TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 24 Juli 2016

Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun

Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun

Hormati gurumu, sayangi temanmu...

18 tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam periode itu, Indonesia sudah memiliki enam presiden berbeda. Sementara, di dunia olahraga, kurun waktu tersebut, Juventus belum juga menjuarai Liga Champions dengan berujung tiga kali sebagai runner-up.

Di sisi lain, bagi saya, 18 tahun dilewati dengan penuh warna. Tepatnya, mulai dari masa kanak-kanak hingga mayoritas rekan seangkatan sudah memiliki anak. Tanpa bermaksud menumbuhkan sisi sentimentil, tapi periode dua windu lebih dua tahun itu itu memang tidak hanya digoreskan secara hitam atau putih saja.

Itu saya alami ketika kali pertama dalam 18 tahun terakhir menginjakkan kaki di Sekolah Dasar (SD) tampat saya menempuh pendidikan. Momentum itu terjadi setelah saya mengantar adik paling kecil yang kini sudah kelas satu SD.

*       *       *
PAGI itu, suasana di ruas jalan utama ibu kota yang menghubungkan dengan provinsi Banten sudah ramai. Padahal, saya melirik arloji di tangan kiri baru menunjukkan jarum pendek ke angka lima dan jarum panjang ke angka sembilan. Tapi, padatnya lalu lintas bisa dipahami mengingat ketika itu merupakan hari pertama masuk sekolah.

Kebetulan, saya diminta ibu saya untuk menemaninya mengantar si kecil bersekolah. Sebab, lokasinya lumayan jauh dari rumah dan melewati jalan raya yang banyak kendaraan yang membuat adik saya paling bungsu itu harus diantar-jemput dengan sepeda motor.

Singkat kata, setelah berpeluh ria karena macet, saya, ibu, dan adik tiba di depan gerbang. Sekilas, tidak ada yang banyak berubah dalam durasi 18 tahun sejak saya terakhir kali berada di sana. Saat itu, hanya ada beberapa tambahan ornamen seperti papan penunjuk sekolah yang kini sudah berdinding marmer dibanding dulu masih memakai kayu. Serta, berjejer aneka sepeda motor di lapangan yang seingat saya dulu nyaris tidak ada.

Kami pun menuju ruangan kelas di lantai dasar untuk memilih bangku terdepan agar si kecil bisa menyimak pengajaran dari gurunya langsung. Sambil melewati lorong panjang di lantai bawah gedung yang dibangun era gubernur Wiyogo Atmodarminto itu, seketika membuat saya terbawa pada kenangan ketika Pikachu dan kawan-kawan masih aktif di Game Boy hingga kini tersebar luas di berbagai sudut ibu kota.

Ya, dulu, lorong itu tempat saya berlari-larian bersama beberapa teman sekelas. Baik itu main petak umpet, dampu, tak benteng, hingga sepak bola dari plastik. Berbagai kenangan seperti itu yang menumbuhkan ingatan saya ke masa lalu. Terutama saat masuk kelas yang dulu bangku dan mejanya sangat besar, sekarang saya rasakan jadi sempit.

Itu saya alami saat menunggui adik saya dari luar jendela seusai upacara bendera hari pertama. Pada saat yang sama, ibu saya dan orangtua murid lainnya sedang mengikuti rapat dengan Kepala Sekolah untuk membahas aturan dan tata tertib di sekolah tersebut.

Nah, ketika asyik mengamati momen perkenalan adik saya dengan teman sebangkunya, saya merasa ada yang mengawasi saya dengan sorot menyelidik. Tentu, saya bingung ditatap seperti itu oleh pria paruh baya yang menggunakan seragam guru.

Saya pun tersenyum dengan memberi anggukan sambil mengingat siapa sosok tersebut yang sepertinya tidak asing lagi. Namun, ketika saya ingin menanyakan, ternyata beliau sudah mendahului. Ini yang membuat saya kaget dan sama sekali tidak menyangka.

"Rully. Ini Rully?" pria tersebut membuka pembicaraan.

"Iya pak. Maaf, bapak dengan siapa?"

"Lha, kamu lupa ya? Saya aja sebagai guru masih ingat."

"Bapak, pak..."

"Iya, saya Firdaus. Kamu kan yang waktu kecil suka bawa bola ke kelas?"

Mendengar penuturan beliau membuat saya terhenyak. Sebab, jujur saja, bukan karena sengaja saya tidak tahu namanya tapi memang lupa. Bisa dipahami karena selang 18 tahun sejak lulus SD membuat memori saya penuh. Meski, sekilas saya ingat dengan wajahnya yang dulu mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Kebetulan, sejak dulu, mata pelajaran itu bersama sejarah merupakan favorit.

Saya pun langsung menghampiri dengan mencium tangannya. Beliau menyambut dengan merangkul erat pundak saya. Ya, pepatah mengatakan, sekali jadi guru, selamanya tetap guru. Itu jadi salah satu momentum paling berkesan dalam seperempat abad lebih hidup saya. Apalagi, meski sudah nyaris dua dekade, beliau masih ingat dengan nama panggilan saya sejak kecil.

Kami pun berbincang sebagaimana ayah dan anak di sisi kelas. Termasuk ketika beliau menanyakan bekas luka di kaki saya akibat diserempet sepeda motor saat berangkat sekolah naik sepeda. Kebetulan, pak Firdaus dan beberapa guru ini yang membopong saya ke rumah sakit di bilangan Cengkareng. Akibat insiden itu, membuat saya tidak masuk sekolah selama beberapa bulan sekaligus menghapus impian jadi pesepak bola.

Dari pak Firdaus juga, saya mendapat kabar hanya ada dua dari puluhan guru, termasuk dirinya yang saya kenal yang masih mengajar di SD tersebut. Mayoritas sudah pensiun, mengajar di SD negeri lain, serta ada yang alihprofesi. Itu diungkapkannya sebelum kami berpisah. Beliau akan ke kelas lain untuk mengajar dan saya menemani adik saya yang masih malu-malu karena kali pertama berseragam SD setelah dua tahun di TK.

Oh, ibu dan ayah, selamat pagi
Kupergi belajar sampai kan nanti
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu 
Sayangi teman
Itulah tandanya
Kau murid budiman


*Lirik lagu "Pergi Belajar" ciptaan alm. Saridjah Niung (Ibu Sud)

*       *       *
Murid SD bersalaman dengan guru seusai upacara 
*       *       *
Salah satu orangtua murid mengawasi anaknya dari luar jendela kelas

*       *       *
*       *       *
- Jakarta, 24 Juni 2016

2 komentar:

  1. Massss pak gurunya aja masi inget hihihi
    Mungkin dulu karena rambutnya blom gondrong ya haha
    Brarti pak firdaus awet banget ya ngajarnya
    Emang profesi guru ini orangnya loyal2

    BalasHapus
  2. Juventus 18 tahun gak pernah juara :D

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)