TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Selamat Hari Wayang Nasional

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 08 November 2015

Selamat Hari Wayang Nasional


Koleksi wayang dan mainan saya


KEMARIN, Sabtu (7/11) tepat 12 tahun diresmikannya wayang sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (Unesco). Dalam lembaga yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, wayang ditetapkan dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanitiy pada 7 November 2003.

Beberapa tahun berikutnya, menyusul lima warisan nusantara lainnya, seperti Keris, Batik, Angklung, Tari Saman, dan Noken. Ironisnya, hingga kini, pemerintah kita belum menetapkan adanya Hari Wayang. Mungkin, bagi sebagian pihak, tidak penting. Namun, sejatinya, dengan adanya peringatan Hari Wayang Nasional tentu tidak berlebihan. Sebab, wayang memang sudah dikenal di kolong langit ini sebagai warisan yang tak ternilai sebagai mahakarya. Bahkan PBB pun mengakuinya.

Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, berbagai usulan dari komunitas wayang, praktisi, hingga dalang seperti Ki Manteb Soedharsono, mungkin dianggap pemerintah sebagai angin lalu. Padahal, apa sulitnya, sekadar menetapkan dalam kalender resmi, mengingat wayang sudah dikenal di seluruh Tanah Air. Meski begitu, saya berharap ke depannya, pemerintah atau instansi terkait, turut menetapkan Hari Wayang Nasional seperti halnya batik yang diperingati setiap 2 Oktober.

*       *       *

APA sih yang menarik dari wayang? Sejak kecil saya saya sudah menggemari wayang. Jauh sebelum mengenal klub favorit seperti Juventus, kartun luar negeri Doraemon, Dragon Ball, Spider-Man, The Avengers, Superman, Tintin, dan sebagainya. Kalau tidak salah ingat, ketika usia saya masih beberapa tahun yang sering melihat pertunjukkannya di stasiun televisi nasional, TVRI.

Meski tidak mengerti bahasa Jawa dan bahasa Sunda saya masih minim, namun ada keasyikan tersendiri bisa menyimak pertunjukkan wayang. Baik di televisi, radio (pada dekade 1990-an), youtube, atau menyaksikannya langsung. Kebetulan, sejak menetap di Jakarta pada 2010, saya kerap menonton pementasan wayang, baik yang didalangi Ki Manteb Soedharsono, Ki Anom Suroto, Ki Sigit Ariyanto, hingga almarhum Asep Sunandar.

Ya, halangan bahasa (Jawa dan Sunda) yang minim tidak membuat saya patah arang.  Sebaliknya, justru ada keasyikan tersendiri jika melihat aksi panggung dan tata cahaya dalam pertunjukkan wayang. Terkadang jika saya menonton bersama teman yang bisa bahasa Jawa (ngapak, halus, dan kromo) dan Sunda, saya kerap meminta untuk diterjemahkan.

Apalagi, jika sedang rehat, dengan kehadiran punakawan dalam Goro-goro. Aksi, Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong, kerap membuat saya dan penonton terpingkal-pingkal. Tentu, kehadiran mereka tidak hanya sekadar melawak saja, melainkan juga memberi contoh yang menginspirasi. Ya, bagaimanapun, punakawan merupakan tokoh asli buatan nenek moyang kita yang tidak ada kaitannya dengan India, sebagai negara asal cerita wayang.

Sekadar info, memang terdapat sedikit perbedaan cerita antara wayang nusantara dengan versi India. Tapi, itu wajar mengingat proses asimilasi yang tentu tidak harus sama dengan versi asalnya. Apalagi, wayang itu sangat unik. Untuk satu cerita, bisa berbeda tergantung pada daerahnya. Misalnya, di kawasan Jawa Tengah antara Banyumas dengan Solo dan Yogyakarta, beda. Begitu juga dengan Bandung dan Cirebon atau Bali dan luar Jawa lainnya, tidak sama. Pun begitu di antara dalang yang tergantung improvisasi mereka.

Saya pribadi, cenderung menyukai Mahabharata yang mengisahkan peperangan Pandawa dengan Kurawa ketimbang Ramayana. Namun, untuk lakon, saya mengakui sangat mengidolai tema Kumbakarna Gugur. Entah berapa kali saya melihatnya hingga semalaman suntuk pun tidak pernah bosan.

Lantaran, ada filosofi dan nilai nasionalisme yang dipetik dari kematian Kumbakarna saat menghadapi Ramayana. Bukan untuk membela kakaknya yang diselimuti angkara murka, Rahwana, melainkan, demi mempertahankan negaranya, Alengka, dari serbuan bangsa asing. Momentum seperti itu yang rasanya sulit diteladani dari para pesohor dan pejabat negeri ini.

Sementara, untuk tokoh pewayangan, sejak Juventus menjuarai Liga Champions 1995/96 hingga musim lalu gagal di final, idola saya tetap Wisanggeni. Ya, putra dari Arjuna, sang penengah Pandawa ini murni ciptaan nenek moyang kita. Alias, tidak ada dalam kisah aslinya di India. Beberapa tokoh wayang terkait yang saya tahu seperti Antareja dan Antasena, serta empat punakawan.

Selain "produk lokal", Wisanggeni itu merupakan tokoh yang unik. Sakti mandraguna dan memiliki kekuatan dari Gatot Kaca yang dijuluki otot kuat tulang besi, Antareja (bisa tembus ke dasar bumi), serta Antasena (dapat menyelam di air). Tutur kata Wisanggeni bahkan lebih menyerupai pamannya, Bima, yang tidak pandang bulu, ketimbang Arjuna yang sangat halus.

Meski begitu, karena bukan berasal dari India, keberadaan Wisanggeni bersama Antareja dan Antasena, tidak seperti Gatot Kaca. Penciptanya terdahulu, sengaja "mematikan" ketiga tokoh muda itu sebelum perang Baratayuda yang jadi puncak Mahabharata. Lantaran, nenek moyang kita tidak ingin melanggar pakem dari kisah aslinya.

Ya, masih banyak lagi tentang wayang yang akan saya tulis dalam artikel berikutnya untuk memperingati 13 tahun wayang diakui sebagai warisan dunia sekaligus menyambut Hari Wayang Nasional yang entah kapan ditetapkannya.

*       *       *
Dewi Kamaratih menabuh drum

*       *       *
Si Cepot sebagai vokalis dan gitaris

*       *       *
Suvenir pensil wayang dari Galeri Indonesia Kaya

*       *       *
Dalam novel ini ada kisah percintaan dramatis antara Arjuna dan Srikandi

*       *       *
Komik wayang karya RA Kosasih

*       *       *
Tugu Gunungan di Bandung

*       *       *
Museum Wayang yang sayangnya website sudah tidak aktif lagi

*       *       *
Koleksi lukisan Wisanggeni 

*       *       *
Koleksi kaos bergambar Wisanggeni

*       *       *
Berbindang dengan Ki Manteb Soedharsono di balik panggung

*       *       *
Wayang Golek Si Cepot

*       *       *
Properti Wayang Bocor di Galeri Indonesia Kaya

*       *       *
Koleksi wayang Sri Kresna dan Wisanggeni

*       *       *

*       *       *
Artikel ini sebenarnya ditulis sejak Jumat (6/11), namun karena satu hal baru bisa di-publish dan edit dua hari kemudian.
- Jakarta, 8 November 2015

7 komentar:

  1. ternyata ada ya hari wayang. Dugh itu si cepot lagi ngapain

    BalasHapus
    Balasan
    1. si cepot lagi didandanin maen gitar mbak :)
      he he he

      Hapus
  2. Dulu waktu kecil sering nonton pertunjukkan wayang di TV, kebetulan hanya TVRI yang ada waktu itu dan masih TV hitam putih. Sekarang udah gak pernah lagi dan aku baru tahu kalau Hari Wayang juga ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mas, kalo ga salah awal 1990-an, pas tv swasta belum ramai :)

      kalo hari wayang mah, belum ditetapin pemerintah meski sudah banyak usulan dari berebagai pihak seperti komunitas wayang, praktisi, hingga dalang...

      Hapus
  3. wah wayang mas, saya juga suka..apalagi di kota saya tinggal ada Anom Suroto dan Pak Mantep :)

    BalasHapus
  4. Tapi aku klo lihat si cepot kok agak agak serem y mas irul, mungkin karena kulitnya merah huhuhuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi hi hi
      iya ya, kalo dari jauh emang keliatan serem, tapi pas dideketin mukanya lucu mbak :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)