TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Senin, 12 Desember 2016

5 Alasan Harus Memiliki Rumah di Citra Maja Raya

Perumahan Citra Maja Raya (Sumber foto: www.citramaja.com)


SEBAGAI pria yang sudah berusia seperempat abad lebih, saya sudah memiliki rencana untuk membeli rumah.  Yaitu, memiliki rumah sendiri dengan biaya hasil kerja selama ini. Tentu, saya punya kriteria sebelum menetapkan hunian anyar tersebut. Salah satunya, terkait akses yang mudah dijangkau lewat transportasi umum.

Maklum, saya merupakan orang lapangan yang nyaris setiap hari mobile. Entah itu menggunakan sepeda motor, ojek online, busway, atau Commuter Line. Itu mengapa, ketika saya menjatuhkan pilihan untuk hunian anyar, akses transportasi jadi yang utama.

Tidak harus di Jakarta mengingat harga rumah tergolong mahal bagi seukuran saya. Melainkan, di sekitar ibu kota yang bisa ditempuh baik dengan sepeda motor atau transportasi umum. Salah satunya yang sesuai dengan kriteria saya ada pada Citra Maja Raya. Yaitu, perumahan murah yang terletak di kecamatan Maja, kabupaten Lebak, Banten.

Kebetulan, saya tidak asing lagi dengan perumahan tersebut. Sebab, pada 21 Mei lalu, saya sempat mengunjungi CitraRaya di Tangerang yang juga berlokasi di provinsi Banten. Berdasarkan pengalaman saat berkeliling CitraRaya itu membuat saya yakin, Citra Maja Raya merupakan hunian yang tepat untuk masa depan.

Berikut, ada lima alasan saya kenapa harus memiliki rumah di Citra Maja Raya.

1. Kredibilitas Pengembang

Landmar ikonik Citra Maja Raya (www.citramaja.com)


Ciputra Group merupakan salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air yang memiliki banyak proyek. Selain CitraRaya dan Citra Maja Raya, saya tidak asing dengan Mal Ciputra yang kebetulan dekat dengan rumah saya dan jadi pilihan saat belanja lebaran.

Nah, Citra Maja Raya merupakan pengembangan kota terpadu terbesar kedua Ciputra Group melalui Ciputra Reidence. Nama besar Ciputra Group, tentu membuat saya kian jatuh hati. Sebagai konsumen yang ingin membeli suatu produk atau jasa, saya selalu mencari tahu siapa produsennya. Bagi saya, nama dari produsen jadi jaminan untuk membeli sesuatu. Termasuk, di dunia properti yang dikenal sebagai pengembang.

Apalagi, Citra Maja Raya ini dibangun dengan skala kota mandiri yang menggabungkan gaya hidup modern didukung program EcoCulture dengan mengedepankan unsur keserasian alam dan ramah lingkungan. Ini cocok bagi saya atau calon penghuni yang masih muda untuk mewujudkan kampanye "Go Green".

2. Harga Kompetitif

Rumah Maja ini tergolong murah, mulai Rp 152 juta (www.citramaja.com)


Mengenai harga, bagi saya sangat sensitif. Maklum, sebagai pekerja swasta, saya terbiasa hidup hemat untuk menyisihkan sebagian gaji demi masa depan. Pun begitu saat berencana membeli rumah. Harga merupakan faktor utama sebelum menentukan pilihan.

Nah, di Citra Maja Raya ini saya menemukan jawabannya. Sebab, harganya relatif murah tapi dengan fasilitas melimpah yang sangat cocok bagi saya. Berdasarkan informasi di website www.citramaja.com, harganya bervariasi. Mulai dari Rp 152 juta hingga Rp 411 juta yang bisa dicicil.

3. Akses Mudah

Stasiun Maja yang megah (www.roelly87.com)


Faktor ketiga ada pada lokasi. Seperti saya urai di atas, Citra Maja Raya sudah menjawab semua kebutuhan saya. Yaitu, akses mudah dijangkau dengan berbagai cara seperti kendaraan pribadi yaitu sepeda motor dan umum (Commuter Line dan bus).

Kebetulan, dari kantor saya di kawasan Pejompongan, tinggal jalan kaki ke Stasiun Palmerah dengan menumpang Commuter Line menuju Stasiun Maja. Berdasarkan pengalaman saat mengikuti peresmian Stasiun Maja bersama perwakilan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada 7 Mei lalu, ternyata memakan waktu kurang dari 1,5 jam saja.

4. Fasilitas Melimpah

Citra Maja Raya memiliki fasilitas melimpah (www.citramaja.com)

Citra Maja Raya memiliki luas lahan 2.000 hektar (ha). Perumahan ini dirancang sebagai kawasan kota terpadu berbasis Transit Oriented Development. Citra Maja Raya terus melengkapi diri dengan berbagai fasilitas skala kota mandiri yang dibutuhkan penghuninya. Mulai dari komersial area, lahan terbuka hijau, dan banyak lagi.

Yaitu, pasar modern, sekolah dari jenjang tingkat bawah hingga tingkat atas, rumah ibadah, sport club, family club, wahana rekreasi dan pendidikan keluarga, rumah sakit, hotel, perkantoran, dan pusat kuliner hingga feeder busway. Dengan berbagai kelengkapan itu, membuat saya kian mantap untuk menjatuhkan pilihan.

5. Investasi Masa Depan

Maja jadi 10 kota baru di Indonesia (www.citramaja.com)


Maja merupakan satu dari 10 kota baru yang sedang dikembangkan pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) seperti saya kutip dari Tempo.com.Jelas ini menarik.

Sebab, dipastikan dalam beberapa tahun ke depan, Maja bakal lebih ramai. Khususnya, di Citra Maja Raya yang memang basis Perumahan Murah di Banten. Rumah Maja bakal jadi investasi jangka panjang. Termasuk saya yang enggan ketinggalan.

Apalagi, menurut data resmi, pengembangan tahap pertama Citra Maja Raya seluas 430 hektar sudah terjual lebih dari 7.000 unit rumah dan 500 ruko dari 13 kluster yang telah dipasarkan. Tingginya minat masyarakat membuktikan Citra Maja Raya merupakan solusi untuk hunian di luar Jakarta.

*        *        *
Referensi: www.citramaja.com, www.antaranews.com, www.kompas.comwww.tempo.co,

Artikel sebelumnya:
Mengintip Fasilitas CitraRaya Tangerang sebagai Hunian Masa Depan
*        *        *
- Jakarta, 12 Desember 2016

Sabtu, 10 Desember 2016

Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia


Ridwan Nojeng peraih penghargaan SATU Indonesia Awards 2016

SETITIK air yang menetes di batu karang mungkin tidak berarti. Namun, jika tetesan air itu berlangsung secara terus menerus bisa menghancurkan karang. Demikian adagium lawas yang tepat untuk Ridwan Nojeng.

Pria 32 tahun ini merupakan penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016. Yaitu, penghargaan dari PT Astra International kepada anak bangsa yang berlangsung sejak 2010.

Kebetulan, saya mendapat kehormatan untuk bisa menghadiri pengumuman ketujuh pemenang. Tepatnya, di Kantor Pusat Astra di Sunter, Jakarta Utara, Kamis (27/10). Saat itu ada lima kategori individu dan satu kelompok.

Ridwan mendapat penghargaan dalam bidang lingkungan sebagai "Pahlawan Lembah Hijau Rumbia". Untuk bidang pendidikan diraih Zainul Arifin, kesehatan (Yoga Andika), teknologi (Dewis Akbar), dan kewirausahaan dengan dua pemenang (Muhammad Aripin dan Akhmad Sobirin). Sementara, untuk kelompok diraih Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia sebagai Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang.

"Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan para pemuda ini, Astra, senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa," kata Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto.

Selain mendapat plakat dan sertifikat, masing-masing pemenang juga menerima Rp 55 juta sebagai apresiasi dari Astra. Mereka berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan pencarian sejak Maret 2016. Tahun ini terdapat 2.341 pendaftar yang lebih banyak dibanding 2015 (2.071 pendaftar).

"Kita punya orang-orang muda luar biasa yang selama ini tidak terangkat ke permukaan. Mereka bisa jadi contoh bagi pemuda-pemudi lain untuk kemajuan Indonesia," tutur Onno W. Purbo, salah satu juri yang merupakan pakar Teknologi Informasi.

*          *         *
LANGKAHNYA tegap dengan pembawaan yang sederhana. Mengenakan kemeja berwarna putih dengan celana jeans biru. Sejak namanya diumumkan sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2016, Ridwan tak hentinya menyunggingkan senyum. Ketika turun dari panggung sambil membawa piala, dengan ramah dia menerima saya yang ingin memotretnya.

"Saya bangga mendapat penghargaan dari Astra," tutur Ridwan menjawab berbagai pertanyaan saya. "Tidak hanya untuk saya pribadi, tapi juga kepada masyarakat Jeneponto secara keseluruhan. Saya tidak akan ada di panggung (menerima penghargaan SATU Indonesia Awards) tanpa peran dari mereka selama ini."

Apa yang dikatakan pria kelahiran Battamua ini beralasan. Sebab, prestasi itu berkat dukungan dari masyarakat Tompobulu yang merupakan desa di wilayah pegunungan kecamatan Rumbia, kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Di tanah kelahirannya itu, Ridwan berhasil mengubah wilayah yang awalnya gersang jadi Desa Wisata Lembah Hijau Rumbia sejak diresmikan pada 2011.

Tentu, untuk menjadikan wilayah yang awalnya tandus hingga kini subur itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itu diakui Ridwan kepada saya melalui sambungan telepon, pagi tadi (10/12). Menurutnya, butuh kerja keras yang memakan waktu, tenaga, pikiran, hingga materi. Maklum, Ridwan memulainya secara seorang diri.

Tepatnya, sejak 2010, dia merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di desa Tompobulu. Melalui pupuk organik hasil produksinya itu, Ridwan melakukan penghijauan yang dimulai dari pekarangan rumahnya. Lalu, berkembang dengan memotivasi warga untuk ikut serta mengembangkan daerah mereka.

Seperti kata pepatah, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Saat ini, Ridwan dan warga desa sudah memetik kerja kerasnya. Lantaran kampungnya banyak didatangi turis lokal dan mancanegara. Termasuk, pupuk organiknya dengan merek Lembah Hijau Rumbia sudah banyak dipesan pelanggan.

"Awalnya, saya dianggap kurang waras sama masyarakat," kata Ridwan tersenyum mengenang awal-awal kegiatannya. "Mereka tidak mau pupuk organik yang saya buat karena berasal dari kotoran ternak. Mayoritas mengatakan itu hanya kotoran ternak dan bukan pupuk. Tapi, diam-diam saya taruh pupuk organik pada tanaman masyarakat. Sepekan kemudian, saya tunjukkan perbedaan antara tanaman yang diberi pupuk dengan warna hijau mengkilat dan tidak diberi pupuk yang berwarna kuning. Sejak saat itu, masyarakat baru percaya."

*          *         *
SELALU ada pelangi setelah badai. Demikian, yang dialami Ridwan untuk meyakinkan masyarakat sekitarnya. Berbagai penolakan hingga dianggap gila tidak membuatnya putus asa. Sebaliknya, Ridwan kian tertantang untuk bisa memberi kontribusi yang terbaik di wilayahnya. 

Bahkan, dia rela mengeluarkan uang hingga Rp 20 juta untuk menyiapkan bibitnya. Enam tahun silam, jumlah tersebut sangat besar. Tapi, bagaimanapun, Ridwan enggan menyerah. Dia percaya, desanya yang gersang bisa jadi subur jika seluruh masyarakat kompak. Itu semua diawali dengan menyuburkan pekarangan masing-masing.

"Saya mengadakan pertemuan dan diskusi dengan masyarakat. Kepada mereka, saya katakan bahwa tanah di wilayah kita perlu peremajaan. Caranya, antara lain dengan penanaman pohon dan pengolahan tanah secara organik. Bisa dipahami mengingat daerah saya dikenal tandus dan tercatat sebagai kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan. Untuk itu, saya ingin mengubahya dengan menghijaukan dan mengembangkan potensi yang ada," Ridwan, mengungkapkan.

Terbukti, setelah berhasil meyakinkan masyarakat mengenai program pupuk organik, Ridwan langsung berinisiatif bersama masyarakat setempat. Mereka menyulap lahan produksi pupuknya jadi tempat wisata. Kebetulan, saya pribadi memang sempat melewati daerah tersebut pada 2015 lalu ketika melaksanakan tugas kantor. Menurut saya, daerah tersebut memang memiliki pemandangan indah serta udara yang sejuk.

Berkat keuletan Ridwan dan masyarakat sekitar, tempat wisata lembah hijau rumbia berdiri. Bahkan, saat ini sudah ada kolam renang, cottage, kafe, aula, dan sarana pendukung lain. Tak heran jika laman resmi kabupaten Jeneponto menjadikan Lembah Hijau Rumbia sebagai salah satu destinasi wisata andalan (Sumber: jenepontokab.go.id).

Yang menarik, Ridwan juga membeberkan hadiah yang diterima dari Astra. Ternyata, tidak sepeser pun masuk ke dalam kantong pribadinya. Padahal, nominalnya lumayan besar mencapai Rp 55 juta. Termasuk, ketika saya bergurau jumlah tersebut bisa untuk kembali jalan-jalan ke Jakarta lagi.

"Tidak lah. Buat apa? Saya sudah puas dua hari diajak keliling Jakarta sama Astra setelah menerima pernghargaan. Ha ha ha," ujar Ridwan yang ketika saya telepon sedang berada di ladangnya. "Rp 20 juta saya bagi kepada teman-teman dan masyarakat yang selama ini membantu kami. Sisanya, saya pakai untuk membangun lokasi. Kan saya tidak mau Jeneponto mendapat julukan kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan."

Ridwan mengakui kian termotivasi setelah mendapat penghargaan dari Astra. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar pantas menerima julukan sebagai mutiara penerang bangsa. Untuk itu, Ridwan enggan berhenti sampai di sini. Dia memiliki banyak proyek ke depan yang sedang digarap bersama masyarakat setempat.

Maklum, berkat tangan dinginnya, warga desa dan sekitarnya mau berbenah memperbaiki wilayahnya. Termasuk, mengembangkan berbagai usaha di sektor makanan, kerajinan, dan lain-lain di sekitar tempat wisata. Bahkan, Ridwan juga memperkerjakan anak-anak yang putus sekolah. Secara tidak langsung, berkat pupuk organik yang berkembang jadi taman hijau rumbia berhasil menggerakkan perekomian masyarakat sekitar.

"Saya berterima kasih kepada Astra. Berkat penghargaan itu, desa kami jadi sering diliput media secara positif. Rencananya, saya akan mengadakan event budaya yang melibatkan 25 negara di Jeneponto pada Agustus 2017. Makanya, mulai sekarang, saya dan teman-teman sudah berbenah betul untuk membangun lapangan untuk kegiatan teater," Ridwan, mengungkapkan.***

*          *         *
Ridwan seusai menerima penghargaan dari Presiden Astra Prijono Sugiarto

*          *         *
Artikel Grup Astra Sebelumnya:
Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

Artikel Sosok yang Menginspirasi Sebelumnya
- Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam
Ngeblog sebagai Terapi Otak
- Menguak Rahasia Tong Setan
- Malu Itu Tidak ada Dalam Hidupnya

*          *         *
- Jakarta, 10 Desember 2016

Selasa, 06 Desember 2016

ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan



ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan


BATIK merupakan warisan yang tak ternilai dalam kebudayaan Indonesia. Sekaligus, jadi simbol identitas bangsa yang selalu digunakan dalam berbagai hari-hari penting. Bahkan, batik diakui secara internasional sebagai karya luhur dari negeri ini yang tertuang dalam daftar UNESCO sebagai Warisan Budaya Nasional Non-Benda pada 2 Oktober 2009.

Di Indonesia, banyak daerah yang dijuluki sebagai sentra batik. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang memperkaya keanekaragaman nusantara. Salah satunya, Pekalongan yang mendapat julukan "Kota Batik".

Maklum, di kota yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah itu memiliki corak yang khas dan variatif. Kebetulan, saya tidak asing lagi dengan Pekalongan karena sudah beberapa kali mengunjunginya. Termasuk, Juni 2013 ketika selesai liputan otomotif, saya mengunjungi Pasar Sentono untuk belanja batik.

Saya pribadi memang menyukai batik. Tidak hanya dipakai setiap Jumat yang merupakan wajib di kantor, melainkan pada hari-hari lainnya. Entah itu liputan, acara, pertandingan, atau pernikahan.

Kini, saya jadi lebih mudah untuk mencari batik khas Pekalongan. Tidak perlu ke daerah asalnya yang kalau ditempuh dengan kereta api sekitar lima jam. Melainkan, cukup datang ke Grand ITC Permata Hijau yang terletak di Jalan Arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Di pusat pertokoan yang merupakan anak usaha dari Sinar Mas Group itu, menyediakan berbagai batik khas Pekalongan. Lokasinya menempati area khusus di Lantai 2. Kebetulan, saya turut jadi saksi penandatanganan MOU antara pihak ITC Permata Hijau dengan Walikota Pekalongan, Arslan Djunaid, Sabtu (3/12).

Dalam kesempatan itu, Djunaid bangga karena ITC Permata Hijau menyediakan area khusus untuk pedagang dari Pekalongan. Menurutnya, itu membantu perekonomian wilayahnya sekaligus mengenalkan batik pekalongan secara luas.

"Saya senang kami diterima dengan baik di sini," tutur Djunaid, semringah. "Saya sendiri yang mengajak sebagian warga Pekalongan untuk mengenalkan karya terbaiknya kepada masyarakat ibu kota. Jadi, warga Jakarta yang ingin memilikinya batik Pekalongan bisa langsung membelinya di ITC Permata Hijau ini."

Selain meresmikan zona batik dan handicraft, manajemen Sinarmas Land yang membawahi ITC Permata Hijau juga kembali menyelenggarakan ITC Shopping Festival. Yaitu, program belanja di 10 ITC di berbagai wilayah di Indonesia sejak 3 Desember hingga 31 Mei 2017. Ini melanjutkan program ITC Shopping Festival sebelumnya yang berlangsung 1 Oktober-31 Desember 2015.

"Terdapat empat program unggulan pada ITC Shopping Festival ini. Yaitu, Super Sale, Belanja Untung, Dagang Untung, dan SPG Untung. Jadi, kami tidak hanya memperhatikan untung dari toko atau penjual saja, melainkan turut peduli kepada mas dan mbak SPG yang berkontribusi atas larisnya dagangan," kata Christine N. Tanjungan, ITC Division Head.

Menurutnya, program berhadiah total Rp 1,2 miliar ini memiliki lima tematik event, yaitu Natal dan Tahun Baru, Imlek, Valentine, Ramadan, dan Back to School. Acara ini serentak di 10 pusat perbelanjaan yang dikelola ITC Group di Jabodetabek. Yaitu, Grand ITC Permata Hijau, ITC Mangga Dua, ITC Roxy Mas, ITC Cempaka Mas, ITC Kuningan, ITC Fatmawati, Mal Mangga Dua, Mal Ambasador, ITC BSD, dan ITC Depok.

*         *         *
Tahukah Anda? 

- ITC Permata Hijau satu-satunya pusat perbelanjaan yang dimiliki Sinar Mas Land (Sinar Mas Group) yang menyandang titel "Grand" di depan namanya. (Sumber: Discover)

- Kota Pekalongan dinobatkan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai Kota Kreatif pertama di Indonesia pada 1 Desember 2014. (Sumber: CNN)

- ITC Shopping Festival 2015 sangat sukses hingga transaksinya tercatat mencapai Rp 500 miliar di jaringan ITC di seluruh Indonesia. (Sumber: Christine N. Tanjungan, ITC Division Head)


*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Group Gelar Shopping Festival Berhadiah Rp 1,2 Miliar

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *
ITC Permata Hijau Jadi Sentra Batik Pekalongan

*         *         *

Artikel Terkait Sinarmas Group
Sinar Mas: Berawal dari Kebaikan
Lengkapnya Fasilitas Sinarmas World Academy (SWA) di BSD
Kunjungan Blogger ke PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP)
- Orange TV Tayangkan Liga Primer sebagai Komitmen "Jagonya Sepak Bola"
Menikmati TSC 2016 Bersama Orange TV
Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi

*         *         *
- Jakarta, 6 Desember 2016

Minggu, 04 Desember 2016

Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang


Peralatan tempur :)


EPILOG

YAAAAA
, akhirnya selesai sudah petualangan ke kawasan timur pulau Jawa. Tepatnya, ke Bromo, Malang, dan sekitarnya yang berlangsung pekan lalu. Yupz, untuk kali pertama sebagai blogger, saya bisa ngebolang (slang: bocah petualang).

Oh ya, mungkin banyak yang bertanya, kenapa saya memilih Bromo dan bukan tempat lain. Jawabannya simpel, sebab di antara tiga dari tujuh destinasi impian yang tersisa, Bromo salah satu yang realistis untuk disambangi.

Ya, seperti pada artikel dulu, saya memiliki tujuh destinasi impian di nusantara. Empat di antaranya sudah pernah saya singgahi seperti Batu Malin Kundang di kota Padang, Gunung Kintamani (Bali), Pedalaman Baduy (Banten), dan Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Utara) yang diprakarsai Indosat Ooredoo. Dua lagi benar-benar masih dalam impian yaitu, Raja Ampat di Papua dan Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur).

Nah, dibanding kedua tempat wisata tersebut, secara anggaran, jelas Bromo jauh lebih murah. Pun jika dikomparasi dengan waktu, yang relatif singkat ketimbang Raja Ampat dan Taman Nasional Komodo.

Sementara, untuk luar negeri, setelah Singapura pada 2014 lalu, saya masih memiliki cita-cita mengunjungi Gunung Hoasan di Cina untuk mengunjungi makam leluhur, Seattle (Amerika Serikat) bertandang ke markas mbahnya musik seattle-sound, dan tentunya Turin (Italia) yang merupakan kandang Juventus.

Oh ya, ini untuk bertualang. Bedakan dengan kewajiban jika mampu, yaitu menunaikan ibadah haji yang pasti ke Mekah serta Madinah.

*          *         *
PERJALANAN ke Bromo sudah saya rencanakan sejak Agustus lalu. Namun, hingga Oktober batal karena menurut pantauan di  website Badan Geologi - Kebencanaan ESDM, masih menunjukkan erupsi.

Beruntung, memasuki awal November, kondisi gunung yang terletak 2.392 MDPL ini sudah tidak menunjukkan aktivitasnya. Berkat rekomendasi rekan blogger, saya pun mendapat salah satu penyelenggara trip ke Bromo. Yupz, petualangan dimulai.

Setelah mengurus cuti dari kantor, saya pun memesan tiket Kereta Api (KA) Matarmaja. Yupz, kelas ekonomi, tapi tetap asyik. Awalnya, kami mau pesan yang eksekutif atau bahkan naik pesawat. Tapi, dipikir-pikir, kalau pergi dengan dua ketegori itu namanya bukan ngebolang, alias cuma liburan.

Ya, seperti kata Rangga kepada Cinta dalam AADC2, "Itu bedanya orang yang travelling dengan liburan. Kalau orang yang sedang liburan, biasanya mereka bikin jadwal yang pasti. Pergi dan tinggalnya ke tempat yang nyaman. Terus, ke tempat-tempat yang bagus buat foto-foto. Kalau travelling, kita harus spontan. Lebih berani ngambil risiko, siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan. Yang harus dinikmati itu justru proses perjalanannya dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul."

Yupz, ternyata hasil tidak pernah mengkhianati proses. Sebab, ada keasyikan tersendiri menumpang KA Matarmaja yang sejak Stasiun Senen sangat padat. Total, perjalanan menempuh waktu sekitar 17 jam yang dimulai pukul 15 sekian WIB hingga 08 sekian WIB.

Secara pribadi, ada perbedaan antara naik KA Matarmaja dibanding KA Argo Lawu ketika saya ke Yogyakarta, menjelang ramadan lalu. Saat itu, suasana di gerbong bisa dibilang relatif senyap. Sementara, dengan KA Matarmaja, lebih ramai yang disertai hilir-mudik penumpang. Intinya, kalau mau ngebolang, ya (mungkin) dengan kelas ekonomi untuk merasakan esensinya.

Pun, begitu ketika saya mencari penginapan di Malang. Saya beruntung menemukan hotel dengan harga kompetitif. Meski, saat itu ada sahabat yang menawarkan gratis untuk tinggal di hotel bintang tiga dekat pusat kota.

Tapi, dengan halus saya tolak. Sebab, tidak enak juga sudah merepotkan dirinya dan suami yang jauh-jauh datang dari Surabaya untuk reuni, eh malah ditawarkan menginap gratis. Oh ya, saya dan mereka sempat sama-sama ketika masih bekerja di pedalaman Sumatera pada dekade lalu.

Sudah satu pelita kami tidak bersua sejak saya kembali ke ibu kota pada 2010 silam. Sementara, mereka masih aktif dengan mengurus cabang di kawasan timur. Tak heran ketika awal September lalu saya kabari ingin ke Malang, mereka antusias menyambutnya. Termasuk, menyusuri eksotisnya kota berjulukan Zwitserland van Java pada malam hari.

*          *         *
BANYAK cerita dan foto yang ingin saya posting di blog ini. Tentu, tidak cukup hanya dengan satu artikel saja. Ke depannya, kalau sempat, bakal saya tulis catatan perjalanan akhir November lalu. Mulai dari Candi Jago, Air Terjun Coban Pelangi, Bromo, keliling Malang, hingga aneka kuliner.

Yupz, menyitir kalimat rekan blogger, "Hidup adalah pesta, dan harus dirayakan." Begitu juga dengan ngebolang yang harus dinikmati dari awal hingga akhir.

*          *         *
Stasiun Senen

*          *         *
Salah satu sudut persimpangan di ibu kota

*          *         *
Gunung Ciremai dari kejauhan

*          *         *
Stasiun Cirebon Prujakan

*          *         *
Ahli hisap memanfaatkan waktu sejenak pada setiap pemberhentian di stasiun

*          *         *
Stasiun Kediri 

*          *         *
Stasiun Pakisaji 

*          *         *
Perjalanan pulang jauh lebih sepi dibanding saat pergi

*          *         *
Stasiun Malang Kota Baru

*          *         *
Artikel Terkait:
- (Prolog)
- Candi Jago
- Air Terjun Coban Pelangi
- Bromo...
- Kawah Bromo
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
*          *         *
- Jakarta, 4 Desember 2016

Jumat, 02 Desember 2016

6 Misteri di Balik Sang Saka Merah Putih


Bendera merah putih selalu dikibarkan pada HUT Kemerdekaan 17 Agustus


Sebagai warga negara Indonesia, memang sudah seharusnya kita tahu mengenai bendera merah putih. Bahkan, setiap rumah diwajibkan memiliki minimal satu bendera yang akan dikibarkan jelang HUT Kemerdekaan setiap 17 Agustus.

Keberadaannya jadi simbol negara yang sangat penting. Aset berharga yang harus dilindungi. Warna putih menunjukkan kesucian. Sedangkan merah berarti keberanian.

Namun, tidak hanya Indonesia saja yang menggunakan dua warna tersebut sebagai simbol negara. Ternyata, Monako juga memakai merah-putih sebagai identitas negaranya. Berbeda dengan Polandia yang meski dwiwarna, tapi putih-merah.

Pengibaran bendera umumnya dilakukan pada hari-hari penting saja. Misal, HUT Kemerdekaan, peringatan Sumpah Pemuda, atau Hari Pahlawan. Namun, untuk instansi pendidikan seperti sekolah mulai dari SD hingga SMA, umumnya dilakukan setiap Senin dengan upacara terlebih dulu.

Begitu juga dengan instansi pemerintahan. Sehingga, tak menampik jika kebutuhannya juga lebih tinggi dibandingkan yang lain. Alias, harus punya lebih dari satu untuk mempermudah dalam penggunaan agar bisa sering berganti-ganti.

Sebaiknya, bagi Anda yang memiliki bendera merah putih ini di rumah, selalu dicuci dengan rutin dan dirawat. Meskipun, hanya digunakan sekali dalam setahun. Sebab, jika terlalu lama disimpan dalam almari justru akan merusak bahannya. Proses perawatannya sendiri sangat mudah karena cukup dengan mencuci secara teratur, setrika kemudian lipat, simpan dalam lemari dibarengi dengan kamper biar selalu wangi.

Yang menarik, simbol merah putih ini bukan hanya sekadar lambang negara saja. Melainkan, memiliki banyak sekali nilai. Tahukah Anda, bahwa bendera Indonesia ini juga menyimpan banyak misteri? Enam di antaranya sebagai berikut:

1. Bendera pertama dijahit dengan tangan. Jangan salah, jika sekarang ini Anda bisa menemukan produksi massal menggunakan mesin, dulu bendera tersebut dijahit hanya dengan benang dan jarum biasa. Prosesnya dilakukan sehari semalam oleh Ibu Negara Fatmawati saat itu. Ukuran aslinya, 276 x 200 cm.

2. Proses penjahitan dilakukan tengah malam. Semalam sebelum kemerdekaan memang banyak hal yang harus disiapkan. Tak hanya teks proklamasi saja, melainkan juga lambang negara ini. Fatmawati langsung menjahitnya setelah kedatangan Soekarno dari Rengasdengklok. Keduanya lalu mempersiapkan proklamasi yang akan dilakukan esok harinya.

3. Kain yang digunakan bukan katun, melainkan wol. Jika dilihat bendera yang umum digunakan sekarang terbuat dari bahan katun atau spandex, ternyata sejarah bendera pertama negara kita tidak begitu. Sang saka merah putih ini dijahit secara langsung dengan tangan menggunakan bahan kain wol, lebih tebal dan agak berat.

4. Bendera pertama hanya dikibarkan selama masa 32 tahun. Usia bendera ini sudah sangat lama, sama dengan perjalanan Indonesia. Hanya saja, setelah lewat 32 tahun, sang saka merah putih tidak digunakan lagi dan digantikan dengan bendera replika yang umum dijumpai sekarang.

5. Bendera asli sudah cacat karena termakan usia yang membuatnya harus disimpan. Itu karena kondisinya sudah tidak bagus lagi akibat memiliki beberapa robekan pada bagian ujung.

6. Sang saka merah putih ini termasuk lambang negara yang diatur Undang-Undang Dasar (UUD). Jika Anda membaca UUD, ada pada UU no 40 tahun 1958.

Nah, berdasarkan fakta tersebut, penting untuk mengenalkan sang saka merah putih sedini mungkin kepada keluarga kita. Khususnya, anak-anak yang masih masih kecil agar lebih mengerti lagi. Karena merah putih bukan sekadar warna saja, melainkan juga lambang bagi Indonesia sejak 1945 silam.

Bendera merah putih sekarang juga hadir dalam berbagai tampilan. Terutama hiasan-hiasan yang umum digunakan menjelang perayaan 17 Agustus.***
*        *        *
Sumber:
http://indonesia.go.id/?page_id=485&lang=id
http://www.setneg.go.id/images/stories/kepmen/uu24th2009.pdf

*        *        *
Artikel Terkait:
Cara Pintar Memilih Pakaian Pria yang Terbaik

- Jakarta, 2 Desember 2016