TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Erick Thohir

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Erick Thohir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Erick Thohir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2018

Wawancara Eksklusif Presiden IOC Thomas Bach


Yeeeeeee selpiiih bareng dengan Presiden IOC Thomas Bach!
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)



ASIAN Games 2018 kedatangan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach. Kehadiran pria asal Jerman itu dimaksudkan menghadiri Upacara Penutupan, Minggu (2/9) malam.

Sebelum itu, TopSkor dan beberapa media dapat kesempatan bertatap muka dengannya. Kedatangannya pun dikaitkan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Terlebih, Jumat (1/9) malam, Bach bersantap malam dengan Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, dan Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 Erick Thohir.

Bach pun memberi penilaian positif, seiring antusiasme kaum muda di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

Indonesia ingin jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Bagaimana peluangnya...

Olimpiade adalah event global, diikuti lebih dari 200 negara. Indonesia salah satu calon kuat tuan rumah Olimpiade 2032, khususnya jika melihat kesuksesan Asian Games 2018.

Seberapa sukses gelaran Asian Games 2018?

Saya melihat Indonesia sukses di semua aspek. Crowd-nya luar baisa dan venue juga sangat bagus. Dari Asian Games ini, saya melihat, masyarakat Indonesia punya antusiasme yang sangat besar terhadap olahraga. Saya tak pernah membayangkan hal ini ada di sini.

Lalu, bagaimana dengan penyelenggaraan Asian Games 2020 di Hangzhou, Cina...

Dengan kesuksesan Indonesia menggelar Asian Games 2018, tentu tak akan jadi tantangan tersendiri bagi Hangzhou menggelar Asian Games berikutnya. Namun, mereka pastinya sudah mengirim tim observasi. Saya cukup yakin mereka juga akan sukses.

Dengan pengalaman Cina yang sangat kaya dalam menggelar multievent, seberapa besar peluang mereka lebih sukses dari Indonesia?

Sejatinya, setiap gelaran Asian Games maupun Olimpiade, sekalipun tidak bisa dibandingkan begitu saja. Setiap edisi pastinya punca ciri khas masing-masing. Sebab, setiap tuan rumah menonjolkan budaya yang mereka miliki dan itu juga terlihat di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan Olimpiade 2020 Tokyo?

Tokyo juga harus bisa mencontoh Asian Games 2018. Kita lihat, bagaimana Indonesia mampu menyelenggarakan event dengan jumlah cabang olahraga yang banyak.

Korea Selatan dan Utara bersatu di Asian Games 2018. Bagaimana pendapat Anda?

Itulah Olahraga,  harus bisa menyatukan semua. Begitu pun Olimpiade, harus bisa jadi ajang perdamaian bagi semua negara di dunia. Di sini, dua Korea bisa bersatu dan meraih medali. Tentu ini sangat hebat. Namun, bagaimana proses perdamaian ke depan, tentu ini bergantung pada pemangku kebijakan kedua negara tersebut.***

*         *         *
Thomas Bach mengunjungi Main Press Center Asian Games 2018 di Jakarta
Convention Center

*         *         *
Thomas Bach didampingi Direktur Media dan PR Panitia Nasional Penyelenggara
Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) Danny Buldansyah

*         *         *
Kehangatan diskusi dengan sejumlah media Tanah Air yang mendapat undangan
dari INASGOC

*         *         *
Ramahnya Thomas Bach yang meluangkan waktu untuk menemui media Tanah Air

*         *         *
Yessss! Foto bersama dengan Thomas Bach

*         *         *
Hasil wawancara dengan Thomas Bach di Harian TopSkor

*         *         *

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi 187, Senin 3 September 2018
Penulis: KH Dhaneswara/ Choirul Huda
Foto: Choirul Huda

- Jakarta, 4 September 2018

Rabu, 13 Desember 2017

Radio sebagai Teman Setia dan Berbagi Informasi


Press Conference Radio Day pada 11 Desember lalu

"Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu
Kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku
Kuharap engkau mendengar
Dan katakan rindu..."

Demikian, lirik legendaris dari almarhum Gombloh yang populer  pada 1986 silam. Saya jadi teringat lagu itu ketika menyimak lini masa di twitter sepanjang Senin (11/12). Betapa tidak, saat itu pada pukul 07.45-08.00 WIB, masyarakat di Tanah Air, khususnya warga ibu kota tidak bisa mengakses radio.

Itu karena selama 15 menit, radio di DKI Jakarta serentak tidak mengudara. Tak heran jika tagar #RadioGueMati membahana. Bahkan, menjadi heboh ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut mencuit. "Emang enak nggak ada radio. Saya Joko Widodo, pendengar radio. Kalau kamu?" ujar Jokowi.

Setelah itu, netizen di seluruh nusantara pun kompak menyuarakan hashtag, #RadioGueGakMati. Kami berharap -karena saya salah satu yang mencuit sebagai pendengar- radio tidak padam. Ya, meski zaman telah berubah seiring perkembangan teknologi, porsi radio tetap tak tergantikan.

Kebetulan, di rumah saya sering mendengarkan radio via konvensional. Sementara, ketika di jalan, saya mendengarnya lewat smartphone. Apa pun itu sarananya, bagi saya radio merupakan kawan sejati di mana pun dan kapan pun.

Pasalnya, beda dengan mendengar musik atau layanan streaming lain yang hanya satu arah. Sementara, di radio, saya bisa mengengarkan lagu terbaru, terpopuler, hingga kenangan, sambil dipandu penyiar. Bahkan, ketika masih abg, saya sering menitip salam kepada seseorang lewat udara. Dan, yang tak kalah penting, radio jadi media saling berbagi informasi untuk mengetahui info lalu lintas.

Sayangnya, pemilik atau pengelola radio justru harus mati-matian mempertahankan eksistensinya. Maklum, dibanding televisi atau media cetak, radio hanya mendapat porsi iklan sekitar satu persen. Yupz, 1%!

Padahal, dalam riset Nielsen CMV & RAM Q3 2017, terdapat 62,3 juta pendengar radio di Tanah Air, dengan 41,9 juta terpusat di pulau Jawa. Untuk DKI Jakarta dan sekitarnya terdapat 9 juta pendengar.

Demikian, fakta yang saya ketahui usai menghadiri press conference Radio Day di Ayana Mid Plaza, Jakarta Pusat, sore harinya. Acara itu diikuti 37 radio di Jakarta yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI).

Kehadiran saya berkat informasi founder Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB) Ani Berta bersama tiga rekan blogger lainnya, yaitu Haya Aliya Zaki, Tuty Queen, dan Teddy Rustandi. Sebagai blogger, jelas kami peduli dengan masa depan radio.

"Tujuan diadakan Radio Day ini untuk membuktikan, radio bukan media yang konvensional atau jadul. Radio merupakan media yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman yang hingga kini dibutuhkan pendengarnya, khususnya masyarakat di DKI Jakarta," ujar Ketua Umum PRSSNI DKI Jakarta M. Rafiq.

Faktanya, radio memang memiliki keunggulan sebagai media yang dapat menjangkau dan diakses lebih dari 29% populasi lintas generasi seperti halnya media TV. Community dan emotional engagment jadi kunci terus eksisnya radio sebagai media komunikasi di era digital seperti sekarang.

Ini yang menjadikan radio selalu dekat dengan pendengarnya lebih dari dua jam per hari. Saya pribadi mengakses radio secara rutin pada pagi hari dan menjelang tidur. Sementara, siang harinya, saya mendengarkan radio ketika sedang dalam perjalanan. Tujuannya, selain untuk menemani bertugas, juga menyimak info terkini terkait lalu lintas serta kejadian penting di ibu kota.

Nielsen merilis, komposisi pendengar radio di DKI Jakarta dan sekitarnya didominasi anak muda dengan persentase mencapai 56%. Para pendengar radio merupakan generasi yang mencinti musik, sport, coking, dan snakcing, serta pencintan kopi.

"Bagi saya, peran radio sangat tidak tergantikan. Saya merupakan penggemar setia radio. Bahkan, saya ikut menggunakan radio sebagai promosi berbagai film saya," ujar Wulan Guritno yang merupakan aktivis di dunia hiburan Tanah Air.

Pernyataan sama diungkapkan Category Manager ID Fuels Downstream Retail PT Shell Indonesia, Ratna Anggraini. Menurutnya, belanja iklan terbesar perusahaannya justru di radio, "Ya, mencapai 40-50 persen dari bujet kami."

Dalam kesempatan itu, Ratna mengakui, beriklan di radio sangat efektif. Sebab, mereka bisa memberi informasi rinci terkait produk-produknya kepada masyarakat lewat udara. "Buktinya, performa bisnis kami setiap tahun sangat baik. Itu berkat informasi yang tepat kepada customer kami yang juga pendengar setia radio," Ratna, melanjutkan.

Nah, saya Choirul Huda pendengar radio. Bagaimana dengan Anda? Yuk, saling berbagi pengalaman terkait radio pada kolom komentar di bawah ini!***


*        *        *
Ketua PRSSNI M. Rafiq (tengah)

*        *        *

Category Manager ID Fuels Downstream Retail PT Shell Indonesia, Ratna Anggraini

*        *        *
Diskusi terkait radio yang dilakukan rekan blogger Haya Aliya Zaki

*        *        *
Wulan Guritno menegaskan peran radio sangat tak tergantikan

*        *        *
Rekan blogger Tutty Queen dengan berbagai properti radio konvensional

*        *        *
Ketua INASGOC Erick Thohir yang juga wakil komisaris Mahaka Media yang
membawahi berbagai radio di Tanah Air

*        *        *
- Jakarta, 13 Desember 2017

Jumat, 08 Desember 2017

Astra Sponsori Asian Games 2018


Penandatanganan sponsorship INASGOC dengan Astra di Kantor Wakil Presiden


MENJADI Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara. Demikian butir pertama dari Catur Dharma yang jadi filosofi PT Astra International Tbk (Astra). Yaitu, Astra tidak hanya sekadar perusahaan saja. Melainkan turut berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Sudah banyak yang dilakukan Astra untuk negeri ini. Kebetulan, sebagai blogger, saya mulai rutin menyimak perkembangan Astra sejak 2016 lalu. Dalam periode itu, saya menyaksikan, betapa Astra benar-benar komitmen menjalankan Catur Dharma yang jadi filosofi perusahaan.


Teranyar, Astra jadi sponsor utama Asian Games 2018 bersama delapan perusahaan nasional lainnya. Penandatanganan dilakukan Chief of Corporate Communication, Social Responsibility and Security Astra Pongki Pamungkas bersama Ketua Panitia Nasional Penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) Erick Thohir di Kantor Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (6/12).

Peresmian nota kesepahaman itu disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tono Suratman, dan pejabat terkait.

"Penandatanganan kerja sama sponsorhip ini menunjukkan kepercayaan dan dukungan optimal dari kalangan badan usaha. Baik nasional, swasta, dan bisnis internasional terhadap kesuksesan Asian Games 2018," kata Erick dalam sambutannya.

Asian Games 2018 berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Ini kali kedua Indonesia jadi tuan rumah setelah 1962 silam. Dukungan berbagai perusahaan untuk jadi sponsor, termasuk Astra, diapresiasi wapres.

JK bangga dengan Astra yang pada 20 Februari lalu genap 60 tahun ini sangat komitmen. Itu sesuai dengan Catur Dharma yang jadi filosofi Astra dalam perjalanan penuh inspirasi selama enam dekade ini.

"Karena kita ingin nanti, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, di belakangnya ada banner perusahaan nasional. Mobilnya (saat Asian Games 2018 berlangsung) dari Astra," ujar Kalla sambil mengungkapkan nominal sponsor berbagai perusahaan itu mencapai 50 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 760 miliar

Ya, sebagai sponsor yang sudah mengeluarkan puluhan miliar, Astra tentu akan mendapat benefit saat Asian Games 2018. Baik itu sebelum, saat acara berlangsung, hingga sesudahnya.

Misalnya, pada papan elektronik di berbagai posisi seperti sisi lapangan serta belakang podium saat pengalungan medali. Akan ada banner PT Astra International Tbk yang jadi latar ketika atlet merayakan keberhasilannya meraih juara.

Juga, Astra bisa menampilkan logo Asian Games 2018 pada berbagai produknya atau saat kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR).

Bisa dipahami mengingat Astra memiliki tujuh sektor usaha. Itu meliputi:
- Otomotif
- Jasa keuangan
- Alat berat dan pertambangan
- Agribisnis
- Infrastruktur, logistik, dan lainnya
- Teknologi informasi
- Properti

Sementara, untuk CSR, Astra memiliki sembilan yayasan, yaitu:
- Yayasan Toyota & Astra (YTA) didirikan pada 1974
- Yayasan Dharma Bhakti Astra (DYBA) 1980
- Yayasan Astra Bina Ilmu (YABI) 1995
- Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) 1995
- Yayasan Amaliah Astra (YAA) 2001
- Yayasan Karya Bakti United Tractors (YKB UT) 2008
- Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) 2009
- Yayasan Astra Agro Lestari (YAAL) 2010
- Yayasan Insan Mulia Pamapersada Nusantara (PAMA) 2014

Berbagai benefit yang didapat Astra sebagai sponsor Asian Games 2018 ini sangat menarik. Sebab, pesta olahraga terbesar kedua di kolong langit setelah Olimpiade ini tidak hanya dihadiri negara-negara Asia saja. Melainkan juga dari penjuru dunia.



Asian Games 2018 ini jadi sarana bagi Astra untuk mengenalkan produk, jasa, dan yayasannya kepada dunia internasional. Maklum, saat Asian Games 2018 berlangsung, Indonesia akan kedatangan berbagai tamu dari ratusan negara selain Asia.

Yaitu, dari benua Amerika Utara dan Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Oseania, dan Eropa. Baik itu, penonton, atlet, dan pelatih. Sebab, Asian Games 2018 dijadikan sebagian atlet dari negara non Asia itu untuk pemanasan jelang Olimpiade 2020.

Yang pasti, keberadaan Astra sebagai sponsor utama turut membantu pemerintah. Maklum, biaya untuk menggelar Asian Games 2018 ini mencapai triliunan rupiah. Itu mengapa, peran sponsor termasuk Astra sangat memberi dampak yang signifikan bagi pemerintah untuk menyelenggarakan pesta olarhaga terbesar di Asia ini. Sekaligus, Astra melanjutkan komitmen untuk berkontribusi terhadap bangsa dan negara.

*          *         *
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut baik peran sponsor,
termasuk Astra dalam mensukseskan Asian Games 2018

*          *         *
Ketua INASGOC Erick Thohir bersama Chief of Corporate, Social Responsibility
and Security Astra Pongki Pamungkas usai peresmian nota kesepahaman
yang disaksikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menpora Imam Nahrawi,
dan Ketua KONI Tono Suratman

*          *         *



Artikel Grup Astra Sebelumnya:


*          *         *
- Jakarta, 12 Desember 2018

Jumat, 24 November 2017

Sisi Lain Kunjungan Menkeu Sri Mulyani ke Kompleks GBK


Menkeu Sri Mulyani dan Menteri PUPR Basoeki Hadimuljono
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)

PAGI itu, sang surya menunaikan tugasnya dengan tegas. Sambil membelah jalanan ibu kota, saya menuju Wisma Serbaguna, Senayan, Kamis (23/11). Tujuannya, untuk menyambangi markas Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC).

Yupz, sehari sebelumnya, saya mendapat informasi di grup INASGOC terkait kunjungan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati ke berbagai venue Asian Games 2018. Yaitu, di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK).

Kehadiran Sri didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono, Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, Ketua INASGOC Erick Thohir, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot Broto, Direktur Pembangunan dan Pengembangan Usaha PPK GBK Gatot Tetuko, dan berbagai pejabat terkait.

Mereka bersama rombongan media meninjau proses renovasi dan pembangunan tiga venue jantung ibu kota tersebut. Itu meliputi Stadion Utama GBK, Aquatik, dan Istana Olahraga (Istora). Dalam setiap kunjungan, Sri selalu menyempatkan untuk mengomentari progresnya.

"Sejauh ini, prosesnya bagus. Saya lihat di sini (SUGBK) sudah on progres menuju finishing. Ya, optimistis renovasi berjalan sebelum tenggat," kata Sri usai menjejaki rumput SUGBK.

Dalam kesempatan itu, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini turut mengetes kualitas rumput. Wajar saja mengingat di SUGBK memakai Zoysia Matrella yang juga dipasang Bayern Muenchen untuk Stadion Allianz Arena.

"Empuk nih. Rumputnya bagus, enak buat nendang bola dan lari-lari," Sri  mengungkapkan usai menendang bola.

Meski masih sembilan bulan lagi, panitia pelaksana (panpel) memang ngebut agar SUGBK rampung sebelum tenggat. Proyek ini dimulai sejak 15 Agustus 2016 di bawah pengawasan Kemen PUPR.

Sebagai stadion kebanggaan nasional sekaligus salah satu yang terbesar di dunia kini, wajar jika SUGBK bersolek lebih. Terutama dengan sentuhan modern agar stadion ini tidak hanya sekadar untuk Asian Games 2018 saja, melainkan event selanjutnya.

"Ya, kami apresiasi usaha dari usaha dari rekan-rekan Kemen PUPR dan INASGOC dalam persiapan menyambut Asian Games 2018. Sebagai tuan rumah, tentu kita ingin Indonesia sukses prestasi dan penyelenggaraan," tutur Sri yang semringah dalam kunjungan perdananya ke Kompleks GBK ini.

Bagi saya pribadi, meliput peninjauan di Kompleks GBK ini merupakan yang ketiga. Pertama, ketika mengikuti 1st Technical Delegates Meeting dan 6th Coordination Committee Meeting bersama delegasi Dewan Olimpiade Asia pada 4 Maret lalu (artikel sebelumnya: GBK Bersolek Sambut Asian Games 2018).

Dua pekan kemudian bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berlangsung 26 Maret (artikel sebelumnya: Galeri Foto Kunjungan Jusuf Kalla ke Venue dan Wisma Atlet). Nah, awal bulan ini pun, saya ikut meliput kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (12/11).

Dalam dua kesempatan terakhir, peninjauan ini tidak hanya di Kompleks GBK saja. Bersama JK turut ke Jakarta International Velodrome, Rawamangun, yang dilanjutkan Pacuan Kuda Pulomas, dan Wisma Atlet Kemayoran.

Sementara, dengan Sandiaga, ke Velodrome dan Pacuan Kuda. Di sisi lain, sejatinya Sri ingin lebih lama meninjau berbagai venue lainnya di Kompleks GBK. Hanya, wanita 55 tahun ini terkendala agenda padat dengan beberapa instansi lainnya.

"Maaf ya mas, saya harus buru-buru. Pagi ini, ada rapat dengan rekan-rekan dari DPR," kata Sri dengan ramah melayani wartawan yang bertanya terkait olahraga hingga ekonomi di Tanah Air.

"Kami berterima kasih atas kunjungan bu Sri ke tiga venue ini. Saya menangkap ada rasa puas selama mendampingi. Paling tidak, sebagai pejabat yang mengatur keuangan dan pengeluaran uang negara untuk Asian Games secara keseluruhan, beliau melihat hasilnya secara kongkret," tutur Erick saat doorstop dengan media.

Presiden FC Internazionale ini melanjutkan, "Berulang kali, menkeu mengungkapkan bahwa kelancaran pembangunan infrastruktur dan venue Asian Games menunjukkan contoh dari penggunaan anggaran negara dari pajak masyarakat dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat."

Yupz, berikut berbagai foto kunjungan Sri dan pihak terkait pada tiga venue berbeda yang saya abadikan:

*         *         *
Stadion Utama Gelora Bung Karno bakal rampung Desember ini

*         *         *
Kursi lipat yang menunjukkan SUGBK lebih modern

*         *         *
Rumput jenis Zoysia Matrella yang digunakan di Allianz Stadium

*         *         *
Yupz, bukan narsis, tapi sekadar mengabadikan momentum eksklusif di SUGBK
Foto: Dokumentasi www.roelly87.com/dipotret Istimewa

*         *         *
Erick Thohir menyambut kehadiran Sri Mulyani

*         *         *
Sri Mulyani dan rombongan memasuki SUGBK sebagai venue pertama
yang dikunjungi

*         *         *
Sri memastikan lampu SUGBK dapat memancarkan cahaya dengan baik
saat pembukaan dan penutupan Asian Games 2018

*         *         *
Ini bukan balapan antarmenteri, tapi keduanya sedang mengetes
kualitas rumput SUGBK

*         *         *
Sri Mulyani ternyata piawai ber-juggling ria

*         *         *
Basoeki Hadimoeljono pun tak mau kalah dengan Sri Mulyani untuk
memperlihatkan kebolehannya

*         *         *
Selain kaki kanan yang keras, Basoeki juga memiliki tendangan kencang
lewat kaki kirinya

*         *         *
Tangkap... Tendangan keras Basoeki ternyata bisa dihalau!

*         *         *
PR Media INASGOC Nissa Meinardy yang mendampingi media saat test event
di Bandung pada September lalu enggan ketinggalan menendang bola

*         *         *
Yupz, narsis sejenak dengan latar gawang di SUGBK
Foto: Dokumentasi www.roelly87.com/dipotret Istimewa

*         *         *
Basoeki bersiap mengemudikan kendaraan golf dari SUGBK menuju venue Aquatik

*         *         *
Ketika menteri dibonceng menteri...

*         *         *
Sebagian rekan media mengabadikan kendaraan golf dengan jalan kaki
dari SUGBK ke Aquatik

*         *         *
Sri Mulyani mengecek pintu masuk Aquatik yang sudah elektronik

*         *         *
Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan di sisi kolam renang venue Aquatik

*         *         *
"Capek? Ga lah, saya sudah biasa," tutur Sri Mulyani tersenyum usai meninjau
Istana Olahraga  (Istora) yang akan jadi arena bulutangkis untuk Asian Games 2018

*         *         *
Ketua INASGOC Erick Thohir melepas kepergian Sri Mulyani yang akan menuju
Kantor DPR

*         *         *

Artikel Terkait

Tentang Asian Games
Tapak Tilas di Parijs van Java
(Galeri Foto) Test Event Asian Games 2018
INASGOC Buka Pendaftaran Relawan untuk Asian Games 2018, Ini Persyaratannya
(Galeri Foto) Count Down Asian Games 2018 di Monas
Sisi Lain Kunjungan Jusuf Kalla ke Venue dan Wisma Atlet
GBK Bersolek Sambut Asian Games 2018
http://www.topskor.id/detail/62503/Kunjungi-GBK-Wagub-Sandiaga-Uno-Diberondong-Tukang-Es
Sandiaga Uno Tegaskan DKI Jakarta Ngebut untuk Persiapan Asian Games 2018

Tentang Olahraga
Gala Desa dan Mutiara yang Terpendam
- (Galeri Foto) Meriahnya Popnas XIV 2017
Di Balik Final Piala Presiden 2017
Sisi Lain Kemenangan Indonesia atas Thailand di Stadion Pakansari

*         *         *
- Jakarta, 24 November 2017

Rabu, 06 Januari 2016

11 Tahun Harian TopSkor



11 Tahun Harian TopSkor


"MENYATUKAN Tekad dan Optimisme di 2016". Demikian judul catatan redaksi pada Harian TopSkor edisi Senin, 4 Januari 2016. Isinya, terdapat penjabaran yang sangat menarik. Tepatnya pada paragraf kedua yang berkaitan dengan situasi di media cetak saat ini seperti saya kutip:

"Kuartal akhir 2015 lalu dihiasi oleh tumbangnya sejumlah media cetak. Gulung tikar. Situasi ekonomi yang tak bersahabat, membuat rencana investasi di berbagai bidang mandek. Industri media cetak pun terkena imbasnya. Ongkos produksi menjadi tinggi. Sementara, daya beli masyarakat menurun drastis."

Seketika, saya langsung teringat pada artikel Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dimuat 20 Desember lalu berjudul "2015: Musim Gugur Pers, Aksi Polisi Menjadi-jadi". Yaitu, tentang belasan media cetak di Tanah Air yang menutup usahanya. Beberapa di antaranya yang saya kenal seperti Sinar Harapan, Harian Jurnas, Harian Bola, Jambi Today, Koran Selebes, dan sebagainya.

Total, AJI mencatat, dari 117 surat kabar, 16 di antaranya gulung tikar. Pun dengan majalah yang hanya menyisakan 132 dari 170 majalah. Ya, pesatnya dunia digital memengaruhi media cetak. Kini, mayoritas orang lebih sering membaca berita melalui gadgetnya seperti ponsel, tablet, laptop, dan sebagainya, ketimbang koran.

Namun, bukan berarti media cetak memasuki senjakala.

*       *       *
"SEPULUH adalah Diego Maradona, Roberto Baggio, Zinedine Zidane, Lionel Messi, Ribut Waidi, Adjat Sudrajat, dan banyak lagi." Itulah kata pengantar pada Harian TopSkor edisi 6 Januari 2015 yang tepat berusia 10 tahun. Bagaimana dengan saat ini ketika Harian Olahraga Pertama di Indonesia itu genap 11 tahun?

Mungkin, dalam dunia sepak bola, angka 11 tidak begitu populer. Terutama dibandingkan nomor 10 yang identik dengan pemain terbaik, sembilan (bomber tersubur), tujuh (fantastista), atau delapan (playmaker). Namun, 11 merupakan satu kesatuan. Utuh. Menurut Football Association (FA), sepak bola dimainkan kedua tim di lapangan dengan masing-masing terdiri dari 11 pemain.

Ryan Giggs merupakan salah satu pemain yang mewakili kesatuan dari 11. Jago, gesit, lincah, santun, dan terutama loyalitas. Ya, sepanjang karier profesionalnya sejak 1990 hingga gantung sepatu pada 2014, Giggs hanya memperkuat satu tim: Manchester United (MU).

Berbicara loyalitas, sebagai Juventini -julukan untuk penggemar Juventus- tentu saya tidak lupa dengan Pavel Nedved yang identik dengan nomor 11 pada 2001-2009. Memang, Juventus merupakan klub keempatnya setelah Duckla Prague yang dibela pada 1991/92, Sparta Prague (1992-1996), dan Lazio (1996-2002). Namun, jangan ditanya mengenai kesetiaannya kepada "si Nyonya Besar".

Sebab, Nedved salah satu bintang yang bertahan ketika terjadi eksodus akibat skandal calciopoli (pengaturan skor). Ketika Zlatan Ibrahimovic dan Patrick Vieira hengkang ke FC Internazionale, Gianluca Zambrotta dan Lilian Thuram (Barcelona), hingga Fabio Cannavaro (Real Madrid).

Nedved bersama Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Mauro Camoranesi, David Trezeguet, dan segelintir pemain lainnya tetap bertahan dengan konsekuensi harus tampil di Seri B. Namun, upaya mereka menjaga agar kemudi tidak oleng saat diterjang badai, berbuah manis. Lantaran, Juventus hanya semusim bermain di kasta kedua kompetisi Italia itu untuk kembali ke Seri A.

Ya, selalu terbit pelangi yang indah setelah badai.

*       *       *
SEBELAS tahun bukan waktu yang singkat. Namun, juga bukan periode yang lama, khususnya dalam industri media. Saya beruntung jadi saksi hidup dari perjalanan Harian TopSkor yang hari ini genap 11 tahun. Di media yang merupakan penerus Majalah Liga Italia dan Majalah Liga Inggris ini, saya belajar mengenai arti sebenarnya sebagai jurnalis. Khususnya dalam liputan di lapangan.

Ya, bagi kami, press release hanya seonggok kertas putih yang bertebaran. Pasalnya, dalam setiap tugas, meski membekali dengan gadget yang berguna untuk memotret, merekam video, dan juga suara, namun, pena dan buku tetap yang utama untuk mencatat poin-poin penting saat wawancara.

Meminta informasi ke bagian hubungan masyarakat (humas) atau manajernya? Maaf, itu bukan kami yang sebenarnya.

Pun begitu dengan wawancara kerubutan atau bahkan door stop. Itu hanya membuat kami ditertawai rekan lainnya.

Menghubungi narasumber lewat telepon? Ah... Ini jadi tindakan terakhir jika semua usaha sudah mentok.

Itu karena kami memegang teguh pada tiga motto: Langsung, Lugas, Eksklusif. Tak heran jika saya dan rekan-rekan reporter lainnya terbiasa berjibaku mengejar langsung narasumber di mana pun dan kapan pun. Mulai dari pinggir lapangan, kamar ganti pemain, kantor, hingga menumpang di kendaraan dinas yang bersangkutan. Tak jarang, kami harus "menculik" narasumber untuk mendapatkan informasi lebih. Tentu, dengan mengedepankan etika.

Ya, berita yang eksklusif untuk pembaca merupakan salah satu faktor bertahannya Harian TopSkor hingga kini. Itu mengapa kami bangga bisa bersama-sama mengarungi ombak yang kian deras. Suka dan duka jadi santapan sehari-hari. Sebab, pembalap yang tangguh tidak berlatih di trek yang lurus.

Khususnya, dua momen yang bagi saya tak terlupakan. Yakni, ketika kantor kami saat itu terendam banjir pada 17 Januari 2013 hingga satu meter yang membuat aktivitas terhenti sementara. Puncaknya, ketika harus menyaksikan salah satu rekan jurnalis yang meregang nyawa akibat tabrak lari. Itu terjadi menjelang sahur pada Selasa, 8 Juli 2014.

*       *       *
SEBELAS tahun bukan waktu yang singkat. Tapi, juga bukan periode yang lama. Harapan saya, semoga Harian TopSkor seperti Giggs dan Nedved: Mampu bertahan di tengah lesunya industri media cetak.

Ya, selamat ulang tahun yang ke-11 TopSkor!

*       *       *
Kunjungan Diego Milito ke kantor TopSkor pada 24 Mei 2012

*       *       *
Milito, Phillippe Coutinho, dan pendiri TopSkor Entong Nursanto

*       *       *
Trofi Liga Champions di Inter Village 2012

*       *       *
Latihan penggawa Inter di SUGBK

*       *       *
Skuat Inter bersama Gubernur DKI Jakarta 2007-12, Fauzi Bowo

*       *       *
Coutinho

*       *       *
Banjir 2013

*       *       *
Rahmad Darmawan

*       *       *
HUT TopSkor ke sembilan

*       *       *
Bambang Pamungkas

*       *       *
Selamat jalan, Ahmad Faqih...

*       *       *
Persija Jakarta

*       *       *
Demo Jackmania di SUGBK

*       *       *
Menculik Ariel sebelum manggung

*       *       *
Detik-detik jelang HUT RI ke-69 di TMP Kalibata

*       *       *
Mengejar JKT 48

*       *       *
Juventini Indonesia

*       *       *
Joko Widodo


*       *       *
Menumpang kendaraan Dahlan Iskan demi laporan eksklusif

*       *       *
Dahlan Iskan

*       *       *
Liputan malam pemilu bertepatan dengan semifinal Piala Dunia 2014: Brasil vs Jerman

*       *       *
HUT TopSkor ke-10

*       *       *
"Selfie Gagal" dengan Presiden Juventus Andrea Agnelli

*       *       *
Stefano Lilipaly

*       *       *
Wawancara eksklusif perdana dengan Erick Thohir saat baru mengakuisis FC Internazionale, November 2013

*       *       *
Ramdani Lestaluhu dan Andritany Ardhiyasa

*       *       *
Nobar dari kampung ke kampung bersama TVOne 

*       *       *
Wawancara Dahlan Iskan di kantor BUMN

*       *       *
Wawancara Ketua KPU Husni Kamil Malik di ruang kerjanya

*       *       *
Giorgio Chiellini

*       *       *
Andrea Pirlo

*       *       *
Claudio Marchisio

*       *       *
Chiellini

*       *       *
Artikel terkait:
- (Esai Foto) Di Balik Nobar Liverpool Vs Leicester di Sevel Bintaro Sektor 7
Trilogi Edu Krisnadefa: Jurnalis, Blogger, dan Rocker!
Hari Ini Setahun yang Lalu: Selamat Jalan Bang Faqih

*       *       *
- Jakarta, 6 Januari 2016