TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Inikah yang Namanya Sinta?

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Senin, 04 Januari 2016

Inikah yang Namanya Sinta?




BALAIRUNG istana Mithila menjadi ramai ketika menyaksikan pemuda tampan yang mencoba mengangkat busur. Sorak sorai bergemuruh dari jutaan rakyat yang dipimpin raja Janaka. Mereka harap-harap cemas menyaksikan pemuda tersebut untuk mengangkat gendewa. Sambil merapalkan doa, sosok yang kemudian diketahui bernama Rama Wijaya menatap ke arah singgasana.

Dari kejauhan, tampak Janaka mengangguk. Sementara, putrinya, Rakyan Wara Sinta, tersenyum manis. Ya, di kolong langit ini, gadis mana yang menolak disunting Rama? Pria tampan yang memesona, pangeran dari kerajaan Ayodhya yang kaya raya.

Setelah memegang sejenak busur tersebut, Rama menoleh ke sebelah kiri. Saat itu adiknya, Laksmana bersama resi Wiswamitra memberi isyarat. Tanpa ragu, Rama langsung mengangkat busur hingga di atas kepalanya.

Selanjutnya, putra raja Dasarata dari kerajaan Kosala mematahkan busurnya jadi tiga. Sontak, jutaan rakyat Mithila memberi aplaus. Maklum, sebelumnya sudah banyak kaum ksatria yang gagal saat mencobanya. Bisa dipahami mengingat busur itu bukan sembarangan. Melainkan busur pusaka anugerah Batara Guru. Hanya ksatria tertentu yang mampu mengangkatnya.

Padahal, jika ada yang mampu mengangkatnya, akan dipilih sebagai menantu Janaka. Ya, sayembara ini memang untuk mencari calon suami bagi Sinta, inkarnasi Laksmi, dewi keberuntungan yang juga istri dari Dewa Wisnu yang kelak bakal menitis pada Rama.

"Selamat nak Rama. Anda berhasil memenangkan sayembara ini," kata Dasarata usai menyaksikan ketangkasan Rama. Dia lalu turun dari singgasana untuk menghampiri ketiga tamu agung tersebut. Dengan terharu, Dasarata kembali memberi pengumuman.

"Wahai rakyatku sekalian. Ketahuilah, kini kita telah mendapat calon pewaris kerajaan ini yang berasal dari negeri agung, Kosala. Ini merupakan hari yang sangat menggembirakan. Tidak hanya untukku pribadi, istana, atau kerajaan. Melainkan juga untuk Sinta yang telah mendapat suami yang tepat. Selanjutnya, aku bisa menyerahkan kalian semua kepada Rama. Hormatilah dirinya seperti kalian menghormatiku."

Rama yang disanjung seperti itu girangnya bukan main. Apalagi, Dasarata dikenal sebagai raja yang berwibawa dan menyayangi rakyatnya. Setelah melakukan sembah kepada calon mertuanya itu, Rama menghampiri Laksmana dan Wiswamitra untuk menghaturkan terima kasih.

Dalam rapat tertutup di istana yang hanya dihadiri berbagai menteri, pejabat eselon satu, ketua Dewan Perwakilan Wayang, dan diplomat dari negeri sebelah, ditetapkan tanggal pernikahan Rama dengan Sinta. Pengumuman itu diberikan kepala humas istana yang langsung menyampaikan kepada ratusan media di seantero kerajaan dan wartawan undangan negeri tetangga.

Wajar, mengingat ini merupakan Royal Wedding yang kedua di dunia wayang sejak Arjuna Sasrabahu meminang Dewi Citrawati (kelak, acara meriah ini diikuti Baladewa-Erawati dan Arjuna-Sembadra). Jadi, seluruh negeri enggan ketinggalan mengirimkan diplomat dan wartawannya. Termasuk, Alengka yang dipimpin Rahwana.

*       *       *

"LAPOR bos, agan ini yang waktu itu meliput royal wedding Rama-Sinta," demikian salah satu pejabat istana di Alengka sambil membawa wartawan terkenal di negerinya.

"Ooh..." Rahwana, hanya mengangguk datar.

"Sst... Jelaskan bro, pada si bos Rahwana mengenai situasi perkawinan di Mithila. Cepat, keburu bos berubah pikiran."

"Siap Ndan. Jadi, mereka merayakan pesta besar-besaran yang mengundang seluruh raja dan perwakilan negeri tetangga. Konon, royal wedding-nya tidak kalah dengan Putri Diana dan Pangeran Charles. Bahkan, jauh di atas Williams-Kate Middleton, apalagi kalo dibanding Rafi-Nagita."

"Terus?"

"Ya gitu bos, pokoknya meriah. Makanannya enak-enak..."

"Ssht. Jangan cerita yang ga penting," pejabat istana itu memotong. Dia lalu melanjutkan, "Seperti diberitakan agan ini yang dishare di media cetak, online, dan televisi, Rama mampu mengangkat busur anugerah Batara Guru."

"Ya, aku tahu itu. Tidak ada yang menarik," Rahwana tidak berpaling dari meja kerjanya yang dipenuhi beragam gadget canggih. Raja yang memiliki watak angkara murka ini tengah memantau pergerakan arus liburan di laptopnya.

Meski lalim, Rahwana merupakan pemimpin yang sangat memerhatikan rakyatnya dari segi keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan. Konon, di Alengka, setiap rumah minimal tersimpan mobil buatan Eropa. Jangan ditanya perabotannya, yang nyaris seluruhnya made in Italy.

Bahkan, meski tanpa CCTV sekalipun, negeri Alengka sangat aman. Termasuk, tidak ada maling kelas teri hingga koruptor kakap. Ada ujar-ujar yang mengatakan, jika rakyat Alengka menaruh mobil di sembarang tempat, sampai kapan pun tetap aman.

Itu karena mereka tahu, perbuatan mencuri tidak akan diampuni Rahwana yang merupakan diktator. Namun, praktek di lapangan, kepemimpinannya jauh lebih baik dibanding sistem demokratis yang dianut banyak di negeri wayang lainnya.

"Tapi bos..." penggawa itu agak takut menjelaskan.

"Tapi apa?"

"Soal Sinta."

"Iya aku tahu, dia kan sudah nikah dengan Rama."

"Bukan itu bos."

"Apaan? Cepat, aku sedang memantau arus balik liburan yang kacau. Beruntung, aku menerima email pengunduran diri dari pejabat bersangkutan. Nyaris saja aku pecat dia."

"Ini soal Sinta, bos."

"Iya Sinta lagi Sinta lagi. Emang, ada apa dengan Sinta?"

"Sinta itu... Inkarnasi Laksmi yang sempat menitis pada Widawati..."

"Apa kamu bilang? Serius?"

"Iya bos. Agan wartawan ini yang akan menjelaskan."

"Baik. Hei... Rakyatku yang baik, coba engkau katakan dengan jelas agar membuatku terang."

"Ja... Jadi, Sinta memang titisan Widawati dan Laksmi. Hambamu ini baru mengetahuinya pas meneliti lebih lanjut dengan tukang rias istana Mithila. Ternyata benar. Pantas, Janaka menujui Rama yang mampu mengangkat busur pusaka Batara Guru."

"Oh... Iya ya. Bisa jadi begitu. Tapi, di bio Facebook, Twitter, dan Instagram-nya Sinta, nggak ada tuh informasi seperti itu?"

"Mungkin, Sinta enggan membuat orang tahu tentang dirinya. Apalagi, pada purnama sebelumnya, bos baru berurusan dengan Arjuna Sasrabahu terkait istrinya, Citrawati, yang juga titisan Widawati."

"Arjuna Sasrabahu sudah mangkat. Kini, di tiga dunia ini tidak ada lagi yang bakal menghalangi ambisiku untuk mempersunting titisan Widawati. Ha ha ha. Jenderal, siapkan pasukan!"

"Tunggu, Rahwana. Duhai keponakanku, raja pemilik tiga dunia." Tiba-tiba suara berat berkumandang dari luar istana yang ternyata berasal dari salah satu keluarga Rahwana. Yaitu, Kalamarica yang merupakan pamannya.

"Kenapa om?"

"Urungkan niatmu."

"Maksud om?"

"Aku berkata yang sebenarnya. Sinta memang titisan Laksmi. Jangan lupa, di sisinya ada Rama yang merupakan pemiliki awatara Wisnu. Menurutku, lebih baik kalian bersahabat. Jangan mengundang bencana dengan menantang Wisnu."

"Arjuna Sasrabahu telah tewas. Apalagi yang harus aku takutkan?"

"Ingat, ramalan menyebut Wisnu akan menitis pada ksatria yang mampu mengangkat busur Batara Guru. Sosok itu ada pada Rama. Apakah keponakanku yang memiliki tiga dunia ini menyangsikan ucapanku?"

"Hufft... Sepanjang hidupku pernah sekali dikecundangi Arjuna Sasrabahu yang ternyata inkarnasi Wisnu. Apakah memang dewa pemelihara alam itu akan menitis lagi?"

"Ya. Saat ini, pemiliknya Rama. Namun, beberapa purnama lagi, akan ada lagi hingga akhir zaman. Saranku, sebagai tetua di negeri ini, agar Alengka Raya yang sudah dibangun sejak lama tidak hancur, lebih baik engkau membatalkan niat untuk menggoda Sinta."

"Baiklah om. Aku percaya dengan ramalan om yang selalu tepat."

"Terima kasih Rahwana. Semoga kesuksesan selalu menyertaimu."

"Penasihat..."

"Siap Ndan!"

"Panggil Kumbakarna, Wibisana, Sarpakenaka, dan pejabat eselon satu lainnya. Aku akan mengadakan rapat sebelum Kumbakarna tidur dalam enam bulan ke depan."*


*         *          *
Heptalogy tentang Sinta:
- Inikah yang Namanya Sinta?
- Sinta Kan Membawamu Kembali
- Lagi Apa dengan Sinta? 
- Aku, Sinta, Kau, dan Dia
- Sinta Ini Membunuhku 

Spin-off:
- Kenapa Harus Kumbakarna yang Gugur?
- Anoman Duta yang Tak Dianggap
- Menggugat Sri Rama
- Hilangnya Mahkota Arjuna Sasrabahu

Artikel Fiksi Wayang Selanjutnya:
- Karna Tanding, Arjuna Tak Sebanding
- Palguna Palgunadi, Istrimu (Harus) Jadi Istriku
- Sembadra Larung: Kisah Cinta dalam Hati
- Sisi Lain Duryudana: Raja Lalim yang Setia pada Satu Istri

*         *          *
Artikel Fiksi Wayang Sebelumnya:
Lelakon ala Astina-Istana
Time Travel dalam Cerita Silat
Jatuh Cinta pada Gadis Bernisial A 
Invasi Tokoh Komik ke Dunia Wayang
Seri Wayang I: Tiwikrama Sri Kresna yang Menggemparkan Alam Semesta
Seri Wayang II: Wisanggeni Menggugat Dewata
Seri Wayang II: Wisanggeni Menggemparkan Khayangan
Seri Wayang II: Wisanggeni Membunuh Batara Kala
Seri Wayang II: Wisanggeni Bertempur Melawan Seluruh Dewata
  
Artikel tentang Wayang:
Selamat Hari Wayang Nasional
Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Yuk, Meriahkan Karnaval Wayang Dunia
Antara Hammer Girl, Palu, dan Senjata Unik dalam Film Lainnya
Rahasia Ki Manteb Soedharsono saat Mendalang
Menelusuri Warisan Budaya di Museum Wayang
Menelusuri Warisan Budaya di Museum Wayang II
E-Wayang: Solusi Mengenalkan Wayang pada Generasi Muda
Resensi Tembang Cinta Para Dewi dari Dunia Wayang
Mengenang RA Kosasih: Inspirasi Komikus Indonesia
Komik, Kenangan Jadul yang Tak Terlupakan
Riwayat Panjang Mainan dari Masa Kecil
Wayang: Seni Budaya dan Imajinasi Anak yang Terlupakan

*         *          *
- Jakarta, 4 Januari 2016

8 komentar:

  1. kenapa ya wayang selalu dihubungkan dengan politik hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi hi hi
      mungkin emang dari sananya mbak :)

      kalo menurut sejarah sih, wayang kan berkembang sejak zaman wali songo gitu...

      Hapus
  2. tergila-gila sama Shinta ya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk

      lagi belajar bikin cerpen lagi mbak, kali ini sampe tujuh serial (Heptalogy) :)

      Hapus
  3. hehe .... ringan. lucu dan enak dibaca ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyik...
      makasiiiih atas apresiasinya mas :)

      Hapus
  4. Wahh Sinta pakai baju kuning, cantik hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. tetep aja masih kalah cantik sama pista :)
      #eaaa

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)