TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Januari 2016

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Sabtu, 30 Januari 2016

Tentang Film "I Am Hope" dan Harapan Jelang Ajal Menjemput


I Am Hope dan Gelang Harapan (sumber foto: www.iamhopethemovie.com)


"TIADA perjamuan yang tak berakhir. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Namun, selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi."

Demikian adagium lawas yang selalu saya ingat. Bahwa, ada kehidupan sudah pasti ada kematian. Ada yang datang, tentu ada yang pergi. Ada hitam juga putih. Hanya, hidup terkadang selalu memberikan pilihan di antara keduanya. Abu-abu.

Ya, abu-abu merupakan wilayah yang bisa disebut sensitif. Di sisi lain, bagi sebagian pihak, abu-abu juga menandakan suatu asa. Harapan akan hidup. Tentu saja, selama masih bernafas, asa itu akan selalu ada. Sebab, yang membuat manusia mampu bertahan hidup bukanlah kekayaan, kesehatan, atau pasangan itu sendiri. Melainkan harapan. Asa untuk bangkit dari keterpurukan. Mengenai harapan akan jadi kenyataan, itu cerita lain.

*         *         *

SORE itu, pada pertengahan bulan ini, saya menyaksikan tayangan ulang di televisi mengenai insiden di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Ada hal yang menggelitik saat salah satu reporter di tv swasta mewawancarai seorang pedagang kaki lima (PKL) di lokasi tersebut. Kalau tidak salah ingat, dialognya seperti ini.

"Anda berjualan di dekat lokasi peledakan. Hanya berjarak beberapa meter. Apa Anda tidak takut?"

"Takut? Tentu saja saya takut mbak. Tapi, saya lebih takut lagi kalau gara-gara insiden ini saya tidak jualan. Sebab, nanti anak dan istri saya mau makan apa? Saya harus jualan agar dapur tetap ngebul."

"Di lokasi ini yang beberapa jam lalu terjadi peledakan. Anda yakin?"

"Yakin mbak. Lha, wong sehari-hari saya dagang di sini. Seperti jodoh dan ajal saja mbak, rezeki itu sudah ditetapkan Tuhan. Jadi tidak ke mana-mana. Tapi, sebagai manusia, kita wajib mencarinya di mana-mana."

*         *         *

BEBERAPA hari kemudian, percakapan mereka kembali saya ingat. Tepatnya setelah tidak sengaja membuka twitter di sela-sela istirahat kerja. Saat itu, kebetulan sedang ramai tagar #IamHOPETheMovie yang bahkan sempat jadi trending topics. Karena saya penasaran, coba untuk menyimak lebih lanjut yang ternyata mengenai film bertema kanker: "I am Hope".

Awalnya, setelah melihat bio di twitter-nya (@iamhopethemovie), saya mengira ini film barat mengingat judulnya memakai bahasa Inggris. Namun, setelah ditelisik lebih jauh, di dalam bio-nya ada akun yang memakai bahasa Indonesia, @gelangharapan. Saking penasaran, saya pun mengklik beberapa tweet  yang mengarah ke laman Youtube.

Membaca beberapa tokoh di balik layarnya seperti Adilla Dimitri sebagai sutradara dan Wulan Guritno (produser), serta diproduksi ALKIMIA Production & KANINGA Picture, murni sudah bahwa film yang akan ditayangkan empat hari setelah valentine ini buatan putra-putri Indonesia.

*         *         *

"BECAUSE, where there is courage, there is hope." Demikian, salah satu dialog dalam penggalan trailer berdurasi dua menit tersebut. Ah, sungguh percakapan yang menggoda.

Hanya, sebagai penikmat film action, saya butuh waktu lama untuk meresapi dialog dan makna "harapan" yang banyak diulang dalam trailer itu. Baru, setelah lima hingga enam kali replay, saya baru "ngeh".

Sebelumnya, saya hanya fokus pada dua pameran pria yang merupakan aktor senior dan sedang naik daun lagi berkat aksinya sebagai antagonis di suatu film laga tentang penyerbuan antargeng: Tio Pakusadewo dan Ray Sahetapy.

Jujur saja, selain mereka berdua dan Wulan Guritno yang penampilannya pada awal dekade 2000-an sering saya saksikan saat jadi presenter olahraga, saya kurang begitu mengenal pameran lainnya. Namun, setelah berulang kali menyaksikan trailernya, saya harus mengakui jika pepatah lama itu ternyata benar: Tak kenal maka tak sayang.

*         *         *

DUA menit merupakan waktu standar bagi setiap film untuk melakukan promosi melalui trailer atau teaser. Dengan menyaksikan tayangan singkat tapi padat itu, setidaknya penikmat film bisa meraba akhir dari cerita. Apakah berujung manis sesuai harapan, tragis, atau menggantung dengan adanya clue untuk sekuel selanjutnya.

Saya pribadi berharap "I am Hope" berakhir dengan manis, alias happy ending. Yaitu, Mia, tokoh utama pulih dan kembali merajut impiannya sejak kecil dengan menyelenggarakan berbagai pertunjukkan. Sosok yang diperankan Tatjana Saphira ini dalam dua video yang saya lihat di youtube melalui trailer dan teasernya, mengingatkan saya pada Sofia Vassilieva yang berperan sebagai Kate Fitzgerald dalam "My Sister Keepers" dengan sudut pandang berbeda.

Atau, bisa jadi, Mia bakal "pergi" seperti ibunya atau Kate. Tentu, kemungkinan terburuk akan selalu ada. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, kehadiran manusia di dunia ini bukan sekadar hidup atau mati saja. Melainkan, bagaimana caranya mengisi hari-hari dengan positif menjelang ajal menjemput.

Toh, pepatah mengatakan, "Di dunia ini manusia yang tidak bakal mati. Aku menggunakan sisa hidupku untuk mencatat kitab sejarah." Itu semua sudah dilakukan Mia yang enggan meratapi periode terakhirnya dengan kesedihan yang berlarut.

*         *         *

SEKADAR informasi yang saya dapat dari laman Uplek.com mengenai film yang akan tayang 18 Februari mendatang, saat ini sudah tersedia pre sale seharga Rp 150.000 di http://bit.ly/iamhoperk. Nominal tersebut sudah termasuk satu tiket bioskop @IAmHopeTheMovie dan satu @GelangHarapan special edition.

Yang menarik, sebagian dari hasil penjualan akan disumbangkan untuk yayasan dan penderita kanker sekaligus membantu untuk membangun rumah singgah.

Informasi lebih lanjut bisa di klik pada akun media sosial (medsos), laman, dan tagar berikut:
Twitter: @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Instagram: @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Laman Uplek: twitter @infouplek dan @Uplekpedia
Tagar: #GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope

*         *         *

I am HOPE The Movie - Official Trailer - In Cinemas 18 Februari 2016

*         *         *

RAN - Nyanyian Harapan (#IamHOPEThemeSong)

*         *         *
Salah satu adegan inspiratif dalam I Am Hope (sumber foto: www.iamhopethemovie.com)

*         *         *

*         *         *
- Jakarta, 30 Januari 2016

Selasa, 26 Januari 2016

(Esai Foto) Di Balik Liburan ke Curug Nangka (I)




MENJELAJAH Pulau Pari sudah, basah-basahan di Arung Jeram Citarik sudah, juga dengan main Paint Ball bersama Rahmad Darmawan di Cikole pun sudah. Kali ini giliran wisata ke kaki Gunung Salak di Bogor yang jadi tujuan kami saat merayakan ultah ke-11 kantor kami. Jadi, saya bersama belasan rekan reporter, grafis, dan bagian umum sepakat untuk berwisata ke Curug Nangka.

Kebetulan, ada salah satu rekan yang memiliki vila yang letaknya tidak jauh dari kaki Gunung Salak. Alhasil, kami ke sana cuma membawa pakaian dan gadget masing-masing saja. Untuk makanan dan keperluan lainnya sudah diurus kantor. Ya, namanya juga liburan untuk merayakan ultah.

*        *        *

Menggunakan sepeda motor, kami pun turut konvoi menembus dinginnya malam dari kantor di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, menuju Bogor. Rute pergi melewati Jalan Gatot Subroto yang menembus ke Pasar Minggu, Depok, hingga titik awal di Plaza Ekalokasari, Bogor.

Dari salah satu mal terbesar di Kota Hujan ini, kami istirahat sejenak. Maklum, saat itu, saya melirik ke arloji sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Berarti, masih ada 30 menit hingga satu jam menuju lokasi. Kebetulan, kami berangkat malam hari jadi tidak macet. Namun, kami tidak lantas ngebut karena sesuai kesepakatan, harus beriringan. 

Ya, jaga-jaga agar jika ada rekan yang sepeda motornya bocor bisa saling membantu. Bisa dipahami mengingat perjalanan malam memang rentan karena kios tambal ban jarang ada. Apalagi, kawasan di kabupaten Bogor beda dengan Jakarta yang 24 jam selalu ramai.

*        *        *

Singkatnya, seperti yang sudah saya muat dalam artikel sebelumnya (Menikmati Segarnya Air di Curug Nangka yang Memesona), kami pun tiba di vila sebelum ayam berkokok. Saya sih saat itu langsung tidur. Tapi, tidak dengan beberapa teman yang asyik ngutak-atik gadgetnya masing-masing. Kebetulan, meski di kaki gunung, sinyal tetap jernih hingga kami mudah untuk berselancar di internet. 

*        *        *

Foto bersama di Curug Daun. Biar kata kedinginan, kami tetap memasang wajah semangat 45.
*        *        *

Beberapa rekan berebut untuk main perosotan di kolam yang lokasinya antara Curug Daun dan Curug Kaung. Ya, nostalgia dengan masa kecil yang bahagia.

*        *        *

Oh ya, bagi kami, Curug Nangka hanya salah satu dari rangkaian acara saja. Sebab, banyak agenda lain yang kami isi sepanjang Sabtu dan Minggu (16-17/1). Kebetulan, saat itu kantor libur, jadi sekalian kami mengisinya dengan berpesiar.

*        *        *

Malam harinya seusai mengunjungi Curug Nangka dan menjelajahi berbagai kawasan menarik di kaki Gunung Salak, kami memulai "ritual". Apalagi, kalau bukan bakar-bakar ayam dan jagung yang dilanjutkan dengan main gaple. Ya, intinya ini acara pria.

*        *        *

Oh ya, namanya juga vila di kaki gunung, jadi jangan dibayangkan jika semuanya serba ada. Sebab, kami melakukan bakar-bakar ayam dan jagung dengan peralatan dapur alakadarnya yang bukan ala "berbekyuan". 
*        *        *

Meski begitu, kami tetap menikmatinya. Ya, sekali-sekali kami harus beradaptasi dengan alam. Jadi, kami makan dengan beralaskan daun pisang yang dipetik di lereng gunung. Pun dengan bahan bakarnya mencari serabut dan batok kelapa yang berserakan di pinggir sungai. Paling hanya saus botol dan kecap manis saja yang beli di jalan saat singgah sejenak mengisi bensin. Meski sederhana, tapi kami antusias menyantapnya hingga ludes tak tersisa. Antara enak dan lapar pun jadi satu.

*        *        *

Dan... Acara, puncak pada Sabtu, dua pekan lalu itu adalah main gaple atau domino. Oh ya, ini hanya iseng-iseng sambil menunggu pertandingan sepak bola yang kami tonton melalui streaming di layar ponsel masing-masing. Jadi, bukan berjudi, melainkan "taruhannya" cukup dengan mengoleskan arang ke pipi yang kalah!
*        *        *
Artikel terkait:
11 Tahun Harian TopSkor

Esai Foto sebelumnya:
- (Esai Foto) Di Balik Nobar Liverpool-Leicester
Menikmati Senja di Taman Ayodya sambil Baca Buku Gratis di Perpustakaan Terapung
Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V: Antara Kritik dan Apresiasi Penyelenggara
Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
*        *        *
- Jakarta, 26 Januari 2016

Sabtu, 23 Januari 2016

Selamat Ulang Tahun KEB


Pergantian estafet kepemimpinan KEB pad 9 Juni lalu


18 Januari itu merupakan momen spesial dalam dunia olahraga. Menurut FIFA.com dan UEFA.com, pada tanggal tersebut lahir beberapa legenda terbaik sepak bola. Josep Guardiola yang sukses bersama Barcelona, muncul di dunia pada 1971, Ivan Zamorano (1967), dan Riccardo Montolivo (1985).

Dari cabang bulu tangkis, saya mengenal Tri Kusharjanto. Wanita bergelimang gelar yang sukses mengharumkan Tanah Air di kancah dunia. Beberapa prestasinya seperti meraih medali perak Olimpiade Sydney 2000, dua kali emas Asian Games (199 dan 2000), tiga kali medali emas SEA Games (1995, 1997, dan 1999), dan enam kali menjuarai Indonesia Terbuka (1995, 1996, 1997, 1998, 1999, dan 2001).

Di sisi lain, bagi blogger di nusantara, khususnya kaum wanita, 18 Januari sangat spesial. Itu karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi komunitas yang khusus untuk kaum hawa: Kumpulan Emak Blogger (KEB).

Saya tidak tahu pasti mengenai berdirinya KEB lantaran memang saya pria yang sudah tentu tidak ikut bergabung. Menurut sejarahnya, KEB dibentuk Mira Sahid empat tahun silam melalui grup di facebook. Kalau tidak salah ingat, saat itu mayoritas anggota KEB merupakan blogger yang sudah berumah tangga.

Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas ini juga memiliki banyak anggota wanita yang belum berumah tangga. Simpelnya, bisa dilihat dengan adanya logo KEB di sisi blog dari beberapa rekan blogger yang saya kenal.

Oh ya, saya tidak mengenal jelas ADRT atau seluk beluk KEB. Tapi, saya mengenal beberapa pendiri atau ketuanya. Beberapa di antaranya seperti Mira, Indah Juli Sibarani, Irma Susanti, dan Sumarti Saelan.

Kebetulan, saya berteman dengan mereka jauh sebelum KEB dibentuk. Saya kenal Mira, Indah, dan Irma ketika mengikuti Amprokkan Blogger di Bekasi pada 17-18 September 2011. Saat itu, saya sempat bertanya kepada Mira mengenai kabar rekan Wijaya Kusumah (Om Jay) yang sedang sakit. Maklum, pria yang berprofesi sebagai guru itu bisa disebut sebagai salah satu inspirasi saya di dunia blog.

Selanjutnya, saya sering bertemu ketiganya baik dalam acara blog atau ketika menghadiri undangan KEB. Kalau tidak salah, seperti peluncuran buku Peri Bersayap dari Punky Prayitno, Intip Buku yang diselenggarakan Om Jay dan rekan guru lainnya, Asean Blogger, Kompasiana Nangkring, Temu Blogger Tokopedia, Blogpreneur-Jarvis Store, peluncuran produk susu di FX Oktober lalu, hingga acara Genflix. Sebenarnya, masih banyak, tapi berhubung memori saya terbatas, jadi hanya beberapa yang disebut.

Nah, di acara Blogpreneur-Jarvis Store yang berlangsung pada Selasa, 9 Juni 2015 di Gedung Multimedia, Jakarta Pusat itu, bertepatan dengan pergantian ketua KEB dari Mira ke Sumarti. Kalau tidak salah dengar -saat itu suasana ramai-, peralihan estafet ini menurut Mira, demi regenerasi antar anggota dan memberikan kesempatan kepada anggota lainnya.

Mengenai Sumarti, saya juga sudah lama kenal sejak Kompasianival 2011. Bahkan bosan -he he he- karena sering bertemu dengannya dalam berbagai acara blogger. Oh ya, wanita asal Kalimantan Selatan ini bisa disebut sebagai blogger serbabisa dan aktif di berbagai komunitas lainnya. Satu hal lagi, Sumarti sangat militan jika berbicara mengenai drama Korea Selatan atau K-Pop!

Ok, selamat ulang tahun yang keempat KEB dan teruslah berkarya.

*       *       *
Amprokkan Blogger 2011

*       *       *
Amprokkan Blogger 2011

*       *       *
Mira dan Om Jay

*       *       *
Indah dalam acara intip buku

*       *       *
Asean Blogger

*       *       *
KEB di Kompasiana Nangkring

*       *       *
KEB di acara Tokopedia

*       *       *
Ketua KEB Sumarti

*       *       *
Sumarti lagi, lagi, dan lagi di acara produk susu

*       *       *
Beberapa anggota KEB di acara Genflix
*       *       *
Artikel terkait:
- Temu Blogger Tokopedia
- Amprokkan Blogger 2011

*       *       *

Artikel ini ditulis sejak 12 Januari lalu ketika saya tak sengaja melihat tagar  #4TahunKEB dan #KEBerkarya di twitter. Tapi berhubung harus mengubek-ubek beberapa foto jadul yang filenya ada di laptop adik saya di Bandung, maka baru update malam tadi. Oh ya, tulisan ini untuk memeriahkan HUT keempat KEB dan bukan ditujukan untuk lomba atau kompetisi terkait.

- Jakarta, 23 Januari 2015

Kamis, 21 Januari 2016

(Pissbrow) Kado Ultah yang Tertunda


Pissbrow keju dan pisang


"PUTRI, besok koko ulang tahun. Putri mau kasih kado apa?"

"Apa ya. Sepeda?"

"Lha, kan koko udah gede."

"Buku ya."

"Kan koko di kamarnya banyak buku."

"Apa ya. Kalo gitu Putri aja deh yang minta kado sama koko."

"Lha, dia terbalik ko."

"Putri mau kue. Kan koko sama cici janji kalo Putri ulang tahun mau kasih kado."

"Yeee, Putri mah ulang tahun masih lama, Juni. Sekarang koko dulu."

"Ya udah deh. Tapi koko ntar malam bawa kue ya."

Demikian percakapan kedua adik saya menjelang saya berangkat kerja pada sore awal Januari. Kebetulan, saat itu, adik saya yang paling kecil baru bangun tidur siang. Jadi, adik saya yang nomor dua, Novi, mengajaknya bercanda. Tapi, ujung-ujungnya saya yang malah ditodong mereka untuk membeli kue.

Singkatnya, ketika di kantor seusai berkeliling sejenak, saya coba-coba cari kue yang menarik di internet. Tapi, hingga beberapa saat belum bertemu. Nah, kebetulan, di tab browser satunya lagi, saya sedang buka facebook.

Saat itu, di beranda ada rekan blogger, Lintang Cavaleria Rusticana, yang mengunggah foto makanan. Ketika saya klik lebih jelas, ternyata itu semaca brownis. Saking penasaran, saya coba cari-cari info. Siapa tahu menarik dan bisa langsung beli. Tapi, berhubung saya ada keperluan ke luar, jadi tidak sempat buka komputer lagi.

Malam harinya saat tiba di rumah, baru saya cek laman profil Lintang untuk cari informasi. Setelah melihat beberapa komentar mengenai kue tersebut, tanpa pake lama saya hubungi sang penjualnya yang ternyata memang rekan blogger juga, Dina Sulistyaningtyas, melalui whatsapp (WA) dan facebook.

Kebetulan, saya memang mengenalnya karena pernah bertemu waktu awal-awal gabung di Kompasiana. Sekitar lima tahun silam saat kopi darat (kopdar) dengan rekan blogger juga yang baru tiba dari Suriah, Tyas, di Plaza Ekalokasari, Bogor.

Tapi, tunggu tinggal tunggu, tidak ada jawaban hingga pukul 04.00 WIB. Alhasil, saya lanjutkan tidur. Eh giliran pagi harinya (08.00 WIB), Dina jawab yang ternyata sudah dikantor. Katanya, sekitar pukul 05.00 WIB pesanan saya sudah siap dan beliau menghubungi saya ga diangkat. Ya iyalah, wong saya baru tidur he he he.

Selanjutnya, melalui WA, saya pesan empat pcs. Namun, menurutnya saya harus menunggu hingga Senin karena Sabtu beliau libur. "Wow... Lama bener," demikian celetuk saya dalam hati. Maklum, saya sudah janji kepada adik saya kalo brownis-nya sudah siap sore atau paling lambat Sabtu buat surprise. Eh ini malah harus nunggu Senin.

Tapi ya sudahlah. Karena saking penasaran dengan brownis yang diberi label "Pissbrow" itu, saya pun mengiyakan. Saat itu, saya pesan dua jenis. brownis pisang Cream Cheese dan Keju.

Esok harinya, Novi yang melihat foto-foto brownis di instagramnya, minta nambah dua pcs lagi. Oke, saya teruskan ke Dina. Tapiiiii, lagi-lagi, katanya yang ready baru empat. Itu berarti, kalau kami pesan harus dibuat lagi dan harus nunggu hingga Selasa. Nah lho!

Singkatnya pas hari H, sejak pagi, saya sudah tunggu pesanan tersebut. Siang harinya menjelang saya berangkat kerja, baru datang abang ojek online. Eh, kata si abangnya, alamat rumah saya ga jelas dan beliau menunggu di luar jalan sekitar 500 meter dari tempat saya! Kampret bener dah :)

Padahal, jelek-jelek rumah saya masih di pinggiran dekat pusat ibu kota, tepatnya di kawasan barat. Ketika saya cerita ke Dina, malah ditambahin bumbu. Menurutnya, rumahnya di Bogor lebih-lebih Jakarta Coret. Aiiiih, apa hubungannya coba.

Karena saya mau berangkat kerja, alhasil brownisnya saya titip ke adik. Sore harinya ketika sedang asyiknya motret-motret di gelanggang olahraga, adik saya kirim WA. Katanya brownisnya enak. Empat pcs yang saya bagi sudah ludes. Tinggal dua pcs lagi (Pisang dan Keju) milik saya ditaruh di lemari es.

Dalam hati saya cuma menggumam, "Ebuset, gue yang udah nunggu dari Kamis malah belom nyicipin. Ini, Novi sama Putri malah udah abis empat."

Besoknya ketika sudah di kantor, langsung saya buka brownisnya. Sempat menghitung kancing untuk memilih satu di antara dua. Pisang atau Keju. Hati saya pilih pisang, tapi logika berkata keju. Dan... Ternyata, cowo itu ga didominasi logika, adakalanya dalam beberapa hal harus milih kata hati.

Apalagi, kata Dina, Pissbrow-nya itu unik karena pisang sama cream cheese. Ya, ternyata pilihan saya tepat. Pisang dulu, kejunya baru dimakan beberapa hari kemudian karena masa kadaluarsanya masih lama.


*       *       *

BAGAIMANA dengan rasanya? Oh ya, soal selera ini tentu subyektif. Alias, setiap orang tentu punya penilaian sendiri. Namun, saya, Novi, dan Putri, kompak untuk satu suara: Pissbrow-nya SANGAT ENAK! (*maaf, capslock jebol).

Rasanya, gurih dan legit. Saya pribadi cenderung menyukai yang pisang dibanding keju. Maklum, untuk keju, saya sering makan brownis dari merek lainnya. Sementara, yang pisang ini bisa dibilang jarang. Jadi, sesuatu banget.

Lalu, bagaimana dengan harganya? Untuk satu porsi, menurut saya relatif. Tidak murah dan juga tidak mahal. Yang pasti, harganya kompetitif.

Berapa satu pcs-nya? Kalau penasaran, bisa dicek sendiri di bawah ini:

Blog: Wawfood.wordpress.com
Twitter: Wawfood_id
Facebook: Wawfood and Friends
Instagram: Wawfood_id

Oh ya, setelah interview -udah kayak kerja- dengan Dina, ternyata bisnis ini milik suaminya yang diberi nama Wawfood. Jadi, beliau hanya memasarkan saja -bahasa di bio twitter-nya sebagai tim sukses- Wawfood.

Sayangnya, postingan di blog-nya kurang update. Saya cek, terakhir posting 11 Desember 2014 yang kalo kata blogger itu blog udah lumutan ga di-update. Padahal, Wawfood ini tidak hanya menjual brownis saja. Melainkan juga aneka kue dan cemilan lain. Salah satunya, stik keju yang kemasannya bikin penasaran.

Meski begitu, Dina mengakui, UKM miliknya tetap update di media sosial. Yaitu, dengan share melalui facebook, twitter, dan instagram yang sukses mendapat banyak pelanggan. Ya, salut deh dengan idenya mereka berdua yang kreatif.

*       *       *
Cemilan asyik di kantor

*       *       *
Cokelatnya ga tahan

*       *       *
Pissbrow keju sebagai teman begadang di rumah

*       *       *
Artikel terkait:
*       *       *
- Jakarta, 21 Januari 2016

Selasa, 19 Januari 2016

Menikmati Segarnya Air di Curug Nangka yang Memesona



Curug Kawung di kawasan Curug Nangka, Bogor, Jawa Barat


"MENCARI sampai sepatu pecah, ketika ditemukan begitu saja." Demikian, adagium lawas yang masih saya ingat. Yaitu, mengenai pencarian seseorang hingga keliling dunia, setelah sekian lama ternyata jodohnya di depan rumah. Intinya hanya soal pencarian, kalimat terakhir itu hanya narasi tambahan dari saya :)

Ok, kali ini saya serius (tumben!). Saya sudah kenal Curug -bahasa Sunda yang artinya air terjun- Nangka sejak puluhan tahun silam. Tapi, sejauh itu, saya belum pernah mengunjunginya. Padahal, dalam periode seperempat abad lebih hidup saya sudah menjelajah beberapa air terjun. Termasuk, dua yang fenomenal di Sumatera Barat: Timbulun dan Bayang Sani.

Pun begitu saat Idul Fitri lalu. Kebetulan, saya sempat bersilaturahmi ke rumah teman di kawasan Bogor. Ketika itu, saya nyaris ke Curug Nangka. Hanya, terkendala waktu akibat saya tiba di rumah teman saya sudah menjelang senja. Menurut mereka, tidak baik ke curug saat maghrib. Pamali, ceuk urang Sunda, mah!

Setelah sekian lama terlupakan... (Namun untuk si dia tidak pernah lupa), akhirnya impian saya untuk mengunjungi Curug Nangka terwujud. Itu setelah saya mendapat ajakan dari rekan di kantor yang kebetulan memiliki vila yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Alhasil, tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan.

Maka, seusai deadline, Sabtu (16/1) sekitar pukul 01.00 WIB, kami yang terdiri dari berbagai divisi di Harian TopSkor, mulai dari reporter, redaktur, grafis, hingga umum, berangkat dengan menggunakan beberapa sepeda motor. Eitsss, bukan ke Curug Nangka, melainkan ke vilanya yang baru sampai setelah Adzan Subuh.

Setelah tidur-tidur ayam sejenak, kami pun bangun untuk mandi dan berangkat ke curug dengan menyusuri jalan setapak sambil melewati aktivitas warga setempat di sungai. Ada yang mandi, nyuci piring, nyuci pakaian, hingga nyuci sepeda motor. Ternyata benar kata pepatah, wanita cantik itu ada tiga: Pasangan kita sendiri, wanita yang baru bangun tidur, dan wanita ketika sedang nyuci pakaian!

*          *         *
AWALNYA, saya kira Curug Nangka itu hanya satu air terjun. Ternyata salah, lantaran terbagi tiga dengan nama Curug Nangka, Curuk Daun, dan Curug Kawung. Menurut perhitungan GPS yang dibawa rekan saya, dari pintu gerbang ke Curug Kawung yang terjauh jaraknya sekitar 1,7 km!

Lumayan jauh ternyata karena medannya tidak datar. Alias, harus mendaki dan melewati beberapa batu serta tebing yang curam dengan jurang di sisinya. Tapi, saya salut, karena banyak banyak pengunjung yang membawa anak kecil.

Jujur saja, saya pribadi agak kelelahan jalan dari pintu gerbang ke Curug Kawung. Tapi, rasa capek itu sirna ketika melihat banyak anak kecil, bahkan balita, tampak riang berlari-lari di sekitar Curug Kawung.

Ketika saya tanyakan kepada salah satu orangtuanya, ternyata mereka memang keluarga pencinta alam. Jadi, mereka mendidik anaknya sejak kecil untuk bisa beradaptasi dengan alam. Ya, salut saya dengan penjelasan pria yang menjabat sebagai instruktur di suatu penerbangan ini.

Setelah istirahat sejenak sambil ngemil gorengan yang dijual di sekitar Curug Kawung. Oh ya, ini juga saya agak heran. Sebab, penjualnya merupakan seorang nenek yang saya prediksi usianya sekitar di atas 60-an tahun.

Padahal, kami saja yang rata-rata usianya 20-an tahun agak lelah mendaki dari pintu masuk ke Curug Kawung. Tapi, beliau yang sudah renta malah setiap hari menjajakan dagangannya melalui baskom. Oh ya, harga gorengannya sangat murah, rata-rata Rp 1.000.

Ada tahu, tempe, bala-bala (bakwan), dan juga lontong isi. Lumayan untuk menangsel perut yang keroncongan. Kebetulan, di antara kami tidak ada yang membawa makanan. Di tas, isinya hanya ponsel, power bank, kamera SLR, dan GPS yang digunakan untuk mengukur ketinggian.

*          *         *

SETELAH ngemil-ngemil ganteng -karena ngopi-ngopi cantik sudah mainstream-, kami pun langsung menceburkan diri di Curug Kawung. Sumpah, dinginnya air di lemari es (kulkas), kalah dingin dibanding saat saya berada tepat di pancuran air terjun. Tapi, tetap lebih dingin si dia jika sedang ngambek.

Menurut perhitungan kasar yang kami lakukan, jarak dari kolam ke puncak Curug Kawung sekitar 27 meter lebih. Oh ya, menurut salah satu rekan, berada tepat di bawah pancuran di air terjun itu sangat baik untuk kesehatan. Konon, untuk menetralisir racun di tubuh atau meredakan sakit kepala. Tapi, ini konon ya, saya belum verifikasi. Nah, jika Anda sedang galau dengan pasangan, berada di bawah pancuran Curug Kawung sangat tepat sebagai obat yang mujarab.

Setelah berbasah-basahan ria dan menikmati segarnya air yang gemericik bak turun dari langit, kami pun berkemas. Pulang? Tidak... "Perjalanan kita masih panjang, bung!" demikian celetuk rekan. Sebab, rencananya kami ingin menjelajah di tiga air terjun tersebut. Curug Kawung sudah dan kini giliran Curug Daun.

Nah, benar kata orang dulu, perjalanan pulang selalu lebih cepat dibanding pergi. "Ya iyalah, kan pulang tinggal turun dibanding saat pergi yang mendaki!" rekan lainnya menimpali.

Di sepanjang jalan yang terdapat beberapa kolam alami, saya melihat beberapa anak muda sedang selfie dan wefie. Ya, ya, ya. Tidak di kebun bunga Amaryilis, Kebun Raya Baturaden, hingga Insiden di Jalan Thamrin, selfie dan wefie memang sedang mewabah. Namun, kali ini apa yang mereka lakukan memang positif. Lantaran di tempat yang sudah disediakan, yaitu kawasan wisata.

Apalagi, pemandangan di kawasan Curug Nangka sangat memesona. Tahu arti memesona? Oh ya, sekadar info, bagi saya, definisi memesona -bukan mempesona karena peluluhan fonem- itu lebih dari indah. Sama jika saya menyebut kata anggun itu -sebagai pria- berarti jauh di atas cantik, seksi, dan manis.

Singkatnya, kami tiba di Curug Daun yang berjarak sekitar 350 meter -menurut GPS- dari Curug Kawung. Sejatinya sih, lansekap di sini tidak kalah indah dengan Curug Kawung. Hanya, pancurannya jauh lebih pendek, sekitar lima meter. Ya, mungkin ini versi mini.

Tapi, ketika saya iseng memotret melalui kamera ponsel, pemandangannya luar biasa. Apalagi, tepat di atasnya ada payung yang dipasang pedagang. Ini mengingatkan saya pada salah satu kawasan -lupa- di Sungai Chao Phraya. Namun, Curug Daun ini sedikit lebih indah dibanding aliran di Thailand tersebut.

Oh ya, kolam di bawahnya ini ternyata cetek dengan kedalaman satu meter. Alhasil, kami pun bergantian untuk nyemplung. Sayang, karena saya agak fobia berenang -dulu pernah tenggelam di Lampung- jadi pose saat lompat tidak terlalu menarik. Ya, intinya sih, saya sudah pernah ke Curug Nangka, gitu aja.

Selanjutnya, kami menuju Curug Nangka. Tapi, saya tidak bisa memotretnya karena ponsel sempat terendam air yang harus dikeringkan dengan buka baterai.

Nah, yang menarik, sepanjang perjalanan pulang, kami selalu ditemani kumpulan monyet. Mereka ini liar tapi jinak. Buktinya, rekan saya yang melempar kacang rebus langsung dielus-elus kakinya. Saya tidak tahu apakah monyet itu berterima kasih atau terpesona dengan rekan tersebut yang memang sedang galau.

*          *         *
Sebelum berangkat, baca petunjuk dan peta biar tidak tersasar

*          *         *
Keluarga yang membawa anak-anaknya

*          *         *
Harus konsentrasi karena sebelahnya jurang lumayan dalam

*          *         *
Monyet di sini liar tapi jinak

*          *         *
Ada perkemahan juga

*          *         *
Salah satu pemandangan yang menyejukkan mata

*          *         *
Anak balita berendam di kolam dengan diawasi ibunya sambi diikat tali

*          *         *
Chao Phraya mah lewat sama Curug Daun...

*          *         *
Judulnya: Melompat Lebih Tinggi

*          *         *
Tingginya Curug Kawung sekitar 27 meter

*          *         *
"Yang baju merah jangan sampai lolos!"

*          *         *
Sayangnya tidak ada tempat sampah...

*          *         *
Dinginnya air di Curug Kawung masih kalah dingin dengan ***

*          *         *
Artikel Selanjutnya:
(Esai Foto) Di Balik Liburan ke Curug Nangka (I)

Artikel sebelumnya:
- Kenangan Wisata ke Kawasan Pesisir Selatan, Sumatera Barat

*          *         *
- Jakarta, 19 Januari 2016

Senin, 18 Januari 2016

Nissan, Mobil Terbaik Pilihan Keluarga Indonesia


Nissan March (sumber foto: Nissan.co.id)


KALI pertama saya mengenal produk Nissan ketika masih bekerja di areal pertambangan. Saat itu, Navara (Frontier) merupakan andalan kami untuk mengarungi segala medan. Untuk yang premium, saya sangat mengagumi eksotisnya Infiniti sebagai kendaraan mewah dari Nissan. Sementara, untuk segmentasi keluarga, Evalia, sukses menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia.

Ya, ketiga merek itu yang sejak dulu paling saya kenal dari Nissan. Namun, perusahaan yang memiliki pabrik di Purwakarta, Jawa Barat ini, tidak hanya identik dengan Navara, Infiniti, dan Evalia saja. Masih banyak keluaran Nissan yang jadi andalan bagi masyarakat di penjuru Tanah Air. Beberapa di antaranya yang saya tahu karena beredar di Indonesia dan saya kerap menggunakannya atau meliputnya terkait pekerjaan.

Kategori Komersial
- Navara

Kategori Multi Purpose Vehicle (MPV)
- Evalia
- Grand Livina
- Serena
- Elgrand

Kategori Sport Utility Vehicle (SUV)
- Juke
- X-Trail

Kategori Hatchback
- March

Kategori Premium
- Infiniti

Kategori Sedan
- Teana

Banyaknya kategori itu membuktikan Nissan sebagai mobil terbaik pilihan keluarga Indonesia. Bisa dipahami mengingat Nissan masuk ke Indonesia sudah lama. Tepatnya pada dekade 1960-an dengan merek Datsun.

Pada 2001, secara resmi PT. Nissan Motor Indonesia berdiri yang jadi bagian dari Nissan Motor Corporation Ltd.  Saat ini, mereka sudah memiliki 117 dealer yang tersebar luas di seluruh penjuru Tanah Air. Bahkan, pabriknya di Purwakarta, memproduksi dan merakit hingga 250 ribu kendaraan per tahun dengan tiga brand: Nissan, Infiniti, dan Datsun.

Selain Navara, Infiniti, dan Evalia, produk Nissan yang paling menggoda saya adalah March. Sebab, ini merupakan kendaraan yang bisa dibilang multiguna dengan kapasitas mesin 1.198 cc. Mobil yang juga memiliki nama lain, Micra, ini cocok untuk segala usia. Baik anak muda dan untuk keluarga. Itu sesuai dengan tagline-nya, yang hadir dengan desain lebih stylish, fun, dan canggih untuk melengkapi segala aktivitas sehari-hari.

Yang menarik, March ini dijadikan maskot Nissan mobil terbaik untuk menyambut Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Yaitu, dengan merilis Nissan March Rio 2016 Edition. Itu karena Nissan merupakan sponsor utama dari pesta empat tahunan olahraga yang berlangsung pada 5 hingga 21 Agustus mendatang.

Sebagai penggemar sepak bola, saya tentu tidak lupa dengan keberadaan Nissan pada papan elektronik di pinggir lapangan. Pasalnya, sejak 2014, Nissan merupakan sponsor utama Liga Champions. Yaitu, turnamen antarklub sepak bola paling elite di muka bumi yang diselenggarakan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Itu membuat Nissan kian dikenal masyarakat Indonesia yang memang menggemari olahraga si kulit bundar.



*      *      *
Nissan March Rio 2016 Edition (Sumber foto: Twitter @NissanThailand)

*      *      *
Papan Elektronik Nissan pada pertandingan Liga Champions (UEFA.com)

*      *      *
Artikel sebelumnya:
*      *      *
- Jakarta, 18 Januari 2016

Jumat, 15 Januari 2016

Nostalgia dengan Dragon Blade Bersama Celestial Movies

Dragon Blade yang dibintangi Jackie Chan (sumber foto: Celestial Movies)



ALKISAH, sekitar 2000 tahun lampau, budaya timur dan barat sudah terjadi asimilasi dalam berbagai tatanan. Itu berkat adanya jalur sutera yang jadi penghubung dalam melakukan aktivitas perdagangan. Di timur, ada Dinasti Han yang saat itu sedang membangun kejayaan.

Sementara, di barat, Imperium Romawi dalam periode puncak. Kedua kekaisaran itu menjalin hubungan yang harmonis melalui perdagangan yang melewati jalur sutera. Hingga, pada suatu masa, ada pihak ketiga -cieee, udah kayak pacaran aja- yang mencoba merusak tatanan.

Kerajaan Han yang tidak ingin perekonomian mereka tersendat akibat gangguan di jalur sutera, mengutus Jenderal Huo An (diperankan Jackie Chan) untuk melindungi wilayah barat Tiongkok. Hanya, pasukan mereka dijebak hingga nasib Huo An berbalik 180 derajat. Dari pemimpin ribuan prajurit jadi budak.

Pada saat yang sama, Jenderal Romawi, Lucius (John Cusack), berusaha meloloskan diri karena baru saja menyelamatkan salah satu pangerannya. Mereka pun bertemu dengan Huo An. Nah, kolaborasi keduanya bisa dilihat pada film berjudul Dragon Blade yang sudah tayang di bioskop di Indonesia tahun lalu.

Yang menarik, penikmat film di Tanah Air masih bisa menyaksikannya kembali di layar televisi pada Minggu, 17 Januari 2016, pukul 20.00 WIB. Yaitu, di saluran Celestial Movies yang tayang di Indovision melalui channel 20, DensTV (ch 85), K-Vision (ch 47), MatrixTV (ch 9), Play Media (ch 20), NexMedia (ch 508), Okevision (ch 19), OrangeTV (ch 19), Skynindo (ch 162), Transvision (ch 112),TopTV (ch 20), TopasTV (ch 27), dan UseeTV (ch 691).

Sekadar informasi, Dragon Blade merupakan  film Tiongkok termahal yang pernah dibuat. Menurut Hollywood Reporter, anggarannya mencapai 65 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau sekitar Rp 903 miliar.

Wajar saja mengingat film ini sangat epik dan bernuansa kolosal. Bagi saya, sinematografi Dragon Blade mampu bersanding dengan dua film fenomenal Asia sebelumnya: Hero yang dibintangi Jet Li pada 2002 dan Crouching Hidden - Tiger Dragon yang memenangkan Academy Awards 2000 untuk kategori film berbahasa asing terbaik.

Apalagi, Dragon Blade dibintangi aktor papan atas yang sangat terkenal. Di kolong langit ini, pencinta film mana yang tidak pernah menyaksikan aksi Jackie Chan? Saya nyaris melahap seluruh filmnya sejak series Police Story, Dragon Fist, Drunken Master, Who Am I, Rush Hour, Shanghai Noon, dan The Forbidden City.

Menurut saya, Dragon Blade masuk dalam kategori film Jackie Chan yang "haram" untuk dilewatkan. Selain itu, film berdurasi 127 menit ini juga menampilkan aktor terbaik lainnya. Seperti, John Cusack yang berkecimpung di Hollywood sejak jauh saya belum lahir, alias 1983 dengan Class.

Lalu, Adrien Brody yang sukses menyabet Academy Awards 2002 sebagai aktor terbaik lewat The Pianist. Dan, jangan lupakan aktor terkenal Korea Selatan, Choi Siwon, yang merupakan anggota Super Junior (Suju) yang konsernya saya saksikan di Stadion Gelora Bung Karno pada 23 Agustus 2014.

*       *       *

Oh ya, sekilas info mengenai Celestial Movies. Mungkin bagi penggemar film banyak yang sudah tahu tentang saluran televisi berbayar yang memutar film Asia, khususnya Asia Timur, selama 24 jam dengan jangkauan terluas di seluruh dunia. Tapi, tidak ada salahnya jika saya sedikit menambahkan.

Berkat Celestial Movies saya jadi sering menyaksikan berbagai film populer dari Asia Timur lainnya. Baik itu Tiongkok, Taiwan, atau Hongkong. Termasuk membuat saya bernostalgia dengan Ekin Cheng melalui series Young and Dangerous. Maklum, di antara aktor Asia Timur favorit saya, Ekin Cheng sejajar dengan Jackie Chan, Jet Li, Andy Lau, Stephen Chow, Idy Chan, dan Karen Mok.

Nah, kebetulan, dua hari setelah Dragon Blade, tepatnya Selasa (19/1), Celestial Movies juga akan menayangkan Gods of Gambler 3: Back to Shanghai, yang diperankan Stephen Chow dengan kocak tapi tetap elegan yang tidak kalah dengan seniornya, Chow Yun Fat.

Yuk, ah pantengin channel Celestial Movies di tv berlangganan kita masing-masing.

*       *       *
Adrian Brody (Celestial Movies)

*       *       *
Chow Siwon (Celestial Movies)

*       *       *
Kakek berusia 61 tahun ini benar-benar sebagai aktor watak (Celestial Movies)

*       *       *
Salah satu aksi memukau dari Jackie Chan (Celestial Movies)

*       *       *
SEKILAS info untuk film ini yang sudah tayang perdana di CELESTIAL MOVIES pada 17 Januari lalu. Bagi Anda yang ketinggalan, bisa menyaksikannya kembali pada tayangan ulang dalam lima waktu mendatang:

22 Januari pukul 21.45 WIB
31 Januari pukul 12.20 WIB
8 Februari pukul 17.50 WIB
10 Februari pukul 12.00 WIB
23 Februari pukul 05.30 WIB

*       *       *
- Bogor, 15 Januari 2015

Kamis, 14 Januari 2016

Mengintip Keindahan Tersembunyi Kota Toyama



BAGI saya, Jepang itu identik dengan tiga hal: Doraemon, Bunga Sakura, dan Hidetoshi Nakata. Ya, ketiganya itu bisa disebut mengenalkan saya pada Jepang.

Doraemon? Siapa sih yang tidak kenal dengan komik lucu ini? Di lemari saya, berderet judul dari komik buatan Fujiko F. Fujio ini.

Bunga Sakura? Duh, dulu saya kerap memimpikan bisa menggelar tikar ditemani teh dan makanan ringan sambil memandangi bunga sakura.

Hidetoshi Nakata? Saya mengenalnya sejak SMP. Tepatnya setelah Nakata memperkuat Perugia yang berlanjut sukses dengan beberapa klub Seri A Italia lainnya pada 1998-2005.

Seiring perjalanan waktu, pengetahuan saya tentang Jepang pun mulai bertambah. Misalnya, saat remaja saya grup musik L'Arc-en-Ciel, lalu film Seven Samurai, Eksotisnya gunung Fuji, dan sebagainya.

Apalagi, kini setelah saya bekerja di media olahraga. Otomatis, pengetahuan saya tentang Jepang tidak hanya Nakata saja. Kebetulan, musim ini, terdapat dua pemain asal "Negeri Matahari Terbit" itu di Seri A. Keisuke Honda yang memperkuat AC Milan dan Yuto Nagatomo (FC Internazionale).

Selain ketiga pemain itu, ada satu lagi yang saya tidak pernah lupa. Yaitu, Atsushi Yanagisawa. Bagi penggemar sepak bola saat itu, nama tersebut tentu kurang familiar. Namun, tidak bagi kami yang besar pada dekade 2000-an ketika Seri A Italia masih jadi kompetisi paling populer di dunia.

Itu karena Yanagisawa dua kali memperkuat klub Seri A. Sampdoria pada 2003-2004 dan Messina 2004-2006. Dulu, menyaksikan dia mengecoh bek lawan  membuat saya bangga. Lantaran saat itu hanya Yanagisawa dan Nakata yang mewakili pemain asal Asia di Italia.

Berbicara Yanagisawa, saya jadi teringat dengan kota kelahirannya, Toyama. Oh ya, kota ini memang bisa dibilang kurang terkenal dibanding Tokyo, Osaka, Kobe, Yokohama, Nagoya, dan Kyoto. Namun, Toyama memiliki keunikan sendiri yang tidak kalah dibanding kota lainnya.

Itu setelah saya mencari informasi di berbagai forum wisata luar negeri. Khususnya, website resmi kota Toyama yang beralamat di city.toyama.jp. Kota ini memiliki luas 1.241 km yang berarti nyaris dua kali Jakarta. Namun, penduduknya relatif sedikit, hanya sekitar 417 ribu jiwa, yang kalau dibandingkan dengan Jakarta sangat jauh (sekitar 10 juta).

Nah, apa sih kelebihan Toyama? Menurut berbagai informasi yang saya rangkum, ternyata kota yang berjarak sekitar 300 km dari Tokyo ini identik dengan keindahan alam. Lima di antaranya yang menurut saya sangat memesona yaitu:

Sumber foto (www.pixelatedphotographer.com)


1. Kurobe Dam
Di Indonesia, dam itu bisa disebut bendungan. Sejauh ini, yang saya kenal di Jatiluhur, Jawa Barat. Untuk Kurobe dam ini merupakan tempat wisata idaman turis lokal Jepang dan manca negara. Sebab, jika kita menginjakkan kaki di bendungan ini bakal menyadari betapa kecilnya manusia dibanding alam sekitar. Lantaran dam yang diresmikan pada 1963 ini memiliki tinggi 186 meter, panjang 492 meter, dan dapat menampung sekitar 200 juta ton air! Melihat fotonya saja membuat jantung saya berdebar-debar. Apalagi, jika benar-benar mengunjunginya.

2. Toyama Castle
Bangunan yang mengingatkan saya pada kuis Benteng Takeshi (Takeshi Castle) yang populer di televisi pada era 2000-an. Toyama Castle sudah berusia lima abad lebih karena didirikan pada 1543. Bangunan ini salah satu tujuan destinasi saya jika kelak mengunjungi Jepang bersama dengan Stadion Internasional Yokohama yang menyelenggarakan final Piala Dunia 2002.

3. Pesona Gletser
Banyak negara di Asia yang kawasannya terdapat salju. Indonesia pun begitu dengan keberadaan salju abadi di puncak Jayawijaya, Papua. Bagaimana di Jepang? Tentu, sebagai negara dengan empat musim, mereka juga memilikinya. Yang menarik, ternyata tidak jauh dari kota Toyama, tepatnya masih satu perferektur, terdapat gletser. Yaitu, sekumpulan es yang mengalir sepanjang musim. Ya, menurut situs His-Travel.co.id, gletser di Toyama merupakan satu-satunya di Asia Timur selain Rusia.

4. Museum of Modern Art
Museum ini menampilkan koleksi pameran permanen dan sementara yang bakal membuat pengunjung berdecak kagum. Bangunan yang didirikan sejak Juni 1981 ini memiliki ribuan koleksi tentang sejarah dan budaya Jepang. Sebagai penggemar museum yang kerap menjelajah di empat dari lima pulau besar di Indonesia (minus Papua), tentu saya tidak akan melewati kunjungan ke tempat ini.

5. Botanic Garden
Salah satu rekan yang pernah liputan bulu tangkis ke Jepang sempat merekomendasikan Botanic Garden di Toyama. Saya sendiri kebetulan tidak begitu paham dengan tanaman. Meski begitu, mendengar cerita beliau malah penasaran. Khususnya, untuk menyaksikan sekitar 5.000 spesies tanaman Jepang dan negara Asia Timur lainnya.

Selain wisata dan keindahan alamnya, bagaimana dengan makanan khas Toyama? Untuk hal ini, terus terang saya sangat awam. Jangankan makanan khas Toyama, tentang kuliner Jepang saja saya tahunya hanya Dorayaki yang identik dengan Doraemon. Itu mengapa saya agak norak, ketika tahun lalu mendapat undangan dari rekan blogger untuk mencicipi Ramen di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Maklum, itu kali pertama saya menyantap masakan khas Jepang.

Ya, sebagai manusia, kita wajib mengejar impian. Berawal dari membaca komik Doraemon, lalu menyaksikan permainan Hidetoshi Nakata dan Atsushi Yanagisawa di layar televisi, hingga menyantap ramen asli Jepang, tidak tertutup kemungkinan saya suatu saat bisa benar-benar pergi ke Jepang yang jadi impian sejak kecil.

*          *         *
d

d


d
Facebooker's yang menyempatkan diri berfoto dengan Bapak Karo PID (Brigjen Pol. Drs. Daniel Pasaribu)
https://www.facebook.com/DivHumasPolri/photos/a.184838644878333.51797.117740101588188/1194741400554714/?type=3&permPage=1

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10205515650681631&set=a.1083906628872.2013045.1562566513&type=3&permPage=1
lucu


http://www.tribratanewspolresbanyumas.com/berita/2015/di-hari-sumpah-pemuda-kadiv-humas-gandeng-netizen-bangun-citra-polri/

http://tribratanewspolrestatasikmalaya.com/article/165033/di-hari-sumpah-pemuda-kadiv-humas-gandeng-netizen-bangun-citra-polri.html



d


Artikel Kepolisian Lainnya
Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
Profil Enam Calon Kapolri dan Plus-Minusnya
HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat untuk Bersama Mengurai Kemacetan
Pengalaman Sehari di Mabes Polri

Artikel BNN LainnyaPresiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati
Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba
Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik
BNN Tangkap Pilot dan Pramugari Lion Air yang Konsumsi Narkoba

Artikel Instansi Pemerintah Lainnya
Sosialisasi Pemilu Melalui Sepak Bola
Membongkar "Rahasia" Bea Cukai

Artikel Tokoh Lainnya
Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif


------------
http://www.kompasiana.com/roelly87/pengalaman-sehari-di-mabes-polri_552bbed46ea834027a8b45e1

http://www.kompasiana.com/roelly87/di-usia-tni-ke-66-ini-semoga-tidak-ada-lagi-paswalyur-pasukan-pengawal-sayur_550def16813311842cbc6125

http://www.kompasiana.com/roelly87/memetik-pelajaran-dari-kematian-4-tokoh-besar-di-tahun-2011_55090abd813311761cb1e34f

http://www.kompasiana.com/roelly87/taufik-hidayat-indonesia-pasti-juara-sea-games_550910d2813311991cb1e35b

http://www.kompasiana.com/roelly87/tidak-semua-polisi-berperilaku-kurang-baik_550b8fb4a333119c1e2e3db8

http://www.kompasiana.com/roelly87/polisi-menggugat_550bb640a33311d81a2e39ce

http://www.kompasiana.com/roelly87/kucing-kucingan-antara-pengendara-dan-penjaga-jalur-busway_550d79d08133116d2cb1e337

http://www.kompasiana.com/roelly87/ketika-polisi-juga-manusia-biasa-seperti-kita_550e06a4813311be2cbc6153

http://www.kompasiana.com/roelly87/balap-liar-sensasi-mengejar-gengsi-di-balik-maut_550e1bd0a33311b12dba8022

http://www.kompasiana.com/roelly87/pelajaran-berharga-pasca-kerusuhan-di-lp-kerobokan_550e3a12813311892cbc63c4

http://www.kompasiana.com/roelly87/mau-dibawa-ke-mana-aksi-nekat-suporter-kita_550e4861813311b62cbc62bf

http://www.kompasiana.com/roelly87/langkah-awal-bnn-dalam-memberantas-narkoba_550e6e31813311bb2cbc6447

http://www.kompasiana.com/roelly87/benarkah-polisi-segan-dengan-dosen-tentara-dan-wartawan_550e82d7a33311a92dba815d

http://www.kompasiana.com/roelly87/suka-duka-relawan-ranjau-paku-saber-community_550f15c9a33311ae2dba832c

http://www.kompasiana.com/roelly87/komik-the-raid-dari-warna-merah-menjadi-hitam-putih_55100e2ea333117b39ba7de3

http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenalkan-bahaya-narkoba-melalui-game-online_5512567ca33311ba56ba82f4

http://www.kompasiana.com/roelly87/pembalap-liar-yang-masuk-koran_5517ce2b81331126699de335

http://www.kompasiana.com/roelly87/menelusuri-aktivitas-relawan-saber-community_552e60f66ea834c9588b457e

http://www.kompasiana.com/roelly87/ketika-kawasan-istana-jadi-arena-balap-liar_552c62e86ea83417078b456e

http://www.kompasiana.com/roelly87/nurani-yang-tak-terbeli_552a64aaf17e61aa06d623af

http://www.kompasiana.com/roelly87/malam-jumat-balap-liar-dan-sisi-lain-jakarta_54f79628a33311b67a8b46ac

http://www.kompasiana.com/roelly87/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci_54f71562a3331100258b4893




------------------------------------------------------------
http://www.kompasiana.com/roelly87/yuk-hadiri-diskusi-bersama-bnn-bertema-2014-bebas-narkoba_54f84fb9a33311195f8b4c47

http://www.kompasiana.com/roelly87/kenapa-harus-blogger-yang-kampanye_54f8185ca333113b618b4942

http://www.kompasiana.com/roelly87/apresiasi-untuk-kejelian-paspampres_54f7fccca333112e1f8b4c53

http://www.kompasiana.com/roelly87/diskusi-blogger-dengan-kepala-bnn-yang-juga-seorang-blogger_54f79f96a33311c5198b462a

http://www.kompasiana.com/roelly87/sinergi-bnn-dan-blogger-untuk-mengatasi-darurat-narkoba_556c46195fafbd71048b4569

------------------------------------------------------------

http://www.kompasiana.com/roelly87/50-tahun-gugurnya-ade-irma-suryani-dalam-kenangan-kakak-tercinta_5614620eb99373a0048b4569

http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-basoeki-abdullah-dalam-pameran-rayuan-100-tahun-di-museum-nasional_560cb24b377b612e05b2e044

http://www.kompasiana.com/roelly87/di-bandung-jokowi-kalah-populer-dibanding-ridwan-kamil_55ac8b7e1297738d05362ed9

http://www.kompasiana.com/roelly87/jokowi-sang-gubernur-gaul_5528a1c66ea83461538b45a5

http://www.kompasiana.com/roelly87/cindy-adams-dan-misteri-dua-paragraf-otobiografi-bung-karno_54f37d2f745513942b6c7851

http://www.kompasiana.com/roelly87/dahlan-iskan-dan-gerbong-terakhir_54f403737455137e2b6c8663

http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-dahlan-iskan_54f432c9745513992b6c8941

http://www.kompasiana.com/roelly87/anomali-ahok-pahlawan-atau-pengkhianat_54f5d00ea333111b508b45fa

http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-paspampres-yang-berprestasi_54f5de54a33311251f8b47e7

http://www.kompasiana.com/roelly87/penghormatan-terakhir-presiden-sby-untuk-pahlawan_54f6720ea33311e6048b4c76

http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-ade-irma-suryani_550e0653813311b92cbc6100
------------------------------------------------------------

http://www.kompasiana.com/roelly87/semarak-hut-tni-ke-68-di-monas_552a293b6ea8343326552d1b

http://www.kompasiana.com/roelly87/pengalaman-seru-naik-panser-anoa-tni-ad_551fa2fd813311466e9de508

http://www.kompasiana.com/roelly87/sepenggal-kisah-di-museum-abdul-haris-nasution_5528cf7cf17e61030c8b4577

http://www.kompasiana.com/roelly87/3-nafas-likas-dan-sosok-di-balik-kehebatan-jenderal-djamin-ginting_54f41787745513a32b6c85df


------------------------------------------------------------

d

- Jakarta, 5 Maret 2016
- Jakarta, 14 Januari 2016