TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2026

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 16 April 2026

Konflik dengan Ojol dan Pria Tanpa Kepala di Basement

Konflik dengan Ojol 

dan Pria Tanpa Kepala di Basement


(POV: AGUS)

GW cuma bisa menghela napas melihat rekan ojek online (ojol) bersandar di pos security. Ya, dia baru aja dapat opik (order fiktif) dari oknum customer laknat.

Orderannya ayam geprek dengan nominal 300 ribu. Ojol itu memperlihatkan orderan dan isi chat ke gw sebagai security di pintu masuk gedung.

Alamatnya benar. Namun, ga ada untuk kantor apa, lantai berapa, unit, atau divisi. 

Jelas, kami ga bisa terima. Apalagi, ini orderan COD alias cash on delivery.

Biasanya, customer langsung yang nemuin ojol untuk ambil makanan atau barang dari kurir paket. Maklum, ini gedung yang diisi banyak kantor. Jadi, lobi dan pos security ga terima titipan apa pun.

Gw lihat chat ojol dengan customer laknat itu lancar. Namun, untuk percakapan terakhir hanya centang dua. Alias, sekadar dibaca saja oleh customer tanpa dibalas.

Ini sudah lebih sepenanakan nasi. Gw kasian sama ojol itu. Namun, ga bisa apa-apa. Secara, customernya ga beri petunjuk kantor, unit, atau lantai berapa.

Ditelepon puluhan kali pun ga diangkat. Kayak ngeledek dan ngerjain, ini mah.

...

Sekilas, gw lihat nama customer sangat agamis. Namun, kelakuan mirip dajjal. 

Ya, bisa jadi, nama palsu. 

Secara, customer bebas pilih nama di aplikasi. Entah itu Ksatria Baja Hitam, Tuxedo Bertopeng, Maria Mercedes, Son Goku, atau Pangeran Hormutz.

Setelah dua jam tanpa kepastian, sebelum pamit ke gw dan tim security yang jaga, ojol itu menghubungi customer service aplikasi. Disarankan untuk diserahkan ke panti asuhan terdekat.

Gw pun memandang ojol dari kejauhan dengan tatapan pilu. Nunggu dua jam, ga tahunya opik dan harus jalan lagi ke panti asuhan.

*        *        *

SEBAGAI security, gw punya hubungan erat dengan ojol. Itu karena setiap hari kami bersinggungan. 

Apalagi, dua ponakan gw juga ojol dan kurir paket. Beberapa rekan kerja juga ada yang nyambi jadi ojol. Baik itu sesama security, OB, hingga level manajemen.

Jadi, gw sangat respek dengan profesi ojol.

Meski, beberapa kali pernah adu bacot. He... He... He...

Salah satunya, pekan lalu gara-gara ojol berhenti di tengah pintu keluar usai nurunin penumpang. Gw udah bilang baik-baik untuk majuan.

Namun, karena siang bolong, mungkin ojol itu ga diterima. Disangkanya, gw mengusir.

Padahal, maksud gw benar. Ada mobil yang akan keluar.

Gw yang sedang menjalankan SOP pun menghampirinya. Dengan baik-baik.

Hanya, entah ada masalah di rumah terbawa ke kerjaan, ojol itu malah teriak-teriak. Nyaris gw kepancing.

Beruntung, ada rekan ojol lainnya yang jaketnya sama turut memisahkan. Membela gw karena memang ada mobil yang mau keluar dari gedung.

...

Ojol itu pun berlalu dengan mengeluarkan kata-kata mutiara dari kebon binatang. Ya, terserah aja. 

Secara, gw cuma memberitahu agar tidak berhenti di pintu keluar.

Insiden itu ga cuma sekali. Namun, gw dan sesama security lain biasanya menanggapi dengan kepala dingin.

Biasanya, ojol dan kurir paket pun respek ke kami sebagai petugas.

Toh, di antara kami sama-sama sedang cari nafkah untuk keluarga.

*        *        *

SELAIN dengan ojol, ada konflik tak kalah serunya yang kerap dialami security. Yaitu, dengan makhluk halus 

Serius.

Entah itu jurik, dedemit, poci, neng kunti, soket, hantu, dan sebangsanya. Jujur, nyaris semua security pasti pernah ngalamin. 

Apalagi, jika dinas malam. Termasuk, gw di tempat kerja dulu di gedung perkantoran pusat kota, sebelum Covid 19.

Ceritanya, gw dan rekan, sebut aja bang SC alias Stone Cold. Secara, beliau perawakannya mirip pegulat WWE, Steve Austin, yang plontos tapi komuknya gahar.

Biasanya, tiap beberapa jam sekali, kami keliling ke gedung parkiran. Khususnya, yang tidak terjangkau CCTV.

Maklum, saat itu ramai pencurian spion mobil. Apalagi, jika jenis sedan yang jadi incaran empuk para pencoleng.

Juga pernah ada kasus mobil goyang. Pas dicek ada yang lagi indehoy. Hadeuh!

Punya mobil tapi ga mampu sewa hotel. Mana viral lagi. Untung karena faktor U, sebut aja UANG jadi "bisa diselesaikan dengan baik-baik".

...

Gw inget betul. Saat itu, malam Selasa kliwon. Cuaca di luar rinai. Pandemi pula. Udah ketahuan sepinya gimana.

Namun, ada beberapa pegawai *** yang masih meeting. Mobilnya pada parkir rapi di basement.

Gw dan Stone Cold pun patroli. Berdua. Sebab, untuk memudahkan jika terjadi apa-apa ketimbang sendirian di area yang lumayan luas ini.

Btw, bang SC yang karakternya di industri gulat hiburan berani lawan bos seperti Vince McMahon, Triple H, hingga The Undertaker. Di kalangan tim security, beliau ini dikenal pemberani.

Jangankan makhluk halus, bahkan ormas paling menyeramkan pun disikat saat ketahuan kasih proposal bukber. 

Alasannya untuk donasi anak yatim. Faktanya, buat mabok dan judol. Sial! 

Latar belakang bang SC emang keturunan jawara tapi orangnya sangat baik, rendah hati, suka menolong, dan rajin menabung.

"Kuping gw kayak ada yang niup," kata bang SC sebelum patroli rutin.

"Neng Kunti di pojokan kali bang," jawab gw asal.

Maklum, gedung ini dulunya dibangun di atas pemakaman. Jadi, hal-hal di luar nalar udah jadi santapan sehari-hari bagi kami.

"Eh biji kedondong. Asal jeblak aje lo. Mau didatengin si eneng kunti di pojokan kayak yang ditemuin si Rojali pas takbiran?"

"Ogah bang. Makasih deh."

"Ha... Ha..." Bang SC tertawa puas meledek gw. "Kita mau ke basement dulu atau parkiran atas?"

"Terserah lo bang, senior. Gw mah ikut."

"Lantai *** dulu aja kali ya baru basement. Biar ga bolak-balik. Apalagi, cuacanya gerimis gini. Kalo udah selesai kita pesan nasi uduk di Mpok Gayong."

"86 'Dan'!"

*        *        *

SEPEMBAKARAN hio berlalu saat kami keliling di lantai atas. Ga ada yang aneh. 

Kami pun menuju basement. Parkiran ini biasa untuk supplier yang akses keluar masuknya cukup mudah bagi mobil ukuran besar, bak, maupun box.

Seklias, ga ada yang aneh. Gw pake senter keliling ditemani bang SC sambil bersiul ala Axl Rose saat menyanyikan Patience.

Tiba-tiba senandungnya berhenti. 

"Gus, coba lo senter itu orang," kata bang SC.

Gw refleks menyorot orang nunduk sambil bersandar seperti mau kencing ke mobil di ujung parkiran dengan membelakangi kami. Gw pikir mabuk.

Udah ga aneh di kawasan ini. Meski pandemi, mabok dan party merupakan harga mati bagi sebagian pegawai elite.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Belakang telinga gw kayak ada yang niup.

Bulu kuduk gw pun berdiri.

Spontan gw lirik bang SC. Eh, dia pun sama. Kami saling tatap kayak di sinetron remaja. 

Etapi ga aneh-aneh, secara gw dan bang SC, normal. Kami cowo tulen dan masing-masing udah punya anak, njir!

Pas menoleh, pria di mobil itu menghampiri kami.

Anjing!

Ga ada kepalanya!

Demi apa pun itu, ini kali pertama gw lihat penampakan. Namun, ini nyata.

Jalannya diseret kayak zombie. Perlahan.

Hingga berjarak dua tombak, terlihat jelas.

Sekilas mengingatkan gw pada film Pengabdi Setan yang rilis dua tahun sebelum gw lahir.

Tapi ini nyata.

Ga ada kepala.

Woi, orang ini ga ada kepala. Bukan sulap bukan sihir. Cuma badan, kaki, tangan, dan leher sambil jalan mendatangi kami.

Gw yang agnostik seketika langsung ingat Tuhan. Refleks baca-baca doa pengusir setan.

Bang SC? Tampak tenang dengan membaca doa yang gw tahu Ayat Kursi.

Bulir-bulir keringat sebesar jagung menetes di dahi bang SC. Namun, gw kagum karena dia tetap tenang.

Beda sama gw yang mandi keringat. Gemeteran. Sumpah.

...

Anjir, pria itu lehernya dibelatungin. Tanpa kepala woi.

Srek... Srek... Srek...

Dia lewat depan kami. 

Eh, berhenti.

Gw mau kabur ga bisa. Tangan gw kaku. Apalagi kaki, kayak mati rasa. 

Mulut mau muntah saking baunya tuh makhluk. Anjir banget.

Baru kali ini -setelah sekian lama- gw inget Tuhan. Berharap makhluk tanpa kepala itu segera pergi.

Sumpah, biasanya gw ga takut hantu. Secara, gw lebih takut bokek alias ga punya duit. 

Sebab, MBG alias My Bini Gw bisa ngamuk kalo gajian ga gw setorin full. Maklum, gw punya dua bocah yang sedang masa pertumbuhan dengan hobi jajan.

Namun, ini setan tanpa kelapa sumpah sungguh menyeramkan. Di batang lehernya uget-ugetan belatung.

Baunya?

Jangan ditanya.

Meski ga sebau jempol kuku kaki kanan yang gw sering korek dan cium. Alamak, sedapnya!

*        *        *

"KITA beda alam. Jika ada urusan duniawi yang belum diselesaikan, silakan lakukan saja," ujar bang SC di samping makhluk itu. "Kami berdua sedang patroli menjalankan kewajiban untuk mencari nafkah. Nafsi-nafsi ya..."

Gw yang dengar aja gemeteran. Padahal, gw waktu muda ga takut ngadepin bajingan sekalipun. Termasuk, kang parkir liar, ormas, hingga warlok yang minta jatah reman.

Namun, di hadapan makhluk tanpa kepala ini, gw seperti pengecut. Boro-boro mau melawan dengan nonjok atau tendangan berputar mengingat gw punya basic Muaythai.

Lah, ini kaki dan tangan gw aja kaku. Andai ga ada bang SC, mungkin gw udah sipat kuping atau bahkan, pingsan kali.

Makhluk tanpa kelapa itu seperti mengangguk usai mendengar penuturan bang SC. Tak lama setelah berhenti di hadapan kami, lanjut melangkah ke pintu keluar.

Gw melihat secara nyata. Ini bukan mimpi.

Juga bukan tipuan trik semata. Apalagi, AI murahan.

Dari suara langkah kakinya, bau, hawa suram, itu memang nyata.

Gw bahkan masih menyaksikan makhluk itu belok ke lorong yang di atasnya banyak CCTV. Sementara, gw bergeming terpaku hingga bang SC menyadarkan.

"Udah, ga apa-apa. Doi cuma numpang lewat. Kebetulan berpapasan dengan kita. Yuk Gus, kita ke pos," tutur bang SC sambil memencet pundak gw dengan keras biar sadar.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih lunglai gw pun bergegas mengikuti bang SC. Pas di tikungan, gw penasaran menoleh.

...

*        *        *

(Diceritakan ulang dari security yang ngaku wajahnya mirip Tao Ming Se)


*        *        *


Jakarta, 16 April 2026


Senin, 13 April 2026

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat


(POV Mama Lisa)

ALHAMDULILLAH mudik tahun ini berlangsung sukses. Ya, gw bersama misua -anagram dari suami- dan kedua anak merayakan Idul Fitri 1447 H di timur ibu kota.

Tepatnya, di kampung halaman misua yang identik dengan kuliner berkuah nan khas. Kami menginap di rumah mertua selama delapan hari.

Menikmati eksotisnya alam dan suasana segar minim polusi ketimbang di Jakarta. Saking nyamannya, selama sepekan ini badan gw jadi melar.

Habisnya, tiap hari cuma makan, main dengan dua bocah di air terjun, mandi di sungai, keliling pematang, balik makan lagi, dan tidur.

Banyak cerita menarik di tempat kelahiran My Misua. Apalagi, ini kali pertama kami mudik dalam tiga tahun terakhir.

Sebab, 2024 justru mertua yang mendatangi kami. Katanya, "kangen cucu".

Padahal, kami udah siap-siap berangkat. Namun, semalam sebelumnya, umi -panggilan kepada ibu mertua- bilang bersama abi justru mau ke Jakarta.

Tahun kemarin kami juga tidak pulkam. Secara, mertua umrah jelang lebaran.

Jadi, betapa senangnya My Misua waktu tiba di kampung halamannya setelah dua tahun absen. Meski udah dewasa, namanya laki ya kelakuannya kayak bocah.

Main kelereng bareng anak-anak kecil. Ikutan Galasin. Kejar layangan. Hingga kecemplung di pematang sawah akibat sok-sokan balap egrang.

Sontak, pakaianya berlumur lumpur semua bersama beberapa teman masa kecil -kini udah setengah baya- dan anak-anak. Namun, justru itu kebahagian My Misua yang terpancar sangat girang.

Gw dan kedua bocah pun antusias mengiringi My Misua. Pokoknya, di kampung itu, kami benar-benar kayak makhluk tanpa beban.

Hepi terus bawaanya.

*         *         *


HUKUM Karma.

Demikian celetuk gw saat suami cerita eks pejabat daerah di kampung sebelah. Sosok yang dulu "berkuasa dan bergelimang uang" kini terbujur di ranjang kayu.

Tiap hari berharap belas kasihan orang lain. Beruntung ada saudara jauh yang masih setia merawatnya.

Itu karena sedikit kebaikan dari sang pejabat saat berkuasa dulu.

Mirip yang dilakukan Penasihat Dinasti Han, Cai Yong yang menangisi mayat Perdana Menteri Dong Zhuo nan lalim dalam Romance of the Three Kingdoms.

Gw yang dengar ceritera dari suami sampe menghela nafas. Kok ada ya, orang seperti pejabat itu.

Awalnya My Misua main ke tempat teman masa kecil di kampung sebelah. Nah, saat nongki-nongki itu, salah satu sohibnya cerita kalo tidak jauh dari lokasi ada rumah eks pejabat X.

Dulunya, pejabat itu yang juga kerap dijuluki -raja kecil- sangat berkuasa. 

Zalim.

Menginjak hak masyarakat.

Tukang serobot tanah warga.

Memupuk kekayaan sendiri sementara lingkungan diabaikan. Termasuk, jalan rusak ga peduli.

Dibenci anak buah akibat kikir.

Paket lengkap deh.

...

Nah, ga lama usai jabatannya habis, tiba-tiba Mr X jatuh dari tangga. Diagnosis medis menyatakan stroke.

Uang simpanannya yang menggunung pun akhirnya tersedot. Baik untuk pengobatan medis maupun alternatif.

Hingga sekarang belum sembuh.

Warga sekitar menyebut kena hukum karma. Akibat disumpahin masyarakat yang menderita saat Mr X masih menjabat.

Setelah bertahun-tahun berobat tanpa hasil dengan biaya yang besar, akhirnya Mr X pun jatuh miskin. Rumah besar, kontrakan, sawah, kebun, mobil, hingga motor dijual.

Dari sini karma kian kencang.

Sebab, istrinya terpincut berondong asal kota sebelah. Kabur dengan bawa perhiasan dan sisa harta.

Selentingan kabar mengatakan, istrinya ogah mengurus suami ga berguna.

Anak sulungnya yang perempuan, pun 11/12 dengan sang ibu. Kabur dari rumah usai digerebek bersama laki orang hingga viral di medsos.

Putra bungsu? Jadi homo. Alias gay.

Itu akibat tekanan mental dibully warga yang dulunya tertindas. Dunia berbalik 180 derajat. 

...

Kini, sekeluarga harus siap merasakan karma. Dulunya, mereka hidup bermewah-mewahan.

Orang pertama di kawasan itu yang punya parabola. Rumah besar. Sawah berhektar-hektar.

Namun, dibalik gemerlap mereka, banyak sisi negatif. Menjijikan kalo kata warga sekitar.

Asisten rumah tangga (ART) banyak yang digaji minim. Bahkan, seikhlasnya. Padahal kerja rutin. 

...

Suka menyerobot tanah tetangga. Mengandalkan ormas yang bisa dibayar, Mr X enteng aja mematok lahan warga.

Pokoknya, banyak hal negatif dari Mr X yang kalo dibuat buku bisa berjilid-jilid.

Bukti, bahwa karma itu berlaku. 


*         *         *


(Diceritakan ulang dari IRT yang anaknya penggemar Blackpink dengan editing sewajarnya)


- Jakarta, 13 April 2026

Jumat, 10 April 2026

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Saya ikut praktek mengisi kulit telur di
pinggir bingkai 
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



LEBIH dulu mana, telur atau ayam?


Demikian anekdot sejak zaman baheula hingga kini yang masih jadi tanda tanya. 


Kalo ditanyakan ke saya, jelas. Jawabannya simpel: Ga peduli, siapa lebih dulu, yang jelas baik telur atau ayam merupakan menu favorit saya.


Telur bisa dibuat jadi dadar, ceplok, bulat, pindang, mata sapi, balado, dan lain-lain.


Sementara, ayam bisa digoreng, bakar, panggang, tepungin, geprek, tumbuk, rica-rica, suir, dan sebagainya.


Namun, artikel ini bukan membahas tentang senioritas antara telur dan ayam.  

 

*        *        *


LIMBAH telur jadi karya seni. Wow, keren!


Saya pun berdecak kagum usai mengetahuinya lebih lanjut. Tepatnya, saat menghadiri Halal Bihalal Bersama Pewarta yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), di resto kawasan Cikini, Jakarta Pusat, kemarin (9/4).


Ya, event yang berlangsung Kamis pagi itu dihadiri media, content creator (termasuk bloger seperti saya), Keluarga Besar YDBA, dan Teguh Joko Dwiyono selaku pemilik Wayang Art. Yaitu, UMKM binaan YDBA yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan salah satunya memanfaatkan limbah kulit telur.


Eh serius? Cangkang telur yang bagi masyarakat awam seperti saya tidak berguna justru berhasii dimanfaatkan Teguh sebagai karya yang memiliki komersial tinggi.


"Awalnya, ini ga sengaja," kata Teguh yang penampilannya sekilas mengingatkan saya pada almarhum Gombloh.


"Istri lagi masak nasi goreng. Kan pakai telur. Nah, cangkangnya jatuh. Ga sengaja saya injak. Saat itu, saya pandangi pecahan kulit telurnya kok indah banget. Ada nilai seninya."


Teguh mengingat, kejadiannya pada 1995. Namun, dia ga langsung menjadikannya produk. Butuh proses.


Berlatar seniman, Teguh pun mengakui tidak mudah dalam mengembangkan usahanya. Pria 70 tahun itu terus belajar hingga kini demi memasarkan produknya.


"Saya sempat mengalami krisis, bahkan bangkrut. Untungnya, dibina YDBA. Alhamdulillah, banyak mendapat ilmu yang ditularkan," Teguh, mengungkapkan disela-sela 'praktek' yang kami lakukan langsung dengan kulit telur.


Ya, YDBA memang rutin menggandeng para pelaku usaha di Tanah Air. Termasuk, pada level UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang sedang berkembang.


Beberapa sudah saya ulas di blog ini sejak kali perdana kenal YDBA pada 2016 silam. Mulai dari berangkatkan mitra UMKM ke Jepang (https://www.roelly87.com/2017/09/berangkatkan-22-umkm-ke-jepang-ydba.html) hingga mengajak UMKM untuk berpartisipasi di Asian Games 2018.


Kebetulan, saat itu Indonesia jadi tuan rumah. Astra sebagai sponsor utama turut menggandeng berbagai yayasan termasuk YDBA dan mitra UMKM untuk mensukseskan event akbar tersebut (https://www.roelly87.com/2017/12/astra-sponsori-asian-games-2018.html).


Sebagai bloger, dalam satu dekade ini, saya cukup rutin untuk ikut dalam berbagai acara Astra dan YDBA. Terakhir, pekan lalu (https://www.roelly87.com/2026/04/satu-indonesia-awards-2026-dan.html).


Nah, terkait UMKM, dalam halal bihalal itu, YDBA mengajak masyarakat untuk ikut kompetisi. Tepatnya, dalam Apresiasi Yayasan Astra untuk Pewarta 2026 (#AYukPewarta2026).


Temanya menarik: Bersinergi Untuk Masa Depan Lintas Generasi UMKM Indonesia.


Btw, ada enam kategori yang bisa diikuti dengan hadiah jutaan rupiah plus produk UMKM binaan YDBA. Wow!


1. Pemberitaan Foto Terbaik

2. Pemberitaan Artikel Terbaik

3. Reels Terbaik

4. Konten Blog Terbaik

5. Pewarta dengan Pemberitaan Foto Terbanyak

6. Pewarta dengan Pemberitaan Artikel Terbanyak


Kalo saya sih jelas ingin ikut yang konten blog. Maklum, saya kan bloger. 


Kebetulan durasinya cukup panjang. Jadi, saya, Anda, kalian, dan kita semua punya banyak waktu untuk mengumpulkan bahan.


- Periode Kompetisi: 9 April - 30 September

- Penjurian internal YDBA: 1-5 Oktober

- Penjurian Dewan Juri: 12-16 Oktober

- Pengumuman Pemenang: 6 November


Btw, artikel atau konten terkait kontribusi YDBA dalam membina UMKM di Tanah Air. Selain Teguh dengan limbah telur, banyak yang bisa diulas dari mitra UMKM pada daftar ini: https://bit.ly/umkmbinaanYDBA26.


Nah, sebagai epilog, mari kita ramaikan #AYukPewarta2026 dengan mengulas lebih dalam kemajuan para pelaku UMKM di penjuru nusantara yang mendapat binaan dari YDBA!

Berbagi inspirasi dari pelaku UMKM
binaan YDBA kepada media dan bloger



*        *        *


- Jakarta, 10 April 2206

*        *        *


Rabu, 01 April 2026

SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda

 SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda


Kick Off SATU Indonesia Awards 2026
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



17 tahun merupakan fase bersejarah bagi setiap insan. Tepatnya, saat manusia beranjak dari remaja menuju dewasa.

Itu mengapa, usia ke-17 jadi titik tolak mayoritas individu dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Di sisi lain, bagi perusahaan, lembaga, yayasan, dan sejenisnya, bisa memasuki usia ke-17 jadi bukti konsistensi. Bahwa, mereka sudah mampu melewati pahit, asam, dan manis kehidupan untuk memasuki fase berikutnya.

Tidak mudah untuk mencapai ke arah sana yang tentu jalannya berliku. Itu yang dilakukan PT. Astra International Tbk yang rutin menyelenggarakan penghargaan untuk putra-putri terbaik bangsa.

Tepatnya, lewat Semangat Astra Untuk (SATU) Indonesia Awards. Ya, tahun ini merupakan edisi ke-17 dengan tajuk: Terhubung dalam Aksi.

Edisi perdana Satu Indonesia Awards berlangsung pada 2010. Sejak saat itu, Astra rutin menyelenggarakan event yang merangsang kreativitas putra-putri terbaik bangsa.

Termasuk, ketika pandemi Covid 19. Menurut saya, itu jadi oase bagi para generasi muda untuk menularkan inspirasinya di tengah keadaan yang terbatas.

Kini, setelah pandemi berlalu dan kehidupan mulai membaik, Astra kembali menantang generasi muda lewat Satu Indonesia Awards 2026.

"Kami terus mendorong setiap inisatif untuk tidak berhenti sekadar di ide saja. (Melainkan) terus dikembangkan dan diimplementasikan secara berkelanjutan. Termasuk, menjangkau masyarakat hingga ke pelosok penjuru," kata Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto saat Kick-off SATU Indonesia Awards 2026 di Menara Astra, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).

"Kami percaya, pada akhirnya perubahan yang berkelanjutan lahir dari aksi yang saling terhubung dan diperkuat bersama untuk hari ini dan masa depan Indonesia.”

Tema SATU Indonesia Awards 2026 ini bagi saya sangat menarik. Sebagai ojek online (ojol) yang hobi ngeblog, narasi "Terhubung dalam Aksi" ini merupakan tantangan bagi generasi muda, baik individu maupun kelompok.

Untuk info lebih lengkapnya, bisa dibuka link ini: https://satuindonesiaawards.astra.co.id.


*          *          *


"SUATU kehormatan bagi saya jadi pengamat dan menyaksikan bagaimana langkah kecil yang dibuat anak muda yang sangat peduli untuk melakukan sesuatu yang punya dampak kepada masyarakat sekitar," tutur Dian Sastrowardoyo dalam sambutannya sebagai juri.

Aktris sekaligus pegiat seni ini memang aktif mengamati ribuan peserta SATU Indonesia Awards. Dimulai sejak 2019 ketika jadi juri tamu.

"Mungkin langkah-langkah ini (para peserta) memang awalnya kecil. Namun, ini bisa tumbuh secara signifikan. Bahkan bisa menginspirasi orang lebih banyak lagi untuk melakukan hal yang sama," Dian, menambahkan.

Ya, dalam SATU Indonesia Awards 2026 ini, mendorong para penerima apresiasi untuk berperan sebagai "local champions". Sehingga, inisiatif yang lahir dari para penggerak perubahan dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Astra juga memperkuat kolaborasi integrasi antara dua program kontribusi sosial unggulannya, yaitu SATU Indonesia Awards dan Desa Sejahtera Astra. 

Berdasarkan data resmi, hingga kini, SATU Indonesia Awards telah melahirkan 792 generasi muda inspiratif yang berkontribusi di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. 

Sementara itu, Desa Sejahtera Astra telah membina 1.533 desa yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia.

Dalam artikel yang saya tulis tahun lalu (https://www.roelly87.com/2025/03/satu-indonesia-awards-2025-dan-misi.html), yang daftar mencapai 17.708 peserta. Melonjak drastis dari edisi perdana pada 2010 yang berkisar 120 saja.

Tahun ini, turut hadir penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 bidang wirausaha, Rizki Dwi Rahmawan. Pria asal Banyumas ini juga membagikan tips bagi calon peserta.

Menurutnya, jika peserta berhasil meraih apresiasi di SATU Indonesia Awards 2026 ini bukan sekadar "menang" saja. Melainkan, jadi langkah awal untuk bisa berkontribusi kepada khalayak ramai.

Itu diungkapkan Rizki yang sukses memberdayakan para penderes. Yaitu penyadap pohon kelapa atau nira. Rizki terjun langsung bersama petani dalam mengolah nira di Desa Kemawi yang kini telah melebarkan pasar sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga setempat.

Nah, SATU Indonesia Awards 2026 kini akan memunculkan Rizki-Rizki baru yang bermanfaat bagi sesama.***


*          *          *


- Jakarta, 1 April 2026


 

Rabu, 25 Maret 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026


Ilustrasi ganda putra Mohammad Ahsan/
Kevin Sanjaya Sukamuljo
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)



INDONESIA kehilangan salah satu putra terbaiknya pada 19 Maret lalu. Tepatnya, saat Michael Bambang Hartono meninggal dunia. 


Peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini dikenal dengan kecintaannya pada dunia olahraga. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, merupakan pemilik Grup Djarum.


Korporasi yang dulu identik dengan rokok. Seiring waktu berjalan, Djarum melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang.


Misal, keuangan dengan Bank Central Asia (BCA), media (Kaskus dan Mola), elektronik (Polytron), marketplace (Blibli), dan sebagainya.


Di dunia olahraga, melalui Djarum Foundation (PB Djarum) identik dengan bulu tangkis. Saya, Anda, kalian, dan kita semua pasti tidak asing dengan nama-nama atlet yang mengharumkan Indonesia di kancah dunia ini.


Mulai dari Liem Swie King, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi, Yuni Kartika, Ivana Lie, hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo.


Bahkan, 2019 lalu, Hartono Bersaudara ekspansi ke Negeri Piza. Tepatnya, dengan membeli Como 1907.


Dengan tangan dingin mereka, akhirnya klub yang dulu berkubang di kasta terbawah sepak bola Italia itu menjelma jadi raksasa. Terbukti, hingga giornata ke-30, Como kokoh di peringkat empat klasemen Serie A 2025/26!


Klub yang dilatih Cesc Fabregas itu sukses mengekor FC Internazionale, AC Milan, dan Napoli. Como juga unggul tiga poin dari Juventus yang tertahan di posisi lima.


Sebagai Juventini garis lembut, saya berasa ironis sih. Raksasa Italia itu bahkan harus rela dikecundangi Como dua kali musim ini. Juve takluk dengan skor 0-2 di kandang sendiri pada 21 Februari lalu dan di markas Como (19/10).


Meski ga rela melihat klub favorit saya jadi badut di hadapan Como, tapi saya tidak terlalu kecewa. Sebab, itu membuktikan Como berada di tangan yang tepat di bawah naungan Djarum.


Saya enggan overproud hanya karena pemilik Como asal Indonesia. Namun, fakta bahwa Como bisa masuk empat besar Serie A dan berpeluang tampil di Eropa musim depan, memang tak terbantahkan.


Ya, selain QRIS, ternyata masih ada yang dibanggakan dari Indonesia di mata dunia.


*         *         *


CINTA Lama Bersemi Kembali alias CLBK. Ya, kisah romantisasi antara dua pihak yang pernah terikat tapi terhalang jurang nan dalam.


Namun, kali ini kita tidak membicarakan tentang ceritera sejoli. Melainkan, antara Djarum dengan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).


Ya, sejak pisah akibat kontraknya selesai pada 31 September 2020, pencinta bulu tangkis di Tanah Air merasa seperti "ada yang hilang". 


Termasuk, saya yang turut merasakan heningnya atmosfer turnamen bulu tangkis di Indonesia. Khususnya, yang prestisius seperti Indonesia Open.


(Artikel Terkait: https://www.roelly87.com/2024/06/indonesia-open-2024-sepi-kok-bisa.html)


Nah, menyambut Indonesia Open 2026, Djarum pun turun gunung. Mereka kembali akan mensponsori turnamen elite Super 1000 ini yang setara dengan All England, China Open, dan Malaysia Open.


Tepatnya, lewat anak usaha Polytron. Ya, turnamen yang bakal digelar 2-7 Juni mendatang itu bakal bertajuk Polytron Indonesia Open 2026.


Ini kali perdana Grup Djarum jadi sponsor Indonesia Open sejak pandemi. Untuk 2020 tidak diselenggarakan akibat wabah Covid 19.


Sebelumnya, mereka aktif berkolaborasi dengan PBSI lewat Djarum Indonesia Open pada 2004-2013, BCA (2014-2017), dan Blibli (2018-2019).


Hanya, kerja sama itu buyar sejak akhir 2020. Itu seiring dengan pergantian pengurus baru PBSI.


Entah ada korelasinya atau tidak, sejak saat itu hingga kini, hanya sekali wakil Merah-Putih juara. Tepatnya, saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengalahkan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi pada Indonesia Open 2021.


Sementara, pada 2022 hingga 2025 lalu, nirgelar. Alias, kita harus puas jadi penonton di rumah sendiri saat atlet luar berpesta.


Saya pribadi, berharap dengan CLBK Djarum-PBSI bisa mengembalikan prestasi di Polytron Indonesia Open 2026.


Berharap itu wajar. 


Di sisi lain, sebagai makhluk logis, saya juga harus realistis dengan tidak memasang ekspektasi yang berlebihan. Pasalnya, belum tentu dengan masuknya Djarum lewat Polytron di Indonesia Open 2026 ini bisa memberi gelar.


Ga ada jaminan.


Serius!


Faktanya, dalam 16 edisi Djarum dan anak usah jadi sponsor utama Indonesia Open (2004-2019), ada tujuh kali nirgelar dari wakil Merah-Putih.


Itu terjadi pada Indonesia Open 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016.


Jadi, kita sebagai penggemar tepok bulu pun wajib menapak tanah. Romantisasi Grup Djarum-PBSI bukan berarti mendatangkan tsunami gelar.


Namun, setidaknya memberi secercah harapan.


Ya, bisa dilihat di media sosial saat info Djarum kembali kolaborasi dengan PBSI lewat Polytron Indonesia Open 2026 disambut antusiasme warganet. Khususnya, BL alias Badminton Lovers.


Sebagai penggemar, saya hanya bisa mendukung para atlet yang berjuang di Polytron Indonesia Open 2026 untuk mengakhiri paceklik sejak 2021. 


Apa pun hasilnya kita terima, secara, semua pihak tentu sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik. Baik Atlet, PBSI, dan Grup Djarum.


Eaa... Eaa... Eaa!


*         *         *


Sumber: 


- https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/tournament/5528/polytron-indonesia-open-2026/overview/


- https://money.kompas.com/read/2015/04/10/113200826/Ini.Bisnis.Sampingan.Grup.Djarum.di.Luar.Rokok


- https://m.kumparan.com/amp/kumparansport/djarum-foundation-akan-dukung-indonesia-open-2026-and-ajang-bergengsi-lain-25tO2AMFH03


- https://www.kompas.com/badminton/read/2020/12/17/16392808/kerja-sama-dengan-pbsi-berakhir-djarum-tetap-sokong-bulu-tangkis?page=all



*         *         *


- Jakarta, 25 Maret 2025

Senin, 16 Maret 2026

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan


(POV: Miss G)


HAI, gw Miss G. Huruf ke tujuh dalam alfabet itu merupakan inisial nama asli gw.


Ya, bisa Gadis, Gladys, Gina, Gince, Gani, Gunawan...


Eh, yang terakhir itu nama cowo. Gw kan cewe, hehehe.


Namun, kalian juga bisa manggil gw Agni. Dalam bahasa sanskerta disebut api. 


Pun demikian dalam kisah wayang atau Mahabharata, Agni merupakan Dewa Api. 


Sebagaimana air yang bisa membuat perahu berlayar tapi juga dapat menenggelamkannya. Begitu juga dengan api yang merupakan sumber kehidupan sekaligus kematian.


Ingat pembakaran Hutan Khandava oleh Agni? Peristiwa itu nyaris membuat Raja Dewa Indra dengan tega membunuh dua makhluk utama, Arjuna dan Kresna.


Nama pertama bisa dibilang "anak biologis" Indra hasil hubungannya dengan Kunti secara niyoga. Sementara, Kresna merupakan awatara Dewa Wisnu, sang pemelihara alam.


Hanya, akibat keinginan Agni untuk melahap Hutan Khandava menyebabkan Arjuna dan Kresna nyaris dilenyapkan Indra jelang Bharatayuda.


Yes! Panggil gw Miss G atau Agni.


Cukup sekian dan terima gaji!



*       *       *


MAYORITAS umat muslim sangat bersedih ketika tahu Ramadan akan pergi. Namun, gw termasuk sedikit yang justru senang.


Ya, saat ini udah masuk sepertiga Ramadan. Alias, kurang dari sepekan lagi Idul Fitri.


Bukannya gw ga menghargai bulan suci ini. Namun, jujur aja gw benar-benar mengharapkan Ramadan cepat berlalu.


Alasannya sederhana. Gw kerja di dunia malam.


Asal kalian tahu, pembaca artikel ini yang budiman. Sepanjang Ramadan, tempat kerja gw di Red District Jakarta Barat full ditutup.


Gw sedih.


Secara, gw ga bisa nafkahin keluarga.


Bukan cuma gw. Rekan seprofesi juga pada nganggur.


Termasuk LC, dancer, bartender, kasir, security, dan sebagainya. Selama sebulan ini, mereka ga dapat pemasukan.


Itu akibat peraturan pemerintah yang melarang tempat hiburan malam beroperasi sepanjang Ramadan. Niatnya mulia, untuk menghormati bulan suci.


Hanya, efek dominonya terasa. Kami, maksudnya gw dan pekerja malam, ga punya pemasukan untuk menyambut lebaran.


Gw pribadi ga punya keahlian. Mau kerja apa?


Zaman sekarang kan anomali. Jangankan yang halal, yang haram aja susah!


Untung gw masih punya sedikit tabungan sebagai mitigasi yang udah gw lakukan sejak pandemi. Juga memiliki hubungan dekat dengan pejabat daerah yang kami juluki raja-raja kecil.


Mereka ini kerap mengirim angpao untuk menambah kebutuhan sehari-hari gw dan keluarga.


Alhamdulillah, rezeki anak sholeh...


*       *       *


HANYA, ga semua pekerja malam beruntung seperti gw.


Btw, ga usah nanya gw kerjanya apaan ya. Juga, jangan nebak gw sebagai LC, dancer, dll.


Yang pasti, gw kerja di dunia malam. Tepatnya, di tempat hiburan yang kerap dijuluki sekeping kenikmatan bagi kaum pria.


Hanya, lokasinya dekat pemukiman penduduk yang sangat padat. Itu mengapa, tempat kerja gw ditutup full selama bulan suci.


Beda cerita jika lokasinya tidak berdampingan dengan warga seperti yang dimiliki kakak bos gw. Di sana, aman sentosa ga bakal dirazia.


Bahkan, bila ada pengunjung yang datang Jumat sore bisa bebas pulang Senin pagi.


Atau, milik sepupu bos gw yang lokasinya di hotel bintang empat. Masih bisa beroperasi karena sesuai peraturan.


Memang, bos gw sempat punya niat untuk buka. Ya, kucing-kucingan lah dengan aparat.


Toh, di dunia yang abu-abu ini, dengan uang bisa lebih mudah. Tinggal setor ke "kepala", wasit, ormas, dan pemilik wilayah, sudah dipastikan 99% tempat usaha kami beroperasi.


Namun, niat itu diurungkan. Sebab, bos gw memiliki ipar di pemerintahan dan besan calon dewan 2029.


Tentu, mereka sudah memberi sinyal agar bos gw sementara mengerem. Bos gw yang gw tahu dulunya bandit tanpa ampun yang biasa membunuh orang tanpa berkedip layaknya Cao Cao dalam Sam Kok, ternyata masih punya liangsim.


Bos pun benar-benar tutup total usahanya. Sebab, jika memaksa buka yang berujung diketahui publik hingga viral, bakal membuat susah ipar dan besannya.


H-5 Ramadan sebelum pengumuman resmi pemerintah, bos memberi seluruh karyawannya uang saku yang dianggap cukup untuk pengganti libur. 


Nominalnya setara UMR.


Sayangnya, kami yang biasa kerja di dunia malam, sudah terlena mendapatkan uang melimpah dengan mudah. Alhasil, uang saku dari bos justru banyak yang sudah habis saat awal Ramadan.


Termasuk, gw yang biasa mengandalkan tip dari tamu. Khususnya, saat raja-raja kecil datang.


He he he...


Nah, seperti yang gw utarain di awal, ga semua karyawan beruntung kayak gw yang punya hubungan dengan raja-raja kecil itu.


Alhasil, mereka lintang pukang dalam menyambut Ramadan 1447 H ini. Sebisa mungkin beberapa kali gw bantu mereka dengan membelikan makanan untuk sahur atau buka.


Atau, ada yang anaknya nangis minta baju lebaran. Kalo harganya masih masuk akal, gw bantu belikan online.


Sedihnya, karena gw dan beberapa teman yang beruntung ga bisa terus-terusan kasih mereka. Maklum, kami terkendala keterbatasan dana.


Alhasil, beberapa ada yang kembali nyebur. Padahal, gw dan mereka sebelumnya udah lama kering.


Baik itu "jualan langsung", via agen, atau aplikasi BO.


Sedih sih. 


Namun, ya mau gimana lagi. Gw memahami tindakan mereka.


Toh, orang yang hanyut di sungai akan meraih apa saja benda yang lewat di depannya. Jangankan batang pohon atau dahan, bahkan rumput pun bakal dipegangnya.


Sebenarnya, masih banyak yang mau gw ceritain. Hanya, karena satu dan hal lain, gw sudahi cukup sampai di sini.


Mungkin, jika situasi sudah kondusif, gw bakal ceritera panjang lebar. Termasuk, tentang raja-raja kecil yang royal dan menggemaskan itu.


Selamat Idul Fitri 1447 H.

Salam dari kami, kelompok marjinal yang kerap terlupakan.***



*       *       *


- Jakarta, 16 Maret 2026





Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *


Senin, 09 Maret 2026

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang


...


MENJELANG waktu berbuka puasa merupakan momen yang penuh warna. Khususnya bagi ojek online (ojol) yang bergelut di jalanan setiap harinya.


Apalagi, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim hujan. Alhasil, tiap sore, ibu kota pun basah kuyup diguyur air yang turun dari langit.


Bagi ojol, hujan punya dua sisi. Pertama, jelas gacor alias gampang cari orderan. 


Sisi lainnya, jemput terlalu jauh. Apalagi, jika hujan menjelang maghrib yang bertepatan dengan jam pulang kerja karyawan dan yang ingin buka bersama (bukber), ngabuburit, atau beli takjil.


Bagi penumpang? Hujan saat sore plus suasana Ramadan ini untuk mendapatkan ojol jadi cobaan yang dicobain.


Baik itu untuk pesan orderan penumpang, kirim paket, makanan, atau jastip. 


*       *       *


"MAS, kenapa sih dari tadi susah dapat ojol? Saya udah setengah jam lebih ga dapat-dapat," ujar penumpang yang saya jemput di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, menuju stasiun moda transportasi berbasis rel.


Saat itu, jalanan yang saya lewati benar-benar macet sejak siang. Mulai dari Jalan Daan Mogot, Tomang, Thamrin, Sudirman, Satrio, hingga Rasuna Said.


"Saya udah pake empat aplikasi. Go***, Gr**, Max**, dan Indriv**. Ga ada yang dapat," pelanggan itu melanjutkan. "Malah banyak dicancel duo ijo dengan alasan jemput kejauhan dan pakai layanan hemat atau voucher. Sampe pasrah saya mau ke stasiun."


Saya mendengarkan dengan khidmat. Enggan memotong hingga penumpang itu benar-benar selesai bicaranya.


"Emang ini gara-gara saya pake hemat ya? Jadi dicancel terus sama ojolnya?" katanya lagi.


"Lah, ini saya lagi bawa Anda. Ini layanan hemat kan ga saya cancel?"


"Iya, mas. Ini saya baru dapat setelah belasan kali dicancel di duo ijo. Kalo dua aplikasi lainnya malah muter-muter terus."


"Saya kan ga cancel. Mau itu layanan hemat, reguler (biasa), atau penjemputan prioritas yang lebih mahal, saya tetap bawa. Yang penting jadi uang. Toh, keluarga saya ga pernah nanya, tiap hari saya bawa penumpang yang pakai layanan hemat itu berapa. Mereka hanya nanya, gimana hari ini ngojol, 'ramai apa nggak?' Kalo ramai, ya alhamdulillah. Kalo sepi yang dijalanin aja," saya menjelaskan.


Penumpang itu terkekeh mendengar jawaban saya. Situasi tampak likat baginya.


Usai seperminuman teh, customer itu melanjutkan.


"Iya, saya baca di medsos, katanya ojol Go*** dan Gr** pada ga mau bawa orderan hemat. Padahal kan itu emang udah disediakan dari aplikasinya untuk penumpang," pelanggan yang usianya berkisar seperempat abad tipis-tipis ini menuturkan. "Emang salah ya mas, kalo kami sebagai penumpang pilih orderan hemat?"


Pertanyaan itu merupakan yang ke sekian kali ditujukan penumpang kepada saya. Jawaban saya, tetap template.


"Ga salah dong ka. Hak customer untuk pilih layanan hemat yang memang disediakan aplikasi."


"Terus, kenapa banyak ojol yang cancel. Bahkan, saya dengar di medsos, katanya ojol jijik kalo dapat orderan hemat."


"Nah, ini buktinya si kakak pesan hemat. Saya tetap ambil kan?"


"Iya sih, kadang ada yang kayak mas, mau ambil orderan hemat. Namun, lebih banyak lagi yang cancel. Bahkan nolaknya ketus banget."


"No comment, dah kalo itu. Kalo saya sih nilai, hak setiap masing-masing ojol untuk mau ambil atau nolak orderan hemat. Bebas aja. Kami ini kan mitra. Bukan karyawan aplikasi. Buktinya, setiap hari saya dapat 10-20 orderan penumpang, mayoritas hemat. Biasa aja. Mau itu hemat atau reguler bahkan yang mahal pun. Yang penting, saya pulang bawa uang."


"Serius mas? Jawaban ini ga ada 'gula-gulanya' kan?"


Saya pun menepikan sepeda motor di jalan yang populer dijuluki "Orchard-nya Jakarta". Sambil mengambil hp di holder untuk memperlihatkan riwayat orderan di aplikasi kepada penumpang.


"Nih, lihat di aplikasi. Bukan screenshot ya. Hari ini saya udah dapat 19 order dari start setelah imsak. Tuh, mayoritas hemat ada 15 termasuk yang berjalan saat ini. Kan ada logonya, di aplikasi antara orderan hemat, reguler, prioritas, atau instan."


"Iya ya. Berarti mas ga masalah ambil orderan hemat?"


"Yang masalah itu kalo dapat penumpang ga bayar. Alias kabur."


"Serius?"


"Ya, udah beberapa kali. Baik layanan penumpang, makanan, atau jastip. Ya, risiko pekerjaan."


"Gimana ceritanya mas?"


"Next ajalah. Mending kita fokus pada pembahasan hemat ini."


"Ok..."


*       *       *


SEBAGAI ojol, saya beberapa kali ditinggal kabur penumpang yang ga bayar. Ya, mau gimana lagi, namanya kerja pasti ada risiko.


Anggap aja, lagi kurang beruntung. Toh, saya sering dapat tip dari penumpang dengan nominal yang wah.


Jadi, saya anggap subsidi silang. Penumpang A kabur ga bayar. Ga lama, ada customer B yang kasih tip berkat pelayanan yang memuaskan. 


Nanti pada artikel selanjutnya saya ceritakan.


"Mas, mau tahu ga alasan kenapa saya dan penumpang lainnya banyak pake hemat?" ujarnya lagi.


"Ga. Itu hak penumpang. Bebas aja."


"Kok gitu?"


"Lah, mau jawaban gimana? Mau saya ngeluh gitu karena ongkos hemat lebih murah? No! Itu penggiringan opini."


"He... He..."


"Gini ya. Saya kan dulu pernah kerja sebelum jadi ojol. Jadi, saya paham, untuk ongkos transportasi seperti ojol, taksi online (taksol), taksi konvensional, TJ, KRL, MRT, hingga LRT itu maksimal 30 persen dari pengeluaran. Sisanya, untuk bayar cicilan, baik rumah, paylater, kebutuhan sehari-hari, listrik, kuota, asuransi, dan sebagainya."


Dari kaca spion, tampak sang pelanggan  mengangguk. 


"Saya sering dapat penumpang yang tinggal di Cikarang, Bekasi, kerjanya di utara Jakarta. Sehari itu mereka untuk pp (pergi-pulang) transportasi bisa 100 ribu. Mulai dari naik ojol dari rumah ke stasiun, KRL, lanjut TJ, terus dari halte TJ pesan ojol ke tempat kerja dan sebaliknya saat pulang. Bisa dibayangkan dikali 26 hari kerja."


Obrolan terhenti karena banyak kaum primata yang menyalakan petasan di tengah jalan. Manusia-manusia tolol ini memang meresahkan. 


Sampah masyarakat ini ga tahu situasi, jalanan lagi ramai eh malah masang petasan yang membahayakan pengendara dan orang lewat. Giliran diciduk Polkis, ntar playing victim dengan menyebut tradisi Ramadan.


"Jadi, kalo penumpang pake hemat itu wajar. Agar mereka bisa menekan pengeluaran dari naik ojol. Sama seperti waktu itu ada penumpang cerita, naik LRT nunggu hingga pukul 20.00 WIB demi ongkos di luar jam sibuk Rp 10 ribu. Sah-sah aja. Ekonomi lagi sulit, alhasil kita harus berhitung dengan cermat."


"Wah, mas ini bijak ya. "


"Ga juga. Tapi, sebagai ojol, saya harus adaptif. Toh, kita lihat sesuatu harus dua sisi."


"Nah itu mas. Nih, tahu ga, dari kantor saya ke stasiun itu saya pake hemat bayar 16 ribu. Kalo yang reguler 35 ribu. Terus, kalo mau dapat ojol yang lebih cepat harus nambah 4 ribu. 35 + 4 = 39 ribu. Jauh banget kan bedanya sama hemat?"


Saya mengiyakan. Memang, di aplikasi customer tertera seperti itu. Untuk jam sibuk dan hujan, tarif reguler ada kenaikan harga. Fluktuasi. Tergantung ramainya orderan. 


Di sisi lain, untuk layanan hemat, argonya tidak berubah.


"Ketimbang bayar uang 35 ribu atau 39 ribu, atuh mending saya keluar 16 ribu yang hemat. Toh, biasanya saya selalu kasih tip untuk ojol," ucap sang penumpang.


"Bagi saya dan mungkin penumpang hemat lainnya, lebih baik kasih tip ke ojolnya 5-10 ribu ketimbang layanan reguler yang tarifnya dua kali lipat. Saya salah ga mas?"


Saya mengangguk.


"Ga dong. Kan udah dijelasin dari awal. Hak penumpang untuk pilih layanan, baik hemat, reguler, atau prioritas. Bahkan, ga harus kasih tip juga. Ntar penumpang merasa itu kewajiban yang malah jadi memberatkan," kata saya.


"Terkait ojol yang cancel, itu akibat jemputnya jauh. Misal, tadi saya jemput Anda aja 1.7 km. Posisi saya saat itu di Mampang. Sementara, Anda di Mega Kuningan. Tahu sendiri kan, macetnya Tendean kalo sore? Tapi, tetap saya ambil. Masih masuk hitungannya," lanjut saya.


"Beda lagi jika jaraknya 2 km lebih. Otomatis saya cancel. Bahkan, kalo sore gini jam pulang kerja, jemputnya bisa 3 hingga 5 km. Tanpa drama, langsung saya cancel. Terlalu jauh. 


Kecuali kalo pelajar, mahasiswa, atau penyandang disabilitas. Saya punya pertimbangan khusus untuk tetap ambil.


Itu jadi alasan ojol cancel. Secara, jemput itu ga dikenakan tarif. Jadi, kalo jemputnya jauh, wajar jika ojol cancel karena rugi bensin dan macet. Apalagi kalo jarak jemputnya 5 km dan ongkos hanya 10 ribu? Saya pun ga mau. 


Kami sebagai ojol kan kerja untuk nyari uang, bukan nyari berkah, pahala, atau tiket ke surga. Jadi, mohon kepada Anda dan customer lain untuk sama-sama dipahami. Bahwa, ojol cancel orderan bukan berarti malas atau akibat customer pakai layanan hemat. Melainkan karena jemputnya terlalu jauh yang jaraknya ga masuk akal."


Setelah melewati jalanan yang dipenuhi sampah masyarakat, alias pak ogah di kedua sisi dan juru parkir liar yang bikin macet, kami pun sampai.


"Terima kasih ya mas atas informasi yang mendalam. Sekarang saya jadi paham alasan dicancel ojol akibat jemputnya terlalu jauh," ucap penumpang sambil turun dari motor.


"Terima kasih kembali. Sama-sama ka. Oh ya, kalo lagi mendesak atau penting, penumpang juga bisa datangin ojol yang nongkrong atau lewat dengan masukin kode untuk langsung berangkat."


"Oh, seperti di stasiun ya?"


"Ya, ada Go*** Instan dan Gr** Now. Nanti customer kasih kode biar diinput ojolnya. Hanya, harga memang sedikit lebih mahal dibanding tarif biasa apalagi hemat. Namun, ini sangat berguna jika kita sedang buru-buru ke acara atau keadaan mendesak."


Penumpang itu pun mengangguk usai memberikan helm untuk masuk. Suasana di jalan jelang maghrib pun kian ramai.


Selain klakson motor, mobil, dan bus, juga kata-kata mutiara dari kebon binatang yang keluar antarpengendara akibat ada yang lawan arah serta berhenti tengah jalan. Ah, sungguh sore yang syahdu...



*       *       *


- Jakarta, 9 Maret 2026