TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Jumat, 20 Januari 2017

(Esai Foto) Memetik Manfaat dari OPPO Selfie Tour 2017


Suasana dalam OPPO Selfie Tour 2017


HARI gini, siapa sih yang tidak pernah atau belum melakukan selfie? Alias, swafoto dengan menggunakan kamera depan di telepon seluler (ponsel). Peluang itu yang ditangkap OPPO Indonesia dengan merilis berbagai varian Camera Phone yang mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Salah satunya, OPPO F1s dengan tagline Selfie Expert.

Saya mendapat kehormatan bisa mengikuti acara bertema "Selfie Tour" yang diselenggarakan OPPO di Historia Cafe, Jakarta Barat, Selasa (17/1). Ini merupakan event ketujuh yang saya ikuti sejak 2015 lalu. Sekaligus, yang pertama untuk hunting foto setelah enam acara sebelumnya diselenggarakan di dalam ruangan.

*        *       *
Menara Jamsostek, Jakarta Selatan
PAGI itu, matahari tampak malu-malu untuk bersinar. Dengan semangat 45, saya bergegas menuju Menara Jamsostek, Jakarta Selatan, yang merupakan kantor OPPO. Tujuan saya untuk mengikuti Selfie Tour bersama puluhan peserta lainnya sesama blogger dan OPPO Fans.

*        *       *
Penuh kehebohan di bus bersama rekan-rekan blogger
PUKUL 09.00 WIB, bus yang kami tumpangi berangkat dari Menara Jamsostek menuju kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Sepanjang perjalanan sekitar 30 menit itu, diwarnai dengan kehebohan. Terutama dari komunitas Kelas Blogger yang digawangi Rulli Nasrullah hingga membuat perjalanan jadi tak terasa.
*        *       *
Ternyata, ada Raisa dan Afgan dalam bus yang kami tumpangi
TERDAPAT tiga perwakilan OPPO yang bersama kami. Yaitu, mas Diki, mbak Ira, dan mbak Paulina. Sementara, dua tim OPPO lainnya (mas Aryo dan mas Angga) sudah menunggu di lokasi. Ini kali kedua saya pergi dengan mereka setelah 31 Mei 2016 berkunjung ke pabrik OPPO di Tangerang.

*        *       *
Aryo Meidianto (Media Engagment OPPO Indonesia)
SELFIE Tour dibuka Aryo Meidianto selaku Media Engagement OPPO Indonesia. Pria penggemar fotografi ini menjabarkan secara runut perkembangan smartphone OPPO di Tanah Air. Saat ini, OPPO merupakan produsen smartphone terbesar kedua di Indonesia. Ini menarik, mengingat mereka tergolong baru di nusantara.

"Pada 2015, kami sama sekali tidak masuk dalam daftar lima besar di Indonesia. (Tapi) pada 2016 secara perlahan, penjualan OPPO di Tanah Air meningkat. Ini berkat, jajaran Camera Phone yang membuat OPPO diterima masyarakat secara luas," kata Aryo dalam sambutannya di hadapan blogger dan OPPO Fans.

Apa yang dikatakan Aryo beralasan. Saya pribadi baru mengenal OPPO pada pertengahan 2015 lalu. Namun, mulai intens mengikuti perkembangan mereka sejak menghadiri peluncuran OPPO R7s di Restoran Empirica, Jakarta Selatan, pada 7 Desember 2015. Setelah itu, saya kerap mengikuti berbagai kegiatan mereka, termasuk ketika secara eksklusif bekerja sama dengan Barcelona pada 21 Juli 2016.

*        *       *
DKristian Tjahjono (Managing Editor YangCanggih.com)
SESI kedua dari Kristian Tjahjono selaku managing editor Yangcanggih.com. Dia membeberkan trik memotret dari ponsel agar bisa menghasilkan foto yang bagus. Termasuk, ber-selfie atau wefie (foto bersama). Menurut Kristian, dalam memotret itu yang utama bagaimana bisa menangkap momentum.

Dia mencontohkan beberapa koleksi fotonya terkait pentingnya pemotret untuk menangkap momentum yang tepat. Kristian juga memberi tips untuk bisa memaksimalkan fotografi lewat ponsel. Khususnya, dengan OPPO F1s yang hasilnya ternyata tidak kalah dari kamera DSLR.

"Saya menggunakan mode auto atau panorama untuk memaksimalkan foto dengan OPPO F1s. Hasil jepretannya sangat sempurna. Apalagi, jika kita bisa menangkap momen yang tepat," kata Kristian memperlihatkan beberapa fotonya.

*        *       *
Kartini Bohang (Jurnalis Kompas.com)
SELANJUTNYA, giliran Kartini Bohang dari Kompas.com yang membeberkan cara membuat video berkualitas melalui smartphone. Menurut wanita yang memiliki senyum menawan ini, sebelum membuat video, lebih dulu ditentukan temanya dan garis besar. 

Itu yang dilakukan Kartini jika ingin merekam peristiwa dari smartphone saat liputan. Dia berbagi tips membuat video dengan smartphone. Termasuk, ketika merekam acara "The New Face of the Selfie Expert" di Hotel Sheraton, Gandaria City, Jakarta Selatan, (7/12).

Dalam kesempatan itu, Kartini juga menceritakan pengalaman perdana saat melakukan vlogging. Menurutnya, nge-vlog menggunakan smartphone tidak ribet dibanding harus membawa kamera DLSR atau Camcorder. Keunggulannya karena ponsel bisa dibawa-bawa di saku tanpa peralatan lanjutan seperti tripod dan sebagainya.

*        *       *
Mbak Ika dan Paulina mempersiapkan smartphone OPPO untuk kami pakai
SETELAH sesi vlogging, kami ditantang mas Aryo untuk memotret makanan dan merekamnya dengan video menggunakan smartphone OPPO. Setiap blogger dan OPPO Fans membentuk kelompok untuk memotret dan vlogging. Saya tergabung bersama mas Yusep Hendarsyah, Tauhid Putra, Ono Semblang, dan Tuty Syaifatuddiniah dalam grup "Pencari OPPO".

*        *       *
Hasil jepretan OPPO A39 yang bikin saya gagal fokus
INI hasil foto saya menggunakan OPPO A39 yang saya unggah di Instagram. Smartphone yang mengusung jargon "Unstoppable Selfies" ini dibekali dengan kamera berteknologi mumpuni dengan 13 Megapixel untuk belakang dan 5 MP (depan). Saya beruntung bisa menjajal OPPO A39 ini yang baru diluncurkan bulan lalu.

*        *       *
Maaf, narsis sejenak
SETELAH puas memotret makanan dan minuman, saatnya mencicipi hidangan yang tersedia di Historia Cafe. Tempat yang dipilih OPPO untuk Selfie Tour ini sangat unik. Sebab, Historia Cafe berada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, yang bangunannya masuk cagar budaya.

*        *       *
Mas Dede dan mbak Icha
PASANGAN blogger, Dede Ariyanto dan Faricathul Jannah sedang mengedit hasil foto dan rekaman videonya. Oh ya, OPPO juga kembali mengadakan Selfie Tour 2017 pada 24 Januari mendatang di Monopoli Garden House, Malang, Jawa Timur. Anda yang berdomisili di kawasan timur pulau Jawa, yuk jangan ketinggalan untuk mendaftarnya di bit.ly/OPPOSelfieTour2017.

*        *       *
Ahmad Sanusi (Managing Editor Tabloid Pulsa)
SESI pamungkas diisi Ahmad Sanusi (managing editor Tabloid Pulsa). Dia memberikan tips kepada kami tentang menulis review yang baik pada smartphone.  Bagi saya, ini menarik mengingat saya sering menulis review, baik itu ponsel atau gadget lainnya.

Sanusi juga mengakui, dalam menulis review, subyektivitas selalu menyertai. Untuk itu, dia bersama tim Pulsa sejak dulu berusaha untuk menekan faktor tersebut. Salah satunya, dengan membeli perangkat itu langsung. 

Namun, Sanusi juga menegaskan, tim Pulsa tetap lugas dalam menulis jika perangkat itu dapat pinjaman dari vendor. Menurutnya, itu jadi kunci Pulsa bisa bertahan sebagai tabloid yang mengulas ponsel sejak dekade 2000-an.

*        *       *
Kembali lagi ke Menara Jamsostek
MENJELANG pukul 17.00 WIB, acara pun selesai dengan foto bersama dari tim OPPO, narasumber, blogger, dan OPPO Fans. Sebagian dari kami kembali ke Menara Jamsostek yang jadi titik awal. Sisanya, pulang lebih dulu menggunakan busway dan Commuter Line menuju rumah masing-masing. 

Termasuk, saya yang harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan deadline. Selesai sudah petualangan kami bersama OPPO yang sangat berkesan dan penuh manfaat. Namun, sebelum pulang, mas Aryo menyatakan bakal lebih sering mengajak blogger dan OPPO Fans dalam berbagai pertemuan. 

Yang terdekat saat ini di Malang. Sementara, untuk agenda lainnya, akan saya update di artikel ini berdasarkan informasi resmi dari akun sosial media OPPO.

*        *       *
Selfie Tour OPPO menarik antusiasme netizen hingga jadi Trending Topic
SELFIE Tour ini ternyata mengundang antusiasme publik. Tidak hanya kami saja, blogger dan OPPO Fans yang mengikutinya dengan semangat. Melainkan juga netizen lainnya yang menyimak dan berkomentar di sosial media. 

Itu bisa dilihat dari berbagai hashtag di lini masa twitter. Bahkan, tagar #Jakarta1717 jadi Trending Topic secara nasional. Selain itu, ada juga hashtag #OppoSelfieTour, #OppoSelfieTour2017, #TourDeJakarta, dan #JakartaTour.

*        *       *
Artikel OPPO Sebelumnya:
- OPPO Rilis Raisa Phone, Ponsel Elegan dengan Tanda Tangan Eksklusif dari Raisa
OPPO F1 Plus Siap Abadikan Senyum Terindah untuk Indonesia
Merdunya Isyana Sarasvati saat Buka Bareng OPPO Community
Jadi Saksi Ketangguhan Ponsel OPPO saat Berkunjung ke Pabriknya di Tangerang
Tujuh Alasan OPPO R7S sebagai Teman Sehari-hari

Artikel Terkait

*        *       *
- Jakarta, 20 Januari 2017

Senin, 16 Januari 2017

Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


Nisan Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti

SIANG itu, langit ibu kota tampak mendung. Pada purnama menjelang Kartika itu, Museum Taman Prasasti hanya sedikit mendapat kunjungan. Beberapa di antaranya membawa kamera untuk mengabadikan eksotisnya cagar budaya ini. Termasuk, saya dan rekan yang memang sudah lama ingin mengunjungi Museum Taman Prasasti.

Bagi saya, museum ini sama sekali tidak asing. Karena sejak dekade 1990-an sering mengunjunginya. Maklum, lokasinya yang terletak di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, ini dekat dengan sekolah saya. Jadi, saya sering mendatanginya ketika berenang di Kolam Renang Kebon Jahe atau Perpustakaan Umum Jakarta Pusat yang berada tepat di sebelahnya.

Mengunjungi museum ini ibarat tapak tilas pada masa lalu. Sebab, terdapat makam dan nisan dari tokoh sejarah. Beberapa di antaranya seperti Rudolf K√∂hler yang merupakan tokoh militer Belanda pada era kolonialisme, Olivia Marianne (istri dari Thomas Raffles), dan Soe Hok Gie (aktivis mahasiswa dekade 1960-an).

*         *         *
"DARI pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai." Demikian, penggalan dari catatan harian Soe Hok Gie pada 29 Mei 1969 yang saya baca dua tahun lalu. Tepatnya, menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang melibatkan Prabowo Subianto dengan Joko Widodo.

Saat itu, saya dipinjami buku berjudul "Catatan Seorang Demonstran". Jujur saja, saya kurang tertarik dengan keseluruhan isinya. Meski, ada beberapa yang saya suka mengingat saya merupakan penggemar sejarah. Salah satunya, terkait hubungan Soe Hok Gie dengan Prabowo.

Bagi saya ini menarik. Kebetulan, sejak 2008 saya memang mengagumi Prabowo. Tentu, itu terlepas dari sisi kontroversialnya terkait penculikan mahasiswa menjelang reformasi. Bagaimana pun, benar atau salah belum terungkap. Pasalnya, hingga kini Prabowo tidak pernah disidang dalam Mahkamah Militer yang biasanya ditujukan untuk perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam "Catatan Seorang Demonstran", terdapat beberapa tulisan mengenai Prabowo. Jelas, ini mengundang antusiasme saya kendati saya bukan penggemar Soe Hok Gie.Kebetulan, usia mereka terpaut nyaris sembilan tahun. Soe Hok Gie kelahiran 17 Desember 1942 dan Prabowo (17 Oktober 1951).

Kendati usianya selisih cukup jauh, mereka tetap bersahabat. Layaknya, Cao Cao dengan Guo Jia atau sumpah di bawah pohon persik antara Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei. Maklum, Prabowo merupakan putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo yang kerap memberi dukungan secara finansial kegiatan mendaki gunung.

Di sisi lain, Soe Hok Gie dikenal sebagai pencintan alam yang sering mendaki gunung di Tanah Air. Itu dilakukan hingga meninggal dunia akibat menghirup gas beracun, sehari sebelum merayakan HUT ke-27 pada 16 Desember 1969 di Gunung Semeru, Jawa Timur, yang merupakan puncak tertinggi di pulau Jawa.

Kendati lebih senior, Soe Hok Gie sangat mengagumi Prabowo. Itu diungkapkannya saat menghadiri deklarasi Gerakan Pembaruan di rumah Soemitro. Ketika itu, Prabowo yang baru lulus SMA dan belum genap 17 tahun membaca jurnal Indonesia terbitan Cornell University yang membuat seluruh peserta kagum dengan wibawanya.

Soe Hok Gie mengukirnya dalam catatan harian 25 Mei 1969, "Ia cepat menangkap persoalan dengan cerdas tapi naif. Kalau ia berdiam dua-tiga tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.

Bahkan, Daud Sinjal, jurnalis senior menyebut, sepatu yang digunakan Soe Hok Gie untuk melakukan pendakian terakhirnya ke Gunung Semeru, merupakan pinjaman Prabowo. Wajar saja mengingat Soe Hok Gie dan Prabowo bersahabat erat tanpa memerdulikan usia. Apalagi, Prabowo dikenal sebagai pribadi yang supel dan loyal terhadap siapa saja.

Itu diungkapkan Jopie Lasut, aktivis 66 yang juga jurnalis senior. Sebelum berangkat ke Gunung Semeru, Soe Hok Gie memang mencari sepatu yang berkualitas. Kebetulan, ekonomi Indonesia saat itu tidak seperti sekarang. Apalagi, Soe Hok Gie bukan berasal dari keluarga mampu yang dengan mudah membeli apa yang diinginkan.

Ketika itu, tidak banyak orang yang punya sepatu lars. Salah satunya, Prabowo yang meminjamkannya untuk Soe Hok Gie. Ternyata, itu jadi pemberian terakhirnya. "Prabowo sangat sedih karena Soe Hok Gie seorang idealis tapi meninggal di usia muda," tutur Jusuf Rawis, aktivis mahasiswa 66 mengenang persahabatan keduanya.

Tiga dekade kemudian, Prabowo mengikuti jejak Soe Hok Gie untuk melakukan pendakian ke gunung tertinggi. Namun, bukan di pulau Jawa atau Indonesia, melainkan Gunung Everest yang merupakan puncak tertinggi di dunia.

Itu terjadi pada 26 April 1997 saat Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) ini menaklukkan gunung yang terletak di perbatasan Nepal-Cina tersebut. Ketika itu, Prabowo melakukannya bersama Tim Nasional Indonesia yang terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI. Untuk kali pertama, bendera merah putih berkibar di puncak tertinggi dunia yang ekspedisinya dimulai sejak 12 Maret 1997.

*         *         *
RINAI membasahi tanah di sekitar makam di Museum Taman Prasasti. Wangi harum tercium dari berbagai nisan setelah mendapat guyuran sang dewi hujan. Menjelang senja, pengunjung kian sedikit karena waktu operasi museum memang sudah berakhir. Menurut salah satu petugas, Museum Taman Prasasti buka sejak Selasa hingga Minggu pada pukul 09.00-15.00 WIB.

"Setiap hari buka kecuali Senin. Waktu tutup itu digunakan untuk membersihkan areal museum. Juga untuk melakukan perbaikan jika ada makam yang rusak dan perawatan rutin koleksi lainnya," tutur salah satu petugas yang berbincang dengan kami.

Beliau pun menunjukkan berbagai koleksi lainnya dari Museum Taman Prasasti. Termasuk, yang menarik perhatian kami setelah nisan Soe Hok Gie, "Itu, peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta. Kalau makamnya di Blitar, ini (peti jenazah) asli yang mengantar perjalanan Bung Karno menuju peristirahatn terakhirnya."

Ya, sama seperti nisan Soe Hok Gie yang kosong. Sebab, jenazahnya sudah dikremasikan dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango, Jawa Barat. Namun, namanya tetap harum hingga kini.

Nisan Soe Hok Gie di antara makam lainnya di Museum Taman Prasasti
*         *         *

Referensi: 
- Catatan Seorang Demonstran (koleksi rekan)
- Majalah Tempo Edisi Khusus Pemilihan Presiden 2014, 6 Juli 2014 (Koleksi Pribadi)
- Majalah Tempo Edisi Khusus Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi, 10 Oktober 2016 (Koleksi Pribadi)
- http://kopassus.mil.id/profil-satuan/
- http://www.antarasumbar.com/berita/101435/prabowo-pada-usia-17-tahun-dirikan-lsm.html
- http://www.rmol.co/read/2014/06/07/158491/Soe-Hok-Gie-Pun-Memuji-Prabowo-sebagai-Orang-Cerdas-
- https://travel.detik.com/read/2015/10/09/101715/3040266/1519/nisan-dua-pribumi-di-museum-taman-prasasti-siapa-mereka
- http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Museum_Taman_Prasasti

*         *         *
Artikel Terkait:
Cindy Adams dan Misteri Dua Paragraf Otobiografi Bung Karno

*         *         *
- Jakarta, 16 Januari 2016

Jumat, 13 Januari 2017

Yuk, Tandai Provinsi di Indonesia yang Pernah Kita Tinggali dan Singgahi (1)


Peta Suku Bangsa di Indonesia yang Ada di Museum Nasional


"RUL, gw udah pernah ke tujuh provinsi di Indonesia. Lo berapa?

"Provinsi? Buat apaan tuh?"

"Ga, iseng-iseng aja. Di FB rame status 'Provinsi yang pernah Anda tinggal dan kunjungi'."

"Jarang buka FB. He he he."

"Ha ha ha. Parah lho. Nih SS-nya."

Demikian percakapan saya dengan rekan di aplikasi whatsapp, suatu sore pada awal bulan ini. Saya memang setiap hari buka internet, tapi jarang aktif di sosial media. Paling banter malam atau dini hari WIB ketika pulang kerja. Termasuk, mengisi artikel di blog ini. Kalau siang apalagi sore, jarang-jarang, kecuali jika dapat notifikasi dari rekan.

Malam harinya, ketika sudah senggang di depan laptop, saya pun iseng-iseng membuka Facebook. Saat itu, berseliweran status dari beberapa rekan tentang 34 provinsi di Indonesia. Bunyinya, seperti ini, "Copas. Berikut ini 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jika Anda pernah tinggal, tandai dengan ❤ Jika Anda pernah berkunjung ke salah satu kotanya, tandai dengan ☺. Ini daftarku, mana daftarmu?"

Dalam hati saya, ini menarik. Langsung saja saya mengingat provinsi mana yang pernah saya tinggali dan singgahi termasuk Jakarta. Jika dihitung sejak kecil hingga kini saya sudah tinggal di enam provinsi berbeda dan 13 kali singgah.

Rinciannya, sebagai berikut:

Pernah tinggal (6): Sumatera Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Selatan

Singgah (13)Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bali, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara

Sementara, untuk postingan yang berselieweran di Facebook sebagai berikut:

Berikut ini 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jika Anda pernah tinggal, tandai dengan ❤
Jika Anda pernah berkunjung ke salah satu kotanya, tandai dengan ☺
Ini daftarku, mana daftarmu?

1. D.I. Aceh
2. Sumatera Utara ☺
3. Sumatera Barat ❤
4. Riau ☺
5. Kepulauan Riau ❤
6. Jambi  ☺
7. Sumatera Selatan ☺
8. Bangka Belitung
9. Bengkulu ☺
10. Lampung ☺
11. DKI Jakarta ❤
12. Jawa Barat ❤
13. Bali ☺
14. Jawa Tengah ☺
15. D.I.  Yogyakarta ☺
16. Jawa Timur ☺
17. Banten ❤
18. Nusa Tenggara Barat
19. Nusa Tenggara Timur
20. Kalimantan Barat
21. Kalimantan Tengah
22. Kalimantan Selatan ❤
23. Kalimantan Timur ☺
24. Kalimantan Utara
25. Sulawesi Utara ☺
26. Sulawesi Barat
27. Sulawesi Tengah
28. Sulawesi Tenggara
29. Sulawesi Selatan ☺
30. Gorontalo
31. Maluku
32. Maluku Utara
33. Papua Barat
34. Papua

*        *        *
YUPZ, saya lahir, kecil, dan besar di ibu kota. Meski, beberapa kali menetap di luar Jakarta. Indikatornya lebih dari sebulan. Sebab, kalau hanya sehari, itu sekadar singgah saja alias hanya sementara.

Seperti, Serpong dan Tangerang di provinsi Banten, Bandung, dan Cirebon, Indramayu (Jawa Barat), Batam (Kepulaau Riau -ini rancu, sebab waktu itu masih Riau, dan belum ada pemekaran-), Banjarmasin dan Kintap (Kalimantan Selatan), Padang, Painan, Dharmasraya (Sumatera Barat).

Jadi, kalau ditotal, saya sudah pernah menjejakkan kaki di 20 dari 34 provinsi di Indonesia dan sekali ke negara tetangga. Lumayan banyak juga, mencapai 58 persen. Terutama setelah diingat lebih lanjut dan menelusuri dokumen keluarga serta berbagai foto sejak kecil.

Lampung merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang pernah saya singgahi. Itu terjadi 20 tahun silam bersama keluarga saat mengunjungi kerabat yang lokasinya dekat dengan penangkaran gajah. Lebih dari satu dekade kemudian, saya kembali menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Tapi, bukan Lampung, melainkan lebih ke utaranya dalam rangka tugas di pertambangan. Yaitu, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Ketika sudah bekerja di media, saya jadi lebih sering keliling nusantara. Diawali lima tahun silam ketika meliput ke Pekalongan (Jawa Tengah), hingga Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, saya kerap menyambangi berbagai stadion dan arena olahraga yang ada di Tanah Air, khususnya pulau Jawa.

Di sisi lain, aktivitas sebagai blogger sejak 2009 membuat saya juga kerap mengunjungi berbagai provinsi di Indonesia. Baik itu berkat sponsor hingga ngebolang dengan dana pribadi. Mulai dari Kepulauan Seribu yang masuk administrasi DKI Jakarta bersama VIVA Log, Sulawesi Utara (Indosat Ooredoo), Yogyakarta, Bali (Asus Indonesia), Jawa Timur, Jawa Barat (Astra International).

Dengan mengunjungi berbagai provinsi di Indonesia itu tidak hanya menikmati keindahan alamnya saja. Melainkan turut mengenal lebih jauh tentang budaya setempat.

Yuk, tandai Provinsi di Indonesia yang pernah rekan blogger tinggal dan singgah!


*        *        *
Sebagian daftar yang ada di Whatsapp

*        *        *
Saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

*        *        *
Saya di Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat)

*        *        *
Saya di Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Utara) bersama Indosat Ooredoo

*        *        *
Saya di Pulau Bidadari (DKI Jakarta) bersama VIVA Log

*        *        *
Saya di Nusa Dua (Bali) bersama ASUS Indonesia

*        *        *
Saya di Alun-alun kota Malang (Jawa Timur)

*        *        *
Saya di depan patung Merlion (Singapura)

*        *        *

Artikel Ngebolang Sebelumnya:
- Pasar Santa
- Central Park
Sirkuit RMS Land Rappang
- Garuda Indonesia
- Candra Naya
- 7 Taman di Jakarta
- Pulau Bidadari
- 7 Tempat Nongkrong
- Museum Nasional
- Masjid Hidayatullah
- Alun-alun Bandung
- Taman Ismail Marzuki
Tugu Kunstkring Paleis
- Pasar Ah Poong
- Museum Basoeki Abdullah
- Taman Ayodia
- Curug Nangka
- Curug Nangka (2)
- Kebun Binatang Ragunan
- Taman Nasional Bunaken
- Pantai Jimbaran
- 4B Manado
- Danau Linow
- 7 Tempat Nobar
- Museum Kebangkitan Nasional
- Ngebolang ke 3 Stasiun
CitraRaya Water World
- Pantai Ancol
- Patung Soekarno-Hatta
- Rafting Sungai Citarik
- Sensasi Nusa Dua
- Taman Jomblo
- Candi Prambanan
- Museum Astra
- Candi Jago
- Kota Malang
- Saung Sarongge
- Coban Pelangi

Laman Khusus Wisata
- Jelajah Manado
- Keliling Yogyakarta
- Sensasi Bali
- Ngebolang ke Malang
*        *        *
- Jakarta, 13 Januari 2017

Sabtu, 07 Januari 2017

Konten Kreatif Jadi Kunci Utama Ngeblog




Sejak 2013, ASUS A43E selalu menemani saya di mana pun dan kapan pun

BAGI saya, ngeblog itu salah satu kegiatan yang mengasyikkan, menyenangkan, dan penuh tantangan. Itu karena dengan ngeblog, saya bisa menambah wawasan, pertemanan, koneksi, hingga materi. Materi? Yupz. Tentu, materi itu tidak melulu terkait dengan uang. Melainkan, juga kepuasan lahir dan batin. Baik itu saat jadi juara lomba atau mendapat undangan ke luar kota sejak menggeluti dunia blog pada 2009.

Termasuk, September lalu ketika jadi bagian dari 551 peserta yang memecahkan Rekor MURI bersama ASUS Indonesia dalam kategori "Permainan dengan Peserta Terbanyak yang Dilakukan Perusahaan IT". Maklum, ASUS merupakan Top 2 produsen notebook konsumen dunia dan penghasil motherboard terbaik di dunia. Dalam berbagai perangkat laptop dan PC dekstop, ASUS sudah dibenamkan Intel Core i series dengan tiga varian umum seperti Intel Core i3, Intel Core i5, dan Intel Core i7 Procesor.

Menjelang pergantian tahun, saya juga mendapat kejutan sebagai pemenang lomba blog yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). Namun, seperti kata pepatah, kota Roma tidak dibangun dalam semalam.  Alias, untuk bisa menjuarai lomba blog atau jalan-jalan keliling Indonesia, tentu saya harus menghasilkan konten kreatif di blog. Tidak hanya tulisan saja, melainkan juga disertai foto, video, infografis, dan adakalanya menyisipkan meme buatan sendiri.

Ya, saya percaya, dengan pernyataan penulis terkemuka, Bob Mayer, yang mengatakan, "Content is King". Dalam arti, agar artikel yang saya buat di blog bisa diterima pembaca, saya harus membuat konten yang kreatif, menarik, dan unik. Nah, untuk menghasilkan konten kreatif, tentu harus didukung dengan perangkat yang mumpuni. Saya beruntung, sejak 2013 memiliki laptop ASUS A43E yang merupakan pemberian dari kantor. Selain untuk mengirim berita seperti hasil pertandingan di lapangan atau arena, wawancara atlet, hingga doorstop narasumber, notebook ini jadi sahabat saya yang menemani aktivitas ngeblog.

Maklum, sebagai orang lapangan, nyaris setiap hari saya membawa laptop bersama smartphone dan kamera. Sejauh ini, ASUS A43E yang saya miliki terbilang bandel alias tahan banting. Bisa dipahami mengingat notebook ini sudah dibekali Intel Core i3 2310M Processor. Apalagi, ASUS merupakan penghasil motherboard terbaik di dunia. Jadi, berbagai produknya merupakan jaminan mutu bagi pengguna.

Tak heran jika ASUS AE43E jadi saksi bisu berbagai kegiatan saya di lapangan dalam rangka tugas kantor dan juga ngeblog. Dipakai di bawah terik matahari, oke. Digunakan di puncak gunung pun tetap oke. Itu berkat teknologi ASUS IceCool yang membuat area palm rest tetap dingin dengan memposisikan komponen penghasil panas jauh dari tangan saya.

Di sisi lain, seiring berkembangnya zaman pun berkolerasi dengan peningkatan pada teknologi. Termasuk, tentang laptop yang saya miliki. Kebetulan, bertepatan dengan HUT kantor saya ke-12 yang berlangsung kemarin (6/1), ada rencana untuk mengganti perangkat yang dimiliki saya dan rekan-rekan jurnalis lainnya.

Saya pribadi sudah mencantumkan seri ASUSPRO P2430U dalam daftar pembaruan laptop. Itu berarti, saya harus merelakan ASUS A43E yang memang inventaris untuk dikembalikan ke kantor dan menerima penggantinya yang baru.

Alasan saya memilih ASUSPRO P2430U karena laptop ini serba guna dan tingkatannya di atas ASUS A43E. Ya, wajar jika saya berharap mendapat notebook yang lebih baik dibanding sebelumnya. Mengenai apakah kantor akan memberikan seri ASUSPRO P2430U atau seri lainnya, tentu itu di luar kuasa saya.

Yang pasti, secara spesifik harus diakui, seri ASUSPRO P2430U lebih baik dari ASUS A43E. Fiturnya memang ditujukan untuk kalangan profesional yang memiliki mobilitas tinggi tapi tetap memiliki desain yang stylish dan elegan.  Itu mirip dengan saya yang hampir setiap hari pergi dari satu stadion ke arena olahraga lainnya, mengejar narasumber di bandara dan sebagainya, tapi tetap peduli pada penampilan. Meski di jalan diterpa panas dan hujan, saya selalu mengusahakan untuk tampil rapi setiap bertemu atlet atau pelaku olahraga.

Berdasarkan referensi dari www.asus.com, ASUSPRO P2430U ini disematkan prosesor Intel Core generasi keenam. Sementara, ASUS A43E yang saya pakai saat ini menggunakan prosesor Intel Core generasi kedua. Dari segi prosesor, sudah terlihat perbedaannya.

Meski, bagaimanapun, ASUS A43E tidak akan pernah saya lupakan karena berkat laptop yang sudah dibenamkan Intel HD Graphics 3000 ini saya bisa berkenalan dengan produk ASUS lainnya. Termasuk, saat ini yang saya pakai, smartphone ASUS Zenfone 3 (ZE520KL).

Nah, prosesor Intel Core generasi keenam ini membuat kinerja ASUSPRO P2430U lebih bertenaga. Apalagi, notebook ini sudah dibenamkan grafis Nvidia GeForce seri 900 yang dibuat berbasis arsitektur Maxwell untuk performa grafis yang mumpuni. Untuk memori utama, DDR4 sebesar 4GB yang kapasitasnya bisa ditambah. ASUSPRO P2430U memiliki dua slot memori yang bisa menampung RAM hingga 16GB. Dengan kemampuan seperti itu, tak heran jika laptop ini sangat mendukung produktivitas saya untuk multitasking.

Selain dalamannya yang "wah", ASUSPRO P2430U ini juga memiliki tampilan yang memesona. Itu berkat desainnya yang tipis nan elegan dengan tekstur bergaris berbahan alumunium. Bahkan, keyboard-nya sudah dilengkapi one-piece Chiclet Keyboard yang penempatan tombolnya lebar untuk memudahkan saat mengetik.

Satu lagi yang membuat saya tersengsem dengan ASUSPRO P2430U karena menyediakan empat buah port USB. Yupz, empat buah port USB! Jumlah tersebut lebih banyak dari mayoritas laptop yang beredar di Tanah Air. Rinciannya, tiga port untuk USB 3.0 yang menawarkan kecepatan transfer data 10 kali lipat dari USB 2.0. Bahkan, satu port USB 3.0 mendukung USB Charger+ yang bakal memudahkan saya melakukan charging pada gadget.

Bagaimana dengan keamanannya? Nah, ini yang penting. Ternyata, ASUSPRO P2430U sudah dilengkapi berbagai fitur keamanan pada hardware dan sistemnya. Sistem keamanan itu bisa diatur lewat aplikai ASUS Business Manager dengan menyetel fitur Security.

Ini sangat penting bagi saya sebagai orang lapangan yang kerap menggunakan laptop bersama-sama dengan sesama rekan jurnalis lainnya. Sistem keamanan pada ASUSPRO P2430U bisa mengunci fungsi USB dengan password. Alhasil, orang lain tidak bisa mentransfer atau mengambil data pribadi saya dari ASUSPRO P2430U tanpa seizin saya. Termasuk, dengan Harddisk-nya yang dapat dikunci menggunakan password dengan mengaktifkan fitur HDD user pasword protection.

Ini kisah saya bersama produk ASUS. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Yuk, sharing di kolom komentar di bawah ini.***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Asus yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Asus Indonesia.


ASUS A43E jadi saksi suka dan duka dalam keseharian saya
*       *       *
Seri ASUSPRO P2430U yang dengan fitur melimpah
*       *       *
 ASUSPRO P2430U memiliki desain yang elegan dan memesona
*       *       *
ASUS - Intel

*       *       *



Artikel Terkait:
- Review Zenfone 3 (ZE520KL) Bukan sekadar Ponsel
Asus Luncurkan ZenPad 8.0, Tablet Multimedia Premium
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015

Artikel Sebelumnya:
Asus Zenvolution 2016
Asus The Incredible Race: Pengalaman Tak Terlupakan
Asus Incredible Race Pecahkan Rekor MURI
Ini Parade Produk Anyar Asus pada Zenvolution 2016
Zenvolution 2016: Asus Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September

*       *       *
Jakarta, 7 Januari 2017

Senin, 02 Januari 2017

(Esai Foto) Air Terjun Coban Pelangi


Air Terjun Coban Pelangi

ANTARA Air Terjun Coban Pelangi atau River Tubing Sungai Amprong? Demikian opsional yang kami pilih jelang ngebolang ke Bromo pada awal November lalu. Target utama jelas, merasakan keindahan Bromo pada dini hari WIB yang dilanjutkan ke kawahnya.

Selain itu, kami juga sempat berkeliling berbagai destinasi lainnya. Mulai dari Candi Jago, Bukit Teletubies, Pasir Berbisik, dan sebagainya. Nah, di antara dua pilihan itu, sebenarnya nyaris sama. Alias, sudah pernah saya lakukan pada 2016 lalu.

Tepatnya, saat berkelana ke Curug Nangka, Bogor, nyaris setahun yang lalu (17 Januari 2016) dan rafting di Sungai Citarik, Sukabumi (10/9). Oh ya, curug itu sinonim dalam bahasa sunda yang berarti air terjun. Kebetulan, saya sudah sering ngebolang ke berbagai air terjun di Tanah Air. Mulai dari Jabodetabek, Bandung, Tasikmalaya, hingga ke Sumatera Barat dan Kalimantan.

Singkatnya, Air Terjun Coban Pelangi masuk dalam daftar saya saat ngebolang ke kawasan Bromo dan Malang pada 26 November lalu.

*        *        *
Perjalanan dari desa Gubugklakah
SETELAH menempuh perjalanan nyaris 17 jam dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menuju Stasiun Malang, akhirnya Kereta Api Matarmaja, yang kami tumpangi tiba. Usai menikmati santapan khas dari Pecel Pincuk Madiun, Jalan Raya Bokor, yang dilanjutkan ke Candi Jago, kami beristirahat sejenak di desa Gubug Klakah untuk mandi dan berkemas.

*        *        *
Gerbang masuk Air Terjun Coban Pelangi
DARI Gubugklakah ke Air Terjun Coban Pelangi hanya memakan waktu kurang dari setengah jam. Kami tiba tepat siang hari. Namun, saat itu matahari tampak malu-malu di hadapan dewi hujan yang siap mencurahkan airnya dari langit. Suasana yang mendung jadi bumbu yang indah sepanjang perjalanan yang berbelok-belok ini.

*        *        *
Peta dan legenda Air Terjun Coban Pelangi
AIR Terjun Coban Pelangi terletak di desa Gubugklakah, kecamatan Poncokusumo, kabupaten Malang, Jawa Timur. Menurut beberapa orang yang sering berkunjung, memang benar ada pelangi di kaki air terjun. Namun, tergantung situasi dan kondisinya. Jika cerah, biasanya berkisar pukul 10-13 WIB. Yupz, frasa pengandaian "jika" ini yang membuat saya penasaran.

*        *        *
Salah satu pengunjung wanita sedang salat Zuhur 
SELAIN menikmati air terjun, pengunjung juga bisa merasakan sensasi flying fox, berkemah, dan naik kuda. Oh ya, warung, toilet, dan mushala tersedia di beberapa titik. Ini membuat kami tidak khawatir jika hujan bisa untuk berteduh sementara.

*        *        *
Salah satu pemandangan lain menuju air terjun
MENURUT aplikasi Global Positioning System (GPS) di smartphone saya, dari gerbang menuju lokasi berjarak sekitar 1,2 km. Ya, tidak begitu jauh. Apalagi, meski berkelok, medannya cukup mudah dijangkau. Berbeda dibanding waktu saya mengunjungi Curug Nangka yang sangat terjal. Apalagi, jika dibandingkan dengan Air Terjun Timbulun dan Bayang Sani di Sumatera Barat, yang harus ekstra hati-hati karena bersebelahan dengan jurang.

*        *        *
Bunga yang indah...
SEBAGAI pribadi yang hobi bertualang sejak kecil, saya sangat menikmati perjalanan di samping tujuan itu sendiri. Tak heran jika dalam setiap artikel wisata di blog ini, perjalanan lebih mendominasi dibanding tempat wisata tersebut. Mungkin, analoginya mirip dengan apa yang disampaikan Rangga kepada Cinta dalam AADC2. Itu mengapa saya lebih memilih naik kereta api yang nyaris seharia-semalam ketimbang pesawat yang kurang dua jam dari Soekarno-Hatta.

*        *        *
Jembatan Cinta yang melintasi Kali Amprong
HAMPIR di setiap daerah memiliki legenda atau mitos tersendiri. Termasuk, tentang Jembatan Cinta yang menghubungi Kali Amprong menuju Air Terjun Coban Pelangi. Konon katanya, istilah jembatan ini berasal karena hanya bisa dilewati dua orang. Alhasil, jika sepasang kekasih melewatinya akan berpegangan tangan. Ya, mirip dengan Jembatan Cinta di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, dan Jembatan Cinta di Pantai Carocok, Painan, Sumatera Barat. Saya pribadi sih percaya dengan berbagai mitos tersebut. Namun, sama sekali tidak meyakininya. 

*        *        *
Air Terjun Coban Pelangi
YUPZ, setelah mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman, bertualang... Oo... Maaf, itu mah judul lagu Ninja Hattori :) 

(Replay) YUPZ, setelah menyusuri dengan jalan kaki, akhirnya kami tiba di Air Terjun Coban Pelangi. Dari jarak 10-15 meter, gemercik air seperti menyapa dengan lembut. Berkali-kali, saya harus menyeka lensa kamera dan smartphone ketika sedang memotret atau merekam video akibat buliran air yang menetes. Namun, setelah menunggu satu jam lebih, ternyata pelangi belum juga muncul. Ternyata, kami terlambat karena saat itu sudah sore yang disertai dengan rinai sang dewi hujan. Yang ada, hanya pelangi di matamu.

HANYA, hingga beberapa sabtu berikutnya, gagal mengungkapkan.
*        *        *
Artikel Sebelumnya:
(Prolog)
Candi Jago
- Bromo...
- Kawah Bromo
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
(Epilog) Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang

*        *        * 
- Jakarta, 2 Januari 2017