TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: November 2016

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 30 November 2016

Yuk, Berkunjung ke Museum Astra


Museum Astra yang berada di lantai dasar Kantor Pusat PT Astra International Tbk

SEBAGAI blogger yang menyukai sejarah, hari ini saya benar-benar mendapat wawasan anyar. Sebab, untuk kali pertama saya bisa mengunjungi Museum Astra. Tepatnya, seusai menyaksikan program Astra untuk Indonesia Cerdas yang merupakan apresiasi untuk para guru dan sekolah dalam rangka Hari Guru Nasional 2016, Rabu (30/11).

Saya baru tahu, ternyata Museum Astra masih satu lokasi dengan Kantor Pusat PT Astra International Tbk, Sunter, Jakarta Utara, yang terletak di lantai dasar. Sebelumnya, ketika menghadiri Satu Indonesia Awards 2016 (27/11) saya sempat melewatinya. Namun, karena saat itu hari kerja, jadi seusai mengikuti acara, saya langsung menuju kantor.

Sementara, hari ini kebetulan saya libur. Jadi, ketika sedang memotret para guru yang baru saja menerima penghargaan dari Astra, tanpa sengaja saya memasuki ruangan yang ternyata merupakan museum. Bahkan, tidak hanya museum saja, melainkan juga ada perpustakaan dan penjualan merchandise yang dibuat pengrajin binaan Astra.

Sekilas, dari luar, terlihat Museum Astra, tidak terlalu luas. Bahkan, cenderung sempit. Namun, jika masuk ke dalamnya, pengunjung akan disuguhkan berbagai informasi menarik melalui kios-kios interaktif, ruang audio-visual, koleksi produk Astra, diorama, dan sebagainya.

Yang membuat saya kagum, ada dua koleksi legendaris dari produk Astra. Yaitu, Honda S90Z yang merupakan sepeda motor produksi pertama dari Astra pada 1971! Alias, usianya kini sudah 45 tahun. Pantas, Honda disebut sebagai sepeda motor sejuta umat, sebab diproduksi lebih awal dibanding merek lainnya.

Di tempat terpisah, berdiri gagah Toyota Kijang Pick Up generasi pertama. Untuk mobil niaga ini kebetulan saya tidak asing lagi. Sebab, saya sudah pernah melihatnya pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015. Bahkan, saat itu, saya sempat membedah luar-dalam dari Pick Up legendaris tersebut.

Ketika melangkah keluar, terdapat booth informasi sekaligus penjualan suvenir resmi Astra. Mulai dari bantal, tumbler, wayang, tas, batik, t-shirt, hingga boneka dan kerajinan tangan lainnya. Di sekelilingnya, ada berbagai miniatur produk legendaris Astra. Seperti mobil Isuzu, BMW, Daihatsu, dan Peugeot.

Oh ya, yang terakhir ini saya baru tahu, ternyata kendaraan premium asal Prancis itu masuk Grup Astra. Begitu pun dengan buldoser merek Komatsu juga masuk lini produk Astra melalui United Tractors. Juga dengan mesin foto copy merek Xerox yang di bawah Astra Graphia.

Dengan berkunjung ke Museum Astra, saya jadi tahu, ternyata perusahaan yang pada 20 Februari mendatang genap 60 tahun in memiliki tujuh sektor usaha, yaitu:

- Otomotif
- Jasa keuangan
- Alat berat & pertambangan
- Agribisnis
- Infrastruktur, logistik & lainnya
- Teknologi Informasi
- Properti

Maklum, sebagai masyarakat awam, yang saya tahu dari Astra ya otomotif saja, seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda (sepeda motor). Setelah mengunjungi Museum Astra, ternyata banyak lini usaha lainnya dari perusahaan yang didirikan William Soerjadjaja itu. Termasuk, turut membangun jalan bebas hambatan (Tol).

Setelah puas mengabadikan berbagai koleksi Astra, saya pun memasuki ruangan sebelah museum yang merupakan perpustakaan. Sama seperti museum, ruang perpustakaan ini tidak terlalu luas. Namun, memiliki koleksi buku dan majalah yang lumayan lengkap.

Sambil selonjoran karena dari pagi berdiri untuk memotret berbagai momen menarik, saya pun membaca berbagai koleksi buku yang ada di perpustakaan. Beberapa di antaranya, seperti biografi Soe Hok Gie, Mahatma Gandhi, hingga Donald Trump, yang kini terpilih sebagai presiden Amerika Serikat.

Oh ya, sekadar informasi, menurut salah satu karyawan Astra yang sedang bertugas, perpustakaan ini buka pada Senin-Jumat mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB. Sementara, museumnya pada Senin-Jumat pada 09.00 WIB hingga 16.30 WIB.

Yang menariknya, seluruh koleksi di perpustakaan, baik itu buku, majalah, koran, hingga memoar, bisa dibaca gratis di tempat! Alias, pengunjung tidak perlu membuat kartu anggota. Jadi, tinggal memilih buku yang yang cocok, lalu mencari kursi yang empuk. Setelah itu, kita akan larut dengan barbagai bacaan edukatif dan inspiratif di Perpustakaan Astra.

Informasi Museum dan Perpustakaan

Alamat: Kantor Pusat PT Astra International Tbk, JL. Gaya Motor Raya No. 8, Sunter II – Jakarta Utara
Tiket masuk: Gratis
Waktu buka museum: Senin-Jumat, jam 09.00 - 16.30 WIB
Waktu buka perpustakaan: Senin-Jumat, jam 08.00 - 16.30 WIB
Email Corporate Communications: purel@ai.astra.co.id
Websitehttps://www.astra.co.id/Media-Room/Astra-Museum
Halaman Facebook: Semangat Astra Terpadu
Twitter@Satu_Indonesia
Instagram@Satu_Indonesia
Linkedin: PT Astra International

*        *        *
Berbagai penghargaan di salah satu ruangan museum 

*        *        *
Honda S90Z yang merupakan sepeda motor pertama Astra

*        *        *
Toyota Kijang Pick Up generasi pertama

*        *        *
Informasi tiga dimensi tentang produk Astra

*        *        *
Layar visual mengenai berbagai produk Astra

*        *        *
Prasasti Museum Astra yang diresmikan pada 26 Mei 2008

*        *        *
Booth informasi sekaligus penjualan suvenir

*        *        *
Perpustakaan yang sangat nyaman

*        *        *
Pengunjung duduk di beranda perpustakaan

*        *        *
Buku Inspirasi Astra untuk Bangsa

*        *        *
Berbagai koleksi yang sangat memanjakan pecinta sejarah

*        *        *
Koleksi Soe Hok Gie dan Mahatma Gandhi

*        *        *
Saya menikmati bacaan gratis di Perpustakaan Astra

*        *        *
Penghargaan dari Majalah Swa

*        *        *
Lemari berisi suvenir yang bisa dibeli pengunjung

*        *        *
Berbagai suvenir menarik

*        *        *
Berbagai kerajinan tangan dari yayasan binaan Astra

*        *        *
Maket gedung Astra International

*        *        *
Diorama alat berat di pertambangan

*        *        *
Diorama produk finansial dari Astra

*        *        *
Gerbang Tol Cikupa yang dibangun Astra

*        *        *
Miniatur mesin foto kopi Xerox

*        *        *
Miniatur buldoser Komatsu

*        *        *
Miniatur sedan Peugeot

*        *        *
Miniatur Daihatsu Hijet 55 Wide keluaran 1979 dengan skala model 1:5

*        *        *
Museum Astra tampak dari luar gedung

*        *        *
Artikel Grup Astra Sebelumnya:
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali
- Jakarta, 30 November 2016

Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional



Head of Environtment & Social Responsibility PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, saat memberi sambutan


DALAM rangka Hari Guru Nasional yang setiap tahunnya diperingati pada 25 November, PT Astra International Tbk memberikan penghargaan pendidikan dalam empat kategori. Yaitu, Inovasi Karya Guru, Inovasi SMK Bisa, Rumah Pintar Astra, dan Senyum Sehabat PAUD Astra. Acara tersebut berlangsung di Kantor Pusat Astra International, Sunter, Jakarta, pagi tadi (30/11).

Bagi saya, ini kali kedua mengunjungi kantor pusat dari salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air ini. Sebelumnya, terjadi bulan lalu ketika Astra mengumumkan tujuh penerima SATU Awards 2016 (27/11). Namun, untuk acara yang berkaitan dengan Grup Astra, saya lumayan sering. Termasuk, saat mengikuti Gathering Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia: Berbagi Inspirasi 60 Tahun di Gedung SMESCO (1/8).

Untuk hari ini, kegiatannya jadi bagian dari program Astra untuk Indonesia Cerdas, yang sejalan dengan butir Catur Dharma Astra yang pertama. Yaitu, "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara".

Sebagai apresiasi, Astra pun menggelontorkan dana sebesar Rp 240 juta untuk empat kategori tersebut. Tujuannya, Astra mengharapkan keberlanjutan program ini supaya guru dan sekolah memberikan yang terbaik demi melahirkan generasi cerdas penerus bangsa.

"Bapak dan ibu guru harus bisa jadi inspirasi tak hanya bagi murid-muridnya saja. Tapi juga rekan-rekan sesama guru. Kami berharap, bapak dan ibu guru tetap melanjutkan untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan juga berkarakter baik," kata Elvira, yang merupakan perwakilan dari Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ajang peringatan Hari Guru ini digelar sejak 27 November lalu dengan puncaknya hari ini (30/11). Rangkaian acara terdiri dari pameran inovasi guru dan sekolah, apresiasi Astra untuk Indonesia Cerdas, dan talk show inspirasional bersama tokoh penggerak dan pendidikan serta 400 guru di seluruh Tanah Air.

"Setiap anak punya potensi untuk sukses, apa pun bidangnya. Guru sebagai profesi yang sangat mulia memiliki peran penting bagi anak-anak. Yang dilibatkan Astra ini merupakan guru-guru hebat, semua jagoan dan inspiratif karena bekerja dengan hati," tutur Fasli Jalal, salah satu narasumber talkshow yang merupakan Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Astra turut menyumbangkan bantuan berupa donasi kelengkapan mengajar senilai Rp 60 juta untuk mewujudkan mimpi enam guru terpilih. Donasi ini merupakan hasil dari unggahan tentang guru yang telah jadi inspirasi di media sosial pada periode Maret-Mei 2016.

"Penghargaan ini layak diterima para guru atas peran besar dan perjuangan mereka yang telah mempersiapkan anak-anak bangsa untuk jadi calon pemimpin Indonesia. Harapannya, para pendidik ini tetap semangat untuk melahirkan generasi penerus Indonesia yang cerdas," ujar Head of Environtment & Social Responsibility PT Astra International Tbk Riza Deliansyah, saat memberi sambutan.

Dengan mengusung tema "Guruku Inspirasiku", tahun ini merupakan edisi kedua Astra merayakan peringatan Hari Guru bersama para guru binaan Grup Astra di seluruh Indonesia. Tema ini melanjutkan program tahun lalu, yaitu "Terima Kasih Guru". Acara ini diadakan untuk mengapresiasi para guru di nusantara. Khususnya, guru binaan Astra, atas dedikasi dan prestasi mereka dalam mendidik dan berinovasi.

Yang menarik, selain mengapresiasi guru dan sekolah, Astra juga memiliki program untuk para siswa-siswis di daerah prasejahtera denganmemberikan perlengkapan sekolah. Sejak digagas pada 2015, gerakan nasional GenerAKSICERDASIndonesia telah mengumpulkan 15.039 unggahan tentang guru melalui media sosial.

Setiap unggahan para guru itu dikonversi Astra dengan masing-masing sepasang sepatu dan tas. Itu berarti, terkumpul 15.039 sepatu dan tas. Dari jumlah tersebut, Astra telah mendonasikan sebanyak 7.958 pasang sepatu dan tas di berbagai sekolah di daerah prasejahtera. Yaitu, Morotai, Mentawai, Kepulauan Aru, dan Tolitoli pada 2015.

Sementara, sisanya yang berjumlah 7.081 pasang sepatu dan tas dijadwalkan mulai diserahkan kepada murid sejak September hingga Desember mendatang. Daerah yang dituju meliputi Nias, Sumba Barat, Biak, Numfor, dan Buru Selatan.

Selain sumbangsih tersebut, dalam bidang pendidikan, Astra juga telah membina 20 Rumah Pintar, 15.353 sekolah, dan menyerahkan 207.201 paket beasiswa. Maklum, Astra memiliki sembilan yayasan dengan enam di antaranya bergerak di bidang pendidikan, yaitu:

- Yayasan Toyota dan Astra
- Yayasan Karya Bhakti United Tractors
- Yayasan Astra Agro Lestari
- Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim
- Yayasan Astra Honda Motor
- Yayasan Astra Bina Ilmu


Total, keenam yayasan itu telah membina 35.499 guru melalui berbagai pelatihan. Selain enam yayasan itu, Astra juga memiliki tiga yayasan lagi seperti Yayasan Amaliah Astra, Yayasan Insan Mulia Pama, dan Yayasan Dharma Bhakti Astra yang saya kunjungi booth-nya pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016.

Kesembilan yayasan itu merupakan komitmen Astra sejak didirikan pada 1957 untuk senantiasa mendedikasikan karyanya demi kemajuan bangsa Indonesia. Itu sejalan dengan filosofi perusahaan yang tertera dalam Catur Dharma.

Apalagi, 20 Februari mendatang, Astra genap merayakan HUT ke-60. Dalam rangka menuju perayaan enam dekade itu, Astra mengusung tema "Inspirasi 60 Tahun Astra" yang digambarkan melalui produk dan layanan karya anak bangsa, sumber daya manusia yang unggul, serta kontribusi sosial yang berkelanjutan bagi bangsa dan negara.

*        *        *
Catur Dharma Astra

*        *        *
Perwakilan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  (Kemendikbud) Elvira

*        *        *
Ratusan guru yang hadir di Kantor Pusat Astra

*        *        *
Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman (batik biru) menyerahkan bantuan donasi "Guruku Inspirasiku"

*        *        *
Penampilan Shanna Shannon yang merupakan Duta Lagu Pendidikan Indonesia

*        *        *
Para guru, murid, dan perwakilan sekolah yang menerima apresiasi dari Astra

*        *        *
Riza Deliansyah memberikan penghargaan kepada guru yang berinovasi

*        *        *
Najib Shulhan yang merupakan Guru Berprestasi 2015 membeberkan tipsnya kepada rekan-rekan sesama guru

*        *        *
Najib Shulhan berdiskusi dengan Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta Fasli Jalal (tengah) moderator Isabella Fawzi (kanan) 

*        *        *
Penampilan dari anak-anak SD Leuwiliang binaan Yayasan Michael D. Ruslim

*        *        *
Banner Guruku Inspirasiku yang merupakan bagian dari program Astra untuk Indonesia Cerdas

*        *        *
Persebaran CSR Pendidikan Astra di seluruh Indonesia

*        *        *
Ini finalis apresiasi Astra untuk Indonesia Cerdas 2016

*        *        *
Total, GenerAKSICERDASIndonesia mengumpulkan 15.039 unggahan yang dikonversi jadi 15.093 pasang sepatu dan tas

*        *        *
Para guru dan seluruh Tanah Air foto bersama dengan latar Kantor Pusat Astra

*        *        *
Peringati Hari Guru, Astra Apresiasi Inovasi Guru dan Sekolah 

*        *        *
Sebagian guru meninggalkan kantor pusat Astra untuk kembali ke kediamannya masing-masing

*        *        *
Artikel Grup Astra Sebelumnya:
- Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali
- Jakarta, 30 November 2016

Selasa, 29 November 2016

Selamat Jalan Pak Slamet...


Keluarga Besar TopSkor kehilangan salah satu sahabat terbaik...


...di langit tak ada awan
di empat penjuru terang benderang
angin membawa bau harum
seluruh gunung sunyi senyap

hari ini bertemu kegirangan besar
bebas dari bahaya 
dan bebas pula dari segala penderitaan
apa tak pantas untuk diberi selamat?*


DEMIKIAN salah satu syair yang pernah saya baca di suatu kitab syair masa lampau. Berkisah, tentang perjalanan untuk berpulang yang tak harus ditangisi. Sebaliknya, justru disambut gembira dari orang tersebut. Ya, menghadap Sang Pencipta, merupakan suatu kegembiraan.

Sebab, hidup ini hanya sementara. Dan, suatu saat, saya, Anda pembaca blog ini, kita, kami, dan semua yang ada di muka bumi pun, turut kembali kepada-Nya. Itu semua, bukan soal usia. Melainkan, hanya menunggu sang Khaliq yang telah menetapkan.

*       *       *
SIANG itu, Selasa (22/11) sekitar pukul 14.35 WIB, keluarga besar Harian TopSkor kembali berduka. Salah satu dari kami, Slamet Styadi, telah berpulang pada usia 49 tahun. Sosok yang menjabat sebagai manajer SDM Harian TopSkor meninggal dunia.

Tepatnya, saat baru lima menit mengayunkan raket di Lapangan Bulutangkis Kantor Kemenpora, Jakarta Pusat. Sebelum meninggal, Slamet sempat dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr. Mintoharjo, Jakarta Pusat.

Hanya, takdir berkata lain. Pria kelahiran Jakarta, 26 Januari 1967 itu mengembuskan nafas terakhirnya. Sehari kemudian (23/11), setelah kedatangan ketiga anaknya, Slamet dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Layur, Penggilingan, Jakarta Timur.

Ya, kami, keluarga besar Harian TopSkor kehilangan salah satu penggawa terbaiknya. Namun, kami tidak berduka. Sebab, Slamet menghadap Sang Pencipta, dengan sangat baik. Itu karena pria yang akrab disapa dengan inisial Sty ini, sedang dalam bertugas.

*       *       *
HARI ini, tepat sepekan Slamet meninggalkan kami. Bagi saya, beliau merupakan senior sekaligus mentor. Maklum, dia yang menerima sekaligus mewawancarai saya ketika kali pertama bekerja di media olahraga.

Saya masih ingat, beberapa tahun silam, saya menghadap ke ruangannya untuk interview. Berkat beliau juga, saya bisa belajar untuk menulis reportase, opini, dan analisis. Ya, Slamet dikenal sebagai pribadi yang tegas.

Titik, koma, tanda baca, yang setiap saya atau rekan jurnalis Harian TopSkor lainnya, tidak pernah luput dari pandangannya. Maklum, Slamet sudah berkecimpung di media sejak dekade 1990-an. Mulai dari Majalah Sportif, Tabloid GO, hingga media telekomunikasi. Tanpa gemblengan dirinya, saya tidak bisa jadi seperti ini.

Di luar pekerjaan, kami merupakan rekan. Canda-tawa kerap mengalir di antara Slamet dengan saya dan rekan-rekan lainnya di Harian TopSkor. Baik ketika rapat, diskusi, atau bepergian. Meski secara usia terpaut jauh, namun dia tetap berlaku simpatik kepada yang muda. Slamet tidak pernah memandang usia. Bergaul ya bergaul. Pun begitu dalam bekerja.

Hanya, kebersamaan saya dengannya tergolong singkat. Tidak sampai sewindu kami melalui suka dan duka dalam lingkungan yang sama. Meski begitu, kenangan kami tetap abadi. Ya, selamat jalan pak Slamet, senior sekaligus mentor saya di Harian TopSkor!

benang baru habis
setelah ulat sutera mati
air mata akan kering
ketika lilin menjadi abu...**

*       *       *
Seusai dimandikan di RSAL Dr. Mintoharjo

*       *       *
Suasana pemakaman di TPU Layur

*       *       *
Keluarga di pusara almarhum

*       *       *

Artikel Terkait:
Hari Ini Setahun yang Lalu: Selamat Jalan Bang Faqih

 *       *       *
Keterangan: *Disitir dari puisi dalam novel Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga
- Jakarta, 29 November 2016

Kamis, 24 November 2016

BCA Gelar Wayang for Student


Wayang Listrik dalam "Wayang for Student" di Museum Nasional (24/11)


ADA yang berbeda dari Museum Nasional pagi tadi, Rabu (24/11). Sebab, museum dengan koleksi terlengkap di Tanah Air itu dibanjiri ratusan pelajar dari siswa-siswi se-Jabodetabek. Kehadiran mereka untuk mengikuti acara "Wayang for Student" yang diselenggarakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Sebagai penggemar wayang, tentu ini jadi pemandangan menarik bagi saya. Sebab, jarang-jarang ada ratusan pelajar dari sekolah yang berbeda serentak kumpul bersama di museum. Apalagi, untuk menyaksikan wayang. Namun, itu semua bisa terwujud jika ada kesungguhan berbagai pihak. Termasuk, BCA yang menginisasi acara tersebut.

Kebetulan, bulan ini identik dengan wayang. Khususnya, bagi sebagian pihak yang setiap 7 November merayakan "Hari Wayang Nasional". Itu untuk memperingati dikukuhkannya wayang sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO). Lembaga yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, menetapkan wayang dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanitiy pada 7 November 2003.

Tak heran jika acara yang berlangsung di Museum Nasional itu mengangkat tema "Wayang In The City". Dalam kesempatan itu, BCA mengajak 600 siswa-siswi dari enam SMP dan enam SMU di wilayah Jakarta dan sekitarnya untuk mengenal wayang lebih dalam melalui sejumlah pagelaran dan kompetisi Vlog.

"BCA sangat komitmen untuk melestarikan wayang sebagai kebudayaan Indonesia yang sarat akan nilai moral," kata Direktur BCA Suwignyo Budiman dalam sambutannya. Apa yang dikatakan jebolan University of Arizona ini berlasan. Itu karena BCA dan grupnya seperti Djarum Foundation, kerap menyelenggarakan berbagai event wayang. Kebetulan, saya sering menyaksikannya, baik di Galeri Indonesia Kaya maupun Taman Ismail Marzuki.

"Wayang for Student" merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Bakti BCA bidang budaya, yang berada di bawah payung program "BCA untuk Wayang Indonesia". Acara ini diselenggarakan untuk mengedukasi sekaligus memperkenalkan wayang sebagai salah satu budaya nusantara yang diakui UNESCO kepada generasi muda Indonesia.

Dalam kesempatan itu, BCA menghadirkan berbagai jenis pertunjukkan wayang di Museum Nasional. Seperti Pentas Wayang Golek dari Adi Konthea asal Sunda dan Wayang Listrik dengan dalang I Made Sidia (Bali).

"Kami menyadari pelajar merupakan generasi muda yang akan meneruskan keberadaan wayang sebagai kekayaan budaya Indonesia. Hal inilah yang mendorong kami untuk menghadirkan kegiatan-kegiatan wayang di tengah generasi muda, seperti 'Wayang for Student' untuk hari ini," Suwignyo, mengungkapkan.

Peran aktif siswa juga dibuktikan dengan keikutsertaan dalam kompetisi vlog. Yaitu, siswa membuat volg berdurasi satu menit dengan tema wayang Indonesia.

"Beragam kegiatan yang berhubungan dengan wayang ini kami kemas secara menarik. Itu karena kami ingin mengajak pelajar tidak hanya menyaksikan pergelaran saja. namun turut berpartisipasi dalam mengenal tokoh wayang melalui kompetisi vlog," kata Suwignyo, optimistis.

Selain Suwignyo dan 600 pelajar, "Wayang for Student" juga dihadiri beberapa narasumber lainnya. Yaitu, Inge Setiawati yang merupakan General Manager CSR BCA, Intan Mardiana (Kepala Museum Nasional), dan Samodra Sriwidjaja (Ketua Umum Union Internationale de la Marionnette/UNIMA).

"Wayang for Student" merupakan kesinambungan BCA dalam memperkenalkan wayang kepada generasi muda. Berdasarkan penelusuran saya, sebelumnya, bank swasta terbesar di Tanah Air ini telah melaksanakan "Wayang for Student" selama lima hari di Semarang (16-17 dan 22-24 September) dengan mengajak 3.000 pelajar SMP dan SMA (Sumber: Lanjutkan Komitmen).

2015 lalu, BCA menyelenggarakan "Wayang in Town - Journey in A Thousand Years" di Galeri Indonesia Kaya. Saat itu, hadir 600 pelajar dari 20 SMP dan SMU di Jakarta dan Tangerang (Sumber: Perkenalkan Wayang).

Pada tahun yang sama, BCA juga mengadakan "FUN-tastic Wayang at School" di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio, SMP Negeri 18 Semarang, SMP Kanisius St. Yoris, yang menjangkau 1.550 pelajar (Sumber: Wayang Day). BCA juga mengadakan kegiatan sejenis kepada pelajar SD hingga SMA di Ubud, Bali, pada 15-17 April 2014 (Sumber: Rumah Topeng).

"Kami melihat, saat ini keterlibatan generasi muda dalam budaya wayang dan frekuensei pergerlaran wayang masih minim. Tak heran jika wayang kurang berdaya dalam merebut ruang dan perhatian anak-anak muda Indonesia," tutur Suwignyo yang berharap dengan hadir di Museum Nasional pada "Wayang for Student", 600 pelajar itu akan lebih mengenal wayang lebih dalam.

Apa yang dikatakan pria 65 tahun ini beralasan. Kalau bukan kita sebagai generasi muda yang melestarikan wayang, harus siapa lagi? Kebetulan, sejak kecil saya memang menggemari wayang. Bagi saya, Spider-Man, Captain America, Batman, atau Son Goku, merupakan tokoh fiksi favorit yang komiknya tersimpan rapi di rumah.

Namun, saya jauh lebih menggemari Wisanggeni, Antareja, dan Antasena. Sebab, mereka merupakan produk asli negeri ini dengan beberapa koleksi komik saya merupakan karangan RA. Kosasih. Bahkan, hingga kini setiap berkunjung ke pasar tradisional di berbagai daerah Tanah Air, saya kerap mencari suvenir, komik, dan pernak-pernik terkait wayang.

Tak heran dalam sambutannya, Suwignyo mengatakan, "BCA berupaya untuk menghadirkan aktivitas-aktivitas yang mendekatkan wayang dengan masyarakat di seluruh nusantara, khususnya generasi muda. Kehadiran 'Wayang for Student' diharapkan dapat terus mendorong generasi muda Indonesia untuk lebih mengenal, mencintai, dan tergerak untuk melestarikan budaya bangsa yang telah diakui dunia."

*       *       *
Gladi resik sebelum acara berlangsung

*       *       *
Ketua UNIMA Samodra Sriwidjaja

*       *       *
Direktur BCA Suwignyo Budiman

*       *       *
Kepala Museum Nasional, Intan Mardiana bersama Suwignyo dan Inge Setiawati

*       *       *
Dalang Wayang Listrik, I Made Sidia asal Bali

*       *       *
Pemanasan dengan Tari Kecak sebelum Wayang Listrik dimulai

*       *       *
600 pelajar dari 6 SMP dan SMA di Jabodetabek

*       *       *
Antusiasme pelajar menyaksikan pertunjukan Wayang Listrik

*       *       *
Pertunjukan Wayang Listrik dengan tema Rama-Sinta

*       *       *
"Wayang for Student" merupakan komitmen dari BCA untuk sosialisasi wayang kepada pelajar


*       *       *

Artikel Wayang Sebelumnya:
(Esai Foto) Semarak Wayang Pesona Indonesia 2016
Selamat Hari Wayang Nasional
- Selamat Hari Wayang Nasional II
Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Yuk, Meriahkan Karnaval Wayang Dunia
Antara Hammer Girl, Palu, dan Senjata Unik dalam Film Lainnya
Rahasia Ki Manteb Soedharsono saat Mendalang
Menelusuri Warisan Budaya di Museum Wayang
Menelusuri Warisan Budaya di Museum Wayang II
E-Wayang: Solusi Mengenalkan Wayang pada Generasi Muda
Resensi Tembang Cinta Para Dewi dari Dunia Wayang
Mengenang RA Kosasih: Inspirasi Komikus Indonesia
Komik, Kenangan Jadul yang Tak Terlupakan
Riwayat Panjang Mainan dari Masa Kecil
Wayang: Seni Budaya dan Imajinasi Anak yang Terlupakan


Heptalogy tentang Sinta:
Inikah yang Namanya Sinta?
- Sinta Kan Membawamu Kembali
- Lagi Apa dengan Sinta? 
- Aku, Sinta, Kau, dan Dia
- Sinta Ini Membunuhku 

Spin-off:
- Kenapa Harus Kumbakarna yang Gugur?
- Anoman Duta yang Tak Dianggap
- Menggugat Sri Rama
- Hilangnya Mahkota Arjuna Sasrabahu

Artikel Fiksi Wayang Selanjutnya:
- Karna Tanding, Arjuna Tak Sebanding
- Palguna Palgunadi, Istrimu (Harus) Jadi Istriku
- Sembadra Larung: Kisah Cinta dalam Hati
- Sisi Lain Duryudana: Raja Lalim yang Setia pada Satu Istri

Artikel Fiksi Wayang Sebelumnya:
Lelakon ala Astina-Istana
Time Travel dalam Cerita Silat
Jatuh Cinta pada Gadis Bernisial A 
Invasi Tokoh Komik ke Dunia Wayang
Seri Wayang I: Tiwikrama Sri Kresna yang Menggemparkan Alam Semesta
Seri Wayang II: Wisanggeni Menggugat Dewata
Seri Wayang II: Wisanggeni Menggemparkan Khayangan
Seri Wayang II: Wisanggeni Membunuh Batara Kala
Seri Wayang II: Wisanggeni Bertempur Melawan Seluruh Dewata
  
Artikel BCA Group Sebelumnya
Saling Berbagi Informasi dalam Ngabuburit Bareng Blogger dan BCA
Pengalaman Ngabuburit di RPTRA Krendang
Kemeriahan BCA Indonesia Open 2016
Rindu Juara di BCA Indonesia Open 2016
Sejuta Xpresi dengan BCA dan Liga Mahasiswa


*       *       *
- Jakarta, 24 November 2016