TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Desember 2016

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Jumat, 30 Desember 2016

Pengalaman Berurusan dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat


Suasana di loket tilang di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat

BERURUSAN dengan kejaksaan? Wow... Sepertinya enggak banget deh. Sebagai masyarakat awam, berurusan dengan instansi pemerintah seperti kejaksaan, pengadilan, dan sebagainya itu benar-benar rumit. Ya, complicated-nya itu kalau dianalogikan seperti hubungan Peter Parker dengan Gwen Stacy di The Amazing Spider-Man 1 dan 2.

Secara individu, kalau bisa saya mah ogah berurusan dengan mereka. Kalau bisa sih. Bisa dipahami mengingat rumitnya prosedur saat mengikuti kejaksaan dan pengadilan. Itu berdasarkan persepsi publik yang cenderung negatif.

Meski, saya juga sudah pernah, bahkan sering berurusan dengan kedua lembaga tersebut. Tepatnya, saat masih di bumi Andalas. Hanya, saat itu bukan secara pribadi, melainkan mewakili perusahaan.

Hingga, akhirnya kemarin, Kamis (29/12) saya kembali berurusan dengan kejaksaan. Yaitu, di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat di kawasan Kemayoran.

*        *        *
SIANG itu, Sabtu (17/12) di tengah padatnya jalanan ibu kota, sepeda motor yang saya kendarai diberhentikan petugas. Itu terjadi ketika saya sedang menuju Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk mengikuti nonton bareng final Piala AFF 2016.

"Selamat siang pak. Bisa menepikan kendaraannya," kata salah satu polisi lalu lintas (polantas) menyapa saya dengan sopan.

"Siang pak. Ok," saya menjawab sambil mematikan mesin sepeda motor.

"Bisa lihat surat-suratnya, pak?"

"Ini pak."

"Ok, ini SIM dan STNK sudah tepat."

"Terima kasih pak."

"Tapi, Anda tetap saya tilang."

"Salahnya apa ya pak?"

"Maaf pak, Anda tidak menyalakan lampu kendaraan."

"Waduh... Mati gue," gumam saya menyadari kesalahan lupa menyalakan lampu sepeda motor.

"Anda kena pasal 291. SIM bapak saya sita ya. Nanti 23 Desember ambilnya saat sidang di PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat."

"..."

"Jangan lupa ya pak."

"Ok, pak. Terima kasih."

"Ya, selamat sore."

*        *        *
MALAM harinya, ketika sampai di rumah dengan raut kesedihan saya membuka komputer untuk mencari informasi di internet. Ya, sedih bukan karena ditilang sih. Melainkan akibat kekalahan Indonesia dari Thailand 0-2 yang membuat gelar perdana di Piala AFF akhirnya melayang. Padahal, di Stadion Pakansari sebelumnya, "Skuat Garuda" sempat menang 2-1.

Saya yang penasaran lalu googling untuk mengecek kisaran denda di internet beserta proses di pengadilan. Ternyata, oh ternyata... Di surat tilang tertulis kesalahan saya pada pasal 291. Namun, apa yang ditulis polantas yang di pundaknya tersemat pangkat siku dua itu keliru.

Sebab, menurut website resmi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) pasal 291 untuk yang tidak memakai helm standar. Berikut, bunyi pasal tersebut yang saya kutip dari laman https://www.polri.go.id/m_tentang_tilang.php:


11. Setiap pengendara atau penumpang sepeda
motor yang tak mengenakan helm standar nasional
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan
atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 291 ayat 1).

Sementara, kesalahan yang saya lakukan karena tidak menyalakan lampu sepeda motor pada siang hari ada di pasal 293.


13. Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan
tanpa menyalakan lampu utama pada siang hari
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (2) dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 15 (lima belas) hari
atau denda paling banyak Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah). (Pasal 293 ayat 2).

Sayangnya, karena saat kejadian saya tidak hafal dengan berbagai pasal tilang, ya saya manut saja. Meski, saya tidak 100 persen salah. Lantaran polantas yang menilang juga ternyata salah. Sebab, malah menulis pasal 291 dan bukan 293.

Tapi, sebagai warga negara yang baik, saya enggan mempersoalkannya. Sebab, bagaimanapun, ya saya tetap salah karena melanggar peraturan lalu lintas.

Mengenai kelirunya polantas itu menulis pasal 293 yang seharusnya 291 itu urusan lain. Mungkin, petugas berpangkat brigadir satu itu juga lupa. Wajar saja mengingat banyaknya pasal pada tilang yang tentu tidak bisa dihafal seluruhnya.

*        *        *
SAYANGNYA, pada hari yang ditentukan untuk sidang, saya tidak bisa hadir. Sebab, ada keperluan lain yang harus saya laksanakan sepanjang Jumat (23/12). Hingga, akhirnya saya baru bisa mengambil SIM kemarin, Kamis (29/12) di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Itu pun berkat petunjuk rekan yang bekerja di salah satu PN di kawasan Jabodetabek. Menurutnya, jika saya tidak mengikuti sidang, tidak apa-apa karena bisa diambil (SIM atau STNK) di kejaksaan dengan wilayah hukum yang sama dengan pengadilan.

Hanya, memang biayanya lebih mahal dibanding saat mengikuti sidang. Sosok yang pernah bertugas di bumi Cendrawasih itu juga memberi petunjuk prosedur mengambil SIM di kejaksaan yang ternyata mudah.

Lantaran saya hanya menunggu di loket tilang di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Tanpa harus mengikuti sidang lebih lanjut. Sebab, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah memutuskan pada Jumat (23/12). Setelah itu, berkasnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Oh ya, sekadar informasi, lokasi loket tilang di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat berada di sisi kanan. Untuk menuju lokasi tidak perlu masuk ke ruang utama kejaksaan. Melainkan, cukup melewati Jalan Merpati 2 (bukan Jalan Merpati), Kemayoran, Jakarta Pusat.

Saat itu, kita cukup menyerahkan berkas tilang ke wadah yang sudah disediakan di depan loket. Nanti, pihak kejaksaan akan memanggil nama kita satu per satu. Kebetulan, meski antre, saat itu tidak terlalu ramai hingga saya menunggunya lumayan cepat.

Oh ya, jika Anda mengalami hal yang sama seperti saya, jangan lupa meminta bukti tilang yang tertera di secarik kertas. Sebab, berdasarkan pengamatan saya kemarin, mayoritas yang mengambil SIM atau STNK langsung berlalu begitu saja setelah membayar denda. Padahal, kita harus teliti lebih lanjut untuk memastikan tidak ada yang keliru.

*        *        *
Berkas tilang dengan pasal yang keliru 

*        *        *
Tanda terima pembayaran denda tilang dengan tanggal yang juga keliru

*        *        *
Lokasi loket tilang di Jalan Merpati 2

*        *        *

Artikel Terkait:
- Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
- Sinergi BNN-Blogger untuk Darurat Narkoba
- HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat
- (Esai Foto) Jakarta Metrpolitan Police Expo 2016
- Bulan Dirgantara Indonesia 2016 TNI AU
- Potret Petugas Penjaga Jalur Busway saat Buka Puasa
- Sinergi BNPT Blogger Cegah Terorisme 
- Serunya Latihan Menembak di Markas Kostrad
- Sinergi Kementerian PUPR untuk Sosialisasi K3

*        *        *
- Jakarta, 30 Desember 201

Rabu, 28 Desember 2016

(Esai Foto) Petualangan Akhir Tahun Bersama Astra


Kumpul bersama di Saung Sarongge

2016 ini bisa dibilang sebagai tahun penuh petualangan bagi saya. Itu karena saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Tanah Air sambil mengeksplorasi keindahan alam, kebudayaan, dan lingkungan sekitarnya.

Diawali dengan bertualang di Curug Nangka, Bogor, yang dilanjutkan ke Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Selatan), Water World (Tangerang), Citarik (Sukabumi), Pengalengan (Bandung), Candi Prambanan (Yogyakarta), Maja (Banten), Tanjung Pakis (Karawang), Nusa Dua (Bali), Bromo (Jawa Timur), Batu Kasur (Cianjur), dan beberapa kawasan lainnya. Itu belum termasuk di ibu kota saja dengan menjelajah enam kotamadya, termasuk Kepulauan Seribu.

Berbagai kunjungan ke tempat wisata itu menambah perbendaharaan pengalaman destinasi saya sejak menggeluti dunia blog pada 2009 silam. Termasuk, Batu Kasur yang jadi petualangan penutup tahun ini.

*        *        *
Sarongge Valley di Cianjur, Jawa Barat

SIANG itu, matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya. Ya, seusai menanam pohon di Bukit Kasur, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (22/12), saya dan 100 peserta dalam rombongan PT Astra International Tbk yang terdiri Public Relation Grup Astra, media, dan blogger, melanjutkannya di kampung Sarongge.

*        *        *
Sensasi naik bak terbuka menuju Saung Sarongge
TUJUAN kami selanjutnya ke Saung Sarongge untuk mengikuti diskusi dan games! Games? Yupz, permainan yang mengasah keterampilan, khususnya dalam bekerja sama antarkelompok. Bagaimana keseruannya, bisa dilihat pada cerita di bawah ini.

*        *        *
Saya bersama Elvani dari Astra dan Hazmi founder BRId (Foto: @Metreg)
DARI Sarongge Valley menuju Saung Sarongge yang merupakan tempat wisata edukasi untuk mengenal lebih dekat dengan lingkungan. Saat itu, kami menumpang pick-up alias bak terbuka sambil menikmati pemandangan alam sekitarnya. Om Telolet Om!



*        *        *
Sekeliling mata memandang tampak hijau memesona
KETIKA pertama kali menginjakkan kaki di Saung Sarongge, saya disambut dengan panorama alam yang sangat memesona. Maklum, lokasinya dikelilingi pegunungan dengan hawa yang sejuk. Apalagi, Saung Sarongge ini lokasinya tepat di kaki Gunung Gede Pangrango.

*        *        *
Libur akhir tahun bersama Astra di Saung Sarongge, Cianjur

SEBELUM Batu Kasur, Astra lebih dulu menanam pohon di kampung Sarongge pada beberapa tahun silam. Itu sebagai bentuk komitmen dari salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air ini. Sekaligus, menerapkan filosofi Catur Dharma dengan butir pertama, "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara". Total, Astra sudah 5.700 pohon di kawasan Cianjur dengan yang teranyar di Batu Kasur sebanyak 1.200 pohon.

*        *        *
Sayur mayur yang segar jadi oleh-oleh istimewa kami
PETANI yang merupakan penduduk setempat, Tim SAR, dan perwakilan Astra, asyik berkumpul di suatu saung. Jemari mereka terampil memasukkan berbagai sayur mayur yang baru dipetik dari ladang untuk dikumpulkan ke berbagai keranjang yang akan dibawa pulang kami sebagai oleh-oleh. Esok siangnya, Jumat (23/12), brokoli dan sayur-mayur itu jadi bintang utama di meja makan di rumah saya.

*        *        *
Aktivitas warga setempat di Saung Sarongge
ADOPSI 1.200 pohon di Batu Kasur dan berbagai acara di Saung Sarongge merupakan bagian dari rangkaian Astra menyambut HUT ke-60 pada 20 Februari mendatang. Yupz, perusahaan yang bermarkas di Sunter, Jakarta Utara, ini didirikan 12 tahun setelah Indonesia merdeka. Sejak saat itu, Astra jadi bagian dari roda ekonomi negeri ini melalui tujuh pilar bisnisnya dengan yang teranyar pada sektor properti.
*        *        *
Regina yang memandu diskusi dan games selama acara berlangsung
ACARA di Saung Sarongge dipandu Regina Panontongan selaku Public Relations Division, Corporate Communications Astra. Wanita yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik ini juga jadi pemandu kami sepanjang perjalanan. Mulai dari berangkat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, hingga kembali. Bahkan, berlanjut jadi moderator esok harinya saat diskusi Astra bersama blogger di Midtown Cafe, Jakarta Selatan, Jumat (23/12).


*        *        *
Ucapan selamat kepada dua rekan jurnalis yang hari itu berulang tahun
HARI itu ada yang spesial bagi dua wartawan senior yang mengikuti rangkaian acara bersama Astra. Itu karena mereka merayakan hari jadinya yang bertepatan dengan acara ini. Alhasil, Astra pun memberi kado tak terlupakan kepada keduanya.

*        *        *
Maharani berbagi kisah inspiratif tentang pohon gaharu
MAHARANI yang menerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 berbagi cerita inspiratifnya. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sukses memberdayakan penduduk di tempatnya untuk menanam pohon gaharu. Meski harus "berdarah-darah" terlebih dulu karena kerap ditolak, akhirnya Maharani berhasil meyakinkan mereka. Kini, penduduk di wilayahnya tinggal memetik hasil dari harga jual pohon gaharu yang mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Kisah serupa terjadi pada Ridwan Nojeng (penerima SATU Awards 2016) yang mengakui kepada saya sampat dianggap kurang waras oleh masyarakat di Jeneponto, Sulawesi Selatan, sebelum akhirnya menyulap wilayahnya jadi destinasi andalan.

*        *        *
Yulian bercerita tentang komitmen Astra terhadap lingkungan
YULIAN Warman selaku Head of Public Relations Astra, bercerita alasan perusahaannya terjun langsung dalam kepedulian lingkungan. Pria yang sekilas mirip kapten timnas Indonesia, Bima Sakti itu mengatakan Grup Astra sejak 2008 telah menanam 3.616.084 pohon di berbagai wilayah di nusantara. Menurut Yulian, kegiatan itu jadi bagian dari salah satu pilar kegiatan corporate social responsibility (CSR) Astra yang terdiri dari Pendidikan, Usaha Kecil & Menengah (UKM), Lingkungan, dan Kesehatan. Yupz, selain tujuh pilar bisnis dan empat pilar CSR, Astra juga memiliki sembilan yayasan yang konsisten dalam berkontribusi kepada masyarakat. 

*        *        *
Sesi Games dimulai dengan enam kelompok
SESI selanjutnya dengan games. Yupz, permainan ini dilakukan berkelompok. Kalau tidak salah, ada enam kelompok yang terbagi berdasarkan solmisasi tangga nada. Saya tergabung di kelompok "La" yang beranggotakan delapan orang.

*        *        *
Kami dari kelompok "La"  saling melontarkan ide sebelum games dimulai

TERDAPAT
10 peralatan yang dibagikan panitia dengan tujuh di antaranya kami pakai dalam permainan. Yaitu, tali rafia, sumpit, korek api kayu, sedotan, lakban, tusuk gigi, koran, selembar kertaskaret gelang, dan garpu. Tiga benda terakhir tidak kami pakai dan harus dikumpulkan ke panitia.

*        *        *
"Tahan nafas biar perutnya rata. Senyum manis ya." Cekrek! (Foto: @ Istimewa)
PADA era sekarang, belum lengkap jika tidak foto bersama menjelang suatu acara. Termasuk, beberapa menit jelang permainan dimulai, kami dari kelompok "La" berpose manis di depan kamera. Dalam beberapa tahun mendatang, foto ini jadi saksi kisah istimewa yang akan diceritakan kepada anak dan cucu, kelak.

*        *        *
Kerja sama tim untuk satu tujuan
ADA empat tantangan dalam permainan ini. Yaitu, meledakkan dua balon, mengambil permen di piring kertas, memasukkan bola tenis meja ke gelas plastik, dan menyalakan lilin dengan media sedotan. Syaratnya, seluruh peserta tidak boleh melewati lingkaran yang sudah digariskan panitia.

*        *        *
Ayo, ayo, ayo... Kamu bisa!
KELOMPOK kami jadi yang pertama saat meledakkan balon. Idenya, simpel berdasarkan peralatan yang diberikan panitia. Yaitu, dengan menggunakan koran yang sudah dinyalakan korek untuk disundutkan ke balon. Dan, meledak. Yes, Mission Accomplished! Demikian teriak kami serempak dengan semringah ketika menyelesaikan misi pertama dengan sempurna.

*        *        *
Bahu-membahu demi menarik permen agar tidak jatuh ke tanah
DENGAN semangat kebersamaan, kelompok kami berhasil menyelesaikan tiga dari empat tantangan. Hanya, ketika sedang berusaha menyalakan lilin, waktu yang diberikan panitia sudah selesai. Namun, di antara empat tantangan tersebut, harus diakui rintangan yang ketiga paling sulit. Maklum, kami harus mencurahkan segenap ide, pikiran, dan tenaga, untuk memasukkan bola ke dalam gelas plastik. Termasuk, dengan mengangkat rekan kami  agar tidak menyentuh tanah seperti Superman.

*        *        *
Ekspresi kegembiraan Hazmi saat menerima hadiah dari Yulian

SETELAH
permainan selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah untuk rekan jurnalis yang konsisten mengikuti acara Astra ini sejak edisi pertama dan doorprize. Rekan blogger, Hazmi Srondol yang merupakan pendiri komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRId), mendapat kejutan menyenangkan.

*        *        *
Sore itu...

TIADA pesta yang tak berakhir. Memasuki lewat pukul 16.00 WIB, langit di atas Saung Sarongge kian gelap. Pertanda sang dewi hujan akan menunaikan tugasnya yang bertepatan dengan sore hari. Itu berarti, kami harus segera kembali untuk menuju ke rumah masing-masing. Ya, tiada pesta yang tak berakhir. Ada pertemuan tentu ada perpisahan. Tapi, selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi. Yupz, mungkin saat Astra mengadakan acara serupa pada 2017 mendatang.

*        *        *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:


Esai Foto Sebelumnya:
*        *        *
- Jakarta, 28 Desember 2016

Senin, 26 Desember 2016

Lima Alasan Belanja di Blibli.com

5 Alasan Belanja di Blibli.com

DALAM beberapa tahun terakhir, belanja online sudah jadi kebutuhan utama bagi saya. Alasannya simpel, lantaran saya tinggal duduk manis depan komputer, laptop, atau smartphone. Pilih produk yang ingin dibeli, bayar melalui internet banking atau KlikPay, verifikasi, dan tinggal menunggu kiriman.

Mudah kan. Enggak perlu mengeluarkan ongkos kendaraan dan bermacet ria untuk memiliki suatu produk. Tentu, kita harus jeli dalam memilih toko online, market place, dan sejenisnya. Bisa dipahami, mengingat tidak semua toko online terpercaya. Kebetulan, beberapa tahun lalu saya pernah memiliki pengalaman buruk saat belanja di toko online.

Tapi, itu jadi pelajaran berharga bagi saya untuk lebih teliti lagi dalam memilih toko online. Salah satunya, Blibli.com yang sejak 2011 menjelma jadi rujukan utama untuk mencari suatu produk. Bagi saya, ada lima alasan kenapa merekomendasikan Blibli.com untuk rekan-rekan yang membaca blog ini.

1. Grup Djarum

Sebagai konsumen yang ingin membeli suatu produk atau jasa, saya selalu mencari tahu siapa produsennya. Bagi saya, nama dari produsen jadi jaminan untuk membeli sesuatu. Termasuk, dalam ranah toko online. Dalam hal ini, Blibli.com yang dikelola PT. Global Digital Niaga yang merupakan anak usaha dari Grup Djarum yang juga memiliki Bank Central Asia (BCA).

Mereka dikenal sebagai perusahaan yang kerap berkontribusi pada masyarakat. Misalnya, dengan mewadahi atlet hebat Indonesia pada PB Djarum. Sinergi kelompok usaha ini juga konsisten menyelenggarakan BCA Indonesia Open seperti yang terakhir saya ikuti pada Mei lalu. Sementara, di dekat rumah saya berdiri megah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Krendang yang dibangun Blibli.com.

2. Bersertifikat SSL

SSL? Apa sih pentingnya? Bagi saya yang setiap hari berselancar di internet, Secure Socket Layer (SSL) sangat penting. Terutama jika ingin transaksi di toko online, baik itu menggunakan kartu kredit, pembayaran, dan sebagainya. SSL merupakan protokol keamanan yang membuat saya yakin dengan keberadaan situs tersebut.

Nah, Blibli.com ini sudah memiliki sertifikat SSL yang bisa dilihat pada alamat url-nya, https, dengan logo gembok pada browser. Fakta itu membuat saya aman sekaligus nyaman untuk menjelajah setiap sudut laman Blibli.com.

3. Asli Indonesia

Salah satu faktor utama saya belanja di Blibli.com karena melimpahnya berbagai Produk Kreatif Asli Indonesia. Ini jadi surga bagi saya yang memang menyukai 100% Produk Kreatif Asli Indonesia. Khususnya, batik dan wayang yang banyak tersedia di Blibli.com. Cukup dengan berselancar beberapa detik di fitur pencarian, berbagai Produk Kreatif 100% Indonesia yang Mendunia tersedia.

Selain batik dan wayang yang memang buruan utama saya, di Blibli.com juga memiliki Galeri Kriya Indonesia. Yaitu, berbagai produk kerajinan tangan khas nusantara dengan puluhan brand. Sekadar informasi, berbagai produk yang dijual di Blibli.com itu ternyata lebih murah ketimbang harga di pasaran.

Maklum, sebelum membeli sesuatu, saya selalu mengeceknya lebih dulu. Ternyata, memang, berbagai produk kerajinan tangan, batik, dan wayang di Blibli.com masih lebih miring ketimbang di toko.

4. Produk Lengkap

Blibli.com memiliki 15 kategori utama dengan puluhan sub-kategori dari A hingga Z. Sejauh ini, Blibli.com sudah menyediakan berbagai kebutuhan secara lengkap. Bahkan, rekan saya, fotografer, pernah menemukan lensa idamannya di Blibli.com.

Padahal, sebelumnya, beliau sempat mencari di berbagai toko online lain dan ke pusat penjualan kamera di Jakarta, tapi tidak ketemu. Itu membuktikan slogan Big Choices, Big Deal, dari Blibli.com sebagai andalan untuk mencari berbagai keperluan.

5. Gratis Pengiriman

Hari gini masih ada yang gratis? Yupz, ini salah satu andalan Blibli.com dalam mempertahankan pelanggan lama sekaligus menggaet pelanggan baru. Maklum, mereka memberikan pengiriman gratis ke seluruh Indonesia! Wow... Apalagi, dengan adanya layanan pengembalian produk hingga waktu klaim mencapai 15 hari. Jelas ini jadi nilai tambah bagi kami sebagai konsumen.

Nah, bagi kita yang memiliki kartu kredit BCA, belanja di Blibli.com tentu sangat menggiurkan. Sebab, ada diskon menarik setiap harinya. Bahkan, pada weekend, ada ekstra diskon 10 persen semua produk pada Sabtu-Minggu. Caranya, dengan mengisi kode voucher BCAGALLERY-WEP30. Berbagai diskon ini sangat berguna bagi anak kost seperti saya ketika ingin membeli berbagai produk kreatif Indonesia di Blibli.com.*** 

*        *        *
Galeri Kriya Indonesia menyediakan Produk Kreatif Asli Indonesia

*        *        *
Galeri Batik menyediakan Produk Kreatif 100% Indonesia yang Mendunia

*        *        *
Berburu pernak-pernik wayang? Blibli.com merupakan surganya

*        *        *

Artikel Terkait Sebelumnya

- Yuk, Dukung Wakil Merah-Putih Juara di Negeri Sendiri!
- Komitmen BCA untuk Pendidikan Anak Indonesia
- BCA Genap 60 Tahun: Catatan dari Blogger tentang Bank
BCA Gelar Wayang for Student
Saling Berbagi Informasi dalam Ngabuburit Bareng Blogger dan BCA
Pengalaman Ngabuburit di RPTRA Krendang
Kemeriahan BCA Indonesia Open 2016
Rindu Juara di BCA Indonesia Open 2016
Sejuta Xpresi dengan BCA dan Liga Mahasiswa
- Lima Iklan Legendaris Saat Ramadan
Mengenal Keindahan Alam Indonesia dari Sebuah Iklan

*        *        *
- Jakarta, 26 Desember 2016

Sabtu, 24 Desember 2016

Memetik Inspirasi Bersama Astra


4 narasumber, dari kiri: Wicaksono, Maharani, Yulian, Arbain, dan Regina (moderator)


 "ASTRA selalu menekankan Catur Dharma dalam filosofi perusahaan. Jadi, sebagai perusahaan, kami tidak hanya berbisnis saja. Melainkan juga turut memberikan kontribusi sosial kepada masyarakat di Indonesia," demikian sambutan dari Head of Public Relations PT Astra International Tbk, Yulian Warman, dalam diskusi bersama blogger di Midtown Cafe, Jakarta Selatan, Jumat (23/12).

Saya mendapat kehormatan bisa kembali mengikuti acara yang diselenggarakan Astra. Bahkan, secara dua hari beruntun setelah sebelumnya, Kamis (22/12) menanam pohon di Cianjur, Jawa Barat. Rangkaian acara tersebut untuk menyambut HUT ke-60 Astra pada 20 Februari 2017.

Ya, salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air itu berdiri sejak 1957. Alias, sudah enam dekade silam sejak didirikan William Soerjadjaja. Sejak saat itu, Astra menjelma sebagai salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air dengan tujuh divisi usaha beserta sembilan yayasan.

"Selain berbisnis, kami juga memiliki komitmen untuk membangun bangsa. Salah satunya, lewat berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) dan sembilan yayasan. Itu sesuai dengan cita-cita dari almarhum om William yang menginginkan Astra bisa memberi kontribusi kepada masyarakat di seluruh Tanah Air," Yulian, menambahkan.

Selain Yulian, dalam diskusi bertajuk "Inspirasi Satu Indonesia" bersama puluhan blogger itu turut menampilkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya. Maharani yang merupakan penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014, Wicaksono Ndorokakung (jurnalis senior), dan Arbain Rambey (fotografer senior). Mereka dipandu Regina Panontongan (Public Relations Division, Corporate Communications Astra) selaku moderator.

Bagi saya, mengikuti diskusi ini menambah banyak wawasan. Ya, sebagai blogger yang gencar belajar, menghadiri diskusi tidak hanya menyimak pembicaraan dari narasumber saja. Melainkan juga saya harus memetik pengalaman dan inspirasi dari mereka untuk diri sendiri dan di-share lagi. Termasuk, lewat blog ini yang semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

"Awalnya sangat berat untuk meyakinkan masyarakat agar mau menanam gaharu. Padahal, harga gaharu mencapai jutaan bahkan miliaran rupiah. Tapi, dengan konsistensi selama ini disertai semangat pantang menyerah, akhirnya sejak 2009 saya bisa mengajak serta masyarakat. Kini, kami tinggal memetik hasilnya," kata Maharani dengan mata berkaca-kaca.

Apa yang dikatakan pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengingatkan saya pada Ridwan Nojeng. Yaitu, penerima SATU Indonesia Awards 2016 yang sempat dianggap kurang waras oleh masyarakat setempat saat mengajak untuk membenahi lingkungan desanya di Tompobulu, kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Namun, berkat kegigihannya, Ridwan berhasil mengubah desanya dari yang dulunya tandus jadi tempat wisata andalan.

Di sisi lain, Wicaksono berbagi informasi terkait sosial media pada 2017. Menurut pemilik blog www.ndorokakung.com ini memprediksi, tahun depan sosial media (sosmed) dipenuhi platform dengan based location. Wicaksono juga menilai tren sosmed seperti Instagram bakal lebih berkembang seiring kehadiran pesaingnya, Snapchat.

"2017, Instagram bakal lebih mendominasi lagi. Terutama setelah diakuisisi Facebook yang bisa terintegrasi untuk melihat analytics  seperti penambahan followers, komentar, dan sebagainya," tutur Wicaksono. "Begitu juga dengan Twitter yang sudah mengakuisisi Magic Pony. Yaitu, startup asal Inggris yang bisa meningkatkan kualitas video. Jadi, tahun depan, sosmed bakal lebih bervariasi lagi."

Sementara, Arbain jadi pembicara pada sesi pamungkas. Fotografer Harian Kompas ini berbagi tips mengenai fotografi yang sangat menginspirasi kami. Khususnya, saya pribadi yang dalam dua tahun ini tertarik menggeluti seni fotografi hingga kerap mengunggah berbagai foto di sosmed. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, dengan semua akun yang sama, @roelly87 dan di blog ini (www.roelly87.com).

Yang menarik, pria kelahiran Semarang, 2 Juli 1961 ini membeberkan rahasia memotret dengan baik tanpa memerdulikan apakah itu kamera DSLR atau smartphone. Bahkan, Arbain mengaku sejak 2004 selalu menggunakan modus auto ketimbang manual. Alasannya, fitur dasar itu disediakan produsen kamera yang tentu sudah dalam kondisi baik. Tinggal, bagaimana fotografer itu memaksimalkannya lebih lanjut.

"Untuk menghasilkan foto yang bernyawa, bukan sekadar menguasai teknik diafragma, speed, atau ISO saja. Tapi, yang utama bagaimana kejelian dari si pemotret dalam menangkap momentum pada situasi di sekitarnya. Saya saja tidak pernah khusus belajar fotografi. Saya bisa karena trial and error setiap hari secara terus-menerus," Arbain, mengungkapkan.

Ya, konsistensi merupakan kunci untuk meraih kesuksesan. Saya setuju dengan pernyataan Arbain. Bahwa, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Dalam kesempatan itu, Arbain menjelaskan, untuk menghasilkan foto bagus untuk ditaruh di halaman utama Kompas, tidak bisa sekali jepret. Harus puluhan bahkan hingga ratusan kali memotret demi menemukan satu foto terbaik.

Hal sama dialami Maharani, Ridwan, dan seluruh penerima SATU Indonesia Awards lainnya sejak 2010 hingga 2016. Begitu juga dengan Astra. Dalam enam dekade ini, perusahaan yang bermarkas di Sunter, Jakarta Utara, itu tentu mengalami berbagai kesulitan. Namun, dengan semangat pantang menyerah dan konsistensi berinovasi membuat Astra tetap berkibar.

Bahkan, kini menjelma sebagai salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air. Bisa dipahami mengingat Astra memiliki tujuh lini usaha yang menjawab kebutuhan masyarakat. Mulai dari otomotif, alat berat dan pertambangan, jasa keuangan, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, dan yang teranyar properti.

Apa yang dipaparkan keempat narasumber itu merupakan ilmu yang sangat berharga untuk menambah wawasan kami sebagai blogger, khususnya saya pribadi. Yaitu, wajib konsistensi dan semangat pantang menyerah demi mewujudkan hasil terbaik.

Yuk, kita saling berbagi inspirasi...

*      *      *
Rekan-rekan blogger jelang acara dimulai

*      *      *
Narsis sejenak sebagai bagian dari GenerAKSI (foto: Rini Agustina)

*      *      *
Yulian Warman menjelaskan Catur Dharma yang jadi filosofi Astra

*      *      *
Maharani menggiatkan penanaman pohon gaharu di Nusa Tenggara Barat

*      *      *
Wicaksono berbagi informasi perkembangan sosmed pada 2017

*      *      *
Arbain Rambey memberi tips menghasilkan foto yang lebih bernyawa

*      *      *
Antusiasme rekan blogger dalam diskusi bertajuk "Inspirasi Satu Indonesia"

*      *      *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:

Sensasi Menanam Gaharu Bersama Astra di Bukit Kasur Cianjur
Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia
Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
Apresiasi Astra untuk Guru di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

*      *      *
- Jakarta, 24 Desember 2016

Kamis, 22 Desember 2016

Sensasi Menanam Gaharu Bersama Astra di Bukit Kasur Cianjur




Yulian Warman menyerahkan bantuan secara simbolis

PT Astra International Tbk kembali mengadopsi 1.200 pohon produktif yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat di wilayah Batu Kasur, kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan itu dilakukan pagi tadi, Kamis (22/12) bersama keluarga besar Astra, perwakilan penduduk setempat, media, dan blogger.

Batu Kasur merupakan wilayah baru yang ditanami Astra. Sebelumnya, salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air itu sudah melakukannya di desa Tunggilis dan desa Sarongge yang sama-sama berada di Cianjur. Total, sejak 2010, Astra telah menanam 5.700 pohon yang tersebar di kabupaten Cianjur.

Nah, yang istimewa, dari 1.200 bibit pohon hari ini, 500 di antaranya bibit gaharu. Seketika, saya jadi ingat pepatah lawas, "sudah cendana, gaharu pula". Kebetulan, sejak masih di Kalimantan, saya sudah mengenal pohon yang harganya "wah" ini bersama cendana dan ulin.

Ini jadi sansasi tersendiri bagi saya yang kali pertama bisa menanam gaharu. Maklum, saat panen atau setelah ditanam, gubal atau lapisan hitam pada gaharu ini nilainya mencapai Rp 30-50 juta per pohon!

Bayangkan nilainya. Itu untuk satu pohon. Sementara, Astra menyumbang 500 pohon yang bisa dikalikan sendiri karena mencapai "Em-eman". Alhasil, kontribusi mulia perusahaan yang berdiri sejak 1957 ini mendapat apresiasi banyak pihak. Khususnya, dari pemerintah setempat di Cianjur.

Gaharu selama ini tumbuh liar di pedalaman Nusa Tenggara Barat (NTB). Pohon yang memiliki nama latin Gyrinops Versteegii ini bisa tumbuh hingga puluhan meter dengan diameter rata-rata 40 hingga 60 cm. Nah, gaharu liar yang telah ratusan tahun hidup di hutan seperti itu, gubalnya mencapai Rp 500 juta per kilogram yang setara dengan harga emas.

Biasanya, gubal dijadikan produk wewangian  seperti parfum, dupa, dan lainnya dengan kualitas yang sangat bagus. Jika di rumah kita mengoleksi parfum bermerek, beberapa di antaranya bahan bakunya berasal dari gubal gaharu.

Selain gaharu, 700 bibit pohon lainnya terdiri dari nangka, alpukat, jeruk bali, dan jengkol yang memiliki manfaat cukp besar untuk masyarakat. Sama seperti di dua desa sebelumnya, tujuan Astra menanam pohon buah itu demi konservasi lingkungan atau penanaman kembali area yang gundul. Sekaligus, untuk memberikan nilai tambah yang ekonomis bagi petani di sekitar area penanaman.

Itu diakui Iskandar, salah satu warga setempat yang saya temui. Menurutnya, upaya yang dilakukan Astra memberi harapan bagi mereka. "Saya berterima kasih dengan kontribusi Astra di daerah kami. Tiga atau beberapa tahun ke depan, kawasan ini akan menjadi lebat. Imbasnya kepada kami yang warga sekitar ya bisa menghasilkan rupiah untuk menambah dapur tetap ngebul," tutur Iskandar.

Dari biaya Rp 100 ribu per pohon yang diadopsi, para petani akan mendapat bagian sebesar 35%. Itu bisa digunakan untuk berternak kelinci, ayam atau kambing sebagai bentuk dari investasi jangka pendek. Sehingga, dengan program ini akan memberdayakan para petani di sekitar wilayah tersebut untuk juga dapat berternak.

Tak hanya itu, para petani juga diberikan pelatihan manajemen pengolahan uang serta penanaman pohon. Agar, program ini dapat berjalan dengan baik serta memberikan keuntungan yang maksimal. Dari kegiatan itu, diperkirakan petani dapat memanen buah-buahnya dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

*      *      *
SELAIN menanam pohon, saya yang tergabung dalam 100 peserta juga mengikuti diskusi tentang pelestarian lingkungan di Saung Sarongge. Nah, ini menarik mengingat narasumbernya merupakan penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014, Maharani.

Awalnyal, saya pikir saat pertama kali mendengar namanya itu wanita. Eh, ga tahunya pria. Ini kali ketiga saya mendapat ilmu dari pemenang SATU Awards setelah 27 Oktober lalu bersama Darwis Akbar dan Ridwan Nojeng di yang merupakan pemenang tahun ini.

"Indonesia baru memasok 10% dari bahan baku parfum dunia. Gaharu salah satu andalan ekspor masa depan yang bisa membuat petani lebih sejahtera," kata Maharani.

Sementara, Head of Public Relations Astra, Yulian Warman, mengatakan, "Kami melakukan ini rutin sejak tujuh tahun lalu di Sarongge. Alhamdulillah, upaya Astra bersama pemerintah setempat, GIF (Green Initiative Foundation), dan berbagai pihak lainnya mendapat apresiasi positif. Sarongge jadi program unggulan dari Kementerian Perhutanan. Bahkan pada 2013, pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono/ Presiden RI keenam) sampai mengunjungi Sarongge karena ingin tahu daerah yang awalnya kritis kini jadi hutan lindung."

Apa yang dikatakan Warman beralasan. Sejak 2008, Astra telah menanam 3.616.085 pohon di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Cianjur. Kegiatan tersebut jadi bagian dari salah satu pilar kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Astra yang terdiri dari Pendidikan, Usaha Kecil & Menengah (UKM), Lingkungan serta Kesehatan.

Nah, selain menanam pohon, Astra juga melaksanakan kegiatan lain di bidang lingkungan, seperti:

- Kampanye gaya hidup ramah lingkungan bersama Astra, Astra Green Lifestyle (AGL) yang dilakukan di enam kota besar. Dalam kegiatan ini dilaksanakan lomba lari ramah lingkungan Astra Green Run (AGR) di Jakarta dan Bali. Serta, kamapnye melalui jalan sehat, senam, dan fun run di Pekanbaru, Palembang, Bandung, dan Yogyakarta.

- Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dilakukan bersama pemerintah daerah dengan melakukan pembangunan dan pengembangan 33 hutan dan 13 taman kota yang dilakukan Grup Astra di seluruh nusantara.

- Pencegahan abrasi pantai dengan melakukan pembangunan tanggul dan penanaman 843.296 mangrove di seluruh Indonesia.

- Membangun kawasan hutan terpadu Grup Astra seluas 200 Ha yang akan jadi tempat pembelajaran tentang kehutanan, keanekaragaman hayati, serta pendidikan lingkungan tentang hutan tropis Indonesia, Haroto Pusako, Astra Forest, di Babakan Madang, Sentul. Di kawasan ini dikhususkan area seluas 4 Ha untuk konservasi 3.925 pohon dari 23 jenis tanaman buah langka.

- Mengelola program pemberdayaan masyarakat dan konservasi sungai Ciliwung bernama Astra Eco Edu River di empat wilayah yaitu, Depok, Jawa Barat, hingga Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

- Kampung Berseri Astra (KBA), pengembangan implementasi empat pilar CSR Astra. Yaitu, Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan, dan Kesehatan di kampung atau daerah tertentu secara terpadu yang diberi nama Kampung Berseri (Bersih, Sehat, Cerdas, dan Produkti). Mereka tersebar di 43 wilayah di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

- Pengembangan 17 Bank Sampah yang dibina Astra di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.

- Pembinaan 51 sekolah Adiwiyata di seluruh Indonesia. Binaan Astra berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri sebanyak dua sekolah dan Adiwiyata Nasional 15 sekolah.

- Pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Astra telah membangun lima RPTRA di lima wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.

"Pada prinsipinya, di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Itu sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara'," Warman, mengungkapkan.


*      *      *
Pemandangan Bukit Batu Kasur

*      *      *
Suasana jelang penanaman pohon

*      *      *
Maharani memperlihatkan cara penanaman gaharu

*      *      *
Rekan blogger Hazmi Srondol memotret titik koordinat tanamannya

*      *      *
Sepanjang areal yang ditanami pohon dari 100 peserta

*      *      *
Foto bersama yang bakal jadi cerita istimewa untuk anak dan cucu nanti

*      *      *
Salah satu pengalaman berkesan bagi saya sepanjang 2016 (Foto: @metreg)

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:

Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia
Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali
Pengalaman Ekstrem di Pedalaman Sumatera

*      *      *
- Sarongge (Cianjur), 22 Desember 2016
Ditulis dalam perjalanan pulang dan diedit Jumat (23/12) dini hari WIB

Senin, 19 Desember 2016

Wisata Malam di Kota Malang


Air mancur yang memesona di Alun-alun Monumen Tugu Malang


MALANG merupakan sebagai kota yang sejuk. Maklum, berdasarkan geografisnya di malangkota.go.id, kota berjulukan "Switzerland Van Java" terletak di ketinggian antara 440 - 667 meter diatas permukaan air laut (MDPL). Namun, meski lokasinya diapit berbagai pegunungan, Malang juga bisa banjir lho.

Nah, itu jadi anomali ketika saya mengunjungi "Kota Bunga" itu pada akhir November lalu. Meski, tidak aneh juga mengingat beberapa waktu lalu, Bandung yang juga memiliki ketinggian 675 - 1.050 MDPL pun sempat tergenang banjir.

Oke, lupakan banjir. Biarlah itu jadi domain pemerintah kota (pemkot) setempat. Yang pasti, ini baru kali pertama saya mengunjungi Malang. Asyik juga kotanya. Kecil tapi padat. Bisa dipahami mengingat Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya.

Itu mengapa Malang bersama kota Batu dan kabupaten Malang jadi destinasi utama pelancong dalam dan luar negeri. Salah satunya, saya yang sempat bertualang di kota yang jadi markas Arema Cronus tersebut.

Malang juga dikenal sebagai pusat sepak bola. Selain Arema, juga ada Persema Malang dan Sekolah Sepak Bola terkenal, Aji Santoso International Football Academy (ASIFA) yang sempat saya temui di Malang dan juga Jakarta, pekan lalu.

Malang memiliki luas sekitar 110 km persegi yang lebih kecil dari kotamadya Jakarta Barat (127 km2). Mereka dipimpin Mochamad Anton sebagai walikota yang bermarkas di Jalan Tugu 1, yang menurut GPS di smartphone saya berjarak sekitar 200 meter dari Stasiun Kereta Api Malang.

Sayangnya, saya kurang begitu mengenal walikota Malang. Beda dengan walikota Batu, Eddy Rumpoko, yang kerap saya temui di Jakarta. Maklum, Eddy termasuk salah satu pengurus Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)

Nah, di Taman Alun-alun Tugu yang terletak di depan Kantor Walikota Malang itu jadi salah satu tujuan utama saya. Kebetulan, tamannya indah dan bersih dari sampah. Apalagi, saat itu Minggu malam yang membuat taman dipenuhi banyak remaja.


*        *        *
SEPERTI kota besar lainnya, di Malang juga terdapat banyak tempat hiburan malam. Mulai dari pub, bar, cafe biasa, karaoke, diskotik, hingga yang plus-plus. Udara yang dingin pada malam hari membuat berbagai tempat hiburan itu dipadati pengunjung. Apalagi, lokasi mereka tersebar di berbagai penjuru dan mayoritas warga Malang, khususnya pemuda-pemudi, sudah khatam.

"(Malang) ga kalah sama Surabaya, Bandung, atau Jakarta, rul," tutur rekan seperjuangan saya sejak dulu yang saat itu jadi guide. Seusai ngalor-ngidul di sebuah cafe di dekat Alun-alun Kota (akan saya buat di edisi sealnjutnya), kami bertiga menyusuri berbagai kawasan eksotis tersebut.

Ya, intinya mencari angin di kota Malang tidak ada salahnya. Terlebih, kami sudah lama tidak bertemu lebih dari enam tahun. Biasanya, hanya berinteraksi via facebook atau whatsapp saja.

"Itu *** salah satu tempat dugem asyik di sini. Kalo mau, ntar ditemenin suami gw. Gw ngantuk mau balik ke hotel," tuturnya menunjuk Jalan Jaksa Agung Suprapto yang berada di utara.

Saya yang mendengar celotehannya hanya mengiyakan biar cepat. Padahal menolak. Bisa dipahami mengingat risih juga kalau wisata malam sampai harus pakai guide segala. Meski, saya mereka berdua sudah kenal lama sejak masih di Borneo hingga Tanah Andalas.

Alhasil, dengan menumpang mobil sewaan, kami bertiga hanya melihat dari luar saja dari jendela terkait gemerlapnya Malang pada malam hari. Setelah lelah mencoba cemilan khas Malang di berbagai sudut jalanan, kami pun pulang. Saya ke hotel yang tak jauh dari stasiun dan mereka menuju penginapan dekat Lapangan Brawijaya.

*        *        *
Suasana dini hari depan Balai kota dan Alun-alun Tugu

*        *        *
Kantor Wali Kota Malang

*        *        *
Keramaian di taman alun-alun Tugu

*        *        *
Odong-odong di salah satu jalan

*        *        *
Pusat penjualan merchandise Arema Cronus

*        *        *
Patung Tiga Singa depan Stasiun Malang 

*        *        *
Sentra Kuliner Sriwijaya

*        *        *
Simpang Pattimura menuju utara

*        *        *
Santap malam dengan Bakso Bakar Jagoan

*        *        *
SELESAI? Tentu saja tidak. Sebab, setelah berpisah dari mereka, justru petualangan saya baru akan dimulai. Ya, usai mandi dan menaruh kamera -ga mungkin ke tempat gituan bawa DSLR- saya pun berangkat. Sejuknya udara pada dini hari WIB itu jadi teman setia saya dalam perjalanan menuju barat kota Malang...
*        *        *
Artikel Sebelumnya:
(Prolog)
- Candi Jago
- Air Terjun Coban Pelangi
- Bromo...
- Kawah Bromo
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
(Epilog) Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang

Artikel Terkait Wisata Malam Lainnya
-
-
-
*        *        *
- Jakarta, 19 Desember 2016