TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Google Adsense 2016

Yuk, Jelajahi Sudut Ibu Kota

Yuk, Jelajahi Sudut Ibu Kota
Yuk, Jelajahi Sudut Ibu Kota: Jakarta memiliki banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Senin, 20 Februari 2017

Ketika Blogger Bicara Komunitas


Diskusi bersama blogger dalam Ngumbar Komunitas (Klik untuk perbesar foto)

BAHAS Tuntas tentang Komunitas. Demikian info yang saya baca pada halaman Facebook komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB), dua pekan lalu. Dalam foto itu, terdapat rangkaian acara bertema Ngumbar Komunitas ini.

Awalnya sempat ragu juga untuk mendaftar. Maklum, acaranya berlangsung seharian dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Sementara, ketika melihat jadwal pada Sabtu (18/2), ternyata sore harinya saya harus ke Tangerang untuk menemui salah satu pengurus olahraga terkait informasi perkembangan Asian Games 2018.

Namun, ketika membaca lebih lanjut acaranya sangat inspiratif dengan narasumber yang kompeten, akhirnya saya tetap mendaftar untuk mengikutinya setengah hari. Kebetulan, sudah lama saya tidak mengikuti acara yang berkaitan dengan Blog Detik. Tepatnya, sejak menghadiri HUT ketiga Dblogger Community pada 28 Januari 2012.

Alias, sudah lebih lima tahun. Padahal, di antara berbagai platform yang saya ikuti, Blog Detik termasuk yang awal. Sebab, saya sudah gabung sejak 22 Januari 2010 dengan alamat rully87.blogdetik.com. Jauh lebih awal ketimbang di Kompasiana pada tahun yang sama.

*         *         *
NGUMBAR Komunitas dimulai dengan diskusi yang melibatkan lima perwakilan komunitas yang dimoderasi Ani Berta. Mereka yaitu, Elisa Koraag dari Komunitas Penulis dan Sastra (Pedas), Ivo Anggrayanty (Inpirasi Wanit), Kiki Handryani (Kopi), dan Salman Faris (Indonesia Corners).

Ada satu sesi yang menurut saya menarik dari Bahas Tuntas tentang Komunitas. Tepatnya, terkait pengalaman berkomunitas. Salah satunya mengenai aturan tentang anggota yang dikeluarkan dari komunitas yang bersangkutan.

Kebetulan, saya punya pengalaman seperti ini. Yaitu, ketika dikeluarkan dari suatu komunitas tanpa alasan yang jelas. Alias karena faktor like and dislike dari salah satu pengurusnya saja. Ironisnya, tidak hanya sekali, bahkan lima kali! Wow... Mungkin, ini jadi rekor :)

Sebab, memang ada puluhan yang juga dikeluarkan, tapi rata-rata hanya sekali saja, tidak seperti saya lima kali. Padahal, dalam periode itu, saya sudah dimasukkan kembali dari pengurus lainnya. Namun, dikeluarkan lagi.

Termasuk dari founder-nya langsung. Eh, dimasukkin, dikeluarin lagi. Dimasukkin, dikeluarin lagi. Yupz, kondisi itu bakal terus terjadi hingga ladang gandum dihujani meteor cokelat dan jadilah Koko Krunkkkk, ya tetap seperti itu.

Sampai untuk kelima kalinya saya putuskan tidak masuk lagi. Ya, saya enggan ambil pusing dan tetap berteman seperti biasa dengannya. Termasuk ketika bertemu dalam beberapa acara dan tetap ber-say hallo untuk menjaga silaturahmi. Bagaimanapun saya punya prinsip, ketimbang menghakimi masa lalu yang bisa menguras energi saya, lebih baik menatap masa depan.

*         *         *
BANYAK kesan yang saya tangkap dari mengikuti edisi perdana mengikuti Ngumbar Komunitas ini. Sekilas, acaranya mirip dengan Kompasianival. Lantaran tidak hanya tentang komunitas saja, melainkan beberapa booth yang menjajakan pakaian, aksesoris, dan makanan.

Ini menarik, apalagi, harganya murah meriah dengan berbagai pilihan. Terlebih, turut hadir beberapa narasumber lintasbidang. Mulai dari tentang Vlog, rapper, Komunitas Biola Taman Surapati, Musik Box, puisi, hingga freestyle sepak bola.

Atmosfer itu tidak hanya dirasakan kami yang berada di Kuningan City, Jakarta Selatan, saja. Melainkan juga di sosial media seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Bahkan, dalam pantauan saya, dari pagi hingga malam, acara ini ramai diperbincangkan yang mengundang antusiasme netizen. Termasuk, tagar #NgumbarKomunitas yang memuncaki trending topic nasional di twitter.

*         *         *
Rekan blogger Tika Samosir mengisi daftar hadir

*         *         *
Rekan blogger Astri Ratnadiya berpose di depan banner Ngumbar Komunitas

*         *         *
Suasana di Kuningan City tempat berlangsungnya acara 

*         *         *
Ada Detik Travel juga! Salah satu kanal favorit saya

*         *         *
Berbagai makanan dan minuman yang murah meriah

*         *         *
Keberadaan booth fashion menyemarakkan acara 

*         *         *
Andai saya tidak pergi ke tempat lain, pasti sudah beli buat oleh-oleh 

*         *         *
Puluhan rekan blogger menyimak rangkaian acara Ngumbar Komunitas

*         *         *
Pembacaan puisi dari Komunitas Pedas

*         *         *
Sesi diskusi yang dipandu Ani Berta

*         *         *
Rekan blogger dari Komunitas Mangga yang berasal dari Indramayu

*         *         *
Foto bersama lintaskomunitas

*         *         *
Pergerakan tagar #NgumbarKomunitas di twitter sepanjang hari

*         *         *
Artikel Terkait Komunitas
Berkat Fun Blogging, Ngeblog Makin Asyik
Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam
Tiga Dara Blogger
Tips Ngeblog Asyik: Jalin Hubungan Baik dengan Komunitas Blogger (I)
Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir
Ngeblog: Antara Hobi dan Mendatangkan Profit
- Di Balik Kompasianival 2016
- Rekaman Kopdaran Tahun 2012 Bersama Kompasianer (http://www.kompasiana.com/roelly87/rekaman-kopdaran-tahun-2012-bersama-kompasianer_550e07dca33311a62dba7e5e)

*         *         *
- Jakarta, 20 Februari 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

Suatu Ketika di Puncak Bromo


Gunung Bromo dan Gunung Batok


TIBA-tiba Lu Soe Nio (1) menuding kedinding saldju. Tong Siauw Lan dan Phang Eng mengawasi dan ternjata diatas sebuah batu terukir empat huruf besar: Djin-thian-tjoat-kay (Perbatasan antara manusia dan langit).

Di bawah empat huruf itu terdapat beberapa baris huruf ketjil jang berbunji seperti berikut: Pada musim rontok tahun Kah-sin, aku tiba di-Tibet dengan niatan mendaki puntjak Tjoe-hong (2)


Aku tertahan ditempat ini, tenagaku habis,
tak dapat kumadju lagi dan hampir-hampir kuhilang djiwa. 

Sekarang baru aku jakin, bahwa tenaga manusia ada batasnja.
Semendjak keluar dari rumah perguruan, dengan sebatang pedang aku berkelana keberbagai tempat tanpa menemui tandingan.

Aku menduga, bahwa dikolong langit
tiada pekerdjaan jang tidak bisa dilakukan.
Tapi sekarang, aku menunduk dibawah Tjoe-hong,
dengan ditertawai oleh awan-awan putih. 

Manusia mudah ditakluki, tapi langit tak dapat diatasi.
Hai! Kenjataan ini adalah tjukup untuk membuat orang-orang gagah dikolong langit menghela napas sambil mengusap-usap pedangnja!

Dibawah huruf-huruf itu terdapat tiga huruf: Leng Bwee Hong. Ia adalah (kakek guru) Tong Siauw Lan dan Phang Eng. (3)

*         *         *

DEMKIAN penggalan dari novel Tiga Dara Pendekar yang saya baca lebih dari satu dekade silam. Tentang, kemampuan salah satu pendekar tangguh pada Dinasti Qing yang ternyata memiliki batas dalam mencapai puncak Everest. Yaitu, gunung tertinggi di dunia yang letaknya di perbatasan Nepal-Tibet.

Sejak membaca novel itu, saya jadi suka membayangkan asyiknya naik gunung. Bukan hanya keindahan ketika sudah tiba di puncak, melainkan karena prosesnya. Tentang, bagaiman pendaki bisa melewati rintangan sepanjang perjalanan.

Itu terjadi ketika beberapa rekan cerita pengalamannya mendaki Salak, Pangrango, Ciremai, Merapi, Semeru, Merapi, Kerinci, Ya, sungguh mengasyikkan. Hanya, entah kenapa sampai pertengahan 2016 lalu, saya belum tertarik untuk naik gunung.

Termasuk, ketika masih tugas di pedalaman Sumatera lebih dari sewindu silam. Ketika itu, beberapa rekan sempat mengajak untuk mendaki ke puncak tertinggi di Suwarnadwipa  yang letaknya hanya beberapa kilometer dari mes.

Namun, saat itu saya lebih memilih berdiam di mes sambil ditemani suara jangkrik pada tengah malam sambil berselancar internet memanfaatkan data satelit untuk belajar nge-blog. Tentu, bukan karena saya mengidap acrophobia. Melainkan karena enggan saja. Intinya, dibanding naik gunung, saya lebih suka melewati (jalan) Gunung Sahari atau mengunjungi (toko buku) Gunung Agung.

*         *         *
TAHUN lalu jadi salah satu titik tolak saya dalam ngeblog. Maklum, sepanjang 2016, saya jadi lebih sering bertualang. Mulai dari mendaki gunung, lewati lembah, hingga sungai mengalir indah ke samudera. Ya, banyak sudah petualangan pada tahun lalu.

Diawali dengan bertualang di Curug Nangka, Bogor, yang dilanjutkan ke Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Selatan), Water World (Tangerang), Citarik (Sukabumi), Pengalengan (Bandung), Candi Prambanan (Yogyakarta), Maja (Banten), Tanjung Pakis (Karawang), Nusa Dua (Bali), Bromo (Jawa Timur), Batu Kasur (Cianjur), dan beberapa kawasan lainnya. Itu belum termasuk di ibu kota saja dengan menjelajah enam kotamadya, termasuk Kepulauan Seribu.

Dalam artikel ini, tentu yang akan saya ceritakan tentang petualangan di Gunung Bromo. Banyak kisah yang ingin diceritakan. Namun, seperti kata pepatah, sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1.000 kata. Jadi, bagaimana dengan 15 foto?


*         *         * 

Keterangan:

1 - Gunung Everest
- Lu Sunio atau Lu Suniang, pendekar pada era Dinasti Qing di Cina (sekitar abad ke-18)
3 - Novel Jianghu San Nuxia (Kangouw Sam Li Hiap) merupakan karangan Liang Yusheng pada 1957-58. Di Tanah Air, novel itu diterbitkan Pantja Satya dengan terjemahan Gan K. L. pada 2005 silam berjudul Tiga Dara Pendekar.
(http://www.kompasiana.com/roelly87/memetik-pelajaran-dari-cerita-silat-tujuh-pendekar-pedang-dari-gunung-thianshan_55008633a333115d6f5113c4)


*         *         *
Lautan pasir menuju puncak Bromo

*         *         *
Gunung Batok bak menggapai langit

*         *         *
Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 MDPL dan Gunung Batok (2.440 MDPL)

*         *         *
Pada suatu ketika di kaki Gunung Bromo

*         *         *
Di depan Pura Luhur Poten

*         *         *
Mendaki gunung, lewati lembah...

*         *         *
Sarapan di kaki Gunung Batok

*         *         *
Dari ketinggian sekitar 1.000 MDPL

*         *         *
Sayangnya, saat itu belum berlangsung upacara Yadnya Kasada 

*         *         *
Menghitung 253 anak tangga...

*         *         *
Kawah Bromo yang tak hentinya menyemburkan asap

*         *         *
Wisatawan mancanegara (wisman) menikmati keindahan puncak Bromo 

*         *         *
Ketika sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1.000 kata

*         *         *
Antusiasme pengunjung di puncak Bromo

*         *         *

Artikel Terkait:
Candi Jago
Air Terjun Coban Pelangi
- Ke Bromo, (Aku) kan Kembali
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
(Epilog) Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang

*        *        *
Artikel Ngebolang Sebelumnya:
Pasar Santa
Central Park
Sirkuit RMS Land Rappang
Garuda Indonesia
Candra Naya
7 Taman di Jakarta
Pulau Bidadari
7 Tempat Nongkrong
Museum Nasional
Masjid Hidayatullah
Alun-alun Bandung
Taman Ismail Marzuki
Tugu Kunstkring Paleis
Pasar Ah Poong
Museum Basoeki Abdullah
Taman Ayodia
Curug Nangka
Curug Nangka (2)
Kebun Binatang Ragunan
Taman Nasional Bunaken
Pantai Jimbaran
4B Manado
Danau Linow
7 Tempat Nobar
Museum Kebangkitan Nasional
Ngebolang ke 3 Stasiun
CitraRaya Water World
Pantai Ancol
Patung Soekarno-Hatta
Rafting Sungai Citarik
Sensasi Nusa Dua
Taman Jomblo
Candi Prambanan
Museum Astra
Candi Jago
Kota Malang
Saung Sarongge
Coban Pelangi
Taman Prasasti
- Kalijodo
- Museum Bahari

Laman Khusus Wisata
- Jelajah Manado
Keliling Yogyakarta
Sensasi Bali
Ngebolang ke Malang
- Jelajah Sudut Ibu Kota
*        *        *
- Jakarta, 18 Februari 2017

Kamis, 16 Februari 2017

Tapak Tilas di Museum Bahari


Pengunjung sedang foto bersama di gerbang Museum Bahari


"GUDANG, lalu museum. Gedung ini dibangun pada 1718 sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah. Pada 17 Juli 1977 diresmikan sebagai Gedung Museum Bahari."

Demikian, keterangan dalam prasasti yang saya baca di salah satu ruangan di Museum Bahari. Saya tidak menyangka, gedung yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan No 1, Jakarta Utara, ini nyaris berusia tiga abad! Maklum, meski sudah tua, tapi gedung tersebut masih kokoh.

Menurut keterangan resminya, gedung Museum Bahari sudah melakukan berbagai renovasi. Termasuk, ketika Indonesia baru merdeka yang sempat dijadikan kantor telekomunikasi.

Terlebih, saya sudah sering mengunjunginya sejak kecil. Baik dalam rangka kunjungan sekolah maupun secara pribadi. Bisa dipahami mengingat lokasinya tidak terlalu jauh dari kediaman saya. Terlebih, saya memang menyukai hal-hal berbau sejarah.

Tak heran jika sejak aktif ngeblog, mayoritas berisi berbagai tempat bersejarah seperti Museum Wayang, Museum Nasional, hingga Museum Adityawarman di Padang.

Bahkan, tulisan saya mengenai Museum Bahari ini masuk dalam buku antologi bersama 30 blogger Kompasiana berjudul: Jelajah Negeri Sendiri. Buku yang terbit pada Januari 2014 itu memuat 57 artikel dengan tema Catatan Perjalanan Merawat Nasionalisme.

Kebetulan, saya menyumbang empat tulisan yang seluruhnya terkait sejarah, yakni:
- Mengenang Ade Irma Suryani
- Tapak Tilas di Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
- Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa- Menikmati Wisata Malam di Kota Tua.

*        *        *

MUSEUM Bahari dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Itu ditandai dengan karcis berlogo bank pemerintah. Oh ya, harga tiket masuk Museum Bahari sangat murah, baik itu dewasa yang hanya Rp 5.000, mahasiswa (Rp 3.000), dan anak-anak (Rp 2.000).

Menurut saya, tiket masuk Museum Bahari dengan format elektrik lebih bagus dibanding Museum Nasional dan Museum Prasasti yang masih manual alias tulisan tangan.

Museum ini sangat tepat untuk mengedukasi anak-anak terhadap sejarah Indonesia yang sejak dulu dikenal sebagai negara maritim. Maklum, di Museum Bahari terdapat ratusan koleksi bersejarah. Mulai dari lukisan, miniatur, hingga biota laut.

Bahkan, terdapat beberapa perahu asli bersama alat kemudi, rantai, dan perkakas untuk membuat perahu. Di Museum Bahari juga kita bisa jadi saksi kejayaan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut.

Sebab, tidak hanya miniatur kapal saja. Melainkan, bukti otentik lainnya dari TNI AL sebagai salah satu kekuatan dunia. Mulai dari koleksi perlengkapan hingga buku.

Apalagi, terdapat berbagai foto dari Pahlawan Nasional dari TNI AL serta Kepala Staf (KSAL). Mereka yaitu,
- Komodor Jos Soedarso
- Jahja Daniel Dharma (John Lie)
- Usman (Sertu KKO)
- Harun (Kopko)
- Laksamana Laut R. E. Martadinata  7 Oktober 1966

*        *        *

TAPAK Tilas di Museum Bahari merupakan artikel berseri dari Museum Bahari yang secara khusus saya buat untuk memperingati 96 tahun Martadinata. Tulisan ini seperti artikel khusus sebelumnya (Manado, Yogya, Bromo, Ibu Kota) bersifat bebas. Dalam arti, di-update tidak rutin kapan waktunya, tapi pasti.

Martadinata merupakan Panglima Angkatan Laut TNI (sebelum berganti KSAL) keempat yang lahir pada 29 Maret 1921 di Bandung.  Martadinata wafat pada 6 Oktober 1966 akibat kecelakaan helikopter di Riung Gunung, Puncak, Jawa Barat. Sehari kemudian, Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 220 dengan menjadikan Martadinata sebagai Pahlawan Nasional.

Hingga kini, namanya diabadikan pemerintah baik pusat maupun daerah sebagai nama jalan utama. Di ibu kota, Jalan R. E. Martadinata terdapat di Jakarta Utara yang membentang 7,5 km sejak Stasiun Tanjung Priok hingga Stasiun Kampung Bandan.

Sementara, di Bandung, Jalan R. E. Martadinata dikenal sebagai Jalan Riau yang jadi pusat Factory Outlet (FO). Pada 15 Maret 1995, jalan tersebut disorot publik terkait tewasnya Nike Ardilla akibat mobilnya menabrak bak sampah.

Data Museum Bahari

Nama bangunan: Museum Bahari
Nama bangunan sebelumnya: Komplek Gudang VOC Z/West Zijasch Pakhuis
Lokasi:  Jalan Pasar Ikan I No 1, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara (14440)
Akses: Peta (google maps)
Pemilik: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Status:  Cagar Budaya yang dilindungi SK. Mendikbud No 0218/M/1988
Fasilitas: Tempat parkir, toilet, perpustakaan
Waktu buka: Selasa-Minggu (Pukul 09.00-15.00 WIB)

*        *        *
Antre untuk beli tiket masuk

*        *        *
Tiket masuk yang sudah versi cetak dan bukan manual lagi

*        *        *
Berbagai cindera mata yang bisa dibeli pengunjung

*        *        *
Puluhan pengunjung dari SMP di Jakarta

*        *        *
Prasasti Museum Bahari

*        *        *
Denah Museum Bahari

*        *        *
Kawasan cagar budaya di sekitar Museum Bahari

*        *        *
Tentang perkampungan Arab dan Cina

*        *        *
Properti asli pada masa lampau

*        *        *
Koleksi perahu nusantara

*        *        *
Salah satu perahu nusantara dan gergaji untuk membuatnya

*        *        *
Foto Lima Pahlawan Nasional dari TNI AL

*        *        *
Perpustakaan yang luas dan lengkap di Museum Bahari

*        *        *
Buku perang yang sangat lengkap dan langka dari koleksi Musuem Bahari

*        *        *
Ruangan CCTV yang hmm....

*        *        *
Lantai tiga dari Museum Bahari. Ada yang aneh?

*        *        *
Pekarangan di Museum Bahari

*        *        *
Papan informasi untuk pengunjung

*        *        *
Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan No 1

*        *        *

Artikel Terkait
- Intip Sejarah Nusantara di Museum Bahari
- Langkah-langkah Tanpa Wujud di Pojok Museum Bahari (Kisah Horor)
- Mengarungi Dunia lewat Museum Bahari
Jalesveva Jayamahe: Di Lautan Kita (Pernah) Jaya
- Titik Nol di Menara Syahbandar

Artikel Cagar Budaya Lainnya
- Museum Prasasti
Museum Naional

Artikel TNI, Polri, dan Instansi Lainnya
Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
Sinergi BNN-Blogger untuk Darurat Narkoba
HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat
(Esai Foto) Jakarta Metropolitan Police Expo 2016
Bulan Dirgantara Indonesia 2016 TNI AU
Potret Petugas Penjaga Jalur Busway saat Buka Puasa
Sinergi BNPT Blogger Cegah Terorisme 
Serunya Latihan Menembak di Markas Kostrad
Sinergi Kementerian PUPR untuk Sosialisasi K3


Semarak HUT TNI ke-68 di Monas (http://www.kompasiana.com/roelly87/semarak-hut-tni-ke-68-di-monas_552a293b6ea8343326552d1b)
Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI (http://www.kompasiana.com/roelly87/pengalaman-seru-naik-panser-anoa-tni-ad_551fa2fd813311466e9de508)
Mengenang Jenderal Soedirman (http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-jenderal-sudirman-tetap-semangat-hingga-tetes-darah-penghabisan_55095adba3331124692e3976)
Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution (http://www.kompasiana.com/roelly87/sepenggal-kisah-di-museum-abdul-haris-nasution_5528cf7cf17e61030c8b4577)
Mengenang Ade Irma Suryani (http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-ade-irma-suryani_550e0653813311b92cbc6100)
Balik Kehebatan Jenderal Djamin Ginting (http://www.kompasiana.com/roelly87/3-nafas-likas-dan-sosok-di-balik-kehebatan-jenderal-djamin-ginting_54f41787745513a32b6c85df)
Semoga Tidak ada Lagi Paswalyur: Pasukan TNI Pengawal Sayur (http://www.kompasiana.com/roelly87/di-usia-tni-ke-66-ini-semoga-tidak-ada-lagi-paswalyur-pasukan-pengawal-sayur_550def16813311842cbc6125)
Pramoedya Ananta Toer: Saya Ga Suka Militer Indonesia (http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-jejak-pramoedya-ananta-toer_5528b7f3f17e616d7c8b45f3)
Sisi Lain Paspampres yang Berprestasi (http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-paspampres-yang-berprestasi_54f5de54a33311251f8b47e7)
Apresiasi untuk Kejelian Paspampres (http://www.kompasiana.com/roelly87/apresiasi-untuk-kejelian-paspampres_54f7fccca333112e1f8b4c53)
Intip Buku Prayitno Ramelan (http://www.kompasiana.com/roelly87/memetik-pengalaman-dari-penulis-best-seller-di-acara-intip-buku_55102ca0a333118b37ba7f8e)
-
*        *        *

Referensi Tambahan:
- http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Museum_Bahari
- http://www.tnial.mil.id/Aboutus/Sejarah/Biografi/
tabid/116/articleType/ArticleView/articleId/5487/
LAKSAMANA-LAUT-RE-MARTADINATA.aspx
- http://www.pusakaindonesia.org/ini-dia-daftar-163-pahlawan-nasional/

*        *        *
- Jakarta, 16 Februari 2017

Selasa, 14 Februari 2017

Sambil Mewaspadai “Serangan Fajar”


Antusiasme warga nobar Piala Dunia 2014 sambil menunggu sahur
yang bertepatan dengan Pilpres 

PERTANDINGAN semifinal Piala Dunia 2014 antara Brasil versus Jerman memang sangat unik. Pertama, seperti yang kita ketahui, laga tersebut berakhir dengan kemenangan telak Jerman atas tuan rumah, skor 7-1. Lalu, seperti biasanya duel yang berlangsung pukul 03.00 WIB, bagi warga muslim tentu dimanfaatkan sambil santap sahur. 

Nah, satu lagi yang menarik dari pertandingan Brasil-Jerman adalah berlangsung Selasa (8/7) atau Rabu dini hari WIB. Saat itu bertepatan dengan pemilihan umum presiden (Pilpres), 9 Juli 2014. Alhasil, duel Brasil-Jerman disambut antusias masyarakat, khususnya panitia yang menjaga Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Seperti yang dilakukan TopSkor saat memantau beberapa titik TPS di Jakarta Barat. Banyak warga yang pagi harinya menjadi panitia sengaja begadang dengan nonton bareng (nobar) sepak bola. Itu digunakan sambil mengisi kekosongan sejak sahur hingga pukul 07.00 WIB untuk menjaga persiapan seperti kotak suara, tenda, kursi dan sebagainya.

Salah satunya terjadi di TPS 02 yang berlokasi di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Saat itu tidak hanya panitia saja yang antusias menyaksikan duel Brasil kontra Jerman. Melainkan juga anak-anak kecil yang baru saja membangunkan sahur. Teriakan mendukung Jerman menggema sepanjang pertandingan. Kebetulan, mereka sedang libur panjang sekolah.

“Ya begini, nobar sama bocah-bocah dan remaja yang baru bangunin sahur. Hitung-hitung menjagain mereka biar ga tawuran,” ujar Arifin, salah satu panitia yang berinisiatif mengeluarkan televisi dari rumahnya untuk dibawa ke TPS. “Kalau kita sih, seneng aja ada yang nemenin. Apalagi, ini (pertandingan) rame banget. Masak, baru babak pertama Brasil udah kebobolan lima gol.”

Disangka Timses
Yang menarik ketika TopSkor pertama kali mendatangi lokasi TPS tersebut. Saat itu, beberapa anak kecil terlihat sedang bisik-bisik. Terutama, ketika hendak memotret suasana nobar. Ternyata, setelah ditanyakan lebih jelas, mereka menganggap, TopSkor merupakan salah satu tim sukses (timses) dari pasangan capres dan cawapres.

“Biasa Mas, kalau menjelang pemilu sebelumnya, banyak pihak mendatangi TPS atau ke masyarakat untuk bagi- bagi amplop untuk memilih calon,” tutur Rokhimin, panitia sekaligus pengurus karang taruna setempat kepada TopSkor.

“Kalo menurut Mas, mungkin itu ‘Serangan Fajar’ yang harus diwaspadai. Kita sih di sini udah ga mempan sama sekali. Kita milih capres dan cawapres sesuai hati nurani,” tutur Rokhimin, panitia sekaligus pengurus karang taruna setempat yang asyik menyeruput kopi pahitnya sambil memandang kecewa ke layar televisi karena tim idolanya, Brasil, kalah.***
*         *         *
Features Artikel di Harian TopSkor edisi 10 Juli 2014

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 10 Juli 2014