TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Minggu, 14 Oktober 2018

Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia




Tigor Simanjuntak dan rekannya sesama volunteer Asian Para Games 2018
yang bertugas di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)


DALAM hajatan akbar berskala internasional, termasuk olahraga, peran volunteer sangat membantu. Itu karena sukarelawan yang jadi garda terdepat bagi atlet, ofisial, media, dan penonton, dalam memandu setiap pertandingan.

Tanpa peran mereka, kinerja panitia bakal kerepotan. Tak heran jika keberadaan volunteer ini mendapat apresiasi banyak pihak.


Itu terlihat pada Asian Para Games 2018. Terdapat sekitar 8.000 volunteer yang bertugas mengawal pesta olahraga untuk penyandang disabilitas se-Asia.

Salah satunya, Tigor Simanjuntak. Pria 38 tahun ini merupakan pahlawan bagi Panitia Nasional Penyelenggara Asian Para Games III/2018 (INAPGOC) yang melayani kebutuhan atlet, ofisial, media, dan penonton.

Khususnya, peliput dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. Tigor tanpa lelah memandu kami sejak hari pertama hingga final para swimming, Jumat (12/10) di Stadion Atletik Gelora Bung Karno.

“Ini pertama kali saya berpartisipasi dalam hajatan besar. Asian Para Games 2018 jadi momentum berharga bagi hidup saya,” kata Tigor kepada TopSkor.id.

Sosok yang sehari-hari berprofesi sebagai peraga bahasa isyarat ini sangat ramah dalam memberi informasi. Kendati, harus melakukannya secara berulang, khususnya kepada calon penonton yang ingin masuk ke stadion.


“Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, saya bangga bisa berpartisipasi di Asian Para Games 2018. Apalagi, ini kali pertama kita jadi tuan rumah. Saya bersyukur bisa terpilih jadi salah satu volunteer. Saya ingin memberikan kesan kepada penonton, termasuk dari negara sahabat di Asia, bahwa Indonesia sangat ramah. Negeri ini selalu menyambut tamu dengan tangan terbuka,” Tigor, mengungkapkan.

Lewat bahasa isyarat, apa yang dilakukan Tigor sangat membantu kami. Terlebih, dengan sikapnya yang sangat simpatik.

“Saya bangga bisa bergabung dengan rekan-rekan volunteer. Sejak hari pertama, kami sudah tugas di Stadion Akuatik. Kami merupakan keluarga Satu kesatuan dalam Indonesia,” lanjut Tigor yang sejak kecil kesulitan untuk mendengar dan bicara.

Meski begitu, lewat kedua tangannya,  pria kelahiran Lampung ini sukses memberi petunjuk. Fakta itu diungkapkan Natasha Avianna yang bertugas di Stadion Akuatik bersama Tigor dan tiga volunteer lainnya.


“Kami sih biasa saja dengan mas Tigor. Kami bicara dan berkomunikasi seperti biasa. Bahkan, mas Tigor yang kerap membantu kami jika ada atlet atau penonton disabilitas yang datang,” ujar Natasha.


INAPGOC turut membuka lowongan bagi penyandang disabilitas yang ingin berpartisipasi di Asian Para Games 2018 sebagai sukarelawan. Di Stadion Akuatik, terdapat tiga volunteer.


Selain Tigor, dua lagi bertugas di pintu berbeda. Dengan keterbatasan fisik, mereka berusaha mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia sebagai tuan rumah.

“Ada juga rekan kami yang mengalami cerebral palsy. Namun, beliau seperti kami,  mas Tigor, dan lainnya. Paling depan dalam melayani atlet dan penonton. Meski, harus menggunakan kursi roda, rekan kami ini sangat sigap,Annisa Leila Syahri yang kerap mendampingi Tigor, menambahkan.

“Bagi kami semua, volunteer,  Asian Para Games2018 ini merupakan event yang luar biasa. Kami bangga, Indonesia bisa mewujudkan sukses prestasi, penyelenggaraan,  dan legacy sebagai tuan rumah. Harapan kami, perhatian pemerintah terhadap penyandang disabilitas bisa berlanjut meski Asian Para Games 2018 selesai,” tutur Annisa, optimistis.

Asian Para Games 2018 merupakan edisi ketiga sejak kali pertama diselenggaran di Guangzhou, Cina, pada 2010. Empat tahun lalu, Incheon, Korea Selatan, jadi tuan rumah.

Presiden Komite Paralimpiade Asia (APC) Majid Rashed memuji penyelenggaraan Asian Para Games 2018 di Indonesia yang menurutnya sebagai yang terbaik dalam sejarah. Pria asal Uni Emirat Arab ini menyebut, kesuksesan itu tidak lepas dari partisipasi volunteer yang telah bekerja keras dan cerdas sepanjang waktu.***


- Jakarta, 14 Oktober 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)