TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Tapak Tilas di Museum Bahari

Google Adsense 2016

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Kamis, 16 Februari 2017

Tapak Tilas di Museum Bahari


Pengunjung sedang foto bersama di gerbang Museum Bahari


"GUDANG, lalu museum. Gedung ini dibangun pada 1718 sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah. Pada 17 Juli 1977 diresmikan sebagai Gedung Museum Bahari."

Demikian, keterangan dalam prasasti yang saya baca di salah satu ruangan di Museum Bahari yang saya kunjungi Minggu (12/2). Saya tidak menyangka, gedung yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan No 1, Jakarta Utara, ini nyaris berusia tiga abad! Maklum, meski sudah tua, tapi gedung tersebut masih kokoh.

Menurut keterangan resminya, gedung Museum Bahari sudah melakukan berbagai renovasi. Termasuk, ketika Indonesia baru merdeka yang sempat dijadikan kantor telekomunikasi.

Terlebih, saya sudah sering mengunjunginya sejak kecil. Baik dalam rangka kunjungan sekolah maupun secara pribadi. Bisa dipahami mengingat lokasinya tidak terlalu jauh dari kediaman saya. Terlebih, saya memang menyukai hal-hal berbau sejarah.

Tak heran jika sejak aktif ngeblog, mayoritas berisi berbagai tempat bersejarah seperti Museum Wayang, Museum Nasional, hingga Museum Adityawarman di Padang.

Bahkan, tulisan saya mengenai Museum Bahari ini masuk dalam buku antologi bersama 30 blogger Kompasiana berjudul: Jelajah Negeri Sendiri. Buku yang terbit pada Januari 2014 itu memuat 57 artikel dengan tema Catatan Perjalanan Merawat Nasionalisme.

Kebetulan, saya menyumbang empat tulisan yang seluruhnya terkait sejarah, yakni:
- Mengenang Ade Irma Suryani
- Tapak Tilas di Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
- Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa- Menikmati Wisata Malam di Kota Tua.

*        *        *

MUSEUM Bahari dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Itu ditandai dengan karcis berlogo bank pemerintah. Oh ya, harga tiket masuk Museum Bahari sangat murah, baik itu dewasa yang hanya Rp 5.000, mahasiswa (Rp 3.000), dan anak-anak (Rp 2.000).

Menurut saya, tiket masuk Museum Bahari dengan format elektrik lebih bagus dibanding Museum Nasional dan Museum Prasasti yang masih manual alias tulisan tangan.

Museum ini sangat tepat untuk mengedukasi anak-anak terhadap sejarah Indonesia yang sejak dulu dikenal sebagai negara maritim. Maklum, di Museum Bahari terdapat ratusan koleksi bersejarah. Mulai dari lukisan, miniatur, hingga biota laut.

Bahkan, terdapat beberapa perahu asli bersama alat kemudi, rantai, dan perkakas untuk membuat perahu. Di Museum Bahari juga kita bisa jadi saksi kejayaan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut.

Sebab, tidak hanya miniatur kapal saja. Melainkan, bukti otentik lainnya dari TNI AL sebagai salah satu kekuatan dunia. Mulai dari koleksi perlengkapan hingga buku.

Apalagi, terdapat berbagai foto dari Pahlawan Nasional dari TNI AL serta Kepala Staf (KSAL). Mereka yaitu,
- Komodor Jos Soedarso
- Jahja Daniel Dharma (John Lie)
- Usman (Sertu KKO)
- Harun (Kopko)
- Laksamana Laut R. E. Martadinata  7 Oktober 1966

*        *        *

TAPAK Tilas di Museum Bahari merupakan artikel berseri dari Museum Bahari yang secara khusus saya buat untuk memperingati 96 tahun Martadinata. Tulisan ini seperti artikel khusus sebelumnya (Manado, Yogya, Bromo, Ibu Kota) bersifat bebas. Dalam arti, di-update tidak rutin kapan waktunya, tapi pasti.

Martadinata merupakan Panglima Angkatan Laut TNI (sebelum berganti KSAL) keempat yang lahir pada 29 Maret 1921 di Bandung.  Martadinata wafat pada 6 Oktober 1966 akibat kecelakaan helikopter di Riung Gunung, Puncak, Jawa Barat. Sehari kemudian, Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 220 dengan menjadikan Martadinata sebagai Pahlawan Nasional.

Hingga kini, namanya diabadikan pemerintah baik pusat maupun daerah sebagai nama jalan utama. Di ibu kota, Jalan R. E. Martadinata terdapat di Jakarta Utara yang membentang 7,5 km sejak Stasiun Tanjung Priok hingga Stasiun Kampung Bandan.

Sementara, di Bandung, Jalan R. E. Martadinata dikenal sebagai Jalan Riau yang jadi pusat Factory Outlet (FO). Pada 15 Maret 1995, jalan tersebut disorot publik terkait tewasnya Nike Ardilla akibat mobilnya menabrak bak sampah.

Data Museum Bahari

Nama bangunan: Museum Bahari
Nama bangunan sebelumnya: Komplek Gudang VOC Z/West Zijasch Pakhuis
Lokasi:  Jalan Pasar Ikan I No 1, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara (14440)
Akses: Peta (google maps)
Pemilik: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Status:  Cagar Budaya yang dilindungi SK. Mendikbud No 0218/M/1988
Fasilitas: Tempat parkir, toilet, perpustakaan
Waktu buka: Selasa-Minggu (Pukul 09.00-15.00 WIB)

*        *        *
Antre untuk beli tiket masuk

*        *        *
Tiket masuk yang sudah versi cetak dan bukan manual lagi

*        *        *
Berbagai cindera mata yang bisa dibeli pengunjung

*        *        *
Puluhan pengunjung dari SMP di Jakarta

*        *        *
Prasasti Museum Bahari

*        *        *
Denah Museum Bahari

*        *        *
Kawasan cagar budaya di sekitar Museum Bahari

*        *        *
Tentang perkampungan Arab dan Cina

*        *        *
Properti asli pada masa lampau

*        *        *
Koleksi perahu nusantara

*        *        *
Salah satu perahu nusantara dan gergaji untuk membuatnya

*        *        *
Foto Lima Pahlawan Nasional dari TNI AL

*        *        *
Perpustakaan yang luas dan lengkap di Museum Bahari

*        *        *
Buku perang yang sangat lengkap dan langka dari koleksi Musuem Bahari

*        *        *
Ruangan CCTV yang hmm....

*        *        *
Lantai tiga dari Museum Bahari. Ada yang aneh?

*        *        *
Pekarangan di Museum Bahari

*        *        *
Papan informasi untuk pengunjung

*        *        *
Museum Bahari di Jalan Pasar Ikan No 1

*        *        *

Artikel Terkait
- Intip Sejarah Nusantara di Museum Bahari
- Langkah-langkah Tanpa Wujud di Pojok Museum Bahari (Kisah Horor)
- Mengarungi Dunia lewat Museum Bahari
Jalesveva Jayamahe: Di Lautan Kita (Pernah) Jaya
- Titik Nol di Menara Syahbandar

Artikel Cagar Budaya Lainnya
- Museum Prasasti
Museum Naional

Artikel TNI, Polri, dan Instansi Lainnya
Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
Sinergi BNN-Blogger untuk Darurat Narkoba
HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat
(Esai Foto) Jakarta Metropolitan Police Expo 2016
Bulan Dirgantara Indonesia 2016 TNI AU
Potret Petugas Penjaga Jalur Busway saat Buka Puasa
Sinergi BNPT Blogger Cegah Terorisme 
Serunya Latihan Menembak di Markas Kostrad
Sinergi Kementerian PUPR untuk Sosialisasi K3


Semarak HUT TNI ke-68 di Monas (http://www.kompasiana.com/roelly87/semarak-hut-tni-ke-68-di-monas_552a293b6ea8343326552d1b)
Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI (http://www.kompasiana.com/roelly87/pengalaman-seru-naik-panser-anoa-tni-ad_551fa2fd813311466e9de508)
Mengenang Jenderal Soedirman (http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-jenderal-sudirman-tetap-semangat-hingga-tetes-darah-penghabisan_55095adba3331124692e3976)
Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution (http://www.kompasiana.com/roelly87/sepenggal-kisah-di-museum-abdul-haris-nasution_5528cf7cf17e61030c8b4577)
Mengenang Ade Irma Suryani (http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-ade-irma-suryani_550e0653813311b92cbc6100)
Balik Kehebatan Jenderal Djamin Ginting (http://www.kompasiana.com/roelly87/3-nafas-likas-dan-sosok-di-balik-kehebatan-jenderal-djamin-ginting_54f41787745513a32b6c85df)
Semoga Tidak ada Lagi Paswalyur: Pasukan TNI Pengawal Sayur (http://www.kompasiana.com/roelly87/di-usia-tni-ke-66-ini-semoga-tidak-ada-lagi-paswalyur-pasukan-pengawal-sayur_550def16813311842cbc6125)
Pramoedya Ananta Toer: Saya Ga Suka Militer Indonesia (http://www.kompasiana.com/roelly87/mengenang-jejak-pramoedya-ananta-toer_5528b7f3f17e616d7c8b45f3)
Sisi Lain Paspampres yang Berprestasi (http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-paspampres-yang-berprestasi_54f5de54a33311251f8b47e7)
Apresiasi untuk Kejelian Paspampres (http://www.kompasiana.com/roelly87/apresiasi-untuk-kejelian-paspampres_54f7fccca333112e1f8b4c53)
Intip Buku Prayitno Ramelan (http://www.kompasiana.com/roelly87/memetik-pengalaman-dari-penulis-best-seller-di-acara-intip-buku_55102ca0a333118b37ba7f8e)
-
*        *        *

Referensi Tambahan:
- http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Museum_Bahari
- http://www.tnial.mil.id/Aboutus/Sejarah/Biografi/
tabid/116/articleType/ArticleView/articleId/5487/
LAKSAMANA-LAUT-RE-MARTADINATA.aspx
- http://www.pusakaindonesia.org/ini-dia-daftar-163-pahlawan-nasional/

*        *        *
- Jakarta, 16 Februari 2017

4 komentar:

  1. Wah aku baru tau tuh alm. Nike ardila ninggalnya di jl, martadinata

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, Jalan Martadinata atau sehari-harinya disebut Jalan Riau :)

      Hapus
  2. aku juga suka jalan2 ke museum , bagus tapi kok kayaknya koleksinya dikit yaaa? itu di perpusnya koleksnya ada buku apa aja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. koleksinya banyak mbak, ada ratusan
      ntar saya tambahin di tulisan berikutnya, termauk tentang perpus
      ini kan berseri, sampe (rencananya) enam artikel :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)