TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ekalaya Universe

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Ekalaya Universe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekalaya Universe. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2022

Karena Customer adalah Raja

Catatan Harian Ojol (CHO) VII

Karena Customer adalah Raja

Ilustrasi @roelly87


POV Tuti

"WOI... Pok. Sibuk amat."

"Biasa dia mah. Jam segini, asyik Drakoran. Paling juga, ntar nyesel sendiri pas ga sadar orderan lewat."

"Yah, maklum... Puber keempat."

Ha... Ha... Ha...

Riuhnya, percakapan tiga makhluk aneh penunggu basecamp ini. Ekalaya, Irawan, dan Dresta.

Ketiganya bersama Jayadrata merupakan pemilik secara de facto, basecamp ini. Sekaligus, jadi grup lenong ga jelas.

Kadang, sih gw jkutan juga, he he he. Biar kata udah mau kepala empat, kalo ngumpul bareng mereka jadi ga inget umur lagi.

Intinya, rame kalo sama keempat ojol ini. Meski cuma gw yang cewe, tapi mereka ga ngebeda-bedain.

Banyak pengalaman gw bareng keempatnya. Mulai dari kegoblokan, lucu, drama, satir, sampe horor...


*      *      *

"KA, tumben lo jam segini udah keluar? Biasa abis Maghrib baru nongol kayak dedemit," kata gw kepada Ekalaya. 

"Kejer setoran pok. Tanggal tua nih."

"Eh, oneng... Sejak kapan, ojol kayak kita-kita ada tanggal tua sama muda."

"Paling juga ngayap dia mah. Ya, Ir?" Jaya mengomentari.

"Ho... oh. Kalo ga, paling nemuin si Wilutama, Dresnala, atau Sita. Ujung-ujungnya modus doang," timpal Irawan.

"Si goblok. Namanya juga usaha, Ir. Ya ga Bang Jay, pok?"

"Auk ah... Gw ga ikutan. Tapi kalo ada temen mereka pade yang bening, boleh kenalin ke gw ya Ka."

"Ebuset. Inget, umur Bang Jay..."

"Kalo gw, bisa ya Ka? Aman deh, rokok-rokok mah ada."

"Siap, bosku Irawan. Tapi, gw ga tanggung ya kalo si Setya tahu?"

"Njir... Jangan deh, Ka. Gw ga mau nyari penyakit."

"..."

Grup lenong ini kalo udah kumpul bener-bener absurd. Apa aja dibahas. 

Pokoknya, ketiganya ini kayak ga punya beban. Meski, dari mereka, Eka yang masih single. 

Irawan dan Jaya udah berkeluarga. Juga, Dresta yang paling tua dan bahkan udah punya cucu.

"Gw lagi nenangin pikiran nih Ka. Tadi, dapat orderan food, drama banget," gw jawab pertanyaan Eka.

"Lah, hidup lo kan emang udah drama, Tut," ujar Jaya, terkekeh.

"Drama adalah bagian dari lo, Pok Tuti," timpal Irawan.

"Bener juga kata Bang Jay dan si Ir ini. Lo mah ga aneh, kalo dapat orderan drama terus," Eka, menambahkan.

"He he he... Geblek lo pade. Emang sih iya juga. Tapi, tadi siang emang super duper ngeselin," gw menjawab.

"Opik lagi?" potong Jaya.

"Bukan. Tapi, ngeselin"

"Ya udah, minum gih Pok."

"Si bego, kejadiannya udah lewat beberapa jam. Pan siang."

"Si Irawan ini emang dah ga nyambung. Pan si Pok Tuti bilang tadi, bukan sekarang."

"Ya udah, Tut. Coba ceritain."

"Begini, ceritanya..."

"Yaelah, Pok... Lo kayak narator kisah misteri di tv."

"Cocok lo jadi anchor atau penyiar radio."

"Setuju sama dua makhluk ini. Lo emang drama banget, Tut."

Ebuset, belom juga gw mau cerita, udah di-bully duluan sama grup lenong ini. Untung, gw udah pernah makan jantung serigala sama otak singa, jadi kuat ngadepin mereka. 

Kalo ga, bisa makin mumet. Belom lagi jika ditambah Dresta, duh...

"Iye, ini gw mau cerita," kata gw sambil nyender di pojok basecamp yang terbuat dari bambu.

"Menyimak."

"Lanjut Pok. Asal jangan kayak Luis di film Ant-Man."

"Yongkru... Luis mah, kebanyakan intermezzo. Mirip sih ya Ir, sama si Tuti."

"..."

*      *      *

"SIANG Ka. Pesanan sesuai aplikasi ya," gw kirim pesan lewat chat di aplikasi ojol.

Ga lama, dibales. "Ya."

Gw pun langsung menuju resto di kawasan Hayam Wuruk. Orderannya, cuma satu.

Perasaan, ada yang aneh. Pesanannya cuma satu. Harganya ga sampe seperempat lembaran biru. 

Sambil nunggu di tempat khusus ojol yang disediakan resto diiringi cemilan dan minuman ringan, gw pikir, biasa aja. Mungkin, cuma itu yang diinginkan. 

Siapa tahu, di rumahnya, customer juga masak. Jadi, orderan ini sekadar tambahan.

Kurang dari seperminuman teh, masakan pun siap. Gw kembali mengirim pesan.

"Kak, alamat sudah sesuai titik ya? Untuk lengkapnya, nomor rumah dan RT/RW berapa ya?"

Gw bertanya, karena di aplikasi hanya tertera Jalan Kebon Jeruk, yang berlokasi di Kelurahan Maphar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Tidak ada detailnya.

Ini aneh menurut gw. Padahal, menilik akun customer dengan nama Gandari, sudah ratusan kali order pada aplikasi ojol ini. 

Meski, ratingnya mengkhawatirkan, 2,8. Sangat jelek. 

Berdasarkan pengalaman gw yang ngojol sejak 2017, rating di bawah 4 itu ngeri-ngeri sedap. Lah, ini tiga pun kurang! 

Apalagi, orderan sudah ratusan. Ada apa dengan customer ini?

Ga lama, layar di aplikasi pun berubah tampilan jadi panggilan masuk. Terdapat nomor customer yang sudah disamarkan pihak aplikator.

"Mbak, saya tambah lagi ya manual. Ntar saya ganti via nontunai."

"Siang kak, ini dengan Gandari ya?"

"Iya. Ini saya tambah pesanan nasi goreng dua bungkus lagi, sate ayam satu, dan soto daging empat. Harganya normal ya, jangan ikutin aplikasi."

"Waduh, ini serius kak?"

"Ya..."

"Untuk alamat, kalo boleh tahu?"

"Astana Indah Residence Nomor 96. Jalan Raya Kebon Jeruk. Patokannya, lewat Jalan Panjang aja, ga jauh. Bla... Bla... Bla..."

Mendengar suara Gandari di telepon bikin gw keringat dingin. Ini ngaco banget.

"Maaf, kak. Kalo di luar aplikasi, ini harganya kebanyakan. Saya ga punya uang lebih. Apalagi, alamatnya juga beda jauh. Di titik aplikasi, Jalan Kebon Jeruk IX, Kelurahan Maphar, yang argonya saya terima bersih Rp 8.000. Kalo ke Jalan Raya Kebon Jeruk, ongkosnya lumayan beda kak. Sekitar Rp 30-40 ribu. Belom lagi, jauh yang di atas 7 km dan macet."

"Lah, itu urusan situ. Saya ga mau tahu."

"Maaf, kak. Tolong kerja samanya."

"Saya kan udah bayar yang pesanan saya dengan nontunai. Minta titip tambah orderan manual aja ga mau? Soal jarak? Biasa kok. Ojol lainnya juga sebelomnya bisa."

"Duh, maaf kak. Ini..."

Klik

Ngadepin customer yang kayak gini bikin emosi gw naek ke ubun-ubun. Hanya, gw sadar, apa pun itu, pelanggan adalah raja.

Percuma mau ngomel bagaimanapun, aplikator 100 persen bakal menangin customer. Bagi perusahaan, jelas.

Kehilangan satu driver, gampang dicari dengan buka lowongan yang memunculkan ratusan calon ojol. Itu mengapa, mayoritas aturan aplikator sangat menguntungkan customer.

Gw pun tarik nafas dalam-dalam. Sambil meminum air mineral botolan yang gw selalu bawa sedikit meredakan esmosi.

Gw coba untuk telepon kembali. 1... 2... 3... Keangkat.

"Kak, saya ga ada dana buat nalangin pesanan manual yang jumlahnya ratusan ribu. Apalagi, orderan ini kan nontunai, jadi kami, para ojol jarang bawa uang lebih."

"Terus?"

"Untuk alamat juga beda jauh. Kami, para ojol hanya mengantar sampai titik yang ditentukan. Meski namanya sama Kebon Jeruk, tapi lokasi beda jauh. Mohon pengertiannya."

"Ya ga tahu. Kok tanya saya..."

Nyaris saja gw maki-maki nih bocah di telepon kalo ga inget status sebagai ojol. Sesabar-sabarnya gw, tentu ada batasnya.

Apalagi, sesama perempuan. Ini bocah songong amat sama yang tuaan.

Beruntung, ketika gw ingin menjawab telepon, dari belakang ada yang manggil. Saat menoleh, tampak pria berusia 60-an yang mendatangi gw dengan tersenyum diikuti salah satu pegawai wanita yang mengenakan seragam resto tersebut.

"Dik, bisa pinjam hapenya," kata pria itu yang saya kira sebagai salah satu pegawai atau bahkan manajer terkait usianya.

"Ada apa pak?"

"Biar saya yang bicara dengan customernya."

Dari samping, si pegawai resto mengangguk. Isyarat agar sang pria itu yang mengambilalih kemudi.

"Silakan, pak."

"Terima kasih."

Gw perhatikan, meski usianya sudah 60 atau 70-an, tapi perawakan bapak ini masih tegap. Kendati, rambutnya sudah memutih.  

Kedua tangannya pun tampak kekar. Dari raut wajahnya tampak sebagai orang yang tegas. 

"Halo... Selamat siang. Dengan dik Gandari? Saya Bisma, pemilik resto ini."

Terdengar suara khas dari pria itu yang ternyata owner ini restoran. Pak Bisma pun mengaktifkan loudapeaker agar pembicaraannya dengan si customer bisa gw ketahui.

"Iya, saya Gandari. Kenapa Anda ikut campur uruasan saya dengan ojol? Emangnya, Anda perwakilan dari aplikator? Sotoy deh."

"Saya hanya ingin menengahi. Secara, Anda adalah pelanggan setia resto saya yang sering beli. Namun, Anda juga kerap merugikan driver. Baik itu tambah pesanan manual non aplikasi dan lokasi antar yang beda dengan titik."

"Ah, kepo lo!"

"Anda harus sadar, ojol tuh dibayar per kilometer berdasarkan alamat yang tertera pada titik di aplikasi. Anda cantumkan alamat di Jalan Kebon Jeruk IX, tapi rumah di Jalan Raya Kebon Jeruk. Bedanya jauh sekali, dik."

Gw menyimak pembicaraan pak Bisma yang sangat tenang. Megang hape pun tampak elegan sekali.

"Kok, situ sewot. Udah tua, jangan rempong deh ih. Kayak mudanya ga pernah buat dosa aja."

"Dik, manusia mana yang ga pernah salah? Apalagi, dosa. Saya juga sama. Namun, garam yang saya telan masih lebih banyak dibanding nasi yang adik makan sepanjang hidup."

"Terus?"

Sumpah, ingin rasanya menjambak tuh bocah songong. Bicara sama orangtua kok ngelunjak amat.

Ini customer kapan-kapan harus gw kerjain. Apalagi, kalo Genk Lenong tahu, abis nih bocah.

"Dik, tinggal di Astana Indah Residence Nomor 96 ya?"

"Iya, kenape? Mau jadi pekerja sensus nanya-nanya rumah gw?"

"Adik pernah apa dengan Gandamana?"

"..."

Beberapa detik gw dengar tidak ada sahutan dari Gandari. Sementara, pak Bisma tersenyum kepada gw sambil memberi kode kepada salah satu pegawainya untuk membawakan minuman.

Mayan, panas-panas gini dapat jus segar. Plus, kentang goreng dan ayam crispy buat cemilan gratis yang langsung aja gw hajar.

"Maaf ya, dik, udah nunggu lama. Silakan cicipin seadanya."

"Terima kasih, pak."

Sambil mengganyang kulit crispy diiringi tegukan jus buah naga, gw kembali menyimak pembicaraan mereka. Tidak ada perubahan dari raut pak Bisma yang tetap cool.

"Saya... Saya... Cucunya, pak. Kok, Anda, bisa tahu kakek saya?"

Terdengar patah-patah suara Gandari. Aura songongnya seketika langsung sirna ketika pak Bisma menanyakan hubungannya dengan sosok yang tadi disebutkan.

"Gandamana itu, masih satu letingan dengan saya. Tapi, masih junior. Ketika saya pensiun dari Mabes, beliau menjabat posisi cukup penting. Kok, bisa ya cucunya tidak punya sopan santun begini?"

Terdengar pak Bisma menaikkan intonasi suaranya yang terdengar menggelegar di telinga. Namun, wajahnya tetap ramah dengan seperti menahan senyum kepada saya."

"Iya... Pak, beliau kakek saya. Maaf ya pak."

"Gandamana, atua biasa saya panggil Ganda itu sohib saya. Kami sering kumpul bersama purnawirawan lain sesama Cijantung. Terakhir, ada reuni di Gagak Hitam."

Pak Bisma, melanjutkan, "Jadi, saya akan adukan adik ke Pak Ganda. Nomor hapenya masih yang 0815987654 ini kan?"

"I... Iya, pak."

"Oke, saya akan telepon beliau sekaligus memberitahu terkait tindakan adik yang sudah merugikan enam ojol dalam sepekan terakhir. Siap-siap, aja jika..."

"Pak, tunggu... Pak  Saya minta maaf atas tindakan saya selama ini. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Lho, jangan ke saya, minta maafnya. Tapi, ke ojol, termasuk yang barusan ini."

"Siapa dik, nama Anda?" Pak Bisma bertanya kepada saya sambil menyodorkan hape.

"Tuti, pak. Astuti."

"Tuh, dik Gandari. Ojol ini namanya, Tuti. Silakan Anda minta maaf kepadanya. Lalu, orderan ini tidak dipersulit."

"Iya, pak," ujar Gandari dari seberang telepon. "Mbak Tuti, saya minta maaf ya. Untuk pesanannya, boleh mbak bawa pulang aja, jangan diantar ke rumah saya. Terima kasih."

"Kamu sudah janji kepada ojol bernama Tuti ini ya dik Gandari? Saya saksinya, loh."

"Iya, pak. Maaf."

"Oke, masalah saya anggap tuntas. Namun, jika adik memberi rating jelek atau mengadukan Tuti yang engga-engga kepada aplikator, tentu saya akan bertindak. Dik Gandari paham kan, bagaimana reaksi kakekmu jika tahu masalah ini?"

"Ampun, pak... Jangan sampe kakek tahu. Iya, saya minta maaf."

"Oke, saya tutup ya pembicaraan ini. Terima kasih."

Klik.

Hape pun dikembalikan kepada saya. Pak Bisma mengajak saya masuk ke restonya untuk duduk di meja bundar bertuliskan reserved.

"Dik Tuti, saya mohon maaf atas tindakan cucu teman saya tadi ya. Sesuai pembicaraan, pesanan Gandari bisa diselesaikan di sini dan adik bawa pulang. Juga, ada sedikit oleh-oleh dari kami karena sudah membuat repot."

"Ga kok, pak. Aman. Udah biasa."

"Dik, silakan masuk dulu ke ruangan kaca. Ntar saya susul."

Pak Bisma memanggil salah satu pegawai yang berjas hitam. "Tolong jamu dik ojol ini dengan baik. Siapkan makanan, minuman, dan cemilan andalan kita. Setengah jam lagi, saya susul di ruang kaca."

"Siap pak. Yuk, mbak ojol, oh ya... Mbak siapa namanya?"

"Tuti..."

"Silakan ikuti saya."

*      *      *

USAI menangsel perut hingga full tank, gw pun nyender di private room. Di depan meja gw ada tombol yang bisa menghubungkan dengan kasir jika pelanggan ingin nambah menu atau keperluan yang lain.

Gw lihat beberapa piring kosong. Seingat gw tadi sukses menandaskan seporsi ayam khas taliwang, dua nasi lengko, semangkok es degan, dan air mineral botol kaca yang premium.

Semuanya gratis! Menurut pegawai berjas itu, sebagai pengganti akibat orderan macet dari customer ganjil tersebut.

Sebagai emak-emak yang ga rempong. Btw, kalo orang nyebut gw sih mahmud alias mamah muda, padahal udah kepala empat. 

Tentu setelah makan, otak gw langsung traveling. Tepatnya, menghitung menu yang gw makan berdasarkan aplikasi ojol.

Maklum, untuk daftar menu beserta harga ada di pegawai yang mendatangi setiap meja atau room. Sudah pasti gw ogah bertanya pada mereka.

Secara, gw udah makan gratis. Masa, harus nanya ini-itu yang merepotkan. Itu namanya ngelunjak!

Setelah gw compare, total yang gw santap mencapai Rp180 ribu. Jika harga normal, sekitar 140-150 ribu. 

Secara, jika masuk aplikasi ojol, harga setiap menu dikenakan biaya tambahan 20 persen.

Ebuset... Gw langsung nelen ludah. 

Pekgo, cuma sekali makan? Di rumah, bisa kenyang bareng dua anak gw.

Tapi, emang wajar. Sebab, resto yang konon menolak diberi Bintang Michelin ini dikenal mewah. 

Ga hanya dari menu yang mencakup Eropa, Timur Tengah, Sub Sahara, Oriental, Asia Selatan, hingga penjuru Tanah Air. Juga terkait ruangan, dekorasi, dan keberadaan pegawai yang tergolong ramah.

Gw udah beberapa kali ambil orderan di resto ini. Tidak sekalipun ada yang mintain parkir, baik motor maupun mobil.

Padahal, di kanan dan kiri banyak resto yang ada parkir liarnya. Namun, di resto ini memang istimewa. 

Depan pintu masuk aja ada dua security berbadan tegap yang lebih mirip anggota SWAT atau NYPD. Namun, sikapnya simpatik, ramah, dan murah senyum kepada siapa pun yang datang.

*      *      *

"MAAF ya dik, udah menunggu lama. Kalo mau nambah pesanan, silakan aja."

Lamunan gw buyar mendengar kehadiran Pak Bisma. Tiba-tiba, beliau sudah ada di depan meja gw.

"Ga pak. Terima kasih banyak. Saya kenyang banget."

"Woles, dik. Santai aja. Maaf tadi saya agak lama. Biasa, urusan resto."

"Siap, pak."

Pak Bisma merogoh kotak kecil dari sakunya. Dia pun mengambil asbak berukiran hewan mitos.

"Ga apa-apa, ya saya merokok."

"Ga, pak. Saya juga sesekali di basecamp ojol ikutan merokok."

Namanya doang rokok, tapi yang dihisapnya adalah cerutu. Ebuset, gw aja yang sesekali ngudut mild tipis kadang batuk, apalagi cerutu.

"Jadi, begini..."

Gw menyimak penuturan dari sosok yang kemungkinan mantan militer atau polisi ini. Tidak ada perubahan sikap sejak di depan tadi hingga sekarang.

Beliau tetap tenang. Menandakan sebagai sosok yang terbiasa mengarungi kerasnya kehidupan.

"Setelah saya konfirmasi, Gandari itu memang cucu sohib saya. Masih muda, 20an tahun, seusia cucu saya juga. Maaf, ulahnya telah merepotkan adik dan rekan-rekan ojol lainnya. Meski, setelah saya selidiki, ada alasan lain dari sikapnya itu. Namun, jelas ga bisa dibenarkan. Jika benci sama oknum, jangan seluruhnya yang kena."

"Iya, pak. Saya juga udah ga mau ambil pusing. Clear. Apalagi, ada sisi positifnya dari itu customer ganjil..."

"Positif?"

"Ya. Berkat dia, saya bisa merasakan masakan mewah gratis. He he he," jawab gw tanpa tedeng aling-aling.

Pak Bisma pun tertawa mendengarnya.

"Alhamdulillah, kalo begitu. Saya juga sudah menelepon Gandamana untuk memastikan cucunya tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Secara, itu sangat merugikan kalian, para ojol. Saya tahu betul, kesalnya jika menghadapi customer seperti itu. Saya bangun resto ini dari nol, setahun usai pensiun dinas. Memang, pelanggan adalah raja, tapi ga serta merta bertindak kelewatan."

Gw mengangguk. Selama perbincangan ini gw berusaha jaga sopan santun dengan tidak memotong pembicaraan beliau.

"Bagi kami, kalian para ojol merupakan mitra. Sejak saya daftarkan resto ini ke beberapa aplikator pada 2018 lalu, saya berusaha untuk menyambut hangat kalian. Misalnya, ruang tunggu ojol di depan yang sudah tersedia kopi, minuman dingin, snack, dan koran. Jika resto rame dan terjadi antrean, kami juga enggan membedakan ojol dengan customer yang makan di tempat. 'First come, first served'. Itu prinsip kami."

Pak Bisma rehat sejenak untuk menghisap cerutunya. Sementara, gw asyik mengobok-obok es degan yang siapa tahu masih ada sisanya di mangkok.

"Apalagi, saat pandemi ini. Terutama, ketika PSBB yang resto tidak boleh makan di tempat. Otomatis, kami mengandalkan jualan online bermitra dengan aplikator. Memang, kami terima pesanan manual, tapi kami kurang pegawai yang mengantar. Itu mengapa, keberadaan ojol seperti kalian ini sangat membantu."

"Terima kasih banyak pak, atas apresiasinya."

"Ulah Gandari baru saya ketahui tadi dari manajer. Sebelumnya, dia bilang udah ada lima ojol lebih yang mengalami nasib seperti adik. Hanya, saat itu, manajer tidak berani ikut campur karena di luar kewenangannya. Jadi, ketika Gandari tadi kembali order, manajer langsung memberi tahu saya. Kebetulan, saya kenal dengan customernya."

"Iya, parah sih pak. Curang banget, apa-apa mau murah. Ongkir disamarin dan tambah pesanan manual demi menghindari harga sesuai aplikasi yang kena 20 persen."

"Ya, begitulah dik. Namanya, manusia... Seperti yang saya bilang dari awal, ada alasan Gandari melakukan itu. Namun, apa pun itu tetap salah. Problem itu saya enggan ikut campur."

"Setuju pak. Jangan dijadikan pembenaran akibat sakit hati mungkin dengan ojol lain, resto, atau aplikator."

"Oh iya dik, kelima ojol yang menerima orderan Gandari dalam sepekan terakhir tidak ada di database kami. Sebagai permintaan maaf, saya selaku pemilik resto ini sekaligus sohib dari kakeknya, akan mengundang adik untuk hadir dalam suatu event bulan depan. Adik bisa aja rekan-rekan ojol yang adik Tuti kenal. Tenang, semua saya tanggung."

"Waduh, bener pak?"

"Iya."

"Tapi, saya dan teman-teman saya makannya banyak. Yang ada malah tamu bapak ga kebagian makanan."

"He he he. Ga lah. Aman."

"Siap pak. Saya izin pamit ya, balik ngojol."

"Oh iya, silakan. Itu ada bungkusan untuk dibawa pulang. Bisa untuk keluarga atau teman-teman."

"Waduh, jangan repot-repot pak."

"Ga. Kan, udah dibuat dari tadi. Yuk kita ke depan."

*      *      *

"ENAK dong pok makan gratis. Dapat oleh-oleh pula."

"Itu ya bungkusannya, coba gw buka."

"Menurut gw sih setimpal Tut. Lo dapat orderan rese tapi dibalas sama pemilik resto yang baik."

Demikian sahut-sahutan antara Eka, Irawan, dan Jaya, sambil ngemil keripik balado pemberian pak Bisma. Sebagian gw taroh basecamp dan sisanya untuk di rumah.

"Eh tapi emang ngeselin kalo dapat customer pahit yang suka ngakalin ongkir. Kalo gw sih ogah ngambil."

"Dodol... Pan makanan udah gw pick up. Kalo tahu dari awal juga ogah," gw tanggapi komentar Irawan.

"Ya udah, yang penting clear. Ini basecamp sepi banget dah. Pada kemana?" Eka bertanya.

"Jam sibuk, Ka. Pada narik. Kalo gw rehat bentar," Jaya menimpali.

Hape gw berbunyi. Notifikasi dari Genk Lenong.

Gw emang ada banyak grup ojol. Termasuk, grup di basecamp ini berisi 19 driver dengan empat di antaranya lady ojol.

Sementara, Genk Lenong khusus berisi lima orang. Irawan sebagai penggagas diikuti gw, Eka, Jaya, dan Dresta.

"Woi, cek grup lo pade," teriak gw.

"Grup ape? Basecamp apa Genk Lenong?"

"Genk Lenong. Dresta infoin ada proyek tuh."

"Lah... Ogah. Proyek pak tua itu ujung-ujungnya selalu plot twist."

"Mayan, buat nambah-nambahin cuan. Abis tahun baru ini pan orderan sepi."

"Gw pikir-pikir dulu, pok."

"Lah, otak lo bisa mikir emang Ir?"

"Kalo info dari Dresta, perasaan gw ga enak terus, Ka."

"Wooi... Yang pake perasaan tuh, gw sebagai cewek. Lo mah cowo harusnya pake logika."

"Trauma, gw pok."

"Ya udah Tut, kita berempat aje yang ikut. Si Irawan mah udah banyak duit."

"Bener bang Jay dan pok Tuti. Gw ikut. Siapa tahu bisa dapat buat tabungan mau puasa."

"Oke, kita tunggu Dresta dateng. Gw kalo tawarannya masuk akal, mau ikut."

Irawan pun memandangi gw, Jaya, dan Eka, bergantian. 1 lawan tiga. Naga-naganya kalah dia.

"Tuh, kan... Gw ditinggal."

"Si bego, tadi diajakin ogah. Tuh baca chat baru si Dresta," gw menjawab.

"He... he... he..."

"Mayan, Ir. Cuma seminggu kali dibayar sekian-sekian," Eka, menjelaskan.

"Anggap aja, jalan-jalan ke luar kota. Sekalian, cuci mata Ir," timpal Jaya.

"Tuh, Dresta otw. Gw cabut dulu ya, mau kasih bingkisan ke bocah. Abis mandi, gw balik lagi," kata gw.

"Ok, pok."

*      *      *

Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part V: Di Suatu Desa dengan Penumpang Random
- Part VI: Mangga Besar Punya Cerita
- Part VIII: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part IX: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part X: Debt Collector Juga Manusia
- Part XI: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
- Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel


Spin-Off

- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte


Ekalaya Universe

- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 28 Januari 2022


Minggu, 31 Oktober 2021

Mangga Besar Punya Cerita

Catatan Harian Ojol VI

Mangga Besar Punya Cerita

Ilustrasi @roelly87



MEMASUKI musim hujan begini membuat dilematis bagi ojek online (ojol). Di satu sisi, bikin rempong. 

Sebab, harus basah-basahan saat menjalankan orderan. Itu meliputi bawa penumpang, antar makanan, dan kirim barang. 

Belum lagi jika deras hingga banjir. Sensasinya, wow banget.

Pada saat yang sama, justru orderan melimpah drastis. Pasalnya, banyak rekan ojol yang off. 

Bahkan, kerap mengalami lonjakan harga dari 1,5 hingga 4 kali lipat dibanding tarif normal. Tak heran jika hujan jadi ajang mendapat tambahan pendapatan.

Termasuk, gw yang berusaha memanfaatkan situasi ini dengan maksimal. Gw ga peduli dengan gerimis, hujan lebat, deras, hingga banjir sekalipun seperti pada malam tahun baru 2020.

Bisa dipahami mengingat gw terbiasa menari di bawah badai. Jadi, bagi gw, hujan hanya tetesan air yang jatuh dari langit.

*     *     *

HUJAN rata di Jabodetabek. 

TangSel banjir.

Kelapa Gading ga gerak.

Kemang macet total.

Demikian sahut-sahutan komentar di Grup WhatsApp basecamp gw. Terdiri dari 19 orang yang sama-sama tinggal dan kerap berinteraksi di PIK coret

Selain gw, ada beberapa rekan ojol yang kerap ngalong di basecamp. Irawan, sudah pasti. Salah satu dedengkot tongkrongan diikuti Drestajumena dan Jayadrata. 

Kalau malam, memang bisa dihitung jari. Beda, jika siang yang basecamp sangat ramai. 

Termasuk, lady ojol yang wara-wiri antar makanan atau barang. Mpok Astuti merupakan pimpinan secara de facto maupun de jure untuk kaum hawa yang berprofesi ojol di kawasan kami.

Sambil neduh di emperan resto yang udah tutup, gw asyik menyeruput secangkir kopi hitam diiringi sebatang mild. Sementara, tangan kanan gw sibuk sroll hp yang penuh notif pada beberapa grup wa.

*Tuti*
Hujan gede euy. Mager mo balik basecamp. Neduh dulu di Mabes.
(21.02)

*Irawan*
Sama pok. Gw di Bonjer nih. Ada lonjakan harga sampe empat kali lipat ke Patal Senayan tp gw lewatin. Dingin euy.
(21.03)

*Gw*
Nunggu reda aja pok. Gw barusan abis dari Kepu. Ir, sama gw tadi dapat food. Tapi tanggung baru beli kopi makanya gw lewatin. :) #SenyumManja
(21.04)

*Dresta*
Woiii... Masih ngebolang aja lo pade. Gw sendirian di basecamp! Anjir mana ga bawa jas ujan.
(21.04)

*Irawan*
Tiati bang Dres, ada yang nemenin. Geulis sih, tapi buukna panjang dan teu boga suku. Ulah khilaf, bisi terbang.
(21.05)

*Tuti*
Ha ha ha, ditemenin kunti loh bang Dres. Liat kanan-kiri. Banyak baca doa :)
(21.07)

*Gw*
Bang Dres, ini gw masih di PangJay ya. Kalo tiba2 gw ada di depan lo, ga usah banyak omong lagi kayak dulu. Langsung kabur aja. ^_^ #MataBelo
(21.08)

*Dresta*
Asuuuuuuu kabeh! Gw mo balik ga bawa jas ujan. :( #Sad
(21.10)

*Jaya*
Ada apa ini rame2? Gw juga kejebak di Jelambar. Kalo reda otw basecamp. Dres, titip salam sama sebelah lo. :) #SenyumJahad
(21.11)

*Dresta*
Anjir. Goblok lo pada. Gw sendirian nih. Mana itu di lapak opang pada sepi. Bodo ah, gw cabut. #Panik
(21.15)

Gw yang baca komentar di Grup WA itu ketawa ngakak menyaksikan bang Dresta dibully. Kita-kita ini kalo udah ngebacot sesama ojol baik ketemu langsung maupun di WA memang ga ada filternya.

Termasuk, lady ojol yang ada empat orang di grup. Tuti paling senior di antara mereka. 

Kami sudah terbiasa ngobrol dengan vulgar dan saling sindir. Namun, tetap ada etika dengan tidak bicara pada hal yang menjurus. 

Yang pasti, grup WA ini dibuat Irawan sejak 2019 sebagai sarana komunikasi antarojol di tempat kami. Termasuk jika ada yang trouble seperti motor mogok, rusak, dan mengalami hal tak terduga saat ngalong, tanpa dikomando, kami langsung otw.

*Gw*
Gw males balik basecamp. Mau ke kostan Sudirga di Mabes. Sekalian ngangetin badan sambil ngopi2 cantik dan main ps. Kalo ada yang mau ikut nyusul aje. Kebetulan Dirga bilang lagi stay.
(21.31)

*Dresta*
Gw udah balik Ka. Salamin aje sama Dirga. Njir dingin gilak, ujan2an gw sampe basah kuyup.
(21.33)

*Irawan*
Ka ngapin lo ke Mabes? Mau Open BO? Gacor tadi ya? #SenyumJahad
(21.33)

*Gw*
Si goblok. Ini Dirga baru beli ps 4. Lo ditantangin Ir, main FIFA. No Cheat, kata dia.
(21.35)

*Irawan*
Sejak kapan Dirga menang lawan gw? Dari zaman Winning Eleven di PS 1, 2, sampe 3, die gw ampasin terus. :) #SenyumKemenangan
(21.38)

*Tuti*
Gw ikut Ka. Lo shareloc ya, mumpung gw di sekitar sini mau ganti baju, ga betah abis basah kuyup. Sekalian mau ngadem. Anak2 gw juga udah pada tidur.
(21.40)

*Jaya*
Gw ga ikut ah. Masih ngalong. Oh iya Ka, bilangin si Dirga. Kalo akun dia ga kepake, mending gw manfaatin jadi duit. He he he :) #KetawaBahaya
(21.42)

*Gw*
Siap bang Jay, ntar gw bilangin. Daripada akun dia dah lama ga dipake, takutnya disuspend.
(21.45)

*     *     *

AHMAD Sudirga. Salah satu ojol yang dulu sempat nongkrong di basecamp kami. 

Namun, udah setahun ga pernah narik lagi sejak kantornya memindahkan lokasi kerjanya di Hayam Wuruk. Ya, Dirga menjabat sebagai kepala toko minimarket XMart. 

Dia sempat setahun tugas di daerah gw. Orangnya supel, ramah, royal, dan asyik. 

Dirga juga pekerja keras. Ga betah diam. 

Makanya, dia ikut bikin akun ojol dan narik bareng kami di basecamp usai pulang kerjanya pukul 20.00 WIB. Padahal, masuknya pukul 08.00 WIB. Sebagai kepala toko, dia memang harus standby nyaris 24 jam untuk memantau XMart-nya.

"Tangan gw bisa kaku kalo pulang gawe ga ngapa-ngapain di kostan. Mending gw ngojol sampe tengah malem. Mayan, hasilnya bisa nambah-nambahin modal masa depan," kata Dirga, pada awal 2020.

Jebolan pesantren ternama di Bogor ini memang sebaya dengan gw dan Irawan. Namun, masih di bawah Dresta yang usianya nyaris kepala lima. Sementara, Jaya dan Tuti kemungkinan sama-sama 40-an tapi beda tahun.

"Wooi... Maen berdua aja. Ayo, yang menang lawan gw," teriak Irawan saat nongol depan pintu kostan Dirga yang berada di lantai tiga. 

Gedung yang bercorak artdeco meski sudah tergolong tua karena dibangun pada dekade 1990-an ini terdiri dari lima tingkat. Selain biasa disewa bulanan, konon, kostan ini juga bisa untuk harian. 

Memang sih di lobi, meja resepsionis terdapat tuliasan besar-besaran, "TIDAK UNTUK HARIAN APALAGI JAM-JAMAN!"

Hanya, sebagai kostan yang berlokasi strategis di salah satu kawasan hiburan malam terkenal di ibu kota ini tiada hil yang mustahal. Ya, TST. Tahu sama tahu. 

IYKWIM. If you know what i mean.

Kembali ke Irawan. Tangannya pasti udah gatel gara-gara gw komporin ngadu ps4. Sementara, pok Tuti yang datang barengan Irawan langsung ngeloyor ke kamar mandi.

"Ga, numpang ganti baju. Basah semua nih. Tuh, gw sama Irawan patungan bawa martabak," ucap wanita yang jadi lady ojol sejak 2016 tersebut.

"Pake aja pok," kata Dirga, tanpa menoleh saking fokusnya akibat Perugia yang dimainkan gw tekan terus pake Juventus.

"Mau gw temenin ga pok?" sahut Irawan, yang tiba-tiba udah ngunyah martabak. Dasar kampret nih bocah. Niat mau beliin buat Dirga malah di unboxing duluan.

"Si goblok," Tuti menjawab celetukan Irawan.

"Tiati pok, ntar lo berdua Irawan di kamar mandi, pas keluar jadi bertiga," ujar gw terkekeh, menimpali.

"Geblek lo pade..." komentar Tuti, sambil melanjutkan, "Ga, ini kamar mandi lo wangi banget. Abis bawa cewe ya?"

"Wangi atau bau apek, po? Kaga lah, belom pernah gw bawa cewe ke kamar."

"Dirga mah 'kalo mau jajan' gampang,  bisa jalan ke depan. Tinggal pilih."

"Ga nyangka ya lo Ga, jebolan pesantren doyan jajan."

"Lah Dirga kan cowo, pok. Kalo ga doyan cewe itu baru bahaya."

"Iiih, Dirga ga doyan tapi mau. Gelay..."

"Goblok lu pade."

"Ha ha ha."

"Udah ah, makan dulu martabak jangan dianggurin. Lagian si Eka payah. Kalah terus. Pake Juve, tapi lawan Perugia keok."

"Pan pemanasan Ga. Kalo si Irawan turun, baru gw serius."

"Bidji lo. Lawan Dirga aja kalah, apalagi sama gw. Bisa gw bantai 10-0."

"Ga pinjem powerbank lo, gw mau cas hape. PB gw mau dicas di stopkontak."

"Di atas lemari po. Pake aja. Mayan gede tuh PB, 20 ribu MaH."

"Udah sini bikin grup. Kita pilih format turnamen antarklub, negara, atau gabungan."

"Klub aje. Gw Perugia, tetep."

"Sama, Juve. Always."

"Oke. Gw FC Internazionale."

*     *     *

URUSAN main PS, emang Irawan jagonya. Dirga yang ganti klub beberapa kali dari Perugia ke Real Madrid, Barcelona, hingga Paris Saint Germain, tetap ampas.

Gw? Jangan ditanya. Ga kebobolan 0-3 pun udah sukur.

Pantes di tempat gw, Irawan beberapa kali juara turnamen PS 3. Termasuk, puasa kemaren saat diselenggarakan Karang Taruna yang melibatkan enam RT di RW gw. 

Flashback sejenak, saat itu, kami ga bisa milih tim. Alias random, format diundi komputer. Gw kebagian Liverpool dan Irawan dapat Ajax Amsterdam.

Dia melaju ke final tanpa kalah dalam sistem UEFA Champions League yang udah dimodifikasi. Sementara, gw mentok di babak 16 besar. Anjir.

Apalagi, kalahnya sama bocil 14 tahun yang dapat Manchester United, skor 2-6. Bocah dari RT sebelah itu yang melaju ke final lawan Irawan.

Di atas kertas, jelas Ajax bukan tandingan MU. Pasar gelap, tepatnya taruhan kecil-kecilan antarsesama ojol dan pemain PS pun demikian.

Irawan divoor 1/2. Babak kedua, bahkan over-undernya gila. Itu akibat Ajax udah unggul 2-0 sebelom turun minum.

Panik ga, panik ga, yang ngejagoin Irawan? Paniklah!

Namun, Irawan membuktikan statusnya sebagai yang terbaik di kawasan kami. Usai jeda, Ajax pun menggila.

Irawan mencetak tiga gol tanpa balas. Sekaligus, membalikkan kedudukan jadi 3-2.

Lima menit sebelum peluit panjang, jari-jemari Irawan kian asyik menari lewat stik PS. Terbukti, Ajax kian unggul 4-2.

Saat itu, gw lirik muka si bocil memerah kayak kepiting rebus. Pun demikian dengan beberapa rekan ojol dan para pemain ps yang ikut bertaruh kecil-kecilan jadi mingkem.

"Gw bisa aja bantai nih bocil 8-2. Tapi, gw cukupin 6-2 aja buat balas kekalahan lo," ujar Irawan kepada gw.

Terbukti, usai peluit panjang berbunyi, Ajax menang 6-2. Irawan pun sukses melampiaskan kedongkolan gw kepada si bocil sekaligus menggondol hadiah utama.

Yaitu, uang tunai Rp100.000 disertai jersey KW3 dan sepatu capung. Memang, hadiahnya ga seberapa.

Wajar mengingat turnamen yang diikuti 32 peserta yang beragam profesi di wilayah gw mulai dari ojol, PNS, anggota, hingga masih sekolahan ini bersifat swadaya. Alias, untuk main harus daftar dengan biaya Rp10.000.

Namun, gengsinya itu di atas segalanya. Irawan bisa jemawa di hadapan gw sebagai raja ps.

Termasuk, sombong saat kumpul-kumpul di basecamp dengan selalu membahas keberhasilannya juara di RW kami. Kampret tuh orang!

*     *     *

DOK... Dok... Dok... dari luar kostan terdengar suara penjual keliling. Kalo ga mie dokdok, nasgor, bakwan malang, pempek, atau ketoprak.

Kami berempat yang baru saja mengganyang martabak hasil promo dengan diskon 70 persen plus gratis ongkir tentu langsung reaktif kegirangan. Maklum, efek kehujanan bikin cacing dalam perut demo terus.

Tadinya, Tuti mau pesan online lagi mengingat di aplikasinya masih tersedia voucher untuk food. Belum termasuk, promo makanan dan gratis ongkir dari aplikator sebelah.

Hanya, niat tersebut diurungkan. Sebab, di luar masih rinai. 

Jika begini, sulit mendapat ojol yang rela basah-basahan demi mengantar makanan. Wong, kami saja yang terbiasa menari di bawah badai sudah menonaktifkan aplikasi masing-masing. 

Gw dan Irawan sibuk main ps dengan Dirga. Pun demikian dengan Tuti yang asyik scroll IG sambil sesekali mengomentari pertandingan kami bertiga.

"Eh, itu ada Bakwan Malang kang Sakri. Pesen aja kalo pada mau, ntar gw bayar," ujar Dirga menoleh ke gw yang memang lagi jadi penonton menyaksikannya duel dengan Irawan.

"Hujan gini jualan emang Ga?" gw menjawab.

"Jualan. Justru laris. Kalo malam plus hujan pan banyak yang nyari anget-anget."

"Lebih anget lagi yang di pinggir jalan ke arah Gajah Mada. Berjejer. Bening. Tinggal pilih."

"He he he. Bloon. Gituan mah, lain cerita."

"Gw pesenin sekalian, Ka. Bakwannya dipisah," Irawan langsung menyambar. Kalo denger makanan, entah kenapa makhluk satu ini cepat bereaksi.

"Sama, gw juga Ka. Sambelnya lima sendok biar mata melek," Tuti, menimpali.

"Lah, gw yang jalan?"

"Pan lo lagi nganggur. Daripada bengong mending lo ke bawah."

"Siap tuanku."

"Gw sih bisa aja beliin kalian bertiga. Bahkan, gratis gw borong. Tapi dengan syarat. Lo harus menang. Sekali aja deh. He he he."

"Si goblok mulai sombong."

"Ha ha ha."

"Lo teriak dari jendela aja, pan kedengeran. Buka kacanya. Kang Sakri udah paham kok. Dia selalu bawa payung."

"Kang Sak, empat mangkok ya. Biasa. Bos Dirga lagi dapat warisan buat nraktir kita-kita. Sekalian, kecap, sambal, dan saos dibawa biar ga bolak-balik," teriak gw dari jendela ke arah kang Sakri yang ada di balik pagar depan.

Penjual bakso yang juga Aremania Garis Keras ini pun mengacungkan jempolnya. "Siap bosku. Pesanan meluncur."

"Si bego, teriak-teriak tengah malam gini. Bikin tetangga kostan pada bangun," ucap Tuti sambil melempar wijen sisa-sisa martabak ke arah gw.

"Dah pada tidur pok. Lagian ini kostan cenderung bebas. Sering kok di kamar sebelah ada 'gempa bumi'. Si Dirga aja yang ga pernah neko-neko," gw menjawab.

"Yah, namanya kostan. Apalagi, di daerah abu-abu gini. Tadi aja pas gw lewat bareng pok Tuti, di kamar ujung pas belokan tangga ada yang lagi syuting smackdown," tutur Irawan, dengan senyum yang ganjil.

"Lo enak, bisa ngintip. Untung ga ketahuan," lanjut Tuti, usai beberapa detik mencerna arah angin.

"Irawan mah, aji mumpung," Dirga, menimpali.

"Lah, gw ga salah dong. Pan pintunya ga ketutup, separoh kebuka. Jadi keliatan dari luar pas kita naik tangga," kata Irawan dengan memasang ekspresi lugu tanpa dosa.

"Njir enak dong lo sama pok Tuti dapat 'cuci mata'. Pas gw dateng sendirian tadi digembok dari luar," gw mengomentari.

"Yaelah, lo sama kayak si Irawan. Kalian ini sebelas dua belas," Tuti, menimpali.

Celetukan kami berempat terpotong suara angin yang mendesis dari jendela yang posisinya di sebelah kanan tv. Padahal, dari kamar terdengar hujan sudah tidak deras. 

Alias, hanya gerimis manja. Ga lama, dari balik jendela, gw dipanggil kang Sakri.

"Bosku, bakwannya dipisah aja ya. Ini gw plastikin ya, ga dicampur di mangkok biar enak pas dicocol masih garing," kata kang Sakri dari balik jendela.

"Aman kang. Yang penting mah anget, coz kami abis keujanan," jawab gw.

"Siap bosku. Gw ambil nampan dulu."

"Yongkru, kang!"

Gw pun kembali bersiap melangkahi Dirga dan Irawan untuk duduk di belakang. Namun, ketika itu, gw lihat keduanya saling tatap dengan Tuti.

"Ga, ini kamar lo kan lantai tiga?" ucap Tuti dengan mencabut chargernya dari stop kontak.

"Iya... Ya," sahut Irawan yang seketika meletakkan stik ps.

"1... 2... 3... Beresin barang-barang kalian," Dirga menyeru sambil bersiap sipat kuping.

Gw pun makin bingung dengan tingkah mereka bertiga. Termasuk, Dirga yang tergopoh-gopoh tanpa memerdulikan psnya.

"Bosku, Eka... Ini pesanannya empat mangkok," ujar kang Sakri dengan senyum yang tiba-tiba nongol.

"Cabut Ka!" Dirga berteriak. Di depannya ada Tuti yang sangat gesit layaknya sedang mengantar orderan kakap. Irawan pun mengikuti dengan sigap meski nyaris terserimpet asbak.

Hanya gw yang masih bergeming. Sepertinya, otak gw belom sinkron untuk merekonstruksi situasi ini.

Hingga...

"Bosku, ini udah jadi. Jangan pada kabur dong. Bercandanya ga lucu nih. Bayar dulu," tutur kang Sakri dengan tersenyum yang lebih mirip menyeringai.

"Ka, goblok. Cabut, cepet," sumpah serapah terdengar dari mulut Irawan saat menyaksikan gw terdiam.

"Anjir... Gw kira lo kang Sakri beneran. Kampret!" ujar gw saat tersadar usai mendengar kata-kata mutiara Irawan.

Tanpa memerdulikan kang Sakri yang mengangsurkan nampan berisi empat mangkok bakso dan seplastik bakwan, gw pun segera lintang pukang.

"He he he... Cemen ah, begini doang udah pada kabur. Apalagi, kalo ntar..."

Sayup-sayup terdengar suara kang Sakri yang agak melengking saat gw menuruni tangga dengan mengekor Irawan.

*     *     *

USAI 'olahraga malam' yang benar-benar menguras fisik dan mental, akhirnya kami berhenti depan pos hansip. Tampak, beberapa orang keheranan melihat kami yang keringatan.

"Lo kenape tong? Kayak dikejar-kejar jurig," ujar salah satu hansip yang baru saja memukul kentongan di tiang listrik sebelah pos.

"Kang Sakri, beh..." Dirga menjawab dengan terbata-bata.

"Si Sakri kenape?"

"Lah, dia kan molor di musala. Dagangannya abis dari jam sembilanan. Terus, Sakri ga pulang," salah satu warga setempat menimpali.

"Serius, bang?"

"Iye... Itu keliatan, gerobaknya. Eh, bocah, coba bangunin si Sakri. Ini ada apa," ujarnya lagi meminta remaja tanggung untuk memanggil kang bakso itu di musala yang letaknya berlawanan dari kostan Dirga.

Gw pun meneguk sisa sebotol air mineral pemberian Tuti yang dibagikan kepada kami. Meski situasi kalut tadi, hebatnya lady ojol tersebut tetap sigap dengan membawa air.

Ga lama, Sakri pun datang. Dia juga sebelas dua belas dengan yang lain, keheranan menatap kami berempat.

"Kenape bosku? Kayak abis dikejar Satpol PP saat Open BO di depan," ujarnya, terkekeh.

"Kampret lo... Gw dikerjain soket yang menyerupai muke lo," Dirga menjawab, sambil tertawa.

"Waduh, kenape dedemitnye nyaru muke gw, bosku? Apa wajah gw emang tampan ye, makanya banyak yang naksir. Ga cuma cewe aja, tapi juga soket," ujar Sakri, terkekeh.

"Bidji! Tadi ada soket nawarin bakso lewat jendela kamar kost gw. Itu pan lantai tiga. Pake tangga lipat aja ga mungkin. Apalagi, suasana gerimis. Anjir, gw merinding."

"Tidur di pos aje bosku. Atau musala. Ntar subuh balik."

"Ogah dah. Barang-barang gw masih di kamar. Gw lebih takut kalo ilang laptop, ps, dan lain-lain. Ya udah, kang Sak, ini gw cabut ya. Sorry ganggu lo tidur. Pak dan abang-abang sekalian, kita cabut dulu ya. Terima kasih, semua."

"Tiati bro. Kalo ada apa-apa teriak aja."

"Siap."

Dirga memberi kode kepada kami untuk balik. Nah, di antara gw, Irawan, dan Tuti pun dilanda kebimbangan.

Tapi, ya mau ga mau, gw mesti ngikut tuan rumah. Gw ga bisa ninggalin Dirga sendirian dalam kondisi seperti ini.

"Ga serius, kita balik ke kamar lo?" kata Irawan sambil menepuk pundak Dirga.

"Ya, gimana lagi Ir. Gw harus balik. Kamar tadi lupa dikunci."

"Yaudah Ir, kita balik lagi temenin. Kalo kita tinggal, ntar dia kencing di celana lagi saking takut dan ga bisa tidur nunggu subuh."

"Yaelah, Ga... Ga... Lulusan pesantren masa, sieun kanu jurig. Ngerakeun wae maneh mah."

"Eh, pok... Bukannya lo yang kabur paling duluan. Malah, gw terakhir," gw, menimpali sambil tertawa ngakak.

"Kaget Ka. Aseli. Tapi, ya udah lah. Lagian kan, soket mah teu bisa nelen kita ka. Lamun begal tah, baru ngeri," Tuti, menjawab.

"Kali ini aman. Mungkin, tadi perkenalan doang penghuni gedung ini sama kalian. Pan, kecuali Eka yang sering ke sini, pok Tuti sama Irawan baru."

"Anjir, ogah dah kalo sering-sering. Pertama kali aja kayak gini," Irawan, menepok jidat.

"Aduh... Sakit pok." 

Plak... Pok Tuti menambahkan lewat tangan kanannya ke kening Irawan.

"Kaga, Ir. Cuma mastiin doang. Siapa tahu, lo gw tepok malah tangan gw tembus. Kalo lo teriak sakit berarti lo beneran manusia."

"Ha... Ha... Ha... Kurang kenceng, pok."

"Gw juga pengen ngetes lo Ir."

"Eh goblok. Udah... Udah... Geblek lo pada."

"Ha ha ha."

*     *     *

SALING bully di antara kami memang sudah biasa. Tak terkecuali, pok Tuti yang jadi bahan ledekan gw, Irawan, dan Dirga.

Hebatnya, wanita asal Sukabumi itu selalu punya cara buat menangkis serangan kami. Alhasil, gantian malah gw, Irawan, dan Dirga, jadi bahan ledekan.

"Pok, ada yang aneh deh," Irawan menghentikan langkahnya saat kami baru mencapai lantai tiga usai bersusah payah jalan kaki dari pos hansip hingga naik tangga.

"Kenape lagi Ir? Lo liat yang aneh-aneh di bawah atau tangga?" ucap Dirga.

"Kaga. Cuma gw merasa janggal."

"Mulai deh drama."

"Gw hitung sampe 100 ah, siap-siap kabur."

"Si goblok pada bercanda. Serius nih."

"Ada ape? Cepet jalan, gw mau liat kamar gw."

"Iya ih, rempong nih bocah."

"Lo ada yang nyolek?"

Irawan menunjuk ke sampingnya. Kamar kost nomor 303 yang berada di sisi tangga dengan tertutup rapat dan digembok. 

"Ga ada apa-apa. AC, tv, dan lampu mati," Irawan menempelkan telinganya ke daun pintu.

"Lah, pan gw bilang apa. Dari gw dateng tadi digembok di luar."

"Lo yakin, Ka?"

"Lah, ini buktinya. Di depan keset ga ada sepatu. Beda sama kamar yang lain."

"Pok, tadi kita lewat sini ada sejoli kan di dalam?"

"Iye. Gw sekilas liat pas lewat. Pan lo yang berenti sambil ngintip."

"Nah... Jangan-jangan."

"Udah... Kamar ini tadi ada orang. Temen gw. Tapi udah pergi. Yuk ah, masuk kamar. Lanjut maen PS," tutur Dirga, diplomatis.

Kami pun kembali masuk ke kamarnya. Tidak ada yang aneh. 

Gw iseng melongok ke luar jendela juga ga ada apa-apa. Hujan sudah reda. 

Saking penasaran, gw sorot pake senter Hp, ga ada penampakan atau bayangan soket yang menyerupai kang Sakri. 

Gw pun lega. Biar kata nyali gw gede, tapi bisa jantungan juga kalo tiba-tiba dijogrokin soket...

"Ir, jangan ditutup. Buka aja."

"Lah, kalo ada yang masuk tiba-tiba, gimana Ga?"

"Si oneng. Justru kalo ditutup kita susah lari jika ada yang dateng dari jendela."

"Aman. Hujan udah reda. Gw cek ga ada apa-apa di luar sini."

Kami pun melanjutkan permainan. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada seperminuman teh tadi.

Giliran gw gantiin Dirga yang timnya udah keok untuk meladeni Irawan. Sementara, pok Tuti asyik pasang headset menonton drakor dengan memanfaatkan wifi gretongan.  

"Jadi begini ye, Pok, Ka, Ir..." Tiba-tiba, Dirga memecah keheningan.

"Nape, Ga?" Pok Tuti langsung mencabut headset untuk menyimak.

Begitu juga dengan gw dan Irawan yang segera meletakkan stik.

"Udah lo berdua lanjut aja. Dengerin gw sambil main ps aja. Pan final. Tanggung."

"Ogah ah. Gw penasaran, Ga."

"Sama."

"Lanjut, Ga..."

Dirga tampak menarik napas dengan panjang. Gw pun tertarik untuk menyimak lebih serius bersama Irawan dan pok Tuti.

"Sebenarnya, kamar itu emang ga ada penghuni. Sama pemilik kost dikosongin. Udah lama. Jauh, sebelom gw masuk sini."

"Gw udah tahu Ga. Lo cuma..."

"Pok, jangan dipotong. Biar si Dirga jelasin."

"Iye ih, kepo banget emak-emak satu ini."

"He he he... Abis, ketebak sih. Ini mah kayak telenovela Maria Mercedes."

"Pok, rempong!"

"Jangan didengerin Ga. Lanjut. Lo cerita pake berenti sih. Bikin penasaran."

"Bentar temen-temen. Gw mau menyulut api kehidupan dulu."

"Goblok. Nyalain rokok aja gaya lo sok puitis."

"Hiperbol banget sih lo Ga."

"Kelamaan jomblo ya kayak gini nih bocah."

"..."

"Iye, gw boongin lo pade. Aslinya emang bener kata si Eka. Kamar itu digembok dari luar," kata Dirga sambil meniup asap rokok hingga membentuk beberapa bulatan.

"Bener kata si Eka. Kamar itu selalu digembok. Makanya, gw sempat heran pas lo sama pok Tuti bilang saat lewat ada penghuninya, berdua pula. Kamar itu emang hawanya beda dibanding kamar lainnya di kostan ini. Tapi, gw kan udah tiap hari. Jadi, dah khatam. Ya, selama ga ngeganggu gw, ya gw tutup mata. Tahu, tapi pura-pura ga tahu aktivitas di kamar itu yang kadang bunyi berisik, desahan, hingga kayak cecer pecah.

Nah, kalo yang penampakan Kang Sakri, itu baru gw alamin selama ngekost di sini. Emang sih, ga aneh. Gw di pondok udah pernah ketemu hal-hal ghaib seperti itu. Bahkan, jadi santapan sehari-hari. Yah, namanya juga mondok di pedesaan yang terletak di lereng gunung. Apalagi, jika mandi tengah malam di sungai atau mencari kayu bakar, pasti ada aja yang ngikutin. Minimal, liat dari kejauhan. Auranya beda. Hanya, kami lebih takut sama guru kami ketimbang makhluk halus."

"Beranian lo Ga. Kalo gw mah udah pindah kost kalo harus lewatin kamar itu," potong pok Tuti yang ga tahan untuk buka suara.

"Ya, gimana pok. Namanya, dibiayain kantor. Apalagi, kostan ini kan ga jauh sama tempat kerja gw di seberang jalan."

"Enak juga sih kalo nempatin gratis mah. Gw juga mau."

"Emang lo berani Ir?"

"Sendirian ogah gw Ka. Tapi, kan enak, di sini bening-bening. Ha ha ha."

"Bukan bening lagi, tapi tembus pandang malah. He he he."

"Si bego. Mistis terus."

"Eh gw lanjut cerita nih..."

"Yaudah, terusin. Pok, jangan dipotong lagi."

"Iya bawel."

"Jadi, terkait kamar 303. Awalnya, biasa aja. Hanya, sejak beberapa tahun lalu sengaja ditutup. Konon..."

*     *     *

SEPEMBAKARAN hio sudah lewat di antara diskusi yang melibatkan kami. Serius, mengingat agak menyerempet. Tepatnya, ke arah sensitif. 

Namun, seperti biasa, diskusi ini tetap diiringi guyonan. Ya, susah kalo gw, Irawan, dan pok Tuti udah kumpul. Kita-kita emang genk lenong alias ga jelas. 

Meski kami udah kepala tiga, tapi lagak dan lagunya kalo udah kumpul bisa kayak bocah. Ditambah, Dirga yang aslinya flamboyan dan cool, tapi akibat bergaul dengan kami jadi makin slebor.

"Oke. Kita tarik konklusi mengingat rembulan sudah condong ke barat," Tuti buka suara. 

Ya. Gw, Irawan, dan Dirga mafhum. Malam kian larut. Saatnya kami balik. Apalagi, Tuti dan Irawan sama-sama udah ditunggu bocah di rumah. 

"Deal ya," ujar Irawan.

"Risiko ditanggung penumpang," Dirga, menyeletuk."

"Menyimak..." kata gw.

"Jangan takut kalo nakal. Jangan nakal kalo takut," ucap Tuti, optimistis.

Ya. Kami sudah menarik kesimpulan terkait rencana sesuatu untuk kamar 303 yang berkolerasi dengan kemunculan mirip kang Sakri: Sepakat untuk tidak sepakat.

Dirga dan Tuti pro. Pada saat yang sama, gw dan Irawan, kontra.

Angin dingin meniup secara perlahan. Gw, Irawan, dan Tuti pun pamit diiringi Dirga hingga parkiran motor.

Tidak ada yang aneh saat kami melewati kamar 303. Pun ketika melangkah setindak demi setindak melintasi anak tangga.

Setidaknya, untuk saat ini.***

*      *      *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part V: Di Suatu Desa dengan Penumpang Random
- Part VII: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part VIII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part IX: Debt Collector Juga Manusia
- Part X: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
- Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 31 Oktober 2021

Rabu, 20 Oktober 2021

Di Suatu Desa dengan Penumpang Random

Catatan Harian Ojol V

Di Suatu Desa dengan Penumpang Random

Ilustrasi @roelly87


KORONAVIRUS kembali meningkat di berbagai wilayah di Tanah Air sepanjang Juni-Juli ini. Meledaknya Covid-19 membuat beberapa daerah harus melakukan pembatasan aktivitas. Termasuk, di DKI Jakarta yang berlaku 14 hari terhitung sejak 21 Juni hingga 5 Juli yang berlanjut dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 3-20 Juli mendatang.

Belasan titik keramaian pun dipangkas mulai pukul 21.00 WIB sampai subuh. Misalnya, kawasan yang gw kerap kunjungi sebagai ojek online (ojol) yang terbiasa ngalong alias beroperasi sore hingga pagi. Itu meliputi Asia Afrika, Melawai, Kemang, Sabang, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK).

Memang, pembatasan ini sangat berpengaruh dalam hal orderan. Namun, wajar mengingat ini merupakan upaya pemerintah, baik pusat maupun daerah demi menekan laju meledaknya Koronavirus.

Gw juga sangat bersyukur karena pembatasan ini ada pengecualian bagi ojol. Dengan syarat, ada orderan baik penumpang, beli makanan, atau kirim barang.

Pun demikian dengan warga sekitar lokasi pembatasan yang masih bisa lewat. Gw berharap, upaya ini bisa efektif. Tentu, diiringi dengan disiplin masyarakat, salah satunya selalu pakai masker jika di luar rumah.

Plok...

Bunyi tepokan telapak tangan gw dengan nyamuk membuyarkan lamunan gw. Ya, kebetulan gw habis nganter makanan di salah satu perumahan elite di Kemang. 

Mau kembali ke basecamp yang terletak di Barat Laut ibu kota, sepertinya males. Maklum, kalo balik narik terus kosong, rasanya percuma. 

Hanya habisin bensin. Makanya, gw pengen cari orderan yang searah pulang. Setidaknya, ke daerah barat atau pusat. 

Mumpung, masih tergolong sore. Waktu di hp gw menunjukkan 00.15 WIB. Biasanya, jam segini di Kemang rame dengan orderan. 

Apalagi, sebelum pandemi, aplikasi ojol gw sering merah pertanda banyak tawaran untuk anter makanan atau penumpang. Maklum, lokasinya memang strategis di kelilingi restoran, kafe, pasar, pusat perbelanjaan, hingga apartemen.

Ketika asyik menyeruput kopi hitam yang dibeli di starling dengan harga murah meriah, Rp 3.000 per gelas, ditemani udut, tampak kilau cahaya mendatangi. Wow...

Supercar asal negeri piza berhenti di trotoar. Warnanya, merah mencolok dengan emblem khas. Yaitu, mirip dengan logo jadul klub favorit gw, Juventus, yang kini sudah berganti dengan "J".

Njir... Ini mobil teope begete. 

Made in Italy.

Supercar.

Harga pasti Em-eman.

Atap bisa dilipat.

Yang pasti, pemiliknya kalo bukan orang kaya ya orang kaya banget. Kelas sultan lah.

Tapi, penilaian itu sementara gw pending. Sebab, sosok yang mendatangi gw justru terkesan 'b aja'.

"Mas, bisa minta tolong ga?" ujar wanita yang turun dari supercar tersebut. 

Menariknya, pakaian yang dipakai biasa saja. Mengenakan kaos berlogo imut hello kitty dengan paduan hijau, celana jin biru yang robek di lutut, tas gemblok hijau, dan sneaker putih-hitam. Andai ada warna kuning, udah kayak pelangi aja nih outfit-nya. 

"Iya kak?"

"Mas, bantuin gw cari makanan yang unik dong."

"Maksudnya?"

"Gw laper. Lagi bosen menu di rumah. Mau cari yang unik."

"Lah, itu di ujung ada resto cepat saji. Di pinggir jalan ada masakan serba digoreng, sate, dan sebagainya."

"Duh, bosen gw. Udah seminggu makanan itu-itu aja sejak pembatasan."

"Ya udah, pake aplikasi ojek online aja. Untuk beberapa resto, ada yang buka 24 jam meski pembatasan seperti ini."

"Males. Jauh-jauh. Sampe rumah gw biasanya udah dingin. Gw pengen cari yang anget. Enakan makan di tempat."

"Yaelah, lagi pembatasan begini jarang ada yang nyediain makan di tempat. Mayoritas bawa pulang atau lewat aplikasi ojol."

"Kelamaan. Lo lagi ngapain mas?"

"Tidur."

"Yeeeee. Dia tuh ditanya beneran."

"Lah serius."

"Ga ngojol?"

"Lah ini gw lagi ngojol. Ga lihat jaket, helm, sama aplikasi ini lagi nyala," jawab gw memperlihatkan layar hp tanda aplikasi ojol sedang on.

"Tuh kan, dodol! Ditanya ngapain jawab tidur. Tapi tadi bilang lagi ngojol."

"Ya abis, masa lo ga liat gw lagi nunggu orderan. Mau ngojek?"

"Kaga. Gw mau syuting!" 

Wanita itu pun tampak bersungut-sungut. Meski sedang cemberut, gayanya tetap menarik.

"Ya udah kak, lanjut syuting. Ttdj ya," pungkas gw sambil kembali menatap layar hp terkait Euro 2020. 

Kebetulan, gw memang lagi nyari info mengenai Piala Eropa yang sudah memasuki fase knock-out. Maklum, tahun ini gw belum pernah sekalipun menyaksikan siarannya. 

Salah satu faktornya akibat pandemi yang meniadakan nonton bareng (nonbar). Biasanya, kalo ada Euro atau Piala Dunia, gw sangat antusias. 

Namun, entah kenapa untuk edisi sekarang jadi kurang bergairah. Kali terakhir gw nonton bola secara full pada 10 Maret lalu. Tepatnya, saat Juventus tersingkir dari 16 besar Liga Champions 2020/21. 

Setelah itu, paling hanya baca-baca berita. Termasuk, ketika final yang mempertemukan dua wakil Liga Primer yang hasilnya sekadar gw intip dari berita online.

"Yaelah, pan tadi gw nanya lagi ngojol ga? Kalo iya, gw mau order nih," suara dari balik kemudi tersebut melanjutkan.

"Lah, masih di sini. Gw pikir udah jalan?"

"Duh, ini orang rempong."

"Iye.. Iye... Mau order apa?" jawab gw tersenyum sembari menghampiri.

Njir... Mobilnya gila banget. Buatan Negeri Piza memang luar biasa. Seketika, gw ingat dua film bertema balapan. Yaitu, Legend of Speed yang dibintangi aktor Hong Kong favorit gw, Ekin Cheng, dan Ford vs Ferrari.

"Bantuin gw cari makanan yang unik bang."

"Boleh. Di mana?"

"Terserah."

"Ebuset. Gw paling ngeri kalo denger jawaban terserah darj kaum hawa. Soalnya, ambigu banget. Ntar gw tunjukin A, lo maunya Z."

"Ga. Swear!

"Ok... Gw pandu dari depan. Lo bawa mobil jangan ngebut ya. Ikutin motor gw."

"Siap, komandan!"

Wanita itu pun menyalakan mesin mobilnya. Supercar memang beda. Suaranya ngebas banget, tapi terdengar merdu.

"Eh gini aja deh mas. Daripada ribet, mending motor lo taroh, terus lo ikut gw di samping."

"Malem gini parkir di mana? Mal depan? Rugi. Per jamnya dua ribu. Kalo flat sih oke."

"Lo taroh di garasi gw aja. Aman. Ada securitynya. CCTV 24 jam. Rumah gw arah jam empat dari sini."

"Serius naroh tempat lo?"

"Beneran. Aman 100 persen. Gw jamin."

"Dih... Ogah banget. Mending gw taroh depan mal."

"Yaudah terserah. Cepat ya. Gw tunggu sini. Sama ini, untuk biaya parkir."

"Banyak amat? Ga apa-apa nih?"

"Ga. Ya udah gw tunggu."

"Ok, bentar ya."

Gw pun menerima dua lembar merah. Njir, mayan banget. Ini sama aja gw ngojol dua hari. Apalagi, parkir motor tergolong murah, Rp 2.000 per jam. Kalo tiga jam aja paling enam ribu. Mentok ceban. Masih ada sisa banyak.

Terkait penolakan naroh motor di tempat tuh cewek seperti yang ditawarkan, tentu ada alasannya. Gw selalu hati-hati jika menyangkut hal penting. Maklum, motor merupakan nyawa kedua gw, yang utama di jalan.

Gw enggan gegabah dengan menitipkan ke orang yang tidak dikenal. Sekalipun, ini cewek yang memang tajir dan siap menjamin keamanannya.

Namun, siapa yang tahu jika di belakang ada udang di balik bakwan. Salah satunya terkait konspirasi. Misalnya, ternyata dia bagian dari sindikat, mafia, c3pu, hingga gangster.

Bisa mampus gw. 

Kebetulan, gw memang ga pernah percaya sama orang. Apalagi yang baru kenal. Bisa dipahami mengingat kali terakhir gw percaya penuh, gw nyaris kehilangan segalanya.

*       *       *

"LAMA amat mas. Sampe ngantuk gw nunggu. Hampir aja gw tinggal," tutur si cewek memberondong saat gw menghampiri.

"Yaelah, kan harus nyari spot strategis. Maklum, parkiran umum," jawab gw yang langsung terhenti depan mobilnya.

"Ngapain lo bengong? Ayo masuk."

"Lewat mana?"

"Yaelah, tinggal buka pintu aja. Nih. Gini. Manja banget sih."

"He he he. Maklum, gw norak. Seumur-umur belom pernah duduk di mobil sultan kayak gini. Liat di jalan aja jarang."

"Biasa aja. Ntar lama-lama juga udah ga aneh."

Untuk kali pertama dalam lebih dari seperempat abad bernafas di kolong langit, gw merasakan sensasi empuk supercar. 

Emang sih, gw sering liat di internet, baik ig, fb, atau youtube. Namun, untuk duduk, bahkan di samping bidadari lagi, ini kali perdana. 

Kalo ga salah, mobil paling mewah yang pernah gw tumpangin juga dari Eropa. Tepatnya, Peugeot 404. 

Anjrit. Itu aja udah keren. Tapi, ini puluhan kali lebih wah...

"Eh, ini atapnya ga ditutup? Musim hujan lo..."

"Ah eh ah eh... Gw punya nama, keleus."

"Oh iya ya... Sorry. Gw Ekalaya," gw menjulurkan tangan tanda kenalan. Ha ha ha, mirip salken di basecamp dengan sesama ojol.

"Raden Ayu Dyah Sita. Biasa dipanggil Sita."

"Panjang amat tuh nama. Rempong kalo bikin paspor apalagi pas ngajuin visa."

"Romo gw yang kasih dari lahir."

"Lo keturunan darah biru ya? Roman-romannya ada garis dari kesultanan di Jawa. Surakarta atau Yogyakarta?"

"Woi... Nanya terus. Ini ga jalan-jalan kitanya. Ayo, mau kemana?"

"Yaelah. Pan lo yang mau nyari makan."

"Pengetahuan gw soal area kuliner terbatas di Kemang, PangPol, Fatmawati, sama Blok M, doang. Lo kan ojol. Pasti, tahu lebih."

"Lah, apalagi gw. Biasa makan warteg."

"Aduh... Yaudah, kita jalan dulu. Bisa stress gw ngadepin lo."

"Biasa aje kale. Bibirnya diomonyongin gitu. Sexy kagak, buluk mah iye."

Sita pun tertawa mendengar celotehan gw.

"Tapi, tetep cakep kan," ujarnya sambil tangan kirinya mengusap rambut belakang yang tergerai.

"Iye aja. Biar cepet."

"Ha ha ha."

Aneh memang makhluk yang disebut wanita ini. Dalam sekejap bisa berubah tergantung mood. Tadi awalnya cemberut, kini malah ngakak.

"Ini kita lewat mana? Bangka atau Antasari?" Sita bertanya ketika kami berada di pertigaan Kemang Raya-Kemang 1.

"Antasari aja. Ntar kita ke Blok M, Melawai, sampe Mayestik. Mentok-mentok ya ke Patal Senayan, banyak sate taichan."

"Wah boleh tuh Ka. Udah lama gw ga makan di tempat panas-panas. Kalo beli online, nyampe rumah gw biasanya udah dingin."

"Siap tuan ratu. Ntar gw nemenin lo sambil jagain mobil lo."

"Makan aja bareng gw."

"Ogah ah."

"Serius. Gw bayarin."

"Gw ga begitu doyan. Di antara jenis sate, urutan pertama Madura, Padang, Kambing, baru deh taichan. Itu pun kalo terpaksa ga ada pilihan."

"Yeee... Dodol. Kalo lo ga mau makan, ngapa ngajakin gw ke Patal.

*       *       *

DINI hari WIB begini, jalanan ibu kota cenderung lenggang. Apalagi, ada pembatasan seperti ini. Kecuali, malam Sabtu dan Minggu, tetap ramai. 

Maklum, dua malam itu, para bocil dan alay bergerilya. Baik konvoi, pamer knalpot bising, hingga balap liar yang sangat gw benci hingga tulang sumsum.

Gw pribadi punya pantangan tak tertulis bersama rekan-rekan ojol di basecamp atau kenalan di jalan. Yaitu, ogah menolong jika ada pengendara yang kecelakaan akibat sok ngebut, balap liar, dan knalpot bising.

Beberapa kali gw menyaksikan seperti itu. Namun, gw bergeming. 

Ogah membantu. Lebih baik cabut.

Secara, membantu mereka sama kayak nolong anjing kejepit. Usai ditolong malah menggigit. 

Itu yang gw alamin saat memapah korban di Cilandak.

Dulu...

"Woi... ngelamun."

Sontak, gw menoleh ketika bahu gw dicolek disertai adanya suara merdu.

"Kaga. Ngantuk aje. Lagian malem gini atap lo buka. Semilir angin bikin ngantuk."

"Ini di Semanggi. Kita mau kemana?"

"Ebuset... Cepet bener."

"Lo bengong aja sih. Gw jadi ngomong sendiri dari tadi."

"Lo ga jadi ke Patal, Sit? Katanya mau makan taichan? Ini udah lewat."

"Ogah makan sendiri. Lo cariin dah, kita makan bareng."

"Warteg mau?"

"Gw sering makan gituan. Tapi kali ini, no! Gw pengen makanan yang unik."

"Warteg Warmo di Tebet sama Gang Mangga di Glodok, juga unik."

"Please, Lay. Gw ga anti sama warteg. Ge juga ga gengsi makan di warteg karena sering. Tapi, seperti gw bilang tadi. Malam ini gw mau cari masakan yang unik. Titik!"

"Lay? Siapa?"

"Lo, Lay. Ekalaya."

"Ebuset... Gw biasa dipanggil Eka dari kecil. Baru kali ini ada yang nyebut Lay. Ga sekalian Lay... Lay... Lay... panggil aku si Jabrik."

"Yaudah deh. Apa aja. Banyak intermezzo dah lo."

"Ha ha ha. Lo ngomel hidung makin kembang kempis!"

Sita hanya cemberut sambil menaikkan alisnya saat menanggapi ledekan gw. Asli, ngeliat mukanya yang memerah kayak kepiting rebus bikin gw ngakak.

Seketika gw jadi membandingkannya dengan Dresnala dan Dewi. Mereka bertiga memang beda satu sama lain. 

Namun, punya kemiripan. Yaitu, sama-sama wanita!

Duh, error gw nih.

"Selain lo, berapa orang yang punya Portofino di Indonesia?" gw bertanya untuk memecah kecanggungan Sita. 

"Tau!"

"Kali, lo tahu gitu Sit..."

"Emang gw dealer!"

Njir, kumat nih cewek. Paling males gw ngadepin situasi seperti ini. 

Meski, kadang demen juga sih. Secara, bikin gw tertantang untuk menaklukkannya!

Maksud gw, bikin dia kembali ceria. Minimal, ga badmood lagi.

"Setahu gw nih. Bukan sotoy ya... Tapi, Portofino emang jarang mengaspal di Jakarta."

"Mobil ini ga semahal yang lo kira, kali."

"Ga mahal. Tapi juga ga semua orang tajir mampu beli. Selain harga OTR, juga harus dihitung pajak tahunan, sparepart, asuransi, dan lain-lain."

"Kayaknya, lo tahu banyak soal mobil."

"Ya, nggak lah. Kebetulan aja."

"Lo penggemar sportcar?"

"Ebuset, gw aje ngojek pake motor matic yang belinya kredit."

"Ya, emang beli mobil kayak gini harus cash? Ngga lah. Banyak juga yang nyicil," Sita, mulai tersenyum.

"Ini gw sotoy ya. Jangan lo anggap serius. Prediksi gw, kali ya. Harus ada 5-6 em buat nebus Portofino seri terbaru."

"Yupz... Ini punya Romo gw. Kebetulan, beliau memang kolektor. Kalo punya gw mah cukup Livina. Itu gw beli hasil keringat sendiri dari kerjaan banting tulang hingga keluar air mata, keringat, dan darah. Ha ha ha."

"Lo penggemar Nissan ya, Sit? Jarang ada cewek pake tuh mobil buat sehari-hari. Biasa, Jazz, Agya, atau Ayla, dan sebagainya."

"Ga juga sih. Tapi di rumah, ada Infiniti dan Navara. Romo gw suka tuh merek. Meski, ga fanatik juga. Ada Mini sama Audi buat beliau sehari-hari."

"Wow... Cadas."

"Lo sendiri hobi otomotif?"

"Nonton balapan, F1 dan MotoGP di tv, iya. Kalo sehari-hari cuma ada Vario aja. Mobil belom."

"Ya, optimistis ke depannya lo bisa barengan gw di jalan dengan roda empat. Punya mobil impian?"

"Banyak. Eh lo ngapain berenti di sini. Ntar diusir satpol pp," gw coba cegah Sita yang meminggirkan kendaraan di seberang Tugu Selamat Datang."

"Udah malem. Kali aja ga ada razia. Gw ngerokok bentar. Asem," Sita membuka pintu sambil nyender menghadap air mancur.

Tampak, hanya 1-2 kendaraan yang lewat. Starling juga tumben ga lalu-lalang.

*       *       *

"NONGKI di pinggir pantai kayaknya enak. Ka, cari resto yang ada bakar-bakaran di utara yuk?" Sita menoleh ke gw usai menaruh hapenya ke saku.

"Di mana? Ancol? Pan tutup, ada pembatasan."

"Yang buka di mana? Mumpung masih jam 12an. Cuaca juga cerah."

"Kalo bakaran yang segar sih di Muara Angke. Itu berbagai macam tangkapan, kayak ikan, kepiting, udang, deelel banyak.

"Ogah ah. Amis. Gw sering ke sana. Apalagi repot parkirnya kalo bawa mobil."

"Yeee, di mane lagi."

"PIK aja."

"Emang buka?"

"Coba dulu, keleus."

"Ya udah, pan gw cuma nemenin."

"Ok, kita cuss."

Sita pun melajukan mobilnya ke arah utara. Di sisi jalan tampak banyak galian terkait pembangunan MRT Fase 2. Ya, meski ada pembatasan akibat pandemi, proyek nasional yang menghubungkan Tugu Selamat Datang hingga Stasiun Kota, harus tetap jalan.

Tak lama usai sering berpapasan dengan berbagai truk, kami sampai di kawasan elite di utara ibu kota.

"Lah, disuruh putar balik nih Ka. Ga bisa ke jembatan," ucap Sita.

"Ya gimana lagi, pan sedang pembatasan. Terpaksa kita balik."

"Duh, tanggung banget. Nyari makanan dari selatan ke sini, kalo ga dapat sama sekali."

"Resto 24 jam ada beberapa di sini, Sit. Cuma, ga tahu sesuai selera lo apa nggak."

"Lo tahu?""

"Ya iyalah. Pan gw ojol. Sering ngebid di sini. Hanya, menunya ya gitu. Mayoritas masakan cepat saji atau digoreng."

"Ga apa-apa deh. Daripada balik ke Kemang tanpa hasil. Lagian, gw juga udah laper banget.

Gw pun ketok jidat menyaksikan ulah salah satu makhluk Tuhan paling seksi ini...

*       *       *

LALU lalang kendaraan benar-benar memekakkan telinga. Meski ini sedang pembatasan dan pada beberapa titik terdapat penyekatan yang dilakukan aparat gabungan, tidak menyurutkan keinginan warga untuk bepergian.

Termasuk, dengan kendaraan roda empat yang hilir-mudik di kawasan elite ini. Mulai dari supercar hingga mobil antik tampak wara-wiri di jalanan yang sejatinya tidak mulus amat. 

Bahkan, cenderung bergelombang. Ya, kalau tidak ingin disebut bopeng sana-sini. Kontras dengan imej elite pada kawasan yang terkenal tersebut.

Saat asyik menoleh ke teras, gw kaget karena di hadapan gw terdengar suara. Bukan dari ucapan Sita, melainkan tangan kirinya yang mengadukan sumpit dengan piring. 

Yee, gw lupa. Doi ternyata kidal. Pantas apa-apa megang dengan tangan kiri. 

Ga semua sih yang gw perhatiin, tapi mayoritas. Termasuk saat mengemudikan mobilnya. 

Setahu gw orang kidal punya ciri khas tersendiri. Contohnya, Kurt Cobain dan Lionel Messi.

"Woi... Ka."

"Iye, bawel ih."

"Jadi begini, Ka. Gw pengen cerita sesuatu sama lo. Gw harap, lo bisa jadi pendengar yang baik."

"Siap." Sambil tersenyum, gw menjawab dengan kalimat template khas ojol terhadap customer.

"Gw serius Ka. Sangat serius."

"Iye, Sita. Gw kan ga nyelak omongan lo. Gw cuma bilang siap."

"Hmm..."

"Silakan, lanjut."

"Gw ga peduli kalo lo mau ngasih saran, pendapat, nasihat, atau pertimbangan ke gw soal cerita ini. Yang pasti, gw butuh sosok yang mau mendengar unek-unek gw selama ini."

Sita memainkan sumpit di tangan kirinya sambil memilin mie. Di sampingnya tampak pramusaji menuangkan cocktail ke gelasnya yang sejak awal sudah tandas.

Gw sekadar melihat di meja. Kembali melanjutkan pandangan ke arah Sita dengan khusyuk.

"Jadi begini. Lo kan tahu, status gw anak tunggal. Single. Usia udah lebih 20 pula. Nah, Romo gw udah siapin..."***

*      *      *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part VI: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part VII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VIII: Debt Collector Juga Manusia
- Part IX: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
- Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 13 Juli 2021 (Edited 20/10)

Rabu, 30 Juni 2021

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung


KHUSUS DEWASA! (Usia, Pikiran, dan Pemahaman)



Catatan Harian Ojol IV:

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung

Ilustrasi Tugu Selamat Datang
(Foto: @roelly87)


HANYA lebaran yang mampu mengatasi kemacetan di ibu kota. Demikian, celotehan di berbagai media sosial bernada sarkas yang selalu muncul setiap tahun. Tidak peduli siapa pun gubernurnya atau apa kebijakannya, mudik jadi momentum yang membuat mayoritas jalan di Jakarta jadi lenggang.

Termasuk, saat ini pada H+2 Idul Fitri. Sejak Kebagusan, Jakarta Selatan, hingga memasuki Sudirman, tampak suasana sangat sepi. 

Padahal, masih tergolong sore, tepatnya pukul 22.00 WIB. Namun, sepanjang jalan yang gw lewati hanya berpapasan satu atau dua kendaraan.

Itu yang gw rasakan usai menemani Dewi yang berlebaran ke keluarga, kerabat, dan teman-temannya sejak pagi. Alhasil, gw pun ogah untuk ngojol setelah mengantarkannya ke kostan di Tanjung Duren.

Sempat gw lihat di aplikasi, merah semua. Alias, orderan melimpah untuk food dan penumpang. Hanya, gw ga antusias mengingat badan pegal-pegal akibat seharian keliling dengan Dewi di motor.

Pengen banget, sampe rumah selonjoran dan tidur. Besok siang, baru ngojol lagi. 

Pun demikian dengan ajakan Irawan yang ingin berlebaran ke rumah gw bersama Setyawati, istri dan anaknya. Gw chat di WA bahwa gw baru balik dari Selatan.

Gw memang lumayan dekat dengan pasangan muda tersebut. Sempat jadi rival saat berseragam putih abu-abu, Irawan kini jadi salah satu sohib gw.

Demikian dengan Setya yang dulu satu angkatan. Bahkan, sama-sama di kelas satu dan dua. Saat kelas tiga, baru beda. Gw masuk IPS dan Setya IPA.

Secara tidak langsung, gw juga yang menjodohkan mereka. Anjir, udah kayak mak comblang.

Berawal dari pertemuan di puncak Mahameru, dua windu silam. Gw bareng teman-teman kerja mengisi liburan. 

Sementara, Irawan bersama anak-anak kampusnya di bilangan Grogol. Setya? Memang sejak SMA dikenal pencinta alam yang pas masuk UI jadi anggota Mapala.

Karena sudah setahun ga ketemu sejak lulus 2004, gw pun barengan dengan Setyawati. Sebelumnya, saat sekolah memang lumayan akrab. 

Setya salah satu gadis pujaan. Cantik, pintar, dan ramah. Meski, gw sama sekali ga tertarik dengannya. Kecuali saat nyontek untuk mengerjakan PR atau ujian caturwulan. 

Maklum, status sebagai salah satu SMA elite di jantung ibu kota membuat sekolah gw dihuni banyak bidadari. Termasuk, jadian dengan Btari Dremi, salah satu sohib Setya.

Di puncak tertinggi Jawa itu, gw ga tahu kalo Irawan ternyata sangat memperhatikan Setya. Itu diketahui enam tahun berselang saat gw ada event dengannya.

Ternyata, Irawan masih kepo dengan Setya. Sampai mancing-mancing dengan nanya secara langsung hubungan gw dengan Setya.

Tentu, gw jawab sebatas teman. Ga lebih.

Bahkan, gw beritahu bahwa Setya dalam posisi jomblo usai baru putus dengan teman kuliahnya. Itu yang membuat Irawan kian bersemangat untuk meminta pin.

Gw yang seumur-umur ga pake bb akhirnya hanya memberi nomor ponsel Setya. Sambil gw kasih pencerahan, cara menangkap ular itu dengan memegang kepalanya, bukan badan atau ekor.

Alias, Irawan wajib bisa menaklukkan hati orangtua Setya. Maklum, bokapnya Setya yang masih keturunan Yaman merupakan diplomat. Sedangkan nyokapnya Sunda tulen, asal Sukabumi.

Sepengetahuan gw, setiap cowo yang ingin mendekati Setya harus khatam Al Quran. Alias, wajib bisa ngaji. Syukur-syukur jebolan pesantren. Itu aturan tak tertulis di keluarga Setya sejak SMA.

Lah, Irawan meski asli Betawi, Condet, boro-boro bisa khatam. Ngaji di juz ama aja masih belepotan. Ya, 11-12 dengan gw sih. Bedanya, gw bisa baca Quran meski sekadar baru bisa baca. Alias, jika menghafal di luar kepala hingga 30 juz, jelas gw nyerah.

Yang menarik, setelah setahun berjuang mati-matian mendekati orangtua Setya dan belajar ngaji, akhirnya Irawan berhasil. Mereka jadian tiga tahun dengan mengucap janji jelang final Piala Dunia 2014.

*        *        *

Mimpi pun aku tak ingin jauh darimu

Apa lagi kalau sampai berpisah

Selama-lamanya ku ingin dekat denganmu

Aku ingin miliki dirimu


Anjir... Malem begini ada pengamen yang bawain lagu jadul!

Gw ingat, ini tembang khas Desy Ratnasari yang timeless meski populer pada 1990-an. Ga nyangka juga, pengamen wanita remaja ini mampu membawakannya secara epik.

Sekaligus, mengingatkan gw pada pertemuan barusan dengan Dewi yang sampe seharian. Karena lagunya relate dengan situasi terkini, tanpa ragu gw merogoh selembar 10 ribu kepada pengamen di lampu merah Grogol ini.

Di perjalanan, lirik yang populer pada dekade 1990-an itu seperti nyemen di kepala gw. Kebetulan, jalanan agak lenggang karena masih suasana lebaran. Jadi, gw ga mokal saat bersenandung dari atas matic.

"Tolong... Tolong..."

Sayup-sayup terdengar teriakan di belakang gw saat melewati jalan yang menghubungkan ibu kota dengan Tangerang. Tepatnya, di pinggir sungai yang berjarak sekitar belasan meter.

Feeling gw langsung ga enak. Namun, sebagai orang yang setiap hari berada di jalan membuat gw merasa harus balik mengikuti suara tersebut. Gw pun putar arah untuk menuju suara yang terdengar teriakan itu. 

Tak lupa, sambil meningkatkan kewaspadaan. Terutama, menyimak spion di kanan dan kiri untuk mengantisipasi hal tak terduga dari arah belakang. Ini gw belajar dari pengalanan Irawan yang telah bertemu dengan begal berjumlah tiga orang.

"Bang, tolongin gw. Ayo bang, berangkat," ujar wanita yang gw taksir usianya sekitar 20an ini. Dari belakangnya tampak dua pria muda. Ya, mungkin abg sedang mengejar.

"Ada apa ini kak?" tanya gw kepada wanita yang tiba-tiba sudah berada di jok. 

"Ayo bang, pergi. Gw dikejar dua bangsat itu."

"Woi, jangan kabur lo!" ujar salah satu remaja berkaos putih sambil menenteng sandal jepit.

"Lo udah gw bayar. Kontan. Jadi, jangan seenaknya cabut," sambar yang di sebelahnya yang mengenakan flanel warna merah.

"Ga mau, anjing! Emang lo pikir, gw cewek apaan," sahut si cewek yang kini sudah turun dengan jarinya menunjuk ke arah kaos putih.

Nyaris aja gw tinggal karena gw pikir cewek ini sedang berantem dengan pacar atau suami dari salah satu cowo yang mengejarnya. Jujur, gw ogah ngurusin soal pribadi. Jadi, biar mereka sendiri yang menyelesaikan urusannya.

Namun, sepertinya tangan berat untuk menarik tuas gas. Yupz, ternyata...

"Eh lonte. Lo udah gw kasih serebu. Itu lebih tinggi dari tarif yang lo pasang di aplikasi, 300 ST," teriak si putih.

"Kan perjanjiannya sendiri. Lo kenapa ngajak dua orang lagi!" sahut si cewek.

"Serebu buat bertiga itu udah ketinggian. Masih mending lo ada yang mesen. Coba lo kerja jadi karyawan, sebulan paling cuma dapat tiga rebuan atau UMR," si merah menimpali.

Mendengar percakapan ketiganya membuat gw sedikit paham. Ternyata, ga jauh-jauh dari soal BO. Sebagai ojol, khususnya kalong, gw ga asing dengan beginian. Sebab, hampir tiap hari mengantar penumpang ke hotel, baik cwk atau cwk.

"Bang, yuk cabut. Tolong anterin gw ke kostan. Bisa gila gw ngadepin kedua bocah ini," kata si cewek.

"Eh tunggu dulu. Lo anggap gw patung apa?" bentak si putih.

"Iye lonte. Lanjutin dulu yang tadi. Tanggung nih. Si Burisrawa juga nungguin di kamar. Abis itu, lo boleh cabut. Ngejablay lagi kek, bodo amat. Yang penting, lanjutin. Pan gw udah patungan mahal," si merah, menambahkan.

"Najis gw. Seumur-umur, baru kali ini digangbang bertiga," tukas si cewek sambil kembali duduk di jok belakang.

"Udah bang, jangan dengerin dua dajal ini. Masih bocah udah lelaguan."

Hanya, ketika gw mau gas, si putih segera mengadang. Bahkan, si merah langsung melayangkan bogem mentah ke arah muka gw.

Refleks gw menunduk.

Dukkk!

Demikian bunyi benturan helm gw dengan kepalan si merah. 

"Anjing lo!" umpatnya.

Langsung, gw buka tali helm untuk mengarahkan ke mukanya. 

Bletak!

Tampak, dari sela-sela hidungnya keluar kecap. Helm ojol memang lumayan kokoh. Pas banget kalo bentrok dengan muka. 

Makan situ! Lo yang mulai. 

Gw pun turun dari motor dengan standar kiri. Tak lupa, kunci gw cabut untuk jaga-jaga jika si putih niat ngebegal atau bahkan si cewek bawa kabur. 

Ya, selalu ada kemungkinan buruk. Termasuk, jika si cewek ternyata bagian dari dua remaja itu. Konspirasi.

Gw genggam kerah si merah yang kian panik akibat tangannya memegangi hidung. Tanpa ampun, gw tarik rambutnya untuk dipertemukan dengan lutut gw. Sebagai finishing, gw layangkan tangan gw ke arah dagunya seperti Ryu dengan Hadouken dalam Street Fighter.

Si merah pun tumbang. Untung perasaan gw lagi bagus berkat seharian jalan dengan Dewi. Andai suasana hati gw lagi jelek, pasti si merah gw jadiin pelampiasan!

"Bang, lo apain temen gw?" kata si putih menghampiri.

"Temen lo yang mulai. Nyerang gw duluan. Ya, gw bales."

"Tapi, lo ga tahu masalahnya. Ujug-ujug langsung mukul."

"Lah, gw daritadi diem aje. Emang gw ikut campur urusan lo pada sama nih cewek? Nggak kan!"

"Ya udah, lo jangan ikut campur bang. Gw mau bawa si Dresna ke hotel lagi."

"Tadinya gw ga mau ikut campur. Tapi, kalo udah gini, terpaksa gw turun tangan. Lagian, lo ga malu apa, bertiga ngeroyok cewe?" 

"Kan gw udah bayar dia bang. Lo tanya aja sama si Dresna. Masa, gw bohong," tutur si putih sambil memapah temannya.

"Eh goblok. Biar kata dia jablay, lo ga pantes memperlakukannya seenak jidat lo. Gila kali ya, tiga lawan satu. Lo ga mikir dia trauma digarap rame-rame."

"Resiko itu bang. Namanya juga lonte. Kalo ga mau dapat duit banyak secara singkat, ya si Dresna jangan ngejablay."

"Eh anjing, kan perjanjian cuma lo doang sendiri. Ga tahunya di kamar udah nunggu dua temen lo yang maksa," si cewek yang ternyata bernama Dresna ini memotong.

"Gila kali ya kalo ada cewek yang mau digangbang kalian bertiga. Emang, ini ***** negara! Biar jablay, gw punya harga diri."

Gw pun coba nenangin Dresna yang terisak. Apa pun profesinya, sebagai sesama manusia, gw sangat simpati. Terlebih, sikap dua bocah ini bener-bener kelewatan.

"Ya udah, cukup di sini ya. Masalah selesai. Lo bawa temen lo, gw tolongin ini cewek. Tapi, kalo lo ga terima, gw punya banyak waktu buat ngeladenin lo," ujar gw sambil menatap si putih.

Dia hanya berbalik sambil memapah si merah. "Dasar lonte. Rugi gw udah bayar mahal."

Terdengar lirih sumpah serapahnya. Namun, gw ga ambil pusing. Yang penting, gw udah berusaha nyelametin si cewek. Minimal, menganternya ke tempat rame agar tidak dikejar dua bocah lagi.

"Bang, sorry ya udah ngerepotin lo. Kenalin, gw Dresnala Maharani," ujar si cewek sambil mengulurkan tangan.

"Ekalaya."

"Bang, tolong anter ke kostan Suryaloka, di Setiabudi, ya. Ntar gw bayar lebih. Tapi, ga apa-apa ya kalo ga pake aplikasi."

"Siap kak. Helm mohon dikunci dan jangan main hape ya. Rawan jambret jam segini."

"..."

*        *        *

HINGGA tigaperempat perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara kami. Dresna bergeming di jok belakang. 

Ada jarak belasan senti yang memisahkannya dengan gw. Pun demikian dengan gw yang fokus mengendarai motor. 

Gw enggan nanya ini-itu kepada Dresna yang mungkin sedang tertekan batinnya. Apalagi, gw juga cukup lelah akibat seharian keliling bersama Dewi untuk berlebaran menemui keluarga dan teman-temannya.

Hik... Hik... Hik...

Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang sepertinya tertahan. Nyaris saja gw jantungan karena mengira itu suara miss kunti. 

Maklum, meski ga punya kelebihan terkait indra keenam, tapi gw sempat memiliki pengalaman mistis. Termasuk, saat ngojol dalam dua tahun ini. 

Salah satunya, di SPBU yang berlokasi di perbatasan. Bahkan, insiden ini tidak hanya menemui gw, melainkan juga tiga rekan sesama ojol di basecamp.

Beruntung, gw sadar bahwa suara tangisan itu dari penumpang di belakang. Refleks, gw melirik ke spion kiri, tampak Dresna sedang mengusap wajahnya sambil sesenggukan.

"Kenapa kak?"

"..."

"Mau ke warung dulu cari tisu atau air mineral buat cuci muka?"

"Ga apa-apa bang. Gw cuma kelilipan."

"Ok... Gw kirain lo nangis kenapa..."

Ketika melewati Tugu Selamat Datang, gw merasa ada tangan yang memeluk pinggang dengan erat. 100 persen gw yakin ini tangan Dresna. Alias, bukan ghaib! Maklum, suasana di bundaran air mancur berada tepat di jantung ibu kota. Jadi, suasananya asli dibanding saat gw singgah di SPBU.

"Bang, pelan-pelan ya."

"Iya kak. Pan daritadi juga kita jalannya pelan. Maklum, Jakarta masih kosong, banyak yang belum balik dari mudik."

"Bang, boleh nyari warung dulu? Gw mau makan bentar ya."

"Nasi atau apa?"

"Bubur kacang ijo aja bang. Atau yang kuah panas buat ngangetin badan."

"Okok. Di depan kayaknya ada warung burjo. Ntar gw berenti di sana."

"Lo temenin gw makan ya bang. Ntar gw bayarin. Ongkos beda lagi."

"Aman kak. Gw udah kenyang."

"Nasi mau?

"Udah kakak. Gw masih kenyang"

"Kopi ya?"

"Boleh, kebetulan kopi gw bawa dari siang udah abis," jawab gw yang teringat pada termos mini berlogo Asian Para Games 2018 yang merupakan pemberian saat ikut suatu acara.

Kebetulan gw selalu bawa termos mini ini. Sebelom berangkat ngojol, biasanya gw isi kopi hitam segelas di kostan. Ya, termos mini ini lumayan bisa tahan panas beberapa jam. Kalo kopinya habis, biasanya gw beli lagi di Starling yang segelas sangat murah, cuma tigarebu.

*        *        *

"BANG, lo ga jijik bareng gw? Maksudnya, nemenin gw ngemil ini," ujar Dresnala membuka percakapan.

Sontak, omongannya membuat gw bingung. 

"Emang kenape?"

"Kaga. Pan lo tahu soal gw. Apalagi, tadi tuh bocah udah bongkar jati diri gw sebagai..."

"Lo bukan pendosa," potong gw sebelum Dresna menyelesaikan omongannya. "Gw juga bukan orang suci. Bahkan, bisa jadi gw lebih kotor daripada lo. Jadi, ga usah bahas yang aneh-aneh..."

"Justru itu bang. Aneh aja gw dengan sikap lo yang biasa aja liat gw. Padahal, kalo orang tahu gw merupakan jablay, pandangannya langsung berubah. Apalagi, kalo yang mata keranjang. Tatapannya langsung ngarah ke toket gw yang emang lumayan gede dan langsung nawar untuk ngajak ngamar."

Usai menyendok bubur kacang ijo yang masih panas, Dresna melanjutkan, "Apa jangan-jangan lo ga normal bang? Secara, gw liat lo tadi sama sekali ga lirik gw. Bahkan, saat gw peluk di motor pun, lo dingin-dingin aja."

"Njir... Lo kira gw cowo apaan!" jawab gw tersenyum.

Dresnala pun tergelak, "Nah... Gitu dong, senyum. Gw perhatiin daritadi lo serius amat bawaannya. Bahkan, kayak ga ngeh dengan keberadaan gw. Gini-gini gw cewek lo."

"Lah, terus gw harus ngapain? Ngajak lo ngamar?"

"Ha ha ha. Maunya itu mah."

"Bercanda ya. Lagian gw ga ada duit. Ini aja gw belom narik udah dua hari."

"Iye, bang. Selow."

Sambil meletakkan sendok di pinggir mangkok, Dresnala melanjutkan.

"Sekali lagi, gw minta maaf ya. Udah ngerepotin lo sama dua bocah dan  nganterin."

"Aman. Kan gw juga ojol. Kebetulan, dari  tadi gw belom narik karena seharian pergi. Jadi, pas lo nawarin ngojek, ya oke aja. But, this is B to B. Bisnis ya. Not P to P, alias personal. Alasan tadi gw ngelerai lo dari tuh bocah karena kemanusiaan. Pas lo minta ngojek, gw ok. Bahkan, kalo lo ga ada duit pun tetep gw anterin. Jadi, woles aja."

"Iya bang. Gw paham. Tapi, balik lagi ke pertanyaan gw tadi. Lo ga berasa jijik?"

"Ga. Kan udah dibilang, gw ga peduli. Mau profesi lo apa, termasuk jika lo pejabat atau artis, kalo lo minta ngojek ya gw anter. Perkara gw nemenin lo makan bubur ya itu bagian dari pelayanan. Sebagai ojol, gw harus bisa ngasih servis terbaik. Sebelumnya, gw juga sering nungguin penumpang hingga satu jam lebih. Ga masalah, selama dia bayar dan bukan orderan fiktif."

"Lo keren bang. Mungkin, salah satu manusia terbaik yang gw kenal," tutur Dresnala sambil meminggirkan mangkok yang masih menyisakan sedikit bubur kacang ijo. Wanita dengan alis lentik itu mengambil korek gas gw untuk menyalakan rokok menthol.

"Yaelah, jangan pernah menilai seseorang dari luar. Lo baru kenal gw, ujug-ujug udah bilang baik. Lo salah. Setidaknya, hingga saat ini."

*        *        *

USAI mengantarkan Dresnala ke kostannya yang lumayan elite karena berada di kawasan strategis, gw pun balik. Sebenarnya, pengen narik mengingat gw bisa ngojol ngalong.

Namun, berhubung seharian sudah keliling, gw putuskan pulang. Lumayan juga, badan pada pegal. Meski, sangat senang bisa kembali bersama Dewi. Apalagi, momen bertemu Dresnala.

Sebagai ojol, gw sering mendapat customer dengan profesi seperti itu. Terlebih, waktu operasi gw dari sore hingga pagi. Jadi, tiap hari kerap bertemu dengan yang seperti itu.

Selama ini ga pernah ada masalah. Paling, jaket ojol gw beberapa kali kena muntahan akibat customer jackpot. Namun, itu wajar. Risiko ojol. Tak jarang, gw dapat tip yang sangat besar. Jauh melebihi ongkos sebenarnya. Ya, untuk melihat sesuatu, harus dari dua sisi.

Yang pasti, gw sempat kaget saat mendengar penuturan Dresna. Terutama, ketika kami melanjutkan perbincangan secara intensif di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. 

Sebelumnya, wanita asal kota di selatan pulau ini sempat menyinggungnya di warung burjo. Hanya, ketika itu sekadar kulitnya saja. Baru ketika di kostannya, gw khidmat mendengar ceriteranya.***



Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part V: Di-Ghosting Kang Parkir

- Part VI: Di Suatu Desa dengan Customer Random
- Part VII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VIII: Debt Collector Juga Manusia
- Part IX: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
- Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog


*Inspired by True Event

- Jakarta, 16 Mei 2021 (Edites 30/6)