TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain...

Jelajah Manado

Jelajah Manado
Indosat Ooredoo - Media Gathering 2016 (2-4 Februari)

Sabtu, 28 Mei 2016

Rindu Juara di BCA Indonesia Open 2016


Dari kiri ke kanan: Inge, Fran, Budiharto, dan Yuni
SETELAH kegagalan di Piala Uber dan "nyaris" di Piala Thomas, saatnya berjaya di BCA Indonesia Open (BIO) 2016! Demikian, harapan saya dan rakyat  di seluruh Tanah Air menjelang berlangsungnya seri kelima dari rangkaian turnamen bulu tangkis paling elite versi Federasi Bulu Tangkis Internasional (BWF).

Ya, dalam tingkatan BWF, BCA Indonesia Open masuk dalam kategori Super Series Premier. Alias, turnamen paling atas di level II setelah Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Thomas-Uber, dan Piala Sudirman. Bahkan, BCA Indonesia Open memiliki hadiah terbesar di antara turnamen lainnya dengan total 900 ribu dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 12,2 Miliar).

Wajar jika saya dan segenap rakyat Indonesia, berharap ada putra-putri bangsa yang mampu menjuarainya. Terutama setelah Simon Santoso merebut gelar tunggal putra pada 2012. Setelah itu, kita hanya bisa jadi tuan rumah yang baik tanpa mampu menghasilkan pemain terbaik. Itu mengapa saya sangat berharap, kita bisa meraih keduanya. BCA Indonesia Open 2016 sebagai turnamen terbaik tahun ini dan lagu Indonesia Raya berkumandang.

Ya, kami kangen dengan lambaian tangan pemain saat memegang piala. Kami tak sabar menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika ada wakil terbaik negeri ini berdiri di podium utama. Kalau mau jujur, kami itu sungguh... Rindu juara!

*        *        *
SORE itu, Jumat (27/5) jalanan ibu kota tampak ramai. Dari kawasan Senayan, saya menuju Hong Kong Cafe di Sarinah, Jakarta Pusat. Saat itu sudah hadir beberapa rekan blogger yang mayoritas pencinta olahraga, khususnya bulu tangkis. Seperti, Lidya Fitrian, Yos Mhardikai, Salman Faris, Ade Andrie, dan lainnya.

Keberadaan kami untuk berdiskusi menyambut BCA Indonesia Open 2016 yang berlangsung sepekan, mulai Senin (30/5) hingga Minggu (5/6) di Istora Senayan, Jakarta. Dalam acara bertajuk "Blogger Gathering: Menjadi yang Terbaik" itu turut menampilkan narasumber yang sudah tidak asing lagi. Inge Setiawati yang menjabat sebagai Sekretaris Bank Central Asia (BCA), Yuni Kartika (Kabid Humas PBSI), Achmad Budiharto (Wakil Sekjen PP PBSI), dan Fran Kurniawan Teng (Atlet Djarum).

"Ini tantangan bagi PBSI karena dalam tiga tahun terakhir, event ini (BCA Indonesia Open) jadi yang terbaik di dunia untuk Super Series Premier," Budiharto, mengungkapkan. "BCA Indonesia Open 2016 ini merupakan terobosan karena negara lainnya belum membuat event seperti ini. Yaitu, Sportainment atau Sport Entertainment yang mengedukasi masyarakat. Bahwa, bulu tangkis bukan sekadar olahraga saja, tapi juga hiburan yang bisa dinikmati tidak hanya pencinta olahraganya, melainkan juga keluarganya."

Apa yang dikatakan Budiharto beralasan. Sebab, dalam dua edisi terakhir BCA Indonesia Open (2014 dan 2015), memadukan olahraga dan hiburan. Di area pertandingan, ada hiburan seperti musik, games berhadiah, dan berbagai stan makanan dan minuman yang melimpah.

Pernyataan sama diungkapkan Yuni saat menjawab berbagai pertanyaan blogger. Wanita kelahiran 16 Juni 1973 itu menegaskan, BCA Indonesia Open tahun ini sangat penting. Sebab, jadi ajang untuk mendulang poin bagi para pemain sebelum berlaga di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro pada 11-20 Agustus. Maklum, BCA Indonesia Open jadi tiga rangkaian puncak setelah Thomas-Uber (15-22 Mei) dan sebelum Australia Open (7-12 Juni).

"Ini turnamen yang istimewa bagi setiap pemain. Khususnya, pemain Indonesia. Kami berharap, tunggal putra dan putri bisa bikin kejutan di Istora," ujar Yuni, optimistis.

*        *        *
YA, bagi pemain asing, berlaga di Indonesia, khususnya Istora, memang memiliki kesan tersendiri. Bahkan, mayoritas dari mereka menganggap Istora sudah seperti rumah sendiri. Itu karena sepanjang pengalaman saya berada di Istora, suporter Indonesia dikenal sebagai pendukung yang sportif.

Siapa pun yang bermain baik, pasi akan didukung dan mendapat aplaus. Tak jarang, standing ovation bergema hingga ke luar gedung ketika antarpemain saling adu pukulan. Fakta itu yang membuat Fran mengaku sangat rindu dengan teriakan suporter.

Pria yang mengawali karier internasionalnya dengan menjuarai Spanyol Terbuka 2008 ini mengungkapkan, "Kecintaan suporter kita sangat luar biasa. Banyak orang datang dari luar kota untuk berduyun-duyun menyaksikan pertandingan. Bahkan, pemain Spanyol mengatakan kepada saya, bahwa bermain di Indonesia seperti di rumah sendiri."

Sementara, Inge membeberkan alasan pihaknya kembali jadi sponsor utama. Ini kali ketiga PT. Bank Central Asia (BCA) tbk. jadi sponsor utama turnamen elite dalam kalender BWF ini yang bersinergi dengan Djarum Foundation sebagai sponsor pendamping.

Menurut wanita 48 tahun ini, jadi sponsor utama Indonesia Terbuka itu merupakan bagian dari komitmen BCA untuk memajukan Indonesia dalam segala bidang, salah satunya melalui olahraga. Inge berharap, pada 5 Juni mendatang (final), ada wakil putra-putri bangsa ini yang juara.

"BCA melihat kegiatan ini sangat positif sekali. Terutama di bidang olahraga, sebab bulutangkis merupakan kabanggaan Indonesia. Memiliki prestasi yang sangat bagus di dunia internasional. Kegiatan ini di bawah payung CSR-nya BCA. Nah, kami memang melihat, dari penyelenggaraan sebelumnya (2014 dan 2015) sangat bagus untuk terus kami support. Untuk tahun ini hadiahnya, lebih tinggi dari sebelumnya," tutur Inge seperti yang saya rekam dan unggah videonya di laman youtube.com.

*        *        *

SEBAGAI pencinta olahraga, saya sependapat dengan Inge yang menginginkan adanya putra-putri bangsa yang menjuarai BCA Indonesia Open 2016. Sebab, saat ini, persaingannya sudah merata dan tidak hanya didominasi Tiongkok saja seperti yang terlihat pada Thomas Cup lalu.

Jadi, kesempatan pemain kita untuk jadi jawara di rumah sendiri masih sangat besar. Sebagai bentuk dukungan, terhadap perjuangan mereka, tentu saya berusaha untuk hadir di Istora. Kebetulan, tiketnya sangat terjangkau bagi semua kalangan seperti yang tertera di situs www.djarumbadminton.com yang juga menyediakan berbagai informasi seperti live score, live streaming, foto di dalam dan luar arena, video highlight, hingga kuis dengan hadiah menarik.

Harga tiketnya, mulai dari Rp 15 ribu untuk Kelas II hingga Rp 900 ribu (On Court Seating alias di pinggir lapangan). Atau, bisa membeli tiket terusan demi memberikan dukungan total kepada para pemain selama sepekan penuh sejak pembukaan hingga final. Berbagai tiket itu bisa langsung dibeli di Istora dan www.blibli.com.

Oh ya, sebagai sponsor utama, tentu BCA akan memberikan kemudahan bagi penonton. Jika Anda menggunakan kartu BCA baik Debit, KlikPay, dan Kartu Kredit, sebelum 31 Mei, bisa dapat kesempatan istimewa. Yaitu, untuk mengikuti Meet and Greet bersama atlet nasional bulutangkis seperti Christian Hadinata, Haryanto Arbi, Kevin Sanjaya, Gloria Ammanuella, dan Liliyana Natsir pada Sabtu, 4 Juni!

Yuk, dukung putra-putri bangsa ini bertanding pada BCA Indonesia Open 2016. Istora itu "kandang" kita, mari bung rebut kembali!

Informasi terkait:
Jadwal Pertandingan: www.djarumbadminton.com
Tiket: www.blibli.comTwitter: @DjarumBadminton
Fanpage Facebook: Djarum Badminton
Youtube: Djarum Badminton
Instagram: @DjarumBadminton
Hastag#EaaforIndonesia, #rindujuara, #1istora, #BIOSSP2016, #IndonesiaSSP



Diskusi santai menyambut BCA Indonesia Open 2016

*        *        *
Tanya jawab dengan rekan blogger

*        *        *
Foto bersama rekan blogger dengan perwakilan BCA, PBSI, dan atlet

*        *        * *        *        *
*        *        * *        *        *
*        *        * *        *        *

*        *        * *        *        *

*        *        * *        *        *

*        *        * *        *        *

*        *        * *        *        *

Artikel terkait:


*        *        *
- Jakarta, 27 Mei 2016

Rabu, 25 Mei 2016

Pesona Air Terjun di Madiun

Menikmati Tiga Air Terjun di Madiun yang Memesona
MADIUN dikenal sebagai "surga" bagi pencinta kuliner. Siapa yang tidak pernah mencicipi pecel Madiun yang kesohor itu? Juga brem, makanan kecil yang terasa dingin saat meleleh di mulut. Itu baru dua contoh saja, santapan berat dan cemilan ringan. Masih banyak, aneka makanan lainnya dari kabupaten yang terletak di Jawa Timur ini. Bahkan, kalau dibahas, bisa puluhan artikel, saking banyaknya.

Namun, Madiun, bukan hanya kuliner saja. Dengan perkembangan pembangunan yang meningkat, baik kabupaten maupun kota, membuat kawasan itu jadi sentra perdagangan dan industri di timur Jawa. Itu mengapa, kota Madiun memiliki slogan sebagai Kota Gadis. Bukan hanya karena banyak wanita cantiknya saja, melainkan terkait pesatnya perdagangan dan industri yang jadi akronim tersebut.

Berbicara mengenai Madiun, tidak lepas dari obyek wisata yang sangat menarik untuk dijelajahi. Mulai dari wisata kuliner, wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, hingga wisata Iptek karena terdapat PT Inka yang merupakan satu-satunya industri kereta api di Indonesia.

Perkembangan pariwisata ini juga diikuti dengan pesatnya akomodasi penginapan seperti hotel dan wisma. Di kota ini, kita akan menemui banyak hotel kelas melati atau wisma dengan harga yang ringan di kantong.

Untuk pemesanan, biasanya saya cari di Traveloka yang merupakan situs pencarian tiket pesawat dan hotel terkemuka di Asia Tenggara. Di website tersebut, terdapat banyak hotel kelas melati atau wisma dengan harga yang ringan di kantong. Cocok untuk rekreasi, traveling, dan backpaper.

Mengenai wisata, di Madiun, banyak air terjun yang sangat memesona. Tiga di antaranya yang jadi rekomendasi untuk kita kunjungi seperti:

*        *        *

Air Terjun  Kedung Malem (Sumber foto: mazmuzie.blogspot.com)

1. Air Terjun Kedung Malem
Air terjun ini memiliki banyak sebutan, mulai dari Air Terjun Seweru karena letaknya di dusun Seweru, kecamatan Kare, kabupaten Madiun. Air terjun yang berada di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut (Mdpl) ini sangat dikenal masyarakat Madiun karena hanya berjarak 30 km dari alun-alun atau pusat kota.

Untuk mencapai air terjun ini hanya bisa menggunakan sepeda motor karena jalan yang tidak beraspal mulus dengan tanjakan curam. Namun, minimnya fasilitas ini justru jadi tantangan bagi para pengunjung karena akan terbayar lunas jika sudah mendatanginya.

Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dari pintu gerbaang dan tempar parkir kendaraan yang dikelola penduduk setempat dengan medan yang menurun, berliku, licin, dan sempit. Jadi, kita harus berpegangan pada dinding bukit.

Selanjutnya, dilanjutkan menyusuri sungai sepanjang 300 meter dengan dengan batu-batu besar yang berada di antara aliran sungai. Setelah melewati tebing, di hadapan kita berdiri gagah air terjun dengan dua aliran yang saling berhadapan.

Rimbunnya pepohonan yang mengelilingi air terjun ini membuat suasana di sekitar air terjun jadi sejuk dan segar. Seolah, keadaan masih pagi hari meski kita tiba pada siang hari yang sebenarnya terik. Keunikan bentuk Air Terjun Kedung Malem ada pada ketinggian 30 meter di tempat yang masih terpencil menjadikan obyek wisata ini wajib didatangi saat berada di Madiun.

*        *        *
Air Terjun Banyulawe (Sumber foto: andriantw1964.wordpress.com)
2. Air Terjun Banyulawe

Air terjun ini berada di desa Kepel, kecamatan Kare, Madiun, di pegunungan Wilis yang masih alami. Untuk mencapai lokasi, bisa menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki dengan menyusuri pemukiman penduduk yang berjarak 5 km. Air terjun ini memiliki ketinggian 30 meter yang berada di lahan Perhutani.

Keasrian dan sulitnya medan yang harus ditempuh menjadikan air terjun ini belum banyak dikunjungi. Banyu Lawe dalam bahasa setempat berarti air yang melambai karena bentuk air terjun ini seperti melambai dari kejauhan.

Keberadaannya yang dikelilingi hutan dan jauh dari pemukiman dengan akses jalan berbatu menjadikan lokasi ini sebagai tantangan bagi komunitas motor trail di kota Madiun dan sekitarnya. Apalagi, debit air yang deras dan suasana asri di sekelilingnya menjadikan Air Terjun Banyu Lawe jadi tempat wisata paling cantik di kabupaten Madiun.

*        *        *
Air Terjun Krecekan Denu (Sumber foto: madiunwisata.blogspot.com)
3. Air Terjun Krecekan Denu

Air Terjun Krecekan Denu berada di desa Kepel, kecamatan Grape, kabupaten Madiun. Ketinggiannya kurang lebih 15-20 meter dan debit airnya sangat bergantung pada curah hujan. Lokasi tempat wisata ini tidak jauh dari Wana Wisata Grape, kurang lebih 15 menit ke arah timur. Sehingga, setelah beriwasata di Grape, kita dapat sekalian mengunjungi Krecekan Denu ini.

Mengenai akses jalan menuju air terjun ini memang tergolong sulit karena masih baru dibuka untuk umum, tepatnya pada 2010. Wajar jika Krecekan Denu masih sangat alami dan asri. Setelah melewati pintu gerbang dan membayar tiket yang sangat terjangkau, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tangga batu yang lumayan panjang dan harus berhati-hati karena licin.

Maklum, pengamanannya masih standar karena pagar jalan belum ada. Tapi, jika sudah mendengar gemericik air sungai, itu menandakan lokasi air terjun sudah dekat. Ceruk di bawah air terjun yang tidak terlalu dalam jadi tempat favorit pengunjung untuk berendam sembari menikmati keindahan air terjun.

Musim kemarau tidak memengaruhi debit Air Terjun Krecekan Denu, sehingga obyek wisata ini jadi tempat rekreasi yang utama pada musim liburan sekolah. Untuk fasilitas yang sudah ada meliputi tempat ganti pakaian. Sekadar saran, jika kita ingin berkunjung ke Air Terjun Krecekan Denu wajib membawa makanan dan minuman secukupnya karena kantin dan warung terdekat berada di pintu masuk. Agar, jika lapar dan haus, kita tidak perlu bolak-balik lagi.

*        *        *
Artikel terkait:
- Menikmati Segarnya Air di Curug Nangka
- Kenangan Wisata ke Kawasan Pesisir Selatan, Sumatera Barat
- Kawasan Indah Tak Terjamah di Sumatera Barat

*        *        *
- Jakarta, 25 Mei 2016

Selasa, 24 Mei 2016

Mengintip Fasilitas CitraRaya Tangerang sebagai Hunian Masa Depan


Salah satu cluster mewah di CitraRaya Tangerang yang memesona, The Leaf


FASILITAS yang lengkap, akses mudah dijangkau (dari Jakarta), keamanan dan kenyamanan terjamin, harga terjangkau, dan kredibilitas pengembang terpercaya. Demikian, beberapa faktor utama bagi saya sebelum menjatuhkan pilihan saat mencari rumah di luar ibu kota.

Ya, bagi saya pribadi, mencari tempat tinggal untuk masa depan itu memang agak rumit karena harus memenuhi lima kriteria tersebut. Kurang satu saja, dipastikan membuat saya enggan untuk menjatuhkan pilihan. Maklum, beli rumah itu tidak seperti beli gorengan. Lantaran harganya yang di atas ratusan juta, jadi harus teliti sebelum membeli agar tidak kecewa di kemudian hari.

Untuk saat ini, lima kriteria itu sudah saya temukan di CitraRaya Tangerang. Bahkan, perumahan yang terletak di kecamatan Cikupa, kabupaten Tangerang, Jawa Barat ini, sudah melebihi standar yang saya tetapkan sejak beberapa tahun silam.

Apalagi, Fasilitas CitraRaya sebagai kota mandiri, sangat "wah". Itu meliputi kesehatan dengan berdirinya Ciputra hospital yang merupakan rumah sakit umum swasta dari Ciputra Group. Lalu, sebagai penggemar olahraga, saya bisa memenuhi kebutuhan di CitraRaya Sports Club, untuk nge-gym, main futsal, tenis, bulu tangkis, atau renang.

Begitu juga wisata, dengan berdirinya Water World yang merupakan kolam renang superlengkap dan World of Wonders yang bakal mewujudkan impian saya keliling dunia. Untuk kuliner, CitraRaya Tangerang bisa disebut sebagai "surga pecinta makanan" dengan adanya CitraRaya Food Festival (Ciffest).

Puncaknya, jika kelak, ingin mendaftarkan anak sekolah. Di perumahan yang jadi proyek terbesar Ciputra Group ini telah dilengkapi sekolah dengan berbagai tingkatan pendidikan. Mulai dari playgroup, Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA, hingga Universitas. Seperti, Sekolah Citra Berkat, Citra Islami, Tarakanita, TK Mutiara Bangsa, dan Universitas Esa Unggul.

*       *       *
PAGI itu, Sabtu (21/5) langit ibu kota tampak cerah. Hangatnya sinar matahari membuat saya bersemangat mengendarai sepeda motor menuju Ciputra World 1. Keberadaan saya di mal yang terletak di Jalan Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan itu, untuk berkumpul dengan belasan rekan blogger.

Rencananya, kami akan melakukan City Tour ke CitraRaya Tangerang yang diprakarsai rekan blogger, Rosid Din, yang didampingi dua perwakilan CitraRaya, Caca Casriwan, dan Mahmud Yunus.

Menurut aplikasi GPS di ponsel saya, estimasi dari Ciputra World ke CitraRaya, hanya satu jam. Maklum, perumahan yang dikelola PT Ciputra Residence (anak usaha Ciputra Group) ini memiliki lokasi yang strategis dengan jalur Tol Jakarta-Merak.

Sampai di lokasi, kami berkeliling menyusuri setiap jengkal area CitraRaya seluas 2.760 hektar (Ha). City Tour ini sangat menarik bagi saya. Sebab, ini kali pertama saya sebagai blogger, mengunjungi suatu perumahan. Keberadaan saya di CitraRaya Tangerang menambah daftar portofolio saya setelah sebelumnya turut mengunjungi stasiun demi stasiun, kantor Bea Cukai, kantor Pajak, berbagai pabrik seperti kertas, oli, sepeda motor, dan sebagainya.

Salah satu yang membuat saya takjub ketika lewat gerbang utama. Maklum, beberapa patung kuda itu merupakan ikon CitraRaya yang sangat melekat di masyarakat. Saya sendiri  baru kali ini bisa menyaksikan kemegahannya saat city tour. Biasanya, saya hanya bisa melihat di CitraGarden City yang terletak di Kalideres, Jakarta Barat. Atau, ketika tahun lalu melihat brosurnya saat meghadiri BTN Property Expo 2015 di JCC.

Yang menarik, menurut beberapa rekan kantor yang berdomisili di Tangerang, kawasan CitraRaya dulunya dikenal sebagai daerah antah-berantah. Malah, ada yang menyebut sebagai tempat jin buang anak. Namun, itu semua berubah setelah Ciputra Group-Ciputra Residence memasuki kawasan tersebut pada 1994. Berkat kerja keras dan kerja cerdas mereka, sukses mengubah wajah kecamatan Cikupa lebih tertata lewat CitraRaya.

22 tahun kemudian, hasilnya bisa dilihat ketika CitraRaya jadi pilihan utama warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin memiliki rumah. Bahkan, CitraRaya kini jadi pilot Project Ciputra Group dalam mengembangkan kawasan yang berwawasan lingkungan dengan program EcoCulture. Sejak 2011, CitraRaya sukses diadopsi di berbagai proyek yang dikembangkan Ciputra Group di seluruh Tanah Air dan juga mancanegara.


*       *       *
CITRARAYA kini memiliki lebih dari 42 cluster perumahan yang beragam mulai dari yang sederhana hingga mewah. Kebetulan, saya bersama rekan blogger lainnya berkesempatan mengunjungi beberapa tipe. Khususnya, Villaggio yang merupakan rumah contoh namun sudah terjual 300 unit meski belum dibangun.

Ini membuat saya heran sekaligus takjub, lantaran mereka sukses menjual rumah yang harganya mulai dari Rp 479-636 juta seperti kacang goreng. Laris dalam sekejap. Di sisi lain, itu membuktikan nama besar dari Ciputra Group yang sudah melekat di masyarakat karena reputasinya sudah teruji.

Di banding, beberapa tipe lainnya, Villaggio ini yang sukses menggoda saya. Sebab, harganya yang tidak terlalu tinggi, juga terkait spesifikasi teknis seperti pondasi dari batu kali dan struktur beton bertulang. Termasuk dengan tidak adanya pagar yang membuat para penghuni jadi lebih dekat karena bisa saling berinteraksi satu sama lain.

Di sisi lain, cluster The Leaf yang menurut saya paling memesona. Memang sih, harganya lumayan mahal dibanding Villaggio atau tipe sejenis, karena berkisar di atas satu miliar rupiah. Namun, seperti kata pepatah, ada rupa ada harga. Alias, kita membayar mahal atas apa yang memang pantas kita dapatkan.

Maklum, The Leaf merupakan cluster pertama di kawasan premium CitraRaya yang bekerja sama dengan depelover asal Jepang, Mitsui Residential. Sepenglihatan mata saya, tampak jalanan yang lebar dan terdapat Children's Playground yang sangat memanjakan penghuninya. Kelebihan lainnya, instalasi jaringan kabel listrik dan telepon sudah tertanam di bawah tanah yang aman bagi keluarga yang memiliki anak.

Setelah puas menglilingi dari satu cluster ke cluster lainnya, kami pun menelusuri berbagai tempat menarik di kawasan CitraRaya. Saat ini, terdapat lebih dari 1.800 ruko dan area komersial yang ditempati lebih dari 60 ribu kepala keluarga. Salah satu yang menarik perhatian saya tertuju pada bangunan ecoPlaza.

Kenapa saya bilang menarik, karena ecoPlaza ternyata bukan sekadar bangunan mal saja, melainkan kompleks komersial yang menawarkan pengalaman luar ruang untuk aktivitas gaya hidup dan belanja. Rencananya, ecoPlaza akan diresmikan pada Oktober 2016 dengan berbagai tenant besar yang bergabung seperti CGV Blitz, Gramedia, Baskin Robbins, hingga Batik Keris.

Sebelum pulang, kami mampir ke Gubug Makan Mang Engking yang keberadaannya di CitraRaya merupakan cabang ke-16. Rumah makan khas Sunda yang sudah ada sejak April 2015 ini tidak hanya menawarkan kelezatan dari masakan saja. Tapi juga turut memanjakan mata kami karena pemandangan yang indah menghadap danau buatan untuk menemani santap siang.

Suasana pedesaan seperti menyambut kami ketika tiba di pelataran Mang Engking yang lokasinya berdampingan dengan CitraRaya Water World dan World of Wonders. Uniknya lagi, ada kolam terapi yang jadi magnet bagi pengunjung. Termasuk, kami yang sangat menikmati semilir angin seusai makan hingga mengingatkan pada kampung halaman.


*       *       *
ADAGIUM lawas mengatakan, "Kota Roma tidak dibangun dalam semalam". Alias, di dunia ini, segala sesuatu butuh proses. Itu berlaku pada CitraRaya Tangerang yang bermetamorfosis sejak 1994 dengan mengubah kecamatan Cikupa. Dari awalnya hanya sebatas kawasan industri dan pergudangan jadi daerah yang identik memiliki tempat hunian terpadu yang modern dan humanis.

Hebatnya lagi, mereka sukses mengubah stigma perumahan di luar Jakarta yang tidak hanya untuk ditempati ketika pulang mencari nafkah di ibu kota. Melainkan juga sudah jadi bagian dari Tangerang sebagai penyangga ibu kota. Bahkan, CitraRaya sudah memiliki kelengkapan fasilitas skala kota mandiri. Ibaratnya, dalam bahasa sehari-hari seperti Palugada: Apa yang elo cari, gue ada.

Berikut, beberapa fasilitas di CitraRaya yang saya catat sepanjang mengikuti city tour.
- Kesehatan: Ciputra Hospital yang merupakan rumah sakit umum swasta.
- Olahraga: CitraRaya Sports Club untuk yang hobi gym, tenis, basket, bulu tangkis, hingga futsal.
- Pendidikan: Sekolah Citra Berkat, Citra islami, Tarakanita, TK Mutiara Bangsa, Universitas Esa Unggul.
- Wisata: Water World dengan kolam renang olimpik, World of Wonders yang mewujudkan impian keliling dunia dengan berbagai miniatur keajaiban dunia.
- Kuliner: CitraRaya Food Festival (Ciffest) yang merupakan surga pencari makanan, Gubug Makan Mang Engking bikin betah seharian.
- Tempat nongkrong: MardiGras merupakan Palugada di CitraRaya.
- Otomotif: Auto Center sebagai sentra perlengkapan dan peralatan kendaraan.
- Hiburan: ecoPlaza untuk menunjang gaya hidup warga CitraRaya baik itu nonton film, belanja, ngemil, beli buku, dan sebagainya.
- Penginapan: Amaris Hotel yang sudah beroperasi sejak 2015 dan Yello Hotel

Informasi selengkapnya bisa dilihat di:
Website: www.citraraya.com
Fanpage: www.facebook.com/CitraRaya
Twitter@CitraRaya_Eco
Instagram@CitraRaya 

*       *       *
Hanya butuh satu jam dari pusat kota di Ciputra World, Kuningan, Jakarta, menuju CitraRaya


*       *       *
Gerbang CitraRaya yang ikonik (sumber foto: Rosid.net)

*       *       *
Jalan khusus sepeda yang tersedia di CitraRaya (sumber foto: Rosid.net)


*       *       *
Terminal Trans CitraRaya sebagai penghubung penghuni yang ingin bepergian (sumber foto: Rosid.net)


*       *       *
Eco Culture di CitraRaya (sumber foto: Rosid.net)


*       *       *
CitraRaya Food Festival (Ciffest)


*       *       *
Auto Center untuk memenuhi kebutuhan otomotif 


*       *       *
Little Kyoto EcoPark di CitraRaya


*       *       *
Rumah contoh Villaggio yang merupakan idaman saya di masa depan


*       *       *
Ruang keluarga yang minimalis tapi fungsional di Villaggio


*       *       *
Denah kamar di Villaggio yang memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi


*       *       *
Cluster The Leaf yang sangat memesona bagi saya


*       *       *
CitraRaya Water World


*       *       *
Menikmati gemericik air di CitraRaya Water World


*       *       *
Salah satu wahana di Walter World


*       *       *
Pintu masuk di CitraRaya World of Wonders


*       *       *
Suasana di CitraRaya World of Wonders


*       *       *
Miniatur Jembatan San Francisco yang bisa dilintasi di World of Wonders


*       *       *
Miniatur Candi Borobudur di World of Wonders


*       *       *
Miniatur Menara Pisa dan Koloseum Roma


*       *       *
Gubug Makan Mang Engking di CitraRaya 


*       *       *
Menikmati hidangan dengan suasana ala pedesaan di Gubug Makan Mang Engking


*       *       *
Terapi di kolam ikan yang terdapat di Gubug Makan Mang Engking


*       *       *
- Jakarta, 23 Mei 2016

Jumat, 20 Mei 2016

Resensi Buku Thamrin Dahlan: Magnet Baitullah



"Magnet Baitullah" bersama koleksi buku rekan blogger lainnya

"TUJUAN dari menerbitkan buku 'Magnet Baitullah' ini untuk menuliskan peristiwa pada masa lalu dan hari ini yang kelask akan jadi catatan sejarah. Khususnya bagi penerus khadimul Masjid Jami An Nur," ujar Thamrin Dahlan mengungkapkan kepada saya dan rekan-rekan blogger.

Ya, pria kelahiran 7 Juli 1952 ini baru merampungkan buku terbarunya berjudul "Magnet Baitullah: Tiga Syarat Utama Memakmurkan Masjid". Kebetulan, saya bersama beberapa rekan blogger lainnya turut menghadiri peluncurannya di Masjid Jami An Nur, Jakarta Timur, Minggu (24/4).

Dalam acara tersebut, Thamrin turut mengundang Habib Umar bin Ahmad Al Hamid, Ustadz H. Lutfhi Rahman, dan Taufik Uieks. Nama terakhir merupakan sesama blogger yang hadir bersama Shulhan Rumaru, Rifki Feriandi, dan Muthia Alhasany.

Bagi saya, ini kali pertama menghadiri peluncuran buku atau acara yang berkaitan dengan blogger di masjid. Maklum, biasanya saya datang ke acara launching buku di mal, toko buku, atau perpustakaan. Meski begitu, saya tidak asing dengan masjid karena kerap mengunjunginya setiap Jumat, sementara untuk ibadah sehari-hari di musala dekat rumah.

Apalagi, sejak dulu saya sering menulis berbagai artikel yang berkaitan dengan masjid atau musala. Teranyar, pada ramadan tahun lalu ketika mengunjungi Masjid Hidayatullah yang lokasinya di pusat kota dan dikeliling gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sebelumnya, saya malah singgah ke kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, saat ngabuburit sambil "nostalgia" film Lorong Waktu di Masjid Raya Baitussalam.

Itu mengapa saya sangat antusias membaca informasi peluncuran buku Thamrin di laman facebook-nya. Kebetulan, saya beberapa kali pernah mengunjungi kediaman dari mantan Direktur Pasca Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) ini.

"Buku 'Magnet Baitullah' ini merupakan model memakmurkan masjid pad tingkat RW atau Kelurahan. Diharapkan, para pengurus masjid bisa menjadikan buku ini sebagai referensi, yaitu bagaimana memakmurkan masjid di wilayahnya masing-masing," ujar Thamrin yang melalui facebook-nya sudah mengirim ribuan buku ke berbagai wilayah di Tanah Air. "Ini jadi bagian dalam Program Memakmurkan Satu Juta Masjid di Indonesia."

Dalam kesempatan itu, pria yang di kalangan blogger dikenal dengan panggilan "pak Te-de" -merujuk inisial namanya- ini melanjutkan, "Seandainya sahabat berkenan mengeluarkan infaq sebesar Rp 50.000 atau Rp 100.000, maka akan ada tiga sampai enam buku 'Magnet Baitullah' yang dihadiahkan secara gratis kepada pengurus masjid yang bersangkutan."

Pada halaman 199 dari "Magnet Baitullah", dijelaskan mekanisme "Program Memakmurkan Satu Juta Masjid di Indonesia". Jika ada yang tertarik untuk berpartisipasi bisa menginfakan dana ke Masjid Jami An Nur atas nama bendahara H. Pudjo Semedi di Bank Syariah Mandiri cabang Kramatjati, Jakarta Timur, dengan nomor rekening 7047990402. Buku jadi lebih murah apabila dicetak per paket 500 eksemplar dengan harga per buku hanyar Rp 17.200.

*        *        *

"MAGNET Baitullah" merupakan buku kedelapan yang diterbitkan Thamrin setelah purnatugas dari kepolisian dan BNN pada 2010. Tiga di antaranya sudah saya koleksi berjudul "Bukan Orang Terkenal", "Celotah Kompasianer TeDe", dan "Prabowo Presidenku".

Ya, sejak pensiun, Thamrin memang aktif sebagai blogger dengan membahas berbagai tema yang hangat di Tanah Air. Mulai dari kehidupannya sehari-hari, tenis yang merupakan olahraga favoritnya, hiburan, kesehatan, ekonomi, fiksi, hingga politik. Bahkan, dosen di Universitas Pancasila, Universitas Gunadarma, dan Akademi Perawatan Polri ini, rutin mengikuti acara blogger baik di dunia maya maupun dunia nyata.

"Sebagai pensiunan Polri, saya bangga bisa bergabung dengan kalian sesama blogger. Bagi saya, menulis di blog itu tidak hanya mengisi sehari-hari setelah pensiun. Atau juga demi mengatasi kepikunan seperti yang dialami orang seusia saya. Melainkan, menulis di blog agar bermanfaat bagi pembaca. Saya bangga bisa disebut sebagai blogger," Thamrin, menjelaskan.

Judul: Magnet Baitullah (Tiga Syarat Utama Memakmurkan Masjid)
Penulis: Thamrin Dahlan
Penerbit: Leutika Prio
Rilis: April 2016
Halaman: 202
ISBN: 978-602-371-172-7

*        *        *
Masjid An Nur di samping Polsek Ciracas

*        *        *
Masjid An Nur tepat 50 tahun penanggalan Hijriah

*        *       *
Koleksi "Magnet Baitullah" yang dibagikan gratis

*        *       *
Isi daftar hadir bersama rekan-rekanblogger lainnya

*        *       *
Suasana peluncuran "Magnet Baitullah" di beranda masjid

*        *       *
Salah satu pembicara dalam rangkaian acara peluncuran "Magnet Baitullah"

*        *        *
Thamrin bersama rekan blogger

*        *        *
Foto bersama seusai acara

*        *        *
Salah satu koleksi buku Thamrin yang saya miliki: "Prabowo Presidenku"

*        *        *



- Idul Fitri, Meriahnya Takbiran di Musholla Kami...  
Ketika Keberadaan Musholla di Mal Tak Lagi Terabaikan
- Mengenang Uje dan MZ di Bulan Ramadan 

*        *        *
- Jakarta, 20 Mei 2016

Rabu, 18 Mei 2016

Ini Solusi Saya saat Hadapi Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi



Satu dekade lalu, cukup merasakan kuahnya saja sudah sangat nikmat pada tanggal tua


HARI gini takut sama tanggal tua? Ho ho ho -tertawa ala Ant-Man di film Captain America: Civil War-, saya mah ga takut sama tanggal tua #eaaa.

Itu sekarang. Ketika saya sudah bekerja di tempat yang nyaman. Namun, bagaimana dengan dulu?

Ceritanya begini.


*       *       *

KETIKA masih jadi pelajar dan juga mahasiswa, harus diakui jika tanggal tua itu merupakan salah satu momok yang menakutkan. Bahkan, terbayang hingga sekarang. Wajar saja, mengingat pada periode itu, saya harus kerja sambilan untuk membiayai pendidikan dan kehidupan sehari-hari di tanah seberang. Mulai dari jualan koran, nyambi OB (Office Boy), kurir, kerja sablon, cuci steam motor, hingga jaga warnet.

Ya, semuanya dilakoni setelah pulang sekolah dan kuliah. Tidak ada gengsi waktu itu, yang penting, bisa buat bayar SPP, kost bulanan, uang saku sehari-hari khususnya transportasi. Maklum, dulu belum memiliki sepeda motor, jadi setiap pergi harus naik angkot atau metro mini. Beruntung, berkat ajaran Orangtua, akhirnya saya bisa belajar hemat dan mulai mencicil sepeda motor.

Biar bagaiamanapun, menggunakan sepeda motor lebih irit dibanding naik angkot atau metromini. Saat itu, perbandingannya buat ongkos naik angkutan umum sehari bisa dipakai untuk beli bensin tiga-empat hari. Jadi, sisanya bisa buat bayar cicilan sepeda motor dan ditabung untuk masa depan.

Hanya, kehidupan itu tidak semulus jalan tol atau bahkan sinetron di televisi. Sebab, adakalanya berliku. Misalnya, ketika ada keperluan mendadak untuk buku dan kegiatan pendidikan atau keperluan di rumah (bahasa gaulnya kami saat itu: Force Majeur). Belum lagi ditambah biaya malam mingguan. #eaaa. Alhasil, saya harus nombok dengan memakai uang cicilan sepeda motor. Bahkan, tak jarang harus gali lobang tutup lobang, alias utang.

Di sisi lain, justru itu jadi tantangan tersendiri. Agar, bagaimana saya yang saat itu masih muda dan unyu-unyu sedang mencari jati diri, bisa mensiasatinya. Salah satunya dengan berlaku irit. Irit? Ya, definisi slang dari irit itu lebih dari hemat. Bahkan, lebih ekstrem di segala faktor.

Pertama dari segi makanan. Saya merasakan betul bagaimana nikmatnya mencicipi kuah nasi Padang pada tanggal tua. Ya, hanya kuahnya saja. Jadi, bersama beberapa rekan kost yang senasib dan sepenanggungan, biasanya jika memasuki tanggal tua, kami kerap ke Rumah Makan Padang.

Ketika disuguhi berbagai menu yang bertebaran di meja, kami cukup menikmati satu piring berupa rendang atau ayam pop. Nanti, dibagi-bagi di antara kami sambil tak lupa daun singkong, sambal hijau, dan kuahnya dibanyakin. Jadi, ketika pelayan menghitung, yang kami makan hanya satu piring rendang atau ayam pop saja. Sementara, menu lainnya utuh kecuali daun singkong, kuah opor, dan sambal hijau.

Memang sih, terkesan sadis. Faktanya sebagai anak kost yang mencari uang sampingan untuk kebutuhan sehari-hari, cara itu wajar dilakukan. Alternatif lainnya, ketika kami gajian, biasanya membeli mi instan beberapa kardus untuk stok sebulan ke depan.

Hanya, rasa mi instan dulu, tidak seperti sekarang yang bervariasi. Sekitar satu dekade lalu, rasanya cuma ada soto, baso, kari, dan goreng. Namun, jika lapar mendatangi pada tanggal tua, satu mangkuk mi instan ditambah sepiring nasi putih, bagi kami sudah seperti makan di restoran bintang lima.

Berlanjut dengan hobi saya mengoleksi buku. Dulu, jika rilis buku anyar dan bertepatan dengan tanggal tua, paling saya hanya bisa pergi ke toko buku. Saat itu, kan suka ada buku yang sudah dibuka plastinya ketika dipajang di etalase/rak.

Nah, saya cukup membaca bagian penting saja yang bisa seharian. Khususnya saat puasa, sambil ngabuburit. Untuk keseluruhan buku, saya tunggu hingga gajian tiba agar bisa membelinya. Itu juga berlaku pada berbagai barang lainnya, seperti kaset, cd, koleksi wayang, dan action figure, biasanya saya menanti dua hal. Membelinya saat tanggal muda atau ketika ada promo.

Begitu juga dengan malam mingguan. Nah, ini agak rumit mengingat saat itu masih muda dan bawaannya ingin bertemu setiap hari. Namun, apalah daya, tangan dompet tak sampai. Ketika tanggal tua menyerang, rutinitas itu jadi berganti hingga dua minggu sekali, atau malah pernah tiga minggu sekali. Sisi positifnya, dengan penundaan tersebut membuat rasa rindu kami kian besar karena jarang bertemu.

Terakhir mengenai gadget atau gawai. Berhubung saya merupakan pribadi mandiri sejak kecil, jadi hal seperti ini tidak terlalu masalah. Dulu, saya merasa nyaman dengan ponsel yang fungsinya hanya untuk menelepon dan kirim pesan pendek (SMS). Saat itu, saya tidak masalah ketika ponsel hanya memiliki layar monokrom dan dering polyphonic.

Berbeda dengan kini yang ketika harus membeli ponsel, wajib ada akses internetnya disertai spesifikasi yang lengkap seperti dual kamera dan OS terbaru. Yang penting, satu dekade lalu, dengan ponsel yang mungkin saat ini mah sudah jadul, saya tetap bisa menjalin komunikasi dengan keluarga, teman seangkatan, dan gebetan!

Jika ponsel tidak ada masalah, berbeda dibanding pulsa. Itu karena dulu untuk mengisi pulsa, harus secara fisik dengan datang ke counter pulsa. Beda dengan sekarang yang bisa membelinya secara online atau via internet banking.

Yang jadi problem itu, ketika memasuki tanggal tua, jika saya ingin menelepon keluar, kerap yang mengangkat selalu perempuan. Mungkin manis sih, kedengaran dari suaranya berbunyi, "Maaf, pulsa yang Anda miliki, tidak mencukupi, Bla, bla, bla."

Oh ya, dulu belum ada itu aplikasi chatting -kecuali via email-, jadi kalau untuk komunikasi selalu menggunakan SMS. Tarifnya pun masih mahal, sekitar Rp 350. Solusinya untuk saya di tanggal tua, dengan mensiasati jika ingin kirim SMS yang diketik panjang. Yaitu, kalimatnya disingkat, yang terkadang tanpa titik, koma, apalagi EYD. Yang pasti, tidak dengan bahasa alay.


*       *       *
DEMIKIAN, solusi saya untuk menghadapi tanggal tua pada satu dekade silam. Kalau diingat saat ini, tentu membuat saya tertawa sendiri. Tapi, ya begitulah kondisinya ketika masih jadi anak kost yang membiayai kehidupan sendiri untuk kerja sambilan di tengah kesibukan sekolah.

Berkat penghematan atau bahkan menjurus ke irit yang ekstrem dulu, hasilnya bisa dipetik pada kehidupan sekarang. Ya, benar kata pepatah. Kota Roma tidak dibangun dalam semalam.

*       *       *

*       *       *
Artikel terkait:
- Ingin Beli Gadget Secara Online? Berikut Ciri-ciri Toko Gadget Online yang Terpercaya!

*       *       *
- Jakarta, 18 Mei 2016