TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Jumat, 20 November 2020

Orderan pada Malam yang Ganjil


Ilustrasi jalanan di ibu kota 
(Foto: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)




DINI hari itu, cuaca tampak bersahabat. Dari langit-langit sekitar perbatasan, rembulan bersinar cerah. Pun demikian dengan kelip bintang nun jauh di sana. 

Tiba-tiba, smartphone saya berbunyi. Ternyata, aplikasi ojek online (ojol) memberi tahu ada orderan masuk. Saya pun menepikan sepeda motor untuk mengetahui lokasi jemput dan tujuan.

Namun, ketika memperhatikan lebih lanjut, kening saya berkerut. Sebab, jarak antar benar-benar dekat. Tidak sampai ratusan meter. Bahkan, jalan kaki pun cukup beberapa menit!

Seketika, berbunyi alarm waspada dalam pikiran saya. Khawatir dua hal. Opik alias order fiktif atau hal tak terduga. Namun, ketika saya melihat rating dan riwayat pemesanan dari calon penumpang, sangat positif.

Maklum, biasanya opik atau tindak kejahatan, rating dan riwayat customer masih kosong. Pun demikian, ketika saya chat, normal saja. Alias, tidak ada indikator yang mencurigakan.

"Ah, saya terlalu khawatir berlebihan." Demikian, saya menepis keraguan untuk langsung menstarter sepeda motor. Namun, kekhawatiran itu wajar. Sebab, dini hari sangat rawan kejahatan bagi setiap ojol. Entah itu begal atau hipnotis. 

Pada akhirnya, customer itu real. Wanita yang sepertinya menggunakan jasa ojol menuju pasar untuk belanja atau keperluan lainnya. Usai memberikan hand sanitizer, hair cup, dan helm, saya pun menyapanya yang dibalas dengan murah senyum.

Saya (S): Dengan kak ***. Tujuan ke *** ya?

Penumpang (P): Iya bang.

S: Ok...

P: Kenapa bang, ada yang aneh?

S: Ga. He he he

P: Bingung ya, jaraknya dekat.

S: Iya, saya pikir ini opik.

P: Ga kok. Bener. Deket sih, cuma ke sana doang. He he he

S: Buset, deket amat kak. Ini mah jalan kaki juga sampe. Bahkan, merem pun bisa.

P: He he he. Biasanya, jalan kaki bang. Tapi...

S: Nah. Kalo ada kalimat bersayap pasti drama banget.

P: Gak ko. Cuma...

S: Seram ya, masih pagi? 

P: Iya, bang. Beberapa hari lalu, saya lihat sesuatu di depan...

Screenshoot




TERNYATA, ada alasan penumpang tersebut memesan ojol meski jaraknya dekat. Ya, bisa dipahami mengingat saat itu masih gelap. Saya pun kalau jalan kaki, rasanya gimana gitu.

Namun, bukan takut hantu. Sebab, makhlus halus tentu tidak akan membuat manusia celaka. Melainkan, jika ada begal atau oknum. Secara, jalanan masih sepi.

Alhamdulillah, sejak jadi ojol pada 2019 lalu, hingga kini saya belum mendapatkan hal yang aneh, seperti tindak kejahatan. Semoga saja ke depannya pun demikian.

Hanya, untuk kejadian luar biasa, bisa dibilang sudah pernah. Terutama, yang berkaitan di luar nalar.

Misalnya, merinding ketika lewat jalanan sepi di kawasan Kelapa Gading, Kapuk, Kembangan, Cakung, dan sebagainya. ***. Lalu, sepeda motor terasa berat saat melintasi area tertentu meski tidak ada penumpang. Padahal, ketika dicek, ban tidak bocor. 

Selanjutnya, ada aktivitas tidak wajar, entah ini hanya penglihatan saja atau mungkin tersugesti kabar burung yang beredar di kalangan ojol dan urban legend. 

Nah, yang paling membingungkan, justru terasa normal. Itu terjadi saat saya mengantar penumpang dari kawasan Kota, Jakarta Barat, menuju Cilandak, Jakarta Selatan. Ketika itu, masih pagi, alias sekitar pukul 19.00 WIB, bagi ukuran kalong seperti saya. 

Sepanjang jalan, tidak ada yang aneh. Penumpang pun nyata. Komunikasi lancar sepanjang perjalanan yang menempuh durasi belasan menit. 

Justru anomali terjadi tak lama usai menurunkan customer. Mengingat perjalanan cukup jauh, lebih dari 10 km, saya pun istirahat sejenak ditemani termos berisi kopi hitam yang selalu saya bawa dari rumah sambil buka-buka media sosial. Ya, siapa tahu ada info penting.

*         *         *

"PERASAAN, tadi pas lampu merah ga pernah berhenti," saya bergumam dalam hati. Sekilas, saya mengingat tidak ada keanehan meski jalanan cukup ramai tapi tidak macet karena hari biasa, bukan Senin atau Jumag yang biasanya padat.

Hanya, jadi ganjil jika menyadari saat melintasi traffic light, saya tidak merasakan lampu merah. Alias, bablas di Hayam Wuruk, Thamrin, Sudirman, Panglima Polim, hingga Fatmawati. 

Jika hanya satu, dua, tiga perempatan yang tidak terkena stop lampu merah, mungkin biasa. Namun, dari Kota hingga Cilandak, terdapat belasan persimpangan yang disertai traffic light.

Bagi saya, itu jadi sesuatu banget. Setidaknya, hingga saat ini.***


Berdasarkan kisah nyata dengan dibumbui penyedap dan editorial tanpa menguriangi substansi cerita. Namun, ini bukan fiksi.

Kamis, 12 November 2020

Kamus Besar Bahasa Ojol






OJEK online atau ojol sudah mengakar di masyarakat, khususnya kota-kota besar di Tanah Air, dalam beberapa tahun terakhir. Keberadaannya, sedikit banyak berperan dalam peningkatan perekonomian negeri ini.

Meski, tak jarang masih ada stigma negatif yang menyertainya. Apa pun itu, eksistensi ojol memang dibutuhkan dan diperlukam masyarakat. Misal, layanan antar penumpang, beli makanan, kirim barang, belanja obat, dan sebagainya.

Kebetulan, saya sudah setahun jadi ojol sejak 2019. Jadi, sedikit banyak tahu seluk-beluk dunia perojolan. Termasuk, istilah sehari-hari yang mungkin percakapan di antara kami membuat bingung customer. 

Berikut, beberapa di antaranya dalam istilah dunia perojolan yang nanti akan saya update secara berkala.


Kamus Besar Bahasa Ojol

1. Pantat: Orderan untuk mengangkut penumpang. Ride atau Bike. Istilah ini memang konotasi banget. Namun, rutin disebut dalam kalangam ojol sehari-hari.

2. Kardus: Ojol yang khusus atau spesialis ambil orderan kirim barang.

3. Opang: Ojek pangkalan tanpa aplikasi. Rekan seprofesi di jalanan yang merintis dunia ojek sejak puluhan tahun silam.

4. Opang Resto: Ojol yang spesialisasinya menunggu orderan food di resto tertentu. Contoh, Mc*, B*, Geprek, dll.

5  Zona Merah: Kawasan yang secara tidak tertulis ojol dilarang mengambil penumpang untuk menghargai keberadaan opang. Misalnya, di Stasiun, Terminal, Pusat Perbelanjaan, Komplek Perumahan, dll.

6. Kalong/Ngalong/Kalongers: Ojol yang biasa narik malam hingga subuh. 

7. Red District: Kawasan favorit bagi kalongers yang biasa ambil orderan di lokasi hiburan malam. Contoh, Mangga Besar, Kota Tua, Kemayoran, Kemang, Blok M, dll.

8. Isilop/Polkis: Polisi. Atau, merujuk pada adanya razia. Baik gabungan atau saat jaga di berbagai kawasan, misalnya Semanggi.

9. Transformers: Merujuk pada kendaraan Dinas Perhubungan. Istilah ini biasa hanya digunakan taksi online.

10. Opik: Order fiktif. Musuh bersama seluruh ojol di muka bumi. 

11. Opak: Ojol f**k. Julukan ojol yang melakukan order fiktif. Bisa untuk mengusir secara halus ojol yang datang atau sakit hati akibat di-PM.

12. PM: Putus Mitra. Ojol yang diberhentikan pekerjaannya dari aplikator akibat berbagai hal. Namun, tak jarang karena kesalahan sistem yang mendeteksi hingga merugikan ojol.

13. Vermuk: Verifikasi muka, swafoto atau selfie yang dilakukan ojol sebelum memulai rutinitas demi memastikan keaslian pengguna akun.




*         *         *


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):

Kamis, 05 November 2020

Berapa Modal Jadi Ojol?

 Berapa Modal Jadi Ojol?

Saya saat menjalankan suatu orderan ojol
(Foto: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)



JADI ojek online (ojol) harus modal? Serius...? Eittts, di kolong langit ini tiada makan siang yang gratis. 

Namun, modal yang saya maksud bukan untuk melamar jadi ojol. Secara, pengalaman saya sebagai mitra driver di salah satu aplikasi ini gratis. Melainkan, modal untuk narik sehari-hari.

Yupz! Sepanjang pengalaman saya, rata-rata per hari harus mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu. 

Itu belum termasuk dana cadangan di jok sebesar Rp 50 ribu. Gunanya, untuk jaga-jaga jika ban bocor, bensin habis, motor mogok, laper tingkat tinggi, hingga force majeur. Rp 50 ribu ini merupakan uang mati. Alias, hanya digunakan saat darurat.

Sementara, yang Rp 100 ribu terbagi dalam beberapa keperluan. Memang, setiap hari tidak harus sama. Namun, diambil rata-rata saja mengingat saya merupakan kalongers. Alias, ojok yang keluar sore hingga pagi.

Dana tersebut meliputi:

Rp 30 ribu: Bensin (2x isi)

Rp 30 ribu: Makan (malam/dini hari dan sarapan)

Rp 26 ribu: Rokok (Maaf, saya perokok aktif, tapi tidak melakukan ketika mengantar penumpang, makanan, atau saat kirim barang)

Rp 4 ribu: Kopi

Rp 10 ribu: Dana taktis (parkir, toilet SPBU, pengamen Lamer, dll)


Mungkin, banyak yang heran, mengapa pengeluaran saya setiap harinya sangat tinggi. Ya, mencapai Rp 100 ribu  Namun, itu wajar mengingat mayoritas aktivitas saya di jalanan. Alias, rumah hanya sekadar numpang tidur saja.

Pun demikian berdasarkan pengalanan rekan-rekan ojol lainnya. Bahkan, ada yang per hari mencapai Rp 200 ribu. 

Tak jarang, ada juga yang tidak lebih dari Rp 50 ribu. Ini bisa jadi, jika ojol tersebut bawa bekal dari rumah. Serta, tidak merokok yang bisa menghemat anggaran. 

Ya, rokok jadi kelemahan saya. Namun, begitulah.

Pertanyaan selanjutnya, jika pengeluaran setiap hari Rp 100 ribu, berapa pemasukan saya dari hasil ojol? Saya dan rekan-rekan ojol lainnya tentu punya jawaban berbeda tapi satu konklusi.

Sebab, sebagai ojol, penghasilan tidak tetap. Bisa hari ini Rp 100 ribu, besok Rp 300 ribu, lusa Rp 150 ribu, dan sebagainya. 

Namun, saya sendiri menargetkan, minimal bawa pulang uang Rp 100 ribu. Alias, pendapatan kotor Rp 200 ribu dikurang pengeluaran Rp 100 ribu.

Itu yang mayoritas saya hasilkan sejak pandemi ini. Beda cerita sebelum pertengahan April lalu. Dalam sehari rata-rata mencapai Rp 350 ribu (kotor). Bahkan, tak jarang tembus Rp 500 ribu. 

Maklum, ketika itu dari aplikator menyediakan bonus jika driver bisa mencapai poin tertentu. Misalnya, 30 poin maksimal bonus Rp 180 ribu.

Hanya, semua berubah sejak -negara api menyerang- pandemi. Jangankan Rp 500 ribu, per hari mencapai Rp 200 ribu pun sudah sangat alhamdulillah. Bisa dipahami mengingat pandemi ini membuat masyarakat mengurangi pengeluaran untuk bepergian naik ojol, pesan makan, atau kirim barang.

Itu mengapa saya sangat bersyukur setiap hari rata-rata bisa mendapat Rp 200 ribu. Pasalnya, banyak rekan ojol lainnya yang bahkan tidsk bisa mendapat Rp 100 ribu. Kendati, ada juga yang tetap meraup minimal Rp 500 ribu.

Serius? Ya. Banyak yang seperti itu. Biasanya, mereka ini merupakan ojol senior atau riwayatnya bagus karena tidak pilih-pilih orderan. 

Namun, untuk mendapat Ro 500 ribu per hari tidak semudah membalikkan bala-bala di penggorengan. Sebab, mereka juga sangat bekerja dengan keras dan cerdas. 

Salah satunya, dengan riwayat aktif kirim barang yang rutenya lintas provinsi alias di atas 30 km hingga sekali orderan mencapai lebih dari Rp 100 ribu. 

Kebetulan, saya pernah menyaksikan rekan yang setiap harinya ngojol dari pukul 05.00 hingga 23.59 WIB. Mereka bisa dibilang ojol rasa ekspedisi. Sebab, sejak matahari masih malu-malu hingga terbenam, sudah keliling Jabodetabek. Ya, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 

Apakah semua ojol bisa seperti itu? Tentu saja. Seperti yang diungkapkan Baron Zemo pada Captain America: Civil War, "Asal punya kesabaran dan pengalaman".


***Bersambung


Artikel Selanjutnya:

- Berapa Penghasilan Ojol per Bulan?

- Apakah Ojol Bisa Dapat Rp 500 Ribu Sehari?


- Jakarta, 4 November 2020

Ilustrasi pendapatan saya
pada 1 November lalu



*         *         *


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
Vermuk? 70% Gojekers Setuju, tapi...
Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB
Kamaratih

Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

Selasa, 29 September 2020

Pentingnya Vaksinasi di Tengah Pandemi

 Pentingnya Vaksinasi di Tengah Pandemi


Rekomendasi dari Halodoc untuk
klinik dan rumah sakit
untuk vaksinasi di Jakarta
(Foto: Halodoc.com)



PANDEMI Covid 19 atau Koronavirus yang berlangsung sejak awal tahun mengubah banyak hal di muka bumi ini. Termasuk, yang melibatkan masyarakat di Tanah Air. Untungnya, pemerintah, baik pusat maupun daerah sudah sangat tanggap untuk mengatasi dan mengantisipasi wabah ke depannya dengan bergandengan pihak swasta.

Sejak Juni lalu, Indonesia memasuki New Normal. Alias, tatanan baru bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan Covid 19. Seperti yang diungkapkan Presiden Joko Widodo terkait New Normal, agar seluruh warga bisa menjalankan aktivitas sehari-hari berdampingan dengan Koronavirus. Era ini akan berlangsung hingga ditemukan solusi atau obat untuk mengatasi Covid 19.

Meski di tengah pandemi, tentu kita tidak boleh terfokus pada Koronavirus saja. Melainkan juga, penyakit lainnya. Terutama, kini jelang musim hujan yang membuat ketahanan tubuh jadi rentan. Itu mengapa, kita, harus melakukan vaksinasi. Tujuannya, demi memperkuat sistem imun guna melawan segala jenis virus atau bakteri penyebab penyakit. 

Sebagai catatan, vaksinasi ini tidak pandang usia atau gender. Alias, setiap individu memang disarankan untuk melakukan. Baik itu anak-anak, dewasa, hingga manula. Khususnya, bagi anak dan manula yang kondisi tubuhnya tergolong rentan dibandingkan dengan orang dewasa. Alhasil, vaksin-vaksin yang umum seperti cacar air, hepatitis, flus, dan lainnya jadi rekomendasi.

Pada perkembangan zaman yang seiring dengan kemajuan teknologi, kita bisa dengan mudah mencari rumah sakit atau klinik untuk melakukan vaksinasi. Misalnya, dengan aplikasi Halodoc yang tersedia di berbagai platform smartphone. Baik itu via Google Play untuk ponsel pintar berbasis Android atau App Store. 

Halodoc merupakan startup aplikasi kesehatan. Kebetulan, saya sudah mengenalnya sejak 2018 lalu dan kian intens menggunakannya pada tahun ini. Tidak hanya terkait Koronavirus saja, melainkan juga penyakit lain. Saya biasa untuk konsultasi dengan dokter rekomendasi Halodoc secara online. Pun demikian saat mencari obat di berbagai apotek seperti yang saya dan keluarga lakukan setiap waktu.

Dengan Halodoc, kita ga perlu keluar rumah jika ingin konsultasi dengan dokter. Sebab, bisa dilakukan via chat atau video. Begitu juga untuk mendapatkan obat, cukup memesannya pada berbagai apotek ternama yang sudah bekerja sama dengan Halodoc untuk diantar langsung lewat ojek online di ibu kota dan seitarnya.

Nah, di Halodoc ini juga menyediakan rekomendasi  rumah sakit dan klinik untuk Vaksin Jakarta. Terdapat puluhan hasil yang bisa kita tuju. Misalnya, di ZAP Clinic yang menawarkan vaksinasi dengan berbagai kriteria. Mulai dari flu hingga meningitis.


Bagaimana dengan biayanya? Bagi saya pribadi, kesehatan dan keluarga merupakan yang paling utama dalam hidup. Itu berarti, tentu saya tidak terlalu mempersoalkan biaya. Toh, harganya tergolong kompetitif yang berkisar ratusan ribu. Tergantung, jenis layanan dan fasilitas yang kita tuju. 

Kebetulan, pada pandemi ini, saya belum melakukan vaksinasi. Namun, untuk antisipasi ke depan, saya sudah mencoba untuk mencari klinik atau rumah sakit yang dekat dengan rumah. Khususnya, sebagai rekomendasi jika ada di dalam keluarga atau kerabat yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun. Maklum, saat ini, selain pandemi juga memasuki musim hujan. 

Nah, anak di bawah lima tahun ini memiliki risiko tinggi terkait komplikasi serius akibat flu. Itu mengapa, vaksin flu sangat dibutuhkan untuk memberikan pertahanan dalam tubuh demi mencegah komplikasi yang tak diinginkan. Sekaligus, mengurangi penyebaran flu ke orang lain. Bisa dipahami mengingat pemberian vaksin flu terbukti mengurangi terkena penyakit flu untuk anak. Demikian berdasarkan analisis Centers for Diseases Control and Prevention (CDC).

Baik untuk anak maupun dewasa, tentu vaksinasi harus rutin dilakukan. Alias, tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, bahwa vaksinasi flu cukup sekali dalam seumur hidup. Sebab, riset National Health Service UK menyatakan, vaksinasi flu dapat bekerja optimal ketika penyakit flu berlangsung.

Itu mengapa, vaksinasi flu merupakan cara terbaik untuk mencegah penyakit flu bagi setiap orang. Terutama, warga Jakarta yang sejak pertengahan bulan sudah diguyur hujan. Selain itu, kita juga bisa melakukan pencegahan flu secara mandiri. Misal, rutin mencuci tangan dan menjaga kebersihan tubuh. Selanjutnya, mengokonsumsi makanan sehat yang mengandung vitamin C, banyak minum air putih, dan istirahat yang cukup setiap harinya.


Berbagai pilihan di menu
Halodoc terkait konsultasi dan
rekomendasi dokter


Artikel sebelumnya:
- Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini

*        *        *

- Jakarta, 29 September 2020

Rabu, 02 September 2020

Freja Suites BSD City Jawab Kebutuhan Milenial


Freja Suites merupakan cluster baru yang terletak di
pusat BSD City
(Sumber foto: FrejaSuites.com)


KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata milenial. Yaitu, orang atau generasi yang lahir pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Itu berarti, saya termasuk. Nah, pada usia produktif ini, tentu saya memiliki tiga kebutuhan utama, yaitu sandang, pangan, dan papan.

Untuk sandang dan pangan, sudah saya wujudkan dalam keseharian. Namun, tidak (tepatnya belum)  dengan papan. Sebab, saya masih tinggal bersama keluarga, tepatnya Orangtua. Wajar saja, mengingat saya masih single, alias belum berumah tangga.

Beda lagi, jika sudah menikah, tentu saya -kelak- akan menempuh hidup baru bersama istri dan anak. Untuk saat ini, masih bersama-sama keluarga. Ya, sambil berhemat ketimbang harus kost. Alhasil, uangnya ditabung demi masa depan. Salah satunya, beli rumah.

Sebagai bagian dari generasi milenial, saya punya cita-cita untuk memiliki hunian yang sesuai kebutuhan. Itu meliputi lokasi yang strategis, fasilitas lengkap, harga kompetitif, hingga kredibilitas pengembang yang terpercaya. Semua kriteria itu ada pada Bumi Serpong Damai (BSD) City.

Yupz, tinggal di kota mandiri yang terletak di barat daya ibu kota ini merupakan impian saya sejak lama. Mungkin, dari saya masih kanak-kanak hingga rekan seangkatan sudah punya banyak anak lagi. Maklum, BSD City memiliki prestise tersendiri bagi saya.

Apalagi, kini setelah saya menyimak booming-nya klaster Freja House. Berdasarkan informasi resmi di berbagai media nasional, diketahui cluster tersebut laris manis bak kacang goreng. Sebab, terjual habis hanya dua pekan sejak 30 Juli pada peluncurannya hingga 13 Agustus lalu.

Sebagai gambaran, Freja House, berukuran 4x10 meter persegi dengan dua kamar tidur yang memiliki rentang harga Rp 1-1,2 miliar. Gayung pun bersambut terkait larisnya Freja House dari Sinar Mas Land. Pemilik BSD City yang jadi salah satu unit usaha dari Sinar Mas ini pun bak menyambut bola. Bisa dipahami mengingat permintaan pasar yang diprediksi masih besar bagi kalangan milenial.

Itu mengapa, BSD City pun meluncurkan klaster Freja Suites. Yaitu, hunian yang memiliki ukuran lebih besar daripada Freja House. Ya, dari laman resminya di www.frejasuites.com, terdapat dua tipe ukuran. Luasnya, 5x10 dan 5x12 meter persegi dengan masing-masing tiga kamar tidur.

Bagi kalangan milenial atau keluarga muda, keberadaan Freja Suites jadi jawaban yang ideal. Ya, secara luas, tergolong ideal. Apalagi, mengingat lokasinya yang fenomenal karena terletak di pusat BSD City. Ya, dari klaster Freja Suites hanya selangkah menuju AEON Mal, exit Tol, dan stasiun kereta. Alhasil, BSD City-Jakarta dan sebaliknya sangat mudah diakses.

Itu yang jadi pertimbangan saya jika kelak sudah memiliki dana untuk mewujudkan cita-cita tinggal di klaster Freja Suites. Ya, seperti yang sudah saya tuliskan pada paragraf sebelumnya. Bahwa, lokasi Freja Suites sangat strategis.

Berdasarkan estimasi via peta digital, hanya berjarak 10 menit dari kawasan Pondok Indah jika ditempuh dengan kendaraan roda empat diikuti pusat bisnis Sudirman (30), dan Bandara Soekarno-Hatta (40). Atau, jika bepergian melalui angkutan umum seperti yang biasa saya lakukan, pun sangat mudah. Itu karena terdapat tiga stasiun yang berdekatan, yaitu Cisauk, Serpong, dan Rawa Buntu.

Bagaimana dengan fasilitasnya? Menurut saya, tergolong lengkap. Sebab, dekat dengan kawasan intermoda, selain stasiun juga ada bus dan pasar modern. Bahkan, untuk hiburan pun sangat melimpah. Mulai dari AEON Mall, Breeze, Q Big, hingga Indonesia Convention Exhibition (ICE) yang rutin menyelenggarakan berbagai pameran, termasuk mobil setiap tahunnya.

Nah, memiliki hunian di masa depan, tentu membuat saya harus mengingat terkait pendidikan untuk anak. Di sekitar Freja Suites ini terdapat fasilitas pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Termasuk Sinarmas World Academy (SWA), Universitas Prasetiya Mulya, International University Liaison Indonesia (IULI), dan sebagainya.

Kemudahan akses dan fasilitas yang lengkap memang jadi standardisasi Sinar Mas Land dalam setiap meluncurkan propertinya. Bisa dipahami mengingat pengalaman mereka dalam 40 tahun ini sudah mengembangkan lebih dari 50 proyek di Tanah Air. Termasuk, Freja Suites yang merupakan cluster baru dengan lokasi fenomenal di pusat BSD City ini.

Maklum, sejak dibangun pada dekade 1980-an, BSD City menjelma sebagai kota mandiri yang ideal. Keberadaannya, sukses mengurangi beban Jakarta yang kian sesak. Apalagi, mengingat lokasinya yang mudah diakses, baik kendaraan pribadi maupun umum seperti kereta api dan bus.

Ditambah dengan latar belakang Sinar Mas Land yang jadi pengembang terpercaya sejak puluhan tahun silam yang memiliki kredibilitas positif di mata calon konsumen. Termasuk, saya yang yang kian terpikat usai menyaksikan tour show unit Freja Suites di laman resmi youtube BSD City Residential.

Bagaimana tidak? Sebab, setiap sudut di Freja Suites sangat memesona. Itu karena layout ruang yang inovatif dan fully furnished! Ya, ketika kita membeli unit di Freja Suites, sudah termasuk perabotan di dalamnya. Jadi, tidak perlu mengeluarkan dana lagi.

Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan itu membuat Freja Suites benar-benar jadi hunian ideal bagi saya di masa depan. Yupz, the Truly Urban House for Millenials in the Heart of BSD City!


*         *         *
Lokasi Freja Suites di pusat kota BSD City
(Foto: www.frejasuites.com)

*         *         *
Interior Freja Suites yang sangat memesona
(Foto: www.frejasuites.com)

*         *         *
Akses mudah dan fasilitas yang lengkap jadi jawaban Sinar Mas Land terkait
kebutuhan hunian bagi kalangan milenial

*         *         *
Youtube Freja Suites

*         *         *
Artikel Terkait BSD dan Sinar Mas Land
- Sinar Mas World Academy BSD
- Berawal dari Kebaikan

*         *         *
- Jakarta, 2 September 2020