TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ada Apa (Lagi) dengan Sinta?

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 29 November 2015

Ada Apa (Lagi) dengan Sinta?


Pertunjukkan wayang orang "Rama-Sinta"


"CINTA itu butuh bukti, Sin. Bukan janji!"

Demikian kalimat singkat namun bersayap dari suaminya, Ramayana, yang selalu menghantui Sinta dalam beberapa malam ini. Sebagai wanita, kadang dalam hatinya mikir, "Kurang apa coba aku ini. Cantik? Iya. Seksi? Pasti! Anggun? Itu sudah milikku. Dewata pernah mengatakan, seluruh bidadari di khayangan dan seluruh manusia di marcapada, jika digabungkan tetap tidak bisa menandingi diriku."

Ya, Sinta tidak salah. Yang salah justru Rama. Mana ada suami yang rela membiarkan istrinya diculik hingga belasan tahun. Bukannya menyatroni, Rama malah menyuruh Anoman untuk merebut kembali Sinta dari Rahwana. Sayangnya, saat itu istrinya menolak karena hanya ingin diambil oleh suaminya secara sah. Bukan Anoman sebagai duta.

Apalagi, penderitaan Sinta di negeri orang, sangat tak terperikan. Memang, selama di Alengkaraja, Sinta selalu dipenuhi keinginannya. Mau mobil, tersedia Bentley yang khusus untuk pihak kerajaan. Gadget? Wow, bagi Rahwana yang menguasai Alengka -negara superkaya-, jangankan iphone9, bahkan pabriknya pun dibeli!

Desainernya saja setiap hari didatangkan ke kamar Sinta untuk membuat smartphone yang bisa diganti per hari. Jangan ditanya luas kamarnya yang tentu nyaris melebihi Istana Buckingham. Itu baru kamarnya saja. Belum, istana tempat bersemayam Rahwana dan penggawanya.

Hanya, semua itu tidak berarti bagi Sita. Kecuali, Trijata, keponakan Rahwana, yang selama ini selalu mengurusnya dengan baik. Selain curhat di media sosial (medos) seperti facebook, twitter, dan instagram, hanya kepada Trijata saja, Sinta bisa mengeluarkan keluh kesahnya. Sementara, Ramayana di medsos hanya bisa me-like statusnya, atau me-retweet cuitannya saja, sambil berkomentar, "Tunggu ya Sin, aku kan menjemputmu setelah satu purnama."

Jika sedang lagi bad mood, paling Sinta hanya mengeluarkan unek-unek lewat statusnya, "Memang beda, satu purnama di Alengka dengan Ayodya?" Bukannya dapat jawaban dari Rama, malah statusnya dibanjiri like dan komentar dari orang lain yang simpati terhadapnya.

Ya, malam sebelum datang badai, langit tampak cerah.

Sinta menjerit, serentak menutup matanya
Sinta menangis kecewa, Rama telah berubah
Hilang Rama yang dulu ngampung, dekil lugu, tapi Sinta suka
Berganti Rama yang gaul, yang funky, yang doyan ngucapin ember

*      *      *

"BAIKLAH, kakang. Jika kang Rama masih meragukan kesucianku, lebih baik aku pati obong. Sebagai pembuktian, jika aku tidak terbakar, berarti aku masih ting-ting. Namun, jika aku gosong, itu tandanya tubuhku pernah dijamah Rahwana. Andai terjadi, berarti dugaanmu mahabenar wahai, mahadewa," Sinta sesenggukan dengan bersimpuh di kaki Rama.

Putri Raja Janaka itu dalam hatinya, berharap Rama, segera mencegahnya untuk bakar diri. Sayangnya, Sinta tidak tahu, saat ini Rama sudah terlanjur dirasuki ego. Hingga, sifatnya kini sebagai titisan Wisnu sudah melebihi kejamnya Rahwana.

Ya, bagaimanapun, sejahat-jahatnya Rahwana, tapi tetap sopan terhadap Sinta. Tak sekalipun, manusia angkara murka itu menyentuh Sinta. Bahkan, setiap kali bertatap mata pun, Rahwana selalu menunduk. Itu mengapa, adik Rahwana, Kumbakarna, selalu mengingatkan bahwa musuh besar ksatria di marcapada ada tiga yang selalu berakhiran "Ta": Harta, Takhta, dan Wanita.

Sebaliknya, Rama lebih memilih gosip di kalangan rakyatnya, terutama melalui medsos yang menyebut Sinta sudah tidak suci lagi. Alias, telah dijamah Rahwana!

Sebenarnya, apa yang dipikirkan itu tidak salah. Tidak jarang ketika rapat di istana, wartawan Ayodya kerap menyeletuk tentang Sinta yang kerap digoda Rahwana. Sampai, ada situs abal-abal yang memberi headline dengan judul huruf kapital semua "PADUKA RAMA GALAU KARENA SINTA TAK SUCI LAGI".

Seketika, Rama langsung membubarkan rapatnya meski penting sekalipun. Misalnya, menyangkut tambang emas, kisruh DPW (Dewan Perwakilan Wayang) di negerinya, atau pembelian helikopter.

Toh, bagaimanapun, Rama tetap manusia biasa, Gelar sebagai titisan Wisnu bukan berarti dirinya sempurna layaknya dewata. Wajar, jika dia punya dugaan buruk tersebut. Hanya, sangat disayangkan jika Rama bergeming membiarkan Sinta bakar diri. Itu yang disesali banyak pihak. Termasuk adik tirinya, Laksmana.

"Bro, ente jangan keterlaluan begitu. Begini-begini, sis Sinta udah banyak berkorban. Belum cukupkah dirimu menyaksikan penderitaan Sinta yang harus diculik hingga belasan tahun?" Laksmana berteriak lantang.

Suatu hal yang aneh mengingat seumur hidup, sebelumnya dia tidak pernah membantah perkataan Rama. Namun, kali ini berbeda. Bagaimanapun, Laksmana masih memiliki liangsim dibanding kakaknya yang sudah dipenuhi ego.

"Diam Laksmana. Jangan kau ikut campur rumah tangga orang. Sinta ini istriku, bukan istrimu," Rama membentak dengan mata yang membelalak melebihi seramnya pelototan Rahwana.

"Ya, semua orang di kolong langit ini tahu Sinta istrimu. Tapi, tega nian kau membiarkan istrimu pati obong? Apakah itu yang disebut titisan Wisnu?"

"Sekali lagi kau mengeluarkan suara, aku akan meminta hulu balang untuk memenggalmu. Ingat, ini urusan rumah tangga, kau tidak berhak ikut campur. Beda jika ini soal kerajaan, kau boleh memberi saran."

"Rumah tanggamu? Tapi, ke mana belasan tahun ini saat Sinta diculik? Aku, sejelek-jeleknya, masih mau ditugaskan dirimu untuk mencari Sinta. Tanpa bermaksud mengungkit, aku mengorbankan seluruh jiwa dan ragaku untuk menghadapi Rahwana dan pasukannya. Bagaimana dengan dirimu? Hanya enak-enakan duduk di singgasana, nyuruh ini dan itu, lalu lupa janji saat kampanye dulu!"

"Pengawal, seret Laksmana keluar!"

"Siap dan. 86!"

"Tunggu!" Sinta memecah keheningan sebelum eksekusi dari prajurit Ayodya kepada Laksmana. Inkarnasi Laksmi -dewi keberuntungan- itu dengan tegar menatap Rama. Tidak ada lagi air mata yang keluar dari wanita tangguh ini. Sorot matanya begitu tajam. Namun, bukan kebencian. Melainkan tanda cinta dan pertanyaan yang tak pernah terjawabkan. Seketika, Rama yang sedang emosi level dewa, tak mampu memandang ke arah Sinta. Pria perkasa yang sukses melenyapkan angkara murka itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan pati obong. Laksaman, aku harap kau penuhi permintaanku untuk membiarkanku bakar diri. Sebagai saudara, kalian yang akurlah," ujar Sinta dengan tenang.

Sosok yang keanggunannya ratusan kali lipat dari Kajol Devgan ini melanjutkan, "Kakang Rama, sudah nasibku jelek sebagai wanita. Aku diperistri olehmu bukan keinginanku. Lantaran, aku hanyalah boneka saat dijadikan sayembara antarpria. Meski begitu, aku bahagia menjalin hubungan denganmu. Pun ketika aku harus menjalani nasib sial diculik Rahwana. Dalam periode itu, tidak sedikit pun aku menyesalinya. Aku menunggu dengan sabar untuk direbut kembali olehmu. Belasan tahun aku sabar. Tapi, mana balasannya darimu? Kakang hanya memikirkan gosip dari kalangan rakyat dan media abal-abal saja. Kini, perintahkan prajurit untuk memasang kayu bakar. Sekarang!"

Langit menggelegar pertanda merestui ucapan Sinta. Seketika, siang yang terik itu jadi gelap. Dalam lubuk hati yang tedalam, tentu Rama enggan menyaksikan istri tercintanya itu bakar diri. Namun, apalah daya jika ego sudah merasukinya.

Ya, air bisa membuat perahu berlayar, tapi juga dapat menenggelamkannya. Rama di antara dua pilihan. Jika menahan Sinta untuk tidak bakar diri, sudah pasti akan dicap "ISTI" oleh rakyat, pembesar negeri, dan media abal-abal. Alias, Ikatan Suami Takut Istri. Apalagi, dia memang ingin membuktikan, apakah Sinta masih suci atau tidak. Di sisi lain, jika membiarkan Sinta terjun ke kobaran api, dia akan berdosa.

Sambil menghitung kancing bajunya seperti anak sekolah sedang mengisi soal ujian pilihan ganda, akhirnya Rama menetapkan hati. Dia ingin melihat, apakah Sinta bisa lolos dari kobaran api untuk membuktikan selama belasan tahun tidak pernah dijamah Rahwana. Atau, menyaksikan kematian tragis sang istri yang didapat dengan susah payah.

*      *      *

KOBARAN api terpancar begitu panas. Rama yang duduk radius 29 meter di singgasana empuknya made in Italy itu menatap dengan kosong. Sebaliknya, Sinta justru tegar berjalan perlahan. Baginya, hidup hanya sementara. Jika memang dirinya tidak terbakar, berarti dia telah menunjukkan kesuciannya kepada Rama. Dia bisa membungkam gosip di kalangan rakyat, pembesar istana, hingga media abal-abal yang secara tega mengkampanyekan hashtag #SintaTakSuciLagi.

Sebelum melompat, Sinta memandangi ribuan mata yang menatapnya dengan aneka perasaan. Ada yang terharu dengan pembuktian kesuciannya hingga kagum, ada yang mengelus dada, ada yang geleng-geleng kepala, dan ada yang tak mampu melihatnya, terutama sesama kaum wanita. Sementara, beberapa oknum asyik dengan ponselnya masing-masing untuk mengetik, memotret, dan mengabadikan video.

Ya, sindrom "Bad News is Good News" tidak hanya terkenal di Indonesia saja, melainkan juga telah menjalar di kalangan wartawan di Ayodya. Bagi mereka, berita pati obong Sinta bakal membuat korannya laris manis melebihi pemilu 2014, tabloid terjual jutaan eksemplar, online dibanjiri iklan, dan televisi dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan tayangan live!

Sinta sudah sampai ke bibir tungku yang didalamnya sangat panas. Dia tersenyum manis kepada seluruh mata yang memandang. Senyum yang sungguh manis melebihi siapa pun di dunia ini.

Satu kaki Sinta hendak melangkah. Sementara, ribuan mata memandang dengan harap-harap cemas. Saat itu terdengar suara yang tidak asing lagi baginya, "Wahai Sinta. Aku tahu, dirimu merupakan simbol dari kemurnian wanita. Engkau wujud dari kesabaran yang mampu meredakan angkara murka. Tapi, aku di sini bukan untuk memintamu bunuh diri. Aku, Ramayana sang putra Dasarata dari Kerajaan Ayodya beserta segenap rakyat, hanya ingin membuktikan. Bahwa, dirimu tetap suci."

Sedih bagi Sinta mengetahui itulah kalimat terakhir yang diucapkan suaminya, Rama. Mungkin, dalam hatinya, dia berharap adegan pada 2002 silam terulang. Yaitu, di bandara ketika ada gadis SMA mengejar kekasihnya yang ingin belajar ke Amerika Serikat. Sayangnya, itu hanya sebuah film saja yang kini malah seluruh pamerannya -minus si manis Ladya Cheryl- sedang syuting episode kedua.

Tanpa ragu, satu kaki Sinta mendorong tubuh sintalnya untuk terjun ke dalam tumpukan kayu di depan istana. Tindakan nekat yang memecahkan keheningan senja. Sayatan ngeri pun berkumandang ke seluruh negeri. Air mata kaum wanita membanjiri halaman istana.

Saat itu, tiada satu pun manusia yang melepaskan pandangannya ke arah kobaran api di dalam tungku. Pun begitu dengan berbagai wartawan dari media abal-abal yang selama ini selalu "mengipasi" penguasa, turut terdiam. Tangan mereka seolah berhenti untuk mengetik berita, mengabadikan gambar, ataupun mewawancarai anggota kerajaan Ayodya.

*      *      *

SELALU ada pelangi setelah badai.

Tak beberapa lama kemudian, dewi hujan pun mencurahkan airnya. Ribuan orang yang menyaksikan pati obong itu turut menggigil kedinginan. Namun, tiada satu pun dari mereka yang ingin berpaling dari tumpukan kayu tersebut.

Bukan bau gosong, sebaliknya wangi harum tercium dari reruntuhan kayu. Saat itu, Sinta keluar dengan pakaiannya yang utuh seperti semula. Tidak ada tanda-tanda dirinya terbakar. Sebaliknya, kondisi Sinta sangat bugar dan segar dengan lekuk tubuh yang memesona karena tersiram hujan.

Rama bangkit dari singgasananya. Dia menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat. Lalu, Rama pun menggandengnya dengan mesra menuju istana. Tepuk tangan membahan di antara rakyat, pembesar istana, dan sebagian wartawan. Sementara, sebagian lagi dari media abal-abal terlihat kecewa. Lantaran dengan ini, mereka tidak bisa menulis bombastis lagi di medianya untuk mendulang rupiah.

Hashtag  di medsos berganti, dari #SintaTakSuciLagi jadi #BuktiSintaMasihSuci dan #PadukaRamaTerimaSinta.

Sambil berjalan secara perlahan, Rama membisiki kalimat yang penuh cinta, "Aku mengaku salah, wahai istriku. Ternyata, engkau benar-benar suci tak terjamah Rahwana."

Hanya, di telinga Sinta, pujian itu tak berarti. Lebih mirip janji penguasa saat kampanye yang sayangnya lupa ketika sudah menjabat. Dari kejauhan, Sinta seperti melihat sekelebat bayangan Rahwana yang tersenyum ikhlas ketika mengetahui dirinya tidak terbakar. Tiba-tiba, dia begitu merindukan sosok angkara murka itu yang selalu bersikap baik terhadapnya. Sangat bertolak belakang dengan Rama yang kini ada di sampingnya.

Ya, bukan senyum "ganda" dari Rama yang diinginkan Sinta saat ini. Melainkan, sikap tulus dan penuh perhatian dari Rahwana yang dicap orang sebagai sumber angkara murka.*

*      *      *

Artikel Fiksi Wayang Sebelumnya:
- Ada Apa dengan Sinta?

Artikel Fiksi Wayang Selanjutnya:
- Kenapa Harus Kumbakarna yang Gugur?
- Karna Tanding, Arjuna Tak Sebanding
- Palguna Palgunadi, Istrimu (Harus) Jadi Istriku
- Sembadra Larung: Aku Cinta Kau dan Dia
- Anoman Duta yang Tak Dianggap

Artikel Tentang Wayang Sebelumya:
- Selamat Hari Wayang Nasional

*      *      *
- Jakarta, 29 November 2015

15 komentar:

  1. Aku suka sekali dengan kalimat ini "Selalu ada pelangi setelah badai".
    Ah... jadi rindu kehadiran pelangi setelah hujan reda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh ya mas, daripada nunggu hujan reda
      mending kita sekalian menari di bawah badai :)

      *eaaaa

      Hapus
  2. Hhaaaa, alengka punya iphone....kereen beud...uda modern berarti kikikik...seru juga ya mas irul nonton wayang orang kaya gini...
    Tapinkok ujung ujunge ada promo aadc terselubung ni wakwak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terselubung?
      hi hi hi

      ini iseng2 aja mbak bikin judulnya nyamain moment aadc yang rame di instagram :)

      kalo ini cerpen wayang, bukan kisah wayang orang di foto atas

      Hapus
  3. ih seru kali ya nonton wayang orang, aku belum pernah. Ada Rama yang ganteng ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. asal jangan ganteng-genteng serigalau aja mbak :)
      he he he

      Hapus
  4. Katanya gak bisa bikin fiksi... dusta...

    Eh apa sekarang udah jago bikin fiksi ya?!?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo fiksi wayang kan emang dari 2011 mas
      pas rame event kolaborasi fiksi di kompasiana :)
      hi hi hi

      Hapus
  5. Haha, jadi pengen nonton sinta deh om.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sinta itu dilema aslinya
      andai rama lebih sedikit tegas aja, pasti sinta ga bakal berpaling ke rahwana...

      *andai

      Hapus
  6. Sayang ya sekarang jarang banget ada pertunjukan wayang orang, budaya Indonesia yg sudah mulai luntur

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya masih ada mas, di jakarta itu di senen (gedung wayang barata)
      terus di solo sama yogya dan daerah jawa tengah lainnya masih banyak banget, tapi emang gaungnya udah kurang...

      Hapus
  7. Orang Indonesia memang aneh, budaya bernilai tinggi mulai ditinggalkan, nanti setelah diklaim jadi milik negara lain, baru deh pada nggak terima.

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)