TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Horor di Jembatan Penyeberangan Kalideres

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 22 Juli 2015

Horor di Jembatan Penyeberangan Kalideres


Melihat sekilas saja sudah membuat saya merinding (sumber foto: dokumentasi pribadi/ @roelly87)


GEMA takbir terdengar merdu sore itu, Kamis, (16/7). Meski Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah baru akan ditentukan selepas maghrib, namun di sekitar kawasan Kalideres, Jakarta Barat, sudah berkumpul remaja dan anak kecil yang memukul bedug. Tak lupa, alunan takbir juga terdengar melalui rekaman kaset atau vcd dari rumah penduduk.

Saat itu, saya kebetulan sedang berada di kawasan Kalideres, untuk mengambil kiriman paket. Berbekal google maps yang terpasang di telepon seluler (ponsel), saya pun mencoba mencari jalan pintas dari Jalan Kamal Raya menuju Kebon Mede. Apa mau di kata, sebagaimana buatan manusia lainnya, aplikasi populer ini pun tak lepas dari kesalahan.

Lantaran, menurut Global Positioning System (GPS) di google maps, dari Kamal Raya ke Kebon Mede tinggal lurus melewati Jalan Kebon 200 dan menembus Jalan Tol Profesor Sedyatmo (Bandara). Namun, ketika persis di pinggir jalan tol, ternyata buntu. Untuk bisa melintasinya sesuai petunjuk google maps, saya harus melewati Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang terlihat sangat horor.

Sambil berpikir sejenak, karena saya kembali di-PHP google maps lantaran di layar ponsel saya terdapat jalan tembus yang ternyata hanya JPO. Tentu saja, sesuai namanya, JPO itu ditujukan khusus bagi orang dan bukan kendaraan, seperti sepeda motor yang saya pakai. Tapi, setelah saya perhatikan dengan seksama, ternyata banyak juga sepeda motor yang melintasi JPO itu.

Saya  pun sempat tergoda untuk kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki sepeda motor seperti yang dilakukan beberapa pengendara lainnya. Hanya, saat itu, saya masih bisa berpikir lebih lanjut. Sebab, untuk melewati JPO itu kondisinya sangat curam. Memang sih, beberapa pengendara yang lewat saya perhatikan tetap nyaman melewati jembatan penyeberangan tersebut.

Namun, setelah berhitung lebih lanjut, akhirnya saya lebih memilih memarkirkan sepeda motor saya di dekat mini market sekitar. Kebetulan, rumah teman yang saya tuju untuk mengambil paket tidak jauh dari JPO. Sebenarnya, bisa saja saya tetap melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor untuk melewati jembatan penyeberangan itu.

Hanya, melihat tanjakannya saja sudah membuat saya agak ragu, terutama saat turunan yang begitu curam. Apalagi, saya khawatir jika kurang keseimbangan saat naik dan turun dengan sepeda motor membuat saya jatuh. Yang ada, niatnya ingin tidak capek -karena jalan kaki- malah membuat saya tidak bisa berlebaran karena berujung di rumah sakit.

*      *      *

Beberapa hari kemudian, saya sempat membaca berita di Viva.co.id, mengenai kecelakaan beberapa pengendara sepeda motor yang melintasi JPO. Yang menjadi pertanyaan, kenapa pemerintah DKI Jakarta masih membiarkan JPO untuk dilewati sepeda motor. Padahal, setahu saya, JPO itu seharusnya hanya untuk dilewati orang saja.

Meski, ada saja pengendara yang bandel atau nekat -saya nyaris seperti itu- dengan alasan mempersingkat perjalanan dan waktu (Kompas.com). Padahal, jika terjadi sesuatu seperti kecelakaan akibat licin atau kurang keseimbangan, tentu merugikan si pengendara sendiri. Namun, ini juga -setahu saya- karena tidak ada aturan tertulis dari pemerintah, Dinas Perhubungan, dan Kepolisian mengenai JPO khusus untuk orang.

Mengutip info dari laman HukumOnline, mengenai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, secara tersirat, disebutkan JPO memang khusus untuk dilewati orang. Alias, pengendara sepeda motor tentu tidak boleh melintasinya. Di sisi lain, jamaknya segala sesuatu di Indonesia ini, ya peraturan dibuat untuk dilanggar.

Kalau sudah terjadi kecelakaan, tentu yang dirugikan pengendara motor itu sendiri meski memang salah dengan dalih enggan jauh untuk memutar jalan. Namun, alangkah baiknya jika pemerintah dan pihak terkait yang memiliki kewenangan, tidak menutup mata begitu saja. Sebab, bagaimana jika ada keluarga atau kerabat dari mereka yang nekat melintasi JPO dan berujung kecelakaan?***

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 1993 TENTANG
PRASARANA DAN LALU LINTAS JALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 

Bagian Ketujuh
Fasilitas Pendukung
Pasal 39
(1) Fasilitas pendukung meliputi fasilitas pejalan kaki, parkir pada
badan jalan, halte, tempat
istirahat, dan penerangan jalan.
(2) Fasilitas pejalan kaki sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), terdiri dari:
a. trotoar;
b. tempat penyeberangan yang dinyatakan dengan marka jalan dan atau rambu-rambu;
c. jembatan penyeberangan;

Bagian ketiga
Berhenti dan Parkir
Pasal 66
(1) Setiap jalan dapat dipergunakan sebagai tempat berhenti atau
parkir apabila tidak dilarang
oleh rambu-rambu atau marka atau tanda-tanda lain atau di
tempat-tempat tertentu.
(2) Tempat-tempat tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yaitu:
a. sekitar tempat penyeberangan pejalan kaki, atau tempat
penyeberangan sepeda yang
telah ditentukan;
b. pada jalur khusus pejalan kaki;
c. pada tikungan tertentu;
d. di atas jembatan;
e. pada tempat yang mendekati perlintasan sebidang dan persimpangan;
f. di muka pintu keluar masuk pekarangan;
g. pada tempat yang dapat menutupi rambu-rambu atau alat pemberi
isyarat lalu lintas;
h. berdekatan dengan keran pemadam kebakaran atau sumber air sejenis.

Peraturan Daerah Propinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (“Perda DKI Jakarta 8/2007”)

- Berdagang, berusaha di bagian jalan/trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang dan tempat-tempat untuk kepentingan umum (Pasal 25 ayat (2));
- Membeli barang dagangan pedagang kaki lima pedagang yang berusaha di bagian jalan/trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang dan tempat-tempat untuk kepentingan umum (Pasal 25 ayat (3));
- Menggunakan jasa kendaraan bermotor/tidak bermotor yang tanpa seizin Gubernur digunakan sebagai sarana angkutan umum (Pasal 29 ayat (3)).

*      *      *
Saya tidak bisa membayangkan jika kurang keseimbangan... (@roelly87)

*      *      *
Sekeluarga (suami, istri, dan balita) yang melintasi JPO (@roelly87)

*      *      *
Pemandangan dari atas JPO (@roelly87)

*      *      *
Lokasi JPO di peta via Google Maps (@roelly87)

*      *      *
Referensi: HukumOnline.com, Kompas.com, Viva.co.id, PoskotaNews.com, Merdeka.com

Artikel terkait:
- GPS: Petunjuk Arah atau Menyesatkan di Jalan?
- Menelusuri "Lorong Waktu" di Masjid Raya Baitussalam
- Mengunjungi Masjid Hidayatullah yang Bersejarah dan Dikelilingi Gedung Bertingkat
- Tujuh Tempat Nongkrong Asyik di Jakarta
- Tujuh Taman Asyik di Jakarta yang Layak Dikunjungi
- Menikmati Eksotisnya Candra Naya yang Tersembunyi
- Resensi Buku Jelajah Negeri Sendiri: Bertualang ala Reporter Warga
- Apakah Jakarta Layak Dibenci?
- Alasan Cinta Jakarta
*      *      *

- Cikini, 22 Juli 2015

26 komentar:

  1. Bener-bener horor, tanjakannya serem gitu, masih ada yang nekat naik motor yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, bahkan saya lihat sekeluarga (suami-istri dan balita)
      padahal, ngeri juga kalo kenapa2...

      Hapus
    2. What.... ada yang boncengan juga. hiiiiii.... kasihan balitanya kalo kenapa2...

      Hapus
    3. iya mas, banyak sih ga hanya balita aja, remaja yang baru belajar motor (kalo ga salah) pada lewat jembatan di sana...

      Hapus
  2. oo saya kirain horror yg ada setan setan nya gitu..
    tapi emang sangat ekstrim sekali dan mungkin itu salah satu 'keunikan' dari kota Jakarta..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan mas :)
      tapi ini, kalo jatuh mah bisa lebih serem daripada ketemu makhluk halus...

      Hapus
  3. aku kira horor itu semacam ada si manis JPO :p

    *kebanyakan nonton sinetron

    BalasHapus
    Balasan
    1. si manis jembatan ancol?
      he he he

      jadi ingat diah permata sari :)

      Hapus
  4. Duh... tanjakannya benar-benar curam, bagaimana tidak horor kalau seperti itu adanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, ternyata bukan hanya di kalideres aja, tapi juga cengkareng dan beberapa wilayah di jakarta...

      Hapus
  5. Serem banget!
    Keputusan yg baik mengurungkan gak menaiki JPO itu. Mau curam ataupun tidak, JPO memang bukan untuk jalan kendaraan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bu, sempet "tergoda" sih, kebetulan tempat teman ga jauh dari jpo itu, tapi akhirnya ga jadi khawatir kenapa2...

      Hapus
  6. beberapa JPO terutama di tanjungpriok dipasangkan palang untuk memastikan sepeda motor tidak dapat naik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mas, harusnya seperti itu
      buat antisipasi kalao terjadi apa2 kan berabe...

      Hapus
  7. Setahuku daerah Kalideres situ emang sering banget ada motor yang nyebrang lewat JPO. Dan masyarakat kayak sudah terbiasa. Bahkan mereka suka klakson kalau ada orang yang jalan pelan. Kan nyebelin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Bahkan mereka suka klakson kalau ada orang yang jalan pelan"
      he he he, berarti dunia udah kebalik ya mbak :)
      seharusnya pan jpo itu untuk orang...

      Hapus
  8. Hiiiih...ngeriii. Mestinya langsung ditindak sama yang berwenang ya. Biar kapok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mas...
      ntar, jangan sampe kalo udah terjadi sesuatu baru rame
      kan ironis

      Hapus
  9. Nggg... duluuuuu, aku pernah melakukan kehororan ini. Zaman adrenalin masih tinggi-tingginya. Hahaha ... sekarang baru terasa, itu tuh hal bodoh banget. Jangan pernah melakukan lagi, deg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Zaman adrenalin masih tinggi-tingginya"

      ebuset, serius mbak?
      saya aja yang masih muda (he he he) serem liat tanjakan apalagi turunan, takut ga seimbang jatoh deh...

      Hapus
  10. Kirain horor karena suka ada kuntilanak lagi nyisir atau tuyul lagi benerin celana kalau lewat jembatan itu. Eh, ternyata horor yang lain hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga horor kok lu2, kan ada saya yang bakal jagain :)
      pasti aman kok

      #eaaaa #modus

      Hapus
  11. UDah tau jembatan pejalan kaki kenapa motor ikut menbrang disana juga ya. Padahal bahay banget ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mbak
      kurang peraturan dari pihak terkait
      jadi yang begitu...

      Hapus
  12. yang jadi pertanyaan, kenapa ditengah-tengah tangga itu seperti sengaja dibuat jalan buat motor yah mas?
    Itu kayanya ngga mungkin deh kalau aparat setempat ngga tau, ya kan? -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu yang saya juga belom tahu pasti
      entah itu buat alternatif atau apa
      ntar coba saya telusuri :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)