TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: September 2019

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 30 September 2019

Microsoft Office dan Pentingnya yang Orisinal





ADAGIUM lawas mengatakan, ada harga, tentu ada rupa. Alias, kita membayar sesuatu dengan lebih karena memang pantas didapatkan. Demikian fakta yang tersaji dalam keseharian. Salah satunya yang berkaitan dengan profesi saya meliputi Personal Computer (PC) atau laptop beserta dalamannya.

Dulu
, ketika awal-awal kenal komputer, saya tidak terlalu memperhatikan apakah itu asli atau tidak. Yang penting pakai. Dalam benak saya ketika itu, "Kalau ada bajakan yang lebih murah, kenapa harus asli untuk bayar mahal?"

Apalagi, ketika itu masih masa transisi. Alias, hobi mengoprek sesuatu. Beli barang kosong, terus dirakit jadi isi. Kebetulan, lokasi kediaman saya dekat dengan pusat penjualan komputer yang saat itu mayoritas tidak resmi. Tentu, bukan soal bajakan saja, melainkan non-resmi alias tanpa lisensi atau Black Market.

Namun, seiring waktu, saya jadi paham. Kenapa yang orisinal harganya selalu lebih mahal. Sebab, produsen membuatnya dengan biaya riset, pemasaran, hingga pajak. Sementara, bajakan, oknumnya tidak mengeluarkan biaya. Hanya menggandakan saja.

Tak heran jika negara pun merugi akibatnya. Salah satunya dalam kehidupan sehari-hari seperti Microsoft Office. Dari zaman saya kecil hingga rekan seangkatan sudah punya anak kecil lagi, software ini yang paling banyak digunakan umat manusia di kolong langit. Biasanya, jika kita membeli PC atau laptop, aplikasi ini satu paket dalam sistem operasi Microsoft Windows.

Untuk harga, seperti yang sudah saya utarakan. Sejatinya tidak bisa dibilang mahal. Itu karena di dalamnya terdapat berbagai aplikasi yang mendukung keseharian. Misalnya, dalam tempat saya bekerja, Word untuk menulis laporan atau reportase, Excel (rekapitulasi data), Powerpoint (persentasi), dan sebagainya.

Bagi saya
, menggunakan perangkat yang di dalamnya sudah dibenamkan aplikasi dari Microsoft seperti Office ini memberi keamanan dan kenyamanan. Pasalnya, terdapat lalu lintas data dalam keseharian. Terlebih, ada kebanggaan tersendiri karena secara tidak langsung mendukung program pemerintah untuk memerangi pembajakan.

Wawasan saya tentang orisinalitas kian bertambah setelah mengikuti Microsoft Blogger Gathering yang berlangsung di HiveWorks, Jakarta Pusat, Jumat (27/9). Dalam acara bertema Supercharger Productivity with Modern PC terdapat diskusi antara perwakilan Microsoft dengan blogger serta media terkait Office dan modern PC.

Itu meliputi Channel Marketing Lead Microsoft Indonesia Indra Raharjo
, Consumer Master Trainer Microsoft Indonesia Hadi Gunawan, dan Product Marketing Synnex Metrodata Christianto Rasli.

"Harapan kami, dalam kegiatan ini untuk bisa lebih dalam memperkenalkan Modern PC kepada blogger dan jurnalis. Agar, kita semua bisa mengetahui perangkat yang cocok untuk menunjang pekerjaanse hari-hari dan kegunaan dari Microsoft Office," kata Indra dalam sambutannya yang memberi pengalaman lebih terkait Microsoft Office 365 dan Microsoft Office 2019.

Pernyataan tersebut beralasan
. Perkembangan teknologi komputer yang bergerak cepat memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk dapat bekerja kapan pun dan di mana saja. Itu mengapa, guna menjawab tantangan pekerjaan yang dituntut semakin cepat, tentu dibutuhkan perangkat pendukung yang cerdas.

Jajaran PC modern yang keluar pada 2019 ini hadir dengan membawa peningkatan kinerja yang signifikan. Desainnya yang ringkas dan ringan juga memberikan kemudahan bagi pengguna untuk tetap dapat produktif saat mobile.

Selain PC modern yang kian canggih
, dukungan software terkini untuk membantu penggunanya agar terusdapat bersaing pada era digital ini juga diperlukan.

Nah
, sebagai perusahaan software berskala global, Microsoft terus mengembangkan produk-produk inovatif yang relevan dan tepat guna bagi para pengguna. Salah satunya, Office yang tidak hanya menunjang kebutuhan bisnis korporasi, tapi juga pekerja lepas dan pekerja kreatif yang butuh solusi software dokumen yang canggih dan mudah digunakan.

Termasuk Microsoft 365 yang merupakan layanan One Drive dengan penyimpanan cloud 1 terabyte yang bisa diakses melalui berbagai perangkat dan sistem operasi. Alhasil, kita tidak perlu menyimpannya dalam memori internal.

"Kehidupan saat ini berkaitan erat dengan penggunaan modern pc
. Sebab, sekarang ini orang bisa bekerja kapan pun dan di mana saja. Alias, tidak harus ke kantor, tapi juga bisa di rumah atau tempat tertentu," Hadi, menambahkan.

Faktanya, Modern PC memang sangat mendukung efisiensi dan produktivitas sehari-hari. Misalnya, bagi pekerja kreatif yang bisa berkarya pada tempat tak terbatas serta perangkat apa pun. Ini yang mungkin tidak atau tepatnya belum saya lakukan satu dekade lalu. Pasalnya, saat itu teknologi masih terbatas.

Ya, pesatnya perkembangan teknologi membuat kita harus menyesuaikan diri. Jika tidak, bakal tertinggal. Salah satunya terkait penyimpanan data yang biasa menggunakan Hard Disk (HDD) yang kini sudah lebih mudah dengan Solid State Disk (SSD). 

Sekilas, tidak ada perbedaan fisik yang signifikan. Namun, dalam penggunaan, SSD lebih cepat beberapa detik ketimbang HDD. Dalam pekerjaan sehari-hari, sudah pasti perbedaan sepersekian detik sangat memengaruhi kinerja.

*          *         *

*          *         *

*          *         *

*          *         *

*          *         **          *         *

- Jakarta, 30 September 2019

Sabtu, 28 September 2019

Tapak Tilas di Pelabuhan Sunda Kelapa





JELAJAH wisata ke Pelabuhan Sunda Kelapa? Wow... Mau banget! Sebagai blogger yang belajar ngeblog sejak lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada 2008 silam, saya sudah sering mengunjungi berbagai kawasan wisata. 

Baik dengan komunitas dan brand. Mulai dari pantai, laut, seberang pulau, pegunungan, negara tetangga, bahkan hingga ke negerinya Gareth Bale. Namun, untuk kawasan Kota Tua yang meliputi Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari, justru belum pernah. Paling banter sendirian saat ngebolang atau ketika mendampingi kawan untuk hunting foto.

Itu mengapa, ketika founder Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur) Ani Berta mengajak untuk trip Pelabuhan Sunda Kelapa, pada dua pekan lalu, tanpa berpikir sedetik pun, saya langsung mengiyakan
. Kebetulan, saya sudah tiga tahun gabung dengan komunitas yang didirikan pada 17 Mei 2016 tersebut, tepatnya sembilan hari sebelumnya, Kamis (26/5).

Meski tidak rutin, saya juga kerap mengikuti berbagai rangkaian dan program dari Komunitas ISB
. Baik offline maupun online. Yupz, sebagai blogger, gabung ke komunitas itu tidak hanya menambah wawasan baru saja, melainkan memperluas pertemanan, relasi, ilmu, dan sebagainya.


*         *         *
PAGI itu, matahari bersinar malu-malu. Alarm di telepon seluler saya berbunyi pada pukul 06.30 WIB. Saya pun bersiap menuju kawasan utara ibu kota. Kendati, saat melirik cermin sempat ada mata panda akibat kurang tidur. Sebab, sebelumnya begadang hingga dini hari untuk nobar Emyu dan pertandingan Seri A yang melibatkan FC Internazionale.

Namun, rasa kantuk tersebut hilang setelah saya menatap alarm yang menandakan harus segera pergi untuk mengikuti ISB Trip dengan titik kumpul di Kafe Acaraki, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Kamis (26/9). Kebetulan, lokasinya hanya seperminuman teh dari kediaman saya.

Ketika tiba, terdapat belasan rekan blogger, mimin ISB, dan Ira Lathief (Creative Traveler dan Founder Wisata Jakarta). Rangkaian acaranya meliputi jelajah Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Bahari, dan diakhiri dengan bikin jamu di Acaraki.

Untuk jelajah di beberapa lokasi tersebut, sebenarnya tidak asing bagi saya. Pasalnya, sejak dulu, saya sudah melakukannya. Baik itu pagi, siang, sore, hingga wisata malam. Beberapa di antaranya pernah saya tulis di blog dan Kompasiana. Namun, terbatas sendiri atau ketika bersama kawan.

Sementara, dengan rombongan, baru kali ini yang untungnya difasilitasi Komunitas ISB. Nah,  mengingat lokasi awalnya pelabuhan, tentu harus bersahabat dengan debu. Itu mengapa, saya membekalinya dengan Masker Nexcare yang lapisannya tidak bisa ditembus debu. Alhasil, saya dan rekan-rekan bisa bebas berkeliling tanpa takut debu.

Selain debu, kawasan dekat laut identik dengan panas. Untungnya ada Aqua yang menemani sepanjang perjalanan. Yupz, ISB Trip ini didukung Danone Indonesia, Nescare Indonesia, Acaraki Kafe.

Sebagai catatan, ini kali perdana Komunitas ISB menyelenggarakan wisata sejarah ke kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Menurut Ani, ke depannya sudah menunggu berbagai trip lainnya terkait wisata dengan tema sejarah, budaya, lingkungan dan lainnya.

"Next, ke Kepulauan Seribu," ujar Ani memberi bocoran yang disambut antusias saya dan belasan rekan blogger lainnya.

"Trip ini sebagai bagian dari program Komunitas ISB dengan kegiatan offline yang menghadirkan narasumber kompeten. Baik bidang fotografi, menulis, editing video dan lainnya. Sekaligus, kopdar (kopi darat) dengan sesama anggota komunitas dengan mengunjungi tempat bersejarah."

Pernyataan wanita yang akrab disapa Teh Ani ini beralasan. Itu karena ISB Trip ke Pelabuhan Sunda Kelapa tidak hanya sekadar jalan-jalan biasa saja. Melainkan, diisi dengan kegiatan membuat konten, baik itu berupa foto dan video yang nantinya diaplikasikan dengan blog agar kian menarik.

Apalagi, kami mendapat wawasan baru dari Ira terkait sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Bahari, dan kawasan Kota Tua. Termasuk, terkait keberadaan titik nol Jakarta pada zaman dulu dan riwayat dari berbagai bangunan di lokasi tersebut.

"Berbagai perahu yang ada di sini asli. Digunakan untuk pelayaran, angkut barang ke seluruh penjuru nusantara. Apalagi, dulu sebelum abad 21, ini jadi pelabuhan terbesar di Asia Tenggara. Setiap perahu yang menuju barat atau timur, pasti singgah. Meski kini posisinya digantikan Tanjung Priok (Jakarta) dan Tanjung Perak (Surabaya), tapi Sunda Kelapa tetap memegang peranan penting dalam pelayaran di Tanah Air," Ira menjelaskan.

Ya, jangan pernah melupakan sejarah. Selain untuk hunting foto, keberadaan kami di Pelabuhan Sunda Kelapa juga terkait menelusuri jejak masa silam. Bisa dipahami mengingat sejak dulu kita dijuluki sebagai bangsa maritim karena nenek moyang merupakan pelaut ulung.

*         *         *

USAI menjelajah di Pelabuhan Sunda Kelapa, naik ratusan anak tangga di Menara Syahbandar, hingga keliling Museum Bahari, termasuk marasakan harumnya rempah-rempah yang jadi komoditas tinggi pada zaman dulu, kami pun kembali ke Acaraki .

Bikin jamu? Wow... Ini sesuatu banget! Saya sering belajar meracik kopi, teh, atau minuman lainnya. Namun, baru kali ini bisa melihat produksi jamu yang dikenal memiliki khasiat untuk kesehatan.

Ternyata, saya baru tahu perangkat untuk membuatnya tidak jauh beda dengan kopi. Hanya, bahan-bahannya memang lebih rumit. Misalnya, beras kencur dan kunyit asam yang sudah lama tidak saya dengar. Sebab, kali terakhir minum jamu pada belasan tahun silam. Itu pun ketika sakit, masuk angin.

Uniknya Acaraki, memposisikan sebagai minuman kekinian dengan bahan dasar rempah untuk jamu yang dipadukan dengan es, krim, gula, dan sebagainya. Salah satunya, Bareskrim yang memiliki nama unik. Yaitu, jamu beras kencur di-blend dengan es krim. Rasanya? Wow Sensasional banget!



*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

Artikel Terkait
Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari
Tapak Tilas Museum Bahari

Intip Sejarah Nusantara di Museum Bahari
Mengarungi Dunia lewat Museum Bahari
Jalesveva Jayamahe: Di Lautan Kita (Pernah) Jaya
Titik Nol di Menara Syahbandar
- Melongok Kehidupan di Pelabuhan Sunda Kelapa
(https://www.kompasiana.com/roelly87/550e1907a33311b92dba8186/melongok-kehidupan-di-pelabuhan-sunda-kelapa?page=all)
- Pelabuhan Sunda Kelapa, Banyak Sampah dan Airnya Tercemar Limbah (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e0508813311c12cbc6116/pelabuhan-sunda-kelapa-banyak-sampah-dan-airnya-tercemar-limbah)
- Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang Termahsyur (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e12ad813311ba2cbc60ff/menyaksikan-keindahan-pelabuhan-sunda-kelapa-yang-termahsyur)
- Menyusuri Bangunan Tempo Doeloe di Kawasan Kota Tua, Jakarta (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e2147a33311a72dba7f55/menyusuri-bangunan-tempo-doeloe-di-kawasan-kota-tua-jakarta-1)
- Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang (https://www.kompasiana.com/roelly87/550da7fea33311251c2e3dc3/menelusuri-warisan-budaya-nusantara-di-museum-wayang)
- Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang 2 (https://www.kompasiana.com/roelly87/550d8a9c813311552cb1e415/menelusuri-warisan-budaya-nusantara-di-museum-wayang-2)


Artikel Cagar Budaya Lainnya
Museum Prasasti
Museum Naional
Patung Soekarno-Hatta


*        *        *
- Jakarta, 28 September 2019

Selasa, 24 September 2019

Ecolink Jawab Kebutuhan dengan Lampu LED Berkualitas dan Harga Terjangkau





PADA era modern ini, penerangan merupakan salah satu inti yang menopang kehidupan. Termasuk, lampu yang menemani aktivitas sehari-hari. Baik itu di kamar pribadi, ruang tamu, pekarangan rumah, jalan raya, hingga berbagai kawasan lainnya.

Nah, sebagai konsumen, tentu saya selalu menginginkan pencahayaan LED berkualitas dengan harga terjangkau. Itu terjawab pada berbagai rangkaian produk lampu LED Ecolink

Ada banyak lampu LED yang beredar di pasaran dengan beragam harga. Namun, seringkali, harga yang lebih rendah diikuti dengan standar kualitas yang sayangnya rendah juga.

Itu mengapa, Ecolink menjawab tuntutan terhadap pencahayaan LED berkualitas dengan menawarkan keuntungan teknologi LED seperti ramah lingkungan dan hemat energi. Serta, manfaat finansial penuh dari konsumsi energi yang lebih rendah dalam produk yang terjamin.

Demikian kesimpulan yang saya dapat saat menghadiri peluncuran Ecolink dari Signify Indonesia. Yaitu, lampu LED berkualitas dan ramah lingkungan yang berlangsung di The Ritz Carlton Ballroom, SCBD, Jakarta Selatan, Senin (23/9).

Dalam launching tersebut, turut hadir Rami Hajjar, Country Leader Signify Indonesia, Burhan Noor Sahid (Head of Marketing Signify Indonesia), dan Lea Indra (Head of Integrated Communication Signify Indonesia).

Sebagai blogger, jelas saya menyambut positif kehadiran beragam produk dari Ecolink. Pasalnya, selain harga kompetitif, juga ramah lingkungan. Maklum, dengan beralih ke LED Ecolink, saya atau konsumen rumah tangga dapat menghemat pemakaian listrik hingga 88 persen dibandingkan dengan lampu pijar.

Artinya, tagihan listrik rumah tangga juga akan berkurang secara signifikan. Di samping itu, lampu LED dapat bertahan hingga lebih dari satu dekade. Sehingga, biaya dan perawatan juga berkurang. Menggunakan lampu LED yang tahan lama dan tidak mengandung merkuri. Serta, membantu mengurangi limbah dan menurunkan laju penyerapan merkuri berbahaya di lingkungan.

“Kami ingin memastikan bahwa lebih banyak rumah tangga di Indonesia dapat menikmati pencahayaan LED berkualitas baik. Termasuk, mereka yang ingin berhemat,” kata Rami dalam sesi diskusi bersama puluhan blogger dan jurnalis.

“Dengan membawa Ecolink ke dalam portofolio kami, kian memudahkan konsumen untuk beralih ke produk pencahayaan berkualitas baik yang memenuhi standar keselamatan global dengan harga bersahabat.”


Saat ini, Ecolink menawarkan rangkaian bohlam LED dan lampu downlinght yang nantinya akan disusul berbagai tipe lampu lainnya. Lampu LED Ecolink tersedia dalam dua varian warna, cool daylight (6500K) yang menyerupai sinar matahari dan warm white (3000K).

Harga di pasaran untuk bohlam LED Ecolink berkisar dari Rp15.000 hingga Rp38.000. Sementara, downlight dipasarkan dengan harga Rp43.000-97.000 tergantung pada besaran wattnya. Berbagaii produk Ecolink hadir dengan garansi satu tahun yang tersebar di beberapa toko ritel di Tanah Air.


*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

Jakarta, 24 September 2019