TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: November 2020

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Jumat, 20 November 2020

Orderan pada Malam yang Ganjil


Ilustrasi jalanan di ibu kota 
(Foto: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)




DINI hari itu, cuaca tampak bersahabat. Dari langit-langit sekitar perbatasan, rembulan bersinar cerah. Pun demikian dengan kelip bintang nun jauh di sana. 

Tiba-tiba, smartphone saya berbunyi. Ternyata, aplikasi ojek online (ojol) memberi tahu ada orderan masuk. Saya pun menepikan sepeda motor untuk mengetahui lokasi jemput dan tujuan.

Namun, ketika memperhatikan lebih lanjut, kening saya berkerut. Sebab, jarak antar benar-benar dekat. Tidak sampai ratusan meter. Bahkan, jalan kaki pun cukup beberapa menit!

Seketika, berbunyi alarm waspada dalam pikiran saya. Khawatir dua hal. Opik alias order fiktif atau hal tak terduga. Namun, ketika saya melihat rating dan riwayat pemesanan dari calon penumpang, sangat positif.

Maklum, biasanya opik atau tindak kejahatan, rating dan riwayat customer masih kosong. Pun demikian, ketika saya chat, normal saja. Alias, tidak ada indikator yang mencurigakan.

"Ah, saya terlalu khawatir berlebihan." Demikian, saya menepis keraguan untuk langsung menstarter sepeda motor. Namun, kekhawatiran itu wajar. Sebab, dini hari sangat rawan kejahatan bagi setiap ojol. Entah itu begal atau hipnotis. 

Pada akhirnya, customer itu real. Wanita yang sepertinya menggunakan jasa ojol menuju pasar untuk belanja atau keperluan lainnya. Usai memberikan hand sanitizer, hair cup, dan helm, saya pun menyapanya yang dibalas dengan murah senyum.

Saya (S): Dengan kak ***. Tujuan ke *** ya?

Penumpang (P): Iya bang.

S: Ok...

P: Kenapa bang, ada yang aneh?

S: Ga. He he he

P: Bingung ya, jaraknya dekat.

S: Iya, saya pikir ini opik.

P: Ga kok. Bener. Deket sih, cuma ke sana doang. He he he

S: Buset, deket amat kak. Ini mah jalan kaki juga sampe. Bahkan, merem pun bisa.

P: He he he. Biasanya, jalan kaki bang. Tapi...

S: Nah. Kalo ada kalimat bersayap pasti drama banget.

P: Gak ko. Cuma...

S: Seram ya, masih pagi? 

P: Iya, bang. Beberapa hari lalu, saya lihat sesuatu di depan...

Screenshoot




TERNYATA, ada alasan penumpang tersebut memesan ojol meski jaraknya dekat. Ya, bisa dipahami mengingat saat itu masih gelap. Saya pun kalau jalan kaki, rasanya gimana gitu.

Namun, bukan takut hantu. Sebab, makhlus halus tentu tidak akan membuat manusia celaka. Melainkan, jika ada begal atau oknum. Secara, jalanan masih sepi.

Alhamdulillah, sejak jadi ojol pada 2019 lalu, hingga kini saya belum mendapatkan hal yang aneh, seperti tindak kejahatan. Semoga saja ke depannya pun demikian.

Hanya, untuk kejadian luar biasa, bisa dibilang sudah pernah. Terutama, yang berkaitan di luar nalar.

Misalnya, merinding ketika lewat jalanan sepi di kawasan Kelapa Gading, Kapuk, Kembangan, Cakung, dan sebagainya. ***. Lalu, sepeda motor terasa berat saat melintasi area tertentu meski tidak ada penumpang. Padahal, ketika dicek, ban tidak bocor. 

Selanjutnya, ada aktivitas tidak wajar, entah ini hanya penglihatan saja atau mungkin tersugesti kabar burung yang beredar di kalangan ojol dan urban legend. 

Nah, yang paling membingungkan, justru terasa normal. Itu terjadi saat saya mengantar penumpang dari kawasan Kota, Jakarta Barat, menuju Cilandak, Jakarta Selatan. Ketika itu, masih pagi, alias sekitar pukul 19.00 WIB, bagi ukuran kalong seperti saya. 

Sepanjang jalan, tidak ada yang aneh. Penumpang pun nyata. Komunikasi lancar sepanjang perjalanan yang menempuh durasi belasan menit. 

Justru anomali terjadi tak lama usai menurunkan customer. Mengingat perjalanan cukup jauh, lebih dari 10 km, saya pun istirahat sejenak ditemani termos berisi kopi hitam yang selalu saya bawa dari rumah sambil buka-buka media sosial. Ya, siapa tahu ada info penting.

*         *         *

"PERASAAN, tadi pas lampu merah ga pernah berhenti," saya bergumam dalam hati. Sekilas, saya mengingat tidak ada keanehan meski jalanan cukup ramai tapi tidak macet karena hari biasa, bukan Senin atau Jumag yang biasanya padat.

Hanya, jadi ganjil jika menyadari saat melintasi traffic light, saya tidak merasakan lampu merah. Alias, bablas di Hayam Wuruk, Thamrin, Sudirman, Panglima Polim, hingga Fatmawati. 

Jika hanya satu, dua, tiga perempatan yang tidak terkena stop lampu merah, mungkin biasa. Namun, dari Kota hingga Cilandak, terdapat belasan persimpangan yang disertai traffic light.

Bagi saya, itu jadi sesuatu banget. Setidaknya, hingga saat ini.***


Berdasarkan kisah nyata dengan dibumbui penyedap dan editorial tanpa menguriangi substansi cerita. Namun, ini bukan fiksi.

Kamis, 12 November 2020

Kamus Besar Bahasa Ojol






OJEK online atau ojol sudah mengakar di masyarakat, khususnya kota-kota besar di Tanah Air, dalam beberapa tahun terakhir. Keberadaannya, sedikit banyak berperan dalam peningkatan perekonomian negeri ini.

Meski, tak jarang masih ada stigma negatif yang menyertainya. Apa pun itu, eksistensi ojol memang dibutuhkan dan diperlukam masyarakat. Misal, layanan antar penumpang, beli makanan, kirim barang, belanja obat, dan sebagainya.

Kebetulan, saya sudah setahun jadi ojol sejak 2019. Jadi, sedikit banyak tahu seluk-beluk dunia perojolan. Termasuk, istilah sehari-hari yang mungkin percakapan di antara kami membuat bingung customer. 

Berikut, beberapa di antaranya dalam istilah dunia perojolan yang nanti akan saya update secara berkala.


Kamus Besar Bahasa Ojol

1. Pantat: Orderan untuk mengangkut penumpang. Ride atau Bike. Istilah ini memang konotasi banget. Namun, rutin disebut dalam kalangam ojol sehari-hari.

2. Kardus: Ojol yang khusus atau spesialis ambil orderan kirim barang.

3. Opang: Ojek pangkalan tanpa aplikasi. Rekan seprofesi di jalanan yang merintis dunia ojek sejak puluhan tahun silam.

4. Opang Resto: Ojol yang spesialisasinya menunggu orderan food di resto tertentu. Contoh, Mc*, B*, Geprek, dll.

5  Zona Merah: Kawasan yang secara tidak tertulis ojol dilarang mengambil penumpang untuk menghargai keberadaan opang. Misalnya, di Stasiun, Terminal, Pusat Perbelanjaan, Komplek Perumahan, dll.

6. Kalong/Ngalong/Kalongers: Ojol yang biasa narik malam hingga subuh. 

7. Red District: Kawasan favorit bagi kalongers yang biasa ambil orderan di lokasi hiburan malam. Contoh, Mangga Besar, Kota Tua, Kemayoran, Kemang, Blok M, dll.

8. Isilop/Polkis: Polisi. Atau, merujuk pada adanya razia. Baik gabungan atau saat jaga di berbagai kawasan, misalnya Semanggi.

9. Transformers: Merujuk pada kendaraan Dinas Perhubungan. Istilah ini biasa hanya digunakan taksi online.

10. Opik: Order fiktif. Musuh bersama seluruh ojol di muka bumi. 

11. Opak: Ojol f**k. Julukan ojol yang melakukan order fiktif. Bisa untuk mengusir secara halus ojol yang datang atau sakit hati akibat di-PM.

12. PM: Putus Mitra. Ojol yang diberhentikan pekerjaannya dari aplikator akibat berbagai hal. Namun, tak jarang karena kesalahan sistem yang mendeteksi hingga merugikan ojol.

13. Vermuk: Verifikasi muka, swafoto atau selfie yang dilakukan ojol sebelum memulai rutinitas demi memastikan keaslian pengguna akun.




*         *         *


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):

Kamis, 05 November 2020

Berapa Modal Jadi Ojol?

 Berapa Modal Jadi Ojol?

Saya saat menjalankan suatu orderan ojol
(Foto: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)



JADI ojek online (ojol) harus modal? Serius...? Eittts, di kolong langit ini tiada makan siang yang gratis. 

Namun, modal yang saya maksud bukan untuk melamar jadi ojol. Secara, pengalaman saya sebagai mitra driver di salah satu aplikasi ini gratis. Melainkan, modal untuk narik sehari-hari.

Yupz! Sepanjang pengalaman saya, rata-rata per hari harus mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu. 

Itu belum termasuk dana cadangan di jok sebesar Rp 50 ribu. Gunanya, untuk jaga-jaga jika ban bocor, bensin habis, motor mogok, laper tingkat tinggi, hingga force majeur. Rp 50 ribu ini merupakan uang mati. Alias, hanya digunakan saat darurat.

Sementara, yang Rp 100 ribu terbagi dalam beberapa keperluan. Memang, setiap hari tidak harus sama. Namun, diambil rata-rata saja mengingat saya merupakan kalongers. Alias, ojok yang keluar sore hingga pagi.

Dana tersebut meliputi:

Rp 30 ribu: Bensin (2x isi)

Rp 30 ribu: Makan (malam/dini hari dan sarapan)

Rp 26 ribu: Rokok (Maaf, saya perokok aktif, tapi tidak melakukan ketika mengantar penumpang, makanan, atau saat kirim barang)

Rp 4 ribu: Kopi

Rp 10 ribu: Dana taktis (parkir, toilet SPBU, pengamen Lamer, dll)


Mungkin, banyak yang heran, mengapa pengeluaran saya setiap harinya sangat tinggi. Ya, mencapai Rp 100 ribu  Namun, itu wajar mengingat mayoritas aktivitas saya di jalanan. Alias, rumah hanya sekadar numpang tidur saja.

Pun demikian berdasarkan pengalanan rekan-rekan ojol lainnya. Bahkan, ada yang per hari mencapai Rp 200 ribu. 

Tak jarang, ada juga yang tidak lebih dari Rp 50 ribu. Ini bisa jadi, jika ojol tersebut bawa bekal dari rumah. Serta, tidak merokok yang bisa menghemat anggaran. 

Ya, rokok jadi kelemahan saya. Namun, begitulah.

Pertanyaan selanjutnya, jika pengeluaran setiap hari Rp 100 ribu, berapa pemasukan saya dari hasil ojol? Saya dan rekan-rekan ojol lainnya tentu punya jawaban berbeda tapi satu konklusi.

Sebab, sebagai ojol, penghasilan tidak tetap. Bisa hari ini Rp 100 ribu, besok Rp 300 ribu, lusa Rp 150 ribu, dan sebagainya. 

Namun, saya sendiri menargetkan, minimal bawa pulang uang Rp 100 ribu. Alias, pendapatan kotor Rp 200 ribu dikurang pengeluaran Rp 100 ribu.

Itu yang mayoritas saya hasilkan sejak pandemi ini. Beda cerita sebelum pertengahan April lalu. Dalam sehari rata-rata mencapai Rp 350 ribu (kotor). Bahkan, tak jarang tembus Rp 500 ribu. 

Maklum, ketika itu dari aplikator menyediakan bonus jika driver bisa mencapai poin tertentu. Misalnya, 30 poin maksimal bonus Rp 180 ribu.

Hanya, semua berubah sejak -negara api menyerang- pandemi. Jangankan Rp 500 ribu, per hari mencapai Rp 200 ribu pun sudah sangat alhamdulillah. Bisa dipahami mengingat pandemi ini membuat masyarakat mengurangi pengeluaran untuk bepergian naik ojol, pesan makan, atau kirim barang.

Itu mengapa saya sangat bersyukur setiap hari rata-rata bisa mendapat Rp 200 ribu. Pasalnya, banyak rekan ojol lainnya yang bahkan tidsk bisa mendapat Rp 100 ribu. Kendati, ada juga yang tetap meraup minimal Rp 500 ribu.

Serius? Ya. Banyak yang seperti itu. Biasanya, mereka ini merupakan ojol senior atau riwayatnya bagus karena tidak pilih-pilih orderan. 

Namun, untuk mendapat Ro 500 ribu per hari tidak semudah membalikkan bala-bala di penggorengan. Sebab, mereka juga sangat bekerja dengan keras dan cerdas. 

Salah satunya, dengan riwayat aktif kirim barang yang rutenya lintas provinsi alias di atas 30 km hingga sekali orderan mencapai lebih dari Rp 100 ribu. 

Kebetulan, saya pernah menyaksikan rekan yang setiap harinya ngojol dari pukul 05.00 hingga 23.59 WIB. Mereka bisa dibilang ojol rasa ekspedisi. Sebab, sejak matahari masih malu-malu hingga terbenam, sudah keliling Jabodetabek. Ya, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. 

Apakah semua ojol bisa seperti itu? Tentu saja. Seperti yang diungkapkan Baron Zemo pada Captain America: Civil War, "Asal punya kesabaran dan pengalaman".


***Bersambung


Artikel Selanjutnya:

- Berapa Penghasilan Ojol per Bulan?

- Apakah Ojol Bisa Dapat Rp 500 Ribu Sehari?


- Jakarta, 4 November 2020

Ilustrasi pendapatan saya
pada 1 November lalu



*         *         *


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
Vermuk? 70% Gojekers Setuju, tapi...
Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB
Kamaratih

Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek