TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 07 Desember 2016

OPPO Rilis Raisa Phone, Ponsel Elegan dengan Tanda Tangan Eksklusif dari Raisa

Petinggi OPPO dan Raisa dalam perkenalan pagi tadi (7/12)

OPPO Indonesia kembali menggebrak pasar smartphone di Tanah Air. Tepatnya, dengan merilis varian anyar dari F1's bertema "Raisa Phone". Yaitu, smartphone yang memiliki tanda tangan dengan laser engraved dari brand ambassador OPPO, Raisa Andriana. Produk ini jadi penutup seri Selfie Expert OPPO pada 2016 yang dijual secara terbatas sebanyak 6.000 unit.

Saya mendapat kehormatan untuk jadi salah satu yang bisa menjajal produk terbaru OPPO ini. Itu setelah saya mendapat undangan untuk menghadiri acara bertema "The New Face of the Selfie Expert" di Ballroom Hotel Sheraton, Gandaria City, Jakarta Selatan, pagi tadi (7/12). Saat itu, selain saya yang merupakan undangan blogger, juga terdapat peserta lain dari media dan OPPO fans.

Acara tersebut dibuka Alinna Wenxin, selaku Brand Manager OPPO Indonesia yang memberi sambutan terkait kerja sama dengan Raisa. Menurut wanita murah senyum ini, kolaborasi antara perusahaannya dengan musisi papan atas Indonesia ini memang identik.

Sebab, baik OPPO dan Raisa sama-sama selalu menghasilkan sesuatu yang terbaik. OPPO sebagai produsen smartphone nomor dua terbesar di Indonesia dan Raisa yang memiliki banyak penggemar di Tanah Air.

"Kami sangat antusias dengan keja sama antara OPPO dan Raisa," Alinna, mengungkapkan. "Kolaborasi ini menghadirkan produk spesial seperti OPPO 'Raisa Phone'. Desain elegan dari smartphone ini menggambarkan sosok Raisa sebagai musisi muda berbakat Indonesia yang selalu memikat pada setiap penampilannya. Dengan daya tarik tersebut, kami berharap produk ini bisa jadi collectible item bagi penggemar OPPO dan Raisa di Indonesia."

Apa yang dikatakan Alinna beralasan. Sebab, saya kebetulan sempat membedah "Raisa Phone" selama hampir setengah jam. Dalam kesempatan itu, saya merasakan OPPO F1s edisi Raisa ini sangat berbeda. Yaitu, dengan memadukan bahan alumunium alloy berkilau dan pewarnaan hitam pekat yang menghasilkan cover logam berwarna hitam klasik.

Dalam uji coba eksteriornya, terutama pada cover maupun sisi layar keseluruhan desain berwarna hitam. Namun "Raisa Phone" ini disematkan bezel silver berkilau yang mengelilingi setiap sudut serta membentuk body ponsel yang solid, klasik, dan elegan.

Dengan harga di pasaran mencapai Rp 3.499.000, menurut saya "Raisa Phone" ini masuk kategori premium. Sebab, memang ditujukan untuk kalangan menengah atau penggemar Raisa dan juga kolektor. Tapi, seperti kata pepatah, ada harga ada rupa. Alias, dengan harga itu, kita bisa mendapatkan smartphone yang benar-benar wah.

Kesan elegan terpancar saat saya memegangnya dalam Experience Session. Sementara, mengenai fitur, jangan ditanya lagi. Pasalnya, selain tampilan, smartphone OPPO dikenal memiliki fitur yang kaya. Itu mengapa menurut data IDC, OPPO menduduki peringkat dua smartphone terlaris di Indonesia.

Salah satunya, terkait sistem operasi dengan ColorOS 3.0 based on Android 5.1 disertai RAM 3GB. Untuk kamera belakang disematkan sensor 13 megapixel dan depan 16 megapixel. Upz... Kamera depan 16 megapixel? Awalnya saya pikir terbalik, belakang yang lebih besar. Tapi, setelah saya tes selfie dengan meinjam "Raisa Phone" di dalam booth, ternyata benar. Itu mengapa smartphone ini jadi andalan anak muda untuk ber-selfie ria.

"Raisa Phone" ini juga sudah disertai teknologi fast touch access yang dapat membuka aplikasi secara cepat dalam waktu 0,22 detik. Dari segi eksterior, produk ini jadi satu-saunya seri Selfie Expert yang mengusung warna hitam serta tanda tangan Raisa yang diukir menggunakan laser.

"Saya tersanjung jadi Brand Ambassador OPPO. Sebab, saya melihat komitmen mereka dalam pengembangan inovasi terdepan untuk kebutuhan konsumen, seperti pelopor kamera depan 16 megapixel. Ini menginspirasi saya untuk terus berupaya memberikan kualitas penampilan terbaik bagi para penggemar, termasuk pada berbagai kesempatan lain dengan OPPO," kata Raisa yang turut membawakan beberapa lagu andalannya di hadapan undangan.

Menurut Alinna, kerja sama OPPO dengan Raisa pertama kali terjalin lewat OPPO Raisa Handmade Tour 2016 yang berlangsung di lima kota besar Indonesia. Yaitu, Bandung, Surabaya, Malang, Solo, dan Yogyakarta. Raisa juga salah satu bintang utama untuk konser apresiasi OPPO Selfie Fest di ICE BSD pada 24 November lalu.

Hanya, saat itu saya yang juga mendapat undangan bersama rekan blogger lainnya tidak bisa hadir karena sedang berada di luar kota. Total, jika dihitung, saya sudah lima kali mengikuti acara yang diselenggarakan OPPO. Termasuk saat mengunjungi pabriknya di Tangerang pada 31 Mei lalu. Itu jadi salah satu pengalaman berkesan bagi saya. Maklum, untuk kali pertama, saya bisa melihat langsung proses dibuatnya smartphone OPPO dari awal hingga akhir.

Nah, bagi Anda yang tertarik dengan OPPO "Raisa Phone" ini sudah dapat dipesan secara pre-order melalui tiga jaringan e-commerce terkemuka di Tanah Air pada 7-14 Desember ini. Yang menarik, jika kita mengambilnya di jaringan OPPO store yang tersebar di tujuh wilayah Indonesia, kita bisa mendapat cashback.

Sekilas Tentang OPPO "Raisa Phone" (Sumber: OPPO.com/id)

Spesifikasi:
Tinggi: 154,5 mm
Lebar: 76 mm
Tebal: 7,38
Berat: 160 g

Parameter
Warna: Gold, Rose Gold
Sistem Operasi: ColorOS 3.0, based on Android 5.1
GPU: Mali-T860 MP2
RAM: 3GB
Baterai: 3075 mAh (Non-removable)
Prosesor: MT6750 Octa-core 64-bit

Display
Ukuran: 5,5 inci
Tipe: IPS TFT
Resolusi: HD (1280 by 720 pixels)
Colors: 16 juta warna
Layar sentuh: Multi-touch, Capacitive Screen, Gorilla Glass 4, Support for Gloved and Wet Touch Input

Kamera
Belakang: 13 MP
Depan: 16 MP
Flash: LED Flash
Aperture: Belakang f/2.2, Depan f/2.0

Konektivitas
Frekuensi: GSM, WCDMA, FDD-LTE
Tipe SIM Card: Dual Nano-SIM Cards
GPS: Supported
Bluetooth: 4.0
Wi-Fi: 2.4/5GHz 802.11 a/b/g/n/ac



Suasana registrasi blogger, media, dan OPPO Fans
*         *        *

Alinna Wenxin,, Brand Manager OPPO Indonesia memberi sambutan

*         *        *
Berkat OPPO, saya bisa menyaksikan langsung penampilan Raisa 

*         *        *
Saya dengan Raisa Phone yang sudah ada tanda tangannya 

*         *        *
Membedah Raisa Phone yang fiturnya super-lengkap

*         *        *
Artikel Sebelumnya:
- OPPO F1 Plus Siap Abadikan Senyum Terindah untuk Indonesia
Merdunya Isyana Sarasvati saat Buka Bareng OPPO Community
Jadi Saksi Ketangguhan Ponsel OPPO saat Berkunjung ke Pabriknya di Tangerang
Tujuh Alasan OPPO R7S sebagai Teman Sehari-hari

*         *        *
- Jakarta, 7 Desember 2016

Selasa, 06 Desember 2016

ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan


ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar


ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan


BATIK merupakan warisan yang tak ternilai dalam kebudayaan Indonesia. Sekaligus, jadi simbol identitas bangsa yang selalu digunakan dalam berbagai hari-hari penting. Bahkan, batik diakui secara internasional sebagai karya luhur dari negeri ini yang tertuang dalam daftar UNESCO sebagai Warisan Budaya Nasional Non-Benda pada 2 Oktober 2009.

Di Indonesia, banyak daerah yang dijuluki sebagai sentra batik. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang memperkaya keanekaragaman nusantara. Salah satunya, Pekalongan yang mendapat julukan "Kota Batik".

Maklum, di kota yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah itu memiliki corak yang khas dan variatif. Kebetulan, saya tidak asing lagi dengan Pekalongan karena sudah beberapa kali mengunjunginya. Termasuk, Juni 2013 ketika selesai liputan otomotif, saya mengunjungi Pasar Sentono untuk belanja batik.

Saya pribadi memang menyukai batik. Tidak hanya dipakai setiap Jumat yang merupakan wajib di kantor, melainkan pada hari-hari lainnya. Entah itu liputan, acara, pertandingan, atau pernikahan.

Kini, saya jadi lebih mudah untuk mencari batik khas Pekalongan. Tidak perlu ke daerah asalnya yang kalau ditempuh dengan kereta api sekitar lima jam. Melainkan, cukup datang ke Grand ITC Permata Hijau yang terletak di Jalan Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Di pusat pertokoan yang merupakan anak usaha dari Sinar Mas Group itu, menyediakan berbagai batik khas Pekalongan. Lokasinya menempati area khusus di Lantai 2. Kebetulan, saya turut jadi saksi penandatanganan MOU antara pihak ITC Permata Hijau dengan Walikota Pekalongan, Arslan Djunaid, Sabtu (3/12).

Dalam kesempatan itu, Djunaid bangga karena ITC Permata Hijau menyediakan area khusus untuk pedagang dari Pekalongan. Menurutnya, itu membantu perekonomian wilayahnya sekaligus mengenalkan batik pekalongan secara luas.

"Saya senang kami diterima dengan baik di sini," tutur Djunaid, semringah. "Saya sendiri yang mengajak sebagian warga Pekalongan untuk mengenalkan karya terbaiknya kepada masyarakat ibu kota. Jadi, warga Jakarta yang ingin memilikinya batik Pekalongan bisa langsung membelinya di ITC Permata Hijau ini."

Selain meresmikan zona batik dan handicraft, manajemen Sinarmas Land yang membawahi ITC Permata Hijau juga kembali menyelenggarakan ITC Shopping Festival. Yaitu, program belanja di 10 ITC di berbagai wilayah di Indonesia sejak 3 Desember hingga 31 Mei 2017. Ini melanjutkan program ITC Shopping Festival sebelumnya yang berlangsung 1 Oktober-31 Desember 2015.

"Terdapat empat program unggulan pada ITC Shopping Festival ini. Yaitu, Super Sale, Belanja Untung, Dagang Untung, dan SPG Untung. Jadi, kami tidak hanya memperhatikan untung dari toko atau penjual saja, melainkan turut peduli kepada mas dan mbak SPG yang berkontribusi atas larisnya dagangan," kata Christine N. Tanjungan, ITC Division Head.

Menurutnya, program berhadiah total Rp 1,2 miliar ini memiliki lima tematik event, yaitu Natal dan Tahun Baru, Imlek, Valentine, Ramadan, dan Back to School. Acara ini serentak di 10 pusat perbelanjaan yang dikelola ITC Group di Jabodetabek. Yaitu, Grand ITC Permata Hijau, ITC Mangga Dua, ITC Roxy Mas, ITC Cempaka Mas, ITC Kuningan, ITC Fatmawati, Mal Mangga Dua, Mal Ambasador, ITC BSD, dan ITC Depok.

*         *         *
Tahukah Anda? 

- ITC Permata Hijau satu-satunya pusat perbelanjaan yang dimiliki Sinar Mas Land (Sinar Mas Group) yang menyandang titel "Grand" di depan namanya. (Sumber: Discover)

- Kota Pekalongan dinobatkan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai Kota Kreatif pertama di Indonesia pada 1 Desember 2014. (Sumber: CNN)

- ITC Shopping Festival 2015 sangat sukses hingga transaksinya tercatat mencapai Rp 500 miliar di jaringan ITC di seluruh Indonesia. (Sumber: Christine N. Tanjungan, ITC Division Head)


*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *

Artikel Terkait Sinarmas Group
Sinar Mas: Berawal dari Kebaikan
Lengkapnya Fasilitas Sinarmas World Academy (SWA) di BSD
Kunjungan Blogger ke PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP)
- Orange TV Tayangkan Liga Primer sebagai Komitmen "Jagonya Sepak Bola"
Menikmati TSC 2016 Bersama Orange TV
Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi

*         *         *
- Jakarta, 6 Desember 2016

Minggu, 04 Desember 2016

Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang


Peralatan tempur :)


EPILOG

YAAAAA
, akhirnya selesai sudah petualangan ke kawasan timur pulau Jawa. Tepatnya, ke Bromo, Malang, dan sekitarnya yang berlangsung pekan lalu. Yupz, untuk kali pertama sebagai blogger, saya bisa ngebolang (slang: bocah petualang).

Oh ya, mungkin banyak yang bertanya, kenapa saya memilih Bromo dan bukan tempat lain. Jawabannya simpel, sebab di antara tiga dari tujuh destinasi impian yang tersisa, Bromo salah satu yang realistis untuk disambangi.

Ya, seperti pada artikel dulu, saya memiliki tujuh destinasi impian di nusantara. Empat di antaranya sudah pernah saya singgahi seperti Batu Malin Kundang di kota Padang, Gunung Kintamani (Bali), Pedalaman Baduy (Banten), dan Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Utara) yang diprakarsai Indosat Ooredoo. Dua lagi benar-benar masih dalam impian yaitu, Raja Ampat di Papua dan Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur).

Nah, dibanding kedua tempat wisata tersebut, secara anggaran, jelas Bromo jauh lebih murah. Pun jika dikomparasi dengan waktu, yang relatif singkat ketimbang Raja Ampat dan Taman Nasional Komodo.

Sementara, untuk luar negeri, setelah Singapura pada 2014 lalu, saya masih memiliki cita-cita mengunjungi Gunung Hoasan di Cina untuk mengunjungi makam leluhur, Seattle (Amerika Serikat) bertandang ke markas mbahnya musik seattle-sound, dan tentunya Turin (Italia) yang merupakan kandang Juventus.

Oh ya, ini untuk bertualang. Bedakan dengan kewajiban jika mampu, yaitu menunaikan ibadah haji yang pasti ke Mekah serta Madinah.

*          *         *
PERJALANAN ke Bromo sudah saya rencanakan sejak Agustus lalu. Namun, hingga Oktober batal karena menurut pantauan di  website Badan Geologi - Kebencanaan ESDM, masih menunjukkan erupsi.

Beruntung, memasuki awal November, kondisi gunung yang terletak 2.392 MDPL ini sudah tidak menunjukkan aktivitasnya. Berkat rekomendasi rekan blogger, saya pun mendapat salah satu penyelenggara trip ke Bromo. Yupz, petualangan dimulai.

Setelah mengurus cuti dari kantor, saya pun memesan tiket Kereta Api (KA) Matarmaja. Yupz, kelas ekonomi, tapi tetap asyik. Awalnya, kami mau pesan yang eksekutif atau bahkan naik pesawat. Tapi, dipikir-pikir, kalau pergi dengan dua ketegori itu namanya bukan ngebolang, alias cuma liburan.

Ya, seperti kata Rangga kepada Cinta dalam AADC2, "Itu bedanya orang yang travelling dengan liburan. Kalau orang yang sedang liburan, biasanya mereka bikin jadwal yang pasti. Pergi dan tinggalnya ke tempat yang nyaman. Terus, ke tempat-tempat yang bagus buat foto-foto. Kalau travelling, kita harus spontan. Lebih berani ngambil risiko, siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan. Yang harus dinikmati itu justru proses perjalanannya dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul."

Yupz, ternyata hasil tidak pernah mengkhianati proses. Sebab, ada keasyikan tersendiri menumpang KA Matarmaja yang sejak Stasiun Senen sangat padat. Total, perjalanan menempuh waktu sekitar 17 jam yang dimulai pukul 15 sekian WIB hingga 08 sekian WIB.

Secara pribadi, ada perbedaan antara naik KA Matarmaja dibanding KA Argo Lawu ketika saya ke Yogyakarta, menjelang ramadan lalu. Saat itu, suasana di gerbong bisa dibilang relatif senyap. Sementara, dengan KA Matarmaja, lebih ramai yang disertai hilir-mudik penumpang. Intinya, kalau mau ngebolang, ya (mungkin) dengan kelas ekonomi untuk merasakan esensinya.

Pun, begitu ketika saya mencari penginapan di Malang. Saya beruntung menemukan hotel dengan harga kompetitif. Meski, saat itu ada sahabat yang menawarkan gratis untuk tinggal di hotel bintang tiga dekat pusat kota.

Tapi, dengan halus saya tolak. Sebab, tidak enak juga sudah merepotkan dirinya dan suami yang jauh-jauh datang dari Surabaya untuk reuni, eh malah ditawarkan menginap gratis. Oh ya, saya dan mereka sempat sama-sama ketika masih bekerja di pedalaman Sumatera pada dekade lalu.

Sudah satu pelita kami tidak bersua sejak saya kembali ke ibu kota pada 2010 silam. Sementara, mereka masih aktif dengan mengurus cabang di kawasan timur. Tak heran ketika awal September lalu saya kabari ingin ke Malang, mereka antusias menyambutnya. Termasuk, menyusuri eksotisnya kota berjulukan Zwitserland van Java pada malam hari.

*          *         *
BANYAK cerita dan foto yang ingin saya posting di blog ini. Tentu, tidak cukup hanya dengan satu artikel saja. Ke depannya, kalau sempat, bakal saya tulis catatan perjalanan akhir November lalu. Mulai dari Candi Jago, Air Terjun Coban Pelangi, Bromo, keliling Malang, hingga aneka kuliner.

Yupz, menyitir kalimat rekan blogger, "Hidup adalah pesta, dan harus dirayakan." Begitu juga dengan ngebolang yang harus dinikmati dari awal hingga akhir.

*          *         *
Stasiun Senen

*          *         *
Salah satu sudut persimpangan di ibu kota

*          *         *
Gunung Ciremai dari kejauhan

*          *         *
Stasiun Cirebon Prujakan

*          *         *
Ahli hisap memanfaatkan waktu sejenak pada setiap pemberhentian di stasiun

*          *         *
Stasiun Kediri 

*          *         *
Stasiun Pakisaji 

*          *         *
Perjalanan pulang jauh lebih sepi dibanding saat pergi

*          *         *
Stasiun Malang Kota Baru

*          *         *
Artikel Terkait:
- (Prolog)
- Candi Jago,
- Air Terjun Coban Pelangi
- Bromo...
- Kawah Bromo
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
*          *         *
- Jakarta, 4 Desember 2016

Jumat, 02 Desember 2016

6 Misteri di Balik Sang Saka Merah Putih


Bendera merah putih selalu dikibarkan pada HUT Kemerdekaan 17 Agustus


Sebagai warga negara Indonesia, memang sudah seharusnya kita tahu mengenai bendera merah putih. Bahkan, setiap rumah diwajibkan memiliki minimal satu bendera yang akan dikibarkan jelang HUT Kemerdekaan setiap 17 Agustus.

Keberadaannya jadi simbol negara yang sangat penting. Aset berharga yang harus dilindungi. Warna putih menunjukkan kesucian. Sedangkan merah berarti keberanian.

Namun, tidak hanya Indonesia saja yang menggunakan dua warna tersebut sebagai simbol negara. Ternyata, Monako juga memakai merah-putih sebagai identitas negaranya. Berbeda dengan Polandia yang meski dwiwarna, tapi putih-merah.

Pengibaran bendera umumnya dilakukan pada hari-hari penting saja. Misal, HUT Kemerdekaan, peringatan Sumpah Pemuda, atau Hari Pahlawan. Namun, untuk instansi pendidikan seperti sekolah mulai dari SD hingga SMA, umumnya dilakukan setiap Senin dengan upacara terlebih dulu.

Begitu juga dengan instansi pemerintahan. Sehingga, tak menampik jika kebutuhannya juga lebih tinggi dibandingkan yang lain. Alias, harus punya lebih dari satu untuk mempermudah dalam penggunaan agar bisa sering berganti-ganti.

Sebaiknya, bagi Anda yang memiliki bendera merah putih ini di rumah, selalu dicuci dengan rutin dan dirawat. Meskipun, hanya digunakan sekali dalam setahun. Sebab, jika terlalu lama disimpan dalam almari justru akan merusak bahannya. Proses perawatannya sendiri sangat mudah karena cukup dengan mencuci secara teratur, setrika kemudian lipat, simpan dalam lemari dibarengi dengan kamper biar selalu wangi.

Yang menarik, simbol merah putih ini bukan hanya sekadar lambang negara saja. Melainkan, memiliki banyak sekali nilai. Tahukah Anda, bahwa bendera Indonesia ini juga menyimpan banyak misteri? Enam di antaranya sebagai berikut:

1. Bendera pertama dijahit dengan tangan. Jangan salah, jika sekarang ini Anda bisa menemukan produksi massal menggunakan mesin, dulu bendera tersebut dijahit hanya dengan benang dan jarum biasa. Prosesnya dilakukan sehari semalam oleh Ibu Negara Fatmawati saat itu. Ukuran aslinya, 276 x 200 cm.

2. Proses penjahitan dilakukan tengah malam. Semalam sebelum kemerdekaan memang banyak hal yang harus disiapkan. Tak hanya teks proklamasi saja, melainkan juga lambang negara ini. Fatmawati langsung menjahitnya setelah kedatangan Soekarno dari Rengasdengklok. Keduanya lalu mempersiapkan proklamasi yang akan dilakukan esok harinya.

3. Kain yang digunakan bukan katun, melainkan wol. Jika dilihat bendera yang umum digunakan sekarang terbuat dari bahan katun atau spandex, ternyata sejarah bendera pertama negara kita tidak begitu. Sang saka merah putih ini dijahit secara langsung dengan tangan menggunakan bahan kain wol, lebih tebal dan agak berat.

4. Bendera pertama hanya dikibarkan selama masa 32 tahun. Usia bendera ini sudah sangat lama, sama dengan perjalanan Indonesia. Hanya saja, setelah lewat 32 tahun, sang saka merah putih tidak digunakan lagi dan digantikan dengan bendera replika yang umum dijumpai sekarang.

5. Bendera asli sudah cacat karena termakan usia yang membuatnya harus disimpan. Itu karena kondisinya sudah tidak bagus lagi akibat memiliki beberapa robekan pada bagian ujung.

6. Sang saka merah putih ini termasuk lambang negara yang diatur Undang-Undang Dasar (UUD). Jika Anda membaca UUD, ada pada UU no 40 tahun 1958.

Nah, berdasarkan fakta tersebut, penting untuk mengenalkan sang saka merah putih sedini mungkin kepada keluarga kita. Khususnya, anak-anak yang masih masih kecil agar lebih mengerti lagi. Karena merah putih bukan sekadar warna saja, melainkan juga lambang bagi Indonesia sejak 1945 silam.

Bendera merah putih sekarang juga hadir dalam berbagai tampilan. Terutama hiasan-hiasan yang umum digunakan menjelang perayaan 17 Agustus.***

*        *        *
Sumber:
http://indonesia.go.id/?page_id=485&lang=id
http://www.setneg.go.id/images/stories/kepmen/uu24th2009.pdf

*        *        *
- Jakarta, 2 Desember 2016

Rabu, 30 November 2016

Yuk, Berkunjung ke Museum Astra


Museum Astra yang berada di lantai dasar Kantor Pusat PT Astra International Tbk

SEBAGAI blogger yang menyukai sejarah, hari ini saya benar-benar mendapat wawasan anyar. Sebab, untuk kali pertama saya bisa mengunjungi Museum Astra. Tepatnya, seusai menyaksikan program Astra untuk Indonesia Cerdas yang merupakan apresiasi untuk para guru dan sekolah dalam rangka Hari Guru Nasional 2016, Rabu (30/11).

Saya baru tahu, ternyata Museum Astra masih satu lokasi dengan Kantor Pusat PT Astra International Tbk, Sunter, Jakarta Utara, yang terletak di lantai dasar. Sebelumnya, ketika menghadiri Satu Indonesia Awards 2016 (27/11) saya sempat melewatinya. Namun, karena saat itu hari kerja, jadi seusai mengikuti acara, saya langsung menuju kantor.

Sementara, hari ini kebetulan saya libur. Jadi, ketika sedang memotret para guru yang baru saja menerima penghargaan dari Astra, tanpa sengaja saya memasuki ruangan yang ternyata merupakan museum. Bahkan, tidak hanya museum saja, melainkan juga ada perpustakaan dan penjualan merchandise yang dibuat pengrajin binaan Astra.

Sekilas, dari luar, terlihat Museum Astra, tidak terlalu luas. Bahkan, cenderung sempit. Namun, jika masuk ke dalamnya, pengunjung akan disuguhkan berbagai informasi menarik melalui kios-kios interaktif, ruang audio-visual, koleksi produk Astra, diorama, dan sebagainya.

Yang membuat saya kagum, ada dua koleksi legendaris dari produk Astra. Yaitu, Honda S90Z yang merupakan sepeda motor produksi pertama dari Astra pada 1971! Alias, usianya kini sudah 45 tahun. Pantas, Honda disebut sebagai sepeda motor sejuta umat, sebab diproduksi lebih awal dibanding merek lainnya.

Di tempat terpisah, berdiri gagah Toyota Kijang Pick Up generasi pertama. Untuk mobil niaga ini kebetulan saya tidak asing lagi. Sebab, saya sudah pernah melihatnya pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015. Bahkan, saat itu, saya sempat membedah luar-dalam dari Pick Up legendaris tersebut.

Ketika melangkah keluar, terdapat booth informasi sekaligus penjualan suvenir resmi Astra. Mulai dari bantal, tumbler, wayang, tas, batik, t-shirt, hingga boneka dan kerajinan tangan lainnya. Di sekelilingnya, ada berbagai miniatur produk legendaris Astra. Seperti mobil Isuzu, BMW, Daihatsu, dan Peugeot.

Oh ya, yang terakhir ini saya baru tahu, ternyata kendaraan premium asal Prancis itu masuk Grup Astra. Begitu pun dengan buldoser merek Komatsu juga masuk lini produk Astra melalui United Tractors. Juga dengan mesin foto copy merek Xerox yang di bawah Astra Graphia.

Dengan berkunjung ke Museum Astra, saya jadi tahu, ternyata perusahaan yang pada 20 Februari mendatang genap 60 tahun in memiliki tujuh sektor usaha, yaitu:

- Otomotif
- Jasa keuangan
- Alat berat & pertambangan
- Agribisnis
- Infrastruktur, logistik & lainnya
- Teknologi Informasi
- Properti

Maklum, sebagai masyarakat awam, yang saya tahu dari Astra ya otomotif saja, seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda (sepeda motor). Setelah mengunjungi Museum Astra, ternyata banyak lini usaha lainnya dari perusahaan yang didirikan William Soerjadjaja itu. Termasuk, turut membangun jalan bebas hambatan (Tol).

Setelah puas mengabadikan berbagai koleksi Astra, saya pun memasuki ruangan sebelah museum yang merupakan perpustakaan. Sama seperti museum, ruang perpustakaan ini tidak terlalu luas. Namun, memiliki koleksi buku dan majalah yang lumayan lengkap.

Sambil selonjoran karena dari pagi berdiri untuk memotret berbagai momen menarik, saya pun membaca berbagai koleksi buku yang ada di perpustakaan. Beberapa di antaranya, seperti biografi Soe Hok Gie, Mahatma Gandhi, hingga Donald Trump, yang kini terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Oh ya, sekadar informasi, menurut salah satu karyawan Astra yang sedang bertugas, perpustakaan ini buka pada Senin-Jumat mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB. Sementara, museumnya pada Senin-Jumat pada 09.00 WIB hingga 16.30 WIB.

Yang menariknya, seluruh koleksi di perpustakaan, baik itu buku, majalah, koran, hingga memoar, bisa dibaca gratis di tempat! Alias, pengunjung tidak perlu membuat kartu anggota. Jadi, tinggal memilih buku yang yang cocok, lalu mencari kursi yang empuk. Setelah itu, kita akan larut dengan barbagai bacaan edukatif dan inspiratif di Perpustakaan Astra.

Informasi Museum dan Perpustakaan

Alamat: Kantor Pusat PT Astra International Tbk, JL. Gaya Motor Raya No. 8, Sunter II – Jakarta Utara
Tiket masuk: Gratis
Waktu buka museum: Senin-Jumat, jam 09.00 - 16.30 WIB
Waktu buka perpustakaan: Senin-Jumat, jam 08.00 - 16.30 WIB
Email Corporate Communications: purel@ai.astra.co.id
Websitehttps://www.astra.co.id/Media-Room/Astra-Museum
Halaman Facebook: Semangat Astra Terpadu
Twitter@Satu_Indonesia
Instagram@Satu_Indonesia
Linkedin: PT Astra International

*        *        *
Berbagai penghargaan di salah satu ruangan museum 

*        *        *
Honda S90Z yang merupakan sepeda motor pertama Astra

*        *        *
Toyota Kijang Pick Up generasi pertama

*        *        *
Informasi tiga dimensi tentang produk Astra

*        *        *
Layar visual mengenai berbagai produk Astra

*        *        *
Prasasti Museum Astra yang diresmikan pada 26 Mei 2008

*        *        *
Booth informasi sekaligus penjualan suvenir

*        *        *
Perpustakaan yang sangat nyaman

*        *        *
Pengunjung duduk di beranda perpustakaan

*        *        *
Buku Inspirasi Astra untuk Bangsa

*        *        *
Berbagai koleksi yang sangat memanjakan pecinta sejarah

*        *        *
Koleksi Soe Hok Gie dan Mahatma Gandhi

*        *        *
Saya menikmati bacaan gratis di Perpustakaan Astra

*        *        *
Penghargaan dari Majalah Swa

*        *        *
Lemari berisi suvenir yang bisa dibeli pengunjung

*        *        *
Berbagai suvenir menarik

*        *        *
Berbagai kerajinan tangan dari yayasan binaan Astra

*        *        *
Maket gedung Astra International

*        *        *
Diorama alat berat di pertambangan

*        *        *
Diorama produk finansial dari Astra

*        *        *
Gerbang Tol Cikupa yang dibangun Astra

*        *        *
Miniatur mesin foto kopi Xerox

*        *        *
Miniatur buldoser Komatsu

*        *        *
Miniatur sedan Peugeot

*        *        *
Miniatur Daihatsu Hijet 55 Wide keluaran 1979 dengan skala model 1:5

*        *        *
Museum Astra tampak dari luar gedung

*        *        *
Artikel Grup Astra Sebelumnya:
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali
- Jakarta, 30 November 2016