TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: (Esai Foto) Menikmati Senja di Taman Ayodia sambil Baca Buku Gratis di Perpustakaan Terapung

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Kamis, 24 Desember 2015

(Esai Foto) Menikmati Senja di Taman Ayodia sambil Baca Buku Gratis di Perpustakaan Terapung



MENIKMATI libur tidak harus mahal. Cukup dengan membawa uang Rp 3.000 sebagai biaya parkir, kita bisa mendapatkan pengalaman dan suasana baru. Itulah yang terjadi pada saya kemarin sore, Rabu (23/12). Usai menghadiri rapat tahunan Badan Narkotika Nasional (BNN) sekaligus membahas program 2016 yang akan melibatkan blogger seperti 2014 lalu, saya pun menuju Taman Ayodya.

Dalam kesempatan itu, Kepala BNN Budi Waseso bersama Antar Sianturi (Deputi Pencegahan) dan Slamet Pribadi (Kabag Humas), berencana selain kembali mengaktifkan kampanye menulis, juga siap mengajak blogger untuk mengunjungi Balai Rehabilitasi BNN di Lido, Bogor. Tujuannya, memberi informasi lebih dalam mengenai bahaya narkotika dan obat terlarang (narkoba) kepada blogger yang bisa disebar kepada anak, saudara, keluarga, kerabat, dan kenalannya.

*       *       *

Sesampainya di taman yang juga disebut Taman Barito karena berlokasi di Jalan Barito, Jakarta Selatan, saya disambut keriuhan puluhan bocah. Ada lari-lari, selfie, main ayunan, hingga memancing. Oh ya, Taman Ayodia kini sudah bersolek. Dibanding beberapa bulan lalu, sekarang taman yang diresmikan 6 Maret 2009 itu lebih tertata. Selain sarana olahraga dan permainan untuk anak kecil, juga ada perpustakaan terapung yang menyediakan puluhan koleksi buku.
*       *       *

Untuk mengakses Taman Ayodia ini bisa menggunakan kendaraan umum atau pribadi seperti saya yang memakai sepeda motor dan parkir di depannya dengan tarif flat Rp 3.000. Untuk bus, bisa naik dan turun di terminal Blok M yang berjarak sekitar 500 meter. Jika menggunakan Commuter Line ada dua pilihan, yaitu di Stasiun Palmerah dan Kebayoran Lama yang sama-sama harus naik ojek lagi.
*       *       *


Oh ya, di taman ini ternyata sudah disediakan wifi gratis dari Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta yang layak diapresiasi untuk memanjakan warganya. Dalam informasi yang terpasang di sekitar taman, pengunjung juga bisa membeli voucher dengan nominal tertentu.
*       *       *

Jika pengunjung lelah usai menikmati keindahan taman, bisa beristirahat sejenak di pendopo. Seperti yang saya foto, seorang pria asyik membaca novel. Di era sekarang, itu jadi pemandangan langka mengingat mayoritas orang lebih sibuk dengan gadget atau ponselnya masing-masing.
*       *       *

Pemandangan yang indah di sekitar taman dengan danau buatan membuat. Dalam foto, tampak latar Hotel Gran Mahakam yang memesona dengan menyandang predikat bintang lima. 
*       *       *

Dalam hidup selalu ada dua sisi. Sayangnya, kebersihan di taman ini kurang terjaga. Sepenglihatan mata saya, banyak sampah bertebaran, khususnya areal rumput.  Begitu juga dengan pohon dan bunga sudah banyak yang layu.
*       *       *

Butuh perjuangan bagi pengunjung untuk bisa ke toilet. Lantaran hanya tersedia dua toilet hingga warga harus antre. Mending untuk buang air kecil, jika ada yang buang air besar, harus siap-siap diketok pintunya dari luar. Sekadar informasi, untuk menggunakan toilet tarifnya Rp 2.000.
*       *       *

Ketika berbincang dengan beberapa ekspatriat dan warga negara asing (WNA) asal benua biru, mereka mengagumi keindahan Indonesia, khususnya pembangunan di Jakarta. Hanya, mereka tetap menggunakan kata "tapi" dalam obrolan tersebut dengan menyebut bangsa kita piawai membangun, tapi kurang pandai melestarikannya. Contohnya, tempat sampah ini. Ya, selain peran pemkot DKI, pengunjung juga wajib menjaga kebersihan. Sayang banget, taman yang menelan anggaran hingga Rp 2,1 miliar ini harus terbengkalai...
*       *       *

Untuk papan informasi sudah jauh lebih baik karena tersebar di berbagai titik. Hanya, fakta di lapangan kurang berjalan dengan baik. Sekadar saran, larangan merusak tanaman menurut saya agak rancu. Sebab, itu seperti melarang orang yang memberi bunga untuk pasangannya.

Pengalaman saya, Taman Ayodia ini salah satu tempat yang kerap dijadikan lokasi untuk "penembakan" dengan setangkai bunga mawar. Terutama dari anak baru gede (ABG) yang bisa membeli mawar dari toko bunga di seberang taman.
*       *       *

Untuk menikmati taman baca ini, pengunjung harus bergantian. Karena maksimal perpustakaan terapung ini hanya mampu mengangkut beban 10 orang dewasa. Kebetulan saya datang sore hari, jadi tidak begitu ramai seperti pagi hingga siang.
*       *       *

Yang menarik, taman baca ini juga menyediakan puluhan buku, baik fiksi dan non fiksi. Ada beberapa novel populer yang bisa dinikmati secara gratis. Dengan syarat, setelah baca, pengunjung harus mengembalikannya di tempat semula.
*       *       *

Untuk kategori non fiksi, tersedia majalah, koran, komik, dan buku anak. Sayangnya, saat itu tidak ada petugas yang jaga. Beruntung, saya mendapat informasi dari salah satu pengamen bernama Angga yang -katanya- dipercaya untuk menerima sumbangan buku. Menurutnya, jika ada pengunjung yang ingin menyumbang buku, bisa langsung menghubunginya di nomor 087776**4634 dan pin BB 582525**.
*       *       *

Banyak pilihan untuk menikmati buku gratis. Bisa dibaca di tempatnya yang mirip perahu terapung, pendopo, atau di sekitar taman yang sudah disediakan bangku. 
*       *       *

Menurut informasi, Taman Baca Apung atau Perpustakaan Terapung ini dibangun Pemkot DKI bekerja sama dengan Ikata Arsitek Indonesia (AIA), Suar Artspace, Holcim, Kelas Pagi Jakarta, dan Airmas Asri.

*       *       *


Awalnya, saya pikir dari kejauhan itu sampah plastik. Ternyata, ada ikan-ikan kecil yang sedap dipandang. 
*       *       *

Beberapa drum digunakan sebagai penahan agar taman baca ini tetap terapung. Suatu ide yang menarik. Semoga, Pemkot DKI dan beberapa pihak terkait lainnya membuat taman baca ini di berbagai lokasi di Jakarta.
*       *       *

Sekilas, saya melihat taman baca apung ini seperti perahu. Dua jempol untuk ide dan penerapannya. Semoga mampu dirawat dengan baik oleh yang pihak yang bersangkutan dan juga pengunjung agar tidak terbengkalai.
*       *       *

Sepasang remaja di pintu masuk taman baca apung ini mengingatkan saya pada adegan foto fenomenal Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet di dek kapal Titanic...
*       *       *

"Ayah, aku mau naik."
"Jangan nak, nanti terpeleset bisa jatuh."

Tepat di depan perpustakaan terapung terdapat tempat duduk sekaligus sarana bermain untuk anak.
*       *       *

Berbagai komunitas dari segala kalangan pun sangat menikmati bersantai di Taman Ayodia.
*       *       *

Deretan bangku di bibir taman ini kerap digunakan untuk berbagai acara baik komunitas atau menggandeng pihak sponsor. Termasuk beberapa waktu lalu dengan nonton bareng (nobar).
*       *       *

Perpustakaan Terapung di Taman Ayodia terlihat eksotis di malam hari.
*       *       *
*       *       *
Seluruh foto diambil melalui kamera ponsel
- Jakarta, 24 Desember 2015

16 komentar:

  1. Iya setuju indonesia pandai membangun tak pandai merawat. Gemes deh sm masyarakat yg begini. Ga punya sens of belonging gituj. Kalo dibilangin, galakan dia hhhmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mbak, miris kan...
      kalo saya sih sangat mengapresiasi apa yang dilakukan pemkot dki bersama sponsor dengan membangun taman baca ini.

      semoga ke depannya bisa buat lebih banyak di berbagai lokasi di jakarta :)

      Hapus
  2. Hmmm... bagus tetapi yaa gitu harusnya lebih diperhatikan dan dirawat bersama-sama dengan masyarakat sekitar

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mbak, harus ada kepedulian dari masyarakat luas, khususnya pengunjung yang datang

      kalo ga, khawatirnya dalam beberapa tahun ke depan, perpustakaan apung itu tinggal kenangan...

      Hapus
  3. semoga wisata taman dapat merata ke seluruh penjuru jakarta.. di jakarta utara sekitaran kelapa gading ada juga taman... tapii tidak besar dan ramai digunakan hari libur untuk berolahraga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo di daerah sana saya belom pernah coba mas
      paling di jakarta utara waktu itu di waduk pluit, sekarang udah lebih rapi :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. yuk mbak, kalo sempat berkunjung ke sana
      *jangan lupa bawa kamera buat foto2 :)

      Hapus
  5. Jakarta terus bebenah ya, bagus nantinya kalau jadi hijau dan banyak taman sebagai hiburan warganya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, di antara puluhan taman, beberapa di antaranya udah pernah saya datengin:

      http://www.roelly87.com/2015/04/tujuh-taman-gratis-di-jakarta-yang.html

      Hapus
  6. sayang banget airnya kurang jernih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, agak butek
      mungkin karena sedimentasinya berlumpur
      tapi, pemandangannya keren banget :)

      Hapus
  7. Kalau malem bnyak yg pacaran deh pasti

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya :)

      sore juga banyak mas, terutama abege

      Hapus
  8. baru tau saya mas, boleh juga kapan kapan mampir untuk baca baca sekaligus mencoba wifi gratis nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk mas, silakan
      jangan lupa, bawa recehan buat parkir sama toilet :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)