TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Esai Foto

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Esai Foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai Foto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2016

(Esai Foto) Petualangan Akhir Tahun Bersama Astra


Kumpul bersama di Saung Sarongge

2016 ini bisa dibilang sebagai tahun penuh petualangan bagi saya. Itu karena saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Tanah Air sambil mengeksplorasi keindahan alam, kebudayaan, dan lingkungan sekitarnya.

Diawali dengan bertualang di Curug Nangka, Bogor, yang dilanjutkan ke Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Selatan), Water World (Tangerang), Citarik (Sukabumi), Pengalengan (Bandung), Candi Prambanan (Yogyakarta), Maja (Banten), Tanjung Pakis (Karawang), Nusa Dua (Bali), Bromo (Jawa Timur), Batu Kasur (Cianjur), dan beberapa kawasan lainnya. Itu belum termasuk di ibu kota saja dengan menjelajah enam kotamadya, termasuk Kepulauan Seribu.

Berbagai kunjungan ke tempat wisata itu menambah perbendaharaan pengalaman destinasi saya sejak menggeluti dunia blog pada 2009 silam. Termasuk, Batu Kasur yang jadi petualangan penutup tahun ini.

*        *        *
Sarongge Valley di Cianjur, Jawa Barat

SIANG itu, matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya. Ya, seusai menanam pohon di Bukit Kasur, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (22/12), saya dan 100 peserta dalam rombongan PT Astra International Tbk yang terdiri Public Relation Grup Astra, media, dan blogger, melanjutkannya di kampung Sarongge.

*        *        *
Sensasi naik bak terbuka menuju Saung Sarongge
TUJUAN kami selanjutnya ke Saung Sarongge untuk mengikuti diskusi dan games! Games? Yupz, permainan yang mengasah keterampilan, khususnya dalam bekerja sama antarkelompok. Bagaimana keseruannya, bisa dilihat pada cerita di bawah ini.

*        *        *
Saya bersama Elvani dari Astra dan Hazmi founder BRId (Foto: @Metreg)
DARI Sarongge Valley menuju Saung Sarongge yang merupakan tempat wisata edukasi untuk mengenal lebih dekat dengan lingkungan. Saat itu, kami menumpang pick-up alias bak terbuka sambil menikmati pemandangan alam sekitarnya. Om Telolet Om!



*        *        *
Sekeliling mata memandang tampak hijau memesona
KETIKA pertama kali menginjakkan kaki di Saung Sarongge, saya disambut dengan panorama alam yang sangat memesona. Maklum, lokasinya dikelilingi pegunungan dengan hawa yang sejuk. Apalagi, Saung Sarongge ini lokasinya tepat di kaki Gunung Gede Pangrango.

*        *        *
Libur akhir tahun bersama Astra di Saung Sarongge, Cianjur

SEBELUM Batu Kasur, Astra lebih dulu menanam pohon di kampung Sarongge pada beberapa tahun silam. Itu sebagai bentuk komitmen dari salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air ini. Sekaligus, menerapkan filosofi Catur Dharma dengan butir pertama, "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara". Total, Astra sudah 5.700 pohon di kawasan Cianjur dengan yang teranyar di Batu Kasur sebanyak 1.200 pohon.

*        *        *
Sayur mayur yang segar jadi oleh-oleh istimewa kami
PETANI yang merupakan penduduk setempat, Tim SAR, dan perwakilan Astra, asyik berkumpul di suatu saung. Jemari mereka terampil memasukkan berbagai sayur mayur yang baru dipetik dari ladang untuk dikumpulkan ke berbagai keranjang yang akan dibawa pulang kami sebagai oleh-oleh. Esok siangnya, Jumat (23/12), brokoli dan sayur-mayur itu jadi bintang utama di meja makan di rumah saya.

*        *        *
Aktivitas warga setempat di Saung Sarongge
ADOPSI 1.200 pohon di Batu Kasur dan berbagai acara di Saung Sarongge merupakan bagian dari rangkaian Astra menyambut HUT ke-60 pada 20 Februari mendatang. Yupz, perusahaan yang bermarkas di Sunter, Jakarta Utara, ini didirikan 12 tahun setelah Indonesia merdeka. Sejak saat itu, Astra jadi bagian dari roda ekonomi negeri ini melalui tujuh pilar bisnisnya dengan yang teranyar pada sektor properti.
*        *        *
Regina yang memandu diskusi dan games selama acara berlangsung
ACARA di Saung Sarongge dipandu Regina Panontongan selaku Public Relations Division, Corporate Communications Astra. Wanita yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik ini juga jadi pemandu kami sepanjang perjalanan. Mulai dari berangkat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, hingga kembali. Bahkan, berlanjut jadi moderator esok harinya saat diskusi Astra bersama blogger di Midtown Cafe, Jakarta Selatan, Jumat (23/12).


*        *        *
Ucapan selamat kepada dua rekan jurnalis yang hari itu berulang tahun
HARI itu ada yang spesial bagi dua wartawan senior yang mengikuti rangkaian acara bersama Astra. Itu karena mereka merayakan hari jadinya yang bertepatan dengan acara ini. Alhasil, Astra pun memberi kado tak terlupakan kepada keduanya.

*        *        *
Maharani berbagi kisah inspiratif tentang pohon gaharu
MAHARANI yang menerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 berbagi cerita inspiratifnya. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sukses memberdayakan penduduk di tempatnya untuk menanam pohon gaharu. Meski harus "berdarah-darah" terlebih dulu karena kerap ditolak, akhirnya Maharani berhasil meyakinkan mereka. Kini, penduduk di wilayahnya tinggal memetik hasil dari harga jual pohon gaharu yang mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Kisah serupa terjadi pada Ridwan Nojeng (penerima SATU Awards 2016) yang mengakui kepada saya sampat dianggap kurang waras oleh masyarakat di Jeneponto, Sulawesi Selatan, sebelum akhirnya menyulap wilayahnya jadi destinasi andalan.

*        *        *
Yulian bercerita tentang komitmen Astra terhadap lingkungan
YULIAN Warman selaku Head of Public Relations Astra, bercerita alasan perusahaannya terjun langsung dalam kepedulian lingkungan. Pria yang sekilas mirip kapten timnas Indonesia, Bima Sakti itu mengatakan Grup Astra sejak 2008 telah menanam 3.616.084 pohon di berbagai wilayah di nusantara. Menurut Yulian, kegiatan itu jadi bagian dari salah satu pilar kegiatan corporate social responsibility (CSR) Astra yang terdiri dari Pendidikan, Usaha Kecil & Menengah (UKM), Lingkungan, dan Kesehatan. Yupz, selain tujuh pilar bisnis dan empat pilar CSR, Astra juga memiliki sembilan yayasan yang konsisten dalam berkontribusi kepada masyarakat. 

*        *        *
Sesi Games dimulai dengan enam kelompok
SESI selanjutnya dengan games. Yupz, permainan ini dilakukan berkelompok. Kalau tidak salah, ada enam kelompok yang terbagi berdasarkan solmisasi tangga nada. Saya tergabung di kelompok "La" yang beranggotakan delapan orang.

*        *        *
Kami dari kelompok "La"  saling melontarkan ide sebelum games dimulai

TERDAPAT
10 peralatan yang dibagikan panitia dengan tujuh di antaranya kami pakai dalam permainan. Yaitu, tali rafia, sumpit, korek api kayu, sedotan, lakban, tusuk gigi, koran, selembar kertas, karet gelang, dan garpu. Tiga benda terakhir tidak kami pakai dan harus dikumpulkan ke panitia.

*        *        *
"Tahan nafas biar perutnya rata. Senyum manis ya." Cekrek! (Foto: @ Istimewa)
PADA era sekarang, belum lengkap jika tidak foto bersama menjelang suatu acara. Termasuk, beberapa menit jelang permainan dimulai, kami dari kelompok "La" berpose manis di depan kamera. Dalam beberapa tahun mendatang, foto ini jadi saksi kisah istimewa yang akan diceritakan kepada anak dan cucu, kelak.

*        *        *
Kerja sama tim untuk satu tujuan
ADA empat tantangan dalam permainan ini. Yaitu, meledakkan dua balon, mengambil permen di piring kertas, memasukkan bola tenis meja ke gelas plastik, dan menyalakan lilin dengan media sedotan. Syaratnya, seluruh peserta tidak boleh melewati lingkaran yang sudah digariskan panitia.

*        *        *
Ayo, ayo, ayo... Kamu bisa!
KELOMPOK kami jadi yang pertama saat meledakkan balon. Idenya, simpel berdasarkan peralatan yang diberikan panitia. Yaitu, dengan menggunakan koran yang sudah dinyalakan korek untuk disundutkan ke balon. Dan, meledak. Yes, Mission Accomplished! Demikian teriak kami serempak dengan semringah ketika menyelesaikan misi pertama dengan sempurna.

*        *        *
Bahu-membahu demi menarik permen agar tidak jatuh ke tanah
DENGAN semangat kebersamaan, kelompok kami berhasil menyelesaikan tiga dari empat tantangan. Hanya, ketika sedang berusaha menyalakan lilin, waktu yang diberikan panitia sudah selesai. Namun, di antara empat tantangan tersebut, harus diakui rintangan yang ketiga paling sulit. Maklum, kami harus mencurahkan segenap ide, pikiran, dan tenaga, untuk memasukkan bola ke dalam gelas plastik. Termasuk, dengan mengangkat rekan kami  agar tidak menyentuh tanah seperti Superman.

*        *        *
Ekspresi kegembiraan Hazmi saat menerima hadiah dari Yulian

SETELAH
permainan selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah untuk rekan jurnalis yang konsisten mengikuti acara Astra ini sejak edisi pertama dan doorprize. Rekan blogger, Hazmi Srondol yang merupakan pendiri komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRId), mendapat kejutan menyenangkan.

*        *        *
Sore itu...

TIADA pesta yang tak berakhir. Memasuki lewat pukul 16.00 WIB, langit di atas Saung Sarongge kian gelap. Pertanda sang dewi hujan akan menunaikan tugasnya yang bertepatan dengan sore hari. Itu berarti, kami harus segera kembali untuk menuju ke rumah masing-masing. Ya, tiada pesta yang tak berakhir. Ada pertemuan tentu ada perpisahan. Tapi, selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi. Yupz, mungkin saat Astra mengadakan acara serupa pada 2017 mendatang.

*        *        *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:


Esai Foto Sebelumnya:
*        *        *
- Jakarta, 28 Desember 2016

Senin, 07 Maret 2016

(Esai Foto) Kopdar CNI Perdana Bersama Fun Blogging




SIANG itu, jalanan ibu kota tampak lenggang. Saya pun membelah jalur sepanjang Gatot Subroto-Rasuna Said, dengan lancar menuju kawasan Plaza Festival, Jakarta Selatan, Minggu (5/3). Sesampainya di resto Burger King, sudah ramai dipenuhi puluhan rekan blogger. Ya, saat itu, ada acara yang diselenggarakan komunitas Fun Blogging bekerja sama dengan Gerai CNI. Seusai mengisi absensi, saya langsung mencari bangku kosong yang bersebelahan dengan mentor blogger sejak 2011, Dian Kelana.

*        *        *

Acara bertema Digital Marketing Sharing ini dibuka dengan sambutan dari perwakilan Gerai CNI, Gustia Lendra. Selanjutnya, sosok yang murah senyum ini mengumumkan pemenang live tweet yang diraih Kornelius Ginting. Blogger yang memiliki blog di alamat korneliusginting.web.id ini memang sangat update. Itu bisa dilihat dari berbagai artikel dan juga interaktifnya di media sosial.

*        *        *


Event bertajuk #KopdarCNI ini menampilkan dua pembicara. Pertama, Niko Riansyah yang mengelola sosial media dan advertising Gerai CNI. Selanjutnya,perwakilan pengurus Fun Blogging, Ani Berta, yang merupakan salah satu blogger anutan saya di dunia blog.

*        *        *


Sesi selanjutnya pemaparan dari Niko. Kebetulan, saya tidak asing lagi dengan pria yang mengelola sosial media, komunitas, dan advertising Gerai CNI ini. Sebab, tahun lalu pernah mendapat ilmu darinya mengenai program afiliasi untuk blogger.

Dalam kesempatan itu, Niko, berbagi informasi mengenai digital marketing. Salah satunya yang menurut saya sangat menarik ketika pemilik akun twitter @nikoriansyah ini menjelaskan tentang peran facebook dan google dalam memasarkan produk. Menurut Niko, kedua layanan internet itu jadi salah satu sumber utama www.GeraiCNI.com.

Sekadar informasi, Gerai CNI merupakan perusahaan yang menyediakan berbagai produk via online. Mulai dari makanan dan minuman kesehatan, obat herbal, kecantikan, busana, tas, hingga peralatan rumah tangga. Sebagai penggemar kopi, saya beruntung pernah memesan salah satu produk dari Gerai CNI, yaitu kopi ginseng.

*        *        *


Berikutnya, sesi tanya jawab. Kebetulan, salah satunya diajukan Putri Kartika Mentari yang duduk satu meja dengan saya bersama Sari Novita dan Riri Restiani. Wanita yang merayakan ulang tahun berbarengan dengan HUT Indonesia itu, sangat antusias menyimak rangkaian acara. Tidak hanya bertanya saja, bahkan Putri turut men-share informasi melalui twitter-nya.

Menjelang sesi pamungkas dari Ani, saya melirik telepon seluler (ponsel) yang bergetar berkali-kali. Ternyata, saat itu sudah ada beberapa notifikasi dari grup whatsapp. Pertanda, saya harus kembali ke kantor, mengingat jam di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Alias, saya punya waktu setengah jam untuk membelah lagi jalur Rasuna Said-Gatot Subroto.  Sebelumnya, memang saya sudah konfirmasi terlebih dulu, jika hanya bisa mengikuti #KopdarCNI setengah acara.

Dari atas kawasan Kuningan, tampak Matahari bersinar cerah. Seperti cerahnya ilmu yang didapat saya usai menghadiri #KopdarCNI meski tidak sampai selesai.

*        *        *



Tiba di kantor, saya langsung membereskan laptop, charger ponsel, power bank, dan berbagai peralatan kerja. Ternyata, kendaraan yang akan saya tumpangi masih mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Kebayoran. 15 menit waktu sebelum bus yang akan membawa saya menuju kota kembang sampai, saya pun mengisinya dengan menyalakan komputer sejenak.

Sambil ditemani hangatnya secangkir Up Green Tea, saya membuka twitter untuk menyimak perkembangan acara dengan sesi Ani bertajuk "Mengelola dan Produksi Konten". Kebetulan, saat melirik beranda, tagar #KopdarCNI jadi trending topic di Indonesia. Itu berarti, cuitan dari peserta yang hadir mendapat sambutan hangat dari rekan-rekan blogger lainnya.

Salah satunya dari salah satu pengurus Fun Blogging, Haya Aliya Zaki. Sosok yang selama setahun ini banyak menginspirasi saya dalam dunia blog itu intens mengikuti perkembangan #KopdarCNI. Myra Anastasia mencuit sharing dari Ani, "Sebagai seorang blogger, sebaiknya fokus terlebih dahulu untuk belajar memperkaya konten." Pada saat yang sama, akun @zataligouw, melukiskan, "Teh @aniRingo memberi contoh acara yg ia jadikan 2 tulisan yaitu reportase kegiatan dan exclusive press conference #KopdarCNI @CNI_ID."

Sayangnya, ketika tengah asyik menyimak twit dari rekan-rekan lain, kendaraan yang akan saya tumpangi sudah tiba. Itu berarti, saya bakal kembali lagi melewati jalur Gatot Subroto-Rasuna Said menuju kawasan Kuningan. Namun, bukan di Plaza Festival, melainkan sebelahnya di Epicentrum, yang berlanjut menembus Cawang hingga ke arah timur.

*        *        *
Artikel terkait:
- CNI Tawarkan Program Afiliasi untuk Blogger
- Tiga Dara Blogger
- Tips Ngeblog Asyik: Jalin Hubungan Baik dengan Komunitas Blogger (I)
- Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir

Esai Foto sebelumnya:
*        *        *

- Bandung, 7 Maret 2016

Senin, 08 Februari 2016

(Esai Foto) Mimpi Jadi Nyata ke Bunaken Bersama Indosat Ooredoo



SAYA merupakan penggemar angka tujuh. Entah mengapa, dalam berbagai hal nomor urut itu selalu terlihat seksi di mata saya. Termasuk, jika berbicara mengenai tempat wisata. Untuk dalam negeri, sejak kecil saya memiliki impian mengunjungi tujuh destinasi yang menurut saya tidak hanya indah, melainkan juga unik.
*         *         *

Empat di antaranya sudah saya singgahi seperti Batu Malin Kundang di kota Padang, Gunung Kintamani (Bali), pedalaman Baduy (Banten), dan yang teranyar Taman Bunaken (Sulawesi Utara).
*         *         *

Sementara, untuk Raja Ampat di Papua, Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur), dan Gunung Bromo (Jawa Timur), masih jadi impian bagi saya. Namun, seperti kata orang tua dulu, kejarlah mimpi selagi kita nasih bernafas. Terbukti, pekan lalu, impian saya terwujud bisa ke Bunaken pada Kamis (4/2).
*         *         *

Itu berkat undangan dari Indosat Ooredoo melalui Astrid Sivara Damanik yang menjabat sebagai Departement Media Partnership & Analytic Divisi Digital Marketing. Wanita yang memiliki blog di alamat www.tehsusu.com ini mengajak saya untuk bergabung dengan tiga blogger lainnya. Yaitu, Ani Berta yang merupakan mentor saya, Aditya Prawira, dan Indra Hutapea.
*         *         *

Kami berempat bergabung dengan 30 redaktur ekonomi dan gadget di seluruh Tanah Air dalam Media Gathering 2016 selama tiga hari (2-4 Februari). Kebetulan, saat itu Indosat Ooredoo sedang mengenalkan aplikasi Dompetku Nusantara di Bitung, sehari sebelumnya (3/2). 
*         *         *

Berkat Zizy dan Ani, akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di pulau yang juga disebut Celebes. Ini kali kedua dalam setahun terakhir setelah 2015 saya mendapat tugas dari kantor ke Makassar, Sulawesi Selatan.
*         *         *

Antara provinsi di selatan dan utara dari Sulawesi terpaut tepat 365 hari. Ya, saya tidak mengira akan kembali ke pulau Sulawesi. Kali ini sebagai blogger untuk berdiskusi dengan petinggi Indosat Ooredoo dan memetik ilmu bersama rekan-rekan media senior dan juga blogger, serta menikmati keindahan Sulawesi Utara, Mulai dari Manado, Bitung, Danau Linow, hingga Bunaken!
*         *         *

"Bunaken itu salah satu tempat terindah di Indonesia. Saya juga dari kecil bemimpi ke sini. Eh, kebetulan, dapat undangan dari Indosat Ooredoo buat meliput perkenalan aplikasi Dompetku Nusantara kepada masyarakat Sulut -Sulawesi Utara- di Bitung. Jadi, ketika kantor acc, ga pake lama saya berkemas," demikian penuturan rekan redaktur di sebuah media cetak ternama di Jakarta.
*         *         *

Perjalanan dimulai pukul 08.00 WITA selepas sarapan. Saya tergabung bersama sekitar 30 orang yang terdiri dari media, blogger, perwakilan Indosat Ooredoo, dan EO.
*         *         *

Karena kapasitas perahu hanya mampu memuat 10 orang, rombongan kami pun dibagi tiga. Kebetulan, saya, Ani, Aditya, dan Indra, dalam satu perahu bersama lima rekan media, satu pemandu wisata, dan perwakilan Indosat Ooredoo (Almansyah Auriyanto/ Public Relation Administrator). 
*         *         *

"Kita sudah berada di Taman Laut Bunaken. Ini Glass Bottom Boat," kata Tour Guide, Lidya yang penjelasannya saya rekam melalui video yang sudah saya unggah di Youtube. Ternyata, di Bunaken ada ikan Louhan, Bandeng, Tongkol, dan Kembung!

*         *         *

"Kita bisa menyaksikan kehidupan bawah air dari atas perahu. Keberadaan ini (Glass Bottom Boat) sangat berguna bagi pengunjung Bunaken yang tidak bisa berenang atau fobia air tapi tetap ingin menikmati keindahannya," wanita asli Manado ini menjelaskan kepada kami diiringi lagu "Andai Saja" dari Anima yang membuat suasana kian berkesan.
*         *         *

Menurut kapten kapal, Roni yang ditemani wakilnya (Adam), perjalanan dari Manado ke Pulau Bunaken sekitar 15 km yang ditempuh dalam waktu 45 menit, "Ombaknya tidak terlalu tinggi. Kita aman."
*         *         *

Menyaksikan beningnya air laut di kedalaman 1-5 meter dari sisi kapal membuat saya takjub. "Mas beruntung dari (pulau) Jawa bisa ke sini. Saya saja yang sudah 40 tahun lebih tinggal di Sulawesi, baru sekarang kesampaian," ujar salah satu rekan redaktur, semringah.
*         *         *

Untuk masuk ke kawasan Taman Nasional Bunaken harganya relatif murah. Karcisnya hanya Rp 5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 150.000 (asing). Lho kenapa dibedakan? "Dari dulu sudah seperti itu mas. Mungkin buat nambah pemasukan kami (warga sini). Apalagi, mereka (turis asing) juga senang dengan keindahan di pulau ini dan sekitarnya," ucap salah satu penduduk setempat kepada saya.
*         *         *

Di Bunaken tidak hanya melulu soal keindahan bawah laut. Masih banyak yang belum dieskplorasi pengunjung. Salah satunya hutan mangrove seperti yang tertera di papan informasi pada pintu masuk. Sekadar info, air di sini sangat sulit. Jadi, wajar jika buang air kecil Rp 3.000 dan buang air besar Rp 15.000. "Kami ambil sendiri airnya dari pulau sebelah," kata Jamal, salah satu remaja setempat.

*         *         *

Foto bersama ketika menginjakkan kaki di Pulau Bunaken sebelum asyik menyelam dan snorkling. Tidak lupa, kami pun diminta untuk melakukan pemanasan terlebih dulu.

*         *         *

Untuk bisa menikmati keindahan bawah laut Bunaken, kami bisa menyewa peralatan snorkling melalui penduduk setempat.
*         *         *


Saya tidak bisa berenang. Bahkan, sempat mengidap Aquaphobia lantaran dulu pernah tenggelam dan terseret arus di Pulau Pisang, Sumatera Barat. Tapi, siapa yang tidak tergoda dengan keindahan bawah laut ketika sudah tiba di Bunaken? 

"Ayo mas, kesempatan nyemplung di Bunaken ini tidak setiap hari kita dapat. Kita beruntung sudah diajak Indosat Ooredoo untuk menikmati keindahan di sini," kata salah satu rekan media online menyemangati saya dengan memberi pelampung untuk berjaga-jaga.
*         *         *

"TIADA perjamuan yang tak berakhir." Demikian adagium lawas yang selalu saya ingat. Yaitu, ada pertemuan, sudah pasti ada perpisahan. Saya melirik arloji sudah menunjukkan pukul 14.20 WITA. Itu berarti, kami yang termasuk dalam rombongan Indosat Ooredoo harus menyudahi rangkaian acara di Bunaken untuk menuju Manado yang dilanjutkan ke Bandara Sam Ratulangi hingga Soekarno Hatta.

Namun, saya juga percaya dengan pepatah lainnya, "Selama gunung masih menghijau dan air laut tetap memancarkan ombak, masih ada waktu untuk bersama lagi." Saya percaya itu.

Terima kasih untuk Indosat Ooredoo yang telah memberikan salah satu pengalaman paling berkesan dalam seperempat abad lebih hidup saya sekaligus mengisi kepingan puzzle dalam mewujudkan impian saya mengunjungi tujuh tempat wisata yang ikonik.
*         *         **         *         *
*         *         **         *         *
*         *         **         *         *


*         *         *


*         *         *


*         *         *


*         *         *


*         *         *


*         *         *
Artikel Indosat sebelumnya:

- Indosat Ooredoo Kenalkan Dompetku Nusantara untuk Mudahkan Masyarakat
- Yuk, Ikut Kompetisi Indosat Ooredoo Berhadiah Sepeda Motor 
- Indosat Ooredoo 4Gplus Jawaban untuk Akses Internet Lebih Cepat
- Komitmen Indosat Terhadap Pelanggan, Sepak Bola, dan Blogger
- Merajut Kebersamaan Sesama Blogger dalam #BukberBRID dan Ketupat Indosat
- Serba Lengkap di Cipika Store
- Kenapa Harus Indar Atmanto?
- Kenangan Belajar Meliput di SEA Games 2011
- Mereka yang Turut Mensukseskan SEA Games 2011
- Hajar Vietnam 2-0, Indonesia ke Semifinal SEA Games 2011
- Antusiasme Masyarakat Menyaksikan Timnas Indonesia Mengalahkan Malaysia
- Menyaksikan Langsung Parade Obor SEA Games 2011 di Jakarta
- Silaturahmi Blogger di Launching Produk Indosat Ramadan
- Kopdar Kompasianer dan Indosat untuk Internet Murah
- Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD
- Rekam Jejak Satu Tahun IDKita Kompasiana

Artikel Media Gathering Indosat Ooredoo 2016:
- Indosat Ooredoo Kenalkan Dompetku Nusantara untuk Mudahkan Masyarakat
- Menyaksikan Keindahan Bunaken yang Memesona
- Menikmati Ketenangan di Danau Linow
- Menelusuri Jejak Kuliner Khas Manado
- Sensasi Belah Duren di Jalan Boulevard
- Tentang Nona dan Nyong dalam Partisipasi Wisata Manado

*         *         *
Keterangan: Kecuali foto yang dijepret Ivan Pek dari Beritagar.id, seluruh foto dan video lainnya merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

- Jakarta, 8 Februari 2016

Selasa, 26 Januari 2016

(Esai Foto) Di Balik Liburan ke Curug Nangka (I)




MENJELAJAH Pulau Pari sudah, basah-basahan di Arung Jeram Citarik sudah, juga dengan main Paint Ball bersama Rahmad Darmawan di Cikole pun sudah. Kali ini giliran wisata ke kaki Gunung Salak di Bogor yang jadi tujuan kami saat merayakan ultah ke-11 kantor kami. Jadi, saya bersama belasan rekan reporter, grafis, dan bagian umum sepakat untuk berwisata ke Curug Nangka.

Kebetulan, ada salah satu rekan yang memiliki vila yang letaknya tidak jauh dari kaki Gunung Salak. Alhasil, kami ke sana cuma membawa pakaian dan gadget masing-masing saja. Untuk makanan dan keperluan lainnya sudah diurus kantor. Ya, namanya juga liburan untuk merayakan ultah.

*        *        *

Menggunakan sepeda motor, kami pun turut konvoi menembus dinginnya malam dari kantor di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, menuju Bogor. Rute pergi melewati Jalan Gatot Subroto yang menembus ke Pasar Minggu, Depok, hingga titik awal di Plaza Ekalokasari, Bogor.

Dari salah satu mal terbesar di Kota Hujan ini, kami istirahat sejenak. Maklum, saat itu, saya melirik ke arloji sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Berarti, masih ada 30 menit hingga satu jam menuju lokasi. Kebetulan, kami berangkat malam hari jadi tidak macet. Namun, kami tidak lantas ngebut karena sesuai kesepakatan, harus beriringan. 

Ya, jaga-jaga agar jika ada rekan yang sepeda motornya bocor bisa saling membantu. Bisa dipahami mengingat perjalanan malam memang rentan karena kios tambal ban jarang ada. Apalagi, kawasan di kabupaten Bogor beda dengan Jakarta yang 24 jam selalu ramai.

*        *        *

Singkatnya, seperti yang sudah saya muat dalam artikel sebelumnya (Menikmati Segarnya Air di Curug Nangka yang Memesona), kami pun tiba di vila sebelum ayam berkokok. Saya sih saat itu langsung tidur. Tapi, tidak dengan beberapa teman yang asyik ngutak-atik gadgetnya masing-masing. Kebetulan, meski di kaki gunung, sinyal tetap jernih hingga kami mudah untuk berselancar di internet. 

*        *        *

Foto bersama di Curug Daun. Biar kata kedinginan, kami tetap memasang wajah semangat 45.
*        *        *

Beberapa rekan berebut untuk main perosotan di kolam yang lokasinya antara Curug Daun dan Curug Kaung. Ya, nostalgia dengan masa kecil yang bahagia.

*        *        *

Oh ya, bagi kami, Curug Nangka hanya salah satu dari rangkaian acara saja. Sebab, banyak agenda lain yang kami isi sepanjang Sabtu dan Minggu (16-17/1). Kebetulan, saat itu kantor libur, jadi sekalian kami mengisinya dengan berpesiar.

*        *        *

Malam harinya seusai mengunjungi Curug Nangka dan menjelajahi berbagai kawasan menarik di kaki Gunung Salak, kami memulai "ritual". Apalagi, kalau bukan bakar-bakar ayam dan jagung yang dilanjutkan dengan main gaple. Ya, intinya ini acara pria.

*        *        *

Oh ya, namanya juga vila di kaki gunung, jadi jangan dibayangkan jika semuanya serba ada. Sebab, kami melakukan bakar-bakar ayam dan jagung dengan peralatan dapur alakadarnya yang bukan ala "berbekyuan". 
*        *        *

Meski begitu, kami tetap menikmatinya. Ya, sekali-sekali kami harus beradaptasi dengan alam. Jadi, kami makan dengan beralaskan daun pisang yang dipetik di lereng gunung. Pun dengan bahan bakarnya mencari serabut dan batok kelapa yang berserakan di pinggir sungai. Paling hanya saus botol dan kecap manis saja yang beli di jalan saat singgah sejenak mengisi bensin. Meski sederhana, tapi kami antusias menyantapnya hingga ludes tak tersisa. Antara enak dan lapar pun jadi satu.

*        *        *

Dan... Acara, puncak pada Sabtu, dua pekan lalu itu adalah main gaple atau domino. Oh ya, ini hanya iseng-iseng sambil menunggu pertandingan sepak bola yang kami tonton melalui streaming di layar ponsel masing-masing. Jadi, bukan berjudi, melainkan "taruhannya" cukup dengan mengoleskan arang ke pipi yang kalah!
*        *        *
Artikel terkait:
- 11 Tahun Harian TopSkor

Esai Foto sebelumnya:
- (Esai Foto) Di Balik Nobar Liverpool-Leicester
- Menikmati Senja di Taman Ayodya sambil Baca Buku Gratis di Perpustakaan Terapung
- Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V: Antara Kritik dan Apresiasi Penyelenggara
- Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
*        *        *
- Jakarta, 26 Januari 2016