TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Kementerian ESDM Ajak Netizen Wisata Edukasi di Museum Geologi

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 24 September 2017

Kementerian ESDM Ajak Netizen Wisata Edukasi di Museum Geologi


Night at the Museum di Museum Geologi yang jadi bagian dari rangkaian
Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-72
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


"MAS Huda, tanggal 23-24 ada acara nggak?" Demikian, chat dari rekan blogger Ani Berta, beberapa hari lalu.

"Belum ada, bu. Nanti saya tanya sekretaris saya dulu. Siapa tahu ada meeting dengan anggota dewan atau gubernur," balas saya terhadap founder Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB) tersebut. Untuk dua kalimat terakhir, abaikan saja. He he he


"Kementerian ESDM menyelenggarakan Temu Netizen ketujuh di  Bandung. Kalau mau ikut, bisa daftar."

Tentu, tanpa perlu lama, langsung saya jawab iya sambil mengirim data terkait. Bisa dipahami mengingat sebelumnya, saya pernah mengikuti diskusi yang diselenggarakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) tersebut.

Tepatnya, saat menghadiri Temu Netizen keenam di Gedung Heritage, Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, pada 26 Juli lalu (Artikel sebelumnya: Kementerian ESDM Edukasi Masyarakat untuk Tanggap Bencana Lewat Aplikasi MAGMA Indonesia).

Terlebih, belum genap dua pekan, saya juga baru dari Bandung. Yaitu, dalam rangka tugas kantor untuk meliput test event Asian Games 2018 (Artikel sebelumnya Galeri Foto Test Event Asian Games 2018 dan Tapak Tilas di Parijs van Java).


*         *         *
PAGI itu, Sabtu (23/9) jalanan ibu kota masih lenggang. Dengan menumpang transportasi online, saya menuju kawasan di sisi Patung Dirgantara. Ketika itu, mayoritas peserta Temu Netizen ketujuh sudah kumpul. Hanya seperminuman teh, kami tiba di Kota Kembang. 

Usai sejenak merenggangkan otot dan pinggang di kamar hotel, kami menuju Museum Geologi. Museum ini terletak di Jalan Diponegoro, Bandung yang berseberangan dengan Gedung Sate alias Kantor Gubernur Jawa Barat. Dari tempat kami menginap, hanya berjarak seperlemparan batu. Alias, merem pun sampai sambil berolahraga he he he.

Temu Netizen ketujuh ini bertema Tambang untuk Kehidupan Manusia. Bagi saya ini menarik, mengingat pada Temu Netizen keenam, seusai acara saya sempat menulis tema selanjutnya, yaitu Dunia Pertambangan (Cuitan sebelumnya di twitter https://twitter.com/roelly87/status/890137101748101120).

Dalam kesempatan itu, terdapat dua narasumber yang membuka wawasan kami mengenai dunia pertambangan. Yaitu, Kepala Museum Geologi Oman Abdurahman dan Nicko Albart (Head of Investor PT. Bukit Asam).

Oman mengungkapkan alasan Temu Netizen ketujuh diselenggarakan di "markasnya". Tidak lain untuk menyambut HUT ke-72 Pertambangan dan Energi. Rangkaian ini sudah dimulai 11 September lalu dengan lomba kebersihan di lingkungan Kementerian ESDM. Puncaknya, pada 28 September mendatang dengan upacara hari jadi pertambangan dan energi 2017.

Yupz, Museum Geologi merupakan peletak dasar bagi berdirinya Kementerian ESDM. Dalam kesempatan itu, Oman berbagi kisah inspiratif mengenai kontribusi pertambangan terhadap umat manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Bisa dipahami mengingat pertambangan jadi salah satu pemasukan terbesar di negeri ini selain pajak.

Pernyataan sama diungkapkan Nicko yang membeberkan peran Bukit Asam di Tanah Air. Mereka merupakan perusahaan yang konsisten terhadap lingkungan. Tak heran jika Bukit Asam jadi salah satu produsen batu bara terbesar tidak hanya di Indonesia saja, melainkan juga Asia Tenggara.

Yang menarik, pada sesi diskusi ketika Oman melemparkan umpan lambung terhadap Nicko. Yaitu, kemungkinan Temu Netizen kedelapan diselenggarakan di salah satu kantor Bukit Asam di Lampung. 

Sekaligus, mengajak netizen dan blogger untuk wisata edukasi mengenai dunia pertambangan. Hanya, meski umpan lambung sudah dilepas kepala Museum Geologi, tetap saja sebagai eksekutornya dari Nicko dan pihak Bukit Asam.

Saya pribadi dan mayoritas yang hadir pada acara tersebut sangat sangat setuju. Semoga bisa mengunjungi langsung proses produksi batubara dari perusahaan yang pada 2019 genap satu abad ini. *Kode

*         *         *
SELAIN diskusi interaktif, kami diajak untuk berkeliling Museum Geologi. Termasuk, melongok "dapur" dari museum yang diresmikan pada 16 Mei 1929 ini. Kami didampingi Kepala Seksi Edukasi Informasi Museum Geologi Ma'Mur.

Ini menarik, mengingat untuk mengunjungi dapur Museum Geologi bukan hal mudah. Tidak sembarang orang atau instansi bisa mengaksesnya dengan bebas. Sebab, di dapur ini terdapat ratusan ribu koleksi yang akan dirancang atau masih mentah. 

Itu meliputi fosil, artefak, batuan, mineral, dan sebagainya. Ma'Mur menjelaskan, koleksi yang dipamerkan di Museum Geologi hanya 10 persen. Itu berarti, yang terdapat di dapur Museum Geologi ini mencapai 90 persen. 

Tak heran jika untuk bisa mengunjunginya harus melakukan izin atau jika ada acara terkait dari Kementerian ESDM dan Museum Geologi. Saya beruntung bisa menyaksikan langsung berbagai benda purbakala yang masih dalam keadaan terpisah alias tidak utuh.

Butuh kejelian dan kesabaran dari pihak Museum Geologi untuk menyatukan tulang belulang tersebut. Salah satu di antaranya fosil Mastodon yang merupakan nenek moyang gajah. 

Seketika, saya jadi ingat dengan berbagai kerangka hewan laut saat mengunjungi SEA World pada 28 Juni lalu. Mayoritas, koleksi itu berasal atau replika dari Museum Geologi (Artikel sebelumnya Wisata Edukasi di Sea World Ancol).

*         *         *
LAMPU-lampu di aula Museum Geologi padam. Cahaya berkilatan muncul dari beberapa kerangka hewan purba. Di sisi lain, anak-anak kecil bukan pada takut. Justru, mereka malah mendatanginya dengan menyorotkan senter.

Yupz, itu merupakan pemandangan memesona bagi saya. Tepatnya, saat mengikuti Night at the Museum yang jadi rangkaian HUT ke-72 Pertambangan dan Energi. 

Kementerian ESDM dan Museum Geologi membuka layanan museum untuk masyarakat pada malam hari. 

Bisa dipahami mengingat pada hari biasa, Museum Geologi beroperasi  Senin-Kamis pukul 08-16 WIB dan Sabtu-Minggu (08-14 WIB). Jadi, Night at the Museum ini persembahan mereka bagi masyarakat Indonesia. 

Termasuk, mengenalkan dunia museum dan pertambangan kepada anak-anak melalui wisata edutainment. Terbukti, antusiasme anak-anak sangat luar biasa untuk menyusuri setiap jengkal area museum.

Di dunia maya, antusiasme tidak kalah tingginya dari netizen. Itu bisa terlihat dari tagar #TambangUntukKita dan #GunungAgungAwas memuncaki trending topics di twitter.

Seketika, saya jadi ingat dengan trilogi film Night at the Museum yang dibintangi Ben Stiller dan Robin Williams. Film Hollywood itu bercerita tentang museum dari sisi lain yang mengajak penonton untuk lebih mengenal sejarah. Agar, dari masa lalu itu bisa dijadikan pelajaran pada masa mendatang. 

Sebagai penggemar wisata ke museum, saya pribadi berharap ke depannya, muncul film Indonesia terkait dengan tema sama. Itu juga yang dicanangkan Oman dalam diskusi dengan kami saat menjelaskan acara Night at the Museum yang jadi bagian dari rangkaian HUT ke-72 Pertambangan dan Energi ini.

Nah, Kementerian ESDM dan Museum Geologi sudah berkolaborasi mengumpan bola dengan Temu Netizen ketujuh. Sebagai eksekutor, tentu dari sineas yang meliputi, sutradara, produser, dan instansi terkait. Apakah ini gol atau tidak, itu urusan lain.***


*         *         *
Blogger dan netizen berangkat dari Jakarta

*         *         *
Sering ke Bandung, tapi seumur-umur baru kali pertama mengunjungi Museum
Geologi berkat undangan Kementerian ESDM

*         *         *
Puncak HUT ke-72 Pertambangan dan Energi pada 28 September

*         *         *
Dian Lorensa dari Kementerian ESDM memaparkan rangkaian acara untuk
menyambut HUT ke-72 Pertambangan dan Energi

*         *         *
Kepala Seksi Edukasi Informasi Museum Geologi Ma'Mur menjelaskan
berbagai koleksi di Museum Geologi kepada netizen
*         *         *
Ani Berta menerangkan riwayat fosil  kepada buah hatinya yang juga blogger

*         *         *
Koleksi kuno peta Bayah, Banten, buatan 1923 

*         *         *
Kepala Museum Geologi Oman Abdurahman didampingi NickoAlbart (Head of
Investor PT. Bukit Asam) menyerahkan hadiah kepada blogger
*         *         *
Foto bersama usai Temu Netizen ketujuh rampung

*         *         *
Suasana di halaman depan Museum Geologi

*         *         *
Ternyata, nonton bareng (nobar) tidak hanya dalam sepak bola, melainkan juga
dilakukan keluarga untuk melihat sejarah pertambangan dan energi

*         *         *
Berbagai koleksi bersejarah yang dipamerkan di Museum Geologi

*         *         *
Berhubung suasana di dalam museum agak temaram, dua pengunjung ini
butuh senter untuk menyorot ke kamerah

*         *         *
Saya dengan latar kerangka T-Rex!

*         *         *
Papan informasi yang berwarna seperti ini yang membuat pengunjung,
terutama anak-anak  sangat antusias belajar sejarah

*         *         *
Jas Merah. Jangan pernah melupakan sejarah terhadap tokoh geologi dan perintis

*         *         *
Foto bersama usai mengikuti Night at the Museum yang penuh warna

*         *         **         *         *
*         *         *

*         *         **         *         *

*         *         *
- Bandung, 24 September 2017

4 komentar:

  1. Seru banget ya Om acaranya kemarin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Om? ih... ga deh
      cukup panggil kakak ya :)

      wkwkwkwk

      Hapus
  2. Night at museum nya harusnya satu2 ke dalamnya hahaha
    Miris ya dengar pengakuan Pak Makmur, soal infrastruktur dan SDM Museum yg kurang? Moga2 Pemerintah menyikapi hal ini.

    BalasHapus
  3. Kalau enggak diajak KESDM, bisa-bisa kapan baru berkunjung ke museum geologi om?

    Anyway, semoga bisa diundang lagi ya di acara Temu Netizen ke 8

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)