TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Hazmi Srondol

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Hazmi Srondol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hazmi Srondol. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juni 2017

(Galeri Foto) Seru-seruan dalam Bukber IM3 Ooredoo


Foto bersama blogger dan perwakilan IM3 Ooredoo
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat foto lainnya)


PUASA ke-22, Sabtu (17/6) jadi salah satu hari berkesan bagi saya sepanjang Ramadan ini. Tepatnya, ketika saya mengikuti buka bersama (bukber) IM3 Ooredoo di Segarra Restoran, Ancol, Jakarta Utara.

Ini kali kedua saya hadir dalam bukber yang diselenggarakan operator ternama di Tanah Air ini. Sebelumnya, terjadi tepat setahun lalu, yaitu 18 Juni 2016 di tempat yang sama. Seperti berbagai acara sebelumnya yang saya ikuti, IM3 Ooredoo selalu memberikan pengalaman terbaik.

Itu sesuai dengan slogan mereka, memudahkan pelanggan di mana pun dan kapan pun. Salah satunya, dengan merilis program #AppsdanRp1 (https://indosatooredoo.com/id/personal/apps-dan-rp1). Yaitu, kita menggunakan layanan tanpa kuota utama di 19 aplikasi berbeda. Mulai dari Facebook, Twitter, Youtube, Spotify, hingga ojek online!

Bahkan, dengan #AppsdanRp1, kita bebas menelepon ke semua operator hanya dengan tarif Rp 1/ detik! Dengan berbagai penawaran menarik dan inovasi yang dilakukan, tak heran jika IM3 Ooredoo memiliki puluhan juta pelanggan setia yang tersebar di seluruh Tanah Air.

*       *       *

SIANG itu, matahair bersinar dengan terik. Suasana ibu kota yang padat merayap mewarnai perjalanan saya menuju Taman Impian Jaya Ancol. Saat sampai di Segarra yang terletak kawasan Pantai Karnaval, saya langsung registrasi.

Saat itu, sudah hadir beberapa rekan blogger, IM3 Ooredoo Squad, dan perwakilan Indosat Ooredoo. Usai ngadem sejenak dan saling silaturahim, kami pun bersiap mengikuti tiga perlombaaan. Yaitu, membuat video, lipsync, dan semacam kuis kata berkait.

Kami terbagi dalam lima grup. Saya bersama rekan blogger Haya Aliya Zaki, dan #IM3OoredooSquad tergabung di Grup Ungu. Kami membuat video dengan tema Long Distance Relationship (LDR). Wow.... Pembahasannya, anak muda banget!

Tapi, tetap sesuai dengan perkembangan saat ini. Terutama karena kami merupakan pelanggan IM3 Ooredoo yang membuat jarak tidak jadi masalah. Sebab, untuk menelepon ke semua operator, kami hanya perlu mengeluarkan Rp 1 per detik hingga 30 detik.

Haya bertindak sebagai sutradara sekaligus videografer. Pemilik blog www.hayaaliyazaki.com ini kebetulan merupakan editor di berbagai media cetak. Berbagai penglamannya itu membuat Haya sangat mudah mengarahkan kami untuk mengisi peran.

Terutama, bagaimana dalam video yang tayang di laman instagram dengan url https://www.instagram.com/p/BVb-YQLjRyM/ terdapat dialog nyata antarkekasih yang menjalin hubungan secara LDR.

"Hari gini LDR jangan bingung. Meski bulan tua, kita tetap bisa menelepon orang-orang tersayang. Hanya Rp1/detik ke semua operator sepanjang hari! Kalau lagi gak sempat, bisa juga whatsapp-an dan BBM-an karena sekarang pakai aplikasi gratis tanpa kuota yeay! Total ada sekitar 18 aplikasi bisa dipakai gratis, termasuk Youtube. Apa dulu dong operatornya @im3ooredoo gitu lho. LDR gak galau lagi. Baaang abis ini buruan halalin aku Baaaang buruan! 😘😘😘 Song: LDR (by Raisa) #AppsdanRp1 #IM3OoredooSquad #TimUngu #LDR #LongDistanceRelationship."

Usai berbuka puasa, kegiatan yang kami lalui kian seru. Termasuk, ketika kami harus membawakan lagu Britney Spears secara lypsinc. Asli, momentum ini bikin ramai seisi restoran Segarra. Tidak ada lagi yang malu tampil di depan umum, apalagi jaga imej (jaim) segala.

Semua larut dalam berbagai keseruan hingga waktu yang akhirnya memisahkan. Yupz, sekitar pukul 20.00 WIB, kami menyudahi acara yang berlangsung dalam lima jam ini. Bagaimana pun, ada pertemuan tentu ada perpisahan.

Yupz, nantikan bukber IM3 Ooredoo dalam Ramadan 1439 pada 2018 mendatang!

*       *       *
Haya Aliya Zaki memberi pengarahan untuk tema LDR

*       *       *
Dengan #AppsdanRp1, nelepon ke semua operator hanya Rp 1 per detik!

*       *       *
Layanan #AppsdanRp1 bikin kita gratis akses 19 aplikasi berbeda 

*       *       *
Haya sedang men-shoot ketiga rekan yang berdialog

*       *       *
Dua pameran pria yang memanfaatkan #AppsdanRp1 untuk menelepon
pacarnya yang berada jauh di seberang

*       *       *
1, 2, 3...! 

*       *       *
Aksi dari rekan blogger dan IM3OoredooSquad ber-lypsinc ria

*       *       *
Lomba lypsinc dengan membawakan lagu Soneta Grup hingga Britney Spears!

*       *       *
Perwakilan IM3 Ooredoo menerangkan kelebihan dari layanan IM3 Ooredoo

*       *       *
Suasana jelang berbuka puasa di Segarra Restaurant

*       *       *
Vay, putri Astrid Sivara Damanik (Dept. Media Partnership &
 Analytic-Div. Digital Marketing Indosat Ooredoo)

*       *       *
Rekan blogger yang tepat hari itu berulang tahun

*       *       *
Suasana pemutaran video yang dibuat Grup Ungu

*       *       *
Semacam kuis kata berkait yang diikuti lima orang per kelompok

*       *       *
Selfie dulu sebelum mengikuti acara

*       *       *
1, 2, 3... Klik!

*       *       *
Perwakilan masing-masing grup dan manajemen IM3 Ooredoo

*       *       *
Foto berjamaah (wefie) jelang acara berakhir

*       *       *
(Lagi-lagi) wefie di halaman Segarra, Ancol

*       *       *
Artikel Sebelumnya:
- Bukber IM3 Ooredoo yang Berkesan dalam Silaturahmi Unlimited
- Kolaborasi Sushiroll-Indosat Luncurkan Aplikasi untuk Pencinta Anime
- Jawab Keluhan Pelanggan, IM3 Ooredoo Hadirkan Data Rollover
- Yuk, Jadi Investor Bersama ISTC Indosat
- Rayakan HUT ke-49, Indosat Gelar Program Berhadiah untuk Pelanggan
- Peringati Hari Batik Nasional, Indosat Ooredoo Gelar "The Beauty of Indonesian Batik"
- Menkominfo Rudiantara Resmikan Aplikasi "Obrol" & "Fantasy League"
- Kolaborasi Indosat Ooredoo dan Spotify lewat #FreedomMusic
- (Esai Foto) Menikmati Ketenangan di Danau Linow
- Indosat Luncurkan Paket Freedom Combo untuk Bebas Waktu
- Indosat Ooredoo 4Gplus Jawaban untuk Akses Internet Lebih Cepat
- Komitmen Indosat Terhadap Pelanggan, Sepak Bola, dan Blogger
- Merajut Kebersamaan Blogger dalam #BukberBRID dan Ketupat Indosat
- Serba Lengkap di Cipika Store
- Kenapa Harus Indar Atmanto?
- Kenangan Belajar Meliput di SEA Games 2011
- Mereka yang Turut Mensukseskan SEA Games 2011
- Hajar Vietnam 2-0, Indonesia ke Semifinal SEA Games 2011
- Antusiasme Masyarakat Saksikan Indonesia Tekuk Malaysia
- Menyaksikan Langsung Parade Obor SEA Games 2011 di Jakarta
- Silaturahmi Blogger di Launching Produk Indosat Ramadan
- Kopdar Kompasianer dan Indosat untuk Internet Murah
- Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD
- Rekam Jejak Satu Tahun IDKita Kompasiana

*       *       *
- Jakarta, 18 Juni 2017

Rabu, 28 Desember 2016

(Esai Foto) Petualangan Akhir Tahun Bersama Astra


Kumpul bersama di Saung Sarongge

2016 ini bisa dibilang sebagai tahun penuh petualangan bagi saya. Itu karena saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di Tanah Air sambil mengeksplorasi keindahan alam, kebudayaan, dan lingkungan sekitarnya.

Diawali dengan bertualang di Curug Nangka, Bogor, yang dilanjutkan ke Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Selatan), Water World (Tangerang), Citarik (Sukabumi), Pengalengan (Bandung), Candi Prambanan (Yogyakarta), Maja (Banten), Tanjung Pakis (Karawang), Nusa Dua (Bali), Bromo (Jawa Timur), Batu Kasur (Cianjur), dan beberapa kawasan lainnya. Itu belum termasuk di ibu kota saja dengan menjelajah enam kotamadya, termasuk Kepulauan Seribu.

Berbagai kunjungan ke tempat wisata itu menambah perbendaharaan pengalaman destinasi saya sejak menggeluti dunia blog pada 2009 silam. Termasuk, Batu Kasur yang jadi petualangan penutup tahun ini.

*        *        *
Sarongge Valley di Cianjur, Jawa Barat

SIANG itu, matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya. Ya, seusai menanam pohon di Bukit Kasur, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (22/12), saya dan 100 peserta dalam rombongan PT Astra International Tbk yang terdiri Public Relation Grup Astra, media, dan blogger, melanjutkannya di kampung Sarongge.

*        *        *
Sensasi naik bak terbuka menuju Saung Sarongge
TUJUAN kami selanjutnya ke Saung Sarongge untuk mengikuti diskusi dan games! Games? Yupz, permainan yang mengasah keterampilan, khususnya dalam bekerja sama antarkelompok. Bagaimana keseruannya, bisa dilihat pada cerita di bawah ini.

*        *        *
Saya bersama Elvani dari Astra dan Hazmi founder BRId (Foto: @Metreg)
DARI Sarongge Valley menuju Saung Sarongge yang merupakan tempat wisata edukasi untuk mengenal lebih dekat dengan lingkungan. Saat itu, kami menumpang pick-up alias bak terbuka sambil menikmati pemandangan alam sekitarnya. Om Telolet Om!



*        *        *
Sekeliling mata memandang tampak hijau memesona
KETIKA pertama kali menginjakkan kaki di Saung Sarongge, saya disambut dengan panorama alam yang sangat memesona. Maklum, lokasinya dikelilingi pegunungan dengan hawa yang sejuk. Apalagi, Saung Sarongge ini lokasinya tepat di kaki Gunung Gede Pangrango.

*        *        *
Libur akhir tahun bersama Astra di Saung Sarongge, Cianjur

SEBELUM Batu Kasur, Astra lebih dulu menanam pohon di kampung Sarongge pada beberapa tahun silam. Itu sebagai bentuk komitmen dari salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air ini. Sekaligus, menerapkan filosofi Catur Dharma dengan butir pertama, "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara". Total, Astra sudah 5.700 pohon di kawasan Cianjur dengan yang teranyar di Batu Kasur sebanyak 1.200 pohon.

*        *        *
Sayur mayur yang segar jadi oleh-oleh istimewa kami
PETANI yang merupakan penduduk setempat, Tim SAR, dan perwakilan Astra, asyik berkumpul di suatu saung. Jemari mereka terampil memasukkan berbagai sayur mayur yang baru dipetik dari ladang untuk dikumpulkan ke berbagai keranjang yang akan dibawa pulang kami sebagai oleh-oleh. Esok siangnya, Jumat (23/12), brokoli dan sayur-mayur itu jadi bintang utama di meja makan di rumah saya.

*        *        *
Aktivitas warga setempat di Saung Sarongge
ADOPSI 1.200 pohon di Batu Kasur dan berbagai acara di Saung Sarongge merupakan bagian dari rangkaian Astra menyambut HUT ke-60 pada 20 Februari mendatang. Yupz, perusahaan yang bermarkas di Sunter, Jakarta Utara, ini didirikan 12 tahun setelah Indonesia merdeka. Sejak saat itu, Astra jadi bagian dari roda ekonomi negeri ini melalui tujuh pilar bisnisnya dengan yang teranyar pada sektor properti.
*        *        *
Regina yang memandu diskusi dan games selama acara berlangsung
ACARA di Saung Sarongge dipandu Regina Panontongan selaku Public Relations Division, Corporate Communications Astra. Wanita yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik ini juga jadi pemandu kami sepanjang perjalanan. Mulai dari berangkat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, hingga kembali. Bahkan, berlanjut jadi moderator esok harinya saat diskusi Astra bersama blogger di Midtown Cafe, Jakarta Selatan, Jumat (23/12).


*        *        *
Ucapan selamat kepada dua rekan jurnalis yang hari itu berulang tahun
HARI itu ada yang spesial bagi dua wartawan senior yang mengikuti rangkaian acara bersama Astra. Itu karena mereka merayakan hari jadinya yang bertepatan dengan acara ini. Alhasil, Astra pun memberi kado tak terlupakan kepada keduanya.

*        *        *
Maharani berbagi kisah inspiratif tentang pohon gaharu
MAHARANI yang menerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014 berbagi cerita inspiratifnya. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sukses memberdayakan penduduk di tempatnya untuk menanam pohon gaharu. Meski harus "berdarah-darah" terlebih dulu karena kerap ditolak, akhirnya Maharani berhasil meyakinkan mereka. Kini, penduduk di wilayahnya tinggal memetik hasil dari harga jual pohon gaharu yang mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Kisah serupa terjadi pada Ridwan Nojeng (penerima SATU Awards 2016) yang mengakui kepada saya sampat dianggap kurang waras oleh masyarakat di Jeneponto, Sulawesi Selatan, sebelum akhirnya menyulap wilayahnya jadi destinasi andalan.

*        *        *
Yulian bercerita tentang komitmen Astra terhadap lingkungan
YULIAN Warman selaku Head of Public Relations Astra, bercerita alasan perusahaannya terjun langsung dalam kepedulian lingkungan. Pria yang sekilas mirip kapten timnas Indonesia, Bima Sakti itu mengatakan Grup Astra sejak 2008 telah menanam 3.616.084 pohon di berbagai wilayah di nusantara. Menurut Yulian, kegiatan itu jadi bagian dari salah satu pilar kegiatan corporate social responsibility (CSR) Astra yang terdiri dari Pendidikan, Usaha Kecil & Menengah (UKM), Lingkungan, dan Kesehatan. Yupz, selain tujuh pilar bisnis dan empat pilar CSR, Astra juga memiliki sembilan yayasan yang konsisten dalam berkontribusi kepada masyarakat. 

*        *        *
Sesi Games dimulai dengan enam kelompok
SESI selanjutnya dengan games. Yupz, permainan ini dilakukan berkelompok. Kalau tidak salah, ada enam kelompok yang terbagi berdasarkan solmisasi tangga nada. Saya tergabung di kelompok "La" yang beranggotakan delapan orang.

*        *        *
Kami dari kelompok "La"  saling melontarkan ide sebelum games dimulai

TERDAPAT
10 peralatan yang dibagikan panitia dengan tujuh di antaranya kami pakai dalam permainan. Yaitu, tali rafia, sumpit, korek api kayu, sedotan, lakban, tusuk gigi, koran, selembar kertas, karet gelang, dan garpu. Tiga benda terakhir tidak kami pakai dan harus dikumpulkan ke panitia.

*        *        *
"Tahan nafas biar perutnya rata. Senyum manis ya." Cekrek! (Foto: @ Istimewa)
PADA era sekarang, belum lengkap jika tidak foto bersama menjelang suatu acara. Termasuk, beberapa menit jelang permainan dimulai, kami dari kelompok "La" berpose manis di depan kamera. Dalam beberapa tahun mendatang, foto ini jadi saksi kisah istimewa yang akan diceritakan kepada anak dan cucu, kelak.

*        *        *
Kerja sama tim untuk satu tujuan
ADA empat tantangan dalam permainan ini. Yaitu, meledakkan dua balon, mengambil permen di piring kertas, memasukkan bola tenis meja ke gelas plastik, dan menyalakan lilin dengan media sedotan. Syaratnya, seluruh peserta tidak boleh melewati lingkaran yang sudah digariskan panitia.

*        *        *
Ayo, ayo, ayo... Kamu bisa!
KELOMPOK kami jadi yang pertama saat meledakkan balon. Idenya, simpel berdasarkan peralatan yang diberikan panitia. Yaitu, dengan menggunakan koran yang sudah dinyalakan korek untuk disundutkan ke balon. Dan, meledak. Yes, Mission Accomplished! Demikian teriak kami serempak dengan semringah ketika menyelesaikan misi pertama dengan sempurna.

*        *        *
Bahu-membahu demi menarik permen agar tidak jatuh ke tanah
DENGAN semangat kebersamaan, kelompok kami berhasil menyelesaikan tiga dari empat tantangan. Hanya, ketika sedang berusaha menyalakan lilin, waktu yang diberikan panitia sudah selesai. Namun, di antara empat tantangan tersebut, harus diakui rintangan yang ketiga paling sulit. Maklum, kami harus mencurahkan segenap ide, pikiran, dan tenaga, untuk memasukkan bola ke dalam gelas plastik. Termasuk, dengan mengangkat rekan kami  agar tidak menyentuh tanah seperti Superman.

*        *        *
Ekspresi kegembiraan Hazmi saat menerima hadiah dari Yulian

SETELAH
permainan selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah untuk rekan jurnalis yang konsisten mengikuti acara Astra ini sejak edisi pertama dan doorprize. Rekan blogger, Hazmi Srondol yang merupakan pendiri komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRId), mendapat kejutan menyenangkan.

*        *        *
Sore itu...

TIADA pesta yang tak berakhir. Memasuki lewat pukul 16.00 WIB, langit di atas Saung Sarongge kian gelap. Pertanda sang dewi hujan akan menunaikan tugasnya yang bertepatan dengan sore hari. Itu berarti, kami harus segera kembali untuk menuju ke rumah masing-masing. Ya, tiada pesta yang tak berakhir. Ada pertemuan tentu ada perpisahan. Tapi, selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi. Yupz, mungkin saat Astra mengadakan acara serupa pada 2017 mendatang.

*        *        *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:


Esai Foto Sebelumnya:
*        *        *
- Jakarta, 28 Desember 2016

Kamis, 22 Desember 2016

Sensasi Menanam Gaharu Bersama Astra di Bukit Kasur Cianjur




Yulian Warman menyerahkan bantuan secara simbolis

PT Astra International Tbk kembali mengadopsi 1.200 pohon produktif yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat di wilayah Batu Kasur, kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan itu dilakukan pagi tadi, Kamis (22/12) bersama keluarga besar Astra, perwakilan penduduk setempat, media, dan blogger.

Batu Kasur merupakan wilayah baru yang ditanami Astra. Sebelumnya, salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air itu sudah melakukannya di desa Tunggilis dan desa Sarongge yang sama-sama berada di Cianjur. Total, sejak 2010, Astra telah menanam 5.700 pohon yang tersebar di kabupaten Cianjur.

Nah, yang istimewa, dari 1.200 bibit pohon hari ini, 500 di antaranya bibit gaharu. Seketika, saya jadi ingat pepatah lawas, "sudah cendana, gaharu pula". Kebetulan, sejak masih di Kalimantan, saya sudah mengenal pohon yang harganya "wah" ini bersama cendana dan ulin.

Ini jadi sansasi tersendiri bagi saya yang kali pertama bisa menanam gaharu. Maklum, saat panen atau setelah ditanam, gubal atau lapisan hitam pada gaharu ini nilainya mencapai Rp 30-50 juta per pohon!

Bayangkan nilainya. Itu untuk satu pohon. Sementara, Astra menyumbang 500 pohon yang bisa dikalikan sendiri karena mencapai "Em-eman". Alhasil, kontribusi mulia perusahaan yang berdiri sejak 1957 ini mendapat apresiasi banyak pihak. Khususnya, dari pemerintah setempat di Cianjur.

Gaharu selama ini tumbuh liar di pedalaman Nusa Tenggara Barat (NTB). Pohon yang memiliki nama latin Gyrinops Versteegii ini bisa tumbuh hingga puluhan meter dengan diameter rata-rata 40 hingga 60 cm. Nah, gaharu liar yang telah ratusan tahun hidup di hutan seperti itu, gubalnya mencapai Rp 500 juta per kilogram yang setara dengan harga emas.

Biasanya, gubal dijadikan produk wewangian  seperti parfum, dupa, dan lainnya dengan kualitas yang sangat bagus. Jika di rumah kita mengoleksi parfum bermerek, beberapa di antaranya bahan bakunya berasal dari gubal gaharu.

Selain gaharu, 700 bibit pohon lainnya terdiri dari nangka, alpukat, jeruk bali, dan jengkol yang memiliki manfaat cukp besar untuk masyarakat. Sama seperti di dua desa sebelumnya, tujuan Astra menanam pohon buah itu demi konservasi lingkungan atau penanaman kembali area yang gundul. Sekaligus, untuk memberikan nilai tambah yang ekonomis bagi petani di sekitar area penanaman.

Itu diakui Iskandar, salah satu warga setempat yang saya temui. Menurutnya, upaya yang dilakukan Astra memberi harapan bagi mereka. "Saya berterima kasih dengan kontribusi Astra di daerah kami. Tiga atau beberapa tahun ke depan, kawasan ini akan menjadi lebat. Imbasnya kepada kami yang warga sekitar ya bisa menghasilkan rupiah untuk menambah dapur tetap ngebul," tutur Iskandar.

Dari biaya Rp 100 ribu per pohon yang diadopsi, para petani akan mendapat bagian sebesar 35%. Itu bisa digunakan untuk berternak kelinci, ayam atau kambing sebagai bentuk dari investasi jangka pendek. Sehingga, dengan program ini akan memberdayakan para petani di sekitar wilayah tersebut untuk juga dapat berternak.

Tak hanya itu, para petani juga diberikan pelatihan manajemen pengolahan uang serta penanaman pohon. Agar, program ini dapat berjalan dengan baik serta memberikan keuntungan yang maksimal. Dari kegiatan itu, diperkirakan petani dapat memanen buah-buahnya dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

*      *      *
SELAIN menanam pohon, saya yang tergabung dalam 100 peserta juga mengikuti diskusi tentang pelestarian lingkungan di Saung Sarongge. Nah, ini menarik mengingat narasumbernya merupakan penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014, Maharani.

Awalnyal, saya pikir saat pertama kali mendengar namanya itu wanita. Eh, ga tahunya pria. Ini kali ketiga saya mendapat ilmu dari pemenang SATU Awards setelah 27 Oktober lalu bersama Darwis Akbar dan Ridwan Nojeng di yang merupakan pemenang tahun ini.

"Indonesia baru memasok 10% dari bahan baku parfum dunia. Gaharu salah satu andalan ekspor masa depan yang bisa membuat petani lebih sejahtera," kata Maharani.

Sementara, Head of Public Relations Astra, Yulian Warman, mengatakan, "Kami melakukan ini rutin sejak tujuh tahun lalu di Sarongge. Alhamdulillah, upaya Astra bersama pemerintah setempat, GIF (Green Initiative Foundation), dan berbagai pihak lainnya mendapat apresiasi positif. Sarongge jadi program unggulan dari Kementerian Perhutanan. Bahkan pada 2013, pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono/ Presiden RI keenam) sampai mengunjungi Sarongge karena ingin tahu daerah yang awalnya kritis kini jadi hutan lindung."

Apa yang dikatakan Warman beralasan. Sejak 2008, Astra telah menanam 3.616.085 pohon di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Cianjur. Kegiatan tersebut jadi bagian dari salah satu pilar kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Astra yang terdiri dari Pendidikan, Usaha Kecil & Menengah (UKM), Lingkungan serta Kesehatan.

Nah, selain menanam pohon, Astra juga melaksanakan kegiatan lain di bidang lingkungan, seperti:

- Kampanye gaya hidup ramah lingkungan bersama Astra, Astra Green Lifestyle (AGL) yang dilakukan di enam kota besar. Dalam kegiatan ini dilaksanakan lomba lari ramah lingkungan Astra Green Run (AGR) di Jakarta dan Bali. Serta, kamapnye melalui jalan sehat, senam, dan fun run di Pekanbaru, Palembang, Bandung, dan Yogyakarta.

- Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dilakukan bersama pemerintah daerah dengan melakukan pembangunan dan pengembangan 33 hutan dan 13 taman kota yang dilakukan Grup Astra di seluruh nusantara.

- Pencegahan abrasi pantai dengan melakukan pembangunan tanggul dan penanaman 843.296 mangrove di seluruh Indonesia.

- Membangun kawasan hutan terpadu Grup Astra seluas 200 Ha yang akan jadi tempat pembelajaran tentang kehutanan, keanekaragaman hayati, serta pendidikan lingkungan tentang hutan tropis Indonesia, Haroto Pusako, Astra Forest, di Babakan Madang, Sentul. Di kawasan ini dikhususkan area seluas 4 Ha untuk konservasi 3.925 pohon dari 23 jenis tanaman buah langka.

- Mengelola program pemberdayaan masyarakat dan konservasi sungai Ciliwung bernama Astra Eco Edu River di empat wilayah yaitu, Depok, Jawa Barat, hingga Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

- Kampung Berseri Astra (KBA), pengembangan implementasi empat pilar CSR Astra. Yaitu, Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan, dan Kesehatan di kampung atau daerah tertentu secara terpadu yang diberi nama Kampung Berseri (Bersih, Sehat, Cerdas, dan Produkti). Mereka tersebar di 43 wilayah di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

- Pengembangan 17 Bank Sampah yang dibina Astra di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.

- Pembinaan 51 sekolah Adiwiyata di seluruh Indonesia. Binaan Astra berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri sebanyak dua sekolah dan Adiwiyata Nasional 15 sekolah.

- Pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Astra telah membangun lima RPTRA di lima wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.

"Pada prinsipinya, di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Itu sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara'," Warman, mengungkapkan.


*      *      *
Pemandangan Bukit Batu Kasur

*      *      *
Suasana jelang penanaman pohon

*      *      *
Maharani memperlihatkan cara penanaman gaharu

*      *      *
Rekan blogger Hazmi Srondol memotret titik koordinat tanamannya

*      *      *
Sepanjang areal yang ditanami pohon dari 100 peserta

*      *      *
Foto bersama yang bakal jadi cerita istimewa untuk anak dan cucu nanti

*      *      *
Salah satu pengalaman berkesan bagi saya sepanjang 2016 (Foto: @metreg)

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:

- Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia
- Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
- Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
- Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
- Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
- 7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
- Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
- Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
- Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
- Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
- Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
- Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
- Ke Kalimantan Aku Kan Kembali
- Pengalaman Ekstrem di Pedalaman Sumatera

*      *      *
- Sarongge (Cianjur), 22 Desember 2016
Ditulis dalam perjalanan pulang dan diedit Jumat (23/12) dini hari WIB

Sabtu, 14 Mei 2016

Resensi Buku Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia


Koleksi buku "Hidup yang Lebih Berarti" bersama buku Kompasianer lainnya

YEEEEE... Akhirnya, bertambah lagi koleksi buku Kompasiana saya. Sejak bergabung di jurnalisme warga ini lima tahun silam, tepatnya 11 Oktober 2011 atau nyaris seperlima usia, saya sudah mengoleksi berbagai buku Kompasiana.

Baik itu yang ditulis rekan sesama Kompasianer -julukan untuk blogger Kompasiana-, antologi fiksi bersama komunitas, atau antologi yang dibuat admin Kompasiana yang berjudul "Jelajah Negeri Sendiri". Untuk yang disebut terakhir, jelas membuat saya bangga. Sebab, terdapat empat artikel saya dalam buku tersebut.

Itu mengapa ketika saya promosikan di berbagai media sosial, banyak rekan sesama Kompasianer, Blogger, hingga keluarga yang kagum. Secara, sebagai blogger, menerbitkan buku bisa dikatakan sebagai puncak karier saya di dunia blogging. Apalagi, bisa bersanding dengan berbagai Kompasianer hebat lainnya yang diseleksi admin secara ketat.

Koleksi buku Kompasiana saya berawal ketika menghadiri launching Srondol Gayus ke Italy milik Hazmi Srondol. Kebetulan, hari ini tepat lima tahun, yang berlangsung pada 14 Mei 2011 di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan yang jadi titik awal saya ikut acara Kompasiana. Hingga saat ini, kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari 50 buku Kompasiana yang saya koleksi. Sebagian masih ada dan beberapa di antaranya saya bagi kepada sesama rekan Kompasianer di luar.

Teranyar, saya mendapat koleksi buku antologi Kompasiana berjudul "Hidup yang Lebih Berarti". Itu setelah saya menghadiri acara peluncurannya bertema "Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia" di Menara BTPN, Jakarta Selatan, Kamis (21/4).

Dalam acara tersebut, turut hadir empat pembicara yang didampingi admin Kompasian selaku moderator, Nurulloh. Yaitu, Andrie Darusman selaku Daya Head Bank BTPN, Taryat (pengusaha cokelat Alia), Pepih Nugraha (COO Kompasiana), dan Mejawati Oen (salah satu Kompasianer penulis buku).
*        *        *

"SAMPAH hanya akan jadi sampah tak berguna kalau kalau tidak diolah dan dimanfaatkan jadi kerajinan tangan, jadi batako, pupuk, dan seterusnya." Demikian, pernyataan Pepih dalam kata pengantar buku "Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia".

Apa yang dikatakan penulis "Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman" ini mengingatkan saya pada adagium lawas, "Air bisa membuat perahu berlayar, tapi juga dapat menenggelamkannya". Alias, sesuatu dapat baik atau tidak, tergantung apa yang kita lakukan.

Banyak inspirasi yang dapat dimanfaatkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dari buku setebal 190 halaman ini. Kebetulan, dari 20 penulis, sebagian besar sudah saya kenal karena kerap berinteraksi di Kompasiana, baik secara offline maupun online.

Salah satunya, tentang Taryat dan Eli Darniati, yang membuka usaha cokelat dengan merek Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat yang berawal dari hobi. Kisah pasangan suami istri yang dituturkan Kompasianer Khairunisa Maslichul itu sangat menarik. Sebab, menceritakan bagaimana produk mereka dapat diterima pasar dengan modal nekat hingga jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi.

Tepatnya ketika kantor kerja Taryat bermasalah hingga di ambang Pemecatan Hubungan Kerja (PHK). Itu diungkapkan pria 40 tahun ini pada halaman 123, "Modal kami berbisnis cokelat lebih tepatnya karena nekat setelah merasaksn sendiri suka-duka bekerja untuk orang lain."

Selain nekat, salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari pasangan tersebut tentu mengenai tahan mental. Terutama karena mereka menyadari produknya hanya cemilan ringan dan bukan termasuk kebutuhan pokok. Alhasil, Taryat-Eli harus mendapat berbagai pengalaman pahit dan manis, terutama ketika ditolak mentah-mentah penjaga toko saat hendak menitipkan produknya.

"Dipandang sebelah mata sudah jadi santapan sehari-hari saat awal kami berpromosi produk Alia Chocolate dari satu lokasi ke lokasi lainnya," Taryat, mengungkapkan. "Bahkan, tetangga dulu sempat memandang kami sebelah mata. Mereka tak habis pikir, sejrana kok hanya berjualan cokelat? Namun, kini hasilnya ternyata produk cokelat saya disambut baik dan lumayan banyak terjual."

Kini, sekitar 300 toko yang tersebar di Bogor, Jakarta, Sukabumi, Ciannjur, hingga Purwakarta yang terjauh, jadi mitra usaha mereka. Tak heran jika Taryat dan Eli mampu meraup omzet mencapai Rp 20 juta - Rp 35 juta per bulan yang tergolong usaha mikro. Taryat menambahkan dalam sesi tanya jawab di Gedung BTPN bersama puluhan Kompasianer, bahwa setiap jelang lebaran, pesanan mereka melonjak drastis.

*        *        *
KESAN nekat yang berarti berani mengambil risiko juga dialami Syarief Hidayatullah, dengan situasi berbeda. Dalam kisahnya yang ditulis Kompasianer Evrina Budiastuti, menggambarkan sosok pemuda yang unik dan penuh misi serta visi ke depan. Cerita mengenai Syarief ini juga sukses menyentil saya secara pribadi.

Maklum, pada usianya yang tidak jauh beda dengan saya, tepatnya Syarief 25 tahun, sudah memilih untuk membangun desa melalui sektor pertanian yang tentu jarang dilirik orang. Bahkan, kalau boleh jujur, sektor itu justru banyak ditinggalkan para pemuda di desa saat ini.

Namun, intuisi Syarief ternyata tepat. Lantaran, kediamannya yang terletak di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor ini, memiliki potensi pertanian. Dengan tanah yang subur dilengkapi irigasi yang mendukung, menjadikan desa mereka sebagai salah satu penghasil tanaman pangan dan palawija.

Hebatnya lagi, Syarief yang tidak memiliki latar belakang sarjana pertanian, sukses mengubah pandangan masyarakat, terutama pemuda setempat dengan membentuk kelompok yang disebut "Taruna Tani". Bahwa, pertanian bukanlah pekerjaan yang kumuh dan kotor. Bahkan, dengan kegigihannya, Syarief sukses mengembangkan jambu kristal dengan rata-rata panen 200-250 kg per bulan.

"Kota Roma tidak dibangun dalam semalam". Mungkin, adagium itu yang tepat saya sematkan pada kisah Syarief yang dituturkan Evrina dengan sangat rinci hingga memotivasi pembaca. Terutama kaum pemuda yang merupakan tulang punggung negara ini.

Sebab, harus diakui jika tidak mudah bagi Syarief untuk mengajak rekannya sesama pemuda di desanya untuk jadi petani. Butuh pendekatan secara personal dan sosialisasi kepada masyarakat setempat secara intens yang dilakukan pria yang lulus kuliah pada 2013 ini. Namun, hasilnya bisa terlihat saat ini.

Melalui jambu kristal, Syarief sukses mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta keluarga. Termasuk, menyediakan lapangan pekerjaan yang secara tidak langsung sukses mendukung program pemerintah demi mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat.

Selain Syarief dan Taryat, tentu masih banyak individu di negeri ini yang sudah berusaha untuk dayakan Indonesia. Termasuk, apa yang ditulis dari 18 rekan Kompasianer lainnya demi membuat hidup yang lebih berarti.

Ya, Mereka sudah melakukan sesuatu untuk hidup yang berarti. Selanjutnya, giliran kita yang turut dayakan Indonesia.

Judul: Hidup yang Lebih Berarti
Penulis: 20 Blogger Kompasiana
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Rilis: April 2016
Halaman: 190
ISBN: 978-602-02-7978-7

*        *        *
Gedung Bank BTPN di Kuningan

*        *        *
Isi daftar absensi Kompasianer

*        *        *
Nurullah selaku moderator membuka acara Coverage launching buku Hidup yang Lebih Berarti

*        *        *
Daya Head Bank BTPN Andrie Darusman (kiri)

*        *        *
COO Kompasiana Pepih Nugraha (tengah)

*        *        *
Kompasianer Mejawati Oen (tengah)

*        *        *
Narasumber dalam buku yang merupakan pengusaha cokelat, Taryat (kiri)

*        *        *
Ada yang unik dengan foto ini? #1

*        *        *
Ada yang unik dengan foto ini? #2

*        *        *
Produk dari Taryat, Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat

*        *        *
Salah satu mural/lukisan dinding yang saya suka mengenai susasna pasar di tengah sungai
*        *        *

*        *        *
Keterangan: Artikel ini sebenarnya mau dimuat di blog Kompasiana saya (www.kompasiana.com/roelly87), namun karena sudah lebih sepekan masih tidak bisa login, terpaksa untuk sementara saya publish di blog pribadi.

*        *        *
- Jakarta, 14 Mei 2016