TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Menikmati Eksotisnya Candra Naya yang Tersembunyi

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Selasa, 24 Maret 2015

Menikmati Eksotisnya Candra Naya yang Tersembunyi



Candra Naya yang tersembunyi di "kolong" gedung bertingkat  (www.roelly87.com)



ADAGIUM lawas yang mengatakan, "Uang bukan segalanya. (Tapi) segala sesuatu memang butuh uang," mungkin masih relevan hingga kini. Setidaknya itu yang terlintas di benak saya ketika menyaksikan rumah tua berusia ratusan tahun yang masih kokoh sampai sekarang. Yang menarik, bangunan tersebut terletak di tengah-tengah gedung bertingkat yang menjulang tinggi.

Ya, nama rumah tua itu adalah Candra Naya. Mungkin, sudah banyak yang mengenal cagar budaya yang terletak di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat. Tapi, belum tentu juga ada yang mengetahui lokasi persisnya. Termasuk saya yang tinggal tidak jauh dari Candra Naya, tapi harus muter-muter lebih dulu untuk bisa sampai ke lokasi pada Jumat (20/3).

Itu karena keberadaan Candra Naya seperti "tersembunyi" di antara deretan gedung-gedung bertingkat di sentra hiburan barat Jakarta. Tepatnya, berada di tengah-tengah Green Central City (GCC) yang merupakan kompleks apartemen, komersial, dan hotel (Novotel). Alhasil, untuk bisa mendatanginya, saya harus masuk ke areal GCC menuju tempat parkir yang berada tepat di bawah Candra Naya.

Sebagai seorang yang gemar bertualang dan menyukai sejarah, jelas ada perasaan bangga dalam diri saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekitar Candra Naya. Sebab, memang sudah lama saya memimpikan untuk mengunjungi rumah yang dulunya merupakan kediaman Mayor Khouw Kim An pada periode 1910-1918.

Catatan itu saya kutip dari keterangan yang terpampang di samping pintu utama yang berjudul "Sejarah Mengenai BANGUNAN CANDRA NAYA (Asosiasi Xinming)". Menurut keterangannya, Candra Naya dibangun pada 1807 atau 1867 tahun kelinci penanggalan Tionghoa. Jadi, memang bangunan yang memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi ini memiliki nilai historis yang tinggi.

Terlebih, yang membuat saya lega, ternyata sang pemilik, GCC, turut melestarikan bangunan tersebut dan tidak membongkarnya. Sebaliknya, sejak 2012, mereka memadukan Candra Naya dengan apartemen, hotel, dan beberapa tempat kuliner (Sumber Kompas.com). Bisa dipahami mengingat satu dekade lalu, cagar budaya ini nyaris dipindahkan ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang akhirnya dicegah Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso (Sumber TheJakartaPost.com).

*       *       *

Sayangnya, saya tiba menjelang senja. Alhasil, saya tidak bisa masuk ke ruangan utama dan menemui penjaganya. Meski begitu, saya masih dapat menikmati pemandangan bangunan utama dan dua sayap Candra Naya yang sangat eksotis. Sumpah, areal sekelilingnya yang berlatar temaram, termasuk di belakang bangunan yang ada kolam ikan, sangat indah dan wajib diabadikan!

Sekilas, saat mengelilingi areal Candra Naya mengingatkan saya pada film "Up" yang populer pada 2009. Sebab, dalam animasi keluaran Pixar Studio yang merupakan anak perusahaan Walt Disney -pemilik Marvel The Avengers- ini memiliki cerita yang mirip. Yaitu, tentang kakek yang enggan rumah tuanya dibongkar akibat dikelilingi bangunan modern hingga memilih menerbangkannya.



Kendati tidak bisa melihat ruangan utama dan menemui penjaganya, Saya beruntung karena dapat beberapa informasi menarik dari petugas satuan pengamanan (satpam) dan juga pengunjung lainnya ketika kami sedang beristirahat di kedai yang terletak di sisi kiri Candra Naya. Dalam bincang-bincang itu, diketahui jika Candra Naya memang setiap harinya kerap dikunjungi banyak orang.

Tidak hanya penduduk setempat seperti saya, atau wisatawan lokal, dan warga keturunan saja. Melainkan juga dari turis mancanegara, terutama yang berasal dari Asia Timur (Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, dan Jepang). Mungkin, itu berkaitan dengan sejarah mereka yang berkaitan dengan Candra Naya meliputi aspek budayanya.

Menurut satpam yang tidak ingin disebutkan namanya itu, Candra Naya menjadi destinasi utama bagi pasangan untuk sesi foto pre wedding (noted, pengen euy ^_^). Bahkan, ada pengunjung yang rumahnya tak jauh dari Candra Naya, mengatakan bahwa beberapa tahun lalu "konon" ada selebriti yang ingin melakukan resepsi pesta pernikahan yang kabarnya ditolak.

Mendengar penuturan itu, jelas membuat saya mengernyitkan dahi. Wajar kalau pengajuan nikah itu ditolak, karena Candra Naya adalah cagar budaya yang harus dilestarikan. Lagipula, selebriti itu (artis katanya) seperti tidak punya modal atau memang sengaja mencari sensasi saja. Beda lagi jika resepsinya dilakukan di Novotel yang meminjam halaman Candra Naya karena memang satu lokasi.

Nah, bagi rekan-rekan blogger ada yang tertarik untuk mengunjungi Candra Naya, berikut informasinya:

Nama bangunan: Candra Naya
Lokasi: Jalan Gajah Mada 188, Jakarta Barat (di dalam kompleks  Green Central City, seberang Lindeteves Trade Center LTC Glodok)
Akses: Peta (google maps)
Pemilik: Green Central City
Status: Cagar budaya yang dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 (Kemdikbud)
Fasilitas: Toilet pria/wanita, Kopi Oey, 7-Eleven, ATM
*       *       *
Halaman belakang yang berbatasan dengan gedung GCC

*       *       *
Senja yang temaram

*       *       *
Kolam ikan yang menambah eksotis

*       *       *
Suasana di samping kanan bangunan utama: Kopi Oey

*       *       *
Lorong di samping kiri

*       *       *
Catatan izin renovasi dari pihak GCC

*       *       *
Bangunan di sayap kanan

*       *       *
Perahu Naga

*       *       *
Properti di GCC yang jadi pintu masuk ke Candra Naya

*       *       *
Tempat parkir yang berada di bawah Candra Naya

*       *       *

- Seluruh foto yang ada di artikel ini merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)
- Referensi artikel terlampir dalam link tulisan

*       *       *
- Padang, 24 Maret 2015

26 komentar:

  1. kalo kata orang sunda mah 'waas pisan nyaa' hehe..
    oo itu makanya kenapa tempat ini jadi cagar budaya bang? karena pemiliknya dulu sangat mempertahankan rumah ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah satunya karena bangunan ini memiliki nilai histori yang tinggi dan juga dipandang pemerintah harus dilestarikan.

      ini ada referensinya mbak:
      - Menikmati Eksotisnya Candra Naya yang Tersembunyi http://www.roelly87.com/2015/03/menikmati-eksotisnya-candra-naya-yang.html #CandraNaya

      - http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmakassar/2014/01/25/undang-undang-nomor-11-tahun-2010-tentang-cagar-budaya/

      Hapus
  2. Ikannya kereeen 😉, kalimat pembukanya apalagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he he

      makasiiiih mbak :)
      bangunannya yang pasti lebih keren

      Hapus
  3. Kereen ya tempatnya..baru tauu ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk, mari mbak kunjungi tempatnya
      deket kok, di jakarta barat ;)

      Hapus
  4. cukup menarik juga ya
    rumah tua di dekat gedung yang bertingkat hehe
    nice info gan

    BalasHapus
  5. Waah keren nih. Baru tau ada cagar budaya Candra Naya ini. Nice info..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, saya aja yang deket rumah baru tahu ;)
      he he he

      silakan dikunjungi kalo ada waktu mbak

      Hapus
  6. Waah, nambah lagi deh daftar tempat yang pengen dikunjungi di Jakarta Barat. Unik juga ya, ada cagar budaya di tengah kota kayak gini. Semoga suatu saat ada kesempatan untuk ke sana. Makasih infonya, ya :)

    BalasHapus
  7. Salut bangunan ini tetep lestari, ngak di robohkan seiring berdiri nya hotel di dalam nya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, 2003 lalu mau dipindahin ke TMII, untung ga jadi :)
      kalo ga, kita ga bakal punya saksi sejarah...

      Hapus
  8. Ih keren gedung Candra Naya ini, jadi pengen kesana juga.. sejarahnya pasti dalem nih, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, deket kok...
      kalo naik busway jalan dikit dari halte kota ke seberang LTC Glodok :)

      Hapus
  9. gedungnya eksotik yaa, aku baru tahu nih mas, trims sharingnya yaa, kapan-kapan harus dikunjungi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan mbak, ntar buat reportasenya juga ya...
      he he he

      waktu saya ke sana ga sempat lihat interiornya :)
      *penasaran

      Hapus
  10. tempat penginapan yg unik. desainnya bagus

    BalasHapus
  11. berlibur kesana pasti betah saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yupz mas, silakan berwisata sekaligus melestarikan budaya ;)
      waktunya senin-sabtu...

      Hapus
  12. denegr-denger karena tanahnya dah milik hotel tersebut makanya diapit, ya. Untung bangunannya gak dirobohkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak ;)

      udah dibeli dan disinergikan dengan superblok GCC plus ada resto dan sebagainya...

      Hapus
  13. Tradisional berbalut modernitas. Alhamdullilah bangunan kayak gini masih berdiri megah diantara kemegahan. Kalau nggak sampeyan tulis, mungkin saya nggak tahu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he he, iya saya aja belom lama ke sana
      padahal letaknya ga jauh dari rumah :)

      kapan2 main aja mbak, kalo kebetulan lagi bisa masuk ke dalamnya...

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)