TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 26 November 2021

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta


Ilustrasi @roelly87


GRAFIK penurunan penderita Koronavirus sejak beberapa bulan terakhir jadi momentum terbaik bagi masyarakat Indonesia. Itu setelah Covid-19 melanda negeri ini sejak Maret 2020. 

Namun, seiring waktu berjalan, kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga seluruh rakyat di nusantara sukses menekan laju penyebaran Koronavirus. Ini jadi kabar baik bagi semua orang. 

Termasuk, saya yang sehari-hari berada di jalan. Tepatnya, sebagai ojek online (ojol) yang sangat menyambut gembira. Itu terlihat dengan kemacetan di berbagai sudut ibu kota. 

Pertanda, situasi pada mayoritas wilayah di Tanah Air sudah membaik. Memang, belum normal seperti sediakala. 

Di sisi lain, sudah menunjukkan bahwa kehidupan di nusantara ini akan pulih kembali. Ya, itu jadi harapan semua pihak. 

Nah, bulan ini juga kita memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh setiap 12 November. Ini jadi momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak tentang pentingnya kesehatan.

Bisa dipahami, sebab seperti yang kita ketahui, kesehatan merupakan hak dan pelayanan dasar yang harus dipenuhi negara. Ini sebagaimana tercantum dalam UU No 39/tahun 2009 tentang kesehatan, perlu diselenggarakan secara berkeadilan dan tidak diskriminatif.

Artinya, setiap warga negara, tak terkecuali penyandang disabilitas, termasuk orang dengan atau yang pernah mengalami kusta, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Hanya, berbagai tantangan dan keterbatasan sumber daya membuat pelayanan ksehatan seingkali belum aksesibel bagi mereka. Untuk itu, penyelenggaraan program layanan kesehatan inklusif terus diupayakan banyak pihak. Termasuk, LSM dan berbagai badan usaha melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) alias tanggung jawab sosial perusahaan.

Eit... Kenapa saya mengaitkan kusta dengan situasi pandemi saat ini?

Sebab, memang sangat berkolerasi. Seperti yang saya sempat bahas di blog pada bulan lalu. Jujur saja, menulis tentang kusta ini sangat berat. Beda jika harus mengulas terkait tema kesehatan lain. Misalnya, diabetes yang sering saya tulis di blog ini berdasarkan pengalaman ibu saya.

Sementara, kusta, untuk saat ini saya belum bersinggungan secara langsung. Beruntung, saya merupakan penggemar cerita silat (Cersil) yang dalam kisah Tiga Dara Pendekar disinggung terkait mitos penyakit kutukan ini.

Apalagi, setelah saya rutin menyimak kabar di KBR yang kerap berkolaborasi dengan para blogger. Termasuk, Komunitas Indonesian Soial Blogpreneur, yang biasa berbagi informasi terkait kehidupan sehari-hari, kesehatan, wisata, edukasi, hingga hobi.

Itu yang saya alami saat menyimak webinar terkait kesehatan dalam Ruang Publik KBR: Bahu Membahu untuk Indonesia Sehat dan Bebas Kusta. Bincang-bincang itu saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=NfKl_Qt21xA yang berlangsung Rabu (24/11).

Terdapat dua narasumber yang aktif berbagi info kepada seluruh peserta, termasuk blogger yang rutin bertanya. Itu meliputi, Ketua TJSL PT DAHANA (Persero) Eman Suherman, SSos dan Junior Technical Advisor NLR Indonesia dr Febrina Sugianto.

"HKN 2021 ini jadi momen yang ditunggu. Kami, dari NLR Indonesia berharap, lebih banyak partisipasi dari masyarakat," kata Febrina. "Partisipasi dari banyak pihak akan membuat kusta bisa diketahui masyarakat umum. Kami juga bersama banyak pihak melakukan edukasi terkait kusta beserta mitos yang menyertainya."

Eman menambahkan, "Dari kami sebagai bagian dari BUMN, ada banyak program. Termasuk,kusta untuk penanganan yang lebih luas sasarannya. Selain itu, ada peran dari semua pihak, terutama kami, dalam sosialisasi kepada masyarakat penderita kusta. Salah satunya, pengobatan gratis kepada warga. Juga, menghapus diskriminasi terkait penderita kusta kepada masyarakat."

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Untuk menghapus stigma negatif kusta di masyarakat, dibutuhkan kerja sama banyak pihak. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan swasta, LSM, hingga masyarakat itu sendiri, termasuk saya dan Anda, pembaca blog ini. 

*      *      *

Artikel Terkait:
- Karena Kusta Bukan Kutukan

*      *      *

- Jakarta, 26 November 2021

Selasa, 23 November 2021

23 Tahun sebagai Nasabah BCA

23 Tahun sebagai Nasabah BCA23 Tahun sebagai Nasabah BCA

Halaman depan Tahapan BCA saya
(Foto: Koleksi pribadi/@roelly87)


SEBERAPA gereget koleksi jadul Anda? 

Kalo saya sih, tergolong dikit. Mayoritas terkait kertas.

Misalnya, komik, majalah, koran, tabloid, buku, dan sebagainya. Berbagai koleksi tersebut sudah saya miliki sejak 1993. Tepatnya, ketika saya mulai hobi baca saat Sekolah Dasar.

Juga, ada beragam koleksi mainan. Itu meliputi wayang golek, wayang kulit, Lu Bu dengan Kelinci Merah, Spider-Man, Wolverine, Batman, Superman, Doraemon, Trunks, Power Rangers, dan banyak lagi. Baik beli sendiri atau dapat dari paket makanan cepat saji.

Selain itu, koleksi jadul saya yang sempat bikin kaget adalah buku rekening. Tepatnya, Tahapan Bank Central Asia (BCA) yang tertera pada halaman awal bertanggal 1 April 1998.

Alias, sudah lebih dari 23 tahun silam! Bisa dibilang, sudah hampir satu generasi...

*       *       *

DUA puluh lima tahun adalah satu generasi. Demikian, kutipan dari cerita silat (Cersil) Legenda Pendekar Pemanah Rajawali karangan Chin Yong alias Jin Yong.

Versi Inggrisnya disebut The Legend of the Condor Heroes. Hanya, di Tanah Air lebih populer dengan bahasa Hokkian, yaitu Sia Tiauw Eng Hiong.

Dalam kisah tersebut, terkait Adu Pedang di Gunung Hoa (Hoasan Lun Kiam) edisi perdana yang dimenangkan Ong Tiong Yang. Sosok berjulukan Dewa Pusat itu jadi yang terbaik sekaligus memiliki kitab silat Kiu Im Cin Keng usai unggul mutlak atas empat pendekar tangguh.

Yaitu, Oey Yok Su si Sesat Timur, Auw Yang Hong (Racun Barat), Toan Hongya (Kaisar Selatan), dan Ang Cit Kong (Pengemis Utara). Selain kelimanya, ada dua tokoh tangguh yang sayangnya absen, Ciu Pek Thong (Bocah Tua Nakal) dan Kiu Cian Jin (Ketua Tapak Besi).

25 tahun berselang, di puncak gunung Hoa, bertambah lagi pendekar tangguh dari generasi muda yang ikut serta. Yaitu, Kwee Ceng yang merupakan murid Ang Cit Kong dan Kang Lam Cit Koay serta calon menantu Oey Yok Su.

Di edisi kedua itu, terdapat perubahan peserta. Ong Tiong Yang sudah lama mangkat. Ciu Pek Thong dan Kiu Cian Jin kembali absen meski sudah berada di puncak bersama Toan Hongya.

Alhasil, peserta orisinal hanya Oey Yok Su, Auwyang Hong, dan Ang Cit Kong, diikuti Kwee Ceng. Pemenang edisi kedua, bagi Anda pencinta cersil tentu sudah tahu.

Ya, 25 tahun bukan rentang waktu yang lama. Hanya, juga tidak bisa dikatakan sebentar.

Saat Hoasan Lun Kiam edisi perdana, bahkan Kwee Ceng belum lahir. Namun, kehadirannya 25 tahun berselang menandakan regenerasi pendekar di dunia kangouw berjalan dengan baik.

Apalagi, pada akhir kisahnya, Jin Yong melukiskan dengan epic. Kwee Ceng gugur sebagai patriot dari Dinasti Song usai mati-matian mempertahankan Kota Siangnyang dari gempuran pasukan Mongol.

*       *       *

Yeeeei, setoran awal saya hanya Rp20.000!


MEMASUKI bulan dengan "akhiran ber", artinya sudah berada pada musim penghujan. Sebagai ojek online (ojol), periode ini jadi dilematis.

Sisi positifnya, orderan melimpah. Bahkan, terdapat lonjakan tarif hingga empat kali lipat dari harga normal.

Momen ini yang sangat ditunggu bagi mayoritas ojol di penjuru nusantara. Termasuk, saya yang terbiasa menari di bawah badai.

Wajar, jika hujan bagi saya hanya tetesan air yang turun dari langit. Bermodalkan mantel yang melindungi tubuh dari kepala hingga kaki, saya pun seperti sudah terbiasa.

Hanya, bagaimanapun, daya tahan manusia ada batasnya. Meski cuma setetes, tapi rinai tetaplah air yang jika kena tubuh sangat riskan mendatangkan penyakit.

Itu yang saya alami beberapa waktu lalu ketika akhirnya harus istirahat ngojol akibat kehujanan. Efek kedinginan, menggigil, hingga masuk angin, bikin kepala jadi berat.

Alhasil, istirahat jadi obat yang paling mujarab. Minimal, sehari-dua hari berada di rumah untuk memulihkan kondisi tubuh.

Meski, agak berat juga bagi saya yang terbiasa gerak. Sebab, tanpa aktivitas bikin tangan, kaki, hingga bagian tubuh lainnya jadi kaku.

Maklum, dari dulu, saya paling ga bisa berdiam diri. Namun, faktor kondisi tubuh yang belum pulih membuat saya tidak punya pilihan.

Sebab, sangat berbahaya jika memaksakan ngojek dengan kepala yang masih berat. Maklum, di jalanan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Alhasil, sambil istirahat, saya pun menyibukkan diri dengan beragam aktivitas di rumah. Mulai dari streaming berbagai film, buka medsos, hingga berselancar ria di internet.

Saking bosannya jari-jari ini scroll layar hape, saya pun iseng membongkar tumpukan dus berisi koleksi buku dan sebagainya. Itu merupakan harta karun bagi saya yang tersisa untuk diselamatkan usai sebagian besar terendam banjir 2012-2014 lalu.

Ketika asyik membaca berbagai buku jadul, pandangan saya tertuju pada selembar tipis berwarna biru. Yaitu, buku rekening Tahapan BCA.

Dari sampulnya saja, terlihat kusam. Bekas noda akibat terendam banjir dan beberapa halaman ada yang sobek tipis-tipis.

Namun, itu tidak menghalangi ketertarikan saya untuk membedahnya lebih lanjut. Saya pun terbelalak saat melihat tahun pembuatannya. Ya, ternyata saya bikin rekening bank untuk kali pertama dalam hidup ini pada 1 April 1998.

Saya masih ingat jelas. Ketika itu, saya masih berseragam putih-merah.

Bikin rekening ditemani ibu. Tak heran, selain nama saya sebagai pemilik, tertera nama pengampu yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya pembimbing atau orang tua, yaitu ibu saya.

Saat mengecek lebih lanjut, setoran awal saya Rp 20.000. Yupz, nominal tersebut jika dibandingkan saat ini memang bisa dibilang kecil.

Namun, jelas tidak bisa dikomparasi dengan sekarang. Salah satunya, terkait inflasi.

Misalnya, ketika SD, uang saku saya hanya Rp 500. Naik jadi Rp 1.000-2000 saat SMP hingga Rp 10.000 jelang lulus SMA.

Lima hari berselang, tepatnya 6 April 1998, saya kembali menabung Rp 5.000. Alhasil, saldo saya jadi Rp 25.000. Cukup besar bagi pelajar yang masih mengenakan celana pendek warna merah dan pulang sekolah asyik mengejar layangan atau bermain kelereng.

Sayangnya, untuk kartu ATM BCA perdana itu, hingga kini saya masih belum menemukan. Ada tiga kemungkinan, sudah dibalikkan ke kantor cabang, hilang tertelan banjir, atau lupa.

Kendati demikian, saya cukup senang karena menemukan berbagai koleksi kartu dari BCA. Mulai dari debit, kredit, Xpresi, hingga Flazz.

Untuk yang terakhir, bahkan ada edisi khusus. Yaitu, kolaborasi BCA dengan Kompasiana dan saat jadi sponsor utama Indonesia Open.

Kebetulan, saya memang tidak asing dengan BCA. Pasalnya, saya kerap mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan bank terkemuka di Tanah Air ini. Baik sebagai blogger atau saat masih bekerja.

Bahkan, punya pengalaman berkesan ketika mengunjungi BCA Learning Institute (BLI) pada 2018 lalu bersama rekan-rekan blogger dan Inke Maris & Associates. FYI, bank yang didirikan pada 21 Februari 1957 ini memang rutin menyelenggarakan atau mendukung berbagai event di Tanah Air.

BCA juga yang jadi sandaran saya saat bikin visa ke Inggris pada 2017 lalu. Maklum, salah satu syarat untuk pergi ke Negeri Penemu Sepak Bola itu harus punya referensi bank disertai dengan jumlah saldo tertentu yang terendap di rekening.

Alhamdulillah, pengalaman saya sebagai nasabah BCA sejak 1998 membuat segalanya berjalan mulus. Pengajuan visa pun berhasil.

Apalagi, kartu Debit dan Kredit BCA yang saya punya pun ternyata bisa digunakan di Inggris. Ini sangat berguna saat saya berkeliling dari London hingga Glasgow  Termasuk, untuk beli oleh-oleh tentunya.

*       *       *

Sebagian koleksi kartu BCA saya dari Debit, Kredit, hingga Flazz


SAKIT itu memang tidak enak. Namun, untuk setiap hal di kolong langit ini, tentu ada dua sisi.

Positifnya, saya bisa istirahat lebih panjang. Bisa dipahami mengingat selama ini waktu saya lebih banyak dihabiskan di jalanan ketimbang di rumah.

Selain itu, saya juga bisa bernostalgia dengan berbagai koleksi jadul. Salah satunya, buku rekening BCA yang sudah berumur 23 tahun. Alias, nyaris satu generasi atau seperempat abad!

Nah, bagaimana dengan koleksi jadul yang Anda miliki?

*       *       *

- Jakarta, 23 November 2021


Jumat, 12 November 2021

Komitmen Jadi Kunci bagi 5 Pemenang Pahlawan IDN 2021

 Komitmen Jadi Kunci bagi 5 Pemenang Pahlawan IDN 2021

Lima Pemenang Pahlawan IDN 2021 (Foto: IDN.Media)

PAHLAWAN adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Bisa juga pejuang yang gagah berani atau hero.

Demikian pengertian pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saat saya berselancar di internet pada 10 November lalu. Yaitu, tanggal yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pahlawan sejak 1959 untuk memperingati segenap pejuang yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan.

Nah, dalam kehidupan sehari-hari saat ini, pengertian pahlawan bisa diperluas. Misalnya, saya yang berprofesi ojek online (ojol) menganggap bengkel atau tukang tambal ban sebagai hero.

Maklum, saya biasa ngalong. Alias, beraktivitas sejak sore hingga subuh. Alhasil, keberadaan bengkel dan tambal ban sangat krusial dalam memperlancar kegiatan saya di jalanan.

Atau, bahkan bisa juga saya sendiri jadi pahlawan. Khususnya, saat situasi ibu kota tidak memungkinkan seperti banjir, macet parah, pandemi, dan lainnya.

Itu yang saya alami pada malam pergantian tahun 2020 dan Februari lalu ketika mayoritas wilayah di Jakarta dikepung air. Saya masih ingat beberapa titik yang saya lalui sebagai ojol untuk mengantar penumpang, makanan, barang, belanja obat, dan sebagainya.

Itu meliputi kawasan Bangka dan Kemang di Jakarta Selatan serta Grogol Petamburan-Kebon Jeruk (Jakarta Barat). Ketika itu, saya benar-benar disambut bak pahlawan saat menjalankan layanan ojol.

Khususnya, terkait antar makanan, obat, hingga susu. Memang, dalam situasi banjir, pemerintah pusat dan daerah selalu sigap mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang memerlukan.

Hanya, itu sebatas beras, mie instan, dan obat generik. Untuk makanan tertentu seperti bayi, vegetarian, hingga obat khusus yang harus beli di apotek, jelas beda.

Itu mengapa, keberadaan ojol disambut hangat. Meski, saat menjalaninya, saya harus bekerja keras juga.

Maklum, saat banjir parah, otomatis listrik padam hingga membuat komplek yang saya tuju gelap gulita. Saya pun harus berjalan  menyusuri jalan setapak diiringi gemericik air yang berkisar dari mata kaki hingga lutut.

Sementara, sepeda motor saya simpan di tempat aman depan komplek atau pos jaga. Sebab, sangat berisiko jika harus mengendarainya akibat rentan terperosok hingga membahayakan diri sendiri.

Namun, selain banjir, gelap-gelapan, bertemu binatang, hingga penampakan hal di luar nalar, ada lagi yang paling saya khawatirkan. Yaitu, jika pesanan yang saya antar tidak dibayar yang membuat saya rugi berkali lipat: Waktu, tenaga, pikiran, dan uang.

Itu bisa karena order fiktif, orang iseng, pemesan ketiduran, atau ponsel customer off akibat listrik padam beberapa hari. Kalau sudah seperti itu, saya pun hanya bisa pasrah.

*     *     *

TERKAIT pahlawan, bertepatan dengan 10 November lalu, saya juga menyimak IDN Media yang telah merilis lima pemenang utama dari program Pahlawan IDN. Tagline-nya, Satu Negeri Beragam Inspirasi yang merupakan program apresiasi  bagi banyak figur inspiratif milenial dan Gen Z. Mereka ini yang berhasil menginisiasi gerakan positif di bidang Pendidikan, Lingkungan, Kesehatan, Ekonomi, Teknologi, Proyek Kreatif, dan Komunitas.

Berikut, lima pemenang utama yang diumumkan lewat platform TikTok IDN Media.

1. Riliv, diwakili Audrey Maximillian Herli
2. Plana (Plastic for Nature), diwakili Joshua Christopher Chandra
3. Mataharikecil Indonesia, diwakili Yasser Muhammad Syaiful
4. BecomeMore Indonesia, diwakili Agalia Sakanti Ardyasa
5. Literasi Anak Banua, diwakili Alvian Wardhana

Ada beberapa aspek yang dinilai meliputi orisinalitas dan keunikan ide, tujuan kegiatan,hasil, dan sebaran dampak di sektor terkait. Serta, keberlanjutan inisiatif mereka dalam jangka panjang. 

Terlebih, yang terlibat dalam Dewan Juri untuk proses penilaian Pahlawan IDN sangat berkompeten. Itu meliputi Winston Utomo (CEO IDN Media), Zefanya Deby (Head of Communications IDN Media), Uni Lubis (Editor-in-Chief IDN Times), Najelaa Shihab (Pendidik & Pendiri Semua Murid Semua Guru), dan William Hendradjaja (Chief of Business Skilvul & Managing Partner of SIAP).

Kelima pemenang utama itu berhak membawa pulang hadiah berupa sejumlah uang tunai serta dukungan publikasi dari IDN Media selama setahun penuh. Mereka juga berkesempatan untuk gabung pada signature event yang dilangsungkan grup media ternama di Tanah Air ini. Serta, terkoneksi dengan jaringan komunitas masif yang dimiliki IDN Media.

"Selamat untuk kelima penerima anugerah Pahlawan IDN yang baru pertama kali kami selenggarakan pada tahun ini. Berfokus pada inovasi dan dampak yang sudah diberikan oleh milenial dan Gen Z, mereka ini memiliki keunikannya tersendiri. Semoga, dengan anugerah ini, kalian dapat terus menjaga komitmen dan keberlanjutan organisasi serta membangun komunitas yang solid," kata Uni dalam sambutannya.

Pernyataan itu bisa dipahami mengingat kerja keras dan komitmen dari segenap peserta yang disaring dewan juri hingga ditetapkan lima pemenang. Sebagai blogger yang besar pada dekade 1990-an ini, saya pun sangat sependapat. Mereka yang tergolong milenial dan Gen Z ini bisa terus berkembang ke depannya dan berkontribusi untuk negeri.

Fakta itu diungkapkan Najelaa. Menurutnya, memberdayakan pihak lain juga harus dimulai dengan memberdayakan diri kita sendiri. "Saya harap, akan ada lebih banyak orang yang sadar bahwa diri kita sendiri, adalah perubahan yang selama ini kita nanti-nantikan," Nejelaa, menjelaskan.

Pada saat yang sama, William mengakui, perjalanan kelima pemenang ini masih panjang. Apalagi, di antara mereka ada yang masih duduk di bangku kuliah. Alhasil, komitmen ini sangat diapresiasi. "Saya sangat terinspirasi oleh teman-teman yang sudah konsisten untuk melakukan misi sosial dan lingkungan pada usia yang masih muda. Perjalanan kalian masih panjang. Jangan lupa, untuk cari support system yang dapat mendukung hal-hal baik yang telah kalian inisiasi," ujar William.

Sebagai informasi tambahan, IDN Media merupakan perusahaan media platform untuk milenial dan Gen Z di Tanah Air dengan lebih dari 70 juta Monthly Active Users (MAU). Saya tidak asing dengan grup usaha ini karena setiap hari selalu membaca informasi yang informatif di beberapa platformnya. 

Misalnya, IDN Times yang memang ditujukan untuk pangsa milenial dan Gen Z. Saya pun berasa jadi anak muda lagi dan tambah semangat mendapatkan suguhan informatif dari situs tersebut. Tidak lupa, Duniaku, yang berisi informasi terkait dunia hiburan seperti film, musik, game, hingga anime.

Bahkan, tahun lalu, IDN Media merilis IDN Pictures, yaitu sub perusahaan film dengan produksi perdana, Balada Si Roy. Adaptasi novel karya Gol A Gong ini sudah saya nikmati dan diulas di blog pada Januari lalu.***


Artikel Terkait:
- Bukan Sekadar Nostalgia, Alasan IDN Pictures Luncurkan Balada Si Roy


*     *     *

- Jakarta, 12 November 2021

Minggu, 31 Oktober 2021

Mangga Besar Punya Cerita

Catatan Harian Ojol VI

Mangga Besar Punya Cerita

Ilustrasi @roelly87



MEMASUKI musim hujan begini membuat dilematis bagi ojek online (ojol). Di satu sisi, bikin rempong. 

Sebab, harus basah-basahan saat menjalankan orderan. Itu meliputi bawa penumpang, antar makanan, dan kirim barang. 

Belum lagi jika deras hingga banjir. Sensasinya, wow banget.

Pada saat yang sama, justru orderan melimpah drastis. Pasalnya, banyak rekan ojol yang off. 

Bahkan, kerap mengalami lonjakan harga dari 1,5 hingga 4 kali lipat dibanding tarif normal. Tak heran jika hujan jadi ajang mendapat tambahan pendapatan.

Termasuk, gw yang berusaha memanfaatkan situasi ini dengan maksimal. Gw ga peduli dengan gerimis, hujan lebat, deras, hingga banjir sekalipun seperti pada malam tahun baru 2020.

Bisa dipahami mengingat gw terbiasa menari di bawah badai. Jadi, bagi gw, hujan hanya tetesan air yang jatuh dari langit.

*     *     *

HUJAN rata di Jabodetabek. 

TangSel banjir.

Kelapa Gading ga gerak.

Kemang macet total.

Demikian sahut-sahutan komentar di Grup WhatsApp basecamp gw. Terdiri dari 19 orang yang sama-sama tinggal dan kerap berinteraksi di PIK coret

Selain gw, ada beberapa rekan ojol yang kerap ngalong di basecamp. Irawan, sudah pasti. Salah satu dedengkot tongkrongan diikuti Drestajumena dan Jayadrata. 

Kalau malam, memang bisa dihitung jari. Beda, jika siang yang basecamp sangat ramai. 

Termasuk, lady ojol yang wara-wiri antar makanan atau barang. Mpok Astuti merupakan pimpinan secara de facto maupun de jure untuk kaum hawa yang berprofesi ojol di kawasan kami.

Sambil neduh di emperan resto yang udah tutup, gw asyik menyeruput secangkir kopi hitam diiringi sebatang mild. Sementara, tangan kanan gw sibuk sroll hp yang penuh notif pada beberapa grup wa.

*Tuti*
Hujan gede euy. Mager mo balik basecamp. Neduh dulu di Mabes.
(21.02)

*Irawan*
Sama pok. Gw di Bonjer nih. Ada lonjakan harga sampe empat kali lipat ke Patal Senayan tp gw lewatin. Dingin euy.
(21.03)

*Gw*
Nunggu reda aja pok. Gw barusan abis dari Kepu. Ir, sama gw tadi dapat food. Tapi tanggung baru beli kopi makanya gw lewatin. :) #SenyumManja
(21.04)

*Dresta*
Woiii... Masih ngebolang aja lo pade. Gw sendirian di basecamp! Anjir mana ga bawa jas ujan.
(21.04)

*Irawan*
Tiati bang Dres, ada yang nemenin. Geulis sih, tapi buukna panjang dan teu boga suku. Ulah khilaf, bisi terbang.
(21.05)

*Tuti*
Ha ha ha, ditemenin kunti loh bang Dres. Liat kanan-kiri. Banyak baca doa :)
(21.07)

*Gw*
Bang Dres, ini gw masih di PangJay ya. Kalo tiba2 gw ada di depan lo, ga usah banyak omong lagi kayak dulu. Langsung kabur aja. ^_^ #MataBelo
(21.08)

*Dresta*
Asuuuuuuu kabeh! Gw mo balik ga bawa jas ujan. :( #Sad
(21.10)

*Jaya*
Ada apa ini rame2? Gw juga kejebak di Jelambar. Kalo reda otw basecamp. Dres, titip salam sama sebelah lo. :) #SenyumJahad
(21.11)

*Dresta*
Anjir. Goblok lo pada. Gw sendirian nih. Mana itu di lapak opang pada sepi. Bodo ah, gw cabut. #Panik
(21.15)

Gw yang baca komentar di Grup WA itu ketawa ngakak menyaksikan bang Dresta dibully. Kita-kita ini kalo udah ngebacot sesama ojol baik ketemu langsung maupun di WA memang ga ada filternya.

Termasuk, lady ojol yang ada empat orang di grup. Tuti paling senior di antara mereka. 

Kami sudah terbiasa ngobrol dengan vulgar dan saling sindir. Namun, tetap ada etika dengan tidak bicara pada hal yang menjurus. 

Yang pasti, grup WA ini dibuat Irawan sejak 2019 sebagai sarana komunikasi antarojol di tempat kami. Termasuk jika ada yang trouble seperti motor mogok, rusak, dan mengalami hal tak terduga saat ngalong, tanpa dikomando, kami langsung otw.

*Gw*
Gw males balik basecamp. Mau ke kostan Sudirga di Mabes. Sekalian ngangetin badan sambil ngopi2 cantik dan main ps. Kalo ada yang mau ikut nyusul aje. Kebetulan Dirga bilang lagi stay.
(21.31)

*Dresta*
Gw udah balik Ka. Salamin aje sama Dirga. Njir dingin gilak, ujan2an gw sampe basah kuyup.
(21.33)

*Irawan*
Ka ngapin lo ke Mabes? Mau Open BO? Gacor tadi ya? #SenyumJahad
(21.33)

*Gw*
Si goblok. Ini Dirga baru beli ps 4. Lo ditantangin Ir, main FIFA. No Cheat, kata dia.
(21.35)

*Irawan*
Sejak kapan Dirga menang lawan gw? Dari zaman Winning Eleven di PS 1, 2, sampe 3, die gw ampasin terus. :) #SenyumKemenangan
(21.38)

*Tuti*
Gw ikut Ka. Lo shareloc ya, mumpung gw di sekitar sini mau ganti baju, ga betah abis basah kuyup. Sekalian mau ngadem. Anak2 gw juga udah pada tidur.
(21.40)

*Jaya*
Gw ga ikut ah. Masih ngalong. Oh iya Ka, bilangin si Dirga. Kalo akun dia ga kepake, mending gw manfaatin jadi duit. He he he :) #KetawaBahaya
(21.42)

*Gw*
Siap bang Jay, ntar gw bilangin. Daripada akun dia dah lama ga dipake, takutnya disuspend.
(21.45)

*     *     *

AHMAD Sudirga. Salah satu ojol yang dulu sempat nongkrong di basecamp kami. 

Namun, udah setahun ga pernah narik lagi sejak kantornya memindahkan lokasi kerjanya di Hayam Wuruk. Ya, Dirga menjabat sebagai kepala toko minimarket XMart. 

Dia sempat setahun tugas di daerah gw. Orangnya supel, ramah, royal, dan asyik. 

Dirga juga pekerja keras. Ga betah diam. 

Makanya, dia ikut bikin akun ojol dan narik bareng kami di basecamp usai pulang kerjanya pukul 20.00 WIB. Padahal, masuknya pukul 08.00 WIB. Sebagai kepala toko, dia memang harus standby nyaris 24 jam untuk memantau XMart-nya.

"Tangan gw bisa kaku kalo pulang gawe ga ngapa-ngapain di kostan. Mending gw ngojol sampe tengah malem. Mayan, hasilnya bisa nambah-nambahin modal masa depan," kata Dirga, pada awal 2020.

Jebolan pesantren ternama di Bogor ini memang sebaya dengan gw dan Irawan. Namun, masih di bawah Dresta yang usianya nyaris kepala lima. Sementara, Jaya dan Tuti kemungkinan sama-sama 40-an tapi beda tahun.

"Wooi... Maen berdua aja. Ayo, yang menang lawan gw," teriak Irawan saat nongol depan pintu kostan Dirga yang berada di lantai tiga. 

Gedung yang bercorak artdeco meski sudah tergolong tua karena dibangun pada dekade 1990-an ini terdiri dari lima tingkat. Selain biasa disewa bulanan, konon, kostan ini juga bisa untuk harian. 

Memang sih di lobi, meja resepsionis terdapat tuliasan besar-besaran, "TIDAK UNTUK HARIAN APALAGI JAM-JAMAN!"

Hanya, sebagai kostan yang berlokasi strategis di salah satu kawasan hiburan malam terkenal di ibu kota ini tiada hil yang mustahal. Ya, TST. Tahu sama tahu. 

IYKWIM. If you know what i mean.

Kembali ke Irawan. Tangannya pasti udah gatel gara-gara gw komporin ngadu ps4. Sementara, pok Tuti yang datang barengan Irawan langsung ngeloyor ke kamar mandi.

"Ga, numpang ganti baju. Basah semua nih. Tuh, gw sama Irawan patungan bawa martabak," ucap wanita yang jadi lady ojol sejak 2016 tersebut.

"Pake aja pok," kata Dirga, tanpa menoleh saking fokusnya akibat Perugia yang dimainkan gw tekan terus pake Juventus.

"Mau gw temenin ga pok?" sahut Irawan, yang tiba-tiba udah ngunyah martabak. Dasar kampret nih bocah. Niat mau beliin buat Dirga malah di unboxing duluan.

"Si goblok," Tuti menjawab celetukan Irawan.

"Tiati pok, ntar lo berdua Irawan di kamar mandi, pas keluar jadi bertiga," ujar gw terkekeh, menimpali.

"Geblek lo pade..." komentar Tuti, sambil melanjutkan, "Ga, ini kamar mandi lo wangi banget. Abis bawa cewe ya?"

"Wangi atau bau apek, po? Kaga lah, belom pernah gw bawa cewe ke kamar."

"Dirga mah 'kalo mau jajan' gampang,  bisa jalan ke depan. Tinggal pilih."

"Ga nyangka ya lo Ga, jebolan pesantren doyan jajan."

"Lah Dirga kan cowo, pok. Kalo ga doyan cewe itu baru bahaya."

"Iiih, Dirga ga doyan tapi mau. Gelay..."

"Goblok lu pade."

"Ha ha ha."

"Udah ah, makan dulu martabak jangan dianggurin. Lagian si Eka payah. Kalah terus. Pake Juve, tapi lawan Perugia keok."

"Pan pemanasan Ga. Kalo si Irawan turun, baru gw serius."

"Bidji lo. Lawan Dirga aja kalah, apalagi sama gw. Bisa gw bantai 10-0."

"Ga pinjem powerbank lo, gw mau cas hape. PB gw mau dicas di stopkontak."

"Di atas lemari po. Pake aja. Mayan gede tuh PB, 20 ribu MaH."

"Udah sini bikin grup. Kita pilih format turnamen antarklub, negara, atau gabungan."

"Klub aje. Gw Perugia, tetep."

"Sama, Juve. Always."

"Oke. Gw FC Internazionale."

*     *     *

URUSAN main PS, emang Irawan jagonya. Dirga yang ganti klub beberapa kali dari Perugia ke Real Madrid, Barcelona, hingga Paris Saint Germain, tetap ampas.

Gw? Jangan ditanya. Ga kebobolan 0-3 pun udah sukur.

Pantes di tempat gw, Irawan beberapa kali juara turnamen PS 3. Termasuk, puasa kemaren saat diselenggarakan Karang Taruna yang melibatkan enam RT di RW gw. 

Flashback sejenak, saat itu, kami ga bisa milih tim. Alias random, format diundi komputer. Gw kebagian Liverpool dan Irawan dapat Ajax Amsterdam.

Dia melaju ke final tanpa kalah dalam sistem UEFA Champions League yang udah dimodifikasi. Sementara, gw mentok di babak 16 besar. Anjir.

Apalagi, kalahnya sama bocil 14 tahun yang dapat Manchester United, skor 2-6. Bocah dari RT sebelah itu yang melaju ke final lawan Irawan.

Di atas kertas, jelas Ajax bukan tandingan MU. Pasar gelap, tepatnya taruhan kecil-kecilan antarsesama ojol dan pemain PS pun demikian.

Irawan divoor 1/2. Babak kedua, bahkan over-undernya gila. Itu akibat Ajax udah unggul 2-0 sebelom turun minum.

Panik ga, panik ga, yang ngejagoin Irawan? Paniklah!

Namun, Irawan membuktikan statusnya sebagai yang terbaik di kawasan kami. Usai jeda, Ajax pun menggila.

Irawan mencetak tiga gol tanpa balas. Sekaligus, membalikkan kedudukan jadi 3-2.

Lima menit sebelum peluit panjang, jari-jemari Irawan kian asyik menari lewat stik PS. Terbukti, Ajax kian unggul 4-2.

Saat itu, gw lirik muka si bocil memerah kayak kepiting rebus. Pun demikian dengan beberapa rekan ojol dan para pemain ps yang ikut bertaruh kecil-kecilan jadi mingkem.

"Gw bisa aja bantai nih bocil 8-2. Tapi, gw cukupin 6-2 aja buat balas kekalahan lo," ujar Irawan kepada gw.

Terbukti, usai peluit panjang berbunyi, Ajax menang 6-2. Irawan pun sukses melampiaskan kedongkolan gw kepada si bocil sekaligus menggondol hadiah utama.

Yaitu, uang tunai Rp100.000 disertai jersey KW3 dan sepatu capung. Memang, hadiahnya ga seberapa.

Wajar mengingat turnamen yang diikuti 32 peserta yang beragam profesi di wilayah gw mulai dari ojol, PNS, anggota, hingga masih sekolahan ini bersifat swadaya. Alias, untuk main harus daftar dengan biaya Rp10.000.

Namun, gengsinya itu di atas segalanya. Irawan bisa jemawa di hadapan gw sebagai raja ps.

Termasuk, sombong saat kumpul-kumpul di basecamp dengan selalu membahas keberhasilannya juara di RW kami. Kampret tuh orang!

*     *     *

DOK... Dok... Dok... dari luar kostan terdengar suara penjual keliling. Kalo ga mie dokdok, nasgor, bakwan malang, pempek, atau ketoprak.

Kami berempat yang baru saja mengganyang martabak hasil promo dengan diskon 70 persen plus gratis ongkir tentu langsung reaktif kegirangan. Maklum, efek kehujanan bikin cacing dalam perut demo terus.

Tadinya, Tuti mau pesan online lagi mengingat di aplikasinya masih tersedia voucher untuk food. Belum termasuk, promo makanan dan gratis ongkir dari aplikator sebelah.

Hanya, niat tersebut diurungkan. Sebab, di luar masih rinai. 

Jika begini, sulit mendapat ojol yang rela basah-basahan demi mengantar makanan. Wong, kami saja yang terbiasa menari di bawah badai sudah menonaktifkan aplikasi masing-masing. 

Gw dan Irawan sibuk main ps dengan Dirga. Pun demikian dengan Tuti yang asyik scroll IG sambil sesekali mengomentari pertandingan kami bertiga.

"Eh, itu ada Bakwan Malang kang Sakri. Pesen aja kalo pada mau, ntar gw bayar," ujar Dirga menoleh ke gw yang memang lagi jadi penonton menyaksikannya duel dengan Irawan.

"Hujan gini jualan emang Ga?" gw menjawab.

"Jualan. Justru laris. Kalo malam plus hujan pan banyak yang nyari anget-anget."

"Lebih anget lagi yang di pinggir jalan ke arah Gajah Mada. Berjejer. Bening. Tinggal pilih."

"He he he. Bloon. Gituan mah, lain cerita."

"Gw pesenin sekalian, Ka. Bakwannya dipisah," Irawan langsung menyambar. Kalo denger makanan, entah kenapa makhluk satu ini cepat bereaksi.

"Sama, gw juga Ka. Sambelnya lima sendok biar mata melek," Tuti, menimpali.

"Lah, gw yang jalan?"

"Pan lo lagi nganggur. Daripada bengong mending lo ke bawah."

"Siap tuanku."

"Gw sih bisa aja beliin kalian bertiga. Bahkan, gratis gw borong. Tapi dengan syarat. Lo harus menang. Sekali aja deh. He he he."

"Si goblok mulai sombong."

"Ha ha ha."

"Lo teriak dari jendela aja, pan kedengeran. Buka kacanya. Kang Sakri udah paham kok. Dia selalu bawa payung."

"Kang Sak, empat mangkok ya. Biasa. Bos Dirga lagi dapat warisan buat nraktir kita-kita. Sekalian, kecap, sambal, dan saos dibawa biar ga bolak-balik," teriak gw dari jendela ke arah kang Sakri yang ada di balik pagar depan.

Penjual bakso yang juga Aremania Garis Keras ini pun mengacungkan jempolnya. "Siap bosku. Pesanan meluncur."

"Si bego, teriak-teriak tengah malam gini. Bikin tetangga kostan pada bangun," ucap Tuti sambil melempar wijen sisa-sisa martabak ke arah gw.

"Dah pada tidur pok. Lagian ini kostan cenderung bebas. Sering kok di kamar sebelah ada 'gempa bumi'. Si Dirga aja yang ga pernah neko-neko," gw menjawab.

"Yah, namanya kostan. Apalagi, di daerah abu-abu gini. Tadi aja pas gw lewat bareng pok Tuti, di kamar ujung pas belokan tangga ada yang lagi syuting smackdown," tutur Irawan, dengan senyum yang ganjil.

"Lo enak, bisa ngintip. Untung ga ketahuan," lanjut Tuti, usai beberapa detik mencerna arah angin.

"Irawan mah, aji mumpung," Dirga, menimpali.

"Lah, gw ga salah dong. Pan pintunya ga ketutup, separoh kebuka. Jadi keliatan dari luar pas kita naik tangga," kata Irawan dengan memasang ekspresi lugu tanpa dosa.

"Njir enak dong lo sama pok Tuti dapat 'cuci mata'. Pas gw dateng sendirian tadi digembok dari luar," gw mengomentari.

"Yaelah, lo sama kayak si Irawan. Kalian ini sebelas dua belas," Tuti, menimpali.

Celetukan kami berempat terpotong suara angin yang mendesis dari jendela yang posisinya di sebelah kanan tv. Padahal, dari kamar terdengar hujan sudah tidak deras. 

Alias, hanya gerimis manja. Ga lama, dari balik jendela, gw dipanggil kang Sakri.

"Bosku, bakwannya dipisah aja ya. Ini gw plastikin ya, ga dicampur di mangkok biar enak pas dicocol masih garing," kata kang Sakri dari balik jendela.

"Aman kang. Yang penting mah anget, coz kami abis keujanan," jawab gw.

"Siap bosku. Gw ambil nampan dulu."

"Yongkru, kang!"

Gw pun kembali bersiap melangkahi Dirga dan Irawan untuk duduk di belakang. Namun, ketika itu, gw lihat keduanya saling tatap dengan Tuti.

"Ga, ini kamar lo kan lantai tiga?" ucap Tuti dengan mencabut chargernya dari stop kontak.

"Iya... Ya," sahut Irawan yang seketika meletakkan stik ps.

"1... 2... 3... Beresin barang-barang kalian," Dirga menyeru sambil bersiap sipat kuping.

Gw pun makin bingung dengan tingkah mereka bertiga. Termasuk, Dirga yang tergopoh-gopoh tanpa memerdulikan psnya.

"Bosku, Eka... Ini pesanannya empat mangkok," ujar kang Sakri dengan senyum yang tiba-tiba nongol.

"Cabut Ka!" Dirga berteriak. Di depannya ada Tuti yang sangat gesit layaknya sedang mengantar orderan kakap. Irawan pun mengikuti dengan sigap meski nyaris terserimpet asbak.

Hanya gw yang masih bergeming. Sepertinya, otak gw belom sinkron untuk merekonstruksi situasi ini.

Hingga...

"Bosku, ini udah jadi. Jangan pada kabur dong. Bercandanya ga lucu nih. Bayar dulu," tutur kang Sakri dengan tersenyum yang lebih mirip menyeringai.

"Ka, goblok. Cabut, cepet," sumpah serapah terdengar dari mulut Irawan saat menyaksikan gw terdiam.

"Anjir... Gw kira lo kang Sakri beneran. Kampret!" ujar gw saat tersadar usai mendengar kata-kata mutiara Irawan.

Tanpa memerdulikan kang Sakri yang mengangsurkan nampan berisi empat mangkok bakso dan seplastik bakwan, gw pun segera lintang pukang.

"He he he... Cemen ah, begini doang udah pada kabur. Apalagi, kalo ntar..."

Sayup-sayup terdengar suara kang Sakri yang agak melengking saat gw menuruni tangga dengan mengekor Irawan.

*     *     *

USAI 'olahraga malam' yang benar-benar menguras fisik dan mental, akhirnya kami berhenti depan pos hansip. Tampak, beberapa orang keheranan melihat kami yang keringatan.

"Lo kenape tong? Kayak dikejar-kejar jurig," ujar salah satu hansip yang baru saja memukul kentongan di tiang listrik sebelah pos.

"Kang Sakri, beh..." Dirga menjawab dengan terbata-bata.

"Si Sakri kenape?"

"Lah, dia kan molor di musala. Dagangannya abis dari jam sembilanan. Terus, Sakri ga pulang," salah satu warga setempat menimpali.

"Serius, bang?"

"Iye... Itu keliatan, gerobaknya. Eh, bocah, coba bangunin si Sakri. Ini ada apa," ujarnya lagi meminta remaja tanggung untuk memanggil kang bakso itu di musala yang letaknya berlawanan dari kostan Dirga.

Gw pun meneguk sisa sebotol air mineral pemberian Tuti yang dibagikan kepada kami. Meski situasi kalut tadi, hebatnya lady ojol tersebut tetap sigap dengan membawa air.

Ga lama, Sakri pun datang. Dia juga sebelas dua belas dengan yang lain, keheranan menatap kami berempat.

"Kenape bosku? Kayak abis dikejar Satpol PP saat Open BO di depan," ujarnya, terkekeh.

"Kampret lo... Gw dikerjain soket yang menyerupai muke lo," Dirga menjawab, sambil tertawa.

"Waduh, kenape dedemitnye nyaru muke gw, bosku? Apa wajah gw emang tampan ye, makanya banyak yang naksir. Ga cuma cewe aja, tapi juga soket," ujar Sakri, terkekeh.

"Bidji! Tadi ada soket nawarin bakso lewat jendela kamar kost gw. Itu pan lantai tiga. Pake tangga lipat aja ga mungkin. Apalagi, suasana gerimis. Anjir, gw merinding."

"Tidur di pos aje bosku. Atau musala. Ntar subuh balik."

"Ogah dah. Barang-barang gw masih di kamar. Gw lebih takut kalo ilang laptop, ps, dan lain-lain. Ya udah, kang Sak, ini gw cabut ya. Sorry ganggu lo tidur. Pak dan abang-abang sekalian, kita cabut dulu ya. Terima kasih, semua."

"Tiati bro. Kalo ada apa-apa teriak aja."

"Siap."

Dirga memberi kode kepada kami untuk balik. Nah, di antara gw, Irawan, dan Tuti pun dilanda kebimbangan.

Tapi, ya mau ga mau, gw mesti ngikut tuan rumah. Gw ga bisa ninggalin Dirga sendirian dalam kondisi seperti ini.

"Ga serius, kita balik ke kamar lo?" kata Irawan sambil menepuk pundak Dirga.

"Ya, gimana lagi Ir. Gw harus balik. Kamar tadi lupa dikunci."

"Yaudah Ir, kita balik lagi temenin. Kalo kita tinggal, ntar dia kencing di celana lagi saking takut dan ga bisa tidur nunggu subuh."

"Yaelah, Ga... Ga... Lulusan pesantren masa, sieun kanu jurig. Ngerakeun wae maneh mah."

"Eh, pok... Bukannya lo yang kabur paling duluan. Malah, gw terakhir," gw, menimpali sambil tertawa ngakak.

"Kaget Ka. Aseli. Tapi, ya udah lah. Lagian kan, soket mah teu bisa nelen kita ka. Lamun begal tah, baru ngeri," Tuti, menjawab.

"Kali ini aman. Mungkin, tadi perkenalan doang penghuni gedung ini sama kalian. Pan, kecuali Eka yang sering ke sini, pok Tuti sama Irawan baru."

"Anjir, ogah dah kalo sering-sering. Pertama kali aja kayak gini," Irawan, menepok jidat.

"Aduh... Sakit pok." 

Plak... Pok Tuti menambahkan lewat tangan kanannya ke kening Irawan.

"Kaga, Ir. Cuma mastiin doang. Siapa tahu, lo gw tepok malah tangan gw tembus. Kalo lo teriak sakit berarti lo beneran manusia."

"Ha... Ha... Ha... Kurang kenceng, pok."

"Gw juga pengen ngetes lo Ir."

"Eh goblok. Udah... Udah... Geblek lo pada."

"Ha ha ha."

*     *     *

SALING bully di antara kami memang sudah biasa. Tak terkecuali, pok Tuti yang jadi bahan ledekan gw, Irawan, dan Dirga.

Hebatnya, wanita asal Sukabumi itu selalu punya cara buat menangkis serangan kami. Alhasil, gantian malah gw, Irawan, dan Dirga, jadi bahan ledekan.

"Pok, ada yang aneh deh," Irawan menghentikan langkahnya saat kami baru mencapai lantai tiga usai bersusah payah jalan kaki dari pos hansip hingga naik tangga.

"Kenape lagi Ir? Lo liat yang aneh-aneh di bawah atau tangga?" ucap Dirga.

"Kaga. Cuma gw merasa janggal."

"Mulai deh drama."

"Gw hitung sampe 100 ah, siap-siap kabur."

"Si goblok pada bercanda. Serius nih."

"Ada ape? Cepet jalan, gw mau liat kamar gw."

"Iya ih, rempong nih bocah."

"Lo ada yang nyolek?"

Irawan menunjuk ke sampingnya. Kamar kost nomor 303 yang berada di sisi tangga dengan tertutup rapat dan digembok. 

"Ga ada apa-apa. AC, tv, dan lampu mati," Irawan menempelkan telinganya ke daun pintu.

"Lah, pan gw bilang apa. Dari gw dateng tadi digembok di luar."

"Lo yakin, Ka?"

"Lah, ini buktinya. Di depan keset ga ada sepatu. Beda sama kamar yang lain."

"Pok, tadi kita lewat sini ada sejoli kan di dalam?"

"Iye. Gw sekilas liat pas lewat. Pan lo yang berenti sambil ngintip."

"Nah... Jangan-jangan."

"Udah... Kamar ini tadi ada orang. Temen gw. Tapi udah pergi. Yuk ah, masuk kamar. Lanjut maen PS," tutur Dirga, diplomatis.

Kami pun kembali masuk ke kamarnya. Tidak ada yang aneh. 

Gw iseng melongok ke luar jendela juga ga ada apa-apa. Hujan sudah reda. 

Saking penasaran, gw sorot pake senter Hp, ga ada penampakan atau bayangan soket yang menyerupai kang Sakri. 

Gw pun lega. Biar kata nyali gw gede, tapi bisa jantungan juga kalo tiba-tiba dijogrokin soket...

"Ir, jangan ditutup. Buka aja."

"Lah, kalo ada yang masuk tiba-tiba, gimana Ga?"

"Si oneng. Justru kalo ditutup kita susah lari jika ada yang dateng dari jendela."

"Aman. Hujan udah reda. Gw cek ga ada apa-apa di luar sini."

Kami pun melanjutkan permainan. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada seperminuman teh tadi.

Giliran gw gantiin Dirga yang timnya udah keok untuk meladeni Irawan. Sementara, pok Tuti asyik pasang headset menonton drakor dengan memanfaatkan wifi gretongan.  

"Jadi begini ye, Pok, Ka, Ir..." Tiba-tiba, Dirga memecah keheningan.

"Nape, Ga?" Pok Tuti langsung mencabut headset untuk menyimak.

Begitu juga dengan gw dan Irawan yang segera meletakkan stik.

"Udah lo berdua lanjut aja. Dengerin gw sambil main ps aja. Pan final. Tanggung."

"Ogah ah. Gw penasaran, Ga."

"Sama."

"Lanjut, Ga..."

Dirga tampak menarik napas dengan panjang. Gw pun tertarik untuk menyimak lebih serius bersama Irawan dan pok Tuti.

"Sebenarnya, kamar itu emang ga ada penghuni. Sama pemilik kost dikosongin. Udah lama. Jauh, sebelom gw masuk sini."

"Gw udah tahu Ga. Lo cuma..."

"Pok, jangan dipotong. Biar si Dirga jelasin."

"Iye ih, kepo banget emak-emak satu ini."

"He he he... Abis, ketebak sih. Ini mah kayak telenovela Maria Mercedes."

"Pok, rempong!"

"Jangan didengerin Ga. Lanjut. Lo cerita pake berenti sih. Bikin penasaran."

"Bentar temen-temen. Gw mau menyulut api kehidupan dulu."

"Goblok. Nyalain rokok aja gaya lo sok puitis."

"Hiperbol banget sih lo Ga."

"Kelamaan jomblo ya kayak gini nih bocah."

"..."

"Iye, gw boongin lo pade. Aslinya emang bener kata si Eka. Kamar itu digembok dari luar," kata Dirga sambil meniup asap rokok hingga membentuk beberapa bulatan.

"Bener kata si Eka. Kamar itu selalu digembok. Makanya, gw sempat heran pas lo sama pok Tuti bilang saat lewat ada penghuninya, berdua pula. Kamar itu emang hawanya beda dibanding kamar lainnya di kostan ini. Tapi, gw kan udah tiap hari. Jadi, dah khatam. Ya, selama ga ngeganggu gw, ya gw tutup mata. Tahu, tapi pura-pura ga tahu aktivitas di kamar itu yang kadang bunyi berisik, desahan, hingga kayak cecer pecah.

Nah, kalo yang penampakan Kang Sakri, itu baru gw alamin selama ngekost di sini. Emang sih, ga aneh. Gw di pondok udah pernah ketemu hal-hal ghaib seperti itu. Bahkan, jadi santapan sehari-hari. Yah, namanya juga mondok di pedesaan yang terletak di lereng gunung. Apalagi, jika mandi tengah malam di sungai atau mencari kayu bakar, pasti ada aja yang ngikutin. Minimal, liat dari kejauhan. Auranya beda. Hanya, kami lebih takut sama guru kami ketimbang makhluk halus."

"Beranian lo Ga. Kalo gw mah udah pindah kost kalo harus lewatin kamar itu," potong pok Tuti yang ga tahan untuk buka suara.

"Ya, gimana pok. Namanya, dibiayain kantor. Apalagi, kostan ini kan ga jauh sama tempat kerja gw di seberang jalan."

"Enak juga sih kalo nempatin gratis mah. Gw juga mau."

"Emang lo berani Ir?"

"Sendirian ogah gw Ka. Tapi, kan enak, di sini bening-bening. Ha ha ha."

"Bukan bening lagi, tapi tembus pandang malah. He he he."

"Si bego. Mistis terus."

"Eh gw lanjut cerita nih..."

"Yaudah, terusin. Pok, jangan dipotong lagi."

"Iya bawel."

"Jadi, terkait kamar 303. Awalnya, biasa aja. Hanya, sejak beberapa tahun lalu sengaja ditutup. Konon..."

*     *     *

SEPEMBAKARAN hio sudah lewat di antara diskusi yang melibatkan kami. Serius, mengingat agak menyerempet. Tepatnya, ke arah sensitif. 

Namun, seperti biasa, diskusi ini tetap diiringi guyonan. Ya, susah kalo gw, Irawan, dan pok Tuti udah kumpul. Kita-kita emang genk lenong alias ga jelas. 

Meski kami udah kepala tiga, tapi lagak dan lagunya kalo udah kumpul bisa kayak bocah. Ditambah, Dirga yang aslinya flamboyan dan cool, tapi akibat bergaul dengan kami jadi makin slebor.

"Oke. Kita tarik konklusi mengingat rembulan sudah condong ke barat," Tuti buka suara. 

Ya. Gw, Irawan, dan Dirga mafhum. Malam kian larut. Saatnya kami balik. Apalagi, Tuti dan Irawan sama-sama udah ditunggu bocah di rumah. 

"Deal ya," ujar Irawan.

"Risiko ditanggung penumpang," Dirga, menyeletuk."

"Menyimak..." kata gw.

"Jangan takut kalo nakal. Jangan nakal kalo takut," ucap Tuti, optimistis.

Ya. Kami sudah menarik kesimpulan terkait rencana sesuatu untuk kamar 303 yang berkolerasi dengan kemunculan mirip kang Sakri: Sepakat untuk tidak sepakat.

Dirga dan Tuti pro. Pada saat yang sama, gw dan Irawan, kontra.

Angin dingin meniup secara perlahan. Gw, Irawan, dan Tuti pun pamit diiringi Dirga hingga parkiran motor.

Tidak ada yang aneh saat kami melewati kamar 303. Pun ketika melangkah setindak demi setindak melintasi anak tangga.

Setidaknya, untuk saat ini.***

*      *      *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part V: Di Suatu Desa dengan Penumpang Random
- Part VII: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part VIII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part IX: Debt Collector Juga Manusia
- Part X: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
Jakarta, 31 Oktober 2021

Sabtu, 30 Oktober 2021

Karena Kusta Bukan Kutukan


Ilustrasi penanganan kusta (Foto: WHO.int)



UNTUK kali kedua secara berturut-turut, Hari Dokter Nasional yang diperingati setiap 24 Oktober ini berada dalam suasana kesunyian. Itu akibat Koronavirus yang melanda di muka bumi, khususnya Tanah Air sejak awal tahun lalu. Ya, pandemi memaksa mayoritas manusia di seluruh Indonesia untuk membatasi dalam aktivitas.

Namun, tidak dengan beberapa pihak, termasuk dokter dan tenaga kesehatan. Mereka tetap bekerja dalam senyap meski dalam situasi tidak menentu. Bahkan, akibat Covid-19 ini, hampir 2.000 tenaga kesehatan gugur, termasuk dokter.

Padahal, rasio dokter di Indonesia tergolong minim. Yaitu, hanya mencapai 0,4 per 1.000 jiwa. Alias, hanya terdapat empat dokter untuk melayani 10.000 penduduk. Bayangkan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang berdasarkan sensus terbaru mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

Nah, dengan banyaknya tenaga kesehatan yang berguguran, jelas berdampak pada layanan kesehatan yang tidak optimal. Salah satunya, kelompok yang terdampak adalah pasien kusta. Maklum, pada beberapa kasus, mereka harus terpaksa putus obat dan tidak mendapat layanan.

Akibatnya, temuan kasus baru menurun karena aktivitas pelacakan terbatas. Serta, angka keparahan atau kecacatan meningkat. Lalu, bagaimana perjuangan dokter untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal. Termasuk, apa saja tantangan yang dihadapi para dokter dan tenaga kesehatan dalam mengatasi penyakit tropis terabaikan seperti kusta di tengah pandemi ini?

Fakta itu yang baru saya ketahui usai menyimak webinar bertajuk “Lika-Liku Peran Dokter di Tengah Pandemi”. Cerita menarik dari para dokter tangguh dalam talkshow itu disiarkan di laman youtube KBR, https://www.youtube.com/watch?v=88CKd4xSq4M.

Yaitu, portal penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999 silam. KBR berkolaborasi dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Acara tersebut disiarkan streaming pada Jumat (9/10) pukul 09.00 WIB. Namun, saya hanya mengikutinya tipis-tipis akibat malamnya ngalong sebagai ojek online (ojol) hingga membuat mata berat. Beruntung, dalam informasi yang saya dapat dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB), terdapat siaran ulang yang bisa saya saksikan di youtube KBR.

Dalam perbincangan itu terdapat dua narasumber. Yaitu, dr. Ardiansyah yang merupakan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan dr. Udeng Daman (Technical Advisor NLR Indonesia).

Sebagai masyarakat awam, saya mengakui, topik tersebut berat. Namun, sebagai ojol yang menghabiskan mayoritas waktunya di jalanan, tentu sedikitnya saya mengenal tentang kusta. Beserta, mitos yang menyertainya.

Apalagi, saya juga penggemar cerita silat (cersil). Seingat saya, ada salah satu tokoh rekaan Liang Yusheng berjudul Tiga Dara Pendekar (Jiang Hu San Nu Xia). Atau, dalam terjemahan populer bahasa hokkian yaitu, Kang Ouw Sam Lie Hiap yang berlatar pada abad 17 di Cina.

Dalam kisahnya, ada jagoan bernama Tok-liong Cuncia yang mahasakti tapi menderita akibat kusta yang menyebabkannya dikucilkan masyarakat. Hingga, dalam perjalanannya, sosok yang awalnya antagonis berubah jadi baik.

Bahkan, dengan hasil penemuannya di pulau terpencil bisa mengobati masyarakat yang menderita kusta. Maklum, dulu pengidap kusta mendapat sorotan negatif hingga dijuluki penyakit kutukan. Sebab, saat itu, teknologi belum secanggih sekarang.

Nah, kembali lagi. Seiring perkembangan zaman, saat ini, kusta bisa disembuhkan tanpa disertai kecacatan. Kuncinya, pengobatan secara tepat dan tuntas sejak dini. Itu mengapa, dokter dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan kehadirannya. Terutama, pada situasi pandemi ini yang membuat para dokter bekerja ekstrakeras untuk membantu penyembuhan penyakit.

“(Pada pandemi ini) kami, para dokter tetap bekerja seperti biasa. Selain itu, kami juga turut memberi edukasi. Namun, intinya peran serta masyarakat dalam kesadaran menjaga protokol kesehatan. Ini yang kami harapkan kerjasamanya, baik dari masyarakat, media untuk edukasi, dan seluruh elemen,” kata Ardiansyah.

Pada saat yang sama, terkait situasi pandemi yang berpengaruh pada dunia kesehatan, Udeng menegaskan, pelayanan terkait kusta berjalan lancar. Kendati, tidak seoptimal saat situasi normal.

“Di lapangan, (para dokter dan tenaga medis) menyesuaikan dengan kebijakan pada daerah masing-masing. Misalnya, ada PPKM level 1, 2, dan 3. Kegiatan pun terbatas. Namun, tetap ada solusi. Jika normal pemeriksaan door to door, sekarang bisa konsultasi via teknologi. Intinya, ada solusi di tengah pandemi ini untuk penanganan kusta,” Udeng, mengungkapkan.

Ya, stigma kusta yang masih negatif sekarang ini perlahan berkurang. Memang, ini penyakit jika tidak diobati berpotensi menularkan kepada orang lain dengan kontak erat dan dalam periode sama. Namun, jika melakukan pengobatan secara intensif, kusta bisa disembuhkan. Alias, bukan lagi kutukan seperti mitos yang selama ini beredar di masyarakat.***

*      *      *

- Jakarta, 30 Oktober 2021