TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Cerita Horor Ojol

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Cerita Horor Ojol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Horor Ojol. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Tengah Malam Ambil Orderan di Lantai 3 Mal

Tengah Malam Ambil Orderan di Lantai 3 Mal

Saya jalan kaki naik eskalator ke lantai tiga
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)


BULAN ini, saya genap tujuh tahun berprofesi sebagai ojek online (ojol). Tepatnya, sejak 11 Juli 2019 usai dua pekan sebelumnya mendaftar.

Saya punya lima aplikasi ojol aktif. Berdasarkan urutan, Gojek, Shopee, Lalamove, Maxim, dan Indriver. 

Ada satu lagi yang sudah ditutup induk perusahaannya meski hanya seumur jagung beroperasi. Yaitu, Traveloka East yang nonaktif November 2002.

Dalam tujuh tahun terakhir ini, banyak suka dan duka yang saya alami. Beberapa di antaranya sudah saya tulis di blog pribadi, www.roelly87.com atau di Kompasiana (www.kompasiana.com/roelly87).

Baik lucu, kocak, sedih, seram, horror, memantik emosi, dan sebagainya. 

Itu meliputi toilet SPBU ga ada airnya, penumpang kecebur got saat menuju bandara, nemenin BAP di Polsek yang dijambret, diceramahi customer akibat naruh piza di jok belakang, hingga digerepe-gerepe boti!

*          *          *

MINGGU malam hingga Senin pagi di stasiun antarkota seperti Gambir, Pasar Senen, dan Jatinangor, selalu dipenuhi ojol, taksi online, hingga konvensional. Itu karena banyak penumpang kereta yang turun dari arah timur Jawa. 

Orderannya pun mayoritas kakap. Alias, jarak jauh. Seperti yang saya dapat Senin (6/7) menuju salah satu cluster di Pantai Indah Kapuk (PIK). 

Selesai antar, saya streaming Brasil vs Norwegia yang antiklimaks. Sambil ngopi dan "menghirup asap kehidupan".

Saat lagi seru usai pemain Brasil gagal eksekusi penalti, bunyi orderan masuk. Kirim makanan dari mal PIK Avenue ke apartemen di seberangnya.

Spontan, aktivitas nonton Piala Dunia 2026 saya hentikan. Cek di aplikasi, rinciannya ambil orderan di salah satu restoran yang terletak di lantai tiga, Haidilao Hot Pot.

Hah?

Ini pukul tiga dini hari WIB. Mal mana yang buka jam segini?

Serius nih?

Biar ga penasaran, saya telepon pemesannya. Katanya, memang resto khas oriental itu satu-satunya yang buka di PIK Avenue.

Dalam percakapan itu, beliau minta tolong untuk diambil orderannya dan diganti parkir.

Oke.

Saya pun bergegas. 

Sampai parkiran sepi. Ga ada orang satu pun.

Wkwkwk. 

Kocak!

Yah, namanya juga pukul 03.00 WIB!

...

Serem dong? 

Ga lah. Lebih serem lagi kalo ga punya duit!

Untungnya, setelah berkeliling hingga seperminuman teh, ada petugas. Memberi info saya, lokasi resto di lantai tiga. 

Namun, aksesnya hanya bisa jalan kaki. Sebab, katanya eskalator dan elevator masih off yang baru nyala pukul 10.00 WIB sesuai waktu operasional mal.

Ebuset.

Pegal banget kaki. Naik dari basement parkiran motor menuju lantai tiga.

Setapak demi setapak menaiki tangga jalan.

Mana gelap lagi sekeliling malnya.

Sumpah, mungkin saya satu-satunya manusia di area itu. Ga ada orang lain lagi!

...

Merinding euy.

Bulu rambut saya berdiri seketika pas sudah sampai lantai tiga. Efek capek kali akibat jalan kaki.

Sebenarnya ga ada apa-apa. Ga ada penampakan atau hal aneh.

Mungkin, ini saya sedang halu. Atau sugesti gara-gara sering nonton film horor.

Kendati, saya ingat-ingat, ada tiga momen yang terasa janggal.

Pertama, pas jalan kaki naik eskalator terdengar suara orang napas.

Lalu, saat lewat etalase, ada manekin yang seperti melirik dan membayangi.

Terakhir, saat turun lewat lift barang. Ada sesuatu.

Ya, pokoknya, ada...

*          *          *

USAI perjalanan yang "seru" dari parkiran motor di basement ke lantai tiga, akhirnya saya sampai di resto. Disambut hangat oleh kasirnya sambil diberi segelas teh dengan aroma wangi yang khas.

Segar!

Eh iya. Saya pun mengamati sang pegawai itu. Dari ujung rambut hingga kaki.

Yes, sepatunya napak tanah. 

Kalo melayang, sumpah mungkin saya langsung sipat kuping. 

Bukan maksud mendramatisir, tapi bisa dipahami mengingat saat itu masih jam tiga malam. Apalagi, dalam mal yang masih tutup.

Wajar jika saya harus teliti. 

Kendati, saya bukan tipe penakut. Biasa ngojol malam hari yang sering nemuin anomali di jalan.

...

Namun, waspada itu boleh. 

Sebab, seketika -efek kebanyakan nonton film horor- di imajinasi saya bahwa pegawai itu makhluk halus. Begitu juga dengan gedung yang saya tempati, halusinasi saya malah lahan kosong.

Wkwkwkwk.

Kocak.

Ini gara-gara kebanyakan baca Majalah Misteri, Nyata, Tatang S, sampe Enny Arrow! 

(Selengkapnya: Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona - http://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

Faktanya, normal aja. Pegawai itu memberikan saya bungkusan penuh cemilan.

"Untuk masnya ya. Sambil nunggu makanan lagi diproses," kata pegawai yang sekilas mengingatkan saya pada Winona Ryder.

(Ebuset, jadul amat dah referensinya!)

Saya pun langsung membukanya. Isinya banyak.

Ada es krim, wafer, stik, chiki, hingga rumput laut. 

Ih, sedapnya!

Saya jadi pengen terus dapat orderan di resto ini.

Dasar matre!

Wkwkwkw...

Hanya, pemberian itu mungkin situasional. Alias, hanya pada jam-jam tertentu.

Sebab, di PIK Avenue, ojol yang mau ambil orderan food ga perlu ke resto. Melainkan, cukup nunggu di pick-up point yang biasanya dijaga dua petugas dengan berlokasi di basement parkiran.

Nanti, pegawai resto yang memberikan makanan kepada ojol setelah diverifikasi petugas jaga. Pun demikian dengan parkir.

PIK Avenue menyediakan parkir gratis untuk ojol dan kurir paket. Syaratnya, kertas parkir distempel petugas jaga di pick-pu point.

(Selengkapnya: Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol - http://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html)

*          *          *

SEPEMBAKARAN hio berlalu. Pegawai satunya lagi menghampiri saya yang sedang sibuk "unboxing" cemilan.

Ternyata, makanan udah jadi. Dua plastik besar. 

Akhirnya!

Beliau pun memberi info, ada lift barang yang biasa diakses karyawan. Lokasinya ga jauh. 

Saya baru tahu, euy. Ga apa-apa telat daripada ga sama sekali!

Saya pun mengucapkan terima kasih. 

Secara, turun dengan lift jauh lebih enak ketimbang jalan kaki lewat eskalator yang masih off. 

Hufft.

Eh, bentar. 

Lewat lift?

Waduh, sepi dong.

...

Jadi ingat drama Thailand, ada orang yang dikejar makhluk halus berbusana penari tradisional. 

Wkwkwkw.

Yasudahlah, mending lewat lift. Secara, saya agak rempong bawa dua plastik ukuran besar.

Yang penting, saat itu, saya cuma ingin segera ke parkiran. Perkara "ada sesuatu", itu urusan belakangan.

...

...

Ternyata, pas sampe aman-aman aja. Emang ga ada apa-apa.

Mungkin, saya terlalu halu. Ini zaman modern, era teknologi canggih, masa percaya takhayul?

Usai memberikan pesanan kepada customer, saya buka hape. 

Kaget dong!

Bukan, ini bukan soal ada penampakan di foto atau video yang saya rekam. 

Ternyata, lihat berita, Brasil disingkirkan Norwegia 0-2. Semua gol diborong Erling Haaland. 

Ya, gagal deh Brasil melaju lebih jauh di Piala Dunia 2026. Sekaligus, jadi panggung antiklimaks bagi Neymar...

*          *          *

Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.

*          *          *

Jakarta, 21 Juli 2026

*          *          *


Artikel Terkait Bloger


- Blog Saya, roelly87.com Ditawar Rp 13 Juta (https://www.roelly87.com/2026/07/blog-saya-roelly87com-ditawar-rp-13-juta.html)


- Insiden Membokongi Piza (https://www.roelly87.com/2025/01/insiden-membokongi-piza.html)


- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)


- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)


- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (http://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)


- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)


- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)


- Kalian Tim PI atau Tim GI (Plaza Indonesia Vs Grand Indonesia) https://www.roelly87.com/2026/05/kalian-tim-pi-atau-tim-gi-plaza.html


- Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang (https://www.roelly87.com/2026/03/orderan-hemat-jemput-jauh-dan-alasan.html)


- GBHN/Garis Besar Haluan Ngojol - Kamus Besar Bahasa Ojol (https://www.roelly87.com/2020/11/kamus-besar-bahasa-ojol.html)


- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)


- Manajemen dan Security PIK yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2026/06/manajemen-dan-security-pik-yang.html)


Sabtu, 26 Oktober 2024

Terjebak di Toilet SPBU Kuningan

Terjebak di Toilet SPBU KuninganTerjebak di Toilet SPBU Kuningan


Situasi di toilet SPBU Kuningan
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


LIMA tahun sudah saya berprofesi sebagai ojek online (ojol). Dalam periode itu, rasanya campur aduk. 

Ada suka, duka, tawa, pilu, dan sebagainya.

Beberapa di antaranya, bisa disimak dalam catatan harian ojol di blog ini sejak kali pertama daftar pada 2019 silam. 

Namun, yang konyol, baru saya alami. Tepatnya, Jumat (25/10) di SPBU COCO Kuningan 31.129.02, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Ini salah satu SPBU favorit saya. Pertama, letaknya strategis di jantung ibu kota. 

Bisa bayar nontunai, QRIS dengan berbagai dompet digital. Alias, kalo ga megang cash, saya tetap dapat isi bensin di sini. 

Beda dengan mayoritas SPBU lainnya di Jabodetabek yang jarang menerima pembayaran nontunai. Selain itu, ada ATM dan isi angin gratis.

Dan, tak kalah pentingya, toilet yang tidak berbayar. Alias, gretongan.

Ga ada tuh, penjaganya seperti di SPBU Pertamina lainnya, baik yang COCO atau franchise. Atau, meski sudah dipasang selebaran "Toilet Gratis" tapi masih dikasih opsi kotak amal/kencrengan di depan pintu masuk.

Mayoritas SPBU Pertamina memang toiletnya berbayar. Padahal, sudah ada himbauan gratis. 

Namun, namanya manusia ya mana mau rugi. Misalnya, yang sering saya alami di SPBU Daan Mogot, Zainul Arifin, Abdul Muis, Gatot Subroto, Pasar Minggu, PIK, dan banyak lagi.

Itu mengapa, SPBU Kuningan ini jadi favorit saya dan juga rekan-rekan ojol lainnya. Kami berasa rugi harus bayar Rp 2.000 untuk oknum petugas yang malas, ga mau cape kerja tapi cuma ingin uangnya aja seperti kang parkir liar, pak ogah, anggota ormas, dan makhluk sampah lainnya. 

Mending kalo rajin bersihin. Ini, rata-rata toilet bayat yang ada penunggunya malah kotor dan jorok.

Kerja woi, tangan di atas lebih baik ketimbang jadi patung depan toilet nungguin kotak amal! Ha... Ha... Ha...

Kasih Rp 2.000 penjaga toilet SPBU ga bikin Anda miskin. Demikian kata orang tolol.

Padahal, sudah ada aturannya sejak 2021  bahwa setiap toilet SPBU wajib gratis. Itu terkait bentuk layanan kepada pengendara yang isi BBM.

Faktanya?

Toilet SPBU di Jakarta yang benar-benar gratis, hanya segelintir. Salah satunya, di Rasuna Said.

Hanya, sebagaimana proyek atau apa yang dibangun pemerintah ya gitu deh. Bisa membuat tapi ga pandai merawat. 

Pemerintah, gitu lho!


*       *       *


MALAM itu, saya sangat mules. Akibat beberapa jam sebelumnya makan seblak di kawasan Tebet dengan full topping, termasuk tulang ayam yang renyah.

Sambalnya? Top level. Alias pedas banget.

Saya memang penikmat pedas. Makan apa pun kalo ga pedas, terasa kurang. 

Meski itu santapan mewah dan mahal di restoran ternama, tapi kalo ga ada sambal ya hambar. Mending makan di pinggir jalan atau warung emperan seperti seblak yang cukup Rp 15.000 sudah melimpah.

Usai mengantar pesanan di daerah Setiabudi, saya melipir ke SPBU Rasuna Said. Suasana masih ramai meski sudah larut. 

Mungkin efek Jumat, hari terakhir kerja yang besoknya libur Sabtu dan Minggu.

Toiletnya ada dua. Pria dan wanita.

Yang pria dipisah untuk buang air besar (bab) dan buang air kecil atau pipis. 

Bab berisi dua bilik kamar dengan pilihan jongkok dan duduk. Untuk pipis ada tiga urinoar.

Kondisi sepi. Tancap gas.

Saya pun masuk ke toilet jongkok di ujung. Cek keran, airnya nyala. Oke.

Ga lama berselang, di sebelah ada yang masuk. Tapi, kok heboh.

"Airnya ga nyala nih," teriaknya.

"Saya juga mau cebok ga bisa," kata pengunjung toilet lainnya yang baru selesai pipis. 

"Lah, saya kira di tempat wudu aja. Tadi ke sana kering. Ga tahunya, di sini sama aja," timpal yang baru masuk.

Hmm...

Kok, perasaan saya jadi ga enak.

Saya tekan selang, bergeming. Bahkan, setetes pun, ga keluar.

Pencet flush di atas toilet jongkok, sama. 11 dan 12.

"Matilah, gw!" ujar saya dalam hati. Sebab, saya masih berlangsung bab dan belum sempat dibilas.

Dibilang panik sih ga. Tapi, disebut ga panik ya ga juga.

Maklum, seumur-umur ke toilet SPBU, ini pengalaman perdana airnya ga keluar. Cuaca yang dingin habis hujan jadi ga berefek akibat insiden ini.

Bulir keringat sebesar jagung pun menghinggapi wajah saya. Bingung juga, euy.

Namun, saya berusaha untuk tenang. Saya tanya sebelah, katanya semua toilet pria dan wanita, wastafel, serta tempat wudu ga keluar airnya.

Udah dikonfirmasi petugas SPBU. Rata, ga ada air.

Yang lain juga udah tanya petugas SPBU. Jawabannya sama.

Entah airnya habis atau error. 

Waduh...

Saya berinisiatif buka google maps terkait info SPBU ini. Siapa tahu bisa menghubingi manajernya langsung.

Ada nomor telepon, 0211500000.

Namun, saya coba hubungi ga bisa. Aneh!

Ga mungkin juga saya telepon pemadam kebakaran. Satu-satunya instansi terbaik di negeri ini yang anggotanya benar-benar kerja.

Instansi lain? Ebuset, ga ada yang guna!

Akhirnya saya buka website pertaminaretail(com). Ga ada info juga terkait SPBU tersebut.

Di bawah website-nya, ada callcenter 135. Saya hubungi dong.

Hanya, jawabannya normatif. Petugasnya bilang ga punya nomor telepon pengelola SPBU tersebut. Meminta saya untuk menunggu untuk dilanjutkan keluhannya.

Hanya, obrolan terputus. Durasi telepon 5 menit, 4 detik. Saya cek pulsa, sisa Rp 970 dari 7.900. Alias, telepon ga guna itu memakan pulsa saya hingga Rp 6.930!

Apes dah.

Kirain gratis. Ternyata, telepon callcenter Pertamina kena pulsa.

Pantas, perusahaan besar ini rugi terus dibanding negara tetangga yang untung besar. Manajemennya buruk.

Masyarakat mau hubungi aja wajib bayar. Harusnya, callcenter itu bebas pulsa.

Begini nih perusahaan milik negara kalo dijalankan orang yang ga kompeten. Padahal, Petronas milik Malaysia yang usianya jauh lebih muda, untung besar.

Indonesia Emas?

Cemas, kali... Hahaha!

Hampir setengah jam terjebak di toilet membuat saya kesal. Mau keluar, jelas ga bisa karena usai bab belum dibilas. 

Bertahan di dalam, ga guna juga. Ha ha ha. Apes!

Situasi ini mengingatkan saya saat dulu membaca novel Romance of the Three Kingdoms. Tepatnya, ketika Cao Cao galau usai kalah dari aliansi Sun Quan - Liu Bei dalam pertempuran Tebing Merah. 

Maklum, doi bingung. Mau lanjut nyerang ke selatan, tapi pasukannya tinggal sedikit.

Hendak kembali ke Xuchang, ibukota Dinasti Han, tapi malu. Itu akibat Cao Cao sudah pede ingin meratakan Wu dan menangkap Liu Bei.

Pada akhirnya, opsi kedua yang dipilih Cao Cao. Sekaligus, menandai akhir dari invasi ke selatan dalam hidupnya.

Situasi ini juga berkolerasi dengan yang dialami Presiden Prabowo Subianto terkait IKN dan Makan Bergizi Gratis yang sudah dicetuskan sejak kampanye. Mau diteruskan, tapi APBN menipis.

Ga dilanjutkan, udah kadung malu. Secara, temanya saat kampanye berkelanjutan dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)

Hasilnya?

Entahlah.

Makanya, kalo kampanye jangan muluk-muluk. Janji-janji surga, ini gratis, itu gretongan. Ketika sudah menjabat, akhirnya kepusingan untuk melaksanakannya. 

Ini tidak hanya dialami Prabowo saja. Melainkan, calon kepala daerah lainnya dalam pilkada serentak bulan depan.

Sebagai rakyat, kita wajib menagih janji mereka. Kawal terus programnya, agar jangan melenceng.

Eh, ini soal terjebak di toilet ya. Kenapa harus dikaitkan dengan politik?

Yupiii! Secara, politik itu memang bagian dalam kehidupan bernegara.

Kita ga boleh apolitis. Sebagai warga negara, punya hak untuk bersuara sesuai UUD 1945.


*       *       *

SAYA percaya keajaiban itu nyata. Contohnya, dalam sepak bola ketika secara dramatis Manchester United juara Liga Champions 1998/99 diikuti Liverpool pada 2004/05.

Momen apakah itu? Intinya, juara lah.

Silakan googling. Btw, saya Juventini alias fan Juventus.

Lanjut. Dalam keseharian, keajaiban itu bisa dalam bentuk pertolongan.

Ini yang dialami saya usai kebingungan menghadapi air yang tidak menyala di toilet SPBU.

Ketika masih bergulat dengan pemikiran bagaimana bisa keluar dari situasi konyol ini, pintu toilet diketuk. Malaikat tak bersayap yang tidak saya lihat mukanya pun hadir.

"Bang, udah cebok belom?"

"Belom bro. Gw masih di dalam. Airnya ga nyala."

"Ini bang, gw bawa air mineral botol. Cukup untuk bilas."

"Siap, bro. Makasih ya."


Saya pun membuka dikit pintu toilet. Tampak tangan menjulurkan sebotol air mineral ukuran besar. 

Masih disegel. Dingin pula.

Kayaknya, bro ini baru beli di minimarket yang ada di SPBU. Sontak, saya langsung menyambut botol tersebut.

"Berapa bro?"

"Ga usah bang."

"Eh, jangan bro. Ini gw bayar," kata saya sambil menarik selembar uang Rp 10.000 untuk ganti air tersebut.

"Ga apa-apa bang. Pake aja. Maaf itu dingin ya. Adanya kayak gitu aja," ucap orang tersebut sambil keluar.

Lah, saya pun bingung. 

Mau kejar, tapi lagi ga mengenakan pakaian. Alias telanjang karena baru selesai bab. 

Ga dikejar, ga enak karena sudah dibeliin air mineral botol ukuran besar. Saya juga punya hati. 

Udah dibeliin air mineral, masa ga bayar. Jadi, saya pun langsung bilas.

Sumpah kaget juga. Secara air mineral botolnya benar-benar dingin. 

Selesai, saya langsung keluar. Cari malaikat tak bersayap tersebut.

Hanya, nihil. Sebab, udah tengok kanan dan kiri, ga ketemu. 

Di parkiran motor juga ga ada. Pun demikian saat saya tanya ke pengunjung toilet yang hendak masuk. 

Saya hendak nanya ke beberapa petugas SPBU yang sedang mengisi BBM ke kendaraan. Namun, ga enak. Secara, mereka sibuk. Belum tentu memperhatikan situasi di toilet.

Yasudahlah. Yang bisa saya lakukan saat itu memotret sekeliling toilet di SPBU.

Terima kasih untuk orang baik yang sudah membelikan air mineral botol kemasan besar. Anda adalah malaikat tak bersayap bagi saya.


*       *       *

Info SPBU berdasarkan
Google Maps


*       *       *

Nelepon Callcenter ga guna
malah buang pulsa Rp 6.930!


*       *       *

SPBU Coco Pertamina Kuningan


*       *       *


*       *       *


*       *       *




- Jakarta, 26 Oktober 2024


*       *       *


Artikel Terkait


Catatan Harian Ojol

- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol

- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret

- Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol

- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia

- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok

- Lawan Arogansi di Jalanan: Jangan Pernah Benarkan Hal yang Salah!

- Risiko Ojol Antar Makanan pada Dini Hari

- BlackPink di Mata Ojol

- Ditolak Ojol: Bertepuk Sebelah Tangan

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Sisi Lain Konser Coldplay: Mistik, Sedih, Haru, dan Bahagia

- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya

- Polri Ultah ke-78, Maaf Mahkota Kalian Masih Transit di DC Cirebon

- Punya 2 Paspor, untuk Apa?

- Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

- Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150

- Setelah 6 Bulan Jadi Ojol, dari Sambilan hingga Full Time

- PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol

- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm

- Jadi Agen GoPay, Rahasia di Balik Gacor Ngebid Saat PSBB

- Vermuk? 70% Gojekers Setuju, tapi...

- Berapa Modal Jadi Ojol?

- Kamus Besar Bahasa Ojol

- Orderan pada Malam yang Ganjil

- Kompromi dengan Keadaan

- Bikin SIM C Hanya Keluar Rp 155 Ribu, Ini Caranya!

- Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

- Terima Kasih Orang Baik

- Terima Kasih, Orang Baik! (2)

- Terima Kasih, Orang Baik (3)

- Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?

- Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah

- PSK dan Gigolo Lebih Mulia daripada Kang Parkir Liar



Semesta Ekalaya 

- Ceritera dari SPBU Kosong

- Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

- Mangga Besar Punya Cerita

- Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah

- Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung

- Di Suatu Desa dengan Penumpang Random

- Karena Customer adalah Raja

- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

- Kamaratih




Minggu, 31 Oktober 2021

Mangga Besar Punya Cerita

Catatan Harian Ojol VI

Mangga Besar Punya Cerita

Ilustrasi @roelly87



MEMASUKI musim hujan begini membuat dilematis bagi ojek online (ojol). Di satu sisi, bikin rempong. 

Sebab, harus basah-basahan saat menjalankan orderan. Itu meliputi bawa penumpang, antar makanan, dan kirim barang. 

Belum lagi jika deras hingga banjir. Sensasinya, wow banget.

Pada saat yang sama, justru orderan melimpah drastis. Pasalnya, banyak rekan ojol yang off. 

Bahkan, kerap mengalami lonjakan harga dari 1,5 hingga 4 kali lipat dibanding tarif normal. Tak heran jika hujan jadi ajang mendapat tambahan pendapatan.

Termasuk, gw yang berusaha memanfaatkan situasi ini dengan maksimal. Gw ga peduli dengan gerimis, hujan lebat, deras, hingga banjir sekalipun seperti pada malam tahun baru 2020.

Bisa dipahami mengingat gw terbiasa menari di bawah badai. Jadi, bagi gw, hujan hanya tetesan air yang jatuh dari langit.

*     *     *

HUJAN rata di Jabodetabek. 

TangSel banjir.

Kelapa Gading ga gerak.

Kemang macet total.

Demikian sahut-sahutan komentar di Grup WhatsApp basecamp gw. Terdiri dari 19 orang yang sama-sama tinggal dan kerap berinteraksi di PIK coret

Selain gw, ada beberapa rekan ojol yang kerap ngalong di basecamp. Irawan, sudah pasti. Salah satu dedengkot tongkrongan diikuti Drestajumena dan Jayadrata. 

Kalau malam, memang bisa dihitung jari. Beda, jika siang yang basecamp sangat ramai. 

Termasuk, lady ojol yang wara-wiri antar makanan atau barang. Mpok Astuti merupakan pimpinan secara de facto maupun de jure untuk kaum hawa yang berprofesi ojol di kawasan kami.

Sambil neduh di emperan resto yang udah tutup, gw asyik menyeruput secangkir kopi hitam diiringi sebatang mild. Sementara, tangan kanan gw sibuk sroll hp yang penuh notif pada beberapa grup wa.

*Tuti*
Hujan gede euy. Mager mo balik basecamp. Neduh dulu di Mabes.
(21.02)

*Irawan*
Sama pok. Gw di Bonjer nih. Ada lonjakan harga sampe empat kali lipat ke Patal Senayan tp gw lewatin. Dingin euy.
(21.03)

*Gw*
Nunggu reda aja pok. Gw barusan abis dari Kepu. Ir, sama gw tadi dapat food. Tapi tanggung baru beli kopi makanya gw lewatin. :) #SenyumManja
(21.04)

*Dresta*
Woiii... Masih ngebolang aja lo pade. Gw sendirian di basecamp! Anjir mana ga bawa jas ujan.
(21.04)

*Irawan*
Tiati bang Dres, ada yang nemenin. Geulis sih, tapi buukna panjang dan teu boga suku. Ulah khilaf, bisi terbang.
(21.05)

*Tuti*
Ha ha ha, ditemenin kunti loh bang Dres. Liat kanan-kiri. Banyak baca doa :)
(21.07)

*Gw*
Bang Dres, ini gw masih di PangJay ya. Kalo tiba2 gw ada di depan lo, ga usah banyak omong lagi kayak dulu. Langsung kabur aja. ^_^ #MataBelo
(21.08)

*Dresta*
Asuuuuuuu kabeh! Gw mo balik ga bawa jas ujan. :( #Sad
(21.10)

*Jaya*
Ada apa ini rame2? Gw juga kejebak di Jelambar. Kalo reda otw basecamp. Dres, titip salam sama sebelah lo. :) #SenyumJahad
(21.11)

*Dresta*
Anjir. Goblok lo pada. Gw sendirian nih. Mana itu di lapak opang pada sepi. Bodo ah, gw cabut. #Panik
(21.15)

Gw yang baca komentar di Grup WA itu ketawa ngakak menyaksikan bang Dresta dibully. Kita-kita ini kalo udah ngebacot sesama ojol baik ketemu langsung maupun di WA memang ga ada filternya.

Termasuk, lady ojol yang ada empat orang di grup. Tuti paling senior di antara mereka. 

Kami sudah terbiasa ngobrol dengan vulgar dan saling sindir. Namun, tetap ada etika dengan tidak bicara pada hal yang menjurus. 

Yang pasti, grup WA ini dibuat Irawan sejak 2019 sebagai sarana komunikasi antarojol di tempat kami. Termasuk jika ada yang trouble seperti motor mogok, rusak, dan mengalami hal tak terduga saat ngalong, tanpa dikomando, kami langsung otw.

*Gw*
Gw males balik basecamp. Mau ke kostan Sudirga di Mabes. Sekalian ngangetin badan sambil ngopi2 cantik dan main ps. Kalo ada yang mau ikut nyusul aje. Kebetulan Dirga bilang lagi stay.
(21.31)

*Dresta*
Gw udah balik Ka. Salamin aje sama Dirga. Njir dingin gilak, ujan2an gw sampe basah kuyup.
(21.33)

*Irawan*
Ka ngapin lo ke Mabes? Mau Open BO? Gacor tadi ya? #SenyumJahad
(21.33)

*Gw*
Si goblok. Ini Dirga baru beli ps 4. Lo ditantangin Ir, main FIFA. No Cheat, kata dia.
(21.35)

*Irawan*
Sejak kapan Dirga menang lawan gw? Dari zaman Winning Eleven di PS 1, 2, sampe 3, die gw ampasin terus. :) #SenyumKemenangan
(21.38)

*Tuti*
Gw ikut Ka. Lo shareloc ya, mumpung gw di sekitar sini mau ganti baju, ga betah abis basah kuyup. Sekalian mau ngadem. Anak2 gw juga udah pada tidur.
(21.40)

*Jaya*
Gw ga ikut ah. Masih ngalong. Oh iya Ka, bilangin si Dirga. Kalo akun dia ga kepake, mending gw manfaatin jadi duit. He he he :) #KetawaBahaya
(21.42)

*Gw*
Siap bang Jay, ntar gw bilangin. Daripada akun dia dah lama ga dipake, takutnya disuspend.
(21.45)

*     *     *

AHMAD Sudirga. Salah satu ojol yang dulu sempat nongkrong di basecamp kami. 

Namun, udah setahun ga pernah narik lagi sejak kantornya memindahkan lokasi kerjanya di Hayam Wuruk. Ya, Dirga menjabat sebagai kepala toko minimarket XMart. 

Dia sempat setahun tugas di daerah gw. Orangnya supel, ramah, royal, dan asyik. 

Dirga juga pekerja keras. Ga betah diam. 

Makanya, dia ikut bikin akun ojol dan narik bareng kami di basecamp usai pulang kerjanya pukul 20.00 WIB. Padahal, masuknya pukul 08.00 WIB. Sebagai kepala toko, dia memang harus standby nyaris 24 jam untuk memantau XMart-nya.

"Tangan gw bisa kaku kalo pulang gawe ga ngapa-ngapain di kostan. Mending gw ngojol sampe tengah malem. Mayan, hasilnya bisa nambah-nambahin modal masa depan," kata Dirga, pada awal 2020.

Jebolan pesantren ternama di Bogor ini memang sebaya dengan gw dan Irawan. Namun, masih di bawah Dresta yang usianya nyaris kepala lima. Sementara, Jaya dan Tuti kemungkinan sama-sama 40-an tapi beda tahun.

"Wooi... Maen berdua aja. Ayo, yang menang lawan gw," teriak Irawan saat nongol depan pintu kostan Dirga yang berada di lantai tiga. 

Gedung yang bercorak artdeco meski sudah tergolong tua karena dibangun pada dekade 1990-an ini terdiri dari lima tingkat. Selain biasa disewa bulanan, konon, kostan ini juga bisa untuk harian. 

Memang sih di lobi, meja resepsionis terdapat tuliasan besar-besaran, "TIDAK UNTUK HARIAN APALAGI JAM-JAMAN!"

Hanya, sebagai kostan yang berlokasi strategis di salah satu kawasan hiburan malam terkenal di ibu kota ini tiada hil yang mustahal. Ya, TST. Tahu sama tahu. 

IYKWIM. If you know what i mean.

Kembali ke Irawan. Tangannya pasti udah gatel gara-gara gw komporin ngadu ps4. Sementara, pok Tuti yang datang barengan Irawan langsung ngeloyor ke kamar mandi.

"Ga, numpang ganti baju. Basah semua nih. Tuh, gw sama Irawan patungan bawa martabak," ucap wanita yang jadi lady ojol sejak 2016 tersebut.

"Pake aja pok," kata Dirga, tanpa menoleh saking fokusnya akibat Perugia yang dimainkan gw tekan terus pake Juventus.

"Mau gw temenin ga pok?" sahut Irawan, yang tiba-tiba udah ngunyah martabak. Dasar kampret nih bocah. Niat mau beliin buat Dirga malah di unboxing duluan.

"Si goblok," Tuti menjawab celetukan Irawan.

"Tiati pok, ntar lo berdua Irawan di kamar mandi, pas keluar jadi bertiga," ujar gw terkekeh, menimpali.

"Geblek lo pade..." komentar Tuti, sambil melanjutkan, "Ga, ini kamar mandi lo wangi banget. Abis bawa cewe ya?"

"Wangi atau bau apek, po? Kaga lah, belom pernah gw bawa cewe ke kamar."

"Dirga mah 'kalo mau jajan' gampang,  bisa jalan ke depan. Tinggal pilih."

"Ga nyangka ya lo Ga, jebolan pesantren doyan jajan."

"Lah Dirga kan cowo, pok. Kalo ga doyan cewe itu baru bahaya."

"Iiih, Dirga ga doyan tapi mau. Gelay..."

"Goblok lu pade."

"Ha ha ha."

"Udah ah, makan dulu martabak jangan dianggurin. Lagian si Eka payah. Kalah terus. Pake Juve, tapi lawan Perugia keok."

"Pan pemanasan Ga. Kalo si Irawan turun, baru gw serius."

"Bidji lo. Lawan Dirga aja kalah, apalagi sama gw. Bisa gw bantai 10-0."

"Ga pinjem powerbank lo, gw mau cas hape. PB gw mau dicas di stopkontak."

"Di atas lemari po. Pake aja. Mayan gede tuh PB, 20 ribu MaH."

"Udah sini bikin grup. Kita pilih format turnamen antarklub, negara, atau gabungan."

"Klub aje. Gw Perugia, tetep."

"Sama, Juve. Always."

"Oke. Gw FC Internazionale."

*     *     *

URUSAN main PS, emang Irawan jagonya. Dirga yang ganti klub beberapa kali dari Perugia ke Real Madrid, Barcelona, hingga Paris Saint Germain, tetap ampas.

Gw? Jangan ditanya. Ga kebobolan 0-3 pun udah sukur.

Pantes di tempat gw, Irawan beberapa kali juara turnamen PS 3. Termasuk, puasa kemaren saat diselenggarakan Karang Taruna yang melibatkan enam RT di RW gw. 

Flashback sejenak, saat itu, kami ga bisa milih tim. Alias random, format diundi komputer. Gw kebagian Liverpool dan Irawan dapat Ajax Amsterdam.

Dia melaju ke final tanpa kalah dalam sistem UEFA Champions League yang udah dimodifikasi. Sementara, gw mentok di babak 16 besar. Anjir.

Apalagi, kalahnya sama bocil 14 tahun yang dapat Manchester United, skor 2-6. Bocah dari RT sebelah itu yang melaju ke final lawan Irawan.

Di atas kertas, jelas Ajax bukan tandingan MU. Pasar gelap, tepatnya taruhan kecil-kecilan antarsesama ojol dan pemain PS pun demikian.

Irawan divoor 1/2. Babak kedua, bahkan over-undernya gila. Itu akibat Ajax udah unggul 2-0 sebelom turun minum.

Panik ga, panik ga, yang ngejagoin Irawan? Paniklah!

Namun, Irawan membuktikan statusnya sebagai yang terbaik di kawasan kami. Usai jeda, Ajax pun menggila.

Irawan mencetak tiga gol tanpa balas. Sekaligus, membalikkan kedudukan jadi 3-2.

Lima menit sebelum peluit panjang, jari-jemari Irawan kian asyik menari lewat stik PS. Terbukti, Ajax kian unggul 4-2.

Saat itu, gw lirik muka si bocil memerah kayak kepiting rebus. Pun demikian dengan beberapa rekan ojol dan para pemain ps yang ikut bertaruh kecil-kecilan jadi mingkem.

"Gw bisa aja bantai nih bocil 8-2. Tapi, gw cukupin 6-2 aja buat balas kekalahan lo," ujar Irawan kepada gw.

Terbukti, usai peluit panjang berbunyi, Ajax menang 6-2. Irawan pun sukses melampiaskan kedongkolan gw kepada si bocil sekaligus menggondol hadiah utama.

Yaitu, uang tunai Rp100.000 disertai jersey KW3 dan sepatu capung. Memang, hadiahnya ga seberapa.

Wajar mengingat turnamen yang diikuti 32 peserta yang beragam profesi di wilayah gw mulai dari ojol, PNS, anggota, hingga masih sekolahan ini bersifat swadaya. Alias, untuk main harus daftar dengan biaya Rp10.000.

Namun, gengsinya itu di atas segalanya. Irawan bisa jemawa di hadapan gw sebagai raja ps.

Termasuk, sombong saat kumpul-kumpul di basecamp dengan selalu membahas keberhasilannya juara di RW kami. Kampret tuh orang!

*     *     *

DOK... Dok... Dok... dari luar kostan terdengar suara penjual keliling. Kalo ga mie dokdok, nasgor, bakwan malang, pempek, atau ketoprak.

Kami berempat yang baru saja mengganyang martabak hasil promo dengan diskon 70 persen plus gratis ongkir tentu langsung reaktif kegirangan. Maklum, efek kehujanan bikin cacing dalam perut demo terus.

Tadinya, Tuti mau pesan online lagi mengingat di aplikasinya masih tersedia voucher untuk food. Belum termasuk, promo makanan dan gratis ongkir dari aplikator sebelah.

Hanya, niat tersebut diurungkan. Sebab, di luar masih rinai. 

Jika begini, sulit mendapat ojol yang rela basah-basahan demi mengantar makanan. Wong, kami saja yang terbiasa menari di bawah badai sudah menonaktifkan aplikasi masing-masing. 

Gw dan Irawan sibuk main ps dengan Dirga. Pun demikian dengan Tuti yang asyik scroll IG sambil sesekali mengomentari pertandingan kami bertiga.

"Eh, itu ada Bakwan Malang kang Sakri. Pesen aja kalo pada mau, ntar gw bayar," ujar Dirga menoleh ke gw yang memang lagi jadi penonton menyaksikannya duel dengan Irawan.

"Hujan gini jualan emang Ga?" gw menjawab.

"Jualan. Justru laris. Kalo malam plus hujan pan banyak yang nyari anget-anget."

"Lebih anget lagi yang di pinggir jalan ke arah Gajah Mada. Berjejer. Bening. Tinggal pilih."

"He he he. Bloon. Gituan mah, lain cerita."

"Gw pesenin sekalian, Ka. Bakwannya dipisah," Irawan langsung menyambar. Kalo denger makanan, entah kenapa makhluk satu ini cepat bereaksi.

"Sama, gw juga Ka. Sambelnya lima sendok biar mata melek," Tuti, menimpali.

"Lah, gw yang jalan?"

"Pan lo lagi nganggur. Daripada bengong mending lo ke bawah."

"Siap tuanku."

"Gw sih bisa aja beliin kalian bertiga. Bahkan, gratis gw borong. Tapi dengan syarat. Lo harus menang. Sekali aja deh. He he he."

"Si goblok mulai sombong."

"Ha ha ha."

"Lo teriak dari jendela aja, pan kedengeran. Buka kacanya. Kang Sakri udah paham kok. Dia selalu bawa payung."

"Kang Sak, empat mangkok ya. Biasa. Bos Dirga lagi dapat warisan buat nraktir kita-kita. Sekalian, kecap, sambal, dan saos dibawa biar ga bolak-balik," teriak gw dari jendela ke arah kang Sakri yang ada di balik pagar depan.

Penjual bakso yang juga Aremania Garis Keras ini pun mengacungkan jempolnya. "Siap bosku. Pesanan meluncur."

"Si bego, teriak-teriak tengah malam gini. Bikin tetangga kostan pada bangun," ucap Tuti sambil melempar wijen sisa-sisa martabak ke arah gw.

"Dah pada tidur pok. Lagian ini kostan cenderung bebas. Sering kok di kamar sebelah ada 'gempa bumi'. Si Dirga aja yang ga pernah neko-neko," gw menjawab.

"Yah, namanya kostan. Apalagi, di daerah abu-abu gini. Tadi aja pas gw lewat bareng pok Tuti, di kamar ujung pas belokan tangga ada yang lagi syuting smackdown," tutur Irawan, dengan senyum yang ganjil.

"Lo enak, bisa ngintip. Untung ga ketahuan," lanjut Tuti, usai beberapa detik mencerna arah angin.

"Irawan mah, aji mumpung," Dirga, menimpali.

"Lah, gw ga salah dong. Pan pintunya ga ketutup, separoh kebuka. Jadi keliatan dari luar pas kita naik tangga," kata Irawan dengan memasang ekspresi lugu tanpa dosa.

"Njir enak dong lo sama pok Tuti dapat 'cuci mata'. Pas gw dateng sendirian tadi digembok dari luar," gw mengomentari.

"Yaelah, lo sama kayak si Irawan. Kalian ini sebelas dua belas," Tuti, menimpali.

Celetukan kami berempat terpotong suara angin yang mendesis dari jendela yang posisinya di sebelah kanan tv. Padahal, dari kamar terdengar hujan sudah tidak deras. 

Alias, hanya gerimis manja. Ga lama, dari balik jendela, gw dipanggil kang Sakri.

"Bosku, bakwannya dipisah aja ya. Ini gw plastikin ya, ga dicampur di mangkok biar enak pas dicocol masih garing," kata kang Sakri dari balik jendela.

"Aman kang. Yang penting mah anget, coz kami abis keujanan," jawab gw.

"Siap bosku. Gw ambil nampan dulu."

"Yongkru, kang!"

Gw pun kembali bersiap melangkahi Dirga dan Irawan untuk duduk di belakang. Namun, ketika itu, gw lihat keduanya saling tatap dengan Tuti.

"Ga, ini kamar lo kan lantai tiga?" ucap Tuti dengan mencabut chargernya dari stop kontak.

"Iya... Ya," sahut Irawan yang seketika meletakkan stik ps.

"1... 2... 3... Beresin barang-barang kalian," Dirga menyeru sambil bersiap sipat kuping.

Gw pun makin bingung dengan tingkah mereka bertiga. Termasuk, Dirga yang tergopoh-gopoh tanpa memerdulikan psnya.

"Bosku, Eka... Ini pesanannya empat mangkok," ujar kang Sakri dengan senyum yang tiba-tiba nongol.

"Cabut Ka!" Dirga berteriak. Di depannya ada Tuti yang sangat gesit layaknya sedang mengantar orderan kakap. Irawan pun mengikuti dengan sigap meski nyaris terserimpet asbak.

Hanya gw yang masih bergeming. Sepertinya, otak gw belom sinkron untuk merekonstruksi situasi ini.

Hingga...

"Bosku, ini udah jadi. Jangan pada kabur dong. Bercandanya ga lucu nih. Bayar dulu," tutur kang Sakri dengan tersenyum yang lebih mirip menyeringai.

"Ka, goblok. Cabut, cepet," sumpah serapah terdengar dari mulut Irawan saat menyaksikan gw terdiam.

"Anjir... Gw kira lo kang Sakri beneran. Kampret!" ujar gw saat tersadar usai mendengar kata-kata mutiara Irawan.

Tanpa memerdulikan kang Sakri yang mengangsurkan nampan berisi empat mangkok bakso dan seplastik bakwan, gw pun segera lintang pukang.

"He he he... Cemen ah, begini doang udah pada kabur. Apalagi, kalo ntar..."

Sayup-sayup terdengar suara kang Sakri yang agak melengking saat gw menuruni tangga dengan mengekor Irawan.

*     *     *

USAI 'olahraga malam' yang benar-benar menguras fisik dan mental, akhirnya kami berhenti depan pos hansip. Tampak, beberapa orang keheranan melihat kami yang keringatan.

"Lo kenape tong? Kayak dikejar-kejar jurig," ujar salah satu hansip yang baru saja memukul kentongan di tiang listrik sebelah pos.

"Kang Sakri, beh..." Dirga menjawab dengan terbata-bata.

"Si Sakri kenape?"

"Lah, dia kan molor di musala. Dagangannya abis dari jam sembilanan. Terus, Sakri ga pulang," salah satu warga setempat menimpali.

"Serius, bang?"

"Iye... Itu keliatan, gerobaknya. Eh, bocah, coba bangunin si Sakri. Ini ada apa," ujarnya lagi meminta remaja tanggung untuk memanggil kang bakso itu di musala yang letaknya berlawanan dari kostan Dirga.

Gw pun meneguk sisa sebotol air mineral pemberian Tuti yang dibagikan kepada kami. Meski situasi kalut tadi, hebatnya lady ojol tersebut tetap sigap dengan membawa air.

Ga lama, Sakri pun datang. Dia juga sebelas dua belas dengan yang lain, keheranan menatap kami berempat.

"Kenape bosku? Kayak abis dikejar Satpol PP saat Open BO di depan," ujarnya, terkekeh.

"Kampret lo... Gw dikerjain soket yang menyerupai muke lo," Dirga menjawab, sambil tertawa.

"Waduh, kenape dedemitnye nyaru muke gw, bosku? Apa wajah gw emang tampan ye, makanya banyak yang naksir. Ga cuma cewe aja, tapi juga soket," ujar Sakri, terkekeh.

"Bidji! Tadi ada soket nawarin bakso lewat jendela kamar kost gw. Itu pan lantai tiga. Pake tangga lipat aja ga mungkin. Apalagi, suasana gerimis. Anjir, gw merinding."

"Tidur di pos aje bosku. Atau musala. Ntar subuh balik."

"Ogah dah. Barang-barang gw masih di kamar. Gw lebih takut kalo ilang laptop, ps, dan lain-lain. Ya udah, kang Sak, ini gw cabut ya. Sorry ganggu lo tidur. Pak dan abang-abang sekalian, kita cabut dulu ya. Terima kasih, semua."

"Tiati bro. Kalo ada apa-apa teriak aja."

"Siap."

Dirga memberi kode kepada kami untuk balik. Nah, di antara gw, Irawan, dan Tuti pun dilanda kebimbangan.

Tapi, ya mau ga mau, gw mesti ngikut tuan rumah. Gw ga bisa ninggalin Dirga sendirian dalam kondisi seperti ini.

"Ga serius, kita balik ke kamar lo?" kata Irawan sambil menepuk pundak Dirga.

"Ya, gimana lagi Ir. Gw harus balik. Kamar tadi lupa dikunci."

"Yaudah Ir, kita balik lagi temenin. Kalo kita tinggal, ntar dia kencing di celana lagi saking takut dan ga bisa tidur nunggu subuh."

"Yaelah, Ga... Ga... Lulusan pesantren masa, sieun kanu jurig. Ngerakeun wae maneh mah."

"Eh, pok... Bukannya lo yang kabur paling duluan. Malah, gw terakhir," gw, menimpali sambil tertawa ngakak.

"Kaget Ka. Aseli. Tapi, ya udah lah. Lagian kan, soket mah teu bisa nelen kita ka. Lamun begal tah, baru ngeri," Tuti, menjawab.

"Kali ini aman. Mungkin, tadi perkenalan doang penghuni gedung ini sama kalian. Pan, kecuali Eka yang sering ke sini, pok Tuti sama Irawan baru."

"Anjir, ogah dah kalo sering-sering. Pertama kali aja kayak gini," Irawan, menepok jidat.

"Aduh... Sakit pok." 

Plak... Pok Tuti menambahkan lewat tangan kanannya ke kening Irawan.

"Kaga, Ir. Cuma mastiin doang. Siapa tahu, lo gw tepok malah tangan gw tembus. Kalo lo teriak sakit berarti lo beneran manusia."

"Ha... Ha... Ha... Kurang kenceng, pok."

"Gw juga pengen ngetes lo Ir."

"Eh goblok. Udah... Udah... Geblek lo pada."

"Ha ha ha."

*     *     *

SALING bully di antara kami memang sudah biasa. Tak terkecuali, pok Tuti yang jadi bahan ledekan gw, Irawan, dan Dirga.

Hebatnya, wanita asal Sukabumi itu selalu punya cara buat menangkis serangan kami. Alhasil, gantian malah gw, Irawan, dan Dirga, jadi bahan ledekan.

"Pok, ada yang aneh deh," Irawan menghentikan langkahnya saat kami baru mencapai lantai tiga usai bersusah payah jalan kaki dari pos hansip hingga naik tangga.

"Kenape lagi Ir? Lo liat yang aneh-aneh di bawah atau tangga?" ucap Dirga.

"Kaga. Cuma gw merasa janggal."

"Mulai deh drama."

"Gw hitung sampe 100 ah, siap-siap kabur."

"Si goblok pada bercanda. Serius nih."

"Ada ape? Cepet jalan, gw mau liat kamar gw."

"Iya ih, rempong nih bocah."

"Lo ada yang nyolek?"

Irawan menunjuk ke sampingnya. Kamar kost nomor 303 yang berada di sisi tangga dengan tertutup rapat dan digembok. 

"Ga ada apa-apa. AC, tv, dan lampu mati," Irawan menempelkan telinganya ke daun pintu.

"Lah, pan gw bilang apa. Dari gw dateng tadi digembok di luar."

"Lo yakin, Ka?"

"Lah, ini buktinya. Di depan keset ga ada sepatu. Beda sama kamar yang lain."

"Pok, tadi kita lewat sini ada sejoli kan di dalam?"

"Iye. Gw sekilas liat pas lewat. Pan lo yang berenti sambil ngintip."

"Nah... Jangan-jangan."

"Udah... Kamar ini tadi ada orang. Temen gw. Tapi udah pergi. Yuk ah, masuk kamar. Lanjut maen PS," tutur Dirga, diplomatis.

Kami pun kembali masuk ke kamarnya. Tidak ada yang aneh. 

Gw iseng melongok ke luar jendela juga ga ada apa-apa. Hujan sudah reda. 

Saking penasaran, gw sorot pake senter Hp, ga ada penampakan atau bayangan soket yang menyerupai kang Sakri. 

Gw pun lega. Biar kata nyali gw gede, tapi bisa jantungan juga kalo tiba-tiba dijogrokin soket...

"Ir, jangan ditutup. Buka aja."

"Lah, kalo ada yang masuk tiba-tiba, gimana Ga?"

"Si oneng. Justru kalo ditutup kita susah lari jika ada yang dateng dari jendela."

"Aman. Hujan udah reda. Gw cek ga ada apa-apa di luar sini."

Kami pun melanjutkan permainan. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada seperminuman teh tadi.

Giliran gw gantiin Dirga yang timnya udah keok untuk meladeni Irawan. Sementara, pok Tuti asyik pasang headset menonton drakor dengan memanfaatkan wifi gretongan.  

"Jadi begini ye, Pok, Ka, Ir..." Tiba-tiba, Dirga memecah keheningan.

"Nape, Ga?" Pok Tuti langsung mencabut headset untuk menyimak.

Begitu juga dengan gw dan Irawan yang segera meletakkan stik.

"Udah lo berdua lanjut aja. Dengerin gw sambil main ps aja. Pan final. Tanggung."

"Ogah ah. Gw penasaran, Ga."

"Sama."

"Lanjut, Ga..."

Dirga tampak menarik napas dengan panjang. Gw pun tertarik untuk menyimak lebih serius bersama Irawan dan pok Tuti.

"Sebenarnya, kamar itu emang ga ada penghuni. Sama pemilik kost dikosongin. Udah lama. Jauh, sebelom gw masuk sini."

"Gw udah tahu Ga. Lo cuma..."

"Pok, jangan dipotong. Biar si Dirga jelasin."

"Iye ih, kepo banget emak-emak satu ini."

"He he he... Abis, ketebak sih. Ini mah kayak telenovela Maria Mercedes."

"Pok, rempong!"

"Jangan didengerin Ga. Lanjut. Lo cerita pake berenti sih. Bikin penasaran."

"Bentar temen-temen. Gw mau menyulut api kehidupan dulu."

"Goblok. Nyalain rokok aja gaya lo sok puitis."

"Hiperbol banget sih lo Ga."

"Kelamaan jomblo ya kayak gini nih bocah."

"..."

"Iye, gw boongin lo pade. Aslinya emang bener kata si Eka. Kamar itu digembok dari luar," kata Dirga sambil meniup asap rokok hingga membentuk beberapa bulatan.

"Bener kata si Eka. Kamar itu selalu digembok. Makanya, gw sempat heran pas lo sama pok Tuti bilang saat lewat ada penghuninya, berdua pula. Kamar itu emang hawanya beda dibanding kamar lainnya di kostan ini. Tapi, gw kan udah tiap hari. Jadi, dah khatam. Ya, selama ga ngeganggu gw, ya gw tutup mata. Tahu, tapi pura-pura ga tahu aktivitas di kamar itu yang kadang bunyi berisik, desahan, hingga kayak cecer pecah.

Nah, kalo yang penampakan Kang Sakri, itu baru gw alamin selama ngekost di sini. Emang sih, ga aneh. Gw di pondok udah pernah ketemu hal-hal ghaib seperti itu. Bahkan, jadi santapan sehari-hari. Yah, namanya juga mondok di pedesaan yang terletak di lereng gunung. Apalagi, jika mandi tengah malam di sungai atau mencari kayu bakar, pasti ada aja yang ngikutin. Minimal, liat dari kejauhan. Auranya beda. Hanya, kami lebih takut sama guru kami ketimbang makhluk halus."

"Beranian lo Ga. Kalo gw mah udah pindah kost kalo harus lewatin kamar itu," potong pok Tuti yang ga tahan untuk buka suara.

"Ya, gimana pok. Namanya, dibiayain kantor. Apalagi, kostan ini kan ga jauh sama tempat kerja gw di seberang jalan."

"Enak juga sih kalo nempatin gratis mah. Gw juga mau."

"Emang lo berani Ir?"

"Sendirian ogah gw Ka. Tapi, kan enak, di sini bening-bening. Ha ha ha."

"Bukan bening lagi, tapi tembus pandang malah. He he he."

"Si bego. Mistis terus."

"Eh gw lanjut cerita nih..."

"Yaudah, terusin. Pok, jangan dipotong lagi."

"Iya bawel."

"Jadi, terkait kamar 303. Awalnya, biasa aja. Hanya, sejak beberapa tahun lalu sengaja ditutup. Konon..."

*     *     *

SEPEMBAKARAN hio sudah lewat di antara diskusi yang melibatkan kami. Serius, mengingat agak menyerempet. Tepatnya, ke arah sensitif. 

Namun, seperti biasa, diskusi ini tetap diiringi guyonan. Ya, susah kalo gw, Irawan, dan pok Tuti udah kumpul. Kita-kita emang genk lenong alias ga jelas. 

Meski kami udah kepala tiga, tapi lagak dan lagunya kalo udah kumpul bisa kayak bocah. Ditambah, Dirga yang aslinya flamboyan dan cool, tapi akibat bergaul dengan kami jadi makin slebor.

"Oke. Kita tarik konklusi mengingat rembulan sudah condong ke barat," Tuti buka suara. 

Ya. Gw, Irawan, dan Dirga mafhum. Malam kian larut. Saatnya kami balik. Apalagi, Tuti dan Irawan sama-sama udah ditunggu bocah di rumah. 

"Deal ya," ujar Irawan.

"Risiko ditanggung penumpang," Dirga, menyeletuk."

"Menyimak..." kata gw.

"Jangan takut kalo nakal. Jangan nakal kalo takut," ucap Tuti, optimistis.

Ya. Kami sudah menarik kesimpulan terkait rencana sesuatu untuk kamar 303 yang berkolerasi dengan kemunculan mirip kang Sakri: Sepakat untuk tidak sepakat.

Dirga dan Tuti pro. Pada saat yang sama, gw dan Irawan, kontra.

Angin dingin meniup secara perlahan. Gw, Irawan, dan Tuti pun pamit diiringi Dirga hingga parkiran motor.

Tidak ada yang aneh saat kami melewati kamar 303. Pun ketika melangkah setindak demi setindak melintasi anak tangga.

Setidaknya, untuk saat ini.***

*      *      *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part V: Di Suatu Desa dengan Penumpang Random
- Part VII: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part VIII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part IX: Debt Collector Juga Manusia
- Part X: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
Jakarta, 31 Oktober 2021

Rabu, 21 April 2021

Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

Ilustrasi (Foto: www.roelly87.com)


*       *       *

POV Irawan

BEBERAPA hari usai keganjilan di basecamp ojek online (ojol) tempat gw dan beberapa rekan kumpul, situasi kembali normal. Memang, basecamp itu selalu jadi tempat istirahat atau menunggu penumpang bagi ojol.

Maklum, kawasan di sekitar kami tinggal tergolong "basah" karena terdapat pusat perbelanjaan, kuliner, gudang, hingga pabrik. Alhasil, cukup menunggu di basecamp, maka orderan pun sering datang. 

Namun, pantang bagi kami, ojol untuk mengambil penumpang tanpa aplikasi. Sebab, itu merupakan domain ojek pangkalan (opang) yang basecamp-nya hanya berjarak ratusam meter.

Antara kami dan opang saling menghormati. Apalagi, bagaimana pun, opang lebih dulu eksis dibanding ojol.

Itu mengapa, jika ada setiap penumpang yang ingin naik tanpa aplikasi, kami tidak pernah mengambilnya dan menyarankan untuk memilih opang. Kecuali, jika masih ada hubungan keluarga, tetangga, atau kenal.

Seperti tadi, ketika gw dan Ekalaya rebahan, ada calon penumpang yang ingin masuk kerja shift malam ke pabrik berjarak sekitar 1,5km. Usai menolak dengan halus, gw dan sohib gw itu kembali menunggu orderan penumpang, food, atau kirim barang sambil ngalor ngidul. Kebetulan, hari masih pagi -bagi kalongers-, sekitar pukul 19.00 WIB.

"Tumben lo masih rebahan jam segini. Biasa udah bolak-balik saking gacornya," kata gw kepada Eka yang sedang streaming Ahmad Band via youtube di ponselnya.

"Istirahat ngab. Mayan pegal, keluar dari jam 4, jauh terus," sohib yang mengaku Juventini sejak 1994 ini menjelaskan.

"Btw, pada kemana yang lain? Drestajumena dan Jayadrata juga tumben ga langsung balik abis pada dapat di pabrik," Ekalaya melanjutkan.

"Ga tahu. Di grup sih gw lihat, mereka lanjut dapat kardus," jawab gw.

"Btw, kalo ngomongin Dresta dan Jaya jadi inget kejadian Kamis lalu."

"Ha ha ha. Goblok lo pada. Bertiga tapi kabur semua," Eka menyahut.

"Serem, njir. Gw sama Dresta dan Jaya pas noleh lagi, lo udah ilang. Mana bau kembang lagi. Apalagi, malam jumat tuh," gw menjelaskan insiden kehadiran makhluk halus yang menyerupai Eka.

"Btw, lo ini beneran apa bukan nih. Secara, kita cuma berdua."

"Ebuset, parno lo kambuh. Ya iyalah, gw Eka. Lo ga lihat gw pegang hape, apa? Mana ada hantu sambil streaming?" ujar Eka, terkekeh.

"Kaga, ngab. Khawatir aje, ini bukan lo," kata gw sambil melempar botol air mineral yang tepat kena keningnya.

JDUK...

Bunyinya nyaring. Berarti, Eka beneran. Soalnya, kalo tuh botol tembus, berarti gw ga pake lama deh, langsung sipat kuping.

"Biar tambah yakin, kalo lo ini asli. Coba jawab, apa kelebihan gw," lanjut gw menatap Eka yang asyik menyeruput kopi panas di termos mini hasil goodybag Asian Games 2018.

"Kelebihan lo? Ga ada nyet. Kekurangan banyak."

"Njir... Mulai deh buka kartu."

"Iye, lo ga inget di Harmoni waktu STM lo dibantai kering sepupu gw dan teman-temannya? Kalo ga ada gw, sekolah lo yang segambreng itu tapi pada ciut jika ketemu STM si Abimanyu, bisa jadi sansak hidup," Eka menjelaskan peristiwa 2003 silam. 

Salah satu kenangan yang ga bisa gw lupain seumur hidup. Tepatnya, ketika 60-an anak STM gw kocar-kacir waktu diserang balik sekolah Abi yang hanya berjumlah belasan. Bahkan, gw udah terpojok depan Carrefour, nyaris mendapat "kenang-kenangan" dari Seta, anak Semanan yang megang kelas dua STM 1 DKI, alias seangkatan dengan gw dan Eka. 

Itu akibat celurit yang gw pegang terlepas saat beradu dengan parang Eka. Sebenarnya, gw ga pernah bawa senjata tajam (sajam), alias mengandalkan fisik saja atau kalau kepepet ya batu. 

Namun, ada saja di antara anak di sekolah gw yang menyimpan sajam, entah itu gir, parang, katana, celurit, hingga kelewang. Gw yang terpojok sulit mengambil kembali celurit yang aslinya punya anak kelas tiga sekolah gw pun terancam parang milik Seta.

Beruntung, ada Eka yang berteriak kalo gw merupakan "mangsanya". Alias, jangan sampe gw diganggu.

Tentu, Seta menolak. Apalagi, STM-nya memang sejak dulu memandang remeh sekolah Eka yang mayoritas kaum hawa.

Bahkan, SMA Abi merupakan side kick dari STM Camp Java yang ironisnya sama-sama jadi rival sekolah gw, Boedoet, dan DKI. Ya, ketiga STM ini merupakan musuh satu sama lain.

Hanya, Seta enggan gegabah. Itu mengingat status Eka yang megang SMU di sekolahnya justru sepupu Abi, pentolan DKI.

Ya, riwayat kenakalan gw saat berseragam putih abu-abu memang dipenuhi keringat, darah, dan air mata. Dalam sejarahnya, baik tawuran atau duel one by one, rekor gw memang ga sempurna. Tiga kali kalah.

Pertama, dari Abi pada awal caturwulan gw kelas dua. Sepupu Eka ini memang setingkat lebih tinggi, alias kelas tiga. Namun, harus diakui, saat itu nyalinya memang nomor satu. Abi ga pernah kalah saat duel. Gw pun jadi bulan-bulanannya dua kali ketika one by one di Lapangan VIJ, Roksi, dan saat beradu sajam di depan Citraland.

Selanjutnya, gw takluk dari Dursasana, yang megang STM Poncol saat pecah tawuran di Kramat Raya. Saat itu, bus rombongan gw diserang mereka yang berasal dari gabungan tiga sekolah bersama STM Ploeit dan SMA negeri di Mangga Besar.

Terakhir, dengan Eka yang skornya 1-2. Nah ketika insiden Harmoni itu, permintaan Eka tidak langsung diiyakan Seta yang masih mengibaskan parang depan muka gw.

Eka pun tampak geregetan dengan Seta. Hanya, dia tidak bisa apa-apa mengingat statusnya sebagai orang luar.

Beruntung Seta tidak jadi menyabetkannya setelah sempat menoleh ke Abi yang justru sedang nyantai. Abi pun mengangguk sebagai isyarat agar Seta memenuhi permintaan Eka.

Tentu, Seta 100 persen menurut. Sebab, perkataan Abi merupakan titah bagi anak-anak STM DKI. Termasuk, Seta yang megang kelas dua pun tidak punya pilihan. Selain kalah abu, juga terkait reputasi Abi sebagai legenda hidup pelajar bengal pada dekade 2000-an. Tidak terhitung berapa kali dia tawuran atau duel dengan pelajar lain, baik dari STM, SMA, bahkan veteran dan alumni.

Anehnya, Abi yang di STM jurusan mesin, sekarang kerja kantoran sebagai salah satu karyawan di instansi pemerintah di kawasan Medan Merdeka Selatan dengan posisi cukup tinggi. Gw pun baru tahu saat bertemu dengannya belasan tahun kemudian di rumah Eka.

*       *       *

"WOI... Bengong aja. Awas, kesambet lagi," tutur Eka yang menyadarkan lamunan gw.

"Si anjrit, gw lagi mikir kapan aplikator kasih kitab bonus lagi," gw berkilah.

"Ga usah dipikirin bonus mah, mending banyakin orderan biar gacor yang berujung duit datang sendiri tanpa ngarepin bonus," lanjut Eka yang sejak ngojol pada 2019 memang gw tahu sama sekali ga perduli sama bonus. 

Ibaratnya, kalo di antara anak-anak di basecamp ngejar tupo atau tuber, Eka mah nyantai aja. Tahu-tahu, sehari kumpul Rp 300-500 ribu. Maklum, Eka tipikal ojol petualang, alias hobi ngambil orderan jauh yang tentu argonya juga gede.

"Gw jadi inget waktu itu. Kok lo bertiga takut sama makhluk halus. Sementara, dengan begal dan gangster aja, kalian berani ngadepin paling depan," Eka kembali menyoal insiden di basecamp.

"Kaget njir. Kalo begal atau gangster kan disentil pake parang juga berdarah. Nah, itu makhluk halus mana mempan. Si Jaya aja yang kabur paling terakhir, liat kaki 'kembaran lo' ga napak tanah," gw menjelaskan. 

"Nah itu... Coba kalo makhluk halus yang menyerupai gw ngambil motor salah satu dari lo bertiga. Tentu, kalian bakal mati-matian mempertahankan. Jangankan cuma satu makhluk halus, bahkan Raja Iblis Pikkolo pun kalo coba ngegarong motor lo pada, gw yakin kalian bantai," lanjut Eka.

"Yongkru, pasti lah. Bagi kita-kita sebagai ojol, motor itu seperti nyawa kedua. Ga bakal rela kita kehilangan kuda besi ini."

"Nah kan, bener kata gw. Jadi inget waktu phalguna tahun lalu, lo sendirian ngadepin tiga begal di Sunter. Gw jadi ngebayangin lo masih muda pas sendirian ngebantai anak Camp Java di depan Roxy Mas. Tapi percuma, beraninya sama begal dan anak STM doang, giliran ketemu soket pada kabur," Eka tertawa semringah.

Apa yang diucapkan Eka memantik kembali semangat gw sebagai ojol yang ga kenal takut. Baik kepada ormas, kang parkir liar, security komplek yang ngehe, hingga begal. Terutama, peristiwa setahun lalu...

*       *       *

RINAI baru saja membasahi ibu kota menjelang pergantian hari. Gw pun menepikan kendaraan sejenak di depan halte Kelapa Gading arah pusat perbelanjaan. Meski mendekati larut, kawasan yang sedang dibangun kereta layang ini masih ramai. Tampak beberapa rekan ojol yang ngalong asyik menunggu penumpang.

"Bang, anter ke Kemayoran yuk. Ini saya ada 100 ribu," ujar seorang pria berambut belah tengah dengan pakaian parlente yang tangan kirinya menjinjing tas kemungkinan berisi laptop dan kanan menyodorkan uang pecahan Rp 100.000.

"Waduh, maaf bang. Saya ga bisa. Itu ga jauh, ada opang. Bisa ke sana bang," jawab gw yang memang jarang mengambil penumpang tanpa aplikasi.

"Baterai saya habis bang. Mau pesan ojol ga bisa buka aplikasi. Ga apa-apa, lumayan dekat bang. Saya mau pulang abis meeting dengan klien."

Sebenarnya, gw enggan mengangkut. Namun, gw akui terlena lembaran merah yang disodorkan. Maklum, jika pakai aplikasi, tarifnya hanya Rp 30-50 ribu. Itu pun belum dipotong biaya layanan 20 persen. Apalagi, rutenya arah balik ke rumah gw. Beda cerita jika harus ke Priok atau Cakung yang kian jauh.

"Oke bang. Ini helmnya," kata gw yang menetapkan hati meski perasaan sempat tidak enak.

Sepanjang jalan, tidak ada yang aneh. Hingga ketika lewat Jalan Danau Sunter, tiba-tiba orang itu menepuk pundak gw.

"Bang, berhenti sebentar. Ada telepon masuk. Kalo sambil jalan, saya ga kedengeran."

"Depan aja bang. Ini masih sepi, rawan," gw tetap melajukan motor.

"Lo mau berhentiin motor atau nyawa lo yang gw berhentiin," ujar penumpang itu sambil menodongkan benda tajam di pinggang gw yang berasa dingin. Njir, kemungkinan, itu pisau!

Hanya beberapa detik kemudian, dari spion kanan, gw lihat ada satu motor mendahului. Tak lama, berhenti melintangi motor gw diikuti turunnya kedua orang. 

Si botak yang mengendarai motor matic mengarahkan celuritnya. Selanjutnya, si gondrong dengan parang turut memberi kode kepada penumpang gw.

"Santai aja bro. Gw mohon kerja samanya ya," tutur si botak, tertawa.

"Kalo lo serahin motor, hp, dan dompet, lo bakal aman," ujar si belah tengah yang kini sudah berdiri di samping gw usai motor gw pinggirin, tapi tetap tangan kanannya mengarahkan pisau ke perut gw.

Si botak pun dengan sigap merogoh tas selempang gw untuk mengambil hp dan dompet. Dalam situasi ini, gw hanya dihadapkan pada dua pilihan: Melawan dengan risiko nyawa terancam. Atau, menyerahkan harta gw, terutama motor yang bakal bikin gw nganggur akibat tidak bisa ngojol.

"Selow bang. Gw buka helm dulu," kata gw sambil mengamati situasi yang sangat sepi.

"Nah gitu dong. Kita ga butuh nyawa lo, cuma pengen motor dan harta lo aje. Aman kok," ucap si gondrong yang dari nafasnya bau alkohol. Empuk nih!

Secara perlahan, gw buka tali helm ojol. Selanjutnya, tinta sejarah turut mencatat.

*       *       *

SYUUT...

PLAK!!!

Lemparan helm gw tepat kena muka si gondrong yang langsung memegangi hidungnya akibat refleks. Alhasil, gw segera loncat dari jok untuk mencomot parang.

Pada saat yang sama, si belah tengah yang merupakan penumpang abal-abal bersiap menikamkan pisaunya. Pun demikian dengan si botak yang menyabet celuritnya.

Bagi gw, ga masalah dikeroyok tiga orang sekaligus. Menurut perhitungan, baik tangan kosong maupun pakai sajam, secara pengalaman biasanya satu lawan satu jelas gw menang. 

1vs2 gw masih unggul, 1vs3 imbang, 1vs4 gw di bawah angin, 1vs5 jelas kalah, dan 1vs10 gw wajib sipat kuping karena peluang menang hanya nol koma sekian persen.

Si gondrong yang hidungnya keluar kecap sempoyongan ikut mengepung gw dengan tangan kosong bersama belah tengah dan botak.

Anjrit, gw berasa tapak tilas era Sam Kok! Tepatnya, gw yang jadi Lu Bu dikeroyok Zhang Fei yang perawakannya mirip botak, Guan Yu ala-ala belah tengah, dan gondrong yang paling lemah seperti Liu Bei.

"Kalian serius mau begal gw? Gw kasih tahu aja, sendirian lawan lo-lo pada, tetap gw menang. Mending, kalian balik, cuci muka, minum obat cacing, dan tidur," ujar gw tertawa sambil mengayunkan parang.

Ya, di balik sesumbar ini, gw coba untuk memancing emosi mereka. Bagaimanapun, satu lawan tiga bukan duel ideal. Meski menang, gw khawatir harus membayar mahal akibat luka sajam.

"Bacot lo Njing!" sahut gondrong sambil melempar helm yang dipungut bekas sambitan gw. 

Pancingan gw terbukti tepat. Jelas, gondrong yang paling emosional. Lemparannya dengan mudah gw tangkis lewat tangan kiri. Sakit juga. Namun, tak masalah dibanding rasa sakit gondong yang puluhan kali lipat.

SYUTTTT

JLEB!

"Aduh... Sakit mak," teriak gondrong ketika pundaknya gw sabet parang dan pahanya gw tusuk. Dia pun ambruk dengan telungkup.

Di sisi lain, gw dengar samberan benda tajam di belakang gw.

SYUNGGGGG

SSS...

Nyaris saja! Untung gw sudah prediksi. Kalau ga, celurit si botak udah nancap di pundak gw. Sayangnya, dia terlihat amatir dengan sajam.

Padahal, sejak kecil, gw yang berasal dari The Bronx-nya Jakarta, jelas udah main-main dengan benda seperti itu. Baik belati, golok, celurit, kelewang, katana, mandau, hingga karambit! 

Jadi, gw ga gentar menghadapi si gondrong dan belah tengah. Di atas kertas, gw yakin sohib gw, Ekalaya juga bisa mengatasi mereka bertiga jika mengalami hal yang sama. Kalo Abi? Jangan ditanya! 

Dikeroyok belasan pelajar pake sajam di Gunung Sahari pun, Abi sangat asyik meliuk-liuk bermodalkan gesper. Wajar jika sejak kelas 1, sepupu Eka ini udah jadi pentolan DKI.

WUSSS

TRANG... TRANG... TRANG

Gw yang balik nyerang lewat bacokan parang secara vertikal mampu dihalau si botak dengan susah payah. Dari arah kiri, tangan si belah tengah lurus menusukkan pisaunya ke perut gw. 

Gw pun mengegos ke samping. Gw bisa aja mencabut parang yang sedang diarahkan ke si botak dengan menyabetnya secara horizontal ke kepala si belah tengah. Alias, taktik gugur gunung.

Hanya, gw punya spekulasi lain.

Usai menghindari pisau, gw arahkan kaki gw ke "area jackpot" si botak.

JDUK

Anjrit. Pasti sakti tuh. Minimal si botak bakal mules terus dalam beberapa hari ke depan. Apalagi, tendangan gw telak banget ke dua bola di bawah perut botak yang membuat celuritnya lepas.

Sosok yang sekilas mirip Brock Lesnar ini pun KO mengikuti si gondrong. Tinggal, si belah tengah saja. Biang keladi yang gw kira orang kantoran dengan tampang paling friendly dibanding dua temannya, ga tahunya malah begal. Anjing!

Tanpa basa-basi gw sabet parang ke lengannya. Bisa sih gw tikam ke perutnya. Secara, jangkauan parang lebih luas ketimbang pisau. 

Namun, gw enggan jadi pembunuh. Niat gw sekadar melumpuhkan. Bukan menghabisi. Apalagi, gw teringat dua anak di rumah, terutama bocah yang sedang lucu-lucunya.

Ga lucu kalo gw harus ngebunuh orang. Meski, niat gw demi melindungi diri akibat di begal. 

Hanya, hukum di Indonesia terkadang anomali. Ada kemungkinan, gw sebagai korban yang berusaha membela diri malah harus mendekam di bui. 

TAKK... TAKK...

Sumpah, gw kaget ketika sabetan gw ditahan pake lengan kanannya! Bahkan, si belah tengah tersenyum menyeringai yang seolah mengejek gw. Tanpa basa-basi, gw ayunkan mata parang ke wajahnya secara vertikal dari bawah ke atas.

SYUTTT

WUSS... WUSS... WUSS

Kini, giliran tangan kirinya menangkis. Bahkan, tangan kanannya bekerja cepat dengan mencoba merebut ujung parang!

Gw coba tarik yang tanpa sengaja mengenai telapak tangannya. Kalo orang normal, itu udah cukup buat ngebeset bahkan mengoyak dagingnya.

Anehnya, si belah tengah justru belum mengeluarkan darah sama sekali. Benar-benar situasi yang ganjil bagi gw. 

Si belah tengah meringsek maju. Pada saat yang sama, gw mundur beberapa tindak.

Alarm di kepala gw memberi sinyal untuk lari. Secara, lawan punya pegangan...

"Njing. Lo punya Rawarontek?" ujar gw spontan terkait kekebalan si belah tengah.

"Lo tahu juga, bocah? Sebenarnya, ilmu ini masih jauh dari Rawarontek. Tapi, cara kerjanya hampir mirip. Ya, bisa dibilang gitu," jawab si belah tengah sambil menyulut rokok yang diambil dari saku kemejanya.

Njir... Nyantai bener. Gw yang sejak kecil malang melintang di jalanan, termasuk kenyang tawuran saat di sekolah dan bentrok antarormas, kini seolah tidak punya harga diri di hadapan si belah tengah.

"Bocah!" teriak si gondrong, mengejek sambil memegangi pundaknya yang tampak mengucurkan darah akibat beberapa titik bekas tikaman gw.

"Lo ga bakal menang. He he he. Bos, habisin aje. Kalo gw ga luka, udah gw bantai nih bocah," si gondrong berseru kepada si belah tengah yang justru tampak acuh sambil dengan khusyu menghisap rokok mild.

Dalam situasi terbalik ini akibat si belah tengah punya wapak, membuat gw segera menganalisis kelemahannya langsung. Ya, percuma kalo gw hanya sabet ke tangan, kaki, atau badan. Sebab, si belah tengah punya ilmu kebal. 

Saat itu, ada dua pilihan yang bisa gw tempuh. Pertama, sipat kuping. Ini cara paling aman. Toh, kunci motor masih di celana dan gw yakin si belah tengah tidak akan mengejar. Apalagi, dia harus menolong dua temannya, si gondrong dan botak yang sudah out of the game.

Namun, gw ogah jadi pecundang. Apalagi, darah muda gw panas menyaksikan kekebalan lawan yang bikin gw penasaran.

Yang kedua, jelas. Melawan hingga titik darah penghabisan.

Opsi ini yang gw ambil.

Berdasarkan analisis singkat gw, nggak ada manusia yang benar-benar kebal. Meski, itu punya Rawarontek sekalipun, pasti punya kelemahan. 

Ya, gw akan mengambil taktik Total Voetball! Bagaimanapun, strategi terbaik adalah menyerang.

Gw arahkan ujung parang ke kepala si belah tengah, tepatnya mata kanan! Hanya, serangan gw dapat dielakkan dengan kedua tangannya menangkap parang gw.

"Cih..." Gw memaki karena tangkapan si belah tengah cukup kuat. Bahkan, dia hanya tertawa mengejek.

Namun, itu hanya serangan kamuflase bagi gw dari tiga skema. Sebab, tangan kiri gw yang nganggur langsung menojos ke arah jakun.

Bodo amat dah, si belah tengah modar kalo lehernya gw tusuk pake keempat jari. Hanya, dia juga refleks menangkap tangan gw!

Anjing!

Itu berarti, tinggal satu serangan pamungkas. Yaitu...

DUKKK

Bangsat! Hidung gw kena tonjok tangan kiri si belah tengah yang melepaskan pegangan parang. Njir, perih banget bikin gw kayak orang nangis.

"Lo udah frustrasi? Sampe melakukan perbuatan hina ke area vital. Gw tahu, lo bakal ngarahin mata, jakun, dan dua bola di bawah perut gw," ujar si belah tengah, tersenyum.

"Gw akuin, ketiga spot itu jadi kelemahan gw meski sudah punya ilmu kebal. Lo hebat juga bisa tahu, bahkan langsung menyerang ketiganya berturut-turut. Namun, gw udah pelajari dari dulu, bagaimana caranya melindungi mata, leher, dan jackpot ini. Ha ha ha."

Bangsat. Seluruh strategi gw, gatot. Wajar saja, jika si belah tengah sudah mengantisipasi kelemahannya dalam setiap perkelahian. 

"Apa opsi satu yang gw ambil?" ujar gw dalam hati terkait rencana kabur. Pada saat yang sama, gw lihat celurit bekas dipakai si botak tergeletak di depan kaki gw.

Hmm...

Dengan tangan kanan memegang parang dan kiri, celurit, masa gw kalah!

"Bacot lo begal anjing! Lo kalo mau kaya, ya kerja. Jangan begal. Nyusahin orang aja!" teriak gw mengayunkan parang dan celurit bersamaan dengan mengarahkan ke leher hingga muka.

Terbukti, kini si belah tengah terdesak. Meski kebal senjata tajam, tapi diserang parang dan celurit secara serentak yang dengan mengarah ke titik vital ya sami mawon. 

Jika sabetan parang dengan mudah ditangkis melalui lengan, tidak dengan celuriy. Sebab, sajam melengkung ala bulan sabit ini sangat istimwa. Gw mengarahkan ujungnya yang runcing ke belakang leher si belah tengah!

Sontak, dia pun kewalahan. Gw terus menyerangnya secara membabi buta. Kemeja, celana, hingga seluruh pakaiannya pun robek. Ya, bagaimanapun, meski badannya kebal senjata, tapi pakaian yang terbuat dari bahan tentu tidak.

Saking bertahan dari dua sajam yang gw arahkan secara sporadis membuat si belah tengah tersandung. Kesempatan ini ga gue sia-siakan langsung menerjangnya untuk memberikan serangan pamungkas.

BLETAK

GEDEBUG!

Bajingan! Gw jatuh. Kaki gw nyeri, dipuntir si botak yang sudah siuman usai kempongannya gw hajar hingga ngilu. Si belah tengah pun dengan sigap memungut celurit yang terlepas dari tangan kiri.

Dengan tangan kosong saja, gw udah kewalahan apalagi ini, si belah tengah pake celurit plus nge-cheat lewat wapaknya! 

Namun, mendapat perlawanan handicap ini ga bikin gw pasrah. Sebaliknya, justru ge tertantang untuk bisa membalikkan keadaan.


Pertama, gw sepak kepala si botak pake sepatu kanan gw ala Zangief. Berlanjut dengan tulang keringnya gw injek hingga bunyi.

KLETEK

"Aaaagh!" erangan si botak yang tampak kesakitan. Si gondrong yang duduk tampak kaget dengar lolongan temannya itu.

Sementara, si belah tengah? Anjrit. Dia malah asyik nyalain rokok lagi tanpa peduli kesakitan si botak. Benar-benar "raja tamat" nih. 

"Oke, sekarang kita bisa duel tanpa lo takut diganggu teman gw," ujar si belah tengah sambil meniup asap rokok menyerupai huruf o.

"Begal macam apa lo, yang sama sekali ga solider terhadap teman yang kesakitan," kata gw kepada si belah tengah yang mengingatkan sikap Vegeta terhadap Nappa saat dihajar Son Goku.

"Jadi ini, yang kalian sebut bos? Sementara, lo berdua gw bantai, justru dia ga peduli? Lo pada bego, mau jadi anak buah dia. Kalo gw jadi lo pada, udah gw gorok si belah tengah yang pecundang ini," tutur gw melirik bergantian kepada si botak dan gondrong.

Sengaja gw lontarkan kalimat bersayap seperti itu. Agar, mereka tidak membantu si belah tengah saat sedang duel dengan gw. 

Sekaligus, menyulut konflik internal.

Siapa tahu, setelah ini si botak dan gondrong benar-benar meninggalkan si belah tengah. 

Bahkan, yang lebih ekstrem lagi, benaran menggorok bosnya! Bodo amat dah kalo itu memang terjadi. 

"Udah cukup?" kata si belah tengah usai menjentikkan puntung rokoknya. Kini, final fight yang jadi penentuan nasib gw pun tiba.

"Bacot lo!" teriak gw sambil 'terbang' dengan mengayunkan parang secara vertikal ke arah si belah tengah. Ya, mirip Trunks saat membelah tubuh Frieza jadi dua.

Sayangnya, ini bukan komik. Melainkan nyata.

Sebab, power si belah tengah besar juga. Dia mampu menahan dengan tangan kiri. Di sisi lain, tangan kanannya menyabet celurit secara menyamping ke arah gw!

Jelas, gw dalam bahaya. Sebab, sajam berbentuk bulan sabit ini bisa membuat usus gw terburai.

Langsung gw tangkis dengan menarik kembali parang. 

TRANG!

Tangan gw pun bergetar saking kerasnya sabetan celurit. Mirip saat gw kepayahan meladeni Abi di Harmoni.

Si belah tengah tersenyum mencibir. Lalu, tangan kirinya memegang celurit menggantikan tangan kanan. Gw pun berpikir dia merupakan kidal.

DUG

DUG

Anjing. Jab dari tangan kanannya mengenai ulu hati. Sakit banget. Sebab, gw ga bisa menghindar mengingat kedua tangan sudah dikerahkan untuk memegang parang. 

Ini jadi handicap bagi gw. Tentu, gw ga boleh terus-terusan di bawah angin yang bisa membahayakan nyawa gw. 

DUGG

Gw jejak perutnya yang membuat parang dan celurit sama-sama terlepas. Gw mundur sejenak sambil memegangi dada bekas hantamannya.

Sementara, si belah tengah dengan sigap memungut celurit. Gw pun ga mau kalah cepat. 

TRANGGG!

Kedua sajam beradu. Kali ini, gw di atas angin karena gw mengayunkan agak diagonal. Meski badan dan tangannya kebal, tapi si belah tengah harus melindungi tiga titik vitalnya yang seperti Duryudana dalam perwayangan, karena sama sekali tidak kebal. Yaitu, mata, leher, dan area bawah perut.

Si belah tengah melancarkan serangan lewat tangan kanan ke muka gw. Terdengar keras tapi tidak cepat. 

Bagi gw, ini sudah bisa diantisipasi. Apalagi, gw ga pernah mau mengalami hal sama dua kali.

Gw pun mengelak ke samping. Si belah tengah ternyata penasaran akibat serangannya berhasil gw elak.

Dia kembali melontarkan tinju kerasnya dengan genggaman jari terkepal. Sudah pasti, gw juga penasaran untuk adu keras.

Layaknya, Chiu Phek Tong meladeni ilmu gajah dan naga dari Kim Lun Hoat Ong!

DUKK

Adu tinju berhasil gw menangkan. Sebab, gw memang sedikit menonjolkan jari tengah yang membuat tangan si belah tengah jadi santapan empuk.

Dia mundur setindak dengan menarik celuritnya.

"Ayo, cabut," katanya saat melirik ke si botak. "Lo yang bawa motor."

Gw pun kaget mendengar si belah tengah mundur saat duel sedang sengit-sengitnya.

"Lo hebat juga. Next, gw pengen reuni sama lo tanpa ada gangguan," ujar si belah tengah saat memapah si gondrong.

Butuh beberapa detik bagi gw untuk menyadari situasi ini. Hingga, sayup-sayup terdengar suara kendaraan. Dari belakang gw tampak sorotan beberapa motor. Mungkin, kehadiran pengendara lain yang membuat si belah tengah menyudahi duel. Bagi gw, tentu patut disyukuri. Dalam hati, senang karena gw terhindar bahaya malam ini.

BRUMM... BRUMM...

"Datang seenak jidat lo-lo pada, pergi begitu aja. Lo pikir, gw di sini patung?" gw berteriak keras hingga didengar tiga motor yang menepi di belakang gw.

"Lo yakin bisa menang lawan gw? Lo pikir 100 kali deh. Lo harus latihan bertahun-tahun dulu, baru bisa ladenin ge. Dah ah, cabut," kata si belah tengah yang duduk di jok paling belakang dengan membawa celurit.

DDRRT... DDRRT... 

"Mereka siapa bang?" kata  salah satu dari pengendara yang mendatangi gw.

"Begal bro."

"Lah, kejar bang," timpal pengendara lainnya dengan gaya yang sotoy.

"Yuk, jangan didiemin. Tuman," lanjut seorang lagi.

Gw perkirakan mereka masih abege terlihat dari ketiga motornya sama-sama matic yang sudah dimodif plus knalpot racing. Ya, darah masih panas. 

Namun, menghadapi begal, khususnya si belah tengah, jelas mereka cari mati. 

"Udah pergi bro. Aman. Gw juga ga apa-apa," gw menjelaskan.

"Yakin bang? Kita berempat, mereka tigaan. Pasti menang lah. Gw juga udah gatel pengen 'olahraga' nih," kata remaja yang sotoy kini makin songong.

"Serius lo? Mereka bawa sajam. Lo pada berani bunuh-bunuhan," jawab ge sambil menunjuk ke trotoar yang tercecer bercak darah.

"Waduh, ngeri bang. Main aman aja lah. Mending pulang," jawab si sotoy.

"Iya bang, kalo udah aman lebih baik balik aja," lanjut temannya sambil putar arah diikuti yang lainnya.

BRUM...

*       *       *

KINI gw sendirian di pinggir jalan. Pandangan gw terarah ke trotoar dengan tergeletak dompet dan hp yang kemungkinan punya si botak atau gondrong. Entahlah, gw ga tahu milik salah satu di antara mereka. 

Gw cek, dompet tanpa identitas. Namun, berisi uang dengan empat lembaran merah dan satu biru. Sementara, hp merek asal Mainland yang tergolong lumayan meski kacanya agak retak tapi masih berfungsi. 

Tentu saja, "penemuan" ini ga bakal gw laporin ke polisi. Alias, bakal gw manfaatin. Lumayan.

Itung-itung sebagai ganti rugi akibat ongkos yang ga dibayar si belah tengah. Sekaligus, pelipur lara terkait duel tadi.

Ya, secara pertempuran gw memang kalah. Namun, gw bisa dibilang menang dalam perang.

Sebab, gw bisa meladeni ketiga begal. Bahkan, si botak dan gondrong gw bikin KO. Dengan si belah tengah, meski gw di bawah angin, tapi itu wajar mengjngat dia punya Rawarontek.

Next, gw harus cari cara untuk mengatasi orang yang punya pegangan. Sebagai antisipasi jika ketemu si belah tengah lagi atau begal lainnya.***

*       *       *


Serial Catatan Harian Ojol
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part III: Penumpang Rasa Pacar
- Part IV: Orderan Kakap

Prekuel
Kamaratih

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
Jakarta, 21 April 2021

Sabtu, 10 April 2021

Ceritera dari SPBU Kosong

 Ceritera dari SPBU Kosong

Ilustrasi wayang (Foto: www.roelly87.com)



MENJELANG pergantian hari, cuaca di perbatasan ibu kota dengan salah satu kawasan penyangga, kian temaram. Sesekali kilatan menyambar di atas langit disertai gemuruh tajam. 

Sambil menjalankan sepeda motor dengan kecepatan konstan, gw pun berniat mencari tempat berteduh untuk memakai jas hujan. Tepatnya, antisipasi jika Batara Indra sudah menunaikan tugasnya.

Sekeliling mata memandang, jalanan tampak sepi. Maklum, daerah ini merupakan Jakarta Coret. Tepatnya, kawasan di perbatasan ibu kota. Padahal jika pagi hingga petang, ini merupakan jalur padat merayap. 

Dari seberang tembok perumahan mewah yang menjulang tinggi terlihat cahaya terang. Tampak plang warna-warni yang menandakan tempat tersebut merupakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Gw pun mengarahkan motor ke pom bensin asal luar negeri yang dikelola swasta ini. Tampak lenggang. Hanya ada dua petugas yang berdiri tanpa ada satu pun kendaraan yang sedang mengisi bahan bakar.

Gw memang jarang lewat daerah sini. Jadi, kurang tahu dengan kondisi SPBU ini. Tadi pun ke kota penyangga Jakarta karena tergiur ongkos antar penumpang yang lebih dari selembar warna biru. Bagi gw sebagai ojek online (ojol), itu merupakan argo kakap. 

Tanpa ragu, gw cocol. Kendati, jaraknya hampir 30km. Namun, sebagai ojol petualang yang sering ngalong alias aktif dari sore hingga pagi, justru itu yang gw tunggu. Semakin jauh jaraknya, ongkos pun kian besar. 

Apalagi, mengingat malam cenderung lancar dan tidak macet. Meski, risikonya pun lumayan, mulai dari begal hingga hal di luar nalar.

"Bang, di toilet wanita saja. Kalo pria, sudah ada yang nunggu," kata mbak penjaga toilet saat gw hendak masuk ke toilet pria. Terdapat dua kamar kecil dengan ditujukan masing-masing untuk pria dan wanita.

"Lah, ogah mbak. Ntar gw digedor-gedor lagi kalo ada cewe yang mau ke toilet," gw menjawab sambil memperhatikan sang penjaga yang sedang menghitung lembaran uang berwarna hijau dengan gambar Orangutan dan biru, lompat batu di pulau nias

"Tenang, ga bakal ada orang. Percaya sama gw. Kalo toilet pria, jangan coba-coba. Udah ada yang pake," ujar si mbak dengan tersenyum. 

Gw yang enggan berdebat hal tidak penting pun menurut meski sempat merasa aneh. Toh ke toilet cuma cuci muka dan pakai jas hujan saja tidak lebih dari 5 menit.

Sambil lewat, gw melirik si mbak yang masih menghitung uang dengan di sebelah kotak untuk bayar toilet terdapat telepon seluler (ponsel) candybar berlayar monokrom. Gw masih inget, pernah punya hp itu saat masih berseragam abu-abu, alias awal 2000-an. Mungkin mbak ini penganut gaya retro atau juga kolektor barang antik mulai dari uang kertas jadul hingga hp.

Saat mau pakai jas hujan, ponsel gw bunyi. Ada chat dari Irawan, rekan ojol menanyakan kabar gw belom balik basecamp usai nganter penumpang tadi.

"Gw masih di SPBU White District. Seberang perumahan Giri Anyar. Kenape, ngab?"

"Serius lo, Ka? Udah hampir subuh, masih ngalong," balas kawan gw yang merupakan Milanisti Garis Lembut ini.

"Baru orderan tadi doang. Ini mau balik ke basecamp."

"Btw, lo tadi bilang di SPBU White District?"

"Iye, ini lagi pake jas hujan sekalian isi bensin."

"Serius?" Irawan menulis chat dengan capslock jebol alias huruf besar semua.

"Yeee, goblok. Ngapain gw boong. Emang kenape?"

"Bro, balik sekarang. Di basecamp ada  kejadian penting. Sekarang ya, ditunggu anak-anak. Lo offline dulu, jangan ambil orderan!"

"Siap! 86. Otw..."

Baca chat dari Irawan, membuat gw langsung bergegas. Tak lupa, memasukkan selembar rp 2.000 ke kotak bayar toilet.

"Terima kasih, bang," ujar si mbak yang kini tertunduk. 

Suasana malam itu kian segar usai keluar dari SPBU. Semilir angin seperti menepuk manja kedua pipi ini. Gw pun melajukan sepeda motor di atas 60km per jam. Bukan karena ingin ngebut, melainkan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, jika pelan, rawan dikejar begal.

*       *       *

SEPANJANG jalan, gw jadi teringat keganjilan dari pesan wa Irawan. Ga biasanya, sohib dari zaman Lucinta Luna masih kencing berdiri ini sekaget itu. Ya, gw kenal Irawan sejak masih berseragam putih abu-abu pada awal milenium yang ironisnya sebagai rival.

Menariknya, kami dari sekolah berbeda meski satu angkatan. SMA gw di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Sementara, Irawan di STM yang berlokasi di area Pasar Baru, dengan tenar disebut Boedoet.

Sejatinya, sekolahan kami tidak bermusuhan. Apalagi, gw di SMA yang mayoritas kaum hawa. Namun, faktor sejarah dari senior dan gengsi sebagai anak sekolah yang masih berjiwa panas membuat gw dan kawan-kawan SMA turut nyebur ke arena tawuran.

Maklum, kami mengekor pada pelajar STM di kawasan Kampung Jawa, Jakarta Barat, yang dikenal dengan julukan Camp Java, yang justru jadi musuh besar sekolah Irawan. Alhasil, kalau pecah tawuran, gw dan anak-anak SMA gw sering membantu STM itu untuk menghadapi sekolah Irawan. Begitu juga sebaliknya, jika sekolah kami dikepung, ada STM asal Kampung Jawa yang membantu.

Ya, berbagai kawasan ibu kota hingga perbatasan Tangerang jadi saksi kenakalan kami saat tawuran. Meliputi Kota, Harmoni, Gajah Mada, Senen, Sawah Besar, Cideng, Roxy, Tomang, Pesing, Kalideres, hingga Poris.

Beberapa kali, gw berjibaku dengan Irawan untuk duel. Baik itu dengan batu, gesper, pedang, celurit, hingga kelewang. Yang parah di Harmoni, sore jelang leg kedua semifinal Liga Champions 2002/03. Irawan dan teman-temannya dibantai kering oleh STM yang berlokasi di Mangga Besar hingga menyebabkan macet parah dua jam sebelum dibubarkan aparat gabungan Polisi dan TNI.

Kebetulan, STM yang dikenal sebagai 1 DKI itu ada sepupu gw, Abimanyu yang jadi pentolan. Irawan kaget pas tahu gw ikutan. Sebab, bukan rahasia umum lagi jika ketiga STM itu, 1 DKI, Kampung Jawa, dan Pasar Baru saling bermusuhan layaknya  Roman Kisah Tiga Negara yang melibatkan Shu-Wei-Wu. 

Namun, selain kedekatan gw sama anak STM Kampung Jawa, keberadaan sepupu gw itu juga sangat membantu. Terutama, jika ada anak STM di Poncol dan Pluit sok-sokan ngolekin anak-anak sekolah gw yang mayoritas elite.

Rivalitas gw dan Irawan berakhir usai sama-sama lulus. Bahkan, kian dekat ketika kami tak sengaja bareng mendaki Gunung Semeru, pada pertengahan 2005. Hingga, dua tahun lalu, kian intens setelah gw jadi ojol yang nongkrong di basecamp-nya, di PIK Coret, alias Kapuk. Kebetulan, rumah kami sama-sama masih satu kawasan.

*       *       *

LEBIH dari seperminuman teh, akhirnya gw sampe di basecamp. Tampak, Irawan menatap cemas diiringi beberapa rekan seprofesi ojol lainnya. 

"Ekalaya, duduk dulu sini," ujar Jayadrata, salah satu sesepuh di basecamp yang langsung menyambut gw.

"Nyet, lo lama amat," Irawan, menimpali. "Tapi lo minum air putih dulu gih. Rokok gw ada nih. Lo jangan balik atau nyari orderan dulu, kita di sini aja ya sampe pagi."

"Njir, kenape nih. Kok muke-muke lo pada tegang," gw menjawab sambil menyeruput kopi hitam panas disertai sebatang rokok kretek punya Drestajumena, ojol senior yang juga salah satu pentolan ormas di situ.

"Lo tadi serius ke SPBU? Hampir enam jam dari pertama lo nganter customer. Lo ga apa-apa kan?" Irawan terus nyerocos.

"Waduh, gw kira baru jam satuan, ini udah mau subuh. Perasaan, dari Teluk Gong ke perbatasan Jakarta kalo malem cuma 40menit. Pulang pergi mentok 1,5 jam. Lah, ini lama amat gw, ya."

"Nah itu bro, kite takut lo kenapa-napa. Apalagi, perbatasan kan kalo jam 20 ke atas udah sepi," tutur Drestajumena, menatap tajam.

"Kata Irawan, lo tadi ke SPBU di perbatasan yang dekat perumahan mewah?" Jayadrata, bertanya.

"Iya bang. Emang kenape?"

"Si goblok. Itu SPBU kan ga ada. Aslinya lahan kosong sisa pembangunan rumah mewah yang ga diterusin," Irawan, menjawab.

"Iye bro, makanya gw minta Irawan agar lo cepet balik. Soalnya, udah sering pengendara motor dan mobil, termasuk ojol yang 'dikerjai' penunggunya," Drestajumena, menjelaskan.

"Untung lo balik ke sini ga kurang satu apa pun. Sumpah, gw takut lo ada yang ngikutin," lanjut Irawan.

"Maksudnya?"

"Maklum bro, dekat area itu sering terjadi pembuangan korban pembunuhan. Sempat ada perusahaan luar yang bangun SPBU di tempat itu akibat angker yang membuat usahanya sepi akhirnya ditutup. Sekarang, terbengkalai, bangunannya tak berbentuk, jadi ga ada orang sama sekali" tutur Jayadrata, panjang lebar.

"Njir, merinding gw..."

"Makanya, tadi gw langsung minta lo segera balik pas baca wa lo ada di SPBU itu. Dah, sekarang lo offline aplikasi dulu. Pagi baru narik atau ngalong sore jangan diterima kalo ada orderan ke sana lagi," kata Irawan.

Neng... Neng... Nong... Neng... HP Irawan berbunyi pertanda ada pesan masuk di aplikasi WA-nya.

"Ir, gw udah di Jalan Panjang nih. Otw ke basecamp." Ekalaya, 03.47.

Seketika, Irawan terbelalak sambil melirik Drestajumena dan Jayadrata. Keduanya pun mengangguk karena sama-sama tanggap.

"Ka, gw cabut dulu nih. Ada orderan ke Kalideres," ucap Irawan loncat dari bale yang jadi tempat nyender di basecamp.

"Gw laper Ka, mau nyari sarapan dulu," Drestajumena menuju sepeda motornya.

"Gw juga deh, mau cari angin," giliran Jayadrata, turut loncat.

"Ternyata, kalian sudah tahu ya... Hi hi hi..."

*       *       *

Serial Catatan Harian Ojol
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Penumpang Rasa Pacar
- Part IV: Orderan Kakap

Prekuel
Kamaratih

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 9 April 2021