kabinet (Setkab). Kami berjumlah 14 orang yang terdiri dari empat kelompok. Dari blogger yang merupakan representasi netizen sesuai arahan Sekretaris Kabinet Pramono Anung ada Dewi Nuryanti, Monicaoctavia Anggen, dan Terry Endropoetro.

Sementara, perwakilan Setkab meliputi Kepala Bidang Pelayanan dan Diseminasi Informasi Mita Apriyanti, Said Muhidin (Kepala Bidang Pengelolaan Informasi), Kurniawati (Kepala Subbidang Data dan Informasi), dan Dhanykurniawan Pamungkas (Kepala Subbidang Penghubung). Dua lagi berasal dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kabupaten Sanggau yang masing-masing tiga orang.

Kami berada di PLBN Entikong sejak pukul 04.00 WIB untuk menyaksikan arus keluar dan masuk warga di perbatasan antarnegara. Pagi harinya, kami turut beraudiensi dengan pimpinan dan staf PLBN Entikong.

Termasuk, mengenai proyek PLBN Entikong Tahap 2 yang sudah dikerjakan sejak 16 Desember 2016 lewat kolaborasi Adhi Karya dan Hutama Karya di bawah pengawasan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) dan Direktorat Jendeal Cipta Karya.

"PLBN Entikong saat ini merupakan tahap satu yang sudah diresmikan pak Jokowi pada 21 Desember 2016. Setelah itu, dilanjutkan dengan PLBN tahap dua yang meliputi fasilitas penunjang," kata Kepala Bidang Pengelolaan PLBN Entikong Viktorius Dunand saat berdiskusi dengan kami yang juga bisa disimak pada laman Setkab.go.id, Sekretaris Kabinet Ajak Warganet Tinjau PLBN Entikong.

Yupz, PLBN Entikong Tahap 2 ini rencananya rampung pada 1 Oktober 2019. Luas lahan mencapai 10,26 Ha dan bangunan 19.431 meter persegi. Pembangunan PLBN Tahap 1 dan 2 ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja Jokowi pada Januari 2015.

Saat itu, presiden meminta kepada kementerian dan instansi terkait untuk merombak PLBN Entikong agar lebih baik lagi. Itu ditandai dengan penandatanganan Inpres Nomor 6 Tahun 2015 tentang Percepatan Pembangunan 7 (tujuh) PLBN Terpadu dan Sarana Prasarana Penunjang di kawasan perbatasan pada 25 April 2015.

Dalam kesempatan itu, kami pun turut meninjau langsung progres dari pembangunan PLBN Entikong Tahap 2 yang dipandu tim dari PLBN Entikong, Adhi Karya, dan Hutama Karya. Dalam catatan saya sepanjang peninjauan tersebut, PLBN Entikong Tahap 2 sejauh ini progresnya sudah sesuai dengan jalur. Berikut, rinciannya:

Waktu Pelaksanaan: 16 Desember 2016 - 1 Oktober 2019
Durasi: 1020 hari kalender (34 bulan)
Nilai Kontrak: Rp 421.144.907.900 (Empat ratus dua puluh satu miliar seratus empat puluh empat juta sembilan ratus tujuh ribu sembilan ratus)

1. Zona Sub Inti
- Karantina Kesehatan (Termasuk Asrama, Ruang Isolasi, R Administrasi, Cek Dokter, R Obat, Karantina Jenazah, R Menyusui, Garasi Ambulans)
- Kantor Pengelola (R Rapat, R Tunggu VIP, dan Toilet Difabel serta Menyusui)
- Mes Pegawai (Luasnya 3.535 meter persegi terdiri dari 32 kamar, R Tunggu, Loker, Laundry, Serbaguna, Toilet)
- Masjid (Luas 1.032 meter persegi dengan kapasitas sekitar 700 jamaah, Tempat Wudu, Toilet)
- Kios (Travel Agent, R Laboratorium Daging, Pengelola Pasar dan Keamanan, Toilet Difabel)
- Car Wash (Car Wash/Fogging Desinfektan, Gudang, Area Mixing Desinfextan & Pengolahan Air Bekas Desinfektan)
- X-Ray (Untuk Truk, Kontainer, dan boks)
- Hardscape & Landscape

2. Zona Pendukung
- Pasar Tradisional (Luasnya 2.729 meter persegi yang terbagi dalam dua lantai untuk memuat 120 tenant)
- Plaza Sentra Entikong (Luasnya 700 meter persegi dengan Ruang Terbuka Hijau, Pedestrian, Ramah Difabel, Tempat Duduk, Area Tunggu, Parkir)
- Wisma Indonesia (VVIP Room, Superior Room, Cafe, Meeting Room, Meeting VIP)
- Convenience Store (Luasnya 3.786 meter persegi pada dua lantai dengan 35 unit kios)
- Hardscape & Landscape

"Hingga kini, pembangunan berjalan sesuai rencana. Beberapa di antaranya progres mencapai 50 persen. Untuk kendala, sejauh ini tidak ada. Meski, kami sempat kesulitan terkait bahan baku. Sebab, mayoritas material dikirim dari Pontianak dan Jakarta yang butuh waktu serta tergantung cuaca. Namun, secara keseluruhan, proyek PLBN Entikong Tahap 2 ini sesuai jalur," kata salah satu staf PLBN Entikong yang mendampingi kami.

Yupz, dengan dibangunnya PLBN Entikong Tahap 2 ini membuat ekonomi warga di perbatasan kian bergeliat. Itu sesuai dengan visi yang dicanangkan presiden terkait pembangunan berbagai PLBN. Menurut Jokowi, pos perbatasan didesain tidak hanya megah secara fisik. Melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat. Sebab, PLBN bisa menggerakkan ekomoni warga di sekitar perbatasan.

"Jadi, bukan hanya sebatas untuk kantor imigrasi, karantina, bea cukai, dan sebagainya. (Namun) harusnya masyarakat bisa memanfaatkan PLBN untuk meningkatkan ekonomi di wilayah perbatasan," Jokowi menjelaskan dalam laman PresidenRI.go.id.

Itu mengapa, dalam proyek PLBN Entikong Tahap 2 ini turut dipercantik pasar tradisional. Sebelumnya, di sekitar PLBN memang sudah ada pasar dan berbagai rumah makan. Hanya, masih kumuh dan belum tertata rapih.

Dengan pengembangan PLBN Entikong Tahap 2 ini membuat pasar tradisional lebih terintegrasi lagi. Selain itu, juga ada kios yang akan diisi travel agent, Convenience Store, dan Plaza Sentra Entikong.

Nah, Pasar Tradisional yang terdiri dari dua lantai ini bentuknya unik. Sebab, di atasnya terdapat rerumputan yang menandakan PLBN Entikong ramah lingkungan. Sementara, aksesnya seperti tangga di stadion yang berbaris rapih.

Di depannya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa dijadikan untuk panggung pertunjukkan. Mulai dari kesenian tradisional, musik, band, teater, dan sebagainya. Tidak lupa, di setiap bangunan turut disediakan toilet untuk kaum disabilitas dan ruangan menyusui bagi ibu yang membawa bayi.

*        *        *
"JANGAN hanya jaga perasaan dia, tapi juga jaga mutu kerja kita!"

"Pakailah APD kalian. Ingat, yang sakti cuman Kera!"

"Kawin, duda, atau jomblo sama saja. Safety First tidak memandang status!"

Demikian berbagai kalimat yang menggelitik dari papan informasi terkait Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi karyawan. Papan informasi ini tersebar di berbagai kawasan proyek dengan kalimat yang unik. Alias, tidak monoton bagi setiap yang melihatnya.

Bisa dipahami mengingat K3 sangat penting dalam setiap pekerjaan, terutama di proyek. Kebetulan, saya sedikit paham dengan K3 karena beberapa kali mengikuti acara yang diselenggarakan Kemen PUPR.

Baik itu pada event blog (Artikel sebelumnya Sinergi Kementerian PUPR dan Blogger untuk Sosialisasi K3 dalam Sebuah Proyek) atau ketika menunaikan tugas jurnalistik (Artikel sebelumnya Sisi Lain Kunjungan Menkeu Sri Mulyani ke Kompleks GBK, Kunjungan Jusuf Kalla, dan GBK Bersolek).

"Memang dibuat agak unik dengan nada guyon tanpa mengurangi inti dari mengingatkan terkait K3. Tidak hanya pekerja saja, tapi juga tamu yang hadir wajib memakai APD (alat pelindung diri) seperti helm. Sebab, namanya di proyek, kami khawatir ada serpihan yang mengenai kepala," lanjut staf tersebut.

Bersambung***
*        *        *
Sesi diskusi dengan perwakilan PLBN Entikong

*        *        *
Maket PLBN Entikong saat ini

*        *        *
Rencana PLBN Entikong Tahap 2

*        *        *
Proyek PLBN Entikong Tahap 2 dengan denah bangunan
(Ilustrasi: Google Earth)

*        *        *
Yupz, yang sakti memang hanya kera! Kalau kita, sebagai manusia wajib
menggunakan APD

*        *        *
Para pekerja di komplek PLBN Entikong Tahap 2

*        *        *
Staf medis Adhi Karya Tika Fitriyani yang mendampingi kami saat meninjau
pembangunan PLBN Entikong Tahap 2

*        *        *
Setuju!

*        *        *
Rumah makan di pinggiran PLBN ini akan dipindahkan ke Pasar Tradisional
yang lebih terintegrasi 

*        *        *
Pasar Tradisional dengan desain unik

*        *        *
Di halaman Pasar Tradisional ini ada Ruang Terbuka Hijau untuk berbagai
pertunjukkan baik seni maupun musik

*        *        *
Selpiiiiiiiiiiiiih

*        *        *

SEKADAR informasi, kunjungan ke PLBN Entikong ini merupakan proyek perdana Setkab dengan menggandeng netizen. Alias, ke depannya, Kementerian yang bermarkas di Jalan Veteran 18, Jakarta Pusat, ini bakal lebih sering mengajak blogger dan pegiat media sosial untuk mengunjungi perbatasan.

Yupz, siapa tahu, setelah saya dan tiga rekan mengunjungi Entikong, giliran kalian yang mendapat kesempatan. Misalnya, ke perbatasan Indonesia dengan Timor Leste dan Papua Nugini. Sebagai gambaran, bisa disimak bocoran dari Setkab:

Website: www.Setkab.go.id/WargaNetkePerbatasan
Facebook: @setkabgoid
Twitter: @setkabgoid
Instagram: @Sekretariat.Kabinet
Youtube: Sekretariat Kabinet RI
Tagar: #MenujuIndonesiaMaju#WajahBaruPerbatasan

*        *        *

Artikel ini merupakan bagian dari Seri Kunjungan ke PLBN Entikong
- Prolog
Catat, Setkab Selenggarakan Lomba Medsos Berhadiah Rp 107 Juta!
(Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia
Pelangi yang Indah Bersinar di Sanggau
Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga

Artikel Selanjutnya:
- (Meme) Jangan Hanya Jaga Perasaan Dia, tapi Juga Juga Mutu Kerja Kita
- Di Indonesia Bayar dengan Ringgit, di Malaysia Pakai Rupiah
- Di Balik Kunjungan ke PLBN EntikongEpilog

*        *        *
Jakarta, 27 April 2018