TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: November 2014

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Sabtu, 29 November 2014

Carlo Ancelotti Ukir Sejarah

MENYAMAI REKOR 15 KEMENANGAN BERUNTUN YANG PERNAH DIBUAT MUNOZ DAN MOURINHO DI MADRID

Carlo Ancelotti dalam konferensi pers (sumber foto: 101greatsgoal.com)


CARLO Ancelotti mencatatkan namanya dalam daftar eksklusif pelatih dengan rentetan kemenangan terpanjang di Real Madrid. Keberhasilan "Los Blancos" mengalahkan FC Basel 1-0 dalam laga kelima Grup B Liga Champions di St Jakob-Park, Rabu (26/11), menjadikan "Carletto" pelatih ketiga yang mampu membersembahkan 15 kemenangan beruntun bagi klub itu sepanjang sejarah setelah Miguel Munoz (1960/61) dan Jose Mourinho (2011/12).

Selain menyamai rekor klub, kemenangan ini juga memastikan Madrid keluar sebagai juara Grup B. Dengan demikian, tak ada lagi yang akan dipertaruhkan "Los Merengues" dalam pertandingan terakhir Grup B melawan Ludogorets di Santiago Bernabeu pada 9 Desember mendatang.

Sepanjang dua bulan terakhir, Madrid hanya tahu bagaimana caranya meraih kemenangan. Tren positif ini pada 16 September lalu, tepat pada pertemuan pertama melawan basel di Bernabeu yang juga merupakan laga pertama Madrid di Liga Champions musim ini. Madrid yang tiga hari sebelumnya ditekuk Atletico Madrid 1-2 di La Liga mengamuk dengan menghajar klub Swiss itu 5-1.

Sejak itu, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan tak pernah lagi kehilangan angka. Jika Ancelotti kembali meraih kemenangan saat Madrid dijamu Malaga dalam laga La Liga di La Rosaleda, Sabtu akhir pekan ini, Ancelotti bakal menjadi pelatih dengan rekor kemenangan beruntun terpanjang, 16 kali mengungguli Munoz dan Mourinho.

Kemenangan lawan Baseel di St Jakob-Park juga merupakan yang ke-75 bagi Ancelotti dalam kiprahnya di Liga Champions sebagai pelatih. Catatan ini sama dengan yang dibuat oleh pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Tapi, pelatih asal Italia ini masih terpaut jauh dengan Alex Ferguson sebagai pelatih denganr ekor kemenangan terbanyak di kompetisi elite Eropa ini dengan 102 kemenangan.

Kemenangan atas Basel juga membuat Madrid menjadi lebih optimistis lagi dalam emmandang peluang mereka di seluruh kompetisi musim ini. Bagi Ancelotti sendiri catatannya yang sangat impresif dalam dua bulan bakal menaikkan posisi tawarnya dalam negoisasi perpanjangan kontrak dengan Madrid.***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 28 November 2014


Artikel FC Internazionale sebelumnya
"We are Rival, but Not Enemy"
Cinta Lama Bersemi Kembali
Keluarga Vergani Terbelah karena Derby
Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya

Jumat, 28 November 2014

Sandal Ajaib untuk "El Clasico"

Dr. Miguel Litton dan dua kakak adik Dana serta Wyra Ahmed (foto Marca)


DOKTER Miguel Litton menyambut MARCA di tempat tinggalnya di Madrid, sangat dekat dengan markas Real Madrid, Santiago Bernabeu. Ia tinggal di lantai empat, hanya satu tingkat di bawah bekas kediaman mendiang Alfredo Di Stefano, sahabat sekaligus mantan pasiennya.

Saat dikutnjungi, Dr. Miguel Litton tidak sendirian. Ia ditemani istrinya dan tiga orang tamu istimewa dari Kurdistan, Irak: Halkawt Mustafa yang merupakan sutradara film serta Dana dan Wyra Ahmed, kakak beradik yang membintangi film yang tengah dibuat Halkawt berjudul "El Clasico".

Dana dan Wyra adaalah penderita dwarfisme yang membuat tubuh mereka menjadi kerdil alias cebol. Sebelum diajak menjadi pemeran dalam film Halkawt, keduanya bekerja di sebuah pabrik pembuat alas kaki di Kurdistan. Kedua kakak beradik ini sangat akrab, tapi ada satu hal yang membuat mereka saling berseteru yaitu kegemaran keduanya terhadap sepak bola.

Maklum, kakak beradik ini mengidolakan dua pemain yang berbeda. Dana, sang kakak yang berusia 23 tahun adalah penggemar bintang Barcelona, Lionel Messi. Di pihak lain, Wyra, 21 tahun, punya impian untuk bisa menjadi seperti penyerang Eeal Madrid, Cristiano Ronaldo.

Kedua kakak beradik ini bisa datang ke madrid berkat bantuan Dr. Miguel Litton. Sang dokter juga membantu Wyra bertemu dengan idolanya, Cristiano Ronaldo, setelah melalui berbagai prosedur yang sulit. Dalam pertemuan tersebut, Wyra menghadiahkan klash, sepatu tradisional bangsa Kurdish, ekapda Ronaldo.

Alas kaki ini dibuat sendiri oleh Wyra dan Dana di pabriknya selama enam bulan. Mereka tak lupa memasang sejumlah hal yang identik dengan Ronaldo seperti logo Real Madrid pada bagian atasnya serta nama dan nomor punggung pada kedua sisinya.

"Alas kaki ini bisa bertahan selama 200 tahun dan tak akan rusak. Butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikan satu pasang alas kaki ini. Kami telah membuatnya khusus untuk Ronaldo dan Messi," Dana menambahkan.

Kegemaran mereka terhadap sepak bola, khsusnya Ronaldo dan Messi adalah sesuatu yang sulit dipahami. Pasalnya, wilayah Kurdistan di Irak sangat sering dilanda peperangan dan menjadi markas kelompok radikal ISIS. Banyak pembunuhan, penculikan, dan penyerangan terjadi di sana. Tapi, ketika "El Clasico" antara Madrid dan Barcelona digelar, warga di sana menghentikan semua kegiatan mereka.

Warga Kurdistan bahkan menganggap serius rivalitas antara madrid dan Barcelona. "Setiap usai pertandingan Madrid lawan Barca, selalu ada insiden. Banyak penggemar yang ditahan dan dipenjara lantaran berkelahi dengan penggemar tim lain, " kata Dana. "Jika polisi menanyakan kepada kita tim mana yang kita dukung dan kebetulan tim itu sama dengan yang didukung polisi tersebut, kita bisa selamat. Jika tidak, kita bakal tetap ditangkap."

Tak mudah untuk tinggal di Kurdistan. Terutama bagi mereka yang punya tubuh tidak normal. Para penderita dwarfisme seperti Wyra dan Dana sudah mulai diterima di masyarakat. Tapi, mereka masih sering menjadi bahan olok-olik. Setidaknya ada 5.000 warga Kurdistan yang menderita penyakit ini dengan rata-rata penderita dari 20 ribu orang. Padahal, di dunia adalah 1 penderita per 20 ribu orang.*

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 27 November 2014


Artikel FC Internazionale sebelumnya
"We are Rival, but Not Enemy"
Cinta Lama Bersemi Kembali
Keluarga Vergani Terbelah karena Derby
Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya



Kamis, 27 November 2014

Ketika Ponsel Punya Cerita




Nokia 5730 XpressMusic warna merah nan menawan (sumber foto koleksi pribadi/ roelly87.com)



"Seluruh kekuatan di dunia, bersatu untuk bercerai dan bercerai untuk bersatu kembali". Tiba-tiba saja setelah membaca novel Kisah Tiga Negara (The Romance of the Three Kingdoms) saya menjadi teringat dengan satu produsen telepon seluler (ponsel) ternama: Nokia.

Ya, Nokia dulu sempat berjaya sekitar akhir dekade 1990-an hingga awal 2013 saat diakuisisi Microsoft. Cukup lama ponsel asal Finlandia ini menjadi genggaman wajib khalayak ramai di dunia. Bahkan, beberapa seri Nokia dijuluki sebagai "ponsel sejuta umat". Tak terkecuali saya yang tak pernah lepas sejak awal 2002 hingga kini.

Entah berapa banyak ponsel Nokia yang saya punya. Butuh beberapa malam untuk mengingat berbagai seri dari Nokia yang pernah saya miliki. Baik itu merupakan pemberian orangtua, hadiah seseorang, diberi kantor, maupun beli sendiri.

Kalau tidak salah, semua itu dimulai dengan seri 3310 hingga terhenti pada 5730 XpressMusic yang saya beli sekitar akhir Juni 2009 dan hingga kini masih menemani  dengan setia. 12 tahun silam, ponsel Nokia 3310 merupakan yang termewah bagi saya saat itu. Wajar saja mengingat itu pertama kali saya memiliki ponsel yang dibeli dengan keliling ITC Roxy Mas hingga beberapa jam.

Harganya saat itu sekitar sekian rupiah jika dikurs dengan sekarang. Fungsinya, untuk menelepon dari atau ke rumah, sekolah, dan teman-teman, yang disertai pesan singkat (Sms), dan game "Snake" yang legend banget! Waktu itu, berasa keren banget jika memiliki ponsel yang di kelas hanya segelintir teman yang punya.

Bahkan, ada perasaan  bangga saat mengalungkan 3310 di leher dengan tali ketika pelajaran olahraga atau acara lainnya. Padahal, seri "3" itu jika dikonvers sekarang tidak ada kunggulannya. Tapi, 1,5 windu lalu, dengan casing yang bisa diganti-ganti, suara ringtone yang abadi, serta layar monokrom, sudah lebih dari cukup.

Setelah 3310 yang bertahan beberapa bulan selama mengenakan seragam putih abu-abu, saya pun berganti berbagai tipe. Kalau tidak salah, urutannya, 3315, 3200, 2100, 6510, 7650, 3650, 3660, 1600, 3100, 3350, 3230, 3587i, 3530, 3230, 6300, 5610 XpressMusic, 1209, 5700, 2505, hingga 5730. Di antara belasan ponsel tersebut, yang masih tersisa hingga kini cuma lima: 3587i, 1209, 3230, 2505, dan 5630.

Dua ponsel pertama sudah memasuki kategori "almarhum". Untuk 3230 patut dimuseumkan karena baterainya hilang. Begitu juga dengan 2505 yang meski masih "hidup" tapi bermasalah dengan baterainya dan sulit untuk menemukannya di beberapa ITC serta toko online. Sementara, untuk 5730, baterainya pun sudah gemuk. Tapi, seri XpressMusic itu tetap tangguh meski beberapa kali nyemplung di got atau kamar mandi.

Dari seri 5730 itu saya "belajar" untuk mengetik layaknya di komputer karena terdapat tombol QWERTY yang bisa digeser. Sedangkan seri 5610 merupakan ponsel pertama saya untuk belajar internet di aplikasi web bawaan atau Opera Mini. Sebenarnya, kedua ponsel itu, kecuali bentuknya, tidak jauh berbeda. Baik itu dari sisi kamera yang resolusinya 3,2 megapixel dengan lensa Carl Zeiss, tipe XpressMusic, koneksi, media, dan sebagainya yang sama.

*       *      *

Muncul Pesaing

"Ombak belakang dari sungai Tiankang kerap mendorong arus ke depan. Orang baru selalu menggantikan yang lama". Begitulah peribahasa kuno yang selalu saya ingat. Di dunia ini tiada yang abadi, termasuk juga dengan teknologi.

Awal bulan ini netizen digemparkan dengan rumor yang akhirnya menjadi nyata. Yaitu tentang pergantian nama (merek) dari Nokia menjadi Microsoft Lumia. Saya pribadi belum pernah menggunakan ponsel hasil kolaborasi Finlandia-Amerika Serikat (Microsoft) tersebut. Mungkin, karena masih "canggung" akibat terbiasa dengan Nokia era sistem operasi Symbian ketimbang Windows.

Apalagi, sejak awal 2012, terdapat satu ponsel yang mendampingi XpressMusic 5730 yang kebetulan berasal dari Asia (Korea Selatan), yaitu Samsung tipe S5570i. Ponsel dari negerinya K-Pop yang saya dapat dari hasil menang lomba itu yang dalam dua tahun terakhir kerap menemani saya. Kemudahan cara memakainya karena terintegrasi dengan Google (Android) dan jaringan after sales yang tersebar di Tanah Air membuat saya kian terpincut.

Selain tipe S5570i, saya sudah dua kali memiliki ponsel bermerek Samsung tersebut (Mini & Young). Kebetulan, dua-duanya tidak beli, yaitu hadiah dari mengikuti acara Kompasiana berupa livetweet. Secara jujur, saat ini, Samsung lebih baik ketimbang Nokia. Jelas saja, karena ponsel dari Asia tersebut selalu update ketimbang Nokia yang sudah terhenti. Beda cerita mungkin jika dibandingkan dengan Microsoft Lumia.

Namun, jika boleh memilih, ponsel legendaris yang saya punya sudah tentu 5730 XpressMusic. Bukan hanya karena hari-hari ini tepat lima tahun saya membelinya di sebuah toko di kawasan taplau (tepi laut) kota Padang, Sumatera Barat. Ya, lima tahun bukan waktu sedikit untuk sebuah gadget yang selalu berganti mode nyaris setiap waktu. Tapi, saya tetap tidak berganti selera dengannya.


*       *      *

Sebelumnya

- Lima Ponsel Legendaris  
- Pengalaman Belanja di Toko Online

Beberapa seri yang ikonik bagi saya:
3310 = debut saya memegang ponsel
2100 = cover belakang bisa dipasang foto
7650 = ponsel pertama yang terintegrasi kamera
3650 = bisa merekam video sekaligus keypadnya unik
6300 = casing elegan
5700 = keypad bsia diputar
2505 = fashion abis bermodel kerang yang menjadi pusat perhatian
5610 = awal saya kenal internet memakai ponsel ini
5730 = nyaris sempurna

Beberapa seri yang gagal terbeli
9210 = communicator awal yang tergolong unik dengan menelepon dari belakang
9500 = nyaris terbeli jika tidak ada sesuatu untuk ponsel yang hampir sempurna ini
N95 = kalah saing dengan 5730 karena harganya dua kali lipat
NGage QD = keduluan beli playstation
N93i = salah satu ponsel kamera terbaik di zamannya
N73 = versi premium dari 3230 alias kemahalan

*      *      *

Beberapa ponsel Nokia "jadul" yang tersisa (roelly87)


*      *      *



*      *      *

- Cikini, 27 November 2014

Toto Milestone!

DI NATALE BUKUKAN 200 GOL DARI 400 LAGA DI SERI A

Striker Udinese itu mengincar posisi Roberto Baggio di urutan keenam daftar pemain tersubur sepanjang sejarah dengan 205 gol.

Antonio Di Natale saat merayakan gol ke-200 ke gawang Chievo (sumber foto: espnfc.com)


ANTONIO Di Natale mencetak gol ke gawang Chievo Verona, Minggu (23/11). Seketika, Stadion Friuli yang dipenuhi 20.119 penonton bergemuruh. Perayaan gol striker Udinese itu berlangsung lebih meriah daripada biasanya: Pengeras suara meneriakkan namanya tiga kali, berupa nama lengkap, nama keluarga, dan  panggilan.

Lalu, layar raksasa menampilkan angka yang sudah ditunggu-tunggu disertai aksi tifiosi yang serentak mengangkat spanduk bertuilskan, "200 karya seni. Semoga Tuhan menjaga Anda". Semuanya indah, walaupun gol tersebut itdak berhasil memberi kemenangan bagi "Il Zebrette" pada pekan ke-12 Seri A musim ini.

"Secara pribadi, saya puas namun tidak dengan hasil pertandingan," kata Di Natale yang di laga itu memainkan laga ke-400 di Seri A. "Terima kasih semua, rekan-rekan, seluruh pelatih yang pernah melatih saya, dan yang utama orangtua saya di surga."

Berkat satu golnya itu, Toto -panggilan Di Natale- hanya tertinggal lima gol dari legenda sepak bola Italia, Roberto Baggio. Saat ini Baggio masih menempati urutan keenam pemain tersubur Seri A sepanjang masa. "Itu merupakan target saya untuk menyamai rekor Baggio."

Mengenai masa depan dan rencana pensiun, Di Natale belum memustuskan. Dia masih ingin bermain, setidaknya hingga beberap musim mendatang. Di antara pemain tersubur Seri A sepanjang sejarah yang masih aktif, hanya Francesco Totti (38 tahun) yang lebih tua dan produktif darinya.

Sudah tentu, tekad Di Natale itu didukung banyak pihak. Termasuk pelatih Udinese, Andrea Stramaccioni yang mengagumi performa Toto karena sudah mencetak tujuh gol dari 11 laga musim ini. Itu menjadikan Di Natale di urutan ketiga sementara capocannoniere di bawah Carlos Tevez yang mengemas sembilan gol dan Jose Callejon (delapan gol).

"Saya akan membicarakannya lagi dengan keluarga setelah enam bulan," kata Di Natale yang langsung ditimpali Strama. "Indah bisa merayakan pencapaian ini di sini, kota yang sudah memberi banyak kepada Toto dan juga menerima banyak darinya. Saya bangga melatih tim yang membuatnya mencapai target penting."

Dalam 15 tahun, Di Natale sudah dua kali menjadi pencetak gol terbanyak (tahun 2010 dan 2011 dengan 29 dan 28 gol) dan membuat 77 orang kiper menangis.***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 25 November 2014

10 Besar Pemain Tersubur Seri A yang Masih Aktif
No - Nama - Gol - Laga - Klub kini
1. Francesco Totti - 237 - 569 - AS Roma
2. Antonio Di Natale - 200 - 400 - Udinese
3. Luca Toni - 132 - 294 - Hellas Verona
4. Antonio Cassano - 111 - 367 - Parma
5. Giampaolo Pazzini - 97 - 298 - AC Milan
6. Sergio Pellissier - 88 - 349 - Chievo
7. Carvalho Amauri - 84 - 322 - Torino
8. Fabio Quagliarella - 79 - 275 - Torino
9. Alessandro Matri - 73 - 234 - Genoa
10. Marco Borriello - 71 - 257 - AS Roma

Artikel Sebelumnya:
Fakta Menarik Seri A Pekan ke-12

Artikel FC Internazionale sebelumnya
"We are Rival, but Not Enemy"
Cinta Lama Bersemi Kembali
Keluarga Vergani Terbelah karena Derby
Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya

Rabu, 26 November 2014

Messi Terbang Tinggi



"LA PULGA" SAMAI REKOR  ZARRA SEBAGAI PENCETAK GOL TERBANYAK LA LIGA SEPANJANG MASA

Lionel Messi dibopong rekan-rekannya di Barcelona (sumber foto: BBC.co.uk)


LIONEL Messi menambah rekor baru dalam perjalanan kariernya. Pada laga lawan Sevilla, Sabtu (22/11), ia membukukan tiga gol untuk membantu Barcelona menang 5-1. Hattrick itu juga membawa pemain berjulukan "La Pulga" melampaui rekor legenda Athletic Bilbao, Telmo Zarra, sebagai pencetak gol terbanayk dalam sejarah kompetisi elite Spanyol.

Kini Messi telah mencetak total 253 gol sepanjang kiprahnya di La Liga. Jumlah itu lebih banyak dua gol dibandingkan rekor Zarra. Catatan Messi menjadi jauh lebih istimewa lagi mengingat ia mencapai nya hanya dalam 11 musim sementara Zarra butuh 15 musim untuk mencetak ke-251 golnya.

Messi juga baru berusia 27 tahun dan kontraknya di Barca masih tersisa sampai 2018. Dengan begitu, ia berpeluang menambah rekornya dengan puluhan gol lagi.

Bagi publik Camp Nou dan rekan-rekan setimnya menjelang rekor terbaru ditorehkannya sudah merasaka tidak sabar untuk melihat itu. Tak pelak saat ia memecahkan rekor itu, para pemain barca mengangkatnya ke udara. Rekor tersebut didedikasikan sang bintang untuk anaknya, Thiago Messi.

Messi juga sempat menikmati video yang diputar sebagai penghargaan dari klub kepadanya. Para pemain barca lainnya berbaris membentuk pasillo (lorong) baginya sebelum memasuki terowongan menuju ruang ganti. Di lapangan, Messi sempat berbicara di hadapan media dan menyampaikan masalah dirinya di klub tersebut.

Maklum, belakangan ia menjadi sorotan setelah sempat menunjukkan gelagat akan meninggalkan "Los Azulgrana". Tak ayal setelah ia memberikan klarifikasi di depan publik Camp Nou, Messi mendapat tepuk tangan dan teriakan dukungan dari penggemarnya.

Tentu saja pencapaian Messi saat ini mendapatkan respons positif dari phiak tertinggi klub, tak terkecuali Josep Maria Bartomeu, presiden Barca. "Ini hal yang luar biasa. Tak ada tandingannya, " Bartomeu memuji. "Dia pemain terbaik di dunia sepanjang sejarah. Masih banyak waktu untuk menikmati permainan Messi."

Bartomeu menegaskan fakta bahwa sang pemain masih terikat dengan kontrak, dan Messi pun dipastikan olehnya senang bertahan di Camp Nou.***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 24 November 2014

Daftar Pencetak Gol Terbanyak La Liga

251/277 Zarra (Athletic Bilbao)
234/347 Hugo Sanchez (Atletico Madrid, Real Madrid, Rayo Valleccano)
228/555 Raul Gonzalez (Real Madrid)
227/239 Alfredo Di Stefano  (Real Madrid, Espanyol)
223/353 Cesar Sanchez (Granada, Barcelona, Leonesa, Elche)
219/448 Quini (Gijon, Barcelona)
210/278 Pahino (Celta Vigo, Real Madrid, La Coruna)
198/176 Cristiano Ronaldo (Real Madrid)
195/231 Mundo (Valencia, Alcoyano)

Artikel Sebelumnya

Artikel FC Internazionale sebelumnya
"We are Rival, but Not Enemy"
Cinta Lama Bersemi Kembali
Keluarga Vergani Terbelah karena Derby
Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya
Kembalinya "Il Sette Magnifico"

Selasa, 25 November 2014

Fakta Menarik Seri A Pekan ke-12

Paul Pogba dan Carlos Tevez, simbol kemenangan Juventus (telegraph.co.uk)


SERI A pekan ke-12 telah selesai. Drama yang berlangsung sejak Atalanta versus AS Roma pada Sabtu (23/11) hingga disudahi Genoa kontra Palermo dini hari WIB tadi. Berikut ini beberapa fakta menarik menyangkut pertandingan, statistik, dan rekor di Seri A pekan ke-12:

Juventus vs Lazio
Terakhir kali  Juventus mengalahkan Lazio 3-0 pada 1961.
Lazio tidak pernah menglaahkan Juventus di Seri A dalam laga tandang-kandang sejak menang 2-0 pada 2-13.
Rekor Juventus vs Lazio dalam 20 pertemuan terakhir: 14 menang & 6 seri.
Terakhir kali Lazio kebobolan 3 gol di kandangnya dari Chievo pada 15 Maret 2009.
Juventus mencetak rekor tersubur sejak 60 tahun terakhir dengan mengemas 28 gol dalam 12 laga. Catatan sebelumnya 29 gol dari 13 laga pada 2012/13.
Juventus merupakan tim terbanyak clean sheet di kompetisi Eropa hingga sembilan kali menyamai Bayern Muenchen (Bundesliga Jerman).
Juventus selalu menang musim ini  jika mencetak gol lebih dulu atas lawannya.
Stefano Pioli tidak pernah mengalahkan Massimiliano Allegri dalam 8 laga: 3 seri & 5 kalah.
Paul Pogba mencetak doppietta kedua di Seri A sejak 19 Januari 2013 sekaligus gol ke-15 di Seri A bersama Juventus.
Carlos Tevez memimpin capocannoniere sementara dengan 9 gol dari 10 pertandingan.

Atalanta vs Roma
Roma berhasil meraih kemenangan tandang dalam dua bulan terakhri sejak 2 seri dan 3 kalah di semua kompetisi.
Adem Ljajic mencetak gol ke-13 di Seri A. Sementara, Radja Nainggolan mengemas gol ke-11.
Atalanta hanya sekali menang dalam 10 laga terakhir yang berujung 6 kekalahan.
Atalanta memulai start terburuk di Seri A sejak 1978/79 dengan hanya mencetak 5 gol musim ini dari 12 laga.
Maxi Moralez kembali mencetak gol (ke-19 di Seri A) sejak 9 Maret ke gawang Lazio.

Napoli vs Cagliari
Dalam 4 laga terakhir kedua tim di San Paolo berujung 23 gol.
Napoli mencetak 2 gol musim ini yang berawal dari operan ke dalam saat melawan Cagliari (Gonzalo Higuain) & Inter (Jose Callejon).
Higuain selalu mencetak gol dalam 5 pertandingan terakhir dengan total 5 gol.
Gokhan Inler mengemas gol ke-15 di Seri A sekaligus yang pertama sejak ke gawang AC Milan pada 8 Februari lalu.
Napoli mencatat rekor musim di Seri A dengan tak terkalahkan dalam 9 laga terakhir: 5 menang & 4 seri.
Cagliari gagal mengalahkan Napoli sejak menang 2-0 pada 2009: 5 seri & 6 kalah (kandang-tandang)
Victor Ibarbo mencetak gol ke-15 di Seri A dengan gol terakhir sejak 21 April 2013.
Diego Farias mencetak doppietta pertama di Seri A dengan total 3 gol dari 2 laga.

Milan vs Inter
Hasil seri 1-1 merupakan yang kedua dalam 20 Derby terakhir: Inter menang 11 kali dan Milan 7.
Terakhir kali derby berlangsung imbang saat Milan menjadi tuan rumah pada 24 Oktober 2004 (0-0).
Kedua tim hanya meraih 35 poin dari 12 laga musim ini (Milan 18 & Inter 17) yang merupakan terburuk sejak 2000/01.
Sejak pergantian milenium kedua tim meraih hasil identik di derby: Sama-sama menang 13 kali dan seri 4 kali.
Roberto Mancini kembali untuk melakoni derby ke-11 di semua kompetisi dengan hasil 4 menang, 2 seri, 5 kalah. Di Seri A 4 menang, 2 seri, 3 kalah.
Milan belum pernah menang dalam 5 laga terakhir di Seri A musim ini (4 seri & 1 kalah) yang terburuk sejak November 2013.
Inter selalu meraih hasil seri dalam 3 laga terakhir di semua kompetisi.
Jeremy Menez mencetak 12 gol di Seri A dalam 10 laga.
Menez merupakan pemain Prancis terakhir yang mencetak gol pada derby sejak Youri Djorkaeff untuk Inter pada April 1997.
Sejak Bruno N’Gotty (Milan) mencetak gol bunuh diri pada 13 Maret 1999, hingga kini belum terjadi lagi di derby.
Joel Obi mencetak gol pertama di derby sejak debutnya pada November 2011.

Udinese vs Chievo
Antonio Di Natale mencetak gol ke-200 dalam 400 pertandingan di Seri A.
Di Natale menempati urutan pemain tersubur ketujuh sepanjang masa tertinggal 5 gol dari Roberto Baggio (205 gol).
Di Natale berada di posisi kedua setelah Francesco Totti sebagai pemain tersubur di antara yang masih aktif di Seri A.
Gol perdana Di Natale di Seri A pada 14 September 2002 saat memperkuat Empoli melawan Como 2-0.***

Referensi:
 - Lega SerieAESPN SerieA

Artikel Sebelumnya:

Artikel FC Internazionale sebelumnya
"We are Rival, but Not Enemy"
Cinta Lama Bersemi Kembali
Keluarga Vergani Terbelah karena Derby
Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya


- Cikini, 25 November 2014

Senin, 24 November 2014

Keluarga Vergani Terbelah karena Derby


Ilustrasi dua pemain Milan & Inter (Sumber foto: La Gazzetta dello Sport)


KELUARGA Vergani merupakan pembuat kue yang bertahan hingga tiga generasi. Mereka tahu untuk membentuk roti yang enak dibutuhkan waktu dan kesabaran. "Ragi adalah segalanya bagi roti. Ragi dan terigu," tutur mereka. Tanpa bahan dan waktu yang tepat maka semuanya akan gagal. Hal itu juga berlaku dalam sepak bola.

Sama seperti mayoritas penduduk Italia lainnya, mereka juga menggemari sepak bola. Giacomo Vergani, kepala keluarga, yang lahir pada 1931 dan adiknya, Luigi, dua tahun lebih muda, tidak hanya membagikan resep rahasia kepada keturunannya. Mereka juga menularkan kegilaan pada sepak bola. Keduanya memiliki pengetahuan luas tentng FC Internazionale era '50-an hingga zamannya Mateo Kovacic.

"Meskipun sekarang kita bisa menontonnya di televisi, sensasinya berebda ketika menyaksikan langsung di stadion. Kami tak ingin pergi ke stadion lain," mereka menjelaskan.

Derby sudah dimulai ketika kakak beradik Giacomo Luigi berdebat tentang AC Milan yang telah melepaskan Andrea Pirlo. Diskusi kian hangat ketika anggota keluarga lainnya menimpali, "Saya Interista, tapi juga warga kota Milan. Milan era Arrigo Sacchi bermain terlalu bagus," kata Luigi, 81 tahun yang memilih Helenio Herrera yang telah menghadiahkan tiga scudetti.

Giacomo langsung menyambar, "Dia beruntung memiliki (Armando) Picchi. Picchi adalah yang paling hebat dari semuanya."

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 22-23 November 2014

Artikel FC Internazionale sebelumnya
- "We are Rival, but Not Enemy"
Cinta Lama Bersemi Kembali
- Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya

Minggu, 23 November 2014

"We are Rival, but Not Enemy"

Pengurus ICI bersama Presiden FC Internazionale Erick Thohir (foto: www.roelly87.com)


KOMUNITAS Inter Club Indonesia (ICI) mengadakan nonton bareng alias nobar di berbagai tempat menyambut laga "Derby della Madonnina". Salah satunya di Rick's cafe, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (23/11).

Deddy Rondonuwu, pengurus ICI divisi event, sudah tak sabar. Ia begitu optimistis itu lantaran efek Roberto Mancini sebagai pelatih anyar Inter menggantikan Walter Mazzarri. Menurut Deddy, pengalaman dan tangan dingin Mancio bakal menjadi kartu truf "La Beneamata" atas tim sekotanya.

"Menurut saya, derby ini sangat menarik terlepas kondisi kedua tim yang berada di luar empat besar klasemen," tutur pengagum berat Javier Zanetti ini. "Apalagi, kembalinya Mancini bakal mendongkrak mentalitas Mauro Icardi dan kawan-kawan. Derby ini sekaligus bakal menjadi pembuktian kualitas Mancio."

Komentar Twitter

Sementara, dari dunia maya, yaitu Twitter juga tak kalah serunya. Dalam beberapa mentions yang masuk ke akun twitter resmi TopSkor (@HarianTopSkor) meski beraroma sengit, kedua suporter tentunya saling mengunggukan tim masing-masing masih berkepala dingin. Mereka berkomentar dengan bahasa yang santun. Misalnya, akun @JerryouSIDers yang memberi komentar, "We are rival, but not enemy."* @roelly87

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 22-23 November 2014

Artikel FC Internazionale sebelumnya
Cinta Lama Bersemi Kembali
- Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya

Moratti Tak Menyangka Tifosi Membenci Mazzarri




Erick Thohir dan Massimo Moratti (sumber foto: inter.it)


ROBERTO Mancini bagus, Erick Thohir hebat, dan dalam derby Milan, Minggu (23/11) ini, FC Internazionale akan melakukan semuanya untuk menang. Itu adalah ringkasan pemikiran Presiden Kehormatan Massimo Moratti yang disampaikan secara informal dalam pesta peluncuran kalender baru Pirelli di Hangar Bicocca Milan, Selasa (18/11).

Moratti duduk semeja dengan istrinya Milly, koleganya Marco Tronchetti Povera yang menjabat sebagai CEO Pirelli, serta beberapa tamu kehormatan. Di sela-sela acara, pengusaha minyak tersebut berjalan-jalan sembari menyapa para undangan yang dikenalnya.

Pembicaraan mengenai kondisi Inter selalu muncul. Meski kini statusnya hanya pemegang saham minoritas, kecintaan Moratti pada "I Nerazzurri" tak berkurang. Mata pria 69 tahun tersebut selalu berbinar ketika menceritakan tentang klub yang dipimpinnya selama dua dekade itu.

Moratti mengeluhkan tentang Walter Mazzarri, pelatih yang baru dipecat pekan lalu. Tidak adanya ikatan yang kuat antara tecnico asal San Vincenzo itu dengan tim merupakan masalah besar.

"Saya belum pernah melihat pelatih yang sangat dibenci tifosi. Sebenarnya Mazzarri adalah orang yang sangat baik tapi mudah sekali gelisah. Pada akhirnya dia tidak memahami apa pun tentang kami," ujar Moratti, 69 tahun. "Ingat ya... ini bukan wawancara,"

Moratti memperingatkan wartawan yang mengerubunginya karena tidak mau komentarnya dipelintir sehingga melukai pihak tertentu. Sekarang Inter sudah mendudukkan Mancini di bangku pelatih. Pilihan tersebut tentu didukung 100 persen oleh tifosi. Rekam jejak positif selama menukangi tim yang bermarkas di Appiano Gentile musim 2004-2004 menjadi acuan.

"Hanya sedikit pelatih seperti dia yang bisa juara bersama Inter. Kami membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya banyak pihak. Saat itu tidak banyak alternatifnya, saya merkomendasikan Mancini atau Leonardo kepada Erick. Memanggil Mancini memberikan kepastian dari sisi ekonomi," tuturnya lagi.

Moratti kemudian meminta agar semua pihak memberi support kepada patron baru. "Erick berkomitmen kuat melakukan sesuatu untuk klub ini. Berikanlah dia waktu. Problemnya hanya satu, tempat tinggalnya terlalu jauh sehingga agak susah memahami apa yang terjadi di sini," lanjut putra dari presiden legendari Inter, Angelo Moratti ini. "Terkait investor baru, beberaap waktu lalu Erick menelepon saya dan menjelaskan kalau kabar itu tidak benar."

Hal yang paling penting adalah "Derby della Madonnina". Moratti yang sudah beberapa kali absen menyaksikan pertandingan Inter mengisyaratkan akan hadir di stadion.*

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 21 November 2014

16
Trofi yang dimenangkan Inter era Massimo Moratti. Itu meliputi 1 Piala Dunia Klub, 1 Liga Champions, lima Scudetto, 1 Piala UEFA, 4 Piala Italia, dan 4 Piala Super Italia.

Artikel FC Internazionale sebelumnya
Cinta Lama Bersemi Kembali
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel AC Milan sebelumnya

Sabtu, 22 November 2014

Miha "Sang Alkemis"

MENGUBAH SAMPDORIA MENJADI "TIM EMAS" DALAM WAKTU SETAHUN
Pelatih 45 tahun itu menularkan keberanian dalam skuatnya

Sinisa Mihajlovic (sumber foto: italianfootballdaily.com)


SALAH satu elemen kesuksesan Sampdoria musim ini adalah Sinisa Mihajlovic. Kemarin, pelatih asal Serbia itu genap satu tahun melatih "Il Samp" sejak menggantikan Delio Rossi pada 20 November 2013. Dalam periode itu, Miha, sapaan Mihajlovic, berhasil mengangkat Smapdoria dari posisi ke-18 hingga ke peringkat keempat.

Bahkan, pelatih 45 tahun itu dianggap "sang Alkemis" karena kemampuannya mengubah tim seperti "Il Samp". Miha sendiri merupakan sosok penuh optimisme. Dia juga mempunyai karisma dan ide. Setahun lalu, saat kritik tajam mengalir deras dari tifosi, Miha bergeming.

Hebatnya, dia mampu menjawab kritikan tersebut. Miha mendongkrak penampilan Manolo Gabbiadini dan kawan-kawan dan berhasil menempati posisi ke-12 di akhir musim. Grafik "Il Samp" makin meningkat awal musim ini, dengan menempati empat besar. Mereka hanya tertinggal delapan poin dari pemuncak klasemen Juventus (28).

Ide, mentalitas, dan kemampuan membuat pilihan yang tepat merupakan materi penting yang diberikan Miha untuk kebangkitan timnya. pertama-tama menerapkan formasi 4-2-3-1 yang berubah menjadi 4-3-3. Dengan pola itu, "Il Samp" memberi tekanan di depan tanpa rasa takut untuk mengalirkan serangan.

Siapa yang berani akan tampil di lapangan, sedangkan yang takut harus rela menetap di bangku cadangan. Simbol perubahan ini adalah Roberto Soriano, dari pemain tak dikenal mnejadi tokoh utama Sampdoria musim ini. Soriano bisa dikatakan sebagai  bintang "I Blucerchiati" -julukan lain Sampdoria- hingga dipanggil ke timnas Italia.

Musim ini, Miha memang kerap mengandalkan wajah baru tanpa melupakan pemain senior. Contohnya mempercayai Angelo Palombo sebagai andalan di lini tengah. Kualitas dan pengalaman Palombo sukses membimbing rekan-rekannya.

Di luar itu, Mihjlovic sukess mengubah mentalitas pemainnya. Pelatih menularkan keberanian dalam skuatnya. Siapa pun lawan, entah itu tim besar atau kecil harus dihadapi dengan sikap sama, tanpa rasa takut.

Berkat sistem itu, Miha berhasil mengangkat permainan Shkodran Mustafi (kini memperkuat Valencia). Pun dengan Pedro Obiang, Gabbiadini, Eder Martins, hingga Stefano Okaka yang mencetak gol tunggal kemenangan Italia ke gawang Albania (18/11).***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 21 November 2014

Statistik Miha di Seri A bersama Sampdoria
Pertandingan: 37
Menang: 15
Seri: 11
Kalah: 11
Gol: 35
Persentase kemenangan: 37,14%

Artikel Juventus sebelumnya:
Nike Laporkan Juve ke Pengadilan Arbitrase
Kostum Buffon Selamat dari Banjir
Ketika Perayaan 500 Pertandingan Buffon Ternoda
Pirlo sang Maestro Tendangan Bebas
40 Tahun Alessandro Del Piero
Fan Indonesia Diservic Chiellini
JCI Konvoi Scudetto Ke-30
Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa
Kembalinya "Il Sette Magnifico"
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini

Artikel FC Internazionale sebelumnya
- Cinta Lama Bersemi Kembali
Efek Roberto Mancini
Derby di La Gazzetta
Diego Milito dan Angka 22
Samir Handanovic sang Raja Penalti
Benteng Pertahanan Itu Bernama Giuseppe Meazza
Lotito: Erick bawa Filosofi Baru
Dari Mazzola untuk Mazzarri
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Artikel AC Milan sebelumnya