TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 20 September 2017

Tapak Tilas di Parijs van Java


Antusiasm masyarakat berfoto di landmark ikonik kawasan Braga
Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya


TEST event Asian Games 2018 untuk cabang squash resmi berakhir Sabtu (16/9). Sepekan sebelumnya, cabang panjat tebing sudah menyudahi uji coba jelang pesta olahraga antarnegara di Asia ini.

Itu setelah saya mendapat undangan dari Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) untuk meliput dua test event itu bersama rekan media liannya.  Test event panjat tebing berlangsung 6-10 September di Cikole, Lembang, (kabupaten) Bandung Barat. Sementara, test event squash dilaksanakan 9-16 September di Graha Tirta Siliwangi, (kota) Bandung.

Bagi saya, ini pengalaman perdana menyimak test event di luar Jabodetabek. Sebelumnya, test event mayoritas diselenggarakan di Jakarta dan Palembang yang jadi tuan rumah untuk Asian Games 2018.

Kebetulan saya tidak asing dengan Bandung baik itu kota atau dua kabupatennya. Secara, sempat tinggal lama di kawasan alun-alun pada pertengahan dekade 2000-an silam. Teranyar, pada September tahun lalu ketika menghadiri rekan kantor yang menikah (Artikel sebelumnya: Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta).

Bahkan, untuk test event di Cikole, lokasinya persis ketika saya mengunjungi kediaman Rahmad Darmawan pada 7 Juli 2013 (Artikel sebelumnyaRahmad Darmawan Sosok Penyayang Keluarga).

Dalam rombongan jurnalis yang meliput test event ini, dua di antaranya bersama saya sempat bermain paint-ball dengan pelatih yang akrab disapa RD tersebut (Artikel sebelumnya http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-rahmad-darmawan-rd_552999bf6ea8346521552d04).

*          *          *

MENJELANG salat Jumat, kami tiba di Bandung usai berangkat dari kantor INASGOC di Wisma Serba Guna, Senayan (Artikel sebelumnya(Galeri Foto) Test Event Asian Games 2018). Langsung, kami menuju Masjid Al-Murabbi di kawasan Setrasari sambil beristirahat sejenak.

Usai melaksanakan kewajiban tersebut, saya menikmati es cincau di halaman masjid dengan arsitektur ikonik ini. Segelas es cincau ini sungguh segar. Sebab, dipadukan dengan susu dan es krim! Seumur-umur, baru kali ini merasakan sensasi cincau hijau dengan lelehan krim.

Menurut perwakilan INASGOC yang mendampingi kami, di Bandung memang surga-nya makanan dan minuman unik nan lezat. Ternyata benar. Es cincau itu jadi awal dari wisata kuliner kami selama di Bandung.

Pasalnya, dalam tiga hari itu, tidak hentinya kami menjelajahi setiap sudut depot kuliner. Mulai dari Ma' Uneh, Ayam Goreng Brebes, Tulang Jambal, hingga Bandrek Supratman yang legendaris.

Mungkin, tanpa bermaksud hiperbola, kalau seluruhnya ditulis, tidak akan cukup berlembar-lembar halaman. Yang pasti, petualangan disela-sela test event Asian Games itu jadi bagian dari sejarah yang bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu, kelak.

Bisa dipahami mengingat saya merupakan penggemar kuliner dalam setiap perjalanan. Itu yang saya tulis di blog ini setiap kali mengunjungi daerah baru.

Mulai dari sudut sempit ibu kota, Bogor, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Malang, Banjarmasin, Makassar, Manado, Palembang, Padang, Medan, hingga Cardiff!


*          *          *  
SORE itu, langit di ibu kota Jawa Barat ini sangat cerah. Keramaian tampak di sudut jalanan dari kota yang dijuluki sebagai Paris van Java tersebut.

Secara perlahan kendaraan yang kami tumpangi membelah jalanan yang pada 62 tahun silam jadi saksi peristiwa bersejarah di kolong langit (Artikel sebelumnyaDi Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil).

Menyusuri setiap sudut kota Bandung memang mengasyikkan. Dulu, saya sering melakukannya berjalan kaki dengan sepeda motor dititipkan di Masjid Raya Bandung. Dari kawasan alun-alun itu, kami melangkah menuju tempat-tempat menarik dan sesekali eksotis.

Mulai dari Braga, Cihampelas, hingga Sukajadi. Setapak demi setapak. Sesekali setelah lelah, kami beranjak ke mal yang menyediakan layar untuk Jomblo yang ngehit berkat aksi tengil Ringgo Agus Rahman.

Jika jenuh dengan film nasional yang diserbu genre horror tapi mengumbar paha, kami mengalihkannya ke Hollywood. The Departed yang jadi remake Infernal Affairs jadi dambaan kami. Tak lupa, Casino Royals, Spider-Man 3, hingga Iron Man yang mengawali kesuksesan Marvel Cinematic Universe (MCU).

Tentu, satu dekade silam tidak seperti sekarang. Smartphone fiturnya masih terbatas. Jadi, ketika itu, kami benar-benar menikmati pemandangan Bandung yang memesona tanpa harus diganggu notifikasi di media sosial.

Hanya sekadar memotret lewat Nokia XPressMusic dan hasilnya di-save. Tanpa perlu harus diunggah ke facebook, twitter, atau instagram. Semudah itu menikmati hidup. Tidak terobsesi memikirkan like, komentar, RT, dan sebagainya.

Menjelang pergantian hari, belakang Gedung Sate jadi tempat favorit untuk nongkrong. Opsi lainnya, naik ke utara di kawasan Adipati Ukur untuk menyeruput expresso ditemani bacaan klasik (Artikel sebelumnya: http://www.kompasiana.com/roelly87/berlibur-ke-bandung-sambil-menikmati-koleksi-buku-klasik_550b40a0a33311226a2e416f).

Jika ingin mencari suasana lain, Braga jadi tempat melepas lelah sambil mendengar musik yang menghentak. Atau, jika benar-benar iseng, dengan Rocky yang seharusnya dipakai di medan terjal tapi cocok juga di jalanan yang mulus.

Tujuannya, apalagi kalau bukan mengamati perkembangan kembang yang bermekaran di Jalan ABC, Dalem Kaum, hingga Sudirman. Satu, dua, tiga, saya menghitung jari saya. Ternyata, momentum itu sudah lewat banyak tahun.

*          *          *

TIADA pesta yang tak pernah berakhir. Dari Gerbang Tol Pasteur, saya mengamati banyaknya kendaraan yang meninggalkan Bandung. Mayoritas berpelat B yang mungkin butuh hiburan.

Selepas magrib, kami pun berbaur dengan ribuan kendaraan lainnya menuju Jakarta. Yupz, selama gunung masih menjulang dan air sungai mengalir jernih, selalu tersedia kayu bakar...

*          *          *
Saya bersama rekan media dan perwakilan INASGOC untuk meliput
dua cabang yang melakukan test event Asian Games 2018

*          *          *
Suasana di depan Pasar Cermat Lembang pada dini hari WIB

*          *          *
Lorong di hotel tempat kami menginap yang sangat
memesona saking uniknya

*          *          *
Pagi yang indah ketika melongok dari kamar hotel di kawasan Lembang
dihadapkan pada suasana nan asri khas pedesaan

*          *          *
Salah satu menu favorit saya di Tulang Jambal, ayam gepuk yang superlezat

*          *          *
Wisata kuliner jelang pergantian hari di kawasan Cisangkuy

*          *          *
Bandrek dan Bajigur Supratman ini berdiri sejak 1958 di Jalan Supratman
yang kini dikelola generasi ketiga 

*          *          *
Kawasan Cicadas dengan latar panorama menyejukkan 

*          *          *
Trans Studio Bandung tampak jelas dari lantai 12 hotel di kawasan Riau 

*          *          *
Eksotisnya Taman Vanda dengan latar Museum Bank Indonesia

*          *          *
Salah satu toko perlengkapan rekreasi alam yang  ikonik di Jalan Sumatera

*          *          *
Sewindu silam, di salah satu gang di kawasan ini pernah memberi warna
hitam dan putih

*          *          *
Meski saya tidak suka ikan, tapi belum lengkap ke Bandung
kalau belum singgah ke Batagor Riri

*          *          *
Tanpa plat D, boks telepon umum ini membuat saya
berasa sedang berkeliling Cardiff dan London

*          *          *
Monumen Tank di Jalan Burangrang

*          *          *
Narsis sejenak di lantai lima Pasar Baru dengan latar Gunung Tangkuban perahu

*          *          *
Salah satu ikon menarik di Kota Kembang

*          *          *
Bandung identik dengan Maung alias 

*          *          *
Simbol Maung di pusat kota

*          *          *
Patung replika T-Rex di Taman Dinosaurus 

*          *          *
Tertibnya warga Bandung dalam berlalu-lintas di kawasan Pasteur

*          *          *
Pemandangann yang memesona dengan pengendara tertib ketika lampu lalu lintas
berwarna merah tanpa ada satu pun yang iseng berhenti di zebra cross

*          *          *

Artikel Selanjutnya
- Di Cihampelas Semua Berawal
- Suatu Ketika di Asia-Afrika
- Sulitnya Mencari Kembang Tahu di Kota Kembang

Artikel Asian Games
(Galeri Foto) Test Event Asian Games 2018
INASGOC Buka Pendaftaran Relawan untuk Asian Games 2018, Ini Persyaratannya
(Galeri Foto) Count Down Asian Games 2018 di Monas
Sisi Lain Kunjungan Jusuf Kalla ke Venue dan Wisma Atlet
GBK Bersolek Sambut Asian Games 2018
Di Balik Final Piala Presiden 2017
Sisi Lain Kemenangan Indonesia atas Thailand di Stadion Pakansari

Artikel Terkait Bandung
Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta
Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil
- Sisi Lain Rahmad Darmawan (http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-rahmad-darmawan-rd_552999bf6ea8346521552d04)
Rahmad Darmawan Sosok Penyayang Keluarga
- Berlibur ke Bandung Sambil Menikmati Koleksi Buku Klasik (http://www.kompasiana.com/roelly87/berlibur-ke-bandung-sambil-menikmati-koleksi-buku-klasik_550b40a0a33311226a2e416f)

Edisi Jalan-jalan Lainnya
Sisi Lain Perjalanan ke Millennium Stadium
(Galeri Foto) Jembatan Ampera yang Memesona
(Galeri Foto) Sahur Perdana di Malioboro
40 Tahun Museum Taman Prasasti
Menikmati 4 B Khas Manado: Bubur, Boulevard, Bibir, dan Bunaken
Ke Bromo, (Aku) kan Kembali
Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari

*          *          *
- Jakarta, 20 September 2017

Minggu, 17 September 2017

Lebih Dekat dengan Trubus.id, Wisma Hijau, dan Toko Trubus


Rekan-rekan blogger foto bersama perwakilan Trubus.id


PESATNYA perkembangan digital merambah dunia media. Saat ini, mayoritas masyarakat di Indonesia lebih menggemari membaca berita melalui online ketimbang cetak. Wajar saja mengingat versi online lebih cepat dan update ketimbang koran atau majalah.

Itu mengapa, banyak bermunculan media online dengan ciri khas tersendiri. Salah satunya, Trubus.id yang menyajikan informasi seputar gaya hidup hijau yang ramah lingkungan dan berbagai persitiwa terkait alam.

Mulai dari lingkungan, sosial, serta pemberdayaan masyarakat untuk bumi yang lebih hijau dan lestari. Trubus.id juga menyediakan berbagai kebutuhan keluarga untuk membuat lingkungan rumah dan keluarga jadi hijau dan asri.

Fakta itu yang saya rangkum ketika menghadiri diskusi bersama rekan-rekan blogger dengan awak Trubus.id di Wisma Hijau, Depok, Jumat (15/9). Kesempatan itu datang berkat informasi dari Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB).

Bisa dipahami mengingat sebelumnya, saya hanya tahu tentang Trubus dari versi cetak. Alias, Majalah Trubus yang sudah beredar di Tanah Air sejak 1969. Nah, Trubus.co.id dan Majalah Trubus sama-sama didirikan Bambang Ismawan.

Keduanya jadi bagian dari Yayasan Bina Swadaya yang mengelola Toko Trubus, Wisma Hijau, penerbitan UpdateBuku.com. Lalu, apa yang membedakan Trubus.id dengan Majalah Trubus? Maklum, Majalah Trubus dikenal sebagai media legendaris dengan pangsa 35 tahun ke atas dan gaya penulisan formal.

"Mengenai Trubus.id ini, ditujukan untuk anak muda agar melek terhadap lingkungan," tutur Direktur Utama Trubus.id Rudi H Paeru yang saat berdiskusi dengan blogger didampingi Isna Setyanova (General Manager) dan Karmin Winata (Managing Editor).

"Tujuannya, untuk lebih mengenalkan aspek lingkungan kepada generasi milenial. Tentu, kami juga selalu mengangkat tema atau isu mengenai lingkungan, alam, dan pemberdayaan masyarakat," Isna, menambahkan.

*       *       *

SEGMENTASI dalam media, terutama online sangat penting. Sebab, pada era sekarang, banyak bermunculan media-media yang mengulas beragam tema. Jika tidak memiliki ciri khas tersendiri, sudah pasti media tersebut bakal ditinggal pembaca yang sudah jadi hukum alam.

Itu mengapa, Trubus.id yang diluncurkan 14 Juli lalu bertepatan dengan HUT ke-50 Yayasan Bina Swadaya ini ingin mendekatkan kepada generasi muda. Salah satunya dengan membentuk Garuda Hijau. Yaitu, platform untuk komunitas pencinta lingkungan.

"Kami terbuka dengan masukan dari rekan-rekan blogger terkait Garuda Hijau. Nanti, platform ini bisa diisi masyarakat umum dengan tema lingkungan. Konsepnya, siap pun boleh mengirimkan artikel dengan adanya moderasi dari kami," ujar Karmin.

Bagi saya, ini menarik karena sebelumnya beberapa kali membuat artikel terkait lingkungan. Sekaligus, bisa memberi warna dalam setiap tulisan di blog.

Maklum, sebagai blogger, tulisan bertema lingkungan itu biasanya kurang seksi dibanding tema lainnya. Namun, ini jadi tantangan untuk memaksimalkan setiap ide dengan diterapkan lewat tulisan.


*       *       *

DALAM kesempatan itu, kami juga turut merasakan sensasi berkeliling Wisma Hijau dan Toko Trubus. Selain jadi kantor bagi kelompok Yayasan Bina Swadaya, beberapa areal di Wisma Hijau bisa disewa umum.

"Bisa untuk diklat, seminar, pernikahan, ulang tahun, buka puasa bersama, dan berbagai acara lainnya. Sejak 1997, beberapa areal di sini dapat digunakan untuk komersil," kata Director Wisma Hijau Emilia Tri Setyowati yang memandu kami.

Kawasan tersebut sangat nyaman untuk ditempati. Rerimbunan pepohonan bikin pengunjung serasa bukan sedang berada di Depok. Tersdia 66 kamar untuk ditempati masyarakat pada kawasan seluas 10 hektar ini.

Selain taman yang luas, terdapat gazebo yang bikin pengunjung seperti berada di kampung halaman. Apalagi, di Wisma Hijau juga terdapat trek joging dan lapangan untuk berolahraga seperti voli, bulutangkis, tenis meja, hingga basket.

Wisma Hijau terletak di Jalan Mekarsari Raya No. 15 (Jalan Raya Bogor Km. 30), Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Lokasinya sangat strategis karena diapit Jalan Raya Bogor dan Tol Jagorawi yang membuat aksesnya jadi mudah.

Untuk transportasi umum, bisa menumpang angkutan kota (angkot), bus damri, dan commuter line yang turun di Stasiun Pondok Cina.

Sekitar 300 meter ke arah utara, terdapat Toko Trubus Cimanggis. Ini merupakan Toko Trubus kedua setelah cabang Gunung Sahari, Jakarta Pusat, yang dibangun pada 1983. Selain kedua tempat itu, Toko Trubus memiliki 15 cabang lagi yang tersebar hingga Sidoarjo, Jawa Timur.

Di Toko Trubus Cimanggis menjual berbagai tanaman, benih, pupuk, pestisida, buku pertanian, dan produk herbal. Selain itu, di Toko Trubus Cimanggis ini terdapat kegiatan pengadaan dan perawatan tanaman yang mendukung suplai tanaman buah untuk Toko Trubus lainnya.

Itu sesuai tema dari Toko Trubus yang mengusung Agro Edutainment Center.

*       *       *
Dari kiri ke kanan: Isna Setyanova, Rudi H Paeru, dan Karmin Winata

*       *       *
Suasana bincang-bincang santai blogger di markas Trubus.id

*       *       *
Emilia Tri Setyowati memandu rekan blogger untuk berkeliling Wisma Hijau 

*       *       *
Setelah tahun lalu memiliki jam Matoa, saya bisa melihat langsung pohonnya

*       *       *
Aneka buah, termasuk lengkeng yang tumbuh subur di Wisma Hijau

*       *       *
Berbagai bibit tanaman yang tersedia di Wisma Hijau

*       *       *
Toko Trubus Cimanggis mengusung tema Agro Edutainment Center

*       *       *
Pernah minum Kopi Luwak? Nah, ini Luwak ada di Toko Trubus Cimanggis

*       *       *
Belanja berbagai tanaman di Toko Trubus Cimanggis

*       *       *
Di Toko Trubus Cimanggis terdapat gudang buku dan majalah Trubus

*       *       *
Kebun Trubus yang menyejukkan mata

*       *       *
Deretan Aglaonema atau Sri Rezeki yang beberapa tahun lalu harganya gila-gilaan

*       *       *
Saya mendapat pencerahan dari sistem penanaman hidroponik di Toko Trubus
Cimanggis. (Foto: www.roelly87.com/ dipotret Dewi Sulistiawaty

*       *       *
- Jakarta, 17 September 2017

Kamis, 14 September 2017

(Galeri Foto) Meriahnya Popnas XIV 2017


D'Masiv menyemangatkan peserta Popnas 2017 dengan lagu Jangan Menyerah
Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya

PEKAN Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XIV 2017 resmi dibuka, Selasa (12/9). Acara ini berlangsung di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah.

Popnas diselenggarakan pada 10 hingga 21 September mendatang. Popnas 2017 diikuti perwakilan dari 34 provinsi di Indonesia.

"Suatu kehormatan bagi Jawa Tengah menggelar Popnas 2017. Saya berharap ajang ini memunculkan bibit-bibit atlet yang memberi prestasi untuk Indonesia di masa mendatang," ujar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Pria 48 tahun ini tentu berharap Jawa Tengah keluar sebagai juara umum. Namun, Ganjar menegaskan bertanding secara sportivitas jauh lebih penting.

Terutama karena pelajar yang bertanding ini merupakan tunas di masa depan bagi olahraga Indonesia.

"Untuk kontingen Jawa Tengah, kalian harus bertanding secara sportif dengan perwakilan provinsi lainnya. Popnas 2017 ini jadi etalase bagi kalian."

Ganjar menambahkan dengan tersenyum, "Bagi kontingen provinsi lainnya, silakan menikmati pesona Jawa Tengah. Jangan lupa, usai bertanding beli oleh-oleh."

Pernyataan sama diungkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Dia berpesan agar pelajar bertanding dengan fair dan perangkat pertandingan yang meliputi wasit untuk tidak  berpihak.

Imam mengawali Popnas edisi ke-14 ini dengan memukul gong bersama Ganjar . Kolaborasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah ini yang sangat dibutuhkan untuk memajukan olahraga nasional.

Itu bagian dari wujud Kerja Nyata yang dikampanyekan Presiden Joko Widodo. Kemenpora sebagai bagian dari pemerintah pusat mengimplementasikan tekad presiden demi kemajuan olahraga di Tanah Air.

Salah satunya terkait penyelenggaraan Popnas 2017. Event ini merupakan wadah bagi pelajar di Indonesia sebagai calon atlet di masa mendatang.

“Atas nama pemerintah, kami mengucapkan selamat atas terselenggaranya Popnas 2017. Terima kasih kepada seluruh masyarakat dan pemerintah daerah Jawa Tengah. Semoga, Popnas mengantarkan pelajar sebagai atlet yang mengharumkan Indonesia,” ujar Imam.

Pria 44 tahun ini menilai Popnas sebagai fondasi penting untuk memastikan agar ke depannya, bangsa Indonesia tidak kekurangan stok atlet. Dengan Popnas ini, publik bisa mengatehui adanya potensi pelajar dari desa, kampung, atau sekolah, yang diantar jadi atlet elite.

“Popnas sangat penting karena dengan kompetisi usia dini seperti pelajar dan mahasiswa ini, ke depannya Indonesia memastikan banyak stok atlet berprestasi. Tanpa hal ini, kita akan defisit atlet. Dengan berbasis pendidikan, agar selain berprestasi di bidang olahraga juga berprestasi di bidang akademik,” Imam, menambahkan.

Popnas 2017 berlangsung di lima kota di Jawa Tengah dengan diikuti 5.567 atlet dari 34 provinsi di Indonesia dan 2.500 wasit serta juri.

Ajang ini mempertandingkan 21 cabang olahraga dengan 287 nomor pertandingan. Itu belum termasuk empat cabang olahraga ekshibisi. Secara keseluruhan, terdapat 991 medali yang terdiri dari 287 emas, 287 perak, dan 417 perunggu.

“Kepada seluruh atlet harus bertanding secara sportif dan jujur. Untuk wasit dan juri, juga tidak boleh memihak. Saya optimistis Popnas 2017 ini berlangsung sukses prestasi. Provinsi ini memiliki potensi luar biasa, terbukti Haornas (Hari Olahraga Nasional) juga digelar di Jawa Tengah,” kata Imam, optimistis.

"SEA Games 2017 Kuala Lumpur jadi pelajaran. Kita tidak boleh seperti itu. Menang atau kalah, pelajar yang merupakan harapan bangsa harus tampil penuh sportivitas," Imam, menegaskan.

Pesan D'Masiv

Pembukaan Popnas ke-14 ini dimeriahkan berbagai musisi ternama. Termasuk, D'Masiv yang membawakan lagu pendorong semangat, "Jangan Menyerah". Tidak ketinggalan, kesenian khas Jawa Tengah sebagai tuan rumah dengan tarian kolosal yang dipentaskan 300 orang.

"Pesan saya kepada adik-adik pelajar yang ikut Popnas 2017 ini, harus semangat. Menang atau kalah itu hal biasa dalam pertandingan. Yang penting, kalian harus fair," tutur vokalis D'Masiv, Rian Ekky Pradipta.

"Kami harap Popnas 2017 ini melahirkan atlet yang bisa memberikan prestasi untuk olahraga Indonesia di masa depan. Selamat bertanding untuk pelajar di Tanah Air!," Rian, menambahkan.


*         *         *
Saya di Simpang Lima Semarang

*         *         *
Penampilan atraktif D'Masiv 

*         *         *
Drumband dari Akademi Kepolisian Semarang

*         *         *
Popnas XIV 2017 ini diselenggarakan di Jawa Tengah

*         *         *
Popnas XIV 2017 diikuti 5.567 atlet dari 34 provinsi di Indonesia dan 2.500 wasit

*         *         *
Popnas XIV 2017 menyediakan 991 medali dengan 287 di antaranya emas

*         *         *
Popnas XIV 2017 mengusung tema Nyalakan Gelora Mudamu

*         *         *
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak peserta untuk beli oleh-oleh

*         *         *
Popnas XIV 2017

*         *         *
Popnas XIV 2017

*         *         *
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi

*         *         *
Memukul beduk sebagai simbolisasi pembukaan Popnas XIV 2017

*         *         *
Judika menghibur ribuan masyarakat yang memadati Simpang Lima Semarang 

*         *         *
Saya dan rekan jurnalis untuk peliputan Popnas XIV 2017

*         *         *
Artikel Terkait
Sambutan Meriah untuk Juara All England 2017
(Galeri Foto) Meriahnya Count Down Asian Games 2018 di Monas

*         *         *
Sebagian isi artikel serta foto sudah dimuat di Harian TopSkor dan www.TopSkor.id
- Jakarta, 14 September 2017