TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: trip ke bromo

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label trip ke bromo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trip ke bromo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 April 2017

Pesona Pasir Berbisik di Bromo


Saya bersama anak-anak dari Suku Tengger
(Klik dan geser untuk perbesar seluruh foto dalam artikel ini)

MENGUNJUNGI kawasan Bromo dan sekitarnya yang termasuk dalam lingkup Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, bagi saya tidak hanya sekadar menikmati keindahan alamnya saja. Melainkan juga harus mengenal lebih jauh tentang budaya setempat terkait kearifan adat istiadatnya.

Itu yang saya lakukan saat bertualang di Bromo pada akhir November 2016. Selain mengeksplorasi panorama eksotis yang terdiri dari gunung, lembah, ngarai, hutan, air terjun, lautan pasir, hingga sabana, kebetulan saya juga sempat berbincang dengan penduduk asli setempat (Artikel sebelumnya http://www.roelly87.com/2017/01/ke-bromo-aku-kan-kembali.html).

Ya, di kawasan Bromo terdapat pemukiman dari suku Tengger. Menurut sensus penduduk pada 2010, suku Tengger merupakan sub dari suku Jawa (1). Hingga artikel ini dimuat, tidak diketahui berapa jumlah penduduk asli suku Tengger.

Namun, menurut Antara (2), pada 2010 di desa Argosari ada 3.372 orang atau 870 kepala keluarga (KK). Itu baru satu desa, alias belum diketahui jumlah seluruhnya dari suku Tengger yang mendiami puluhan desa di kawasan Bromo dan sekitarnya.

Bagi saya, berinteraksi dengan suku asli di beberapa daerah di nusantara ini sangat menarik. Kebetulan, setiap mengunjungi berbagai daerah baik itu dalam rangka tugas atau travelling, saya memang kerap mencoba untuk mencari tahu segala sesuatu tentang mereka (Artikel sebelumnya http://www.roelly87.com/2017/01/yuk-tandai-provinsi-di-indonesia.html)

Selain menambah wawasan tentang aneka suku, juga dapat memberi ilham tersendiri. Itu sudah saya lakukan sejak berseragam putih abu-abu di pedalaman Baduy dalam rangka liburan sekolah. Puncaknya, saat menjelajah bumi Borneo pada lebih dari sedekade silam.

Kebetulan, interaksi itu berkaitan dengan pekerjaan saya di kawasan pertambangan. Jadi, nyaris setiap harinya, saya memiliki banyak kesempatan untuk berbincang dengan penduduk setempat yang berasal dari suku Dayak, suku Banjar, dan Melayu.

Begitu juga ketika saya dipindahkan ke bumi Andalas, saya rutin berdialog dengan suku setempat. Untuk yang mayoritas mulai dari suku Minangkabau, suku Melayu, dan suku Batak. Sementara, untuk yang terpencil, ada suku Kubu di lereng Gunung Kerinci.

*          *          *
SEJAUH mata memandang, lautan pasir terhampar luas. Seketika, saya ingat dengan kisah Son Go Kong (3) dari Cina ke India dalam Journey to the West (mandarin = Xi You Ji, hokkian = See Yu Ki).

Yaitu, kisah biksu Tong Sam-Cong bersama ketiga muridnya (Go Kong, Tie Pat Kay, dan Sam Cheng) untuk mengambil kitab suci. Dalam legenda Cina yang sering ditayangkan tv swasta di Tanah Air pada 1990-an itu, keempatnya melewati padang pasir di kawasan Turfan, yang terkenal tandus.

Tentu, ini hanya imajinasi saya saja. Sebab, tidak bisa membandingkan antara lautan pasir di Bromo dengan Turfan yang jadi bagian Gurun Gobi. Sebab, lautan pasir di Bromo luasnya hanya sekitar 52,9 km persegi (4). Bandingkan, dengan Gurun Gobi yang mencapai 1,2 juta km2. Namun, untuk keindahan, lautan pasir di Bromo boleh diadu dan tidak kalah dengan Gurun Gobi.

Bahkan, lautan pasir di Bromo jadi latar film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastrowardoyo (5). Yupz, konon berkat film tersebut, hamparan pasir ini jadi salah satu tujuan wisatawan dalam dan luar negeri. Mereka ingin merasakan sensasi "dibisiki" pasir yang terhampar luas.

"Ha ha ha, katanya sih iya. Bisa percaya bisa tidak mas, yang pasti lamat-lamat kalau diperhatikan memang pasir ini seperti bersuara," tutur pengemudi jip menjelaskan asal muasal julukan pasir berbisik tersebut.

Tentu, saya bukan orang yang langsung percaya dengan mitos atau legenda sebelum merasakan langsung. Di sisi lain, saya juga paham dengan pepatah "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Alias, di tempat yang asing, saya wajib menghormati adat istiadat setempat.

Termasuk, mengenai pasir yang -konon- katanya membisiki pengunjung yang datang. Bagi saya, berhembusnya suara pasir, entah benar atau tidak, tetap memikat. Apalagi, cuaca saat itu sangat mendukung, matahari sudah di atas kepala, tapi udaranya tetap sejuk dengan semilir angin.

"Nanti ada film dokumenter lagi tentang lautan pasir ini. Kakak bisa mengunjungi hamparan pasir ini hingga ke utara lewat Gunung Batok. Menuju ke selatan sana, pemandangan berganti lebih hijau," kata salah satu anak dari suku Tengger memberi keterangan kepada saya usai foto bersama.

Dalam kesempatan itu, mereka mengakui rumahnya tidak jauh dari lautan pasir tersebut. Beberapa anak itu menyebut sore hari pemandangannya bahkan lebih indah. Menurut mereka, lautan pasir ini jadi transit utama bagi wisatawan sebelum menikmati sunset atau sunrise di Bromo.

"Kalau kakak mau lihat keramaian, bisa ke sini pas Upacara Yadnya Kasada. Nanti, kami akan kumpul di Puar Luhur Poten di kaki (Gunung) Bromo yang pagi tadi kakak lewati," Mereka, mengungkapkan.

Berdasarkan penelusuran saya di internet, Upacara Yadnya Kasada biasanya dilakukan pada hari ke-14 bulan Kasada (bulan ke-10 penanggalan Jawa). Tahun ini jatuhnya pada 9-10 Juli mendatang (6). Saat itu, mereka melakukan ritual di Pura Luhur Poten yang terletak di kaki Gunung Bromo (Artikel sebelumnya http://www.roelly87.com/2017/02/suatu-ketika-di-puncak-bromo.html).

Selanjutnya, masyarakat suku Tengger naik ke puncak Gunung Bromo untuk melemparkan hewan sesajen ke kawahnya. Itu meliputi buah-buahan, sayur-mayur, hewan ternak, hingga uang yang akan dipersembahkan untuk Sang Hyang Widhi. Tujuan mereka, sebagai bentuk rasa syukur atas kesejahteraan sepanjang tahun.***

*          *          *
Lautan pasir ini jadi latar film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastrowardoyo

*          *          *
Mayoritas wisatawan datang dengan menggunakan jip

*          *          *
Kabut yang menutupi Gunung Batok

*          *          *
Gunung Batok yang memesona

*          *          *
Pemandangan yang sungguh memanjakan mata

*          *          *
Jip yang ditumpangi wisatawan berhenti sejenak untuk menikmati lautan pasir

*          *          *
Pasir berbisik...

*          *          *
Awas, jatuh...

*          *          *
Salah satu wisatawan luar negeri yang melakukan selfie (swafoto)

*          *          *
Seketika, saya merasa seperti di negeri khayangan

*          *          *

Referensi:
1. http://demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/kumpulan_tugas_mobilitas_pak_chotib/
Kelompok_1/Referensi/BPS_kewarganegaraan_sukubangsa_agama_bahasa_2010.pdf
2. http://www.antaranews.com/berita/236287/suku-tengger-yakin-bromo-tidak-akan-marah
3. https://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=6343.0
4. https://m.tempo.co/read/news/2014/03/11/202561415/pasir-bromo-tak-lagi-berbisik
5. http://www.antaranews.com/berita/472536/bromo-masih-jadi-magnet-wisata-alam
6. http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170106025435-241-184458/festival-seni-budaya-indonesia-yang-harus-dikunjungi-di-2017/

*          *          *
Artikel Terkait:
- Candi Jago
- Air Terjun Coban Pelangi
- Ke Bromo, (Aku) kan Kembali
- Suatu Ketika di Puncak Bromo
- Bukit Teletubbies: Sepotong Tanah Surga
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
- (Epilog) Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang

*          *          *
Artikel Ngebolang Sebelumnya:
- Pasar Santa
- Central Park
- Sirkuit RMS Land Rappang
- Garuda Indonesia
- Candra Naya
- 7 Taman di Jakarta
- Pulau Bidadari
- 7 Tempat Nongkrong
- Museum Nasional
- Masjid Hidayatullah
- Alun-alun Bandung
- Taman Ismail Marzuki
- Tugu Kunstkring Paleis
- Pasar Ah Poong
- Museum Basoeki Abdullah
- Taman Ayodia
- Curug Nangka
- Curug Nangka (2)
- Kebun Binatang Ragunan
- Taman Nasional Bunaken
- Pantai Jimbaran
- 4B Manado
- Danau Linow
- 7 Tempat Nobar
- Museum Kebangkitan Nasional
- Ngebolang ke 3 Stasiun
- CitraRaya Water World
- Pantai Ancol
- Patung Soekarno-Hatta
- Rafting Sungai Citarik
- Sensasi Nusa Dua
- Taman Jomblo
- Candi Prambanan
- Museum Astra
- Candi Jago
- Kota Malang
- Saung Sarongge
- Coban Pelangi
- Taman Prasasti
- Kalijodo
- Museum Bahari
- Museum Bahari (2)

Laman Khusus Wisata
- Jelajah Manado
- Keliling Yogyakarta
- Sensasi Bali
- Ngebolang ke Malang
- Jelajah Sudut Ibu Kota

*          *          *
- Jakarta, 15 April 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

Suatu Ketika di Puncak Bromo


Gunung Bromo dan Gunung Batok


TIBA-tiba Lu Soe Nio (1) menuding kedinding saldju. Tong Siauw Lan dan Phang Eng mengawasi dan ternjata diatas sebuah batu terukir empat huruf besar: Djin-thian-tjoat-kay (Perbatasan antara manusia dan langit).

Di bawah empat huruf itu terdapat beberapa baris huruf ketjil jang berbunji seperti berikut: Pada musim rontok tahun Kah-sin, aku tiba di-Tibet dengan niatan mendaki puntjak Tjoe-hong (2). 


Aku tertahan ditempat ini, tenagaku habis,
tak dapat kumadju lagi dan hampir-hampir kuhilang djiwa. 

Sekarang baru aku jakin, bahwa tenaga manusia ada batasnja.
Semendjak keluar dari rumah perguruan, dengan sebatang pedang aku berkelana keberbagai tempat tanpa menemui tandingan.

Aku menduga, bahwa dikolong langit
tiada pekerdjaan jang tidak bisa dilakukan.
Tapi sekarang, aku menunduk dibawah Tjoe-hong,
dengan ditertawai oleh awan-awan putih. 

Manusia mudah ditakluki, tapi langit tak dapat diatasi.
Hai! Kenjataan ini adalah tjukup untuk membuat orang-orang gagah dikolong langit menghela napas sambil mengusap-usap pedangnja!

Dibawah huruf-huruf itu terdapat tiga huruf: Leng Bwee Hong. Ia adalah (kakek guru) Tong Siauw Lan dan Phang Eng. (3)

*         *         *

DEMKIAN penggalan dari novel Tiga Dara Pendekar yang saya baca lebih dari satu dekade silam. Tentang, kemampuan salah satu pendekar tangguh pada Dinasti Qing yang ternyata memiliki batas dalam mencapai puncak Everest. Yaitu, gunung tertinggi di dunia yang letaknya di perbatasan Nepal-Tibet.

Sejak membaca novel itu, saya jadi suka membayangkan asyiknya naik gunung. Bukan hanya keindahan ketika sudah tiba di puncak, melainkan karena prosesnya. Tentang, bagaiman pendaki bisa melewati rintangan sepanjang perjalanan.

Itu terjadi ketika beberapa rekan cerita pengalamannya mendaki Salak, Pangrango, Ciremai, Merapi, Semeru, Merapi, Kerinci, Ya, sungguh mengasyikkan. Hanya, entah kenapa sampai pertengahan 2016 lalu, saya belum tertarik untuk naik gunung.

Termasuk, ketika masih tugas di pedalaman Sumatera lebih dari sewindu silam. Ketika itu, beberapa rekan sempat mengajak untuk mendaki ke puncak tertinggi di Suwarnadwipa  yang letaknya hanya beberapa kilometer dari mes.

Namun, saat itu saya lebih memilih berdiam di mes sambil ditemani suara jangkrik pada tengah malam sambil berselancar internet memanfaatkan data satelit untuk belajar nge-blog. Tentu, bukan karena saya mengidap acrophobia. Melainkan karena enggan saja. Intinya, dibanding naik gunung, saya lebih suka melewati (jalan) Gunung Sahari atau mengunjungi (toko buku) Gunung Agung.

*         *         *
TAHUN lalu jadi salah satu titik tolak saya dalam ngeblog. Maklum, sepanjang 2016, saya jadi lebih sering bertualang. Mulai dari mendaki gunung, lewati lembah, hingga sungai mengalir indah ke samudera. Ya, banyak sudah petualangan pada tahun lalu.

Diawali dengan bertualang di Curug Nangka, Bogor, yang dilanjutkan ke Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Selatan), Water World (Tangerang), Citarik (Sukabumi), Pengalengan (Bandung), Candi Prambanan (Yogyakarta), Maja (Banten), Tanjung Pakis (Karawang), Nusa Dua (Bali), Bromo (Jawa Timur), Batu Kasur (Cianjur), dan beberapa kawasan lainnya. Itu belum termasuk di ibu kota saja dengan menjelajah enam kotamadya, termasuk Kepulauan Seribu.

Dalam artikel ini, tentu yang akan saya ceritakan tentang petualangan di Gunung Bromo. Banyak kisah yang ingin diceritakan. Namun, seperti kata pepatah, sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1.000 kata. Jadi, bagaimana dengan 15 foto?


*         *         * 

Keterangan:

1 - Gunung Everest
2 - Lu Sunio atau Lu Suniang, pendekar pada era Dinasti Qing di Cina (sekitar abad ke-18)
3 - Novel Jianghu San Nuxia (Kangouw Sam Li Hiap) merupakan karangan Liang Yusheng pada 1957-58. Di Tanah Air, novel itu diterbitkan Pantja Satya dengan terjemahan Gan K. L. pada 2005 silam berjudul Tiga Dara Pendekar.
(http://www.kompasiana.com/roelly87/memetik-pelajaran-dari-cerita-silat-tujuh-pendekar-pedang-dari-gunung-thianshan_55008633a333115d6f5113c4)


*         *         *
Lautan pasir menuju puncak Bromo

*         *         *
Gunung Batok bak menggapai langit

*         *         *
Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 MDPL dan Gunung Batok (2.440 MDPL)

*         *         *
Pada suatu ketika di kaki Gunung Bromo

*         *         *
Di depan Pura Luhur Poten

*         *         *
Mendaki gunung, lewati lembah...

*         *         *
Sarapan di kaki Gunung Batok

*         *         *
Dari ketinggian sekitar 1.000 MDPL

*         *         *
Sayangnya, saat itu belum berlangsung upacara Yadnya Kasada 

*         *         *
Menghitung 253 anak tangga...

*         *         *
Kawah Bromo yang tak hentinya menyemburkan asap

*         *         *
Wisatawan mancanegara (wisman) menikmati keindahan puncak Bromo 

*         *         *
Ketika sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1.000 kata

*         *         *
Antusiasme pengunjung di puncak Bromo

*         *         *

Artikel Terkait:
- Candi Jago
- Air Terjun Coban Pelangi
- Ke Bromo, (Aku) kan Kembali
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
- (Epilog) Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang

*        *        *
Artikel Ngebolang Sebelumnya:
- Pasar Santa
- Central Park
- Sirkuit RMS Land Rappang
- Garuda Indonesia
- Candra Naya
- 7 Taman di Jakarta
- Pulau Bidadari
- 7 Tempat Nongkrong
- Museum Nasional
- Masjid Hidayatullah
- Alun-alun Bandung
- Taman Ismail Marzuki
- Tugu Kunstkring Paleis
- Pasar Ah Poong
- Museum Basoeki Abdullah
- Taman Ayodia
- Curug Nangka
- Curug Nangka (2)
- Kebun Binatang Ragunan
- Taman Nasional Bunaken
- Pantai Jimbaran
- 4B Manado
- Danau Linow
- 7 Tempat Nobar
- Museum Kebangkitan Nasional
- Ngebolang ke 3 Stasiun
- CitraRaya Water World
- Pantai Ancol
- Patung Soekarno-Hatta
- Rafting Sungai Citarik
- Sensasi Nusa Dua
- Taman Jomblo
- Candi Prambanan
- Museum Astra
- Candi Jago
- Kota Malang
- Saung Sarongge
- Coban Pelangi
- Taman Prasasti
- Kalijodo
- Museum Bahari

Laman Khusus Wisata
- Jelajah Manado
- Keliling Yogyakarta
- Sensasi Bali
- Ngebolang ke Malang
- Jelajah Sudut Ibu Kota
*        *        *
- Jakarta, 18 Februari 2017

Minggu, 04 Desember 2016

Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang


Peralatan tempur :)


EPILOG

YAAAAA
, akhirnya selesai sudah petualangan ke kawasan timur pulau Jawa. Tepatnya, ke Bromo, Malang, dan sekitarnya yang berlangsung pekan lalu. Yupz, untuk kali pertama sebagai blogger, saya bisa ngebolang (slang: bocah petualang).

Oh ya, mungkin banyak yang bertanya, kenapa saya memilih Bromo dan bukan tempat lain. Jawabannya simpel, sebab di antara tiga dari tujuh destinasi impian yang tersisa, Bromo salah satu yang realistis untuk disambangi.

Ya, seperti pada artikel dulu, saya memiliki tujuh destinasi impian di nusantara. Empat di antaranya sudah pernah saya singgahi seperti Batu Malin Kundang di kota Padang, Gunung Kintamani (Bali), Pedalaman Baduy (Banten), dan Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Utara) yang diprakarsai Indosat Ooredoo. Dua lagi benar-benar masih dalam impian yaitu, Raja Ampat di Papua dan Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur).

Nah, dibanding kedua tempat wisata tersebut, secara anggaran, jelas Bromo jauh lebih murah. Pun jika dikomparasi dengan waktu, yang relatif singkat ketimbang Raja Ampat dan Taman Nasional Komodo.

Sementara, untuk luar negeri, setelah Singapura pada 2014 lalu, saya masih memiliki cita-cita mengunjungi Gunung Hoasan di Cina untuk mengunjungi makam leluhur, Seattle (Amerika Serikat) bertandang ke markas mbahnya musik seattle-sound, dan tentunya Turin (Italia) yang merupakan kandang Juventus.

Oh ya, ini untuk bertualang. Bedakan dengan kewajiban jika mampu, yaitu menunaikan ibadah haji yang pasti ke Mekah serta Madinah.

*          *         *
PERJALANAN ke Bromo sudah saya rencanakan sejak Agustus lalu. Namun, hingga Oktober batal karena menurut pantauan di  website Badan Geologi - Kebencanaan ESDM, masih menunjukkan erupsi.

Beruntung, memasuki awal November, kondisi gunung yang terletak 2.392 MDPL ini sudah tidak menunjukkan aktivitasnya. Berkat rekomendasi rekan blogger, saya pun mendapat salah satu penyelenggara trip ke Bromo. Yupz, petualangan dimulai.

Setelah mengurus cuti dari kantor, saya pun memesan tiket Kereta Api (KA) Matarmaja. Yupz, kelas ekonomi, tapi tetap asyik. Awalnya, kami mau pesan yang eksekutif atau bahkan naik pesawat. Tapi, dipikir-pikir, kalau pergi dengan dua ketegori itu namanya bukan ngebolang, alias cuma liburan.

Ya, seperti kata Rangga kepada Cinta dalam AADC2, "Itu bedanya orang yang travelling dengan liburan. Kalau orang yang sedang liburan, biasanya mereka bikin jadwal yang pasti. Pergi dan tinggalnya ke tempat yang nyaman. Terus, ke tempat-tempat yang bagus buat foto-foto. Kalau travelling, kita harus spontan. Lebih berani ngambil risiko, siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan. Yang harus dinikmati itu justru proses perjalanannya dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul."

Yupz, ternyata hasil tidak pernah mengkhianati proses. Sebab, ada keasyikan tersendiri menumpang KA Matarmaja yang sejak Stasiun Senen sangat padat. Total, perjalanan menempuh waktu sekitar 17 jam yang dimulai pukul 15 sekian WIB hingga 08 sekian WIB.

Secara pribadi, ada perbedaan antara naik KA Matarmaja dibanding KA Argo Lawu ketika saya ke Yogyakarta, menjelang ramadan lalu. Saat itu, suasana di gerbong bisa dibilang relatif senyap. Sementara, dengan KA Matarmaja, lebih ramai yang disertai hilir-mudik penumpang. Intinya, kalau mau ngebolang, ya (mungkin) dengan kelas ekonomi untuk merasakan esensinya.

Pun, begitu ketika saya mencari penginapan di Malang. Saya beruntung menemukan hotel dengan harga kompetitif. Meski, saat itu ada sahabat yang menawarkan gratis untuk tinggal di hotel bintang tiga dekat pusat kota.

Tapi, dengan halus saya tolak. Sebab, tidak enak juga sudah merepotkan dirinya dan suami yang jauh-jauh datang dari Surabaya untuk reuni, eh malah ditawarkan menginap gratis. Oh ya, saya dan mereka sempat sama-sama ketika masih bekerja di pedalaman Sumatera pada dekade lalu.

Sudah satu pelita kami tidak bersua sejak saya kembali ke ibu kota pada 2010 silam. Sementara, mereka masih aktif dengan mengurus cabang di kawasan timur. Tak heran ketika awal September lalu saya kabari ingin ke Malang, mereka antusias menyambutnya. Termasuk, menyusuri eksotisnya kota berjulukan Zwitserland van Java pada malam hari.

*          *         *
BANYAK cerita dan foto yang ingin saya posting di blog ini. Tentu, tidak cukup hanya dengan satu artikel saja. Ke depannya, kalau sempat, bakal saya tulis catatan perjalanan akhir November lalu. Mulai dari Candi Jago, Air Terjun Coban Pelangi, Bromo, keliling Malang, hingga aneka kuliner.

Yupz, menyitir kalimat rekan blogger, "Hidup adalah pesta, dan harus dirayakan." Begitu juga dengan ngebolang yang harus dinikmati dari awal hingga akhir.

*          *         *
Stasiun Senen

*          *         *
Salah satu sudut persimpangan di ibu kota

*          *         *
Gunung Ciremai dari kejauhan

*          *         *
Stasiun Cirebon Prujakan

*          *         *
Ahli hisap memanfaatkan waktu sejenak pada setiap pemberhentian di stasiun

*          *         *
Stasiun Kediri 

*          *         *
Stasiun Pakisaji 

*          *         *
Perjalanan pulang jauh lebih sepi dibanding saat pergi

*          *         *
Stasiun Malang Kota Baru

*          *         *
Artikel Terkait:
- (Prolog)
- Candi Jago
- Air Terjun Coban Pelangi
- Bromo...
- Kawah Bromo
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
- Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
*          *         *
- Jakarta, 4 Desember 2016