TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Kamis, 19 Juli 2018

Galeri Foto Lalu Muhammad Zohri


Lalu Muhammad Zohri mengangkat bendera Merah-Putih usai penyambutan di
Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, 17 Juli


LALU Muhammad Zohri tak kuasa menahan haru. Air mata menetes membasahi pipinya saat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memeluknya.

"Terima kasih, Zohri. Anda telah membuat bangga negeri ini," kata Imam, lirih.

Zohri yang mendengarnya menggigit bibir. Bak curah hujan dari langit, pun demikian dengan wajahnya yang penuh air mata.

"Terima kasih pak Menteri atas sambutan ini. Terima kasih kepada keluarga yang sudah hadir di sini, pak Presiden Joko Widodo, pelatih, PB PASI, pak Bob Hasan, dan rekan wartawan," Zohri, terharu dengan penyambutan di Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/7).

Selain Menpora, turut hadir dalam kesempatan ini Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Tigor Tanjung, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot Sulistiantoro Dewa Broto, Deputi I, II, III, dan IV Kemenpora, keluarga, hingga guru sekolah Zobri.

"Apa yang dilakukan Zohri ini memberi motivasi kita, bangsa Indonesia. Bahwa, kita mampu bersaing dengan negara lain," Imam, menambahkan.

Kemenpora melalui Imam memberikan apresiasi kepada Zohri sebesar Rp 250 juta dan pelatih (Rp 100 juta). Imam juga akan mendampingi Zohri yang diundang Presiden Jokowi ke Istana Negara, Rabu (18/7).

"Saya... Saya berterima kasih untuk semua," Zohri menjelaskan dengan terbata-bata saking terharu mendapat sambutan yang meriah.

"Saya tak menyangka akan seperti ini. Sama ketika pada final, saya sempat tak percaya jadi yang terbaik. Namun, setelah melihat (di scoreboard) nama saya yang pertama, saya baru yakin. Kuasa Tuhan itu tiada yang tak mungkin."

Di sisi lain, Tigor berharap apa yang diraih Zohri bisa memotivasi atlet lainnya  termasuk dari PB PASI. Bisa dipahami mengingat setelah ini sudah ditunggu Asian Games 2018 yang berlangsung mulai 18 Agustus mendatang.

"Kami optimistis dengan kans Zohri. Namun, kami juga enggan terlalu membebaninya mengingat usia masih muda. Jalan Zohri masih panjang," Tigor menjawab, diplomatis.***


*           *          *
Air mata kebahagiaan dari Lalu Muhammad Zohri

*           *          *
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memeluk Lalu Muhammad
Zohri saat penyambutan di Bandar Udara Soekarno-Hatta, kemarin

*           *          *
Lalu Muhammad Zohri menyeka air mata saat disambut Menteri Pemuda dan
Olahraga Imam Nahrawi 

*           *          *
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memakaikan jaket Asian Games
2018 kepada Lalu Muhammad Zohri

*           *          *
Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora Raden Isnanta berdialog dengan
pelatih Lalu Muhammad Zohri

*           *          *
Sekretaris Kemenpora Gatot Sulistiantoro Dewa Broto memimpin seremoni
penyambutan Lalu Muhammad Zohri bersama Deputi Pengembangan Pemuda
Asrorun Niam yang memimpin doa

*           *          *
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memberikan apresiasi kepada
Lalu Muhammad Zohri senilai Rp 250 juta

*           *          *
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
Tigor Tanjung berharap Lalu Muhammad Zohri bisa mempersembahkan
yang terbaik di Asian Games 2018

*           *          *
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi memegang medali juara Lalu
Muhammad Zohri disaksikan Kapolres Bandara Soekarno-Hatta Viktor
Togi Tambunan

*           *          *
Keterangan: Foto merupakan koleksi pribadi yang sebelumnya sudah dimuat di www.TopSkor.id
- Jakarta, 19 Juli 2018

Selasa, 17 Juli 2018

BCA Beri Bekal Dunia Perbankan kepada 30 Finalis Miss Grand Indonesia 2018


Foto bersama Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dan perwakilan BCA
dengan 30 Miss Grand Indonesia 2018 di BCA Learning Institute
(Klik untuk perbesar gambar dan geser untuk melihat foto lainnya)



SENANTIASA di Sisi Anda. Demikian slogan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang selalu terpatri di masyarakat Indonesia. Mulai dari ujung Sumatera hingga pedalaman Papua. BCA selalu melayani masyarakat lewat berbagai produknya.

Selain dari sisi finansial, BCA juga memiliki komitmen tanpa batas terhadap masyarakat. Itu melalui Program Bakti BCA yang dilakukan secara berkesinambungan lewat tiga pilar utama. Yaitu, Solusi Cerdas BCA pada bidang pendidikan, Solusi Sinergi BCA pada bidang budaya, kesehatan, olahraga, dan empati, dan Solusi Bisnis Unggul BCA.

Dari berbagai program yang diusung bank swasta terbesar di Tanah Air ini, beberapa di antaranya tidak asing bagi saya. Baik sebagai bagian dari 17,5 juta nasabah BCA di Indonesia, blogger, dan jurnalis olahraga.

Misalnya, konsistensi BCA terhadap budaya nusantara seperti batik, wayang, dan kain tenun. Juga terkait olahraga dengan BCA kerap mendukung berbagai event. Termasuk, Indonesia Open dan Liga Mahasiswa.

Teranyar, BCA turut mendukung penuh penyelenggaraan Miss Grand Indonesia 2018. Ini sebagai bagian dari komitmen bank yang pada 21 Februari lalu genap 61 tahun ini terhadap generasi muda di Tanah Air

*          *          *

"TERIMA kasih kepada 30 finalis Miss Grand Indonesia yang sudah berkunjung. Bahkan, meski masih pagi, tapi semangatnya luar biasa," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam sambutannya di BCA Learning Institute (BLI), Sentul, Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Ya, Senin (16/7) sangat istimewa bagi saya. Dini hari WIB, saya larut merayakan keberhasilan Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018. Beberapa jam berselang, jadi saksi kunjungan 30 finalis Miss Grand Indonesia ke BLI.

Alhasil, meski mata masih lima watt, tapi tetap antusias menyimak aksi mereka. Bisa dipahami mengingat keberadaan 30 finalis Miss Grand Indonesia di BLI ini sudah lewat saringan ketat. Mereka tidak hanya memiliki paras yang indah saja. Melainkan, kecerdasan di atas rata-rata.

Fakta itu yang saya dapat ketika menyaksikan diskusi mereka yang didampingi National Director Miss Grand Indonesia 2018 Dikna Faradiba dengan Jahja dan Direktur BCA Santoso. Calon Miss Grand Indonesia ini mampu berpikir kritis. Terutama terhadap perkembangan teknologi yang berkaitan dengan BCA.

Ya, jangan pernah menunggu hujan reda, kelamaan. Ketimbang menanti yang belum pasti, kenapa tidak sekalian menari di bawah badai?

Demikian kesimpulan yang saya dapat ketika mendengar dialog antara salah satu finalis Miss Grand Indonesia 2018 bersama Jahja dan Santoso. Kedua petinggi BCA menegaskan perkembangan teknologi tidak bisa dilawan. Sebaliknya, mereka memilih beradaptasi.

Misalnya terkait uang elektronik yang perkembangannya kian masif. Inovasi itu dikeluarkan beberapa perusahaan berbasis aplikasi. Alih-alih menyatakan perang, BCA justru merangkul mereka. Tepatnya dengan berkolaborasi seperti dengan perusahaan A, B, atau C.

Fakta itu yang ditegaskan Jahja dalam dialog dengan finalis Miss Grand Indonesia 2018. Menurutnya, BCA tidak pernah merasa perusahaan berbasis aplikasi atau start-up sebagai ancaman. Namun, justru BCA menjadikannya mitra. Terutama dalam bersama-sama menggeliatkan ekonomi Indonesia.

"Harapan kami, dengan kunjungan ini, generasi muda dapat mengetahui teknologi terkini di dunia perbankan yang digunakan untuk menambah kenyamanan nasabah dalam bertransaksi. Utamanya, mereka dapat menyampaikan atau sharing kembali pengalaman dari teknologi yang dicoba langsung di myBCA," Jahja, menambahkan.


*          *          *

MISS Grand Indonesia 2018 merupakan ajang kontes kecantikan yang bertujuan untuk mengubah paradigma kontes kecantikan yang ada selama ini. Yaitu, dengan semangat generasi muda untuk lebih modern, kreatif, dan berjiwa sosial.

Mengangkat tema Beauty in Diversity, Miss Grand Indonesia 2018 kali pertama diselenggarakan di Tanah Air. Kontes ini melibatkan wanita-wanita muda berkualitas terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia.

Nah, ke-30 finalis Miss Grand Indonesia ini mendapat bekal mendalam terkait dunia perbankan saat melakukan kunjungan ke BLI. Bisa dipahami mengingat pada gedung yang diresmikan sejak 23 Januari 2017 ini, di dalamnya terdapat Galeri BCA dan myBCA.

Di Galeri BCA, mereka diajak untuk mengenal sejarah BCA dari awal berdiri pada 1957 hingga sekarang. Menurut saya,  Galeri BCA seperti mini museum. Sebab, banyak koleksi bersejarah dari bank yang di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki kode BBCA. ---> Untuk artikel selanjutnya: Lebih Dekat dengan BCA Lewat Galeri BCA

Setelah puas berkeliling Galeri BCA, ke-30 finalis Miss Grand Indonesia diajak langsung untuk merasakan teknologi terkini di myBCA. Dilengkapi dengan teknologi terkini serta berlokasi di mal, myBCA dapat melayani berbagai kebutuhan perbankan individu.

Mulai dari transaksi ATM, informasi produk dan layanan, pembukaan rekening. Tahapan Xpresi, pembelian dan top up kartu Flazz, pengajuan kartu kredit, KPR, KKB, KSM, hingga layanan customer care dari Halo BCA.

"Tentu, kami senang sekali atas kunjungan yang dilaksanakan hari ini. Ke-30 finalis Miss Grand Indonesia 2018 bisa melihat sejarah BCA dari awal hingga sekarang disertai pengembangan teknologi perbankan yang kami kembangkan," ujar Jahja, semringah yang tak hentinya menerima permintaan selfie (swafoto) dari finalis Miss Grand Indonesia 2018.

Pernyataan dari alumni Universitas Indonesia (UI) ini tidak hanya menarik perhatian 30 finalis Miss Grand Indonesia 2018 saja. Melainkan, rekan media serta kami, blogger yang turut hadir. Ya, keberadaan saya bersama rekan blogger di BCA Institute Learning ini ingin mengetahui lebih dalam terkait pengembangan teknologi perbankan.

Kebetulan, saya memang menyukai sejarah dan hal berbau museum. Apalagi, saya sudah jadi nasabah BCA sejak masih kanak-kanak hingga rekan seangkatan sudah memiliki anak lagi. Jadi, ketika ada kesempatan untuk mengunjungi BLI bersama rekan blogger untuk jadi saksi agen perubahan dari finalis Miss Grand Indonesia ini, tentu sangat antusias.***


*          *          *
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja berbagi inspirasi di hadapan puluhan
finalis Miss Grand Indonesia 2018

*          *          *
Salah satu finalis Miss Grand Indonesia 2018 bertanya dengan perwakilan BCA
terkait perbankan nasional di masa depan

*          *          *
30 finalis Miss Grand Indonesia 2018 memperlihatkan kartu Flazz BCA yang
kini jadi pengganti uang fisik karena bisa digunakan sebagai alat pembayaran
seperti ke supermarket, restoran, SPBU, transportasi, hingga Tol

*          *          *
Direktur Nasional Miss Grand Indonesia Dikna Faradiba menerima penghargaan
dari BCA

*          *          *
Foto bersama yang dilakukan Jahja lewat smartphone-nya

*          *          *
Dua finalis Miss Grand Indonesia 2018 tidak mau kalah untuk melayangkan
foto bareng

*          *          *
Direktur BCA Santoso saat mendampingi 30 finalis Miss Grand Indonesi 2018
berkelilin di BCA Learning Institute

*          *          *
Salah satu finalis Miss Grand Indonesia 2018 melakukan selfie di BCA
Learning Institiute yang diresmikan 23 Januari 2017

*          *          *
Yessss suatu kehormatan bagi kami bisa ikut berdiskusi dan foto bersama
dengan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja

*          *          *

- Jakarta, 17 Juli 2018

Minggu, 15 Juli 2018

Lebih Dekat dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo: Kejarlah Bola, Kau Ku Smash!




SIANG nanti, tiga wakil Indonesia berlaga di final Thailand Open 2018. Segenap rakyat di seluruh negeri tentu menantikan yang terbaik dari Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja pada ganda campuran, Greysia Polii/Apriyani Rahayu (ganda putri), dan Tommy Sugiarto (tunggal putra).

Semoga, wakil Merah-Putih bisa meraih tiga gelar di turnamen dengan level Super 500 ini. Sekaligus melanjutkan tren positif setelah pekan lalu dengan dua gelar di Indonesia Open 2018. Pada turnamen level Super 1000 ini, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pada ganda campuran dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra).

Mengenai Kevin/Marcus, saya jadi teringat dengan beberapa koleksi foto pekan lalu. Menyaksikan Minions tampil di Blibli Indonesia Open 2018 sejak hari pertama hingga final memang tidak pernah bosan. Sebab,  mereka tidak hanya menampilkan permainan bulu tangkis saja. Melainkan, memadukannya dengan aksi teatrikal.

Termasuk saat menghadapi Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada semifinal Indonesia Open 2018 di Istora Senayan, Sabtu (7/7), seperti menonton tari balet.

Aksi keempat pemain itu, khususnya Kevin, sangat memesona. Meliuk-liuk di atas lapangan hingga berjibaku menahan bola


*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

- Jakarta, 15 Juli 2018

Rabu, 11 Juli 2018

Di Balik Misi Mulia BCA Produksi Seragam dengan Motif Tenun Ikat





ADAGIUM lawas mengatakan, ada harga tentu ada rupa. Alias, kita membayar mahal apa yang memang pantas didapatkan.

Syahdan, pada pertengahan phalguna lalu, saya sempat kaget ketika menyaksikan salah satu rekan peliput yang membeli kain seharga smartphone high-end. Secara kasat mata, kain tersebut tidak beda jauh dengan yang dijual di pasaran.

Namun, ketika diraba lebih lanjut, ternyata ada guratan yang khas. Pun dengan motif yang memesona dan coraknya yang sangat kaya.

Ketika itu iseng saya tanya, "Ka, ngapain lo beli kain yang harganya lebih dari enam digit?"

Sosok yang kini lebih sering di balik meja ketimbang lapangan menjawab, "Gw udah punya batik, songket, ulos, dan sebagainya ketika ngebolang. Mumpung ke daerah sini, ya udah sekalian beli. Ini (kain) bukan sembarangan. Handmade, ga pakai mesin."

Sebagai pria, tentu saya kurang paham busana apalagi kain. Toh, beli pakaian setahun sekali. Itu pun jelang lebaran. Ha ha ha.

Namun, melihat antusiasme rekan tersebut yang rela merogoh kocek dalam demi selembar kain, saya pun mahfum. "Namanya juga hobi," penilaian saya saat itu.

Bisa dipahami mengingat saya juga tidak ragu mengeluarkan dana setiap bulannya untuk membeli buku. Baik itu biografi atau roman sejarah. Bahkan, hingga nominal yang wah sekali pun.

*         *        *
SIANG itu, langit-langit ibu kota tampak cerah. Dari kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, saya menuju Menara BCA yang berlokasi di Jalan Mohammad Husni Thamrin, Jakarta Pusat.

Usai menukar identitas, saya menuju Kafe BCA yang terletak di lantai 20 dari salah satu gedung pencakar langit tertinggi di Tanah Air. Saat itu, sudah berkumpul rekan blogger yang akan menghadiri acara yang diselenggarakan Bank Central Asia (BCA).

Yuppiii, BCA lagi! Ya, kebetulan, sebagai blogger saya sering mengikuti acara yang diselenggarakan bank swasta terbesar di Tanah Air ini. Mulai dari olahraga seperti bulu tangkis hingga wayang.

Nah, kebetulan pada Senin (9/7) ini berkaitan dengan budaya. Tepatnya, bertema "Tenun Ikat, Indonesian Legacy into the Spotlight".

Usai mencicipi beberapa cemilan, pandangan saya tertuju pada sudut utara gedung. Tampak seorang wanita paruh baya asyik menenun. Di sebelahnya, terdapat beberapa bahan seperti benang, jarum, dan kain.

Eitsss, saya jadi ingat uang Rp 5.000 dengan gambar Pengrajin Tenun Pandai Sikek. Saya pun membuka dompet untuk menyamakan perkakas tenun tersebut.

Sayangnya, di dompet saya adanya Rp 5.000 dengan latar Gunung Bromo. Sambil mencari informasi di internet, ternyata Rp 5.000 dengan gambar penenun keluaran 2001 sudah ditarik peredarannya. Saat ini, yang beredar uang keluaran 2016.

*         *        *

"UNTUK membuat satu kain tenun ikat, makan waktu sekitar satu bulan," sang ibu tersebut menjawab pertanyaan saya.

Duh, lama juga. Pantas harganya mahal. Apalagi, dibuatnya secara manual. Saya kagum dengan keuletan pengrajin tenun ikat. Tak heran jika BCA rela menunggu lama untuk dijadikan busana seluruh karyawannya.

Yupz, dalam kesempatan itu, BCA bekerja sama dengan Ikat Indonesia untuk memproduksi seragam dengan motif tenun ikat. Hasilnya... Wow! Luar biasa keren. Sebagai orang awam, saya sangat tertarik.

Sekaligus menarik. Sebab, BCA membuktikan kepeduliannya terhadap warisan budaya bangsa. Maklum, tenun ikat merupakan karya kreatif yang dihasilkan masyarakat lewat warisan turun-temurun BCA ikut melestarikannya sebagai busana harian.

"Melalui inisiatif produksi seragam BCA bermotif tenun ikat ini, kami ingin mendorong terciptanya kebutuhan yang sifatnya massal. Sehingga, masyarakat penenun memiliki kesempatan mengembangkan dan menerima manfaat tersebut," kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam diskusi dengan blogger dan media.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Direktur BCA Lianawaty Suwono dan Vera Eve Lim, Fashion Designer dan Founder IKAT Indonesia Didiet Maulana, dan Pengamat Ekonomi Industri Kreatif Agustinus Prasetyantoko.

Kehadiran mereka sebagai nara sumber sukses menambah pengetahuan saya tentang tenun ikat. Bisa dipahami mengingat tenun ikat salah satu kekayaan industri kreatif Indonesia yang kini mulai dikembangkan secara massal. Penyebarannya meliputi Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan sebagainya.

Jahja menilai, karya kreatif itu harus diapresiasi dan dilestarikan melalui berbagai inisiatif sesuai dengan konteks saat ini. Misalanya, menggunakan motif tenun tersebut untuk fashion masa kini seperti yang sudah diterapkan BCA.

*         *        *

"KAMI bangga bisa berkolaborasi dengan BCA untuk melestarikan tenun ikat. Karya kreatif ini menjalani proses yang cukup panjang. Dari upaya mengawinkan kultur BCA dan filosofi kain tenun yang hidup dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat pengrajin tenun ikat," Didiet, menambahkan.

Pernyataan tersebut beralasan. Pasalnya, proses kreatif designer berdiskusi dengan pengrajin hingga final design memakan waktu enam bulan. Itu belum termasuk pengerjaan produksi tenun itu sendiri yang berlangsung setengah tahun.

Dari proses pengerjaan seragam ini, BCA dan IKAT Indonesia memberdayakan lebih dari 25.000 pengrajin di Desa Troso, Jepara. Total panjang kain tenun yang dibuat mencapai 45 ribu meter.

Alias kalau dihamparkan seperti dari Menara BCA ke Kebun Raya Bogor, Jawa Barat! Seragam baru korporasi dari bank yang memiliki slogan Senantiasa di Sisi Anda ini akan digunakan sekitar 27 ribu karyawan di Tanah Air.

"Model baru seragam BCA bermotif tenun ikat ini akan digunakan seluruh karyawan demi memperkuat identitas nasional BCA pada lebih dari 12.000 kantor cabang di Indonesia. Sekaligus, memberikan dukungan langsung terhadap perekonomina lokal dengan membantu masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan seperti pengrajin tenun ikat," ujar Vera, optimistis.

Ya, perusahaan yang memiliki busana dengan motif batik sudah banyak. BCA sukses mengambil langkah berbeda. Bank yang pada 21 Februari lalu genap 61 tahun ini jadi pionir dalam penerapan tenun ikat pada motif seragam korporasi .

Saya berharap, apa yang dilakukan BCA bisa diikuti perusahaan lainnya. Sebab, inisiatif menggunakan motif tenun ikat bisa mendongkrak perekonomian masyarakat di Tanah Air... Aamiin!***


*         *        *

*         *        *

*         *        *

*         *        *

*         *        *

*         *        *

*         *        *

*         *        *

*         *        *


*         *        *
Jakarta, 11 Juli 2018

Minggu, 24 Juni 2018

Naik Kapal Ferry, Aku Kan Kembali


Saya bersama ibu dan adik saat menumpang Kapal Ferry dari Pelabuhan Merak
 ke Pelabuhan Bakauheni pada 1993 silam
(Foto: Repro Dokumentasi pribasi)


SEPANJANG lebih dari seperempat abad hidup ini, saya sudah mencoba nyaris seluruh moda transportasi. Baik masal maupun private. Bahkan yang tak terjangkau sebelumnya.

Misalnya, lebih dari satu dekade silam, saya sempat menumpang tug-boat dari bumi Borneo hingga barat pulau Jawa. Ketika itu tug-boat membawa tongkang bermuatan hasil bumi yang menempuh waktu sekitar 12 hari.

Tahun lalu, saya mendapat kehormatan bisa menginjakkan kaki di kapal pesiar. Bahkan, menginap hingga dua malam di perairan Wales, Inggris, saat menyaksikan final Liga Champions 2016/17.

Pesawat? Sudah tak terhitung lagi. Sejak ke Lampung pada awal dekade 1990-an hingga terakhir dari Entikong, Kalimantan Barat, usai meninjau Pos Lintas Batas Negara (PLBN) bersama Kementerian Sekretariat Kabinet pada 25 April lalu.

Pun demikian dengan helikopter yang sudah dirasakan akhir bulan lalu. Bus antarprovinsi, kereta, hingga getek. Getek? Yupz, bisa dibilang saya sering saat menyeberangi sungai Ciliwung yang tidak jauh dari kediaman saya.

Terkait, transportasi air, kali pertama saya merasakannya pada pertengahan 1993. Tepatnya saat menumpang Kapal Ferry dari Pelabuhan Merak, Banten, ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Itu terjadi ketika saya dan keluarga mengunjungi kerabat di Metro, Lampung.

Itu jadi pengalaman satu-satunya saya naik Kapal Ferry. Pengalaman yang tak terlupakan hingga 2,5 dekade berselang. Bisa dipahami mengingat, saat itu saya masih bocah. Ketika itu, saya kali pertama merasakan berada di laut lepas.

Awalnya sempat gemeteran saat kali pertama berada di lambung kapal. Namun, setelah itu malah makin penasaran. Terlebih ketika itu saya masih bocah yang tentunya sangat antusias dengan sesuatu yang baru.

Namun, itu justru jadi sensasi tersendiri. Wajar saja karena setelah itu, saya belum pernah lagi naik Kapal Ferry. Untuk moda transportasi air mungkin sering, tapi sebatas kapal kecil. Beruntung, rasa penasaran saya bakal segera terwujudkan pada Agustus mendatang.

Tepatnya saat Asian Games 2018 yang akan saya liput nanti. Ya, Indonesia merupakan tuan rumah edisi ke-18 dari pesta olahraga antarnegara Asia ini yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang.

Nah, Kapal Ferry jadi salah satu andalan pemerintah sebagai moda transportasi selama Asian Games 2018. Bisa dipahami mengingat PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Kapal Ferry merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tentu, perusahaan yang pada 27 Maret lalu genap 45 tahun ini bakal berperan untuk mensukseskan Asian Games 2018.

Salah satunya dengan menyiapkan tiga armada bagi kontingen Asian Games 2018 yang hendak bertanding di Jakarta maupun Palembang seperti yang diungkapkan Direktur PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi kepada Antara.

Bahkan, saat ini sedang dikebut pembangunan Dermaga Eksekutif di Pelabuhan Merak-Bakauheni. Rencananya rampung pada Agustus ini untuk melayani kontingen atau suporter di Asian Games 2018 seperti dikutip dari Kompas.com.

Keberadaan Kapal Ferry ini sangat menunjang dalam perhelatan Asian Games 2018. Misalnya suporter yang ingin menyaksikan pertandingan berbagai cabang olahraga di Palembang secara rombongan. Tentu lewat jalur darat baik itu kendaraan pribadi atau bus lebih murah ketimbang pesawat udara.

Bahkan, menyeberang dari Merak ke Bakauheni atau sebaliknya hanya butuh waktu dua jam dengan Kapal Ferry. Itu belum termasuk pemandangan indah dari berbagai sisi di Selat Sunda. Termasuk berbagai pulau eksotis yang bisa menarik wisatawan dalam dan luar negeri.

Yupz, tak sabar menanti Agustus. Naik Kapal Ferry, aku kan kembali...!

*         *         *

Referensi
- https://kupang.antaranews.com/berita/6124/asdp-siapkan-kapal-feri-untuk-asian-games-2018
- https://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/28/152250826/dermaga.eksekutif.merak-bakauheni.ditargetkan.rampung.sebelum.asian.games.2018
- https://www.indonesiaferry.co.id/siaran_pers/detail_siaran/69
- https://www.kompasiana.com/roelly87/perahu-getek-transportasi-tradisional-yang-masih-bertahan_550aae7da3331151102e3928

*         *         *
- Jakarta, 24 Juni 2018