TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Kamis, 20 September 2018

Tips Mudah Memilih Hotel Terbaik di Bandung yang Murah dan Nyaman


Kota Bandung memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi



Kenyamanan dan kepuasan Anda ketika liburan itu bukan hanya keseruan dari objek wisata yang dikunjungi tetapi juga dari tempat penginapan. Jika Anda bisa memilih hotel yang tepat dan nyaman tentunya istirahat mahal juga akan lebih berkualitas. Yang pasti pagi hari ketika akan memulai untuk berpetualang akan segar kembali. Nah, untuk memberikan kepuasan hal itu saat ini banyak sekali hotel terbaik di Bandung yang bisa Anda gunakan sebagai para wisatawan. Bahkan perkembangan baru terus muncul dalam dunia perhotelan Bandung.

Bandung sendiri merupakan salah satu destinasi wisata paling favorit bagi masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi sekarang ini banyak sekali perkembangan dari kota kembang tersebut dari sektor pariwisatanya. Tempat-tempat yang intragable bisa Anda kunjungi tanpa harus membayar mahal-mahal. Tetapi sebelum melakukan liburan tersebut Anda harus mempersiapkan segala sesuatunya, yang paling penting penginapan. Nah, berikut ini beberapa tips yang bisa Anda gunakan ketika memilih hotel di Bandung yaitu:

  1. Lokasi hotel.
Pertama yang perlu Anda jadikan sebagai pertimbangan adalah lokasi yang akan digunakan untuk menginap. Hal ini penting sekali karena akan berimbas pada kenyamanan Anda ketika akan berpergian kebeberapa tempat wisata pilihan. Sangat direkomendasikan untuk memilih hotel yang ada di Bandung dengan lokasi yang strategis. Misalnya saja dekat dengan beberapa objek, tempat makan, fasilitas umum atau dengan kata lain merupakan pusat kota.

  1. Fasilitas hotel.
Kedua untuk mendapatkan hotel terbaik yang ada di Bandung Anda harus melihat fasilitas yang ditawarkan. Ini tentu bukan hanya perlengkapan standar saja seperti kamar mandi, makan dan beberapa lain. Tetapi perlu juga Anda memperhatikan fasilitas penunjang lain, karena beberapa
hotel terbaik di Bandung telah menyediakan perlengkapan yang cukup lengkap.

  1. Harga.
Lalu dari harga yang ditawarkan, ini penting karena setiap orang mempunyai kisaran harga yang berbeda. Tidak sedikit yang memilih hotel di Bandung dengan harga minim karena untuk menghemat. Tetapi ada yang tidak segan membayar banyak untuk mendapatkan kenyamanan yang terbaik. Untuk mendapatkan harga yang terbaik atau termurah ada baiknya untuk menggunakan jasa situs booking online yang umumnya memberikan tawaran promo.

  1. Lihat review.
Ketika Anda menggunakan situs booking hotel secara online pasti ada banyak sekali keterangan yang ada. Mulai dari bintang, fasilitas, pelayanan, harga sampai dengan review dari orang lain yang telah menggunakan. Untuk mengetahui apakah itu termasuk dalam hotel terbaik atau tidak Anda jangan lupa melihat dari review tersebut.

Kemajuan jaman seperti sekarang ini memang memberikan Anda banyak kemudahan, bahkan seakan semakin dimanja dengan teknologi. Begitu pula ketika akan melakukan pemesanan hotel sudah tidak perlu lagi telepon ataupun datang. Karena dengan melihat situs booking hotel terbaik sudah ada jelas semua data, mulai dari kredibilitas hotel, harga sampai dengan ketersediaan kamar. Untuk Bandung sendiri mempunyai beberapa hotel pilihan yang terbaik dan murah seperti De batara hotel, Amira hotel, Vio hotel, Pop hotel dan masih banyak lagi lainnya.

Harga memang sering dijadikan sebagai patokan dasar orang memilih hotel ketika liburan ataupun berkunjung kota lain. Meskipun harga yang Anda minta murah tetapi belum tentu mendapatkan penginapan yang standar. Karena hotel terbaik di Bandung sendiri bukan saja identik dengan harga mahal tetapi juga harga yang terjangkau. Itulah beberapa referensi yang bisa dibagi, semoga dapat bermanfaat dan berguna bagi Anda yang akan melakukan liburan. Atau dapat juga membaca ulasan lain dari travel blog yang mungkin bermanfaat bagi Anda.


*            *           *

- Jakarta, 20 September 2018

Rabu, 05 September 2018

Ada Widya Amelia di Balik Popularitas Bulu Tangkis


Widya Amelia bersama tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)



MALAM itu, langit Kota Banteng tampak cerah. Suasana yang hangat itu mewarnai penjemputan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon di Terminal 2D Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (20/3).

Antusiasme pun menyelimuti ratusan orang. Mulai dari jurnalis, warganet, fan, hingga pejabat. Maklum, dua hari sebelumnya, Kevin/Marcus sukses mempertahankan All England 2018. Pasangan yang akrab disapa Minions ini jadi ganda putra pertama yang mampu menyamai rekor 22 tahun silam. Tepatnya, setelah diraih Ricky Subagja/Rexy Mainaky pada 1995 dan 1996.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.03 WIB. Tampak, beberapa perwakilan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) keluar dari bagian imigrasi. Termasuk, wanita berhijab yang mendorong troli berisi dua tas besar dengan di bahu kiri tergendong kamera.

Tak lama, Kevin/Marcus pun keluar didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Ketua Umum PBSI Wiranto, Chef de Mission (CdM) Indonesia untuk Asian Games 2018 Syafruddin, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Yang menarik, wanita tersebut tidak istirahat setelah menempuh perjalanan belasan jam dari Birmingham, Inggris. Bak smash power-nya Zhang Ning pada masa kejayaan, pemilik blog badmintonaddict.wordpress.com ini sudah berada di kerumuman peliput.

Bahkan, tanpa kenal lelah, langsung melanjutkan rutinitasnya. Tangan kiri menggenggam kamera dan kanannya menyorotkan smartphone ke arah Kevin/Marcus.

Mata panda yang mungkin akibat kurang tidur pun terlihat. Namun, hingga acara selesai, wanita yang 6 Juli lalu merayakan hari kelahirannya ini tetap bertahan hingga bubaran. Sambil, sesekali berakrobatik. Kamera dilepas, dan kedua tangannya asyik mengetik sesuatu pada note di smartphone.

Ketika TopSkor.id bersama belasan media sedang asyik menikmati santap malam mengikuti perjamuan dari Menpora untuk KevinMarcus di salah satu restoran di kawasan Ancol, Jakarta Barat, masuk email. Yaitu, dari humas PBSI, lengkap dengan foto dan narasi berisi berbagai komentar.

*          *          *
"HA ha ha, ga kok. Ini kerja tim. Di Humas PBSI kan ga hanya saya saja," ujar Widya Amelia saat ditemui TopSkor.id di Lapangan Bulu Tangkis Kemenpora, Selasa (4/9). Yaitu, disela-sela pemberian bonus dari Menpora untuk 20 atlet bulu tangkis yang tampil di Asian Games 2018 yang turut dihadiri Kevin, Marcus, Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, dan lainnya.

Sosok yang jadi wartawan di PBSI sejak 2011 ini awalnya menolak diwawancarai, "Ah jangan saya deh." Namun, jadi antusias ketika membahas terkait suka dan dukanya untuk jadi pendamping segenap pahlawan tepok bulu yang bertanding di dalam dan luar negeri.

"Mas, fotonya saya jangan sampai kelihatan gemuk ya," tutur sosok yang kerap curhat tapi tak jelas di akun twitter-nya, @mrsbirama.

Ya, di kalangan jurnalis, Widya mendapat julukan penyambung lidah atlet. Itu karena profesinya di tim humas PBSI Widya yang selalu mengirim komentar dan foto dari setiap pebulu tangkis Indonesia tampil. Baik ketika ada turnamen di dalam maupun luar negeri.

Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak tujuh tahun silam. Tepatnya, ketika memutuskan untuk mengundurkan diri dari salah satu perusahaan IT ternama asal Paman Sam.

"Bekerja di PBSI ini seperti mimpi jadi nyata bagi saya," Widya menuturkan dengan semangat berapi-api.

"Sejak kecil, saya memang suka badminton. Dulu, kantor saya di kawasan Senayan. Saya sering mengintip jika ada Indonesia Open yang berlangsung di Istora (Istana Olahraga). Penasaran, (penontonnya) sudah ramai atau belum. Sampai, bos saya bilang, oke-oke, Wid. Kamu bisa nonton."

"Nah, tahun depannya saya cuti selama sepekan setiap ada Indonesia Open," sosok yang suka membuat Badminton Lovers di Tanah Air penasaran lewat akun instagram-nya, @AmeliaWidy ini menambahkan.

Ya, media sosial (medsos) seperti twitter dan instagram serta blog pribadinya itu memang sangat ditunggu warganet. Sebab, isinya mengupas berbagai sisi lain tentang atlet bulu tangkis. Baik itu suka maupun duka .

Apa yang dituliskan Widya yang jarang dimuat media massa itu yang jadi penambah kedekatan fan dengan atlet. Apalagi, dengan gaya penuturanya yang khas. Seolah, pembaca blognya maupun followers twitter dan instagram-nya bisa menyelami dari kehidupan sang atlet tersebut.

"Kadang kalau menghadapi atlet itu beda dengan orang lain. Sebab, mereka fokusnya ke pertandingan saja. Jadi, saya harus menempatkan diri jadi orang yang dipercaya. Supaya, mereka nyaman sehingga mau mengeluarkan komentar," kata Widya, semringah.

Pernyataan tersebut beralasan. Pasalnya, ada beberapa atlet yang memang enggan diwawancarai. Tidak hanya dari bulu tangkis saja, melainkan cabang olahraga (cabor) lainnya seperti sepak bola, basket, voli, hingga bela diri. Seperti yang TopSkor.id kerap alami sepanjang Asian Games 2018 yang bergelimang medali ini.

Bukan berarti atlet tersebut sombong. Namun, adakalanya mereka susah untuk bicara dengan beberapa mengarah ke introvert. Atau, hanya fokus terhadap pertandingan. Itu mengapa, dalam setiap event, khususnya berskala multinasional ke atas, atlet kerap didampingi pelatih dan manajer saat wawancara.

"Harus bisa melakukan pendekatan persuasif. Kebetulan, saya di Pelatnas sejak 2011. Jadi, sudah lumayan lama. Saat ini hanya ada beberapa pemain senior. Untuk yang sekarang, ketika itu masih junior bahkan belum masuk," lanjut Widya yang mempopulerkan frasa Ciumbrella di kalangan Badminton Lovers merujuk pada pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur.

*          *          *

TUJUH Tahun bukan waktu sebentar Juga tidak terlalu lama. Dalam periode itu, bulu tangkis Indonesia mengalami pasang surut. Misalnya, pada 2012 dengan terputusnya tradisi emas Olimpiade. Beruntung, empat tahun berselang,  Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir sukses menyambung kembali mutiara yang hilang tersebut bagi rakyat Indonesia.

Bahkan, ganda campuran andalan Indonesia itu melakukannya tepat pada 17 Agustus waktu Rio de Janeiro. Alias, pasangan yang populer disapa Owi/Butet ini mempersembahkan medali emas Olimpiade 2016 pada HUT ke-71 Indonesia!

"Di antara pemain, saya paling dekat dengan Butet. Mungkin, karena usia kami tidak beda jauh. Apalagi, saya hampir selalu ada (meliput) ketika Owi/Butet juara," lanjut Widya dengan nada bergetar.

Kemungkinan merasakan mulai 2019 sudah tidak bisa meliput Butet. Pasalnya, Liliyana telah memutuskan untuk gantung raket pada awal tahun depan.

"Banyak momen spesial saya saat mendampingi atlet. Secara, pekerjaan saya (mewajibkan) nyaris setiap event berada di samping mereka. Mulai dari menulis hasil pertandingan, memotret, kirim email ke media, hingga interpreter jika ada wartawan asing yang ingin mewawancarai atlet Indonesia," ibu satu anak ini melukiskan.

Kerap meliput sendirian dengan banyaknya agenda pada setiap event tidak menjadi beban bagi Widya. Sebaliknya, disela-sela aktivitasnya itu, wanita berbintang Cancer ini menyempatkan untuk membagikan pengalamannya di medsos.

Baik itu soal atlet bertanding, latihan, atau pernak-perniknya. Tak heran jika akun medsos Widya kerap diserbu warganet. Bahkan, dikutip media mainstream.

"Saya tidak tahu, ternyata atlet-atlet nungguin (postingan di medsos) saya setiap hari. Padahal, isinya curhat-curhat begitu. Namun, banyak yang suka. Mulai dari atlet hingga warganet," Widya, menjelaskan setelah sebelumnya -terkait kehadiran Jonatan dan atlet putra lainnya di Kemenpora- mencuit, "Netyjen jangan baper ya liat cogan-cogan malem ini. #demikian."***

*          *          *
"Mas, fotonya saya jangan sampai kelihatan gemuk ya"

*          *          *
Widya Amelia turut mewawancarai Susy Susanti jelang Indonesia Open 2018
yang hasilnya dikirim ke media di Tanah Air 

*          *          *
Widya Amelia keluar dari Terminal 2D Bandara Soetta usai
meliput All England 2018

*          *          *
https://www.topskor.id/detail/70618/Terima-Kasih-KevinMarcus/7

- Jakarta, 5 September 2018

Selasa, 04 September 2018

Wawancara Eksklusif Presiden IOC Thomas Bach


Yeeeeeee selpiiih bareng dengan Presiden IOC Thomas Bach!
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)



ASIAN Games 2018 kedatangan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach. Kehadiran pria asal Jerman itu dimaksudkan menghadiri Upacara Penutupan, Minggu (2/9) malam.

Sebelum itu, TopSkor dan beberapa media dapat kesempatan bertatap muka dengannya. Kedatangannya pun dikaitkan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Terlebih, Jumat (1/9) malam, Bach bersantap malam dengan Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, dan Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 Erick Thohir.

Bach pun memberi penilaian positif, seiring antusiasme kaum muda di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

Indonesia ingin jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Bagaimana peluangnya...

Olimpiade adalah event global, diikuti lebih dari 200 negara. Indonesia salah satu calon kuat tuan rumah Olimpiade 2032, khususnya jika melihat kesuksesan Asian Games 2018.

Seberapa sukses gelaran Asian Games 2018?

Saya melihat Indonesia sukses di semua aspek. Crowd-nya luar baisa dan venue juga sangat bagus. Dari Asian Games ini, saya melihat, masyarakat Indonesia punya antusiasme yang sangat besar terhadap olahraga. Saya tak pernah membayangkan hal ini ada di sini.

Lalu, bagaimana dengan penyelenggaraan Asian Games 2020 di Hangzhou, Cina...

Dengan kesuksesan Indonesia menggelar Asian Games 2018, tentu tak akan jadi tantangan tersendiri bagi Hangzhou menggelar Asian Games berikutnya. Namun, mereka pastinya sudah mengirim tim observasi. Saya cukup yakin mereka juga akan sukses.

Dengan pengalaman Cina yang sangat kaya dalam menggelar multievent, seberapa besar peluang mereka lebih sukses dari Indonesia?

Sejatinya, setiap gelaran Asian Games maupun Olimpiade, sekalipun tidak bisa dibandingkan begitu saja. Setiap edisi pastinya punca ciri khas masing-masing. Sebab, setiap tuan rumah menonjolkan budaya yang mereka miliki dan itu juga terlihat di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan Olimpiade 2020 Tokyo?

Tokyo juga harus bisa mencontoh Asian Games 2018. Kita lihat, bagaimana Indonesia mampu menyelenggarakan event dengan jumlah cabang olahraga yang banyak.

Korea Selatan dan Utara bersatu di Asian Games 2018. Bagaimana pendapat Anda?

Itulah Olahraga,  harus bisa menyatukan semua. Begitu pun Olimpiade, harus bisa jadi ajang perdamaian bagi semua negara di dunia. Di sini, dua Korea bisa bersatu dan meraih medali. Tentu ini sangat hebat. Namun, bagaimana proses perdamaian ke depan, tentu ini bergantung pada pemangku kebijakan kedua negara tersebut.***

*         *         *
Thomas Bach mengunjungi Main Press Center Asian Games 2018 di Jakarta
Convention Center

*         *         *
Thomas Bach didampingi Direktur Media dan PR Panitia Nasional Penyelenggara
Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) Danny Buldansyah

*         *         *
Kehangatan diskusi dengan sejumlah media Tanah Air yang mendapat undangan
dari INASGOC

*         *         *
Ramahnya Thomas Bach yang meluangkan waktu untuk menemui media Tanah Air

*         *         *
Yessss! Foto bersama dengan Thomas Bach

*         *         *
Hasil wawancara dengan Thomas Bach di Harian TopSkor

*         *         *

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi 187, Senin 3 September 2018
Penulis: KH Dhaneswara/ Choirul Huda
Foto: Choirul Huda

- Jakarta, 4 September 2018

Jumat, 31 Agustus 2018

Catat, Mamma Mia! Hadir di Jakarta hingga 9 September


Salah satu cuplikan dari Mamma Mia! yang memesona
(Klik foto untuk perbesar atau geser untuk melihat gambar lainnya)

AKHIRNYA, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ya, penantian panjang nyaris delapan bulan itu pun terbayar tuntas.

Tepatnya dengan menyaksikan penampilan memesona dari drama musikal Mamma Mia!. Saya mengetahuinya sejak menghadiri jumpa pers pada 7 Maret lalu. Sebelumnya, saya hanya tahu Mamma Mia! itu drama musikal yang membawakan berbagai lagu favorit dari musisi legendaris ABBA.

Namun, ternyata keliru. Sebab, Mamma Mia! lebih dari sekadar nostalgia. Kebetulan, saya besar pada era 1990-an. Tentu, saya lebih mengenal November Rain-nya Guns N' Roses, You're Still the One (Shania Twain) atau di dalam negeri seperti Dewa 19, Padi, Nike Ardilla, dan sebagainya.

Sementara, ABBA sudah populer sejak 1970-an silam. Bersanding dengan Queen, Led Zeppelin, dan sebagainya. Kendati, banyak lagu-lagu dari band asal Swedia ini yang di-cover musisi generasi selanjutnya. Misalnya, Sherina Munaf yang membawakan I Have a Dream bersama Westlife.

*         *         *
SELASA (28/8) jadi salah satu hari yang tak terlupakan bagi saya. Pertama, mendapat apresiasi dari Bank Central Asia (BCA) terkait reportase. Oh ya, BCA ini merupakan official bank partner Mamma Mia!.

Siangnya, menyaksikan perjuangan wakil Indonesia yang mendapat dua medali emas Asian Games 2018 lewat cabang olahraga (cabor) bulu tangkis. Yaitu, Jonatan Christie melalui tunggal putra dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra). Sebagai penggemar olahraga, saya bangga dengan pahlawan tepok bulu yang mampu mempersembahkan yang terbaik untuk Indonesia.

Malam harinya, saya berkesempatan menyaksikan drama musikal Mamma Mia! Bahkan, sebelumnya, saya dan rekan-rekan blogger serta jurnalis mendapat kehormatan untuk mengikuti Media Day. Yaitu, cuplikan pertunjukan Mamma Mia! lengkap dengan para pemain, kostum, dan set panggung yang akan digunakan saat tampil.

Pada sesi ini, kami diberikan keistimewaan untuk mengambil gambar. Sementara, ketika tampil, demi menjaga ketenangan saat menonton dari bunyi kamera, hanya diperbolehkan memotret sebelum atau sesudah pertunjukan.

Bagi saya, jelas ini suatu kebanggaan. Kebetulan, saya menyukai berbagai pertunjukan seni. Mulai dari wayang hingga konser. Misalnya, Rockestra yang mempertemukan Dewa, Slank, dan Gigi (Generasi 90-an pasti khatam ketiga band legendaris ini), 100 Tahun Ismail Marzuki, Bon Jovi, Super Junior! dan sebagainya.

Tak heran jika saya pun sangat antusias untuk menyaksikan MammaMia!. Selain nostalgia berbagai lagu ABBA, saya sangat kagum dengan set panggung. Dekorasinya minimalis, tapi efisien. Terlebih, dengan permainan cahaya yang visualisasinya seperti mengajak penonton untuk menemani Sophie Sheridan di panggung.

*         *         *

ANDA penasaran dengan pengalaman yang saya rasakan? Silakan menyaksikannya sendiri. Mamma Mia! merupakan salah satu pertunjukan musikal paling sukses di dunia. Keberadaannya sudah berlangsung selama 19 tahun di West End, London.

Hingga kini,  pertunjukan tersebut telah ditonton lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia. Bahkan, dipentaskan melalui 60 produksi dalam 16 bahasa yang berbeda.

Termasuk, di Indonesia yang berlangsung sejak 28 Agustus lalu hingga 9 September mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Alias, masih ada lebih dari sepekan bagi Anda untuk menyaksikan pertunjukan yang membawakan berbagai lagu favorti dari musisi legendaris ABBA.

Sebagai gambaran, Mamma Mia! sudah jadi pertunjukan yang dicintai di seluruh dunia dengan musikalitas yang ceria dan nuansa Yunani cerah. Beberapa lagu yang dibawakan seperti Dancing Queen dan I Have a Dream akan mengajak penonton untuk bernyanyi bersama, bernostalgia, dan menghayati kisahnya.

"Kami sangat senang Mamma Mia! dapat hadir di Jakarta. Kami menghadirkan seluruh kru produksi yang terlibat di West End London yang terdiri dari pemain, musisi, serta di balik layar," kata Associate Producer tur Mamma Mia! Nick Grace, dalam diskusi dengan blogger dan jurnalis

"Seluruh produksi yang kami bawa ke Jakarta dari pencahayaan, suara, pemandangan, hingga kostum merupakan elemen-elemn yang saling mendukung. Sekaligus, untuk memastikan apa yang penonton lihat nanti sama persis dengan yang ada di London."

Dalam jumpa pers itu, turut hadir Marketing Director SGE (Sorak Gemilang Entertainment) Mervi Sumali, Lucy May Braker (pameran Shopie), Helen Hobson (Donna Sheridan), Daniel Crowder, Matthew Rutherford, Tamlyn Hendersen (tiga ayah), dan Pillip Ryan (aktor).

"Kami mewakili seluruh pemain dan kru Mamma Mia! sangat bersemnagat untuk tampil di Jakarta. Sekaligus diberi kesempatan untuk menunjukkan produksi yang luar biasa untuk kali pertama di Indonesia. Kami akan memberikan waktu yang tak terlupakan bagi para penonton melalui cerita dan musik yang riang," Shopie, menjelaskan.

*         *         *
SEBAGAI gambaran, Mamma Mia! mengisahkan tentang cinta lintas generasi yang terpusat pada kehidupan ibu dan anak. Drama Musikal ini merupakan karya sensasional dari Judy Craymer yang ditulis Catherine Johnson, Phyllida Lloyd (sutradara), Anthony Van Laast (koreografi), dan Benny Andersson dan Bjorn Ulvaes (musik dan lirik).

Di Tanah Air, Mamma Mia! melakukan tur bekerja sama dengan SGE Juga didukung BCA untuk pembayaran tiket dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mamma Mia! berdurasi 2 jam 35 menit dengan jeda istirahat 20 menit.***


Sekilas Informasi:

Harga Tiket:

Kategori
VIP
Platinum
Gold
Silver

Normal
Rp 2.650.000
Rp 2.350.000
Rp 1.650.000
Rp 850.000

Keterangan: Harga di atas sudah termasuk pajak hiburan dan belum termasuk biaya admin tiket 3,3%

Waktu Pertunjukan:
28 Agustus hingga 9 September (16 kali)
Selasa - Kamis: 20.00 WIB
Sabtu: 14.30 dan 19.30 WIB
Minggu: 13.00 dan 18.30 WIB

Info pemesanan:
Websitewww.mammamiajkt.com
Telepon: 0813 2587 5388
Langsung di TempatTeater Jakarta, TIM
Instagram@Sgelive.id

*         *         *
Tiga rekan blogger mengabadikan momen dengan latar Mamma Mia!

*         *         *
Sophie Sheridan membahas terkait penampilan seluruh pemain dan kru yang
diboyong langsung dari Inggris

*         *         *
Diskusi hangat terkait konser bersama rekan-rekan blogge dan jurnalis

*         *         *
Mamma Mia! siap dimulai

*         *         *
I Have a Dream dari ABBA jadi lagu pamungkas yang mengiringi drama
musikal ini

*         *         *
Visualisasi dan tata cahayanya luar biasa

*         *         *
Mamma Mia! menggelar pertunjukan di Jakarta sejak 28 Agustus hingga
2 September mendatang

*         *         *
Mamma Mia! sudah dipentaskan melalui 60 produksi dalam 16 bahasa berbeda

*         *         *
Tahun ini merupakan kali pertama Mamma Mia! hadir di Jakarta yang mendapat
sambutan hangat dari penonton

*         *         *

*         *         **         *         **         *         **         *         *
*         *         **         *         *
- Jadi Saksi Sejarah Bersama MAMMA MIA!

*         *         *
- Jakarta, 31 Agustus 2018

Selasa, 28 Agustus 2018

Fajar/Rian Itu Buaya, tapi Kevin/Marcus Penyayang Binatang


Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Foto TopSkor.id/Sri Nugroho)


HASRAT Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto untuk mencicipi medali emas Asian Games 2018, harus tertunda. Setidaknya, hingga empat tahun mendatang, di Hangzhou, Cina.

Itu akibat dikalahkan sahabat sekamarmya di pelatnas Cipayung, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Dalam All Indonesian Final pada cabang olahraga (cabor) bulu tangkis ganda putra itu, Fajar/Rian menyerah 21-13, 18-21, 22-24.

Tidak hanya mereka saja yang kecewa dengan kekalahan skor tipis di Istana Olahraga (Istora) Gelora Bung Karno, siang tadi. Melainkan juga, fan fanatik Fajar/Rian.

Ya, ganda putra yang akrab disapa Fajri itu memang sudah berduet sejak 2014 yang setahun lebih awal dari Kevin/Marcus. Wajar, jika Fajar/Rian pun memiliki fan yang lumayan banyak dari penjuru Tanah Air.

"Nyesek sih, kalah tipis. Setipis senyum Rian," ujar Florencia Maulida, saat ditemui TopSkor.id usai keluar dari Istora, Selasa (28/8).

Dara 24 tahun ini mengaku sebagai penggemar setia Fajri. Kendati, secara prestasi, idolanya itu masih tertinggal dari Kevin/Marcus yang sejak 2017 merajai blantika tepok bulu.

"Ya, habis gimana. Sudah kadung suka sama mereka. Fajri itu, kalem. Mainnya tenang meski ga sedingin Hot Daddies," Florencia merujuk pasangan senior peraih emas Asian Games 2014, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Fakta tersebut diakui kawannya Nunik Armavati. Mereka menilai, apa yang dilakukan Fajar/Rian sudah sangat luar biasa.

"Di semifinal sukses mengalahkan ranking dua dunia (Li Junhui/Liu Yuchen). Ini sangat positif. Saya yakin, empat tahun lagi Fajar/Rian yang meraih medali emas," Nunik, menambahkan.

"Kelamaan. Dua tahun lagi di (Olimpiade 2020) Tokyo, juga bisa. Syaratnya, pada poin-poin krusial, Fajar/Rian harus fokus," timpal Florencia, cepat.

Pernyataan penggemar Lee Yong Dae ini beralasan. Dalam komentarnya seusai pertandingan, Fajar/Rian menegaskan kekalahan di final Asian Games 2018 ini jadi motivasi demi lebih baik lagi pada event akbar selanjutnya.

"Fajar/Rian itu seperti buaya. Tenang, tenang, tapi siap menerkam mangsa. Nyaris saja, (Kevin/Marcus) bisa dikalahkan," tutur Florencia yang tak henti memainkan gadgetnya meski sambil jalan. 

Bahkan, beberapa kali, sosok yang mengaku tidak jomblo melainkan belum dapat jodoh yang tepat ini kegirangan. Setelah ditelisik, ternyata di layar smartphone-nya terpampang trending topic twitter untuk frasa FajRi.

"Sayangnya, Kevin/Marcus penyayang binatang. Jadi, seganas apa pun buayanya, tetap bisa dijinakkan," Nunik berseloroh sembari menowel Florencia.

Faktanya, dari berbagai sisi, untuk saat ini Kevin/Marcus memang di atas Fajar/Rian. Termasuk, ketika TopSkor.id membuat polling di twitter.

76 persen warganet percaya, Kevin/Marcus yang memenangkan All Indonesian Final. Alias, hanya 24% yang mengunggulkan Fajar/Rian.

"Ya, mereka kurang beruntung hari ini. Selamat untuk Kevin/Marcus. Meski (Fajar/Rian) kalah, tapi tetap bangga. Apalagi, terjadi All Indonesian Final yang berarti memastikan medali emas Asian Games 2018," lanjut Florencia sambil menggaet Nunik yang mendadak tidak jadi ke arah Jalan Jenderal Sudirman, tapi menuju Asian Games 2018 Official Merchandise Super Store.

Alias, toko suvenir resmi pesta olahraga antarnegara Asia. "Bulu tangkis kan sudah selesai. Saatnya belanja kenang-kenangan Asian Games 2018. Kan, belum tentu 10-20 tahun lagi, Indonesia kembali jadi tuan rumah," tutur Florencia dengan senyumnya yang renyah.***

- Jakarta, 28 Agustus 2018
(Artikel ini sebelumnya dimuat di www.TopSkor.id)