TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Blogger Reporter Indonesia (BRID)

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Blogger Reporter Indonesia (BRID). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger Reporter Indonesia (BRID). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juni 2017

Ramadan 1438 H/2017 M yang Penuh Kesan Bersama Berbagai Komunitas Blogger

Ramadan 1438 H/2017 M yang Berkesan Bersama Berbagai Komunitas

Untuk kali pertama dalam hidup saya bisa merasakan puasa di negeri orang,
tepatnya saat nonton final Liga Champions 2016/17 di Cardiff, 3 Juni lalu
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat foto lainnya)


TIDAK terasa, hari ini, Sabtu (24/6) kemungkinan -tergantung sidang istbat dari Kementerian Agama- merupakan puasa terakhir pada Ramadan 1438 hijriah. Ya, tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat.

Padahal, baru saja saya dan mungkin mayoritas muslim di Tanah Air bersuka cita menyambut datangnya Ramadan yang jatuh pada 27 Mei lalu. Namun, seiring waktu berjalan, tiba-tiba sudah mencapai hari terakhir (artikel sebelumnya: Jika Ini Ramadan Terakhir).

Banyak suka dan duka dalam 29 hari Ramadan ini. Saya bersyukur bisa kembali merasakan sahur dan berbuka bersama (bukber) keluarga dan orang terdekat. Termasuk, dengan beberapa rekan blogger ketika mengikuti acara terkait undangan komunitas.

Saya dan juga Anda semua, pembaca blog ini, tentu berharap bisa kembali bertemu pada Ramadan 1439 hijriah. Yupz, semoga saja niat baik itu dikabulkan-Nya... Amiin.

*       *       *
RAMADAN tahun ini saya mengawalinya di rumah sendiri. Yupz, tidak seperti 2016 ketika saya berada di Yogyakarta untuk meliput turnamen Pro League Futsal Indonesia atau dekade 2000-an saat berada di pedalaman Sumatera serta Kalimantan.

Puasa tahun ini saya sahur dan berbuka di rumah bersama keluarga. Yupz, ini jadi rutinitas yang membahagiakan mengingat kami bisa menunggu imsak dan beduk maghrib dengan berbarengan.

Hari kedua, saya berbuka dengan rekan-rekan blogger dari Komunitas Indonesia Social Blogpreneur (Komunitas ISB). Tepatnya, saat mengikuti acara yang diselenggarakan PT Citra Nusa Indah Cemerlang (CNI Indonesia) di Kuningan, Jakarta Selatan, pada 28 Maret lalu.

Bagi saya, suatu kehormatan bisa mengikuti acara yang diselenggarakan komunitas. Bisa dipahami mengingat sebagai blogger, saya memang dibesarkan berbagai komunitas. Tanpa bergabung dengan komunitas, sepertinya tidak akan ada blog ini yang saya bangun sejak 2009 silam.

Ya, Ramadan ini saya banyak mengikuti berbagai kegiatan offline maupun online bersama komunitas. Baik itu Komunitas ISB, Blogger Reporter Indonesia (BRId), Fun Blogging, BP Network, hingga IM3 Ooredoo Squad.

Tak heran jika Ramadan ini saya banyak mengikuti acara yang diselenggarakan mereka. Mulai dari Optimasi Youtube, BCA Indonesia Open 2017, Astra Indonesia, Bedah Novel Islah Cinta dari Dini Fitria, Seru-seruan bareng IM3 Ooredoo, hingga mengungkap sisi lain Blue Bird Group.

Berbagai bukber itu mewarnai Ramadan 2017 ini yang sangat berkesan bagi saya. Berkat bergabung dengan komunitas juga akhirnya saya bisa merasakan puasa di negeri orang! Tepatnya, ketika nonton final Liga Champions 2016/17 di Stadion Millennium, Cardiff, Wales, Britania Raya, pada 3 Juni lalu.

Itu setelah saya menyerap banyak pelajaran dan pengalaman dari berbagai rekan blogger di komunitas. Alhasil, saya bisa menjadi juara dua dari kompetisi yang diselenggarakan Nissan Motor Indonesia (NMI) dengan hadiah nonton langsung final Liga Champions di Cardiff!

*       *       *
DI kolong langit ini, tiada perjamuan yang tak berakhir. Demikian, adagium lawas yang saya ingat terkait suatu peristiwa. Ada pertemuan, sudah pasti (harus) ada perpisahan. Hari ini, Sabtu (24/6) merupakan tanggal 29 Ramadan hijriah.

Itu berarti, besok, Minggu (25/6), umat muslim di nusantara akan merayakan Idul Fitri. Tentu, banyak kekeliruan atau bahkan kesalahan yang saya buat, baik sengaja atau tidak sengaja.

Untuk itu, saya pribadi, Choirul Huda, sebagai blogger yang mengelola blog ini (www.roelly87.com) mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi Anda yang melaksanakannya. Mohon maaf lahir dan batin.

Terima kasih untuk kerja samanya selama ini. Semoga kebersamaan ini terus berlangsung sejak Syawal 1438 hijriah hingga sang waktu yang memisahkan... Aamiin!

*       *       *

Ramadan 2017 diawali bukber Komunitas ISB

*       *       *
Berkat gabung dengan komunitas, saya bisa memenangkan lomba prestisius
dari Nissan Motor Indonesia dengan hadiah terbang ke Cardiff!
(Foto: Budi Nur Mukmin)

*       *       *
Bukber blogger Astra Indonesia

*       *       *
Diskusi jelang BCA Indonesia Open 2017

*       *       *
Bedah Novel Islah Cinta bersama Dini Fitria

*       *       *
Seru-seruan dalam IM3 Ooredoo Social Media Squad

*       *       *
Mengungkap sisi lain dari Blue Bird Group

*       *       *
Bukber keluarga saat merayakan ulang tahun si bungsu

*       *       *

*       *       *
- Jakarta, 24 Juni 2017

Jumat, 09 Juni 2017

Pengalaman Perdana Ikut Bukber Astra


Foto bersama dengan rekan blogger saat bukber Astra
(Klik untuk memperbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


RAMADAN jadi ajang untuk lebih mendekatkan dengan sesama. Itu yang saya alami setiap tahunnya. Termasuk, ketika mengikuti buka bersama (bukber) dengan PT Astra International Tbk yang dihadiri segenap direksi dan eksekutif grupnya.

Tepatnya, di Scenic Resto, Sudirman Center, Jakarta Selatan, Selasa (6/6). Ini untuk kali perdana saya mengikuti bukber dengan Astra. Namun, untuk kegiatan offline maupun online, tentu sudah sering.

Teranyar, ketika salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air ini meluncurkan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2017 di Restoran Seribu Rasa, Jakarta Pusat, 20 Maret lalu.

Bahkan, saya mendapat kehormatan ketika masuk dalam daftar pemenang Anugerah Pewarta Astra (APA) 2016. Yupz, saya memang jadi saksi perjalanan dari setengah usia Astra yang pada 20 Februari lalu genap 60 tahun. Maklum, mereka memiliki tujuh pilar bisnis yang meliputi berbagai bidang usaha.

Itu meliputi:
- Otomotif
- Jasa keuangan
- Alat berat & pertambangan
- Agribisnis
- Infrastruktur, logistik & lainnya
- Teknologi Informasi
- Properti

Selain berbisnis, Astra juga berkontribusi kepada masyarakat Indonesia melalui sembilan yayasan yang kerap saya ulas di postingan sebelumnya:
- Yayasan Amaliah Astra
- Yayasan Insan Mulia Pama
- Yayasan Dharma Bhakti Astra
- Yayasan Toyota dan Astra
- Yayasan Karya Bhakti United Tractors
- Yayasan Astra Agro Lestari
- Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim
- Yayasan Astra Honda Motor
- Yayasan Astra Bina Ilmu

"Kami berterima kasih untuk kehadiran dari rekan-rekan wartawan dan blogger dalam buka puasa bersama ini. Kami berharap hubungan baik kita selama ini selalu terjaga," kata Head of Public Relations Astra Yulian Warman.

Blogger? Yupz, blogger! Astra menganggap blogger setara dengan media. Itu mengapa, selain mengundang berbagai rekan jurnalis untuk memberi sambutan, juga ada dari perwakilan blogger. Yaitu, Hazmi Fitriyasa yang merupakan founder dari komunitas Blogger Reporter Indonesia (BRId).

Ya, sebagai blogger, merupakan suatu kehormatan jika intensitas kami diakui Astra. Terlebih, untuk saya pribadi yang sejak Agustus 2016 kerap menghadiri berbagai acara Astra. Termasuk, pada akhir tahun lalu ketika ikut menanam pohon di Cianjur, Jawa Barat. 

Bahkan, saya mendapat undangan eksklusif saat Astra merayakan HUT ke-60 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 24 Februari lalu. Saat itu, saya dan beberapa rekan blogger bersanding dengan puluhan pesohor lainnya untuk larut dalam Konser Inspirasi 60 Tahun Astra.

Yupz, seperti yang dikatakan Yulian. Semoga dengan bukber ini kian merekatkan silaturahim di antara blogger, jurnalis, dan Astra.
*       *       *
Usai bedug magrib berkumandang...

*       *       *
Head of Public Relaticons Astra Yulian Warman 

*       *       *
Hazmi Fitriyasa founder dari Blogger Reporter Indonesia

*       *       *
Salah satu rekan jurnalis yang mendapat doorprize

*       *       *

Artikel Terkait SATU Indonesia Awards:
- Peringati HUT ke-60, Astra Kembali Selenggarakan SATU Indonesia Awards 2017
- Memetik Inspirasi Bersama Astra
- Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016

Artikel Grup Astra Sebelumnya:

*       *       * 
- Jakarta, 9 Juni 2017

Selasa, 06 Juni 2017

Nissan Motor Indonesia Wujudkan Impian Nonton Final Liga Champions


Saya di antara 65 ribu penonton final Liga Champions di Stadion Millennium
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya) 


"KOTA Roma tidak dibangun dengan semalam." Demikian, adagium lawas yang selalu terpatri dalam sanubari saya. Dalam arti, impian itu bisa terwujud dengan sungguh-sungguh. Tentu, dengan syarat, ada kemauan, kerja keras, mampu memanfaatkan peluang, dan faktor keberuntungan!

*          *          *

PAGI itu, 21 tahun silam, cuaca ibu kota tampak cerah. Saya yang masih bocah sudah berada di depan layar kaca dengan duduk manis usai mengenakan seragam sekolah. Menjelang berangkat, saya menyempatkan diri untuk melihat cuplikan selebrasi kemenangan Juventus atas Ajax Amsterdam di final Liga Champions. Tepatnya, berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, pada 22 Mei 1996.

Tampak, di layar kaca berulang kali menegaskan adegan Marcello Lippi diarak penggawa Juventus usai mempersembahkan trofi "Si Kuping Lebar". Itu merupakan gelar kedua I Bianconeri setelah pada 1985 yang berujung tragedi di Belgia.

Dalam tayangan lambat, terlihat Fabrizio Ravanelli, Gianluca Vialli, Antonio Conte, Didier Deschamps, dan skuat Juventus lainnya mengangkat trofi Liga Champions dengan ekspresi penuh haru. Tidak ketinggalan, Alessandro Del Piero yang sudah saya nantikan turut mengecup piala yang jadi lambang supremasi antarklub Eropa.

Adegan di tv itu hanya lima menit sebelum saya akhiri karena harus mengayuh sepeda ke sekolah. Namun, tayangan singkat itu sangat membekas dalam ingatan saya hingga dua dekade selanjutnya. Dalam hati, "Suatu saat, saya ingin menyaksikan penampilan Juventus di final Liga Champions secara langsung dari stadion!"

Sungguh, impian yang terlalu muluk-muluk bagi bocah yang masih berseragam putih-merah. Namun, sejak itu, saya selalu percaya, "Tetesan air hujan selalu bisa menghancurkan kerasnya batu karang."

*          *          *

28 MEI 1997, saya kembali duduk di layar tv pada pagi hari untuk menyaksikan cuplikan final Liga Champions. Kali ini, saya harus kecewa karena Juventus dikalahkan Borussia Dortmund di Olympiastadion, Muenchen. Satu gol Del Piero tidak cukup karena raksasa Jerman itu mencetak tiga gol.

20 Mei 1998, lagi-lagi saya kecewa. Pagi itu, Juventus kembali kalah, kali ini dari Real Madrid dengan skor tipis 0-1. Amsterdam Arena jadi saksi betapa buntunya strategi Lippi untuk membongkar pertahanan dari raksasa Spanyol tersebut.

Pun, dengan lima tahun setelahnya, di The Theatre of Dream, pada 28 Mei 2003. Juventus kalah adu penalti dari rival abadinya, AC Milan. Saat itu, saya rela bergadang untuk menyaksikan final yang berlangsung dini hari WIB meski paginya ada ujian.

Puncaknya, dua tahun lalu. Juventus melangkah mulus ke final untuk menantang Barcelona. Apa daya, Gianluigi Buffon dan kawan-kawan harus bertekuk lutut di stadion yang pada 2006 memberi trofi Piala Dunia keempat untuk Italia: Olympiastadion, Berlin.


*          *          *

LIMA kali sudah saya menyaksikan Juventus tampil di final melalui layar kaca. Asa untuk melihat langsung para pemain di stadion pada laga pamungkas tidak pernah pudar. Setiap ada kesempatan selalu saya ikuti dengan mengadu peruntungan seperti lomba blog, kontes, kuis, dan sebagainya yang diselenggarakan berbagai perusahaan sejak 2015. Sejauh itu, selalu buntu.

Tapi, mengibarkan bendera putih bukanlah cara saya. Pepatah mengatakan, "Selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar." Hingga, ketika saya melihat info pengumuman blog competition berhadiah nonton langsung ke Cardiff di laman instagram Nissan Motor Indonesia (NMI) @NissanID pada 23 Maret lalu.

Kebetulan, saya memang sudah lama mem-follow berbagai akun sosial media dari Nissan seperti facebook dan twitter. Langsung saja, saya membuat artikel berjudul Jemput Bola Jadi Andalan Nissan dalam Layanan Purna Jual kepada Konsumen.

Namun, sebagai blogger yang mengusung asas jurnalistik, terutama berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu merasa kurang hanya mengandalkan informasi di situs resmi Nissan. Alias, saya tergerak untuk terjun langsung demi mengulik lebih lanjut keunggulan Layanan Purna Jual dari Nissan.

Tepatnya, dengan mendatangi Nissan cabang Pantai Indah Kapuk pada 27 Maret lalu. Alhasil, jadilah artikel berjudul Lebih Dekat dengan Nissan Mobile Service.

Berusaha dan berjuang sudah yang dilanjutkan dengan ikhtiar, senjata selanjutnya tentu doa. Saya beruntung, impian saya sejak 21 tahun silam dikabulkan-Nya. Itu terjadi pada Rabu (19/4) dini hari WIB ketika saya bangun tidur untuk menyaksikan perempat final Liga Champions 2016/17 antara Madrid kontra Bayern Muenchen di layar tv.

Sambil membuka twitter di aplikasi smartphone, mata saya tertuju pada pengumuman dari akun Nissan Indonesia: Selamat utk 3 pemenang #UCLNissanID Blog Competition. Kirimkan (Nama, Alamat, Telp, Email, Scan KTP, Scan NPWP) Via Message FB @NissanID.

Seketika, jantung saya berdegup kencang. Persis seperti ketika menyatakan cinta kepada kekasih. Yupz, ternyata nama saya tertera sebagai salah satu pemenang Nissan Blog Competition! Itu berarti, sebentar lagi impian saya menyaksikan final Liga Champions bakal terwujud!


*          *          *

PENANTIAN panjang itu berakhir. Kamis (1/6) saya tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk bergabung dengan enam rekan lainnya yang sama-sama akan berangkat ke Cardiff. Yaitu, dua perwakilan NMI (Budi Nur Mukmin dan Joko Suyamto), Sudarwin, Herdiana, Faiz Dwi Aulia, dan Cika Mekasari untuk menumpang KLM Royal Dutch Airlines.

Kami tiba di Heathrow Airport, London pada Jumat (2/6) pagi waktu setempat. Selain menyaksikan final Liga Champions 2016/17 antara Juventus versus Madrid di Stadion Millennium (3/6), banyak kegiatan yang kami lalu dalam tiga hari berada di United Kingdom (UK) . Yupz, perjalanan tersebut merupakan lintasnegara karena harus singgah di Kuala Lumpur (Malaysia), Amsterdam (Belanda), London (Inggris), hingga Cardiff (Wales).

Berikut, berbagai foto yang saya dokumentasikan selama berada di UK. Seperti perjalanan wisata lainnya ke Palembang, Jakarta, Bromo, Bali, Yogyakarta, dan Manado, tentu akan banyak artikel yang akan saya posting di blog ini pada edisi selanjutnya.

Akhir kata, terima kasih Nissan Motor Indonesia yang telah mewujudkan impian saya untuk menyaksikan final Liga Champions, langsung dari Stadion Millennium serta berkesempatan ke Eropa.

Terima kasih juga saya haturkan untuk Hana Maharani selaku Head of Communications at Nissan Motor Indonesia, Budi Nur Mukmin (General Manager Marketing Strategy and Communication Division Nissan Motor Indonesia), Ivan Sumanta (Corporate Marketing Nissan Motor Indonesia, Yustien (Bounche Indonesia), Yoanna Dewi (JTB Indonesia), media tempat saya bekerja (Harian TopSkor/TopSkor.id), dan komunitas blogger yang banyak memberi inspirasi (Blogger Reporter Indonesia/ BRId dan Fun Blogging).***

*          *          *
Visa UK yang saya nantikan!

*          *          *
Setelah Schengen, bertambah lagi cap visa di paspor saya

*          *          *
Dari kiri ke kanan: Herdiana, Joko, Cika, Budi, Faiz, dan Sudarwin

*          *          *
Swafoto (Selfie) di atas KLM

*          *          *
Menyaksikan keramahan dari pramugari maskapai tertua di dunia

*          *          *
Untuk kali pertama saya baca The New York Times versi cetak di KLM
setelah selama ini dari edisi online

*          *          *
Terima kasih, Nissan Motor Indonesia!

*          *          *
Saya di dek kapal pesiar Magellan Cruise dengan latar pegunungan Wales

*          *          *
Saya di anjungan kapal pesiar Magellan Cruise

*          *          *
Berkat Nissan Motor Indonesia, akhirnya saya bisa menggenggam selembar
kertas impian ini

*          *          *
Selfie dengan latar Stadion Millennium, Cardiff, Wales

*          *          *
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya

*          *          *
Jadi saksi bersejarah dari final Liga Champions 2016/17

*          *          *
Kembali ke Tanah Air setelah tiga hari yang menyenangkan minus Budi
yang masih bertugas di London

*          *          *
Halaman #RoadToCardiff
- Tentang Juventus dan Liga Champions

Artikel Tentang Juventus
- Wawancara Eksklusif: Claudio Marchisio
- Wawancara Eksklusif: Giorgio Chiellini
- Wawancara Eksklusif: Andrea Pirlo
- Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati
- (Kilas Balik) Juventus Tur di Indonesia 2014

Foto-foto Legenda Juventus
- Fabio Cannavaro, Edgar Davids, dan Gianluca Zambrotta
- Fabio Cannavaro, David Trezeguet, dan Edgar Davids

*          *          *
- Jakarta, 6 Juni 2017

Sabtu, 28 Januari 2017

Kejarlah Angpao hingga ke CitraRaya


Foto bersama blogger dan perwakilan CitraRaya, Caca Casriwan dan Mahmud Yunus

KEJARLAH angpao hingga ke CitraRaya. Demikian, cuitan saya di twitter pagi tadi. Tepatnya, saat berkunjung ke CitraRaya Tangerang, Sabtu (28/1) yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2568. Ini kali kedua saya menyambangi perumahan yang dikelola Ciputra Group tesebut setelah 21 Mei 2016 lalu.

Membicarakan CitraRaya tentu berkaitan dengan fasilitasnya yang melimpah. Maklum, CitraRaya merupakan The Largest Township Development dari Ciputra Group dengan luas area pengembangan mencapai 2.760 hektar (ha).

Sejak dikembangkan pada 1997, CitraRaya kini jadi rumah bagi lebih dari 65 ribu jiwa. Sekaligus, menjelma sebagai business center-nya kota Tangerang. Apalagi, CitraRaya telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas skala kota mandiri yang lebih modern.

Salah satunya, Ecopolis CitraRaya yang merupakan kawasan premium yang dikembangkan Ciputra Group bekerja sama dengan Mitsui Fudosan. Dengan luas 100 hektar, Ecopolis telah berubah jadi kawasan central business district di CitraRaya.

Terlebih, lokasinya yang dikelilingi berbagai fasilitas modern membuat Ecopolis mampu menjawab berbagai keuntungan dalam berinvestasi. Demikian dengan deretan cluster premiumnya seperti The Leaf, Belle Fleur, Aurora, dan Fresco. Ecopolis juga jadi bagian dari Superblok yang di dalamnya terdapat pusat belanja dan lifestyle serta apartemen.

Termasuk, EcoPlaza yang dibangun sejak Maret 2014 dan kini telah beroperasi. Area seluas 2,5 hektar itu terbukti jadi magnet bagi tenant-tenant ternama untuk mengembangkan bisnisnya di CitraRaya Tangerang.

"EcoPlaza didedikasikan sebagai pusat lifestyle bagi warga CitraRaya dan sekitarnya," kata Caca Casriwan, perwakilan dari CitraRaya yang kembali jadi pemandu kami untuk berkeliling superblok tersebut bersama rekannya, Mahmud Yunus.

Saat itu, kami berkeliling menyusuri berbagai sudut di EcoPlaza yang telah jadi rumah bagi tenant besar nasional dan internasional. Mulai dari Farmers Market, Fun World, Boston Health & Beuaty, Batik Keris, Pojok Busana, Solaria, Maxx Coffee, Baskin Robbins, Daily Fresh, O'Crepes, Waffelicious, Potato Corner, dan masih banyak lagi yang bergabung.

Termasuk, restoran HolaHola dengan menu spesial Iga Bakar yang kami cicipi dan CGV Cinemas ketika menyaksikan Resident Evil: Final Chapter.

Dalam pembangunannya, EcoPlaza menyediakan ruang ritel seluas 13 ribu meter persegi. Pusat gaya hidup ini mengkombinasikan EcoClub seluas 1.200 meter persegi, dan area untuk supermarket, peritel makanan, hiburan, hobi, dan sebagainya.

Dengan berbagai kelengkapan dari Ecopolis dan EcoPlaza, tak heran membuat CitraRaya jadi kawasan hunian terpadu yang sangat berkembang di Tangerang. Sekaligus, jadi destinasi investasi terbaik di barat ibu kota.

Teranyar, CitraRaya resmi memperkenalkan ECOHome yang merupakan apartemen pertama di Ecopolis. Yakni, kawasan superblok seluas 10 hektar yang terintegrasi dengan EcoPlaza dan sudah melakukan grand opening pada 21 Oktober lalu.

Berdasarkan pengamatan saya, apartemen ini cocok bagi keluarga muda. Akses yang mudah karena banyak tersedia transportasi umum dari dan menuju Jakarta, jadi keunggulan bagi ECOHome di CitraRaya.

Tak heran, jika saya dan mayoritas rekan blogger lainnya terpikat untuk berinvestasi. Ya, siapa sih yang tidak ingin memiliki rumah di kawasan terpadu dengan fasilitas lengkap?

Terlebih, saat ini di Citra Raya sudah ada 24.500 unit perumahan dan komersial. Pesatnya perkembangan populasi itu dibarengi dengan penambahan fasilitas skala kota mandiri. Misalnya, Pasar Modern, City market, Auto Center, Sekolah, Universitas, Rumah Ibadah, Sports Club, Family Club, Hotel, Trans Feeder Busway, dan wahana hiburan keluarga. Untuk penunjang kebutuhan transaksi, tersebar ATM Center di berbagai titik strategis CitraRaya.

Kawasan kota mandiri ini juga dilengkapi pusat kuliner seperti CitraRaya Food Festival (Fiffest) dan MardiGrass. Untuk yang terakhir, jadi surganya kuliner karena dilengkapi live music area dengan tersedianya lahan parkir yang mampu menampung ribuan kendaraan.

Ah, dengan berbagai kelengkapannya itu membuat saya dan rekan blogger lainnya kian terpesona dengan daya pikat CitraRaya. Ya, tahun lalu dan tadi, kami hanya sekadar berkeliling ke berbagai sudut perumahan tersebut. Namun, tidak menutup kemungkinan pada tahun berikutnya, kami akan jadi bagian dari warga CitraRaya.

Ya, ke CitraRaya, kami kan kembali dengan sejumlah impian yang berusaha untuk diwujudkan.***

*       *       *
Selpiiiiih (1)

*       *       *
EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
Berbagai tenant di EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
Salah satu merek internasional yang tampil di film Ant-Man

*       *       *
Farmers Market di EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
Penunjuk lokasi dan tenant di EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
Wahana bermain anak, Fun World di EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
Rekan-rekan blogger merasakan Apartemen ECOHome

*       *       *
Diskusi bareng blogger dan perwakilan CitraRaya Tangerang

*       *       *
Selpiiiiih (2)

*       *       *
Restoran HolaHola di EcoPlaza CitraRaya

*       *       *
Selpiiiiihh (3)

*       *       *
Salah satu menu andalan di Restoran HolaHola: Iga Bakar Cabe Hijau

*       *       *
Rekan-rekan blogger mendapatkan doorprize

*       *       *
Pemenang writing competition Citra Maja Raya (Foto: Ono Sembunglango) 

*       *       *
Saya menerima piagam dari Caca Casriwan (Foto: Ono Sembunglango)

*       *       *

Artikel Sebelumnya:
- 5 Alasan Harus Memiliki Rumah di Citra Maja Raya
- Mengintip Fasilitas CitraRaya Tangerang sebagai Hunian Masa Depan


*       *       *
- Jakarta, 28 Januari 2017

Sabtu, 02 April 2016

(Esai Foto) Semarak Wayang Pesona Indonesia 2016





LANGIT di atas kawasan Senayan sore itu, Sabtu (26/3) begitu cerah. Tidak tersisa, badai yang menghampiri pada malam harinya. Ketika sedang asyik menikmati segelas kopi panas di salah satu sektor Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), notifikasi di ponsel saya berbunyi. Saat melirik, ternyata ada kiriman whatsapp dari rekan blogger yang bekerja di salah satu media.

"Rul, udah dateng ke Parkit?"

"Ga."

"Tumben."

"Emang ada apaan di sana?"

"Kemenpar kan gelar Semarak Wayang. Ada pak Arief juga."

"Oo... Kapan?"

"Sekarang, sampe tengah malam. Kalo sempet lo mampir aja. Gw lagi otw."

"Sip mbak, makasih infonya. Ane ke sana sekarang."
*        *        *

Sambil menghabiskan teguk terakhir kopi tersebut, saya pun melirik jam di ponsel saya. Ternyata, masih ada satu jam sebelum melanjutkan rutinitas pekerjaan. Alhasil, saya berjalan menuju Parkit (Parkir Timur) yang masih satu lokasi di Kompleks GBK. Dari kejauhan, terlihat umbul-umbul dan banner Semarak Wayang Pesona Indonesia berdiri dengan gagah. 
*        *        *

Tampak, beberapa pedagang menggelar dagangannya secara emperan. Ada topi, stiker, dan segala sesuatu mengenai wayang.
*        *        *

"Sering-sering aja deh pak Arief menanggap wayang biar dapur kita tetep ngebul," kata salah satu pedagang saat berbincang dengan saya.
*        *        *



Sesampai di lokasi, tak lupa saya mengisi daftar hadir terlebih dulu.

"Mas dari mana?"

"Blogger, bu."

"Dari komunitas mananya mas?"

"BRId, bu. Blogger Reporter Indonesia."

"Di sini saja isi di list media."

"Ga apa-apa. Saya isi absensinya umum aja."

"Ok deh mas. Ini run-down acara kita. Kaosnya keren mas."

"Terima kasih ya bu."
*        *        *



Saat itu ada dua lembar kertas daftar hadir, media dan umum. Karena saya hadir sebagai masyarakat biasa sekaligus pencinta wayang, tentu saya mengisi absensi pada list umum dengan menulis dari komunitas BRId. Ternyata, saat saya mengaku sebagai blogger mendapat apresiasi dari panitia yang tak kalah dibanding media. 

Seketika, saya jadi teringat dengan salah satu komunitas yang saya ikuti, Tau dari Blogger (TDB) yang sering bekerja sama dengan Pesona Indonesia yang merupakan program dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Kolaborasi mereka bisa dilihat pada artikel saya sebelumnya (Yuk, Hadiri Sarasehan TDB #2).
*        *        *

"Pak Arief-nya belum hadir mas. Beliau nanti beri sambutan sekitar jam tujuh. Kalau mas ingin sesuatu bisa minta sama kami di sini," tutur salah satu panitia menyebut kehadiran Arief Yahya yang menjabat sebagai Menteri Pariwisata Indonesia pada Kabinet Kerja 2014-2019.

Setelah mengucapkan terima kasih atas keramahan mereka, saya pun berkeliling sejenak. Tampak, beberapa kru sedang mempersiapkan segala sesuatunya di atas panggung. Oh ya, ternyata acaranya sudah dimulai sejak pagi pukul 08.00 WIB dengan menampilkan empat pertunjukkan. Wayang Golek Banten, Wayang Ajen, Wayang Golek Indramayu, dan Wayang Kulit Tuton, Serta, ada beberapa workshop pengenalan wayang kepada masyarakat luas.
*        *        *

"Ini wayang golek, nak."

"Lucu ya ma, bisa digerakkin tangannya."

Demikian percakapan antara seorang ibu dengan anaknya yang berusia (kalau tidak salah tebak) sekitar 5-7 tahunan itu menarik perhatian saya. Senang rasanya melihat antusiasme anak kecil yang menyukai wayang. Kebetulan, saya juga sejak kecil merupakan penggemar wayang. 

Meski tidak mengerti bahasa Jawa dan Sunda, itu bukan halangan bagi saya. Toh, saya tetap bisa menikmati pertunjukkan wayang yang merupakan kebudayaan asli nusantara. Baik menontonnya secara langsung, di televisi, radio, hingga terkini di youtube. 
*        *        *

Saat melirik ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Itu berarti, saya harus kembali ke kantor untuk melanjutkan rutinitas sehari-hari. Ketika itu, masyarakat mulai berdatangan dengan mayoritas anak sekolah.
*        *        *

Setelah menyelesaikan pekerjaan, pukul 21.30 WIB saya kembali menuju Parkit. Ternyata, pihak Kemenpar yang diwakili Arief sudah pulang usai memberi sambutan. Begitu juga dengan Mumus Muslim (Sekretaris Deputi Pengembangan Pariwisata Nusantara Kemenpar),
*        *        *

Dibanding sore, suasana pada malam hari lebih semarak. Begitu juga dengan para pedagang yang banyak menggelar dagangannya. Kali ini tidak hanya mengenai pernak-pernik wayang saja, melainkan juga aneka makanan dan minuman.
*        *        *

Saat saya tiba, pertunjukkan Wayang Ajen baru berlangsung. Tahun ini merupakan kali pertama saya kembali melihat pementasan wayang. Terakhir kali saya menontonnya di Kota Tua, Jakarta Barat, 29 November lalu yaitu wayang kulit. Sebelumnya saya sempat melihat wayang orang di Gedung Bharata, pada 13 Juni 2015 dengan lakon "Kresna Gugah".
*        *        *

Wayang Ajen merupakan bentuk pertunjukkan kreatif dari wayang golek khas Sunda. Saat itu Dr. Wawan Gunawan jadi dalangnya dengan memanfaatkan kolabroasi berbagai media seni yang kreatif. Jadi tak heran jika dalam berbagai sesi, terdapat beberapa tokoh nyata yang dimasukkan sebagai figuran bersama Si Cepot dan Petruk untuk membahas permasalahan yang ada di negeri ini.

Mulai dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan kemeja putihnya yang khas, Bob Marley, hingga artis dangdut! Semua itu dibawakan secara teatrikal oleh satu-satunya dalang di Indonesia yang memiliki gelar S3 ini.
*        *        *

Sebagai pencinta wayang, tentu saya senang dengan ini program yang diselenggarakan Kemenpar ini. Lantaran selain mengenalkan wayang secara luas kepada masyarakat umum, khususnya pelajar dan ramaja. Melainkan karena Semarak Wayang Pesona Indonesia ini bisa menarik perhatian wisatawan luar negeri (wisman) untuk berkunjung ke Indonesia yang tidak hanya memiliki keindahan saja. 

Tapi juga mempunyai keanekaragaman budaya dari Sabang hingga Merauke. Salah satunya, wayang yang diakui UNESCO yang telah saya bahas dalam artikel sebelumnya pada 8 November 2015 (Selamat Hari Wayang Nasional)

*        *        *

Setelah dua jam menyaksikan wayang golek dari Wayang Ajen, saya pun melipir sejenak ke luar panggung untuk mencari makan. Beruntung, ada yang jual nasi kucing dan tempe mendoan.

"Kalau pedagang di sini, mayoritas ikut paguyuban. Jika tidak ada acara wayang, biasanya kami jualan di Lebak Bulus. Jadi, ya berharap sering-sering aja ada pertunjukkan wayang," penjual tersebut menuturkan.
*        *        *

Setelah mencari informasi dengan berkeliling ke pelosok panggung, ternyata Semarak Wayang Pesona Indonesia 2016 ini diselenggarakan PT Visi Inti Prima/Inke Maris & Associates. Yaitu, perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi trategis, professional conference organizer dan events management.

"Perkembangan seni budaya yang dipadukan dengan teknologi memiliki peran besar yang memungkinkan sebuah pertunjukkan wayang disajikan secara spektakuler, sehingga budaya tradisional dapat dikemas dengan penyajian modern," kata Inke Maris yang sebelumnya pernah jadi penyiar BBC London dan TVRI. 
*        *        *

Ketika sedang mengunggah foto Semarak Wayang Pesona Indonesia 2016 di facebook dan instagram, muncul notifikasi dari rekan blogger Inge. Wanita yang kini menetap di London itu memberi tahu saya jika saat itu ada sesama blogger, Helmi Budiprasetio sedang siaran streaming di wayangshow.com. 

Sebagai pencinta wayang, tentu saya tidak asing dengan keduanya. Meski tinggal di luar negeri, Inge selalu menyimak segala informasi mengenai budaya Indonesia, termasuk wayang. Begitu juga dengan Helmi yang saya temui di balik panggung. Sejak 2011, saya kerap bertemu dengan pria yang akrab disapa Babeh Helmi ini dalam berbagai pertunjukkan wayang.

*        *        *

DEWI rembulan di atas Kompleks GBK seperti melambaikan tangannya dengan condong ke arah barat. Itu berarti, saya harus benar-benar meninggalkan acara mengingat mata sudah lima watt meski pertunjukkan wayang kulit Tuton Jawa sudah berlangsung seperempatnya. Sambil menyusuri jalan yang mulai sepi, saya menuju tempat parkir untuk memacu sepeda motor.
*        *        * *        *        *

Video Wayang Ajen dalam Semarak Wayang Pesona Indonesia 2016
*        *        * *        *        *
Artikel tentang Wayang:
- Selamat Hari Wayang Nasional
- Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
- Yuk, Meriahkan Karnaval Wayang Dunia
- Antara Hammer Girl, Palu, dan Senjata Unik dalam Film Lainnya
- Rahasia Ki Manteb Soedharsono saat Mendalang
- Menelusuri Warisan Budaya di Museum Wayang
- Menelusuri Warisan Budaya di Museum Wayang II
- E-Wayang: Solusi Mengenalkan Wayang pada Generasi Muda
- Resensi Tembang Cinta Para Dewi dari Dunia Wayang
- Mengenang RA Kosasih: Inspirasi Komikus Indonesia
- Komik, Kenangan Jadul yang Tak Terlupakan
- Riwayat Panjang Mainan dari Masa Kecil
- Wayang: Seni Budaya dan Imajinasi Anak yang Terlupakan


Heptalogy tentang Sinta:
- Inikah yang Namanya Sinta?
- Sinta Kan Membawamu Kembali
- Lagi Apa dengan Sinta? 
- Aku, Sinta, Kau, dan Dia
- Sinta Ini Membunuhku 

Spin-off:
- Kenapa Harus Kumbakarna yang Gugur?
- Anoman Duta yang Tak Dianggap
- Menggugat Sri Rama
- Hilangnya Mahkota Arjuna Sasrabahu

Artikel Fiksi Wayang Selanjutnya:
- Karna Tanding, Arjuna Tak Sebanding
- Palguna Palgunadi, Istrimu (Harus) Jadi Istriku
- Sembadra Larung: Kisah Cinta dalam Hati
- Sisi Lain Duryudana: Raja Lalim yang Setia pada Satu Istri

Artikel Fiksi Wayang Sebelumnya:
- Lelakon ala Astina-Istana
- Time Travel dalam Cerita Silat
- Jatuh Cinta pada Gadis Bernisial A 
- Invasi Tokoh Komik ke Dunia Wayang
- Seri Wayang I: Tiwikrama Sri Kresna yang Menggemparkan Alam Semesta
- Seri Wayang II: Wisanggeni Menggugat Dewata
- Seri Wayang II: Wisanggeni Menggemparkan Khayangan
- Seri Wayang II: Wisanggeni Membunuh Batara Kala
- Seri Wayang II: Wisanggeni Bertempur Melawan Seluruh Dewata
  
*        *        *
- Jakarta, 2 April  2016