TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: INASGOC

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label INASGOC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INASGOC. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2018

Wawancara Eksklusif Presiden IOC Thomas Bach


Yeeeeeee selpiiih bareng dengan Presiden IOC Thomas Bach!
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)



ASIAN Games 2018 kedatangan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach. Kehadiran pria asal Jerman itu dimaksudkan menghadiri Upacara Penutupan, Minggu (2/9) malam.

Sebelum itu, TopSkor dan beberapa media dapat kesempatan bertatap muka dengannya. Kedatangannya pun dikaitkan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Terlebih, Jumat (1/9) malam, Bach bersantap malam dengan Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, dan Ketua Panitia Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 Erick Thohir.

Bach pun memberi penilaian positif, seiring antusiasme kaum muda di Indonesia. Berikut petikan wawancaranya:

Indonesia ingin jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Bagaimana peluangnya...

Olimpiade adalah event global, diikuti lebih dari 200 negara. Indonesia salah satu calon kuat tuan rumah Olimpiade 2032, khususnya jika melihat kesuksesan Asian Games 2018.

Seberapa sukses gelaran Asian Games 2018?

Saya melihat Indonesia sukses di semua aspek. Crowd-nya luar baisa dan venue juga sangat bagus. Dari Asian Games ini, saya melihat, masyarakat Indonesia punya antusiasme yang sangat besar terhadap olahraga. Saya tak pernah membayangkan hal ini ada di sini.

Lalu, bagaimana dengan penyelenggaraan Asian Games 2020 di Hangzhou, Cina...

Dengan kesuksesan Indonesia menggelar Asian Games 2018, tentu tak akan jadi tantangan tersendiri bagi Hangzhou menggelar Asian Games berikutnya. Namun, mereka pastinya sudah mengirim tim observasi. Saya cukup yakin mereka juga akan sukses.

Dengan pengalaman Cina yang sangat kaya dalam menggelar multievent, seberapa besar peluang mereka lebih sukses dari Indonesia?

Sejatinya, setiap gelaran Asian Games maupun Olimpiade, sekalipun tidak bisa dibandingkan begitu saja. Setiap edisi pastinya punca ciri khas masing-masing. Sebab, setiap tuan rumah menonjolkan budaya yang mereka miliki dan itu juga terlihat di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan Olimpiade 2020 Tokyo?

Tokyo juga harus bisa mencontoh Asian Games 2018. Kita lihat, bagaimana Indonesia mampu menyelenggarakan event dengan jumlah cabang olahraga yang banyak.

Korea Selatan dan Utara bersatu di Asian Games 2018. Bagaimana pendapat Anda?

Itulah Olahraga,  harus bisa menyatukan semua. Begitu pun Olimpiade, harus bisa jadi ajang perdamaian bagi semua negara di dunia. Di sini, dua Korea bisa bersatu dan meraih medali. Tentu ini sangat hebat. Namun, bagaimana proses perdamaian ke depan, tentu ini bergantung pada pemangku kebijakan kedua negara tersebut.***

*         *         *
Thomas Bach mengunjungi Main Press Center Asian Games 2018 di Jakarta
Convention Center

*         *         *
Thomas Bach didampingi Direktur Media dan PR Panitia Nasional Penyelenggara
Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) Danny Buldansyah

*         *         *
Kehangatan diskusi dengan sejumlah media Tanah Air yang mendapat undangan
dari INASGOC

*         *         *
Ramahnya Thomas Bach yang meluangkan waktu untuk menemui media Tanah Air

*         *         *
Yessss! Foto bersama dengan Thomas Bach

*         *         *
Hasil wawancara dengan Thomas Bach di Harian TopSkor

*         *         *

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi 187, Senin 3 September 2018
Penulis: KH Dhaneswara/ Choirul Huda
Foto: Choirul Huda

- Jakarta, 4 September 2018

Senin, 20 Agustus 2018

Timnas Menang, Jurnalis Olahraga Ikut Bergoyang


Selebrasi rekan-rekan jurnalis saat nonton bareng kemenangan Indonesia
atas Hong Kong 3-1. (Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)

TERIAKAN Indonesia menggema di Main Press Center (MPC) Jakarta Convention Center, Senin (20/8). Tepatnya, saat tim nasional (timnas) Indonesia mengalahkan Hong Kong 3-1 pada pertandingan keempat Grup A Asian Games 2018.

Drama terjadi pada duel di Stadion Patriot Chandrabhaga ini. Itu karena skuat asuhan Luis Milla tertinggal lebih dulu dari Hong Kong.

Yaitu, ketika Lau Hok Min membobol gawang Andritany Ardhiyasa pada menit ke-38. Namun, tertinggal lebih dulu tidak membuat skuat Garuda panik.

Sebaliknya, Indonesia tampil tenang. Hingga, usai turun minum sukses menggelontorkan tiga gol tanpa balas lewat Irfan Jaya pada mneit ke-46, Stefano Lilipaly (85), dan Hanif Abdurrauf (90).

“Dramatis. Itu satu kata yang tepat menggambarkan pertandingan ini,” kata jurnalis Beritasport.co, Arfa Gandhi.

Reporter 30 tahun itu sedang menyaksikan nonton bareng (nobar) di MPC JCC bersama puluhan jurnalis lainnya. Suasana sempat hening ketika Andritany memungut bola.

Namun, situasi berbalik histeris saat Irfan mencetak gol. Puncaknya ketika Lilipaly membalikkan situasi yang diakhiri Hanif membuat seisi ruangan pecah.

“Ini Indonesia. Harus seperti ini bermainnya. Saya harap Milla mampu melanjutkan tren impresif ini pada 16 besar,” Boy Seseli dari Breakingnews.id, menambahkan.

Hansamu Yama dan kawan-kawan akan menghadapi Uni Emirat Arab pada babak perdelapan final. Di atas kertas, Indonesia berpeluang melibas wakil Timur Tengah tersebut.

“Saya sih optimistis. Apalagi, Indonesia tuan rumah. Dukungan dari fan bakal membuat pemain tampil menggila,” lanjut Martinus dari MNC Sport.

Sepanjang sejarahnya, pencapaian terbaik Indonesia pada Asian Games 1958. Ketika itu, ditangani Toni Pogacnik yang berhasil mengantar Skuat Garuda meraih medali perunggu usai pada perebutan tempat ketiga membantai India 4-1.

“Untuk mengulangi pencapaian 70 tahun silam menurut saya tetap ada kemungkinan. Dalam sepak bola, apa pun bisa terjadi,” Rayza Nirwan yang menjaga desk sepak bola Bisnisnews.id memberi analisis.

“Hanya, tinggal bagaimana kita mampu mengatasi tekanan. Maklum, sebagai tuan rumah, justru tekanan tambah besar. Namun, jika mampu mengatasinya, justru itu jadi motivasi. Yang penting, harus step by step 16 besar dulu, lalu perempat final, dan seterusnya,” kata Rayza, optimistis.

Disela-sela nobar salah satu staf media Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) Ardy Alvez menemukan lensa yang tergeletak di MPC. Ternyata, lensa seharga Rp 120 juta ini milik Zhou Wei (Cina) dari Yangcheng Evening News.

*           *           *

Artikel ini sebelumnya dimuat di TopSkor.id (https://www.topskor.id/detail/80260/Timnas-Menang-Jurnalis-Olahraga-Ikut-Bergoyang)

- Jakarta, 20 Agustus 2018

Kamis, 14 Juni 2018

Jakarta Sudah Siap Sambut Asian Games 2018




Langit-langit ibu kota kian cantik dengan 300 drone yang membentuk logo
dan maskot Asian Games 2018 saat hitung mundur setahun pada 18 Agustus lalu


ASIAN Games 2018 tinggal menghitung hari. Tepatnya, berlangsung mulai 18 Agustus hingga 2 September mendatang di Jakarta dan Palembang.

Saya pribadi sangat antusias menyambut pesta olahraga terbesar di kolong langit setelah Olimpiade ini. Bukan hanya karena berprofesi sebagai jurnalis olahraga yang setiap hari meliput di kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII2018 (INASGOC), Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dan instansi atau organisasi lainnya terkait olahraga.


Melainkan, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, tentu saya sangat berharap, Asian Games 2018 ini sukses. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan empat sukses (4S) pada hajatan akbar ini. Itu meliputi sukses prestasi, penyelenggaraan, administrasi, dan ekonomi.

Bisa dipahami mengingat ini kali pertama Indonesia sebagai tuan rumah setelah 56 tahun silam. Tepatnya sejak dipercaya menyelenggarakan Asian Games 1962. Tentu, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan.

Jika pemerintah beserta segenap elemen sudah bekerja keras dan cerdas demi mewujudkan target 4S, pun demikian dengan saya yang mencoba untuk berpartisipasi. Caranya, tentu melalui tulisan positif dan informasi update terkait Asian Games 2018.

Untuk di media tempat saya bekerja, saya biasa menuliskannya pada edisi cetak yang terbit setiap hari (Harian TopSkor) dan versi online (www.TopSkor.id). Sementara, sebagai blogger saya biasanya menuangkan ide di blog ini, www.roelly87.com bersama berbagai media sosial lainnya seperti instagram, twitter, dan facebook, yang seluruhnya lewat akun @roelly87.

Intinya, saya jadi bagian dari ratusan juta rakyat di negeri ini untuk dukung bersama suksesnya Asian Games 2018. Kebetulan, sejak Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tang Dung secara resmi menarik diri sebagai tuan rumah pada 17 April 2014, saya sudah memiliki firasat, Indonesia bisa jadi pengganti.

Wajar saja, sebab sebelumnya Indonesia melalui Surabaya bersaing dengan Vietnam (Hanoi) dalam pemilihan tuan rumah Asian Games 2018. Ketika itu Hanoi unggul suara atas ibu kota Jawa Timur, 29-14 dalam voting yang dilakukan Dewan Olimpiade Asia (OCA) yang berlangsung 8 November 2012.

Namun, kurang dari dua tahun, Vietnam mengundurkan diri akibat krisis ekonomi OCA pun mencari calon pengganti di antara Indonesia, Cina, dan Uni Emirat Arab sebagai tuan rumah. Pada akhirnya, Indonesia yang terpilih sebagai penyelenggara edisi ke-18 Asian Games ini. Itu terjadi pada 25 Juli 2014 dengan OCA resmi menunjuk Jakarta sebagai tuan rumah utama yang didukung Palembang.

Keputusan Jakarta sebagai tuan rumah utama bukan tanpa alasan. Kota yang 22 Juni mendatang genap 491 tahun ini dinilai OCA memiliki fasilitas olahraga yang lengkap, jaringan transportasi memadai, dan sarana serta prasarana seperti hotel untuk tamu.

Sebagai warga Jakarta, tentu saya bangga dengan fakta tersebut. Kebetulan, sejak tahun lalu, saya kerap meliput aktivitas pembangunan atau renovasi venue serta arena olahraga lainnya di ibu kota.

Mayoritas arena yang ada di Jakarta memang sudah jadi. Alias, tinggal dilakukan renovasi atau pemolesan untuk mempercantik saja. Jadi, tidak perlu membangun banyak venue karena memanfaatkan yang sudah ada.

Termasuk di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Komplek olahraga terbesar di Tanah Air ini sudah bersolek menyambut Asian Games 2018. Bahkan, di SUGBK sudah didirikan panggung untuk upacara pembukaan. Ya, opening ceremony Asian Games 2018 mengusung konsep kolosal.

Dalam jumpa pers yang saya ikuti pada 27 Mei lalu, INASGOC akan melibatkan ratusan musisi dan ribuan pengisi acara untuk memeriahkan pembukaan Asian Games 2018 yang berlangsung sehari setelah perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Dipastikan, opening ceremony ini jauh lebih meriah dibanding saat hitung mundur setahun menuju Asian Games 2018 di pelataran Monumen Nasional (Monas) pada 18 Agustus 2017. Ketika itu, langit-langit ibu kota diwarnai 300 drone yang menari-nari membentuk berbagai logo Asian Games 2018.

Setelah pembukaan, giliran ribuan atlet dari berbagai negara Asia yang beraksi. Selain Komplek SUGBK, pertandingan Asian Games 2018 di Jakarta tersebar pada beberapa titik. Itu meliputi berbagai cabang olahraga seperti.

Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur: Balap Sepeda Lintasan
Jakarta International Equestrian Park, Pulomas, Jakarta Timur: Balap Kuda
Ancol Beach Marina, Ancol, Jakarta Utara: Berlayar, Jet Ski
Pulomas International BMX Center, Pulomas, Jakarta Timur: Balap Sepeda
Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur: Pencak Silat
Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat: Tinju, Bridge, Senam, Judo, Kabaddi, Jujitsu, Wushu, Tenis Meja, Taekwondo, Angkat Besi, Gulat
Pertamina Simprug Stadium, Simprug, Jakarta Selatan: Voli

Untuk kawasan SUGBK terdapat beberapa venue yang menyelenggarakan pertandingan olahraga, seperti:
SUGBK: Atletik
Istana Olahraga Senayan: Bulu Tangkis, Basket
Aquatic Center: Renang, Renang Indah, Loncat Indah, Polo Air
Hall Basket: Basket
Tennis Outdoor Senayan: Basket 3x3
Tennis Indoor Senayan: Voli
Lapangan Hoki: Hoki
Lapangan Baseball: Bisbol
Lapangan Softball: Sofbol
Lapangan Panahan: Panahan
Lapangan Rugby: Rugbi 7
Fasilitas Latihan Atlet: Skuas
Jakarta Convention Center: Anggar, Karate, Kurash, Sambo, Voli

Khusus untuk SUGBK, selain digunakan sebagai venue atletik, juga jadi tempat untuk upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018. Sementara JCC bersama JIExpo merupakan venue sementara yang disulap khusus pada Asian Games 2018. JCC juga jadi media center untuk peliput dalam dan luar negeri dalam menerima informasi terkait pertandingan.

Ya, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, khususnya warga Jakarta saya berharap Asian Games 2018 berlangsung sukses. Mari kita #DukungBersama Asian Games 2018!


*         *         *
Presiden Joko Widodo membuka hitung mundur Asian Games 2018

*         *         *
Antusiasme masyarakat pada Sport Festival di Kota Tua, Jakarta Barat, pada
9 Desember lalu yang masuk rangkaian jelang Asian Games 2018

*         *         *
Cantiknya Museum Fatahillah dengan siluet Asian Games 2018

*         *         *
Presiden Joko Widodo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan,
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono,
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua Panitia Nasional
Penyelenggara Asian GamesXVIII/2018 Erick Thohir, dan
segenap perwakilan kementerian serta instansi terkait saat meninjau
Wisma Atlet Kemayoran pada 26 Februari lalu

*         *         *
Jakarta International Velodrome mendekati fase akhir renovasi pada 2 April lalu

*         *         *
Pemasangan panggung untuk pembukaan Asian Games 2018 di
Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dipotret pada 31 Mei lalu

*         *         *
- Jakarta, 14 Juni 2018

Jumat, 06 April 2018

Sisi Lain World Press Briefing Asian Games 2018


Yeeeee, relaksasi sejenak disela-sela World Press Briefing yang diselenggarakan
INASGOC di Hotel Borobudur pada 2-3 April lalu.



PANITIA Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) bekerja keras dan cerdas menyambut pesta olahraga antarnegara Asia ini. Bisa dipahami mengingat hajatan terbesar kedua di kolong langit setelah Olimpiade itu berlangsung empat bulan lagi. Tepatnya, pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang di Jakarta dan Palembang.

Teranyar, INASGOC menyelenggarakan World Press Briefing di Hotel Borobudur pada 2-3 April lalu. Tujuannya, untuk lebih mendalam dalam memberikan informasi terkait teknis peliputan kepada lebih dari 200 media nasional dan internasional.

Bagi saya, ini kali kedua mengikuti rangkaian acara INASGOC lebih dari sehari. Sebelumnya, pada Asian Games Media Forum 2017 di Jakarta dan Palembang pada 27-28 November lalu. Untuk acara yang seharian alias tidak menginap sih sudah banyak.

Apalagi, INASGOC kerap menyelenggarakan diskusi mingguan dengan media di markasnya, di Wisma Serba Guna (WSG), Jalan New Delhi, Senayan, Jakarta Pusat. Atau, ketika jumpa pers terkait Asian Games 2018.

Kebetulan, saya sudah dua tahun aktif mengikuti perkembangan Asian Games 2018. Tepatnya, sejak dipercaya Redaksi Pelaksana TopSkor.id Suryansyah untuk meliput terkait INASGOC dan juga Panitia Nasional Penyelenggara Asian Para Games 2018 (INAPGOC).

Itu berkat rekomendasi dari Redaktur TopSkor.id Ari Dwi Prasetyo kepada Pemimpin Redaksi Harian TopSkor Yusuf Kurniawan yang mengajak saya bergabung pada versi online sejak Mei 2016.

Yupz, sebelumnya, saya memang berkecimpung pada versi cetak sejak kali pertama sebagai wartawan Harian TopSkor pada Mei 2012 (http://www.roelly87.com/2018/01/13-tahun-topskor-dalam-menyampaikan.html).

Meski kini terjun di versi online, beberapa kali saya juga ikut menulis untuk Harian TopSkor. Tidak hanya terkait Asian Games 2018 saja (https://www.instagram.com/p/BgttDdkheM7/), melainkan berita lainnya  (s.id/MarcoSimic) atau pelajar (s.id/PopNas2017), dan kompetisi usia dengan Liga NIVEA MEN TopSkor U-16 2018 (https://www.instagram.com/p/Bfs3keihtih/).

*        *        *
WORLD Press Briefing memberi saya banyak informasi terkait peliputan Asian Games 2018. Sebab, pada acara itu, saya bisa mengetahui lebih dalam apa dan bagaimana peran media (Selengkapnya di https://www.topskor.id/detail/71580/Galeri-Foto-World-Press-Briefing-2018).

Namun, acara yang diikuti ratusan peserta dari 25 negara ini tidak melulu tentang kegiatan serius. Sebaliknya, acara dikemas dengan santai bagi kami peliput, baik dari Tanah Air maupun luar negeri dengan tujuan lebih merasakan atmosfer Asian Games 2018. Misalnya, saat Gala Dinner dengan berbagai atraksi dan games berhadiah.

Kebetulan, saya berhasil membawa pulang oleh-oleh usai mengikuti games tersebut. Itu setelah saya dua kali menembak bola basket dengan sempurna dari tiga kesempatan. Padahal, mah kali terakhir megang bola basket itu pada 2004 silam. Alias, ketika masih berseragam abu-abu!

Beda, dengan sepak bola atau futsal yang lebih rutin. Baik bersama rekan kantor maupun teman-teman lainnya. Namun, sebagai pencinta olahraga, adrenalin saya langsung terpacu ketika mendapat tantangan dari MC untuk memasukkan bola ke dalam keranjang!

Usai santap malam yang dilanjutkan bermain angklung, saya dan beberapa rekan media seperti biasa nongkrong santai di depan lobi penginapan mewah berbintang lima ini. Nah, ketika asyik menikmati semilir dari hotel yang dibuka sejak 1974 ini, ada salah satu peliput yang menyeletuk.

Yaitu, memanfaatkan voucher hotel untuk menikmati sauna dan spa secara gratis! Yupzzz, ide itu tentu sangat menarik perhatian kami, terutama saya. Maklum, seumur-umur menginap di hotel berbintang lima di Tanah Air, saya belum pernah spa atau sauna.

Paling banter, berenang saja yang memang sudah jadi standardisasi setiap bepergian. Baik itu di Hotel Courtyard Mariott, Bali, yang juga bintang lima (s.id/CourtyardMariott) atau di Kapal Pesiar saat mengunjungi Wales, Inggris (http://s.id/MagellanCruise).

Alhasil, kami yang berjumlah belasan pun langsung menuju ke Klub & Spa Borobudur. Ya, relaksasi sejenak di tengah padatnya acara World Press Briefing sejak pagi. Terutama, untuk memulihkan kebugaran mengingat esok harinya, Selasa (3/4) kami akan melanjutkan petualangan dengan meninjau lima venue Asian Games 2018 di ibu kota.

Dimulai dari kunjungan ke Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Utara, yang dilanjutkan ke Jakarta Timur untuk meninjau International Equestrian Park (Pulomas), dan Jakarta International Velodrome (Rawamangun).

Usai makan siang di Kantor Pusat PT Bank Negara Indonesia (BNI) Sudirman, Jakarta Pusat, kami pun menuju selatan ibu kota. Tepatnya, ke Komplek Gelora Bung Karno (GBK). Mulai dari Aquatic Center, Istana Olahraga (Istora) Senayan, dan Stadion Utama GBK.

Yuppppi. Ga sabar untuk segera merasakan atmosfer Asian Games 2018!***

*        *        *
Bawa pulang Bhin-bhin, Kaka, dan Atung!

*        *        *
Yeeee, berangklung ria

*        *        *
3... 2... 1...

*        *        *
Narsis sejenak ke arah kamera

*        *        *
Hufff...!

*        *        *
Dapat suvenir resmi Asian Games 2018 atas keberhasilan memasukkan bola

*        *        *
Yeeeee, kali pertama dalam sejarah merasakan spa dan sauna

*        *        *
Melihat foto ini jadi ingat film bertema Triad seperti Young and Dangerous!

*        *        *
Gaya euy!

*        *        *
Entah ini apa namanya, pengering rambut mungkin

*        *        *
Kamar yang super-duper luas

*        *        *
Saatnya, kerja, kerja, dan kerja!

*        *        *
Untuk artikel liputan bisa disimak di www.topskor.id

*        *        *
Bergaya di kantor pusat PT Bank Negara Indonesia

*        *        *
Tiada pesta yang tak berakhir, usai meninjau berbagai venue di GBK,
kami pun kembali ke rumah masing-masing

*        *        *
Artikel Terkait:

- https://www.topskor.id/detail/71580/Galeri-Foto-World-Press-Briefing-2018
- https://www.topskor.id/detail/71442/Sponsori-Asian-Games-2018-BNI-Sediakan-Solusi-Transaksi-Digital 
- https://www.topskor.id/detail/71435/Sudah-98-Equestrian-Siap-Sambut-Asian-Games-2018 
- https://www.topskor.id/detail/71404/Masih-4-Bulan-Lagi-Atmosfer-Asian-Games-2018-Sudah-Terasa 
- https://www.topskor.id/detail/71378/World-Press-Briefing-Jadi-Sarana-Publikasi-INASGOC
- https://www.topskor.id/detail/71376/INASGOC-dan-Puluhan-Media-Tinjau-Venue-Asian-Games-2018 

*        *        *
Artikel Sebelumnya:

*        *        *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi yang dilakukan sendiri (swafoto) dan dijepret rekan media lainnya.
- Jakarta, 6 April 2018

Rabu, 10 Januari 2018

Sisi Lain BPK yang Bekerja dengan Senyap


Kantor Pusat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang setiap hari
terlihat dari tempat saya bekerja. (Foto: www.roelly87.com)


Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan lembaga tinggi negara yang kedudukannya sejajar dengan Presiden Republik Indonesia. Yupz, di Tanah Air ini, tentu keberadaan BPK sudah dikenal publik. 

Hanya, untuk mengetahui lebih dalam terkait fungsi dan tugasnya, tidak semua masyarakat tahu. Termasuk, saya pribadi yang jujur saja masih awam dengan BPK meski kantor pusatnya tidak jauh dari lokasi saya kerja. 

Namun, saya berusaha untuk mengenal instansi ini secara bertahap. Tidak menyeluruh memang, alias harus perlahan seperti mengintip aktivitas mereka di media sosial, membaca berita di media cetak dan online, hingga menelusuri lebih dalam di website-nya yang beralamat pada www.bpk.go.id. Puncaknya, sejak hitung-mundur jelang Asian Games 2018 mengingat BPK memiliki peran yang vital.

Kebetulan, sebagai blogger dan reporter di salah satu media olahraga nasional, saya akrab dengan berbagai lembaga negara. Baik itu kementerian atau yang setingkat serta nonkementerian, lembaga tinggi negara, lembaga negara, organ konstitusi, hingga nonstruktural.

Untuk kementerian, yang tidak asing ialah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Itu karena saya nyaris setiap hari memburu berita di kantornya atau di perwakilan (Dispora DKI Jakarta). Bisa dipahami mengingat saya merupakan jurnalis olahraga yang tentu harus menggali berita dari kementerian yang bermarkas di Senayan, Jakarta Pusat tersebut. Baik dari menterinya langsung, atau deputi terkait. 

Mengenai lembaga lain, baik sebagai blogger maupun saat tugas di lapangan, beberapa kali saya ikuti. Termasuk, rutin mengikuti kampanye yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN) sejak masih dipimpin Anang Iskandar hingga kini Budi Waseso (artikel sebelumnya: https://www.kompasiana.com/roelly87/kenapa-harus-blogger-yang-kampanye_54f8185ca333113b618b4942). 

Berkat aktif dalam program tersebut, saya pun mendapat kehormatan sebagai blogger peduli narkoba (https://www.cegahnarkoba.bnn.go.id/index.php/berita-terbaru/item/895-choirul-huda-jadi-pemenang-lomba-penulisan-blog-anti-penyalahgunaan-narkoba).

Selain aktif di media sosial terkait antinarkoba bersama BNN, saya juga giat dengan kampanye yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Termasuk, pada 14 Juni 2016 ketika ditunjuk Kepala BNPT Tito Karnavian -kini Kapolri- sebagai Duta Damai Dunia Maya. 

Yupz, narkoba dan terorisme merupakan dua dari tiga musuh negara ini. Nah, satu lagi apa? Yaitu, korupsi! Untuk musuh yang satu ini, kebetulan saya dua kali mengikuti kegiatan di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). 

Yaitu, saat menyambut Hari Anti Korupsi Sedunia 2015 (Artikel sebelumnya: http://www.roelly87.com/2015/11/membongkar-rahasia-bea-cukai.html) dan ketika mengetahui lebih dalam terkait pengelolaan pajak bersama Direktorat Jenderal Pajak (Artikel sebelumnya:  http://www.roelly87.com/2015/02/ketika-blogger-ngobrol-pajak-di-kantor.html).

Nah, terkait korupsi, tentu tidak bisa dilepaskan dari BPK. Itu karena lembaga yang 1 Januari lalu genap 71 tahun ini tugasnya berkaitan dengan penanganan korupsi. Yupz, Anda mungkin pernah mendengar slogan "BPK Kawal Harta Negara"? Nah itu salah satunya. 

Namun, peran BPK jauh lebih luas daripada mencegah korupsi. Yupz, sebagai masyarakat awam, awalnya saya mengira BPK itu sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu terkait akronim dua huruf di belakangnya (PK) kendati maknanya berbeda antara Pemeriksan Keuangan dan Pemberantasn Korupsi. 

Yang menarik bagi saya, ketika mengetahui BPK merupakan lembaga yang sejajar dengan presiden. Alias, pimpinan BPK tidak bertanggung jawab kepada presiden atau di bawahnya. Melainkan, BPK dipilih dan bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Ini penting bagi saya sebagai masyarakat umum. Sebab, BPK merupakan lembaga yang bebas dan mandiri alias independen. Itu mengapa, hubungannya dengan pemerintah (presiden) tidak ada atasan atau bawahan. Bagi saya, ini krusial sekali. 

Tanpa bermaksud membuka luka lama, tapi bagaimana pun menulis fakta harus dilandasi kejujuran. Itu mengingat saya sebagai blogger yang memegang asas jurnalistik berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu saya wajib kritis dalam menuliskan sesuatu. Baik itu kelebihan atau kekurangan yang tidak hanya berguna sebagai pengingat saya pribadi, melainkan demi pembaca blog ini dan masyarakat secara keseluruhan.

Nah, dalam penelusuran saya di berbagai media, ternyata dulu, dulu sekali... Syahdan, BPK itu merupakan lembaga yang kedudukannya di bawah kendali pemerintah. Saat itu, tentu wewenang BPK terbatas. 

Presiden yang berkuasa saat itu bisa saja memerintahkan atau melarang BPK untuk melakukan pemeriksaan demi citra pemerintah terangkat. Misalnya, BPK harus sowan jika ingin memeriksa sejumlah lembaga yang lazim digunakan sebagai sumber dana pemerintah terdahulu seperti Pertamina, Bank Indonesia, dan bank lainnya, atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Bahkan, laporannya harus mendapat persetujuan lebih dulu dari Sekretarian Negara sebelum diserahkan ke paerlemen. Itu dimaksud supaya citra pemerintah tidak rusak jika ada lembaga atau BUMN yang kena kartu merah dari BPK. 

Namun, kini tidak seperti itu. Sebab BPK tak terikat dengan pemerintah, termasuk presiden. Jadi, kini mereka bisa bebas memeriksa. Itu sesuai dengan tugas BPK yang meliputi:

1. Memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah, lembaga negara lainnya, Bank Indonesia, BUMN, BUMD, Badan Layanan Umum, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara.

2. Melaporkan kepada penegak hukum jika dalam pemeriksaan ditemukan indikasi tindak pidana

3. Memantau pelaksanaan tindak lanjut dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pejabat entitas yang diperiksa, dan hasilnya dilaporkan secara tertulis kepada lembaga perwakilan dan pemerintah.

Nah, pada poin pertama itu, BPK BERHAK memeriksa sumber dana pemerintah seperti BUMN yang memiliki ratusan badan perseroan. Misalnya, PT Pertamina, PT Garuda Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia, dan lain-lain. 

BPK melaporkan temuan yang tidak wajar kepada
Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK
Foto: Ilustrasi Mengenal Lebih Dekat BPK


Jika ada hal-hal yang menyimpang bahkan mengarah kriminal, seperti poin kedua yang dilanjutkan poin ketiga, BPK bisa melaporkannya kepada penegak hukum. Siapa saja mereka? Ada tiga penegak hukum, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK. 

Nah, terkait KPK ini, bedanya fungsi dengan BPK seperti penjelasan saya di atas. Ibarat sepak bola, BPK berperan sebagai gelandang yang memberikan assist (umpan matang) kepada KPK untuk dieksekusi. Hebatnya, dikutip dari laman Kompas.com, 90 persen kasus korupsi yang ditangani penegak hukum, dilakukan atas pemeriksaan BPK!

"Sekitar 90 persen kasus korupsi yang ditangani penegak hukum dilakukan atas pemeriksaan BPK," ujar Sekretaris Jenderal BPK Hendar Ristriawan. Dia menambahkan, banyak yang tidak mengetahui bahwa proses hukum yang dilakukan KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan justru berawal dari temuan BPK terkait adanya kerugian negara.

Anda kaget? Sama, saya juga. Mulanya, saya pikir, setiap kasus korupsi kakap yang tertangkap tangan itu hanya dilakukan ketiga penegak hukum itu tanpa peran BPK. Ternyata, saya keliru. Sebab, 90 persen, justru dari temuan BPK. 

Analoginya, BPK seperti Andrea Pirlo dalam sepak bola yang selalu memberi umpan-umpan matang untuk kemenangan timnya. Namun, ketika pertandingan selesai, yang dielu-elukan justru para striker atau yang mencetak gol. Pirlo? Cukup bersyukur, bisa berkontribusi dalam kemenangan timnya. Ya, itulah BPK yang selalu bekerja dengan penuh kesenyapan tanpa gembar-gembor tapi hasilnya selalu terlihat. 

Nah, kinerja signifikan BPK itu pun diakui Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC). Ini saya dapat langsung ketika meliput suatu acara terkait pesta olahraga antarnegara Asia pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang.

Dalam berbagai kesempatan, INASGOC menegaskan untuk melibatkan BPK terkait Asian Games 2018. Yaitu, demi memeriksa sistem administrasi mereka. Sebagai gambaran, pemerintah Indonesia melalui INASGOC menargetkan empat kesuksesan pada Asian Games 2018 (4S), yaitu.

1. Sukses Prestasi
2. Sukses Penyelenggaraan
3. Sukses Administrasi
4. Sukses Ekonomi

Yang pertama merupakan domain Kemenpora beserta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan berbagai induk olahraga lainnya. Indonesia menargetkan finis 10 besar Asian Games ke-18 nanti. Kedua, INASGOC menggandeng Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) demi suksesnya Indonesia sebagai tuan rumah. 

Yupz, Asian Games 2018 ini merupakan kali kedua Indonesia sebagai penyelenggara setelah 1962 silam. Wajar, jika pemerintah ingin tahun ini penyelenggaraannya lebih baik dari 56 tahun silam. Itu berkolerasi dengan poin keempat yang menggandeng banyak kementerian, termasuk untuk memajukan sektor Usaha Kecil Menengah dan pariwisata di Tanah Air.

Nah, yang ketiga itu, INASGOC tidak ingin terjadi penyalahgunaan keuangan yang menyebabkan kerugian negara karena mencapai triliunan rupiah. Itu mengapa, mereka butuh BPK untuk mengawalnya.

"Atas dasar itulah, koordinasi yang sudah sering kali kami lakukan dengan BPK terus diperkuat. Kami ingin pemeriksaan BPK atas penggunaan anggaran negara yang digunakan INASGOC untuk persiapan penyelenggaraan (Asian Games 2018) terus berlanjut hingga selesai," kata Ketua INASGOC Erick Thohir kepada saya saat mewartakan untuk TopSkor.id di Wisma Serbaguna, Senayan, Jakarta Pusat, 17 Oktober lalu.

Dua pekan berselang, Koordinator Procurement INASGOC Listiyanto, menambahkan di tempat yang sama. "Asian Games (2018) ini event nasional. Kami koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga lain untuk mensukseskan pesta olahraga ini. Termasuk, dengan BPK yang perwakilannya ada di kantor INASGOC ini," Listiyanto, menjelaskan (2/11).

Ketua INASGOC Erick Thohir berharap koordinasi dengan BPK diperkuat
(Foto: www.TopSkor.id/Choirul Huda)


Nah, demikian sedikit pengetahuan saya terkait BPK. Tentu, pemahaman saya terkait BPK masih jauh panggang dari api. Alias, baru kulit-kulitnya saja. Namun, tidak ada salahnya, sebagai blogger saya saya mencoba untuk berbagi informasi terkait BPK kepada pembaca blog ini serta masyarakat umum. Jika Anda memiliki pengalaman terkait BPK, bisa menambahkannya di kolom komentar di bawah ini.

Oh ya, sebelum saya mengakhiri artikel ini, saya teringat dengan kewajiban saya sebagai bagian dari masyarakat umum. Yaitu, jika saya, kalian, atau seluruh rakyat Indonesia, yang menemukan indikasi pengelolaan keuangan negara atau daerah ternyata tidak sesuai dengan perundang-undangan. 

Nah, kita sebagai masyarakat umum bisa menyampaikan pengaduan dengan melengkapi bukti dan data terkait penyimbangan pada laman http://www.bpk.go.id/page/pengaduan-masyarakat. Pertanyaan selanjutnya, data-data kita yang privasi bakal aman? Saya yakin, BPK bakal memastikan data-data tersebut tetap rahasia. 

Atau, bisa juga melaporkannya via media sosial dengan me-mention akun resmi BPK. Saya perhatikan berbagai akun media sosial BPK sangat kooperatif terhadap warganet dengan memberikan berbagai informasi yang bisa dipahami seluruh kalangan.***

Sekilas tentang BPK

*         *         *

Referensi:
- Mengenal Lebih Dekat BPK: Sebuah Panduan Populer (Diterbitkan Badan Humas dan Kerja Sama Internasional BPK)
- http://www.bpk.go.id/news/bpk-selamatkan-keuangan-negara-senilai-rp1370-triliun-pada-semester-i-tahun-2017
- http://www.bpk.go.id/news/bpk-ajak-elemen-masyarakat-bahas-pertanggungjawaban-hasil-audit-bpk
- http://nasional.kompas.com/read/2016/09/23/18294861/sebagian.besar.kasus.korupsi.yang.ditangani.penegak.hukum.berawal.dari.temuan.bpk
- http://indonesia.go.id/?page_id=9108
- http://www.republika.co.id/berita/mpr-ri/berita-mpr/17/08/25/ov76ng-ini-tiga-musuh-bangsa-korupsi-terorisme-dan-narkoba
- http://bumn.go.id/halaman/situs
- Harian TopSkor edisi Selasa, 17 Oktober 2017
- Harian TopSkor edisi Jumat, 3 November 2017
- http://www.topskor.id/detail/60759/Erick-Thohir-Inginkan-BPK-Periksa-Sistem-Administrasi-Asian-Games-Secara-Berkelanjutan
- http://www.topskor.id/detail/61870/INASGOC-Pastikan-Pengadaan-Barang-dan-Jasa-Bebas-dari-Manipulasi


*         *         *
Artikel Terkait

Lembaga Tinggi Negara
- Presiden dan Wakil Presiden (http://www.roelly87.com/2017/08/count-down-asian-games-2018.html)
http://www.roelly87.com/2015/02/presiden-dan-kepala-bnn-kompak-bandar.html,
http://www.roelly87.com/2017/03/sisi-lain-kunjungan-jusuf-kalla.html,
http://www.roelly87.com/2017/03/di-balik-final-piala-presiden-2017.html,
http://www.roelly87.com/2016/10/catatan-dua-tahun-kepemimpinan-jokowi-jk.html)

Kementerian
- KPPA (http://www.roelly87.com/2015/07/kenapa-harus-serempak.html,
http://www.roelly87.com/2017/12/ketika-pria-bicara-kesetaraan-gender.html)
- Kemenpora (http://www.roelly87.com/2017/09/galeri-foto-meriahnya-popnas-xiv-2017.html,
http://www.roelly87.com/2017/10/gala-desa-dan-mutiara-yang-terpendam.html)
- Kemenpar (http://www.roelly87.com/2016/04/semarak-wayang-pesona-indonesia-2016.html,
http://www.roelly87.com/2016/11/pariwisata-indonesia-tidak-hanya-bali.html)
- BUMN (http://www.roelly87.com/2014/10/wawancara-ekskusif-dahlan-iskan.html)
- Kemenkeu (http://www.roelly87.com/2017/11/sisi-lain-kunjungan-menkeu-sri-mulyani.html,
http://www.roelly87.com/2015/02/ketika-blogger-ngobrol-pajak-di-kantor.html,
http://www.roelly87.com/2015/11/membongkar-rahasia-bea-cukai.html)
- Kemen PUPR (http://www.roelly87.com/2016/11/sinergi-kementerian-pupr-dan-blogger.html)
- Kemenhub (http://www.roelly87.com/2016/05/menelusuri-wajah-baru-stasiun-maja.html,
http://www.roelly87.com/2016/07/antisipasi-djka-untuk-hadapi-arus-mudik.html)

Setingkat Kementerian
- Kepolisian (http://www.roelly87.com/2015/09/hut-polantas-ke-60-dengarlah-aspirasi.html,
http://www.roelly87.com/2016/03/sisi-lain-krishna-murti-catatan-polisi.html,
http://www.roelly87.com/2016/04/jakarta-metropolitan-police-expo-2016.html
- TNI (http://www.roelly87.com/2016/04/bulan-dirgantara-indonesia-2016.html,
http://www.roelly87.com/2016/11/serunya-latihan-nembak-di-markas-kostrad.html)
- Kejaksaan (http://www.roelly87.com/2016/12/pengalaman-berurusan-dengan-kejaksaan.html)

Lembaga Pemerintah Nonkementerian
- BSN (http://www.roelly87.com/2017/05/bsn-fun-bike-sosialisasi-sni.html)
- BNPT (http://www.roelly87.com/2016/07/duta-damai-dunia-maya-bnpt-2016.html)
- BNN (http://www.roelly87.com/2015/05/sinergi-bnn-dan-blogger-untuk-mengatasi.html,
http://www.roelly87.com/2015/10/sisi-lain-budi-waseso-buwas-pasukan.html,
http://www.roelly87.com/2016/04/buwas-yang-kian-buas-bnn-gagalkan.html
http://www.roelly87.com/2015/12/bnn-tangkap-pilot-dan-pramugari-lion.html)
- BMKG (http://www.roelly87.com/2017/07/magma-indonesia-dari-kementerian-esdm.html)
- BPOM (http://www.roelly87.com/2016/04/harkonas-2016-untuk-kampanye-konsumen.html)

Lembaga Penyiaran Publik
- Radio (http://www.roelly87.com/2017/12/radio-sebagai-teman-setia-dan-berbagi.html)

Lembaga Nonstruktural- KPU (http://www.roelly87.com/2014/10/sosialisasi-pemilu-melalui-sepak-bola.html)

*         *         *
- Jakarta, 10 Januari 2018

Sabtu, 23 Desember 2017

YDBA Siap Libatkan UKM untuk Sukseskan Asian Games 2018

YDBA Siap Libatkan UKM untuk Sukseskan Asian Games 2018

Diskusi menarik yang diselenggarakan YDBA pada 20 Desember lalu
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya) 

37 TAHUN bukan waktu yang sebentar. Terutama, bagi suatu yayasan nonprofit. Yupz, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) genap 37 tahun pada 2 Mei lalu.

Sejak didirikan William Soeryadjaya pada 1980 silam, YDBA merupakan perwujudan dari komitmen PT Astra International Tbk (Astra) dalam membangun bangsa. Itu seperti yang terdapat pada butir pertama Catur Dharma yang jadi filosofi Astra. Yaitu, Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.

Sejarah mencatat, banyak pencapaian yang dilakukan YDBA sebagai salah satu dari sembilan yayasan Astra. Bisa dipahami mengingat saya tidak asing dengan yayasan tertua kedua Astra ini.

Kebetulan, saya sudah mengenalnya sejak mengikuti Gathering Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia: Berbagi Inspirasi 60 Tahun di Gedung SMESCO di Jakarta Selatan, pada 1 Agustus 2016 (Artikel sebelumnya: Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?).

Setelah itu, saya rutin menyimak berbagai rangkaian dari YDBA dan Astra. Tentu, jika waktunya tidak bentrok dengan pekerjaan sehari-hari di lapangan.

Andai bersamaan dengan jadwal liputan, sudah pasti saya harus absen. Termasuk, ketika Astra mendukung penuh Indonesianisme Summit 2017 pada 9 Desember lalu dan Menanam 1.000 Pohon (19/12).

Namun, jika waktunya lowong, sudah pasti saya hadiri. Bahkan, hingga ke Kantor Wakil Presiden ketika Astra jadi sponsor Asian Games 2018 (6/12).

*         *         *
SIANG itu, matahari tampak malu-malu memancarkan sinarnya. Dari arah selatan, awan pekat serempak menuju bibir pantai ibu kota. Tak berselang lama, dewi hujan menunaikan tugasnya dengan sempurna.

Rinai berganti dengan lebatnya tetesan air dari langit yang menemani perjalanan saya usai meliput kegiatan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di kawasan Kuningan menuju Restoran TierSpace, yang berlokasi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Tepatnya, untuk mengikuti blogger gathering yang diselenggarakan YDBA pada Rabu (20/12). Ada dua tujuan saya untuk menghadiri diskusi dan sharing tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia serta Digital Ecosystem YDBA ini.

Pertama, untuk belajar lebih jauh tentang UMKM di Tanah Air dari YDBA yang merupakan ahlinya. Pepatah mengatakan, dekat cat terciprat tinta. Saya pun demikian, berharap bisa memetik ilmu terkait UMKM untuk diterapkan pada masa depan.

Kedua, saya ingin menanyakan mengenai peran Astra, khususnya YDBA pada Asian Games 2018. Maklum, Astra merupakan Official Prestige Partners dari Panitia Nasional Penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018 (INASGOC).

Tentu, Astra akan melibatkan berbagai unit usahanya pada pesta olahraga antarnegara Asia tersebut (Artikel sebelumnya: Astra Sponsori Asian Games 2018). Nah, berpegang pada Catur Dharma itu, saya paham Astra pastinya tidak hanya memikirkan sisi ekonomi dari peran sebagai sponsor.

Melainkan juga kemungkinan turut mengerahkan berbagai yayasan yang bernaung di bawahnya. Terutama, YDBA yang sudah berperan vital dalam menggerakkan UKM dan UMKM di Tanah Air. Bisa jadi, Astra melalui YDBA akan terlibat dalam pembuatan suvenir untuk Asian Games 2018.

Asumsi itu yang mendasari saya untuk bertanya langsung kepada Ketua Pengurus YDBA Henry C Widjaja dalam sesi diskusi. Menurut penggemar fotografi ini, memang kemungkinan menuju ke arah tersebut.

Kebetulan, yang saya tahu, YDBA menjalankan berbagai program pelatihan, pendampingan, fasilitasi pasar, dan fasilitasi pembiayaaan kepada UMKM di empat bidang. Yaitu, manufaktur, bengkel, kerajinan, dan pertanian.

"Jika itu ada hubungannya dengan UKM dan UMKM bisa saja. Itu sesuai dengan program YDBA yang membina UKM dan UMKM," ujar Henry menjawab pertanyaan saya.

Indonesia merupakan tuan rumah Asian Games 2018 yang berlangsung pada 18 hingga 2 September mendatang. Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), INASGOC, dan instansi terkait, memiliki empat misi, yaitu:

1. Sukses Prestasi
2. Sukses Penyelenggaraan
3. Sukses Administrasi
4. Sukses Ekonomi

Nah, untuk sukses Ekonomi ini, pemerintah ingin memaksimalkan peran UMKM dan UKM di Tanah Air. Misalnya, di Jakarta dengan melibatkan UMKM dan UKM terkait kerajinan tangan yang bisa dijadikan suvenir bagi ribuan atlet. Sementara, Palembang bakal mendorong UMKM dan UKM yang bergerak di bidang kuliner, seperti pempek serta pindang.

"Untuk saat ini, kami belum mengetahui detailnya. Namun, jika pemerintah ingin menggandeng Astra dan YDBA dalam pembuatan suvenir yang melibatkan UKM, nah itu bisa kami lakukan untuk Asian Games 2018," Henry, menerangkan.

Penulis buku Celebrating the Moment ini melanjutkan, "Paling sering, yang terjadi misalnya Astra ingin membuat suvenir dan mengadakan pameran terkait Asian Games 2018. Astra akan mengajak UKM di bawah naungan YDBA. Ini bagian dari usaha Astra untuk memasarkan hasil UKM yang difasilitasi YDBA ketika berpartisipasi di berbagai event. Misalnya, Inacraft (International Handicraft Trade Fair), IKEA Teras Indonesia, GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show), dan lainnya."

Untuk GIIAS, kebetulan saya selalu hadir dalam tiga edisi sejak 2015 silam. YDBA turut meramaikan pameran otomotif terbesar di Tanah Air itu dengan mendirikan booth. Tujuannya, untuk mengenalkan kepada khalayak ramai terkait hasil dari UKM dan UMKM dalam bisnis Astra.

Misalnya, pada komponen Daihatsu Sigra (artikel sebelumnya: 7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra), Wintor, Konsep Parkir Pintar, dan sebagainya (Konvensi QCC 2017 Dorong Mitra YDBA untuk Mandiri dan Lebih Kompetitif).

*         *         *
AROMA tanah yang wangi setelah hujan menyapa seluruh indera kami. Matahari terlihat sudah condong ke barat. Di sisi berlawanan, sang rembulan memancarkan sinarnya dengan memesona.

Yupz, usai diskusi hangat bersama Henry yang didampingi Kepala Departemen Perencanaan & Pengembangan YDBA Edison Monoarfa, sesi pun berlanjut. Kali ini, saya dan belasan blogger diajak untuk belajar melukis di kaos yang sudah disediakan salah satu binaan UKM YDBA.

Yaitu, Rini Iskandar yang menjual berbagai lukisan handmade menggunakan media T-Shirt. Wow... Sumpah, keren banget! Saya sampai tak percaya, bisa belajar melukis di sehelai kaos setelah sejak SD silam mencoret-coret di balik buku tulis.

Sebagai informasi, Rini merupakan pemilik dari Painting on T-Shirt (POT) yang sudah lama dibina YDBA. Selain POT, banyak UKM dan UMKM yang mendapat binaan YDBA. Itu karena dalam 37 tahun ini, YDBA jadi salah satu representasi Astra dalam perjalanan penuh inspirasi sejak enam dekade ini.

Beberapa pencapaian YDBA di antaranya:

- Sudah membina 10.112 mitra UKM
- 65.158 tenaga kerja
- 101 UKM Mandiri
- 701 Alumni Porgram Pemuda Putus Sekolah
- Mendirikan 17 LPB (Lembaga Pengembangan Bisnis)
- Mendirikan 10 LKM (Lembaga Keuangan Mikro)
- Mendirikan 11 Sektor Unggulan Terbentuk

Seiring dengan perkembangan teknologi, YDBA juga membangun ekosistem untuk menjawab tantangan zaman yang bergerak ke arah digital. Pada tahap awal, YDBA berusah memindahkan kegiatan pembinaan yang semula hanya diakses secara offline ke dunia online.

"Sekarang, jika ingin mempelajari terkait UKM, bisa mengaksesnya secara digital. Yaitu, pada laman www.HebatnyaUKM.org. Di portal ini, ada berbagai tips ringan terkait dunia wirausaha yang berguna untuk diterapkan dalam menjalankan usaha," Edison, menerangkan.

YDBA meluncurkan Digital Ecosystem itu pada 10 Juli lalu (Artikel sebelumnya: Rayakan HUT ke-37, YDBA Luncurkan HebatnyaUKM.org). Saat itu, YDBA juga menampilkan sharing session kepada khalayak ramai dengan mengundang tiga narasumber.

Yaitu, Fida Heyder yang merupakan Head of SMB Marketing Google Indonesia, Rieke Caroline (CEO BuatKontrak.com), dan Leony Agus Setiawati (pemilik CV Azkasyah yang mendapat binaan YDBA).

Yang pasti, dalam menggandeng mitra UKM, yayasan tertua kedua Astra ini selalu berpegang pada analogi telur. Yaitu, pembinaan yang dilakukan YDBA berusaha untuk memecahkan telur tersebut dari dalam, sehingga menghasilkan seekor ayam. Alias, bukan memecahkan telur tersebut dari luar yang akhirnya hanya menghasilkan telur dadar.

Yupz, saya setuju dengan perumpamaan ini. Sukses untuk Astra dan YDBA!***

*         *         *
Sesi perkenalan rekan blogger Timothy W. Pawiro dalam gathering yang dipandu
PR YDBA Agustin Pradhana

*         *         *
Sambutan Ketua Pengurus YDBA Henry C. Widjadja

*         *         *
Kepala Departemen Perencanaan dan Pengembangan YDBA Edison Monoarfa

*         *         *
Tanya jawab rekan blogger dengan perwakilan YDBA

*         *         *
Pembacaan puisi dari Henry yang pada 2010 silam menerbitkan buku berjudul
Celebrating the Moment

*         *         *
Semangat rekan-rekan blogger untuk belajar melukis di kaos yang dibimbing
Rini Iskandar selaku pemilik Painting On T-Shirt (POT)

*         *         *
Saya belajar melukis di kaos yang jadi pengalaman perdana dalam lebih dari
seperempat abad hidup ini

*         *         *
Rekan blogger Gaper Fadli melukis sketsa HUT ke-60 Astra

*         *         *
Antusiasme rekan-rekan blogger untuk belajar melukis dengan media kaos

*         *         *
Yeeee, jadi! Hasil coretan saya dengan tema optimisme malam tahun baru
menyambut Asian Games 2018

*         *         *
Foto bersama blogger, YDBA, dan mitra UKM

*         *         *

Artikel YDBA Sebelumnya:
- 7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra

Artikel Astra Group Sebelumnya:
- Astra Sponsori Asian Games 2018

*          *         *
- Jakarta, 22 Desember 2017