TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Google Adsense 2016

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

roelly87.com

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Kamis, 20 Juli 2017

Jadi Blogger Enak? Ini Suka dan Dukanya


Ke Eropa cuma modal nulis? Bisa, cukup jadi blogger yang aktif


JADI blogger itu enak. Bisa traveling gratis. Kerap menang lomba. Dapat ini-itu. Keliling nusantara. Bahkan, bisa jalan-jalan ke luar negeri!

DEMIKIAN, percakapan saya bersama beberapa rekan pada pertengahan bulan kesembilan penanggalan hijriah. Sambil ditemani keripik balado dan wedang jahe sebagai penghangat malam, kami asyik berbincang. Sebagai cowok, tentu mayoritas obrolan kami tidak jauh dari sepak bola, otomotif, dan... wanita!

Namun, selain tiga tema tersebut, terdapat beberapa topik lainnya yang menarik dibahas. Misalnya, rencana reuni, naik gunung, situasi politik terkini, dan terkait aktivitas masing-masing. Khususnya, berkaitan dengan saya yang saat itu belum lama balik dari Cardiff, Wales.

Tentu, mereka antusias mendengar perjalanan saya di Negeri Ratu Elisabeth. Meski, sebagian di antaranya sudah melihat aktivitas saya di media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram, serta blog ini.

Maklum, mereka penasaran dengan saya. Sebab, dengan hanya modal ngeblog, saya bisa jalan-jalan ke luar negeri. Sekaligus, ini jadi kebanggaan bagi saya bisa menularkan virus ngeblog kepada mereka. Kendati, sebagian dari mereka sudah jauh lebih akrab dengan internet ketimbang saya yang baru kenal pada 2009 silam.

Yupz, saya memang tergolong telat mengenal dunia blog karena baru jadi blogger delapan tahun silam. Bahkan, pada awal-awal ngeblog, tulisannya kalo dibaca sekarang bikin saya pribadi tersenyum. Alias, ga jelas dan ngalor-ngidul.

Hingga, titik tolak itu terjadi ketika saya gabung di blog keroyokan. Saat itu, saya belajar banyak dengan rekan-rekan blogger senior untuk melakukan reportas, opini, atau menulis fiksi. Termasuk, ketika dipercaya provider ternama di negeri ini untuk mendokumentasikan SEA Games 2011 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang.

Puncaknya, pada awal 2015 ketika saya gabung di komunitas blogger yang dikelola tiga wanita inspiratif. Sejak saat itu, ngeblog jadi lebih mengasyikkan bagi saya. Termasuk, menghidupkan blog ini yang sebelumnya lumutan karena sejak 2009 jarang di-update.

Berkah ngeblog pun menghampiri saya dalam dua tahun terakhir ini. Bagaimana tidak, saya jadi lebih intens mengikuti komunitas. Imbasnya, banyak undangan acara blogger yang menghampiri. Tak jarang, saya mendapat kehormatan sebagai pihak pertama yang jadi saksi ketika brand atau perusahaan meluncurkan produk teranyar.

Bahkan, smartphone elegan yang saya pakai ini didapat dari hasil ngeblog. Begitu juga dengan pulsa, kamera, dan berbagai gadget lainnya. Beragam penghargaan pun saya terima dari komunitas, brand, perusahaan, hingga instansi pemerintah.

Traveling? Kini, saya tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Sebab, saya hanya bawa selembar badan saja ketika mengikuti berbagai acara. Mulai dari sekitaran Jawa, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, hingga Eropa!

*        *        *

ADAGIUM lawas mengatakan, mutiara yang memesona tidak dicomot di bibir pantai. Melainkan, harus dicari hingga ke dasar samudera. Demikian, analogi saya sebagai blogger. Yupz, untuk bisa mendapat ini-itu dan lainnya memang cukup dengan modal menulis di blog. Namun, prosesnya tidak semudah membalikkan bala-bala di penggorengan.

Saya ingat, Valentino Rossi tidak akan jadi pembalap yang hebat jika hanya latihan di trek lurus. Begitu juga dengan Alessandro Del Piero ga bakal jadi legenda sepak bola jika tidak tekun berlatih sejak usia lima tahun hingga masuk akademi sepak bola.

Semua itu perlu proses. Kerja keras dibarengi dengan kerja cerdas. Demikian juga jadi blogger.

Beberapa waktu lalu, ketika senggang, saya iseng-iseng menghitung penghargaan yang saya dapat sebagai blogger ketika mengikuti lomba. Ternyata, mencapai lebih dari 30 kali! Terus terang saja, saya tidak percaya sudah menang sebanyak itu.

Namun, kalau mau jujur, usaha yang saya lakukan jauh melebihi angka tersebut. Sebab, ternyata sudah ratusan artikel yang saya ikutsertakan dalam lomba. Itu berarti, nyaris 10 kali lipat dibanding apa yang saya dapat. Ini fakta yang saya ungkap.

Yupz, ibarat gunung es, 30 kali menang lomba atau dapat dapat penghargaan hanya terlihat di puncaknya saja. Padahal, dasarnya sudah ratusan kali. Jadi, orang hanya melihat kita luarnya saja.

Misalnya, ketika mengikuti lomba yang diadakan produsen otomotif ternama di Tanah Air yang berujung terbang ke Cardiff. Juara itu merupakan yang pertama dari sekian banyak saya ikuti. Sebab, saya memulainya sejak 2012 silam yang nyaris setiap tahun setiap ada perlombaan dari mereka saya ikuti. Alias, butuh lima tahun untuk juara.

Ini yang dinamakan hasil tidak pernah mengkhianati proses.

*        *        *
BEGITU juga ketika sebagai blogger saya menghadiri suatu acara. Dicuekin penyelenggara karena mengutamakan media ketimbang blogger, kerap saya alami. Bahkan, pernah pada suatu phalguna, saya diundang ke suatu acara.

Setelah selesai, seperti biasa panitia memberikan goodybag. Nah, tiba saya, mereka menanyakan dari mana yang tentu saya jawab dari blogger. Dan, ketika goodybag-nya hampir tiba di tangan saya segera diurungkan. Katanya, itu untuk media. Padahal, dalam surat elektronik, jelas-jelas mengundang saya sebagai blogger.

Kapok? Tentu saja tidak. Seperti biasa, seusai acara, sehari atau dalam waktu berdekatan, saya langsung menulis hasil reportase di blog ini. Plus, beserta foto dan video yang lengkap disertai narasi sendiri tanpa perlu mengingat insiden memalukan tersebut.

Yupz, sebagai blogger setiap mengikuti suatu acara memang tidak wajib menuliskan reportasenya. Namun, saya pribadi membiasakan diri untuk menulis. Setelah itu, mensharenya di twitter atau instagram -saya jarang menshare artikel di facebook, karena bersifat personal- sambil me-mention brand atau pengundangnya.

Apakah artikel kita dibaca mereka atau tidak, itu urusan lain. Yang pasti, sebagai blogger, saya sudah menunaikan kewajiban. Alias, tidak hanya datang ke suatu acara untuk sekadar numpang makan.

Nah, biasanya, jika saya men-share artikel dengan me-mention mereka, sering ada respons yang positif. Biasanya, ketika mereka menyelenggarakan acara atau launching produk berikutnya, saya jadi orang pertama yang dihubungi secara eksklusif! Tak jarang, produk istimewa itu jadi buah tangan untuk saya.

Tuh kan. Kita ga boleh antipati terhadap ulat yang terlihat menggelikan. Sebab, suatu saat sang ulat itu bakal jadi kupu-kupu yang sangat memesona.


*        *        *
"JADI blogger itu enak bro. Tapi juga ga semulus paha Cherry Belle," ujar saya kepada beberapa rekan sambil menyitir pernyataan Anggun C. Sasmi ketika jadi juri di suatu acara musik pada 2013 silam.

Menjelang pukul 02.30 WIB, kami bersiap menuju bilangan Senayan untuk santap sahur dengan sate taichan. Obrolan kami berlanjut hingga azan berkumandang. Setelah Subuh, saya membuka laptop untuk menulis sesuatu di blog diiringi antusiasme mereka.

*        *        *

Artikel ini diikutsertakan dalam kegiatan One Day One Post (ODOP) Juli 2017 bersama Komunitas ISB.
- Jakarta, 20 Juli 2017

Rabu, 19 Juli 2017

Genap Setengah Abad, Dwidayatour Terus Berinovasi untuk Layani Konsumen


Vice President Commercial Dwidayatour Hendriyapto memperlihatkan
apps Dwidayatour di smartphone
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)


SETENGAH abad bukanlah waktu yang sebentar. Terutama bagi perusahaan. Tentu, pasang dan surut jadi santapan sehari-hari bagi pelaku usaha tersebut. Namun, ada dua kunci untuk bisa bertahan dari terpaan gelombang. Yaitu, konsistensi pada produk atau jasa dan inovasi.

Itu yang diterapkan Dwidayatour sejak didirikan pada 19 Juli 1967. Ya, hari ini, Rabu (19/7), perusahaan bernama lengkap PT Dwidaya World Wide ini genap 50 tahun. Saya beruntung jadi saksi dari perayaan setengah dekade Dwidaya Tour. Tepatnya, saat mengikuti Konferensi Pers ”50 Tahun Dwidayatour” di Lucy in the Sky, SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (18/7).

Yupz, di Tanah Air ini siapa yang tidak mengenal Dwidayatour? Mereka dikenal sebagai salah satu travel agent atau biro perjalanan terbesar di Indonesia. Dwidayatour memiliki lebih dari 90 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh nusantara.

Setiap tahunnya, mereka meraih banyak penghargaan bergengsi. Misalnya, Top Travel Agent dari beberapa maskapai penerbangan terkemuka di dunia seperti Singapore Airlines, Cathay Pacific, Qatar Airways, KLM Royal Dutch, Garuda Indonesia, Eva Air, Lufthansa German Airlines, dan lainnya.

Meski sudah berkembang sedemikian pesatnya dalam setengah abad ini, Dwidayatour enggan larut dalam euforia. Adagium lawas mengatakan, semakin tinggi pohon, tentu angin yang bertiup kian kencang.

Termasuk, pada sektor tour dan travel ini. Seiring perkembangan zaman yang disertai kemajuan teknologi, suatu perusahaan harus bisa mengikuti arus. Bukan hanya untuk sekadar bertahan saja, melainkan sebagai pemimpin pasar.

Itu yang dilakukan Dwidayatour yang sudah melayani masyarakat Indonesia dalam 50 tahun terakhir, terutama pada sektor pariwisata dengan layanan domestik dan internasional. Mereka membuktikan sebagai perusahaan travel terdepan, terpercaya, dan senantiasa memenuhi kebutuhan pelanggannya. Yaitu, dengan terobosan produk yang lebih kreatif dan inovatif.

Fakta itu ditegaskan Vice President Commercial Dwidayatour Hendriyapto. Di hadapan blogger dan media, dia mengatakan, "Transaksi online memang memberikan kemudahan bertransaksi. Namun, konsumen tetap membeli produk di cabang kami. Terutama produk dengan karakter high involvment yang menuntut penjelasan cukup spesifik ke konsumen. Sehingga, diperlukan tatap muka dengan frontliner di offline channel kami."

Hendriyapto membeberkan hasil survei terhadap lebih dari 1.000 responden pada awal tahun ini. Ternyata, mayoritas konsumen menginginkan multi channel. Yaitu, dengan mencari informasi di online, transaksi di offline, atau sebaliknya. Insight menarik lainnya, meski 83 persen responden mempersepsikan online lebih murah. Namun 76,2 persen di antaranya mengungkapkan masih membeli tiket dari travel agent.

Tentu, saya setuju dengan pernyataan Hendriyapto. Jika bepergian ke luar kota, utamanya lintas pulau, saya pribadi atau kantor tempat saya bekerja cenderung memesan tiket penerbangan, hotel, paket tour, bahkan visa, kepada travel agent.

Sebab, kami bisa mendapat penjelasan secara rinci. Analoginya, seperti membaca berita. Saya pribadi menyukai dengan membaca via media cetak seperti koran dan majalah ketimbang media online. Bau kertas yang khas dan sensasi membolak-balikkan halaman sulit digantikan saat membuka di media online.

Itu yang terjadi pada sektor jasa di Tanah Air. Hendriyapto mengungkapkan beberapa alasan responden masih bertransaksi di travel agent. Di antaranya, harga kompetitif, variasi produk yang lengkap, dan referensi kerabat.

Dia juga mengakui ketiga hal itu dimiliki online travel agent (OTA). Namun, komitmen untuk menjaga kredibilitas perusahaannya selama 50 tahun sehingga jadi perusahaan travel terdepan di Indonesia membuat konsumen tetap memilih untuk bertransaksi secara offline di jaringan cabang Dwidayatour.

Meski begitu, Dwidayatour tidak menutup mata dengan perkembangan segmen pasar yang lebih nyaman melakukan transaksi online. Selama 2016, Dwidayatour mencatat kenaikan transaksi di online hingga tiga digit atau 100 persen dari tahun sebelumnya.

"Dari data yang kami miliki, transaksi online lebih banyak dilakukan target dengan usia 20-30 tahun atau milenial. Ini jadi salah satu pertimbangan kami untuk terus berinovasi menawarkan produk yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. Meski, saat ini segmen pasar online belum mencapai 5 persen dari total protofolio bisnis Dwidayatour. Harapan kami tahun depan jumlahnya akan terus meningkat dengna berbagai niovasi yang kami lakukan, seperti layanan Hybrid Channel," Hendriyapto, menambahkan.

Hybridy Channel yang telah diperkenalkan Dwidayatour sejak April 2016 merupakan perpaduan layanan konsumen di semua kanal offline dan online, serta hotline 24 jam. Sistem ini mengintegrasikan produk, servis, dan teknologi, jadi salah satu competitive advanage Dwidayatour.

Tak puas hanya di situ, Dwidayatour juga telah melakukan inovasi teknologi sejak tahun lalu. Sehingga, layanan website dan mobile apps kini sudah bisa menjual apa yang ada di offline-nya. Yaitu, tiket, hotel, paket tour, dan layanan dokumen (paspor dan visa).

Dwidayatour meyakini berbagai terobosan produk dan inovasi yang terus dilakukan jadi kunci utama pendukung kinerja bisnis selama lima tahun terakhir. Meski ada perlambatan ekonomi tahun lalu, mereka masih mencatat kenaikan penjualan dua digit dengan pembukaan 10 cabang baru. Serta, transformasi besar di bidang TI melalui pengembangan kanal online, yaitu website dan aplikasi mobile.

"Tahun ini, target kami pertumbuhan penjualan mencapai 30 persen, baik di kategori ritel maupun korporasi. Dengan pergerakan ekonomi dalam negeri yang terus tumbuh dan meningkatnya kelas ekonomi menengah yang menjadikan travelling sebagai gaya hidup, serta investment grade yang baik, kami optimistis meraih target tersebut hingga akhir 2017," tutur Hendiyapto dalam sesi tanya jawab dengan blogger dan media.

Nah, untuk mencapai target itu, selain inovasi digital, Dwidayatour juga terus melakukan ekspansi jaringan offline di beberapa provinsi di Tanah Air yang dikelola sendiri tanpa melalui franchise. Sehingga, menjamin standardisasi service dan produk, serta menjaga personal relationship yang baik dengan konsumen.

Pada semester pertama 2017 ini, Dwidayatour telah membuka tiga cabang baru di luar Jakarta seperti Manado, Karawang, dan Sun Plaza Medan. Mereka dijadwalkan membuka enam cabang baru pada semester kedua ini.

Yang menarik bagi saya, Dwidayatour juga memberi apresiasi kepada konsumen dalam rangka perayaan usia emas 50 tahun. Mereka sudah menggelar Flash Sale 50 berupa program potongan harga hingga 50 persen untuk pembelian tiket pesawat, hotel, dan paket tour di semua channel Dwidayatour sepanjang Rabu tadi.

Selain itu, Dwidayatour juga melakukan  Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Itu berupa pemberian donasi dan pengumpulan buku dari seluruh karwayan Dwidayatour yang disumbangkan ke Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL) di kaki Gunung Rinjani. Donasi tersebut diterima langsung founder TBAL Vera Makki.***

Sekilas tentang Dwidayatour

Informasi
Website: https://www.dwidayatour.co.id
Facebook: https://www.facebook.com/DwidayatourId
Twitter: https://twitter.com/Dwidaya_tour
Instagram: https://www.instagram.com/dwidaya_tour

Anak Usaha Dwidayatour:- PT Dayawisata Inti Indah
- PT Diwdaya Nusantara Convex (Dwidayaconvex)
- PT Dwidaya Wisata Indonesia
- PT Nusatovel
- PT Diwdaya Forex (Dwidayaforex)
- PT Dwidaya Indoexchange (Ezytravel.co.id)
- PT Rajakamar International Group (RajaKamar)

*         *          *
Perjalanan panjang Dwidayatour sejak 19 Juli 1967

*         *          *
Dwidayatour sudah mengenalkan Hybrid Channel sejak tahun lalu
yang merupakan perpaduan offline, online, dan hotline 24 jam

*         *          *
Founder Taman Bacaan Anak Lebah Vera Makki memberi sambutan  pada
HUT ke-50 Dwidayatour

*         *          *
- Jakarta, 19 Juli 2017

Selasa, 18 Juli 2017

40 Tahun Museum Taman Prasasti


Museum Taman Prasasti
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)

TRAVELING (atau travelling, tergantung dialek dari Negeri Ratu Elizabeth atau Paman Sam) merupakan salah satu kegiatan yang paling menyenangkan bagi saya. Sejak jadi blogger, kegiatan ini rutin saya abadikan di blog. Baik blog pribadi pada www.roelly87.com atau pada akun Kompasiana.com/roelly87.

Yupz, banyak sisi lain yang menarik digali saat traveling. Entah itu dengan dana pribadi atau berkat dukungan sponsor. Itu yang saya rekam sejak aktif ngeblog. Mulai rutin dengan membuatkan halaman khusus wisata sejak jalan-jalan ke Manado. Setelah itu, Yogyakarta di sela-sela liputan kantor, Bali, Bromo, Palembang, Singapura, hingga Cardiff!

Namun, traveling itu tidak hanya tentang jarak dan waktu. Kebetulan, saya juga sering ngebolang -bocah petualangan- di kawasan yang dekat. Misalnya, Sea World Ancol, RPTRA Kalijodo, Waduk Pluit, Museum Bahari, dan sebagainya.

Banyak pelajaran yang saya petik dari traveling ke tempat yang dekat. Mulai dari pengetahuan sejarah, wawasan, hingga wisata edukasi. Salah satunya ketika saya mengunjungi Museum Taman Prasasti beberapa waktu lalu yang sempat saya tulis dalam artikel berjudul Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif.

Bagi saya, berkunjung ke Museum Taman Prasasti yang 9 Juli lalu genap 40 tahun ini sangat menyenangkan. Utamanya, karena lokasinya yang tergolong dekat, hanya seperlemparan batu dari kediaman saya. Apalagi, tiketnya murah meriah yang terjangkau bagi setiap kalangan.

Kebetulan, sejak kecil saya sudah sering mengunjunginya. Maklum, Museum Taman Prasasti bersebelahan dengan Kolam Renang Kebon Jahe yang jadi tempat berenang saya sejak masih berseragam putih-merah.

Itu mengapa, hingga kini saya menyukai traveling ke museum atau cagar budaya dan bangunan bersejarah lainnya. Terutama, Museum Taman Prasasti yang mayoritas berisi makam. Dalam keterangan resminya, terdapat lebih dari 1.000 koleksi di museum yang terletak di Jalan Tanah Abang No 1, Jakarta Pusat.

Berbagai koleksi itu meliputi prasasti, nisan, makam, hingga peti jenazah! Yupz, terdapat dua peti jenazah yang terdapat di Museum Taman Prasasti. Yaitu, peti jenazah dwitunggal proklamator Soekarno dan Moehammad Hatta. Dua jenazah itu jadi koleksi bersejarah yang tersimpan rapi di Museum Taman Prasasti. Untuk makamnya, Soekarno di Blittar dan Hatta di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Jika Anda ingin mengunjungi Museum Taman Prasasti, caranya mudah. Baik dengan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil. Atau, dengan transportasi umum seperti bus Transjakarta yang tinggal dituju dari halte Monumen Nasional (Monas) atau Commuter Line (Stasiun Gambir).

Namun, untuk lebih praktis, tinggal naik ojek online, yang turun depan museum.  Sekadar informasi, Museum Taman Prasasti buka sejak Selasa hingga Minggu pukul 09.00-15.00 WIB. Untuk Senin, memang tutup seperti halnya setiap museum di Tanah Air yang digunakan untuk perawatan.

Mengenai tiket masuk, pengunjung dewasa hanya membayar Rp 5.000, mahasiswa (Rp 3.000), dan anak-anak (Rp 2.000). Nah, apakah Anda sudah pernah atau ingin mengunjungi Museum Taman Prasasti? Silakan, berbagi pengalaman di kolom komentar di bawah ini.***

*        *        *
Museum Taman Prasasti terletak di Jalan Tanah Abang No 1, Jakarta Pusat

*        *        *
Museum Taman Prasasti diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin

*        *        *
Saya mendapat izin dari petugas museum untuk foto di atas kereta antik 

*        *        *
Museum Taman Prasasti diresmikan 9 Juli 1977

*        *        *
Salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti

*        *        *
Salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti

*        *        *
Salah satu koleksi Museum Taman Prasasti

*        *        *
Saya memotret salah satu patung di dekat makam

*        *        *
Nisan Soe Hok Gie

*        *        *
Peti jenazah Soekarno

*        *        *
Artikel ini diikutsertakan dalam kegiatan One Day One Post (ODOP) Juli 2017 bersama Komunitas ISB.
- Jakarta, 18 Juli 2017

Sabtu, 15 Juli 2017

Menanti Aksi Thor Vs Hulk dalam Thor: Ragnarok!


Ternyata Thor, Captain America, dan Black Widow, pernah
mengunjungi Indonesia!

TIDAK terasa 2017 ini sudah masuk Juli. Itu berarti, tahun ini sudah memasuki pertengahan. Yupz, kurang dari 170 hari lagi, kita akan menyambut malam pergantian tahun. Biasanya menjelang akhir tahun, kita menuliskan resolusi. Apa dan bagaimana untuk menyambut tahun berikutnya.

Oke, berhubung ini masih Juli, jadi saya menuliskannya untuk resolusi tengah tahun. Sekaligus, melanjutkan artikel sebelumnya dengan tema sama, Final Liga Champions 2016/17. Saya beruntung, impian saya untuk menyaksikan pertandingan paling bergengsi antarklub Eropa itu terwujud.

Padahal, sempat harap-harap cemas saat menuliskannya saat itu. Bahkan, ibarat dalam sepak bola, golnya baru tercipta pada injury time. Alias, kepastian ke Cardiff, Wales, Inggris, baru saya ketahui sehari sebelum berangkat! Itu terkait visa yang menyita waktu lumayan lama.

Apalagi, beberapa hari sebelumnya, terjadi insiden pengeboman di Manchester, Inggris. Makin, deg-deg plus lah saya jadinya menanti visa. Beruntung, pada akhirnya berbagai kekhawatiran itu lunas setelah saya menginjakkan kaki di Cardiff (Artikel sebelumnya: Sisi Lain Perjalanan ke Millennium Stadium).

*       *       *
APA resolusi Anda pada pertengahan tahun ini? Jawaban saya sih simpel aja. Belum ada. Itu karena saya masih harus menyelesaikan berbagai resolusi sebelumnya yang tertunda. #eaaa

Yang pasti, sebagai manusia, tentu saya ingin menjalani hidup dengan hari ini lebih baik dari kemarin. Yupz, simpel saja. Namun, untuk mewujudkannya, tidak semudah menggoreng bala-bala di penggorengan.

Di sisi lain, saya banyak memiliki keinginan pada tengah tahun ini. Salah satunya, menantikan kehadiran Thor: Ragnarok. Ini merupakan film yang saya tunggu-tunggu sepanjang 2017 ini bersama Spider-Man: Homecoming (reviewnya sudah saya buat dengan judul Film Terbaik tapi Tobey Lebih Berkesan), Logan, Jumanji: Welcome to the Jungle, dan Justice League.

Yupz, Thor: Ragnarok jadi instalmen ketujuh dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). Kebetulan, 16 film semuanya sudah saya tonton dengan 15 di antaranya di bioskop. Minus The Incredible Hulk karena saat rilis saya masih di pedalaman yang tidak memungkinkan ke kota.

Yang menarik, tujuan saya menyaksikan Thor: Ragnarok bukan terkait tokoh utama seperti Thor, Loki, atau Hela. Melainkan, karena saya menantikan kehadiran Hulk! Yupz, dalam Avengers: Age of Ultron, sang raksasa hijau ini menghilang di Pulau Banda, Indonesia.

Kebetulan, saya pernah membaca komik Planet Hulk yang bercerita tentang gladiator. Nah, pada trailernya ini, Hulk dihadapkan pada Thor! Wow... Bagaimana mungkin, sesama anggota Avengers saling hantam?

Meski, ini tidak aneh mengingat pada Marvel's The Avengers, keduanya sempat adu pukul. Hanya, saat itu, Hulk dalam kondisi tidak sadar.

Apalagi, dalam ingatan saya, sesama Avengers saling hantam bukan hal aneh. Itu bisa dilihat pada Marvel's The Avengers ketika Iron Man meladeni Thor dan Thor kontra Captain America. Sementara, di Avengers: Age of Ultron ada Hulk versus Iron Man.

Bahkan, pada Captain America: Civil War, terdapat dua kubu yang saling hantam. Antara kubu pemerintah yang dipimpin Iron Man bersama Black Widow, War Machine, Black Panther, Vision, dan Spider-Man! Di sisi lain, Captain America mengusung misi tersendiri bersama Winter Soldier, Falcon, Hawkeye, Scarlet Witch, dan Ant-Man.

Dengan fakta tersebut, wajar jika saya tak sabar menantikan aksi Thor dan Hulk. Nah, bagaimana dengan Anda? Apa resolusi film menjelang tutup tahun ini yang ingin Anda tonton?***

Artikel #ODOP Sebelumnya

#Prolog One Day One Post (ODOP): Tantangan Sekaligus Motivasi
- #1 Si Doel Anak Sekolahan, Sinetron 1990-an yang Menginspirasi
- #2 Isra Mikraj sebagai Penanda Ramadan Akan Tiba
- #Ini Rahasia untuk Ngeblog Lebih Semangat
- #Gaji Pertama dan Pesan Orangtua
- #Table Soccer Pacu Kreativitas Masa Kecil
- #6 Sebulan Jelang Ramadan Tiba
- #7 Ke Singapura, Aku Kan Kembali
- #8 Final Liga Champions 2016/17
- #9 Pengalaman Horor di Ruangan Kelas Kosong
- #10 Juara Bukan sebagai Obsesi dalam Ngeblog
- #11 Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Depan
- #12 Buffon dan Jahe Tua yang Selalu Lebih Pedas
- #13 Ini Tips Menghindari Gosip
- #14 Ini Persiapan Sambut Puasa Ramadan


Tujuh Film Terlaris Tahun Ini 
Setelah Ultron Giliran Ant-Man Beraksi
Lebih Dekat dengan Komunitas Marvel Indonesia
Age of Ultron Tembus 1 Miliar Dolar AS: Apakah Mampu Mengejar Furious 7?
Ternyata Thor Bisa Bahasa Indonesia!
Antara Hammer Girl, Palu, dan Senjata Unik Lainnya dalam Film
Mencari Hilal: Tontonan Sekaligus Tuntunan Film Berkelas
Ironi Film Indonesia: Terasing di Negeri Sendiri
Antara Guardian dan Sepinya Penonton Akibat Spiderman
*       *       *
Artikel ini diikutsertakan dalam kegiatan One Day One Post (ODOP) Juli 2017 bersama Komunitas ISB. 
Jakarta, 15 Juli 2017

Jumat, 14 Juli 2017

Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Papan nama Faber-Castell di pabrik yang terletak di Kawasan Industri
MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)

FABER-Castell merupakan produsen alat tulis terbesar dan tertua di dunia. Faber-Castell didirikan lebih dari dua abad lampau. Tepatnya, pada 1761 yang kini dikelola generasi kesembilan. Sejak saat itu, Faber-Castell berkembang jadi perusahaan penyedia peralatan sekolah dan kantor.

Termasuk, di Tanah Air yang masuk sejak 1990 dengan nama PT A.W Faber-Castell (Faber-Castell Indonesia). Saya pribadi tidak asing denga Faber-Castell. Sebab, sejak masih kanak-kanak hingga kini mayoritas rekan sebaya memiliki banyak anak, saya merupakan pengguna produknya.

Mulai dari pensil warna saat menggambar di sekolah, pensil 2B untuk ujian, sampai bolpoin yang menemani kegiatan sehari-hari saya di lapangan. Harus diakui jika di kalangan masyarakat umum termasuk saya, Faber-Castell dikenal sebagai brand premium.

Alias, harganya paling mahal ketimbang merek sejenis. Namun, seperti kata pepatah, ada harga tentu ada rupa. Alias, kita membayar apa yang memang pantas kita dapatkan.

*       *       *
PAGI itu, Selasa (11/7) matahari tampak malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Dengan mengendarai sepeda motor, saya membelah jalanan ibu kota menuju kawasan Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Palmerah Selatan, Jakarta Pusat.

Saat itu sudah berkumpul beberapa rekan kompasianer -julukan untuk penulis Kompasiana- bersama jajaran admin. Yupz, kehadiran saya di BBJ untuk mengikuti Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell Kawasan Industri MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

Ini merupakan event offline Kompasiana perdana yang saya ikuti sepanjang 2017. Kali terakhir saya hadir di acara Kompasiana saat Kompasianival 2016 pada 8 Oktober lalu yang berlangsung di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.

Itu mengapa, ketika registrasi pada 24 Juni lalu, saya menjawab alasan mengikuti Kompasiana Visit ini dengan, "Ingin mengikuti acara offline perdana Kompasiana pada 2017".

Bisa dipahami, mengingat sejak bergabung pada 2010 silam, saya kerap mengikuti acara yang diselenggarakan Kompasiana. Mulai dari Nangkring, Workshop, Blogshop, Kompasianival, hingga Visit ke berbagai pabrik.

Teranyar, pada Faber-Castell yang berbagai produknya sudah tidak asing bagi saya. Nah, di bawah ini rangkaian cerita foto terkait Kompasiana Visit dengan tema #Art4All.***

*       *       *
Kami kumpul di BBJ pada Selasa (11/7) sekitar pukul 07.00 WIB. Seperti biasa, aksi jepret-menjepret jadi ritual wajib. Baik itu selfie, wefie, atau foto berjamaah dengan spanduk Kompasiana Visit Pabrik Faber-Castell. Untuk berbagai foto lainnya, sebagian sudah saya unggah di twitter dengan tagar #FaberCastell, #Art4All, dan #KompasianaVisit.
*       *       *
Di balik suksesnya suatu acara, ada panitia yang berkerja dengan keras dan cerdas. Ini bisa dilihat dari admin dan bagian marcomm yang jemput bola mendata kami serta menyiapkan banner untuk foot bersama.
*       *       *
Menurut aplikasi google maps di ponsel saya, estimasi dari BBJ ke pabrik Faber-Castell sekitar 2,5 jam. Namun, karena padatnya jalanan seperti yang tertera pada GPS dengan warna merah menandai macet membuat kami perjalanan nyaris dua kali lipat. 
*       *       *
Saya melirik waktu di ponsel ketika sampai di pabrik Faber-Castell sekitar pukul 12.30 WIB. Meski lumayan pegal duduk terus di bus, tidak menghalangi antusiasme saya dan belasan rekan Kompasiana lainnya. Tampak, pernyataan dari PT Faber-Castell International Indonesia yang mengingatkan kepadan calon karyawan untuk melamar tidak dipungut biya. PT Faber-Castell International Indonesia merupakan bagian dari Faber-Castell Indonesia bersama PT A.W Faber-Castell (FCI) dan PT Pencil Leads Indonesia.
*       *       *
Dua tamu yang melapor ke petugas keamanan sebelum masuk pabrik. Seperti beberapa pabrik lainnya, PT Faber-Castell International Indonesia mewajibkan setiap tamu yang datang untuk lapor ke petugas keamanan demi kenyamanan bersama. 
*       *       *
PT Faber-Castell International Indonesia sangat memerhatikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi setiap karyawan. Mereka menyebar papan informasi di berbagai titik yang mudah dibaca 
*       *       *
Papan Informasi Peduli terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dipasang di samping pos security dan berbagai dinding pabrik. Termasuk, tips hidup bersih dan sehat. Sekilas, terkesan sepele, tapi ini penting bagi karyawan yang jadi ujung tombak perusahaan.
*       *       *
Saya percaya, rumah yang sehat bisa dilihat dari toiletnya yang mencerminkan penghuninya. Begitu juga dengan pabrik yang memproduksi barang bisa dilihat dari kebersihan toiletnya yang berkolerasi dengan higienis suatu produk. Itu yang saya rasakan usai turun dari bus untuk cuci muka di toilet yang terletak di lantai dua pabrik Faber-Castell.
*       *       *
Faber-Castell mewajibkan setiap karyawan untuk mengimplementasi disiplin 5R. Yaitu, ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. 
*       *       *
Nah, ini saya sedang memandu rekan-rekan Kompasianer di pabrik Faber-Castell! Upz, ini hanya foto narsis ketika berbincang dengan karyawan Faber-Castell terkait sejarah pabrik di Cibitung yang sudah beroperasi sejak 2003 silam. Ujung-ujungnya, ya saya minta difoto dengan latar belakang pabrik! He he he
*       *       *
Implementasi disiplin 5R terlihat nyata ketika kami bersama perwakilan Faber-Castell melihat langsung proses produksi Connector Pen. Demi keamanan dan keselamatan, baik karyawan maupun tamu diingatkan untuk tidak melewati garis kuning. Sementara, tanda garis merah menunjukkan wilayah terbatas seperti panel listrik dan sebagainya yang hanya boleh ditujukan untuk karyawan atau petugas khusus.
*       *       *
Di pabrik Faber-Castell Cibitung ini memproduksi Connector Pen. Selain di Cibitung, Faber-Castell juga memiliki pabrik lainnya di Bekasi untuk memproduksi pensil.
*       *       *
Rekan-rekan Kompasianer antusias menjelaskan proses produksi Connector Pen dari Factory Manager Faber-Castell Mulyadi Gunawan. Saya baru tahu di balik mahalnya setiap produk Faber-Castell ternyata karena bahan yang digunakan memang eksklusif. Misalnya, untuk pensil, mereka mendapat pemasok dari produsen kayu yang sudah memiliki sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC).  Setiap pabrik Faber-Castell diuji dengan ISO 9000 yang memiliki standar internasional.
*       *       *
Proses dari hulu ke hilir produk Faber-Castell. Di pabrik Cibitung, menggunakan tinta yang sesuai standar internasional EN71 (non-toxic). Itu mengapa setiap produk Faber-Castell bebas zat berbahaya yang ramah untuk anak. Bahkan, jika tintanya tertelan tanpa sengaja tetap aman. 
*       *       *
Suasana pengepakan Connector Pen yang dilakukan karyawan. Di pabrik Cibitung ini sangat memerhatikan lingkungan. Limbah warna dari Connector Pen dimurnikan lagi sebelum dibuang. Mesin-msinnya juga elektrik yang sesuai standar ISO 9000 dan 14000 yang ramah bagi lingkungan.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim menjelaskan sejarah panjang Faber-Castell sejak didirikan sejak 1761. Meski kini memasuki era digital, Halim membeberkan fakta, penjualan Faber-Castell terus naik. Maklum, berbagai produk Faber-Castell tetap dipakai setiap hari untuk sekolah atau perkantoran.
*       *       *
Publik Relations Manager Faber-Castle Andri Kurniawan menjelaskan kepada kami maksud dari kampanye #Art4All. Menurut sosok yang sudah jadi Kompasianer sejak 2012 ini, Faber-Castell kerap mengadakan lomba menulis, menggambar, dan workshop untuk anak-anak. Bahkan, hadiahnya tidak tanggung-tanggung, diterbangkan langsung ke Jerman! Beberapa karya lomba juga dibuatkan jadi buku.
*       *       *
Saat sesi tanya jawab, rekan Kompasianer Gaper Fadli melemparkan pertanyaan mengenai berbagai produk Faber-Castell di Tanah Air. Termasuk, pada era digitalisasi sekarang yang ternyata malah tidak berpengaruh pada penjualan Faber-Castle. Bagaimanapun, digital tidak bisa memberi pengalaman yang alami seperti halnya dalam menulis atau menggambar. Apalagi, dunia pendidikan masih menggunakan alat tulis manual.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim mencontohkan berbagai craft unik yang disusun dari connector pen. Ini yang membuat saya antusias mengumpulkan sisa-sisa connector pen supaya bisa dibikin mobil balap, dinosaurus, hingga Candi Bajang seperti dalam properti di pabrik Faber-Castell.
*       *       *
Ada kekhawatiran terkait tinta warna Faber-Castell. Maklum, di rumah saya memiliki adik yang masih SD yang hobi menggambar. Namun, Presiden Direktur Faber-Castell Yandramin Halim menjelaskan tinta tersebut aman. Bahkan, untuk membuktikannya, dia meminumnya di hadapan media. Yupz, tinta Faber-Castell tidak mengandung toxic yang penggunaannya aman untuk anak-anak.
*       *       *
Yang mengasyikkan, Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castel di Cibitung ini juga turut membawa kami nostalgia! Yupz, itu yang diperlihatkan Rizal, dari Faber-Castell yang mengajarkan kami menggambar cepat dengan berbagai pola. 
*       *       *
Rekan Kompasianer Yayat Daffana mewarnai kumbang dengan berbagai teknik paterning (pola). Beberapa di antaranya yang saya save dalam memori pikiran saya seperti teknik benang kusut (squiggling). Yupz, bagi saya menggambar itu menyenangkan. Bagaimana hasilnya itu urusan lain, yang terpenting proses mewarnainya bikin seru.
*       *       *
Perwakilan Kompasiana memberikan plakat penghargaan kepada Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim atas kerja samanya. Semoga jika ada Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell lainnya, saya kembali ikut. Bagi saya, kehadiran di pabrik Cibitung bukan sebagai wisata edukasi saja, melainkan turut bernostalgia dengan perangkat alat tulis dan gambar yang saat kecil rutin digunakan.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim memberikan suvenir kepada perwakilan Kompasiana. Yaitu, buku sejarah panjang Faber-Castell edisi terbatas yang dicetak secara eksklusif. Ya, dalam 10 atau 20 tahun mendatang, kunjungan saya ke pabrik Faber-Castell di Cibitung juga bakal jadi sejarah tersendiri yang bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu kelak.
*       *       *
Puncak acara dengan foto bersama Kompasianer dengan perwakilan Faber-Castell. Terima kasih untuk Kompasiana yang telah memfasilitasi kami untuk hadir ke pabrik Faber-Castell di Cibitung. 
*       *       *
Foto bersama (lagi) Kompasianer dengan perwakilan Faber-Castell di depan pabrik dengan latar tulisan dan logo Faber-Castell yang ikonik. Oh ya, logo ini merupa dua ksatria yang sedang menunggang kuda sedang bertarung pada era renaissance. Dalam informasi yang saya dapat, logo ini merupakan inspirasi dari Count Alexander zu Castell-Ruderhausen, dengan mengandung arti bahwa kualitas terbaik Faber-Castell dapat mengalahkan semua kompetitor dan pendatang baru. 
*       *       *
Tiada perjamuan yang tak berakhir. Setelah puas berkeliling pabrik Faber-Castell di Cibitung yang dilanjutkan praktek menggambar, akhirnya kami harus kembali ke kediaman masing-masing. Tapi, saya percaya, selama rumput masih menghijau, masih ada pakan untuk kuda itu berlari kencang. Yupz, semoga di lain kesempatan bisa kembali mengikuti Kompasiana Visit bersama Faber-Castell!
*       *       *
Seluruh Foto merupakan Dokumentasi Pribadi
- Jakarta, 14 Juli 2017