TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Tiga Dara Pendekar

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Tiga Dara Pendekar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiga Dara Pendekar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Oktober 2021

Karena Kusta Bukan Kutukan


Ilustrasi penanganan kusta (Foto: WHO.int)



UNTUK kali kedua secara berturut-turut, Hari Dokter Nasional yang diperingati setiap 24 Oktober ini berada dalam suasana kesunyian. Itu akibat Koronavirus yang melanda di muka bumi, khususnya Tanah Air sejak awal tahun lalu. Ya, pandemi memaksa mayoritas manusia di seluruh Indonesia untuk membatasi dalam aktivitas.

Namun, tidak dengan beberapa pihak, termasuk dokter dan tenaga kesehatan. Mereka tetap bekerja dalam senyap meski dalam situasi tidak menentu. Bahkan, akibat Covid-19 ini, hampir 2.000 tenaga kesehatan gugur, termasuk dokter.

Padahal, rasio dokter di Indonesia tergolong minim. Yaitu, hanya mencapai 0,4 per 1.000 jiwa. Alias, hanya terdapat empat dokter untuk melayani 10.000 penduduk. Bayangkan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang berdasarkan sensus terbaru mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

Nah, dengan banyaknya tenaga kesehatan yang berguguran, jelas berdampak pada layanan kesehatan yang tidak optimal. Salah satunya, kelompok yang terdampak adalah pasien kusta. Maklum, pada beberapa kasus, mereka harus terpaksa putus obat dan tidak mendapat layanan.

Akibatnya, temuan kasus baru menurun karena aktivitas pelacakan terbatas. Serta, angka keparahan atau kecacatan meningkat. Lalu, bagaimana perjuangan dokter untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal. Termasuk, apa saja tantangan yang dihadapi para dokter dan tenaga kesehatan dalam mengatasi penyakit tropis terabaikan seperti kusta di tengah pandemi ini?

Fakta itu yang baru saya ketahui usai menyimak webinar bertajuk “Lika-Liku Peran Dokter di Tengah Pandemi”. Cerita menarik dari para dokter tangguh dalam talkshow itu disiarkan di laman youtube KBR, https://www.youtube.com/watch?v=88CKd4xSq4M.

Yaitu, portal penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999 silam. KBR berkolaborasi dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Acara tersebut disiarkan streaming pada Jumat (9/10) pukul 09.00 WIB. Namun, saya hanya mengikutinya tipis-tipis akibat malamnya ngalong sebagai ojek online (ojol) hingga membuat mata berat. Beruntung, dalam informasi yang saya dapat dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB), terdapat siaran ulang yang bisa saya saksikan di youtube KBR.

Dalam perbincangan itu terdapat dua narasumber. Yaitu, dr. Ardiansyah yang merupakan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan dr. Udeng Daman (Technical Advisor NLR Indonesia).

Sebagai masyarakat awam, saya mengakui, topik tersebut berat. Namun, sebagai ojol yang menghabiskan mayoritas waktunya di jalanan, tentu sedikitnya saya mengenal tentang kusta. Beserta, mitos yang menyertainya.

Apalagi, saya juga penggemar cerita silat (cersil). Seingat saya, ada salah satu tokoh rekaan Liang Yusheng berjudul Tiga Dara Pendekar (Jiang Hu San Nu Xia). Atau, dalam terjemahan populer bahasa hokkian yaitu, Kang Ouw Sam Lie Hiap yang berlatar pada abad 17 di Cina.

Dalam kisahnya, ada jagoan bernama Tok-liong Cuncia yang mahasakti tapi menderita akibat kusta yang menyebabkannya dikucilkan masyarakat. Hingga, dalam perjalanannya, sosok yang awalnya antagonis berubah jadi baik.

Bahkan, dengan hasil penemuannya di pulau terpencil bisa mengobati masyarakat yang menderita kusta. Maklum, dulu pengidap kusta mendapat sorotan negatif hingga dijuluki penyakit kutukan. Sebab, saat itu, teknologi belum secanggih sekarang.

Nah, kembali lagi. Seiring perkembangan zaman, saat ini, kusta bisa disembuhkan tanpa disertai kecacatan. Kuncinya, pengobatan secara tepat dan tuntas sejak dini. Itu mengapa, dokter dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan kehadirannya. Terutama, pada situasi pandemi ini yang membuat para dokter bekerja ekstrakeras untuk membantu penyembuhan penyakit.

“(Pada pandemi ini) kami, para dokter tetap bekerja seperti biasa. Selain itu, kami juga turut memberi edukasi. Namun, intinya peran serta masyarakat dalam kesadaran menjaga protokol kesehatan. Ini yang kami harapkan kerjasamanya, baik dari masyarakat, media untuk edukasi, dan seluruh elemen,” kata Ardiansyah.

Pada saat yang sama, terkait situasi pandemi yang berpengaruh pada dunia kesehatan, Udeng menegaskan, pelayanan terkait kusta berjalan lancar. Kendati, tidak seoptimal saat situasi normal.

“Di lapangan, (para dokter dan tenaga medis) menyesuaikan dengan kebijakan pada daerah masing-masing. Misalnya, ada PPKM level 1, 2, dan 3. Kegiatan pun terbatas. Namun, tetap ada solusi. Jika normal pemeriksaan door to door, sekarang bisa konsultasi via teknologi. Intinya, ada solusi di tengah pandemi ini untuk penanganan kusta,” Udeng, mengungkapkan.

Ya, stigma kusta yang masih negatif sekarang ini perlahan berkurang. Memang, ini penyakit jika tidak diobati berpotensi menularkan kepada orang lain dengan kontak erat dan dalam periode sama. Namun, jika melakukan pengobatan secara intensif, kusta bisa disembuhkan. Alias, bukan lagi kutukan seperti mitos yang selama ini beredar di masyarakat.***

*      *      *

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan


*      *      *

- Jakarta, 30 Oktober 2021

Sabtu, 18 Februari 2017

Suatu Ketika di Puncak Bromo


Gunung Bromo dan Gunung Batok


TIBA-tiba Lu Soe Nio (1) menuding kedinding saldju. Tong Siauw Lan dan Phang Eng mengawasi dan ternjata diatas sebuah batu terukir empat huruf besar: Djin-thian-tjoat-kay (Perbatasan antara manusia dan langit).

Di bawah empat huruf itu terdapat beberapa baris huruf ketjil jang berbunji seperti berikut: Pada musim rontok tahun Kah-sin, aku tiba di-Tibet dengan niatan mendaki puntjak Tjoe-hong (2)


Aku tertahan ditempat ini, tenagaku habis,
tak dapat kumadju lagi dan hampir-hampir kuhilang djiwa. 

Sekarang baru aku jakin, bahwa tenaga manusia ada batasnja.
Semendjak keluar dari rumah perguruan, dengan sebatang pedang aku berkelana keberbagai tempat tanpa menemui tandingan.

Aku menduga, bahwa dikolong langit
tiada pekerdjaan jang tidak bisa dilakukan.
Tapi sekarang, aku menunduk dibawah Tjoe-hong,
dengan ditertawai oleh awan-awan putih. 

Manusia mudah ditakluki, tapi langit tak dapat diatasi.
Hai! Kenjataan ini adalah tjukup untuk membuat orang-orang gagah dikolong langit menghela napas sambil mengusap-usap pedangnja!

Dibawah huruf-huruf itu terdapat tiga huruf: Leng Bwee Hong. Ia adalah (kakek guru) Tong Siauw Lan dan Phang Eng. (3)

*         *         *

DEMKIAN penggalan dari novel Tiga Dara Pendekar yang saya baca lebih dari satu dekade silam. Tentang, kemampuan salah satu pendekar tangguh pada Dinasti Qing yang ternyata memiliki batas dalam mencapai puncak Everest. Yaitu, gunung tertinggi di dunia yang letaknya di perbatasan Nepal-Tibet.

Sejak membaca novel itu, saya jadi suka membayangkan asyiknya naik gunung. Bukan hanya keindahan ketika sudah tiba di puncak, melainkan karena prosesnya. Tentang, bagaiman pendaki bisa melewati rintangan sepanjang perjalanan.

Itu terjadi ketika beberapa rekan cerita pengalamannya mendaki Salak, Pangrango, Ciremai, Merapi, Semeru, Merapi, Kerinci, Ya, sungguh mengasyikkan. Hanya, entah kenapa sampai pertengahan 2016 lalu, saya belum tertarik untuk naik gunung.

Termasuk, ketika masih tugas di pedalaman Sumatera lebih dari sewindu silam. Ketika itu, beberapa rekan sempat mengajak untuk mendaki ke puncak tertinggi di Suwarnadwipa  yang letaknya hanya beberapa kilometer dari mes.

Namun, saat itu saya lebih memilih berdiam di mes sambil ditemani suara jangkrik pada tengah malam sambil berselancar internet memanfaatkan data satelit untuk belajar nge-blog. Tentu, bukan karena saya mengidap acrophobia. Melainkan karena enggan saja. Intinya, dibanding naik gunung, saya lebih suka melewati (jalan) Gunung Sahari atau mengunjungi (toko buku) Gunung Agung.

*         *         *
TAHUN lalu jadi salah satu titik tolak saya dalam ngeblog. Maklum, sepanjang 2016, saya jadi lebih sering bertualang. Mulai dari mendaki gunung, lewati lembah, hingga sungai mengalir indah ke samudera. Ya, banyak sudah petualangan pada tahun lalu.

Diawali dengan bertualang di Curug Nangka, Bogor, yang dilanjutkan ke Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Selatan), Water World (Tangerang), Citarik (Sukabumi), Pengalengan (Bandung), Candi Prambanan (Yogyakarta), Maja (Banten), Tanjung Pakis (Karawang), Nusa Dua (Bali), Bromo (Jawa Timur), Batu Kasur (Cianjur), dan beberapa kawasan lainnya. Itu belum termasuk di ibu kota saja dengan menjelajah enam kotamadya, termasuk Kepulauan Seribu.

Dalam artikel ini, tentu yang akan saya ceritakan tentang petualangan di Gunung Bromo. Banyak kisah yang ingin diceritakan. Namun, seperti kata pepatah, sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1.000 kata. Jadi, bagaimana dengan 15 foto?


*         *         * 

Keterangan:

1 - Gunung Everest
- Lu Sunio atau Lu Suniang, pendekar pada era Dinasti Qing di Cina (sekitar abad ke-18)
3 - Novel Jianghu San Nuxia (Kangouw Sam Li Hiap) merupakan karangan Liang Yusheng pada 1957-58. Di Tanah Air, novel itu diterbitkan Pantja Satya dengan terjemahan Gan K. L. pada 2005 silam berjudul Tiga Dara Pendekar.
(http://www.kompasiana.com/roelly87/memetik-pelajaran-dari-cerita-silat-tujuh-pendekar-pedang-dari-gunung-thianshan_55008633a333115d6f5113c4)


*         *         *
Lautan pasir menuju puncak Bromo

*         *         *
Gunung Batok bak menggapai langit

*         *         *
Gunung Bromo memiliki ketinggian 2.329 MDPL dan Gunung Batok (2.440 MDPL)

*         *         *
Pada suatu ketika di kaki Gunung Bromo

*         *         *
Di depan Pura Luhur Poten

*         *         *
Mendaki gunung, lewati lembah...

*         *         *
Sarapan di kaki Gunung Batok

*         *         *
Dari ketinggian sekitar 1.000 MDPL

*         *         *
Sayangnya, saat itu belum berlangsung upacara Yadnya Kasada 

*         *         *
Menghitung 253 anak tangga...

*         *         *
Kawah Bromo yang tak hentinya menyemburkan asap

*         *         *
Wisatawan mancanegara (wisman) menikmati keindahan puncak Bromo 

*         *         *
Ketika sebuah foto bisa bercerita lebih dari 1.000 kata

*         *         *
Antusiasme pengunjung di puncak Bromo

*         *         *

Artikel Terkait:
Candi Jago
Air Terjun Coban Pelangi
- Ke Bromo, (Aku) kan Kembali
- Bukit Teletubbies
- Pasir Berbisik
- Keliling Malang
Wisata Malam
- Kuliner
- Reuni
(Epilog) Di Balik Ngebolang ke Bromo dan Malang

*        *        *
Artikel Ngebolang Sebelumnya:
Pasar Santa
Central Park
Sirkuit RMS Land Rappang
Garuda Indonesia
Candra Naya
7 Taman di Jakarta
Pulau Bidadari
7 Tempat Nongkrong
Museum Nasional
Masjid Hidayatullah
Alun-alun Bandung
Taman Ismail Marzuki
Tugu Kunstkring Paleis
Pasar Ah Poong
Museum Basoeki Abdullah
Taman Ayodia
Curug Nangka
Curug Nangka (2)
Kebun Binatang Ragunan
Taman Nasional Bunaken
Pantai Jimbaran
4B Manado
Danau Linow
7 Tempat Nobar
Museum Kebangkitan Nasional
Ngebolang ke 3 Stasiun
CitraRaya Water World
Pantai Ancol
Patung Soekarno-Hatta
Rafting Sungai Citarik
Sensasi Nusa Dua
Taman Jomblo
Candi Prambanan
Museum Astra
Candi Jago
Kota Malang
Saung Sarongge
Coban Pelangi
Taman Prasasti
- Kalijodo
- Museum Bahari

Laman Khusus Wisata
- Jelajah Manado
Keliling Yogyakarta
Sensasi Bali
Ngebolang ke Malang
- Jelajah Sudut Ibu Kota
*        *        *
- Jakarta, 18 Februari 2017