TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Garuda Indonesia

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Garuda Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garuda Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2017

Yuk, Tandai Provinsi di Indonesia yang Pernah Kita Tinggali dan Singgahi (1)


Peta Suku Bangsa di Indonesia yang Ada di Museum Nasional


"RUL, gw udah pernah ke tujuh provinsi di Indonesia. Lo berapa?

"Provinsi? Buat apaan tuh?"

"Ga, iseng-iseng aja. Di FB rame status 'Provinsi yang pernah Anda tinggal dan kunjungi'."

"Jarang buka FB. He he he."

"Ha ha ha. Parah lho. Nih SS-nya."

Demikian percakapan saya dengan rekan di aplikasi whatsapp, suatu sore pada awal bulan ini. Saya memang setiap hari buka internet, tapi jarang aktif di sosial media. Paling banter malam atau dini hari WIB ketika pulang kerja. Termasuk, mengisi artikel di blog ini. Kalau siang apalagi sore, jarang-jarang, kecuali jika dapat notifikasi dari rekan.

Malam harinya, ketika sudah senggang di depan laptop, saya pun iseng-iseng membuka Facebook. Saat itu, berseliweran status dari beberapa rekan tentang 34 provinsi di Indonesia. Bunyinya, seperti ini, "Copas. Berikut ini 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jika Anda pernah tinggal, tandai dengan ❤ Jika Anda pernah berkunjung ke salah satu kotanya, tandai dengan ☺. Ini daftarku, mana daftarmu?"

Dalam hati saya, ini menarik. Langsung saja saya mengingat provinsi mana yang pernah saya tinggali dan singgahi termasuk Jakarta. Jika dihitung sejak kecil hingga kini saya sudah tinggal di enam provinsi berbeda dan 13 kali singgah.

Rinciannya, sebagai berikut:

Pernah tinggal (6): Sumatera Barat, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Selatan

Singgah (13)Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bali, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara

Sementara, untuk postingan yang berselieweran di Facebook sebagai berikut:

Berikut ini 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jika Anda pernah tinggal, tandai dengan ❤
Jika Anda pernah berkunjung ke salah satu kotanya, tandai dengan ☺
Ini daftarku, mana daftarmu?

1. D.I. Aceh
2. Sumatera Utara ☺
3. Sumatera Barat ❤
4. Riau ☺
5. Kepulauan Riau ❤
6. Jambi  ☺
7. Sumatera Selatan ☺
8. Bangka Belitung
9. Bengkulu ☺
10. Lampung ☺
11. DKI Jakarta ❤
12. Jawa Barat ❤
13. Bali ☺
14. Jawa Tengah ☺
15. D.I.  Yogyakarta ☺
16. Jawa Timur ☺
17. Banten ❤
18. Nusa Tenggara Barat
19. Nusa Tenggara Timur
20. Kalimantan Barat
21. Kalimantan Tengah
22. Kalimantan Selatan ❤
23. Kalimantan Timur ☺
24. Kalimantan Utara
25. Sulawesi Utara ☺
26. Sulawesi Barat
27. Sulawesi Tengah
28. Sulawesi Tenggara
29. Sulawesi Selatan ☺
30. Gorontalo
31. Maluku
32. Maluku Utara
33. Papua Barat
34. Papua

*        *        *
YUPZ, saya lahir, kecil, dan besar di ibu kota. Meski, beberapa kali menetap di luar Jakarta. Indikatornya lebih dari sebulan. Sebab, kalau hanya sehari, itu sekadar singgah saja alias hanya sementara.

Seperti, Serpong dan Tangerang di provinsi Banten, Bandung, dan Cirebon, Indramayu (Jawa Barat), Batam (Kepulaau Riau -ini rancu, sebab waktu itu masih Riau, dan belum ada pemekaran-), Banjarmasin dan Kintap (Kalimantan Selatan), Padang, Painan, Dharmasraya (Sumatera Barat).

Jadi, kalau ditotal, saya sudah pernah menjejakkan kaki di 20 dari 34 provinsi di Indonesia dan sekali ke negara tetangga. Lumayan banyak juga, mencapai 58 persen. Terutama setelah diingat lebih lanjut dan menelusuri dokumen keluarga serta berbagai foto sejak kecil.

Lampung merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang pernah saya singgahi. Itu terjadi 20 tahun silam bersama keluarga saat mengunjungi kerabat yang lokasinya dekat dengan penangkaran gajah. Lebih dari satu dekade kemudian, saya kembali menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Tapi, bukan Lampung, melainkan lebih ke utaranya dalam rangka tugas di pertambangan. Yaitu, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Ketika sudah bekerja di media, saya jadi lebih sering keliling nusantara. Diawali lima tahun silam ketika meliput ke Pekalongan (Jawa Tengah), hingga Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, saya kerap menyambangi berbagai stadion dan arena olahraga yang ada di Tanah Air, khususnya pulau Jawa.

Di sisi lain, aktivitas sebagai blogger sejak 2009 membuat saya juga kerap mengunjungi berbagai provinsi di Indonesia. Baik itu berkat sponsor hingga ngebolang dengan dana pribadi. Mulai dari Kepulauan Seribu yang masuk administrasi DKI Jakarta bersama VIVA Log, Sulawesi Utara (Indosat Ooredoo), Yogyakarta, Bali (Asus Indonesia), Jawa Timur, Jawa Barat (Astra International).

Dengan mengunjungi berbagai provinsi di Indonesia itu tidak hanya menikmati keindahan alamnya saja. Melainkan turut mengenal lebih jauh tentang budaya setempat.

Yuk, tandai Provinsi di Indonesia yang pernah rekan blogger tinggal dan singgah!


*        *        *
Sebagian daftar yang ada di Whatsapp

*        *        *
Saya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

*        *        *
Saya di Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat)

*        *        *
Saya di Taman Nasional Bunaken (Sulawesi Utara) bersama Indosat Ooredoo

*        *        *
Saya di Pulau Bidadari (DKI Jakarta) bersama VIVA Log

*        *        *
Saya di Nusa Dua (Bali) bersama ASUS Indonesia

*        *        *
Saya di Alun-alun kota Malang (Jawa Timur)

*        *        *
Saya di depan patung Merlion (Singapura)

*        *        *

Artikel Ngebolang Sebelumnya:
- Pasar Santa
- Central Park
Sirkuit RMS Land Rappang
- Garuda Indonesia
- Candra Naya
- 7 Taman di Jakarta
- Pulau Bidadari
- 7 Tempat Nongkrong
- Museum Nasional
- Masjid Hidayatullah
- Alun-alun Bandung
- Taman Ismail Marzuki
Tugu Kunstkring Paleis
- Pasar Ah Poong
- Museum Basoeki Abdullah
- Taman Ayodia
- Curug Nangka
- Curug Nangka (2)
- Kebun Binatang Ragunan
- Taman Nasional Bunaken
- Pantai Jimbaran
- 4B Manado
- Danau Linow
- 7 Tempat Nobar
- Museum Kebangkitan Nasional
- Ngebolang ke 3 Stasiun
CitraRaya Water World
- Pantai Ancol
- Patung Soekarno-Hatta
- Rafting Sungai Citarik
- Sensasi Nusa Dua
- Taman Jomblo
- Candi Prambanan
- Museum Astra
- Candi Jago
- Kota Malang
- Saung Sarongge
- Coban Pelangi

Laman Khusus Wisata
- Jelajah Manado
- Keliling Yogyakarta
- Sensasi Bali
- Ngebolang ke Malang
*        *        *
- Jakarta, 13 Januari 2017

Senin, 06 Juni 2016

Solusi Tambah Penghasilan dengan Gabung di Sahara-AeroTravel.com



Peluncuran www.sahara-aerotravel.com di Gedung Smesco, pekan lalu

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2015, jumlah penumpang angkutan udara mencapai 67,5 juta orang. Alias, naik 12,8 persen dibanding periode sebelumnya pada tahun sama (59,83 juta orang). Kenaikan jumlah penumpang ini didongkrak terkait jumlah rute penerbangan yang terus bertambah serta diiringi dengan giatnya pemerintah membangun infrastruktur.

Tak pelak, peningkatan ini membuat bisnis penjualan tiket online, biro wisata, dan sebagainya, kian bergairah yang memiliki potensi sangat besar. Apalagi, saat ini harga tiket kian terjangkau dengan akses pembelian yang semakin dimudahkan karena kemajuan teknologi.

Inilah yang membuat bisnis penjualan tiket online di Tanah Air semakin ramai dan persaingannya kian ketat. Maklum, berdasarkan penelusuran saya, setiap tahun bermunculan beberapa pelaku usaha baru di sektor tersebut. Yang menarik, saya pribadi mencatat, justru karena persaingan sengit tersebut yang membuat pertumbuhan bisnis di sektor penjualan tiket online tetap tinggi.

Salah satunya, di www.sahara-aerotravel.com, yang merupakan penjualan tiket online kolaborasi dari Komunitas Sahara (Sahabat Usaha Rakyat) dan Aero Travel (PT Aero Globe Indonesia, anak usaha PT Garuda Indonesia Group). Saya beruntung jadi saksi peluncurannya bersama sejumlah rekan blogger lainnya berkat informasi dari Dee Rahma, di Galeri Indonesia WOW, Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Rabu (1/6).

Maklum, saya tidak asing dengan mereka. Sebab, Komunitas Sahara dikenal memiliki banyak program untuk meningkatkan anggotanya yang mencapai tiga juta orang yang berisi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan koperasi. Begitu juga dengan Garuda Indonesia yang merupakan maskapai terbaik di Tanah Air yang rutin saya tumpangi, baik saat mendapat tugas dari kantor atau perjalanan sebagai blogger.

"Program kemitraan antara Komunitas Sahara dan Aero Travel ini bakal membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM dan anggota koperasi di seluruh Indonesia. Khususnya, untuk meningkatkan pendapatannya melalui penjualan tiket penerbangan dan produk wisata lainnya secara online," kata Founder Komunitas Sahara, Ir. Sharmila, MSI.

Dengan kata lain, anggota Komunitas Sahara akan mendapatkan potongan harga dan komisi penjualan dari setiap transaksi yang dilakukan. Itu karena mereka sebagai mitra usaha Garuda Indonesia dan Citilink yang termasuk dalam PT Garuda Indonesia Group.

Kerja sama ini membuat Aero Travel bakal jadi fasilisator penjualan tiket Garuda Indonesia dan Citilink melalui sistem penjualan tiket online di situs www.sahara-aerotravel.com. Yang menarik, siapa pun bisa mengaksesnya, termasuk saya dan rekan blogger lainnya. Dengan syarat, sudah tergabung dalam Komunitas Sahara dengan mendaftarnya secara gratis melalui perwakilan Komunitas Sahara di masing-masing kota atau kabupaten.

Selain itu, kita juga bisa melakukan pendaftaran secara online di www.sahara-aerotravel.com. Setelah memenuhi persyaratan administrasi, kita bakal mendapat username dan password untuk melakukan transaksi online di website tersebut.

"Kolaborasi ini menargetkan lahirnya banyak wirausahawan," kata Sharmila saat tanya jawab dengan blogger, seperti saya rekam videonya dan diunggah di Youtube. "Kami berharap tidak ada alasan lagi kalau di Indonesia masih ada pengangguran karena, kami (Komunitas Sahara) telah membuka sebesar-besarnya kesempatan berusaha di usaha jasa tour dan travel ini. Sebab, kami menawarkan tiket termurah sedunia. Silakan lihat dan buktikan."

Apa yang dikatakan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S2 Universitas Indonesia ini beralasan. Pasalnya, saat itu juga saya menyaksikan Sharmila mengkomparasi harga tiket pesawat dari www.sahara-aerotravel.com ke dua agen penjualan online lainnya.

Hasilnya, dengan mata kepala sendiri, saya melihat ternyata memang www.sahara-aerotravel.com lebih murah karena ada selisih harga yang cukup signifikan. Itu kalau beli satu. Bagaimana, jika kita membelinya untuk sekeluarga, yang tentu bisa lebih hemat lagi.

"Jadi, tiket ini bisa dipakai sendiri atau dijual kembali," tutur Sharmila yang menegaskan keunggulan www.sahara-aerotravel.com dibanding penjualan tiket online lainnya. Itu sesuai dengan tagline yang diusung wanita 50 tahun itu, "Travel Hebat, Sahabat Rakyat."

Di sisi lain, Direktur Aero Travel, Devi Yanti berharap, kerja sama ini memudahkan anggota koperasi dan pengusaha UMKM untuk ikut mendapat manfaat ekonomi dari pertumbuhan penjualan tiket dan perjalanan wisata yang terus meningkat. Alhasil, selain berlandaskan semangat bisnis, juga dengan semangat membangun perekonomian bangsa.

"Ini untuk memudahkan bagi para entrepreneur untuk memasuki bisnis perjalanan (travel). Selain itu, tentunya juga akan meningkatkan penetrasi Garuda Indonesia dan Citilink pada semua segmen pasar," ucap Yenti yang memotivasi saya dan banyak rekan blogger yang hadir untuk segera mendaftar di www.sahara-aerotravel.com.

Kami sudah siap bergabung. Bagaimana dengan Anda?

*         *         *
Saya beruntung jadi saksi Travel Hebat, Sahabat Rakyat


*         *         *
Founder Komunitas Sahara, Ir. Sharmila, MSI


*         *         *
Detik-detik peresmian www.sahara-aerotravel.com


*         *         *
Sharmila memperlihatkan selisih harga di www.sahara-aerotravel.com dengan penjualan tiket online lainnya


*         *         * *         *         *
*         *         * *         *         *
*         *         * *         *         *


*         *         *


*         *         *
Artikel Terkait:
- Di Balik Cerita Bersama Garuda Indonesia

*         *         *
- Yogyakarta, 7 Juni 2016

Rabu, 25 Februari 2015

Di Balik Cerita Bersama Garuda Indonesia



Suasana di lambung Garuda Indonesia (Sumber foto: Choirul Huda/ www,roelly87.com)



"Liputan ke Sulawesi? Siap!" Demikian saya menjawab tugas dari kantor, pada dua pekan lalu.

AKHIRNYA, kepingan impian puzzle itu mulai tersusun rapi. Ya, cita-cita saya sedari kecil untuk mengunjungi lima pulau terbesar di Indonesia, mulai mendekati kenyataan. Itu setelah saya mendapat tugas dari kantor untuk meliput event balap Suzuki Indonesia Challenge (SIC) Satria Cup di Sirkuit RMS Land Rappang, Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), 6-8 Februari lalu.

Ya, dari lima pulau besar di nusantara (termasuk Jawa), empat di antaranya sudah saya singgahi. Mulai dari Kalimantan, Sumatera, dan kini Sulawesi. Impian selanjutnya, tentu saya juga ingin mengunjungi Papua demi melengkapi angan-angan yang tercipta belasan tahun silam. Hanya, untuk segera mencapainya memang butuh waktu. Entah kapan, yang pasti sebagai manusia harus optimistis!

Kali ini saya tidak ingin membicarakan pengalaman selama di Sidrap yang terletak sekitar 170 km dari ibu kota Sulsel, Makssar. Sebab, saya telah menuangkannya dalam lima artikel sebelumnya dan ada kemungkinan ditambah mengenai wisata serta kulinernya pada seri mendatang. Yang ingin saya tulis untuk postingan ini mengenai pengalaman selama di pesawat Garuda Airlines.

Tepatnya ketika perjalanan pulang dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju Soekarno-Hatta (Jakarta) pada Minggu (8/2). Kenapa saya hanya mengulas saat pulangnya saja? Sebab, ketika pergi, Jumat (6/2), saya justru terlelap nyaris selama dua jam dalam penerbangan bernomor GA655. Itu karena jadwal keberangkatan yang memang masih pagi, pukul 05.05 WIB.

Nah, pas menuju Jakarta, saya dan rombongan media take-off sekitar pukul 17.45 Wita. Kebetulan, saya mendapat kursi di pojok samping jendela. Hingga, meski gelap karena menjelang malam, saya bisa leluasa memotret pemandangan di luar sana dan juga seisi ruangan pesawat!

Agak sedikit norak sih. Tapi tak mengapa mengingat sejak beberapa bulan lalu saya memang berencana membuat cerita mengenai perjalanan di blog ini. Itu setelah saya terinspirasi sejak mengikuti acara Fun Blogging Session 3 di Gedung Cyber, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (10/1).

Dalam diskusi yang digawangi tiga blogger tangguh (Ani Berta, Shinta Ries, dan Haya Alia Zaki) itu, terdapat materi yang memuat soal dokumentasi wisata. Dalam hati saya, berpikir, suatu saat mencoba untuk menerapkan "ilmu" dari mereka. Dan, hampir sebulan kemudian kesampaian!

*        *        *

Oh ya, bagaimana pengalaman bersama Garuda Indonesia? Sebenarnya biasa saja. Sebab, sejak dulu saya memang sering menggunakan maskapai berpelat merah ini. Baik ketika tugas dari kantor atau untuk urusan keluarga.

Meski, untuk kedua hal itu, saya tidak melulu menggunakan Garuda Indonesia. Pasalnya, dari sekitar 33-35 kali (tapatnya lupa, yang pasti di angka ganjil karena sempat pergi naik pesawat dan pulang dengan jalan darat) naik pesawat baik itu di dalam dan luar negeri, adakalanya, saya juga memakai maskapai lainnya. Ya, itu wajar lantaran tergantung kantor dan juga kondisi budget pribadi.

Bisa dipahami mengingat bagi saya, Garuda Indonesia itu tergolong mahal. Harganya itu, mungkin sekitar dua atau tiga kali lipat dibanding maskapai lain. Terutama jika dikomparasi dengan penerbangan yang low cost carrier (LCC). Namun, itu wajar. Sebab, menurut pepatah, ada harga ada rupa. Alias, kita membayar mahal atas apa yang memang kita inginkan.

Tanpa bermaksud lain saat membandingkannya dengan maskapai sejenis. Secara jujur, harus saya akui bahwa, Garuda Indonesia memang memiliki banyak keunggulan. Ini setelah saya komparasi berdasarkan pengalaman  pribadi saat menggunakan kelas ekonomi yang tentu saja, harus apple to apple. Ya, Garuda Indonesia memiliki keunggulan dari segi pelayanannya.

Pertama, ketepatan waktu. Sebagai seorang yang mobile, faktor ini paling memengaruhi saya saat memilih Garuda Indonesia. Meski, harus diakui, jika saya pernah merasakan delay saat menggunakan maskapai yang berdiri pada 26 Januari 1949 ini bahkan hingga 30 menit. Hanya, itu tergolong wajar ketika mengetahui bahwa keterlambatan akibat faktor cuaca yang merupakan force majeur. Ya, bagaimanapun, keselamatan di atas segalanya.

Selanjutnya, tentu kenyamanan. Kursi kelas ekonomi yang tetap empuk disertai LCD TV layar sentuh sebagai hiburan. Belum lagi majalah dan koran gratis untuk dibaca dan dibawa pulang. Apalagi, penumpang disediakan makanan dan minuman yang menjadi nilai lebih. Maklum, sepanjang pengetahuan saya, maskapai lain kerap hanya menyediakan air mineral yang tentunya kurang berkesan.

Terakhir, tentu mengenai pengakuan internasional yang menjadi faktor pemikat. Ya, Garuda Indonesia merupakan maskapai Tanah Air pertama yang menjadi anggota Sky Team. Apa itu? Menurut situs resminya, Sky Team itu semacam aliansi maskapai internasional yang terdiri dari 20 perusahaan penerbangan.

Jadi, Garuda Indonesia yang bergabung dengan Sky Team pada 5 Maret 2014 ini sejajar dengan maskapai ternama di dunia. Termasuk Air France dari Prancis, Delta Airlines (Amerika Serikat), Korean Air (Korea Selatan), hingga KLM (Belanda).

Selain itu, akhir tahun lalu, Garuda Indonesia baru saja dinobatkan Skytrax -lembaga pemeringkat penerbangan independen- sebagai Maskapai Bintang Lima (5-Star Airlines). Tentu, pengakuan itu bukan sembarangan. Melainkan berdasarkan kriteria ketat yang membuktikan Garuda Indonesia memang layak menyandang gelar sebagai Maskapai Bintang Lima.

Tak lupa, sebagai penggemar sepak bola, saya juga harus mengapresiasi inisiatif mereka saat menjadi sponsor Liverpool! Ya, meski, saya bukan fan "The Reds". Namun, saya tetap bangga karena ada perusahaan Indonesia yang menjadi partner salah satu klub terbesar dunia. Indikatornya, Liverpool sukses meraih lima trofi Liga Champions yang saat ini setara dengan Bayern Muenchen dan hanya kalah dari AC Milan (tujuh), dan Real Madrid (10).

Ya, itu sekelumit di balik cerita saya bersama Garuda Indonesia. Bagaimana dengan Anda?


*        *        *
Narsis sejenak di Bandara Sultan Hasanuddin

*        *        *
Waktunya  ngemil sambil menyimak informasi melalui lcd di depan kursi...

*        *        *
Ternyata, saya sedang berada di atas ketinggian 12 km! 

*        *        *
Terkesan dengan pelayanan pramugari yang ramah

*        *        *
Menurut peta, saat itu saya tinggal setengah perjalanan lagi

*        *        *
Estimasi jarak dari Makassar ke Jakarta

*        *        *
Rileks sejenak dengan menyaksikan film gratisan: Batman, cuy...!

*        *        *
Ada juga tentang film legenda hidup Liverpool, Michael Owen

*        *        *
Baca koran gratisan yang memuat kisah blogger dengan narasumber Hazmi Srondol

*        *        *
Sejuk menyaksikan senyum menawan dari tiga pramugari ini. Terima kasih...

*        *        *


Catatan sebelumnya bersama Garuda Indonesia
- Fandi Ahmad dan Tentang Mentalitas Indonesia
- Garuda Wisnu Kencana yang Memesona
- Kawasan Indah Tak Terjamah di Sumatera Barat
- Kenangan Wisata ke Kawasan Pesisir Selatan, Sumatera Barat
- Batubara = Barang Tuhan bagi Rata?

*        *        *
Seri Suzuki Sebelumnya:
*        *        *

Keterangan:
- Foto-foto yang ada di artikel ini merupakan dokumentasi pribadi (Choirul Huda/ www.roelly87.com).
- Referensi dari beberapa sumber yang terdapat di artikel ini sudah dicantumkan pada kalimat terkait.
*        *        *
- Cikini, 25 Februari 2015