TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Oktober 2015

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Jumat, 30 Oktober 2015

Sejuta Xpresi dengan BCA dan Liga Mahasiswa


Suasana pendaftaran Liga Mahasiswa di booth BCA



BINA Nusantara (Binus) kembali mengadakan International Days 2015 selama dua hari yang bertempat di Kampus Anggrek pada 28-29 Oktober. Kebetulan, kemarin saya sempat mengunjungi universitas yang terletak di Jalan Kebon Jeruk Raya No 27, Jakarta Barat, ini.

Dalam acara tersebut BCA turut membuka booth untuk pembukaan Tahapan Xpresi BCA dan pendaftaran Liga Mahasiswa. Kehadiran mereka itu sebagai bagian dari Campus Visit LIMA. Saya yang penasaran dengan Tahapan Xpresi BCA pun tertarik untuk menyambangi booth tersebut untuk membuka rekening.

Ternyata, setelah berbincang dengan brand ambassador/SPG di booth itu, banyak keuntungan yang didapat jika membuka Tahapan Xpresi BCA. Apa saja itu?

1. Cashback senilai Rp 50 ribu khusus nasabah Tahapan Xpresi BCA yang baru pertama kali membuka rekening. Benefit ini tentu tidak saya sia-siakan dengan langsung menuju ke cabang BCA yang berlokasi di BINUS.

Apalagi, saya cukup mengeluarkan Rp 50 ribu untuk setoran awal. Program ini sangat cocok bagi mahasiswa, pelajar, atau anak muda. Lantaran untuk Tahapan biasa, setoran awalnya Rp 500 ribu.

Oh ya, kelebihan lainnya, untuk membuka rekening Tahapan Xpresi BCA, kita bisa memilih puluhan desain yang ciamik. Contohnya saya, sebagai penggemar sepak bola, sudah pasti saya langsung menunjuk gambar pemain yang sedang melakukan tendangan. Ketika disandingkan dengan kartu kartu Flazz dan Kompasiana Community Card yang sudah dimiliki sebelumnya, ternyata keren banget.

2. Beli 1 gratis 1 tiket regular nonton di CGV Blitz. Sebagai penggemar film, tawaran ini "haram" dilewatkan. Bahkan berlaku saat penayangan weekend (Sabtu-Minggu). Duh, jadi ga sabar pengen lihat Goosebumps!

3. Gratis voucher MAP Rp 100 ribu setiap bulan untuk 100 pemenang. Caranya? Cukup selfie dan tweetpic setiap kali kita belanja dengan Kartu Tahapan Xpresi BCA. Syaratnya, follow akun twitter resmi @XpresiBCA dengan mention dan hashtag #SejutaXpresi bersama nomor kartu.

4. Khusus selama campus visit LIMA, pembukaan Tahapan Xpresi BCA juga bisa mendapatkan voucher MAP Rp 50 ribu dan official merchandise LIMA (bisa ditukar dengan cash back Rp 40 ribu yang ditransfer ke Tahapan Xpresi BCA kita maksimal sebulan setelah buka rekening). Syaratnya seperti nomor 3, dengan foto di booth dan di-share ke twitter dengan mentions @XpresiBCA@LigaMahasiswa, dan hashtag #SejutaXpresi. Dan, saya pun tak ketinggalan untuk berfoto ria sambil pulangnya membawa banyak hadiah!

*        *        *
UNTUK mahasiswa, banyak kelebihan yang didapat dengan Tahapan Xpresi BCA.

1. Ada diskon 50% untuk biaya pendaftaran bagi tim yang setengah pemainnya punya kartu Tahapan Xpresi BCA.

2. Gratis biaya pendaftaran untuk tim yang semua pemainnya memiliki kartu Tahapan Xpresi BCA.

Sekadar informasi, menurut situs resmi Liga Mahasiswa, untuk pendaftaran setiap tim dikenakan biaya minimal Rp 1,5 juta, tergantung cabang olahraga yang akan diikuti. Tak heran jika booth BCA di Binus dipenuhi mahasiswa yang berbondong-bondong ingin mendaftar. Salah satu mahasiswa yang mendaftar yang akrab disapa Reki, mengaku, langsung mengkoordinasi teman-temannya sejak sehari sebelumnya terkait memiliki kesamaan hobi basket.

Sementara, bagi mahasiswa yang tidak mendaftar dalam Liga Mahasiswa, tapi tetap ingin mendukung teman-temannya bertanding dan memiliki Tahapan Xpresi BCA pun turut kecipratan untung. Itu juga berlaku untuk umum, misalnya ada keluarga dari mahasiswa yang tengah berjuang, pacar, kerabat, dan sebagainya.

Yaitu, tiket gratis menyaksikan pertandingan di babak penyisihan. Bagaimana dengan semifinal dan final? Jangan khawatir, sebab ada diskon khusus tiket nonton pertandingan dan Exclusive tribune seat & parking serta line khusus bagi pemenang kartu Tahapan Xpresi!

Nah, Anda tertarik untuk bisa mendapatkan beragam benefit dari Tahapan Xpresi BCA seperti yang saya alami dan beberapa mahasiswa Binus lainnya? Pantengin terus akun @XpresiBCA ya!

*        *        *
International Days 2015 Binus yang didukung BCA

*        *        *
Antre membuka tahapan Xpresi BCA

*        *        *
Desain yang saya pilih nomor A10

*        *        *
Ini berbagai desain bagi penggemar kartun

*        *        *
Bertambah lagi "Keluarga" BCA saya

*        *        *
Hadiah membuka tahapan Xpresi BCA di Binus

*        *        *
Sejuta Xpresi-Mu!

*        *        *
Ini Sejuta Xpresi saya yang emang cool. Mana sejuta Xpresi Anda?

*        *        *

Sekilas Info:
- Tentang Tahapan Xpresi BCA: www.bca.co.id/produk
- Program Sejuta Xpresi Selfie Campus Visit: www.bca.co.id/aktivitas
- Fanpage Facebook: XpresiBCA
- Akun Twitter: @XpresiBCA
*        *        *

- Jakarta, 30 Oktober 2015

Rabu, 28 Oktober 2015

Yuk, Kunjungi Pameran Filateli Christie Damayanti di Central Park


Pengunjung memotret berbagai koleksi filateli Christie Damayanti

BERKIRIM surat merupakan kegiatan yang saat ini bisa dikatakan sudah jarang dilakukan, bahkan mendekati nyaris punah. Wajar saja mengingat sekarang sudah era digital. Yaitu, berkirim pesan mayoritas mengguanakan surat elektronik (email), pesan pendek (sms), atau forum di internet. Meski begitu, bukan berarti sudah tidak ada lagi yang melakukannya.

Kebetulan, bulan ini diperingati sebagai hari surat-menyurat internasional, pada 9 Oktober lalu. Untuk beberapa kalangan, termasuk blogger, ada yang mengadakan lomba atau acara untuk berkirim surat.

Ya, ada keasyikan tersendiri saat berkirim surat dan menunggu balasan. Terutama kepada orang yang kita kenal secara pribadi. Baik itu keluarga, teman, kerabat, hingga publik figur. Pada dekade 1990-an, saya pernah mengalaminya yang tentu saja jauh lebih asyik dan berkesan ketimbang lewat email atau sms. Terutama, jika mendapat balasan dari orang yang kita inginkan.

*      *      *

BAGAIMANA rasanya mendapat surat balasan dari tokoh sekaliber Putri Diana, Ronald Reagan, Roger Moore, hingga Adam Malik? Mungkin, jika mendapat balasan dari mereka, rasanya lebih deg-degan ketimbang dapat surat dari pacar. Apalagi, jika kegiatan itu dilakukan ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

Beragam kisah tersebut dialami Crhistie Damayanti. Wanita 46 tahun ini sejak kecil sudah berkirim surat dengan beberapa tokoh ternama dunia. Selain keempat sosok tersebut, masih banyak lagi. Seperti, eks Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Indira Ghandi (India), Putri Caroline (Monako), Ratu Beatrix (Belanda), hingga Paus Paulus II.

Yang menarik, semuanya dilakukan saat Christie sejak masih SD. Tak heran jika hingga kini, dia masih menyimpan seluruh koleksinya dengan apik. Bahkan, beberapa kali, peraih penghargaan Kompasianer of the Year 2011 ini mengadakan pameran filateli. Baik secara bersama atau tunggal. Termasuk, yang berlangsung sepanjang pekan ini.

Ya, saat ini, Christie tengah mengadakan pameran tunggal bertema "Gallery of Animals" di Mal Central Park, Jakarta Barat. Acaranya berlangsung sejak pembukaan pada Senin (26/10) hingga Minggu (1/11).

Kebetulan, kemarin, saya sempat mengunjungi pameran tersebut. Sayangnya, saya tidak sempat menyaksikan diskusi bertajuk "Mau tahu cara mendapat surat balasan dari orang terkenal" yang dilakukan Christie bersama pengelola Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen.

Meski begitu, saya cukup terhibur melihat berbagai koleksi Christie. Tidak hanya prangko, surat, atau perlengkapan filateli saja, melainkan juga berbagai lukisan yang ternyata dibuat sang bunda. Total, dalam pameran tersebut, ada ribuan koleksi yang dapat dinikmati gratis secara terbuka untuk masyarakat umum.

"Ini merupakan pameran ketujuh aku, Rul. Untuk prangko, koleksi di sini hanya setengah dari yang aku miliki. Sekitar 1.600 frame A4 yang dikalikan 10 lembar. Sementara, lukisan dari mama aku," kata Christie, semringah. Kebetulan, saya jadi saksi saat wanita yang berprofesi sebagai arsitek itu mengadakan pameran perdana bertema Disney di Museum Prangko, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 16-26 Agustus 2012.

*      *      *

"MALAM sebelum datang badai, langit tampak cerah. Namun, jangan lupakan, setelah badai, biasanya terbit pelangi." Demikian, adagium lawas yang memiliki makna dalam. Ternyata, itu dialami Christie dalam hidupnya. Maklum, sebelumnya, dia sempat lupa dengan beragam koleksi filatelinya. Itu karena kesibukannya sebagai arsitek.

Namun, itu semua berubah sejak Januari 2010. Tepatnya ketika sedang menikmati liburan di Amerika Serikat (AS), Christie mengalami stroke yang mengubah perjalanan hidupnya. Alhasil, dia pun harus berhenti sementara dari pekerjaannya. Namun, seperti kata pepatah tadi, ternyata penyakit tersebut memiliki sisi positif. Yaitu, Christie bisa menyalurkan hobinya untuk menulis sebagai blogger, kembali mengoleksi filateli, bahkan mengadakan berbagai pameran.

"Kalau aku tidak seperti ini, mungkin aku tidak bakalan mengenal kamu, Rul. Ada hikmah yang aku rasakan dengan kondisi seperti ini. Meski begini (hanya satu tangan) aku jadi suka menulis di mana pun dan kapan pun," tutur Christie sambil membereskan berbagai koleksinya.

Tanpa terasa, sudah lewat pukul 15.00 WIB. Berarti, hanya satu jam lagi sebelum acara diskusi berlangsung. Tampak, belasan pengunjung di mal mewah yang identik dengan taman terbukanya itu mendatangi booth pameran. Pada saat yang sama, saya justru memohon pamit kepada Christie karena harus kembali ke kantor.

Ketika beranjak menuju pintu keluar, terdengar kekaguman dari beberapa pengunjung yang menyaksikan ribuan koleksi tersebut. Mayoritas mengatakan si empunya pameran -Christie- beruntung bisa mengoleksi berbagai benda filateli ini yang mencapai ribuan.

Namun, mereka mungkin tidak tahu, ada harga yang harus dibayar untuk bisa mengumpulkan semuanya. Ya, selalu ada pelangi setelah badai.*

- Artikel ini ditulis untuk menyambut Hari Surat Menyurat Internasional pada 9 Oktober lalu dan Hari Stroke Sedunia (29 Oktober)

*      *      *
Isi daftar hadir

*      *      *
Christie dengan ribuan koleksinya

*      *
Ibunda Christie dengan ramah menyambut setiap tamu
     *

*      *      *
Ada koleksi lukisan dari sang bunda yang turut dipamerkan

*      *      *
Berbagai macam prangko yang bisa dimiliki pengunjung

*      *      *
Seorang anak yang sedang disuapi pun larut menyaksikan berbagai koleksi 

*      *      *
Wow... Komodo 

*      *      *
Surat balasan dari Adam Malik

*      *      *
Putri Diana

*      *      *
Ronald Reagan

*      *      *
Penggemar James Bond pasti sudah familiar

*      *      *


Sekilas Info Pameran Filateli: 
Pembukaan: Senin, 26 November 2015
Waktu: 26 Oktober - 1 November 2015
Tiket: GRATIS!
Lokasi: Lantai LG Mal Central Park, Jakarta Barat

Tentang Christie Damayanti:
Blog pribadi: christiesuharto.com
Blog di Kompasiana: Christie Damayanti
Email: christie***.com
Facebook: Christie Damayanti
Twitter: @SuhartoChristie


*      *      *

*      *      *

- Jakarta, 28 Oktober 2015

Selasa, 27 Oktober 2015

Cantik Alami Bersama IWITA.or.id dan Pixy Indonesia


Cantik alami bersama IWITA dan Pixy Indonesia


"TIDAK ada wanita yang tidak cantik. Yang ada hanya wanita yang tidak tahu cara membuat dirinya cantik." Demikian pernyataan dari Amy Atmanto saat saya menghadiri acara buka puasa bersama dengan komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRID), 7 Juli lalu.

Selang tiga bulan, apa yang diucapkan salah satu desainer ternama di Tanah Air itu kembali terngiang di telinga saya. Tentu, penilaian apakah seseorang cantik itu relatif. Bahkan, terkesan subjektif.

Misalnya, banyak orang yang mengatakan, wanita cantik itu seperti Raisa Andriana. Di sisi lain, sebagian lagi menilai Isyana Sarasvati lebih kinclong. Namun, bagi saya, keduanya itu biasa saja. Sebab, wanita cantik versi saya itu ya, ibu saya, kedua adik saya, dan sudah pasti istri saya kelak.


*      *      *
TIBA-tiba saya jadi film "Anak Perawan di Sarang Penyamun". Itu setelah saya menghadiri Beauty Class yang diadakan Indonesian Woman IT Awareness (IWITA.or.id) bersama Pixy Indonesia di Praja House, Jakarta, Senin (12/10).

Maklum, dalam acara bertema "Perempuan dan Teknologi" itu, saya merasa sebagai makhluk Tuhan paling sexy tampan. Sebab, saya satu-satunya pria di antara belasan wanita cantik yang mengikuti kelas kecantikan. Nah lho, ketika itu media sosial (medos) seperti faceebook dan twitter, banyak rekan yang bertanya, kenapa saya bisa menghadiri acara tersebut.

Ok, singkatnya, event ini diselenggarakan IWITA. Yaitu organisasi nirlaba yang aktif untuk memajukan perempuan -sumpah, hingga kini saya belum tahu definisi perempuan dengan wanita- di Indonesia agar tanggap terhadap teknologi dan informasi.

Kebetulan, 29 Juni lalu, saya sempat menghadiri acara mereka yang bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) saat meluncurkan situs Serempak.or.id. Untuk beauty class ini, IWITA menggandeng Pixy -awalnya saya kira produsen sepeda- yang memang produknya, sudah tidak asing lagi bagi kaum hawa di Tanah Air.

Jadi, IWITA memang kerap mengadakan acara dengan berbagai tema. Misalnya, IT, sosial, pemberdayaan perempuan, anak, hingga kecantikan. Nah, menyambut Hari Batik Nasional pada 2 Oktober lalu, mereka kembali mengadakan lomba bertajuk Outfit of the Day (OOTD) Online Competition Batik with IWITA & Pixy Indonesia: Show Your Style with Batik.

Jadi, peserta yang hadir di Praja house -rumah milik Rosanna Grace selaku pengurus IWITA- itu merupakan pemenang serta perwakilan yang mengikuti beauty class. Masih bingung? Sama, jangankan Anda, saya pun selama dua pekan ini bingung mau membuat reportasenya. Pasalnya, sebagai pria, tentu saja saya kesulitan menulis tentang artikel kecantikan.

*      *      *
BEAUTY class ini dibuka dengan sambutan dari Ani Berta, rekan blogger sekaligus salah satu pengurus IWITA bersama Martha Simanjuntak (pendiri IWITA). Oh ya, sebagai blogger, saya tidak asing lagi dengan kedua wanita inspiratif ini.

Acara selanjutnya dari tim Pixy Indonesia. Yaitu, Mira, yang yang menyampaikan pentingnya "Etika dalam Penampilan" yang disambung Rianna pada sesi make-up. Mereka dibantu dua gadis cantik -sayang, saya lupa namanya- yang bebagi tips dalam melakukan make-up sehari-hari dengan tampilan alami tapi tetap cantik dilihat. Baik seusai mandi, sebelum pergi ke suatu acara, atau menjelang tidur?

Tentu, dalam artikel ini saya hanya bisa berkomentar sesuai kapasitas saya sebagai pria. Menyaksikan mereka memakai kosmetik seperti bedak, cream pembersih, gincu? -lipstik atau bibir merah mungkin-, dan sebagainya yang sudah pasti jadi pengalaman yang unik. Bisa dipahami mengingat biasanya, mayoritas pria -termasuk saya- jarang mau ribet seperti itu.

Yang menarik, ternyata Pixy tidak hanya mengadakan  beauty class untuk wanita saja. Melainkan juga pria yang berkolaborasi bersama Gatsby -saat demam Meteor Garden F4, saya sering memakainya- yaitu, handsome class. Yupz, keduanya masih satu perusahaan di bawah bendera PT Mandom Indonesia Tbk.

*      *      *
Ih... bening-bening euy :)

*      *      *
Ani Berta perwakilan blogger dan anggota IWITA

*      *      *
Martha Simanjuntak ketua IWITA

*      *      *
Mira dari Pixy Indonesia

*      *      *
Rianna dari Pixy Indonesia

*      *      *
Beningnya kolam ikan ini masih kalah dengan beauty class!

*      *      *
Berbagai paket Pixy Indonesia

*      *      *
Selfie jadi ritual wajib

*      *      *
Dewi Sulistyawaty pemenang beauty class

*      *      *
Ups... Gagal fokus saya!

*      *      * *      *      *
*      *      * *      *      *
*      *      * *      *      *


*      *      *


*      *      *

Sekilas tentang Indonesian Woman IT Awareness (IWITA):
Website resmi: www.iwita.or.id
Fan page Facebook: Iwita Association
Grup Facebook: Iwita
Akun Facebook: Iwita Jkt
Akun Twitter: @IWITA_Jkt
Situs Serempak: www.serempak.or.id

*      *      *

Artikel terkait:
- Kenapa Harus Serempak?
- Tiga Dara Blogger
- #BukberBRID
- Bunga Citra Lestari
- Tentang Wanita Satu-satunya

*      *      *

- Jakarta, 27 Oktober 2015

Senin, 26 Oktober 2015

Yuk, Hadiri Pameran Seni Lukis Jakarta 2015: Rendering Regime di TIM 25 Oktober-13 November




Rendering Regime di Galeri Cipta II


MEMANDANG lukisan membuat orang sejenak melupakan kepenatan yang ada. Bahkan, tak jarang menimbulkan imajinasi tingkat tinggi. Itu mengapa saya, sebagai blogger, tidak pernah bosan melihat berbagai lukisan yang ada. Termasuk mendatangi beberapa pameran, baik yang digelar secara formal atau indie.

Jadi, ketika mendengar Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menghadirkan Pameran Besar Seni Lukis Jakarta dengan tema "Rendering Regime", saya pun kian antusias. Maklum, pameran yang digelar mulai kemarin, Minggu (25/10) hingga 13 November mendatang itu menghadirkan 30 seniman asal Jakarta.

Tentu, mayoritas di antara mereka tidak saya kenal. Apalagi, acara ini seperti kurang bergairah lantaran sepinya promosi di media. Hingga sehari sebelum pembukaan, di lini masa twitter, facebook, hingga berbagai situs berita terkesan adem-ayem Namun, justru itu yang membuat saya kian penasaran untuk menyaksikan karya-karyanya.

*      *      *
PEMBUKAAN Pameran Seni Lukis Jakarta 2015: Rendering Regime digelar di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (24/10). Menurut info yang saya dapat di situs resmi TIM, acaranya berlangsung selama tiga jam sejak 19.00-22.00 WIB. Alhasil, sejak sore harinya, saya sudah merapat di kawasan tersebut.

Acara tersebut diawali sambutan dari Ketua Komite Seni Rupa DKJ 2013-2015, Hafiz Rancajale dan Leonhard Bartolomeus (kurator). Sementara, di Galeri Cipta II menampilkan dua band untuk memeriahkan pameran, yaitu Efek Rumah Kaca dan We Love ABC.

Sekadar catatan, Rendering Regime memang digelar secara serentak di dua gedung TIM. Galeri Cipta III yang bersebelahan dengan studio XXI dan Galeri Cipta II (samping Planetarium Jakarta). Acara ini terbuka untuk umum sejak kemarin (25/10) sampai 20 hari ke depan (13/10). Bahkan, pada Sabtu (31/10 dan 7/11) diselenggarakan tur bersama kurator mulai pukul 14.00-16.00 WIB.

"Tema pameran ini (Rendering regime) merupakan gambaran bagi masyarakat umum luas untuk menyaksikan apa yang tengah dibicarakan seniman masa kini. (Terutama) pelukis sebagai pemegang kekuasaan yang memiliki kemampuan untuk melakukan ekspresi dalam berbagai bentuk, ruang, warna, dan garis," kata Bartolomeus.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Barto ini mengungkapkan, tidak mudah untuk mengumpulkan berbagai pelukis. Itu diakuinya yang sempat mengundang 50 pelukis, namun yang bersedia hanya 30 orang. Mereka dipilih dari beragam gaya, usia, dan latar belakang.

"Rendering bisa diartikan sebagai penciptaan visual, gagasan artistik, dan struktur yang dilakukan seniman. Sementara, Regime merupakan aturan, sistem, atau kondisi yang muncul berkaitan dengan proses penciptaan. (Jadi) Rendering Regime ini bisa dijadikan jawaban bagi pelukis untuk kondisi pemerintah, media, dan masyarakat saat ini yang kerap menampilkan pencitraan lewat media," Barto, menambahkan.

Yang menarik, dalam pameran tersebut bukan hanya sebagai wadah dari pelukis untuk mengkritik kinerja pemerintah dan aktivitas sebagian masyarakat saja. Ternyata, event ini didasari Komite Seni Rupa DKJ pada acara yang sama 39 tahun silam. Tepatnya saat mereka menyelenggarakan Pesta Seni 1974: Pameran besar Seni Lukis Indonesia I.

"(Pameran saat itu) jadi cikal bakal Biennale Seni  Lukis yang kini beralih nama jadi Biennale Jakarta," kata Hafiz menyebut acara seni rupa dua tahunan yang diselenggarakan DKJ. "Tentu, kepengurusan DKJ sekarang tidak bermaksud meromantisir apa yang terjadi pada dekade 1970-an. Hanya, seni lukis kita sekarang terjebak dalam pusaran pasar dan seakan-akan tidak bisa lepas dari dunia dagang. Perlu usaha yang lebih besar dari para pegiat seni lukis untuk mengembalikan kritisme mereka."

*      *      *

"LIONEL Messi-nya mirip ya? Wow... Ada (Cristiano) Ronaldo juga," kata seorang pengunjung yang mengusap lukisan karya Ricky Malau yang dipamerkan di lantai dua Galeri Cipta III. Saat itu, terhampar puluhan lukisan dari cat air yang menggambarkan beberapa tokoh populer. Tak lama, ada seseorang yang  mengingatkan, "Mas, maaf, jangan disentuh kertasnya."

Sebagai orang awam, saya sendiri masih bingung dengan pembagian lokasi pameran tersebut. Sebab, ada perbedaan signifikan antara karya yang dipamerkan di dua tempat berbeda. Untuk di Galeri Cipta III, tampak lebih kalem dengan nuansa seni yang mengingatkan saya dengan beberapa karya pelukis luar. Misalnya, Nyanyian Lalat dari Ito Djoyoatmojo, yang menggambarkan dua sepatu dengan warna oranye dan pink tengah dikerbungi lalat.

Sementara, di Galeri Cipta II, bisa dibilang (mayoritas) lebih vulgar dan kritis. Salah satunya dari KP Hardi Danuwijoyo yang memamerkan karya nyeleneh namun relevan dengan kondisi saat ini. Yaitu, gambar pejabat berwajah singa yang merepresentasikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, tengah memasukkan beberapa tikus (koruptor) ke sarangnya (penjara). Di sampingnya, terdapat lukisan pejabat dengan wajah babi yang memegang kantong bertuliskan "Konspirasi Rp 11,2 triliun".

Memandangi berbagai karya yang ada di dua tempat tersebut (Galeri Cipta III dan II) tentu menimbulkan kesan tersendiri bagi setiap pengunjung, termasuk saya. Yang menarik ketika mendengar celetukan atau komentar dari beberapa pengunjung saat melihat ratusan karya lukis. Ada yang kagum, terpesona, garuk-garuk kepala, mengernyitkan kening, hingga tersenyum lepas.

Ya, seni lukis itu memang bervariasi, cenderung abstrak, dan sulit ditebak. Bukan saja tentang siapa yang melukiskannya. Melainkan, apa pesan yang disampaikan melalui hasil lukisan tersebut.

*      *      *

Isi daftar hadir yang masih sepi


*      *      *
Suasana pembukaan di Galeri Cipta III

*      *      *
"Tuh kan, sudah dibilang, tasnya ditaruh dulu sebelum foto"

*      *      *
"Itu (Paul) Pogba atau Neymar?"

*      *      *
"Om (Iwan) Fals bersanding dengan (Lionel) Messi!"

*      *      *
Suasana di lantai satu Galeri Cipta III


*      *      *
"Ciluk... ba!"

*      *      *
Mengingatkan dengan film Final Destination

*      *      *
Gubernur DKI Jakarta pasti tersenyum melihat ini

*      *      *
DPR To*ol?

*      *      *
Ada yang aneh dengan gambar ini?

*      *      *

Penampilan dari Efek Rumah Kaca dan We Love ABC

*      *      *
Sekilas Info:

Pembukaan: Sabtu, 24 Oktober 2015 (19.00-22.00 WIB) di Galeri Cipta III
Pameran: 25 Oktober - 13 November 2015 (11.00-20.00 WIB) di Galeri Cipta II dan III
Tur Bersama Kurator: Sabtu (31/10 dan 7/11) 14.00-16.00 WIB
Tiket: GRATIS!
Alamat: Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat
*      *      *

Artikel TIM sebelumnya
Yuk, Kunjungi Jerman Fest 2015 di Sembilan Kota Indonesia
Yuk, Hadiri Pameran Seni Patung Pencak Silat di TIM
Pelukis Yayat Yatmika kembali Gelar Pameran Tunggal di TIM
- 100 Tahun Ismail Marzuki 24 Mei 2014

Artikel terkait Seni dan Budaya
- Sisi Lain Basoeki Abdullah dalam Pameran 100 Tahun di Museum Nasional
- Lebih Dekat dengan Jerman di Pameran Budaya Jerman Fest 2015
- Ahmad Tohari dan Apresiasi PAB Terhadap Sastra Indonesia
- ?
Rahasia Ki Manteb Sudarsono saat Mendalang
Riwayat Panjang Lagu Kupu-kupu Malam Titiek Puspa
Museum Nasional dan Saksi Peninggalan Kejayaan Indonesia
Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Yuk, Meriahkan Karnaval Wayang Dunia 2013
Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang (2)Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang 

Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Kasus Pencurian dan Lemahnya Pengawasan Museum di Indonesia
Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
Yuk, Berkunjung ke Pameran Filateli di Museum Prangko



*      *      *

- Jakarta, 26 Oktober 2015

Sabtu, 24 Oktober 2015

Dua Tahun Atur Uang demi Wujudkan Pernikahan Impian


(Sumber foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


"KAPAN kawin?" Bagi para bujangan -termasuk saya- di seluruh Tanah Air, mungkin itu pertanyaan yang terkesan sederhana tapi sangat menohok. Ya, "kapan kawin?", "kapan nikah?", "kapan married?" sangat sering diutarakan keluarga, kerabat, teman sekolah, kawan masa kecil, rekan blogger, bahkan mantan! Untuk yang terakhir, bisa di skip saja.

Terutama jika Idul Fitri tiba dan kebetulan saya sedang berlebaran ke rumah keluarga besar, tetangga, dan teman. Duh, dari pagi seusai salat ied hingga mau salat isya lagi (malam harinya), pertanyaan itu pasti diucapkan mereka. Pertanyaannya sih singkat, cuma dua kata. Tapi, jawabnya harus mikir-mikir lagi.

Mau bilang "Iya, nanti. Ntar juga dikabarin." Eh mereka malah penasaran. Nanya kapan? Ingin lihat calonnya lah, ini lah, itu lah.

Terus, kalau bilang "Belum ada. Masih direncanain." Ini lebih rumit lagi. Mereka, -terutama kawan lama yang dulu pernah satu seperjuangan- malah memberondong pertanyaan lagi yang seperti menginvestigasi ala wartawan. "Kenapa sama yang itu batal?", "Ga jadi sama yang ini?" dan lain-lain. Bahkan, ujung-ujungnya malah "mempromosikan" teman atau saudaranya juga yang masih single. Alias jadi mak comblang! Wow...

Alhasil, biar cepat selesai, biasanya saya jawab "May." Ya, kedengaran mereka Mei tahun depan. Padahal, aslinya, "Maybe yes, maybe no."

*      *      *

SEBENARNYA, pertanyaan mereka itu tidak salah. Khususnya yang bertanya itu mayoritas sudah menikah (ya tidak mungkin juga, jika sama-sama belum nikah, nekat nanya kapan kawin ke orang lain!).

Hanya, menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang harus diurus, dibenahi, dan dikumpulkan. Bisa jadi, secara lahir saya siap (untuk menikah). Namun, batin? Begitu juga sebaliknya.

Berdasarkan saran dan nasihat dari beberapa orang dekat, selain mental, kita -maksudnya saya- juga harus mempersiapkan secara fisik. Yaitu, dana. Kebetulan, yang pertama saya sudah yakin 100 persen siap. Nah, untuk yang kedua ini belum sepenuhnya. Alias, masih berjalan.

Sejauh ini, saya masih mengumpulkan dana. Kalau dipikir-pikir, nikah itu -berdiri di pelaminan- hanya tiga jam. Tapi, ngumpulin dana sampai dua tahun. Ya, begitulah. Lantaran, nikah itu kan -Insha Allah- hanya sekali. Jadi, saya harus secara matang merencanakannya.

Setelah dalam dua tahun ini meminta saran, pendapat, curhat, hingga diskusi, dari banyak pihak, khususnya kedua orangtua saya, akhirnya saya merasa percaya diri untuk mengatur keuangan sebelum menikah.

Oh ya, tujuan saya bertanya kepada kedua orangtua saya karena beliau sudah memiliki pengalaman dalam mengatur keuangan sebelum menikah dulu. Apalagi, bertanya kepada kedua orangtua sendiri itu lebih nyaman dibanding sama teman, keluarga, atau lainnya yang kadang bikin risih karena sering jadi bahan guyonan.

Kesimpulan yang saya dapat dalam mengatur keuangan demi mewujudkan pernikahan impian itu dengan merencanakan bujet. Ini penting yang sudah saya lakukan sejak memasuki usia 20-an. Tapi, baru terlaksana dalam dua tahun terakhir mengingat saat itu sebagian besar dana dipakai untuk kebutuhan primer seperti melunasi sepeda motor dan renovasi rumah.

Rencana alokasi dana saya ambil dari hasil "wawancara" dengan teman-teman yang sudah menikah. Termasuk mengambil referensi dari kedua orangtua saya meski zamannya sudah berbeda. Lantaran, beliau menikah pada akhir dekade 1980-an dan saat ini memasuki pengujung 2015. Namun, tetap saja relevan.

Sebagai gambaran kasar, sebagai pihak pria, misalnya alokasi dana saya -hanya perkiraan dan tidak mengikat karena terkait inflasi- Rp 25 juta yang bersama dipakai pihak wanita untuk:

- Sewa gedung (Karang Taruna di Kelurahan) sekitar Rp 2 juta
- Sewa tenda, janur kuning, dan sebagainya sekitar Rp 1 juta
- Kartu undangan (Rp 2.000 dengan desain ala gunungan wayang favorit saya x 500 lembar) sekitar Rp 1 juta
- Gaun pengantin (sudah disiapkan orangtua sebagai kado pernikahan) Rp 0
- Suvenir gantungan kunci pasangan Kamajaya-Kamaratih yang merupakan simbol langgeng di dunia wayang (Rp 5.000 x 500 lembar) sekitar 2,5 juta
- KUA Rp 600 ribu
- Mahar atau mas kawin (ini saya belum bisa pastiin, masih konsultasi) sekitar Rp 5 juta
- Pagar ayu atau penyambut tamu (4 x Rp 100 ribu) sekitar Rp 400 ribu
- Prasmanan (kami belum bisa tentukan, saat ini hanya perkiraan saja) Rp 8 juta
- Lain-lain (sewa audio dan sebagainya) sekitar Rp 500 ribu
- Biaya tak terduga (konon menurut penuturan beberapa pihak yang sudah menikah supaya saya jaga-jaga agar tidak defisit) Rp 4 juta

Melihat angka-angka di atas, awalnya membuat saya berkerut kening. Tapi, jika dijalani dalam dua tahun ini ternyata tidak berat. Apalagi, setelah saya mengikuti acara Jumpa Blogger dan Talkshow bersama Safir Senduk yang diselenggarakan Sun Life Indonesia, pada 1 Agustus lalu.

Saat itu, pria 41 tahun ini membeberkan cara mengatur keuangan dan menyiapkan dana untuk masa depan. Sontak, ilmu yang diterapkan Safir Senduk itu saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai blogger, saya sungguh beruntung bisa menghadiri acara tersebut. Meski durasinya singkat, kurang dari empat jam, tapi sangat menentukan masa depan saya. Apalagi, saya sudah tidak asing dengan PT Sun Life Financial Indonesia yang kerap mengadakan acara inspiratif untuk blogger. Termasuk waktu menghadiri diskusi dengan tema asuransi syariah dalam Kompasiana Nangkring pada 30 Agustus 2014.

*      *      *

NAH, setelah merencanakan bujet selama dua tahun plus mendapat tipsnya usai mengikuti acara Sun Life, selanjutnya apa? Tentu saja, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari agar tidak sekadar wacana, apalagi NATO (No Action Talk Only).

Misalnya, gaji saya -sesuai UMP DKI Jakarta- Rp 2,7 juta. Dengan dana tersebut, biasanya saya alokasikan untuk:

- Keperluan sehari-hari (meliputi BBM sepeda motor, pulsa, listrik, kencan, dan buku) Rp 500 ribu
- Kirim ke Orangtua Rp 1 juta
- Cicilan KPR subsidi Rp 500 ribu
- Tabungan di bank untuk persiapan nikah Rp 500 ribu
- Biaya tak terduga (jika sakit di luar BPJS, sepeda motor mogok, ban bocor) Rp 200 ribu

Hanya, pembagian itu tidak mengikat. Adakalanya lebih dan kurang karena berbagai hal. Misalnya, ketika beberapa bulan lalu saya jatuh dari sepeda motor, hingga harus nombok karena keluar Rp 1,4 juta untuk perbaikan ke bengkel dan rumah sakit. Beruntung, sebagai blogger, saya kerap mendapat hadiah atau menang lomba yang bisa saya alokasikan untuk menutupi kekurangan sebelumnya.

Jadi, kalau dihitung-hitung, sejak dua tahun ini, Rp 500 ribu x 24 = Rp 12 juta. Tentu saja, belum ada setengah dari rencana terdahulu yang mencapai Rp 25 juta. Namun, saat itu saya sudah punya simpanan sekitar Rp 5 juta. Belum lagi hasil menyisihkan bonus dari kantor, THR, menang lomba blog, dan lainnya.

Tapi, lagi-lagi setelah dihitung ulang, saat ini dananya baru sekitar Rp 20 juta lebih sedikit. Alias belum mencapai target Rp 25 juta. Terus bagaimana? Ya, dijalankan setiap hari dengan komitmen penuh.

Yang penting, untuk menikah, kita -saya khususnya- tidak boleh meminta kepada orangtua apalagi calon mertua. Kalau minta saran, nasihat, tenaga, dan bantuan pakaian pengantin yang memang permintaan khusus dari mereka sebagai kado pernikahan kami, itu oke.

Tapi, bantuan uang untuk menikah? Tentu saja saya tidak setega itu. Mereka sudah melahirkan dan membesarkan saya selama lebih dari dua dekade. Masa, pas saya mau menikah harus dibantu juga. Sudah seharusnya, saya yang membahagiakan mereka. Salah satunya seusai menikah, saya akan menabung untuk memberangkatkan haji kedua orangtua dan memberikan cucu.

Jika itu terwujud, mungkin pada Idul Fitri berikutnya, pertanyaan yang keluar dari keluarga besar dan juga teman, bukan lagi "kapan kawin?". Melainkan, "Sudah berapa anak sekarang?"***

*      *      *
Referensi tambahan:
*      *      *
Sebelumnya:
*      *      *

- Senayan, 24 Oktober 2015

Senin, 19 Oktober 2015

iJakarta, Aplikasi dari Warga untuk Warga



BUKU adalah jendela dunia. Demikian pepatah mengatakan. Ya, dengan membaca buku, kita bisa mengenal luasnya bumi ini tanpa harus berkeliling dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Syaratnya, tentu kita harus rajin baca, baca, dan baca.

Itu mengapa dalam satu ayat -bagi yang muslim- terdapat kalimat "iqra" (bacalah). Sebab, dengan membaca, kita dapat mengetahui apa yang telah terjadi, saat ini, dan akan datang.

Nah, di era teknologi sekarang, membaca buku tidak hanya didominasi secara fisik. Melainkan juga digital. Sama seperti media cetak yang telah dikonversi jadi online. Begitu juga dengan buku yang awalnya konvensional kini dapat dinikmati secara mudah dengan gadget yang kita punya. Salah satunya untuk membaca dalam format ebook yang meliputi PDF, Docx, atau HTML.

*       *       *

"APLIKASI ini (iJakarta) bisa jadi promosi buku dari penerbit tanpa harus dicetak secara fisik." Demikian kata Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, dalam sambutannya di hadapan media, undangan, dan blogger, pada Selasa (13/10). Saat itu, sosok yang akrab disapa Ahok ini turut menghadiri Peluncuran Perpustakaan Digital iJakarta dan Puncak Hari Anak Jakarta Membaca di Balai Agung Provinsi DKI Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Basuki mengatakan, kehadiran iJakarta yang dikembangkan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DKI Jakarta bekerja sama dengan PT Woolu Aksara Maya (Aksaramaya) ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat Jakarta.

Bisa dipahami mengingat untuk menggunakan aplikasi ini sangat mudah. Kebetulan, saya sudah mencobanya dalam sepekan terakhir. Pengguna cukup mengunduh aplikasinya di smartphone melalui Google Playappstore. atau windows di dekstop/laptop. Saya pribadi cenderung menggunakan opsi yang pertama karena smartphone saya terintegrasi google, termasuk saat melakukan registrasi.

Saat ini, iJakarta menawarkan berbagai pilihan yang dengan ribuan judul buku. Untuk kategorinya, seperti buku pelajaran sekolah, kuliah, ilmu pengetahuan umum, sejarah, biografi, dan buku populer lainnya. Yang menarik, semua itu bisa dinikmati secara gratis!

Oh ya, sekadar informasi, saat peluncuran aplikasi yang memiliki alamat twitter resmi, @ijakarta_apss itu, mendapat dukungan dari berbagai penerbit buku. Beberapa yang saya hafal misalnya, Gramedia Pustaka Utama (GPU), Gramedia Widiasarana, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Mizan, Erlangga -saya melahap banyak bukunya sejak memakai seragam putih merah hingga putih abu abu-, Penerbit Kanisius, dan banyak lagi.

"Membangun budaya membaca merupakan tanggung jawab bersama," kata CEO PT Woolu Aksara Maya, Sulasmo Sudharno. "Kehadiran iJakarta ini sebagai aplikasi perpustakaan digital yang pertama di Indonesia sebagai wujud dari kolaborasi antara pemerintah, penerbit, penulis, dan pengembang teknologi."

Apa yang dikatakan Sulasmo dan Ahok itu sesuai dengan amanat dalam Undang Undang Dasar 1945 yang -menurut saya pribadi- mencakup pasal 27 ayat 2, 31 (1), dan 32. Yaitu, dengan adanya aplikasi ini yang bisa dinikmati secara bebas biaya, dapat memberi pengetahuan kepada masyarakat luas. Secara tidak langsung, iJakarta dapat menyejahterakan rakyat, khususnya warga Jakarta melalui apa yang dibaca mereka.

Itu diperkuat pernyataan Kepala BPAD DKI Jakarta, Tinia Budiati, "Semua buku bisa diakses seluruh warga Jakarta secara gratis. Apalagi, aplikasi ini sudah dilengkapi dengan reader untuk membaca ebook dan fitur-fitur media sosial. iJakarta hadir sebagai sumber penyedia bahan bacaan yang mudah diakses tanpa dibatasi ruang dan waktu bagi warga jakarta."

*       *       *

SEBAGAI blogger, bagi saya, keberadaan iJakarta ini sangat menarik. Meski awalnya sempat kebingungan saat menggunakannya, beruntung terdapat info lengkap mengenai fungsinya di laman faq. Itu karena aplikasi yang memiliki tampilan elegan ini bisa membuat saya menerbitkan buku secara digital. Jelas, ini sangat menggiurkan.

Selain itu, sebagai bagian dari warga ibu kota, saya bisa mendapat informasi terkini dari pemerintah daerah. Baik itu, peraturan, kebijakan, dan sarana publikasi lainnya. Termasuk jika ingin menyampaikan saran, pendapat, dan juga kritik. Tidak salah jika iJakarta ini saya sebut sebagai aplikasi yang dapat dinikmati dari warga, oleh warga, dan untuk warga Jakarta.

"Tujuannya (iJakarta), agar masyarakat mudah mendapat buku berkualitas, sekaligus dapat dijadikan sarana menerbitkan buku digital bagi yang gemar menulis. Jadi, tanpa harus dicetak yang bisa lebih hemat. Untuk warga yang peduli akan minat baca, silakan buka perpustakaan pribadi di iJakarta, agar koleksi bertambah banyak dan masyarakat bisa pinjam secara gratis. Ini adalah program dari warga untuk warga. Maka, jadilah bagian dari iJakarta," Basuki menjelaskan secara rinci.

Ya, saya sudah mencoba iJakarta. Giliran Anda kapan?***

*       *       *
Pencarian di Google Play

*       *       *
Unduh dengan ukuran 32,55 MB

*       *       *
Sudah selesai unduh

*       *       *
Registrasi dengan nama dan email

*       *       *
Ini semacam dashboard?

*       *       *
Salah satu buku yang saya ingin baca

*       *       *
Lihat sinopsis dulu agar cocok dengan pilihan kita

*       *       *


- Cikini, 19 Oktober 2015