TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 02 September 2020

Freja Suites BSD City Jawab Kebutuhan Milenial


Freja Suites merupakan cluster baru yang terletak di
pusat BSD City
(Sumber foto: FrejaSuites.com)


KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata milenial. Yaitu, orang atau generasi yang lahir pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Itu berarti, saya termasuk. Nah, pada usia produktif ini, tentu saya memiliki tiga kebutuhan utama, yaitu sandang, pangan, dan papan.

Untuk sandang dan pangan, sudah saya wujudkan dalam keseharian. Namun, tidak (tepatnya belum)  dengan papan. Sebab, saya masih tinggal bersama keluarga, tepatnya Orangtua. Wajar saja, mengingat saya masih single, alias belum berumah tangga.

Beda lagi, jika sudah menikah, tentu saya -kelak- akan menempuh hidup baru bersama istri dan anak. Untuk saat ini, masih bersama-sama keluarga. Ya, sambil berhemat ketimbang harus kost. Alhasil, uangnya ditabung demi masa depan. Salah satunya, beli rumah.

Sebagai bagian dari generasi milenial, saya punya cita-cita untuk memiliki hunian yang sesuai kebutuhan. Itu meliputi lokasi yang strategis, fasilitas lengkap, harga kompetitif, hingga kredibilitas pengembang yang terpercaya. Semua kriteria itu ada pada Bumi Serpong Damai (BSD) City.

Yupz, tinggal di kota mandiri yang terletak di barat daya ibu kota ini merupakan impian saya sejak lama. Mungkin, dari saya masih kanak-kanak hingga rekan seangkatan sudah punya banyak anak lagi. Maklum, BSD City memiliki prestise tersendiri bagi saya.

Apalagi, kini setelah saya menyimak booming-nya klaster Freja House. Berdasarkan informasi resmi di berbagai media nasional, diketahui cluster tersebut laris manis bak kacang goreng. Sebab, terjual habis hanya dua pekan sejak 30 Juli pada peluncurannya hingga 13 Agustus lalu.

Sebagai gambaran, Freja House, berukuran 4x10 meter persegi dengan dua kamar tidur yang memiliki rentang harga Rp 1-1,2 miliar. Gayung pun bersambut terkait larisnya Freja House dari Sinar Mas Land. Pemilik BSD City yang jadi salah satu unit usaha dari Sinar Mas ini pun bak menyambut bola. Bisa dipahami mengingat permintaan pasar yang diprediksi masih besar bagi kalangan milenial.

Itu mengapa, BSD City pun meluncurkan klaster Freja Suites. Yaitu, hunian yang memiliki ukuran lebih besar daripada Freja House. Ya, dari laman resminya di www.frejasuites.com, terdapat dua tipe ukuran. Luasnya, 5x10 dan 5x12 meter persegi dengan masing-masing tiga kamar tidur.

Bagi kalangan milenial atau keluarga muda, keberadaan Freja Suites jadi jawaban yang ideal. Ya, secara luas, tergolong ideal. Apalagi, mengingat lokasinya yang fenomenal karena terletak di pusat BSD City. Ya, dari klaster Freja Suites hanya selangkah menuju AEON Mal, exit Tol, dan stasiun kereta. Alhasil, BSD City-Jakarta dan sebaliknya sangat mudah diakses.

Itu yang jadi pertimbangan saya jika kelak sudah memiliki dana untuk mewujudkan cita-cita tinggal di klaster Freja Suites. Ya, seperti yang sudah saya tuliskan pada paragraf sebelumnya. Bahwa, lokasi Freja Suites sangat strategis.

Berdasarkan estimasi via peta digital, hanya berjarak 10 menit dari kawasan Pondok Indah jika ditempuh dengan kendaraan roda empat diikuti pusat bisnis Sudirman (30), dan Bandara Soekarno-Hatta (40). Atau, jika bepergian melalui angkutan umum seperti yang biasa saya lakukan, pun sangat mudah. Itu karena terdapat tiga stasiun yang berdekatan, yaitu Cisauk, Serpong, dan Rawa Buntu.

Bagaimana dengan fasilitasnya? Menurut saya, tergolong lengkap. Sebab, dekat dengan kawasan intermoda, selain stasiun juga ada bus dan pasar modern. Bahkan, untuk hiburan pun sangat melimpah. Mulai dari AEON Mall, Breeze, Q Big, hingga Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang rutin menyelenggarakan berbagai pameran, termasuk mobil setiap tahunnya.

Nah, memiliki hunian di masa depan, tentu membuat saya harus mengingat terkait pendidikan untuk anak. Di sekitar Freja Suites ini terdapat fasilitas pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Termasuk Sinarmas World Academy (SWA), Universitas Prasetiya Mulya, International University Liaison Indonesia (IULI), dan sebagainya.

Kemudahan akses dan fasilitas yang lengkap memang jadi standardisasi Sinar Mas Land dalam setiap meluncurkan propertinya. Bisa dipahami mengingat pengalaman mereka dalam 40 tahun ini sudah mengembangkan lebih dari 50 proyek di Tanah Air. Termasuk, Freja Suites yang merupakan cluster baru dengan lokasi fenomenal di pusat BSD City ini.

Maklum, sejak dibangun pada dekade 1980-an, BSD City menjelma sebagai kota mandiri yang ideal. Keberadaannya, sukses mengurangi beban Jakarta yang kian sesak. Apalagi, mengingat lokasinya yang mudah diakses, baik kendaraan pribadi maupun umum seperti kereta api dan bus.

Ditambah dengan latar belakang Sinar Mas Land yang jadi pengembang terpercaya sejak puluhan tahun silam yang memiliki kredibilitas positif di mata calon konsumen. Termasuk, saya yang yang kian terpikat usai menyaksikan tour show unit Freja Suites di laman resmi youtube BSD City Residential.

Bagaimana tidak? Sebab, setiap sudut di Freja Suites sangat memesona. Itu karena layout ruang yang inovatif dan fully furnished! Ya, ketika kita membeli unit di Freja Suites, sudah termasuk perabotan di dalamnya. Jadi, tidak perlu mengeluarkan dana lagi.

Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan itu membuat Freja Suites benar-benar jadi hunian ideal bagi saya di masa depan. Yupz, the Truly Urban House for Millenials in the Heart of BSD City!


*         *         *
Lokasi Freja Suites di pusat kota BSD City
(Foto: www.frejasuites.com)

*         *         *
Interior Freja Suites yang sangat memesona
(Foto: www.frejasuites.com)

*         *         *
Akses mudah dan fasilitas yang lengkap jadi jawaban Sinar Mas Land terkait
kebutuhan hunian bagi kalangan milenial

*         *         *
Youtube Freja Suites

*         *         *
Artikel Terkait BSD dan Sinar Mas Land
- Sinar Mas World Academy BSD
- Berawal dari Kebaikan

*         *         *
- Jakarta, 2 September 2020

Jumat, 31 Juli 2020

Antara Rokok, Cukai Naik, dan Pandemi


Talkshow yang diselenggarakan KBR dengan tema "Mengapa Cukai
Rokok Harus Naik Saat Pandemi" pada 29 Juli lalu


PANDEMI Koronavirus berdampak luas bagi umat manusia di kolong langit. Termasuk, di Tanah Air yang berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada Kamis (30/7) sudah mencapai lebih dari 100.000 jiwa yang terdampak.

Imbasnya, tidak hanya berdampak pada kesehatan dan ekonomi saja yang dirasakan nyaris seluruh lapisan masyarakat. Melainkan juga berbagai faktor lainnya, misalnya, industri, pariwisata, pertanian, jasa, dan sebagainya.

Tentu, yang fatal saat ini terkait kesehatan. Apalagi, jika seseorang yang mengidap Penyakit Tidak Menular (PTM) dan terjangkit korona bisa berpotensi tinggi. Nah, berdasarkan riset Kementerian Kesehatan, salah satu faktor PTM adalah merokok.

Itu meliputi Kardiovaskular, Kanker, Paru Kronis, dan Diabetes atau Kencing Manis. Selain itu, rokok juga disebut jadi faktor risiko penyakit menular seperti TBC dan Infeksi Saluran Pernapasan.

Btw... Saya perokok! Yupz, jujur saja. Saya memang perokok aktif. Malah, sehari bisa sebungkus. Terlebih dengan profesi sebagai ojol alias ojek online yang membuat mayoritas waktu saya berada di jalanan. Alhasil, rokok sudah jadi tandem saya bersama kopi hitam dan cemilan yang meliputi gehu pedas dan kuaci.

Nah, sebagai ojol, tentu saya punya banyak waktu luang untuk melihat perkembangan informasi terkait Koronavirus. Tidak hanya di berita online saja, melainkan juga media sosial seperti twitter, facebook, dan instagram, serta rutin mengecek youtube. Bukan sekadar untuk dengar lagu atau mencari video klip terbaru, tapi juga untuk mengamati data terbaru mengenai Koronavirus.

Termasuk, saat menyimak talkshow yang diselenggarakan Kantor Berita Radio (KBR). Awalnya, terkesan akward mengingat saya perokok. Sementara, perusahaan media yang menyokong berita untuk 600 radio di Tanah Air dari Aceh hingga Papua ini mengusung tema yang menurut saya "agak berat". Yaitu, Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi?

Saya pun sempat mengernyitkan dahi. Sebab, sepengetahuan saya, berapa pun harga rokok, pembelinya pasti ada. Itu berdasarkan pengalaman saya yang kerap mengunjungi suatu tempat dan tetap beli rokok.

Misalnya, di Singapura yang per bungkus dibanderol 20 S$. Kalikan dengan Rp 10.000 per dolar Sin. Pun demikian ketika mengunjungi Malaysia, yang banderolnya 30 ringgit dan Wales, 10 poundsterling. Sementara, rata-rata rokok di Tanah Air, "hanya" Rp 20.000. Tergolong murah dan sangat menggoda bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun, saya juga sadar. Di tengah pandemi ini, Indonesia pun terkena dampak ekonomi. Itu mengapa, pemerintah menekankan kepada setiap individu, untuk memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Termasuk, rokok yang bagi sebagian orang, termasuk saya, sudah jadi kebutuhan sehari-hari.

Masuk akal jika saat pandemi ini, cukai rokok dinaikkan. Memang, tidak serta-merta membuat orang untuk berhenti merokok. Minimal, akan berusaha mengurangi alokasi bujet untuk rokok. Termasuk, saya pribadi yang sudah melakukannya sejak April lalu terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Maklum, ketika itu, pendapatan berkurang drastis akibat dihentikannya sementara layanan penumpang. Alhasil, biaya untuk rokok pun direlokasi. Tadinya merek lumayan jadi "kelas bawah". Termasuk, awalnya beli per bungkus, menurun jadi setengah. Bahkan, saking bokeknya pada Mei lalu yang bertepatan dengan Ramadan membuat saya hanya mampu beli ketengan, per hari enam atau tiga batang.

Rasa penasaran saya terkait kenaikan cukai rokok pun terjawab saat menyimak lebih lanjut diskusi yang diselenggarakan KBR dengan menampilkan dua narasumber kompeten. Yaitu, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Profesor Hasbullah Thabrany dan Dosen serta Peneliti Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia Renny Nurhasana.

Ya, intinya kenaikan cukai tidak dimaksudkan untuk menghentikan konsumsi rokok di masyarakat. Namun, tindakan ini mampu mengendalikan peredaran rokok. Terutama, di kalangan mengengah ke bawah. Maklum, jadi ironi juga mengingat saat pandemi ini, perusahaan rokok mengklaim peningkatan jumlah produksi dan kenaikan permintaan rokok saat pandemi.

Saya pribadi mendukung rencana pengendalian tersebut. Meski saat ini masih aktif, tapi memang saya berencana untuk berhenti merokok, kelak. Mungkin, ketika sudah memiliki anak. Sebab, tidak lucu juga ketika asyik merokok, asapnya malah mengotori ruangan di rumah.

Niat saya untuk berhenti juga didasari pengalaman teman blogger yang merupakan perokok aktif sejak puluhan tahun. Namun, beliau bisa langsung berhenti seketika pada dekade lalu. Tepatnya, ketika berbincang dengan kolega sesama perokok di ruang tamu rumahnya.

Tidak lama, putranya yang masih balita langsung mencomot rokok dari asbak dan menghisapnya dengan gaya meniru sang ayah. Alhasil, wajah teman saya memerah karena enggan anaknya ikut-ikutan merokok. Sejak saat itu, teman saya pun berhenti ngudut hingga kini yang jadi inspirasi saya di masa depan.

"Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini."

*         *         *


- Jakarta, 31 Juli 2020

Jumat, 15 Mei 2020

Vermuk? 70% Gojekers Setuju, tapi...


Wefie alias foto bersama saya dengan kru Gojek pada suatu event di ibu kota
pertengahan tahun lalu 


VERIFIKASI muka (vermuk) akhirnya akan diberlakukan di Jabodetabek. Demikian pesan dari Gojek pada aplikasi mitra driver, Selasa (12/5).

Pro dan kontra pun merebak jelang peluncurannya dengan terlebih dulu uji coba pada 13 Mei hingga 15 Juni mendatang. Meski, saya dan mayoritas Gojekers (julukan driver Gojek) sudah menduganya sejak bulan lalu. Terutama, setelah beredar info di Batam telah diberlakukan uji coba vermuk.

Bak dua sisi mata pedang, ada yang setuju dan tentu saja menolak. Itu yang saya simpulkan di lapangan dari obrolan sesama driver.

Tepatnya, ketika sharing dengan 10 Gojekers secara random di berbagai wilayah ibu kota, baik saat menunggu orderan atau nongkrong bareng. Mayoritas di antara mereka, tujuh orang, setuju.

Alasannya, kompak. Vermuk bisa meminimalkan penyalahgunaan akun. Bisa dipahami mengingat banyak modus kejahatan yang melibatkan oknum Gojekers yang menimbulkan keresahan masyarakat, khususnya customer. Itu karena penjualan atau penyewaan akun beredar luas.

Tak heran jika dalam keterangan resminya, Gojek langsung menjemput bola.

"Selama ini kami menerima masukan dari Mitra tentang perlunya fitur untuk meningkatkan keamanan akun Anda. Terutama di masa pandemi ini, banyak pihak yang mengambil kesempatan untuk melakukan pembajakan akun."

Di sisi lain, 30% Gojekers yang menolak, menilai, tidak semua akun kedua disalahgunakan.

"Ga semua rekan kita yang beli, pinjam, atau sewa akun itu menyalahgunakan. Paling satu atau dua dari sekian banyak," kata salah satu Gojekers yang saya temui ketika sedang ngalong di suatu sentra kuliner ibu kota.

Tentu saja, dari 10 Gojekers yang saya temui itu, saya tidak menanyakan lebih lanjut apakah mereka pemilik akun pribadi atau tangan kedua. Secara, itu sudah masuk ranah pribadi. Alias, di luar kewenangan saya sebagai blogger yang merangkap ojek online (ojol).

Saya pribadi tentu mendukung diberlakukan Vermuk. Itu karena posisi saya sebagai mitra PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek).

Simpelnya, apa yang ada di aplikasi saya jalankan. Jika keberatan, tentu saya punya hak untuk mengabaikan, mengingat status saya hanya mitra dan bukan karyawan.

Tidak hanya soal vermuk saja, melainkan juga orderan. Jika ada orderan yang "tidak masuk akal" dan mendapat customer yang nakal dengan menjurus fiktif (opik), tentu saya menolak.

Pada saat yang sama, tentu saya tidak boleh mengabaikan kemanusiaan. Alias,  wajib berempati kepada Gojekers yang akunnya beli, pinjam, atau sewa. Secara, kami sama-sama cari nafkah demi keluarga. Hanya, jalannya saja yang beda.

Mungkin, Gojekers itu belum berkesempatan untuk buat akun resmi. Sebab, Gojek memang belum membuka pendaftaran bagi driver baru, Goride (sepeda motor). Apalagi, di masa pandemi ini, kantor Gojek atau DSU jam operasionalnya terbatas.

Alhasil, saran saya terkait vermuk ini, win-win solution. Ada baiknya jika buka pendaftaran Goride kembali usai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Gojek memprioritaskan lowongan untuk driver yang selama ini beli, pinjam, atau sewa akun dibanding calon driver baru.

Agar, mereka bisa kembali mencari nafkah demi keluarga tanpa khawatir dengan selfie saat mengambil orderan. Namun, prioritas ini hanya untuk pendaftaran saja.

Terkait orderan, tentu sesuai sistem yang berlaku dengan kemungkinan harus siap untuk adu sigap dengan sesama Gojekers lainnya agar sama-sama gacor. Setelah itu, baru terlihat seleksi alam yang sesungguhnya.*

Responden: 10
Status: Driver Goride
Durasi: 12-14 Maret 2020
Periode: 15.00-07.00 WIB (tentatif)
Gender: Pria
Usia: 25-55 (perkiraan)
Area: Jakarta Barat, Pusat, Utara, dan Selatan

*         *         *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB
Kamaratih
Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek


Suasana Safety Riding yang diselenggarakan Gojek bekerja sama dengan
Rifat Drive Labs di kawasan timur ibu kota pada 2019


*         *         *
Disclaimer: Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi yang dipadukan dengan sharing rekan-rekan sesama ojol di lapangan yang khusus ditujukan di blog www.roelly87.com dan bukan dimaksud sebagai survei publik.

- Jakarta, 15 Mei 2014

Minggu, 10 Mei 2020

Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB






PEMBATASAN Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat sendi-sendi perekonomian di Tanah Air jadi menurun. Baik itu pengusaha, pedagang, wiraswasta, hingga ojek online (ojol).

Ya, termasuk saya yang merupakan ojol mitra Gojek (PT Aplikasi Karya Anak Bangsa). dan mulai full time sejak Januari lalu. Dalam dua bulan pertama pada 2020, saya benar-benar merasakan nikmatnya sebagai ojekers -julukan ojol Gojek-.

Bisa dipahami mengingat per hari sejak pagi hingga lepas petang, minimal saya mendapat Rp 200 ribu. Itu bersih. Alias, sudah dipotong bensin, makan, air mineral, kopi, rokok sebungkus (maaf, saya perokok), cemilan gorengan, dan lain-lain. Kalau dihitung, bisa Rp 300-400 ribu.

Hanya, kemesraan itu tidak berlangsung lama. Sebab, pada 10 April, diberlakukan PSBB di Jakarta yang beberapa hari berselang diikuti kota-kota penyangga lainnya. Pembatasan ini berlanjut pada 24 April hingga 21 Mei mendatang. Bahkan, ada kemungkinan bertambah melintasi Juni. Tentu, kita berharap, PSBB cukup hingga bulan ini saja.

Kendati, tujuan pembatasan ini sangat baik. Tepatnya, untuk menekan peningkatan Covid 19 atau Corona.

Namun, harus diakui ada harga mahal yang harus ditebus. Salah satunya dari segi ekonomi yang membuat mayoritas masyarakat tidak bisa beraktivitas dalam mencari nafkah. Tentu, tidak hanya ojol saja. Melainkan juga profesi lainnya, seperti ASN, pedagang, pengusaha, industri, hingga pariwisata.

Nah, sebagai blogger yang sehari-harinya merangkap gojekers, tentu yang ingin saya bahas dalam artikel ini terkait ojol. Bohong jika selama PSBB ini pendapatan di dunia per-ojolan tidak turun, apalagi naik. Namun, seperti kata pepatah, selalu ada jalan menuju Roma.

Hingga awal April, rata-rata saya per hari mendapat Rp 200 ribu bersih. Ketika PSBB, menyusut drastis. Bahkan, pernah hanya puluhan ribu dalam sehari! Itu yang saya alami pada awal-awal PSBB mengingat saya akun pantat, alias histori di Gojek, terbiasa mengangkut penumpang (GoRide).

Beruntung, seiring waktu berjalan, saya mulai "terapi". Yaitu, membiasakan untuk lebih sering membeli makanan (GoFood), antar barang (GoSend), belanja (GoShop), dan layanan lainnya dari Gojek. Alhasil, sejak akhir April hingga kini, pendapatan saya sudah lumayan membaik. Memang, belum bisa setara ketika masih normal. Namun, untuk ukuran saat pandemi ini, per hari dapat Rp 150-200 ribu, bersih, itu sudah lumayan.

Tentu saja, itu diraih tidak semudah membalikkan telapak tangan. Melainkan, harus terapi, sabar, dan rajin. Yupz, saya pernah nongkrong bareng rekan-rekan di salah satu pusat perbelanjaan di jantung ibu kota. Ketika itu, mereka bolak-balik beli makanan atau antar barang. Sementara, saya? Cukup jadi penonton. Nah, setelah terapi, saya dan mereka, sama-sama mendapat orderan yang bisa dibilang lumayan.

Ada banyak cara agar bisa gampang cari orderan alias Gacor. Beberapa di antaranya, berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing dari rekan-rekan di lapangan, meliputi:

- Tidak pilih-pilih orderan. Baik itu GoFood, GoSend, GoShop, GoMed, hingga GoMart, ambil terus!

- Kurangi kapasitas memori di smartphone. Alias, uninstal aplikasi yang tidak perlu. Misalnya, di telepon seluler (ponsel) saya yang utama dipertahankan adalah Gojek Driver, Gojek, Google Maps, WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Instagram. Secara tidak langsung, ini berpengaruh pada kinerja smartphone yang berkolerasi dengan aplikasi Gojek Driver dan Maps.

- Setel pengeluaran, harga maksimal orderan ke Semua. Jangan Rp 50, 100, atau 200 ribu. Secara, semakin besar setelan Anda, orderan pun kian gampang. Pengalaman pribadi, dalam sehari, saya rutin mendapat order di atas Rp 200 ribu. Bahkan, rekor tertinggi, nyaris sejuta! Tepatnya, Rp 937.800.

- Sisakan saldo Gopay di atas Rp 200 ribu. Ini berkolerasi dengan poin di atas. Bahkan, saldo saya selalu di atas Rp 500 ribu.

- Perhatikan rating kepada penumpang. Saya jarang memberi penilaian bintang empat ke bawah meski seburuk apa pun perlakuan customer. Bisa jadi, ini yang diperhatikan sistem Gojek. Sebab, jika kita kerap memberi rating buruk kepada penumpang, nanti algoritma mesin menyangka kita sebagai driver yang baperan! Yupz, biasakan kasih rating 5. Kecuali, jika cust itu memang parah. Mau tidak mau, yang apa adanya.

- Jadi agen GoPay. What? Yupz, saya kerap mengisikan GoPay kepada penumpang. Baik itu menawarkannya atau customer itu sendiri yang meminta. Nominalnya mulai dari Rp 25 hingga 500 ribu. Asumsi saya, ini cukup penting yang kemungkinan terbaca sistem, bahwa "akun kita cukup baik". Namun, harus diingat. Kita mengisikan GoPay jika sudah bertemu langsung dengan customer. Andai cust meminta cepat dan terburu-buru saat kita menunggu orderan GoFood atau GoShop, tentu lebih baik ditolak. Sebab, itu rentan penipuan. Oh ya, saya juga sering mendapat orderan GoFood dan GoShop di atas Rp 500 ribu dari penumpang yang belum memiliki rating. Untuk itu, saya biasakan menelepon Customer Service (CS) Gojek lebih dulu. Saya tanya riwayat calon customer tersebut. Jika operator CS menyebut, cust selalu menyelesaikan orderan, tentu saya akan lanjut. Sebaliknya, andai CS mengatakan cust baru sekali atau bahkan belum pernah order, sudah pasti saya cancel. Meski tarifnya besar, tapi mencegah lebih baik daripada mengobati.

Oke, cukup sekian sharing saya pada artikel ini. Nantikan, terkait orderan lainnya pada tulisan selanjutnya!

Salam satu aspal.

*         *         *
Isi GoPay ke customer Rp 500 ribu

*         *         *
Isi GoPay ke cust secara beruntun

*         *         *
Rekor orderan terbesar, Rp 937.800

*         *         *
GoFood dan GoShop yang aduhai

*         *         *
Cust belum ada rating tapi memiliki
riwayat baik dalam menyelesaikan
orderan setelah saya berkomunikasi
dengan CS Gojek

*         *         *
Awalnya deg-degan jika ada cust yang
bayar cash di atas Rp 500 ribu, tapi
seiring waktu jadi sudah terbiasa

*         *         *
Tip yang lumayan dari cust, dengan
rekor tertinggi saya dapat Rp 260 ribu
saat melaksanakan orderan GoShop di
kawasan Kemang

*         *         *
Sabar dan rajin kunci gacor?
Saya sih, yes!

*         *         *


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
Kamaratih
Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
Disclaimer: Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi yang dipadukan dengan sharing rekan-rekan sesama ojol di lapangan. Hasil setiap individu bisa berbeda tergantung situasi, waktu, dan lokasi. Jika Anda punya pengalaman serupa atau sebaliknya, bisa ikut berbagi pada kolom komentar.

- Jakarta, 10 Mei 2020

Selasa, 05 Mei 2020

Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima



Beragam koleksi HaiKlip, termasuk Risalah Lima Bintang tentang Dewa
(Foto: Koleksi pribadi 2011/@roelly87)


DENGAN bergabungnya Once dan Tyo (drum), Dewa mengalami revolusi bentuk. Perubahan terasa hampir menyeluruh. Bukan cuma pada warna vokal atau sound drum, tapi juga gaya penulisan. Lagu Cemburu yang bernuansa rock and roll secara tegas memperlihatkan hal itu. Hanya saja, tarik ulur emosi selama masa penggarapan nampaknya sulit dihindari.

Kesulitan terutama dirasakan oleh Andra (gitar) yang sudah terbiasa dengan gaya vokal Ari Lasso. Menurut Dhani, vokal ngerock Once tergolong sulit dikawinkan dengan personel Dewa, termasuk Erwin Pras (bas). Jalan tengah yang diambil: Dewa mengikuti gaya Once. Hasilnya, ya, album Bintang Lima itu.

"Di album baru nanti, baru Once yang ngikutin gaya Dewa," katanya menjelaskan. Jika dikaitin ama konsep bermusik sebuah band, cara seperti ini tentu merupakan sebuah "penyelewengan". Rupanya dalam kerangka industri hiburan, gejala seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh, orang selalu bicara hasil akhir. Apalagi, di negeri dimana masyarakat musiknya selalu menggunakan angka penjualan sebagai barometer keberhasilan.

Sadar atau nggak, Dhani udah membiarkan dirinya larut dalam pusara tersebut. Dengan prinsip seperti itu, cowok yang melewatkan masa remajanya di Surabaya ini mampu bertahan dari kerasnya kehidupan Jakarta, dan berhasil membawa Dewa dari "band daerah" menjadi salah satu ujung tombak musik pop Indonesia.

Kini Dhani, yang belum lama menyelesaikan album solo Tere, tengah menuai hasil jerih payahnya selama ini. Ia memiliki rumah di jalan Pinang Emas, Pondok Indah, beberapa blok dari Mal Pondok Indah. Ia hidup tenang ditemani Maya Eksianty, mantan penyanyi latar Dewa 19, yang telah memberinya dua putra. Dhani juga punya studio pribadi yang terletak cuma "seperlemparan batu" dari rumahnya. 

Bangunan berlantai dua itu berfungsi sebagai kantor Dewa merangkap studio rekaman yang, menurutnya, dibiayai dari kocek pribadi. Untuk merenovasi rumah yang dikontraknya selama 4 tahun itu, dia mengeluarkan 100 juta rupiah.

Hasilnya memang funky. Pada dinding bagian atas tergambar dua relief bernuansa religius. Bagian kiri melukiskan umat Hindu tengah melakukan tapa sampai mati dan, diasumsikan, jiwanya sampai ke nirwana. Sedang bagian kanan memperlihatkan seorang pria berpakaian serba putih. Itulah varian dari ajaran Jalaludin Rumi, tokoh sufi yang dikaguminya. Dipadu dominasi warna pop art, Dhani nampaknya sengaja "membenturkan" dua kultur yang berbeda. Yakni, tradisional dengan modern.

Nah, dari tempat itulah dia mengekpresikan naluri seni, termasuk merekam album-album Dewa. Dia memanfaatkan waktu luang dengan bermain sepak bola bareng para kru dan personel Dewa lainnya. Penghuni tempat itu memang penggila bola semua.

Itulah Ahmad Dhani, figur dominan dalam Dewa. Dia pemain keyboard, vokalis, dan penulis sebagian besar lagu. Gerayangan tangannya bahkan sampai ke soal negosiasi dengan promotor atau pihak luar lainnya. Padahal Dewa sudah punya Didiet Dada sebagai manajer. Tapi, sampai sekarang, dia masih ikut turun tangan dalam masalah keuangan. Kalo mau jujur, kelebihan Ahmad Dhani ini sekaligus merupakan kelemahan Dewa dalam konteks profesionalisme.

"Kalo gua dinilai dominan, wajar saja. Dari dulu di Dewa apa-apa gua yang melakukan. Dari mulai nawarin master rekaman, naik turun bus kota di Jakarta, sampai ngurus kontrak sama promotor. Selain itu, di Dewa cuma gua yang anak pertama, lainnya kan bungsu semua. Mungkin karena itu, jiwa kepemimpinan gua lebih menonjol daripada yang lain."

Dhani lantas menganalogikan dirinya sebagai gabungan dari berbagai potensi. Dia adalah George Martin (produser The Beatles), Brian Epstein (manajer The Beatles), Paul Mc Cartney (penulis sebagian besar lagu The Beatles), Roy Thomas Baker (produser sejumlah album Queen) dan lain sebagainya.

Dengan kalimat ringkas, dia adalah sosok yang mampu melakukan beragam pekerjaan dalam waktu bersamaan. Boleh jadi, daftar ini akan bertambah panjang dengan pekerjaan baru yang ingin dilakukannya: Kontraktor!

Pentolan Dewa jadi kontraktor? "Lho, mengapa tidak? Gua kan senang mendesain. Siapa tau nanti ada yang ngebutuhin model rumah hasil rancangan gua," katanya terkekeh.

Ya, tapi kalo Dhani yang merancang interior sebuah rumah, sudah terbayang ongkos yang harus dikeluarkan!

*        *        *

Sebelumnya:
Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
KamaRatih

Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 12 Ramadan 1441


Jakarta, 5 Mei 2020